<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Hanya Uneg Uneg by Dear Kore</title>
      <link>https://padlet.com/teruntukkore/mungkinyangterbaik</link>
      <description>bacanya kalau ada waktu aja ya hehe
ini ga terlalu penting.</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2017-04-04 10:45:20 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-10-25 20:06:50 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet-assets.s3.amazonaws.com/icons/Doubleheart.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Mengupas Luka</title>
         <author>teruntukkore</author>
         <link>https://padlet.com/teruntukkore/mungkinyangterbaik/wish/164579452</link>
         <description><![CDATA[<div>Aku pernah dipaksa olehmu untuk melepaskan.<br>Diperintah olehmu untuk melupakan. Memaksaku berhenti, ketika aku terlalu sayang.<br><br>Mungkin kau tidak bahagia. Mungkin melepasku mengartikan kau telah menemukan bahagia. Namun apakah aku bisa merasa bahagia juga? Layaknya mengupas luka yang sudah terlanjur kering. Bahagiamu sekarang, dengan sesalnya terasa seperti luka baru dihatiku.<br><br>Tidak ada kebahagiaan dalam hati, ketika dipaksa melepasmu agar kau hidup lebih bahagia. Jika ada keterlukaan oleh orang yang sampai sekarang pun masih aku sayang.<br><br>Maka berbahagialah kau dengan suka cita. Sehingga menyakitiku kemarin, bukanlah suatu tindakan yang sia - sia. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2017-04-04 11:30:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/teruntukkore/mungkinyangterbaik/wish/164579452</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lilin Kecilmu</title>
         <author>teruntukkore</author>
         <link>https://padlet.com/teruntukkore/mungkinyangterbaik/wish/164581088</link>
         <description><![CDATA[<div>Ketika duniamu gelap, Tuhan menghadirkan aku layaknya sebatang lilin.<br>Kau bakar diriku agar kau tak ketakutan lagi. Kelip cahayaku mengusir lelah dan lelapmu. Ketakutan akan gelap sedikit tersimbak ketika kau tersenyum sesaat setelah menyalakanku.<br><br>Kau tak takut lagi.<br>Dan aku tak peduli lagi.<br>Biar perlahan api mulai menghabiskan hidupku, selama kau tak sedih lagi, aku tak peduli.<br><br>Kau bawa aku ke mana - mana. Seakan saat gelap hidupmu, akulah temanmu satu-satunya. Kau bercerita, kau berbagi tawa, kau curahkan segala keluh kesah padaku; cahayamu satu - satunya.<br><br>Hingga suatu saat lampu kembali menyala.<br>Kau tersontak lalu terdiam sebentar.<br>Menatap aku, seakan aku tak kau butuhkan lagi.<br>Meniup apiku, seakan cahayaku tak menghangatkanmu lagi.<br><br>Lalu kemudian kau berbahagia.<br>Bersorak - sorai sambil tertawa riang karena lampu kembali menyala- seakan saat itu tawamu sedang merayakan aku yang berduka karena ditinggalkanmu begitu saja.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2017-04-04 11:39:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/teruntukkore/mungkinyangterbaik/wish/164581088</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kepada Kamu</title>
         <author>teruntukkore</author>
         <link>https://padlet.com/teruntukkore/mungkinyangterbaik/wish/164582799</link>
         <description><![CDATA[<div>Kepada kamu,<br><br>Aku tak menyangka berbicara berdua bisa menjadi sesulit ini sekarang. Kita seperti kita yang dulu sebelum saling mengenal. Tapi, bersamaan dengan tulisan ini bolehkah aku menyampaikan sesuatu kepadamu? Kau mau membacanya atau tidak itu terserah dirimu. Sengaja atau tidak sengaja. Sepintas atau berulang - ulang.<br><br>Aku tidak akan berkata panjang-panjang, aku harus pergi sekarang, dan aku tidak tahu kapan akan kembali. Atau mungkin tidak sama sekali; Aku masih belum tahu.<br><br>Aku hanya ingin kau tahu satu hal sebelum aku pergi.<br><br>Bahwa sempat dekat denganmu adalah hal paling indah yang pernah </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2017-04-04 11:47:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/teruntukkore/mungkinyangterbaik/wish/164582799</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kau Pandang Aku Ada</title>
         <author>teruntukkore</author>
         <link>https://padlet.com/teruntukkore/mungkinyangterbaik/wish/164583852</link>
         <description><![CDATA[<div>Aku mendampingimu di saat-saat paling buruk dalam hidupmu.<br>Menjagamu dengan sepenuh-penuhnya hati.<br>Tak membiarkanmu berlaku bodoh agar kau tidak tersakiti lagi.<br>Namun ketika semua sudah mulai membaik, kau pergi.<br>Kau berlari lagi seakan tidak ada aku dalam hidupmu sebelumnya.<br>Kurawat patah sayap-sayapmu, namun kini kau terbang gagah meninggalkanku.<br>Tak pernahkah kau pandang aku ada?<br>Aku rindu kau yang terluka, aku rindu melihatmu yang tak berdaya.<br>Karena saat itu kau mampu menghargai kehadiranku jauh lebih berharga ketimbang sekarang yang sedang tertawa bahagia dengan orang berbeda.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2017-04-04 11:53:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/teruntukkore/mungkinyangterbaik/wish/164583852</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dibalik setiap kalimat, &quot;Aku Tak Apa&quot;</title>
         <author>teruntukkore</author>
         <link>https://padlet.com/teruntukkore/mungkinyangterbaik/wish/164584805</link>
         <description><![CDATA[<div>Kepada, seseorang yang fotonya pernah ada di setiap tempat spesial yang aku siapkan.<br><br>Well...<br><br>Mungkin ini adalah surat fiksi ke-seribu kali yang aku tulis, namun tak akan pernah kau baca. Tak apa, Ia memang seperti itu, atau lebih tepatnya seperti kisah kita kemarin. mungkin? hahahaha. maaf, maaf, aku tak bermaksud membuatmu tersinggung lagi.<br><br>Oke, baiklah.... Surat ini aku tulis bukan tanpa alasan juga, melainkan ada beberapa hal yang menggerakkan tanganku untuk kembali menuliskan namamu lagi disini. Ah tidak, aku tidak mungkin menuliskan namamu di sini.<br><br>Kau... Kau.... Namamu terlalu indah, sekaligus terlalu menyakitkan untuk ditulis di sini.<br><br>Malam ini aku akan menceritakan apa maksud dari setiap kata&nbsp;<strong>"Aku Tak Apa"&nbsp;</strong>&nbsp;yang kau dapatkan, ketika kau bertanya kepadaku setiap aku terdiam. Aku bukan bermaksud menjadi seseorang yang egois dan kekanak-kanakan karena memilih untuk tidak berbicara tentang perasaan yang aku rasa, hanya saja aku tahu jika aku bicara, itu mungkin akan mengganggu kebahagiaanmu sekarang ini.<br><br>Tak enak rasanya aku merusak kebahagiaanmu yang telah dibangun susah payah oleh seseorang (<em>namun tetap tidak sehebat aku</em>), yang kau cium pipinya sebelum tidur itu. Karena dulu tanpa kau tahu, aku juga benci ketika kau di sampingku, namun kau tetap membicarakan orang lain.<br><br>Ah, aku jadi kembali membicarakan masa lalu.<br>Maaf...maaf...<br><br>Dari sekian banyak kerikil, dari sekian banyak anak tangga, dari sekian banyak persimpangan, dari sekian banyaknya hal- hal itu di masa lalu, pada akhirnya aku sampai kepadamu kemarin. Aku kira aku akan berhenti cukup lama, namun ternyata tidak. Aku kira kau lebih dari sekedar tempat persimpangan yang lainnya.<br><br>Namun aku akan jujur. Dari sekian banyak masa lalu yang telah aku lalui, entah mengapa kau yang paling melekat. Rasa-rasanya setiap aku menemui orang baru dan menunjukkannya kepada temanku, mereka akan berkata bahwa orang baru itu mirip dirimu.<br><br>Entah itu matanya, hidungnya, bibirnya, badannya, atau bahkan gelak tawanya. Awalnya aku merasa ini hanya kebetulan, hingga pada akhirnya tiga temanku mengatakan bahwa setiap persimpangan yang aku lalui, semuanya selalu mirip darimu.<br><br>Astaga! Jadi, selama ini di alam bawah sadarku, aku mencari penggantimu, namun sebenarnya aku mencari kau dalam diri orang lain? Sungguh memalukan. Aku tak pernah merasa sebegitu bodohnya seperti ini. Kau adalah orang pertama yang mampu membuatku seperti ini.<br><br>Tapi tenang saja, aku pun pada awalnya tak percaya. Mungkin ini hanya khayalku saja. Namun. semakin aku mencoba untuk mengelak dari rasa yang aku buat sendiri ini, tanpa sadar aku semakin mencari kau.<br><br>Iya, kau.<br><br>Aaku pandai menasihati orang lain. Mencaci - maki setiap mereka yang bodoh karena bertahan setelah ditinggal pergi. Namun, sekarang aku adalah mereka. Aku mencaci-maki diriku sendiri. Ah! Rasa-rasanya aku semakin membenci diriku sendiri jika menceritakan semua hal ini lagi. Maka, maukah mulai sekarang kau mengerti apabila aku menjawab&nbsp;<strong>"Aku Tak Apa"</strong> ketika kau tanya bagaimana kabarku?<br><br>Karena, selain aku yang selalu tanpa sadar mencarimu di setiap orang yang aku temu, kau juga tahu bahwa kabarku pernah jauh lebih baik; dan itu adalah ketika aku masih bersamamu.<br><br>Aku pun sama sepertimu, tak ingin kita jauh, tak ingin kita seperti orang asing lagi. Tapi jujur saja, aku benci menjadi orang pintar yang sudah terlanjur memenuhi otakku dengan banyaknya pengetahuan bahwa sekarang kau tak lagi mencintaiku- dan yang lebih brengseknya lagi, di sini aku masih.<br><br>Aku rindu menjadi orang bodoh. Yang berani mencintaimu secara luar biasa ketika kita pergi berkencan untuk kedua atau ketiga kalinya. Aku rindu menjadi orang bodoh yang mendengarkanmu menangis setelah dilukai orang lain. Aku rindu menjadi orang bodoh yang berpura - pura tak apa ketika telingaku dijejali tawamu menceritakan orang lain.<br><br>Selain itu, disetiap kalimat&nbsp;<strong>"Aku Tak Apa"</strong>yang aku ucapkan kepadamu, di sana juga tersimpan sebuah rahasia lain. Rrahasia perihal hari-hariku yang tentunya sudah tanpamu. Baik buruknya aku ingin banyak bercerita seperti dulu, kau mendengarkan, sesekali tertawa karena aku menyelipkan kata-kata manis, atau terbahak - bahak ketika aku menyelipkan hinaan kecil perihal orang yang aku temui hari itu.<br><br>Namun, aku memilih untuk tidak bercerita lagi.<br>Bukan karena apa-apa, namun aku tak ingin mengganggu apa yang sedang kau bangun sekarang bersama orang lain itu. Aku sebenarnya bisa saja menjadi orang brengsek yang datang, masuk ke kehidupan kalian, membuatmu kembali jatuh cinta kepadaku, lalu kemudian aku pergi begitu saja. Ah, itu perkara mudah untukku.<br><br>Tapi, kau tahu aku. Aku yang sebenar-benarnya aku, pasti tidak akan pernah melakukan itu.<br><br>Maka nanti di setiap kalimat&nbsp;<strong>"Aku Tak Apa"</strong> yang aku ucapkan, aku harap kau mulai mengerti bahwa ada banyak pengorbanan yang aku simpan di dalamnya. Pengorbanan perihal aku, engkau, kita, masa lalu, dan masa depan.<br><br>Terima kasih.<br><br>Akhirnya, surat ini aku tutup tepat ketika lagu&nbsp;<em>Michael Buble - You Don't Know Me&nbsp;</em>sedang mengalun di musikku ini menyentuh detik - detik akhir.<br><br>Terima kasih sudah pernah datang. Terima kasih sudah pernah membuatku jatuh cinta. Aku pernah bahagia bertemu kau, dan aku tak pernah menyesal.<br><br>Kita adalah sebuah kebetulan yang entah bagaimana caranya bisa menjadi bahagia. Sesuatu yang tak pernah disangka-sangka sebelumnya, namun bisa bertahan begitu lama.<br><br>Aku tak bermaksud memenangkan kau kembali. Aku sudah cukup. Saatnya aku mulai kembali berlari setelah beristirahat panjang.<br><br>Kelak apabila kau tak sengaja berkunjung dan membaca surat yang diam-diam aku tulis untukmu imi, lalu kau merasa bahwa aku belum benar - benar bisa melupakanmu,&nbsp;<em>well...<br><br></em>Seperti lagu yang sedang aku dengarkan tadi,<br><br><em>Sorry,</em></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2017-04-04 11:57:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/teruntukkore/mungkinyangterbaik/wish/164584805</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
