<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>HUKUM ANTAR GOLONGAN by Jiennika</title>
      <link>https://padlet.com/jienika64/a9y86npdj3rufveu</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-04-15 13:30:01 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-04-20 14:02:28 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>ASAS-ASAS HUKUM ANTAR GOLONGAN Jiennika Gabriella (2310211320010)</title>
         <author>jienika64</author>
         <link>https://padlet.com/jienika64/a9y86npdj3rufveu/wish/3410842589</link>
         <description><![CDATA[<p>Asas-Asas Hukum Antar Golongan</p><p><br></p><p>Rangkuman </p><ol><li><p>Asas Personalitas</p><p>Hukum yang berlaku tergantung pada golongan, agama, atau adat seseorang.</p></li><li><p>Asas Teritorial</p><p>Hukum yang berlaku berdasarkan wilayah geografis, terlepas dari golongan atau agama seseorang.</p></li><li><p>Asas Otonomi Hukum</p><p>Kelompok tertentu (sseperti masyarakat adat) diperbolehkan menjalankan hukumnya sendiri selama atidak bertentangan dengan hukum nasional,</p></li><li><p>Asas Publisitas</p><p>Jika ada konflik antar hukum golongan dan kepentingan umum/public order, maka kepentingan umum diutamakan.</p></li><li><p>Asas Pilihan Hukum</p><p>Pihak-pihak dalam hubungan hukum boleh memilih sistem hukum yang akan berlaku (jika diizinkan undang-undang)</p></li><li><p>Asas Non-Diskriminasi </p><p>Meskipun hukum berbeda-beda, penerapannya harus adil dan tidak diskriminatif.</p></li></ol><p><br></p><p><br></p><p>PENJELASAN LENGKAP</p><p><br></p><p>Asas-Asas Hukum Antar Golongan adalah prinsip-prinsip dasar yang digunakan untuk menyelesaikan konflik atau persoalan hukum antara kelompok masyarakat yang tunduk pada sistem hukum berbeda dalam satu negara. Berikut adalah asas-asas utama dalam Hukum Antar Golongan:</p><p><br></p><p><br></p><p>1. Asas Personalitas (Prinsip Golongan)</p><p>- Pengertian: Hukum yang berlaku tergantung pada golongan, agama, atau adat seseorang.  </p><p>- Contoh: </p><p>  - Warisan seorang Muslim diatur oleh Hukum Kewarisan Islam, sedangkan non-Muslim mengikuti KUHPerdata.  </p><p>  - Perkawinan di Indonesia dibedakan berdasarkan agama (UU Perkawinan No. 1/1974).  </p><p>- Dasar Hukum: Pasal 131 IS (Indische Staatsregeling, warisan kolonial) yang mengakui pluralisme hukum.  </p><p><br></p><p>2. Asas Teritorial (Prinsip Wilayah)</p><p>- <em>Pengertian</em>.: Hukum yang berlaku berdasarkan wilayah geografis, terlepas dari golongan atau agama seseorang.  </p><p>- <strong>Contoh</strong>:  </p><p>  - Hukum pidana (KUHP) berlaku untuk semua warga Indonesia, terlepas dari agama atau adatnya.  </p><p>  - Peraturan lalu lintas bersifat teritorial dan mengikat semua orang di wilayah tersebut.  </p><p>- Pengecualian: Dalam beberapa hal, asas personalitas masih dominan (misalnya hukum keluarga).  </p><p><br></p><p><br></p><p>3. Asas Otonomi Hukum (Pengakuan terhadap Hukum Adat)</p><p>- Pengertian: Kelompok masyarakat tertentu (seperti masyarakat adat) diperbolehkan menjalankan hukumnya sendiri selama <strong>tidak bertentangan dengan hukum nasional</strong>.  </p><p>- Contoh:  </p><p>  - Penyelesaian sengketa tanah adat melalui musyawarah adat (sepanjang tidak melanggar UU Pokok Agraria).  </p><p>  - Pengakuan terhadap pernikahan adat yang tidak tercatat secara negara.  </p><p>- Dasar Hukum: Pasal 18B Ayat 2 UUD 1945 dan UU No. 5/1960 tentang Agraria.  </p><p><br></p><p><br></p><p>4. Asas Publisitas (Kepentingan Umum Mengalahkan Hukum Golongan)</p><p>- Pengertian: Jika ada konflik antara hukum golongan dan kepentingan umum/public order, maka kepentingan umum diutamakan.  </p><p>- Contoh:  </p><p>  - Poligami diizinkan dalam Hukum Islam tetapi dibatasi oleh UU Perkawinan (harus izin pengadilan).  </p><p>  - Tanah adat bisa dialihkan untuk pembangunan publik dengan syarat kompensasi.  </p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p>5. Asas Pilihan Hukum (Choice of Law)</p><p>- Pengertian: Pihak-pihak dalam hubungan hukum boleh memilih sistem hukum yang akan berlaku (jika diizinkan undang-undang).  </p><p>- Contoh:  </p><p>  - Dalam perjanjian, pihak bisa memilih apakah menggunakan hukum adat atau hukum nasional.  </p><p>  - Perkawinan campur (beda agama) bisa memilih hukum mana yang diterapkan.  </p><p><br></p><p>6. Asas Non-Diskriminasi (Keadilan dan Kesetaraan)</p><p>- Pengertian: Meskipun hukum berbeda-beda, penerapannya harus adil dan tidak diskriminatif.  </p><p>- Contoh:  </p><p>  - Meski hukum waris Islam dan KUHPerdata berbeda, pembagian harus dilakukan secara adil.  </p><p>  - Negara harus melindungi hak minoritas adat tanpa mengabaikan hukum nasional.  </p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p>Contoh Kasus Penerapan Asas-Asas Ini</p><p><br></p><p>1. Perkawinan Beda Agama:  </p><p>   - Asas personalitas (hukum agama masing-masing) vs asas teritorial (UU Perkawinan).  </p><p>   - Solusi: Harus ada penyesuaian, seperti pencatatan di Pengadilan Negeri.  </p><p><br></p><p>2. Sengketa Tanah Adat vs Investor:  </p><p>   - Asas otonomi hukum (hak masyarakat adat) vs asas publisitas (kepentingan pembangunan).  </p><p>   - Solusi: Negosiasi dengan kompensasi yang adil.  </p><p><br></p><p><br></p><p>Referensi Hukum</p><p>- Buku:  </p><p>  - Hukum Antar Tata Hukum (Sudargo Gautama).  </p><p>  - Hukum Adat Indonesia (Soepomo).  </p><p>- Peraturan:  </p><p>  - UU No. 1/1974 (Perkawinan).  </p><p>  - UU No. 5/1960 (Agraria).  </p><p>  - Pasal 131 IS (Indische Staatsregeling).  </p><p><br></p><p>Jika Anda memerlukan analisis kasus tertentu atau penjelasan lebih mendalam, saya siap membantu! 😊</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-15 13:49:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/jienika64/a9y86npdj3rufveu/wish/3410842589</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SCOPE Nadhira Wardani (2310211320001)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/jienika64/a9y86npdj3rufveu/wish/3414948989</link>
         <description><![CDATA[<p>Ruang lingkup hukum antar golongan meliputi berbagai bidang hukum yang melibatkan perbedaan golongan penduduk dalam suatu negara. Ruang lingkup tersebut, yaitu mencakup :</p><p>• Perkawinan dan perceraian</p><p>• ⁠Warisan (hukum waris adat, hukum waris islam, hukum waris BW)</p><p>• ⁠Delik atau perbuatan melawan hukum</p><p>• ⁠Hukum adat yang berlaku</p><p>• ⁠Hukum perdata dan agraria </p><p>• Hukum agama</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-18 07:37:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/jienika64/a9y86npdj3rufveu/wish/3414948989</guid>
      </item>
      <item>
         <title>HISTORICAY BACKGROUND Natania Suryana Sihotang (2310211220080)</title>
         <author>suryanatanias</author>
         <link>https://padlet.com/jienika64/a9y86npdj3rufveu/wish/3415122044</link>
         <description><![CDATA[<p>Latar belakang mengenai Hukum Antar Golongan</p><p><br/></p><p><strong><em>Rangkuman</em></strong> </p><p><br/></p><p>Hukum Antar Golongan di Indonesia berasal dari sistem hukum kolonial Belanda yang membagi masyarakat Hindia Belanda ke dalam tiga golongan: Eropa, Timur Asing dan Pribumi. Setiap golongan dikenai sistem hukum yang berbeda. Karena perbedaan sistem hukum ini, muncul kebutuhan akan hukum yang mengatur interaksi antar golongan, yang kemudian dikenal sebagai Hukum Antar Golongan. Setelah kemerdekaan, Hukum Antar Golongan tetap diberlakukan sebagai hukum transisi, meskipun Indonesia berupaya mengarah ke sistem hukum nasional yang unifikasi dan tidak diskriminatif.</p><p><br/></p><p><strong><em>Penjelasan lengkap</em></strong></p><p><br/></p><p>A. Latar Belakang Kolonial : </p><p>Pada masa Hindia Belanda, penduduk dibagi dalam tiga golongan besar:</p><ul><li><p>Golongan Eropa, termasuk orang Belanda dan warga negara Eropa lainnya.</p></li><li><p>Golongan Timur Asing, seperti Tionghoa, Arab, dan India.</p></li><li><p>Golongan Pribumi, yakni penduduk asli Indonesia.</p></li></ul><p>Setiap golongan diberlakukan hukum yang berbeda :</p><ul><li><p>Golongan Eropa mengikuti hukum perdata dan pidana Belanda.</p></li><li><p>Golongan Timur Asing dan Pribumi mengikuti hukum adat atau campuran hukum kolonial dan adat.</p></li></ul><p>Perbedaan ini menciptakan kesenjangan hukum, terutama dalam bidang hukum perdata, perkawinan, dan waris. Maka dari itu, diciptakanlah Hukum Antar Golongan (HAG) untuk menjembatani hubungan hukum antara golongan-golongan yang berbeda—terutama jika terjadi hubungan hukum antara dua pihak dari golongan berbeda, seperti perkawinan antar golongan.</p><p><br/></p><p>B. Masa Kemerdekaan : </p><p>Setelah Indonesia merdeka, belum ada sistem hukum tunggal yang bisa menggantikan seluruh sistem hukum kolonial. Maka, HAG masih dipertahankan melalui Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945, yang menyatakan bahwa semua peraturan perundang-undangan yang ada sebelum kemerdekaan tetap berlaku selama belum dicabut atau diganti.</p><p><br/></p><p>C. Perkembangan Selanjutnya :</p><p>Seiring waktu, HAG dianggap tidak sesuai dengan semangat kesetaraan dan unifikasi hukum nasional.</p><p>Pemerintah dan lembaga hukum Indonesia perlahan mulai menghapus sistem hukum berdasarkan golongan, namun dalam praktiknya, beberapa prinsip HAG masih digunakan, terutama dalam konflik hukum yang melibatkan adat dan hukum nasional.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-18 13:31:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/jienika64/a9y86npdj3rufveu/wish/3415122044</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ISCOPE Aulia Nuraini (2310211320009)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/jienika64/a9y86npdj3rufveu/wish/3415142036</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3712673375/4bba42b91d69623eca728c0f224d392c/Hatah.pdf" />
         <pubDate>2025-04-18 14:04:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/jienika64/a9y86npdj3rufveu/wish/3415142036</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Siti Salsabila Salma (2310211220073)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/jienika64/a9y86npdj3rufveu/wish/3415154833</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Perkawinan (Marriage) Antar Golongan</strong></p><p>Perkawinan antar golongan adalah pernikahan yang melibatkan individu dari latar belakang sosial, budaya, atau etnis yang berbeda.</p><p>Dalam konteks hukum, ini mencakup peraturan yang mengatur keabsahan dan implikasi hukum dari perkawinan tersebut.</p><p><br></p><p><strong>Peraturan yang Mengatur Perkawinan Antar Golongan</strong></p><p>- Undang-Undang Perkawinan: Di Indonesia, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menjadi dasar hukum yang mengatur perkawinan, termasuk perkawinan antar golongan.</p><p><br></p><p>- Pasal Terkait: Pasal 29 UU Perkawinan secara tegas mengatur tentang pentingnya perjanjian perkawinan dalam mengatur hak dan kewajiban pasangan, memberikan kepastian hukum bagi setiap pasangan hingga yang berasal dari golongan yang berbeda.</p><p><br></p><p><strong>Aspek Hukum yang Terlibat</strong></p><p>- Hukum Antar Golongan: Merupakan keseluruhan peraturan yang mengatur hubungan hukum antara golongan yang berbeda, termasuk dalam hal perkawinan.</p><p><br></p><p>- Peraturan yang Berlaku: Beberapa peraturan yang mengatur perkawinan campuran, seperti Hukum Perkawinan Campuran (HOCI) dan Regeling op de gemengde Huwelijken (GHR).</p><p><br></p><p><strong>Konsekuensi/Implikasi Hukum Perkawinan Antar Golongan</strong></p><p>- Status Hukum Anak: Anak yang lahir dari perkawinan antar golongan memiliki status hukum yang perlu diatur, termasuk hak waris dan pengakuan orang tua.</p><p><br></p><p>- Hak dan Kewajiban: Pasangan dalam perkawinan campuran memiliki hak dan kewajiban yang diatur oleh hukum yang berlaku, yang dapat berbeda tergantung pada latar belakang golongan masing-masing. Contohnya, Hak atas pengasuhan anak dan kewajiban untuk berpartisipasi dalam pengasuhan anak.</p><p><br></p><p><strong>Contoh Kasus : </strong></p><p>Perkawinan antara perempuan Bumiputera dan laki-laki Eropa merupakan contoh nyata dari perkawinan antar golongan yang diatur oleh hukum. Dalam kasus ini, hukum yang berlaku dapat berbeda tergantung pada peraturan yang mengatur masing-masing golongan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-18 14:28:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/jienika64/a9y86npdj3rufveu/wish/3415154833</guid>
      </item>
      <item>
         <title>M. Farid Wajdinoor (2310211210078)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/jienika64/a9y86npdj3rufveu/wish/3415207524</link>
         <description><![CDATA[<p>Hukum Antar Golongan (intergentiel recht atau conflict of personal laws) adalah bagian dari sistem civil law yang mengatur hubungan hukum antara individu atau kelompok yang tunduk pada hukum yang berbeda dalam satu negara. Ini muncul karena adanya pluralisme hukum (misalnya perbedaan berdasarkan agama, adat, atau status sosial). Dalam civil law system, hukum antar golongan berfungsi untuk:</p><p><br/></p><p>• Mengatasi konflik hukum ketika interaksi terjadi antar kelompok yang tunduk pada aturan berbeda.</p><p>• Menentukan hukum mana yang berlaku (misalnya dalam perkawinan campuran, waris, atau transaksi lintas adat).</p><p>• Menjembatani antara keseragaman (unifikasi) dan keberagaman hukum.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Sumber Hukum Antar Golongan dalam Civil Law</p><p>• Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW) – Awalnya hanya untuk golongan Eropa/Tionghoa, tetapi setelah kemerdekaan berlaku secara lebih luas.</p><p><br/></p><p>• Peraturan Kolonial (sebagai warisan) seperti:</p><p>- Staatsblad 1917 No. 12 (pengaturan hukum untuk orang Eropa &amp; Timur Asing).</p><p>- Staatsblad 1925 No. 557 (hukum perkawinan beda agama).</p><p><br/></p><p>• Peraturan Nasional seperti:</p><p>- UU No. 1/1974 tentang Perkawinan (mengatur perkawinan beda agama).</p><p>- Kompilasi Hukum Islam (KHI) untuk umat Muslim.</p><p>- UU No. 3/2006 tentang Peradilan Agama.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Civil law system memberikan kerangka hukum yang terstruktur, tetapi hukum antar golongan memperlihatkan keluwesan dalam masyarakat majemuk. Di Indonesia, tantangannya adalah:</p><p><br/></p><p>• Mencapai keseimbangan antara kepastian hukum (civil law) dan keadilan berbasis pluralisme.</p><p>• Reformasi hukum (misalnya revisi KUHPerdata) untuk mengakomodasi keragaman tanpa menimb</p><p>ulkan ketidakpastian.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-18 16:05:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/jienika64/a9y86npdj3rufveu/wish/3415207524</guid>
      </item>
      <item>
         <title>DASAR HUKUM Dhiva Ardita Maulidya (2210211220209)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/jienika64/a9y86npdj3rufveu/wish/3415523952</link>
         <description><![CDATA[<p>Berikut adalah dasar hukum dari setiap aspek dalam hukum antar golongan:</p><p><br></p><p>1. Dasar Hukum Perkawinan Antar Golongan</p><p>• Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang</p><p>Perkawinan (Pasal 57) - Mengatur perkawinan campuran antara individu yang tunduk pada hukum yang berbeda.</p><p>• Reglement op de Burgerlijke Stand (GHR) - Mengatur pencatatan sipil dalam sistem hukum kolonial bagi berbagai golongan hukum.</p><p>• Kompilasi Hukum Islam (KHI) - Mengatur perkawinan bagi umat Islam dan memberikan batasan terhadap perkawinan beda agama.</p><p><br></p><p>2. Cakupan Hukum Antar Golongan</p><p>• Indische Staatsregeling (IS) 1925 - Menetapkan pembagian hukum berdasarkan golongan masyarakat (Eropa, Timur Asing, Pribumi).</p><p>• Algemene Bepalingen van Wetgeving voor</p><p>Indonesië (AB) - Menjelaskan prinsip dasar hukum yang berlaku untuk berbagai golongan di</p><p>Indonesia.</p><p>• Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan - Mengatur aspek kewarganegaraan dalam konteks hukum antar golongan.</p><p><br></p><p>3. Latar Belakang Hukum Antar Golongan</p><p>• Wetboek van Strafrecht voor Indonesië (WvSI)</p><p>- Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang diterapkan dengan perbedaan berdasarkan golongan hukum.</p><p>• Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer) - Menjelaskan sistem hukum perdata yang berlaku bagi golongan Eropa dan pengaruhnya terhadap hukum adat dan golongan pribumi.</p><p>• Ordonansi Hukum Adat 1929 - Memberikan pengakuan terhadap hukum adat sebagai sistem hukum tersendiri dalam masyarakat pribumi.</p><p><br></p><p>4. Ruang Lingkup Hukum Antar Golongan</p><p>• Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang</p><p>Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA)</p><p>- Mengatur kepemilikan tanah dalam berbagai sistem hukum, termasuk hukum adat dan hukum perdata Barat.</p><p>• Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 </p><p>tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa - Mengatur penyelesaian sengketa hukum antar golongan dalam transaksi bisnis dan hukum perdata.</p><p>• Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika - Menunjukkan penerapan hukum pidana terhadap semua golongan masyarakat tanpa membedakan sistem hukum kolonial.</p><p><br></p><p>5. Asas-Asas Hukum Antar Golongan</p><p>• Asas Lex Loci (AB Pasal 2) - Menentukan bahwa hukum yang berlaku adalah hukum tempat di mana peristiwa hukum terjadi.</p><p>• Asas Konsensus (Pasal 1320 KUHPer) -</p><p>Menetapkan bahwa perjanjian berlaku bagi para pihak berdasarkan kesepakatan.</p><p>• Asas Kesetaraan (UUD 1945 Pasal 27 ayat 1) - Menjamin bahwa semua warga negara diperlakukan sama di depan hukum.</p><p>• Asas Pluralisme Hukum (Pasal 18B ayat 2 UUD</p><p>1945) - Mengakui keberadaan hukum adat dalam sistem hukum nasional.</p><p>• Asas Integrasi Hukum Adat (UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan) - Menyesuaikan pencatatan kependudukan dengan sistem hukum adat dan nasional.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-19 01:28:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/jienika64/a9y86npdj3rufveu/wish/3415523952</guid>
      </item>
      <item>
         <title>CIVIL LAW M. Farid Wajdinoor (2310211210078)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/jienika64/a9y86npdj3rufveu/wish/3415588713</link>
         <description><![CDATA[<p>Rangkuman :</p><p><br></p><p>Secara singkat, <strong>sistem Civil Law dalam hukum antar golongan </strong>berfungsi sebagai kerangka hukum yang memungkinkan adanya keseragaman dalam penerapan hukum di tengah keberagaman sistem hukum yang berlaku bagi berbagai kelompok masyarakat. Sistem ini menekankan pada kodifikasi hukum dan peran undang-undang sebagai sumber hukum utama, tetapi dalam praktiknya harus beradaptasi dengan pluralisme hukum di Indonesia. Penyelesaian konflik sering menggabungkan asas personalitas, territorial, dan kebijakan legislatif.</p><p><br></p><p>~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~</p><p><br></p><p><br></p><p><strong>Contoh konkret penerapan Hukum Antar Golongan (intergentiel recht) di Indonesia</strong>, yang menggambarkan bagaimana sistem Civil Law berinteraksi dengan pluralisme hukum (hukum adat, Islam, dan Barat):</p><ol><li><p><strong>Perkawinan Antar Golongan</strong></p></li></ol><p>Contoh Kasus:</p><p>Seorang wanita Muslim (tunduk pada Hukum Islam) menikah dengan pria Kristen (tunduk pada KUHPerdata/BW).</p><p><br></p><p>Penyelesaian:</p><ul><li><p>Hukum yang berlaku:</p></li></ul><p>- Untuk pernikahan itu sendiri, mengacu pada UU No. 1/1974 tentang Perkawinan dan PP No. 9/1975.</p><p>-Jika dilangsungkan secara Islam, berlaku hukum Islam (pencatatan di KUA).</p><p>Jika secara Kristen, pencatatan di Kantor Catatan Sipil.</p><p><br></p><ul><li><p>Harta perkawinan:</p></li></ul><p>-Jika tidak ada perjanjian, berlaku hukum komunal (pasal 35 UU Perkawinan). Untuk Muslim, bisa merujuk ke Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 85 (harta bersama). Untuk non-Muslim, bisa merujuk ke BW.</p><p><br></p><ul><li><p>Warisan:</p></li></ul><p>-Masing-masing tunduk pada hukumnya sendiri (Muslim: KHI, Kristen: BW).</p><p><br></p><ul><li><p>Dasar Hukum:</p></li></ul><p>-Pasal 66 UU No. 1/1974: "Untuk perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan berdasarkan atas hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu."</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-19 02:45:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/jienika64/a9y86npdj3rufveu/wish/3415588713</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
