<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Materi UTS Kelas X🔥 by Hima Zahriyyatul Farchah</title>
      <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o</link>
      <description>Soal UTS di ambil dari Materi ini ya, Gaessss🫶🏻 So, Selamat belajar🔥🔥🔥Jadilah yang terbaik dengan menjadi versimu sendiri💜 Good Luck gaesss🫶🏻</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-09-25 05:22:06 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-10-06 11:35:54 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/8.0/png/1f47b.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Teori Brahmana</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137274929</link>
         <description><![CDATA[<p>Teori ini menyebutkan para&nbsp;<strong>kaum brahmana</strong>&nbsp;diundang datang ke Nusantara karena&nbsp;<strong>ketertarikan raja-raja yang berkuasa dengan ajaran agama</strong>&nbsp;<strong>Hindu dan Buddha</strong>. Sehingga raja-raja tersebut mendatangkan para kaum brahmana untuk mengajarkan agama Hindu-Budha tersebut untuk raja dan rakyatnya di Nusantara.</p><p><strong>Tokoh</strong> yang mengemukakan teori Brahmana adalah <strong>Van Leur</strong>.</p><ul><li><p><strong>Jacob Cornelis van Leur</strong> atau lebih dikenal dengan nama <strong>J.C. van Leur</strong> merupakan salah satu pelopor historiografi Indonesia. Ia telah menulis berbagai artikel mengenai sejarah Indonesia. Karyanya yang terkenal adalah Perdagangan dan Masyarakat Indonesia.</p></li></ul><p><strong>Kelebihan </strong>dari teori Brahmana:</p><ol><li><p>Kaum Brahmana dianggap sebagai golongan yang tau dan lebih paham tentang agama Hindu.</p></li><li><p>Bahasa Sansekerta yang biasanya digunakan dalam prasasti peninggalan kerajaan Hindu-Buddha hanya di kuasai oleh kaum Brahmana.</p></li><li><p>Kaum Brahmana yang biasanya dipercaya sebagai pemimpin dalam acara adat agama Hindu-Buddha.</p></li></ol><p><strong>Kelemahan</strong> dari teori Brahmana:</p><ol><li><p>dalam ajaran Hindu kuno, terdapat larangan bagi kaum Brahmana untuk menyeberangi lautan yang akan menghilangkan kasta Brahma mereka.</p></li><li><p>Tidak sesuai dengan penyebaran agama Hindu di Indonesia.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2779091738/90710166526b55270454ec11e3025e9a/Ilustrasi__5_.png" />
         <pubDate>2024-09-25 05:30:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137274929</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Teori Ksatria</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137277733</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada zaman masuknya Hindu-Buddha ke Nusantara, di daratan India dan China sedang berlangsung perang saudara. Raja-raja yang kalah peperangan melarikan diri ke Nusantara untuk berlindung. Lambat laun mereka mendirikan kerajaan kembali di Nusantara dengan corak-corak yang berhubungan dengan agama Hindu atau Buddha yang sebelumnya mereka anut. (Dalam Kasta yang ada di agama Hindu-Buddha, keluarga raja ataupun orang yang memegang senjata disebut sebagai Kasta Ksatria.)</p><p>Tokoh yang mengemukakan teori ini adalah <strong>C.C. Berg, Mookerji (Mukherjee), </strong>dan <strong>J.C. Moens</strong></p><ul><li><p><strong>Cornelis Christiaan Berg (C.C. Berg)</strong> adalah seorang ahli botani Belanda yang terkenal karena banyak karya dan penelitiannya pada famili tumbuhan Moraceae.&nbsp;</p></li><li><p><strong>Radha Kumud Mukherjee (Mookerji)</strong> , adalah seorang sejarawan asal India dan seorang nasionalis India terkenal pada periode pemerintahan kolonial Inggris. Ia adalah saudara dari sosiolog, Radha kamal Mukerjee.</p></li><li><p><strong>Jan Lodewijk Moens (J.C Moens)</strong> adalah salah satu tokoh&nbsp;pendukung Teori Ksatria yang dikemukakan untuk menjelaskan asal mula masuknya agama Hindu-Buddha ke Indonesia. Menurut J.L. Moens, Teori Ksatria berargumen bahwa pada abad ke-4 sampai ke-6 Masehi, kasta ksatria yang terdiri dari kaum bangsawan dan prajurit mengalami kekalahan dalam peperangan di India. Mereka kemudian meninggalkan India dan mencari tempat baru di Asia Tenggara, salah satunya Indonesia.</p></li></ul><p><strong>Kelebihan</strong> dari Teori Ksatria:</p><ol><li><p>Para ksatria yang melarikan diri ketika kalah perang kemudian mendiami wilayah Indonesia, mendirikan perkumpulan atau komunitasnya sendiri hingga berkembang menjadi sebuah kerajaan (Seperti yang telah dikemukakan oleh para ahli di atas).</p></li><li><p>Golongan Ksatria mempunyai semangat tinggi untuk berpetualang demi menaklukkan berbagai daerah lain.</p></li><li><p>Didukung oleh cerita Panji yang berkembang di Masyarakat.</p></li></ol><p><strong>Kekurangan </strong>dari Teori Ksatria:&nbsp;</p><ol><li><p>Tidak ada bukti tertulis yang menunjukkan bahwa Ksatria dari India telah melakukan penaklukkan.</p></li><li><p>Tidak ada bukti peninggalan berupa prasasti yang mencatat kedatangan Ksatria dan penyebaran Hindu-Buddha.</p></li><li><p>Melebih-lebihkan peran kaum Ksatria dalam penyebaran Hindu-Buddha di Indonesia.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2779091738/39d4e223d71884a5ad89ea3ce8bd9665/Ilustrasi.png" />
         <pubDate>2024-09-25 05:32:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137277733</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Teori Waisya</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137279699</link>
         <description><![CDATA[<p>Teori ini menyebutkan bahwa para <strong>pedagang</strong> yang beragama Hindu-Buddhalah penyebar utama agama tersebut di Nusantara. Karena perdagangan pada zaman dahulu menggunakan jalur laut dan bergantung pada angin. Ketika para pedagang ini menetap di Nusantara, mereka berinteraksi sekaligus memperkenalkan agama dan kepercayaannya kepada masyarakat.<br></p><p><strong>Tokoh</strong> yang mengemukakan teori ini adalah <strong>N.J Krom</strong></p><ul><li><p><strong>Nicolaas Johannes Krom</strong> adalah seorang orientalis, epigrafis, arkeolog, peneliti sejarah awal dan budaya tradisional Indonesia asal Belanda. Ia merupakan salah seorang tokoh kelompok "mazhab Belanda" atas kajian historiografi filologis Indonesia.</p><p><br/></p></li></ul><p><strong>Kelebihan</strong> dari Teori Waisya:</p><ol><li><p>Interaksi sosial saat terjadinya proses jual beli.</p><p><br/></p></li></ol><p><strong>Kelemahan</strong> dari Teori Waisya:</p><ol><li><p>Keahlian bahasa Sansekerta dan aksara Palawa yang dibutuhkan untuk memahami ajaran Hindu-Buddha tidak dimiliki oleh para pedagang. Keahlian tersebut biasanya dimiliki oleh orang-orang yang menempati kasta Brahmana.</p></li><li><p>Para pedagang hanya berfokus pada berdagang dan mencari keuntungan, sehingga sedikit kemungkinan untuk mereka menyebarkan agama.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2779091738/af4bc97c4d7409edd2e79561de935343/Ilustrasi__1_.png" />
         <pubDate>2024-09-25 05:33:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137279699</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Teori Arus Balik</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137280626</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Teori Arus Balik</strong></p><p>Teori ini berasumsi bahwa perkembangan ajaran Hindu-Buddha yang pesat di India, kabarnya sampai terdengar sampai ke Nusantara, dan kemudian menarik minat para&nbsp;<strong>kaum terpelajar di Nusantara untuk berguru ke India</strong>. Setelah mereka berguru dan pulang ke Nusantara, mereka mulai menyebarkan agama baru yang mereka pelajari di sana sebagai pemuka agama dan pendeta.</p><p><strong>Tokoh</strong> yang mengemukakan teori Arus Balik adalah <strong>F.D.K Bosch</strong></p><ul><li><p><strong>Frederik David Kan Bosch </strong>adalah seorang ilmuwan dan profesor ahli Indologi dan Indonesia yang berkebangsaan Belanda. Ketertarikannya mencakup bidang-bidang agama, arkeologi, dan sejarah seni di India, Indonesia, dan Asia Tenggara.</p></li></ul><p><strong>Kelebihan </strong>dari teori Arus Balik:</p><ol><li><p>Teori Arus Balik didukung oleh Prasasti Nalanda yang ditemukan di India. Prasasti ini menjelaskan bahwa Raja Balaputradewa dari Kerajaan Sriwijaya meminta raja India untuk membangun wihara di Nalanda. Wihara ini digunakan oleh para pelajar dari Sriwijaya untuk menimba ilmu agama Hindu-Buddha.</p></li><li><p>Rakyat Indonesia yang belajar ke India, setelah kembali ke Indonesia dirasa lebih mudah penyebaran agama Hindu-Buddha karena dapat menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh Masyarakat Indonesia.</p></li></ol><p><strong>Kelemahan </strong>dari teori Arus balik:</p><ol><li><p>Kesadaran rakyat Indonesia untuk belajar pada masa itu, yang perlu dipertimbangkan.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2779091738/d4de30564c2bedbcaa3b4f0aac663d07/Ilustrasi__7_.png" />
         <pubDate>2024-09-25 05:34:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137280626</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sekilas Info</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137291307</link>
         <description><![CDATA[<p>Kerajaan kutai merupakan kerajaan Hindu yang berada di Kalimantan tepatnya di Muara Kaman, Kalimantan Timur berada di hulu Sungai Mahakam. Kerajaan ini berdiri sejak abad ke 4 Masehi. Nama Kutai diambil dari nama daerah penemuan prasasti, karena pada prasasti – prasasti tidak ditemukan nama kerajaan tersebut. Wilayah dari Kerajaan Kutai cukup luas yaitu seluruh wilayah Kalimantan Timur dan bahkan ketika puncak kejayaan Kutai mencapai sebagian dari wilayah Kalimantan.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2779091738/37d2b22da5c9de63e234717d0fd31a04/1__7_.png" />
         <pubDate>2024-09-25 05:40:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137291307</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kehidupan Politik</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137294760</link>
         <description><![CDATA[<p>Munculnya pengaruh Hindu ke Kerajaan Kutai mempengaruhi sistem pemerintahan kerajaan ini. Kutai sebelum adanya Hindu masih bersifat kesukuan dimana pemimpinnya adalah kepala suku yang memerintah, namun setelah Hindu masuk sistem pemerintahannya berubah menjadi kerajaan dipimpin oleh seorang raja. </p><ul><li><p>Kudungga<br>Kudungga merupakan raja pertama yang memerintah Kutai. Pada masa pemerintahan Kudungga lah agama Hindu masuk ke kerajaan Kutai. Nama Kudungga sendiri menurut para sejarawan merupakan nama asli Indonesia, barulah pada anaknya (Aswawarman) menggunakan bahasa <em>Sansekerta</em>. Hindu mempengaruhi Kerajaan Kutai dan merubah sistem kesukuan menjadi pemerintahan kerajaan. Kudungga mengangkat diri dari kepala suku menjadi raja dan kemudian kepala pemerintahan dilanjutkan turun temurun.</p></li><li><p>Aswawarman<br>Yupa mencatat bahwa Raja Aswawarman merupakan raja yang cerdas dalam memimpin kerajaan Kutai. Terbukti pada masa pemerintahannya Kutai mampu memperluas wilayahnya dibuktikan dari dilakukannya upacara Asmawedha. Upacara Asmawedha adalah upacara yang dilakukan umat Hindu India pada masa pemerintahan Raja Samudragupta untuk memperluas kekuasaan. Perluasan kekuasaan ini dilakukan dengan cara melepaskan kuda, tapak kaki terakhir dari kuda tersebut adalah batas dari kekuasaan Kutai. Pelepasan kuda – kuda ini diikuti oleh para prajurit kerajaan</p></li></ul><ul><li><p>Raja Mulawarman<br>Mulawarman merupakan putra dari Aswawarman, pada pemerintahan Aswawarman inilah Kerajaan Kutai mencapai masa jayanya. Hal ini diperlihatkan oleh kesejahteraan dari masyrakatnya dan Raja Mulawarman pernah mengadakan upacara kurban emas yang banyak.</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 05:43:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137294760</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kehidupan Sosial</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137307381</link>
         <description><![CDATA[<p>Kehidupan sosial antara Raja Mulawarman dan para Brahmana terjalin harmonis. Hal ini terlihat dari adanya yupa yang menjelaskan adanya sedekah oleh Mulawarman berupa 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana di daerah yang bernama Waprakeswara. Waprakeswara merupakan istilah tempat suci untuk menyembah Dewa Siwa.</p><p>Dari terjemahan yupa dapat diketahui juga bahwa masyarakat Kutai tertata, tertib dan teratur. Diperkirakan Kutai sudah terbentuk dalam beberapa kasta seperti yang ada di agama Hindu. Dikatakan dalam suatu sumber terdapat sebuah upacara Vratyastima yaitu upacara penyucian untuk masuk ke kasta ksatria. Hal ini terlihat pada nama <em>warman</em> pada nama – nama raja di Kerajaan Kutai selain raja Kudungga.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 05:51:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137307381</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kehidupan Budaya</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137308706</link>
         <description><![CDATA[<p>Kebudayaan Kutai tergolong maju, hal ini dibuktikan dengan adanya upacara penghinduan yang disebut dengan Vratyastoma. Ketika masa pemerintahan Mulawarman, upacara penghinduan dipimpin oleh pendeta Brahmana yang merupakan orang pribumi Indonesia. Adanya pendeta Brahmana dari Indonesia tersebut menunjukkan kemampuan intelektual yang tinggi, terutama pada penguasaan terhadap bahasa Sansekerta.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 05:52:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137308706</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kehidupan Ekonomi</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137310087</link>
         <description><![CDATA[<p>Kehidupan ekonomi Kutai diperkirakan ditunjang dari sektor pertanian. Apabila melihat letaknya yang strategis yaitu di sekitar Sungai Mahakam yang merupakan jalur perdagangan Cina dan India, diperkirakan Kerajaan Kutai juga mengandalkan bidang perdagangan.</p><p>Perekonomian Kutai juga dapat dilihat dari yupa pada masa pemerintahan Raja Mulawarman yang telah mengadakan korban emas dan menghadiahi sebanyak 20.000 ekor sapi kepada Brahmana. Tidak diketahui secara pasti darimana emas dan sapi tersebut. Apabila emas dan sapi didapatkan dari tempat lain, maka bisa disimpulkan bahwa Kerajaan Kutai telah melakukan perdagangan dengan daerah lain.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 05:53:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137310087</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kehidupan Agama</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137311934</link>
         <description><![CDATA[<p>Kerajaan Kutai beragama Hindu beraliran Syiwa. Kerajaan Kutai masih menjalankan adat dan kepercayaan asli mereka. Jadi, walaupun Hindu sudah menjadi agama Kerajaan Kutai, namun masyarakat dibebaskan untuk menjalankan kepercayaan aslinya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 05:54:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137311934</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Masa Kejayaan </title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137315372</link>
         <description><![CDATA[<p>Kerajaan Kutai mencapai masa kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Mulawarman. Hal ini ditandai oleh kebijaksanaan serta loyalitas sang raja pada agamanya. Para pendeta dihadiahi emas, tanah serta ternak secara adil. serta diadakannya upacara sedekah yang dianggap suci atau disebut Wprakeswara yang telah tercatat di Yupa. Hewan ternak yang disedekahkan adalah berupa sapi sebanyak 20.000 ekor sapi. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pada saat itu Kerajaan Kutai dalam keadaan makmur.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 05:57:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137315372</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Runtuhnya</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137316000</link>
         <description><![CDATA[<p>Kerajaan Kutai runtuh pada masa pemerintahan Raja Dharma Setia. Maharaja Dharma Setia tewas ditangan Raja Kutai Kertanegara yaitu Aji Pengeran Anum Panji pada abad ke 13. Kerajaan Kutai Kartanegara pada perkembangannya berubah menjadi kerajaan Islam dan menjadi Kasultanan Kartanegara.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 05:57:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137316000</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peninggalan</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137317678</link>
         <description><![CDATA[<p>Tujuh Yupa</p><p>Ditemukannya yupa menjadikan sejarah dari Kutai diketahui oleh masyarakat Indonesia, namun di Yupa tidak menyebutkan kapan Kutai di dirikan melainkan hanya menyebutkan pendiri Kerajaan Kutai. Tujuh Yupa ini memberikan info tentang Kerajaan Kutai yang masih diyakini sebagai kerajaan tertua di nusantara yang menganut ajaran agama Hindu.</p><ul><li><p><strong>Isi Prasasti Yupa yang Menerangkan Tentang Aspek Kehidupan Politik Kutai</strong><br>Yupa menyebutkan bahwa Kudungga adalah suku dari Kutai sebelum memasuki era kerajaan. Kudungga merupakan nama asli nusantara dan memperlihatkan bahwa Kudungga bukan pendiri keluarga kerajaan Kutai. Yupa juga menyebutkan bahwa diadakan upacara Aswamedha ketika pemerintaha Asmawarman. Upacara ini merupakan upacara pelepasan kuda untuk menentukan batas dari Kerajaan Kutai. Pada prasasti tersebut juga menyebutkan bahwa Kudungga digantikan oleh Aswawarman dan kemudian Aswawarman digantikan Mulawarman. Pada masa Mulawarman inilah Kerajaan Kutai mengalami kejayaan.</p></li></ul><p><strong>Isi Prasasti Yupa yang Menerangkan Tentang Aspek Sosial</strong><br>Aspek sosial dari isi prasasti Yupa, bahwa pada abad ke 4 Kutai telah banyak menerima pengaruh dari Hindu sehingga mempunyai sistem kerajaan yang berpola seperti kerajaan – kerajaan yang ada di India.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 05:58:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137317678</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Info Penting</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137323642</link>
         <description><![CDATA[<p>Tarumanegara merupakan kerajaan yang pernah berkuasa di Jawa Barat pada abad ke – 4 hingga abad ke – 7 Masehi dan merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara. Tarumanegara merupakan kerajaan bercorak Hindu aliran Wisnu. Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 dan selanjutnya digantikan oleh anaknya, Dharmayawarman (382-395 M). Raja ketiga Tarumanegara adalah Purnawarman (395 – 434 M) yang pernah membuat kota kerajaan baru di daerah pantai yang kemudian disebut dengan Sundapura, inilah kali pertama nama Sunda disebut. Purnawarman memerintah untuk melakukan penggalian Sungai Gomati dan Sungai Candrabaga pada tahun 417 M, dengan panjang 6112 tombak atau 11 km. Ketika penggalian sungai terselesaikan, raja Purnawarman menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana.&nbsp;</p><p>Di dalam Prasasti Pasir Muara menyebutkan adanya peristiwa pengembalian pemerintahan kepada raja Sunda yaitu pada tahun 536 M. Pada masa tersebut, raja yang memerintah Tarumanegara adalah Suryawarman (535 – 561 M) yang merupakan raja ke 7 Tarumanegara. Sebelumnya pada masa pemerintahan ayah Suryawarman yaitu Candrawarman, banyak daerah kekuasaan Tarumanegara dikembalikan pada raja setempat. Hal itu merupakan hadiah atas kesetiaan dari raja – raja bawahan kepada Tarumanegara. Politik pengembalian wilayah kekuasaan ini kemudian dilanjutkan oleh Suryawarman.</p><p>Pada Prasasti Purnawarman di Pasir Muara menyebutkan bahwa adanya raja Sunda pada tahun 536 M, hal ini memperkuat dugaan bahwa Sunda berubah dari sebelumnya sebuah daerah biasa menjadi sebuah kerajaan daerah. Dengan adanya pernyataan ini berarti pusat Kerajaan Tarumanegara berpindah ke tempat lain. Selain melanjutkan politik ayahnya yang menyerahkan sepenuhnya wilayah daerah bawahan kepada kepala daerah terkait, Suryawarman juga mengalihkan perhatiannya ke daerah bagian timur. Pada tahun 526 M, Manikmaya yang merupakan menantu dari Suryawarman mendirikan kerajaan di Kendan, daerah Nagreg antara Bandung dan Limbangan, Garut. Manikmaya yang memerintah kerajaan tersebut didampingi oleh kakeknya di ibukota Tarumanegara dan kemudian diangkat menjadi panglima angkatan Tarumanegara. Pada perkembangannya daerah timur lebih berkembang di bawah pemerintahan cicit Manikmaya dan kemudian dikenal dengan Kerajaan Galuh pada tahun 612 M.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2779091738/4e360aca589bd254194346399e810626/Cuplikan_layar_2024_09_25_130151.png" />
         <pubDate>2024-09-25 06:02:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137323642</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kehidupan Kerajaan Tarumanagara</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137328299</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Kehidupan Politik<br>Pada aspek politik dapat diketahui dari Prasasti Tugu bahwa Raja Purnawarman merupakan raja besar yang telah meningkatkan kehidupan rakyatnya dengan mengadakan penggalian kali Gomati. Perintah penggalian kali ini menunjukkan bahwa konsentrasi dari Raja Purnawarman adalah pengairan sawah – sawah untuk rakyatnya.</p></li><li><p>Kehidupan Sosial<br>Kehidupan sosial di Tarumanegara umumnya sudah teratur. Hal ini bisa dilihat dari adanya upaya dari Purnawarman untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan rakyatnya. Selain itu raja Purnawarman juga memperhatikan brahmana sebagai utusan dari dewa dengan memberi penghormatan berupa sedekah 1.000 ekor sapi.</p></li><li><p>Kehidupan Ekonomi<br>Di dalam Prasasti Tugu menjelaskan adanya pembangunan Sungai Gomati yang memiliki panjang 12 km. Hal ini memiliki arti ekonomis bagi masyarakat, karena dengan dibangunnya Sungai Gomati dapat dipergunakan sebagai sarana pencegahan banjir, irigasi, serta lalu lintas pelayaran antar wilayah Tarumanegara ataupun dengan wilayah luar.&nbsp;</p></li><li><p>Kehidupan Budaya<br>Apabila dilihat dari adanya bukti sejarah berupa prasasti – prasasti yang ditemukan di Tarumanegara, maka bisa disimpulkan bahwa Tarumanegara memiliki tingkat kebudayaan masyarakat yang tinggi. Selain sebagai peninggalan budaya, adanya prasasti tersebut juga menunjukkan sudah berkembangnya kebudayaan tulis menulis di Kerajaan tarumanegara.&nbsp;</p></li><li><p>Kehidupan Agama<br>Kerajaan Tarumanegara menganut kepercayaan Hindu Wisnu. Hal ini dibuktikan pada adanya Prasasti Ciareteun dengan telapak kaki raja yang mengibaratkan telapak kaki Dewa Wisnu. Agama Buddha juga berkembang di Tarumanegara, sebagai bukti adalah pendapat Fa – Hien dalam bukunya yang berjudul Fa Kao Chi menyebutkan bahwa ketika mengunjungi Jawadwipa, ia menjumpai beberapa orang yang beragama Buddha. Animisme sebagai kepercayaan lokal juga masih berlaku di Tarumanegara.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 06:04:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137328299</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Raja-raja Tarumanagara</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137330766</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2779091738/abd91fec4769a63592a5b9348067a97d/Cuplikan_layar_2024_09_25_130545.png" />
         <pubDate>2024-09-25 06:06:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137330766</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Masa Kejayaan</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137333168</link>
         <description><![CDATA[<p>Kerajaan Tarumanegara mencapai masa keemasan pada pemerintahan Purnawarman yang ditandai oleh kekuasaan Tarumanegara yang mencapai seluruh Jawa Barat saat ini. Selain itu juga diperkuat adanya Prasasti Ciaruteun yang berisi “<em>Ini (bekas) dua kaki, yang seperti kaki Dewa Wisnu ialah kaki Yang Mulia Sang Purnawarman, raja di negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia</em>“.</p><p>Pada masa keemasan Tarumanegara ini, perkembangan pesat dalam hal wilayah kekuasaan ditandai oleh dikuasainya kerajaan – kerajaan kecil di sekitar Tarumanegara. Tarumanegara juga membangun Sungai Gomati dan Candrabaga sebagai media irigasi pertanian Tarumanegara. Pada aspek ekonomi ditandai oleh di sedekahkannya 1.000 ekor sapi kepada para brahmana.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 06:07:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137333168</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peninggalan</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137340377</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>1. Prasasti Ciaruteun</strong></p><p>Prasasti Ciaruteun atau dikenal juga sebagai Prasasti Ciampea ditemukan di Sungai Ciaruteun. Prasasti ini menggunakan aksara Pallawa dan berbahasa Sansekerta, terdiri dari 4 baris yang disusun ke dalam bentuk Sloka dengan metrum Anustubh. Selain itu juga terdapat lukisan laba – laba dan telapak kaki Raja Purnawarman. Bentuk telapak kaki Purnawarman yang ada di Prasasti Ciaruteun memiliki arti perlambang wilayah kekuasaan dan perlambang penghormatan kepada dewa. Purnawarman diibaratkan sebagai Dewa Wisnu yang merupakan dewa penguasa sekaligus pelindung rakyat.</p><p><br/></p><p><strong>2. Prasasti Jambu</strong></p><p>Prasasti Jambu atau juga disebut Koleangkak ditemukan di bukit Koleangkak di daerah perkebunan yang berarak 30 km dari Bogor ke arah barat. Prsasti Jambu menggunakan aksara Pallawa dan terdapat gambar telapak kaki. Isi dari Prasasti Jambu adalah pemujaan kepada raja Purnawarman.</p><p><br/></p><p><strong>3. Prasasti Kebon Kopi</strong></p><p>Prasasti Kebon Kopi ditemukan di Muara Hilir, Kecamatan Cibungbulang Bogor. Pada prasasti ini terdapat telapak kaki gajah yang kemudian dikaitkan dengan kaki gajah Airawata atau tunggangan Dewa Wisnu.</p><p><br/></p><p><strong>4. Prasasti Muara Cianten</strong></p><p>Prasasti Muara Cianten ditemukan di Bogor yang ditulis dalam aksara ikal yang belum dapat dibaca. Di prasasti ini juga terdapat lukisan telapak kaki.</p><p><br/></p><p><strong>5. Prasasti Pasir Awi</strong></p><p>Prasasti Pasir Awi ditemukan di puncak perbukitan Pasir Awi dengan ketinggian 600 mdpl, Bojong Honje- Sukamakmur Bogor.</p><p><br/></p><p><strong>6. Prasasti Cidanghiyang</strong></p><p>Prasasti Cidanghiyang atau disebut juga Prasasti Lebak ditemukan di wilayah kampung Lebak di tepi sungai Cidanghiyang, Kecamatan&nbsp; Munjul, Kabupaten Pandeglang Banten. Prasasti ini ditemukan pada tahun 1947 dan hanya berisi dua baris kalimat yang ditulis dalam aksara Pallawa dan bahasa Sansekerta. Isi dari Prasasti Cidanghiyang adalah mengagungkan keberanian raja Purnawarman.</p><p><br/></p><p><strong>7. Prasasti Tugu</strong></p><p>Prasasti Tugu ditemukan di daerah Tugu, Kecamatan Cilincing Jakarta Utara. Prasasti ini berisi perintah untuk membangun sungai Gomati dengan panjang 11 km dalam 21 hari. Setelahnya raja Purnawarman menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 06:12:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137340377</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nonton</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137341412</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://youtu.be/uRjI2U9VTVA?si=Jtsfj7Dy1xvl7VKt" />
         <pubDate>2024-09-25 06:12:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137341412</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nonton</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137343249</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://youtu.be/59t8cjzW5_g?si=s1MA4trsMrenpHLh" />
         <pubDate>2024-09-25 06:13:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137343249</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Info penting</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137428691</link>
         <description><![CDATA[<p>Kerajaan Medang Kamulan merupakan kelanjutan dari kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan Medang Kamulan bukan diperintah oleh wangsa dari Mataram Kuno, melainkan wangsa lain. Kerajaan Medang Kamulan berdiri di Jawa Timur pada abad ke 10. Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari Wangsa Sanjaya (Kerajaan Mataram Kuno yang ada di Jawa Tengah) yang memindahkan kekuasaan ke wilayah Jawa Timur. Pemindahan Mataram Kuno ke Jawa Timur diperkirakan terjadi karena adanya letusan gunung merapi pada tahun 929 M. Dari beberapa sumber menjelaskan bahwa wilayah Medang Kamulan berada di Watu Galuh, tepi Sungai Brantas yang beribukota di Watan Mas yang sekarang merupakan wilayah Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Mpu Sendok merupakan raja pertama Kerajaan Medang Kamulan sekaligus pendiri Wangsa Isyana yang menurunkan raja – raja Medang selanjutnya. Wangsa Isyana memerintah selama 1 abad sejak tahun 929 M.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2779091738/52198aff8edd64b1cf85db63f3a26d12/Cuplikan_layar_2024_09_25_135955.png" />
         <pubDate>2024-09-25 07:00:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137428691</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sumber Sejarah</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137434232</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Berita Asing</p><ul><li><p>Berita India mengatakan bawa Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan persahabatan dengan Kerajaan Chola. Hubungan ini untuk membendung dan menghalangi kemajuan Kerajaan Medang Kamulan yang pada saat itu dipimpin oleh Dharmawangsa.</p></li><li><p>Berita Cina yang ditulis oleh Dinasti Sung menyatakan bahwa terjadi permusuhan antara kerajaan di Jawa dan Sriwijaya sehingga duta Sriwijaya yang berada di Negeri Cina (990 M) terpaksa harus tinggal dulu di Campa sampai peperangan reda. Pada tahun 992 M pasukan Jawa meninggalkan Sriwijaya dan pada saat itu Kerajaan Medang Kamulan dapat memajukan pelayaran dan perdagangan.</p></li></ul><p>2. Prasasti</p><ul><li><p>Prasasti Tangeran (933 M) berasal dari Desa Tangeran, Jombang, yang berisi bahwa&nbsp; Mpu Sendok memerintah bersama permaisurinya Sri Wardhani.</p></li><li><p>Prasasti Bangil yang berisi perintah Mpu Sendok untuk membangun tempat peristirahatan mertuanya, Rakryan Bawang.</p></li><li><p>Prasasti Lor (939 M) dari Lor, dekat Nganjuk yang berisi perintah Mpu Sendok dalam membangun Candi Jayamrata dan Jayamstambho (tugu kemenangan) di Desa Anyok Lodang.</p></li><li><p>Prasasti Kalkuta yang berisi hancurnya istana Dharmawangsa dan memuat silsilah raja Medang Kamulan.</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 07:03:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137434232</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Raja-Raja</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137438051</link>
         <description><![CDATA[<ul><li><p>Mpu Sindok (929 – 949 M) merupakan raja pertama yang memerintah Medang Kamulan selama 20 tahun. Mpu Sindok bergelar <em>Sri Maharaja Raka i Hino Sri Isana Wikrama Dharmatunggadewa</em>. Dalam memerintah kerajaan Medang Kamulan dibantu oleh permaisurinya bernama Sri Wardhani Pu Kbin. Mpu Sindok merupakan raja yang bijaksana. Kebijakan Mpu Sindok diantaranya membangun bendungan atau tanggul untuk pengairan, melarang penangkapan ikan pada siang hari guna pelestarian sumberdaya alam, melakukan pengubahan kitab Buddha Mahayana menjadi kitab sang hyang kamahayanikan.</p></li><li><p>Sri Isyana Tunggawijaya atau bernama <em>Sri Lokapala</em> (947-9xx M)</p></li><li><p>Sri Makutawangsawardhana (9xx-985 M)</p></li><li><p>Dharmawangsa Teguh (990 – 1016 M) merupakan cucu Mpu Sindok. Ia memiliki tekat memperluas wilayah perdagangan hingga ke kekuasaan Sriwijaya. Salah satu penghalang berkembangnya Medang Kamulan pada masa pemerintahan Dharmawangsa adalah keberadaan Kerajaan Sriwiaya. Medang Kamulan sempat menyerang Sriwijaya, namun gagal. Bahkan Kerajaan Sriwjaya melakukan serangan balik melalui serangan Kerajaan Wurawari atau dinamakan <em>Pralaya Medang</em>. Pada peristiwa ini Dharmawangsa gugur.</p></li><li><p>Airlangga / Erlangga (1019 – 1042 M) merupakan putera dari raja Bali Udayana dan Mahendradatta, saudari Dharmawangsa Teguh. Ia dinikahkan dengan putri Dharmawangsa Teguh ketika terjadi <em>Pralaya Medang</em>. Ketika terjadi Pralaya Medang, Airlangga melarikan diri ke hutan Wonogiri, hingga 1019 M ia dinobatkan sebagai raja. Airlangga memulihkan kewibawaan dan kekuasaan Medang Kamulan dengan mengalahkan raja – raja terdahulu seperti raja Bisaprabhawa (1029), raja Wijayawarman (1030), raja Adhamapanuda (1031), dan raja Wuwari (1035). Kebijakan Airlangga diantaranya memperbaiki pelabuhan Hujung Galung yang teretak di Kali Brantas, membangun Waduk Waringin Sapta guna mencegah banjir, membangun jalan antara pesisir dengan pusat kerajaan. Kerajaan Medang Kamulan mencapai masa kejayaan pada pemerintahan Airlangga.</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2779091738/58e4cd9bea1923309cf99fb750698d1f/1__15_.png" />
         <pubDate>2024-09-25 07:05:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137438051</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kehidupan Kerajaan Medang Kamulan</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137442229</link>
         <description><![CDATA[<ul><li><p><strong>Kehidupan Ekonomi</strong></p></li></ul><p>Mpu Sindok memerintah membangun bendungan dan kebijakan lain. Pada pemerintahan Dharmawangsa menginginkan peningkatan perdagangan dan pertanian. Begitu pula pada masa pemerintahan Airlangga yang berusaha memperbaiki Pelabuhan Hujung Galuh di muara Sungai Berantas dengan memberi tanggul – tanggul untuk mencegah banjir.</p><ul><li><p><strong>Kehidupan Sosial Budaya</strong></p></li></ul><p>Dalam bidang sastra, Mpu Sindok mengizinkan penyusunan kitab Sanghyang Kamahayamikan (Kitab suci agama Buddha), padahal Mpu Sindok sendiri beragama Hindu. Pada masa pemerintahan Airlangga dikembangkan kitab Arjunawiwaha yang dikarang Mpu Kanwa. Begitu pula seni wayang yang berkembang dengan baik di Medang Kamulan diambil dari epic Ramayana dan Mahabarata yang ditulis ulang dan dipadukan menggunakan budaya Jawa.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 07:08:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137442229</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peninggalan</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137443164</link>
         <description><![CDATA[<ul><li><p>Pertapaan Pucangan yang berada di Gunung Penanggungan, terdapat prasasti yang berbahasa Sansekerta dan Jawa Kuno, merupakan peninggalan dari pemerintahan raja Airlangga yang berisi penjelasan tentang peristiwa serta silsilah keluarga raja secara berurutan. Prasasti ini disebut prasasti kalkuta, karena prasasti ini disimpan di Museum India di kota Kalkuta, India.&nbsp;</p></li><li><p>Candi Lor (Anjuk Ladang) berada di wilayah Brebek, Nganjuk yang berisi bahwa Mpu Sindok memerintahkan Rakai Hinu Sahasra, Rakai Baliswara serta Rakai Kanuruhan pada tahun 937 untuk membangun sebuah bangunan suci bernama Srijayamerta sebagai tanda penetapan area AnjukLadang (sekarang dinamakan Nganjuk) sebagai area swatantra atas jasa warga Anjuk Ladang dalam peperangan. Di situs ini ditemukan Prasasti Anjuk Ladang yang disimpan di Museum Anjuk Ladang.</p></li><li><p>Candi Gunung Gangsir terletak di wilayah Bangil yang dibangun pada masa pemerintahan Airlangga sekitar abad 11 M. Candi Gunung Gangsir dibangun menggunakan batu bata, bukan batu andesit.</p></li><li><p>Candi Songgoriti terletak di Batu, Malang merupakan satu – satunya peninggalan Mpu Sindok di Kota Batu. Cerita yang beredar, kisah Candi Songgoriti berawal dari keinginan Mpu Sindok yang ingin membangun tempat peristirahatan bagi keluarga kerajaan di pegunungan yang terdapat mata airnya. Seorang petinggi kerajaan yang bernama Mpu Supo diperintahkan untuk membangun tempat tersebut. Dengan upaya yang keras, Mpu Supo menemukan kawasan yang sekarang dikenal dengan kawasan Wisata Songgoriti. Atas persetujuan, Mpu Supo membangun kawasan tersebut menjadi tempat peristirahatan yang sekarang dikenal dengan nama kawasan Songgoriti.</p></li><li><p>Candi Belahan dibangun pada masa pemerintahan Airlangga pada abad ke 11. Petirtaan Belahan terletak disisi timur Gunung Penanggungan tepatnya di Dusun Belahan Jowo, Wonosunyo, Kecamatan Gempol. Menurut sejarah,selain digunakan sebagai pertapaan Prabu Airlangga, petirtaan ini juga difungsikan sebagai pemandian para selir prabu Airlangga. Oleh karena itu, untuk menghormati dua selirnya, Airlangga membangun dua patung perlambang Dewi Laksmi dan Dewi Sri dengan patung seorang wanita telanjang dada dimana payudara patung tersebut mengalirkan air. Petirtaan ini diberi nama Sumber Tetek.</p></li><li><p>Temuan Wonoboyo merupakan salah satu temuan arkeologi terpenting di Indonesia dimana temuan ini terdapat penemuan logam mulia emas dan perak. Penemuan ini mengungkapkan kekayaan, ekonomi, serta pencapaian seni dan budaya Kerajaan Medang pada abad ke 9 M.Temuan emas ini menampilkan kesenian yang halus serta menunjukkan estetika emas kuno Jawa. Pada permukaan koin terdapat ukiran huruf “<em>ta</em>“, singkatan dari “<em>tail</em>” atau “<em>tahil</em>” unit mata uang Jawa Kuno. Ditemukan juga tulisan “<em>Saragi Diah Bunga</em>” dalam bahasa Kawi.</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 07:08:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137443164</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peninggalan</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137444147</link>
         <description><![CDATA[<p>Airlangga mundur dari tahtanya pada tahun 1042 M dan memutuskan menjadi petapa dengan nama Resi Gentayu (<em>Djatinindra</em>). Menjelang akhir pemerintahannya, raja Airlangga menyerahkan kekuasaannya kepada putrinya Sangrama Wijaya Tunggadewi. Namun, putrinya lebih memilih menjadi seorang pertapa dengan nama Ratu Giriputri. Tahta beralih ke keturunan Airlangga dari para selir. Untuk menghindari perang saudara, maka kekuasaan Medang Kamulan dibagi menjadi dua oleh Mpu Baradha yakni wilayah timur dari Surabaya hingga Pasuruan yang beribukota di Kahuripan (Jiwana) diberikan kepada Garasakan (Jayengrana), dan wilayah barat meliputi Kediri hingga Madiun yang bernama kerajaan Kediri (Panjalu) yang beribukota di Kediri (Daha).</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 07:09:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137444147</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Info Penting</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137476039</link>
         <description><![CDATA[<p>Kerajaan Mataram Kuno terletak di Jawa Tengah atau yang disebut Bumi Mataram. Daerah ini berupa daerah yang dikelilingi gunung diantaranya Gunung Prau (Dieng), Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Lawu serta pegunungan Sewu. Daerah ini juga dialiri oleh sungai – sungai diantarnya Sungai Bogowonto, Sungai Progo, Sungai Elo dan Sungai Bengawan Solo. Daerah Mataram Kuno sangat subur karena dikelilingi oleh gunung dan sungai.</p><p>Kerajaan Mataram Kuno merupakan kerajaan dengan corak agraris. Terdapat tiga wangsa (dinasti) yang pernah bergantian menguasai Kerajaan Mataram Kuno diantaranya adalah Wangsa Sanjaya, Wangsa Syailendra serta Wangsa Isana. Wangsa Sanjaya berasal dari para pemeluk Hindu, Wangsa Syailendra berasal dari pemeluk Buddha sedangkan Wangsa Isana merupakan wangsa baru yang didirikan oleh Mpu Sendok.</p><p>Pendiri kerajaan Mataram Kuno adalah raja Sanjaya yang&nbsp; juga merupakan pendiri Wangsa Sanjaya yang menganut agama Hindu. Raja Sanjaya kemudian digantikan oleh Rakai Panangkaran saat Sanjaya wafat, Rakai Panangkaran berpindah agama ke agama Budha beraliran Mahayana. Rakai Panangkaran inilah yang kemudian mendirikan Wangsa Syailendra. Agama Hindu dan Buddha berjalan harmonis di kerajaan Mataram Kuno. Penganut agama Hindu berada di Jawa Tengah bagian utara sedangkan penganut agama Buddha berada di selatan Jawa Tengah.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2779091738/70b4cbc26f12f7abe2a4754b70a01cd6/Cuplikan_layar_2024_09_25_141710.png" />
         <pubDate>2024-09-25 07:27:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137476039</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Raja-Raja</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137504181</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2779091738/c2bbce69eaec9e0050c4480da938c884/Cuplikan_layar_2024_09_25_144336.png" />
         <pubDate>2024-09-25 07:44:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137504181</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Berdirinya Kerajaan Mataram Kuno</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137505900</link>
         <description><![CDATA[<p>Menurut Prasasti Mantyasih yang berangka tahun 907 M menyebutkan bahwa raja pertama Mataram Kuno adalah Sanjaya. Raja Sanjaya sendiri membuat prasasti Canggal yang berangka tahun 732 tanpa menyebutkan secara jelas nama kerajaannya. Prasasti Canggal menyebutkan adanya kerajaan di Jawa selain kerajaan Matarm yaitu kerajaan Galuh yang memisahkan diri dari kerajaan Sunda (Akhir kerajaan Tarumanegara) dengan rajanya bernama Sanna yang kemudian dikenal dengan Bratasena.</p><p>Kekuasaan Bratasena Galuh di kerajannya digulingka oleh Purbasora, Bratasena kemudian melarikan diri ke Kerajaan Sunda untuk meminta perlindungan kepada Raja Sunda, Tarusbawa. Tarusbawa kemudian mengambil keponakan Bratasena sebagai menantu yang bernama Sanjaya (pada perkembangannya menjadi raja pertama kerajaan Mataram). Setelah Sanjaya naik tahta menggantikan Tarusbawa, Sanjaya berniat mengambil alih kembali kekuasaan Galuh. Setelah mampu menguasai kerajaan Sunda, Galuh dan Kalingga, Sanjaya kemudian membuat kerajaan baru bernama Kerajaan Mataram Kuno.</p><p>Dari Prasasti Canggal yang dikeluarkan oleh Sanjaya bisa dipastikan bahwa Mataram Kuno sudah berdiri sejak abad ke 7 M dengan pendirinya yaitu Sanjaya dengan gelar <em>Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya</em>.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 07:44:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137505900</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Runtuhnya</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137507303</link>
         <description><![CDATA[<p>Keruntuhan Mataram Kuno disebabkan adanya permusuhan antara Jawa dan Sumatera yang diawali oleh pengusiran Balaputradewa oleh Rakai Pikatan. Balaputradewa yang melarikan diri ke Sumatera kemudian mendirikan kerajaan Sriwijaya. Balaputradewa ternyata masih menyimpan dendam kepada Rakai Pikatan atas pengusirannya. Dendam ini ternyata turun temurun ke generasi selanjutnya. Selain itu terjadi perebutan kekuasaan perdagangan di jalur perdagangan di Asia Tenggara.</p><p>Permusuhan tersebut berlangsung hingga Wangsa Isana di bawah pemerintahan Mpu Sendok. Sriwijaya pernah menyerang Mataram Kuno yang terjadi di daerah Nganjuk, Jawa Timur dan dimenangkan oleh pihak Mataram Kuno. Keruntuhan Mataram terjadi ketika masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh atau cicit dari Mpu Sendok. Pada masa pemerintahan Dharmawangsa terjadi lagi penyerangan Sriwijaya ke Mataram namun masih dimenangkan Dharmawangsa. Dharmawangsa juga pernah menyerang Sriwijaya yaitu pada 1006 Dharmawangsa lengah saat mengadakan pernikahan putrinya. Istana Medang yang berada di Wiwitan diserang oleh Aji Wuwari dari Lwaram yang telah bersekutu dengan Kerajaan Sriwijaya. Pada penyerangan tersebut Dharmawangsa tewas dan berakhirlah kekuasaan Mataram Kuno atau Medang di Jawa.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 07:45:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137507303</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peninggalan</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137508115</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p><strong>Prasasti Canggal</strong>, ditemukan di halaman Candi Guning Wukir yaitu di desa Canggal yang berangka tahun 732 M. Prasasti Canggal berbahasa Sansekerta dan menggunakan huruf Pallawa. Prasasti Canggal menceritakan pendirian Lingga di desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya. Selain itu, Prasasti Canggal juga menceritakan sebelum Sanjaya menjadi raja, ada raja sebelumnya yang bernama Sanna (Bratasena) yang digantikan oleh Sanjaya yang merupakan anak dari Sannaha (saudara perempuan Sanna) yang kemudian mendirikan Mataram.</p></li><li><p><strong>Prasasti Kalasan</strong>, ditemukan di daerah desa Kalasan Yogyakarta yang berangka tahun 778 M. Prasasti Kalasan ditulis dalam huruf Pranagari (India Utara) dan menggunakan bahasa Sansekerta. Isi dari prasasti ini yaitu menceritakan pendirian bangunan suci yang diperuntukkan kepada Dewi Tara serta biara untuk pendeta oleh Rakai Panangkaran atas permintaan keluarga wangsa Syailendra. Selain itu Rakai Panangkaran juga menghadiahi desa Kalasan untuk para Sanggha (umat Budha).&nbsp;</p></li><li><p><strong>Prasasti Mantyasih</strong>, ditemukan di desa Mantyasih, Kedu, Jawa Tengah, yang berangka tahun 907 M. Prasasti Mantyasih menggunakan bahasa Jawa Kuno. Prasasti ini menceritakan tentang silsilah Raja Sanjaya, Rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi serta Rakai Watuhumalang.</p></li><li><p><strong>Prasasti Klurak</strong>, ditemukan di desa Prambanan yng berangka tahun 782 M ditulis dengan aksara Pranagari dan menggunakan bahasa sansekerta. Isi dari prasasti ini yaitu menceritakan tentang pembuatan Arca Manjusri oleh Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadananjaya.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 07:46:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137508115</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kehidupan Kerajaan Mataram Kuno</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137509496</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Kondisi Sosial Ekonomi</strong></p><p>Keadaan geografis Mataram Kuno ketika masih di Jawa Tengah sangat menguntungkan pertanian di kerajaan Mataram Kuno. Masyarakat Mataram beraktivitas sebagai petani memanfaatkan tanah yang subur karena berada di antara pegunungan serta sungai yang merupakan tempat yang subur. Ketika berpindah ke Jawa Timur tepatnya di daerah sungai Brantas, Mataram masih mengandalkan sektor pertanian dalam perekonomian Mataram. Sungai Brantas dimanfaatkan sebagai jalur perdagangan kerajaan Mataram Kuno yang berpindah di Jawa Timur.</p><p><strong>Aspek Kehidupan Kebudayaan</strong></p><p>Mataram Kuno terbagi menjadi dua dinasti yaitu Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Kedua dinasti ini memiliki peninggalan masing – masing berupa candi. Dinasti Sanjaya yang berada di utara Jawa Tengah dan memeluk agama Hindu meninggalkan hasil budaya berupa Candi Gedong Songo dan Candi Dieng. Sedangkan Wangsa Syailendra yang mayoritas berada di selatan Jawa Tengah meninggalkan candi – candi beraliran Buddha seperti Candi Borobudur, Mendut serta Pawon.</p><p>Kedua dinasti ini sebelumnya sering mengalami pertikaian, namun ketika terjadi pernikahan antar wangsa yaitu ketika pernikahan Rakai Pikatan (Wangsa Sanjaya) yang beragama Hindu dan Pramodhawardhani (Wangsa Syailendra) yang beragama Buddha, kedua wangsa ini hidup secara damai dan berdampingan.</p><p><strong>Aspek Kehidupan Sosial</strong></p><p>Meskipun kerajaan Mataram Kuno menganut dua agama yaitu Hindu dan Buddha, namun masyarakatnya bisa hidup rukun dan saling bertoleransi. Hal ini terlihat pada candi yang bercorak Hindu dan Buddha seperti Candi Plaosan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 07:47:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3137509496</guid>
      </item>
      <item>
         <title>FUN FACT</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3154303209</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>F.D.K. Bosch</strong> yang sebelumnya mengemukakan <mark>teori ksatria</mark>, kemudian berubah pikiran. Hal itu terjadi karena dia menemukan <mark>fakta-fakta baru</mark>. Bosch berpendapat bahwa <mark>golongan cendekiawanlah</mark> yang membawa agama Hindu-Buddha ke Indonesia. Golongan cendekiawan yang dimaksud adalah para pendeta atau biksu.</p><p>Teori ini didukung oleh sejarawan Van Leur. Menurut Van Leur, orang Indonesia juga berperan dalam proses masuknya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha (India). Para pedagang yang berasal dari Indonesia datang sendiri ke India karena penasaran dengan agama dan kebudayaan India. Mereka menetap dan belajar di India selama beberapa waktu, kemudian pulang kembali membawa agama dan kebudayaan India serta menyebarkannya kepada masyarakat setempat, teori ini dinamakan teori arus balik yang didukung oleh bukti adanya <mark>Prasasti Nalanda</mark> dari Kerajaan Sriwijaya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-05 02:08:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3154303209</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Info Penting</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3154306717</link>
         <description><![CDATA[<p>Kata Sriwijaya berasal dari kata “<em>Sri</em>” yang berarti bercahaya dan “<em>Wijaya</em>” yang berarti kemenangan atau kejayaan. Penamaan Sriwijaya pada negara lain memiliki nama yang berbeda – beda diantaranya oleh orang Cina menamakan <em>Shih-li-fo-shih / San-fo-ts’i / San-fo-qi</em>. Bahasa sansekerta menyebut Sriwijaya dengan nama <em>Yavadesh</em> dan <em>Javadeh. </em>Sedangkan bangsa arab menyebut Sriwijaya dengan <em>Zabaj / Sribuza</em>.</p><p>Kerajaan Sriwijaya berdiri dari abad ke 7 hingga abad ke 14 Masehi dengan corak Buddha dan berada di Sumatera Selatan. Kerajaan maritim ini mampu menguasasi Sumatera, Jawa, Pesisir Kalimantan, Kamboja, Thailand Selatan serta Semenanjung Malaya. Bukti – bukti sejarah menjelaskan bahwa Kerajaan Sriwijaya berakhir pada abad ke 14 berasal dari prasasti – prasasti yang berasal dari Bangka, Ligor serta Nalanda. Walaupun apabila dilihat dari letaknya yang berbeda pulau, naun kebesaran serta pengaruh Sriwijaya sangat nyata. Hal ini dapat dibuktikan dari adanya berita dari Arab, India Cina yang menjalin hubungan Kerajaan Sriwijaya.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2779091738/510da99858dec387a17a713133ad87a4/1200px_Srivijaya_Empire_id_svg_.png" />
         <pubDate>2024-10-05 02:18:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3154306717</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sumber Keberadaan Sriwijaya</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3154307395</link>
         <description><![CDATA[<p>Terdapat dua jenis sumber yang menceritakan keberadaan Kerajaan Sriwijaya yaitu sumber dari luar negeri dan sumber dari dalam negeri.</p><p><strong>Sumber dari luar negeri</strong><br>Sriwijaya sebagai Kerajaan Maritim yang menguasai kepulauan sekitar Sumatera dan Semenanjung Malaya membuat kerajaan ini berhubungan dengan perdagangan internasional secara langsung. Keberadaan Sriwijaya tercatat dalam beberapa sumber, diantaranya :</p><ul><li><p>Berita Arab, sejarah mencatat adanya kegiatan perdagangan antara Sriwijaya dengan bangsa Arab, hal ini dibuktikan dengan adanya bekas perkampungan bangsa Arab. Selain itu Ibu Hordadheh menyebutkan adanya Raja Zabag yang menghasilkan emas setiap tahunnya seberat 206 kg. Berita lain menyebutkan bahwa Alberuni mengatakan Zabag berada lebih dekat dengan Cina dan India. Zabag terletak di Swarnadwipa (Pulau Emas).&nbsp;</p></li><li><p>Berita Cina, I-Tsing seorang pengelana yang menimba ilmu ke India pernah singgah di <em>Shi-li-fo-shih</em> atau Sriwijaya selama enam bulan pada tahun 685 M. Ia belajar paramasastra serta bahasa Sansekerta. I-Tsing menuliskan bahwa kerajaan ini sangat maju dalam agama Buddha.</p></li></ul><p><strong>Sumber Dalam Negeri</strong><br>Selain sumber dari luar negeri yang menjelaskan adanya Kerajaan Sriwijaya, prasati – prasasti juga menjelaskan tentang keberadaan Kerajaan maritim Sriwijaya di Nusantara, diantaranya :</p><ol><li><p><strong>Prasasti Ligor</strong><br>Prasasti ini ditemukan di daerah Nakhon Si Thammarat, Thailand Selatan. Prasasti ini berupa batu dengan pahatan. Sisi pahatan pertama disebut dengan nama Ligor A menjelaskan kegagahan raja Sriwijaya, raja dari segala raja yang telah mendirikan Trisamaya Caitya untuk Kajara. Pada sisi kedua atau disebut Ligor B menjelaskan adanya pemberian gelar Visnu Sesawarimadawimathana kepada Sri Maharaja yang berasal dari keluarga Sailendravamsa.</p></li><li><p><strong>Prasasti Palas Pasemah</strong><br>Prasasti ini ditemukan di pinggir rawa desa Palas Pasemah, Lampung Selatan. Prasasti ini berbahasa Melayu Kuno dan berakasara Pallawa. Prasasti Palas Pasemah menjelaskan aadanya kutukan kepada orang – orang yang tidak mau tunduk kepada Kerajaan Sriwijaya.Apabila dilihat dari aksaranya, prasasti ini diperkirakan berasal dari abad ke 7 Masehi.</p></li><li><p><strong>Prasasti Hujung Langit</strong><br>Prasasti ini ditemukan di Desa Haur Kuning, Lampung, berbahasa Melayu Kuno dan beraksara Pallawa. Isi prasasti ini belum diketahui karena tulisan yang ada di prasasti mengalami keausan. Namun ketika diidentifikasi lebih lanjut prasasti ini diperkirakan berangka tahun 997 Masehi dan isinya menjelaskan tentang pemberian tanah sima (tanah perdikan tanpa adanya pungutan pajak).</p></li><li><p><strong>Prasasti Kota Kapur</strong><br>Prasasti ini ditemukan di pesisir Pulau Bangka pada sisi barat pulau dengan bahasa Melayu Kuno dan beraksara Pallawa yang ditemukan pada Desember 1892 oleh seorang berkewarganegaraan Belanda J.K. van der Meulen. Isi dari prasasti ini menjelaskan tentang adanya kutukan bagi orang – orang yang membantah titah dari raja Sriwijaya.</p></li><li><p><strong>Prasasti Telaga Batu</strong>Prasasti ini ditemukan di sekitar kolam Telaga Biru, Kelurahan 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang. Isi prasasti ini menjelaskan tentang kutukan bagi siapa saja yang melakukan perbuatan jahat di wilayah kerajaan Sriwijaya.</p></li><li><p><strong>Prasasti Kedukan Bukit</strong><br>Prassti ini ditemukan di Kampung Kedukan Bukit Kelurahan 35 Ilir, Palembang oleh M. Batenburg pada 29 November 1920. Ukuran dari prasasti Kedukan Bukit adalah 45 x 80 cm berbahasa Melayu Kuno dan beraksara Pallawa. Isi dari prasasti ini adalah menceritakan seorang utusan dari Sriwijaya yang bernama Dapunta Hyang, ia mengadakan sidhayatra atau perjalanan suci menggunakan perahu. Dalam perjalanannya, ia diiringi oleh 2.000 pasukan dan berhasil menaklukkan daerah – daerah lain.&nbsp;</p></li><li><p><strong>Prasasti Talang Tuwo</strong><br>Prasasti ini ditemukan di kaki Bukit Seguntang, tepian utara Sungai Musi, Louis Constant Westenenk pada 17 November 1920. Prasasti ini berisi doa-doa dedikasi serta menggambarkan aliran Budha Mahayana, Budha yang dianut oleh Kerajaan Sriwijaya. Hal ini dibuktikan dengan digunakannya kata – kata seperti <em>bodhicitta, vajrasarira, annuttarabhisamyaksamvodhi</em> serta <em>mahasattva</em> yang merupakan kata – kata khas Budha Mahayana.</p></li><li><p><strong>Prasasti Leiden</strong><br>Prasasti ini ditemukan di India dan dikeluarkan oleh kerajaan Cola yang bernama Rajakesariwarman. Prasasti Leiden ditulis diatas sebuah lempengan tembaga dengan bahasa Sansekerta dan Tamil. Isi dari prasasti ini adalah menceritakan tentang hubungan baik antara dinasti Chola dari Tamil serta dinasti Sailendra dari Sriwijaya.&nbsp;</p></li><li><p><strong>Prasasti Karang Berahi</strong><br>Prasasti ini ditemukan di tepian Batang Merangin, Dusun Batu Bersurat, Desa Karang Berahi, Kecamatan Pamenang, Merangin, Jambi pada 1904 oleh L.M. Berkhout. Isi dari prasasti ini menjelaskan tentang kutukan kepada siapa saja yang berbuat jahat serta tidak setia kepada Raja Sriwijaya.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2779091738/54c6bf2e5d0fab81c26b3a7c510a4b8c/KerajaanSriwijaya.jpg" />
         <pubDate>2024-10-05 02:19:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3154307395</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Raja-Raja Kerajaan Sriwijaya</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3154307852</link>
         <description><![CDATA[<p>Berikut ini adalah raja – raja yang memerintah Kerajaan Sriwijaya :</p><ol><li><p>Dapunta Hyang Sri Yayanaga (dibuktikan dalam Prasasti Kedukan Bukit tahun 683 M dan Prasasti Talangtuo pada 684 M)</p></li><li><p>Cri Indrawarman (dibuktikan dalam berita dari Cina pada tahun 724 M)</p></li><li><p>Rudrawikrama (dibuktikan dalam berita dari Cina pada tahun 724 M)</p></li><li><p>Wishnu (dibuktikan dalam Prasasti Ligor pada tahun 775 M)</p></li><li><p>Maharaja (dibuktikan dalam berita dari Arab pada 851 M)</p></li><li><p>Balaputradewa (dibuktikan dalam Prasasti Nalanda pada tahun 860 M)</p></li><li><p>Cri Udayadityawarman (dibuktikan dalam berita dari CIna pada 960 M)</p></li><li><p>&nbsp;Cri Udayaditya (dibuktikan dalam berita dari Cina pada 962 M)</p></li><li><p>Cri Cudamaniwarmadewa (dibuktikan dalam berita dari Cina pada 1003 M serta Prasasti Leiden pada 1044 M)</p></li><li><p>Maraviyatunggawarman (dibuktikan dalam Prasasti Leiden pada tahun 1044 M)</p></li><li><p>Cri Sanggrama Wijayatunggawarman (dibuktikan dalam Prasasti Chola pada 1004 M)</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2779091738/1247d957f005155b6e8bb528a8e8dcf4/The_Great_King_Hayam_Wuruk_of_Majapahit_Empire.jfif" />
         <pubDate>2024-10-05 02:20:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3154307852</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Keadaan Sosial Budaya Kerajaan Sriwijaya</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3154308192</link>
         <description><![CDATA[<p>Sriwijaya merupakan kerajaan Budha yang terbesar pada masanya terbukti dengan dijadikannya Sriwijaya sebagai perguruan tinggi dalam hal pengembangan serta pusat pendidikan Budha. I-Tsing, seorang pengelana dari Cina perna menetap di Sriwijaya selama 6 tahun untuk mendalami agama Budha. Karya yang dihasilkan oleh I-Tsing yaitu <em>Ta Tiang si-yu-ku-fa-kao-seng-chuanyang</em> selesai ditulis pada 692 M.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2779091738/7f420d2328c8db3aa049f77665ef1153/KerajaanSriwijaya.jpg" />
         <pubDate>2024-10-05 02:21:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3154308192</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kemunduran Kerajaan Sriwijaya</title>
         <author>masakuliah2022</author>
         <link>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3154318821</link>
         <description><![CDATA[<p>Kerajaan Sriwijaya mulai melemah pada periode antara 1178 hingga 1225 yang disebabkan oleh penaklukan kerajaan Melayu-Jambi. Ada beberapa faktor mengapa Kerajaan Sriwijaya dapat runtuh, berikut adalah uraiannya :</p><ol><li><p>Kerajaan Chola dari India menyerang Sriwijaya pada 1017 dan 1025. Kedua serangan ini membuat armada perang Sriwijaya luluh lantah dan membuat perdagangan wilayah Asia Tenggara dan Malaka khususnya jatuh pada kekuasaan Chola, namun Kerajaan Sriwijaya masih berdiri.</p></li><li><p>Kekuatan militer Sriwijaya melema dan menyebabkan munculnya Dharmasraya dan Pagaruyung yang melepaskan diri dari Sriwijaya dan kemudian menguasai wilayah Sriwijaya di Semenanjung Malaya, Sumatera serta Jawa Barat.</p></li><li><p>&nbsp;Melemahnya sektor ekonomi Sriwijaya yang berimbas pada pemasukan Sriwijaya. Pajak yang diambil dari pedagang yang melakukan aktivitas di wilayah Sriwijaya mulai berkurang seiring berkurangnya wilayah Sriwijaya atas serangan – serangan oleh kerajaan lain.</p></li><li><p>Berhasilnya ekspedisi pamalayu oleh kerajaan Singhasari dari Jawa.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2779091738/762abfdcb78e5ffb0c8f4c57ece3413c/Peran_Penting_Malang_dalam_Percaturan_Sejarah_Jawa_masa_Hindu_Buddha.jfif" />
         <pubDate>2024-10-05 02:47:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/masakuliah2022/9eml9dz7lsdu2v0o/wish/3154318821</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
