<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Kelas Anti Korona (SMAS Sukma Bangsa Lhokseumawe) by zubir agani</title>
      <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona</link>
      <description>Ini kisah di kelas online, ketika proses pembelajaran dipindah ke rumah masing-masing</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2020-03-17 03:21:24 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-05-02 01:09:05 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f4f1.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Atas Nama Korona</title>
         <author>cangpanah</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/462563802</link>
         <description><![CDATA[<div>Bersebab harus masuk sekolah sebelum pukul 07.25, tentu saja pagi adalah segala sesuatu tentang buru-buru. Namun, ada yang tidak biasa pagi ini. Tanpa harus berkemas, tanpa buru-buru, dengan bersarung, sekolah tetap berjalan sebagaimana mestinya. <br><br>Hari ini Selasa, 17 Maret 2020, hari ke 2 nanggroe teuleubeh diliburkan aktivitas pembelajaran secara tatap muka. Sehingga, atas arahan dari atasan pemilik nanggroe, proses pembelajaran harus dilanjutkan secara online.<br><br>Pembelajaran online, bukan lah sesuatu buat kami. Karena selama ini, guru-guru Sekolah Sukma sudah terbiasa dengan e-learning. Ada aplikasi yang secara khusus disiapkan oleh sekolah--jauh sebelum korona ini ada, yaitu sebuah Content Managemnt System (CMS) moodle, yang kerap digunakan untuk alternatif media pembelajaran: biasanya digunakan jika ada ulangan, UTS, UAS, dan sebagainnya.   <br><br>Selain itu, produknya google, juga menjadi andalan kami: siapa lagi kalau bukan google classroom. Pada kesempatan "Kelas Anti Korona" ini, kami sepakat untuk menggunakan google classroom. Lebih user friendly, tentunya mampu mengakomodir semua kebutuhan guru--sekalipun masih belum sempurna. <br>***<br>Setiap guru membuka kelas masing-masing.Guru Matematika, misalnya, membuka kelas matematika. Siswa yang secara roster belajar matematika pada jam tersebut, ikut join melalu kode yang diberikan guru.<br><br>Pagi-pagi, dalam kondisi yang masih bersarung, saya melihat para guru merilis kode untuk masuk ke kelas mereka. ada juga yang sejak semalam sudah merilis. kode tersebut, diteruskan ke siswa, dan taraaaammmmm..... mereka masuk ke kelas yang tanpa kursi, tanpa papan tulis, tanpa kipas angin, dan sudah pasti tanpa bangunan. <br><br>Dari beberapa foto yang beredar di grup orang tua, ada yang ikut kelas sambil ditemani secangkir kopi, sambil rabahan, sambil menjaga orang tua di rumah sakit, dan beragam kondisi yang lain.<br><br>Kekhawatiran saya bahwa anak-anak tidak mau masuk kelas online, ternyata--setidaknya berdasarkan kondisi hari ini--tidak terjadi. Justru, berdasarkan laporan guru-guru, siswa antusias. Kondisi ini menjadi sangat istimewa, dimana anak-anak terlatih dan terarahkan untuk membangun Instrinsic Motivation dalam dirinya. <br><br>Karena dalam rumus apapun, jika si pelajar merasa butuh untuk belajar, maka waktu dan tempat, bukanlah sebuah kendala.<br>***<br>Hari ini, saya ikut mengontrol kelas online, sambil bersandal jepit, tanpa dasi, tanpa kemeja, di Lobi Sekolah. <br><br>Lhokseumawe, 17 Maret 2020. </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/460785973/58983ed62a1500bbb5fbf65af1e7fb88/PhotoCollage_20200317_152324854.jpg" />
         <pubDate>2020-03-17 03:24:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/462563802</guid>
      </item>
      <item>
         <title>UJIAN DITENGAH UJIAN</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/462706530</link>
         <description><![CDATA[<div>Alhamdulillah, akhirnya UTS yang sempat ditunda satu hari itu kembali dilaksanakan pada hari ini. Ada banyak kendala yang dihadapi oleh siswa dan guru terkait UTS online ini. Sebagai guru yang bertanggung jawab, sedari pagi tadi saya sudah stand by di depan laptop dan HP gak jauh-jauh dari tangan mengingat banyak info penting terkait UTS online hari ini. <br><br>Baru ditinggal 3 menit ajha udah hampir ratusan masuk chat WA dari group dan dari siswa. Pokoknya tang ting tung dech tu HP bunyi melulu. Hehehe. Seblum ujian mapel PPKn yang akan dimulai tepat pada pukul 10.00 WIB, saya sudah mengirimkan informasi penting kepada setiap walikelas untuk dishare digroup terkait skema UTS online hari ini. Jam menunjukkan tepat pukul 10.00. Satu persatu siswa mulai bergabung di geoogle Classroom untuk mengikuti UTS online. YES, perlahan tapi pasti. Hampir semua siswa sudah bergabung dan mengikuti UTS Online yang berdurasi 30 menit itu. Finish. <br><br>Sedikit lega, hmmmmm, setelah mengecek nilai anak-anak alhamdulillah banyak yang lulus KKM, semoga ajha ini nilai murni, Aaamiin, Insya Allah. Tiba-tiba masuk WA, belum sempat saya buka WA nya ternyata sudah ada panggilan telpon dari siswa. "Assalamu'alaikum, Buk Ika", dengan nada panik dan tergesa-gesa, siswa tersebut mulai curhat tentang apa yang terjadi terhadap dia dan beberapa teman dikelasnya. <br><br>Daaaaaaan, ternyata mereka salah jawab soal UTS, mereka menjawab soal UTS yang kemarin, dengan alasan katanya walikelas telat memberikan informasi terkait soal UTS PPKn hari ini, dan ini terjadi di kelas XI, dan ada 5 orang siswa salah satu kelas X yang juga mengalami nasib yang sama namun dengan alasan yang berbeda yaitu katanya gak ngeh ketika baca informasi dari walikelas di grup. Benar-benar ujian yaah. <br><br>Ujian UTS di Sekolah Sukma Bangsa tetap berlangsung di tengah ujian Corona. Semua aktivitas belajar mengajar dan UTS tetap dilaksankan di rumah masing-masing tanpa tatap muka, melalui aplikasi Classroom semua bisa berjalan dengan santuy. </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/479352728/1edc4b49cb9f0a8b92a11581d5344e64/IMG_20200317_102214.jpg" />
         <pubDate>2020-03-17 08:24:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/462706530</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tak harus bertatap muka untuk bersama (Refleksi Pembelajaran Bahasa Inggris)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/462801309</link>
         <description><![CDATA[<div>SMA Sukma bangsa lhokseumawe melakukan pembelajaran online sebagai respon untuk mencegah penyebaran Covid-19 yg satatusnya menjadi pandemic baru - baru ini sebagaimana diumumkan oleh WHO. <br><br></div><div>Dalam hal ini saya menggunakan google classroom untuk berinteraksi dengan siswa dalam pembelajaran Bahasa Inggris dengan materi Explanation Text. Ditinjau dari penyampain materi, tidak ada perbedaan antara belajar online dan belajar secara tatap muka dikelas. Anak2 terlibat aktif bertanya tentang materi yg disampaikan oleh guru, juga bisa menjawab soal dengan baik dan mengunggah jawaban mereka dihalaman yg sudah disediakan. <br><br></div><div>Guru selaku moderator juga bisa lansung memberikan umpan balik saat diperlukan. Dengan kata lain kita bisa bersama - sama terlibat dalam pembelajaran walaupun tak saling bertatap. Dengan adanya pembelajaran online juga memungkinkan orang tua ikut terlibat dalam proses pembelajaran yang tentunya akan membuat anak lebih fokus dan memberikan kepuasan tersendiri bagi orang tua.<br><br></div><div>Walaupun demikian ada kendala2 kecil dilapangan seperti kendala jaringan atau habisnya paket data, namun hal itu bisa diatasi dengan cepat.</div><div> <br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/479405649/cd391a57287c913648378e43268514c2/Screenshot_2020_03_17_15_38_43_527_com_android_chrome.png" />
         <pubDate>2020-03-17 09:54:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/462801309</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Para Pejuang UNBK di Tengah Wabah Corona</title>
         <author>dewips15</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/464038085</link>
         <description><![CDATA[<div>Rabu, 18 Maret 2020 pukul 08.00 WIB saya memiliki jadwal mengajar via <em>online</em> atau daring (dalam jaringan) dalam rangka Penguatan Materi UNBK Bahasa Indonesia di kelas XII IPS Barbados. Ini merupakan hari kedua bagi SMAS Sukma Bangsa Lhokseumawe menerapkan kelas daring sejak pemerintah pusat mengumumkan sekolah diliburkan dan dialihkan dengan program belajar dari rumah akibat wabah virus Corona yang tengah mengancam bumi pertiwi saat ini.<br><br>Sebelum program ini diterapkan, sempat terbesit kekhawatiran di benak saya tentang pelaksanaan kelas daring ini. Ditambah beberapa hari yang lalu saya sempat melihat cuitan-cuitan bernada kontra dari para pelajar di luar daerah tentang kelas bermedia gawai ini. Mereka seakan tidak ingin "libur" ini disibukkan kembali dengan tugas-tugas. Itulah yang terpantau di linamasa saya belakangan yang membuat saya berpikir, "Apakah siswa-siswa saya juga akan menyambut demikian?" "Kalau begitu, efektifkah hal ini dilakukan?" <br><br>Pertanyaan-pertanyaan itu pun terjawab setelah saya bersegara menatap layar laptop untuk berjumpa dengan siswa-siswi saya pagi ini. Ditemani dengan segelas sereal cokelat hangat saya menunggu jam tepat menunjukkan pukul 08.00 WIB. Semenit pun saya tidak ingin melewatkannya. Sudah tak sabar rasanya ingin menyapa mereka dan melihat reaksi yang mereka berikan.<br><br>Teng! Tepat pukul 08.00 WIB saya membuka kelas Penguatan Materi UNBK untuk siswa-siswi kelas XII IPS Barbados. Langsung saya menginstruksikan mereka untuk melakukan absensi. Di luar dugaan, ternyata mereka juga sudah bersiap-siap untuk mengikuti kelas tersebut. Satu per satu dari mereka bersahutan sebagai isyarat telah hadir pada ruang belajar itu.<br><br>Sungguh ada perasaan lega saat apa yang terjadi ternyata tidak seperti yang saya pikirkan. Ternyata siswa-siswa saya adalah anak-anak yang masih memiliki antusias belajar yang tinggi. Dalam keadaan darurat seperti ini sekalipun. <br><br>Dalam pembelajaran nontatap muka ini kami berinteraksi satu sama lain membahas materi dan soal-soal untuk mempersiapkan UNBK yang akan mereka hadapi pada akhir Maret ini. Hampir tidak ditemui kendala dalam pelaksanaan program belajar dari rumah ini. Anak-anak terlihat antusias dalam memahami materi dan menjawab latihan-latihan yang diberikan. Hanya satu-dua saja diantara mereka yang sempat terlewatkan informasi disebabkan ketiduran katanya, haha.. tapi itu bukan suatu kendala yang besar.<br><br>Antusiasme belajar yang tinggi yang diperlihatkan siswa-siswi kelas XII ini membuat mereka layak diberikan titel "Pejuang UNBK" sesungguhnya di tengah terjerembaknya wabah Corona di Nusantara. Pengalihan program belajar dari rumah bermediakan gawai ini tidak lantas menyurutkan semangat mereka dalam mempersiapkan diri menghadapi serangkaian ujian yang sudah menyambut mereka di depan mata. </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/479685622/e7f3d05b9dc075d0aa2c5057eec3f76c/IMG20200318135636.jpg" />
         <pubDate>2020-03-18 07:04:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/464038085</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Supervisi Online di Kelas Cegah Korona</title>
         <author>cangpanah</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/465704903</link>
         <description><![CDATA[<div>Jam digital di HP saya sudah menampilkan angka 08.31. Berkemas seadanya, sarapan, dan saya menuju sekolah. Agenda hari ini, ingin mengetahui seperti apa interaksi antara guru dan siswa di kelas online. <br><br></div><div>Pada pukul 09.00 wib, ada 6 kelas yang akan mengikuti Ujian Tengah Semester (UTS). Untuk UTS, tidak ada interaksi antar guru dengan siswa. Karena ketika siswa masuk ke ruang belajar, mereka langsung melahap soal ujian<br><br></div><div>Sedangkan kelas XII yang berjumlah 4 rombel, akan mengikuti penguatan bimbingan Ujian Nasional (UN). Pada hari itu, untuk jurusan IPA, siswa akan belajar mata pelajaran pilihan: Fisika, Kimia, Biologi. Sedangkan di Jurusan IPS, siswa akan belajar 3 mata pelajaran: Bahasa Indonesia, <em>English</em>, dan Sosiologi.  <br><br></div><div>Dalam tulisan singkat ini, saya tidak akan menulis hasil supervisi di semua kelas. Tapi hanya akan mengulas aktivitas di kelas Bahasa Indonesia dan di Kelas Biologi. <br><br></div><div>Semua guru yang mengajar di kelas online, kami wajibkan untuk menggunakan <em>google classroom</em>. Yah, supaya saya juga bisa dengan mudah memantau semua kelas. Tinggal buka <em>google.classroom.com</em>, maka saya bisa memantau dengan membuka tab baru untuk setiap kelas. <br><br></div><div>Kita mulai supervisi di kelas Bahasa Indonesia. Perang dimulai, Ferguso!<br><br></div><div>Kelas itu diampu oleh guru hebat, sebut saja namanya Dewi Puspita Sari. Di kelas online itu, saya masuk sebagai murid, maka langkah pertama yang saya lakukan adalah konfirmasi kehadiran. <br><br></div><div>Bu Dewi membuka dengan kalimat: <br> “Assalamualaikum wr.wb. Selamat pagi dan selamat datang anak-anak Ibu di kelas Penguatan UN Bahasa Indonesia secara online/daring. Silakan absen siapa saja yang sudah bergabung. Ibu beri waktu 3 menit ya untuk absensi”<br><br></div><div>“Hadir bukk” jawab Natasya di kolom komentar.<br><br></div><div>Wah..the first Natasya! Sapa Bu Dewi. <br><br></div><div>Saya membayangkan Natasya pasti bangga karena sebagai siswa pertama yang hadir. Dan diapresiasi oleh gurunya. <br><br></div><div>Tak terbendung, yang lain pada sesegera mungkin menjawab<br><br></div><div>“Hadir Bu”<br><br></div><div>“Hadir bukk cantik” tulis Daiyan Adhita.<br><br></div><div>Wah si dayan sudah mulai menggoda ibu guru nih, pikir saya dalam hati. Saya langsung membayangkan suasana di kelas ketika STM dulu. Paling suka menggoda ibu guru yang masih <em>single</em>. :-) <br><br></div><div>“Masih bermimpi buk” tulis Nanza. Nanza beberapa hari yang lalu, dinasehati oleh ibunya, jangan sampai telat bangun. Karena ibunya beberapa minggu akan ke Jakarta. Nasihat itu disampaikan didepan saya.<br><br></div><div>“Hadir Buk” Jawab saya<br><br></div><div>“Hehehe” balas bu dewi. <br><br></div><div>Sepertinya bu dewi sudah mulai merasa disupervisi. Saya gak tau apakah beliau sudah keluar keringat dingin, atau merasa jangan sampai ada yang salah ini, atau perasaan-perasaan lainnya. Tapi tidak sepertinya. Karena bu dewi adalah guru muda yang super kreatif, pintar, dan sudah mulai dipercayakan di komunitas Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)<br><br></div><div>Per detik, satu persatu siswa menulis “Hadir” hingga dirasa semua siswa sudah ada di kelas. Dan kelas pun dimulai. <br><br></div><div>Bu dewi mengirimkan refleksi capaian UN 2 tahun terakhir. Lalu meminta siswa untuk membaca dalam durasi waktu yang ditentukan. <br><br></div><div>Lima belas menit kemudian, bu dewi memberikan intruksi.<br><br></div><div>“Sekarang, ini latihan yang bisa dikerjakan. Silakan jawab soal no. 1-5 dulu. Ibu beri waktu sampai dengan pukul 08.50. Seperti biasa, sertakan alasan mengapa kalian memilih jawaban tersebut. Boleh ikuti penjabaran seperti yang ada di refleksi tadi. Yang sudah siap silakan diupload lembar jawabannya”<br><br></div><div>Tak lama dari situ, di kolom komentar, sudah mulai muncul pertanyaan dari siswa meminta penjelasan rinci. Bu dewi dengan sigap menjawab setiap pertanyaan. <br><br></div><div>Tang ting....siswa mengirimkan jawaban. Pertama Fajia, disusul Euis, lengkap dengan alasan kenapa memilih jawaban tersebut. <br><br></div><div>Langsung dikomentar oleh bu dewi, “Luar Biasa Fajia,” Fajia pun membalas lagi, “Makasiii Ibuuuu”<br><br></div><div>Setelah itu sepi. Tak ada yang mengirimkan. Waktu yang diberikan pun sudah habis. Bu dewi memecah kebuntuan. <br><br></div><div>“Oke, waktunya sudah habis. Coba kita koreksi bersama yaa.<br> <br> 1. A<br> 2. D<br> 3. C<br> 4. D<br> 5. B<br> <br> Ada yang benar semua? :)”<br><br></div><div>Berselang detik, satu persatu siswa menyampaikan kondisi jawaban mereka. Daiyan si penggoda, ‘hadir Bu Cantikk’ langsung berkomentar: “Daiyan benar semua buk” <br><br></div><div>Ada yang benar semua. Ada yang salah satu. Suasana jadi rame. Diskusi pecah disitu. Setiap siswa menyampaikan alasan mereka dalam memilih jawaban. <br><br></div><div>Karena waktu menjelang habis, bu dewi menyampaikan refleksi. Meluruskan alasan dari setiap jawaban siswa. Bu dewi pun memposting penjelasan lengkap di dinding forum. <br><br></div><div>Menutup kelas, bu dewi memberikan instruksi untuk pertemuan selanjutnya.<br><br></div><div>Baik, terima kasih untuk yang sudah mengumpulkan lembar jawabannya. Untuk soal no. 6-10 ini akan kita bahas pada pertemuan selanjutnya. Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya nak-anak~ :)<br><br></div><div>“Semoga pertemuan selanjutnya patia gk ketiduran :')”<br><br></div><div>“Minum kopi fathya”<br><br></div><div>“Hahahaha”<br><br></div><div>“Aduh buk dayan ketiduran juga”<br><br></div><div>***<br><br></div><div>Bersambung untuk kelas Biologi<br><br></div><div><em> Lhokseumawe, 19 Maret 2020</em></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/460785973/e4c7609b890090f15337bb789953f628/WhatsApp_Image_2020_03_19_at_10_20_48.jpeg" />
         <pubDate>2020-03-19 03:13:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/465704903</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Corona - Bukan Alasan Berhenti Belajar</title>
         <author>nisha_parisah</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/467247907</link>
         <description><![CDATA[<div>Pandemi corona yang mulai menyebar di Indonesia akhirnya membuat pemerintah mengambil langkah tegas untuk #dirumahaja, terutama para pelajar. Hal ini tentu membuat kami galau, Ujian Sekolah kelas XII yang ditunggu-tunggu pun tertunda. Positifnya, siswa punya waktu lebih lama untuk mempersiapkan diri. <br><br>Untuk menjawab kebutuhan tersebut, sekolah bergerak cepat menfasilitasi siswa belajar online menggunakan google classroom. Selasa, 17 Maret 2020 adalah jadwal perdana saya menyapa siswa secara online. <br><br>Dimulai dari kelas XII IPA Sweden, berpenampilan ala-ala ibu rumahan pada umumnya, selesai dengan urusan rumah tangga, Tepat pukul 08.00, saya siap menyapa mereka : <br><br>"Assalamu'alaikum ananda tercinta. Selamat pagiii. Semoga sehat, semangat dan bahagia. Jangan sedih jangan galau karena ujian tertunda, insyaAllah nantinya kalian akan lebih siap. Jadi, kita kan ada 4x pertemuan, dibagi aja yaa: <br>Hari ini : aljabar. <br>Kamis minggu 1 : trigon + geometri<br>Selasa depan : kalkulus<br>Kamis depan : statistika<br>Nah, jadi sekarang kita coba jawab soal-soal kategori aljabar yg sudah terlampir baik di soal paket 1 maupun paket 2. Kirimkan jawaban dan tanggapan.. Yang tidak mengerti ditanyakan..<br>Untuk yg hadir, absen dulu ya guys..<br>Note : WAJIB DITANGGAPI."<br><br></div><div>Diluar dugaan, jawaban "hadir bu" datang bertubi-tubi. Perasaan haru itu pun muncul tiba-tiba. Ah berlebihan, tapi yaa begitulah adanya.<br><br>Saya memberi intruksi selanjutnya, "Ayo ambil kertas dan pulpen, duduk tegap, lebarkan senyum" dan segera memulai diskusi dengan siswa.<br><br>Sesuai intruksi, hari ini pembelajaran dimulai dengan menyelesaikan soal-soal aljabar (sebagai informasi matematika UN terbagi dalam 4 bagian). Namun, mungkin karena ini matematika maka siswa akan merasa "ngambang" jika penjelasan hanya via tulisan, maka sepertinya siswa lebih memilih berselancar sendiri lewat search engine untuk mencari penjelasan, akhirnya banyak yang hanya bertanya "nomor... Jawabannya... Ya bu?".. Its ok, saya anggap itu bagian dari budaya literasi dan sikap mandiri. Pun di RPP sering tertulis "siswa mencari bahan belajar dari sumber manapun". <br><br>Alhamdulillah pembelajaran berjalan lancar, semua pekerjaan siswa terkumpul. Untuk Sweden, Amanda Fayra Hasny sangat berperan dalam mengumpulkan pekerjaan teman-temannya. Terimakasih Manda. <br><br>***<br>Pukul 09.50 saya melompat ke tetangga sebelah, XII IPA Equador. Dengan sapaan yang sama dan skema pembelajaran yang tidak jauh berbeda. Semangat dan respon yang baik juga ditunjukkan oleh anak-anak. <br><br>Kelas lebih sunyi, semoga semua siswa sedang sibuk mencoret-coret kertas untuk menyelesaikan soal. Menyelesaikan soal matematika memang butuh fokus yang tinggi. Ehem..<br><br>***<br>Lanjut lagi, 11.40 saya terbang lagi ke XII IPA United Kingdom.. Jujur mulai sedikit lelah, menatap layar dari pukul 08.00 tanpa jeda. Ditambah panggilan wajib dari luar "maammaaah".. <br><br>Baiklah, mengajar sambil menggendong bayi mungkin bukan hal yang buruk. Dan ternyata respon anak UK justru mengubah lelah ini menjadi semangat kembali.. Yak, diskusi berjalan baik ditambah joke ringan dari beberapa siswa. <br><br>"Bu, izin ke toilet yaa" receh memang, tapi membuat kelas lebih hidup. <br><br>Pukul 13.10 tugas siswa mulai terkumpul satu persatu dan siap untuk dikoreksi.<br><br>Alhamdulillah pembelajaran maya hari ini selesai, semoga maksimal, efektif dan efisien.. Chayoo anak-anak, semoga persiapan menuju UN ini membuat kalian nantinya benar-benar siap. Aamiin.. <br><br>Salam Sukses, Manisha :-) </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/109866690/30d60abb969c38b191e54cd9c514cfaa/Screenshot_2020_03_20_08_19_56_872_com_google_android_apps_classroom.png" />
         <pubDate>2020-03-20 03:55:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/467247907</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelas Online Sebuah Solusi Untuk Tetap Belajar</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/467251664</link>
         <description><![CDATA[<div>Rabu tanggal 18 Maret 2020 hari pertama saya mengasuh kelas online. Sebuah kelas yang tercipta sebagai wujud kerjasama dengan Pemerintah untuk menjalankan social distancing. <br><br>Kelas yang dibuka di <em>google classroom</em> (gc) agak telat karena Laptop yang tiba-tiba bermasalah, namun opening sudah saya lakukan di gruop WA. Kelas mapelilihan UN digunakan untuk membahas soal-soal UN. <br><br>Pada pertemuan ini 6 soal terbahskan, soal yang terdiri dari materi kelas 1dan 2 yang mengharuskan siswa mereview materi sebelum menjawab soal tersebut. Namun saya tidak memberikn msteri, siswa diminta untuk menjawab soal yang kemudian dibahas dengan meminta siswa memposting jawabannya di gc. <br><br>Meskipun hanya 4 siswa kelas berlangsung interaktif. Setiap postingan dan respon yang diberikan siswa pasti saya berikan feedback positif sebagai wujud apresiasi terhadap usaha yang mereka tunjukkan. <br><br>Sesi ini juga saya manfaatkan untuk mengajak siswa untuk tetap semangat dan berdoa smg dijauhkan dari musibah..manfaatkan social distancing dengan tetap memdekat kepada Allah.<br><br>[Sarlivanti, S.Pd., M.Pd.]</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet.com/padlets/8x7h9cdyison" />
         <pubDate>2020-03-20 04:05:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/467251664</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tantangan Kelas Online</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/467268149</link>
         <description><![CDATA[<div>Jumat tanggal 20 Maret 2020 merupakan hari kedua kelas online yang saya jalani,  sebelumnya saya menyapa siswa di grup WA pukul 09:37, terpikir oleh saya untuk menyapa lebih awal untukmengingatkankelas, ternyata saya salah, kelas hari ini dimulai pukul 09.20, alhasil kelas terlambat dimulai. Saya meminta maaf kepada anak-anak karena kelalaian saya.<br><br>Kelas dimulai dengan salam dan basmallah, dilanjutkan dengan mengabsen, dan ternyata ada 1 siswa yang kehabisan kuota sehingga terlambat dalam memulai kelas, sebuah tantangan tentunya, lain pula dengan tantangan yang saya alami, di saat yang sama saya juga harus mendampingi kedua putra saya yang juga memiliki kelas online. Tentu membutuhkan waktu dan tenaga ekstra, semoga kondisi ini segera berlalu.<br><br>Baik saya akan menceritakan pengalaman mengajar hari ini, kelas saya mulai dengan memberikan pertanyaan terhadap sebuah fenoimena yang pernah dipelajari dulunya di semester 1, saya meminta semua siswa memberikan respon, alhamdulilah emuanya masih ingat, barukemudian dilanjutkan dngan menjawab soal prediksi UN no 7, steah semua siswamemberikan jawabn dan penjelasan baru kemudian saya memberikan materi sebagai bentuk review. <br><br>Hal yang sama dilakukan untuk soal no 8. Nah pad soal ini muncul sedikit diskusi yang panjang krn bingung dengan pertanyaan yang terdapat di soal tersebut. Beberapa kali saya posting penjelasan untuk membuka wawasan terhadap pertanyaan tersebut. <br><br>Kelas ditutup pukul 11:44 , saya lupa dengan kelas yang harusnya sudah diakhiri pukul 10:20. Anggaplah ini sebagai penebusan karena kelas telat dimulai.<br><br>[Sarlivanti, S.Pd., M.Pd]</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet.com/padlets/8x7h9cdyison" />
         <pubDate>2020-03-20 04:57:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/467268149</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelas Penguatan UNBK Fisika, InsyaAllah Anti Wabah Korona</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/467272296</link>
         <description><![CDATA[<div>Pagi menjelang siang tepatnya pada hari rabu pukul 09.50-11.20 wib saya mengajar kelas online pada mata pelajaran pilihan fisika, inilah pengalaman perdana saya mengajar kelas daring.  detik menjelang waktu kbm perasaan pertama muncul apakah siswa ku nanti akan merespon dengan baik pembelajarannya atau sebaliknya. namun perasaan itu saya abaikan, langsung saya buka kelas online lewat google classroom. <br><br>Tepat pukul 9.50 wib kbm dimulai, belum pun saya menyapa,  langsung terlihat komen dari siswa yang bernama ibaadurrahman yang sedang mengabsenkan diri “hadir”. Kemudian disusul dengan reza, zahwa, gaitsa, rahma, dan oja mengabsen diri juga  “hadir buk”. Namun saya mencoba mengecek group fisika berapa orang sudah joins, rupanya sudah mencapai 26 orang, padahal Cuma 12 siswa yang ambil pelajaran pilihan fisika. wow kenapa banyak sekali yang masuk  kelas fisika? Pasti ada 2 kemungkinan. <br><br>Pertama beberapa siswa salah masuk group mata pelajaran fisika, yang kedua  memang sudah rindu dengan kbm bu zawa karena udah beberapa hari tidak jumpa,,wkwkw,. Lalu saya <em>attention</em> digroup tersebut untuk keluar dari kelas fisika bagi siswa yang tidak memilih pelajaran fisika, silahkan kekelas pilihan yang lain biologi kah, atau kimia kah. <br><br></div><div>Namun waktu pun berjalan dan selanjutnya saya memberikan intruksi bahwa soal yang sudah ibu berikan silahkan dipelajari dan dibahas selama waktu 2 jp, untuk hari ini dibahas dulu soalnya dari no 1-13 disertai pembahasannya dan setelah selesai dikirem lagi digroup ini, selanjutnya akan ibu koreksi.  <br><br>Setelah intruksi disampaikan aktifitas digroup berasa hening, tak seorang siswa pun menjawab “iya”, mungkin, sangking semangat melihat soal dan langsung mencoba menjawab 13 soal dengan membuka  berbagai buku saku, buku wangsit dan bisa jadi mbah google sasaranya, tapi tidak saya persoalkan, karena siswa pada saat ini belajar mandiri dengan ditemani buku pegangannya. <br><br>Waktu pun berlalu, tiba-tiba Dea muncul langsung menanyakan soal no 6 gimana cara penyelesaiannya buk? Langsung saya komen: no 6 tentang materi gravitasi nak, silahkan pelajari lagi yaa, dan gaitsa pun muncul dengan pertanyaan tentang no 6 juga, bu rumus untuk no 6 gini yaaa, (g1/g2=r1/r2) ?, langsung saya jawab: benar gaitsa, silahkan dilanjutkan ya,,dalam hati terbersit” siswaku sangat antusias ini” sambil tersenyum, dan lagi disusul pertanyaan dari rahma, buk soal no 4  gimana? Owh saya makin semangat menjawabnya, langsung saya jawab: no 4 tentang gerak melingkar rahma,  tepatnya materi GMBB, silahkan dibuka lagi buka pegangannya ya nak!. <br><br>Waktu sudah berjalan 60 menit, saya intruksikan lagi, ayo nak, waktunya mau habis, siapa yang sudah selesai menjawab soal sudah bisa dikirem yaa, ibu akan mengoreksi jawabannya. <br><br>Rupanya dalam hitungan beberapa menit taraaa! Zahwa dan gaitsa sudah mengirimkan jawabannya, disusul rahma juga.  Karena waktu pun mau selesai, tiba-tiba reza muncul dengan pertanyaannya terkait soal no 6, mungkin reza belum dapat jawabannya. <br><br>Dan langsung saya jawab, tak lama kemudian selang 3 menit reza pun mengirimkan jawabannya.  Diakhir kbm saya ingatkan sekali lagi bahwa, bagi yang belum mengirimkan jawaban, tolong diselesaikan seberapa yang siap saja dulu. Besok boleh dicicil lagi, saya ucapkan terimakasih kepada zahwa, gaitsa, rahma, hafis, sayed, reza, oja, yang sudah berpartisipasi aktif dan dapat menjawab sebanyak 13 soal dalam waktu 2 jp  dalam pembelajaran hari ini dikelas daring fisika.  <br><br>Inilah pengalaman perdana saya dikelas daring, mudah-mudahan siswa tetap semangat dalam belajar walaupun kita tidak tatap muka. see u next time my beloved student. <br><br>Yang Mencintaimu, Zawahir, S.Pd.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/460785973/1026d0bad7f744fe746e7c668f82ce9c/WhatsApp_Image_2020_03_20_at_14_25_36.jpeg" />
         <pubDate>2020-03-20 05:11:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/467272296</guid>
      </item>
      <item>
         <title>UTS #dirumah aja... Ya Gak Apa-apa Kok</title>
         <author>meichitameichi</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/467485217</link>
         <description><![CDATA[<div>UTS adalah ujian tengan semester yang dilakukan saat pertengahan semester guna untuk melihat bagaimana pencapaian nilai pada setiap semester. <br><br>Matematika wajib adalah pelajaran langganan untuk ujian hari pertama dilaksanakan, dan ini yang membuat saya trauma, karena pernah gagal saat melakukan <em>e-learning, </em>saat anak-anak akan mengakses untuk <em>log-in</em> tiba-tiba <em>server down</em>, dan saya sangat was-was untuk ujian kali ini, namun kurikulum saya memberi tahu kita menggunakan <em>google classroom</em> jadi saya sedikit lega, tidak ada istilah gagal kecuali abis kuota. Heheh...</div><div> </div><div>Saya mempersiapkan soal dan sudah diupload ke <em>google classroom</em>, daan taraaaaaa...</div><div>Soal sudah selesai, saya sudah lega, dalam hati, tinggal menunggu hari senin ni.</div><div> </div><div>Keesokan harinya..</div><div>UTS kali ini berasa berbeda, masih menggunakan sistem <em>online</em> tapi dilakukan dirumah sendiri, alasannya adalah...</div><div> </div><div>Pada minggu malam, dimulainya dari sore, grup penuh dengan percakapan bahwa sekolah akan diliburkan, grup sma, grup guru hebat, grup orang tua, grup slovenia, grup wali kelas, grup hahahihi, semua grup tidak henti-hentinya masuk pesan, sampai malam hari, kami tidak sabar menunggu hasil dari sekolah sukma apakah libur???</div><div>Malam itu sangat <em>crowded</em>, Pak Zubir selaku kepala sekolah sekaligus Pjs Direktur sekiranya tidak sedetikpun terlepas hp ditangan beliau, selalu <em>online</em>, dan selalu membalas apa yang menjadi pertanyaan guru-guru, dan kami disuruh untuk bersabar.</div><div><br>Ditengah menanti jawaban pun para siswa juga sibuk membuat <em>hoax</em> yang bermacam-macam, aaaaah anak-anak begitu kreatif, tapi itu salah yaa !!! <strong>tidak untuk ditiru</strong> !</div><div> </div><div>Tepat pada pukul 20.30 Pak Zubir memberikan keputusan bahwa kegiatan pembelajaran di Sekolah Sukam Bangsa Lhokseumawe dilaksanakan di rumah masing-masing.<br><br></div><div>Aaaaaaaah anak-anak pecah, mereka senang karena libur. Namun saya pribadi tidak senang, karena liburnya dalam keadaan musibah yang sedang melanda dunia kita yaitu <em>Covid-19</em>. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiinn...</div><div> </div><div>Keesokan harinya...<br><br></div><div>Tadaaaaa...<br><br></div><div>Tiba waktunya kami mendiskusikan terkait UTS.<br><br></div><div>“Naaaah kan gagal uts seninnya, upppps bukan gagal tapi ditunda...”</div><div>Yhaaaa... Setelah kami melaksanakan <em>general meeting</em> dan sudah ada hasilnya saya kembali melakukan revisi soal sesuai dengan konsep <em>open book</em>, yang bersifat menganalisis agar tidak terjadinya kecurangan.</div><div> </div><div>Oke....<br><br></div><div>Selasa pun tiba, pukul 09.00 UTS matematika wajib pun dimulai. Dengan hati dag did dug, perasaan tidak karuan, UTS pertama dan yang pertama dilakukan dirumah pun dimulai...</div><div> </div><div>Babak baru dimulai guys... :D</div><div>UTS sedang berlangsung dibenak saya berfikir “aaaaah, pasti anak-anak bisa jawab semua ni, paling 1 atau 2 orang yang remedial tidak seperti biasanya”.<br><br></div><div>Detik ke menit ke jam dan selesailah UTS, dengan hp saya tidak henti-hentinya masuk pesan wa, anak-anak pada curhat,</div><div>“Buuuu, ulang UTS nya L</div><div>“Buuu, sedikit waktunya</div><div>“Buuuu, Abis KUOTA :D</div><div>“Buuuuu, gak bisa jawab L<br><br></div><div>Semua alasan tertuang dari kelas X sampai kelas XI, ada 6 kelas saya mengajar dan hampir setengah pesan WA yang masuk, yang lulus KKM sih aman, dan mereka senang. Sedangkan yang tidak aman mulai cemas.<br><br></div><div>Sempat saya menjawab karena tidak sangup lagi rasanya jari jemari saya membalas satu persatu, karena rebutan hp sama anak di rumah :D</div><div>“Padahal soal itu ada di latihan”</div><div>“hahahah kan ga liat catatan buk”</div><div><br>Waaaww... saya <em>speechless</em> saya terhuraaa, uppps maksudnya terharu dengan jawaban anak itu, yang mewakili anak-anak lainnya. Anak-anak sukma memang hebat, jujur-jujur saya bangga sama mereka. <br><br>Ujian ya ujian tidak ada cerita menyontek, mau ujian ada pengawas atau pun tidak semua sama, karena pengawas sesungguhnya adalah Allah SWT dan sebelah kanan dan kiri malaikat siap untuk mencatat segala amalan. <br><br>Mau nilai sedikit atau remedial tidak masalah yang penting kejujuran no 1.</div><div>Dan wa terakhir masuk.</div><div>“Buuuu, Remed buuuuuu  L</div><div>“hehehe... baiklah setelah UTS semua selesai kita remedial yaaa”</div><div> </div><div>Saya sudah membuat kelas <em>online</em> untuk remedial di <em>google classroom</em>.<br><br></div><div>Oke sekian cerita saya di kelas UTS <em>online</em> #dirumahaja selanjutkan kelas remedial, pasti ada cerita menarik, nanti kita share lagi ya...</div><div> </div><div>Dari Bu Meicy guru matematika mu ^_^ yang selalu mencintaimu. Lop yu poreper. </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/460785973/b857ad9804746b4496c8637e5de72b6e/WhatsApp_Image_2020_03_20_at_16_51_24.jpeg" />
         <pubDate>2020-03-20 09:46:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/467485217</guid>
      </item>
      <item>
         <title>COVID-19 Bukan Penghalang Bagi Pejuang Masa Depan</title>
         <author>fauzaazima87</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/468654931</link>
         <description><![CDATA[<div>Rabu, 18 Maret pukul 09.50 dimana hari pertama saya melakukan proses belajar mengajar.  Tidak seperti biasanya, disebabkan penyebaran pandemik virus Corona (COVID-19) di Indonesia membuat pemerintah pusat memutuskan untuk merumahkan siswa dan menerapkan metode belajar dengan sistem jarak jauh atau <em>remote learning</em>. <br><br>Atas arahan pemerintah pusat SMAS Sukma Bangsa menerapkan sistem belajar mengajar via <em>online </em>atau daring (dalam jaringan).<br><br>Dengan berpenampilan seadanya layaknya ibu rumah tangga dan didukung dengan rasa penasaran, saya tidak sabar rasanya ingin bertegur sapa dengan mereka para pemimpin masa depan yang sekarang sedang berjuang untuk mencapai impiannya,. <br><br>20 menit sebelum kelas dimulai saya sudah duduk manis di depan laptop dan sempat terbesit keraguan dibenak saya, “apakah proses belajar mengajar akan berjalan efektif seperti biasanya?”.<br><br>Diluar dugaan akhirnya waktu yang dinanti pun tiba, tepat pukul 09.50 kelas di buka, walaupun merasa sedikit canggung dengan situasi yang tidak biasa ini,  pun demikian di awal pertemuan saya dengan sigap menyapa siswa-siswi saya dengan penuh cinta.<br><br>“ Hai-hai... Selamat berjumpa di Kelas ONLINE BIOLOGI bersama BU Oja, Semoga kita selalu diberi kesehatan dan tetap semangat lalui hari-hari yang penuh kejutan “<br><br>Bak gayung bersambut, siswa pun antusias merespon sapaan dari saya, terlihat beberapa siswa yang sudah lebih dulu hadir , berlanjut yang lainnya bermunculan dengan membalas sapaan saya. Ada siswa yang membalas sapaan “Hadir Bu”, Ada juga siswa yang membalas sapaan “Amiin Bu”, ada juga siswa yang mengeluarkan kata-kata candaan seperti “Bu izin mau ke toilet ya" bolehlah untuk mencairkan suasana.<br><br>Tanpa berbasa basi lagi saya pun menginstruksikan mereka untuk mengerjakan latihan soal UN dari materi yang sudah dipelajari di kelas 1 dan 2,  suasana pun menjadi hening, siswa  dengan semangat menjawab soal-soal yang saya berikan. Kendala pun muncul, koneksi internet saya hilang sehingga membuat interaksi saya dengan siswa terputus. <br><br>Namun, itu bukan suatu kendala bagi siswa, mereka terlihat antusias menjawab soal-soal yang saya berikan, hanya 2 orang siswa yang tidak memposting karena tidak ikut bergabung di kelas nontatap muka. <br><br>Tidak sempat memberikan penguatan soal dari hasil mereka, disebabkan waktu  sudah menunjukkan pukul 11.20, Penguatan soal akan dilanjutkan pada pertemuan selanjutnya.<br><br>Diakhir penutup saya mengajak siswa untuk selalu menjaga kesehatan agar terhindar dari penyakit  membahayakan yang sedang mengencam Negeri tercinta. Semoga dipertemuan selanjutnya dengan kondisi yang tidak seperti biasa ini,  tidak lantas menyurutkan motivasi mereka untuk belajar dan lebih siap menghadapi UNBK dan USBN yang sudah di depan mata.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/460785973/0fd1d674ece1fe4897bc968f0f0a2dc5/PhotoCollage_20200321_132135089.jpg" />
         <pubDate>2020-03-21 02:54:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/468654931</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Solusi Matematika Dalam Serangan Corona              </title>
         <author>ernitaabdullah90</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/468759903</link>
         <description><![CDATA[<div>(Refleksi Pembelajaran Matematika Wajib Kelas XII IPS)<br><br>Tak terbayangkan sebelumnya, kondisi belajar di kelas akan  berpindah ke rumah masing-masing siswa dan guru. Hal ini terjadi setelah Dinas Pendidikan Aceh resmi mengumumkan bahwa sejak 16 sampai dengan 28 Maret kegiatan belajar di setiap sekolah dilaksanakan di rumah masing-masing, tak terkecuali Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. <br><br>Hal tersebut dilakukan dalam upaya meminimalisir penyebaran Covid-19 yang sedang viral namanya di setiap media saat ini dan sangat ditakuti karena telah merenggut ribuan jiwa.<br><br></div><div>Dalam menindaklanjuti himbauan tersebut, Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe telah melaksanakan kegiatan pembelajaran berbasis <em>online</em> via <em>Google Classroom</em>. Aplikasi tersebut langsung ditetapkan oleh Kepala Sekolah SMA Sukma Bangsa Bapak Zubir, S.Si. Beliau juga merupakan kakak letting saya di  FMIPA Universitas Syiah Kuala B. Aceh. <br><br>Media belajar <em>online </em>yang sudah akrab di kalangan guru dan siswa, sehingga tidak menjadi beban yang berarti dalam melaksanakannya. Tantangan yang luar biasa bagi saya adalah pelaksanaan kali ini dilakukan di rumah, dikarenakan saya ditemani oleh tiga orang asisten yang luar biasa kreatif dan selalu penasaran dengan benda yang namanya HP atau Laptop. <br><br>Setiap kali saya membukanya maka ada tiga tangan yang ikut rebutan membantu, namun kali ini dengan segala upaya dan tipu daya akan saya redam mereka, demi terlaksanya pembelajaran via <em>online </em>secara maksimal. Akan tetapi terfikir di benak saya, kira-kira persentase efektifitas pembelajaran via <em>online</em> berada di bawah 50% ataukah di atasnya ? Lebih-lebih pembalajaran matematika yang kadang kala bertatap muka langsung saja belum tentu semua siswa dapat memahami sepenuhnya. Konon tanpa tatap muka, apa yang terjadi…???<br><br></div><div> *** <br>Sebagaimana banyak orang tahu bahwa matematika tidak boleh dipisahkan antara lembar kertas oret-oret dengan pulpen yang digunakan hampir setiap kali selesai memahami soal-soal matematika. Bagaimana nanti saya bisa memastikan kalau jawaban mereka benar-benar dari tulisan mereka sendiri dan tidak meneruskan punya orang lain ?<br><br></div><div> Lalu saya putuskan untuk “<strong>Positive Thingking Is Better Than Guessing That Something Is Uncertain</strong>” (Berfikir Positif Lebih Baik Daripada Menduga-Duga Sesuatu Yang Belum Pasti Terjadi). Ini adalah kondisi <em>emergency.</em> Dalam kondisi<em> emergency</em> seperti saat ini apa yang diputuskan oleh Sekolah Sukma Bangsa harus kita dukung dan laksanakan sebaik mungkin demi keselamatan dan kebaikan bersama. <br><br>Ini juga sebagai ajang uji kompetensi dan kreatifitas guru dan murid Sukma Bangsa sehingga berapapun persentasenya sudah sangatlah luar biasa. Walau berbagai kemungkinan upaya <em>cheating</em> akan terjadi, namun posisi belajar saat ini adalah untuk mendalami pemahaman materi sebagai persiapan UN dan USBK yang di ambang pintu... <br><br></div><div>*** <br>Tak lama kemudian, masuk pesan dari kurikulum tentang jadwal  pembelajaran di kelas XII yang berbasis <em>online</em>. Ternyata esoknya Selasa, 17 Maret 2020 tepatnya jam 08.00 perdana kelas <em>online</em> saya di Barbados. Langsung saja bergegas mempersiapkan rencana KBM yang diawali dengan membuat kelas baru di <em>Google Classroom.</em> <br><br></div><div>*** <br>Rasa tak sabar ingin mengamati proses KBM yang terjadi di kelas via <em>online</em> perdana hari ini. Pagi menunjukkan pukul 07.30 yang sudah siap menidurkan kembali <em>my beautiful baby girl</em> setelah usai dimandiin sekitar jam 06.30. Sementara dua pemuda kecilku belum terbangun. Ahaaa……semoga saja mereka berdua (abang adek) tertidur lelap hingga berakhir kelas pertama yang penuh penasaran. <br><br>Waktu terus berjalan dan bersisa 5 menit lagi, bersiap-siap HP di samping dan ditemani sepiring nasi goreng special ala <em>my Husband</em> dan segelas air putih hangat. <br><br></div><div>Tiba-tiba…..ting…ting…ting…notifikasi pesan masuk yang mengalihkan perhatianku ke Barbados di <em>Google Classroom</em>. Hmmm siswi yang pernah berwalikelas dengan diriku muncul pertama di kolom komentar dengan sapaan “hadir buk”, Fathya Alifya. Terus selang beberapa menit kemudian disusul dengan siswa lainnya, dan begitu pukul menunjukkan 08.15 saya menyapa yang lainnya, “Yuks diabsen dulu bagi yang sudah bergabung !”. Beberapa siswa kembali menyusul hingga 19 siswa yang dianggap hadir pada kegiatan KBM pertama.<br><br></div><div>Kembali saya mengingatkan siswa-siswinya, “Neuk,,,jangan lupa awali kegiatan kita hari ini dengan doa sebelum belajar ya…. dan senyuman terindah yang bisa membangkitkan semangat belajarmu,,,terus apa sudah sarapan semuanya ? Kalau belum, silakan bersarapan sambil melihat petunjuk tugas hari ini”. <br><br>Petunjuk tugas hari pertama KBM yang tertulis di dinding tugas yaitu siswa <em>browsing</em> secara mandiri pembahasan soal-soal UN tentang materi “Pangkat Rasional” dengan durasi 45 menit di awal dan siswa mencoba menyelesaikan soal-soal yang berkaitan pada durasi 45 menit terakhir, soal terlampir dalam <em>microsoft word file</em>. Siswa mengirimkan hasil penyelesaian soal via gmail dengan tulisan tangan masing-masing sebanyak 3 soal (category soal c3).<br><br></div><div>Ternyata mereka di luar dugaan saya. Tak lama kemudian beberapa siswa menanyakan tentang benar atau tidak tentang penyelesaian yang sudah ditempuh untuk soal nomor 1 via <em>WhatsApp</em>, dan ternyata setelah saya amati terdapat sedikit keliru di langkah paling terakhir bagian menyederhanakan bentuk operasi pecahan sehingga tidak menemukan jawaban akhir. <br><br>Di tengah keterlenaanku terbawa dalam pengamatan proses KBM yang sedang berlangsung, tiba-tiba terdengar suara bayi menangis dalam ayunan pertanda perhatianku harus beralih sesaat untuknya. Beberapa menit berlalu, ku meneruskan siswa yang buntu pada langkah terakhir hingga selesai. <br><br>Siswa terlihat sangat puas dan bahagia dengan kata-kata “ooo..iya ya buk, saya paham…sekarang, terimakasih banyak ibuk”. Begitu halnya dengan <em>chattingan</em> siswa Abidzar Alghifari dan beberapa lainnya via <em>WhatsApp</em> tentang benar atau tidak cara penyelesaian yang sudah dikerjakan dari soal-soal tersebut.<br><br></div><div>Proses belajar ini terus berlangsung dengan interaksi yang aktif hingga semua jawaban terkumpul sesuai dengan target yang ingin dicapai. Kadang kala sesuatu hal yang diragukan bisa memberikan hasil yang lebih baik dari biasanya, mungkin hal ini dipengaruhi oleh kondisi dan situasi yang berbeda. <br><br>Akhirnya KBM pertama selesai dengan komentar terakhir “Terimakasih banyak neuk ya…..bagi yang sudah bergabung hari ini, semoga semua kita dan keluarga dijauhkan dari penyakit yang membahayakan, aaaminnn, mari kita akhiri dengan <em>hamdalah</em> dan doa <em>kaffaratul majlis</em> secara nafsi-nafsi. Oya pesan ibu, untuk pertemuan selanjutnya kita kan bahas tentang Sistem Persamaan Linear Dua Variabel, sipakan diri kalian okay…”. <em>See next time</em>…. Wassalam, begitu sapaan di penutupan kelas hari pertama.<br><br></div><div>Tak berbeda proses KBM yang terjadi pada kedua kalinya hari Kamis, 19 Maret 2020 di waktu yang sama yaitu 08.00 WIB. Siswa berhadir 85% dengan waktu yang bervariasi, dan sisanya tanpa keterangan, ini bisa jadi dipengaruhi beberapa faktor antara lain: belum terbangun dari tidurnya, beberapa masih di kamar mandi, dan lain sebagainya. Hingga akhir kegiatan, semua jawaban terkumpul dengan rapi di kotak masuk via <em>gmail</em>. <br><br>Hanya saja kali ini tidak ada siswa yang menanyakan secara detail tentang pembahasan soal-soal, namun semua yang berhadir mengumpulkannya sesuai instruksi di kotak masuk <em>gmail </em>dan jawabannya benar. <br><br></div><div>Harapannya semua siswa dapat memahami bahwa pentingnya menuntut ilmu walau dalam kondisi bagaimanapun, sehingga pihak sekolah selalu mencari alternatif yang bisa dilakukan dengan tujuan belajar tetap dapat dilaksanakan. Sesuai dengan firman Allah tentang keutamaan dalam menuntut ilmu dalam QS. Al-Mujadilah [58]: 11.</div><div><br></div><div><strong>…</strong>يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ..<br> </div><div><em>“…Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” </em><br> </div><div>Tak hanya siswa sebagai pelajar, namun guru sebagai pendidik yang terus belajar dan mengajar juga bagian dari orang-orang yang Ditinggikan dan Diangkat derajatnya Oleh Allah SWT. Yuks terus semangat….siswa dan guru-guru hebat Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. <br><br>Wassalam….</div><div>Ernita, S.Si. </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/485390123/d73ebfe8d9f098018a7a569ad8bbb8c6/tugas_yg_dikumpulkan.jpeg" />
         <pubDate>2020-03-21 09:31:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/468759903</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Refleksi Pembelajaran Bahasa Inggris 17 Maret 2020 </title>
         <author>ihsanumraity</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/468805652</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada hari selasa, 17 maret 2020. Adalah hari pertama saya mengajar secara online untuk penguatan materi bagi siswa – siswi kelas XII SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe. Kelas saya dimulai jam 8.00, namun karena ada beberapa kendala, kelas harus bergeser 30 menit sampai saya menumukan tempat untuk online yang aman dan tenang. <br><br></div><div>Kelas pertama yang saya asuh hari itu adalah kelas XII Aquador. Untuk kelas dari Amerika Selatan ini saya memberikan materi Teks transaksional pendek terkait meminta dan memberikan saran dan pendapat. Saya memilih materi ini untuk review karena teks jenis ini selalu muncul di ujian terutama dalam pertanyaan dalam ranah listening.<br><br></div><div>Oke guys, Kelas dimulai...<br><br></div><div>sepert i biasa, saya menyapa siswa. Halloo everyone, How are you, say hi  to make sure you are with me... dan seterusnya.<br><br></div><div>Kemudian, satu persatu anak – anak muncul dan menyapa balik. I am fine Sir, I am present sir. Setelah beberapa saat hampir semua siswa muncul. Kemudian saya memberikan materi beberapa teks tentang meminta dan memberi saran atau pendapat. Anak- anak saya tugaskan untuk menelaah bermacam – macam  expresi  yang berbeda yang digunaka didalam text. <br><br>Setelah ditelaah siswa mengirimkan hasil kerja mereka diseksi yang tersedia digoogle classroom. Dan saya memberikan feedback saat diperlukan.  Siswa pertama yang mengirimkan feedback adalah siswa yang unik yang bernama Sayed Ali Sajad. <br><br></div><div>Saya menutup kelas, thats great guys, see you again.<br><br></div><div>Kemudian dijam kedua, saya beralih ketanah Britania untuk mengasuh kelas XII United Kingdom. Dikelas ini saya memberikan materi tentang explanation text. Anak – anak diharapkan memahami tujuan,  generik structure dan unsur kebahasaan dari teks eksplanasi.<br><br></div><div>Hello everyone, begitu saya membuka kelas. Tak perlu menunggu lama anak lansung muncul dengan balas menyapa satu persatu. Tak perlu banyak introduction, Saya lansung memberikan teks explanasi baserta pertanyaan terkait teks. Setelah membaca anak – anak lansung memberikan jawaban mereka satu persatu. <br><br>Saya mengereksi beberapa jawaban, namun secara keseluruhan anak – anak bisa menjawab pertanyaan dengan benar. And the class is over.<br><br></div><div>Setelah beristirahat 30 menit. Tibalah kita dikelas selanjutnya. Kali ini kita beralih ke kelas XII Sweden. Setelah menyapa dan memastikan anak – anak sudah terlibat dipembelajaran. <br><br>Saya memberikan materi, masih dengan materi yang sama dikelas sebelumnya yaitu tentang teks eksplanasi. Kita berdiskusi tentang tujuan teks eksplanasi dan kemudian membahas soal – soal terkait teks. Kemudian kelas saya tutup great work guys, see you again next time. <br><br></div><div>Setelah mengajar  di tiga kelas itu, saya mengamati  dengan banyaknya respon anak – anak ddikomen section bahwa kebanyakan anak – anak bisa terlibat dalam pembelajaran dan memahami pelajaran dengan baik.<br><br></div><div>(Ihsan Umraiti. Refleksi pembelajaran online bahasa inggris dikelas XII Equador, UK, and Sweden)</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-03-21 10:41:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/468805652</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Refleksi Pembelajaran 18 Maret 2020</title>
         <author>fitryadhi88</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/469727504</link>
         <description><![CDATA[<div>Hari pertama mengajar dengan tampa bertatap muka dengan siswa, khususnya kelas XII Barbados. Tepat Pukul 11.50 jadwal pembelajaran berlangsung. Salam pembuka disampaikan, apa yang terjadi? <em>no respont</em>... wow!! rasanya seperti menyapa seseorang tapi tidak digubris.<em> Its ok this is a fist time</em> untuk kelas <em>online, </em>Plus sekolah terpaksa diliburkan karena fenomena yang sedang <em>ngehit</em> saat ini <strong>VIRUS CORONA.<br><br>****<br>"</strong>Hadir Pak" reponden pertama setelah entah berapa menit dinantikan, sepontan "aaiii...satu orang ajee" gumam saya. kemudian apa yang terjadi?? Yups... barulah respon berdatangan. Total 14 dari 24 orang siswa yang hadir pada kelas online hari itu.<br><br>Pun demikian, niat tulus untuk menyiapkan generasi bangsa tetap dilanjutkan demi kesuksesan para siswat dengan target minimal di depan mata adalah UN. Secara tuntutan kurikulum, materi terakhir yang harus diajarkan untuk siswa kelas XII yaitu Kearifan Lokal dan pemberdayaan komunitas. <br><br>secara Jadwal reguler Tatap muka, materi ini dipastikan tidak dapat tersampaikan kepada siswa, meningat begitu padatnya jadwal kegiatan sekolah maupun kegiatan khusus untuk kelas XII itu sendiri. Untuk itu pada pertemuan kelas maya ini saya berkesempatan untuk menuntaskan materi tersebut.<br><br>****<br>Diakhir sesi siswa diminta untuk mengerjakan soal latihan, dengan harapan siswa mampu menjelaskan tentang kearifan lokal itu sendiri. kelas maya sebagai pengganti kelas reguler ditengah kegundahan akan penyebaran virus corona, diharapakan mampu dimanfaatkann oleh siswa dengan baik. setidaknya itulah yang tergambarkan dari respon siswa-siswi yang berpartisipasi pada kegiatan hari ini.<br><br>SEKIAN. <br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/460785973/a4ea54f4ac86bcc02a37a3a4ef0fd578/PhotoCollage_20200323_115950440.jpg" />
         <pubDate>2020-03-22 15:16:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/469727504</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hikmah Dibalik Mewabahnya Corona</title>
         <author>cangpanah</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/470464939</link>
         <description><![CDATA[<div>Oleh: Fauziyani, S. Pd. <br><br>Tahukah kamu arti dari Corona itu teman? Dahulunya saya mengajarkan kepada anak-anak kalau corona itu adalah lapisan matahari terluar yang bisa kita lihat dengan menggunakan mata telanjang, corona memancarkan cahaya yang terang-benderang. <br><br>Tetapi sekarang menjadi ngetrand nama “Corona yang artinya Mahkota virus” salah satunya adalah jenis virus Covid-19 , virus Covid-19 ini membuat manusia ketakutan setengah mati, makhluk kecil yang tidak bisa kita lihat secara kasat mata.<br><br>Semenjak Corona ini ditetapkan sebagai Pandemi secara global, negara maju dan termasuk negara Adikuasapun getir ketakutan karena belum bisa mengatasi, sejenak ternyata virus ini bisa menghancurkan kesombongan manusia dimuka bumi ini. Sejatinya tidak ada kekuatan dan kekuasaan melaikan  milik Allah SWT semata.<br><br>Indonesia negara kesekian kalinya mengumumkan bahwa telah ada masyarakat yang terinfeksi  virus covid-19 ini bahkan ada yang sudah meninggal. <br><br>Kecemasanpun datang dari berbagai kalangan, tak terkecuali dari kalangan pendidikan. Tiba-tiba saja Presiden RI Joko Widodo mengumumkan  mulai dari tanggal 16-30 Maret 2020, masyarakat Indonesia harus bekerja, belajar dan beribadah di rumah , serta berinteraksi secara Social Distancing upaya menghentikan Epidemi  penularan virus covid-19 tersebut. <br><br> Hal ini membuat sekolah-sekolah menerapkan sistem Work From Home (WFH)   untuk guru dan untuk siswa sistem belajar dan ujian online dengan  menggunakan WA, google clasroom, E-learning dan sebagainya. Belajar dan ujian online ini bukan hal baru untuk Sekolah SMAS Sukma Bangsa Lhokseumawe. <br><br> Fix hari  Selasa  tanggal 17 Maret 2020 anak-anak mulai  belajar dan ujian online, dan sayapun ada jadwal di kelas XII IPS Barbados, berhubung ada sedikit masalah dengan laptop jadi saya menggunakan HP dengan menggunakan aplikasi WA. <br><br>Pagi jam 09.00 WIB Saya bersiap untuk mentransfer ilmu geografi yang saya miliki untuk “Pasukan Hijau Tosca” begitu saya menyebut mereka, karena ilmu akan abadi tak akan lekang dan tak akan hilang ditelan waktu. <br><br>Terlepas dari kewajiban saya sebagai guru dalam situasi mencekam dengan mewabahnya pandemi Corona.<br><br> Mungkin kita sebagai manusia harus berpikir dan merenung sejenak tentang kejadian ini jangan lantas terpuruk dan patah semangat untuk belajar, dan sayapun membuka pelajaran seperti biasa sambil meminta izin kepada anak-anak untuk mengundang Ibu “Sri Yenda” selaku WAKUR kami untuk memantau hasil KBM secara tidak tatap muka atau kita sering menyebutnya dengan “Kelas Maya”.<br><br> Awalnya anak-anak agak sedikit terkejut dengan permintaan saya,  tetapi respon mereka cukup positif , setengah dari mereka mengucapkan “ Welcome Buk Yenda”. Mungkin karena mereka sering bercanda digrup jadi merasa dipantau oleh orang lain, biasalha namanya juga kelas Barbardos...hehehe.<br><br> KBM pun dimulai dan saya mengirimkan beberapa soal latihan untuk mereka, langsung mereka kerjakan. Malahan kalau di kelas yang sesungguhnya  lebih banyak lagi anak-anak yang tidak respon jika dikasih latihan. hampir 99% siswa mengerjakan dan hanya satu orang yang tidak mengerjakan, ternyata setelah dihubungi ketiduran, lagi-lagi syawal siswa yang punya hobby olah raga  dan tidur di kelas  jika di kelas yang sesungguhnyapun  seperti itu..Huft. <br><br>Alhamdulillah kelas online ini lumayan efektif untuk mereka, rasa tanggung jawabnya muncul, dan inilah gaya anak Barbados kalau belajar harus sambil santai sembari makan-makannya baru lancar...hehehe. <br><br>Mereka sangat antusias belajar sampai ada yang masuk ke kelas online belum mandi pagi padahal sudah jam 10.00, itu sih pangakuan beberapa ortu mereka sendiri. <br><br>Hari berikunya ada 4 siswa yang absen dan 2 orang siswa yang izin karena ada yang mau buat KTP dan kartu BPJS. Hari itu kami mulai membahas soal latihan yang yang dikumpulkan di hari pertemuan pertama. Luar biasa , ternyata banyak anak-anak yang jawabanya benar semua ini artinya mereka tidak menjawab asal-asal, karena mereka tau cara mencarinya (berhubung banyak juga soal hutung-hitungnnya), dan ini tidak terjadi di kelas tatap muka.<br><br>Saya sempat berpikir sejenak kalau ini adalah hal positif yang ditunjukkan anak-anak ditengah kejenuhan  dalam menghadapi berbagai ujian. Tetapi yang namanya Daring tetap ada plus minusnya. Semoga anak-anak bisa menyikapinya dengan positif karena yang namanya belajar bagaimanapun kondisinya jika ada niat dan kemauan pasti akan akan ada jalan. <br><br>Selanjutnya saya menutup  kelas dengan berterima kasih karena telah berpartisipasi dan menyuruh mereka untuk istirahat dulu sebelum masuk ke mapel lain, sampai jumpa di kelas Daring berikutnya. Semoga apa yang dilakukan hari ini bermanfaat...Aamiinn.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/460785973/5c4222f73ea42d1bf95855c98fe5cb9b/PhotoCollage_20200323_151945299.jpg" />
         <pubDate>2020-03-23 08:09:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/470464939</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ujian Tengah Covid-19, JANGAN SAKIT!</title>
         <author>fitri357handayani</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/480131654</link>
         <description><![CDATA[<div>SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe sudah merencanakan dari awal bahwa sanya akan melaksanakan Ujian Tengah Semester (UTS) untuk siswa-siswi kelas X dan XI pada tanggal 16 s.d 23 maret 2020. Akan tetapi, tepat tanggal 15 maret, pukul 20.30 pak Zubir, S.Si., selaku kepala sekolah SMAS Sukma Bangsa Lhokseumawe mengumumkan di group sekolah bahwa ‘’Berdasarkan edaran dari Gubernur Aceh terkait langkah Preventif Pencegahan Virus Corona, yang di tindaklanjuti oleh Kepala Dinas Pendidikan Aceh, maka dengan ini kami sampaikan bahwa Kegiatan Pembelajaran di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, tehitung 16 s.d 28 maret, dilaksanakan di rumah masing-masing’’. Dengan demikian, UTS yang kami rencanakan pun harus ditunda untuk sementara waktu.<br><br>Terkait mekanisme Kegiatan Pembelajaran di rumah masing-masing, manajemen sekolah dan seluruh guru hadir untuk rapat pada hari senin, 16 maret 2020 di Sekolah tercinta. Keputusan rapat bahwa siswa-siswi kelas X dan XI tetap melaksanakan UTS, mulai tanggal 17 s.d 24 maret 2020 melalui <em>google classroom</em>. <br><br>Bagi anak-anak tidak ada hal baru dengan metode ujian seperti ini, yang berbeda hanyalah tempat pelaksanaannya saja. Jika biasanya diruang kelas yang diawasi oleh 2 guru pengawas sekarang mereka mengikuti ujian di rumah mereka masing-masing. Saya selaku wali kelas XI IPA GEECE dengan sigap menyapa anak-anak di group WA setiap pagi, 30 menit sebelum ujian di mulai. Setelah menyapa, kode <em>class</em> pun saya <em>share</em> agar anak-anak tidak terlambat mengikuti UTS. Begitulah kegiatan setiap paginya selama Kegiatan Pembelajaran di rumah. <br><br>Tibalah hari Jumat, 20 maret 2020, siswa-siswi akan mengikuti UTS Kimia. Pagi itu saya ingatkan lagi anak-anak supaya mengikuti ujian tepat waktu dan tidak melakukan <em>cheating</em>. Dan seperti biasa kode <em>class</em> pun saya bagikan ke siswa, siswa mengikuti UTS selama 50 menit dengan jumlah 20 soal pilihan ganda. Tepat pukul 9.40.08, Muhammad Andre Naufal sudah <em>submit</em> jawabannya, dengan kata lain Andre adalah pengumpul pertama. <br><br>Disusul pengumpul berikutnya yaitu Zefanya, Dzikrillah, Nyak Gym, dan teman-teman lainnya. Andre memperoleh nilai 100, luar biasa!. Begitu berakhirnya waktu ujian, saya muncul lagi di group WA kelas GREECE, dan mengatakan ‘’Good job Andre, 100’’. Teman-teman pun memberikan tepuk tangan untuk Andre. Andre memang bisa dalam pelajaran Kimia, dan dia pun merupakan salah satu siswa olimpiade kimia. <br><br>Kemudian saya menyemangati anak-anak untuk melanjutkan UTS berikutnya yaitu Ekonomi. Begitulah suasana anak-anak mengikuti Ujian Tengah Semester di tengah ujian melawan covid-19. Maka sangat diharapkan anak-anak jangan sampai sakit dengan tetap dirumah, jaga kesehatan, makan yang bergizi, istirahat yang cukup, sehingga imunitas tubuh tetap terjaga.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/479685767/bcf960e19928512c25fc306ce4d8bfa8/WhatsApp_Image_2020_03_30_at_18_17_17.jpeg" />
         <pubDate>2020-03-29 06:42:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/480131654</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tanpa &#39;Aturan&#39;, Belajar Itu Mengasyikkan</title>
         <author>alimuddinmansu</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/481279946</link>
         <description><![CDATA[<div>Aturan itu seperti kopi tanpa gula, pahit dan pekat. Sedikit penyukanya, ya, ramai yang di barisan membenci. Bisalah kita sebut demikian. Tapi Anda bisa setuju atau tidak dengan ini. Hehe...<br><br>Yang bernama sekolah, kelas, belajar tentu saja kentara dengan aturan. Ya, harus masuk jam segini, buat ini, tidak boleh ini dan tiada boleh itu, dan masih banyak tidak-tak lainnya. Tentu, kita harus mengakui bahwa siswa kerap menggerutu, bosan dan ogah-ogahan belajar. Nah, lazimnya seperti itu.<br><br>Jika kelas atawa belajar dilakukan secara online, apa jadi ya? Nah, pikir saya, kelas akan 'mati', diskusi basi nan layu dan mereka akan masuk kelas telat setelatnya. Dan banyak negatif-negatif lain yang berjejer-jejer bak pagar bambu di kepala saya.<br><br>Itu ternyata hanya kekhawatiran belaka saja rupanya. Semua berlangsung menyenangkan dan mengasyikkan.<br><br>Nah, saya masuk di XI Maldives hari ini, Senin, 30 Maret 2020. Hampir semua sudah hadir di forum. Itu melegakan,  tentu saja. Saya buka kelas dengan memberikan femonena naiknya harga barang terkait adanya virus Corona. Lalu, persatu pertanyaan saya ajukan di forum, dan diskusi berlangsung dengan menyenangkan, bahkan dengan sesama mereka.<br><br>Tapi, tapi, bukan kedalaman materi yang ingin saya tekankan pada hari ini, melainkan perasaan antusias, tanpa beban dari siswa. Kalau saya, merasakan hal tersebut.<br><br>Tentulah belajar di rumah, siswa tiada terikat dengan terlalu banyak aturan. Ya, mereka bisa melakukannya sambil makan, minum, berpindah-pindah tempat sesuka mereka. Atau sambil tidur-tiduran, plus dengar musik dan bernyanyi-nyanyi bisa saja.<br><br>Dan yang paling penting, siswa tidak menerima sindiran, repetan bisa jadi dari kita gurunya. Dan sepertinya itu membuat belajar secara online bagi mereka terasa mengasyikkan.<br><br>Pada akhirnya ini hanya bentuk perasaan atau opini saya saja. Belum teruji kebenarannya. Penutup, bagaimana rasanya belajar online dengan tak banyak 'aturan'? salah satu siswa Xi Maldives menjawab dengan foto seperti ini.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/479926713/247e8dadf4d317e91ddc6851f0a90463/WhatsApp_Image_2020_03_30_at_11_16_38.jpeg" />
         <pubDate>2020-03-30 05:21:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/481279946</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelas Dumay Anti Corona</title>
         <author>fajrulriska3</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/481563573</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Berbicara tentang dumai pasti yang terbanyang adalah aplikasi yang menyenangkan seperti Facebook, Instagram, Twitter, Whatshapp dan sebagainya. Namun disaat gentirnya permasalahan yang sedang menimpa beberapa negara yaitu virus Corona membuat aplikasi tentang pengetahuan semakin jadi meningkat penggunanya. Salah satunya google classroom yang digunakan sebagai aplikasi media pembelajaran daring.<br><br>Hari ini dipenghujung Maret, saya mencoba kelas dumay di kelas X IPS Ice Land. Saya memberikan materi berita tentang permasalahan virus Corona. Virus Corona yang sedang menjadi topik pembicaraan hangat di semua kalangan dan telah membuat 2/3 negara di dunia panik. Ini disebabkan oleh virusnya yang sangat mudah menular, dan mengakibatkan kematian.<br><br>Kelas pun dimulai. Beberapa siswa sudah hadir. Diawali dengan Ice Breaking senam otak dengan tangan dan dilanjutkan pada topik materi. Satu persatu anak-anak mulai memberikan pendapatnya. Diskusi singkat ini hanya di isi oleh siswinya saja. Ada satu siswa yang berkomentar bahwa beritanya terlalu banyak dan gak sanggup dibaca. Ya budaya membaca dikalangan kita saat ini memang masih perlu ditingkatkan. <br><br>Selanjutnya dilanjutkan dengan tugas individu. Setelah saya membaca jawaban anak-anak terkait permasalahan virus Corona ini ternyara mereka mempunyai pengetahuan yang luas, bahkan mereka sangat update dalam setiap perkembangan informasi terkait virus Corona. Jawaban mereka sangat super sekali sekali.<br><br>Ada pertanyaan menarik dalam tugas tersebut. Anak-anak bercerita pengalamannya selama masa "Stay At Home". Ada yang merasa bahagia karena akhirnya di moment ini mereka punya banyak waktu untuk berkumpul dengan keluarga "Quality Time", dan itu sangat jarang terjadi, ada juga yang merasa bosen, suntuk gak bisa kemana-mana, gak bisa beraktivitas diluar rumah seperti biasanya, ada juga yang kerjaannya makan tidur main game ajha, ada yang senang bisa bantu orang tua di rumah, ada juga yang sangat semangat belajar tanpa mengenal waktu dan tempat.<br><br>Inilah cerita saya dalam kelas dumay hari ini. Apapun yang terjadi jangan lupa bersyukur. Insya Allah akan ada hikmahnya dibalik semua ini.<br><br><br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/479531682/0bac3df7e3a8a123a54b4fc3e0c24729/Screenshot_20200330_142610.jpg" />
         <pubDate>2020-03-30 08:49:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/481563573</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelas Fisika Anti Corona</title>
         <author>meldawatinasri</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/481629601</link>
         <description><![CDATA[<div> Terus terang saya awalnya mati gaya ketika diminta mengajar Fisika  dikelas online, tetapi materinya berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Covid-19. Akhirnya  ketemu ide untuk membahas masalah termometer termal yang banyak digunakan di ruang publik<br>Sebelumnya saya mengumpulkan bahan bacaan dan video yang akan dipelajari oleh siswa. Bahan tersebut saya upload di google classroom. Jadwal saya mengajar fisika hari ini jam 10.00  sampai jam 12.00, ternyata ada beberapa siswa yang telah masuk kelas sebelum jam 10 dan menonton video yang diupload. <br>Tepat jam 10.00 saya  membuka kelas dengan menyapa dan mengabsen siswa. Kemudian dilanjutkan dengan membuka diskusi dengan pertanyaan " barang-barang apakah menjadi viral selama pandemi corona "? Bermunculan berbagai respon siswa, dari masker, hand sanitizer, baju astronot, ruang isolasi, termometer inframerah dan lain-lain. <br>Saya melemparkan pertanyaan, " kenapa pakai termometer inframerah bukan termometer badan biasa"?  Siswa menjawab dengan berbagai alasan, biar cepat, biar aman. Ada satu jawaban siswa yang bikin saya senyum sendiri " bisa dipakai LDR buk...., ternyata yang dimaksudkan bisa dipakai dari jarak jauh, bukan <em>"long distance relationship ". </em>Ada<em> </em>juga siswa yang tidak sabaran tentang termometer  ini, bertanya "kok bisa, kan gak ditempelin ke badan?.Sabar ya nak...,nanti kita bahas..<em><br></em>Sebelum membahas cara kerja termometer inframerah, saya kembali bertanya ke siswa apa yang dimaksud dengan inframerah. Siswa diminta untuk mencari informasi tentang inframerah dan gelombang elektromagnetik. Setelah memahami apa itu sinar inframerah, siswa diminta untuk membaca bahan yang sudah diupload sebelumnya serta menonton video. Siswa diminta untuk menuliskan cara pemilihan termometer inframerah yang tepat serta pengkalibrasiannya. Siswa juga diminta untuk menuliskan mindmap yang menjelaskan cara kerja termometer inframerah dan hubungannya dengan radiasi benda hitam. <br>Ternyata jika penyampaian materi pelajaran dikaitkan dengan segala sesuatu yang lagi viral siswa jadi antusias berdiskusi, bahkan untuk siswa yang biasanya pasif di kelas menjadi aktif merespon dalam forum diskusi. Semoga kedepannya bisa menemukan topik yang menarik lagi bagi siswa<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/479981970/44b90656d9a56144139ce6d87708bd61/scrshoot.jpg" />
         <pubDate>2020-03-30 09:19:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/481629601</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Semangat ya neuk ^_^</title>
         <author>meichitameichi</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/482265123</link>
         <description><![CDATA[<div>Alhamdulillah... <br><br>Kelas hari ini berjalan seperti yg direncanakan dari jauh-jauh hari. Materi yang diajarkan diluar kurikulum, yaitu mengenai covid-19. Karena saya mengajar matematika yang materinya harus berhubungan dengan covid-19 (begitu perintah bapak menteri). Saya ambil materi statistika karena berupa data dan angka, yang menarik sekali jika bisa hitung-hitungan sekaligus mendeskripsikan hasil perhitungan.<br><br>Di awal saya sempat pesimis, mengajar matematika secara online itu pasti anak-anak sulit memahaminya, namun setelah saya jalani, Alhamdulillah walaupun tidak 100% apa yang saya sampaikan mereka paham setidaknya 80% mereka paham. <br><br>Kelas dimulai dengan Basmallah, doa, sapaan hangat, kesan rindu kelas, absen kelas, tanya jawab mengenai covid sampai akhirnya ke pokok inti pengajaran.<br><br>Ada beberapa poin yang akan dituntaskan, poin 1 sampai 6 sudah d jelaskan perlahan namun pasti, satu persatu dijelaskan secara detail sampai tanpa ada pertanyaan lagi, di awal sangat ramai, penuh dengan percakapan, 1 jam kemudian karena tugas mulai ada dan mereka terlena dengan tugas yang diberikan, sampai-sampai saya dicuekin. Hehehe :D<br>Aaaaah tak masalah yang penting mereka mengerjakan tugas dengan penuh semangat, tidak puas bertanya lewat google classroom sampai di whatsap pun jadi.<br><br>Mereka fokus untuk buat tugas karena 10 pengumpul tercepat mendapat nilai +10 donk. Saya memulai pengajaran pukul 10.00 dan berakhir pukul 12.00. <br>Deadline pengumpulan tugas sampai pukul 15.00, namun mereka tidak membuang kesempatan, beberapa sebelum pukul 12.00 sudah mengumpulkan tugas, waaah saya merasa bangga sekali. Semangat mereka tidak pudar, baik saat saya mengajar dikelas maupun online, persis sama, jika sudah dikasih tugas, bawaannya sangat fokus.<br><br>Semangat ya aneuk2 ibu, kalian luar biasa, kalian hebat itu kata-kata ampuh yang selalu saya sampaikan untuk membangkitkan energi positif mereka.<br><br>Setelah pembelajaran selesai kami membuat refleksi dan mereka senang karena pembelajaran kali ini sangat berpengaruh dan penting untuk saat ini.<br><br>Waaah, jam sudah menunjukkan pukul 12.13, saatnya mengakhiri kelas, saya tutup dengan Hamdallah dan ucapan terima kasih...<br><br>Kesan pertama begitu membuat kagum, semoga ke depan lebih baik lagi. InsyaAllah.<br><br>Trims :) <br>By Bunda meicy <br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/485490588/0fbe72a90bb6b5f96de1e3a5c93b075e/Screenshot_2020_03_30_21_12_15_72.png" />
         <pubDate>2020-03-30 14:16:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/482265123</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Self Protrection Against Coronavirus</title>
         <author>zeetier</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/482365920</link>
         <description><![CDATA[<div>Mengajar di depan kelas dan menjadi pusat perhatian utama siswa dan siswi itu sudah menjadi hal biasa bagi seluruh guru di muka bumi ini. Namun dikarenakan pandemi Covid 19 ini proses belajar mengajar dilakukan secara daring tidak hanya sekolah dan universitas, kantorpun berimbas karenanya. <br><br>Tepat hari senin tanggal 30 Maret 2020 jam 10:00 saya memulai kelas daring saya di kelas X Slovenia. Sensasinya memang sedikit berbeda. Saya mulai dengan salam dan meminta siswa untuk menulis komentar hadir di kolom komentar. 16 siswa hadir tepat waktu dan beberapa lainnya menyusul setelah beberapa menit kemudian. Semua menuliskan komentar singkat padahal saya memperbolehkan mereka untuk menjawab dengan kata-kata yang lain selain present. Ironinya, 24 siswa menjawab hadir namun tak satupun menjawab salam saya huhu.<br><br>Setelah mengecek presensi siswa, saya memancing siswa untuk berdiskusi dengan menanyakan pendapat siswa terkait isu yang sedang marak saat ini. Kemudian perasaan saya mulai was – was, 1 menit, 2 menit hingga 5 menit berlalu tidak ada yang merespon dan memberi komentar. Saya mulai khawatir, apakah pertanyaan saya yang terlalu sulit atau membingungkan siswa? Ada dua kemungkinan yang dapat terjadi, pertama siswa kesulitan memberikan pandangan mereka karena siswa menjawabnya dengan bahasa Inggris. <br><br>Kedua siswa sudah memulai menonton video yang saya berikan sebelum saya instruksikan. Namun kedua kemungkinan ini sangat mungkin terjadi. Pasalnya saya tidak mewajibkan mereka untuk meresponnya dengan bahasa Inggris. Siswa boleh menggunakan bahasa Inggris penuh, atau campur. Setelah 6 menit berlalu akhirnya ada dua siswa yang meresponnya. Saya akui diskusi tidak berjalan seperti yang saya harapkan namun saya sangat mengapresiasi siswa-siswa mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris yang baik.<br><br>Materi yang saya berikan sebenarnya hal yang sangat mendasar “how soap kills the coronavirus” mungkin mereka sudah mempelajarinya dikelas biologi atau kimia namun yang saya ingin tekankan disini adalah untuk meyakinkan siswa paham pentingnya mencuci tangan dengan baik. <br><br>Kemampuan listening comprehension siswa sangat di pertaruhkan pada materi ini, namun American accent sedikit membantu siswa memahami penjelasan yang sedikit cepat. Menyimak, memahami isi yang disampaikan, dan melihat video yang disajikan merupakan 3 hal yang harus dilakukan siswa dalam waktu yang bersamaan sehingga diskusi yang saya bangun kalah menariknya dengan video yang saya kirimkan. kedepannya bila ingin berdiskusi terlebih dahulu maka video dilampikan setelah diskusi berakhir, saya kira itu solusi terbaik. <br><br>Saya juga meminta siswa untuk menonton lebih dari satu kali agar siswa mendapatkan informasi lengkap dari video tersebut. Setelah menonton, siswa diminta untuk menjawab 5 pertanyaan berdasarkan informasi yang disampaikan. Semua siswa mengumpulkan tepat sebelum jam 12 siang dengan jawaban yang bervariasi. <br><br>Saya sangat mengapresiasi jawaban siswa karena the way they explain really show that they understand enough. And I thought listening and writing test at same time are really challenging. Semoga pembelajaran hari ini memberi manfaat bagi saya dan siswa – siswa saya Amin.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/479927067/aa6b3271b20a3b8f42eed4b65b4cdadc/Screenshot_2020_03_30_21_23_27_246_com_google_android_apps_classroom.jpg" />
         <pubDate>2020-03-30 14:50:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/482365920</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelas Pembuatan Hand Sanitizer </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/483429287</link>
         <description><![CDATA[<div>(Oleh : Sarlivanti, M.Pd.)<br><br>Virus corona menyebabkan terjadinya kelangkaan barang di pasar, dan harga pun melambung tinggi, sembako dan terlebih produk-produk kesehatan. Di saat Pemerintah menganjurkan cara pencegahan penyebaran virus dengan mencuci tangan maka di saat itu pula hand soap menjadi langka dan mahal, begitupun dengan hand sanitizer. Oh Indonesiaku.<br><br>Namun, tak pernah ada kata menyerah bagi masyarakat Indonesia, karena langkanya hand sanitizer, maka saat ini muncul kreativitas dari masyarakat dengan meraciknya sendiri menggunakan bahan yang mudah didapatkan. <br><br>Nah, kelas kimia kali ini kita akan membahas segala sesuatu tentang hand sanitizer, dimulai dari komposisinya, cara pembuatannya, efektivitas penggunaan hand sanitizer dan sabun dalam membunuh kuman di tangan, bahan alam lain yang dapat digunakan dalam pembuatan hand sanitizer.<br><br>Kelas di awali dengan memutar video tutorial pembuatan hand sanitizer yang dilakukan oleh guru kimia (Bu Sarli dan Bu Fitri) di Lab Sekolah guna memenuhi kebutuhan hand sanitizer di sekolah. Setelah menonton video dilanjutkan dengan diskusi terkait komposisi dan cara pembuatan. <br><br>Menarik jawaban dari salah satu siswa ketika saya tanyakan kenapa alkohol yang saya gunakan 80%, jawabannya adalah karena di lab hanya ada itu bu, tapi dilanjutkan bahwa alkohol diatas 60% lah yang mampu membunuh kuman, siswa tau jawabannya, hanya saja jawaban awal yang membuat saya agak geli membacanya. <br><br>Siswa diminta menjawab pertanyaan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang kemudian diminta dikirimkan via email, alhamdulillah semua siswa partisipasi. Kemudian dilanjutkan dengan sesi pertanyaan dari siswa, Siti Syifa menanyakan kapan Bu kita buat di sekolah, kami mau bu buat hand sanitizer untuk kita gunakan sendiri, semangat untuk mencoba sesuatu yang baru. Siswa juga saya minta untuk membuatkan infografis/flyer terkait mencuci tangan sesuai anjuran WHO, pembuatan hand sanitizer dan pembuatan disinfektan, siswa dapat memilih salah satunya.<br><br>Kelas diakhiri dengan sesi refleksi yang disampaikan siswa betapa pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Semoga corona ini membawa hikmah yang besar bagi kita betapa kesehatan dan kebersihan sangat penting bagi manusia.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-03-31 01:41:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/483429287</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mitigasi Bencana Wabah Korona</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/483554630</link>
         <description><![CDATA[<div>(Oleh : Fauziyani, S.Pd.)<br><br>Pagi yang indah setelah semalam hujan menyapa, saya bersiap untuk mencerdaskan bangsa, materi yang akan dibahas hari ini adalah materi di BAB yang akan kita bahas di akhir semester dua, tetapi apa boleh buat karena sekolah tidak berjalan seperti biasa berhubung harus "Sosial Distancing", so belajar secara onlinepun jadi.<br><br>Kelas X IPS Ice land sebenarnya paling asik kalau kita ajak diskusi, cuma kali ini berbeda hanya beberapa anak yang aktif dalam diskusi. ada 6 orang yang gak muncul di forum mungkin kehabisan quota atau masih diawang-awang.  tapi saya tidak pernah patah semangat memberi materi.<br><br>Awalnya Ulfa, Dwi,  dan Hasya yang muncul menyapa, berikutnya di ikuti oleh kawan-kawan yang lain. Saya menayakan kabar dan apa yang mereka rasakan selama liburan, banyak yang menjawab sudah merasa bosan dirumah terus-terusan...hehe...sama saya juga begitu jawabnya.<br><br>Pelan-pelan saya masuk ke materi mengindentifikasi mangenai pengolongan jenis-jenis bencana sosial dan fisik. Luar biasa, anak-anak banyak yang tau tapi binggung mengolongkan masuk kebencana mana.  Hanya Dwi, Nahri, Zaya, zainah, Rizt dan Anggi hampir benar menggolongkannya.<br><br>Selanjutnya kita bahas penyebaran wabah virus corona di berbagai belahan penjuru dunia dan Indonesia khususnya melalui peta. Cuma agak terkendala sedikit tidak bisa terkirim petanya karena jaringan. Terakhir terpaksa saya deskripsikan. Mereka juga mengikuti perkembangan di TV selama dirumah.<br>Di akhir waktu anak mengerjakan tugas hanya satu pertanyaan saja yakni " menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mitigasi bencana wabah corona". dan sayapun ikut mengakhiri kelas dengan menyuruh anak-anak untuk mengambil hikmah dengan adanya fenomena corona ini. </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/504742215/ac0ecedca9cfc279c1aa6309ee8761a5/WhatsApp_Image_2020_03_31_at_12_56_36.jpeg" />
         <pubDate>2020-03-31 05:13:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/483554630</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Karena COVID-19 semua jadi tau apa itu Pneumonia</title>
         <author>dianmayaputridmp</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/483640971</link>
         <description><![CDATA[<div><em>“BELI KEDONDONG DI PASAR SEMANGGI</em></div><div><em>AYO DONG SEMANGAT BELAJAR BIOLOGI” </em></div><div> </div><div>Begitulah sapaan pertama untuk membuka kelas Biologi hari ini. Sebelumnya sempat pesimis bahwa mengajar di dunia maya itu pasti membosankan dan tidak ada tantangan karena semuanya hanya dengan kalimat-kalimat yang dikirim dan menunggu respon. Tidak ada celotehan, tidak ada keributan, dan juga tidak ada teriakan. Kenakalan-kenakalan atau perilaku usil yang biasanya membuat kepala sedikit pusing juga tidak ada. Tapi kini, semua itu benar-benar menjadi sebuah kerinduan terbesar.<br><br></div><div>Membuat suasana belajar online yang menyenangkan itu tidak mudah. Otak harus berkelana mencari ide-ide kreatif yang bisa digunakan agar anak memiliki daya ketertarikan yang tinggi untuk belajar. Kelas dimulai dengan kegiatan absensi kehadiran yang diramaikan oleh berbagai macam pantun seputar biologi dan juga kalimat-kalimat inspiratif dari anak-anak. Sesekali melihat dinding dan atap kamar sambil membayangkan tawa mereka saat ada temannya yang membacakan pantun lucu. <br><br>“<em>Ah, rindu sekali</em>”. Setelah memastikan mereka semua mengisi absensi kehadiran, pembelajaran pun dimulai. Pertanyaan demi pertanyaan muncul. Ternyata tidak seperti yang dibayangkan, mereka sangat  antusias dengan forum diskusi ini. Benar seperti yang dikatakan oleh orang-orang bahwa belajar biologi itu menyenangkan dan membuat penasaran, karena bisa membahas hal dari yang paling tampak sampai yang tidak tampak sama sekali.</div><div><br>Materi hari ini adalah tentang salah satu penyakit pada sistem pernapasan, yaitu <em>pneumonia</em>. Kenapa materi ini yang akan dibahas? Yang pertama karena materi ini sangat berkaitan dengan kondisi di dunia saat ini yang tengah berada dalam ancaman wabah <em>Corona Virus Disease</em> (COVID-19). Kedua karena anak-anak lebih cenderung penasaran dengan pelajaran biologi ketika mempelajari sebuah penyakit, apalagi penyakit-penyakit yang dapat menimbulkan dampak negatif yang besar bagi banyak orang. <br><br>Benar saja, ketika muncul pertanyaan seputar penyakit <em>pneumonia</em>, mereka tidak ada yang mau kalah cepat untuk memberikan komentar, ide atau pendapat. Mereka benar-benar mengikuti perkembangan wabah pandemi saat ini. Sepertinya salah membahas materi ini karena mereka udah cukup paham terkait penyakit yang satu ini. Terlihat dari komentar atau pendapat-pendapat yang mereka sampaikan hampir semuanya benar. <br><br>Tinggal hanya menjadi penengah saat mereka adu argumen. Meskipun begitu, masih ada beberapa pertanyaan diskusi yang belum bisa mereka jawab. Namun, sudah disediakan beberapa video yang relevan dan mereka diminta untuk mencermati video tersebut untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.</div><div><br>Proses pembelajaran dalam forum diskusi terus berjalan dengan sangat lancar, semua anak terlibat aktif dalam menyampaikan pertanyaan, ide, pendapat, bahkan saling mengomentari pendapat teman lainnya. Di akhir sesi, mereka diberikan tugas untuk menjawab beberapa soal yang berkenaan dengan materi diskusi serta <em>project</em> sederhana yaitu membuat sebuah imbauan sebagai langkah preventif untuk mencegah dan menangani kasus penyebaran wabah <em>Corona Virus Disease</em> (COVID-19).<br><br></div><div>Ternyata pembelajaran di dunia maya juga menarik. Itu membuktikan bahwa belajar bisa dilakukan kapanpun, di manapun, dan dalam kondisi apapun. Meskipun dalam hati ini, sungguh, ingin kembali belajar dan mengajar seperti sedia kala. </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/479685546/32c0436396d7c1e03556d7fbd8c82843/gc8.png" />
         <pubDate>2020-03-31 06:56:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/483640971</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PENYAJIAN KASUS CORONA DI INDONESIA DALAM EXCEL</title>
         <author>ernitaabdullah90</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/483907135</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Pembelajaran perdana bersama kelas yang baru saja menyelesaikan peperangan melawan Corona dalam UTS-nya minggu lalu. Tidak ada kata-kata yang membuat mereka jatuh dan lemah dengan wabah yang menggelisahkan banyak masyarakat dan pemerintah tentunya dalam mengambil tindakan serius sebagai pencegahannya. <br><br></div><div>Kegiatan pembelajaran lanjutan setelah UTS genap ini berbeda dengan tahun sebelumnya yang kondisi normal. Kali ini materi yang sudah tertera di kurikulum tidak menjadi fokus dikarenakan kelas dengan jarak jauh atau dalam jaringan (daring). Namun materi untuk masing-masing pelajaran adalah segala sesuatu yang dapat dikaitkan antara Covid-19 dengan mata pelajaran di kelas. Secara tidak sengaja, siswa sudah mempu menerapkan langsung konsep dalam permasalahan tersebut yang sudah nyata dalam kehidupan.<br><br></div><div>Tepatnya Selasa, 31 Maret 2020 pukul 10.00-12.00 WIB adalah jadwal saya bersama kelas XI IPA Greece dengan materi sederhana yaitu “Menyajikan Data Kasus Corona Per Senin, 30 Maret 2020 Di Indonesia Dalam Grafik Bentuk <em>Pie Chart</em> Dengan Menggunakan <em>Microsoft Excel”</em>. Kemudian siswa menginterpretasikan hasil grafiknya dengan Bahasa yang teratur dan mudah dipahami oleh pembaca, juga menjadi informasi penting dan bermanfaat bagi masyarakat tentunya.<br><br></div><div>Awalnya saya mengira, materi yang saya berikan ini sangatlah sederhana dengan angka keyakinan 95 % rata-rata siswa mampu menyelesaikannya dengan baik. Ternyata begitu giliran pembahasan tentang inti kegiatan pembelajaran, beberapa panik dan menegosiasi, “buk!, kami mengerjakannya di kertas aja secara manual boleh buk?, kami ga paham dengan excel tu..!. Mumang kami buk….ga pernah ciuss buk”. Pernyataan mereka masih abu-abu, artinya terdapat dua kemungkinan yaitu mereka tidak pernah sama sekali belajar menyajikan data dengan Excel atau mereka sudah pernah menerima ilmunya namun lupa cara menerapkannya.<br><br></div><div>Diperkirakan mencapai 85 % siswa mampu menyelesaikannya berdasarkan hasil respon siswa terhadap tugas yang diberikan. Di samping respon positif terhadap tugas, siswa terlihat sangat antusias jika kegiatan pembelajaran melalui daring. Hal ini terlihat saat siswa berkomentar tentang pertanyaan saya sebelum masuk ke materi yaitu “Kira-kira menurut kalian, apa yang bisa dikaitkan antara konsep matematika dengan kasus Covid-19”, dengan spontan siswa berkomentar sebarang namun logis dan benar, seperti:<br><br>Putri Fadhlia Alvina10.20</div><div>“Jarak antara manusia biar ga ketular wkwkwk”</div><div> </div><div>Najla Khairunnisa10.20</div><div>“kenaikan angka kematian sama yang mengidapnya”</div><div> </div><div>Yuni Angriani10.20</div><div>“bentuk virus covid-19”</div><div> </div><div>Yuni Angriani10.21</div><div>“perbandingan antara yg sembuh dengan yang meninggal”</div><div> </div><div>Melky Dewinta10.22</div><div>“persentase antara hidup dan mati”</div><div> </div><div>Tahnia Cahya10.22</div><div>“Tingkat statistik kasus di tiap negara”</div><div> </div><div>Siti Indah Maharani10.22</div><div>“kenaikan jumlah angka pasien positif covid19(?)”</div><div> </div><div>zefanya10.22</div><div>“Peluang penyebaran covid”</div><div> </div><div>jaida tussakinah10.22</div><div>“Harga kebutuhan kemingkat”</div><div> </div><div>Difa Jumar Asyura10.23</div><div>“Memprediksikan angka tertinggi covid di indo”</div><div> </div><div>Hasil diskusi tanya-jawab tersebut memunculkan ide baru untuk saya dalam mengkreasikan materi matematika dengan kasus Covid-19 di komentar tersebut (tertawa kecil dalam hati saya). Secara tidak langsung saya juga belajar dari mereka, artinya ada hukum timbal balik dalam dunia pendidikan yaitu siswa belajar dari guru dan sebaliknya. <br><br>Semoga sebagai seorang guru hebat Sekolah Sukma Bangsa tidak bosan-bosannya terus mengadopsi konsep <em>“ A School That Learn”</em>.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/485390123/a979f25dd5cd37fd33560eb65dae9b87/foto_2.jpeg" />
         <pubDate>2020-03-31 09:22:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/483907135</guid>
      </item>
      <item>
         <title>BELAJAR SENYAWA METABOLIT SEKUNDER, AYUK AJA !</title>
         <author>fitri357handayani</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/484018258</link>
         <description><![CDATA[<div>Di penghujung tanggal bulan Maret, saya mengajar kelas daring (dalam jaringan) untuk pertama kalinya. Tentunya saya merasa khawatir, KBM ini akan berjalan sukses atau tidak. <br><br></div><div>Seperti biasa di kelas, saya membuka kelas dengan salam dan menyapa anak-anak. Menanyakan kabarnya, dan mengatakan rindu kepada mereka. Ya, tentu perasaan itu lumrah dirasakan, perasaan seorang guru kepada siswanya yang sudah lama tidak bertemu. <br><br>Tanpa disangka sebelum saya selesai mengetik kata–kata tersebut, anak-anak sudah mulai hadir di kelas. Achmad Fitrah adalah siswa pertama yang hadir, disusul beberapa teman-teman yang lain. Mereka pun ikut merespon sapaan saya dengan sangat cepat. Tepat pukul 10. 09 WIB, sisa 6 dari 24 siswa yang belum menyapa balasan saya. Namun tak mengapa, fikir saya, mungkin mereka terlambat hadir.<br><br></div><div>Sapaan dan kangenanpun berlalu. Selanjutnya, saya intruksikan untuk memulai dengan basmallah dan mulai memberikan pertanyaan ringan seperti “Saat ini wabah COVID-19 sudah merebak dimana-mana. Lalu, bagaimana kita menyiapkan diri untuk menghadapinya?” sebagai apersepsi mengajar. <br><br>Waw… tak saya sangka, anak-anak sangat antusias sekali dalam menjawab, tak lebih 1 menit beberapa dari mereka sudah menjawab pertanyaan tersebut. Saya makin semangat mengajar kelas daring ini. Tak ingin sedetikpun meninggalkan laptop demi membaca semua pendapat mereka.<br><br></div><div>Selanjutnya saya mulai memancing motivasi mereka agar mereka lebih penasaran dengan materi yang akan dipelajari hari ini. Pancingan tersebutpun disambut hangat dengan jawaban yang sangat tepat, oleh Karina. Istilahnya “Chemistrynya dapet banget”. Begitulah kira-kira, karena jawabannya Karina sangat sesuai dengan materi yang akan saya berikan hari ini.<br><br></div><div>Next, saya sertakanlah sebuah video tentang sebuah riset tentang suatu senyawa yang terdapat dari bahan alam yang ada disekitar kita yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh/ meningkatkan imun sehingga bisa menangkal serangan COVID-19. <br><br>Ini merupakan materi metabolit sekunder. Sungguh! Materi ini rasanya untuk kelas X IPA tidak mungkin di pelajari karena ini adalah materi dibangku perkuliahan. Eitz… tapi jangan melihat sesuatu dari kulitnya atau bahasa lain jangan lihat dari judulnya, tapi lihatlah isinya. Materi ini sangat menarik untuk kita bahas karena ada di sekeliling kita. <br><br></div><div>Diskusi pun dimulai. Satu persatu dari mereka menyampaikan hasil yang mereka ketahui setelah menonton video tersebut. Perasaan saya jadi tidak karuan, senang rasanya melihat respon anak-anak super cepat dan sangat antusias. Saya memberikan mereka pujian.<br><br></div><div>Diskusi berlanjut ke tingkatan yang lebih rumit. Saya meminta mereka memperhatikan struktur senyawa hesperidin, yang merupakan salah satu senyawa yang berpotensi sebangai penangkal COVID-19. Unsur apa saja yang terdapat pada senyawa tersebut? Apa rumus kimia dari senyawa tersebut?. Disinilah mereka mulai resah, mereka bingung, karena struktur senyawanya besar bak raksasa. <br><br>Materi terakhir yang mereka pelajari saat belajar di kelas pun masih senyawa biner, senyawa poliatomik, senyawa asam dan basa. Bukan senyawa sebesar gajah. Akan tetapi, setelah saya memberikan sedikit penjelasan, mereka mulai mengerti dan mampu menyebutkan unsur apa saja yang ada disenyawa tersebut. Dan diskusi mulai riuh kembali dengan mencoba menghitung berapa jumlah dari masing-masing unsur tersebut. <br><br>Hal ini untuk menentukan rumus kimia dari hesperidin, salah satu senyawa golongan flavonoid yang termasuk kedalam semyawa metabolit sekunder. Bak Mentari muncul di pagi hari, Teuku Saidil Anam muncul dengan menuliskan C<sub>28</sub>H<sub>34</sub>O<sub>15</sub>.  Saya pun berkomentar, “That’s great, Anam! Outstanding! Yuk…berguru ke Anam”.<br><br></div><div>Kemudian, anak-anak mulai mengalisis bahan alam yang ada disekitar mereka yang mengandung senyawa golongan flavonoid selain jeruk. Dilanjut dengan merancang langkah lainnya untuk mempertahankan imunitas tubuh selain mengkonsumsi jus jeruk beserta kulitnya, infus water, jambu biji, dan daun kelor. Anak-anak sangat sangat mampu dan kreatif. <br><br>Saya sangat bangga terhadap mereka. Saya tak henti-hentinya dibuat takjub dengan semua jawaban mereka. Sebelum pembelajarn berakhir, mereka pun ditugaskan untuk mengerjakan tugas (LKS) yang sudah saya siapkan. Dan setelah selesai mereka mengerjakan tugasnya, saya melakukan refleksi tentang proses KBM hari ini. <br><br>Asyik…bertambah ilmu baru, begitulah celoteh mereka. Ada juga yang mengatakan, “Enak buk belajarnya, seru, semua mapel dikaitkan dengan corona, menambah antisipasi”. Finally, kita sama-sama menyimpulkan tentang materi yang sudah dipelajari hari ini dan menutup kelas dengan ucapan hamdallah. <br><br>Begitulah kisah kelasku hari ini. Bagaimana dengan kisah kelasmu?<br> Wassalam</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/479685767/6a688772f47505e30112453e6931784c/gc_padlet_ok.png" />
         <pubDate>2020-03-31 10:14:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/484018258</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Masih mengenai Mitigasi Bencana Wabah Corona</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/485790546</link>
         <description><![CDATA[<div>Oleh : Fauziyani,S.Pd.<br><br>Hari terus berganti, dan waktu terus berlalu. Jauh dari lubuk hati terdalam ingin rasanya bertemu dan mengajar seperti biasa, tapi apa boleh buat kondisi  seperti ini (karantina mandiri  atau isolasi mandiri dirumah) yang sedang dijalani masyarakat di seluruh dunia setelah sosial distancing pun  dilaksanakan berskala besar, mungkin ini adalah salah satu solusi terbaik.<br><br>KBM harus terus berjalan, hari ini giliran kelas Maldive yang menerima materi "Mitigasi Bencana  Wabah Corona", saya mulai memberi salam dan menyapa mereka satu persatu, ada 3 anak yang tidak ada kabar. Seperti biasa anak-anak minta untuk belajar santai, sambil cerita-cerita.<br><br>mereka mengungkapkan perasaan mereka satu persatu, banyak yang bilang sudah merasa bosan dan kurang uang jajan selama libur, hal yang sama juga yang saya ungkapin. Bincang-bincang inipun  masuk ke ranah materi dimana saya sangat apresiatif, ternyata banyak dari mereka ketika ditanyakan "bagaimana  penyebaran dan dampak dari pandemi corona ini ? dan apa yang terjadi jika seluruh wilayah di Indonesia melakukan Lock down?"  <br><br>Segera Fathur, Inaya dan Jihan bereaksi untuk menjawab " Jika hal itu terjadi  maka akan membuat lumpuhnya perekonomian dan munculnya masalah baru terutama masalah sosial, jawab mereka. Tetapi ada pendapat lain dari Sophia, sarah dan fani kalau lockdown harus disegerakan supaya  cepat teratasi masalah wabah ini. <br><br>Ternyata anak-anak selalu memantau dan memulai perdebatan dengan jejak pendapat, ya begitulah anak IPS, tetapi ini berakhir dengan slow respon juga. Hal ini menunjukkan sangat mendalami apa yang sedang terjadi.<br><br>Di akhir KBM, Setelah diskusi beberapa hal saya meminta anak-anak mengerjakan tugas dengan menjawab satu pertanyaan, sekejap hampir 90% mereka mengirim jawaban melaui email. Cukup untuk hari ini, takut mereka bertambah bosan dan sayapun mengakhiri kelas dengan menyuruh mereka untuk menjaga kesehatan dan mengucapkan salam penutup.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-01 05:11:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/485790546</guid>
      </item>
      <item>
         <title>&quot;Mahkluk Kecil Ajaib&quot;</title>
         <author>dianmayaputridmp</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/485824538</link>
         <description><![CDATA[<div>FiNALLY!!! Akhirnya selesai juga pembelajaran biologi hari ini di kelas X IPA Andorra. Ternyata anak-anak ini memiliki daya kreatif yang tinggi, mereka memulai pengisian absensi kehadiran dengan membuat pantun-pantun lucu dan menarik seputar biologi. Ini adalah salah satu cara untuk membuat anak-anak lebih rileks ketika belajar. <br><br>Bagaimanapun keadaan hari ini, tetap harus bisa mengkondisikan forum diskusi yang tidak saling tatap muka menjadi asik dan berkesan bagi anak-anak, dan yang paling terpenting adalah pemilihan materi yang bisa membuat mereka antusias untuk mendiskusikannya. Iya, mungkin ini sangat berbeda dengan kegiatan belajar biasanya. Tapi hari ini banyak sekali temuan-temuan baru di dalam kelas belajar, yang terus terang membuat takjub dan <em>speechless</em>. <br><br>Bagaimana tidak, ternyata kelas online ini bisa menjadi wadah dalam penyampaian pendapat bagi anak-anak yang saat di sekolah tidak pernah berani untuk mengungkapkan pendapatnya. Entah itu karena alasan malu, takut salah, atau kurang fokus sehingga tidak tahu apa kasus yang sedang di bahas di forum diskusi.</div><div><br>Di forum diskusi hari ini semuanya berani menyampaikan pendapat dan juga masukan. Materi yang diangkat adalah tentang proses infeksi yang dilakukan oleh <em>Corona Virus Disease (COVID-19)</em> pada tubuh manusia. Hampir semua dari mereka sudah paham benar tentang hal ini, terlihat dari pendapat-pendapat mereka. Bisa jadi ini karena materi virus sudah pernah dibahas di sekolah saat belajar dan juga tidak menutup kemungkinan bahwa selama ini mereka juga belajar memahami hal tersebut di tengah ancaman wabah COVID-19 ini. <br><br>Saat menjawab beberapa pertanyaan yang diberikan, mereka lebih mengaitkan pada kondisi di lapangan. Itu artinya mereka belajar dari pengalaman. Mungkin ini salah satu hikmah yang dapat diambil dari keadaan yang kita alami sekarang. Meskipun ini merupakan bencana, namun pasti memiliki sisi positif atau manfaat yang dapat kita ambil.</div><div><br>Mereka sangat antusias dalam kegiatan diskusi ini. Bagaimana tidak, semua hal yang dibahas ini bisa menjadi ilmu bagi mereka semua untuk tetap menjaga diri demi mencegah dan menghentikan penyebaran COVID-19. Setelah hampir lebih kurang 2 jam, pelajaran ditutup dilanjutkan dengan tugas yang harus mereka selesaikan. <br><br>Mungkin materi belum terbahas sepenuhnya, tetapi setidaknya pendapat dan masukan dari mereka sudah sangat mewakili dalam pembahasan materi hari ini. Meski tidak berada dalam forum diskusi, percayalah bahwa mereka tetap bisa belajar menggunakan sumber lainnya. </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/479685546/dcd97ccac7c84ba092ac2016fd73d6d1/BeFunky_collage.jpg" />
         <pubDate>2020-04-01 06:00:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/485824538</guid>
      </item>
      <item>
         <title>“Menggali Unsur Matematika Dalam Wabah Corona”</title>
         <author>ernitaabdullah90</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/485842256</link>
         <description><![CDATA[<div><br><br>Hari ini adalah jadwal kedua saya mengajar tepatnya di kelas X IPA Slovenia dengan  karakteristik siswa-siswinya yang santuy dan sopan santun, sehingga membuat guru selalu menanti-nanti untuk masuk kelas ini. Pembelajaran yang diawali dengan salam dan vibrasi positif, serta obrolan manis atau yang biasa disebut dengan bronis tentang keberadaan mereka yang tak berkurang dari 24 jam di rumahnya masing-masing. Beragam jawaban yang kocak dan asli ngakak berasal dari isi komentarnya di dinding forum kelas, sembari bola mata dan tangan (menggerakkan arah kursor ke setiap komentar yang muncul) yang bekerjasama dalam memantau kebersamaan mereka dalam pembelajaran kali ini.<br><br></div><div>Sebelum beranjak ke topik inti pembelajaran, iseng pertanyaan muncul dari benak ini kepada mereka “Hmmm.....beragam ya...! Yang pastinya keberadaan kalian semua 24 jam di rumah tentu memberikan energi positif dan bermanfaat bagi keluarga. Nah kira-kira menurut kalian, berapa persen angka perbandingan terkait efektif pembelajaran via daring dengan tatap muka ?”. Tak satu pun siswa yang menanggapi “ kalau menurut saya, sama saja sih bu!”, namun hampir semua siswa membenarkan pernyataan bahwa pembelajaran matematika akan lebih efektif di atas 90% bila dilakukan dengan tatap muka. Pun demikian, segala upaya akan kita jalani bersama-sama demi kegiatan belajar tetap berjalan lancer via daring selama masa darurat sekalipun kurang maksimal.<br><br></div><div>Selanjutnya beralih ke forum berikutnya dengan pembahasan “Ok baik, hari ini kita akan belajar matematika yang berkaitan dengan si Covid-19. Nah, menurut kalian, kira-kira apa saja yang bisa kita kaitkan antara materi matematika dengan kasus wabah corona yang menggelisahkan banyak masyarakat secara menduniwi ? Ayo….Silakan diantara anak-anak ibuk memberi pendapat terbaiknya ! Pastikan semua siswa bisa mengutarakan pendapat briliantnnya ya Nak....!”. Tanggapan yang luar <em>amazing</em> spontan keluar dari tulisannya, baik dari siswa yang biasa-biasa saja kemampuannya di kelas, maupun siswa berkemampuan di atas rata-rata menjawab sangat lengkap. Tentu apresiasi dan tanggapan positif kepada setiap jawaban mereka. Akhirnya saya benar-benar merasa sedikit kewalahan dalam mengomentari setiap tanggapan mereka untuk menghindari kesejangan guru dalam memberikan apresiasi. Salah satu hal yang terpenting untuk diperhatikan oleh setiap guru sehingga tidak menjatuhkan semangat anak-anak yang sudah berusaha mengutarakan pendapatnya. <br><br></div><div>Karena sebelumnya mereka sudah menyebutkan tentang banyak hal yang bisa dikaitkan antara unsur matematika dengan wabah Corona, maka saya berinisiatif memberikan kebebasan bentuk atau model buat mereka untuk menggali unsur matematika dalam kasus corona di Indonesia khususnya dan dibuatkan dalam bentuk laporan sederhana, kemudian dikumpulkan via <em>google classroom</em>. <br><br></div><div>Beberapa diantaranya mengangkat tentang peluang pasien meninggal dari kasus Corona, menghitung persentase kenaikan angka kasus setiap harinya, menentukan jumlah kelipatan orang yang akan terinfeksi virus setelah bertemu dengan salah satu pasien positif yang tanpa sepengetahuannya, perbandingan jumlah korban positif korona di setiap wilayah, menyajikan data kasus corona dalam table dan grafik serta interpretasinya yang bersesuaian, dan lain sebagainya yang tidak memungkin untuk disebut satu-persatu dalam tulisan sederhana ini.<br><br></div><div>Tujuan yang ingin dicapai dari pembelajaran hari ini adalah unsur matematika apa saja yang mereka kaitkan dengan kasus Covid-19, mereka benar-benar dapat memahaminya dan bisa merasakan bahwa teori atau konsep yang sudah pernah didapatkan di kelas selalu bisa diterapkan dalam permasalahan sehari-hari. Harapannya terus semangat buat guru dan siswa untuk mencerdaskan generasi bangsa sekalipun dalam kondisi darurat, semoga segala bentuk hasil usaha dan niat baik kita Senantiasa Allah Membalasnya di kemudian hari, Aminnn.<br><br></div><div>فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ<br><br></div><div>وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ<br><br></div><div>Artinya : “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”<br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div>Sebuah pantun motivasi buat guru di masa Covid-19<br><br></div><div>“Buah semangka buah duku</div><div>Beli di toko Pak Doolu</div><div>Kami hormat dan sayang pada guru</div><div>Didik kami hingga jadi orang baru”</div><div> </div><div>“Beli televisi di toko China</div><div>Beli kain di toko Sutera</div><div>Engkau ajari kami dengan sukacita</div><div>Hingga kami meraih cita-cita”</div><div> </div><div>Wassalam, </div><div> </div><div>Ernita, S.Si</div><div> <br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-01 06:20:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/485842256</guid>
      </item>
      <item>
         <title>“Menggali Unsur Matematika Dalam Wabah Corona”</title>
         <author>ernitaabdullah90</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/485843549</link>
         <description><![CDATA[<div>Hari ini adalah jadwal kedua saya mengajar tepatnya di kelas X IPA Slovenia dengan  karakteristik siswa-siswinya yang santuy dan sopan santun, sehingga membuat guru selalu menanti-nanti untuk masuk kelas ini. Pembelajaran yang diawali dengan salam dan vibrasi positif, serta obrolan manis atau yang biasa disebut dengan bronis tentang keberadaan mereka yang tak berkurang dari 24 jam di rumahnya masing-masing. <br><br>Beragam jawaban yang kocak dan asli ngakak berasal dari isi komentarnya di dinding forum kelas, sembari bola mata dan tangan (menggerakkan arah kursor ke setiap komentar yang muncul) yang bekerjasama dalam memantau kebersamaan mereka dalam pembelajaran kali ini.<br><br></div><div>Sebelum beranjak ke topik inti pembelajaran, iseng pertanyaan muncul dari benak ini kepada mereka “Hmmm.....beragam ya...! Yang pastinya keberadaan kalian semua 24 jam di rumah tentu memberikan energi positif dan bermanfaat bagi keluarga. Nah kira-kira menurut kalian, berapa persen angka perbandingan terkait efektif pembelajaran via daring dengan tatap muka ?”. Tak satu pun siswa yang menanggapi “ kalau menurut saya, sama saja sih bu!”, namun hampir semua siswa membenarkan pernyataan bahwa pembelajaran matematika akan lebih efektif di atas 90% bila dilakukan dengan tatap muka. Pun demikian, segala upaya akan kita jalani bersama-sama demi kegiatan belajar tetap berjalan lancer via daring selama masa darurat sekalipun kurang maksimal.<br><br></div><div>Selanjutnya beralih ke forum berikutnya dengan pembahasan “Ok baik, hari ini kita akan belajar matematika yang berkaitan dengan si Covid-19. Nah, menurut kalian, kira-kira apa saja yang bisa kita kaitkan antara materi matematika dengan kasus wabah corona yang menggelisahkan banyak masyarakat secara menduniwi ? Ayo….Silakan diantara anak-anak ibuk memberi pendapat terbaiknya ! Pastikan semua siswa bisa mengutarakan pendapat briliantnnya ya Nak....!”. <br><br>Tanggapan yang luar <em>amazing</em> spontan keluar dari tulisannya, baik dari siswa yang biasa-biasa saja kemampuannya di kelas, maupun siswa berkemampuan di atas rata-rata menjawab sangat lengkap. Tentu apresiasi dan tanggapan positif kepada setiap jawaban mereka. Akhirnya saya benar-benar merasa sedikit kewalahan dalam mengomentari setiap tanggapan mereka untuk menghindari kesejangan guru dalam memberikan apresiasi. Salah satu hal yang terpenting untuk diperhatikan oleh setiap guru sehingga tidak menjatuhkan semangat anak-anak yang sudah berusaha mengutarakan pendapatnya. <br><br></div><div>Karena sebelumnya mereka sudah menyebutkan tentang banyak hal yang bisa dikaitkan antara unsur matematika dengan wabah Corona, maka saya berinisiatif memberikan kebebasan bentuk atau model buat mereka untuk menggali unsur matematika dalam kasus corona di Indonesia khususnya dan dibuatkan dalam bentuk laporan sederhana, kemudian dikumpulkan via <em>google classroom</em>. <br><br></div><div>Beberapa diantaranya mengangkat tentang peluang pasien meninggal dari kasus Corona, menghitung persentase kenaikan angka kasus setiap harinya, menentukan jumlah kelipatan orang yang akan terinfeksi virus setelah bertemu dengan salah satu pasien positif yang tanpa sepengetahuannya, perbandingan jumlah korban positif korona di setiap wilayah, menyajikan data kasus corona dalam table dan grafik serta interpretasinya yang bersesuaian, dan lain sebagainya yang tidak memungkin untuk disebut satu-persatu dalam tulisan sederhana ini.<br><br></div><div>Tujuan yang ingin dicapai dari pembelajaran hari ini adalah unsur matematika apa saja yang mereka kaitkan dengan kasus Covid-19, mereka benar-benar dapat memahaminya dan bisa merasakan bahwa teori atau konsep yang sudah pernah didapatkan di kelas selalu bisa diterapkan dalam permasalahan sehari-hari. Harapannya terus semangat buat guru dan siswa untuk mencerdaskan generasi bangsa sekalipun dalam kondisi darurat, semoga segala bentuk hasil usaha dan niat baik kita Senantiasa Allah Membalasnya di kemudian hari, Aminnn.<br><br></div><div>فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ<br><br></div><div>وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ<br><br></div><div>Artinya : “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”<br><br></div><div>****</div><div>Sebuah pantun motivasi buat menyemangati guru di masa Covid-19<br><br></div><div>“Buah semangka buah duku</div><div>Beli di toko Pak Doolu</div><div>Kami hormat dan sayang pada guru</div><div>Didik kami hingga jadi orang baru”</div><div> </div><div>“Beli televisi di toko China</div><div>Beli kain di toko Sutera</div><div>Engkau ajari kami dengan sukacita</div><div>Hingga kami meraih cita-cita”</div><div> </div><div>Wassalam, </div><div> </div><div>Ernita, S.Si</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-01 06:22:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/485843549</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SOCIAL DISTANCING</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/485985016</link>
         <description><![CDATA[<div>(Oleh: Fitriadi)<br><br>Sepintas judul ini menjurus pada kondisi saat ini yang sedang gundah gulana dengan hadirnya sang fenomenal "COVID-19". Entah ini berkah atau justru musibah bagi sebagian besar mereka yang kita sebut Siswa. <br><br>Maaf bukan untuk merendahkan kedudukan mereka para siswa kita. Mengapa kalimat ini saya utarakan, sebagian besar mengartikan bahwa berhentinya aktifitas sekolah maka dengan sendirinya pelembelajaran dihentikan atau menggunakan istilah kerennya " auto libur ".<br><br>Sebagian lainnya, menganggap ini sebagai kekecewaan atas tidakadanya kegiatan pembelajaran secara normal. Mungkin inilah yang dirasakan para "penghuni" Iceland yang begitu saya banggakan.<br><br>Hari ini tanggal 1 april 2020 pertama kalinya kami bertemu di kelas maya, mengawali pembelajaran dengan salam dan sedikit pembuka sebagai pemanis untuk kegiatan jari ini. <br><br>Postingan di forum sengaja saya buat lebih awal dari jadwal, takut terlewat itu alasan yang paling tepat. Ini juga bukan tampa alasan, mengingat antusias para penghuni tadi yang bisa dihitung dengan jari. " Palingan si A, si B dan si C " begitu suuzon saya.<br><br>Meski tidak seluruhnya siswa saya mengikuti sesi hari ini, tapi apa yang menjadi kegusaran saya untuk kegiatan kelas maya sirna seketika ketia respon untuk social distancing datang dari siswa. Betapa kagumnya saya melihat respon dari siswa ini. Hanya bermodalkan pancingan diskusipun dimulai.<br><br>Siswa diminta untuk mengidentifikasi apa saja masalah sosial yang ditimbulkan akibat social distancing sebagai imbas kebijakan untuk antisipasi penyebaran covid 19. Beragam respon pun berdatangan, bahkan seorang Zainah yang sangat rendah sekali bahkan terhitung "mahal" untuk berpartisipasi dikelas normal, justru mengeluarkan respon yang di luar dugaan saya. <br><br>Secara keseluruhan ilmu sosial (IPS)-nya mereka mulai tampak dalam pembelajaran hari ini, sekali lagi saya bangga pada mereka dalam ketidakadanya aturan yang mengikat mereka untuk belajar, justru situasi yang ada mampu mereka manfaatkan untuk pembelajaran tentang masalah sosial, khususnya <em>social distancing.<br><br></em>Sekian cerita hari ini.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-01 08:00:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/485985016</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SEMANGAT BELAJAR DITENGAH CORONA</title>
         <author>fajrulriska3</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/486158302</link>
         <description><![CDATA[<div>Hari ini, di awal bulan April, untuk yang pertama kali saya mengajar kelas online di kelas XI IPA Costa Rica. Belum tepat jam 10.00 sesuai dengan jadwal di mulainya pelajaran, anak-anak sudah pada hadir. <br><br>Anak-anak duluan yang menyapa saya, ada yang mengatakan "hadir Bu", "Siap belajar Bu", "Bu saya sudah ada ya", ada juga yang mengucapkan salam dan menyapa kawan-kawannya yang lain. Terharu dengan semangat belajarnya mereka di tengah pandemi Corona ini. Ternyata ini juga sudah diantisipasi oleh walikelasnya yang mengatakan "jika kalian telat masuk classroom Ibu suruh buat puisi".<br><br>Tepat jam 10.00 kelas di mulai dengan sebuah senam otak menggunakan tangan. Anak-anak pun berkomentar, "Bu, kita senam jari ya"? "Bu, otak saya udah panas Bu gegara banyak tugas", ada juga yang udah gak sabar nanya "Bu, kita siap senam ini ngapain Bu"? Belajar apa kita? Setelah saya jelaskan materi yang udah saya bagikan, saya mengajak mereka berdiskusi. <br><br>Seperti biasanya, kelas yang mempunyai sebutan Costa Rica Boommm ini langsung bersemangat memulai diskusi. Mereka memang sangat suka berdiskusi. Tidak hanya dikelas, di classroom pun mereka berlomba-lomba memberikan pendapat terkait pengamanan pencegahan virus Corona ini. <br><br>Ada yang mengatakan "pengamanan di tempat kita udah bagus Bu, udah berlakunya jam malam", yang keluar di atas jam yang telah tentukan ditangkap Bu", ada juga yang memberikan pendapat, Indonesia ini belum siap nerima virus Corona Bu", "pemerintah belum mampu mengambil kebijakan yang adil", "kasian Bu orang miskin dituduh yang nyebarin virus Corona, "kemaren orang berjualan di kampung saya di tangkap Bu" kasian rakyat miskin jadi korban". <br><br>Ada juga yang berkomentar "semiskin-miskinnya orang Aceh gak akan meninggal kelaparan, orang Aceh yang miskin  tapi punya sawah 1, kebun 1, binatang ternak, semiskin miskinnya orang Aceh pasti punya motor". Waah diskusinya semakin seru, anak-anak saling memberikan pendapatnya. Bahkan isi komentarnya sampai ratusan. Kelas maya ini tidak menyurutkan semangat belajar pada mereka.  <br><br>Setelah saya menjelaskan problema virus Corona ini, saya meminta anak-anak untuk mengerjakan tugas individu. Mereka langsung mengeluh. "Bu kami banyak kali tugas, belum lagi harus beresin rumah, nyapu, masak, ditambah lagi tugas yang menumpuk, Bu kasihanilah kami. "Tolong berikan waktu lebih dalam mengumpulkan tugas". Anak-anak langsung panik ketika ada tugas. Namun setelah mereka melihat isi tugasnya, mereka langsung mengerjakan tugas. Bahkan Hafiz dan Aji sudah selesai disaat yang lainnya masih mengeluh meminta dispensasi waktu.<br><br>Diskusi selesai, beberapa siswa telah mengirimkan tugas sebelum jam pelajaran selesai. Ada yang mengirimkan melalui email dikarenakan gagal mengirimkan melalui classroom. Ada juga yang sesuai arahan melalui classroom, ada juga kedua duanya. Classroom dan email, katanya "buat jaga-jaga Bu, kali ajha gak masuk tugasnya karena classroomnya lelet". <br><br>Jam menunjukkan pukul 12.00. Kelas online pun berakhir. Kelas ditutup dengan refleksi pembelajaran dan manfaat yang didapatkan dalam materi ini. Hampir semua anak-anak mengumpulkan tugas tepat pada waktunya. Kalau soal disiplin waktu, mereka sudah tidak diragukan lagi. The Best lah. Kelas pun saya tutup dengan salam. KBM online hari ini sangat menyenangkan.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/460785973/878ec7560aa523adcbe7523d88346670/WhatsApp_Image_2020_04_01_at_20_46_50.jpeg" />
         <pubDate>2020-04-01 09:23:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/486158302</guid>
      </item>
      <item>
         <title>“Menggali Unsur Matematika Dalam Wabah Corona”</title>
         <author>ernitaabdullah90</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/486995422</link>
         <description><![CDATA[<div>Hari ini adalah jadwal kedua saya mengajar tepatnya di kelas X IPA Slovenia dengan  karakteristik siswa-siswinya yang santuy dan sopan santun, sehingga membuat guru selalu menanti-nanti untuk masuk kelas ini. Pembelajaran yang diawali dengan salam dan vibrasi positif, serta obrolan manis atau yang biasa disebut dengan bronis tentang keberadaan mereka yang tak berkurang dari 24 jam di rumahnya masing-masing. <br><br>Beragam jawaban yang kocak dan asli ngakak berasal dari isi komentarnya di dinding forum kelas, sembari bola mata dan tangan (menggerakkan arah kursor ke setiap komentar yang muncul) yang bekerjasama dalam memantau kebersamaan mereka dalam pembelajaran kali ini.<br><br></div><div>Sebelum beranjak ke topik inti pembelajaran, iseng pertanyaan muncul dari benak ini kepada mereka “Hmmm.....beragam ya...! Yang pastinya keberadaan kalian semua 24 jam di rumah tentu memberikan energi positif dan bermanfaat bagi keluarga. Nah kira-kira menurut kalian, berapa persen angka perbandingan terkait efektif pembelajaran via daring dengan tatap muka ?”. <br><br>Tak satu pun siswa yang menanggapi “ kalau menurut saya, sama saja sih bu!”, namun hampir semua siswa membenarkan pernyataan bahwa pembelajaran matematika akan lebih efektif di atas 90% bila dilakukan dengan tatap muka. Pun demikian, segala upaya akan kita jalani bersama-sama demi kegiatan belajar tetap berjalan lancer via daring selama masa darurat sekalipun kurang maksimal.<br><br></div><div>Selanjutnya beralih ke forum berikutnya dengan pembahasan “Ok baik, hari ini kita akan belajar matematika yang berkaitan dengan si Covid-19. Nah, menurut kalian, kira-kira apa saja yang bisa kita kaitkan antara materi matematika dengan kasus wabah corona yang menggelisahkan banyak masyarakat secara menduniwi ? Ayo….Silakan diantara anak-anak ibuk memberi pendapat terbaiknya ! Pastikan semua siswa bisa mengutarakan pendapat briliantnnya ya Nak....!”. <br><br>Tanggapan yang luar <em>amazing</em> spontan keluar dari tulisannya, baik dari siswa yang biasa-biasa saja kemampuannya di kelas, maupun siswa berkemampuan di atas rata-rata menjawab sangat lengkap. Tentu apresiasi dan tanggapan positif kepada setiap jawaban mereka. Akhirnya saya benar-benar merasa sedikit kewalahan dalam mengomentari setiap tanggapan mereka untuk menghindari kesejangan guru dalam memberikan apresiasi. Salah satu hal yang terpenting untuk diperhatikan oleh setiap guru sehingga tidak menjatuhkan semangat anak-anak yang sudah berusaha mengutarakan pendapatnya. <br><br></div><div>Karena sebelumnya mereka sudah menyebutkan tentang banyak hal yang bisa dikaitkan antara unsur matematika dengan wabah Corona, maka saya berinisiatif memberikan kebebasan bentuk atau model buat mereka untuk menggali unsur matematika dalam kasus corona di Indonesia khususnya dan dibuatkan dalam bentuk laporan sederhana, kemudian dikumpulkan via <em>google classroom</em>. <br><br></div><div>Beberapa diantaranya mengangkat tentang peluang pasien meninggal dari kasus Corona, menghitung persentase kenaikan angka kasus setiap harinya, menentukan jumlah kelipatan orang yang akan terinfeksi virus setelah bertemu dengan salah satu pasien positif yang tanpa sepengetahuannya, perbandingan jumlah korban positif korona di setiap wilayah, menyajikan data kasus corona dalam table dan grafik serta interpretasinya yang bersesuaian, dan lain sebagainya yang tidak memungkin untuk disebut satu-persatu dalam tulisan sederhana ini.<br><br>Tujuan yang ingin dicapai dari pembelajaran hari ini adalah unsur matematika apa saja yang mereka kaitkan dengan kasus Covid-19, mereka benar-benar dapat memahaminya dan bisa merasakan bahwa teori atau konsep yang sudah pernah didapatkan di kelas selalu bisa diterapkan dalam permasalahan sehari-hari. Harapannya terus semangat buat guru dan siswa untuk mencerdaskan generasi bangsa sekalipun dalam kondisi darurat, semoga segala bentuk hasil usaha dan niat baik kita Senantiasa Allah Membalasnya di kemudian hari, Aminnn.<br><br></div><div>فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ<br><br></div><div>وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ<br><br></div><div>Artinya : “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”<br><br></div><div>Sebuah pantun motivasi buat guru di masa Covid-19<br><br></div><div>“Buah semangka buah duku</div><div>Beli di toko Pak Doolu</div><div>Kami hormat dan sayang pada guru</div><div>Didik kami hingga jadi orang baru”</div><div> </div><div>“Beli televisi di toko China</div><div>Beli kain di toko Sutera</div><div>Engkau ajari kami dengan sukacita</div><div>Hingga kami meraih cita-cita”</div><div> </div><div>Wassalam, </div><div> </div><div>Ernita, S.Si</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-01 15:35:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/486995422</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SOCIAL DISTANCING</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/487990732</link>
         <description><![CDATA[<div>(Oleh: Fitriadi)<br><br>Sepintas judul ini menjurus pada kondisi saat ini yang sedang gundah gulana dengan hadirnya sang fenomenal "COVID-19". Entah ini berkah atau justru musibah bagi sebagian besar mereka yang kita sebut Siswa. <br><br></div><div>Maaf bukan untuk merendahkan kedudukan mereka para siswa kita. Mengapa kalimat ini saya utarakan, sebagian besar mengartikan bahwa berhentinya aktifitas sekolah maka dengan sendirinya pelembelajaran dihentikan atau menggunakan istilah kerennya " auto libur ".<br><br></div><div>Sebagian lainnya, menganggap ini sebagai kekecewaan atas tidakadanya kegiatan pembelajaran secara normal. Mungkin inilah yang dirasakan para "penghuni" Iceland yang begitu saya banggakan.<br><br></div><div>Hari ini tanggal 1 april 2020 pertama kalinya kami bertemu di kelas maya, mengawali pembelajaran dengan salam dan sedikit pembuka sebagai pemanis untuk kegiatan hari ini. <br><br></div><div>Postingan di forum sengaja saya buat lebih awal dari jadwal, takut terlewat itu alasan yang paling tepat. Ini juga bukan tampa alasan, mengingat antusias para penghuni tadi yang bisa dihitung dengan jari. " Palingan si A, si B dan si C " begitu suuzon saya.<br><br></div><div>Meski tidak seluruhnya siswa saya mengikuti sesi hari ini, tapi apa yang menjadi kegusaran saya untuk kegiatan kelas maya sirna seketika ketia respon untuk social distancing datang dari siswa. Betapa kagumnya saya melihat respon dari siswa ini. Hanya bermodalkan pancingan diskusipun dimulai.<br><br></div><div>Siswa diminta untuk mengidentifikasi apa saja masalah sosial yang ditimbulkan akibat social distancing sebagai imbas kebijakan untuk antisipasi penyebaran covid 19. Hasilnya, siswa mampu memetakan masalah sosial yang timbul pada lapisan sosial terendah dalam masyarakat. <br><br>Mereka menemukan persoalan seperti ketakutan berlebihan serta mata pencaharian. Beragam respon pun berdatangan, bahkan seorang Zainah yang sangat rendah sekali bahkan terhitung "mahal" untuk berpartisipasi dikelas normal, justru mengeluarkan respon yang di luar dugaan saya. <br><br>"Ketakutan yang berlebihan contohnya seperti jika ada orang yang meninggal baru pulang dari luar kota langsung mereka menduga bahwa beliau meninggal karena virus Corona padahal bisa jadi beliau darah tinggi ataupun sakit jantung." begilah kurang lebih pendapat zainah.<br><br></div><div>"<em>Berbicara tentang mata pencaharian, sudah barang tentu bagi kalangan bawah menjadi korban. Setidak-tidaknya inilah yang tergambarkan oleh siswa". Seperti yang disampaikan Ulfa Musfirah <br><br>"Social distancing dianggap mengakibatkan kerentanan sosial pada masyarakat, khususnya bagi pekerja informal atau yang sumber ekonominya di dapat sehari hari dan tidak memiliki gaji pokok yang tetap". <br><br>Hal senada juga disampaikan oleh balqis " banyak dalam kehidupan seperti tukang becak , kuli baangunan, daan pekerja paruh waktu yang mencari nafkah satu hari untuk sesuap nasi . ini berdamoak besar dalam pemberhentian aktifitas diluar untuk pekerja yang mencari nafkah seperti itu"<br></em><br></div><div>Meski banyak permasalahan sosial yaang ditimbulkan dengan adanya <em>social distancing</em>, siswa juga mengungkapkan sisi positif dari kondisi terbut. Seperri yang disampaikan oleh M. Aqil "Sosial distancing ini bisa mengurangi resiko penyebaran coronavirus karna virus itu menular antarmanusia melalui droplet (partikel air liur) saat menderita bersin dan batuk. Dalam menjalankan ini kita dapat menjaga jarak minimal 2m dengan orang lain dan gak di peluk sama salam dengan orang lain" wah penjelasannya bak seorang profesor.<br><br></div><div>Secara keseluruhan ilmu sosial (IPS)-nya mereka mulai tampak dalam pembelajaran hari ini, sekali lagi saya bangga pada mereka dalam ketidakadanya aturan yang mengikat mereka untuk belajar, justru situasi yang ada mampu mereka manfaatkan untuk pembelajaran tentang masalah sosial, khususnya social distancing.<br><br></div><div>Sekian cerita hari ini.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-02 03:23:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/487990732</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PENGURUSAN JENAZAH PADA SAAT KONDISI CORONA COVID-19</title>
         <author>ismayaniismail95</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/489064325</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Hari ini, pertama kali saya mengajar melalui kelas online di kelas XI IPA GREECE. Tepat jam 10.00 siswa sudah pada berhadir.<br>Siswa langsung menyapa, ada yang mengatakan “hadir Bu”, “saya sudah hadir Bu”, ada yang mengucap salam dan menggunakan namanya untuk mengabsen kehadiran. Terharu dengan semangat anak-anak, yang gigih dalam menuntut ilmu dalam keadaan kondisi yang sekarang ini.<br>Tepat jam 10. 10 kelas dimulai dengan senam. Sebahagian siswa berkomentar: “Bu, kita senam apa?”, “Bu, otak saya sudah panas karena kebanyakan tugas”, Ada juga yang sudah tidak sabar ingin memulai pembelajaran, “buk kita belajar apa sekarang?”. Setelah saya memberikan materi yang akan dipelajari, saya menyuruh siswa untuk mendiskusikannya.<br>Setelah saya memberikan dan menjelaskan sedikit materi, saya meminta anak-anak untuk mengerjakan tugas individual, Alhamdulillah tidak ada yang mengeluh. <br>Setelah diskusi selesai, ada beberapa siswa yang telah mengirimkan tugasnya melalui classroom ataupun email. Dikarenakan takut tugasnya tidak terkirim ke classroom disebabkan jaringannya lelet.<br>Jam menunjukkan pukul 12.00 kelas online pun berakhir. Kelas ditutup dengan refleksi pembelajaran dan manfaatnya yang didapat dalam materi ini, siswa tidak banyak mengeluh, dan langsung mengerjakan tugas yang diberikan serta mengumpulkan tugas kebanyakan tepat pada waktunya. Kelaspun saya tutup dengan salam. Proses KBM hari ini sangat menyenangkan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-02 14:23:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/489064325</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Teknologi dimasa Pandemi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/490429366</link>
         <description><![CDATA[<div>Oleh : Sri Yenda, S.Pd. <br><br>Corona adalah satu kata yang selama ini tidak pernah kita fikirkan, tidak pernah kita bayangkan akan ada masa seperti yang kita rasakan saat ini. Berawal dari Wuhan virus ini berasal, kemudian merambah ke belahan bumi yang lain. Virus Corona asal namanya dan lebih popular dengan Covid-19,  semua kita takut dengan virus yang satu ini, kenapa? karena proses penyebarannya yang sangat cepat, belum sampai setengah tahun dia berada di dunia ini, virus ini mampu merenggut puluhan ribu nyawa di seluruh muka bumi.<br><br></div><div>Covid-19 mampu mengubah segala sektor, tidak hanya di bidang kesehatan, ekonomi bahkan pendidikan ikut berpengaruh  karena kedatangan virus mematikan ini. Banyak guru dituntut untuk bisa menggunakan bermacam aplikasi untuk mendukung pembelajaran yang sedang di lakukan secara daring. Teknologi yang berkembang pesat saat ini sangat membantu para guru untuk memberikan ilmu kepada siswanya di tengah kondisi yang tidak memungkinkan kita untuk bertemu secara langsung.  <br><br></div><div>Covid-19 mengubah pemikiran kita para guru untuk belajar banyak tentang teknologi, tentang aplikasi yang bisa kita gunakan untuk mengajar secara daring. Hal inilah yang saya rasakan saat ini, karena profesi saya sebagai guru. 3 minggu waktu sudah berlalu menjalankan pembelajaran di rumah, dua minggu pertama dimanfaatkan untuk mengawasi jalannya ujian tengah semester dan remedial serta penguatan materi UN yang ternyata ikut dibatalkan. Minggu ketiga pembelajaran daringpun dimulai, tepat hari Jumat tanggal 03 Maret 2020 sayapun memulai kelas dari bersama siswa kelas XI ipa Greece.<br><br></div><div>Tepat pukul 10.00 wib, saya memulai kelas, menyapa siswa dengan penuh semangat. di waktu yang bersaman kami di level SMA juga mengadakan rapat online menggunakan aplikasi zoom untuk pertama kalinya. Kelas berlangsung dengan hangat, anak-anak mulai bermunculan untuk absen di kelas tersebut. Rapatpun berlangsung lancar, semua teman2 sudah bergabung di kegiatan rapat kami. Sebenarnya ada rasa sedikit kecewa dalam diri saya sendiri, karena saya tidak bisa konsentrasi di dua kegiatan ini. <br><br>Saya merasa kurang maksimal di kelas online kali ini, saya kurang menyapa siswa ketika siswa mampu memberikan informasi terkait Covid-19 yang sedang menyerang dunia, jaringan tiba-tiba melambat dan saya tidak bisa mengirimkan materi yang sudah dipersiapkan untuk anak-anak, akhirnya mereka saya intruksikan untuk mempelajari materinya sendiri.<br><br></div><div>Pembelajaran online berlangsung lancar, anak-anak semangat sekali berada di kelas online, ini terlihat dari informasi yang mereka bagikan di kelas daring. Setelah saya menyampaikan materi yang dipelajari hari itu, saya memberikan teman tulisan anak-anak, mereka mencoba membuat tugasnya. <br><br>Untuk pengumpulan tugas, kembali saya berdiskusi dengan anak-anak, supaya mereka tidak terbebani. Waktu yang saya berikan pertamanya sampai jam 14.00 siang, namun saya baru ingat jika hari ini hari jumat, sebagian anggota kelas laki-laki dan pastinya kan melaksanakan shalat Jumat. <br><br>Akhirnya ada beberapa siswa yang menyarankan kalau pengumpulan tugasnya di berikan sampai malam, dan pendapat tersebut di iyakan oleh teman-temannya yang lain. Akhirnya saya menyetujuinya, siswa akan mengumpulkan tugasnya samapai jam 20.00 wib.<br><br></div><div>Tepat jam 12.00 pembelajaran selesai, saya menutup kelasnya, dan Alhamdulillah ternyata sudah ada yang mengumpulkan tugasnya ketika saya menutup kelas, walaupun belum semuanya, namun saya sangat menghargai mereka yang sudah berusaha mengumpulkan tugas tersebut. akhirnya rapat level juga berakhir, setelah semuanya selesai, sayapun beraktifitas ke dapur melanjutkan tugas wajib, menyiapkan makan siang untuk keluarga tercinta.<br><br></div><div>Banyak hal baru yang kita dapatkan selama menjalani proses pembelajaran di rumah. Semoga apapun yang kita lakukan saat ini merupakan suatu usaha kita untuk tetap bisa berkomunikasi dan memberikan ilmu kepada anak didik kita yang Allah catat sebagai lading amal untuk kita di akhirat kelas. Sekian tulisan singkat yang dapat saya tulis di kesempatan ini, banyak sekali kesalahan, mohon dimaafkan.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-03 07:42:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/490429366</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mengikuti Perkembangan Bahasa di Tengah Wabah Virus Corona</title>
         <author>dewips15</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/490573377</link>
         <description><![CDATA[<div>Jumat pagi, 3 April 2020 saya memulai KDR (Kerja dari Rumah) dengan menatap laptop dan disandingkan dengan <em>handphone</em> di sampingnya. Mengapa demikian? Ya, karena hari ini saya memiliki undangat rapat bersama kepala sekolah dan teman-teman guru lainnya pada pukul 10.00 WIB. <br><br>Di tengah situasi darurat Corona ini, Pak Zubir selaku kepala sekolah memikirkan cara yang sangat kreatif untuk melakukan rapat yang tetap mengindahkan anjuran pemerintan terkait pembatasan sosial (<em>social distancing</em>). Beliau mengajak kami para guru untuk rapat daring menggunakan aplikasi <em>Zoom</em>. Aplikasi yang baru pertama kali saya coba dan tentunya cukup membuat saya tergugah.<br><br>Pagi ini intinya saya memecah fokus ke dalam dua kegiatan, yaitu mengajar daring untuk kelas X IPA Andorra La Vella dan mengikuti jalannya rapat. Meskipun pada awalnya ada sedikit kendala teknis, tapi rapat daring ini kurang-lebih mampu mengobati rindu saya untuk melihat teman-teman seperjuangan yang sudah cukup lama tidak berjumpa.<br><br>Di sisi lain, karena waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB, maka dengan segera saya membuka kelas daring Bahasa Indonesia menggunakan <em>Google Classroom</em>. Tak sabar juga rasanya ingin membangun interaksi dan melihat reaksi anak-anak. Saya mulai kelas dengan menyapa mereka dan memberikan instruksi untuk melakukan absensi. <br><br>"Waalaikum salam hadir buk", jawab Dini mengawali absen tersebut dan diikuti oleh teman-temannya yang lain. Syukurlah 24 dari 25 siswa X IPA Andorra la Vella hadir pada kelas daring Bahasa Indonesia hari ini. Satu diantaranya berhalangan hadir dikarenakan terhalang oleh masalah koneksi internet. <br><br>Sesi absensi pun berakhir pada pukul 10.17 WIB. Saya memulai apersepsi dengan menanyakan kabar atau berita terbaru apa yang siswa peroleh terkait penyebaran dan penanganan wabah virus Covid-19. Memang pembelajaran dalam minggu ini difokuskan pada Covid-19, sehingga seluruh guru dari tiap mapel mengaitkan materi ajarnya dengan kasus wabah virus Covid-19 tersebut.<br><br>Satu per satu siswa memberikan komentar berupa berita terbaru apa yang mereka ketahui tentang penyebaran wabah Covid-19. Hampir keseluruhan dari mereka aktif memberikan komentar. Ini menandakan bahwa selama "libur" mereka tetap mengikuti perkembangan berita yang ada, baik di dalam maupun luar negeri. Apresiasi terhadap apa yang mereka lakukan pun tidak lupa saya berikan. <br><br>Beranjak dari obrolan ringan tersebut, saya langsung menyampaikan kepada siswa tentang topik yang akan dipelajari pada hari ini, yaitu "Makna dan Padanan Istilah". Saya memilih materi ini karena melihat perkembangan bahasa yang terjadi belakangan. Ada banyak istilah-istilah baru yang muncul di pemberitaan dan saya rasa perlu untuk diketahui siswa sebagai tambahan wawasan dan menambah perbendaharaan kosakata mereka.<br><br>Sebagai bahan ajar, saya kirimkan <em>link</em> video CNN Indonesia yang menjelaskan tentang daftar-daftar istilah yang kerap digunakan selama pemberitaan tentang wabah virus Covid-19. Siswa menyaksikan video tersebut dan menuliskan rangkuman sampai batas waktu yang saya tentukan. Kurang-lebih 40 menit waktu yang saya berikan untuk mengolah informasi tersebut dan menuangkannya ke dalam bahasa mereka sendiri.<br><br>Pada tenggang waktu yang diberikan satu per satu siswa mengunggah tugasnya berupa foto dari catatan mereka sendiri. Mereka tidak perlu menuliskan panjang-lebar, karena saya menginstruksikan mereka untuk menulis menggunakan bahasa yang singkat dan mudah mereka pahami. Selanjutnya, sebagai bahan latihan saya juga meminta siswa untuk mencari makna dan padanan dalam bahasa Indonesia dari tujuh istilah yang berkenaan dengan wabah virus Covid-19, yaitu: 1) <em>lockdown</em>, 2) <em>social distancing</em>, 3) <em>pandemic</em>, 4) <em>hand sanitizer</em>, 5) WFH (<em>Work from Home</em>), 6) <em>panic</em> <em>buying</em>, dan 7) <em>rapid test</em>. Istilah-istilah tersebut belakangan sering terdengar dan digunakan oleh masyarakat, sehingga saya mengajak siswa untuk mengetahui padanan istilahnya dalam bahasa Indonesia. Dalam tenggang waktu yang ditentukan, yakni kurang-lebih satu jam, siswa mencari tahu makna dan padanan dari istilah-istilah tersebut. Siswa dianjurkan untuk menggunakan KBBI luring atau sumber belajar lainnya.<br><br>Tepat pukul 11.40 WIB, satu per satu dari mereka mulai mengunggah hasil kerjanya. Anisa Sabila Nura memimpin sebagai yang paling awal. Saya cukup puas melihat kesungguhan anak-anak dalam mengerjakan tugas tersebut. Meskipun belum tepat semuanya, setidaknya usaha dari mereka patut diacungi jempol. Sebagai bahan perbandingan, saya pun turut mengunggah kunci jawaban dari LKS tersebut. <br><br>Tibalah di waktu sepuluh menit terakhir, saya mengajak mereka untuk bermain <em>live</em> <em>quiz</em> menggunakan aplikasi <em>Quizizz</em>. Saya cukup kirimkan kode kuis dan siswa pun langsung dapat <em>join</em> di dalamnya. Ada 10 soal yang saya berikan di dalamnya dengan bentuk soal pilihan ganda. Hal ini saya lakukan untuk menguji seberapa jauh pemahaman mereka terhadap materi yang sudah dipelajari. Setelah semua siswa bergabung, saya sebagai pemandu kuis pun menekan tombol <em>play</em> sebagai tanda dimulainya kuis tersebut. Saya memantau berjalannya kuis hingga selesai. Ada yang menjawab benar semua dan adapula beberapa yang masih keliru dalam menjawab. <br><br>Akan tetapi, di luar itu semua yang paling penting dalam keinginan dan semangat siswa dalam belajar. Sungguh berkat teknologi yang semakin mutakhir saat ini tidak menjadi penghalang bagi guru dan siswa untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Semoga dengan niat dan kesungguhan siswa untuk tetap belajar dalam situasi genting seperti ini, dapat menjadi saksi bagu mereka untuk menikmati kesuksesan di masa yang akan datang. Aamiin ya Rabbal alamin.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/479685622/f5b0755a167d9333b06e87567c3ece6f/capture_20200403_120350.jpg" />
         <pubDate>2020-04-03 08:59:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/490573377</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Corona, cepatlah pergi! Kami sudah jenuh.</title>
         <author>dianmayaputridmp</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/493980429</link>
         <description><![CDATA[<div>Mengajar daring di kelas yang satu ini benar-benar sangat berbeda dengan kelas lainnya. Dari 26 siswa keseluruhan, hanya 18 orang yang sudah hadir di kelas online, dan sangat disayangkan hanya sekitar 7 - 8 orang saja yang aktif saat kegiatan diskusi. Padahal bukan kali pertama mereka belajar secara online, mereka sudah belajar dengan mekanisme seperti ini dari seminggu yang lalu. <br><br>Artinya mereka sudah terbiasa. Tapi entah kenapa rasanya hari ini kegiatan pembelajaran sama sekali tidak efektif. Forum diskusi yang dibuka pun terasa hambar. Padahal materi yang disampaikan sama dengan materi yang juga pernah disampaikan di kelas yang paralel dengan mereka, namun responnya sangat berbeda.</div><div><br>Saat disapa pertama sekali ketika membuka pembelajaran, mereka yang merespon juga sangat sedikit. Apalagi sangat banyak mereka yang terlambat. Diskusi pertama pun dimulai, hanya anak-anak itu saja yang sangat aktif memberikan pendapat dan beberapa pertanyaan. Mereka yang lainnya mungkin hanya jadi penonton saja. Mungkin ini salah satu sisi negatif dari pembelajaran online. Dimana guru tidak bisa 100% mengontrol siswa. <br><br>Tidak bisa melakukan banyak hal yang dapat memotivasi siswa. Hanya sebatas kata-kata motivasi yang diketik di forum kemudian mereka baca. Sepertinya ini tidak terlalu berefek pada mereka. Sempat berpikir, mungkin respon mereka yang seperti ini disebabkan karena mereka mulai jenuh atau karena ini kelas IPS yang membahas materi IPA. <br><br>Tapi ini tidak berlaku pada beberapa anak yang benar-benar antusias dalam forum diskusi. Sebagai guru juga sering bertanya-tanya, apakah materi yang disampaikan tidak menarik atau cara mengemas pembelajaran yang monoton sehingga siswa merasa bosan dan tidak merasa tertantang untuk mengikuti pembelajaran. <br><br>Entahlah tapi ini benar-benar pengalaman pembelajaran online yang tidak semenarik biasanya. Harapan terbesar semoga keadaan cepat membaik dan semuanya bisa dilakukan seperti biasa.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-06 04:49:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/493980429</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tahfiz Daring Selama Masa Karantina</title>
         <author>dewips15</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/494366493</link>
         <description><![CDATA[<div>Tak hanya KBM daring, SMAS Sukma Bangsa Lhokseumawe juga menggiatkan program Tahfiz dan Tahsin via daring. Ini merupakan kegiatan yang dilakukan tiap pagi pukul 08.40-09.30 WIB. Guru-guru diperbolehkan menggunakan beberapa aplikasi daring yang memudahkan proses pembelajaran, seperti <em>Google Classroom</em> dan <em>Zoom</em>.<br><br>Saya sebagai pembimbing kelompok Tahfiz A khusus akhwat memilih <em>Google Classroom</em> dalam proses pembelajaran ini. Saya membimbing 10 siswa, yang terdiri dari gabungan siswa kelas X dan XI. Ini merupakan pertemuan kali ke-6 kami.<br><br>Tepat pukul 08.40 WIB saya menyapa siswa-siswa di grup tersebut. Seperti biasa, salam dan doa saya selipkan dengan harapan semoga mereka senantiasa dalam keadaan sehat walafiat selama masa karantina dan pembatasan sosial ini. <br><br>Saya mulai kelas dengan mengajak siswa untuk melakukan absensi. Satu per satu dari mereka menjawab dalam kolom komentar. Siti Indah Maharani, siswi kelas XI menjawab duluan. Lalu, diikuti adik-adik kelasnya di kelas X, yaitu Cut Aziza, Tasya Fathia, Faraz Andini, dan yang lainnya. Terpantau pada pukul 08.53 WIB baru 8 orang yang hadir. Artinya ada dua orang siswa yang tampak belum bergabung dalam forum tersebut. <br><br>Fokus pada yang sudah bergabung, saya menuliskan kembali ajakan kepada siswa-siswa tersebut untuk melaksanakan salat Duha terlebih dahulu. Hal itu sudah kami lakukan sebelum memulai kegiatan menghafal Alquran. Saya berikan waktu secara fleksibel kepada anak-anak untuk melaksanakan salat. Begitupun dengan saya selaku pembimbing. <br><br>Setelah kurang lebih 10 menit berlalu, saya kembali menyapa mereka di forum <em>Google Classroom</em> tersebut. Saya menginstruksikan anak-anak untuk mulai melanjutkan hafalan bacaan Alquran mereka masing-masing. Tidak ada aturan baku di sini. Anak-anak diberikan kebebasan untuk menyetor hafalan mereka. Boleh satu ayat apabila panjang dan sampai dengan lima ayat. Namun, terkadang ada juga siswa yang menghafal lebih dari itu. Itu semua disesuaikan dengan kemauan dan kemampuan siswa yang bersangkutan. <br><br>Anak-anak pun memulai hafalan mereka secara mandiri. Apabila telah selesai menghafal, anak-anak kemudian saya instruksikan untuk mengunggah hafalan mereka dalam bentuk audio/video beserta foto <em>selfie</em> sebagai dokumentasi mereka. <br><br>Waktu menunjukkan sekitar pukul 09.14 WIB. Barulah lengkap grup kami yang berjumlahkan 10 orang siswa itu. Dua siswa yang telat bergabung pada akhirnya bisa bergabung bersama teman-teman yang lain. Masalah kehabisan paket ataupun gangguan koneksi menjadi sedikit problema dalam kegiatan Tahfiz daring ini, tapi bukan merupakan masalah yang besar bagi anak-anak untuk dapat mulai belajar dan istiqamah dalam menghafal Alquran. </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/479685622/61d088079a34cdbd64ae027352ad46ef/IMG_20200406_162239.jpg" />
         <pubDate>2020-04-06 09:30:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/494366493</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tahsin Online Dalam Masa Darurat Corona</title>
         <author>ernitaabdullah90</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/494434464</link>
         <description><![CDATA[<div>(Refleksi Kelompok Tahsin Perempuan Oleh Bu Ernita, S.Si )<br><br>Hari ke-6 dari minggu kedua jalannya program Tahsin selama pembelajaran dipindahkan ke rumah masing-masing, tentu menghasilkan kesan dan refleksi yang berbeda setiap harinya. Dimulai Senin, 30 Maret 2020 yang merupakan hari pertama yang dihadiri oleh 10 siswi dari 11 siswi atau 90,90 % dengan pembahasan diskusi tentang makna yang terkandung dalam kata Tahsin yang merupakan tema kegiatan, jangan sampai siswa mengikuti kegiatannya namun tidak tahu apa tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan tersebut. Banyak siswa sudah mampu menanggapi makna Tahsin, diantaranya mengatakan:<br><br></div><div>Siti kanesyah Sofya30 Mar</div><div>“Sebuah program untuk memperbaiki bacaan Alquran”<br><br></div><div>cutifonna iasha30 Mar</div><div>“Tahsin itu di sukma waktu untk anak anak mengaji”<br><br></div><div>Nazla Salsabela30 Mar</div><div>“Memperlancar dalam membaca al quran dan memperbaiki jika ada yang salah dalam membaca”<br><br></div><div>Dan saya mencoba menyimpulkan hasil tanggapan anak-anak yang hampir mendekati sempurna yaitu kata Tahsin ( تَحْسِيْنٌ ) dalam Bahasa Arab berasal dari kata ( حَسَّنَ ــ يُحَسِّنُ ــ تَحْسِيْنًا ) yang maknanya kurang lebih <em>“memperbaiki, memperindah, mempercantik”</em>. Kata ini merupakan turunan dari kata dasar ( حَسُنَ ــ يَحْسُنُ ــ حُسْنًا ) yang artinya <em>“bagus, baik, cantik”</em>. Contoh paling baik adalah sebuah doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ketika kita bercermin:<br><br></div><div>اَللّٰهُمَّ كَمَاحَسَّنْتَ خَلْقِيْ فَحَسِّنْ خُلُقِيْ<br><br></div><div>“Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah bentuk fisikku, perindah pulalah akhlaqku!” (HR. Thabrani)<br><br></div><div>Jadi, yang bisa di-Tahsin itu banyak, bisa bentuk fisik (itu adalah kewenangan Allah), akhlaq, dan juga kemampuan <em>tilawah</em> kita. (<a href="https://www.dakwatuna.com/2014/01/29/45466/bukan-tahsin-al-quran-tapi-tahsin-tilawah/#axzz6IofnyN3J">https://www.dakwatuna.com/2014/01/29/45466/bukan-tahsin-al-quran-tapi-tahsin-tilawah/#axzz6IofnyN3J</a>)<br><br></div><div>Kemudian dilanjutkan dengan hari ke-2, kehadiran siswa 100 % dan pembahasannya adalah belajar ilmu tajwid dengan metode tanya jawab. Dari hasil pertanyaan “Sebutkan hukum tajwid apa yang benar-benar kalian menguasainya dan sudah diterapkan dalam bacaan Al-qur’an?”. Hampir 90 % siswa menjawab tentang <em>ikhfa, izhar, dan iqlab</em>.  Jika dilihat dari tiga hukum tajwid tersebut selain sangat lazim didengar juga paling banyak ditemukan dalam setiap bacaan dalam Al-Qur’an. <br><br></div><div>Hari ke-3 masih melanjutkan pembahasan tentang ilmu tajwid yang sering juga didapatkan tetapi sedikit yang bisa membedakannya seperti perbedaan antara <em>alif lam qamariah dan alif lam syamsiah</em>. Siswa terlihat sangat menarik dan antusias dengan pembahasan tersebut ditandai dengan komentar yang spontan tiba, setiap kali setelah saya bertanya di komentar. Kehadiran hari ke-3 sama seperti hari pertama yaitu 10 siswi dari 11 siswi seluruhnya.<br><br></div><div>Karena pembahasan tajwid sudah direview sekilas pada pertemuan sebelumnya, maka hari ke-4 diisi dengan melampirkan surah An-Naba’ ayat 1-10 pada forum <em>Google Classroom</em> dan meminta siswa untuk mengambil satu ayat saja dan menyebutkan hukum tajwid apa saja yang terdapat dalam ayat tersebut. Dengan spontan kolom komentar penuh dengan jawaban mereka hingga berakhir pada pukul 09.30. Rasanya waktu begitu cepat menghampiri kegiatan ini.<br><br></div><div>Hari ke-5 bertepatan dengan hari Jumat yang penuh barokah, maka kami menyepakati bersama untuk membaca surah Yasin dengan menerapkan ilmu tajwid secara baik dan benar tentunya sesuai yang sudah dibahas hari-hari sebelumnya.<br><br></div><div>Tiba  hari ke-6 yaitu bertepatan dengan minggu kedua jalannya program Tahsin ini, dengan kehadiran siswa berkurang dua orang dari 11 orang totalnya. Kegiatan hari ini diawali dengan salam , sapaan, dan motivasi sembari siswa mengabsen dirinya. Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan “Anak-anak ibu pernah, sering atau belum pernah membaca Surah khusus Al-Waqiah setiap selesai shalat shubuh dan setiap selesai shalat ashar ?? ayo.....dijawab yg jujur ya neuk.....”. Semua menjawab belum pernah, bahkan belum tahu apa keistimewaan dari membaca Surah Al-Waqiah tersebut. Nah, barangkali siswa karena belum tahu apa kelebihian membaca surah tersebut sehingga jarang melakukannya. Hari ini kegiatannya adalah mengetahui keistimewaan- keistimewaan dari membaca Surah Al-Waqiah yaitu :<br><br></div><div>1. Dijauhkan Dari Kemiskinan<br> 2. Memperoleh Kekayaan Berlimpah<br> 3. Ditunaikan Hajatnya Berhubungan dengan Rezeki<br> 4. Dijadikan Hartawan dan Dermawan<br> 5. Dilimpahkan Rezeki<br> 6. Mempermudah Roh Keluar dari Jasad<br> 7. Diringankan Sakitnya<br><br></div><div>Harapannya dengan mengetahui keistimewaan dari sebuah surah yang akan kita baca dapat menjadi penambah semangat dalam mengamalkannya. Kemudian meminta siswa untuk membacakan surah tersebut dan mengaplikasin ilmu tajwid yang sudah dipahaminya. Semoga bermanfaat… Aminnn</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-06 10:06:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/494434464</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hand Sanitizer ala Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/495009667</link>
         <description><![CDATA[<div>By : Fitri Handayani<br><br>Masih berlanjut cerita di kelas daring. Kali ini saya akan berbagi pengalaman mengajar di kelas sendiri yaitu XI IPA Greece. <br><br>Dibuka dengan sapaan hangat dan dimulai dengan absen. Seluruh siswa dengan sigap hadir dan membalas sapaan dari saya. Hanya 1 dari 28  siswa/i yg tidak hadir setelah 10 menit berlalu.<br><br>Selanjutnya,  saya mengajak mereka membaca basmallah sebelum melakukan aktifitas apapun. Pernyataan sederhana pun mulai saya ketik dan sebuah pertanyaan kecil saya tanyakan, sebagai bentuk apersepsi. Begitu banyak jawaban yg muncul, semuanya terlibat aktif, hanya 2 siswa yang belum menyumbangkan jawabannya. Tak mengapa, fikir saya. Saya pun melanjutkan dengan mengajak siswa untuk fokus ke materi yg akan dipelajari yaitu pembuatan <em>hand sanitizer</em> seta saya membetahukan tujuan pembelajaran hari ini.<br><br>Next, saya <em>share link </em>pembuatan hand sanitizer ala Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. Vidio tersebut di buat saat saya dan bu sarli membuat <em>hand sanitizer </em>untuk sekolah.<br><br>Setelah menonton vidio tersebut, saya pun mengajak mereka untuk berdiskusi. Semua aktif berkomentar, dan saling melengkapi. Hal yg sama, masih ada 2 siswa yg belum berkomentar apapun. <br><br>Nah... Berikutnya saya berikan tugas dalam bentuk LKS kepada anak-anak. Saya berikan waktu 20 menit untuk mereka selesaikan, jawabannya pun saya terima via email. Saya mulai heran, siswa yg tidak hadir dan 1 siswa yg tidak aktif mengumpulkan tugasnya via email. Dan 1 siswa lagi yg tidak pernah berkomentar, kali ini mengeluarkan suaranya, "Buk saya izin telat kumpul soalnya lagi dijalan mau pulkam". Nah kan, ketahuan.<br><br>Sebelum waktu KBM berakhir, tak lupa saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertanya. Dan pun saya melakukan refleksi, menanyakan bagaimana perasaan mereka mengikuti pembelajaran kimia hari ini serta menyimpulkan bersama hasil pembelajaran hari. Dan tak terasa waktu sudah menunjukkan 11.57, saya pun mulai menutup pelajaran dengan ucapan hamdallah dan menyampaikan sedikit pesan untuk anak-anak tercinta. <br><br>"Tetap semangat belajar meski #dirumahsaja.<br>Semoga pembuatan hand sanitizer ini bisa dipraktikkan di rumah masing-masing dan bisa digunakan oleh anggota keluarga, tanpa perlu kita beli mahal-mahal diluar sana!"<br><br>All...Have a nice day!</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/479287707/fc20fcd9e7a15197d30dda6bb339fc0c/IMG_20200406_WA0076.jpg" />
         <pubDate>2020-04-06 14:58:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/495009667</guid>
      </item>
      <item>
         <title>&quot;Tahsin Lam Corona&quot;</title>
         <author>ernitaabdullah90</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/496093779</link>
         <description><![CDATA[<div>(Refleksi Kelompok Tahsin Perempuan Oleh Bu Ernita )<br><br>Sepertinya hari ini jauh lebih slow responnya dibandingkan dengan sebelumnya. Biasanya mereka mengabsen hanya terlambat sekitar 5 atau 10 menit, tetapi hari ini molor hingga 20 menit dan itu hanya 60 % dari total peserta yang baru muncul. Banyak faktor yang mempengaruhi ketidakefektifan belajar Tahsin via daring, kemungkinan salah satu faktor pengaruhnya yaitu telatnya bangun siswa, bisa saja siswa sudah bangun ketika shubuh dan setelahnya mereka melanjutkan rebahan kembali sehingga molor saat bergabung ke kelas Tahsin.<br><br></div><div>Inti kegiatan hari ini adalah menela’ah ilmu-ilmu tajwid yang terdapat pada 10 ayat pertama dari Surah Al-Waqi’ah. Diawali dengan tanya jawab dan review tentang hukum-hukum tajwid, lalu mengupas satu-persatu pada 10 ayat pertama dari Surah Al-Waqi’ah.  Saya mencontohkan pada ayat pertama: alif lam sukun bertemu dengan huruf wa yaitu pada bacaan <em>“alwaa”</em> adalah…., berselang 1 menit Fina dan Egi menjawabnya “<em>alif qamariah</em> buk…!”. Dan tak lupa apresiasi buat mereka yang sudah menjawabnya. Kemudian saya meminta mereka semua untuk memilih satu ayat saja yang berbeda dengan kawannya untuk mengupas semua hukum tajwid yang terdapat di dalamnya sebagaimana contoh yang sudah saya lakukan. “Ibuk tunggu ya neuk jawabannya!”. Respon datang hanya dari siswa itu-itu saja dan malah tadinya yang sudah mengabsenkan dirinya tetapi dalam perjalanan lenyap entah kemana. Padahal sudah dipancing dengan kata-kata “Ayo…pastikan diri kalian masih <em>stay</em> ya Neuk! Jangan beralih ke yang lain, kalau pun berpaling tetapi tidak berlama-lama karena kita sedang ada kelas layaknya di sekolah seperti biasanya okhay”. Berselang menit muncul dua dan tiga siswa. Begitulah kata-kata yang sering dituliskan di kolom komentar tatkala melihat kondisi sepi di kolom tersebut. <br><br></div><div>Karena waktu sudah harus mengakhiri kegiatan ini, maka saya langsung menyelesaikannya dengan pesan dan salam “Bagi yang belum, masih tetap ibuk tunggu jawabannya ya nak..! Terimakasih banyak untuk partisipasi hari ini, Oya…semoga hal ini tidak hanya menjadi penilaian di catatan ibuk saja, tetapi juga berbuah nilai kebaikan di catatan malaikat sebagai amal ibadah kalian kelak ya neuk. Ibuk tutup dengan doa kaffatul majlis dan Wassalamualaikum Wr Wb”<br><br>Rasa penasaran muncul di benak saya tentang rasa <em>respect</em> dan tanggung jawab sebagai siswa yang dimiliki oleh peserta Tahsin kelompok saya, maka iseng saya kembali memantau kelas di luar waktu. Ternyata sisa siswa yang belum menjawab pertanyaan saya, mereka menyusul menjawabnya sekalipun sudah di luar waktu. Hanya 2 siswi dari yang berhadir yang tidak merespectnya yaitu Siti Kanesyah Sofya dan Attiyah Syahirah, keduanya berasal dari kelas XI IPA Costa Rica. Tentu hal ini menjadi penilaian tersendiri dari partisipasi mereka terhadap Tahsin.<br><br></div><div>Sepertinya siswa sudah mulai dekat dengan titik jenuh dan bosan, semoga masa belajar yang seperti ini segera berakhir.<br><br></div><div> Aminnn Ya Rabbal ‘Alamiin..!<br><br></div><div>Wassalam<br><br></div><div>Ernita, S.Si<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-07 06:21:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/496093779</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelas Tahfiz Daring; Setor Hafalan Untuk Diri Sendiri dan Tuhan</title>
         <author>cangpanah</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/496775869</link>
         <description><![CDATA[<div>Setelah Presiden Jokowi mengakui korona masuk Indonesia, tibalah dimana kebijakan sekolah berubah dari tatap muka menjadi tatap gawai. Sebagai salah satu sekolah di Indonesia, kami juga harus memikirkan seperti apa strategi tatap gawai yang baik. <br><br>Rapat beberapa kali, mendapat masukan dari sana-sini, membaca referensi di media cetak dan online, akhirnya kami memutuskan untuk menyusun stratergi pembelajaran dengan menggunakan beragam aplikasi yang tersedia. Salah satunya adalah <em>google classrom</em>. <br><br></div><div>Kali ini, dalam tulisan singkat ini, saya akan sedikit berbagi kisah di kelas Tahfiz yang saya asuh. Sebagai informasi, kami menyusun pembelajaran di masa pencegahan covid-19, hanya satu mata pelajaran per hari. Dilaksanakan selama 3 JP (Jam Pelajaran) dari pukul 10.00 s.d. 12.00 wib. <br><br></div><div>Lantas, di pagi hari, sebelum pukul 10.00 wib, saat burung sedang berkicau, langit kemerahan tatkala fajar menyingsing, apa yang hendak dilakukan siswa? Tak lain dan bukan adalah setiap siswa mengikuti program Al-Quran. Ada Program Tahsin dan Tahfiz.  <br><br></div><div>Saya bukanlah seorang hafiz. Tapi untuk surat pendek, yaaah sudah terhafal sejak zaman kanak-kanak. Menjadi pengasuh kelas tahfiz adalah sebuah tantangan untuk saya sendiri. Teringat ketika kuliah dulu, saya membuat tantangan dengan seorang teman, untuk menghafal surat Ar-Rahman. Hanya berselang hari, Ar-Rahman, ludes saya hafal. Hingga berlanjut ke surat-surat yang lain. <br><br></div><div>Teman itu kini telah menjadi istri saya. :-) <br><br></div><div>***<br>“Assalamualaikum para pejuang agama Allah. Sesuai agenda, ini waktunya salat duha. Yuks kita tegakkan. Pastikan sebelumnya sudah mandi dan Wangi. Siapa saja yg sudah siap? Mohon di jawab di komentar”<br><br></div><div>Itulah sapaan saya yang pertama di google classroom. Semua siswa merespon dengan cepat dan sigap. Saya (dan saya yakin) semua siswa bergegas untuk mendirikan salat duha. <br><br></div><div>Senin, 30 April 2020 adalah hari pertama kelas Tahfiz daring. Saya menyampaikan di dinding kelas, bahwa dengan niat saling memotivasi, yuk kirimkan pose terbaik diatas sajadah dan rekaman audio mengaji. Cukup beberapa ayat saja. <br><br></div><div>Berselang beberapa menit, semua siswa mengirimkan fotonya masing-masing, dan audio rekaman bacaan mereka. Saya merasa teduh. Nyaman. Seperti sedang berada dipuncak gunung sembari menyaksikan tak hingga ciptaan tuhan yang sangat indah. <br><br></div><div>Kondisi siswa menyetor foto diatas sajadah dan rekaman audio, berlangsung selama 2 hari. <br><br></div><div>Sedang hari ke-3, yaitu Rabu, 1 April 2020, saya mengajak mereka untuk menyetor hafalan mereka dalam bentuk video.  Tentu saja, sebagai guru—dan sedang tertantang untuk menghafal Al-Quran—saya yang duluan mengirimkan video hafalan saya. uhkan<br><br></div><div>Berselang beberapa menit, tak ada yang setor. Saya mulai mengevaluasi diri. Apa kira-kira kendala yang dihadapi siswa. Namun, mulai satu persatu dari mereka mengupload video hafalan. Beberapa berkomentar, videonya terlalu berat. Jadi butuh waktu sedikit lama untuk proses uplaod.<br><br></div><div>Saya menimbang, sepertinya metode setor video kurang maksimal. Karena akan terbeban paket data yang lebih banyak, akan banyak anggaran yang dikeluarkan siswa. <br><br></div><div>Kalau saya sih enak, ada wifi di rumah. :-) <br><br></div><div>Saya langsung bergerak ke TKP (google) untuk meriset apalikasi apa yang bisa dipakai untuk bisa tatap muka, bisa berbicara satu sama lain, dan tentunya itu bisa memenuhi kebutuhan saya. <br><br></div><div>Satelah menghitung jumlah kancing baju, akhirnya jatuh pada aplikasi ZOOM Cloud Meetings. Bisa diinstal di PC dan di android. Cara menggunakannya pun mudah alias user friendly. <br><br></div><div>Pada hari kamis, 2 April 2020, saya mengajak siswa untuk menggunakan zoom. Dimana secara live mereka menyetor hafalan. Telihat masih sangat malu-malu. Seperti mereka shooting film, lalu nonton sendiri. Tau kan gimana rasanya? Hmmmm.... <br><br></div><div>Namun perlahan, semakin akrab dengan zoom. Setoran hafalan berlanjut hingga hari jumat, juga direncakan akan selalu menggunakan zoom. Sekalipun sesekali akan kembali ke google classroom—dimana siswa mengirimkan video rekaman setoran hafalan.<br><br></div><div>*** <br>Bahwa menghafal Alquran bukan untuk ikut-ikutan. Kondisi ketika lidah melafaz setiap kata yang per detik itu terhubung dengan otak, adalah sebuah kelazatan yang jika dinikmati melebihi dari kelazatan apapun di dunia ini. <br><br>Menghafal Ayat Allah, memahami tafsirnya, dan mengamalkan dalam perilaku sehari-hari, adalah sebuah aktivitas yang tidak mampu saya tulis dalam bentuk kata-kata. Al-Quran adalah ayat yang wajib di setor untuk diri sendiri dan tuhan. Selebihnya, tidak ada. <br><br></div><div>Lhokseumawe, 7 April 2020</div>]]></description>
         <enclosure url="https://www.youtube.com/watch?v=ZOQqmB7TyPo" />
         <pubDate>2020-04-07 13:36:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/496775869</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SERBA DARURAT</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/497949470</link>
         <description><![CDATA[<div>(Oleh Fitriadi)<br><br>Selasa 7 april 2020 merupakan hari yang penuh masalah bagi saya untuk mengajar secara dari. Dimuali dengan adanya pemadaman listrik menjelang subuh. Entah apa yang dilakukan badan usaha milik negara ini, dalam pikiran saya palingan perbaikan jaringan. Alhasil berimbas pada jaringan seluler yang saya andalkan untuk penyediaan wifi gratis ala dompet sendiri. Masalah selanjutnya dengan tidak lancarnya jaringan, GC ( <em>Google classroom ) </em>tidak bisa diakses. Mulai kepanikan menghampiri.<br><br>Sambil menenangkan diri berhubung jam mengajar belum tiba, pengalihan "isu" seputar padam listrik saya ibaratkan seperti sebuah bait dilagunya Iwan Fals " biasanya kereta terlambat 2 jam itu biasa " tapi saya parodikan " biasanya listrik padam 2 itu paling lama", mengingat gardu pembantu perusahaan ini berjarak 800 meter dari rumah. Namun faktanya justru berbicara lain, listrik tak kunjung menyala.<br><br>Pukul 10.00 wib seharusnya kelas dimulai, tapi kendala2 di atas belum teratasi. Beberapa menit kemudian masuk sebuah pesan dari bu Yenda mengabari jam mengajar. Apa daya saya sebari "melolot" pada layar <em>notebook </em>sisa masa perjuangan sewindu yang lalu, dengan tontonan utama game dinosaurus persembahan <em>mbah </em>google sebagai penghibur sembari menunggu koneksi pada laman yang dituju. <br><br>Setengah jam berlalu disela-sela jaringan yang tersendat-sendat, pengambilan alternatif harus dilakukan. Melalui bantuan wali kelas Andora, bu Dewi mengarahkan siswanya menggunakan kode yang sama dengan kelas Iceland, kelas pun dimulai. Terima kasih bu Dewi anda jadi pahlawan saya di hari ini.<br><br>Materi yang dibahas hari ini dengan kelas Andora sama dengan dua kelas sebelumnya, yaitu tentang <em>Social distancing </em>dalan masalah sebagai salah satu langkah yang diambil untuk pencegahan covid-19 yang sedang "menggucang" dunia saat ini. Yang menarik dari pembelajaran hari ini, yaitu pembahasana tentang dampak yang ditimbulkan oleh social distancing ini. Di dua kelas sebelumnya dampak yang ditimbulkan dilihat dari beberapa segi baik kesehatan, interaksi sosial, hingga sosio-ekonomi yang dirasakan oleh kelas sosial masyarakat. Sedangkan dikelas hari ini dampak sosial yang timbul dilihat sebagai individu. Seperti <em>statement </em>siswi berikut ini<br>"...rindu teman teman dan tidak bersosialisasi dengan org diluar sana".<br>Meski singkat pembelajaran hari ini cukup aktif dan termasuk parsipasi terbanyak setelah kelas maldive.<br>Sekian cerita hari ini.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/485207275/e2964d8235cadbdb4c00a6c81ce36d19/Screenshot_2020_04_08_10_47_23_313.jpeg" />
         <pubDate>2020-04-08 03:49:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/497949470</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Covid - 19 dan Puisiku</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/500158314</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Covid – 19 dan Puisiku<br></strong><br></div><div>Hari ini tepat tanggal 09 April 2020. Kondisi yang belum memungkinkan, mengharuskan kami sampai saat ini masih melakukan pembelajaran secara daring. Tidak ada yang bisa memastikan kapan kondisi ini stabil dan Covid-19 ini enyah dari muka bumi ini. Namun jumlah orang yang terpapar virus ini, semakin hari semakin bertambah banyaknya, untuk hari ini saja hampir mendekati angka 3000 orang, dengan angka kematian yang tinggi. Tidak henti-hentinya kita berdoa semoga  kondisi ini kembali normal sebagaimana biasanya dan kita menyambut bulan suci Ramadhan dengan penuh suka cita. <br><br></div><div>Hari ini untuk kedua kalinya saya menjumpai siswa dengan kelas yang berbeda. Walaupun masih dengan materi yang sama yaitu menulis puisi yang sesuai dengan kondisi dan situasi saat ini, yaitu masa-masa covid-19. Ada beberapa hal berbeda yang saya jumpai di pertemuan ke dua ini, saya merasa puas mengajar daring hari ini, karena saya sempat memberikan materi kepada siswa, menyapa siswa, dan tentunya memberikan  tugas setelah adanya materi tersebut. sempat merasa berat memberikan tugas kepada siswa, namun diluar dugaan, tugas yang diberikan disambut baik oleh anak-anak, walaupun ada segelintir siswa yang merasa sedikit keberatan, karena menganggap   belajar daring ini, terlalu banyak tugas yang diberikan guru, dan ada juga yang katanya tidak punya ide, namun setelah dijelaskan dan diberi pengertian, di luar dugaan ternyata  siswa tersebut yang cepat kumpul tugasnya. <br><br></div><div>Belajar dari pengalaman  pertemuan pertama dengan siswa di kelas daring. Kali ini saya banyak berdiskusi dengan anak-anak, mulai dari mendengar pendapat mereka tentang virus yang sedang merebak saat ini, share informasi update terbaru kondisi dunia, sampai  menyepakati pengumpulan tugas dengan siswa. Sebagian besar mereka ingin mengumpulkan tugasnya jam 00.00, dan itu disetujui oleh teman-temannya yang lain, dengan berbagai alasan yang diutarakan, setelah berdiskusi dengan mereka, saya memutuskan untuk menerima tugas siswa sampai jam 23.00, dengan alasan, siswa tidak boleh tidur terlalu larut, nanti imunnya turun dan berefek ke kesehatan mereka, yang wajib dijaga, apalagi jika kondisi saat ini rentan sekali terkena penyakit.<br><br></div><div>Pembelajaran hari ini berjalan lancar, anak-anak terlihat sangat aktif dan komunikatif berdiskusi dalam grup. Kelas dimulai dengan membuka kelas, serta tidak lupa menyapa siswa yang ternyata ada beberapa siswa sudah masuk kelas dari jam 09.00 sementara kelas baru dimulai jam 10.00, selanjutnya siswa melakukan absensi, saling share informasi terbaru tentang Covid-19. Selanjutnya guru memberikan sedikit materi, setelah itu siswa membuat tugas terkait materi hari ini. Selanjutnya diskusi tenyang pengumpulan tugas, berapa bait puisi dibuat dan lain-lain. Selanjutnya siswa membuat tugasnya, ada beberapa siswa mengumpulkan tugasnya sebelum kelas ditutup. Terakhir guru menutup kelas dengan beberapa nasihat untuk anak-anak yang sudah lama tidak bertemu. Sedikit terobati rasa rindu bertemu mereka ketika berada di forum yang sama, walaupun tidak saling menatap. Sekian refleksi mengajar hari ini, insyaallah dilain kesempatan kita coba coret-coret lagi. (Sri Yenda, S.Pd).<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-09 09:09:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/500158314</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tahsin  Cegah Corona</title>
         <author>zawaceh</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/500989681</link>
         <description><![CDATA[<div>Alhamdulillah ini Minggu kedua perjalanan saya menjadi pembimbing tahsin, Alhamdulillah berjalan  lancar. Pembelajaran tahsin ini dilakukan secara daring melalui google classroom sesuai kesepakatan para guru, tentunya sesuai intruksi dari kepsek. Nah, pastinya yang membaca tulisan singkat saya ini akan bertanya seperti apa sih kelas tahsin?<br><br>Mekanisme kegiatan tahsin ini sama hal nya dengan pembelajaran dikelas. Pertama, Saya awali dengan menyapa siswa, "assalamualaikum nak, apa kabar hari ini, mudah-mudahan sehat semuanya, absen dulu ya". Kemudian langsung satu persatu siswa membalas dengan menjawab " waalaikum salam buk, kabar baik, saya hadir Bu". Dan disusul dengan siswa lainnya, seakan- akan mau menunjukkan bahwa kami sudah hadir dari tadi di group tahsin dan tidak sabar ingin membaca Alquran. <br><br>Setelah sesi ini selesai langsung saya masuk ke kegiatan kedua yaitu kegiatan inti. saya memberikan intruksi bahwa,  "nak silahkan membaca Alquran dengan surat pilihan masing-masing. kemudian,  ketika sedang mengaji silahkan direkam dan didokumentasikan kegiatan  tahsinnya selanjutnya hasil dokumentasi tadi dikirem ke group lagi (google classroom)". Beberapa detik kemudian Intruksi tersebut langsung disambut oleh siswa dengan menjawab " iya Bu, oce Bu, laksanakan Bu zawa".   <br><br>Sambil menunggu rekaman audio dari siswa, saya pun memanfaatkan waktu tersebut untuk ikut mengaji juga beberapa ayat,  selanjutnya hasil bacaan saya kirem ke group. tujuannya dapat menjadikan salah satu motivasi bagi siswa dalam membaca Al Qur'an. <br><br>Waktu pun tinggal 10 menit lagi langsung saya menyapa siswa " nak sebentar lagi sudah bisa dikirem rekaman dan dokumentasi ngajinya yaa". Namun pesan saya tidak langsung  dibalas, pastinya sedang menuntaskan bacaannya. 5 menit kemudian, langsung satu persatu mengirimkan hasil bacaannya. <br><br>Dikegiatan ini dapat saya katagorikan sebagai kegiatan ketiga yaitu kegiatan penutup, setelah semua hasil rekaman bacaan Al-Qur'an dikirem, saya coba putar satu persatu, masyaAllah bagus- bagus bacaan Al-Qur'annya, meskipun ada 1, 2 siswa yang masih harus diperbaiki bacaannya. Selanjutnya diakhir kegiatan saya mengucapkan "terimakasih atas partisipasi dikelas tahsin pada hari ini. Sampai ketemu besok dikelas daring berikutnya, assalamualaikum"<br><br>Itulah serangkaian kegiatan tahsin yang saya ampu, mudah-mudahan kegiatan ini membawa manfaat bagi siswa dan saya pribadi tentunya, apalagi dimasa pandemi sekarang perbanyaklah ibadah salah satunya dengan memperbanyak membaca  Al Qur'an. InsyaAllah mendapat berkah dan pahala dari Allah SWT. Corono cepat hilang</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-09 17:22:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/500989681</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Corona mengajarkan betapa pentingnya saat tahsin bersama.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/502083290</link>
         <description><![CDATA[<div>Terlahir di era 90-an membuat generasi saya semasa kecil dulu tanpa sentuhan elektronik digenggaman setiap harinya. Dulu sekali, ketika saya duduk di bangku kelas 4 SD disaat itulah pertama kali saya melihat barang mahal yang tidak semua orang bisa memilikinya, adapun handphone yang saat itu hanya bisa digunakan untuk menelpon dan menerima pesan singkat (SMS). Kebetulan handphone Nokia tipe 3310 adalah milik ibu sehingga saya mendapat kesempatan mengotak-atik benda itu setiap harinya. Dan bisa merasakan betapa bangganya bisa memegang benda yang sangat canggih pada masa itu. <br><br>Di zaman yang serba modern ini, teknologi gadget mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dari awal kemunculannya yang hanya sebatas alat telepon sekarang gadget bisa difungsikan sebagai alat apapun sebagai kebutuhan primer bagi setiap manusia. Alat ini terus berkembang untuk memudahkan manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Apalagi dalam keadaan pandemi corona seperti saat ini dimana seluruh warga diminta untuk tetap dirumah dengan tujuan memutuskan mata rantai wabah virus tersebut. Sehingga gadget adalah satu-satunya alat yang bisa digunakan untuk membantu kita melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan dengan cara keluar rumah. <br><br>Salah satu dampak dari pandemi Corona ini adalah dimana seluruh sekolah ditutup sehingga siswa diminta untuk belajar kelas online bersama gurunya dari rumah. Tentu saja hal ini disambut baik oleh setiap guru, khususnya ditempat saya bekerja yaitu sekolah Sukma bangsa Lhokseumawe.  Melihat kondisi saat ini, siswa harus tetap bisa belajar dan mendapatkan materi yang menjadi haknya. Melalui banyak media aplikasi, guru diminta untuk bisa mengajarkan siswa melalui kelas online. Untuk sekolah Sukma sendiri, kami menggunakan E-Learning, google classroom, zoom dan grup WhatsApp. Setiap guru bebas memilih menggunakan aplikasi untuk kelas daring yang diampu. <br><br>Beda sekali pada saat dulu masa DOM di Aceh tahun 2003 dimana saat seluruh sekolah ditutup, saya adalah salah satu siswa yang tidak bisa melakukan kegiatan belajar disekolah pada saat itu. Bahkan beberapa gedung sekolah dibakar pada saat masa konflik.  Untuk keluar rumah sama mengerikannya seperti saat ini. Pada masa itu ibu saya meminta kami anak-anaknya untuk tetap belajar dirumah. Dengan bermodalkan buku paket yang ada dirumah, ibu saya mengajar dan mengarahkan, akan tetapi sayangnya tidak semua materi ibu kuasai sehingga banyak hal yang tidak bisa diajarkan oleh ibu saya. Seandainya masa itu seperti masa sekarang pastinya mudah bagi saya untuk menghubungi guru via whatsapp dan menanyakan hal-hal yang tidak saya mengerti. <br><br>Kembali lagi ke kelas online yang diberlakukan ditempat saya bekerja. Sebagai guru saya dituntut untuk melek dengan yang namanya teknologi digunakan zaman sekarang. Saya diminta oleh kepala sekolah untuk membimbing kelas tahsin online. Saya memilih untuk mengajar melalui grup whatsapp. Saya mendapatkan pengalaman yang luar dari kebiasaan, dalam mengajar kelas tahsin online saya menyusun strategi agar siswa melakukan pembiasaan membaca AlQuran dan memiliki target untuk bisa khatam membaca AlQuran selama masa pandemi Corona ini. Adapun setiap siswa diberikan tantangan membaca AlQuran sebanyak 5halaman setiap harinya dikelas tahsin online, artinya jika dihitung secara kasar setiap siswa akan satu kali Khatam Qur'an dalam waktu dua bulan.<br><br>Dalam kelas tahsin ini siswa saya minta untuk merekam suara mereka saat membaca AlQuran, terkadang dalam bentuk video, terkadang pula sebelum siswa membaca Qur'an mereka saya minta untuk ber-selfie bersama AlQuran nya. Sesekali saya mencoba memberikan kepercayaan kepada siswa untuk membaca AlQuran mandiri tanpa harus merekam audio atau video. <br><br>Saat daring seperti ini pastinya semua berjalan dengan lancar sesuai program yang direncanakan sekolah. Tetapi ada yang kurang, tidak ada yang namanya attachment antara saya dan siswa. Dikelas nyata pasti siswa dapat melihat ekspresi wajah saya yang sesekali marah sambil menasehati mereka dan saya yakin mereka merindukan itu. Pun saya rindu saat mereka telat masuk kelas, rindu bersuara keras sambil teriak "masuuuuuk". Lihatlah untuk saat ini saya tidak bisa mengeluarkan ekspresi marah jika dikelas online terkadang ada yang telat masuk karena ada yang belum bangun tidur, dan itu sangat menyakitkan haha. Pun saya merindukan hal-hal konyol lainnya.<br><br>Corona memberikan pelajaran banyak terhadap saya dan siswa bahwasanya "saat bersama" adalah kesempatan terbaik yang tidak boleh disia-siakan.<br><br>Corona pergilah... saya rindu anak-anak itu.. pun saya rindu berkejar-kejaran dilobby sekolah demi mengejar 07.25. <br><br>With love<br>Oly<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-10 14:26:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/502083290</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SEMANGAT BELAJAR DENGAN HIDUP MENITI KEMULIAN</title>
         <author>ismayaniismail95</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/502875392</link>
         <description><![CDATA[<div>kelas x (Slovenia)<br><br>Tgl 07 april 2020, hari ke dua saya mengajar melalui kelas online di kelas X IPA SLOVENIA. Tepat jam 10.00 siswa sudah pada berhadir. Siswa langsung menyapa, ada yang mengatakan “hadir Bu”, “saya sudah hadir Bu”, ada yang mengucap salam dan menggunakan namanya untuk mengabsen kehadiran. Terharu dengan semangat anak-anak, yang gigih dalam menuntut ilmu dalam keadaan kondisi yang sekarang ini.<br><br>Tepat jam 10. 10 kelas dimulai dengan pemberian materi diawal. Setelah saya memberikan materi yang akan dipelajari, saya menyuruh siswa untuk mendiskusikan secara bersama.<br><br>Setelah saya memberikan dan menjelaskan sedikit materi, saya meminta anak-anak untuk mengerjakan tugas individual, yang terdiri 3 soal essay terkait materi yang dipelajari Alhamdulillah tidak ada yang mengeluh, dan langsung mengerjakan soal.<br><br>Setelah diskusi selesai, ada beberapa siswa yang telah mengirimkan tugasnya melalui classroom da nada pula yang melalui email. Dikarenakan takut tugasnya tidak terkirim ke classroom disebabkan jaringannya lelet.<br><br>Jam menunjukkan pukul 12.00 kelas online pun berakhir. Kelas ditutup dengan refleksi pembelajaran dan manfaatnya yang didapat dalam materi ini, siswa tidak banyak mengeluh, dan langsung mengerjakan tugas yang diberikan serta mengumpulkan tugas kebanyakan tepat pada waktunya. Kelaspun saya tutup dengan salam. Proses KBM hari ini sangat menyenangkan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-11 13:06:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/502875392</guid>
      </item>
      <item>
         <title>HIDUP AMAN DAMAI DENGAN KEBERANIAN DAN KEJUJURAN</title>
         <author>ismayaniismail95</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/502877449</link>
         <description><![CDATA[<div>Refleksi kelas XI (Maldives)<br><br>Tgl 08 april, Last day saya mengajar melalui kelas online di kelas X IPA SLOVENIA. Tepat jam 10.00 siswa sudah pada berhadir.<br><br>Siswa langsung menyapa, ada yang mengatakan “hadir Bu”, “saya sudah hadir Bu”, ada yang mengucap salam dan menggunakan namanya untuk mengabsen kehadiran. Terharu dengan semangat anak-anak, yang gigih dalam menuntut ilmu dalam keadaan kondisi yang sekarang ini.<br><br>Tepat jam 10.00 kelas dimulai dengan senam terlebih dahulu, dengan menggoyangkan kepala, tangan dan seluruh anggota badannya, untuk refresh kembali kesegarannya. Kemudian saya menanyakan kepada mereka “hal positif apa yang dilakukan selama proses KMB di pindahkan kerumah?” ada yang memnjawab: “makan buk”, ada juga yang mengatakan “tidur juga hal positif buk” bermacam-macam kegiatan unik yang mereka lakukan. <br><br>Kemudian saya melajutkan pembelajaran dengan memberikan sedikit materi kepada anak-anak untuk dibaca dan mendiskusikan bersama mengenai materi yang saya berikan.<br>Setelah saya memberikan dan menjelaskan sedikit materi dan berdiskusi, saya meminta anak-anak untuk mengerjakan tugas individual, yang terdiri 3 soal essay terkait materi yang dipelajari Alhamdulillah tidak ada yang mengeluh, dan langsung mengerjakan soal.<br><br>Setelah diskusi selesai, semua siswa mengirimkan tugasnya melalui classroom. Walaupun sedikit terganggu dengan jaringannya, alhamdulillah semua siswa mengirimkan tugasnya dengan baik.<br><br>Jam menunjukkan pukul 12.05 kelas online pun berakhir, dengan sedikit terlewat dikarenakan jaringan kurang mendukung (loding). Kelas ditutup dengan refleksi pembelajaran dan manfaatnya yang didapat dalam materi ini, siswa tidak banyak mengeluh, dan langsung mengerjakan tugas yang diberikan serta mengumpulkan tugas kebanyakan tepat pada waktunya. Kelaspun saya tutup dengan salam. Proses KBM sangat menyenangkan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-11 13:11:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/502877449</guid>
      </item>
      <item>
         <title>TAHFIZ DARING DIMASA PANDEMI</title>
         <author>fauzaazima87</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/502940393</link>
         <description><![CDATA[<div>Masa darurat corona (Covid-19) belum berakhir. Ketika corona sudah melanglang buana di Indonesia,  dampaknya, para siswa diminta lebih bersabar untuk bisa kembali  ke sekolah dan belajar dengan teman sebaya, karena  Dinas Pendidikan  kembali memperpanjang masa belajar dirumah hingga batas waktu yang tak ditentukan. <br><br>Saat pemangku kebijakan memperpanjang masa belajar, sekolah berupaya keras untuk menyusun rencana pembelajaran agar siswa dapat melakukan kegiatan yang produktif selama berada dirumah.  Tak hanya KBM via Daring<em>,</em> SMAS Sukma Bangsa Lhokseumawe juga mengaktifkan kegiatan Tahfiz dan Tahsin.<br><br>Kegiatan keagamaan ini dilakukan setiap pagi pukul 08.40-09.30. Saya sebagai pembimbing Tahfiz B Akhwat  yang terdiri dari 9 siswa menggunakan  <em>Google Classroom </em>untuk melakukan kegiatan ini.  Menjadi pembimbing Tahfiz bukanlah keahlian saya.  Namun, saya mengajak siswa untuk bersama-sama belajar memperkaya hafalan Qur’an. Dan ini minggu ke 2 perjalanan saya menjadi pembimbing Tahsin. <br><br>‘’ Assalamualaikum, Anak-anak sholeha Ibu, gmn kabar hari ini sudah shalat dhuhakah?Oh ya, yang sudah hadir absen dulu ya... “<br><br>Begitulah sapaan saya dipagi hari tepat pukul 08.40 ketika membuka kelas daring.  Tak ingin kalah dari teman-temannya yang lain, dengan antusias satu persatu dari mereka muncul dan menjawab sapaan saya, bahkan tidak ada dari siswa  yang telat masuk kelas daring dan  Alhamdulillah dari mereka sudah mengerjakan shalat dhuha sebelum masuk kelas daring.<br><br>Senin, 30 April  2020, Hari- 1 saya membimbing kelas tahfiz hanya satu orang yang berhalangan hadir, itupun atas pemberitahuan walikelas, selanjutnya diawal pertemuan saya mengajak mereka   10 menit menonton video mengenai  ‘”Hukum Tajwid Bersama Ustadzah Nabila”, tujuannya tak lain untuk merefresh kembali pengetahuan kami  dalam mengenal hukum-hukum tajwid sebelum kami muraja’ah. Seketika hening, tak lama kemudian saya menyapa kembali  dan mengajak anak-anak untuk muraja’ah , Siswa diberi  kebebasan untuk memilih surah yang akan disetor sesuai dengan kemampuannya dan tidak harus disetor dihari ini, boleh mengirimkan setorannya dalam bentuk audio dipertemuan selanjutnya.<br><br></div><div>Berselang beberapa menit  tak disangka  semua dari mereka  mengirimkan setoran hafalannnya dalam bentuk rekaman audio. Kagum dengan antusias mereka, saya pun mulai  terbawa oleh merdunya suara  lantunan ayat alquran yang mereka bawakan.  Kondisi siswa menyetor hafalan dalam bentuk rekaman audio berlangsung selama 3 hari.<br><br></div><div>Hari Ke-4  saya menyapa mereka ada 2 siswa yang tidak hadir tanpa kabar, ada beberapa siswa juga yang telat bergabung,  fokus pada yang sudah bergabung, sedikit berbeda dari  hari sebelumnya untuk menstimulus mereka di pagi hari yang cerah saya meminta siswa berselfie di atas sajadah dan menuliskan kalimat, ya.. boleh dibilang penyemangat di masa pandemi<br><br>“Kebaikan Tuhan kita sangat besar jadi bersyukur dan berhati-hatilah, semoga badai virus ini segera berakhir dan keadaan kembali pulih” <br><br></div><div>“ Jangan pernah berhenti  belajar, karena hidup tak pernah berhenti mengajarkan”<br><br>Begitulah beberapa kalimat indah yang mereka tuliskan, penyejuk di pagi hari dan tidak bisa saya tuliskan semua disini, karena akan sangat panjang. Berselang beberapa menit saya kembali mangajak mereka untuk muraja’ah dan menyetor hafalannya  diganti melalui video. Ada beberapa siswa menyetor hafalan diluar waktu yang ditentukan.  Namun,  hal ini tidak menjadi kendala, yang terpenting  niat dari dalam hati untuk lebih dekat dengan Al-quran sudah mereka perlihatkan.  Setoran hafalan ini berlangsung sampai  hari ke-6.<br><br>***<br>Seperti itulah secuil gambaran kondisi di kelas Tahfiz B. Berusaha tetap berjuang untuk belajar mencintai Ayat-ayat Al-quran di tengah ancaman corona.  Membaca Al-quran adalah Ibadah yang sangat Agung dan semoga kondisi ini menjadi kesempatan kita untuk lebih mendekatkan diri pada Allah SWT.  Kelak badai yang diakibatkan oleh wabah corona  ini akan melahirkan sosok yang lebih tangguh dan cerdas.<br><br>Lhokseumawe, 10 April 2020</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-11 14:52:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/502940393</guid>
      </item>
      <item>
         <title>MASA PANDEMI SEGERA BERAKHIR DENGAN HIKMAH TAHSIN</title>
         <author>ernitaabdullah90</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/503269963</link>
         <description><![CDATA[<div>Beberapa faktor di luar dugaan terjadi pada hari Rabu, 8 April 2020 jam 08.30, sehingga membuat saya telat memulai kelas hingga jam 09.00 WIB yang tak biasanya. Begitu membuka dinding kelas di <em>Google Classroom</em> tak jua terlihat sapaan dari siswa terlebih dahulu. Namun tak perlu berlama-lama berfikir lainnya, langsung bergegas pengantar pembukaan kelas dengan salam dan sapaan melayang di forum kelas.<br><br></div><div>Berselang 5 - 7 menit  siswa sudah mengabsenkan dirinya secara lengkap kecuali cut ifonna yang sudah dua hari tidak ada berita, baik dari teman sekelasnya maupun dari wali kelasnya. Berhubung waktu yang bersisa 20 menit, maka saya langsung meminta mereka untuk membacakan 1 – 5 ayat surat Al-Waqi’ah dan masing-masing menyebutkan semua unsur tajwid yang terkandung dalam satu ayat saja secara berurutan yang dipilih secara acak dari surah tersebut dan pastinya tidak sama dengan kawannya. <br><br>Beberapa siswa langsung berkomentar “siap buk”! terus waktu sudah menunjukkan pukul 09.30 yang semestinya berakhir kegiatan ini. Dan beberapa siswa lainnya tak berkomentar apapun, entah mereka mengabaikan pesan ini ataukah sedang beralih ke yang lainnya. Seperti biasa penutupan  tetap dituliskan dan sedikit pesan buat mereka “Neuk, jangan lupa bagi yang sudah melakukannya harap melapor di kolom komentar ya, missal Ernita: sudah membaca, ayat-6 = <em>mad Ashli, mad badal, ikhfa, dan iqlab</em>. Ibuk tunggu semua jawabannya hingga pukul 00.00 nanti malam ya Nak ! Terima kasih banyak anak-anak Ibu semuanya”. <br><br></div><div>Tak sengaja memantau kelas mereka di luar waktu, penasaran dengan tanggung jawab yang diberikan kepada mereka, ternyata beberapa diantarnya memang memiliki sikap tanggung jawab dan disiplin waktu yang baik. Mereka sudah menyelesaikan tugas dengan sempurna dan benar. Sepertinya hari ini memang kurang efektik jalannya kegiatan dari biasanya. Semoga saja besok, saya bisa memulainya seperti biasa yaitu tepat jam 08.40 tanpa terkendala.<br><br></div><div>Tiba saatnya hari terakhir kegiatan Tahsin berdasarkan jadwal ronde pertama yang diberikan. Kamis, 9 April 200 tepat jam 08.42 WIB pembukaan kelas dimulai “Assalamu’alaikum Neuk …Gimana kabarnya?”, hitungan antara 1 dan 2 menit berlalu, “Wa’alaikumsalam, hadir buk. Alhamdulillah kabar baik, ibuk gimana?” begitulah kira-kira jawaban yang  diutarakan. <br><br>Sungguh beda hari ini, ternyata jika gurunya memulai sesuatu tepat waktu, maka siswa juga akan terbiasa menunggu kehadiran guru tepat waktu juga. Artinya siswa akan mengikuti irama sang guru, gimana guru berperilaku, maka siswa akan mencontohkannya. Tak jarang kita mendengar pepatah “Guru itu ditiru dan digugu, jika guru kencing sambil berdiri, maka siswa akan kencing sambil berlari”. <br><br></div><div>Karena hari terakhir, saya penasaran dengan apa yang dirasakan mereka selama berlangsungnya aktifitas sekolah dengan daring atau via online. Jadi saya memutuskan bahwa kegiatan hari ini adalah sharing-sharing. Nah ayok anak-anak, untuk mendapatkan catatan tambahan amal kebaikan di sisi Allah SWT, mari sama-sama kita membacakan surah Al-Fatihah…..Ajma’iinal Faatihah, begitu ajakan saya. “Alhamdulillah ibu sudah membacanya” kata saya. “Saya sudah buk” yang lain mengikutinya. Terus saya lanjut bertanya, kira-kira apa yang kalian rasakan selama kegiatan sekolah harus dikemas terpaksa dengan daring ? Ayo jujur…pendapat jeniusnya ditunggu ya Nak. “Ibuk berikan hadits tentang mengungkapkan sesuatu harus dengan jujur ya….” Ungkap saya sambil mengajarkan dan menguatkan karakter kejujuran dalam diri mereka.<br><br></div><div><strong>قُلِ الْحَقَّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا</strong></div><div>Artinya: “Katakan sejujurnya walaupun itu pahit untuk dikatakan”<br><br></div><div>Komentar yang saling sambung-menyambung hingga berjumlah 74 komentar menyimpulkan bahwa mereka sangat merindukan pembelajaran seperti biasanya di kelas yaitu tatap muka. Kenapa tidak ? Menurut pengakuannya: pembelajaran daring membuat banyak kendala yang mereka rasakan diantaranya: jaringan yang lambat, kehabisan kouta, telat bangun tidur, tugas rumah seperti bantu-bantu ibu yang terkadang harus diselesaikan dalam waktu yang bersamaan dengan jadwal sekolah, kadang orang tua lupa kalau anaknya punya kegiatan khusus dari sekolah dan orang tua masih berfikir bahwa keberadaan anak di rumah dalam momen libur, setiap hari ada tugas sekolah yang harus diselesaikan, dan lain sebagainya. Semua ungkapan mereka utarakan satu persatu secara detail.<br><br></div><div>Tak terasa perbincangan bebas dan bermanfaat berlangsung begitu cepat, sehingga di tengah keterlenaan kami dalam mengobrol tiba-tiba jarum pendek menunjukkan pada angka 9, sementara jarum panjang menunjukan pada angka enam yang memberikan tanda bahwa kegiatan hari ini selesai. Kami mengakirinya dengan doa penutup majlis dan bacaan <em>alhamdalah</em>. <br><br>Semoga obrolan kami hari ini menjadi evaluasi buat diri sendiri sehingga menambah semangat untuk hari-hari selanjutnya. Dan semoga dengan istiqomah tetap semangat mengikuti kegiatan bernilai religius seperti ini dapat tercapai keinginan mereka yaitu segera corona hilang dari bumi dan bisa kembali belajar normal dengan tatap muka. Amiiinn Ya Rabbal ‘Alaminn.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/485390123/4821e83e5f6dfa45c5a61f60989d66e1/refleksi_rabu.jpeg" />
         <pubDate>2020-04-12 04:02:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/503269963</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Program Tahsin dan Tahfizd di Masa Pandemi COVID-19</title>
         <author>fitri357handayani</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/503431576</link>
         <description><![CDATA[<div>Dalam kondisi penyebaran COVID-19 yang semakin luas, maka masa belajar di rumah di perpanjang. Kegiatan Pembelajaranpun disusun mulai pukul 8.00 hingga pukul 12.00 WIB. Dimulai dengan kondisioning dengan wali kelas, salat duha, program Tahsin dan Tahfizd, lalu KBM untuk 1 mata pelajaran.<br> <br> Di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe program Tahsin dan Tahfizd memang sudah berjalan, yaitu setiap hari Selasa pukul 14.00-15.50 WIB dengan pembimbig ustaz dan Ustazah dari luar sekolah. Namun, selama  masa pandemi ini, program Tahsin dan Tahfizd akan berlangsung setiap hari dengan melibatkan seluruh guru sebagai pembimbing.<br><br></div><div> Terhitung sejak tanggal 30 maret, saya pun di tunjuk sebagai salah satu pembimbing kelompok Tahsin Akhwat B-1. Kelompok ini beranggotakan 11 siswi. Kegiatan Tahsin dimulai pukul 8.40-9.30 WIB dan saya menggunakan <em>google classroom </em>sebagai media membimbing program ini. Layaknya seperti saya mengajar dikelas daring, kelas Tahsin ini pun saya mulai dengan sapaan dan menanyakan kabar anak-anak, yang dilanjutkan dengan ucapan basmallah sebelum memulai segala aktifitas. <br><br></div><div>Untuk minggu pertama, saya membebaskan surah apa saja yang mereka baca, karena targetnya adalah mereka mau mengaji. Lalu, untuk membantu memantau kegiatan tahsin ini, maka saya meminta  mereka untuk mengirimkan foto sedang mengaji dan rekaman audio di <em>google</em> <em>classroom</em> ini, serta keterangan surah dan ayat mulai s.d ayat terakhir. Merekapun merespon dengan baik. Subhanallah, setiap harinya selalu mereka mengirimkan audio dan gambar serta keterangan  surah yang mereka baca. <br><br></div><div>Di minggu ke-2 berjalannya program Tahsin ini, saya mulai samakan surah bacaan yang kita baca bersama, dengan tujuan agar saya mudah menyimak bacaan mereka. Dengan demikian, memudahkan pula untuk belajar bersama tentang makhrajul huruf dan tajwid. Saya pun meminta mereka mengirimkan audionya minimal 5 ayat (ayat 1-5) dari surat yusuf beserta fotonya. <br><br></div><div> Diakhir pembelajaran tahsin, saya juga selalu meminta siswa mengucapkan hamdallah. Dan kadang di akhir pekan saya melakukan refleksi mengenai program tahsin yang telah dijalani ini. Pun kadang saya yang menutup dengan memberikan semangat kepada mereka, semoga ini menjadi amal tambahan untuk kita semua. Di balik COVID-19 kita menjadi lebih dekat dengan-Nya, punya banyak waktu tuk beribadah, dan bersama keluarga.<br><br></div><div>#stayathome<br> #jagakesehatan<br> #janganlupamengajidanberdoa<br><br></div><div> Wassalam </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/479685767/2fce8fa0f8edc9e762ef1b7a2d040205/padlet.jpeg" />
         <pubDate>2020-04-12 10:41:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/503431576</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tahsin Online di Masa Pandemi</title>
         <author>nisha_parisah</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/503675330</link>
         <description><![CDATA[<div>Masa darurat covid19 diperpanjang, belajar via daring pun dilanjutkan. Jika dua minggu lalu hanya ada UTS dan pemantapan UNBK, maka sekarang kegiatan pembelajaran menjadi lebih beragam. Diawali dengan conditioning class, lanjut duha, tahsin/tahfiz baru kemudian KBM. Akhirat dapat, dunia dapat. Alhamdulillah. <br><br>Kali ini saya diamanahkan untuk mendampingi satu kelompok tahsin, tepatnya tahsin A-1 Akhwat. Hari ini, 31 Maret 2020 adalah kesempatan pertama saya menyapa para sholehah. Duh, sempat ada kekhawatiran dalam hati "apakah mereka sudah pro semua ngajinya? mendadak minder, karena kemampuan membaca alquran saya belum hebat, sep keudroe istilahnya". Baik, saya coba pede aja. Bismillah.<br><br>"Assalamu'alaikum Shalehah, apa kabar? Sehat neuk? Sudah duha semua? Duduk manis yaa, ambil alqurannya. Untuk yang belum kenal, saya Manisha guru matematika kelas XII", nah ini juga salah satu hal yang membuat saya minder karena belum familiar dengan mereka, belum pernah menyapa langsung di kelas, tapi sudah bertemu di kelas tahsin online. Dan alhamdulillah ternyata  mereka shalehah semua, hadir tepat waktu dan segera menjawab salam. Semua akhwat sudah hadir, tepatnya 9 orang (Tahnia, Pia, Nadin, Nayla, Dian, Dinda, Rahil, Tara dan Balqis). <br><br> Di hari pertama ini saya coba membagikan video bacaan surah Al Baqarah oleh Kak Ocha (sumber : youtube), selanjutnya saya minta mereka mengaji. Sebenarnya belum ada aturan apapun (harapannya siswa bisa rutin mengaji) , namun karena ini sudah mendekati Ramadhan maka saya berinisiatif mencoba melatih anak-anak untuk tadarus.<br><br>"Oke neuk, Ramadhan di depan mata, kita coba latihan tadarus yaa, jadi dimulai dari awal" Setelah itu saya minta mereka fokus mengaji, di akhir saya minta mereka lapor setoran ayat plus foto, maksud saya foto orangnya tapi mungkin karena pemalu, rata-rata malah mengirim foto alquran. Hmm baiklah, mungkin besok harus lebih spesifik lagi arahannya.<br><br> ‌Hari kedua, saya menyapa lagi dan melanjutkan sesi kemarin. Dian tidak hadir dan tidak ada kabar, teman-temannya juga tidak tahu. Hari ini saya meminta secara spesifik "neuk, fotonya nampak muka yaa, ibu mau kenal". Alhamdulillah hari ini setoran ayat mulai meningkat, ada yang bahkan sudah lebih 50 ayat. Saya belum meminta mereka merekam, saya anggap ini masih sesi perkenalan. <br><br>Keesokan harinya, saya mulai meminta mereka merekam suara. Saya rasa ini jadi kesempatan saya melihat apakah mereka sudah pro apa belum. Hehe.. Tapi kendala mulai ada, ada yang tiba-tiba muncul ke whatapp dan merasa kesulitan merekam lewat google classroom, ada yang merekam video tapi kondisi gelap gulita agar hanya suara saja yang terdengar. Hal yang sama juga terjadi esok harinya, namun saya mencoba untuk tetap melanjutkan. Hasilnya : rekaman suara siswa banyak yang terlambat masuk. Oke kita tunggu sampai Jum'at, senin kita coba alternatif lain. <br><br> ‌Hari jum'at saya baru ikut bergabung mengaji bersama mereka setelah sebelumnya haid dan hanya bisa mendampingi. Karena hari Jum'at maka saya meminta mereka untuk mengaji Al Kahfi kemudian saya meminta anak-anak mengirim video, rasanya kurang asik jika hanya mendengar suara. Hehe. Terinspirasi dari Pak Zubir, saya juga coba mengirim video membaca alquran. Awalnya ragu dan malu karena belum pernah live streaming, tapi ah sudahlah. Saya meminta mereka mengirim video, maka saya juga harus melakukan hal yang sama. <br><br>Alhamdulillah kegiatan tahsin minggu ini berjalan lancar, setoran ayat baik bahkan sudah ada yang ratusan, bacaan anak-anak juga bagus, namun ada sedikit kendala di jaringan. Mungkin mulai minggu selanjutnya akan hijrah ke whatsapp saja.<br><br>Secara pribadi, saya bersyukur diberi amanah mengelola kelas tahsin karena dengan begini saya pun jadi punya waktu lebih untuk beribadah. Sekian dulu dari saya. <br><br></div><div>Salam hangat, Manisha. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-12 17:53:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/503675330</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelas &#39;Ragu-Ragu&#39; Itu Bernama Tahsin Online</title>
         <author>alimuddinmansu</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/503958677</link>
         <description><![CDATA[<div>Kelas 'ragu-ragu', seperti itu saya menamainya. Nah, jika kelas KBM dilakukan secara <em>daring</em>, sudahlah terbukti berjalan dengan baik. Ya, KBM online lebih sederhana dan tak ruwet untuk dilakukan. Di sana guru bisa menciptakan diskusi kecil, ada materi, dan lazimnya berkesudahan dengan siswa menjawab tiga, dua atawa satu kasus-pertanyaan.</div><div><br></div><div>Tahsin Online, pertanyaannya adalah itu, bagaimana gerangan melakukan itu? Musabab, Tahsin tentu saja siswa harus mengaji di rumah masing-masing. Nah, bagaimana mampu memastikan siswa sudah melakukannya?</div><div>Sekumpulan ragu menyeruak, akankah, bisakah, tak mungkinkah, dan lain sebagainya, maka terbesit kelas ini menjadi kelas 'Ragu-Ragu.'</div><div><br></div><div>Tapi bermulalah Kelas Tahsin Online, ya, kelas yang penuh 'Ragu-Ragu'. Pada temu pertama hingga tiga, kekuatan kelas adalah percaya. Ya, saya percayai siswa mengaji di rumah, tanpa ada foto dan video. Adakah hal menarik yang terjadi? Tentu, dan rasanya menarik, saya menerima foto-foto tanpa sebuah permintaan. Saya berpikir, tidak seharusnya saya ragu dengan kelas Tahsin Online ini. </div><div><br></div><div>Hari berganti, kelas berjalan, sekali saya minta siswa kirimkan foto, lain kali video, dan mereka melakukan dengan baik. Pada akhirnya, saya harus mengatakan bahwa kata Percaya sangat mujarab di sini. Ya, percayai siswa karena mereka memang melakukan hal tersebut. Ya, tentu satu atawa dua siswa akan absen terkadang, bukankah itu hal kewajaran di dalam sebuah kelas tatap muka atau online?</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-13 02:34:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/503958677</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Coba Diskusi-Diskusi Ringan, Maka Kelas Akan Sangat Nyaman</title>
         <author>alimuddinmansu</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/503986699</link>
         <description><![CDATA[<div>Sedikit lebay, barangkali seperti itu rasanya judul ini. Tapi saya mengalaminya hari ini. Ya, Kelas Andorra, Coba Diskusi-Diskusi Ringan, Maka Kelas Akan Sangat Nyaman. Yup, belajar Ekonomi, membahas Laju Inflasi yang sedang marak terjadi, kami melakukan itu hari ini.<br><br>Hal remeh-temeh, kami mengawali kelas seperti itu. Saya memberikan beberapa Quis. Lalu siapa cepat menjawab. Ya, tebak kata, negara, dan tanya-tanya sederhana. Dan siswa-siwa berlomba.<br><br>Lalu diskusi bermula, tentulah tentang Inflasi. Sedikit memberi pengantar dan mengikhtiarkan melibatkan pengalaman mereka dengan tema. Nah diskusi ini adalah diskusi-diskusi ringan yang bernomor satu hingga 4. <br><br>Tiap nomor diskusi aktif, itu yang saya rasakan. Ya, satu-dua siswa kadang absen menjawab di satu nomor tapi di lain nomor, akan ada jawaban mereka. Pikir saya, kelas seperti ini bisa membuat nyaman siswa dan juga guru tentu saja.<br><br>Penghujung pertemuan, ada tiga soal yang harus mereka jawab di kertas. Dan pukul 12 teng, sebagian besar dari siswa sudah menyelesaikan kerja mereka. Maka beban hari ini selesai sudah.<br><br>Ini tentulah dengan kacamata saya dan tiap orang memiliki kacamata berlainan bukan?<br> </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/479926713/53650da4744f7057364088f0b38961b9/WhatsApp_Image_2020_04_06_at_12_27_12.jpeg" />
         <pubDate>2020-04-13 03:15:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/503986699</guid>
      </item>
      <item>
         <title>TAHFIZ ONLINE SERASA SEPERTI TADARRUS DI BULAN PUASA</title>
         <author>fajrulriska3</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/504014933</link>
         <description><![CDATA[<div>Tak terasa sudah berjalan minggu ketiga tahfiz online ini. Alhamdulillah kebetulan saya mengasuh tahfiz akhwat yang berjumlah sembilan orang (1). Setiap jam 08.30 WIB dari hari senin hingga jum’at saya selalu menyapa hafizah-hafizah saya untuk mengajak shalat duha dulu sebelum tahfiz di mulai tepat jam 08.40 WIB. Setelah memberikan salam, mengajak shalat duha, dilanjutkan dengan menanyakan kabar hafizah-hafizah saya dan mengarahkan mereka untuk melanjutkan hafalannya.<br><br></div><div>Suatu ketika saya pernah menanyakan bagaimana kegiatan tahfiz online ini, anak-anak memberikan pendapat bahwa ini menyenangkan dan tidak ada kendala apa pun. Syukur alhamdulillah, saya berasa suasananya seperti dibulan puasa, pagi-pagi sudah lengkap dengan air wudhuk untuk membuka alqur’an, memulai mengaji beberapa ayat sambil menunggu kiriman video setoran hafalan anak-anak. Alhamdulillah anak-anak sangat antusias dalam menghafal, bahkan 7 dari 9 orang hafizah saya selalu hadir dan mengirimkan video. Ada juga 2 orang yang jarang hadir, namun saya sudah mengabari kepada walikelasnya masing-masing.<br><br></div><div>Anak-anak sangat semangat menghafal, terbukti dari video yang mereka kirimkan. Jika ayatnya panjang dan memakan banyak memory anak-anak  mengeluh karena butuh waktu lama untuk mengirimkan video tersebut. Bahkan ada yang panik sampe beberapa kali WA saya dan screenshoot video yang dikirim ke google classroom sedang berjalan namun lama sehingga anak tersebut takut kalau kiriman videonya tidak masuk. Namun masalah tersebut sudah teratasi, hanya butuh kesabaran saja dalam menguploudnya.<br><br></div><div>Semoga kedepannya masih terus bersemangat hafizah-hafizah saya dalam mempersiapkan bekal di akhirat nanti. Saya juga sering memberikan motivasi kepada mereka agar terus bersemangat dalam menghafal alquran sebagai ibadah insya Allah berkah di dunia dan akhirat. Sekian. <br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/479531682/28dc43d665ecaece2d780e87c148bcae/Tahfiz.jpg" />
         <pubDate>2020-04-13 03:56:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/504014933</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tahsin Quran Sebuah Kebutuhan</title>
         <author>sarlivantisurya</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/516474335</link>
         <description><![CDATA[<div>Menjadi pembimbing kelas tahsin putra sebuah kebahagian dan tantangan, kebahagian karena dapat menjadi bagian dari saksi betapa pemuda muslim bersemangat dalam mengaji, tantangan karena harus menghandle semua siswa laki-laki. <br><br>Kelas tahsin dibuka setiap pukul 08.40 - 09.25 senin - jumat, kelas dibuka dengan salam dan quote sebagai penyemangat. Kemudian siswa diberikan kesempatan untuk membaca selama lebih kurang 40 menit dan melaporkannya pada pukul 09.25. Semua arahan ini dilakukan melalui google classroom.<br><br>Setiap postingan atau setoran bacaan siswa pasti akan saya berikan komentar positif, dengan kalimat-kalimat penyemangat yang insyaAllah nantinya menjadi inspirasi bagi semua. <br><br>Said dan Ulwan merupakan 2 siswa yang tidak pernah absen di kelas Tahsin B-2, sangat luar biasa dan apresisasi setiggi-tingginya untuk Ananda berdua.<br><br>Semoga kelas tahsin ini menjadi penyemangat bagi Ananda untuk senantiasa memperbaiki bacaan qurannya, yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim.</div>]]></description>
         <pubDate>2020-04-20 05:29:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/516474335</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Refleksi program Tahsin dan Tahfiz</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/516750425</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Covid-19 Menyerang, Ibadah Tetap No 1<br></strong><br></div><div>Bencana melanda dunia tanpa mengenal tapal batas kehidupan, kurang lebih sudah 1,5 bulan masa ini di lalui dengan berbagai keadaan dan cara bagaimana menghadapi musibah yang secara perlahan-lahan menembus hampir 100 ribu kematian yang terjadi di berbagai  belahan bumi. Di tanah air kitapun saat ini sudah banyak kasus yang terpapar covid 19, tidak cukup dengan hitungan tangan, tapi sudah dalam hitungan besar ditambah lagi dengan rasa takut yang terhentak dalam hati setiap masayarakat serta merta merasakan ketidaknyamanan dalam berkehidupan. Langkah demi langkah terus dihadapi untuk menyelesaikan masalah ini dan hal ini juga berimbas ke banyak sektor, para  pemangku negeri berupaya mencari  solusi.<br><br></div><div>Dibalik keadaan ini dunia pendidikan juga ikut terganggu, baik kegiatan formal maupun kegiatan ekstrakurikuler. Covid-19 tidak bisa membuat semangat belajar dan beribadah itu menurun, segala cara di terapkan untuk membuat program kegiatan sekolah yang berbentuk daring, mulai dari kegiatan belajar materi dari rumah, sampai kegiatan beribadah dari rumah. Salah satu upaya beribadah yang dilakukan siswa dari rumah, sekolah Sukma Bangsa memiliki sebuah program, yaitu program tahsin tahfiz yang di handle oleh guru-guru di sekolah tersebut. Kegiatan tahsin online  ini adalah sebuah upaya agar para siswa tidak meninggalkan pembelajaran saat pandemi seperti ini. Program belajar tahnsin online juga berkesinambungan program pemerintah yang dimana kita semua, mulai bekerja di rumah, belajar di rumah, beribadah di rumah.<br><br></div><div>Tahsin menurut bahasa berasal dari kata ‘hassana – yuhassinu’ yang artinya membaguskan kata ini sering digunakan sebagai sinonim dari kata tajwid yang berasal dari ‘jawwada – yajawwidu‘ apabila di tinjau dari segi bahasa artinya membenarkan oleh karena itu pendefinisian tahnsin menurut istilah disamakan dengan pendefinisian tajwid. <br><br></div><div>Tahsin atau <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Tajwid">tajwid</a> adalah menyempurnakan semua hal yang berkaitan dengan kesempurnaan pengucapan huruf-huruf al Quran dari segala aspek sifat-sifatnya yang senantiasa melekat pada al Quran dan menyempurnakan pengucapan antara satu huruf dengan huruf yang lainnya seperti idzhar, idgham, ikhfa dan sebagainya.<br><br></div><div>Oleh karena itu program belajar tahsin ini cukup bagus untuk para siswa untuk menyempurkan bacaan Alquran agar tidak salah dalam membaca Alquran. Banyak keluhan yang di rasakan  dalam belajar tahnsin <em>online</em> ini, diantaranya, kouta internet yang tidak cukup, atusias belajar siswa yang acuh tak acuh, bacaan Alquran  siswa yang masih mengeja huruf hijayyah.  ini menjadi kendala cukup berarti dalam belajar tahsin online, Semestinya program tahsin harus bertatap muka dan juga di dukung oleh orang tua di rumah untuk mengulang bacaan Alquran agar sempurna.<br><br></div><div>Kegiatan Tahsin ini sangat bermanfaat, namun sedikit kewalahan jika motivasi diri untuk belajar Alquran masih belum maksimal. Pada kesempatan kali ini, saya dapat kelompok laki-laki tahsin C, setelah melihat nama-nama siswa yang akan saya ajarkan belajar Alquran, saya sudah bisa membayangkan seperti apa kelas tersebut, karena siswanya sudah saya kenal dan tau bagaimana mereka di kelas sehari-hari, saya selalu berusaha memberikan sesuatu yang berbeda setiap harinya. <br><br></div><div>Awal pebelajaran tahsin menggunakan <em>google calss room</em>, dua minggu selanjutnya menggunakan WAG, terasa lebih terkontrol di minggu kedua, karena jika siswa yang tidak hadir, pasti akan saya japri, untuk mengetahui kenapa tidak hadir di kelas tahsin, berbagai macam alasan diutarakan dan ada juga yang tidak meresponnya sama sekali. <br><br></div><div>Setelah mendengar bacaan siswa pada pertemuan pertama, saya menyimpulkan bahwa siswa tersebut, membutuhkan pengenalan huruf hijaiyah, tajwid dan makharijul huruf, sedikit terkendala karena harus belajar online, tidak bisa langsung diperbaiki bacaanya ketika ada yang salah. Mereka merekam suaranya, setelah itu saya mendengarkan dan memperbaiki bacaanya. Selain itu saya sering mengirimkan video-video motivasi untuk belajar Alquran, dengan harapan ada yang tergugah hatinya dan terus semangat mempelajari Alquran, sedih rasanya jika usia SMA masih harus diperbaiki huruf hijaiyahnya, namun saya bangga dan senang bisa bersama mereka, setidaknya dalam waktu 3 minggu ini saya bisa memberikan motivasi dan mengajak mereka mempelajari Alquran. <br><br>Rasa bangga saya bertambah ketika ada beberapa siswa yang konsisten dengan kehadiran dan mengumpulkan tugas-tugas tahsinnya, walau hanya sebuah rekaman suara dan foto-foto ketika mengaji. siswa yang sangat antusias pada kegiatan tahsin adalah Muhammad Rafli Aulia dan Zaki Syahriza serta Teuku Saidil Anam, dan diminggu kedua ada Muhammad Zaki, semoga dengan keseriusan dan kegigihan mereka memperbaiki bacaan Alquran, membuahkan fahala dan semakin lancar pula mereka melafazkan kalam Allah ini.<br><br></div><div>Semoga kegiatan tahsin ini terus mendapatkan tempat istimewa di hati siswa-siswa sekolah Sukma Bangsa. Ini merupakan program yang sangat bagus, semoga terus bertahan dan terus dikembangkan. bahagia rasanya ketika melihat siswa-siswa sekolah Sukma bangsa ketika wisuda, turut juga mereka wisuda Alquran. pastinya mereka-mereka yang sudah mencapai target yang sudah ditetapkan sekolah. sekian tulisan singkat ini saya tulis, semoga bermanfaat. wassalam</div><div><br>Wassalam, bu Yenda<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-20 08:08:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/516750425</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Refleksi Tahsin Tahfiz</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/516799647</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Covid-19 Menyerang, Ibadah Tetap No 1<br></strong><br></div><div>Bencana melanda dunia tanpa mengenal tapal batas kehidupan, kurang lebih sudah 1,5 bulan masa ini di lalui dengan berbagai keadaan dan cara bagaimana menghadapi musibah yang secara perlahan-lahan menembus hampir 100 ribu kematian yang terjadi di berbagai  belahan bumi. Di tanah air kitapun saat ini sudah banyak kasus yang terpapar covid 19, tidak cukup dengan hitungan tangan, tapi sudah dalam hitungan besar ditambah lagi dengan rasa takut yang terhentak dalam hati setiap masayarakat serta merta merasakan ketidaknyamanan dalam berkehidupan. Langkah demi langkah terus dihadapi untuk menyelesaikan masalah ini dan hal ini juga berimbas ke banyak sektor, para  pemangku negeri berupaya mencari  solusi.<br><br></div><div>Dibalik keadaan ini dunia pendidikan juga ikut terganggu, baik kegiatan formal maupun kegiatan ekstrakurikuler. Covid-19 tidak bisa membuat semangat belajar dan beribadah itu menurun, segala cara di terapkan untuk membuat program kegiatan sekolah yang berbentuk daring, mulai dari kegiatan belajar materi dari rumah, sampai kegiatan beribadah dari rumah. Salah satu upaya beribadah yang dilakukan siswa dari rumah, sekolah Sukma Bangsa memiliki sebuah program, yaitu program tahsin tahfiz yang di handle oleh guru-guru di sekolah tersebut. Kegiatan tahsin online  ini adalah sebuah upaya agar para siswa tidak meninggalkan pembelajaran saat pandemi seperti ini. Program belajar tahnsin online juga berkesinambungan program pemerintah yang dimana kita semua, mulai bekerja di rumah, belajar di rumah, beribadah di rumah.<br><br></div><div>Tahsin menurut bahasa berasal dari kata ‘hassana – yuhassinu’ yang artinya membaguskan kata ini sering digunakan sebagai sinonim dari kata tajwid yang berasal dari ‘jawwada – yajawwidu‘ apabila di tinjau dari segi bahasa artinya membenarkan oleh karena itu pendefinisian tahnsin menurut istilah disamakan dengan pendefinisian tajwid. <br><br></div><div><br>Tahsin atau <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Tajwid">tajwid</a> adalah menyempurnakan semua hal yang berkaitan dengan kesempurnaan pengucapan huruf-huruf al Quran dari segala aspek sifat-sifatnya yang senantiasa melekat pada al Quran dan menyempurnakan pengucapan antara satu huruf dengan huruf yang lainnya seperti idzhar, idgham, ikhfa dan sebagainya.<br><br></div><div>Oleh karena itu program belajar tahsin ini cukup bagus untuk para siswa untuk menyempurkan bacaan Alquran agar tidak salah dalam membaca Alquran. Banyak keluhan yang di rasakan  dalam belajar tahnsin <em>online</em> ini, diantaranya, kouta internet yang tidak cukup, atusias belajar siswa yang acuh tak acuh, bacaan Alquran  siswa yang masih mengeja huruf hijayyah.  ini menjadi kendala cukup berarti dalam belajar tahsin online, Semestinya program tahsin harus bertatap muka dan juga di dukung oleh orang tua di rumah untuk mengulang bacaan Alquran agar sempurna.<br><br></div><div>Kegiatan Tahsin ini sangat bermanfaat, namun sedikit kewalahan jika motivasi diri untuk belajar Alquran masih belum maksimal. Pada kesempatan kali ini, saya dapat kelompok laki-laki tahsin C, setelah melihat nama-nama siswa yang akan saya ajarkan belajar Alquran, saya sudah bisa membayangkan seperti apa kelas tersebut, karena siswanya sudah saya kenal dan tau bagaimana mereka di kelas sehari-hari, saya selalu berusaha memberikan sesuatu yang berbeda setiap harinya. <br><br></div><div>Awal pebelajaran tahsin menggunakan <em>google calss room</em>, dua minggu selanjutnya menggunakan WAG, terasa lebih terkontrol di minggu kedua, karena jika siswa yang tidak hadir, pasti akan saya japri, untuk mengetahui kenapa tidak hadir di kelas tahsin, berbagai macam alasan diutarakan dan ada juga yang tidak meresponnya sama sekali. <br><br></div><div>Setelah mendengar bacaan siswa pada pertemuan pertama, saya menyimpulkan bahwa siswa tersebut, membutuhkan pengenalan huruf hijaiyah, tajwid dan makharijul huruf, sedikit terkendala karena harus belajar online, tidak bisa langsung diperbaiki bacaanya ketika ada yang salah. Mereka merekam suaranya, setelah itu saya mendengarkan dan memperbaiki bacaanya. Selain itu saya sering mengirimkan video-video motivasi untuk belajar Alquran, dengan harapan ada yang tergugah hatinya dan terus semangat mempelajari Alquran, sedih rasanya jika usia SMA masih harus diperbaiki huruf hijaiyahnya, namun saya bangga dan senang bisa bersama mereka, setidaknya dalam waktu 3 minggu ini saya bisa memberikan motivasi dan mengajak mereka mempelajari Alquran. <br><br></div><div>Rasa bangga saya bertambah ketika ada beberapa siswa yang konsisten dengan kehadiran dan mengumpulkan tugas-tugas tahsinnya, walau hanya sebuah rekaman suara dan foto-foto ketika mengaji. Siswa yang sangat antusias mengikuti kegiatan tahsin ini adalah Muhammad Rafli aulia, Teuku Saidil Anam, Zaki Syahriza serta di minggu-minggu terakhir ada Muhammad Zaki, semoga dengan usaha mereka, Allah berikan fahal yang melimpah dan melancarkan mereka untuk membaca kalam Allah setiap harinya.<br><br></div><div>Semoga kegiatan tahsin ini terus mendapatkan tempat istimewa di hati siswa-siswa sekolah Sukma Bangsa. Ini merupakan program yang sangat bagus, semoga terus bertahan dan terus dikembangkan, bahagia rasanya jika wisuda akademik juga diiringi dengan wisuda Alquran, tentunya siswa sudah menuntaskan target-target yang ditetapkan sekolah. Sekian tulisan singkat saya, semoga bermanfaat, terus mempelajari Alquran, karena tidal ada yang sia-sia untuk kehdupan akhirat yang lebih baik, wassalam<br><br></div><div><br></div><div>Wassalam, bu Yenda<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-20 08:28:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/516799647</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jangan Pernah Berhenti Mencintai Alquran</title>
         <author>ihsanumraity</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/517681221</link>
         <description><![CDATA[<div>Seiring dengan berlanjutnya masa sosial distancing untuk mencegah covid-19, semua proses pembelajaran dan bimbingan juga harus dilakukan dirumah dengan cara daring tak terkecuali dalam membimbing siswa – siswa Sukma Bangsa Lhokseumawe dalam pogram Tahfidz Alquran.&nbsp;<br><br></div><div>Tahfidz menjadi salah satu pogram wajib disetiap hari senin sampai jumat, dimulai pukul 8.40 sampai 9.30. Saya diberikan kesempatan untuk mengasuh grup tahfidz ikhwan A yang terdiri dari delapan pemuda pencinta alquran. Menurut mereka salah satu cara mencintai alquran adalah dengan cara menghafalnya sehingga setiap kata dan rasa menghujam jauh kedalam hati.<br><br></div><div>Pertemuan pertama kami berdiskusi tentang surah apa saja yang sudah mereka kuasai dalam pogram rutin sebelum covid dan surah – surah apa saja yang mereka hafal secara mandiri. Sebagai informasi rata – rata mereka sudah menhafal kebanyakan surah – surah di juzd Amma kecuali surah An naba’ karena surah An naba’ tergolong surah yang panjang terdiri atas empat puluh ayat.&nbsp;<br><br></div><div>Selanjutnya kami menyepakati untuk menghafal surah annaba’. Dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan kendala Biar tidak memberatkan saya membagi setiap pertemuan anak – anak menghafal dan menyetor lima ayat dengan mengunggah video hafalan digoogle classroom. Dalam kesempatan itu juga saya mengirim kiat – kiat menghafal dengan cepat salah satunya seperti kiat dibawah ini.<br><br></div><div>“salah satu cara menghafal biar cepat ingat.<br>&nbsp;- Baca ayat pertama hingga 10-20 kali hingga hafal<br>&nbsp;- Lalu baca ayat kedua sebanyak 10-20 kali hingga hafal<br>&nbsp;- Baca ayat pertama + kedua sebanyak 10-20 kali hingga hafal<br>&nbsp;- Lalu baca ayat ketiga sebanyak 10-20 kali hingga hafal<br>&nbsp;- Kembali baca ayat pertama + kedua + ketiga sebanyak 10-20 kali hingga hafal<br>&nbsp;Dan seterusnya”.</div><div>&nbsp;</div><div>Tentunya anak – anak boleh menggunakan cara ini atau cara lain yang menurut mereka lebih memudahkan. Hal menarik yang saya amati selama proses bimbingan tahfidz bahwa ada anak yang menyotor lebih dari lima ayat dalam sekali pertemuan. Setelah mereka mengunggah hafalan mereka, seperti biasa saya akan memberikan komentar – komentar yang kebayakan positif dan memotivasi mereka agar tetap konsisten untuk menjiwai alquran.</div><div>&nbsp;</div><div>Setelah kami menyelesaikan menghafal surah An naba’, kami menyepakati untuk menjiwai surah Al waqiah, masih dengan menggunakan cara yang sama yaitu para hafidz diharapkan menyetor lima ayat dalam setiap pertemuan.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Namun seiring waktu saya merasa engagement dengan mereka tidak begitu kentara kalau ­setiap pertemuan saya hanya menyapa, memastikan kehadiran, memberikan kiat – kiat, memberikan komentar melalui tulisan digoogle classroom, saya merasa proses belajar terkesan sendiri - sendiri. Saya ingin mengamati proses mereka menghafal secara live dimana semua siswa saling terlibat dan bisa mengamati dan mengoreksi cara menghafal ­­­satu sama yang lain. Oleh karena itu kami mencoba menggunakan applikasi zoom.&nbsp;<br><br>Dengan zoom sedikit banyak menjawab kegelisahan saya karena saya dan siswa lain bisa melihat lansung proses belajar dan saling memberikan feedback saat diperlukan. Terakhir pesan saya teruslah mencintai Al quran karena ada rahmat ilahi bahkan dalam setiap kata-katanya.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-04-20 14:33:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/517681221</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelas Tahsin Penyambut Ramadhan</title>
         <author>zeetier</author>
         <link>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/517931437</link>
         <description><![CDATA[<div>Belajar online, ujian online, dan meeting online mungkin sudah menjadi hal biasa dilakukan oleh satuan pendidikan di Indonesia khususnya pada masa pandemi Covid 19 ini. Namun ada yang berbeda dengan SMA Sukma bangsa Lhokseumawe, setelah berhasil dengan kelas onlinenya, SMA Sukma bangsa mencoba kelas Tahsin dan Tahfiz secara online. Saya ditunjuk menjadi guru pembimbing kelompok B-2 putri. Awalnya saya sempat kebingungan bagaimana harus menghendel kelas tersebut. Alhamdulillah kelompok saya yang terdiri dari 11 siswi ini sangat responsif dan disiplin. Hampir semua siswa hadir di setiap harinya. Hanya satu siswa saja yang terhitung alpa dibeberapa hari. <br><br>Kelas Tahsin yang dimulai dari Senin sampai Jumat ini melatih siswi untuk terus dekat dengan Al Qur'an. Setiap pagi kelas dimulai dengan menyapa dan mengabsen siswi terlebih dahulu. Awalnya saya hanya iseng memanggil mereka dengan sebutan ukhti yang artinya sodara perempuan dalam bahasa Arab namun mereka meresponnya dengan memanggil saya menggunakan kata ustazah. Kami kerap bercanda dan saling mendoakan selama tahsin. <br><br>Pada minggu pertama, saya menargetkan siswi untuk setiap hari wajib membaca Alquran bagi yang shalat dan membaca Asmaul Husna serta zikir mandiri bagi yang berhalangan. Foto selfie, rekaman suara, dan vidoe mereka menjadi tampilan teratas digaleri handphone saya. Kadang ada yang ketiduran, kehabisan paket, dipanggil mamanya sehingga terlambat absen dan mengirimkan rekaman. Itu hal yang sangat wajar bagi saya dan saya memakluminya. <br><br>Disetiap hari jumat kami sepakat untuk membaca surah  yasin dan diminggu berikutnya saya menargetkan siswa sehari  minimal 3 halaman yang mana mereka boleh menyicilnya setelah sholat fardhu atau di waktu lain. Disela-sela membaca Alquran saya membagi video tentang tajwid dan mahkrajil huruf untuk menambah kefasihan dan ketepatan dalam membaca Al Qur'an.<br><br>Selain mengaji, kami juga sepakat untuk melakukan amal - amalan lain seperti puasa di hari Asyura dan sholat tasbih. Hari itupun berhasil menjadi hari yang paling mengharukan dimana kami saling meminta maaf satu sama lainnya. Ada hal yang berbeda yang saya rasakan dikelas tahsin. Berawal dari sebutan ustazah yang mengubah gaya berinteraksi saya tanpa saya sadari. </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/460785973/cdaeab52d477de56769d2e4cc5572a7f/PhotoCollage_20200422_215707386.jpg" />
         <pubDate>2020-04-20 15:50:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cangpanah/KelasAntiKorona/wish/517931437</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
