<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>PKN TIMELINE by andrew liong</title>
      <link>https://padlet.com/liongandrew307/9wdxox4eum3g0qtg</link>
      <description>Tugas PKN kelompok 
ANDREW,KELLEN,dan HANSEN 9C</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2020-11-09 04:31:49 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-11-09 03:52:17 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Demokrasi Parlementer</title>
         <author>liongandrew307</author>
         <link>https://padlet.com/liongandrew307/9wdxox4eum3g0qtg/wish/902795038</link>
         <description><![CDATA[<div>(1945-1959)<br>Ciri-Ciri:<br>-Kekuasaan terbesar ditangan Presiden dan MPR <br>-DPR dan DPA yang berwenang memberi nasihat kepada Presiden dan MA.<br>Kekurangan:<br>-Terjadi 2 kali penggantian UUD yaitu dari UUD 1945 dengan Konstitusi RIS pada 27 Desember 1949-17 Agustus 1950.Penggantian Konstitusi RIS dengan UUD 1950.<br>Contoh Presiden Soekarno menyampaikan anjuran kepada konstituante untuk menetapkan kembali UUD NRI tahun 1945 sebagai UUD negara.<br>Kelebihan:<br>-Merupakan masa kejayaan demokrasi diIndonesia karena Lembaga perwakkilan Rakyat berperan tinggi didalam proses politik. Contoh: Dr.Halim mantan perdana menteri menyampaikan surat kutikan kepada presiden Soekarno surat terbuka dengan kritikan sangat tajam.(Andrew)</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/839507650/8cee8ef605449e85f9621acb1c423a52/Demokrasi_perlementer.jpg" />
         <pubDate>2020-11-09 04:42:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/liongandrew307/9wdxox4eum3g0qtg/wish/902795038</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Demokrasi Terpimpin </title>
         <author>liongandrew307</author>
         <link>https://padlet.com/liongandrew307/9wdxox4eum3g0qtg/wish/902831290</link>
         <description><![CDATA[<div>(1959-1966)<br>Ciri-ciri:<br>-Tanggung jawab ada ditangan presiden ,menteri merupakan pembantu presiden /penumpukan kekuasaan ditangan presiden /penumpukan kekuasaan ditangan presiden .<br>-MPR dan DPR belum dibentuk karena belum diadakan PEMILU.<br>Kekurangan dan contoh :<br>Karena kekuasaan tertinggi berada ditangan presiden MPRS dan DPRS dibubarkan oleh presiden.Tidak sesua dengan UUD 1945 karena presiden berada dibawah MPR dan DPR<br>Presiden mengangkat dan membentuk anggota MPRS padahal MPRS harus dipilih melalui PEMILU.<br>Presiden membubarkan DPR dan menggantinya dengan DPR-GR,anggota DPR-GR dan peraturan DPR-GR ditentukan oleh presiden.<br>DPAS dibentuk dan diketuai oleh presiden Soekarno sendiri.<br>Kelebihan :<br>Sistem demokrasi terpimpin diharapkan bisa menghadapi krisis yang terjadi pada saat itu,<br>membangun Integritas Nasional Indonesia,membentuk banyak lembaga negara, Penataan di berbagai bidang,Adanya jiwa gotong royong. Contoh:krisis ekonomi ,politik,pemberontakan dan persaingan partai politik.<br>Soekarno ingin membantu sistem politik yang sesuai dengan jati diri bangsa.(Andrew)<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/839507650/bdca2b7fc4dcee3deec7c6e500583b99/DEMOKRASI_TERPIMPIN.jpg" />
         <pubDate>2020-11-09 05:03:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/liongandrew307/9wdxox4eum3g0qtg/wish/902831290</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Demokrasi reformasi pancasila</title>
         <author>liongandrew307</author>
         <link>https://padlet.com/liongandrew307/9wdxox4eum3g0qtg/wish/911807568</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Demokrasi Indonesia periode reformasi<br></strong><br></div><div> <br><br></div><div> Presiden BJ Habibie meletakkan fondasi yang kuat bagi pelaksanaan demokrasi Indonesia pada masa selanjutnya.<br><br></div><div> Dalam masa pemerintahan Presiden BJ Habibie muncul beberapa indikator pelaksanaan demokrasi di Indonesia, yaitu:<br><br></div><div>1.      Diberikan kebebasan pers </div><div> </div><div>Pada era reformasi diberikan ruang kebebasan pers sebagai ruang publik untuk berpartisipasi dalam kebangsaan dan kenegaraan. </div><div> </div><div>2.     Berlakunya sistem multipartai</div><div> </div><div>Di era reformasi sistem multipartai diberlakukan terlihat pada Pemilihan Umum 1999.</div><div> </div><div>Habibie sebagai Presiden RI membuka kesempatan pada rakyat untuk berserikat dan berkumpul sesuai ideologi dan aspirasi politiknya.</div><div> </div><div><strong>Karakteristik demokrasi periode reformasi</strong> </div><div> </div><div>Demokrasi yang diterapkan di Indonesia pada era reformasi ini adalah demokrasi Pancasila.</div><div> </div><div>Dengan karakteristik berbeda dari orde baru dan sedikit mirip dengan demokrasi parlementer 1950-1959.</div><div> </div><div>Kondisi demokrasi Indonesia periode reformasi dinilai sedang menuju sebuah kesempurnaan.</div><div> </div><div>Warga negara bertugas mengawal demokrasi agar dapat teraplikasikan dalam aspek kehidupan.</div><div> </div><div>Berikut ini karakteristik demokrasi pada periode reformasi:</div><div> </div><div>1.     Pemilu lebih demokratis </div><div>2.     Rotasi kekuasaan dari pemerintah pusat hingga daerah </div><div>3.     Pola rekrutmen politik terbuka </div><div>4.     Hak-hak dasar warga negara terjamin </div><div> <br><br></div><div>Berikut ini penjelasannya:<br><br></div><div>1.    Pemilu lebih demokratis </div><div> </div><div>Pemilu yang dilaksanakan jauh lebih demokratis dari sebelumnya. Sistem Pemilu terus berkembang memberikan jalan bagi rakyat untuk menggunakan hak politik dalam Pemilu.</div><div>Puncaknya pada 2004 rakyat bisa langsung memilih wakilnya di lembaga legislatif serta presiden dan wakil presiden dipilih secara langsung.</div><div> </div><div> </div><div>Pada 2005 kepala daerah pun (gubernur dan bupati atau walikota) dipilih langsung oleh rakyat.<br> <br> </div><div>2.    Rotasi kekuasaan dari pemerintah pusat hingga daerah</div><div> </div><div>Rotasi kekuasaan dilaksanakan dari mulai pemerintahan pusat sampai pada tingkat desa.</div><div> </div><div>3.    Pola rekrutmen politik terbuka </div><div> </div><div>Rekrutmen politik untuk pengisian jabatan politik dilakukan secara terbuka. Setiap warga negara yang mampu dan memenuhi syarat dapat menduduki jabatan politik tanpa diskriminasi.</div><div> </div><div>4.    Hak-hak dasar warga negara terjamin</div><div> </div><div> Sebagian besar hak dasar rakyat bisa terjamin seperti adanya kebebasan menyatakan pendapat, kebebasan pers dan sebagainya.(Kellen)<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/839507650/464aefc7c12e8137e48a8f01fce6fb29/refo.jpg" />
         <pubDate>2020-11-11 07:25:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/liongandrew307/9wdxox4eum3g0qtg/wish/911807568</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Demokrasi pancasila</title>
         <author>liongandrew307</author>
         <link>https://padlet.com/liongandrew307/9wdxox4eum3g0qtg/wish/912078291</link>
         <description><![CDATA[<div>Demokrasi Pancasila Pada Masa Orde Baru</div><div>Orde Baru ditandai oleh runtuhnya orde lama yang didalamnya terdapat pemberontakan pemberontakan yang terjadi. Seperti halnya pemberontakan G30S yang dapat ditumpas. Pemberontakan tersebut terdapat bukti bukti yang menunjukan bahwa PKI atau Partai Komunis Indonesia yang menjadi pelaku pemberontakan tersebut. PKI merupakan dalang dari pemberontakan tersebut dan membuat masyarakat Indonesia marah serta kecewa dengan organisasi tersebut. Sebelumnya PKI merupakan organisasi pembela rakyat indonesia dalam mencapai kemerdekaan. Namun karena pemberontakan tadi masyarakat melakukan demontrasi massa yang bertujuan agar PKI dibubarkan dan tokoh tokoh yang ada didalamnya diadili secara adil.<br><br></div><div>Jendral Suharto pada masa orde baru tersebut diangkat sebagai menteri serta memberi mandat kepada panglima angkatan darat untuk memberantas organisasi PKI beserta ormasnya. Lahirnya Orde Baru dilatar belakangi masyarakat luas meliputi dukungan dari berbagai kalangan, seperti dari beberapa partai politik, perorangan, organisasi massa, pemuda, mahasiswa, pelajar bahkan kaum wanita. Berbagai dukungan tersebut kemudian membentuk organisasi bersama yang disebut sebagai gerakan Front Pancasila. Front Pancasila tersebut bersatu dan menuntut organisasi pembrontakan G30SPKI beserta ormas yang terlibat untuk melakukan penyelesaian secara politis. Aksi penolakan G30SPKI tersebut mempunyai tujuan yang sama terjadi pada 30 September 1965 yang bertemakan kesatuan. Di dalam gerakan 30 September 1965 terdapat organisasi yang tergabung seperti KAMI( Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), KASI(Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia), KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indoneisa).<br><br></div><div>Aksi kesatuan yang tergabung dalam Front Pancasila kemudian berganti nama menjadi “Angkatan 66” . Aksi tersebut dilanjutkan menuju Gedung Sekretariat Negara pada tanggal 8 Januari 1966. Pada 8 Januari 1966 terdapat pernyataan yang menyatakan bahwa kebijakan ekonomi dari pemerintah tidak dapat dilaksanakan maupun dibenarkan. <br><br></div><div> </div><div>Kelebihan: </div><div>1.Lebih baik untuk banyak orang</div><div>2.Desentralisasi kekuasaan</div><div>3.Mempromosikan rasa keterlibatan</div><div>4.Tercukupinya kebutuhan pangan.</div><div>5.Peningkatan keamanan di dalam negeri.<br><br></div><div>6.Keberhasilan dari pelaksanaan gerakan wajib belajar dan juga gerakan orang tua asuh.<br><br></div><div>7.Banyak dana dari investor luar.<br><br></div><div>8.Rencana pembangunan 5 tahun telah sukses di jalankan.<br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div>Kekurangan:<br><br></div><ol><li>Pembangunan yang berjalan tidak merata, terluhat perbedaan drastis pembangunan wilayah pusat dan daerah.</li><li>Banyak kekayaan yang di pakai untuk pemerintah kota.</li><li>Keenjangan pembangunan yang kian nampak.</li><li>Beberapa pelanggaran HAM karena solusi dari berbagai pemecahan masalah banyak di gunakan berupa perang kekuasaan yang menyalahi tujuan instumen HAM dan perbandingan penegakan HAM di Indonesia.</li><li>Kebebasan pers yang terbatas dilihat dari maraknya koran yang harus terpaksa tidak bisa lagi diterbitkan.</li><li>Kebebasan untuk berpendapat masih jauh diatas kesuksesan.</li></ol><div> </div><div><strong>Ciri-Ciri Pemerintahan Orde Baru<br></strong><br></div><div><strong>1.       Pertumbuhan ekonomi</strong></div><div>Hasil kebijakan ekonomi reformulasi Suharto segera terlihat. Tingkat inflasi menurun, dan mata uang nasional, rupiah, stabil, manufaktur berkembang pesat, dan produksi minyak meningkat, sebagian karena eksplorasi oleh sejumlah perusahaan asing yang beroperasiPertamina, perusahaan minyak negara monolitik. Posisi Pertamina sebagai pusat ekspansi ekonomi Indonesia berakhir pada tahun 1975, namun, ketika pemerintah menyelamatkan perusahaan dari hutangnya seperti ciri-ciri demokrasi pada masa orde lama</div><div><strong>2.       Kebergantungan kapital ekonomi</strong></div><div>Kebijakan baru ini memiliki kritik, baik di dalam maupun di luar negeri. Bagi sebagian orang, tampaknya republik itu menjadi bergantung secara ekonomi pada kapital Barat dan, khususnya, pada perusahaan-perusahaan transnasional besar, bahwa investasi asing langsung telah menciptakan kelas pedagang Indonesia yang meningkatkan kemakmuran dan pengaruhnya melalui kesepakatan dengan perusahaan asing, dan bahwa kekayaan baru telah melebih-lebihkan ketidaksetaraan yang ada daripada menghapusnya.</div><div><strong>3.       Pencapaian pertumbuhan ekonomi</strong></div><div>pencapaian ekonomi dari kebijakan Orde Baru sangat spektakuler. Mereka mengubah pola perkembangan nusantara selama tahun 1970an dan 1980 an, terutama di luar Jawa. Secara historis pusat politik dan pusat ekonomi Hindia Timur , Jawa tampaknya mempertahankan posisi itu di dalam republik modern, yang memimpin sekitar tiga perempat dari semua proyek investasi baru tidak termasuk eksplorasi minyak dari akhir 1960-an hingga awal 80-an.<br><br></div><div><strong> </strong></div><div><strong>4.       Perkembangan sektor usaha</strong></div><div>Usaha bebas berkembang pesat selama tahun 1990-an, dekade terakhir Orde Baru, tetapi pemilik bisnis utama adalah putra dan putri presiden. Suharto mengklaim bahwa anak-anaknya, sebagai warga negara Republik Indonesia, memiliki hak untuk menjalankan bisnis mereka; masalahnya adalah mereka menerima hak istimewa yang sangat besar dalam urusan bisnis mereka.</div><div><strong>5.       Perkembangan politik</strong></div><div>Pemerintahan awalnya memiliki komponen sipil yang kuat dalam diri orang-orang Sultan Hamengkubuwono IX dari Yogyakarta dan negarawan Adam Malik (keduanya kemudian menjabat sebagai wakil presiden). Tetapi kekuatan militer, yang bersekutu erat dengan birokrasi, tampak jelas, dan pemerintah mengembangkan karakteristik otoriter yang jelas seperti penyimpangan konstitusi pada masa orde baru.</div><div><strong>6.       Pemilihan Parlemen</strong></div><div>Antara 1971 dan 1998, pemilihan parlemen diikuti oleh pemilihan kembali Soeharto yang tak terhindarkan untuk masa jabatan presiden yang berturut-turut. Hasil ini tidak tercapai tanpa usaha. Kebijakan ekonomi Suharto dan, khususnya, upaya untuk menyebarkan pembangunan secara lebih merata di seluruh nusantara berkontribusi untuk mengurangi perasaan regional yang kuat pada tahun 1950-an, meskipun masih ada persepsi bahwa rezim tersebut didominasi oleh Jawa.Irian Jaya mempresentasikan tantangan khusus untuk Orde Baru.(Hansen)<br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div>Sumber: <br><br></div><div>guruppkn.com/kelebihan-dan-kekurangan-orde-baru <br><br></div><div>https://guruppkn.com/ciri-ciri-pemerintahan-orde-baru<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/839507650/aa3edab085e15d2f4a55c0c7982d15fc/olk.jpg" />
         <pubDate>2020-11-11 09:12:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/liongandrew307/9wdxox4eum3g0qtg/wish/912078291</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
