<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Diskusikan dengan baik bersama rekan satu kelompok terkait: Prinsip kurikulum nasional (https://drive.google.com/file/d/1wBFdZTZKv9LhhaaFER6eRLtt6Bkr71O5/view?usp=drive_link); Fase dan Capaian Pembelajaran (https://drive.google.com/file/d/1olos_WZp8_q64EPU9R7rJ_MlsEzm48Sv/view?usp=drive_link); Prinsip Pendekatan Pembelajaran Mendalam (https://drive.google.com/file/d/1wb4X0bAYxc8cJ1Lxjil_TOjtTzWX9HCz/view). Silahkan manfaatkan sumber belajar yang disematkan pada link tersebut. by Neni Wahyuningtyas</title>
      <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS</link>
      <description>Posting respons Anda ke topik diskusi dengan mengklik tombol plus di bawah ini. Postingan hanya diperuntukkan bagi perwakilan kelompok saja.</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-09-06 07:00:19 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-09-22 02:47:14 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f4ac.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Kelompok 8</title>
         <author>ceasarrizky</author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3576167374</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama Kelompok:</p><p>1. Agil Destrianti (230741606210)</p><p>2. Ceasarizky Syawalina (230741609870)</p><p>3. Erlita Sari (230741608353)</p><p>4. Milatun Ni'mah (230741601182)</p><p>5. Pandu Pratama A (230741600848)</p><p>6. Suci Wulandari Z.T (230741608422)</p><p><strong>PRINSIP KURIKULUM NASIONAL</strong></p><p>1. Istilah dan Kementerian</p><p>2024: Ditetapkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.</p><p>2025: Ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (sesuai perubahan struktur</p><p>kementerian).</p><p>2. Kerangka Dasar Kurikulum (Pasal 3)</p><p>2024: Memuat tujuan, prinsip, karakteristik pembelajaran, landasan filosofis, sosiologis,</p><p>psikopedagogis.</p><p>2025: Menghapus “karakteristik pembelajaran” dan menambahkan pendekatan pembelajaran</p><p>mendalam sebagai elemen baru</p><p>3. Struktur Kurikulum (Pasal 6)</p><p>2024: Memuat 10 kategori (PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, TKLB, SDLB, SMPLB, SMALB,</p><p>Pendidikan kesetaraan).</p><p>2025: Menyederhanakan menjadi 9 kategori, dengan penyebutan baru untuk sekolah luar biasa</p><p>digabung dengan madrasah luar biasa (misalnya SDLB dan MI LB; SMPLB dan MTs LB;</p><p>SMALB dan MA LB)</p><p>4. Kegiatan Kokurikuler (Pasal 16–19)</p><p>2024: Kokurikuler diwajibkan dalam bentuk projek penguatan profil pelajar Pancasila.</p><p>2025: Kokurikuler dilaksanakan dalam bentuk pembelajaran kolaboratif lintas disiplin, gerakan 7</p><p>kebiasaan anak Indonesia hebat, atau cara lain. Profil pelajar Pancasila tidak lagi eksplisit</p><p>disebut</p><p>5. Kompetensi (Pasal 17)</p><p>2024: Menekankan 6 dimensi profil pelajar Pancasila: beriman/bertakwa, bergotong royong,</p><p>bernalar kritis, berkebinekaan global, mandiri, kreatif.</p><p>2025: Diganti dengan 8 dimensi: keimanan &amp; ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis,</p><p>kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, komunikasi</p><p>6. Muatan Pembelajaran (Pasal 18)</p><p>2024: Tema projek profil pelajar Pancasila ditetapkan oleh pejabat Kementerian.</p><p>2025: Tema dikembangkan langsung oleh satuan pendidikan, lebih fleksibel</p><p>7. Ekstrakurikuler (Pasal 22)</p><p>2024: Bersifat pilihan, sesuai karakteristik satuan pendidikan.2025: Wajib menyediakan minimal Ekstrakurikuler kepramukaan atau kepanduan lainnya</p><p>8. Masa Transisi Implementasi Kurikulum (Pasal 32)</p><p>2024: Ada pembagian rinci kapan Kurikulum Merdeka diterapkan bertahap (kelas I, IV, VII, X).</p><p>2025: Disederhanakan dengan pengelompokan baru (misalnya SD dan MI LB masuk ke</p><p>kategori transisi yang berbeda)</p><p>9. Mata Pelajaran Baru (Pasal 32A – tambahan 2025)</p><p>2024: Tidak ada.</p><p>2025: Menambahkan mata pelajaran pilihan Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SD–SMA,</p><p>dimulai bertahap tahun ajaran 2025/2026</p><p>10. Lampiran</p><p>2024: Lampiran berisi kerangka dasar, struktur kurikulum, dan panduan ekstrakurikuler berbasis</p><p>Profil Pelajar Pancasila.</p><p>2025: Lampiran diubah signifikan, memasukkan filosofi pembelajaran mendalam, pengaruh</p><p>tokoh pendidikan nasional (Ki Hajar Dewantara, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, dll.),</p><p>serta dimensi profil lulusan versi baru</p><p><strong>FASE DAN CAPAIAN PEMBELAJARAN</strong></p><p>1. Kelembagaan</p><p>• Pada tahun 2024: Ditetapkan oleh BSKAP Kemendikbudristek.</p><p>• Pada tahun 2025: Ditetapkan oleh BSKAP Kemendikdasmen mengikuti perubahan struktur</p><p>kementerian.</p><p>2. Filosofi</p><p>•Pada tahun 2024: CP berlandaskan Profil Pelajar Pancasilasebagai karakter utama.</p><p>•Pada tahun 2025: CP menggunakan 8 dimensi profil lulusan baru (keimanan &amp; ketakwaan,</p><p>kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, komunikasi). Profil</p><p>Pelajar Pancasila tidak lagi jadi rujukan utama.</p><p>3. Fase PAUD</p><p>* Pada tahun 2024: Elemen CP mencakup nilai agama &amp; moral, nilai Pancasila, fisik-motorik,</p><p>kognitif, bahasa, sosial-emosional</p><p>* Pada tahun 2025: Elemen CP diubah menjadi (1) nilai agama &amp; budi pekerti, (2) jati diri, (3)</p><p>dasar-dasar literasi, matematika, sains, teknologi, rekayasa, dan seni, perbedaan tahun 2025</p><p>juga menekankan well-being murid (fisik, mental, sosial-emosional sehat, aman, bahagia) serta</p><p>konsep bermain adalah belajar lebih eksplisit.</p><p>* Pada tahun 2024 &amp; 2025: Sama-sama menggunakan fase Fondasi (PAUD), A–F (SD hingga</p><p>SMA/SMK), serta penyesuaian untuk pendidikan khusus.</p><p>* Pada tahun 2025 lebih menekankan transisi PAUD → SD dengan kesinambungan 6</p><p>kemampuan fondasi (agama-budi pekerti, emosi, sosial-bahasa, pemaknaan belajar, motorik,kognitif). Penyusunan fase di pendidikan khusus (SDLB, SMPLB, SMALB) sedikit diperjelas</p><p>dalam CP 2025.</p><p>4. Rasional</p><p>Pada tahun 2024</p><p>• Dengan pendekatan</p><p>pembelajaran inkuiri yang berpusat pada peserta didik, mata</p><p>pelajaran IPS menjadi sarana untuk meningkatkan pengetahuan</p><p>dan keterampilan terkait kehidupan masyarakat dengan</p><p>lingkungannya.</p><p>• Oleh karena itu pembelajaran IPS diharapkan lebih</p><p>menggali keterampilan berpikir melalui pengembangan</p><p>kompetensi dalam elemen keterampilan proses yang berpusat</p><p>pada peserta didik.</p><p>Pada tahun 2025</p><p>• Upaya yang dilakukan</p><p>adalah menggunakan pendekatan pembelajaran yang</p><p>menekankan pengalaman belajar memahami, merefleksi, dan</p><p>mengaplikasi.</p><p>• Melalui pembelajaran</p><p>menggembirakan murid juga dapat mengalami proses</p><p>pembelajaran lebih menyenangkan dan interaktif, sehingga</p><p>meningkatkan motivasi serta keterlibatan aktif murid.</p><p>Sementara itu, pembelajaran bermakna memastikan bahwa</p><p>materi yang dipelajari murid tidak hanya memahami teori, tetapi</p><p>juga mampu menghubungkannya dengan praktik kehidupan</p><p>nyata serta berkontribusi positif bagi masyarakat.</p><p>5. Karakteristik</p><p>Pada tahun 2024</p><p>• Keterampilan proses dalam mata</p><p>pelajaran IPS meliputi kegiatan</p><p>mengamati, menanya, mengumpulkan</p><p>informasi, mengorganisasikan,</p><p>menarik kesimpulan,</p><p>mengomunikasikan, merefleksikan,</p><p>dan merencanakan projek lanjutan.</p><p>Pada tahun 2025</p><p>• Keterampilan proses</p><p>dalam mata pelajaran IPS meliputi</p><p>kegiatan mengamati, menanya,mengumpulkan informasi,</p><p>mengorganisasikan, menarik</p><p>kesimpulan, mengomunikasikan,</p><p>mengevaluasi, merefleksi, dan, merencanakan projek lanjutan untuk memahami lebih dalam</p><p>peristiwa dan fenomena yang terjadi pada kehidupan manusia.</p><p><strong>PRINSIP PENDEKATAN PEMBELAJARAN MENDALAM</strong></p><p>Prinsip Pendekatan Pembelajaran Mendalam</p><p>1. Berkesadaran: Berkesadaran belajar adalah ketika peserta didik sadar untuk menjadi peserta</p><p>didik aktif dan mampu mengatur diri. Mereka memahami tujuan belajar, termotivasi dari dalam</p><p>diri, serta menggunakan strategi untuk mencapainya.</p><p>2. Bermakna: Pembelajaran bermakna terjadi ketika peserta didik bisa menggunakan</p><p>pengetahuannya dalam kehidupan nyata. Belajar tidak hanya memahami materi, tetapi juga</p><p>mampu menerapkannya sehingga lebih mudah diingat dalam jangka panjang.</p><p>3. Menggembirakan: Pembelajaran yang menggembirakan adalah proses belajar yang positif,</p><p>menyenangkan, sekaligus menantang sehingga membuat peserta didik termotivasi. Rasa</p><p>senang membuat mereka lebih mudah memahami, mengingat, dan menggunakan</p><p>pengetahuan.</p><p>Perbedaan deep learning dan saintific</p><p>1. Tujuan Pembelajaran</p><p>- Deep Learning: berfokus pada pemahan yang mendalam dan kemampuan berfikir kritis</p><p>- saintific: berfokus pada penerapan metode ilmiah untuk menyelesaikan masalah atau</p><p>eksperimen.</p><p>2. Metode pembelajaran :</p><p>- Deep Learning: cenderung ke arah diskusi,analisis mendalam,studi kasus.</p><p>- Scientific: Cenderung lebih fokus pada eksperimen, observasi, dan analisis data.</p><p>3. Fokus pada Pengalaman Siswa:</p><p>- Deep Learning: Menekankan pengalaman pribadi dan refleksi siswa terhadap materi yang</p><p>dipelajari.</p><p>- Saintific:Fokus pada pengumpulan data objektif melalui eksperimen atau observasi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-09 14:03:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3576167374</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok F Kelas A</title>
         <author>hermes130905</author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3576246039</link>
         <description><![CDATA[<p>Kelompok F </p><p>1. Hermes Mulyadi (230741604808)</p><p>2. Ervina Eka Ayu Safira (230741601518)</p><p>3. Niken Ayu Alfianti (230741609740)</p><p>4. Shanti Nurul Aini (230741601499)</p><p>5. Zahwa Alfira Nur Fadlila Ramadani (230741601173)</p><p><br/></p><p><strong><em>A. Perbedaan Kurikulum Nasional dan Kurikulum Merdeka</em> </strong></p><p>1.  Kerangka Dasar</p><p>Kurikulum Nasional: berisi tujuan, prinsip, landasan (filosofis, sosiologis, psikopedagogis), dan pendekatan pembelajaran mendalam sebagai fondasi.</p><p>Kurikulum Merdeka: mengembangkan kerangka dasar yang sama, tetapi lebih menekankan pada fleksibilitas, pembelajaran mendalam, dan Profil Pelajar Pancasila sebagai arah utamanya.</p><p>2.  Prinsip</p><p>Kurikulum Nasional: lebih normatif, misalnya karakter, fleksibilitas terbatas, fokus muatan esensial. </p><p>Kurikulum Merdeka: menegaskan tiga prinsip (pengembangan karakter, fleksibilitas, berfokus pada muatan esensial) tapi dengan penekanan pembelajaran mendalam (olah pikir, olah hati, olah rasa, olah raga).</p><p>3.  Struktur Kurikulum</p><p>Kurikulum Nasional: Intrakurikuler (mata pelajaran inti), kokurikuler, ekstrakurikuler; sifatnya seragam di seluruh Indonesia.</p><p>Kurikulum Merdeka: struktur sama, tetapi: </p><p>- Ada projek kokurikuler berbasis kolaboratif lintas disiplin dan 7 kebiasaan anak Indonesia hebat.</p><p>- Lebih banyak pilihan, misalnya Koding &amp; Kecerdasan Artifisial mulai tahun 2025/2026.</p><p>- Alokasi waktu lebih fleksibel, bisa disesuaikan satuan pendidikan.</p><p>4.  Kompetensi</p><p>Kurikulum Nasional: fokus pada capaian standar (agama, Pancasila, literasi, numerasi, IPA, IPS).</p><p>Kurikulum Merdeka: merumuskan 8 kompetensi profil lulusan: keimanan &amp; ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, komunikasi.</p><p>5.  Pendekatan Pembelajaran</p><p>Kurikulum Nasional: cenderung berbasis isi (content-based) dan standar nasional.</p><p>Kurikulum Merdeka: deep learning, berbasis pengalaman nyata, kontekstual, reflektif, dan menggembirakan.</p><p>6.  Mata Pelajaran</p><p>Kurikulum Nasional: mapel baku (agama, PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Seni, PJOK, dll).</p><p>Kurikulum Merdeka: selain mapel wajib, memberi pilihan Muatan Lokal dan mapel baru Kurikulum nasional 2025 bukanlah kurikulum baru secara nama ,melainkan sebuah kesempurnaan</p><p><br/></p><p><strong> <em>B. Fase dan Capaian Pembelajaran Kurikulum Nasional</em></strong></p><p>• Dalam fase fondasi (PAUD), belum ada mata pelajaran IPS. Elemen CP dalam fase ini yaitu nilai agama dan budi pekerti, jati diri, dasar-dasar literasi, matematika, sains, teknologi, rekayasa, dan seni. </p><p>• Dalam Fase A (Kelas I dan II SD/MI), CP disusun selaras dengan fase pondasi untuk memastikan transisi pembelajaran yang berkesinambungan dari PAUD je SD. Elemen pada CP ini yaitu mengenal nilai agama dan budi pekerti, keterampilan sosial dan bahasa, kematangan emosi, pemaknaan terhadap belajar yang positif, ketrampilan motorik dan perawatan diri dan kematangan kognitif. </p><p>• Dalam Fase B (Kelas III dan IV SD/MI), terdapat mata pelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial), dengan CP menekankan kemampuan peserta didik memahami hubungan konsep sains dan sosial dalam kehidupan sehari-hari, seperti fungsi pancaindra, siklus hidup makhluk hidup, pelestarian alam, perubahan wujud zat dan energi,  serta interaksi sosial, letak, ragam bentang alam dan sejarah. </p><p>• Dalam Fase C (Kelas V dan VI), terdapat mata pelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial), dengan CP, menekankan pemahaman tentang sistem organ tubuh manusia, komponen biotik dan abiotik, gelombang bunyi dan cahaya dan penghematan energi, serta tata surya, rotasi dan revolusi bumi, kondisi geografis Indonesia, sejarah pahlawan, keragaman budaya dan kegiatan ekonomi. </p><p>• Dalam Dalam Fase D (Kelas VII–IX SMP/MTs/Paket B) IPS diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri. Peserta didik diharapkan mampu menjelaskan keberagaman kondisi geografis Indonesia dan konektivitas ruang; menganalisis aktivitas manusia serta dampak perubahan iklim dan potensi bencana; merefleksikan adaptasi dan mitigasi bencana dalam kerangka SDGs; serta mengidentifikasi dan menilai kegiatan ekonomi, harga, pasar, lembaga keuangan, perdagangan internasional, dan peran masyarakat serta negara dalam pertumbuhan ekonomi digital dan potensi Indonesia menjadi negara maju.</p><p>• Dalam Fase E (Kelas X SMA/MA/Paket C), IPS dapat diajarkan secara terpadu atau mulai dipisah ke Geografi, Ekonomi, Sejarah, Sosiologi, dan Antropologi. Peserta didik diharapkan mampu menjelaskan konsep ilmu sosial untuk menganalisis fenomena nyata, menggunakan berbagai perspektif ilmu sosial untuk mengkaji masalah sosial, serta mengomunikasikan gagasan melalui diskusi, proyek, atau aksi sosial.</p><p>• Dalam Fase F (Kelas XI–XII SMA/MA/Paket C), IPS dipelajari lebih mendalam dalam disiplin ilmu masing-masing. Peserta didik diharapkan mampu menganalisis dan mengevaluasi isu-isu global dalam geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, dan sejarah; menjelaskan dinamika perubahan sosial-budaya; serta merancang solusi atau aksi nyata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.</p><p><br/></p><p> <strong><em>C. Prinsip Pendekatan Pembelajaran Mendalam</em></strong></p><p>Pembelajaran mendalam dalam kurikulum terbaru 2025 merupakan inti dari arah pendidikan yang menekankan kualitas pemahaman dibanding sekadar hafalan. Pendekatan ini menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif yang belajar menghubungkan konsep dengan pengalaman nyata, sehingga pengetahuan menjadi bermakna dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Tujuan utamanya tidak hanya mencetak siswa yang cerdas secara akademis, tetapi juga membangun karakter Pancasila yang utuh. Hal ini terlihat dari penekanan pada iman, takwa, moralitas, kreativitas, kolaborasi, serta kemampuan berpikir kritis dan adaptif. Dengan begitu, pendidikan diarahkan untuk membekali generasi muda agar siap menghadapi tantangan globalisasi, kemajuan teknologi, serta kompleksitas sosial-budaya.</p><p><br/></p><p>Prinsip yang mendasarinya adalah pengembangan karakter secara menyeluruh (spiritual, emosional, sosial, moral) yang diintegrasikan ke dalam intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler. Kurikulum juga dirancang fleksibel agar dapat menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, kondisi sekolah, dan konteks lokal. Selain itu, materi yang dipilih difokuskan pada hal-hal esensial yang benar-benar mendukung penguasaan kompetensi utama Dalam implementasinya, pembelajaran mendalam menekankan pengalaman belajar yang berpusat pada murid, berbasis kolaborasi lintas disiplin, serta menggunakan tema kontekstual sesuai lingkungan sosial-budaya mereka. Tujuan akhirnya adalah mendorong siswa agar mampu berpikir kritis, kreatif, reflektif, sekaligus memiliki karakter yang kuat. pendekatan ini menegaskan bahwa pendidikan tidak lagi sebatas transfer pengetahuan, melainkan transformasi diri peserta didik menjadi insan pembelajar sepanjang hayat yang berkarakter, relevan dengan zamannya, dan siap menghadapi perubahan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-09 14:44:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3576246039</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 5 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3576258002</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Kelompok 5 Kelas A</strong></p><p>Nama Kelompok :</p><p>1.Aprilia Dwi Andini ( (230741604457)</p><p>2.Muhammad Al Fauzan Candraputra ( 230741610121)</p><p>3.Muhammad Yudha Cholidur Azhar ( 230741608956 )</p><p>4.Syarif Awwaludin Hamid (230741609491)</p><p>5.Yunier Diska Amelia (230741605911)</p><p><br/></p><p><strong>#Prinsip Kurikulum Nasional</strong></p><p><br/></p><p><strong>A.Struktur Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini/PAUD</strong></p><p>&gt;Intrakurikuler</p><p>Mencapai Pembelajaran Fase Pondasi Dari elemen Nilai Agama,Budi Pekerti, Jati Diri, dan Dasar Literasi</p><p>&gt;Kokurikuler</p><p>Memperkuat Upaya Pencapain Profil Lulusan Pada Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA)</p><p><br/></p><p><strong>B.Struktur Kurikulum Pendidikan Sekolah Dasar</strong></p><p>&gt; Pembelajaran Penghayatan dan Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa</p><p>&gt; Layanan Bimbingan Dan Konseling</p><p>&gt; Muatan Pembelajaran tentang Potensi Seni Budaya, Prakarya, Pendidikan Jasmani, Bahasa dan Teknologi</p><p>&gt; Program Kebutuhan Khusus Sesuai dengan Kondisi Peserta didik</p><p>&gt; Peserta didik Yang memiliki Kecerdasan Istimewa dapat diberikan Percepatan Pemenuhan beban belajar</p><p>&gt; Mata Pelajaran Koding Dan Kecerdasan  Artifisial</p><p><br/></p><p><strong>C.Struktur Kurikulum pendidikan Sekolan Menengah</strong></p><p>&gt; Mata Pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, Informatika,Dan Koding Dilaksanakan Sesuai Program Keahlian</p><p>&gt; Mata Pelajaran Projek IPA DAN IPS Berisi Muatan Literasi IPA DAN IPS</p><p>&gt; Mata Pelajaran Kreativitas, Inovasi, dan Kewirausahaan dilaksanakan Melalui Pembelajaran Berbasis Projek</p><p>&gt; Mata Pelajaran PKL Wahana Pembelajaran Di Dunia kerja</p><p>&gt; Mata Pelajaran Pilihan Berdasarkan Yang diminati Peserta Didik Untuk Berwirausaha, Bekerja Pada bidangnya, maupun Melanjutkan Pendidikan </p><p><br/></p><p><strong>Fase A (Kelas 1 dan 2 SD/MI)</strong></p><p>Capaian Pembelajaran pada fase A disusun selaras dengan fase fondasi untuk</p><p>memastikan transisi pembelajaran yang berkesinambungan dari PAUD ke SD. Dengan memperhatikan 6 kemampuan fondasi: </p><p>a. mengenal nilai agama dan budi pekerti</p><p>b. keterampilan sosial dan bahasa</p><p>c. kematangan emosi</p><p>d. pemaknaan terhadap belajar yang positif</p><p>e. keterampilan motorik dan perawatan diri</p><p>f. kematangan kognitif.</p><p><br/></p><p><strong>Fase B (Kelas 3 dan 4 SD/MI)</strong></p><p>Pada fase B dalam pemahaman IPAS yaitu, menjelaskan bentuk &amp; fungsi pancaindra, mengenali siklus hidup makhluk hidup &amp; upaya pelestariannya, menghasilkan solusi masalah terkait pelestarian sumber daya alam, mitigasi perubahan iklim, serta proses perubahan wujud benda, menjelaskan peran, tugas, tanggung jawab dalam interaksi sosial di rumah &amp; sekolah, mengenali letak wilayah, mengklasifikasikan ragam bentang alam, menganalisis sejarah masyarakat lokal, menjelaskan nilai mata uang. </p><p><br/></p><p><strong>Fase C (Kelas 5 dan 6 SD/MI)</strong></p><p>Pada fase C ini, pemahaman mengenai merefleksikan sistem organ tubuh manusia yang dikaitkan dengan cara menjaga kesehatan tubuh, menganalisis hubungan antara komponen biotik dan abiotik serta pengaruhnya terhadap ekosistem, dan menjelaskan fenomena gelombang bunyi serta cahaya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, murid juga menghasilkan upaya penghematan energi dan memanfaatkan sumber energi alternatif dari lingkungan sekitar sebagai bentuk mitigasi perubahan iklim. Murid mampu menjelaskan sistem tata surya dan kaitannya dengan rotasi serta revolusi bumi, memahami letak dan kondisi geografis Indonesia dengan peta konvensional maupun digital, serta meninjau sejarah perjuangan para pahlawan di sekitar tempat tinggal. Lebih lanjut, murid menemukan keragaman budaya nasional dalam konteks kebhinekaan berdasarkan nilai kearifan lokal, serta menerapkan berbagai kegiatan ekonomi masyarakat di lingkungan sekitar.</p><p><br/></p><p><strong>Fase D (Kelas VII-IX SMP/MTs/Paket B)</strong></p><p>pembelajaran IPS dilakukan secara sendiri (tidak bergabung dengan ilmu pengetahuan alam) dan terpadu dari berbagai disiplin ilmu seperti geografi, ekonomi, sosiologi, sejarah, dan antropologi dalam memahami kehidupan manusia dalam konteks sosial, budaya, dan ekonomi.  Dalam cp terbaru tahun 2025, siswa tidak hanya mengenali konsep-konsep sosial, tetapi juga mengembangkan kemampuan keterampilan berpikir kritis, reflektif, kreatif dan analitis serta menyelesaikan berbagai permasalahan sosial dalam kehidupan nyata, sehingga murid dapat menafsirkan realitas dan mengambil keputusan yang tepat.</p><p><br/></p><p><strong>Fase E (Kelas X SMA/MA/Paket C)</strong></p><p>Dalam fase E pendekatan dapat bersifat disiplin ilmu tersendiri melalui mata pelajaran Geografi, Ekonomi, Sosiologi, Sejarah dan Antropologi atau dapat dilaksanakan terpadu</p><p>dengan menggunakan integrasi antardisiplin seperti pada Fase D. Pada Fase E, penerapan pembelajaran mendalam memungkinkan eksplorasi isu sosial dari berbagai perspektif ilmu sosial guna menemukan solusi yang tepat. Kegiatan berbasis aksi sosial juga menjadi bagian dari pembelajaran untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.</p><p><br/></p><p><strong>Fase F (Kelas XI-XII SMA/MA/Paket C)</strong></p><p>IPS tidak diajarkan secara utuh, melainkan dipisah menjadi mata pelajaran khusus dan dipelajari secara mendalam sesuai bidangnya masing-masing.</p><p><br/></p><p><strong>Prinsip Pendekatan Pembelajaran Mendalam</strong></p><p><br/></p><p>Pembelajaran Mendalam telah mempengaruhi kebijakan pendidikan kontemporer di berbagai negara (Fullan &amp; Langworthy, 2014) dan berperan penting dalam pengembangan kompetensi masa depan dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks (Fullan et al., 2018; Pellegrino &amp; Hilton, 2012). Selain itu, PM juga berkaitan erat dengan kualitas pembelajaran. Pendekatan PM mampu menghasilkan kualitas capaian pembelajaran yang tinggi, sedangkan metode pembelajaran yang kurang mendalam cenderung menghasilkan capaian pembelajaran yang rendah (Smith &amp; Colby, 2007). Dalam buku The Process of Learning, Biggs dan Moore (1993) menjelaskan faktor peserta didik belajar dengan Model 3P (Presage-Process-Product). Presage (Faktor Awal) mencakup elemen sebelum proses pembelajaran dimulai yang menentukan bagaimana pembelajaran akan berlangsung, yaitu identifikasi karakteristik peserta didik dan konteks pembelajaran. Process (Faktor Proses) mencakup aktivitas dan pendekatan pembelajaran. Pembelajaran Mendalam ditandai dengan dimilikinya motivasi intrinsik oleh peserta didik dalam memahami dan melibatkan diri secara kritis, sedangkan pembelajaran dangkal (surface learning) ditandai peserta didik yang belajar hanya karena didorong oleh motivasi eksternal, sehingga belajar dipandang sebagai keharusan menyelesaikan tugas atau hanya ingin memenuhi persyaratan minimum sehingga peserta didik lebih fokus pada menghafal tanpa memahami konsep secara mendalam. Product (Faktor Hasil) merupakan pengukuran hasil belajar. Hasil belajar mengacu 13 Landasan Pemikiran pada tingkat pemahaman siswa, keterampilan yang diperoleh, dan kemampuan mereka dalam menerapkan pengetahuan di berbagai konteks. Akhirnya konsep yang disampaikan oleh Biggs dan Moore (1993) ini menekankan pentingnya pendekatan pembelajaran mendalam, dengan menciptakan lingkungan akademik yang mendorong peserta didik terlibat dalam memaknai informasi, menerapkan pemahaman pada situasi nyata, serta merefleksi strategi belajarnya secara mandiri.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-09 14:51:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3576258002</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok C (Off A)</title>
         <author>anggittriatmojo2307416</author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3576341056</link>
         <description><![CDATA[<p><br></p><p>Anggit Triatmojo (230741609040)</p><p>Clarintha Aulia Nismara (230741608620)</p><p>Deva Aulia Yasmin (230741606694)</p><p>Havid Putra Mayjody (230741609215)</p><p>M. Isnaini Afhami Zaka (230741608404)</p><p><br></p><p><strong>A) Perbedaan kurikulum Nasional dengan Kurikulum Merdeka </strong></p><p>Pada Implementasi kurikulum merdeka belajar didesain dengan bertujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa, sehingga memiliki berbagai keahlian agar lebih siap menghadapi tantangan pada abad-21 dan relevan dengan kebutuhan era saat ini. Kurikulum merdeka diciptakan untuk lebih berpusat pada kemandirian peserta didik dan fokus pada esensi pembelajaran. Sedangkan Pembelajaran mendalam menekankan bahwa pembelajaran bukan sekadar transfer ilmu, melainkan penciptaan suasana yang memuliakan peserta didik. Hal ini sejalan dengan pemikiran para filsuf pendidikan, karena pembelajaran mendalam menempatkan peserta didik sebagai pusat dari proses pembelajaran, dengan menciptakan suasana belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Pembelajaran Mendalam tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter, kreativitas, dan empati, sehingga peserta didik tumbuh menjadi individu yang utuh dan selaras dengan tuntutan global.</p><p><br></p><p><strong>B) Fase fase di dalam cp terbaru 2025: </strong></p><p>1. Fase fondasi (PAUD) Kemampuan fondasional merupakan kemampuan yang dapat membantu anak usia dini memiliki kesiapan bersekolah kejenjang pendidikan dasar. Cp terdiri dari 3 elemen; nilai agama dan budi pekerti, jati diri, Dasar-dasar Literasi, Matematika, Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Seni</p><p>2. Fase A (Kelas 1-2 SD)Capaian Pembelajaran pada fase A disusun selaras dengan fase fondasi untuk memastikan transisi pembelajaran yang berkesinambungan dari PAUD ke SD. dengan memperhatikan 6 (enam) kemampuan fondasi sebagai berikut: a. mengenal nilai agama dan budi pekerti; b. keterampilan sosial dan bahasa; c. kematangan emosi; d. pemaknaan terhadap belajar yang positif; e. keterampilan motorik dan perawatan diri; dan f. kematangan kognitif.</p><p>3. Fase B (Kelas 3-4 SD) di dalam fase ini terdapat pelajaran IPAS (Ilmu Pengetahun Alam dan Sosial). Murid mulai memahami tentang sumber daya yang ada dilingkungan sekitar.</p><p>4. Fase C (Kelas 5-6 SD) fase ini melanjutkan dari fase B dengan penjelasan yang lebih mendalam dan keterkaitan antara semua materi yang telah di pelajari.</p><p>5. Fase D (kelas 7-9 SMP) dalam fase ini IPAS berubah menjadi IPS. Dalam proses pembelajaran, konsep-konsep ilmu sosial diaplikasikan melalui kajian terhadap fenomena nyata di masyarakat. Pendekatan berbasis proyek dan diskusi tentang problema menjadi sarana untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis</p><p>6. Fase E (Kelas 10 SMA) penerapan pembelajaran mendalam memungkinkan eksplorasi isu sosial dari berbagai perspektif ilmu sosial guna menemukan solusi yang tepat. Kegiatan berbasis aksi sosial juga menjadi bagian dari pembelajaran untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.</p><p>7. Fase F (Kelas 11-12 SMA) di fase ini ada pembagian dalam mata pelajaran IPS menjadi sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi.peserta didik mampu menjelaskan konsep, ketrampilan proses pada setiap mata pelajaran.</p><p><br></p><p><strong>C) Prinsip Pendekatan Pembelajaran Mendalam </strong></p><p>Pembelajaran Mendalam (PM) lahir dari kebutuhan Indonesia untuk menjawab tantangan pendidikan di era global yang penuh ketidakpastian, kompleks, dan cepat berubah. Meskipun akses pendidikan dasar dan menengah sudah baik, kualitasnya masih rendah, terlihat dari skor literasi dan numerasi Indonesia yang tertinggal di hasil PISA 2023. Selain itu, guru terbebani oleh tugas administratif, sehingga kurang ruang untuk berinovasi dalam pembelajaran. Kondisi ini membuat transformasi pendidikan menjadi hal yang mendesak, terlebih menghadapi momentum bonus demografi 2035 dan visi Indonesia Emas 2045.</p><p>PM bukanlah kurikulum baru, melainkan sebuah pendekatan pembelajaran yang menekankan prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Pendekatan ini dirancang untuk menumbuhkan peserta didik yang utuh melalui keseimbangan olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga. Landasan filosofisnya berakar pada pemikiran tokoh pendidikan Indonesia seperti Ki Hajar Dewantara, KH. Ahmad Dahlan, hingga Romo Mangunwijaya, serta teori konstruktivisme dan experiential learning yang menekankan pembelajaran aktif, reflektif, dan kontekstual.</p><p>Kerangka kerja PM mencakup empat komponen utama, yaitu dimensi profil lulusan, prinsip pembelajaran, pengalaman belajar, dan kerangka pembelajaran. Profil lulusan yang diharapkan terdiri dari delapan dimensi, antara lain iman dan takwa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Sementara itu, komponen implementasi meliputi praktik pedagogis yang inovatif, lingkungan belajar yang kondusif, kemitraan antara sekolah dengan masyarakat dan dunia kerja, serta pemanfaatan teknologi digital.</p><p>Strategi implementasi PM menuntut integrasi dengan kurikulum, pembelajaran, dan asesmen yang relevan. Guru menjadi aktor utama, sehingga perlu pengurangan beban administratif, peningkatan kapasitas melalui pelatihan terintegrasi, serta dukungan komunitas belajar. Kepala sekolah berperan dalam kepemimpinan yang mendorong budaya mutu, sedangkan pengawas memperkuat supervisi dan pendampingan. Selain itu, PM menekankan perlunya Buku Guru dan Buku Siswa berbasis pendekatan ini serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperkaya pembelajaran.</p><p>Secara keseluruhan, Pembelajaran Mendalam dimaksudkan sebagai pendekatan yang memuliakan siswa dan guru. Dengan menciptakan suasana belajar yang sadar, relevan, dan menyenangkan, PM diharapkan mampu melahirkan generasi yang kritis, kreatif, berkarakter, serta siap menghadapi tantangan global, sekaligus menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-09 15:37:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3576341056</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>muhammadwafi2307416</author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3576447876</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>KELOMPOK E Kelas A</strong></p><p>Nama Kelompok: </p><ol><li><p>Muhammad Wafi Maulana (230741609680)</p></li><li><p>Nerissa Tanowijaya (<br>230741607668)</p></li><li><p>Sisca Puspitasari ( <br>230741600820)</p></li><li><p>Dilla Patricia Wulandari (230741607967)</p></li><li><p>Filza Anindhita Safitri (230741601254)</p></li><li><p>KHUMAIROTUS SA'ADAH (230741603992)</p></li></ol><p><br/></p><p><strong>* Perubahan atas Permendikbudristek  Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah.</strong></p><p><br/></p><p>Prinsip Kurikulum Nasional (Permendikdasmen no 13 tahun 2025) </p><p>Pada Bagian Menimbang yaitu </p><ol><li><p>Pendidikan harus Pendidikan harus melahirkan manusia beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berkarakter Pancasila.</p></li><li><p>Kurikulum harus menyesuaikan kemajuan ilmu, teknologi, globalisasi, dan keragaman budaya.</p></li></ol><p><br/></p><ul><li><p><strong>Pasal 17 (Kompetensi)</strong></p><ul><li><p>Delapan kompetensi utama: iman-takwa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, komunikasi.</p></li></ul></li><li><p>Pasal 32A (Implementasi &amp; Mata Pelajaran Baru) Pasal 32A: Mata pelajaran Koding &amp; Kecerdasan Artifisial mulai diterapkan bertahap tahun ajaran 2025/2026 di jenjang dasar &amp; menengah.</p></li></ul><p><strong>Lampiran II </strong></p><p><strong>A. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) </strong></p><ul><li><p>Intrakurikuler: berpusat pada Fase Fondasi: nilai agama &amp; budi pekerti jati diri. literasi, matematika, sains, teknologi, rekayasa, seni (dasar) Bermain bermakna jadi metode utama (eksplorasi, menyenangkan). Kokurikuler: memperkuat profil lulusan mengacu ke STPPA.</p></li><li><p>Alokasi waktu:</p><ul><li><p>Usia 4–6 tahun min. 900 menit/minggu</p></li><li><p>Usia 3–4 tahun min. 360 menit/minggu</p></li></ul></li></ul><p><strong>B. Sekolah Dasar / Madrasah Ibtidaiyah</strong></p><ul><li><p>Mata pelajaran utama: Pendidikan Agama &amp; Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Matematika, PJOK, Seni Budaya (seni musik/rupa/teater/tari). Kelas III–VI ada IPA &amp; IPS terintegrasi, Bahasa Inggris (opsional), Muatan Lokal. Mulai kelas V–VI boleh ada Mata Pelajaran Pilihan: <strong>Koding &amp; Kecerdasan Artifisial (AI) (2 JP/minggu). </strong>Total JP rata-rata ~1.300–1.500 JP/tahun tergantung kelas.</p></li></ul><p><strong>C. Sekolah Menengah Pertama / Madrasah Tsanawiyah</strong></p><ul><li><p>Mata pelajaran wajib: Agama &amp; Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, PJOK, Informatika, Seni Budaya/Prakarya.Alokasi waktu:</p><ul><li><p>Kelas VII–VIII (36 minggu, 40 menit/JP) total ±1.404 JP wajib.</p></li><li><p>Kelas IX (32 minggu) ±1.248 JP wajib.</p></li></ul></li><li><p>Mata Pelajaran Pilihan: Koding &amp; AI (2 JP/minggu) mulai kelas VII. Muatan Lokal: maksimal 2 JP/minggu; bisa bahasa daerah, kesenian, teknologi, dll.</p></li></ul><p><strong>D. Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah</strong></p><p><strong>1. Kelas X (Fase E Awal)</strong></p><ul><li><p>Mata pelajaran wajib (contoh angka </p></li><li><p>Total JP wajib: ±1.584 JP/tahun.</p></li><li><p>Pilihan: Koding &amp; AI 72 JP + Muatan Lokal 72 JP.</p></li></ul><ol start="2"><li><p><strong>Kelas XI – XII (Fase F)</strong></p><ul><li><p>Mata pelajaran dibagi 2 kelompok:</p><ol><li><p>Kelompok Wajib: Agama, Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, PJOK, Seni/Prakarya, Informatika.</p></li><li><p>Kelompok Pilihan: sekolah harus menyediakan ≥7 mapel pilihan (IPA, IPS, bahasa, seni, teknologi, vokasi, dll.) sesuai minat siswa.</p></li></ol></li></ul></li></ol><p><strong>E. Struktur Kurikulum SMK / Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK)</strong></p><p><strong>1. Kelas X (Fase E – Awal)</strong></p><ul><li><p>Mata pelajaran wajib: sama dengan SMA, yaitu Pendidikan Agama &amp; Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, PJOK, Informatika, Seni/Prakarya. Ditambah Dasar Program Keahlian → pengenalan bidang kejuruan yang dipilih (misal: teknologi, bisnis, pariwisata, kesehatan, seni). Koding &amp; Kecerdasan Artifisial juga tersedia sebagai mapel pilihan.</p></li></ul><p><strong>2. Kelas XI–XII (Fase F)</strong></p><ul><li><p><strong>Kelompok Wajib</strong>: tetap ada Agama, Pancasila, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, PJOK, Informatika.</p></li></ul><p><br/></p><p>*<strong>Perbedaan Cp terbaru </strong></p><p><strong>Fase A (Kelas I–II SD/MI/Paket A)</strong></p><p><strong>CP 2025: </strong>Lebih menekankan pada&nbsp;proses inkuiri&nbsp;dan pengamatan kontekstual. Siswa tidak hanya mengenal fakta sosial, tetapi juga diajak mengajukan pertanyaan, melakukan investigasi sederhana, dan merefleksikan pengalaman belajar. Penekanan pada&nbsp;keterampilan proses&nbsp;lebih eksplisit.</p><p><strong>Fase B (Kelas III–IV SD/MI/Paket A)</strong></p><p>CP 2025 menambahkan pendekatan&nbsp;kontekstual dan berbasis masalah. Siswa diajak mengidentifikasi masalah pelestarian sumber daya alam, kearifan lokal, serta menghubungkan keragaman budaya dengan konteks kekinian. Pembelajaran lebih menekankan pada&nbsp;problem-solving&nbsp;dan tindakan nyata.</p><p><strong>Fase C (Kelas V–VI SD/MI/Paket A)</strong></p><p>CP 2025 menekankan pada&nbsp;refleksi kritis&nbsp;terhadap dampak perubahan alam dan sosial, serta peran siswa dalam mengambil keputusan berdasarkan kearifan lokal dan nilai ilmiah. Siswa juga diajak memahami sistem yang saling terhubung (sistemik) dalam konteks kebinekaan. </p><p><strong>Fase D ( Kelas VII-IX)</strong></p><p>IPA dan IPS tetap integratif, tapi lebih jelas dimensi keterampilan abad 21 (kolaborasi, kemandirian, komunikasi). Koding &amp; Kecerdasan Artifisial (AI) mulai dikenalkan sebagai mapel pilihan. Penekanan lebih kuat pada pembelajaran mendalam (PM) mindful, meaningful, joyful.</p><p><strong>Fase E (Kelas X)</strong></p><p>Tetap umum di kelas X, tetapi struktur IPA &amp; IPS bisa diatur fleksibel (integratif, blok, paralel). Koding &amp; AI bisa masuk sebagai pilihan. Penekanan pada proyek tematik dan karakter Profil Pancasila lebih rinci.</p><p><strong>Fase F (</strong>kelas XI–XII)</p><p>Penjurusan makin fleksibel &amp; diversifikasi: sekolah wajib menyediakan ≥7 mata pelajaran pilihan. Koding &amp; AI resmi jadi pilihan mapel. Ada penguatan pada dimensi kesehatan &amp; komunikasi sebagai bagian profil lulusan (tambahan dari 6 dimensi di CP 2022 → menjadi 8 dimensi di CP 2025). SMK lebih terstruktur dengan PKL, kewirausahaan, kolaborasi IDUKA.</p><p><br/></p><p><strong>*Pembelajaran Mendalam</strong></p><p>Bab I : Pendahuluan </p><ol><li><p>PM bukan kurikulum, tetapi pendekatan pembelajaran yang jadi fondasi untuk meningkatkan mutu pendidikan.</p></li><li><p>Definisi PM → pendekatan yang memuliakan proses belajar dengan suasana:</p><ul><li><p>Berkesadaran (mindful)</p></li><li><p>Bermakna (meaningful)</p></li><li><p>Menggembirakan (joyful)<br>melalui olah pikir, hati, rasa, dan raga secara holistik.</p></li></ul></li><li><p>Empat komponen kerangka kerja PM:</p><ul><li><p>Dimensi profil lulusan</p></li><li><p>Prinsip pembelajaran</p></li><li><p>Pengalaman belajar</p></li><li><p>Kerangka pembelajaran</p></li></ul></li></ol><p>Bab III</p><p>A. Dimensi Profil Lulusan</p><p>Ada <strong>8 dimensi profil lulusan</strong> dalam PM:</p><ol><li><p><strong>Keimanan &amp; Ketakwaan</strong>: spiritualitas dan akhlak mulia.</p></li><li><p><strong>Kewargaan</strong>: cinta tanah air, taat aturan, peduli lingkungan, tanggung jawab sosial.</p></li><li><p><strong>Penalaran Kritis</strong>: berpikir logis, analitis, evaluatif.</p></li><li><p><strong>Kreativitas</strong>: inovatif, fleksibel, orisinal dalam menciptakan solusi.</p></li><li><p><strong>Kolaborasi</strong>: bekerja sama efektif, berbagi peran &amp; tanggung jawab.</p></li><li><p><strong>Kemandirian</strong>: bertanggung jawab atas proses &amp; hasil belajar.</p></li><li><p><strong>Kesehatan</strong>: jasmani &amp; mental sehat, hidup seimbang (well-being).</p></li><li><p><strong>Komunikasi</strong>: mampu menyampaikan ide &amp; berinteraksi efektif.</p></li></ol><p>C. Pengalaman belajar </p><p>Pengalaman Belajar PM terkait dengan 2 taksonomi yaitu</p><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Taksonomi SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes) yang menilai kompleksitas hasil belajar dari tahap prastruktural hingga berpikir abstrak mendalam.</p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Taksonomi Bloom yang mencakup ranah kognitif mulai dari mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta.</p><p><br/></p><p>&nbsp;</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-09 16:42:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3576447876</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok D Kelas A</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3576549624</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Dwi Fitri Arum Jana (230741606109)</p><p>2. Nesya Gresanda (230741600854)</p><p>3. Rahma Rindhang Almira (230741604389)</p><p>4. Sandy Yudha Pratama (230741609380)</p><p>5. Sinta Citra Bela (230741609011)</p><p><br/></p><p><strong>1.Prinsip Kurikulum Nasional</strong></p><p>Perbedaan Kurikulum Merdeka dan Kurikulum Nasional</p><p>1) Kokurikuler</p><p>- Kurikulum Merdeka: Kokurikuler dilaksanakan paling sedikit dalam bentuk projek penguatan profil pelajar Pancasila.</p><p>- Kurikulum Nasional: Kokurikuler dilaksanakan dalam bentuk pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, gerakan 7 (tujuh) kebiasaan anak Indonesia hebat, dan/atau cara lainnya.</p><p>2) Kompetensi Lulusan</p><p>* Kurikulum Merdeka: 6 dimensi profil pelajar Pancasila.</p><p>* Kurikulum Nasional: 8 dimensi baru, yaitu:</p><p>1. Keimanan dan ketakwaan,</p><p>2. Kewargaan,</p><p>3. Penalaran kritis,</p><p>4. Kreativitas,</p><p>5. Kolaborasi,</p><p>6. Kemandirian,</p><p>7. Kesehatan,</p><p>8. Komunikasi.</p><p>Ada penambahan dimensi kesehatan dan komunikasi, serta istilah “bergotong royong” dan “berkebinekaan global” tidak lagi muncul.</p><p>3) Kerangka Dasar</p><p>* Kurikulum Merdeka: Memuat tujuan, prinsip, karakteristik pembelajaran, landasan filosofis, sosiologis, psikopedagogis.</p><p>* Kurikulum Nasional: Diganti menjadi tujuan, prinsip, landasan filosofis, sosiologis, psikopedagogis dan pendekatan pembelajaran mendalam.</p><p>4) Struktur Kurikulum </p><p>- Kurikulum Merdeka: Pada struktur kurikulumnya terdapat 10 poin</p><p>- Kurikulum Nasional: Pada struktur kurikulumnya terdapat 9 poin, ada 1 poin yang tidak lagi muncul yaitu "struktur kurikulum taman kanak-kanak luar biasa".</p><p>5) Kurikulum Nasional: Di antara Pasal 32 dan Pasal 33 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 32A sehingga berbunyi sebagai berikut:</p><p>Pasal 32A</p><p>Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, mata pelajaran pilihan Koding dan Kecerdasan Artifisial diselenggarakan Satuan Pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan jenjang pendidikan menengah mulai tahun ajaran 2025-2026 secara bertahap.</p><p>6) Kurikulum Nasional: </p><p>Pada pasal 22 terdapat penambahan bahwa Satuan Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya menyediakan Ekstrakurikuler kepramukaan atau kepanduan lainnya.</p><p><br/></p><p><strong>2.Fase dan Capaian Pembelajaran</strong></p><p>1.Fase Fondasi (PAUD)</p><p>Pembelajaran di fase ini dilakukan melalui bermain dan kegiatan menyenangkan tanpa berbasis mata pelajaran. Dalam fase pondasi terdapat 3 elemen capaian yaitu :</p><p>- Nilai agama dan budi pekerti</p><p>- Jati diri</p><p>- Dasar-dasar literasi,  matematika, sains, teknologi, rekayasa, dan seni. </p><p>2.Fase A (Kelas 1&amp;2) yaitu fase transisi dari PAUD ke SD. Pada fase ini terdapat 6 kemampuan fondasi antara lain :</p><p>a. Mengenal nilai agama dan budi pekerti;</p><p>b. Keterampilan sosial dan bahasa;</p><p>c. Kematangan emosi;</p><p>d. Pemaknaan terhadap belajar yang positif;</p><p>e. Keterampilan motorik dan perawatan diri; dan</p><p>f. Kematangan kognitif</p><p>3.Fase B (Kelas 3&amp;4) CP IPAS fokusnya di pengetahuan sains dan sosial dasar, seperti tentang tubuh manusia, SDA, energi, gaya, masyarkat, dan budaya lokal, serta kemampuan. Terdapat pengenalan ketrampilan berpikir kritis awal, dan pembentukan sikap peduli terhadap lingkungan dan sosial.</p><p>4.Fase C (Kelas 5&amp;6) CP IPAS merupakan pengembangan dari Fase B, dari sekedar mengenal menjadi menganalisis dan merefleksikan, dari pemahaman dasar menjadi penerapan dalam kehidupan nyata, refleksi kesehatan tubuh, dan penghematan energi.</p><p>5.Fase D (Kelas 7, 8, 9) CP IPS</p><p>dikembangkan lagi menjadi merefleksikan dan mengaitkan antar-aspek dalam kehidupan, serta solutif. Pembahasan materi SDGs dalam konteks lokal, regional, dan sampai global.</p><p>6. Fase E (Kelas 10) CP IPS </p><p>Mulai mengkaji konsep-konsep dasar ilmu sosial secara terpisah meliputi geografi, ekonomi, sosiologi, dan sejarah. Diterapkan/diimplementasikan secara nyata dalam memahami lingkungan, masyarakat, serta sejarah.</p><p>7.Fase F (Kelas 11&amp;12)</p><p>Dalam fase F, CP IPS sudah dipecah menjadi 4 CP meliputi geografi, sosiologi, ekonomi, dan sejarah. Sehingga tidak menjadi satu kesatuan IPS lagi</p><p><br/></p><p><strong>3.Prinsip Pendekatan pembelajaran Mendalam </strong></p><p>1.	Konsep Pembelajaran Mendalam </p><p>-	bukan merupakan kurikulum baru, tetapi sebuah pendekatan pembelajaran, yang berorientasi paada pendekatan sebelumnya yakni Cara Belajar Siswa Aktif ( CBSA ), Pembelajaran Aktif Kreativ Efektif dan Menyenangkan ( PAKEM ), Contextual Teaching and Learning ( CTL ), namun dirancag lebih komperhensif </p><p>-	Pengertian, merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan suasana pembelajaran yang berkesadara ( maindfull ), bermakna ( meaningfull ), dan menggembirakan (joyfull), dengan mengintegrasikan olah piker, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara terpadu </p><p>2.	Kearangka Pembelajaran Mendalam </p><p>-	Dimensi profillulusan 8 dimensi </p><p>a.	Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan YME, Kewarganegaraan, Penalaran kritis, Kreativitas, Kolaborasi, Kemandirian, Kesehatan, Komunikasi </p><p>3.	Prinsip Pembelajaran Mendalam </p><p>-	Berkesadaran ( mindfulll )</p><p>-	Bermakna (meaningfull )</p><p>-	menggembirakan ( joyfull )</p><p>4.	Pengalaman belajar &gt;&gt;&gt; memahami &gt;&gt;&gt;mengaplikasikan &gt;&gt;&gt; mereflesksi</p><p>5.	Strategi Implementasi </p><p>-	Integrasi terkait kurikulum, bukuvteks pembelajaran, proses pembelajaran, dan assesmen</p><p>-	Penguatan peran kepala sekolah, guru serta pengawas</p><p>-	Mengurangi beban admisistratif guru dengan menata ualang jam untuk mengajar</p><p>-	Pelatihan guru PPG, dan pengembangan komunitas belajar MGP KK</p><p>6.	Assesmen dalam Pendekatan Mendalan</p><p>-	Penerapan assesmen formatif dan sumatif denga tetap menekankan assesmen autentik dan holistic</p><p>-	Formatif assesmen : umpan balik saat pembelajaran berlangsung</p><p>-	Sumatif assesmen : pemetaan capaian dan mutu pendidikan, untuk menentukan kelulusan </p><p>B. Landasan Filosofis dan Pedagogis </p><p>1. Hakikat filosofi pendidikan, filosofi pendidikan mempunyai peran yang penting dalam menbangun sistem pendidikan yang beroroentasi pada pengembangan manusia secara utuh, yang menjadi lamdasan agar tujuan dan proses pendidikan tetap relevan dengan konteks sosial, budaya, dan tantangan zaman</p><p>              2.  Pemikiran tokoh nasional dan internasional yang mendasari Pembelajaran Mendalam </p><p>•	Jhon Dewey : pendidikan progresif, berbasis pengalaman nyata</p><p>•	Ki Hajar Dewantara : pendidikan berakar pada budaya, sistem among ( asah, asih, asuh )sussana belajar yang menyenangkan ( Taman Siswa )</p><p>•	KH Ahmad Dahlan : pendidikan sebgai alat perubahan sosial yang menekankan 7 prinsip : tujuan hidup, kerendahan hati, kegigihan belajar, penggunaan akal, keberanian menegakkan kebenaran, berbuat untuk kebaikan sesame, dan pengalaman agama</p><p>•	Ki Bagus Hadikusumo : pendidikan harus mengembangkan higer order thinking skills ( analisis, sistetis )</p><p>•	Romo Y.B Mangunwijaya : pendidikan sebagai jalan pembebasan, berpihak pada yang tertindas, berbasis dialog lintas budaya, </p><p>•	Syaikh Az-Zarnuji ( Ta’lm al-Muta’allim ): menekankan niat  ikhlas, adab belajar, strategi belajar: memahami &gt;&gt;&gt; mengulang&gt;&gt;&gt;diskusi</p><p>•	Az-Zarnuji : Dalam konteks PM, strategi ini mencerminkan pendekatan berbasis inkuiri dan kolaborasi, di mana peserta didik tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga secara aktif membangun pemahaman melalui eksplorasi, diskusi, dan refleksi mendalam.</p><p>       C. Landasan teoritis </p><p>             1. Perkembangan Konsep Deep Learning vs survive learning </p><p>-	 1970 : Marton &amp; Saljo </p><p>Deep = memahami makna, menghubungkan ide</p><p>Surface = hafalan dangkal tanpa pemahaman</p><p>1990 – 2000 : Dipengaruhi konstruktivisme (Piaget dan Vygotsky) : Munculnya project based learning, problem based learning, colaboratif learning</p><p>2010 – sekarang : Intregasi teknologi&gt;&gt;&gt;pembelajaran berbasis data, game, literasi digital, isu globab (SDGs), sosial emotional learning</p><p>2. Model dan Teori mendukung pembelajaran mendalam</p><p>Model 3P (Biggs dan Moore, 1993) : Presage ( Faktor Awal: Karakter siswa ), Proses ( Strategi Belajar: Deep vs Surface ), Produk ( Hasil belajar ) pemahaman, keterampilan yang aplikatif</p><p>•	Teori eksperiental learning ( Kolb, 1984: Belajar dari pengalaman&gt;&gt;&gt;refleksi&gt;&gt;&gt;konseptualisasi&gt;&gt;&gt;eksperimen</p><p>•	Kategori pengetahuan ( Heick, 2020 : Pengetahuan dasar, meta, humanistic )</p><p>•	Habbit of mind ( Costa dan Kalick, 2020 ) : Kebiasaan intelektual ( Berfikir kritis, reflektif, kreatif )</p><p>D. Landasan Sosiologis</p><p>1. Amanat Konstitusi: Mencerdaskan kehidupan bangsa (UUD 1945)</p><p>•	Pendidikan harus menciptakan kehidupan yang mendorong prilaku berbudi dan bermanfaat</p><p>•	Menjauhi  prilaku destruktif</p><p>•	Menjaga kesatuan bangsa majemuk </p><p>E. Landasan Yuridis</p><p>1. UUD 1945 pasal 31 Hak setiap warga negara mendapat pendidikan yang bermutu</p><p>2. UUD NO 20 2003 tentang Sisdikas: Pendidikan harus mengembangkan spiritul, kepribadian, kecerdsan, aklhak mulia, keterampilan dan pendidikan mendalam mendukung pencapaian kopetensi tersebut</p><p>3. PP NO. 57 2021 Tentang standar nasional pendidikan: Menekankan pembelajaran yang interaktif, nspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi</p><p>F. Landasan Empiris</p><p>1. Praktif internasional: Norwegia: Kurikulum dengan konten esensial, Pendekatan multidisiplin, transerable skill,  Finlandia, Jepang, Korea Selatan: Fokus pada peembelaajaran kontekstual, kolaboratif, inklusif</p><p>2. Praktik di Indonesia, Sudah ada upaya mirip pembelajaran mendalam&gt;&gt;&gt;CBSA, PAKEM, PAIKEM, CTL</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-09 17:52:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3576549624</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 4 (Offering B)</title>
         <author>naanaa1761</author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3577478783</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4343691708/4b0638a58d2d15edc5dfb22754d07c08/Kelompok_4_Offering_B__1_.docx" />
         <pubDate>2025-09-10 05:04:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3577478783</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 1 Offering A</title>
         <author>rehanadhityasyahputra</author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3578086904</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4338829254/c5ccdee93e2883c1dfbb526d685483ad/KELOMPOK_1_OFFERING_A_1.pdf" />
         <pubDate>2025-09-10 12:26:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3578086904</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 2 (Offering A)</title>
         <author>farreliaazarine2307416</author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3578494468</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama Kelompok:</p><p>1. Farrelia Azarine Maulidiyah (230741604531)</p><p>2. Kharisma Yovi Aulia (230741606408)</p><p>3.  Hanifa Tiara Dewi (2307416006 )</p><p>4. Inaya Safhna Meyvia</p><p>(230741606011)</p><p>5. Nur Fatimah Az Zahrah (230741605421)</p><p>6. Rizka&nbsp;(230741608910)</p><p><br/></p><p>A. Prinsip Kurikulum Nasional</p><p>1. Munculnya pembelajaran mendalam (Deep Learning)</p><p>2. Bergantinya "Profil Pelajar Pancasila" yang harus di miliki peserta didik menjadi " 8 Dimensi Profil lulusan"</p><p>3. Menjelaskan lebih detail mengenai KKO  dari kata "Memahami", sehingga diperjelas menggunakan kata " Identifikasi"</p><p>4. Penambahan mata pelajaran " Koding dan Kecerdasan Artifisial" mulai dari kelas 5 SD</p><p>5. Penambahan beberapa pilihan pada mata pelajaran "Seni dan Budaya" dan peserta didik dapat memilih salah satu jenis seni&nbsp;yang&nbsp;tersedia.</p><p><br/></p><p>B. Fase CP 2025</p><p>Fase Pondasi (PAUD-TK B)</p><p>a.	Fokus pada pemberian rangsangan awal dengan bermain dan eksplorasi</p><p>b.	Siswa belajar menggunakan pancaindra untuk mengamati dan bertanya</p><p>c.	Mengutamakan kegiatan inkuiri sederhana.</p><p>Fase A ( 1-2 SD/MI)</p><p>a.	Siswa mulai mengoptimalkan kemampuan indera untuk mengamati dan bertanya</p><p>b.	Pembelajaran berfokus pada pengenalan konsep dasar IPAS</p><p>c.	Belajar melakukan proses inkuiri yang lebih berstruktur, menekankan pada keterampilan proses sains sederhana</p><p>Fase B (3-4 SD/MI)</p><p>a.	Siswa mulai memahami konsep IPAS yang dipelajari dan memahami hubungan ilmu alam dan sosial di sekitar mereka</p><p>b.	Pembelajaran lebih ditekankan inkuiri dan solusi sederhana</p><p>Fase C (4-6 SD/MI)</p><p>a.	Siswa diperkenalkan konsep sistem dan keterkaitan antar unsur di alam dan kehidupan sosial yang berikan dengan kebhinekaan atau profil pelajar Pancasila</p><p>b.	Ditekankan pada kemampuan untuk mengambil keputusan atau menyelesaikan masalah berdasakan pemahaman IPAS serta nilai kearifan lokal</p><p>c.	Pendekatan inkuiri (perencanaan dan pelaksanaan penyelidikan secara mandiri, analisis data dalam bentuk tabel atau grafik, evaluasi hasil pendidikan, serta komunikasi hasil secara utuh dan argumentatif.)</p><p>Fase D (7-9 SMP/MTs)</p><p>a.	Berpikir secara abstrak dan kritis</p><p>b.	IPAS menggunakan model pembelajaran inkuiri, discovery learning, dan PBL (Project Based Learning)</p><p>c.	Siswa dilatih menghubungkan fenomena alam dan sosial pada konteks kehidupan yang nyata</p><p>d.	Ditekankan pada kerja kelompok, diskusi, eksperimen, juga refleksi ilmiah. </p><p>Fase E (10 SMA/MA)</p><p>a.	Siswa sudah berpikir sistematis, reflektif, dan lintas disiplin</p><p>b.	Pembelajaran model Problem Based Learning (eksperimen atau penelitian kecil dan studi kasus)</p><p>c.	IPAS fokus kepada eksplorasi karir, pengambilan keputusan berbasis data serta isu lingkungan dan sosial yang nyata</p><p>Fase F (11-12 SMA/MA)</p><p>a.	Siswa mampu berpikir analitis, kritis, dan sistematis</p><p>b.	Menekankan pada riset, proyek besar, dan praktik lapangan</p><p>c.	Pembelajaran IPAS terintegrasi dengan bidang keahlian berbasis proyek yang spesifik per bidang</p><p>d.	Penilaian pada fase ini berbasis portofolio, laporan riset, presentasi, juga produk nyata.</p><p><br/></p><p>C. Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)</p><p>Pendekatan pembelajaran mendalam menekankan pembelajaran yang mendalam, kontekstual, dan bermakna, </p><p>sehingga mendorong kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan penyelesaian masalah.</p><p>a. Latar belakang </p><p>-menyikapi kompleksitas dan ketidakpastian dunia modern, mulai dari tantangan teknologi hingga keberagaman sosial.</p><p>-Mempersiapkan peserta didik menjadi agen perubahan yang kritis dan adaptif.</p><p>b. Landasan pemikiran</p><p>-Filosofis dan pedagogis : landasan ini mengacu pada pemikiran tokoh seperti Ki Hajar Dewantara, KH. Ahmad Dahlan dll dimana pendidikan tidak hanya fokus pada kecakapan intelektual, tetapi juga pada pembentukan karakter dan pemberdayaan manusia.</p><p>-Teoritis : mengintegrasikan kontruktivisme, pembelajaran berbasis proyek, dan literasi abad ke-21.</p><p>-Sosiologis : pendidikan sebagai instrumen mencerdaskan bangsa dan memperkuat identitas.</p><p>-Yuridis dan Empiris : landasan hukum dan bukti praktik yang valid mendukung PM.</p><p>c. Kerangka kerja</p><p>•Dimensi profil lulusan :</p><p>-Keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan YME</p><p>-Kewargaan</p><p>-Penalaran kritis</p><p>-Kreativitas</p><p>-Kolaborasi</p><p>-Kemandirian</p><p>-Kesehatan</p><p>-Komunikasi</p><p>•Prinsip pembelajaran :</p><p>proses belajar itu harus :</p><p>-Berkesadaran (mindful)</p><p>-Bermakna (meaningful)</p><p>-Menggembirakan (joyful)</p><p>•Pengalaman belajar PM diciptakan melalui proses :</p><p>-Memahami</p><p>-Mengaplikasi</p><p>-Merefleksi</p><p>•Kerangka pembelajaran </p><p>-Praktik pedagogis</p><p>-Lingkungan kondusif</p><p>-Kemitraan pendidikan</p><p>-Pemanfaatan teknologi digital</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-10 16:21:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3578494468</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 6 Offering B</title>
         <author>aghisnapermata</author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3579126186</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/3849624327/fd84a40bb9c6d4b1552f6bb0c288344c/Kelompok_6_Offering_B.docx" />
         <pubDate>2025-09-11 01:30:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3579126186</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 05 (Offering B)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3580629583</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4353691677/53f13c286d8dcbe3d38ae727ff684ae6/Strategi_Pembelajaran_Tugas_Pertama_1_.docx" />
         <pubDate>2025-09-11 17:22:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3580629583</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KELOMPOK 2 (OFFRING B)</title>
         <author>radanasution2307416</author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3581842966</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4358416322/1ed0a07228b75f1c9ad21e10ef0b51ab/Kelompok_2__OFFRING_B_.docx" />
         <pubDate>2025-09-12 09:16:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3581842966</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 3 (Offering B)</title>
         <author>kewlee673</author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3582868112</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/3608619656/dc43eb848f6bb0482e332227b0c15371/Diskusi_Kelompok_3_Offering_B__1_.docx" />
         <pubDate>2025-09-13 06:56:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3582868112</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KELOMPOK4 (OFF B) Revisi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3583196452</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4364551848/f377ad8bf50024bec03c0e6e0e79e40e/Kelompok_4_Offering_B.docx" />
         <pubDate>2025-09-13 15:47:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3583196452</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3583829025</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4367910603/0bcc0f104c6222cf0c7b010a6e47d85b/TUGAS_BU_NENI_STRATEGI_PEMBELAJARAN.docx" />
         <pubDate>2025-09-14 14:13:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3583829025</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hasil Studi Kasus Kel 5 Off A</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3595642846</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4412315006/a93722ce1d480489ef15702a93c06af7/Studi_Kasus_Kelompok_5_A.docx" />
         <pubDate>2025-09-21 09:39:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3595642846</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hasil Studi Kasus kelompok 6 (off A)</title>
         <author>hermes130905</author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3595701231</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4329489849/958f6b3914244c333ee0b9ae5f0fcb9c/STUDI_KASUS_KELOMPOK__F__OFFERING_A.pdf" />
         <pubDate>2025-09-21 11:22:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3595701231</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jawaban Studi Kasus Kelompok 2 (Off A)</title>
         <author>azzahrahnurfatimah6</author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3595743674</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4412715028/dab02d9f907d943af8b09659699b3212/Nama_Anggota_Kelompok_2.docx" />
         <pubDate>2025-09-21 12:26:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3595743674</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hasil studi kasus kelompok D</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3595780383</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Dwi Fitri Arum Jana (230741606109)</p><p>2. Nesya Gresanda (230741600854)</p><p>3. Rahma Rindhang Almira (230741604389)</p><p>4. Sandy Yudha Pratama (230741609380)</p><p>5. Sinta Citra Bela (230741609011)</p><p><br/></p><p>Hasil Diskusi :</p><p>Diskusi Pembelajaran Ekosistem di Kelas 7</p><p>1. Pembelajaran Mindful, Meaningful, dan Joyful</p><p>Pembelajaran Mindful:</p><p>- Observasi langsung: Kegiatan observasi lingkungan sekitar sekolah untuk memetakan rantai makanan dan interaksi antar makhluk hidup mencerminkan pembelajaran mindful karena siswa diajak untuk mengamati dan menyadari keterkaitan antara lingkungan sekitar dan tindakan mereka sehari-hari.</p><p>- Jurnal refleksi: Kegiatan menuliskan pikiran dalam jurnal refleksi pribadi setelah menonton video tentang rusaknya ekosistem sungai juga mencerminkan pembelajaran mindful karena siswa diajak untuk merefleksikan pengalaman dan pemahamannya.</p><p>Pembelajaran Meaningful:</p><p>- Proyek kampanye kesadaran lingkungan: Kegiatan merancang proyek kampanye kesadaran lingkungan mencerminkan pembelajaran meaningful karena siswa diajak untuk membuat sesuatu yang memiliki makna dan relevansi dengan kehidupan sehari-hari.</p><p>- Pekan Ekosistem Sekolah: Kegiatan presentasi proyek dalam "Pekan Ekosistem Sekolah" juga mencerminkan pembelajaran meaningful karena siswa dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan orang lain.</p><p>Pembelajaran Joyful:</p><p>- Proyek mini: Kegiatan merancang proyek kampanye kesadaran lingkungan dan presentasi dalam "Pekan Ekosistem Sekolah" mencerminkan pembelajaran joyful karena siswa dapat mengekspresikan kreativitas dan bekerja sama dalam kelompok.</p><p>- Poster digital: Kegiatan membuat poster digital tentang interaksi dalam ekosistem nyata berdasarkan pengamatan juga mencerminkan pembelajaran joyful karena siswa dapat mengekspresikan kreativitas dan menggunakan teknologi.</p><p><br/></p><p>2. Peran Bu Wulan sebagai Aktivator, Pembangun Budaya, dan Kolaborator</p><p>&nbsp;Bu Wulan menjalankan peran sebagai aktivator dengan memberikan pemantik awal berupa penayangan video singkat tentang rusaknya ekosistem sungai di sekitar kota mereka, lalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat membangkitkan rasa ingin tahu serta keaktifan siswa. Dalam pembangun budaya, Bu Wulan mengajak siswa untuk membuat poster digital berdasarkan hasil pengamatan/observasi bersama kelompok, selain itu Bu Wulan juga mengajak siswa untuk merancang dan membuat proyek kampanye lingkungan melalui kegiatan Kreasi Proyek Mini, yang bertujuan menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab siswa terhadap pelestarian lingkungan di sekolah. Sebagai kolaborator, Bu Wulan mengajak kerja sama antar siswa dengan membentuk kelompok belajar, serta melibatkan guru lain dan orang tua dalam kegiatan "Pekan Ekosistem Sekolah," sehingga tercipta kerja sama dan dukungan dari&nbsp;berbagai&nbsp;pihak.</p><p><br/></p><p>3. Risiko atau Tantangan dan Solusi</p><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tantangan yang mungkin muncul adalah keterbatasan fasilitas dalam membuat poster digital. Apabila kita berada di daerah atau lingkungan yang minim akses internet ataupun alat elektronik yang mendukung dalam pembuatan poster digital, tentunya susah untuk menerapkan pembuatan poster digital. Solusinya bisa dengan mengganti poster digital menjadi bentuk fisik, seperti poster dari kertas karton dengan dikreasikan secara menarik sesuai kreatifitas siswa.</p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tantangan lainnya yaitu perbedaan latar belakang siswa dalam memanfaatkan teknologi. Di dalam kelas kemampuan siswa dalam memanfaatkan teknologi berbeda-beda. Ada yang mahir dalam menggunakan aplikasi dan ada yang kurang menguasai penggunaan aplikasi. Hal ini membuat siswa merasa minder dan bergantung pada temannya yang mahir menggunakan aplikasi. Solusinya yaitu guru memasangkan siswa yang mahir teknologi dengan yang tidak mahir teknologi agar saling membantu dan belajar sehingga tidak bergantung pada teman.</p><p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tantangan berikutnya adalah tidak semua siswa akan berpartisipasi secara optimal dalam kegiatan kelompok. Hal ini terjadi karena jumlah siswa dalam satu kelompok terlalu banyak, sehingga dalam pengerjaan tugas kelompok terdapat siswa yang pasif. Solusinya adalah menentukan jumlah kelompok yang pas, tidak kurang tidak kebanyakan, kemudian menentukan 1 siswa untuk menjadi ketua kelompok agar bisa mengontrol, mengawasi, ataupun membagi tugas setiap anggota kelompoknya, hal ini untuk memastikan agar semua siswa dalam kelompok berpartisipasi&nbsp;secara&nbsp;optimal.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS" />
         <pubDate>2025-09-21 13:17:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3595780383</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hasil Studi Kasus Kelompok 3 Off A</title>
         <author>afhamizaka</author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3595869240</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4413510061/f30df47c796d77a2a480a77cf332a7f7/Hasil_studi_kasus_Group_C_docx.pdf" />
         <pubDate>2025-09-21 14:50:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3595869240</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KELOMPOK 1 OFFERING A</title>
         <author>rehanadhityasyahputra</author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3596274810</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4338829254/7fb220bb88d6f826a0c055f090c812e8/STUDI_KASUS_KELOMPOK_1.docx" />
         <pubDate>2025-09-22 00:03:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3596274810</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hasil Studi Kasus Kelompok E </title>
         <author>muhammadwafi2307416</author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3596428502</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Muhammad Wafi Maulana </p></li><li><p>Nerissa </p></li><li><p>Dilla </p></li><li><p>Sisca </p></li><li><p>Khumaira </p></li><li><p>Filza </p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4329425386/41d0770505721c67a161681d66e9429d/Studi_Kasus_kelompok_E.pdf" />
         <pubDate>2025-09-22 01:30:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3596428502</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hasil Studi Kasus Kelompok 1 Offering A</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3596577707</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4416323066/f555c0a403af5e48a356cfa11d9213f6/STUDI_KASUS_KELOMPOK_1.docx" />
         <pubDate>2025-09-22 02:47:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/neniwahyuningtyasfis/Diskusi_1_Strategi_Pembelajaran_IPS/wish/3596577707</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
