<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Kearifan Lokal 9C by Efri Yendi</title>
      <link>https://padlet.com/efriyendi0605/7ylj3ywt9v52mqz9</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-09-03 07:15:59 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-09-04 05:27:41 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Kelompok : Paes, Jay, Rafael, Kambuaya</title>
         <author>efriyendi0605</author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi0605/7ylj3ywt9v52mqz9/wish/3568191268</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Daerah : Bengkulu</strong></p><p><br></p><p><strong>Sejarah</strong> : Tradisi Tabot berasal dari kebudayaan Syiah yang dibawa oleh para pendatang dari India. Tahun masuk sekitar tahun 1685-1826 M, pada masa kolonial Inggris. Pembawa Tradisi Seorang tokoh keturunan India bernama Imam Syi’ah Sayyid Husain Al-Habsyi, yang datang ke Bengkulu sebagai bagian dari pasukan Inggris, serta mulai memperkenalkan tradisi Tabot kepada masyarakat lokal.</p><p><br></p><p><strong>Makna : </strong>Tabot menjadi simbol pengorbanan demi kebenaran, keadilan, dan keteguhan iman. Mengandung pesan moral tentang melawan kezaliman, membela yang benar, dan mengingat perjuangan tokoh suci Islam</p><p><br></p><p><strong>Waktu :</strong> Waktu pelaksanaan Tabot Bengkulu berlangsung setiap tahun pada 1–10 Muharram (bulan pertama dalam kalender Hijriyah), untuk memperingati Tragedi Karbala. Perayaan ini biasanya jatuh sekitar 1–10 hari setelah Tahun Baru Islam dan dilaksanakan selama 10 hari berturut-turut</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4300173348/44f681fb09b7e377ea66c9b36f07d9f4/3a25ed487fc8e2e5fbc8b9b5a8adc850.jpg" />
         <pubDate>2025-09-04 04:02:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi0605/7ylj3ywt9v52mqz9/wish/3568191268</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 8 : Hanna, Aulia, Rasya, Aska, Florensius.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi0605/7ylj3ywt9v52mqz9/wish/3568195537</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Daerah :</strong> Bangka Belitung</p><p><br></p><p><strong>Sejarah :</strong> Asal mula tradisi ini adalah pada zaman dahulu, di Desa Tempilang banyak anak gadis yang diambil dan dimakan siluman buaya. Kondisi Desa Tempilang pada saat itu sangat mencekam dan sebagian masyarakat merasa ketakutan. Untuk mengatasi masalah tersebut lalu beberapa dukun berinisiatif untuk mengadakan ritual secara bersama –sama untuk mencegah terjadinya musibah yang lebih besar lagi. Dalam perkembangan selanjutnya ritual tersebut oleh masyarakat Desa Tempilang yang dinamakan tradisi Perang Ketupat.</p><p><br></p><p><strong>Tujuan :</strong>  Mengungkapkan Rasa Syukur Kepada Tuhan atas Hasil Panen dan Rezeki Yang Diterima </p><p><br></p><p><strong>Waktu :</strong> Minggu Ke-3 Bulan Sya'ban </p><p><br></p><p><strong>Makna :</strong> Simbol dan makna dalam tradisi Perang Ketupat adalah ketupat yang mempunyai makna persatuan, kesatuan, kesadaran, dan kegotong royongan. sesaji yang mempunyai makna satu kekeluargaan dalam kehidupan bermasyarakat sehingga terciptanya kehidupan bersama. Ada prosesi nganyot perae atau menghanyutkan perahu dengan makna untuk memulangkan tamu-tamu makhluk halus yang datang ke desa Tempilang terutama yang bermaksud jahat agar tidak mengganggu masyarakat desa Tempilang. Ada prosesi ngancak yaitu pemberian makanan kepada makhluk halus yang dipercayai bermukim di laut agar mereka tidak mengganggu aktivitas nelayan pada saat pergi melaut. Selain itu ada prosesi penimbongan yaitu</p><p>pemberian makanan kepada makhluk halus yang dipercayai bermukim di darat agar mereka tidak mengganggu masyarakat setempat.</p><p><br></p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4311276757/d89a930faf1ce12638896537db1f124e/Screenshot_20250904_105659_ChatGPT.jpg" />
         <pubDate>2025-09-04 04:06:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi0605/7ylj3ywt9v52mqz9/wish/3568195537</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KELOMPOK 5 : NAVA, AMEL, ANI, FIKRI, RYAN</title>
         <author>navaarika19</author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi0605/7ylj3ywt9v52mqz9/wish/3568200525</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Daerah : </strong>Madura (Jawa Timur)</p><p><br/></p><p><strong>Sejarah :</strong></p><p>Karapan sapi adalah tradisi lomba pacuan sapi khas masyarakat Madura, Jawa Timur. Tradisi ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-13, pada masa pemerintahan Raja Madura bernama Cakraningrat. Awalnya, karapan sapi digunakan sebagai cara menghibur diri sekaligus ajang untuk menguji kekuatan sapi yang dipakai membajak sawah.</p><p><br/></p><p>Seiring waktu, karapan sapi berkembang menjadi acara besar yang meriah, disertai musik tradisional saronen dan pesta rakyat. Biasanya diadakan setelah panen raya sebagai bentuk syukur. Dalam perlombaan, sepasang sapi ditarik oleh joki dengan kereta kayu kecil yang disebut kaleles, lalu dipacu di lintasan sepanjang ±100 meter.</p><p><br/></p><p>Kini karapan sapi tidak hanya menjadi hiburan rakyat Madura, tetapi juga daya tarik wisata budaya yang dikenal luas di Indonesia.</p><p><br/></p><p><strong>Waktu : </strong></p><p>Karapan sapi umumnya dilakukan setiap tahun pada bulan Agustus dan September.</p><p><br/></p><p><strong>Makna : </strong></p><p>Makna Karapan Sapi adalah tradisi pacuan sapi khas Madura yang mengandung nilai-nilai kerja keras, gotong royong, kerja sama, sportivitas, dan kebersamaan antarwarga, sekaligus merupakan ajang rasa syukur atas panen dan penanda awal masa tanam. Tradisi ini juga berfungsi sebagai sarana interaksi sosial, alat hiburan, dan kebanggaan budaya yang melambangkan semangat juang masyarakat Madura.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4311329039/05af624fcc5eca33be7c96fe8de05327/e5c0755f6988cbb0c4b4e01feb65121e.jpg" />
         <pubDate>2025-09-04 04:10:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi0605/7ylj3ywt9v52mqz9/wish/3568200525</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 6 : Intan, Faizah, Vira, Fauzan, Ahmad</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi0605/7ylj3ywt9v52mqz9/wish/3568202215</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Daerah : </strong>Maluku</p><p><br/></p><p><strong>Sejarah :</strong> Bambu Gila (nama asli Baramasewel) berasal dari Maluku sebelum penyebaran Islam dan Kristen, berakar pada tradisi animisme dan dinamisme masyarakat setempat. Dulu, permainan mistis ini digunakan untuk memindahkan kapal saat perang dan menghormati roh alam. Kini, Bambu Gila menjadi atraksi budaya yang melambangkan gotong royong dan kekompakan masyarakat Maluku, dipercaya memiliki kekuatan mistis dari roh leluhur yang memanggilnya dengan mantra dan kemenyan.</p><p><br/></p><p><strong>Makna :</strong> Bambu Gila adalah atraksi kebudayaan mistis dari Maluku yang memiliki nilai spiritual, sosial, dan budaya mendalam. Secara spiritual, tarian ini merupakan persembahan kepada roh leluhur dan penjaga alam, sedangkan secara sosial, ia melambangkan semangat gotong royong masyarakat dalam menghadapi berbagai kesulitan. Bambu Gila juga berfungsi sebagai sarana untuk melestarikan tradisi leluhur dan identitas budaya Maluku, serta pernah digunakan dalam peperangan untuk melawan musuh.</p><p><br/></p><p><strong>Waktu :</strong> pelaksanaan atraksi Bambu Gila bervariasi tergantung pada konteksnya. Atraksi ini dapat dilakukan setiap tahun pada 7 Syawal di Desa Morela, Maluku, untuk mengenang perjuangan Kapitan Telukabessy, atau ditampilkan dalam festival budaya seperti Legu Gam di Maluku Utara setiap bulan April. Selain itu, Bambu Gila juga bisa dipentaskan untuk kegiatan keagamaan, acara adat, atau saat ada kebutuhan masyarakat seperti memindahkan kapal.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4311328840/58a9eebae657a999121ee92002926ccb/IMG_20250904_WA0019.jpg" />
         <pubDate>2025-09-04 04:12:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi0605/7ylj3ywt9v52mqz9/wish/3568202215</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 4 : Jeri, Aliep, Gusti, Selvia, Nasrul </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi0605/7ylj3ywt9v52mqz9/wish/3568207023</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Daerah :</strong> Flores Timur </p><p>Upacara Koke Bale adalah ritual tahunan masyarakat Suku Lamaholot di Flores Timur yang bertujuan untuk syukuran, persembahan kepada leluhur, dan persiapan untuk kehidupan bermasyarakat, seperti menanam. Ritual ini merupakan kegiatan syukuran (Ahik Lean) yang dilakukan di Koke Bale, rumah adat yang dianggap sebagai pusat kesatuan sosial kampung. Upacara ini melibatkan rapat adat, pembersihan rumah adat, penyembelihan hewan kurban, dan pembagian dagingnya untuk menciptakan kebersamaan dan menghormati leluhur.</p><p><br/></p><p><strong>Tujuan dan Makna</strong></p><p>Syukuran:</p><p>Upacara Ahik Lean (syukuran) di Koke Bale bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan dan para leluhur. </p><p>Penghormatan Leluhur:</p><p>Koke Bale adalah tempat untuk menghormati roh nenek moyang dan menjadi pusat perjumpaan dengan leluhur. </p><p>Kesatuan Sosial:</p><p>Ritual ini menegaskan peran Koke Bale sebagai jantung atau pusat dari kesatuan sosial yang disebut Lewo (kampung). </p><p>Keamanan dan Kesejahteraan:</p><p>Upacara ini juga berfungsi untuk meminta restu dari para leluhur agar masyarakat terhindar dari bencana dan ketidakberuntungan. </p><p>Prosesi Upacara</p><p>1. Rapat Adat:</p><p>Dimulai dengan rapat bersama (Demon Pagong Hugu Tupuk Tobo Tutu) yang dipimpin oleh Uo Mata (tetua adat) untuk menyepakati jadwal, anggaran, dan peserta. </p><p>2. Pembersihan Halaman:</p><p>Pembersihan dan perbaikan Koke Bale (Tawi Nama) melambangkan pembaharuan kehidupan. </p><p>3. Pembukaan Bubungan:</p><p>Bubungan rumah adat dibuka (Gelewo menuka) sebagai simbol pintu terbuka untuk kedatangan para leluhur. </p><p>4. Penyembelihan Kurban:</p><p>Hewan seperti ayam jantan, kambing, atau babi jantan disembelih di altar (nabanara) sebagai sesaji. </p><p>5. Syukuran dan Kebersamaan:</p><p>Daging hewan kurban dimasak dan dibagikan kepada masyarakat untuk menciptakan suasana kebersamaan. </p><p>6. Penutupan Bubungan:</p><p>Setelah ritual selesai, bubungan ditutup (Tuhuk gelewo) setelah ditentukan waktunya oleh Uo Mata. </p><p>Peran Koke Bale</p><p>Rumah Adat dan Kuil:</p><p>Koke Bale berfungsi sebagai rumah adat dan juga tempat pemujaan yang penting bagi masyarakat. </p><p>Pusat Penyelesaian Masalah:</p><p>Koke Bale juga menjadi tempat untuk menyelesaikan berbagai permasalahan sosial dan adat, seperti status tanah dan hubungan antar-suku.</p><p><br/></p><p><strong>Waktu </strong></p><p>biasanya tiga hari atau lebih sesuai dengan perhitungan waktu yang ditentukan oleh tetua adat. Per</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4311312455/3ffea677d4676a78605e772f1fb54066/ac6d09d1280a55a7517f973b1a7667b8.jpg" />
         <pubDate>2025-09-04 04:16:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi0605/7ylj3ywt9v52mqz9/wish/3568207023</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 2 : Aisya, Deliana, Niko, Iqbal </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi0605/7ylj3ywt9v52mqz9/wish/3568209404</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Daerah : </strong>Nias, Sumatra Utara </p><p><br/></p><p><strong>Sejarah :</strong> Tradisi lompat batu (Fahombo) berasal dari Suku Nias di Sumatera Utara, awalnya sebagai ujian fisik dan mental bagi para pemuda untuk membuktikan diri mereka telah siap menghadapi perang. Para pemuda harus melompati tumpukan batu setinggi sekitar 2 meter untuk dianggap dewasa, layak menikah, serta menjadi pembela desa. Kini, tradisi ini berlanjut sebagai ritual adat dan tontonan budaya yang memperlihatkan keberanian dan nilai-nilai luhur masyarakat Nias, seperti ketangguhan dan kegigihan.</p><p><br/></p><p><strong>Makna : </strong>Simbol kedewasaan, kekuatan, dan keberanian seorang pemuda. Secara historis, tradisi ini berfungsi untuk menyeleksi pemuda yang siap menjadi prajurit perang dan pelindung desa. Kini, selain menjadi daya tarik wisata, lompat batu juga menjadi simbol kebanggaan, identitas, dan bagian dari ritual budaya untuk menghormati leluhur.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><strong>Waktu :</strong></p><p>Sering kali pada hari-hari besar atau sebagai ritual penyambutan tamu kehormatan, serta dalam festival budaya tahunan.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4311318514/99cae06035248305e7cbe7c8d9d77f63/621c54d0760ba11727a2888ca05d36e0.jpg" />
         <pubDate>2025-09-04 04:18:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi0605/7ylj3ywt9v52mqz9/wish/3568209404</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 7 :Keysha, meylani,juanita, hafidz,novaldi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi0605/7ylj3ywt9v52mqz9/wish/3568219250</link>
         <description><![CDATA[<p>Daerah : Aceh Barat </p><p><br></p><p>Sejarah : merupakan salah satu upacara daur hidup suku Aceh terhadap bayi yang baru lahir disebut (Aneuk manyak) dimulai dari Kerajaan samudra pasai sekitar abad ke 13 masehi sebagai tradisi adat yang kemudian berkembang pada masa kerajaan Aceh Darussalam diadaptasi untuk sesuai dengan ajaran Islam tradisi ini merupakan salah satu upacara syukur atas kelahiran bayi yang berarti menurunkan anak ke tanah dan dilakukan untuk memperkenalkan baik kepada lingkungan sekitar serta untuk menumbuhkan keberanian dan kesatria pada bayi </p><p><br></p><p>Makna : upacara adat masyarakat Aceh yang dilakukan untuk bayi baru lahir di mana bayi dibawa keluar rumah dan kakinya di jejakkan ke tanah untuk pertama kalinya melambangkan memperkenalkan bayi kepada lingkungan dan sebagai simbol rasa syukur merupakan ungkapan rasa syukur keluarga atas anugrah kelahiran seorang anak memperkenalkan bayi memandai pengenalan baik kepada lingkungan alam dan masyarakat </p><p><br></p><p>Waktu : waktu pelaksanaan upacara peutron aneuk di Aceh bervariasi tergantung kebiasaan masyarakat setempat namun umumnya dilakukan antara 7 hari hingga 2 tahun setelah kelahiran bayi</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4311404187/cfed1a3652e03e176b9c31997f9fc561/Screenshot_20250904_110813.png" />
         <pubDate>2025-09-04 04:25:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi0605/7ylj3ywt9v52mqz9/wish/3568219250</guid>
      </item>
      <item>
         <title>kelompok : Nadya, Ali,rafi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi0605/7ylj3ywt9v52mqz9/wish/3568224151</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Daerah</strong> :NTT(sumba barat daya) </p><p><br/></p><p><strong>sejarah</strong> : Pasola berakar dari cerita cinta segitiga antara Rabu Kabba, Ubu Dulla, dan Teda Gaiparona di kampung Weiwunga. Ketiga bersaudara tersebut kembali ke kampung, namun Ubu Dulla mendapati istrinya, Rabu Kabba, telah kawin lari dengan Teda Gaiparona.Pasola ini tidak bertujuan mencari pemenang, tetapi untuk menjaga perdamaian dan kesuburan tanah. Darah yang tumpah dianggap simbol kesuburan, sehingga kesuksesan panen pun diyakini akan meningkat.</p><p><br/></p><p><strong>waktu</strong> : bulan februari dan maret </p><p>(tanggal di tentukan oleh pembuka adat)</p><p><br/></p><p><strong>makna</strong> : Ritual ini melambangkan kesuburan, harapan akan panen melimpah, dan pengampunan kepada leluhur (Marapu). Lebih dari sekadar pertandingan, pasola juga merupakan simbol keharmonisan antara manusia, alam, dan leluhur, serta bagian dari hukum adat setempat yang bertujuan memulihkan keseimbangan sosial.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4311437466/f3fc84ced882e646cba4b187db477ae5/IMG_20250904_WA0025.jpg" />
         <pubDate>2025-09-04 04:28:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi0605/7ylj3ywt9v52mqz9/wish/3568224151</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
