<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Kelas Menulis by Husna</title>
      <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f</link>
      <description>Ayo Menulis! Tuangkan karyamu disini!</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-12-12 06:59:05 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2023-02-27 06:24:54 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Rizky Syawal Syahputra (9b)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946279820</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1499683460/537f0d72db9a794c08fc90458637e5d1/16394637127397995794203854587217.jpg" />
         <pubDate>2021-12-14 06:36:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946279820</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rizky Syawal Syahputra (9b)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946280394</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1499683460/0a50ea81a515a5cfd28fc8b599d34b93/1639463817062301793092429914290.jpg" />
         <pubDate>2021-12-14 06:37:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946280394</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rizky Syawal Syahputra(9b)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946280955</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1499683460/11afcd302e0bcecfb41a438571b15b6d/16394638518383509846699209461963.jpg" />
         <pubDate>2021-12-14 06:37:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946280955</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama: Assyifa Humaira    Kelas: 7D                               Tema: Resolusi 2022Judul: Memenangkan Hati Ibu Sinopsis:Aku dan ibu yang berbeda, selalu ada konflik di antara kita. Ibu tetaplah ibu yang menginginkan terbaik dan aku harus memenangkan hati ibu.                &quot;Memenangkan Hati Ibu&quot;      Aku adalah anak ke dua dari tiga bersaudara, aku mempunyai Abang dan seorang adik.                       Ibuku adalah orang yang melahirkanku kedunia ini, ibuku orang yang sangat cantik, sabar, dan hebat.      Hubungan aku dan ibuku yang berbeda, selalu ada keributan diantara kita.                            Aku yang tidak sempurna untuk ibuku, kadang marah-marah tidak jelas kepada ibuku, kadang membentak ibuku, sehingga membuat ibuku lelah.                          Tetapi ibuku selalu bijaksana dengan sikapku ia memberi tahu mana yang benar mana yang tidak, menyelesaikan masalahku dengan sangat bijaksana.                                    Ibuku juga memikirkan yang terbaik untukku, walaupun kadang ibuku marah dengan sikapku yang tidak baik. aku tahu bahwa ibu memarahiku karena ibu mau memberikan yang terbaik untukku.   Diantara kami berdua ada saja kesalahan pahaman, antara aku yang menginginkan itu dan ibuku yang melarangku untuk itu.                                    Aku selalu saja egois, egois untuk mendapatkan apa yang aku inginkan tetapi tidak memperdulikan apa yang akan didapat oleh ibuku.         Padahal ibuku ingin yang terbaik untukku, tetapi aku selalu keras kepala dengan tidak mendengarkan nasihat dan perintah ibuku.            Hanya saja karena ibuku tidak memenuhi apa yang ku minta, aku memusuhi ibuku sendiri hingga mengatakan hal yang seharusnya tidak aku katakan.     Ibuku yang mendengar perkataanku, lalu ia menghampiriku sembari memarahiku.                        Ibuku yang tak tega melihat ku menangis karena dimarahinya lalu memberikan petuah bijak, &quot;Kalau tidak mau dimarahi lagi dengarkan apa yang mama bilang ya nak!&quot;.    Aku masih menangis karena kata-kata marah ibuku membuat ku sakit hati, ibuku yang kesal karena aku masih menangis tambah memarahi ku. Hal itu disebabkan karena perbedaan dalam sikap kami.   Banyak sekali konflik di antara kita sehingga akhirnya aku dan ibuku lelah dengan keributan kita berdua.          Lalu disaat kelelahan itu tiba ibuku dan aku saling meminta maaf dengan ibuku memberikanku nasihat,&quot;maafkan ibu ya nak, dan seharusnya tadi kamu tidak berkata seperti itu kepada ibu, ibu hanya ingin yang terbaik buat kamu itu saja, sekali lagi ibu minta maaf ya.&quot; Lalu aku pun menjawab,&quot;iya bu aku juga minta maaf seharusnya aku mendengar perkataan ibu&quot;.  Ibu sadar, seharusnya ibu bersyukur memiliki anak seperti kamu yang dititipkan tuhan untuk ibu. Iya bu seharusnya aku juga begitu aku seharusnya berterima kasih kepada tuhan sudah memberikan ibu seperti ibuku ini.                                                Lalu aku dan ibuku saling mengelola stres atas perbedaan kami, seperti aku mendengarkan perintah ibuku, dan ibuku menasehatiku dengan baik.   Saat aku sedang kebingungan menyelesaikan tugas ibuku selalu memotivasiku &quot;ayo coba kamu baca-baca lagi pasti menemukan jawabannya&quot; dan kita saling memberikan kasih sayang.   Saat itu juga kita mencoba untuk saling memahami dengan memahami apa yang diinginkan aku dan aku memahami apa yang diinginkan ibuku.   Dan pada saat itu juga kami berdamai dan bersepakat bahwa tidak akan ada keributan diantara kami lagi dan bersepakat untuk saling memahami.    Dengan kejadian ini aku dan ibu mendapatkan banyak hal baru, dari mendapatkan pelajaran untuk saling memahami&quot; hingga&quot;mendapatkan banyak hal positif&quot;.   Dengan kejadian ini aku selalu mendengarkan perkataan ibuku, dan ibuku sangat senang sekali. Dengan demikian aku dapat memenangkan hati ibuku.   Jika ada suatu maslah diantara kami berdua kami akan mensikapinya dengan positif dan sabar.    </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946286074</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-12-14 06:42:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946286074</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kheysa Rizki Syafitri 9E</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946303888</link>
         <description><![CDATA[<div>Judul: Selamat jalan matahariku<br><br>Sinopsis:<br>&nbsp; Aku selalu bertengkar dengan ibuku karena keegoisan ku tapi ibu selalu sabar mengahadapi ku. Bagaimana jika ibu tidak ada?<br><br>1. Ibu dan aku<br>&nbsp; Aku gadis remaja yg duduk dibangku kelas 9 dan ibuku berkerja di tempat warung makan dekat dengan sekolahku. Aku malu karena ibuku berkerja disana mengapa ibu tidak berkerja kantoran seperti ibu teman-temanku. Sejak ayah meninggal hidup kami menjadi kurang tercukupi karena gaji ibu hanya bisa membayar kontrakan dan kami hanya makan telur goreng dan nasi<br><br>Aku bosan kenapa ibu tidak pernah membeli ayam sekali saja untukku saat aku bertanya pasti ibu hanya bilang "Ibu tidak cukup untuk membeli ayam" dan itu membuat ku marah dan akhirnya aku bertengkar dengan ibuku tapi ibu hanya diam dan tidak sama sekali marah kepadaku dan itu yg membuat ku bingung<br><br>2. Ulang tahunku<br>&nbsp; Hari ini adalah hari ulang tahunku aku ingin ulang tahunku juga mewah sepeti teman-temanku lainnya. Aku merasa temanku itu hidupnya selalu sempurna kenapa aku tidak? Meminta hadiah kepada ibuku? Ahh pasti alasan ibu selalu tidak punya uang. Tapi ibuku hari ini bilang kalau saat aku pulang sekolah ibu akan membelikan ku ayam goreng untukku. Aku sangat senang dan memeluk ibuku aku tidak sabar pulang sekolah nanti aku akan makan ayam goreng yg ibu beli.<br><br>&nbsp;Jam sudah menunjukan untuk pulang sekolah alarm pun sudah berbunyi aku merapikan buku-buku ku dan berjalan pulang ke rumah. Tapi saat aku pulang ke rumah tidak ada orang,"dimana ibu?" Ucapku, aku masuk kerumah dan mencari ibu tapi tidak ada aku fikir ibu mungkin sedang pergi ke tetangga atau membeli ayam goreng untukku tapi saat aku sedang ingin menaruh sepatuku dirak. Ada seorang tetangga yg berlari menghampiri ku dan dia berkata ibuku tertabrak mobil dan dilarikan ke rumah sakit. Aku yg kaget langsung pergi bersama tetanggaku ke rumah sakit tempat ibuku dibawa<br><br>3. 3 hari<br>&nbsp; Aku sangat kaget dan sedih karena ibu dinyatakan lumpuh "jika aku tidak meminta ibu untuk membelikan ayam goreng untuk ku mungkin ibu tidak akan lumpuh" aku menangis melihat kondisi ibu aku merasa bersalah bahkan saat ibu sudah sadar ibu hanya berkata "Ibu tidak apa-apa" dan itu membuat ku menangis lebih kencang aku sangat menyesal<br><br>&nbsp; Hari pertama aku merawat ibu di rumah sakit aku menyuapi ibuku dengan makanan yg ada dirumah sakit,juga menemani ibu jalan jalan disekitar rumah sakit aku sangat senang ketika ibu tersenyum kami bercanda dan tertawa bersama<br><br>&nbsp; Hari kedua seperti biasa aku menyuapi ibu dan di sore harinya aku mengajak ibu berjalan jalan disekitar rumah sakit. "Aku nanti kamu sudah besar cita citamu apa?" Tanya ibu, "Aku ingin menjadi dokter yg menolong orang sakit" jawabku tersenyum dan ibu juga ikut tersenyum karena sudah terlalu sore aku mengajak ibu untuk masuk ke kamar. Malamnya ibu berkata "Kalau nanti sudah sukses jangan lupa sama orang disekitar kita ya kamu harus menjadi orang yg terbaik buat ibu" air mata ku menetes saat ibu berkata "menjadi orang terbaik" aku berfikir aku tidak pantas menjadi orang terbaik untuk ibu, aku langsung memeluk ibuku dengan erat<br>&nbsp;<br>Hari ketiga aku bangun pada jam 8 pagi aku melihat ibu masih tertidur aku membiarkannya karena aku tidak mau nanti ibu terbangun karena ibu harus istirahat aku pergi ketaman untuk mencari udara segar, aku kembali ke kamar ibu tapi ibu belum bangun juga jadi aku fikir ibu mengantuk tapi pada jam pukul 11 siang ada seorang suster yg ingin mengecek keadaan ibuku. Tapi saat suster itu mengecek keadaan ibu, suster itu malah sedih karena itu aku bertanya "mengapa suster sedih?" Dan suster itu bilang kalau ibu sudah tidak ada. Aku tidak percaya apa yg dibilang suster itu aku mengecek nadi ibu dan nafas dari hidungnya tapi nihil nadi ibu tidak berdenyut. Aku tidak percaya ibu meninggalkan aku secepat ini setelah ayah sekarang ibu itu membuat ku terpuruk,aku menangis kencang ketika ibu dipindahkan ke ruang mayat dan ditutup dengan kain putih<br><br>4. Dear ibu<br>&nbsp;  <em>Ibuku matahariku yg selalu menerangi hari hariku selalu bersabar terhadap sikapku. Maaf belum menjadi anak yang yang berbakti kepadamu dan menjadi kebanggaanmu bahkan aku belum sempat meminta maaf kepadamu ibu. Kenapa ibu pergi secepat itu aku masih membutuhkan mu tapi Tuhan berkehendak lain aku berjanji kepada hidupku untuk selalu menjadi orang yg tidak Pernah melupakan jasamu terimakasih kasih atas kesabaran mu itu. Selamat jalan matahariku...</em></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-12-14 06:58:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946303888</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Luna Arsya 9E</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946337018</link>
         <description><![CDATA[<div>Harta Berharga<br>Di sebuah keluarga kecil ada seorang anak laki-laki yang bernama Riski dia adalah anak yang pandai, rajin, di kagumi guru-guru di sekolah karena prestasi nya, dan Riski juga nurut sekali dengan ibu nya. Riski tinggal hanya bersama ibu nya, karena ayah nya sudah lama meninggal dunia sejak Riski umur 3 tahun, dan juga Riski anak tunggal, Riski saat ini masih duduk di SD kelas 4.&nbsp;<br>KRINGGGGGG.....!!!!!!<br>Bel istirahat di sekolah Riski pun berbunyi, Riski dan teman-temann pun langsung bergegas keluar kelas. Riski binggung melihat teman-temannya jajan di kantin dan menikmati bekal, tetapi Riski tidak punya uang untuk jajan karena keluarga nya kesulitan ekonomi, dan tidak bawa bekal karena ibu nya sedang sakit. Tidak lama kemudian Rio, Edo, dan Beni menghampiri Riski.<br><br>Rio: Edo, beni lihat ada anak miskin kelaparan<br>(Rio, Edo, dan Beni mengejek Riski sambil tertawa berbahak- bahak)<br>Edo: Riski, aku ada uang untuk kamu beli jajan di kantin, tapi ada syaratnya, nanti pulang sekolah kamu harus tanding bola dilapangan bersama kita. Bagaimana setuju???<br>(Riski berpikir, dan sambil memegang perutnya yang kelaparan)<br><br>Riski: Kalau aku tolak, perutku sudah lapar sekali tadi pagi juga aku tidak sarapan. Tetapi, jika aku terima uang mereka, bagaimana dengan ibu yang sedang sakit dirumah. (kata Riski dalam hati)<br><br>Setelah memikirkan kurang lebih 5 menit, Riski pun menemukan jawabannya.<br>Riski: Iya aku mau, nanti habis pulang sekolah aku ikut dengan kalian<br>Rio: Oke, baiklah ini uang jajan untuk kamu.<br>Riski: Baik, terimakasih.<br>Tidak lama kemudian Riski langsung bergegas ke kantin dan membeli makanan.<br><br>Pulang sekolah pun tiba, Riski tidak lupa janji nya dengan Rio,Edo, dan Beni. Mereka ber empat bergegas langsung kelapangan tanpa mengganti baju sekolahnya itu.&nbsp;<br>Sudah 1 jam mereka bermain bola dilapangan,&nbsp;<br>begitu juga Riski yang ke asyikan bermain bola dengan temannya itu sampai lupa dengan kondisi ibu nya dirumah.<br>Ibu nya pun terbangun dari tidurnya dan dia langsung melihat jam dan mencari Riski yang belum pulang kerumah, dengan kondisi yang sangat lemas itu ibu nya Riski pun tetap memaksakan diri untuk mencari Riski keluar rumah.o<br><br>Setelah sekitar 2 jam mereka bermain di lapangan, Riski pun baru ingat dengan ibu nya dan langsung bergegas pulang kerumah, tetapi ibu nya tidak ada. Riski pun keluar dan menanyakan tetangga nya satu per satu, tetapi tetangga nya tidak ada yang mengetahui nya, Riski pun semakin binggung dan benar saja ditengah jalan Riski melihat orang ramai sedang mengumpul, ternyata itu ibunya Riski yang pingsan, Riski pun langsung meminta tolong warga yang lain untuk bawa ibunya ke rumah sakit.<br><br>Sesampai dirumah sakit, dan ibu nya sidah sadar, Riski pun langsung masuk ke ruangan ibu nya.<br>Riski: Ibu Riski minta maaf, belum izin ke ibu.<br>Ibu Riski: memang tadi kamu kemana nak?<br>(Riski pun menjelaskan semuanya kepada ibunya dan setelah beberapa jam kemudian Ibu Riski dan Riski kembali kerumah karena sudah boleh pulang oleh dokter).<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-12-14 07:23:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946337018</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Yuga Lukmansyah 9B</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946350804</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Harta Berharga<br>Di sebuah keluarga kecil ada seorang anak laki-laki yang bernama Riski dia adalah anak yang pandai, rajin, di kagumi guru-guru di sekolah karena prestasi nya, dan Riski juga nurut sekali dengan ibu nya. Riski tinggal hanya bersama ibu nya, karena ayah nya sudah lama meninggal dunia sejak Riski umur 3 tahun, dan juga Riski anak tunggal, Riski saat ini masih duduk di SD kelas 4.&nbsp;<br>KRINGGGGGG.....!!!!!!<br>Bel istirahat di sekolah Riski pun berbunyi, Riski dan teman-temann pun langsung bergegas keluar kelas. Riski binggung melihat teman-temannya jajan di kantin dan menikmati bekal, tetapi Riski tidak punya uang untuk jajan karena keluarga nya kesulitan ekonomi, dan tidak bawa bekal karena ibu nya sedang sakit. Tidak lama kemudian Rio, Edo, dan Beni menghampiri Riski.<br><br>Rio: Edo, beni lihat ada anak miskin kelaparan<br>(Rio, Edo, dan Beni mengejek Riski sambil tertawa berbahak- bahak)<br>Edo: Riski, aku ada uang untuk kamu beli jajan di kantin, tapi ada syaratnya, nanti pulang sekolah kamu harus tanding bola dilapangan bersama kita. Bagaimana setuju???<br>(Riski berpikir, dan sambil memegang perutnya yang kelaparan)<br><br>Riski: Kalau aku tolak, perutku sudah lapar sekali tadi pagi juga aku tidak sarapan. Tetapi, jika aku terima uang mereka, bagaimana dengan ibu yang sedang sakit dirumah. (kata Riski dalam hati)<br><br>Setelah memikirkan kurang lebih 5 menit, Riski pun menemukan jawabannya.<br>Riski: Iya aku mau, nanti habis pulang sekolah aku ikut dengan kalian<br>Rio: Oke, baiklah ini uang jajan untuk kamu.<br>Riski: Baik, terimakasih.<br>Tidak lama kemudian Riski langsung bergegas ke kantin dan membeli makanan.<br><br>Pulang sekolah pun tiba, Riski tidak lupa janji nya dengan Rio,Edo, dan Beni. Mereka ber empat bergegas langsung kelapangan tanpa mengganti baju sekolahnya itu.&nbsp;<br>Sudah 1 jam mereka bermain bola dilapangan,&nbsp;<br>begitu juga Riski yang ke asyikan bermain bola dengan temannya itu sampai lupa dengan kondisi ibu nya dirumah.<br>Ibu nya pun terbangun dari tidurnya dan dia langsung melihat jam dan mencari Riski yang belum pulang kerumah, dengan kondisi yang sangat lemas itu ibu nya Riski pun tetap memaksakan diri untuk mencari Riski keluar rumah.o<br><br>Setelah sekitar 2 jam mereka bermain di lapangan, Riski pun baru ingat dengan ibu nya dan langsung bergegas pulang kerumah, tetapi ibu nya tidak ada. Riski pun keluar dan menanyakan tetangga nya satu per satu, tetapi tetangga nya tidak ada yang mengetahui nya, Riski pun semakin binggung dan benar saja ditengah jalan Riski melihat orang ramai sedang mengumpul, ternyata itu ibunya Riski yang pingsan, Riski pun langsung meminta tolong warga yang lain untuk bawa ibunya ke rumah sakit.<br><br>Sesampai dirumah sakit, dan ibu nya sidah sadar, Riski pun langsung masuk ke ruangan ibu nya.<br>Riski: Ibu Riski minta maaf, belum izin ke ibu.<br>Ibu Riski: memang tadi kamu kemana nak?<br>(Riski pun menjelaskan semuanya kepada ibunya dan setelah beberapa jam kemudian Ibu Riski dan Riski kembali kerumah karena sudah boleh pulang oleh dokter).</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-12-14 07:32:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946350804</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Eka Airin Zafira (8C)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946356466</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1499717100/3c9c0250cabfea2285dbea810774cb6a/IMG_20211214_143409.jpg" />
         <pubDate>2021-12-14 07:37:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946356466</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Anggita maya putri teddi (7D) </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946367950</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1268146267/90194f8ed52440ee76f555f12c55eb42/16394678045907843885101356929182.jpg" />
         <pubDate>2021-12-14 07:45:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946367950</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946372115</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1349626106/2430b2531bb981da814ddbeb3d89f44d/IMG_20211214_144634.jpg" />
         <pubDate>2021-12-14 07:48:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946372115</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SANNANAWATI SUGIHHARTI LESTARI (KLS 7B)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946548697</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1350117307/392ea801080b434ec33eade85b9167f8/IMG_20211214_142825_042.jpg" />
         <pubDate>2021-12-14 09:43:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946548697</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Keisha Amanda Putri (8C)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946695864</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1499787714/961a5afa2578bcef8f1bc4050a194de8/Wanita_Karir.docx" />
         <pubDate>2021-12-14 11:20:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946695864</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946809094</link>
         <description><![CDATA[<div>Anggie&nbsp;Nuraini Ruhyat kls (7B)</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1349273749/6c5cdf11b14189774dba1d7df8422da7/inCollage_20211214_192606921.jpg" />
         <pubDate>2021-12-14 12:32:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946809094</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bunga Terakhir [Najla SR Hakim 8A]</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946873401</link>
         <description><![CDATA[<div><em>Halo, aku Thama. Dakara Andhithama. Kalian bisa panggil aku dengan sebutan Thama. Thama udah SMA lho.. hehehehe<br><br>Umur Thama 16 tahun. Thama anak kedua dari 3 bersaudara. Tapi, Thama berbeda dari Kakak dan Adik nya Thama. Thama tidak begitu sempurna.<br><br>Hearing Aid sudah terpasang di telinga Thama sejak usia balita. Thama menggunakan itu untuk membantu mendengar. Walaupun, terkadang suara yang Thama dengar sedikit samar samar. Namun setidaknya ini membantu walau pun tidak sepenuhnya.<br><br>Saat Thama berusia satu tahun, Dokter menyatakan Thama tuli sejak lahir. Dan itu, membuat Bunda kecewa. Bunda marah, sangat sangat marah. Kata Bunda, Thama tidak pantas lahir dari rahim Bunda kala itu. Lebih baik Bunda menggugurkan kandungan nya. Lebih baik, Thama mati.<br><br>Sejak saat itu, Thama tidak pernah merasakan bagaimana rasanya disayang oleh seorang Ibu.<br><br>Thama bukan anak yang pandai. Nilai raport Thama selalu merah. Dan Bunda, semakin membenci Thama. Bunda malu punya anak kayak Thama begini. Dan juga, Thama enggak pernah menjadi anak yang berprestasi di sekolah. Dan itu selalu membuat Thama terpojok.<br><br>Terkadang Thama iri sama Kang Adi yang selalu dibangga banggakan oleh Bunda berkat keberhasilannya dalam bidang Akademik mau pun Nonakademik. Kang Adi, saat sekolah Kang adi selalu memenangkan begitu banyak perlombaan. Dan dia sangat pintar dalam semua materi mata pelajaran. Itu sebabnya, Kang Adi menjadi seorang Dokter muda yang sukses sekarang.<br><br>Thama juga iri dengan Dava yang selalu mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Dava sangat disayang sama Bunda. Dava anak kesayangan Bunda. Dava anak yang berprestasi dibidang Non Akademik. Dia memenangkan banyak perlombaan Basket. Dan dia juga Kapten di dalam tim nya.<br><br>Thama iri. Thama juga mau di sayang sama Bunda, Thama juga mau di manja sama Bunda seperti Bunda memanjakan Dava. Thama mau dibanggakan oleh Bunda seperti Bunda membanggakan Kang Adi. Thama mau merasakan semua itu. Thama mau ada diposisi itu, Bunda. Thama mau..<br><br>AKHH..!!! Luka di punggung Thama belum begitu sembuh. Pukulan Bunda sangat sakit rasanya. Thama enggak kuat sama pukulan Bunda.<br><br>Sore itu, Thama dipukul sama Bunda, tanpa ada kata ampun. Thama tidak melawan. Thama tau, Thama salah. Thama tau, Bunda pasti kecewa sama Thama. Bunda, Thama enggak apa apa kok kalau Bunda pukul Thama. Selagi Bunda puas akan hal itu, Thama enggak apa apa. Thama bodoh ya Bund, masa nilai Matematika bisa dapat nilai 15. Padahal, kata Pak Guru soal itu mudah. Tapi Bund, Kemampuan Thama hanya sampai situ.<br><br>Bunda pasti malu banget ya punya anak kayak Thama. Seorang anak yang tuli, bodoh, tidak berprestasi, memiliki kekurangan yang banyak. Tidak seperti Kang Adi sama Dava. Thama hanya sampah yang tidak memiliki harga, ya Bunda?<br><br>Bunda, Anakmu ini hanya manusia biasa. Mengapa Bunda selalu menuntut Thama menjadi seseorang yang sempurna?<br><br>HEH.. ASTAGAA.. KOK THAMA CURHAT SIH.. KAN NIAT NYA THAMA CUMAN MAU MENDESKRIPSIKAN SIAPA DIRI THAMA.. BUKAN CURHAT KAYAK BEGINI.. HUHH.. :)<br><br></em><strong><em>Bandung, 23 Februari 2020</em></strong><br><br>——— ○ °•°•° ○ °•°•° ○ ———<br><br>Wanita itu, kembali membuka lembaran baru. <em>Akh</em>, sakit rasanya. Ini baru lembaran pertama. Belum semuanya dia lihat dalam buku itu.<br><br>"Begitu berat hidupmu, Tham.. hikss.." isakan tangis mulai terdengar. Tidak kuat rasanya untuk ia membuka lembar lain nya. Namun, dia ingin tahu bagaimana seorang Thama yang menjalani hidupnya dengan cukup berat.<br><br>——— ○ °•°•° ○ °•°•° ○ ———<br><br><em>Hari ini Thama ulang tahun.. yeeyyy.. Thama harap Bunda sayang sama Thama, Bunda bangga sama Thama. Bunda mau menerima Thama apa adanya. Thama mau, Bunda peluk Thama nanti pagi. Tapi, Thama tau kok..<br><br>Bagaimana pun juga, Bunda enggak akan sayang sama Thama. Bunda enggak akan bangga sama Thama. Kan enggak ada yang bisa dibanggain dari Thama ya Bund? Bunda juga enggak maj menerima Thama dengan kekurangan Thama kan? Dan peluk. Bunda enggak akan peluk Thama kan? Iya, Thama tau kok Bunda.<br><br>Yaudah degh, Thama ganti semua harapan Thama malam ini. Thama mau Bunda sehat selalu, Bunda panjang umurnya, Bunda semakin awet mudaa.. hehehee.. Kang Adi sama Dava juga harus sehat selalu yyaa.. Kang Adi sama Dava harapan Bunda. Jangan kecewain Bunda ya, Kang, Dava..<br><br>Tapi Bunda, satu harapan Thama yang enggak akan Thama ubah setiap tahun nya. Semoga, Bunda sayang sama Thama dan bisa menerima Thama apa adanya. Udah, itu aja kok Bunda..<br><br>Selamat Ulang Tahun Thama..</em><br><br><strong><em>Bandung, 06 Juni 2020</em></strong><br><br>——— ○ °•°•° ○ °•°•° ○ ———<br><br>"Sesederhana itu harapan kamu, Tham? Sebaik itu diri kamu, Thama?"<br><br>——— ○ °•°•° ○ °•°•° ○ ———<br><br><em>Bundaa.. keinginan Bunda sepertinya akan terwujud. Kalau sudah terwujud, Bunda bangga enggak sama Thama? Bunda seneng gak sama Thama? Semoga Bubda bangga dan seneng ya sama Thama.. tapi Bunda, boleh gak sebelum keinginan Bunda itu terwujud, Bunda peluk Thama? Setelah itu, keinginan Bunda akan terpenuhi..<br><br>Thama punya waktu 2 minggu lagi katanya. Bunda, sakit juga rasanya menahan rasa ini selama satu tahun lebih. Tapi, Thama baru menyadari nya satu bulan yang lalu. Gapapa ya Bund? Yang penting kemauan Bunda terjadi.<br></em><br><strong><em>Bandung, 07 Maret 2021</em></strong><br><br>——— ○ °•°•° ○ °•°•° ○ ———<br><br><strong><em>3 hari sebelum tepat 2 minggu..</em></strong><br><br>Seorang wanita berjalan dengan terburu buru. Mengabaikan banyak hal yang dia lewati di jalan. Tanpa melihat lampu lalu lintas, wanita itu berjalan melewati jalan raya. Tanpa wanita itu sadari, dirinya akan tertabrak sebuah Mobil yang berjalan dengan kecepatan tinggi.<br><br>"Bun dhah.. aw hass.." [Bunda.. awas..] <br><br>Seorang pemuda mendorong wanita itu sampai wanita itu terjatuh ke tanah dan..<br><br><strong><em>BRAKK...</em></strong><br><br>Pemuda itu, tertabrak. Pergerakkan nya kurang cepat untuk menghindari tabrakan mobil tersebut. Pemuda itu, terjatuh, banyak darah yang keluar dari tubuhnya. Perlahan dia menutup matanya. Lalu, hilang sudah kesadarannya.<br><br>Tidak lama kemudian, ambulan datang. Wanita dan juga pemuda itu dibawa ke rumah sakit. Luka wanita itu hanya lecet biasa yang bisa diobati nanti menurutnya, namun, pemuda itu, kehilangan cukup banyak darah..<br><br>Sesampainya di rumah sakit, pemuda itu langsung ditangani dengan intensif di ruang operasi. <em>Akh.. </em>pemuda itu kehilangan banyak sekali darah. Pemuda itu, membutuhkan darah sekarang.<br><br>Tidak lama kemudian, seorang perawat datang dengan membawa sebuah kantung darah yang sedang dibutuhkan oleh pemuda itu. Akh.. sial.. keadaannya sekarang...<br><br>"Dengan orang tua dari Dakara Andhithama?" Ucap seorang perawat yang keluar dari ruang operasi.<br><br>Tunggu, apakah pemuda itu Thama? Anak baik itu? Dan apakah wanita yang dimaksud sekarang adalah, sang Ibunda?<br><br>"Saya Sus.. saya Orang tua Thama. Ada apa dengan dia? Dia baik baik sajakan?" Ucap wanita itu, yang ternyata adalah Bunda dari Thama.<br><br>"Maaf Bu, untuk itu Dokter yang akan menjawab. Dokter ingin berbicara dengan ibu.."<br><br>"Baik Sus.. tolong antarkan saya kepada Dokter. Saya ingin tahu bagaimana keadaan Thama sekarang.." Dengan itu, sang Suster pun mengganguk kan kepala nya dan mengantarkan nya kepada sang Dokter.<br><br>Sekarang, wanita itu sudah berada didalam rungan Dokter yang menangani Thama. Cukup bergetar tubuhnya, takut akan ada hal yang akan terjadi pada Thama.<br><br>"Ibu, dengan Ibu siapa?" Tanya Dokter itu.<br><br>"Saya Dira, Bunda dari Dakara Andhithama.. apa yang terjadi pada anak saya Dok? Apa dia baik baik saja?" Tanya nya dengan nada suara yang sedikit bergetar.<br><br>"Keadaan Thama sekarang, sedang kritis, Bu.. dia kehilangan cukup banyak darah. Dan juga, Kanker yang diderita nya sudah berada di stadium akhir. Tubuh Thama sudah mulai tidak bisa menahan semua penyakitnya." Ucap sang Dokter.<br><br>"Kanker, Dok? Anak saya menderita Kanker?" Ucap Dira yang semakin histeris.<br><br>"Iya, apakah Ibu tidak tahu dengan penyakit yang diidap oleh Thama?" Ucap sang Dokter yang dibalas dengan sebuah gerakan kepala yang seolah berkata tidak.<br><br>"Sepertinya Thama menyembunyikan penyakit yang dia idap selama satu tahun ini. Thama rajin melakukan kemotrapi setiap minggunya. Namun, dia selalu datang sendiri tanpa ditemani. Thama anak yang kuat, Bu Dira.." Ucap sang Dokter.<br><br>"<em>Thama, kenapa kamu enggak kasih tau Bunda, Nak? Kenapa kamu sembunyiin penyakit kamu, Tham?</em>" Ucap Dira didalam hatinya.<br><br>Dira berjalan dengan tatapan kosong. Seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang Dokter tadi. Bagaimana bisa Thama menyembunyikan penyakitnya selama satu tahun ini? Bagaimana bisa Thama mengahan rasa sakit nya tanpa ada orang yang mengetahui sakitnya?<br><br>"Bunda, Thama enggak apa apa, Bund? Bunda jangan nangis ya Bun. Thama pasti kuat Bund.. Adi yakin itu, Bunda.." Ucap sang anak sulung yang memeluk sang Bunda erat erat. Lain dengan Dava yang hanya bisa terduduk dengan keadaan yang tidak percaya. Apakah Dava sedang bermimpi sekarang?<br><br>Setelah beberapa saat setelah itu, Thama berhasil melewati masa kritisnya. Namun, sampai 2 hari ini, Thama masih belum bangun dari tidurnya. Namun, dengan begitu, kondisi Thama perlahan mulai membaik.<br><br>"Thama, bangun yuk Nak.. Maafin Bunda ya, Thama.. Bunda menyesali ini semua.. Thama, sekarang bangun ya, Nak.. Bunda mohon.. hikss.. Thama.." Ucap Dira yang duduk disamping ranjang Thama tertidur sekarang. <br><br>"Bunda, makan dulu yak.. Adek udah beliin makanan buat Bunda. Bunda harus makan. Dari semalam Bunda belum makan lhoo.." Lagi lagi, ajakan Dava di tolak oleh sang Bunda. Dava tidak ingin sang Bunda juga sakit.<br><br>"Bunda, makan dulu, ya Bund.. sekarang Adi yang temenin Thama disini. Bunda mau makan apa, hm? Ikut sama Dava ya Bunda.. sama Bunda harus bersih bersih ya? Bunda pulang dulu aja ya sekarang istirahat. Makan, Bund.. Adi yang jagain Thama disini. Nanti kalau ada kabar baik dari Thama, Adi langsung bilang Bunda ya.. Ayo Dava, ajak Bunda. Kamu juga harus bersih bersih.." Ucap Adi yang dibalas dengan anggukan oleh Dava. Dira pun nurut, lalu dia mengikuti sang anak bungsu pergi dari ruang inap Thama sekarang.<br><br>Tidak lama kemuadian..<br><br>"<em>Kan ngh , Ad hi..</em>" [Kang, Adi..]<br><br>○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○<br><br>Dira berjalan begitu cepat melewati koridor rumah sakit yang cukup ramai hari ini. Beberapa saat yang lalu, dia mendapat kabar kalau, Thama sudah sadar. Dira pun langsung menghampiri Thama yang ada di ruang inap.<br><br>"Thama, Sayang.. Thama udah bangun, Nak?" Ucap Dira.<br><br>"Udh hah , Bun dhah.. Bun dhah keh nap hah sed hih? Tha mah, bai k bai k saj hah sek hah ranh" [Udah Bunda. Bunda kenapa sedih? Thama baik baik saja sekarang.]<br><br>"Thama, kenapa enggak bilang ke Bunda, kalau Thama sakit? Thama, maafin Bunda ya.. Bunda banyak salah sama Thama. Bunda nyesel, Tham.. hikss.."<br><br>"Bun dhah, jan han nah his. Tha mah, eng gah ap hah ap hah kok sehk haran.." [ Bunda, jangan nangis. Thama enggak apa apa kok sekarang.]<br><br>"Tha mah eng gah mah rah sam hah Bun dhah. Tha mah sah yanh sam hah bun dhah. Ndah mun khin Tha mah mah rah sam hah bun dhah.." [Thama enggak marah sama Bunda. Thama sayang sama Bunda. Enggak mungkin Thama marah sama Bunda..]<br><br>"Hikkss.. Thama kenapa kamu baik banget sih Nak? Bunda udah jahat sama kamu. Kenapa kamu masih baik sama Bunda? Hikkss.. terima kasih Thama, sudah mau bertahan sampai sekarang.."<br><br>Percakapan Bunda dan anak itu membuat Adi dan Dava terharu. Sampai sampai dia tidak sadar bahwa sudah menitihkan air mata.<br><br>"Tha mah eng gah boh leh mah rah sam hah orh hang yan ngh teh lah meh lah hir khan Tha mah. Bun dhah, ih ngat kah tha Tha ma ih ni.." [ Thama enggak boleh marah sama orang yang telah melahirkan Thama. Bunda, ingat kata Thama ini]<br><br>"Tha mah, sah yanh sam hah bun dhah. Tha mah, mah huh sam hah bun dhah teh rhus. Tap hih, ad hah seh seh oh rang yan tung guh Tha mah." [Thama sayang sama Bunda. Thama mau sama Bunda terus. Tapi, ada seseorang yang tunggu Thama.]<br><br>"Bun dhah, jag hah kes heh hatan. Jan han sak hit yah? Hah rush seh hat teh rus. Bun dhah, hah rus tet hap bah hag hia. Hah rus tet hap ter seh nyumh. Wah lau, it hu tid hah&nbsp; ses hu ai den han eksh peksh thasi bun dhah.." [Bunda, jaga kesehatan. Jangan sakit ya? Harus sehat terys. Bunda, harus tetap bahagia. Harus tetap tersenyum. Walau itu tidak sesuai dengan ekspetasi Bunda]<br><br>Ucapan Thama membuat Adi, Dava, dan juga Dira semakin menjatuh kan air matanya.<br><br>"Jan jhi yah Bun dhah?" [ Janji ya Bunda?] Ucap Thama yang dibalas dengan anggukan oleh Dira. Dan Thama tersenyum akan itu.<br><br>"Kan ngh Ad hih, Dav hah, toh long jag hah Bun dhah yah? Teh man hih Bun dhah jug hah. Kah li an ber du hah, hah rus seh hat teh rush. Danh bah hah giah teh rush. Iy hah Kan ngh, Dav hah?" [Kang Adi, Dava, tolong jagain Bunda yah? Temani Bunda juga. Kalian berdua harus sehat terus. Dan bahagia terus. Iya Kang, Dav?]<br><br>Adi, dan Dava hanya bisa mengangguk pasrah saat Thama berbicara seperti itu. Seakan akan Thama akan pergi untuk selama lamanya.<br><br>"Bang, jangan pergi dulu Bang.. Dava masih butuh abang. Dava masih butuh motivasi dari abang. Bang, Dava butuh abang.." Ucap Dava yang menggenggam erat lengan Thama.<br><br>"Tap hih, ad hah yanh tung guh in ab hangn.." [Tapi, ada yang tungguin abang]<br><br>Sang anak sulung pun akhirnya angkat bicara.. dia berusaha untuk tegar mengatakan hal ini.<br><br>"Thama, kalau memang Thama mau pergi, Akang, Bunda, sama Dava akan berusaha ikhlas. Thama pasti capek kan? Thama mau tidur ya? Thama, mimpi indah ya Dek.. Akang, sayang kamu. Titip salam buat Ayah ya, Tham?" Ucap Adi yang membuat Thama menitihkan air matanya. Lalu dia menggangguk.<br><br>"Bun dhah, Ak hang, Dav hah, Tha mah Bob hoh duh luan yah.. Sam phai jum phah lagh hih.. Tha mah sah yangh kah lian sem uah.." [Bunda, Akang, Dava, Thama bobo duluan yaa.. sampai jumpa lagi.. Thama sayang kalian..]<br><br><em>Bunda, Akang, Dava..<br>Thama pergi dulu yaa..<br>Thama sayang kalian semuanya..<br><br>Ayah.. ayo kita pergi..<br></em><br>Tak lama setelah itu, alat pemantau kondisi pasien berbunyi dengan sangat nyaring. Sekarang, jantung Thama sudah tidak berdetak. Dira, Adi, dan juga Dava memeluk erat tubuh Thama yanh sudah tak berdaya sekarang. Hari ini, sore ini, Thama pergi.<br><br>Thama tidur. Tidur dalam ketenangan. Thama, sudah benar benar pergi sekatang. Thama, sudah tenang disana. Thama, bahagia selalu ya disanaa..<br><br>——— ○ °•°•° ○ °•°•° ○ ———<br><br><em>Bundaa.. kayak nya ini tulisan terakhir Thama. Dan mungkin, saat Bunda baca ini, Thama udah enggak ada. Bunda, Thama sayang banget sama Bunda. Thama enggak mau kehilangan Bunda. Thama mau selalu ada disamping Bunda. Tapi Bunda, nyata nya Thama yang pergi lebih dahulu. Bunda, 29 Maret nanti Bunda ulang tahun. Thama udah siapin kado buat Bunda.<br><br>Di lemari Thama ada kotak warna Ungu kesukaan bunda. Bunda ambil ya? Memang enggak seberapa, tapi itu untuk Bunda. Terima kasih Bunda untuk semuanya..<br><br></em><strong><em>Bandung, 18 Maret 2021</em></strong><em><br></em><br>——— ○ °•°•° ○ °•°•° ○ ———<br><br>Dira membuka lemari baju Thama. Aroma ciri khas Thama tercium disini. Aroma yang tidak begitu menyengat, dan cukup lembut. Terlihatnya kotak berwarna ungu yang Thama bilang dalam tulisannya.<br><br>Dibuka kotak itu, dan terlihat sebuah gelang emas didalam nya. Dan juga, sebuah lipatan kertas didalam sana.<br><br>"<em>Bunda.. selamat ulang tahun Bunda.. Thama bingung mau bilang apa, tapi, Bunda harus sehat selalu ya? Jangan telat makan. Bunda harus tetap bahagia ya.. Bunda harus senyumm.. Thama sayang sama Bunda.. tolong bilang ke Kang adi sama Dava ya, Bund, mereka juga harus sehat terus. Jangan lupa makan. Dan harus bahagia dan tersenyum selalu. Thama sayang Bunda..</em>" Ucap Thama dalam tulisan itu.<br><br>Dira merasa begitu sakit. Dira menyesal, namun bagaimana lagi? Memang begitu adanya. Andai waktu bisa di ulang. Dira ingin memperbaiki ini semua. Sungguh..<br><br>——— ○ °•°•° ○ °•°•° ○ ———<br><br>Usai sudah cerita saya. Terima kasih semuanya.. maaf apabila ada kesalahan kalimat dalam cerita saya.. hehehee..<br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-12-14 13:04:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946873401</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sumayyah Awfa Mauri 9D</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946940246</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1348020807/f4109e831558538a0d3214c006b81828/1639488051745.jpg" />
         <pubDate>2021-12-14 13:30:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1946940246</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Zalfa Naura.A(8F)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1947375932</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1339486803/c52ae9cba14f2a5803668fade22a9fd7/1639496863442.jpg" />
         <pubDate>2021-12-14 15:53:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1947375932</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Cindy Nabila Salma (7E))</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1947494068</link>
         <description><![CDATA[<div>*ibuku segalanya bagiku*<br><br>&nbsp; ibuku adalah pahlawaan,sahabat,pelindung,penasehat dan segala galanya bagiku,tanpa beliau aku bukan siapa-siapa,tanpa beliau juga aku mungkin tak ada di dunia ini. aku tau betapa beratnya menghadapi berbagai macam cobaan,tetapi bila bersama ibuku setidaknya aku merasa lebih nyaman dan aman.&nbsp;<br><br>Aku bila berpergian kemana-mana pasti selalu bersama oleh ibuku..<br>Entah itu kepasar,vaksin,kewarun,joging dan lain-lain kami lakukan bersama-sama, ibuku adalah orang yang pintar sekali memasak,apa lagi masakan rendang dagingnya uhh bikin ngiler,<br>Aku juga sebenarnya bisa memasak tetapi, ntah kenapa aku kurang suka.<br>Ibuku sudah mengajariku masak sejak lama tetapi walau aku sudah bisa pun aku jarang sekali masak.<br><br>aku bukanlah orang yang sempurna untuk ibu ku,tetapi ibuku selalu mendukungku,dimulai dari bakat-bakatku aku pernah berkata pada ibuku&nbsp;</div><div>aku: ''bu..aku ingin sekali mempunyai bakat yang baik, bakat yang akan membuatku sukses dimasa depan,namun aku masih binggung apa ya bakatku''&nbsp;</div><div>Ibu; "dekk kamu pasti bisa kok menemukan bakatmu, sukses itu harus diusahakan..apa mungkin sukses akan datang dengan sendiri bila kita tidak berusaha?, apa pun yang kamu sukai kembangkanlah, asah terus keahlianmu sehingga kelak itu akan menjadi bakatmu,bakat yang akan membuatmu sukses.''<br><br>sikapku kepada ibuku memang bisa dibilang kurang baik sii,bahkan aku pernah membentak ibukuu.. namun ketika aku pergi,aku menangis,aku menyesal sekali..padahal apa yang ibuku lakukan itu bertujuan baik,namun entah kenapa ibuku masih sabar sekali menghadapi sikapku ini,disitulah aku menyesal sekali mengapa aku harus membentak ibuku,padahal jelas jelas aku yang salah..<br><br>ke esokannya pun aku meminta maaf kepada ibuku,dari situ aku belajar bahwa &nbsp; kasih sayang seorang ibu tiada batas,ia tetap sabar walau aku telah membentaknya<br><br>Singkat cerita aku memulai hobi-hobi ku seperti melukis,menggambar,dan membuat lettering.<br>Sampai aku memberanikan diri untuk memposting karya-karyaku di Instagram.<br>Tetapi sampai saat ini akun ku masih sepi..<br>Bahkan pengikut nya saja tidak lebih dari 120.<br>Akan tetapi aku tidak akan menyerah,karena usaha yang kita buat akan indah pada masanya<br><br>Aku akan terus berusaha mengembangkan bakatku,hagar aku bisa membuktikan pada ibuku bahwa aku bisa dan kelak bisa membanggakan kedua orang tuakuu<br>Aamiin<br><br>Dan dengan demi kian aku dan mamah ku selalu bersama &amp; saling menerima sifat dan keahlian masing-masing.<br>~~~~~~~~~~~~~~~~~~<br>```~tamat~```<br>Sekian cerita dari saya kalau ada salah kata mohon dimaafkan..<br>Terimakasih!</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-12-14 16:39:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1947494068</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1948550286</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1499656039/2b7b4a5e986c0e34b383b6acc61db90f/IMG_20211215_093247_872.webp" />
         <pubDate>2021-12-15 03:32:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1948550286</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dania Inayah Haris (7E)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1948674177</link>
         <description><![CDATA[<div>"Air Mata Perjuangan Ibu"<br><br>&nbsp; &nbsp;Seorang gadis remaja bernama Freya, dia adalah gadis yang sangat pintar. Dia telah duduk di kelas 3 SMA di SMA Negeri Jakarta. Dia sering mendapatkan juara dan penghargaan di sekolahnya. Dia memiliki seorang ibu bernama Hanum, wanita cantik yang sangat hebat, kuat, rela bekerja banting tulang untuknya. Ayah Freya sudah wafat sejak ia berusia 10 tahun. Semenjak ayahnya wafat, sang ibu harus kerja banting tulang sampai larut malam. Terkadang, ibu nya sering sakit karena tarlalu capai bekerja. Tetapi, demi sekolah dan cita-citanya Freya, ibu nya selalu kuat dan berjuang demi Freya dapat bersekolah tinggi. Sejak kecil, Freya bercita-cita ingin sekali menjadi seorang designer pakaian. Dan semoga itu dapat terwujud, Aamiin.....<br><br>Disinilah kisah Freya dan sang ibu dimulai.....<br><br>&nbsp; &nbsp;Jam sudah menunjukan pukul 2 siang, saatnya Freya pulang sekolah. Sesampainya di rumah, ia langsung berganti pakaian dan berangkat ke pasar membantu ibu nya menjahit. Sang ibu yang bernama Hanum, bekerja menjadi seorang penjahit di pasar. Sesampainya di pasar, ia langsung menemui sang ibu dan membantu meringankan pekerjaannya. Begitulah rutinitas Freya setelah pulang sekolah.<br><br>&nbsp; &nbsp;Sore hari pun tiba, Hanum dan Freya sudah pulang ke rumah. Tetapi, sesampai-<br>nya di rumah, Freya melihat wajah sang ibu pucat dan matanya sayu.<br>"Bu, muka ibu kok pucat banget?" tanya Freya khawatir.<br>"Ibu enggak kenapa-kenapa kok nak, mungkin hanya kecapean saja" balas Hanum tak ingin membuat sang anak khawatir.&nbsp;<br>Pada malam harinya, Freya melihat sang ibu masih menjahit. Ia tidak tega dan sedih melihat sang ibu masih bekerja, padahal sudah malam dan kondisi sang ibu sedang tidak sehat. Freya pun menyuruh sang ibu untuk tidur saja dan di lanjutkan besok, tetapi Hanum menolak karena baju yang sedang di jahit harus selesai besok. Akhirnya, Freya membantu sang ibu untuk menyelesaikan jahitan tersebut.<br><br>&nbsp; &nbsp;Pagi harinya, kondisi Hanum demam tinggi dan batuk. Freya sudah membujuk agar mau ke dokter, tetapi tetap saja tidak mau dan berakhir hanya di kompres. Freya sebenarnya tidak tega meninggalkan sang ibu sendirian, tetapi hari ini ada ulangan di sekolahnya, yang membuat Freya harus masuk sekolah.&nbsp;<br>"Freya berangkat sekolah ya bu, ibu istirahat aja ya jangan kerja, janji?" tanya Freya dan di angguki oleh sang ibu.&nbsp;<br>Tetapi, setelah Freya berangkat sekolah, Hanum tetap melanjutkan jahitannya, walaupun hanya di rumah saja.&nbsp;<br>"Maafin ibu ya nak, ibu harus kerja demi kelangsungan hidup kita dan sekolah kamu, maafin ibu sudah bohong sama kamu" ucap Hanum. Tak tahu sejak kapan, air matanya sudah menetes.<br><br>&nbsp; &nbsp;Setelah menyelesaikan satu jahitan baju yang ingin di ambil sekarang, Hanum menghubungin pelanggan jahitan tersebut bahwa jahitan kebaya nya sudah bisa di ambil. Pelanggan jahitan tersebut pun datang untuk mengambil kebayanya.<br>"Assalamualaikum, bu Hanum" ucap Sari, si pelanggan.&nbsp;<br>"Waalaikumsalam, masuk bu Sari" jawab Hanum dan Sari pun masuk.<br>"Ini bajunya ya bu" ucap bu Hanum memberikan jahitan kebaya kepada bu Sari.<br>Setelah melihat hasil jahitannya, Sari kaget karena kebayanya sobek. Melihat itu semua, Sari sangat kecewa dan meminta bu Hanum untuk bertanggung jawab.<br>"Apa-apaan ini bu, kok kebaya saya bisa sobek kayak gini, saya kecewa banget ya sama ibu. Ibu harus tanggung jawab!!!" ucap bu Sari kesal dan menaikkan suaranya.<br>"Ya Allah bu, saya minta maaf, saya sedang tidak fokus" ucap Hanum meminta maaf. Mungkin kebaya tersebut sobek akibat Hanum sedang tidak fokus saat menjahitnya.<br>"Pokoknya ibu harus tanggung jawab, ganti rugi semuanya, bahan yang saya kasih ini tidak murah?!?!" ucap bu Sari marah.<br>"Iya bu, saya akan mencoba memperbaiki ini semua, sekali lagi maafkan kelalaian saya" ucap Hanum.&nbsp;<br>Sari pun pergi dari rumah Hanum dengan perasaan yang sangat kecewa, baru kali ini ia menjahit di Hanum dengan hasil yang sangat mengecewakan.<br><br>&nbsp; &nbsp;Melihat sobekan yang lumayan fatal di kebaya bu Sari membuat Hanum semakin pusing. Ia bingung harus ganti rugi pakai apa, ia tidak ada uang untuk mengganti ini semua.<br>"Ya Allah, berikan hamba petunjuk dan kemudahan untuk menghadapi ini semua" ucap Hanum berdoa.<br>Hanum pun mencoba mencari ide untuk memperbaiki kebaya bu Sari. Ketika Hanum ingin memperbaiki jahitan tersebut, ia merasa sangat pusing dan kesadarannya pun mulai menghilang. Hanum pingsan dan tergeletak tak berdaya di lantai.<br><br>&nbsp; &nbsp;Jam pulang sekolah pun tiba, Freya langsung pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ia kaget melihat sang ibu sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Freya pun langsung menghampiri ibunya.<br>"Ya Allah, bu bangun bu" ucap Freya panik sambil menepuk bahu sang ibu. Tak sadar sejak kapan air mata nya sudah mengalir deras. Freya pun langsung mengangkat tubuh sang ibu ke kamar dan meletakannya di kasur. Kemudian, ia mengoleskan minyak angin ke hidung ibu nya. Setelah beberapa saat, sang ibu pun sadar dari pingsannya. Freya langsung memberi ibunya minum.<br>"Ibu istirahat aja ya, besok jangan kerja, ibu masih sakit" ucap Freya, ia tahun ibunya tadi kerja walaupun di rumah.<br>"Iya nak, maafin ibu ya bikin kamu repot" balas sang ibu.<br>"Ya Allah enggak bu, harus nya aku yang minta maaf enggak bisa jagain ibu" ucap Freya sedih, sang ibu pun tersenyum.<br><br>&nbsp; &nbsp;Freya sedih melihat sang ibu harus bekerja walaupun sedang sakit, dan Freya merasa ada yang aneh dari sang ibu.<br>"Bu, ibu kenapa? kayak banyak pikiran" tanya Freya penasaran.<br>"Ibu enggak kenapa-kenapa kok nak" jawab sang ibu tidak ingin membuat Freya khawatir, dan Freya pun mengangguk.<br>Namun Freya yakin, pasti sang ibu&nbsp; sedang merahasiakan sesuatu darinya. Malam hari pun tiba, Freya sedang duduk di tempat sang ibu biasa menjahit. Freya kaget melihat satu kebaya yang sobek. Berbarengan dengan itu, ada pesan yang masuk dari HP sang ibu. Ia sekilas melihat pesan tersebut, Freya pun mengambil benda pipih tersebut dan membaca pesannya.<br>"Ya Allah" ucap Freya setelah membaca pesan tersebut. Ternyata pesan itu dari bu Sari yang meminta ganti rugi kebaya nya yang sobek.<br>"Freya" panggil Hanum, ia kaget melihat sang anak sedang memegang kebaya bu Sari dan membaca pesan dari HP nya.<br>"Bu, Freya minta maaf karena sudah lancang membaca pesan dari&nbsp; HP ibu, sekarang Freya sudah tahu masalah ibu dan bu Sari, aku janji akan bantu ibu perbaiki ini semua" ucap Freya.<br>"Maafin ibu nak, kamu jadi harus ikut-ikut sama masalah ibu" ucap Hanum.<br>"Enggak bu, jangan minta maaf, kita selesaikan bareng-bareng ya" balas Freya, dan Hanum pun memeluk sang anak.<br><br>&nbsp; Freya mencoba mencari ide untuk memperbaiki kebaya bu Sari, dengan begitu sang ibu tidak perlu ganti rugi dalam bentuk uang. Ia mencoba mencari desain dan model tambahan untuk menutupi sobekan tersebut. Dengan modal ke-ahliannya dalam merancang, akhirnya Freya menemuka ide model tambahan untuk memperbaiki sobekan kebaya tersebut. Freya pun memberi tahu sang ibu, dan mereka berdua bersama-sama memperbaiki sobekan kebaya bu Sari.<br>"Maafin ibu ya nak, akibat kelalaian ibu kamu jadi repot" ucap Hanum pada sang anak.<br>"Ibu jangan minta maaf, semua akan baik-baik saja, percaya sama aku" balas Freya.<br><br>&nbsp; &nbsp;Dua hari pun berlalu, kebaya yang sobek tersebut sudah di perbaiki. Hari ini, Freya dan Hanum akan mengunjungi rumah bu Sari untuk memberikan kebaya tersebut. Mereka berdua pun sampai di rumah bu Sari.<br>"Ada apa kalian kesini? Mau ganti rugi kebaya saya yang sobek?" tanya bu Sari dengan raut wajah yang sinis.<br>"Sebelumnya saya mau meminta maaf atas kelalaian saya bu, ini kebaya ibu sudah kami perbaiki, semoga ibu suka" balas Hanum lalu menoleh ke arah Freya, dan Freya pun mengangguk.<br>Melihat kebaya nya yang sudah di perbaiki, Sari pun sangat senang, karena kebaya tersebut lebih cantik dari desain sebelumnya.<br>"Wahh ini bagus dan catik bangettt, terima kasih ya, maafkan saya juga yang sudah kesal dan meremehkan kalian" ucap Sari.<br>Hanum dan Freya pun tersenyum senang, mereka berhasil memperbaikinya. Sari membayar semuanya melebihi dari biaya sebelumnya, ia sangat senang dan sangat menyukai kebaya tersebut.<br><br>&nbsp; &nbsp;Tidak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Sekarang Freya sudah menjadi seorang mahasiswi di perguruan tinggi ternama. Freya mendapatkan beasiswa di kampus tersebut, dan sebentar lagi ia akan lulus dan akan menjadi seorang designer.<br>Ya, sebentar lagi Freya akan menggapai cita-citanya. Semua ini juga berkat sang ibu, karena perjuangan dan kerja keras nya Freya dapat bersekolah tinggi dan menggapai cita-cita nya. Semua perjuangan dan air mata sang ibu tidak sia-sia. Freya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada sang ibu, karena dengan segala keringat, perjuangan, dan air mata-nya, ia bisa seperti sekarang. Freya janji, ia akan membahagiakan dan membanggakan Hanum, ibunya.<br><br>-----------SELESAI-----------<br><br>Begitulah kisah Freya dan sang ibu yang sangat hebat. Menurut Freya, Hanum adalah ibu yang paling sempurna di dunia ini, ia sangat bersyukur memiliki seorang ibu seperti Hanum. Baginya, Hanum adalah matahari dan surganya. Freya sangat sayang sama Hanum, ibu nya...<br><br>Sekian cerita dari saya, mohon maaf jika ada kesalahan kata. Terima kasih!<br><br><br>&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-12-15 05:29:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1948674177</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Myiesha Nafeeza Putri (7E)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1951058964</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1499649622/b2dba2e39fa634aa437abdc475516156/MYIESHA_NAFEEZA_PUTRI_7E.docx" />
         <pubDate>2021-12-16 05:50:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1951058964</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ni Kadek Nandini Latuhayu 7F</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1951381130</link>
         <description><![CDATA[<div>Tema : Tentang Ibu&nbsp;<br>Judul : Bunda<br>Aku Adira nama yang dijuluki sebagai perempuan dengan sosok yang kuat.<br>Aku seorang yang sangat suka senja pada matahari terbenam.<br>Aku ingin cerita tentang bundaku yang menjadi bagian dari hidupku.<br>Bunda adalah sosok perempuan yang kuat buat adira, walau dulu bunda di injak injak harga diri karna dikira sebagai sosok perempuan yang kotor tapi tetap saja bunda bertahan untuk adira, iya itu adalah aku yang dulu masih tinggal di rahim bundaku.<br>Suatu dulu ayah memacari bundaku bukan karna mencintaiku tapi ingin memiliki tubuh bunda atas dasar nafsunya.<br>Bunda hamil di luar nikah karena ulah ayah ku....&nbsp; dan yah betul saja ayahku pergi meninggalkan bunda disaat hamil tanpa rasa bersalah sama sekali.<br>Bunda memiliki tekanan saat hamil dan asupan makanan yang dimakan bunda saat hamil tidak baik. Tidak ada sosok yang meyemangatinya bunda saat itu..<br>Bunda mengenal dirinya seseorang yang kotor dan hampa tanpa tau kedepannya seperti apa lagi.<br>Dan pada aku lahir bunda berhasil melahirkan putri tunggalnya yang sangat cantik yaitu aku Adira.<br>Aku seorang anak yang periang walau tidak ada sosok ayah disampingku.<br>Sejak aku lahir di dunia bunda sudah memulai kisah barunya bersama adira dan melupakan masa lalunya.<br>Dalam keadaan apapun aku dan bunda selalu bahagia di setiap hari, namun... berjalannya waktu aku melihat perubahan bunda.<br>Tadinya bunda sangatlah sayang kepadaku, saat beberapa tahun setelahnya aku beranjak menjadi seorang remaja yang duduk di bangku SMP.<br>Aku heran mengapa sikap bunda yang lemah lembut berubah menjadi orang yang gampang marah ya? ... kukira aku mempunyai perilaku yang tidak bagus kepada bunda.<br>Tapi dengan berjalannya waktu bunda selalu saja memarahiku dengan apapun hal yang aku lakukan, apa saja perilaku ku selalu salah di mata bunda.<br>Berturut turut bahkan hampir setiap hari bunda selalu saja memarahiku bahkan sampai memukulku dengan tanda biru di badan adira.<br>Saat malam hari aku berbicara pada diriku sendiri "kenapa bundah selalu memarahiku dan selalu memukul ku? apa bunda akhir akhir ini sedang lelah? tapi kenapa selalu aku untuk bahan pelampiasan bunda" adira menangis tanpa suara agar tidak ketahuan oleh bundanya.<br>Dan keesokan harinya saat sore hari hampir mendekati matahari terbenam, adira meminta izin kepada bundanya "bunda aku ingin melihat senja di pantai, apakah adira boleh melihatnya hanya sebentar saja bunda?" adira berbicara sambil menatap ke arah bundanya namun bunda adira tidak memberikan respon apapun saat adira berbicara.<br>"Hufttt... bunda tidak mendengarkan ku saat berbicara tadi" adira berbicara kepada hatinya, nyesek banget rasanya saat tidak dianggap omongannya oleh bunda, terpaksa aku pergi dan mengucapkan salam kepada bunda "bunda aku kepantai dulu yaa, dadah bunda" adira berbicara seperti bersikap biasa saja meskipun aslinya dia menahan nangis.<br>adira pergi menaiki sepedanya menuju pantai, dengan sesampainya ia di pantai.<br>adira duduk di bebatuan pantai dihadapan senja dan ombakan air dengan tatapan yang kosong, adira bercerita kepada senja.<br>&nbsp;" adira cape jujur adira ingin sekali ngeluh ke bunda tapi.. bunda pasti jauh lebih cape. Apakah adira akan sekuat bunda nantinya? menjadi seseorang seperti bunda yang sangat tangguh. kalau bisa 5 menit saja aku memeluk bunda adira bakal sangat menghargai waktu itu " adira meneteskan tetesan air dari matanya.<br>" adira harus kuat adira harus bisa bertahan meskipun kadang sakit tapi gapapa adira pasti bisa melalui ini semua " bibir adira tersenyum tipis.<br>derasnya ombak dan hampir saja senja menghilang adira segera bergegas untuk pulang karna takut di khawatirkan oleh bundanya walau belum tentu..<br>sesampainya dirumah adira mengajak bundanya untuk berbicara empat mata, pertama kali adira mencoba bundanya menolak tetapi dengan bujukan yang sangt manis bundanya pun mau untuk diajak berbicara bersama<br>adira berbicara kepada bundanya dengan amat gugup " bunda terimakasih ya sudah hadir di hidup adira dan bertahan untuk adira sampai titik ini, makasi banyak udah tetap disamping adira ya bun. bunda sebenernya malu kan punya anak kaya adira bun? tapi adira bakal janji sama bunda kalau nanti adira bakal bawa bunda buat keliling dunia, itu kan yang bunda mau? aku bakal kabulin impian bunda aku janji bun, kalau aku ingkar janji nanti idung aku bakal panjang hehe, makasi makasi banget ya bun" adira menangis dan menangis.<br>bundanya yang mendengar ucapan adira sangat terharu apa yang di ucap oleh anak perempuan tunggal nya itu, bundanya pun langsung memeluk adira dan mengusap punggung adira dengan halus " maafin bunda adira bunda akhir akhir ini bersikap ke kanak kanakan, bunda lagi cape tapi bunda gamau liat kamu khawatir dan tanpa bunda tau sikap bunda ke kamu salah. bunda bener bener sayang sama kamu adira makasi juga ya udah hadir di hidup bunda jadi salah satu rumah saat bunda sedang ada di paling bawah, maaf kalo bunda gak sempurna kayak orang tua temen kamu yang lainnya ya adira.. " membalas ucapan adira.<br>menatap mata bundanya berkaca kaca " kalo bunda gak baik baik aja, aku juga gak bakal baik baik aja bun" ucap adira<br>" sebaliknya juga gitu kalo adira sakit pasti bunda lebih sakit " saut bunda adira&nbsp;<br>setelah malam itu untuk menyelesaikan semua masalah masalah dan adanya hari esok yang bersinar terang layaknya matahari sedang tersenyum gembira dan semesta menyusun kebahagiannya layaknya sebuah puzzel.<br>Yang hancur lebur akan terobati jika kita menyelesaikannya dengan sikap dewasa bukan malah kekanak kanakan.<br>" rasa sayang bunda cuma buat adira ".<br>					-selesai-<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-12-16 10:04:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1951381130</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rita Puspita Sari (8B)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1952750887</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1504458475/be7fb3c8d1e1ff9e44b8f2e5f3197a67/png_20211216_151239_0000.png" />
         <pubDate>2021-12-16 23:42:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1952750887</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Shifa Amelya Pramesti 8B</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1952771429</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1348109022/24bc3ea3cec3da1738ea3d005df8e24b/PicsArt_12_15_04_16_45.jpg" />
         <pubDate>2021-12-17 00:09:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1952771429</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Adinda Zahra Utami-7A</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1953251278</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1504836121/2cf12f62f3af1cdd7f1e02bd1201f0ba/IMG_20211217_141640.jpg" />
         <pubDate>2021-12-17 07:26:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1953251278</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Husna (9A)</title>
         <author>kuaqili</author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1955550013</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1496595730/c1efd77a6b30ca7ca3be466f682137c9/9A_Husna.docx" />
         <pubDate>2021-12-19 14:29:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1955550013</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bunga Terakhir [Najla SR Hakim 8A]</title>
         <author>najlahakim0907</author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1961233716</link>
         <description><![CDATA[<div><em>Halo, aku Thama. Dakara Andhithama. Kalian bisa panggil aku dengan sebutan Thama. Thama udah SMA lho.. hehehehe<br><br>Umur Thama 16 tahun. Thama anak kedua dari 3 bersaudara. Tapi, Thama berbeda dari Kakak dan Adik nya Thama. Thama tidak begitu sempurna.<br><br>Hearing Aid sudah terpasang di telinga Thama sejak usia balita. Thama menggunakan itu untuk membantu mendengar. Walaupun, terkadang suara yang Thama dengar sedikit samar samar. Namun setidaknya ini membantu walau pun tidak sepenuhnya.<br><br>Saat Thama berusia satu tahun, Dokter menyatakan Thama tuli sejak lahir. Dan itu, membuat Bunda kecewa. Bunda marah, sangat sangat marah. Kata Bunda, Thama tidak pantas lahir dari rahim Bunda kala itu. Lebih baik Bunda menggugurkan kandungan nya. Lebih baik, Thama mati.<br><br>Sejak saat itu, Thama tidak pernah merasakan bagaimana rasanya disayang oleh seorang Ibu.<br><br>Thama bukan anak yang pandai. Nilai raport Thama selalu merah. Dan Bunda, semakin membenci Thama. Bunda malu punya anak kayak Thama begini. Dan juga, Thama enggak pernah menjadi anak yang berprestasi di sekolah. Dan itu selalu membuat Thama terpojok.<br><br>Terkadang Thama iri sama Kang Adi yang selalu dibangga banggakan oleh Bunda berkat keberhasilannya dalam bidang Akademik mau pun Nonakademik. Kang Adi, saat sekolah Kang adi selalu memenangkan begitu banyak perlombaan. Dan dia sangat pintar dalam semua materi mata pelajaran. Itu sebabnya, Kang Adi menjadi seorang Dokter muda yang sukses sekarang.<br><br>Thama juga iri dengan Dava yang selalu mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Dava sangat disayang sama Bunda. Dava anak kesayangan Bunda. Dava anak yang berprestasi dibidang Non Akademik. Dia memenangkan banyak perlombaan Basket. Dan dia juga Kapten di dalam tim nya.<br><br>Thama iri. Thama juga mau di sayang sama Bunda, Thama juga mau di manja sama Bunda seperti Bunda memanjakan Dava. Thama mau dibanggakan oleh Bunda seperti Bunda membanggakan Kang Adi. Thama mau merasakan semua itu. Thama mau ada diposisi itu, Bunda. Thama mau..<br><br>AKHH..!!! Luka di punggung Thama belum begitu sembuh. Pukulan Bunda sangat sakit rasanya. Thama enggak kuat sama pukulan Bunda.<br><br>Sore itu, Thama dipukul sama Bunda, tanpa ada kata ampun. Thama tidak melawan. Thama tau, Thama salah. Thama tau, Bunda pasti kecewa sama Thama. Bunda, Thama enggak apa apa kok kalau Bunda pukul Thama. Selagi Bunda puas akan hal itu, Thama enggak apa apa. Thama bodoh ya Bund, masa nilai Matematika bisa dapat nilai 15. Padahal, kata Pak Guru soal itu mudah. Tapi Bund, Kemampuan Thama hanya sampai situ.<br><br>Bunda pasti malu banget ya punya anak kayak Thama. Seorang anak yang tuli, bodoh, tidak berprestasi, memiliki kekurangan yang banyak. Tidak seperti Kang Adi sama Dava. Thama hanya sampah yang tidak memiliki harga, ya Bunda?<br><br>Bunda, Anakmu ini hanya manusia biasa. Mengapa Bunda selalu menuntut Thama menjadi seseorang yang sempurna?<br><br>HEH.. ASTAGAA.. KOK THAMA CURHAT SIH.. KAN NIAT NYA THAMA CUMAN MAU MENDESKRIPSIKAN SIAPA DIRI THAMA.. BUKAN CURHAT KAYAK BEGINI.. HUHH.. :)<br><br></em><strong><em>Bandung, 23 Februari 2020</em></strong><br><br>——— ○ °•°•° ○ °•°•° ○ ———<br><br>Wanita itu, kembali membuka lembaran baru. <em>Akh</em>, sakit rasanya. Ini baru lembaran pertama. Belum semuanya dia lihat dalam buku itu.<br><br>"Begitu berat hidupmu, Tham.. hikss.." isakan tangis mulai terdengar. Tidak kuat rasanya untuk ia membuka lembar lain nya. Namun, dia ingin tahu bagaimana seorang Thama yang menjalani hidupnya dengan cukup berat.<br><br>——— ○ °•°•° ○ °•°•° ○ ———<br><br><em>Hari ini Thama ulang tahun.. yeeyyy.. Thama harap Bunda sayang sama Thama, Bunda bangga sama Thama. Bunda mau menerima Thama apa adanya. Thama mau, Bunda peluk Thama nanti pagi. Tapi, Thama tau kok..<br><br>Bagaimana pun juga, Bunda enggak akan sayang sama Thama. Bunda enggak akan bangga sama Thama. Kan enggak ada yang bisa dibanggain dari Thama ya Bund? Bunda juga enggak maj menerima Thama dengan kekurangan Thama kan? Dan peluk. Bunda enggak akan peluk Thama kan? Iya, Thama tau kok Bunda.<br><br>Yaudah degh, Thama ganti semua harapan Thama malam ini. Thama mau Bunda sehat selalu, Bunda panjang umurnya, Bunda semakin awet mudaa.. hehehee.. Kang Adi sama Dava juga harus sehat selalu yyaa.. Kang Adi sama Dava harapan Bunda. Jangan kecewain Bunda ya, Kang, Dava..<br><br>Tapi Bunda, satu harapan Thama yang enggak akan Thama ubah setiap tahun nya. Semoga, Bunda sayang sama Thama dan bisa menerima Thama apa adanya. Udah, itu aja kok Bunda..<br><br>Selamat Ulang Tahun Thama..</em><br><br><strong><em>Bandung, 06 Juni 2020</em></strong><br><br>——— ○ °•°•° ○ °•°•° ○ ———<br><br>"Sesederhana itu harapan kamu, Tham? Sebaik itu diri kamu, Thama?"<br><br>——— ○ °•°•° ○ °•°•° ○ ———<br><br><em>Bundaa.. keinginan Bunda sepertinya akan terwujud. Kalau sudah terwujud, Bunda bangga enggak sama Thama? Bunda seneng gak sama Thama? Semoga Bubda bangga dan seneng ya sama Thama.. tapi Bunda, boleh gak sebelum keinginan Bunda itu terwujud, Bunda peluk Thama? Setelah itu, keinginan Bunda akan terpenuhi..<br><br>Thama punya waktu 2 minggu lagi katanya. Bunda, sakit juga rasanya menahan rasa ini selama satu tahun lebih. Tapi, Thama baru menyadari nya satu bulan yang lalu. Gapapa ya Bund? Yang penting kemauan Bunda terjadi.<br></em><br><strong><em>Bandung, 07 Maret 2021</em></strong><br><br>——— ○ °•°•° ○ °•°•° ○ ———<br><br><strong><em>3 hari sebelum tepat 2 minggu..</em></strong><br><br>Seorang wanita berjalan dengan terburu buru. Mengabaikan banyak hal yang dia lewati di jalan. Tanpa melihat lampu lalu lintas, wanita itu berjalan melewati jalan raya. Tanpa wanita itu sadari, dirinya akan tertabrak sebuah Mobil yang berjalan dengan kecepatan tinggi.<br><br>"Bun dhah.. aw hass.." [Bunda.. awas..] <br><br>Seorang pemuda mendorong wanita itu sampai wanita itu terjatuh ke tanah dan..<br><br><strong><em>BRAKK...</em></strong><br><br>Pemuda itu, tertabrak. Pergerakkan nya kurang cepat untuk menghindari tabrakan mobil tersebut. Pemuda itu, terjatuh, banyak darah yang keluar dari tubuhnya. Perlahan dia menutup matanya. Lalu, hilang sudah kesadarannya.<br><br>Tidak lama kemudian, ambulan datang. Wanita dan juga pemuda itu dibawa ke rumah sakit. Luka wanita itu hanya lecet biasa yang bisa diobati nanti menurutnya, namun, pemuda itu, kehilangan cukup banyak darah..<br><br>Sesampainya di rumah sakit, pemuda itu langsung ditangani dengan intensif di ruang operasi. <em>Akh.. </em>pemuda itu kehilangan banyak sekali darah. Pemuda itu, membutuhkan darah sekarang.<br><br>Tidak lama kemudian, seorang perawat datang dengan membawa sebuah kantung darah yang sedang dibutuhkan oleh pemuda itu. Akh.. sial.. keadaannya sekarang...<br><br>"Dengan orang tua dari Dakara Andhithama?" Ucap seorang perawat yang keluar dari ruang operasi.<br><br>Tunggu, apakah pemuda itu Thama? Anak baik itu? Dan apakah wanita yang dimaksud sekarang adalah, sang Ibunda?<br><br>"Saya Sus.. saya Orang tua Thama. Ada apa dengan dia? Dia baik baik sajakan?" Ucap wanita itu, yang ternyata adalah Bunda dari Thama.<br><br>"Maaf Bu, untuk itu Dokter yang akan menjawab. Dokter ingin berbicara dengan ibu.."<br><br>"Baik Sus.. tolong antarkan saya kepada Dokter. Saya ingin tahu bagaimana keadaan Thama sekarang.." Dengan itu, sang Suster pun mengganguk kan kepala nya dan mengantarkan nya kepada sang Dokter.<br><br>Sekarang, wanita itu sudah berada didalam rungan Dokter yang menangani Thama. Cukup bergetar tubuhnya, takut akan ada hal yang akan terjadi pada Thama.<br><br>"Ibu, dengan Ibu siapa?" Tanya Dokter itu.<br><br>"Saya Dira, Bunda dari Dakara Andhithama.. apa yang terjadi pada anak saya Dok? Apa dia baik baik saja?" Tanya nya dengan nada suara yang sedikit bergetar.<br><br>"Keadaan Thama sekarang, sedang kritis, Bu.. dia kehilangan cukup banyak darah. Dan juga, Kanker yang diderita nya sudah berada di stadium akhir. Tubuh Thama sudah mulai tidak bisa menahan semua penyakitnya." Ucap sang Dokter.<br><br>"Kanker, Dok? Anak saya menderita Kanker?" Ucap Dira yang semakin histeris.<br><br>"Iya, apakah Ibu tidak tahu dengan penyakit yang diidap oleh Thama?" Ucap sang Dokter yang dibalas dengan sebuah gerakan kepala yang seolah berkata tidak.<br><br>"Sepertinya Thama menyembunyikan penyakit yang dia idap selama satu tahun ini. Thama rajin melakukan kemotrapi setiap minggunya. Namun, dia selalu datang sendiri tanpa ditemani. Thama anak yang kuat, Bu Dira.." Ucap sang Dokter.<br><br>"<em>Thama, kenapa kamu enggak kasih tau Bunda, Nak? Kenapa kamu sembunyiin penyakit kamu, Tham?</em>" Ucap Dira didalam hatinya.<br><br>Dira berjalan dengan tatapan kosong. Seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang Dokter tadi. Bagaimana bisa Thama menyembunyikan penyakitnya selama satu tahun ini? Bagaimana bisa Thama mengahan rasa sakit nya tanpa ada orang yang mengetahui sakitnya?<br><br>"Bunda, Thama enggak apa apa, Bund? Bunda jangan nangis ya Bun. Thama pasti kuat Bund.. Adi yakin itu, Bunda.." Ucap sang anak sulung yang memeluk sang Bunda erat erat. Lain dengan Dava yang hanya bisa terduduk dengan keadaan yang tidak percaya. Apakah Dava sedang bermimpi sekarang?<br><br>Setelah beberapa saat setelah itu, Thama berhasil melewati masa kritisnya. Namun, sampai 2 hari ini, Thama masih belum bangun dari tidurnya. Namun, dengan begitu, kondisi Thama perlahan mulai membaik.<br><br>"Thama, bangun yuk Nak.. Maafin Bunda ya, Thama.. Bunda menyesali ini semua.. Thama, sekarang bangun ya, Nak.. Bunda mohon.. hikss.. Thama.." Ucap Dira yang duduk disamping ranjang Thama tertidur sekarang. <br><br>"Bunda, makan dulu yak.. Adek udah beliin makanan buat Bunda. Bunda harus makan. Dari semalam Bunda belum makan lhoo.." Lagi lagi, ajakan Dava di tolak oleh sang Bunda. Dava tidak ingin sang Bunda juga sakit.<br><br>"Bunda, makan dulu, ya Bund.. sekarang Adi yang temenin Thama disini. Bunda mau makan apa, hm? Ikut sama Dava ya Bunda.. sama Bunda harus bersih bersih ya? Bunda pulang dulu aja ya sekarang istirahat. Makan, Bund.. Adi yang jagain Thama disini. Nanti kalau ada kabar baik dari Thama, Adi langsung bilang Bunda ya.. Ayo Dava, ajak Bunda. Kamu juga harus bersih bersih.." Ucap Adi yang dibalas dengan anggukan oleh Dava. Dira pun nurut, lalu dia mengikuti sang anak bungsu pergi dari ruang inap Thama sekarang.<br><br>Tidak lama kemuadian..<br><br>"<em>Kan ngh , Ad hi..</em>" [Kang, Adi..]<br><br>○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○<br><br>Dira berjalan begitu cepat melewati koridor rumah sakit yang cukup ramai hari ini. Beberapa saat yang lalu, dia mendapat kabar kalau, Thama sudah sadar. Dira pun langsung menghampiri Thama yang ada di ruang inap.<br><br>"Thama, Sayang.. Thama udah bangun, Nak?" Ucap Dira.<br><br>"Udh hah , Bun dhah.. Bun dhah keh nap hah sed hih? Tha mah, bai k bai k saj hah sek hah ranh" [Udah Bunda. Bunda kenapa sedih? Thama baik baik saja sekarang.]<br><br>"Thama, kenapa enggak bilang ke Bunda, kalau Thama sakit? Thama, maafin Bunda ya.. Bunda banyak salah sama Thama. Bunda nyesel, Tham.. hikss.."<br><br>"Bun dhah, jan han nah his. Tha mah, eng gah ap hah ap hah kok sehk haran.." [ Bunda, jangan nangis. Thama enggak apa apa kok sekarang.]<br><br>"Tha mah eng gah mah rah sam hah Bun dhah. Tha mah sah yanh sam hah bun dhah. Ndah mun khin Tha mah mah rah sam hah bun dhah.." [Thama enggak marah sama Bunda. Thama sayang sama Bunda. Enggak mungkin Thama marah sama Bunda..]<br><br>"Hikkss.. Thama kenapa kamu baik banget sih Nak? Bunda udah jahat sama kamu. Kenapa kamu masih baik sama Bunda? Hikkss.. terima kasih Thama, sudah mau bertahan sampai sekarang.."<br><br>Percakapan Bunda dan anak itu membuat Adi dan Dava terharu. Sampai sampai dia tidak sadar bahwa sudah menitihkan air mata.<br><br>"Tha mah eng gah boh leh mah rah sam hah orh hang yan ngh teh lah meh lah hir khan Tha mah. Bun dhah, ih ngat kah tha Tha ma ih ni.." [ Thama enggak boleh marah sama orang yang telah melahirkan Thama. Bunda, ingat kata Thama ini]<br><br>"Tha mah, sah yanh sam hah bun dhah. Tha mah, mah huh sam hah bun dhah teh rhus. Tap hih, ad hah seh seh oh rang yan tung guh Tha mah." [Thama sayang sama Bunda. Thama mau sama Bunda terus. Tapi, ada seseorang yang tunggu Thama.]<br><br>"Bun dhah, jag hah kes heh hatan. Jan han sak hit yah? Hah rush seh hat teh rus. Bun dhah, hah rus tet hap bah hag hia. Hah rus tet hap ter seh nyumh. Wah lau, it hu tid hah&nbsp; ses hu ai den han eksh peksh thasi bun dhah.." [Bunda, jaga kesehatan. Jangan sakit ya? Harus sehat terys. Bunda, harus tetap bahagia. Harus tetap tersenyum. Walau itu tidak sesuai dengan ekspetasi Bunda]<br><br>Ucapan Thama membuat Adi, Dava, dan juga Dira semakin menjatuh kan air matanya.<br><br>"Jan jhi yah Bun dhah?" [ Janji ya Bunda?] Ucap Thama yang dibalas dengan anggukan oleh Dira. Dan Thama tersenyum akan itu.<br><br>"Kan ngh Ad hih, Dav hah, toh long jag hah Bun dhah yah? Teh man hih Bun dhah jug hah. Kah li an ber du hah, hah rus seh hat teh rush. Danh bah hah giah teh rush. Iy hah Kan ngh, Dav hah?" [Kang Adi, Dava, tolong jagain Bunda yah? Temani Bunda juga. Kalian berdua harus sehat terus. Dan bahagia terus. Iya Kang, Dav?]<br><br>Adi, dan Dava hanya bisa mengangguk pasrah saat Thama berbicara seperti itu. Seakan akan Thama akan pergi untuk selama lamanya.<br><br>"Bang, jangan pergi dulu Bang.. Dava masih butuh abang. Dava masih butuh motivasi dari abang. Bang, Dava butuh abang.." Ucap Dava yang menggenggam erat lengan Thama.<br><br>"Tap hih, ad hah yanh tung guh in ab hangn.." [Tapi, ada yang tungguin abang]<br><br>Sang anak sulung pun akhirnya angkat bicara.. dia berusaha untuk tegar mengatakan hal ini.<br><br>"Thama, kalau memang Thama mau pergi, Akang, Bunda, sama Dava akan berusaha ikhlas. Thama pasti capek kan? Thama mau tidur ya? Thama, mimpi indah ya Dek.. Akang, sayang kamu. Titip salam buat Ayah ya, Tham?" Ucap Adi yang membuat Thama menitihkan air matanya. Lalu dia menggangguk.<br><br>"Bun dhah, Ak hang, Dav hah, Tha mah Bob hoh duh luan yah.. Sam phai jum phah lagh hih.. Tha mah sah yangh kah lian sem uah.." [Bunda, Akang, Dava, Thama bobo duluan yaa.. sampai jumpa lagi.. Thama sayang kalian..]<br><br><em>Bunda, Akang, Dava..<br>Thama pergi dulu yaa..<br>Thama sayang kalian semuanya..<br><br>Ayah.. ayo kita pergi..<br></em><br>Tak lama setelah itu, alat pemantau kondisi pasien berbunyi dengan sangat nyaring. Sekarang, jantung Thama sudah tidak berdetak. Dira, Adi, dan juga Dava memeluk erat tubuh Thama yanh sudah tak berdaya sekarang. Hari ini, sore ini, Thama pergi.<br><br>Thama tidur. Tidur dalam ketenangan. Thama, sudah benar benar pergi sekatang. Thama, sudah tenang disana. Thama, bahagia selalu ya disanaa..<br><br>——— ○ °•°•° ○ °•°•° ○ ———<br><br><em>Bundaa.. kayak nya ini tulisan terakhir Thama. Dan mungkin, saat Bunda baca ini, Thama udah enggak ada. Bunda, Thama sayang banget sama Bunda. Thama enggak mau kehilangan Bunda. Thama mau selalu ada disamping Bunda. Tapi Bunda, nyata nya Thama yang pergi lebih dahulu. Bunda, 29 Maret nanti Bunda ulang tahun. Thama udah siapin kado buat Bunda.<br><br>Di lemari Thama ada kotak warna Ungu kesukaan bunda. Bunda ambil ya? Memang enggak seberapa, tapi itu untuk Bunda. Terima kasih Bunda untuk semuanya..<br><br></em><strong><em>Bandung, 18 Maret 2021</em></strong><em><br></em><br>——— ○ °•°•° ○ °•°•° ○ ———<br><br>Dira membuka lemari baju Thama. Aroma ciri khas Thama tercium disini. Aroma yang tidak begitu menyengat, dan cukup lembut. Terlihatnya kotak berwarna ungu yang Thama bilang dalam tulisannya.<br><br>Dibuka kotak itu, dan terlihat sebuah gelang emas didalam nya. Dan juga, sebuah lipatan kertas didalam sana.<br><br>"<em>Bunda.. selamat ulang tahun Bunda.. Thama bingung mau bilang apa, tapi, Bunda harus sehat selalu ya? Jangan telat makan. Bunda harus tetap bahagia ya.. Bunda harus senyumm.. Thama sayang sama Bunda.. tolong bilang ke Kang adi sama Dava ya, Bund, mereka juga harus sehat terus. Jangan lupa makan. Dan harus bahagia dan tersenyum selalu. Thama sayang Bunda..</em>" Ucap Thama dalam tulisan itu.<br><br>Dira merasa begitu sakit. Dira menyesal, namun bagaimana lagi? Memang begitu adanya. Andai waktu bisa di ulang. Dira ingin memperbaiki ini semua. Sungguh..<br><br>——— ○ °•°•° ○ °•°•° ○ ———<br><br>Usai sudah cerita saya. Terima kasih semuanya.. maaf apabila ada kesalahan kalimat dalam cerita saya.. hehehee..<br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-12-22 23:55:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1961233716</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Azzizah Zazkiyya Ulvan (7B) </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1963010653</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1496598897/e2240e28e826d8e136dcf0f86459c559/CBCCF8E3_C9F6_40DA_917D_B7F12D20D92A.jpeg" />
         <pubDate>2021-12-24 10:36:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kuaqili/a5hkqdlo0874kw1f/wish/1963010653</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
