<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>REFLEKSI. 1. Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas kedepannya?  2. Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran? 3. Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid untuk berpikir kritis, kreatif, dan mendalam?  4. Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?  5. Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan? by Lela Septiani</title>
      <link>https://padlet.com/lelaseptiani79/8gm4ii9ecsr92fj0</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-08-11 06:18:43 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-08-12 09:11:40 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>RUDY SAPUTRA</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/lelaseptiani79/8gm4ii9ecsr92fj0/wish/3541255116</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>1. Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas ke depannya?</strong><br>Biasanya kita memulai dari:</p><ul><li><p><strong>Analisis kebutuhan belajar murid</strong> (hasil asesmen sebelumnya, minat, dan profil belajar).</p></li><li><p><strong>Menentukan tujuan pembelajaran</strong> sesuai kurikulum.</p></li><li><p><strong>Memilih materi, metode, dan media</strong> yang relevan.</p></li><li><p><strong>Menyusun alur kegiatan pembelajaran</strong> dari pembukaan, inti, hingga penutup.</p></li><li><p><strong>Menentukan asesmen</strong> untuk mengukur pencapaian tujuan.</p></li></ul><p>🔍 <em>Poin penting</em>: Rencana sebaiknya fleksibel, bukan sekadar menyalin RPP, tapi benar-benar disesuaikan dengan situasi kelas.</p><p><strong>2. Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</strong><br>Beberapa prinsip umum:</p><ul><li><p><strong>Berpusat pada murid</strong> (student-centered).</p></li><li><p><strong>Relevan dengan kehidupan nyata</strong> murid.</p></li><li><p><strong>Mengakomodasi perbedaan individu</strong> (diferensiasi).</p></li><li><p><strong>Mengembangkan keterampilan abad 21</strong> (4C: critical thinking, creativity, collaboration, communication).</p></li><li><p><strong>Mengintegrasikan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila</strong>.</p></li></ul><p><strong>3. Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid untuk berpikir kritis, kreatif, dan mendalam?</strong><br>Cek indikatornya:</p><ul><li><p>Apakah murid diberi <strong>pertanyaan pemantik</strong> yang menantang berpikir?</p></li><li><p>Apakah ada <strong>tugas terbuka</strong> yang memiliki banyak jawaban benar?</p></li><li><p>Apakah murid diberi ruang untuk <strong>mengeksplorasi ide</strong> dan mencoba solusi baru?</p></li></ul><p>Jika kegiatan masih didominasi ceramah dan soal latihan rutin, maka berpikir kritis &amp; kreatif belum maksimal.</p><p><strong>4. Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?</strong><br>Idealnya:</p><ul><li><p>Murid adalah <strong>subjek pembelajaran</strong> (bukan sekadar penerima informasi).</p></li><li><p>Guru menjadi <strong>fasilitator &amp; pembimbing</strong>, bukan satu-satunya sumber pengetahuan.</p></li><li><p>Murid dilibatkan dalam <strong>perencanaan, eksplorasi, diskusi, dan evaluasi</strong>.</p></li></ul><p><strong>5. Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?</strong><br>Beberapa tantangan umum:</p><ul><li><p><strong>Keterbatasan waktu</strong> untuk menyiapkan pembelajaran yang kreatif.</p></li><li><p><strong>Perbedaan kemampuan murid</strong> yang sangat beragam.</p></li><li><p><strong>Ketersediaan media &amp; sarana</strong> yang kurang memadai.</p></li><li><p><strong>Kebiasaan belajar murid</strong> yang pasif karena terbiasa “disuapi” materi.</p></li><li><p><strong>Tekanan administratif</strong> yang mengurangi fokus guru pada inovasi dan pembelajara</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-12 08:59:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/lelaseptiani79/8gm4ii9ecsr92fj0/wish/3541255116</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/lelaseptiani79/8gm4ii9ecsr92fj0/wish/3541255545</link>
         <description><![CDATA[<ul><li><p><strong>Perencanaan pembelajaran ke depan</strong> biasanya dimulai dengan menganalisis kebutuhan murid, mengacu pada capaian pembelajaran, serta menyusun langkah-langkah kegiatan belajar yang terstruktur namun fleksibel agar dapat menyesuaikan dengan kondisi nyata di kelas.</p></li><li><p><strong>Prinsip yang digunakan</strong> dalam merancang pembelajaran meliputi pembelajaran berpusat pada murid, diferensiasi untuk menghargai keberagaman, keterkaitan dengan kehidupan nyata, serta penanaman nilai karakter </p></li><li><p><strong>Strategi pembelajaran</strong> yang digunakan diarahkan untuk mendorong murid berpikir kritis, kreatif, dan mendalam melalui penggunaan metode diskusi, proyek, pemecahan masalah, eksperimen, dan refleksi diri.</p></li><li><p><strong>Posisi murid dalam proses belajar</strong> ditempatkan sebagai subjek aktif yang terlibat dalam eksplorasi, penemuan, dan kolaborasi, dengan guru berperan sebagai fasilitator dan pendamping belajar.</p></li><li><p><strong>Tantangan yang sering dihadapi</strong> meliputi keterbatasan waktu, perbedaan kemampuan dan minat murid, keterbatasan sumber daya, serta mencari cara yang konsisten untuk membuat pembelajaran tetap berkesadaran, relevan, dan menyenangkan bagi semua murid.</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-12 09:00:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/lelaseptiani79/8gm4ii9ecsr92fj0/wish/3541255545</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/lelaseptiani79/8gm4ii9ecsr92fj0/wish/3541257223</link>
         <description><![CDATA[<p>1.Bagaimana kits biasanya mrencanakan pembelajaran di kelas kedepannya?</p><p>Perencanaan pembelajaran biasanya melibatkan identifikasi tujuan pembelajaran, pemilihan metode dan strategi pembelajaran, penyusunan materi, dan perencanaan penilaian untuk memastikan pencapaian tujuan pembelajaran</p><p>2. Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</p><p>- Prinsip yang sering digunakan termasuk pembelajaran yang berpusat pada murid, kontekstual, kolaboratif, dan berbasis pada kebutuhan serta kemampuan murid.</p><p>3. Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid untuk berpikir kritis, kreatif, dan mendalam?</p><p>- Strategi pembelajaran yang efektif seharusnya mendorong murid untuk berpikir kritis (menganalisis, mengevaluasi), kreatif (menghasilkan ide baru), dan mendalam (memahami konsep secara lebih dalam).</p><p>4. Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?</p><p>- Murid sebaiknya diposisikan sebagai subjek aktif dalam proses belajar, bukan hanya sebagai penerima informasi. Mereka harus dilibatkan dalam proses pembelajaran melalui diskusi, proyek, dan aktivitas yang mendorong partisipasi aktif.</p><p>5. Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?</p><p>- Tantangan termasuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan dan kemampuan murid yang beragam, menjaga keseimbangan antara pencapaian tujuan dengan keterlibatan murid, dan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan menggembirakan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-12 09:03:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/lelaseptiani79/8gm4ii9ecsr92fj0/wish/3541257223</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Binti Zakiyyah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/lelaseptiani79/8gm4ii9ecsr92fj0/wish/3541258147</link>
         <description><![CDATA[<p>Binti Zakiyyah</p><ol><li><p>Biasanya kita memulai dengan menganalisis tujuan pembelajaran, memahami kebutuhan dan karakter murid, lalu menyusun rencana yang memuat materi, metode, media, dan asesmen. Perencanaan juga mempertimbangkan alur kegiatan pembelajaran, waktu, serta penyesuaian bagi murid yang memiliki kebutuhan belajar berbeda.</p></li><li><p>Umumnya kita menggunakan prinsip pembelajaran yang berorientasi pada murid, bermakna, aktif-partisipatif, berkesinambungan, dan kontekstual<strong>. </strong>Dalam pembelajaran berdiferensiasi, prinsip ini diperkuat dengan kesadaran akan keragaman murid dan pemberian kesempatan belajar yang adil bagi semua.</p></li><li><p>Strategi yang mendorong hal ini misalnya pembelajaran berbasis masalah (PBL), diskusi kelompok, proyek kolaboratif, dan refleksi diri. Namun, penerapannya perlu dievaluasi kadang kita masih fokus pada capaian materi ketimbang memberi ruang cukup bagi proses eksplorasi ide dan pemecahan masalah secara mandiri.</p></li><li><p>Murid sebaiknya diposisikan sebagai subjek utama pembelajaran bukan sekadar penerima informasi, tetapi sebagai pencari, penemu, dan pembuat makna. Guru bertindak sebagai fasilitator, pembimbing, dan pemberi tantangan belajar yang sesuai dengan tingkat kesiapan mereka.</p></li><li><p>a. Perbedaan kemampuan, minat, dan gaya belajar murid yang sangat beragam.</p><p>b. Keterbatasan waktu untuk menyiapkan dan melaksanakan pembelajaran yang mendalam.</p><p>c. Tekanan capaian kurikulum yang membuat pembelajaran cenderung terburu-buru.</p><p>d. Keterbatasan media atau sumber belajar.</p><p>e. Kesulitan menciptakan suasana belajar yang konsisten menyenangkan, terutama saat murid kurang termotivasi.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-12 09:04:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/lelaseptiani79/8gm4ii9ecsr92fj0/wish/3541258147</guid>
      </item>
      <item>
         <title>NAMA : RENI ANGGRAENI </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/lelaseptiani79/8gm4ii9ecsr92fj0/wish/3541258537</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p><br/></p><p>1.Biasanya saya memulai dengan mengidentifikasi tujuan pembelajaran sesuai capaian pembelajaran yang ditetapkan. Setelah itu, saya memilih materi yang relevan, menentukan metode dan strategi yang tepat, menyiapkan media pembelajaran, serta menyusun langkah-langkah kegiatan yang memfasilitasi keterlibatan aktif murid. Saya juga mempertimbangkan diferensiasi agar semua murid dapat mengikuti proses belajar sesuai kemampuan dan gaya belajar masing-masing.</p><p><br/></p><p>2. Saya berpegang pada prinsip pembelajaran berpusat pada murid, bermakna, dan kontekstual. Selain itu, saya menerapkan prinsip keterpaduan antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta memberikan ruang bagi murid untuk berkolaborasi, bereksplorasi, dan mengembangkan potensi diri.</p><p><br/></p><p>3. Strategi yang saya terapkan sudah mengarah ke sana, seperti penggunaan metode diskusi kelompok, problem based learning, eksperimen, dan proyek sederhana. Namun, saya masih terus berupaya memperkaya variasi pertanyaan tingkat tinggi (HOTS) dan memberikan tantangan yang mendorong analisis serta pemecahan masalah secara kreatif.</p><p><br/></p><p>4. Murid saya posisikan sebagai subjek aktif dalam proses belajar, bukan hanya penerima informasi. Mereka diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat, mencari informasi sendiri, mencoba, bahkan melakukan kesalahan dan memperbaikinya. Peran saya lebih sebagai fasilitator, pembimbing, dan penyemangat.</p><p><br/></p><p>5. Tantangan yang sering muncul antara lain keterbatasan waktu untuk mempersiapkan kegiatan kreatif, perbedaan kemampuan dan minat murid yang cukup beragam, serta keterbatasan sarana prasarana. Selain itu, menjaga keseimbangan antara pencapaian target kurikulum dan membuat pembelajaran tetap menyenangkan juga memerlukan usaha ekstra.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-12 09:05:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/lelaseptiani79/8gm4ii9ecsr92fj0/wish/3541258537</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/lelaseptiani79/8gm4ii9ecsr92fj0/wish/3541261279</link>
         <description><![CDATA[<p>Adi susanto</p><p>1.Secara umum, perencanaannya meliputi:</p><ol><li><p><strong>Menganalisis kebutuhan dan kondisi siswa</strong></p><ul><li><p>Melihat capaian pembelajaran sebelumnya (apakah sudah tuntas atau belum).</p></li><li><p>Mengidentifikasi karakteristik, minat, dan kesulitan belajar siswa.</p></li><li><p>Menyesuaikan materi dengan fase perkembangan siswa.</p></li></ul></li><li><p><strong>Menentukan tujuan pembelajaran</strong></p><ul><li><p>Menyusun tujuan yang jelas dan terukur sesuai Kurikulum Merdeka atau kurikulum yang berlaku.</p></li><li><p>Tujuan biasanya mengacu pada <em>Capaian Pembelajaran</em> (CP) dan <em>Tujuan Pembelajaran</em> (TP) yang di-breakdown menjadi indikator.</p></li></ul></li><li><p><strong>Menyusun rencana pembelajaran (Modul Ajar / RPP)</strong></p><ul><li><p>Menentukan materi, metode, strategi, dan model pembelajaran yang relevan.</p></li><li><p>Memilih media pembelajaran (bisa digital, cetak, atau benda konkret).</p></li><li><p>Menyusun alur kegiatan pembelajaran: pembukaan, inti, dan penutup.</p></li></ul></li><li><p><strong>Menyiapkan asesmen</strong></p><ul><li><p>Merancang asesmen awal (diagnostik) untuk melihat kesiapan siswa.</p></li><li><p>Membuat asesmen formatif (selama pembelajaran) untuk memantau proses.</p></li><li><p>Merencanakan asesmen sumatif (akhir pembelajaran) untuk mengukur hasil.</p></li></ul></li><li><p><strong>Menyiapkan diferensiasi pembelajaran</strong></p><ul><li><p>Menentukan strategi pengayaan untuk siswa yang sudah menguasai materi.</p></li><li><p>Menyusun remedial untuk siswa yang membutuhkan bimbingan lebih.</p></li></ul></li><li><p><strong>Refleksi dan perbaikan</strong></p><ul><li><p>Setelah pembelajaran berjalan, guru melakukan evaluasi terhadap metode, media, dan capaian siswa.</p></li><li><p>Hasil refleksi digunakan untuk merencanakan pertemuan selanjutnya agar lebih efektif</p></li></ul><p><br/></p></li><li><p>prinsip yang kita gunakan dalam pembelajaran </p><p><strong>Berpusat pada peserta didik</strong></p><ul><li><p>Pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan, minat, bakat, dan kebutuhan siswa.</p></li><li><p>Siswa dilibatkan aktif sebagai subjek belajar, bukan hanya penerima informasi.</p></li></ul><p>2. <strong>Bermakna (Meaningful Learning)</strong></p><ul><li><p>Materi dihubungkan dengan pengalaman nyata siswa atau konteks kehidupan sehari-hari.</p></li><li><p>Membantu siswa memahami “mengapa” mereka belajar sesuatu.</p></li></ul><p>3. <strong>Menyenangkan (Joyful Learning)</strong></p><ul><li><p>Proses belajar dibuat menarik melalui permainan, cerita, lagu, atau proyek kreatif.</p></li><li><p>Mengurangi tekanan, meningkatkan rasa ingin tahu, dan membangun motivasi intrinsik.</p></li></ul><p>4. <strong>Menyeluruh dan Seimbang</strong></p><ul><li><p>Mengembangkan aspek pengetahuan (<em>knowledge</em>), keterampilan (<em>skills</em>), dan sikap (<em>attitudes</em>) secara seimbang.</p></li><li><p>Memperhatikan <em>Profil Pelajar Pancasila</em> seperti gotong royong, mandiri, dan bernalar kritis.</p></li></ul><p>5. <strong>Diferensiasi Pembelajaran</strong></p><ul><li><p>Menyesuaikan cara mengajar, materi, dan asesmen sesuai perbedaan kemampuan siswa.</p></li><li><p>Memberikan pengayaan bagi yang sudah menguasai dan remedial bagi yang belum.</p></li></ul><p>6. <strong>Kolaboratif dan Partisipatif</strong></p><ul><li><p>Melibatkan siswa, guru, bahkan orang tua dalam proses pembelajaran.</p></li><li><p>Mendorong kerja sama melalui diskusi, proyek kelompok, atau permainan tim.</p></li></ul><p><br/></p><ol start="3"><li><p>setrategi yang digunakan</p><p><strong>Berpikir Kritis</strong></p><p>Strategi pembelajaran mendorong siswa berpikir kritis jika:</p><ul><li><p>Ada <strong>pertanyaan terbuka</strong> yang mengajak siswa menganalisis, membandingkan, atau memberi alasan.</p><blockquote><p>Contoh: <em>“Mengapa jumlah kelereng Andi lebih banyak dari Budi?”</em></p></blockquote></li><li><p>Guru memberi ruang untuk <strong>menguji ide</strong> dan menilai benar-salahnya dengan bukti atau alasan.</p></li><li><p>Ada kegiatan <strong>pemecahan masalah</strong> yang memerlukan langkah logis, bukan sekadar menghafal.</p></li></ul><p>2. <strong>Berpikir Kreatif</strong></p><p>Strategi mendorong kreativitas jika:</p><ul><li><p>Siswa diberi <strong>tugas terbuka</strong> dengan banyak kemungkinan jawaban.</p><blockquote><p>Contoh: <em>“Coba buat gambar dengan jumlah benda yang sama dengan angka kesukaanmu.”</em></p></blockquote></li><li><p>Ada <strong>proyek atau karya</strong> yang menggabungkan ide siswa dengan materi pelajaran.</p></li><li><p>Guru memberi ruang <strong>eksperimen dan mencoba cara baru</strong> dalam menyelesaikan tugas.</p></li></ul><p>3. <strong>Berpikir Mendalam (Deep Learning)</strong></p><p>Pembelajaran memfasilitasi <em>deep learning</em> jika:</p><ul><li><p>Konsep dihubungkan dengan <strong>situasi nyata</strong> sehingga siswa memahami makna, bukan sekadar hafal.</p></li><li><p>Ada <strong>diskusi dan refleksi</strong> setelah kegiatan untuk memperkuat pemahaman.</p></li><li><p>Materi diulang dalam berbagai bentuk kegiatan (<em>spiral learning</em>) sehingga pemahaman makin kuat.</p></li></ul><p>✅ </p></li><li><p>bagaimana memposisikan murid</p><p><strong>Murid sebagai Subjek, Bukan Objek</strong></p><ul><li><p>Murid tidak hanya mendengarkan dan mencatat, tapi <strong>aktif membangun pengetahuan</strong>.</p></li><li><p>Guru bukan satu-satunya sumber belajar, tapi fasilitator yang menyediakan pengalaman, tantangan, dan bimbingan.</p></li><li><p>Murid dilibatkan dalam <strong>pengambilan keputusan</strong> kecil, misalnya memilih media, cara kerja kelompok, atau urutan kegiatan.</p></li></ul><p>2. <strong>Posisi Murid sebagai Pemilik Proses Belajar</strong></p><ul><li><p>Mereka diberi <strong>tanggung jawab dan kemandirian</strong>: mengatur waktu, memilih strategi belajar, atau menilai hasil kerjanya sendiri (<em>self-assessment</em>).</p></li><li><p>Murid diajak <strong>merefleksikan proses belajar</strong>: apa yang sudah dipahami, apa yang belum, dan apa langkah berikutnya.</p></li><li><p>Guru memberi kepercayaan bahwa murid mampu menemukan jawaban, bukan selalu diberi kunci jawaban.</p></li></ul><p>3. <strong>Peran Guru dalam Memposisikan Murid</strong></p><ul><li><p><strong>Fasilitator:</strong> menyediakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan kaya sumber belajar.</p></li><li><p><strong>Pendorong rasa ingin tahu:</strong> memberi pertanyaan terbuka, masalah nyata, dan tantangan sesuai level kemampuan.</p></li><li><p><strong>Pendamping:</strong> memberikan umpan balik (feedback) yang membangun, bukan hanya penilaian angka.</p></li></ul><p>4. <strong>Dalam Konteks Kurikulum Merdeka</strong></p><ul><li><p>Murid ditempatkan sebagai <strong>pembelajar sepanjang hayat</strong> (<em>lifelong learner</em>).</p></li><li><p>Pembelajaran berbasis <em>student agency</em>: murid punya <strong>suara (voice)</strong>, <strong>pilihan (choice)</strong>, dan <strong>kepemilikan (ownership)</strong> terhadap belajarnya.</p></li><li><p>Kegiatan seperti proyek <em>“Ayo Berkarya”</em> di Modul Ajar Anda adalah contoh nyata: murid memilih angka favorit, menentukan bentuk karyanya, dan mempresentasikan hasilnya.</p></li></ul></li><li><p><strong>antangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?</strong></p><p><strong>Daftar Tantangan</strong></p><ol><li><p><strong>Perbedaan kemampuan siswa dalam satu kelas</strong></p><ul><li><p>Ada yang cepat menangkap, ada yang butuh waktu lebih lama.</p></li><li><p>Menyusun strategi diferensiasi kadang memakan waktu dan energi ekstra.</p></li></ul></li><li><p><strong>Keterbatasan waktu pembelajaran</strong></p><ul><li><p>Target capaian kadang padat, sementara kegiatan mindful dan joyful butuh waktu lebih panjang.</p></li></ul></li><li><p><strong>Keterbatasan sumber daya/media</strong></p><ul><li><p>Tidak semua sekolah punya akses ke alat peraga, teknologi, atau bahan kreatif.</p></li></ul></li><li><p><strong>Kebiasaan belajar lama yang berpusat pada guru</strong></p><ul><li><p>Murid dan bahkan sebagian guru sudah terbiasa dengan metode ceramah dan hafalan, sehingga perubahan ke pembelajaran aktif kadang menemui resistensi.</p></li></ul></li><li><p><strong>Variasi minat dan gaya belajar siswa</strong></p><ul><li><p>Tidak semua murid tertarik pada permainan atau proyek tertentu, sehingga harus mencari bentuk kegiatan yang bisa mengakomodasi semua.</p></li></ul></li><li><p><strong>Menjaga keseimbangan antara bermain dan belajar</strong></p><ul><li><p>Pembelajaran yang terlalu “fun” kadang membuat fokus pada capaian akademik berkurang.</p><p><br/></p></li></ul></li></ol><p><br/></p></li></ol></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-12 09:10:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/lelaseptiani79/8gm4ii9ecsr92fj0/wish/3541261279</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
