<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>PAHLAWAN NASIONAL DARI PAPUA by 11_Iftitah Farah Zannuba_ XI MIPA 6</title>
      <link>https://padlet.com/iftitah10204/9fkucmkk3a8yavmc</link>
      <description>Oleh Iftitah Farah Zannuba - 12 Mipa 6 - 11</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-08-09 11:28:41 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-03-03 18:06:39 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f1ee-1f1e9.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Frans Kaisiepo (1921-1979)</title>
         <author>iftitah10204</author>
         <link>https://padlet.com/iftitah10204/9fkucmkk3a8yavmc/wish/1672763408</link>
         <description><![CDATA[<div>Frans Kaisiepo (1921 – 1979) adalah salah seorang tokoh yang mempopulerkan lagu Indonesia Raya di Papua saat menjelang Indonesia merdeka. Ia juga turut berperan dalam pendirian Partai Indonesia Merdeka (PMI) pada tanggal 10 Mei 1946. Pada tahun yang sama Kaisepo menjadi anggota delegasi Papua dalam konferensi Malino di Sulawesi Selatan. Pada konferensi ini Kaisiepo menentang pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) tidak memasukkan Papua ke dalamnya. Ia lalu mengusulkan agar Papua dimasukkan ke dalam Keresidenan Sulawesi Utara. Tahun 1948 Kaisiepo ikut berperan dalam merancang pemberontakan rakyat Biak melawan pemerintah kolonal Belanda. Tahun 1961 ia mendirikan partai politis Irian Sebagian Indonesia (ISI) yang menuntut penyatuan Nederlands Nieuw Guies ke negara Indonesia. Pada tahun terakhir tahun 1960-an, Kaisiepo berupaya agar Penentuan pendapat Rakyat (Pepera) bisa dimenangkan oleh masyarakat yang ingin Papua bergabung ke Indonesia.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1289143581/273f8239f6ac2cbf948bf249627374ca/20210809_175649.jpg" />
         <pubDate>2021-08-09 11:33:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/iftitah10204/9fkucmkk3a8yavmc/wish/1672763408</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SILAS PAPARE (1918-1979)</title>
         <author>iftitah10204</author>
         <link>https://padlet.com/iftitah10204/9fkucmkk3a8yavmc/wish/1672764223</link>
         <description><![CDATA[<div>Silas Papare (1918-1978) adalah orang yang membentuk Komite Indonesia Merdeka (KIM) hanya sekitar sebulan setelah Indonesia merdeka. Pada bulan desember tahun 1945 , Sila Papare bersama Marthen Indey dianggap mempengaruhi Batalyon Papua bentukan sekutu untuk memberontak terhadap Belanda. Akibatnya mereka berdua ditangkap dan dipenjara di Holandia (Jayapura). Setelah keluar dari penjara Sila Papare mendirikan Partai Kemerdekaan Irian. Karena belanda tidak senang, maka ia dipenjarakan lagi di Biak. Partai ini kemudian diundang pemerintah RI ke Yogyakarta. Silas Papare yang sudah bebas pergi kesana bersama temannya untuk membentuk badan Perjuangan Irian di Yogyakarta. Pada tahun 1962 ia mewakili irian antara Indonesia-Belanda dalam upaya penyelesaian masalah Papua. Berdasarkan ”New York Argument” ini, Belanda akhirnya setuju untuk mengembalikan Papua ke Indonesia.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1289143581/5c923973bb6ad14e6d0e7104f0b91f02/20210809_181233.jpg" />
         <pubDate>2021-08-09 11:34:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/iftitah10204/9fkucmkk3a8yavmc/wish/1672764223</guid>
      </item>
      <item>
         <title>MARTHEN INDEY (1912-1986)</title>
         <author>iftitah10204</author>
         <link>https://padlet.com/iftitah10204/9fkucmkk3a8yavmc/wish/1672765035</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Marthen Indey (1912-1986)</strong> sebelum Jepang masuk ke Indonesia adalah seorang anggota polisi Hindia Belanda. Jabatannya tidak melunturkan rasa nasionalismenya, namun malah semakin menumbuhkan sikap nasionalismenya ketika berinteraksi&nbsp; dengan tahanan politik Indonesia yang dibuang Belanda ke Papua. Antara tahun 1945 – 1947, Indey masih menjadi pegawai pemerintah Belanda dengan jabatan sebagai kepala distrik. Sejak tahun 1946 Marthen Indey menjadi ketua Partai Indonesia Merdeka (PIM). Ia memimpin sebuah aksi protes yang didukung delegasi 12 Kepala suuku terhadap keinginan Belanda yang ingin memisahkan Papua dari Indonesia. Tahun 1962, saat Marthen Indey tak lagi dipenjara, ia menyusun kekuatan gerilya sambil menunggu kedatangan tentara Indonnesia yang akan diterjunkan ke Papua dalam rangka Operasi Trikora.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1289143581/e97b23c8dd0a5061fa1b45fe8c2fe52a/20210809_181708.jpg" />
         <pubDate>2021-08-09 11:36:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/iftitah10204/9fkucmkk3a8yavmc/wish/1672765035</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
