<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Teknik Pengeringan &amp; Pembekuan by SAUMI NUR ROCHMANI</title>
      <link>https://padlet.com/saumi20001/97o3wl8x8kd4dwat</link>
      <description>Isoterm Sorpsi Air</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-09-15 04:49:11 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-12-24 09:06:43 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Review Jurnal 1</title>
         <author>saumi20001</author>
         <link>https://padlet.com/saumi20001/97o3wl8x8kd4dwat/wish/2297601807</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Judul </strong>:&nbsp; <strong>Pengaruh Suhu Terhadap Kadar Air dan Aktivitas Air Dalam Bahan Pada Kunyit (Curcuma Longa) Dengan Alat Pengering </strong><strong><em>Electrical Oven&nbsp;</em></strong></div><div><strong>Tahun Terbit</strong> : 2017&nbsp;</div><div><strong>Volume</strong>&nbsp; : Vol. 13, No. 2</div><div><strong>Penulis</strong> :&nbsp; Wilandika Leviana dan Vita Paramita <br><br><strong>Latar Belakang</strong> :&nbsp; Kunyit merupakan tanaman obat berupa semak dan bersifat tahunan (parenial). Kandungan air yang cukup tinggi membuat kunyit harus diolah sebelum disimpan dalam jangka waktu yang lama.&nbsp;<br><br></div><div><strong>Tujuan Penelitian</strong> : Untuk mengetahui pengaruh waktu dan suhu pengeringan terhadap kadar air&nbsp; dan aktivitas air&nbsp; pada kunyit orange dan kunyit putih.<br><br></div><div><strong>Metode Penelitian </strong>: <br><br><strong>1. Alat dan Bahan</strong>&nbsp;</div><div>&nbsp;Bahan yang digunakan :&nbsp; Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah kunyit orange dan kunyit putih. <br>Alat : Alat utama yang digunakan adalah oven merk memmert tipe UN 110 (Memmert GmbH + Co. KG, Deutschland), timbangan digital ohaus, serta variabel ketebalan yang diterapkan yaitu 1mm, 2mm, 3mm, 4mm <br><br><strong>2. Prosedur Penelitian </strong><br>-&nbsp; Tahap Perlakuan awal&nbsp;<br>Pada tahap perlakuan awal meliputi persiapan bahan baku, pencucian, dan pemotongan sampel sesuai variabel.&nbsp;<br><br>-&nbsp; Tahap Pengeringan<br>Kunyit orange dan putih yang telah dipotong sesuai variabel dengan ketebalan irisan 1 mm, 2 mm, 3 mm, dan 4 mm kemudian akan dikeringkan dengan electrical oven merk memmert tipe UN 110 pada variabel suhu 70°C, 80°C, dan 100°C dengan lama pengeringan 15 menit yang selanjutnya dilakukan penimbangan sampai didapatkan massa yang konstan.&nbsp;<br><br>-&nbsp; Tahap Analisa<br>Tahap analisa produk yang dilakukan meliputi analisa kadar air, analisa aktivitas air, serta analisa organoleptik.&nbsp;<br><br></div><div><br></div><div><strong>Hasil Penelitian</strong> : <br><strong>Kunyit Orange</strong><br>Kadar air rata-rata dan waktu pengeringan yang didapat pada penelitian kadar air variabel&nbsp; suhu 70ºC yaitu 30,631% dengan waktu 145 menit, pada suhu 80 ºC sebesar 32.386% selama 135 menit, dan pada suhu 100 ºC sebesar 29,534% selama 90 menit. Pada setiap suhu tidak terjadi perbedaan kadar air yang begitu jauh yaitu kisaran 29-32% begitupun dengan kadar air pada setiap ketebalan irisan. Perbedaan terdapat pada lamanya waktu pengeringan&nbsp; pada suhu 100ºC&nbsp; membutuhkan waktu pengeringan yang paling cepat yaitu 90 menit dan suhu 70ºC membutuhkan waktu pengeringan paling lama yaitu 165 menit. <br><br>Untuk uji organoleptik yang meliputi uji bau, warna, dan penampakan fisik yaitu pada pengeringan suhu 70ºC didapatkan warna orange pucat dengan bau khas kunyit serta bentuk yang sangat keriput, suhu 80ºC warna orange terang dengan bau khas kunyit dan tidak terjadi perubahan bentuk, dan suhu 100ºC warna orange kecoklatan, bau khas kunyit, dan bentuk yang keriput. <br><br>Pada pengeringan simplisia kunyit orange dilakukan analisa aktivitas air didapatkan range nilai aktivitas air terhadap pemanasan dan lamanya pengeringan yang berbeda-beda yaitu 0,3 – 0,07 pada suhu 70ºC, 0,2 – 0,045 pada suhu 80ºC, dan 0,2 – 0,04 pada suhu 100ºC.<br><br><strong>Kunyit Putih<br></strong>Dari ketiga variabel suhu yang digunakan menunjukkan bahwa ketebalan irisan mempengaruhi waktu pengeringan dan kadar air. Waktu pengeringan pada irisan 1 mm lebih cepat.&nbsp; Kadar air rata-rata dan waktu pengeringan yang didapat pada penelitian kadar air variabel suhu 70ºC yaitu 22,31% dengan waktu 135 menit, pada suhu 80 ºC sebesar 19,46% selama 120 menit, dan pada suhu 100 ºC sebesar 18,49% selama 75 menit. Pada setiap suhu tidak terjadi perbedaan kadar air yang begitu jauh yaitu kisaran 17-23% begitupun dengan kadar air pada setiap ketebalan irisan. Perbedaan terdapat pada lamanya waktu pengeringan. Pada suhu 100ºC membutuhkan waktu pengeringan yang paling cepat yaitu 75 menit dan suhu 70ºC membutuhkan waktu pengeringan paling lama yaitu 135 menit.&nbsp;<br><br>Untuk uji organoleptik yang meliputi uji bau, warna, dan penampakan fisik yaitu pada pengeringan suhu 70ºC didapatkan warna putih kekuningan dengan sedikit bau kunyit serta bentuk sangat keriput, suhu 80ºC warna putih kekuningan dengan sedikit bau kunyit dan bentuk sangat keriput, dan suhu 100ºC warna putih gosong, sangat sedikit bau kunyit, dan bentuk yang sangat keriput.&nbsp;<br><br>Pada pengeringan kunyit putih didapatkan range nilai aktivitas air terhadap pemanasan dan lamanya pengeringan yang berbeda-beda yaitu 0,2 – 0,1 pada suhu 70ºC, 0,2 – 0,09 pada suhu 80ºC, dan 0,2 – 0,04 pada suhu 100ºC.&nbsp;<br><br></div><div><strong>Kesimpulan </strong>:&nbsp; Praktikum pengeringan simplisia kunyit jenis kunyit orange dan putih dengan variabel suhu dan ketebalan irisan didapatkan hasil optimum yaitu pada suhu 80°C untuk kunyit orange, yaitu kadar air sebesar 32,386 % dengan lama pengeringan 135 menit dengan bau khas kunyit, warna orange terang, dan bentuk fisik yang keriput serta nilai aktivitas air berkisar antara 0,2 – 0,04.&nbsp;<br><br>Sampel kunyit putih variabel optimum pada suhu 80°C, kadar air sebesar 19,46% dengan penampakan fisik warna putih kekuningan dan bau sedikit khas kunyit, serta nilai aktivitas air antara 0,2 – 0,09.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/721031464/55d9d4cbe0cc03ec429843242e492216/18012_45086_1_PB.pdf" />
         <pubDate>2022-09-15 04:58:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saumi20001/97o3wl8x8kd4dwat/wish/2297601807</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Review Jurnal 3</title>
         <author>saumi20001</author>
         <link>https://padlet.com/saumi20001/97o3wl8x8kd4dwat/wish/2304321986</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Judul </strong>: <strong>Analisis Kadar Air Dan Kadar Abu Teh Berbahan Dasar Daun Lamun</strong></div><div><strong>Tahun Terbit</strong> : 2017&nbsp;</div><div><strong>Volume </strong>: Vol. 13, No. 2</div><div><strong>Penulis</strong> : Prelly Marsell. Tuapattinaya, Rufiati Simal, Juen Carla Warella<br><br><strong>Latar Belakang</strong> : &nbsp; Lamun (seagrass) adalah salah satu komponen penyusun keanekaragaman hayati. Selain buah dan biji, bagian lain dari tumbuhan lamun Enhalus acoroides berpeluang untuk dimanfaatkan sebagai bahan dasar pangan alternatif dan berpotensi untuk diolah menjadi pangan inovatif seperti teh herbal.&nbsp;<br><br></div><div><strong>Tujuan Penelitian</strong> : Untuk mengetahui kadar air dan kadar abu lamun dengan metode pengeringan guna menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur.&nbsp;<br><br></div><div><strong>Metode Penelitian </strong>: <br><br><strong>1. Alat dan Bahan</strong>&nbsp;<br>Alat untuk pengujian : desikator, neraca Sartorius, Cawan porselin, gelas erlenmeyer 500 ml, dan tanur listrik&nbsp;<br>Bahan : Teh lamun (Enhalus acoroides), n-Heksan (Pelarut), Akuades,&nbsp;</div><div>&nbsp;<br><strong>2. Prosedur Penelitian <br></strong>Pengujian Kadar Air dengan cara Cawan porselin dikeringkan dalam oven 105˚C selama 3 jam, Setelah itu ditimbang, ditambahkan sebanyak 100 g sampel Ekstrak teh lamun (Enhalus acoroides) dan ditempatkan dalam oven 105˚C selama 3 jam. Bobot cawan dan sampel ditimbang. Pengujian Kadar Abu dengan cara yang sama hanya saja sampel yang digunakan sebanyak 1-2 g kemudian dikeringkan dalam tanur listrik 600˚C selama 18-24 jam. Sampel yang telah jadi abu ditimbang.&nbsp;</div><div><br></div><div><strong>Hasil Penelitian</strong> :&nbsp;<br>Hasil Analisis kadar Air Teh lamun (Enhalus acoroides) didapatkan nilai kadar air teh lamun berkisar antar 9,17%-9,18%. Nilai rata-rata kadar air teh lamun adalah 9,17%. Hasil Analisis kadar Abu Teh lamun (Enhalus acoroides) didapatkan nilai kadar abu teh lamun berkisar antar 18,52%-18,56%. Nilai rata-rata kadar abu teh lamun adalah 18,53%.&nbsp;<br><br></div><div><strong>Kesimpulan </strong>: &nbsp; Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kadar air teh lamun adalah 9,17 dan telah memenuhi SNI teh hijau celup (4324-2014), yaitu maksimal 10. Sedangkan kadar abu teh lamun adalah 18,53 yang berada diatas standar SNI teh hijau celup (4324-2014), yaitu maksimal 8%.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/721031464/a2d66fa43db3b9343ce7e7ff1ac0a2d3/4693_Article_Text_22095_1_10_20211129.pdf" />
         <pubDate>2022-09-20 06:08:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saumi20001/97o3wl8x8kd4dwat/wish/2304321986</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Review Jurnal 2</title>
         <author>saumi20001</author>
         <link>https://padlet.com/saumi20001/97o3wl8x8kd4dwat/wish/2304454418</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Judul </strong>: <strong>Pengaruh Pengeringan Terhadap Laju Penurunan Kadar Air dan Berat Jagung (Zea mays L.) Untuk Varietas Bisi 2 dan NK22</strong></div><div><strong>Tahun Terbit</strong> : 2018</div><div><strong>Volume </strong>: Vol. 5, No. 1</div><div><strong>Penulis</strong> : Muh Arsyad<br><br><strong>Latar Belakang</strong> : &nbsp; Lamun (seagrass) adalah salah satu komponen penyusun keanekaragaman hayati. Selain buah dan biji, bagian lain dari tumbuhan lamun Enhalus acoroides berpeluang untuk dimanfaatkan sebagai bahan dasar pangan alternatif dan berpotensi untuk diolah menjadi pangan inovatif seperti teh herbal.&nbsp;<br><br></div><div><strong>Tujuan Penelitian</strong> : Untuk mengetahui pengaruh pengeringan terhadap kadar air dan berat untuk jagung hibrida Varietas Bisi 2 dan NK22 serta Untuk menentukan waktu pengeringan yang optimal pada jagung hibrida Varietas Bisi 2 dan NK22.</div><div><br></div><div><strong>Metode Penelitian </strong>: <br><br><strong>1. Alat dan Bahan</strong>&nbsp;<br>Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah alat pengujian kadar air (moisture meter), karung, timbangan digital, wadah, mistar, termometer.&nbsp;<br>Bahan yang digunakan adalah kertas label, jagung hibrida bisi-2 dan NK22 yang diperoleh dari petani jagung di Kecamatan Marisa Kabupaten Pohuwato.&nbsp;</div><div>&nbsp;<br><strong>2. Prosedur Penelitian <br></strong>Dilakukan dengan melakukan pengeringan selama empat hari pengeringan dengan menggunakan&nbsp; dua&nbsp; varietas&nbsp; yaitu&nbsp; varietas&nbsp; bisi&nbsp; 2&nbsp; dan&nbsp; NK&nbsp; 22&nbsp; dan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktorial&nbsp; yaitu faktor hari pengeringan dengan varietas dan apabila berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji lanjut BNJ. Parameter pengamatan yang diukur yaitu kadar air dan berat jagung.</div><div><br></div><div><strong>Hasil Penelitian</strong> : &nbsp; Konsep kadar air kesetimbangan merupakan suatu konsep yang penting dalam studi pengeringan biji-bijian karena kadar air kesetimbangan menentukan kadar air minimum yang dapat dicapai pada kondisi udara pengeringan yang tetap atau pada suhu dan kelembaban relatif yang tetap.&nbsp; Berdasarkan data yang telah didapat, diketahui bahwa terjadi laju penurunan kadar air untuk varietas bisi 2 dan NK 22. Kadar air awal sebelum dilakukan pengeringan untuk varietas bisi 2 (V1) yaitu 16,3 % sedangkan untuk varietas NK22 (V2) yaitu 18,6%. Hari pertama pengeringan terjadi penurunan kadar air untuk kedua varietas yaitu bisi 2 sebesar 15,57 %, dan NK22 sebesar 16,17%. Untuk hari kedua terjadi penurunan yang lebih signifikan dibandikan dengan hari pertama yaitu varietas bisi 2 mengalami penurunan sekitar 2 % menjadi 13,57% dan varietas NK22 mengalami penurunan sekitar 2,4 % menjadi 13,77%. Untuk pengeringan hari tiga mengalami penurunan 12,52% untuk varietas bisi 2 dan 12,82 % untuk varietas NK22. Sedangkan untuk pengeringan hari empat mengalami penurunan yang tidak signifikan yaitu varietas bisi 2 12,2 % dan NK22 sebesar 12 %.<br><br>Sedangkan untuk berat jagung, terjadi laju penurunan berat jagung untuk varietas bisi 2 dan NK 22. Berat jagung awal sebelum dilakukan pengeringan untuk varietas bisi 2 (V1) dan varietas NK22 yaitu masing masing 300 gram. Hari pertama pengeringan terjadi penurunan berat jagung untuk kedua varietas yaitu bisi 2 sebesar 295,17 gram, dan NK22 sebesar 291,58 gram. Untuk hari kedua terjadi penurunan yang lebih signifikan dibandikan dengan hari pertama yaitu varietas bisi 2 mengalami penurunan berat sebesar 8,1 gram menjadi 287.07 gram dan varietas NK22 mengalami penurunan berat sebesar 10,26 gram menjadi 281,32 gram. Untuk pengeringan tiga hari mengalami penurunan berat menjadi 283,82 gram untuk varietas bisi 2 dan 277,1 gram untuk varietas NK 22. Sedangkan untuk pengeringan empat hari mengalami penurunan yang tidak signifikan yaitu varietas bisi 2 280.94 gram dan NK22 sebesar 272,77 gram.&nbsp;<br><br></div><div><strong>Kesimpulan </strong>:&nbsp; Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengeringan pada jagung baik varietas bisi 2 dan NK22 terhadap kadar air dan berat jagung mengalami penurunan. Untuk varietas NK22 lebih banyak mengalami penurunan berat dibandingkan dengan Bisi 2. Pengaruh lama pengeringan dan varietas yang digunakan berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air dan berat jagung. Waktu pengeringan yang optimum untuk varietas bisi 2 dan NK22 adalah dengan dua hari pengeringan sehingga kadar air dibawah 14 % atau sesuai dengan standar nasional Indonesia dan berat jagung tidak banyak menurun.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/721031464/d7c4667bff40074d63e765bb4b4b61ff/document__3_.pdf" />
         <pubDate>2022-09-20 07:42:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saumi20001/97o3wl8x8kd4dwat/wish/2304454418</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sumarry ISA</title>
         <author>saumi20001</author>
         <link>https://padlet.com/saumi20001/97o3wl8x8kd4dwat/wish/2305354075</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/721031464/1659de1b3a7c33b80238927bf32e4351/240110200035_Saumi_Nur_Rochmani_Summay_ISA.pdf" />
         <pubDate>2022-09-20 16:53:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saumi20001/97o3wl8x8kd4dwat/wish/2305354075</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
