<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Penyusunan Instrument Psikologi off G by Melly Amalia</title>
      <link>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-10-12 23:29:55 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-10-28 02:51:14 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>academic burnout pada remaja</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3629704857</link>
         <description><![CDATA[<p>Deskripsi: Mengukur tingkat <em>burnout </em>terhadap akademik pada remaja.</p><p><br/></p><p>Latar belakang: Remaja sering mendapat tekanan akademik seperti tugas yang menumpuk, tuntutan nilai tinggi, dan persaingan yang dapat menimbulkan kelelahan emosional serta penurunan motivasi belajar. Hal tersebut dapat menimbulkan burnout, yaitu kelelahan, sikap sinis terhadap belajar, dan perasaan kurang mampu dalam mencapai prestasi (Schaufeli et al., 2002). Burnout akademik yang tidak ditangani dapat berdampak pada menurunnya hasil belajar dan kesejahteraan psikologis remaja, sehingga penting untuk mengetahui sejauh mana tingkat burnout dialami oleh siswa agar dapat dilakukan langkah pencegahan yang tepat.  </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-13 12:55:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3629704857</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Regulasi Emosi dan Stres Akademik</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3629867199</link>
         <description><![CDATA[<p><strong><em>Latar belakang</em></strong><em> :</em></p><p>Mahasiswa sering merasa tertekan karena banyaknya tugas, ujian, atau tuntutan berprestasi. Tekanan ini menimbulkan stres akademik. Dalam situasi ini, kemampuan mengatur emosi (regulasi emosi) sangat penting agar mahasiswa bisa tetap tenang dan berpikir jernih. Mahasiswa yang mampu mengelola emosinya dengan baik cenderung lebih tahan terhadap stres, sedangkan yang tidak bida mengaturnya berisiko mengalami stres tinggi (<em>burnout</em>). Sehingga, penting untuk mengetahui hubungan antara regulasi emosi dan stres akademik pada mahasiswa.</p><p><br/></p><p><strong><em>Definisi Singkat Variabel</em></strong><em> :</em></p><p>- Regulasi emosi : kemampuan individu untuk mengenali, memahami, dan mengandalikan emosinya agar bisa merespon situasi dengan baik (Gross, 1998).</p><p>- Stres Akademik : rasa tertekan yang muncul karena tuntutan kuliah yang dirasa melebihi kemampuan manusja dalam menghadapinya (Lazarus &amp; Folkman, 1984).</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-13 14:30:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3629867199</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penyusunan Skala Stres Akademik untuk Mengukur Respon Psikologis Terhadap Tuntutan Akademik Pada Mahasiswa</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3630066486</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>1. Latar Belakang:  </strong></p><p>Stres akademik adalah tekanan psikologis yang dialami mahasiswa akibat tuntutan dan beban akademik seperti tugas, ujian, dan tekanan untuk naik kelas. Stres ini bisa menurunkan konsentrasi, prestasi, dan kesehatan mental, bahkan menyebabkan burnout. Pandemi Covid-19 memperparah kondisi ini karena perubahan pembelajaran daring dan kurangnya interaksi langsung. Stres akademik menjadi perhatian penting karena dampaknya yang serius pada kesejahteraan mahasiswa dan prestasi belajar (Putri, 2022; Universitas Andalas, 2021).</p><p><br/></p><p><strong>2. Urgensi Topik:  </strong></p><p>Stres akademik sangat umum terjadi dan berdampak negatif pada fisik dan psikologis mahasiswa, termasuk kecemasan, depresi, dan gangguan tidur. Kondisi ini juga menurunkan indeks prestasi dan bisa memicu tindakan ekstrem seperti bunuh diri. Pandemi memperkuat urgensi penelitian dan intervensi untuk membantu mahasiswa mengatasi tekanan akibat perubahan metode pembelajaran (Wen et al., 2020; Afifah &amp; Wardani, 2018; Gamayanti et al., 2018).</p><p><br/></p><p><strong>3. Kesimpulan:  </strong></p><p>Ketidakseimbangan antara tuntutan akademik dan kemampuan mengatasi menimbulkan stres yang berdampak pada kesehatan mental dan prestasi belajar. Oleh karena itu, stres akademik harus dipahami dan dikelola agar mahasiswa dapat beradaptasi tanpa gangguan fisik maupun psikologis, serta berhasil dalam pendidikannya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-13 16:40:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3630066486</guid>
      </item>
      <item>
         <title>&quot;Peran Motivasi Intrinsik terhadap Frekuensi Olahraga pada Mahasiswa&quot;</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3630455275</link>
         <description><![CDATA[<p>Tujuan Penelitian: </p><p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara motivasi intrinsik dengan frekuensi olahraga pada mahasiswa, serta memahami sejauh mana dorongan dari dalam diri dapat memengaruhi konsistensi seseorang dalam berolahraga.</p><p><br/></p><p>Urgensi Penelitian: </p><p>Fenomena yang banyak ditemui di kalangan mahasiswa saat ini adalah rendahnya perhatian terhadap kesehatan fisik dan kebiasaan berolahraga. Banyak mahasiswa cenderung malas beraktivitas fisik karena tidak memiliki dorongan kuat dari dalam diri untuk melakukannya. Padahal, olahraga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan fisik dan mental, terutama di tengah tekanan akademik dan gaya hidup yang cenderung sedentari.</p><p><br/></p><p>Oleh karena itu, penting untuk meneliti sejauh mana motivasi intrinsik—yakni dorongan dari dalam diri individu tanpa pengaruh eksternal berperan dalam meningkatkan frekuensi olahraga mahasiswa. Topik ini menarik untuk diteliti karena dapat memberikan gambaran tentang bagaimana mahasiswa bisa mengembangkan motivasi internalnya dalam menjaga kebugaran dan berinvestasi pada kesehatan jangka panjang.</p><p><br/></p><p>Teori Penelitian: </p><p>Penelitian ini didasarkan pada Teori Self-Determination (SDT) yang dikemukakan oleh Deci dan Ryan (1985). Dalam konteks olahraga, mahasiswa dengan motivasi intrinsik akan berolahraga karena merasa bahagia, tertantang, dan mendapatkan makna dari aktivitas tersebut—bukan karena paksaan dari luar.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Variabel Penelitian: </p><p>Variabel Independen (X) = Motivasi Intrinsik</p><p>Variabel dependen (Y) = Frekuensi </p><p>Olahraga Mahasiswa</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-13 23:29:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3630455275</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pengaruh Empati terhadap Perilaku Prososial</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3630539226</link>
         <description><![CDATA[<p>Empati<br>Menurut KBBI <strong>em·pa·ti</strong>&nbsp;/émpati/&nbsp;<em>n Psi</em>&nbsp;keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain; <br><br>Menurut Diane E. Papalia, dalam bukunya yang berjudul Experience Human Development (edisi 15), empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain yang menjadi fondasi emosional dari simpati.  <br><br>Perilaku Prososial adalah suatu tindakan menolong yang menguntungkan orang lain tanpa harus menyediakan suatu keuntungan langsung pada orang yang melakukan tindakan tersebut, dan mungkin bahkan melibatkan suatu risiko bagi orang yang menolong. <br><br><strong>Latar Belakang </strong><br>Sikap empati banyak menjadi pokok diskusi yang membuahkan berbagai macam argumentasi, salah satunya keterkaitannya dengan perilaku prososial. Banyak penelitian mengkaji hal ini untuk mengetahui atau membuktikan pengaruh empati terhadap perilaku prososial. Di masa sekarang ini empati maupun perilaku prososial menjadi topik yang menarik untuk diteliti, terutama di tengah masyarakat Indonesia sendiri. Prososial merupakan hal penting di Indonesia yang terdapat kekayaan budaya, suku, agama. Prososial dapat menciptakan kerukunan dan keharmonisan. (Yudha &amp; Muhid, 2023). Salah satu motif untuk mendorong perilaku prososial adalah empati dan simpati yang positif terhadap penderitaan orang lain. (Rachma A, 2024). Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini ingin mengukur seberapa besar pengaruh empati seseorang terhadap perilaku prososialnya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-14 00:34:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3630539226</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Social Media Distraction</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3632434929</link>
         <description><![CDATA[<p>Social media distraction adalah kondisi dimana seseorang mengalami penurunan konsentrasi, efesiensi berpikir, dan produktivitas karena perhatian teralihkan oleh aktivitas atau notivikasi dari media sosial. Menurut Rosen et al. (2013), gangguan ini muncul saat penggunaan media sosial mengalihkan perhatian dari tugas utama yang menyebabkan menurunnya performa kognitif.</p><p>Latar Belakang:</p><p>Media sosial kini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari sebagai sarana komunikasi, hiburan, dan informasi. Namun penggunaan yang berlebihan terutama saat belajar atau bekerja sering menimbulkan distraksi. Penelitian Rosen et al. (2013) menunjukkan bahwa mahasiswa rata-rata memeriksa ponsel setiap 15 menit saat belajar.</p><p>Fenomena ini menunjukkan pentingnya memahami sosial media distraction sebagai bentuk gangguan kognitif yang relevan dengan tantangan belajar era digital.</p><p>Teori:</p><ol><li><p>Attention Theory (Kahneman, 1973), Menjelaskan bahwa kapasitas perhatian manusia terbatas</p></li><li><p>Cognitive Load Theory (Sweller, 1988), Paparan informasi berlebihan dari media sosial meningkatkan cognitive load sehingga otak menjadi cepat lelah dan sulit fokus.</p></li><li><p>Limited Capacity Model of Motivated Mediated Message Processing (Lang, 2000), otak hanya dapat memproses sejumlah informasi dalam satu waktu.</p></li><li><p>Theory of Media Multitasking (Ophir et al., 2009), kebiasaan berpindah antar media secara terus-menerus dapat menurunkan kemampuan fokus dan kontrol perhatian.</p></li></ol><p>Alat Ukur:</p><p>Social Media Distraction Scale</p><p>(Adaptasi dari Rosen et al., 2013; Rozgonjuk et al., 2020)</p><p>Jenis skala: Likert 1–5</p><p>Dimensi:</p><p>1. Attention Shifting – perhatian mudah beralih ke media sosial.</p><p>2. Task Interruption – aktivitas terganggu karena notifikasi media sosial.</p><p>3. Cognitive Overload – kelelahan mental akibat multitasking&nbsp;digital.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Kezia Shanty Sahulata (240811601540)</p><p>Kurnia Puspasari Azizah Putri (240811605212)</p><p>Lulu Naela Yumna (240811600259)</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-14 21:40:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3632434929</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3635046841</link>
         <description><![CDATA[<p>Emotion Regulation (Regulasi Emosi)</p><p>Regulasi emosi adalah kemampuan individu untuk mengelola, mengontrol, dan menyesuaikan respons emosional terhadap situasi tertentu agar sesuai dengan tujuan dan tuntutan lingkungan. Menurut Gross (1998), regulasi emosi mencakup upaya sadar maupun tidak sadar untuk memantau, mengevaluasi, dan memodifikasi pengalaman serta ekspresi emosi seseorang.</p><p>Latar Belakang:</p><p>Dalam kehidupan sehari-hari, individu sering menghadapi situasi yang menimbulkan emosi negatif seperti stres, marah, atau cemas. Kemampuan mengatur emosi menjadi penting agar seseorang dapat beradaptasi secara efektif terhadap tekanan dan menjaga kesejahteraan psikologisnya.</p><p>Penelitian oleh Gross dan John (2003) menunjukkan bahwa individu yang memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik cenderung lebih bahagia, memiliki hubungan sosial yang lebih positif, serta lebih mampu menghadapi situasi menegangkan. Di era modern yang penuh tekanan akademik dan sosial, memahami dan melatih regulasi emosi menjadi aspek penting dalam menjaga kesehatan mental dan performa kognitif.</p><p>Teori:</p><p>Process Model of Emotion Regulation (Gross, 1998): Menjelaskan bahwa regulasi emosi terjadi melalui lima tahap, yaitu situational selection, situation modification, attentional deployment, cognitive change, dan response modulation.</p><p>Emotion Regulation Theory (Thompson, 1994): Menekankan bahwa regulasi emosi merupakan proses internal dan eksternal yang bertujuan untuk memantau, mengevaluasi, dan memodifikasi emosi.</p><p>Dual-Process Model (Gyurak et al., 2011): Menjelaskan bahwa regulasi emosi dapat bersifat otomatis (implisit) maupun sadar (eksplisit).</p><p>Cognitive Reappraisal and Suppression Model (Gross &amp; John, 2003): Menggambarkan dua strategi utama regulasi emosi, yaitu reappraisal (mengubah cara berpikir terhadap situasi) dan suppression (menahan ekspresi emosi).</p><p>Alat Ukur:</p><p>Emotion Regulation Questionnaire (ERQ)</p><p>(Dikembangkan oleh Gross &amp; John, 2003)</p><p>Jenis Skala: Likert 1–7</p><p>Dimensi:</p><p>Cognitive Reappraisal – kemampuan untuk mengubah cara berpikir terhadap suatu situasi agar dampak emosinya berkurang.</p><p>Expressive Suppression – kecenderungan untuk menahan atau menyembunyikan ekspresi emosi yang dirasakan</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-16 03:54:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3635046841</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hubungan antara Quarter-Life Insecurity dan Krisis Eksistensial pada Mahasiswa di Masa Dewasa Awal</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3636022571</link>
         <description><![CDATA[<p>Latar Belakang:</p><p>Mahasiswa yang berada pada masa dewasa awal sering menghadapi berbagai tuntutan hidup seperti penentuan arah karier, pencapaian akademik, hingga harapan sosial. Fase ini merupakan masa transisi dari remaja menuju kedewasaan yang menuntut kemandirian dan kejelasan identitas diri.</p><p>Dalam situasi ini, banyak mahasiswa mengalami quarter-life insecurity, yaitu perasaan tidak yakin, cemas, dan takut terhadap masa depan serta kemampuan diri. Ketidakpastian tersebut dapat menimbulkan kebingungan mengenai tujuan hidup dan nilai-nilai pribadi, yang kemudian berkembang menjadi krisis eksistensial kondisi ketika individu mempertanyakan makna dan arah hidupnya.</p><p>Memahami hubungan antara quarter-life insecurity dan krisis eksistensial penting dilakukan agar dapat membantu mahasiswa mengelola rasa cemas terhadap masa depan serta menemukan makna hidup secara lebih adaptif.</p><p><br/></p><p>Definisi Singkat Variabel:</p><p>- Quarter-Life Insecurity: perasaan tidak aman, cemas, dan ragu terhadap masa depan, pencapaian, serta identitas diri yang umumnya dialami individu pada usia dewasa awal (Robinson, 2018).</p><p>- Krisis Eksistensial: kondisi psikologis ketika seseorang mempertanyakan makna, tujuan, dan nilai hidupnya yang dapat menimbulkan kecemasan dan kebingungan identitas (Yalom, 1980).</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-16 14:54:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3636022571</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pengaruh Perbandingan Sosial di Media Sosial terhadap Kepuasan Diri Generasi Z </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3636214294</link>
         <description><![CDATA[<p>Latar Belakang:</p><p>Media sosial kini menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi Z yang tumbuh di era digital. Di satu sisi, media sosial memudahkan individu untuk berinteraksi, mengekspresikan diri, dan memperoleh informasi. Namun di sisi lain, media sosial juga membuka peluang terjadinya perbandingan sosial — yaitu ketika seseorang menilai dirinya berdasarkan pencapaian, penampilan, atau gaya hidup orang lain yang dilihat secara online.</p><p>Fenomena ini sering menimbulkan rasa tidak puas terhadap diri sendiri, terutama ketika individu merasa kehidupannya tidak seideal yang ditampilkan orang lain. Perbandingan sosial yang berlebihan dapat menurunkan kepuasan diri, membuat individu merasa kurang berharga, dan memunculkan kecenderungan untuk terus membandingkan diri secara negatif.</p><p>Oleh karena itu, penting untuk meneliti sejauh mana perbandingan sosial di media sosial berpengaruh terhadap kepuasan diri pada generasi Z, yang merupakan kelompok pengguna media sosial paling aktif saat ini.</p><p>Definisi Singkat Variabel:</p><p>Perbandingan Sosial di Media Sosial: kecenderungan individu untuk menilai atau mengevaluasi dirinya berdasarkan informasi, pencapaian, atau kehidupan orang lain yang ditampilkan di platform media sosial (Festinger, 1954).</p><p>Kepuasan Diri: perasaan positif dan penerimaan terhadap diri sendiri, yang mencakup penilaian individu terhadap seberapa jauh ia merasa puas dengan dirinya dan kehidupannya secara keseluruhan (Diener, 1984).</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-16 17:10:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3636214294</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 5</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3636717349</link>
         <description><![CDATA[<p>Terdapat beberapa opsi variabel PIP, diantaranya yakni : </p><p>1. Variabel : Kemasan – Social Appearance Anxiety Scale (SAAS)</p><p>Latar Belakang : </p><p>Kecemasan sosial adalah ketakutan pada situasi sosial dan perasaan akan menghadapi evaluasi dari orang lain, takut diamati dan takut dipermalukan atau dihina (Permatasari, 2022). Social Appearance Anxiety Scale (SAAS) adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur kecemasan terkait kemungkinan dievaluasi secara negatif oleh orang lain karena penampilan seseorang secara keseluruhan, termasuk bentuk tubuh. SAAS adalah alat ukur rasional, dengan item dipilih berdasarkan pemeriksaan alat ukur kecemasan sosial, ketidakpuasan citra tubuh, dan body dysmorphic disorder yang ada (Hart, 2008). Penelitian ini dilakukan untuk mengadaptasi SAAS (Hart, 2008) ke konteks budaya Indonesia, khususnya pada usia dewasa awal. </p><p>2. Variabel: Prokrastinasi</p><p>Latar belakang:</p><p>Kemampuan untuk mengatur waktu secara efektif tidak dimiliki oleh setiap mahasiswa. Menurut Djamarah (2002), banyak mahasiswa mengalami kesulitan dalam mengatur waktu untuk memulai dan menyelesaikan tugas, sehingga waktu yang seharusnya dimanfaatkan dengan baik justru terbuang percuma. Ketidakmampuan untuk segera memulai tugas kuliah mencerminkan adanya perilaku menunda serta kurangnya keterampilan dalam manajemen waktu, yang dikenal dengan istilah prokrastinasi. Dari sudut pandang psikologi, Alice (dalam Pahlavani et al., 2015) menjelaskan bahwa prokrastinasi merupakan tindakan menunda pekerjaan yang telah direncanakan untuk dilakukan—perilaku yang dinilai tidak adaptif dan dapat berkembang menjadi kebiasaan negatif apabila terus dibiarkan. Sementara itu, Gafni dan Geri (dalam Tamini, 2013) menyebutkan bahwa prokrastinasi adalah kecenderungan individu untuk menunda aktivitas di bawah kendali dirinya sendiri hingga batas waktu terakhir, atau bahkan tidak menyelesaikannya sama sekali (Santosa &amp; Muchsini, 2024).</p><p>Salah satu instrumen yang paling banyak digunakan untuk mengukur kecenderungan prokrastinasi adalah General Procrastination Scale (GPS) yang dikembangkan oleh Lay (1986). Dalam penelitiannya, Lay mengaitkan prokrastinasi dengan berbagai karakteristik kepribadian, seperti teori Big Five (khususnya rendahnya conscientiousness), perfeksionisme, kecemasan, ketegangan emosional (agitation), perasaan tertekan (dejection), serta self-discrepancy atau kesenjangan antara diri ideal dan diri aktual.</p><p>Penelitian ini dilakukan untuk mengadaptasi GPS (Lay, 1986) ke konteks budaya Indonesia, khususnya pada populasi mahasiswa, yang dikenal memiliki tingkat prokrastinasi tinggi akibat tekanan akademik, distraksi digital, dan pengelolaan waktu yang kurang optimal.</p><p>Variabel : sikap, minat, keputusan memilih</p><p>Latar Belakang : pada saat ini mahasiswa yang memilih jurusan bukan hanya sekedar peminatan pribadi namun ada unsur dipaksa orang tua atau keadaan, hal ini menjadikan banyak mahasiswa yang memilih jurusan berdasarkan kewajiban menjadi anak yang baik atau karena keadaan ekonomi yang mengharuskan kuliah di jurusan tersebut.</p><p>3. Variabel : sikap, minat, keputusan memilih</p><p>Latar Belakang : pada saat ini mahasiswa yang memilih jurusan bukan hanya sekedar peminatan pribadi namun ada unsur dipaksa orang tua atau keadaan, hal ini menjadikan banyak mahasiswa yang memilih jurusan berdasarkan kewajiban menjadi anak yang baik atau karena keadaan ekonomi yang mengharuskan kuliah di jurusan tersebut.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-17 01:28:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3636717349</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Empati</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3641120326</link>
         <description><![CDATA[<p>Menurut KBBI <strong>em·pa·ti</strong>&nbsp;/émpati/&nbsp;<em>n Psi</em>&nbsp;keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain;  <br><br>Menurut Diane E. Papalia, dalam bukunya yang berjudul Experience Human Development (edisi 15), empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain yang menjadi fondasi emosional dari simpati. <br> <br><br>Empati menjadi pokok diskusi yang tidak pernah habis untuk dibahas. Kesannya yang subjektif dan dapat terwujud dalam beragam bentuk sikap membuat empati menjadi bahan perbincangan banyak orang. Oleh karena ekspresi dan sikap tidak cukup untuk mengetahui tingkat empati seseorang, maka inilah peran utama instrumen untuk mengukurnya. Menurut Diane E. Papalia, dalam bukunya yang berjudul Experience Human Development (edisi 15), empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain yang menjadi fondasi emosional dari simpati. Empati juga dapat didefinisikan sebagai usaha memahami orang lain dan kemudian menunjukkan pemahaman Anda (Gaumer Erickson &amp; Noonan, 2016). Hidup sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial tentu membuat setiap orang butuh merasakan empati. Hal ini dikarenakan empati menjadi akar dari hubungan emosional satu orang dengan yang lain. Eisenberg (2002) mengatakan, bahwa dalam proses individu berempati melibatkan aspek afektif dan kognitif. Aspek afektif: Aspek afektif merupakan kecenderungan seseorang untuk mengalami perasaan emosional orang lain yaitu ikut merasakan ketika orang lain merasa sedih, menangis, terluka, menderita bahkan disakiti. Sedangkan aspek kognitif: Aspek kognitif dalam empati difokuskan pada proses intelektual untuk memahami perspektif / sudut pandang orang lain dengan tepat dan menerima pandangan mereka, misalnya membayangkan perasaan orang lain ketika marah, kecewa, senang, memahami keadaan orang lain dari; cara berbicara, dari raut wajah, cara pandang dalam berpendapat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-20 14:17:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3641120326</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3642352585</link>
         <description><![CDATA[<p>Ruang lingkup: mahasiswa yang berada pada usia dewasa awal (20-40 tahun).</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-21 04:31:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3642352585</guid>
      </item>
      <item>
         <title>aspek aspek academic burn out </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3642510358</link>
         <description><![CDATA[<p>Aspek Academic Burnout menurut teori Schaufeli, dkk(2002): </p><p>1. Exhaustion: Menurut Leiter &amp; Maslach (2000) dimensi ini mengarah pada perasaan emosional yang berlebihan dan perasaan terkurasnya sumber daya emosional.</p><p>2. Cynicism: Dimensi ini ditandai dengan ketidakpedulian atau perilaku mengelak terhadap proses</p><p>perkuliahan yang dilakukan, tidak butuh dengan orang lain, menjadi individu yang tidak</p><p>peduli terhadap perkuliahan secara keseluruhan, hilangnya minat dalam suatu pekerjaan atau</p><p>perkuliahan, dan melihat suatu perkuliahan menjadi tidak bermakna.</p><p>3. Personal Inadequancy: Dimensi ini meliputi aspek sosial dan nonsosial dalam perolehan akademik. Leiter &amp;</p><p>Maslach (2000) menyatakan bahwa individu akan merasa tidak berdaya, merasa semua</p><p>tugas yang diberikan terasa berat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-21 06:06:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3642510358</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Psychology Well-Being Terhadap Mahasiswa Organisasi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3653704965</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Latar belakang :</strong></p><p>Mahasiswa yang terlibat aktif dalam organisasi di perguruan tinggi menghadapi 2 kewajiban, yakni antara kewajiban akademik dan tanggung jawab non-akademik yang meskipun menawarkan manfaat pengembangan diri, juga rentan memunculkan tantangan seperti manajemen waktu yang ketat, konflik peran, dan potensi stres atau burnout. Oleh karena itu, <em>Psychological Well-Being</em> (PWB) atau Kesejahteraan Psikologis penting untuk dipahami dan diukur, karena PWB yang tinggi memungkinkan mahasiswa organisasi untuk mengelola tekanan, menyeimbangkan 2 kewajiban mereka, berfungsi secara optimal, dan mengaktualisasikan potensi diri, sehingga pengalaman organisasi menjadi pendorong dalam pertumbuhan pribadi.</p><p><br/></p><p><strong>Definisi Singkat Variabel :</strong></p><p>Skala PWB Ryff adalah skala standar yang valid dan reliabel. Namun, dalam konteks mahasiswa organisasi, perlu dipertimbangkan penyesuaian atau penekanan pada item yang secara spesifik mencerminkan tantangan dan pengalaman unik mereka.</p><p><br/></p><p><strong>Teori :</strong></p><p>Model Ryff mencakup enam dimensi yang secara langsung berkaitan dengan tantangan dan pengalaman mahasiswa organisasi:</p><p><br/></p><ol><li><p><em>Environmental Mastery</em> (Penguasaan Lingkungan): Kunci dalam mengelola peran ganda dan lingkungan organisasi yang kompleks.</p></li><li><p><em>Positive Relations with Others </em>(Hubungan Positif dengan Orang Lain): Sangat penting dalam konteks kerja tim dan jaringan organisasi.</p></li><li><p><em>Autonomy</em> (Otonomi): Relevan saat mahasiswa harus membuat keputusan mandiri di tengah tekanan kelompok.</p></li><li><p><em>Personal Growth</em> (Pertumbuhan Pribadi): Inti dari motivasi mahasiswa untuk bergabung dalam organisasi.</p></li><li><p><em>​Purpose in Life</em> (Tujuan Hidup): Organisasi seringkali menjadi sarana untuk mencapai tujuan hidup yang lebih besar.</p></li><li><p><em>Self-Acceptance</em> (Penerimaan Diri): Penting untuk menghadapi kegagalan atau kritik di organisasi.</p></li></ol><p>​Dengan demikian, teori Carol Ryff adalah kerangka kerja yang paling kuat digunakan dalam penelitian PWB, khususnya pada populasi yang menghadapi tuntutan kompleks seperti mahasiswa organisasi. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-28 02:51:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/mellyamaliafpsi/amp5hyd4ejli9hai/wish/3653704965</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
