<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Tahun - Tahun Bercerita by </title>
      <link>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5</link>
      <description>The Wedding of Sadewa &amp; Anindya</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2023-12-18 17:41:41 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2023-12-18 19:00:20 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title></title>
         <author>seifiyusila</author>
         <link>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828678738</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>01. JANUARI</strong></p><p><br></p><p>Dari Sadewa, Untuk Anindya,</p><p><br></p><p><em>Each and everyone of us is a ball of tragedy: a traumatic episode, a family breakup, a failing thesis, a vast heartbreak, and we’re one step away from giving up. We’re lucky if we manage to discover a way to escape those hard times.&nbsp;</em></p><p><br></p><p><em>Some of us get through with a love that lasts for a night like Bang Dewangga, some become addicted to booze the way Bang Adjie was, or overworked themselves like bang Alaska. And then there is me who runs track to cope. Whenever I feel exhausted, I’d find time to jog and spend every ounce that’s left within me so I could fall into a deep sleep.&nbsp;</em></p><p><br></p><p><em>We’re all finding distractions to survive hard times. But there are times when the distraction finds us instead.&nbsp;</em></p><p><br></p><p><em>That unexpected distraction, for me, presented in the form of a beautiful smile.</em></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-18 17:45:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828678738</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>seifiyusila</author>
         <link>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828698988</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>3. MARCH</strong></p><p><br></p><p>..Sang teruna yang namanya lebih sering aku lafalkan daripada bait puja pujian kepada Tuhan. Kurang dianggap angkuh apa aku hingga yang dicipta lebih diagungkan daripada sang penciptanya. Walau penuh harap, tidak layak bagimu untuk mencinta aku yang berlumur dosa.&nbsp;</p><p><br></p><p>Lebih mirip seperti aku yang dipaksa tenang sedang tiap tiap makian ditujukan kepada tuan. Lalu apa yang membuatmu lebih sengsara ketika melihatnya, tanpa sanggup menggenggamnya, atau sekedar menyuarakan doa untuk meluluhkan hati yang dipuja, walau aku sudah tidak layak disebut hamba. Kebaikan apa yang telah aku perbuat hingga dibela setengah mati dan diperjuangkan segenap hati di depan sang dewi yang telah menimangmu sedari bayi?&nbsp;</p><p><br></p><p>Duduk bersimpuh dan kami sama sama menahan sesak yang perlahan luruh menjelma tangis tanpa suara. Yang digenggam dengan erat banginya sang pemilik nirwana. Menolak lepas walau seluruh umpatan dan wejangan penyadaran telah diutarakan. Sang ajik juga lebih banyak menghardik dari yang biasanya memberi didik.&nbsp;<br></p><p>Walau sudah aku perkirakan ini bagimu. Bli, jika tahu yang dipersembahkan bukan dari yang seiman, apa tidak gaduh ruang tamu?</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-18 18:04:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828698988</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>seifiyusila</author>
         <link>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828700759</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>4. APRIL</strong></p><p><br></p><p>Aku sudah tidak malu malu lagi mencuri pandang. Kubiarkan semua orang tahu, asal kamu jangan.&nbsp;</p><p><br></p><p>Manis dari semburat senyum mu yang indah, aku masih mencari celah. dimana letak secuil keburukan yang Tuhan ciptakan untuk menyeimbangkan insan yang nyaris tidak ada cacat sepertimu? Haruskah kau membuatku memastikan berkali kali, tentang pahatan indah dari bentuk hidung hingga panjang jari kaki?&nbsp;</p><p><br></p><p>Tidakkah kau pahami lelah yang menyenangkan ini?<br></p><p>Dicerca tutur sapamu bagai sabda indah yang tak ada bandingnya. bagian disapa 'hai' adalah favoritku dari segelintir interaksi yang kita buat. Namun banyak dari mereka yang lebih menginvasi mu seakan mereka berhak. Sedangkan aku dibatasi oleh dinding berlabel muhrim. Walaupun aku ingin, malu masih mengekang pikiranku untuk mengurungkan niat menyapa sambil memukul lenganmu ringan.</p><p><br></p><p>Bagaimana caranya aku meminta tambahan rasa tidak tahu malu? minimal percaya diriku yang dilebihi. Aku yang cupu ini hanya sanggup mengagumi, berteriak dalam diam ku yang kau anggap lugu.</p><p><br></p><p>Sebanyak kasih yang pernah kukagumi, masih namamu yang kusebut kepada Tuhan untuk menjadi referensi, seorang yang kelak menemani hingga umur sudah tinggal sehari. Biar dikata serakah, sebagai hamba akan kuganti dengan seluruh sembah</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-18 18:05:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828700759</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>seifiyusila</author>
         <link>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828709752</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>5. MAY</strong></p><p><br/></p><p>Dalam satu kutipan kesedihan yang wujudnya menyobek relung hati manusia, tiap tiap ranum yang menghitam disedot nikotin sudah tidak cukup lagi hanya memaki untuk mengutuk, kadang dalam setiap makian juga disertai kekerasan yang juga bentuk kekecewaan pada nisap yang tidak dapat dilihat. Takdir, begitu mereka menyebutnya. Namun keluh kesah dan makian yang tercemar ditujukan selalu pada hidup yang katanya hadiah. Bukan sebagai runtut hidup yang layaknya diberi berkah, Tuhan memberi hidup dengan tak segan, yang diberi hanya diutus menjalani pun masih enggan.&nbsp;<br></p><p><br/></p><p>Salah satunya berwujud seperti ini, di tengah tengah kota yang dipenuhi bangunan tinggi, di bawahnya menjuntai jalanan padat merayap yang nihil disapa sepi, berdiri seorang jelita dengan pakaian bak bidadari. Putih pucat selaras dengan warna kulitnya sendiri.&nbsp;</p><p>Seberat apa yang dipikul di pundaknya hingga paras yang dipuja puji seluruh negeri jadi seperti ini? Dia lebih mirip mayat yang dipaksa hidup kembali tanpa diberkahi hati nurani.&nbsp;<br></p><p><br/></p><p>"Kau mau mati disini?"&nbsp;<br></p><p><br/></p><p>Si Jelita menoleh dan mendapati awak pria yang juga sama sama berdiri serupa niatnya kemari. Memenuhi tanya dalam pikiran, tentang wujud iblis mana yang menyudutkannya kali ini, ia siap didatangkan yang paling bejat biar menyayat lebih dalam ulu hati dari jiwa yang nyaris sekarat. Tapi yang ini lebih terlihat seperti dewa, datang menyelamatkan yang ingin tenggelam..&nbsp;<br></p><p>"Itu," Gerakan dagu menuntun pada coretan di pagar jembatan yang saat ini menjadi saksi, dibacanya coret kekejaman dari insan yang mungkin pendahulunya lakukan disini.<br></p><p><br/></p><p>"Jangan mati disini"<br></p><p><br/></p><p>"Tapi kalau kau tetap mau mati ya terserah"&nbsp;<br></p><p>Bukan dewa, ternyata yang sekarang duduk di samping kaki si Jelita ini jelmaan iblis. Atau dia Izrail yang sedari tadi dipanggil, menjawab segala keraguan akan mengakhiri disini atau tetap dikaruniai hidup namun dengan jiwa yang selalu siap mengundurkan diri.&nbsp;</p><p><br/></p><p>"Anindya"&nbsp;</p><p><br/></p><p>Tidak disebutkan bagaimana macam macam bentuk ajal akan menghampiri, Apakah menyayat atau malah dibuat terpikat, keadaan ini lebih seperti sepasang gemerlap cahaya yang saling bertemu tatap.&nbsp;</p><p><br/></p><p>"Kau mengenalku?"&nbsp;</p><p><br/></p><p>"Anindyaswari. Aku dalam perjalanan pulang setelah menonton film yang posternya memenuhi timeline sosial media ku minggu ini. Tidak perlu bunuh diri untuk menaikkan popularitas film mu itu"&nbsp;</p><p><br/></p><p>Didakwa oleh tabir tabir sengketa yang tiada habisnya. Menggerogoti setiap helaan nafas hingga yang terakhir pun masih terasa sangat berat. Salah jika menahan dengan makian, bahkan kematian pun sudah dianggapnya guyonan.&nbsp;</p><p><br/></p><p>&nbsp;"Anindya"&nbsp;<br></p><p><br/></p><p>Senyum sinis dari bibir manis menguar begitu saja di udara, menyulut kembali kemarahan yang sedari tadi dipendam dan didoakan agar padam. Punya kuasa apa dia ingin membungkam suruh lisan yang lebih banyak menghakimi dan membiarkan rungu menuli?&nbsp;</p><p><br/></p><p>"Anindya"&nbsp;<br></p><p><br/></p><p>Kali ketiga. Walau udara dingin semakin menusuk kulit, dan akal budi yang dibutakan limbah keserakahan melahirkan puing puing penyesalan. Bukannya dibasuh dengan kewarasan, Anindya sejatinya sudah dirasuki oleh mantra mantra picisan dari si teruna asing yang melafalkan namanya dengan sangat akrab.&nbsp;<br></p><p><br/></p><p>"Pergi saja, popularitas film ku juga tidak akan lebih naik lagi jika ada yang mendapati aku bersama seorang pemuda disini"&nbsp;<br></p><p><br/></p><p>Dalam beberapa kisah ksatria dan dewa dewa yang sempat merajalela, terdapat satu paragraf yang dipenuhi tembang tembang sederhana berupa untaian rasa bersalah dan jiwa yang dipaksa bungkam. Jika dewa kebanyakan melindungi, dewa yang ini tidak lebih dari pemuda yang sembrono dan semena mena.&nbsp;<br></p><p><br/></p><p>"Baiklah, jangan mati dulu, tunggu sampai aku pergi. Kalau kau jatuh sekarang aku malas ditanya tanyai polisi" Yang sedari tadi menyela namanya Sadewa Danuwarsa, dikirim agar ikut campur dalam kasih yang tidak sempat dipelajari<br></p><p><br/></p><p>Di tengah perjalan mengembaranya, ditemukan Anindya Laksmi Swari pada titik terendah dalam hidup, dia mahluk paling disayang nestapa hampir menganugerahi diri dengan dosa yang tiada ampunnya. Mengawasi, melayani, membiarkannya tuli. keduanya duduk di ujung serambi sambil menerka nerka, siap atau tidakkah mereka dalam suka cita yang diasingkan semesta, dalam pagelaran rasa antara anak anak manusia yang nihil dikendalikan oleh empunya. Namun begitu biarkan dirinya bersabda,&nbsp;<br></p><p><br/></p><p>"Wahai sang pendosa, izinkan aku menjelma. Rupa kasih yang tidak pernah kau cicipi itu mungkin saja wujudnya seperti kita"&nbsp;<br></p><p>"Dengan begitu kamu jangan dulu binasa"</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-18 18:14:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828709752</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>seifiyusila</author>
         <link>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828710613</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>6. JUNE</strong></p><p><br></p><p>... Lalu ku perhatikan tiap- tiap mata yang menatap sang wira lekat. Dituangkannya dalam relung jiwa, walau sempat curiga dirinya dimanfaatkan oleh si pemilik Semesta, rungkut cerita ia tulis sambil menangis merintih disambi sujud sembah tak tahu memohon ampun atas dosa yang mana.<br></p><p>Kita semua pernah kecewa setidaknya atas tipu daya manusia yang wataknya bejat. Melalap, mengikis dan mencabik-cabik luka yang mati matian la sembunyikan melalui seutas senyum dari bibir yang pucat. Sebenarnya apa yang dijanjikan oleh Tuhanmu hingga kau siksa sebegini?</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-18 18:15:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828710613</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>seifiyusila</author>
         <link>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828711590</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>7. JULY</strong></p><p><br></p><p>Selaput rindu setipis udara yang aku dan kamu sama sama hirup menenggelamkanku pada kisah usang yang pernah merajalela. Mengecup sekuntum ingatan yang lagi lagi kamu dalangnya. Serupa telak yang menghentikanku bercerita tentang siapa lagi yang dibuat terpana. Romansa hangat dari tubuh yang saling melekat tanpa sekat hingga ulu hati pun tercekat. lalu kita sepakat untuk mengutuk sambil saling menatap lekat.&nbsp;</p><p><br></p><p>Dunia mana yang sedang kamu impikan? pujangga yang dulu surai rambutnya paling sering aku elus. Hingar keadaan yang kamu rekayasa menjadi ruang dimana telingaku bisa menuli. Juga priai yang senantiasa menyentil daguku ringan kala angan sudah kelewat jauh dari akal pikiran. Kamu si bisu yang menghantamku dengan kebajikan.&nbsp;</p><p><br></p><p>Adakah itikad bagimu jika aku menuntut ikatan? Biar sebelenggu amin yang kita sebutkan bisa dikabulkan. Agar ada seseorang yang paham, bahwa adam yang nihil disapa nestapa ini mampu memporak porandakan duniaku yang nyaris padam.&nbsp;</p><p><br></p><p>Melumuri dengan perasaan bersalah padahal aku masih sekarat. Lalu aku dibiarkan begitu saja padahal Tuhan juga enggan menyebutku umat. Untuk waktu yang terlewat aku akui kamu lebih cukup untuk disebut bejat. Dan untuk waktu yang terbuang sia sia demi kata yang orang sebut cinta, aku jujur lebih ingin melihatmu mencicipi sengsara. Seperti kisah kasih kusam yang lalu kita perlajari bersama lalu kurang ajarnya beberapa materi akan mengantarkan kita pada saling sapa. rupamu aku masih ingat, kalau rupa bahagia itu yang seperti apa?</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-18 18:16:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828711590</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>seifiyusila</author>
         <link>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828712881</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>8. AUGUST</strong></p><p><br></p><p>Matanya masih menatap lurus padaku, tak gentar dia tertodong senjata oleh pengawal yang tunduk akan isyarat ku. Seperti terdakwa bagaimana dia akhirnya diseret oleh salah satu, padahal aku belum memberikan titah. Khawatir aku kenapa-napa.&nbsp;<br></p><p>Aku tertawa, pemuda tanpa tahu takut sejatinya gagahnya palsu, dia hanya jelata yang mengemis cinta dari kami sedang cinta adalah kemewahan yang tidak sempat kami cicipi. Melampiaskan dengan segala usaha biar mengancamku juga jadi salah satu pilihannya. Banyak rupa sepertinya aku temui selama seminggu ini, jadi sudah hafal sekali.&nbsp;<br></p><p>Tapi yang kali ini mungkin agak serakah. Melihatnya kembali lepas dari belenggu penjaga terlatih lebih mahir dari pangkat marinir. Mendekatiku seperti tadi kala aku masih angkuh, sedang aku dipaksa mundur pada jalanku yang ternyata hanya sejengkal dari dinding gila. Aku terkunci dalam lengan kekar yang nihil aku tepis begitu saja.&nbsp;</p><p><br></p><p>Pistol ditodongkan kepadaku, mepet sekali dengan leher saat dingin ujungnya menyentuh permukaan kulit. Mulai aku lihat bagaimana kehancuran atasku perlahan terpapar jelas di depan mata. Aku masih nihil pergerakan, bernafas pun aku enggan. Ditatapnya aku lekat seakan melihatku pada titik terendah dalam hidup seperti ini merupakan mimpinya sejak lama, padahal pertama kali bertemu masih 2 menit yang lalu saat hidupnya masih bergantung pada tutur lisan yang akan kusebutkan.&nbsp;<br></p><p>Malah kini hidupku yang digenggamnya, semua kendali ada di telunjuknya yang akan menari pada pelatuk lalu satu tembakan saja maka kita semua tahu bagaimana akhirnya.&nbsp;</p><p><br></p><p>Bahaya itu kasat mata, hadir dalam wujud pemuda tampan yang senyumnya mirip seringai. Pistol akrab di tangan menemani kemana perginya kaki yang dibungkus celana rapi namun tak sangka tempat bersembunyinya belati.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-18 18:17:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828712881</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>seifiyusila</author>
         <link>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828713633</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>9. SEPTEMBER</strong></p><p><br></p><p>Kiranya sengsara sudah tak sanggup lagi kamu pikul, hingga tangis enggan bersemayam di pipimu, aku kan bantu mendudukkan mu pada bangku kayu dekat makam pahlawan untuk sekedar menghirup udara yang maris tak sempat kau cicipi segarnya, biar kamu tahu rasa. Susah susah terhimpit Dunia yang katanya dipersembahkan sebagai hadiah malah sakit-sakit yang kamu kumpulkan dalam karung. Penuh sekarung lekas dibawa pulang dibagikan pada kesendirian. Bohong sekali kakek nenek mendongeng masa muda tentang perjuangan, meracau membual hidupnya diperbudak kepandaian warga seberang. Jika tak mewariskan harta doa pada cucunya agar selamat ya untuk apa????</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-18 18:18:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828713633</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>seifiyusila</author>
         <link>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828714274</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>10. OCTOBER</strong></p><p><br></p><p>Lantunan Lagu yang kau putar biarkan mengiringi. Tidakkah muak kau dengarkan suara hujan yang sedari tadi menahan kita disini? Dibelenggu Malu pun tak kuasa aku sekedar menawarimu untuk bermalam, walau 2 tahun Lalu kita tidak pernah enggan.</p><p><br></p><p>Lalu sambutlah sunyi di antara kami berdua. Karena kini pemandangan halaman belakang rumah dan kopi hangat bukan lagi sahabat sejati<br></p><p>Kamu bukan lagi seorang Adipati yang hafal lirik lagu ini.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-18 18:19:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828714274</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>seifiyusila</author>
         <link>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828715093</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>11. NOVEMBER</strong></p><p><br></p><p>..Tak dibiarkan aku hidup mengasihi diri sendiri hingga murah hatinya tumbuh seiring mawar setangkai yang senantiasa dibawa tiap ada perayaan. hampir enam tahun bersama namun tak sekalipun kami mengemis untuk saling memberi penghargaan. Sebab tiap arak arakan kebahagiaan pun enggan kami pelajari dengan benar, maka salah satunya seperti ini, walaupun sabtu depan sudah layu, nekat dirinya memberiku tujuh belas tangkai mawar beragam rupa yang aku yakini hasil curian, untuk merayakan penghujung hari dimana malam sebelumnya kami pikir tidak akan pernah bisa terlewati.&nbsp;</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-18 18:20:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828715093</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>seifiyusila</author>
         <link>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828716299</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>12. DECEMBER</strong></p><p><br></p><p>"Sebuah pengakuan, yang melingkar di jari manismu itu sebenarnya harta hasil curian"</p><p><br></p><p>Seminggu terakhir aku berkomplot dengan bulan dan bintang untuk melangsungkan aksi yang saat itu ku anggap paling mendebarkan dalam sejarah hidup ku. Belum habis ternyata yang lebih membuat perasaan tak karuan rupanya saat memasangkan hasil curianku pada jari manismu. Melempar batu aku takut takut kamu dianggap sebagai salah satu sekutu sebab pagi pagi buta aku dijemput oleh segerombolan kunang kunang yang katanya pengawal, diculik aku dan dibawa ke tempat yang tak aku tahu. Lalu ditanyai aku dimana cincin yang aku curi dan ku jawab sudah dipakai oleh ratuku.&nbsp;</p><p>Kunang kunang menghujaniku dengan pertanyaan yang membuatku semakin linglung, salah satunya tentang alasanku mencuri cincin milik saturnus.&nbsp;</p><p><br></p><p>Katamu Saturnus adalah yang paling cantik karena ia punya cincin yang bersinar gemerlap di langit, aku menolak setuju sebab menurutku masih kamu yang paling cantik sekalipun kamu tidak memiliki cincin. Takut takut kamu tidak setuju dengan gagasanku nekat aku menjadi pencuri ulung berbekal pengalaman yang aku pelajari betul darimu dua tahun lalu, waktu pertama kali aku diselamatkan olehmu, hari itu, dengan tak tahu malu kamu mencuri hatiku.&nbsp;</p><p><br></p><p>Hari ini, aku mengakui bahwa saturnus yang katamu paling cantik itu sudah ku curi cincinnya, yang membuatnya bersinar gemerlap di langit, biar kasih ku yang memakainya, aku rela dihukum seumur hidup, mendekap sisa usia ku asal semuanya bersama denganmu.</p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-18 18:21:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828716299</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>seifiyusila</author>
         <link>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828728253</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>2. FEBRUARI</strong></p><p><br></p><p>Salam bisu dari Maheswari,</p><p><br></p><p>Aku mengingat-ingat, perihal kisah kasih kusam yang pernah ditembangkan pukul 2 pagi. Cerita tentang takdir sejenis apa yang sedang kita lakoni, atau lawakan semesta yang seperti apa yang mengantarkanku padamu di pertemuan penuh bisu ini.&nbsp;&nbsp;<br></p><p>Ribuan kali jari melipat menghitung rupa kebahagiaan yang tercurah lewat sepasang mata yang menatap lekat, hingga tak sempat menduga bahwa mendapati senyumnya di bawah temaram lampu ujung jalan ini salah satu wujudnya.&nbsp;</p><p><br></p><p>Masih menghujam pikiran tentang malam yang semakin kelam namun bukannya jalan pulang yang dimudahkan malah aku yang terjebak hujan. Belum habis, penghujung hari ternyata bukan jam 11.59 WITA dimana aku mulai disambangi kantuk, melainkan 4 jam setelahnya dimana kamu malah ikut duduk. Mengisi kekosongan suara padahal pikiran sama sama berisik menyuarakan kata sapa. Sekedar bertanya kabarmu bagaimana susah minta ampun rasanya.&nbsp;</p><p><br></p><p>Curian pandang dari ujung mata berulang kali dilemparkan, kepadaku dan kepadamu- aku juga begitu, acap kali terpaku pada semerbak harum dari seluk beluk perasaan yang lagi lagi kamu dalangnya.&nbsp;</p><p><br></p><p>Belum sempat suara puji-pujian dari langgar terdekat berkumandang, aku lebih dulu memutuskan untuk pulang. Daripada suara rindu menjadi gaduh, dan malah aku mengumpat dengan angkuh, aku berhenti meneduh. Dunia katanya buruk bagi si manis yang keluar rumah di jam 4 subuh.&nbsp;<br></p><p>Namun begitu, ku harap salamku bisa sampai pada gendang rungu mu. Biar hangat merengkuh dan membasuh tiap dekap juga kecup yang mati matian kamu pegang teguh.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-18 18:32:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/seifiyusila/9b551vna75fjf2k5/wish/2828728253</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
