<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>NABILLA FARAM SYACH by Nabilla syech</title>
      <link>https://padlet.com/nabilasyach2002/9jv2js6k8afqutho</link>
      <description>No.24
12IPS 2</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2020-09-30 23:52:38 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-03-26 03:22:53 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f363.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>NABILLA FARAM SYACH</title>
         <author>nabilasyach2002</author>
         <link>https://padlet.com/nabilasyach2002/9jv2js6k8afqutho/wish/793273463</link>
         <description><![CDATA[<div>NO.24<br>12 IPS 2</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/702248413/26c2920b5bfd0d184767535f659cf97d/PicsArt_10_01_07_03_11.jpg" />
         <pubDate>2020-10-01 00:05:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nabilasyach2002/9jv2js6k8afqutho/wish/793273463</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SOKOLA RIMBA : Butet Manurung</title>
         <author>nabilasyach2002</author>
         <link>https://padlet.com/nabilasyach2002/9jv2js6k8afqutho/wish/793289871</link>
         <description><![CDATA[<div>Sokola Rimba menceritakan perjuangan Butet Manurung, seorang sarjana dan master Antropologi yang bertahun-tahun mendekati orang-orang dan anak-anak Rimba agar mereka mendapat pendidikan. Butet ini awalnya bekerja di WARSI, sebuah LSM konservasi hutan di Sumatra dan ditugaskan di bagian pendidikan. Target utama yang diberikan pada Butet waktu itu adalah mengajar baca tulis bagi anak-anak Rimba. Orang-orang Rimba adalah sebutan bagi suku yang mendiami Taman Nasional Bukit DuaBelas (TNBD) yang ada di Jambi.Orang Rimba hidup di hutan, dengan berburu dan meramu. Mereka hidup berkelompok dan berpindah-pindah .<br><br>Sayangnya kehidupan mereka banyak mengalami gangguan, terutama karena kerusakan hutan, penebangan liar, perubahan lahan hutan jadi lahan kelapa sawit, dsb. Di TNBD sendiri, ada beberapa kelompok (yang disebut rombong) orang Rimba. Waktu Butet mendekati orang Rimba dan menawari pendidikan, mereka takut, bahkan menolak. Menganggap pendidikan akan mengubah adat mereka, bahkan mereka menjuluki pulpen sebagai “setan bermata runcing”. Orang Rimba bilang begitu karena mereka sering ditipu orang terang (sebutan untuk orang kota atau desa, yang bukan orang rimba). Selama bertahun-tahun Butet ini pindah-pindah dari satu rombong orang rimba ke rombong orang rimba yang lain, berkeliling hutan. Rombong sungai Tengkuyungon merupakan kelompok orang rimba pertama yang ditemui oleh Butet. Pertemuan awalnya dengan induk Terenong dan anak perempuannya, Bemulo telah memberikan gambaran jelas perbedaan antara kehidupan mereka. Bayangan Butet tentang hutan yang rindang dengan pemandangan eksotis telah terpatahkan dengan fakta hutan yang ditemuinya tengah mengalami kerusakan. Akan tetapi fakta ini membawa penyadaran untuk lebih mencintai alam dengan segenap realitanya. Kelompok orang rimba tersebar di kawasan bukit dua belas yang luasnya lebih dari 60.000 hektar. Bukit ini dipercayai sebagai tempat bersemayamnya dewa-dewa, setan maupun jin. Wilayah ini terdiri ada 3 Kabupaten (Batang Hari, Muaro Tebo, Sarolangun) dan dihuni sekitar 11 temenggung (kelompok orang rimba). Masing-masing kelompok terdiri dari beberapa keluarga yang selalu berpindah-pindah. Orang rimba hidup dari alam, dan memanfaatkan seluruh potensi alam untuk menyokong kebutuhan hidup mereka.<br><br>Ketidakmampuan mereka membaca dan menulis menjadi sebuah titik kelemahan yang jika tidak segera mereka sadari akan menghapus keberadaan mereka. Hal ini lah yang membuat hati Butet terdorong lewat lembaga WARSI Butet mencoba untuk mengajarkan anak-anak rimba untuk membaca. Kehadiran WARSI sebagai lembaga yang fokus pada konservasi hutan membuka peluang pengenalan pada dunia pendidikan bagi orang rimba. Hanya saja apa yang harus dilakukan dan konsep pendidikan seperti apa yang paling tepat untuk orang rimba secara jelas belum ditemukan oleh Butet. perjuangannya Butet dituntut kreatif menggunakan segala cara agar bisa mendekati mereka, misalnya mengajar mereka bersepeda, mengusahakan pengobatan hingga memberikan pelajaran baca tulis secara sembunyi-sembunyi. Besudu (15 tahun), Batu (13 tahun) dan Linca (14 tahun) adalah tiga anak OR yang menjadi murid pertama butet. Jumlah ini bertambah menjadi tujuh orang pada hari kedua dan berkurang kembali menjadi tiga orang anak pada hari ketiga. Daya tangkap masing-masing anak berbeda, ada yang unggul di pelajaran berhitung dan ada yang di pelajaran mengenal huruf.<br><br>Berbagai metode belajar ditemukan dari proses belajar dan mengajar sehingga hubungan yang muncul adalah timbal balik. Guru tidak hanya sebatas guru dan murid tidak hanya sebatas murid, tetapi guru dan murid menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi. Dan ini yang tidak pernah ditemukan di sekolah-sekolah lainnya. Sekolah lebih cenderung mengdiskreditnya siswa sebagai obyek yang harus menerima seluruh ilmu pengetahuan yang diberikan oleh guru dan menerima hukuman apabila mereka tidak mampu menerimanya. Alasan ini juga mengapa anak-anak orang rimba tidak mau bersekolah di desa, hukuman yang diberikan oleh guru kepada murid yang tidak patuh telah mencetak gambaran buruk tentang sekolah dibenak anak-anak orang rimba. Sokola Rimba yang didirikan oleh butet dan beberapa temannya semasa di WARSI merupakan satu-satunya sekolah yang mencitrakan pendidikan ala rimba. Sistem dan metode pendidikan yang fleksibel tetapi berorientasi pada pengembangan kualitas anak membuat anak-anak merasa nyaman. Totalitas dan loyalitas pada mimpi untuk memberdayakan orang rimba merupakan rangkaian perjuangan panjang. Tak hanya sebatas pada transfer ilmu pengetahuan tetapi mencoba untuk masuk lebih dalam yaitu menyadarkan orang rimba akan potensi dan eksistensi mereka sebagai orang rimba yang hidup di hutan. Pekerjaan besar lainnya merubah ketergantungan hidup mereka terhadap hutan. Jika hutan sudah tidak ada, mereka akan hidup dimana? Apakah akan tinggal di rumah-rumah yang berdinding kayu dan menjadi petani seperti halnya orang desa? Atau mereka akan semakin terpinggirkan hingga akhirnya populasi orang rimba akan punah karena ketikdakmampuan bertahan di alam yang sudah tidak lagi berpihak pada mereka.<br><br>Keteladanan yang Dapat Saya Ambil dari Buku Tersebut adalah: <br>1. Pantang menyerah, terbukti dari Butet Manurung yang berhasil menunjukkan kepada kita sikap gigihnya ditengah kesusahan proses perjuangan. Ia harus masuk keluar hutan dengan besar kemungkinan ada banyak binatang buas yang siap memangsa. Ia terus mendapatkan penolakan hingga akhirnya diterima oleh orang-orang Rimba.<br>2. Konsisten, terbuktu dari sikap integritas Buter Manurung untuk menentang ketidakjujuran dan ketidakadilan. Butet Manurung menentang rekan kerja yang hanya mau mengeksploitasi orang-orang Rimba di hadapan wartawan. Ia pun terus mendidik anak-anak Rimba agar bisa membaca tulis agar tidak dibodohi oleh “orang terang” untuk mencuri pohon mereka, sama seperti perkataannya di akhir film, “Bungo mengingatkanku pada sikap yang tepat menghadapi perubahan. Menjadikan pengetahuan sebagai senjata beradaptasi.”</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/702248413/d24e8d5de20ee542fd21b2892e470f82/ID_KPB2016MTH03SRIM_B.jpg" />
         <pubDate>2020-10-01 00:19:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nabilasyach2002/9jv2js6k8afqutho/wish/793289871</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
