<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>kelas x1 by octa tiyas</title>
      <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1</link>
      <description>menulis pragraf narasi</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2015-09-21 02:03:33 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-07-14 23:16:44 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet-assets.storage.googleapis.com/portrait/pocketwatch.jpg</url>
      </image>
      <item>
         <title>Nama : Riza Ananda</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/71415067</link>
         <description><![CDATA[<blockquote style="margin: 0 0 0 40px; border: none; padding: 0px;"><p>Cerpen :&nbsp;</p><p>THE MAD ISLAND (HORROR)

Suatu hari, aku dan tema-temanku pergi berlibur ke sebuah pulau yang katanya sangat berbahaya, dan penuh misteri. pulau itu bernama the mad island. pulau itu sangat indah di pagi hari maupun di sore hari, namun pada saat menjelang malam, pulau itupun berubah menjadi gelap, dan menakutkan. kami berlibur dikota ini hanya ingin melihat apa yang terjadi sehingga membuat orang-orang yang menginjakkan kaki dipulau ini merasa takut. Pagi hari, kami mencari tempat untuk mendirikan tenda atau mencari tempat beristirahat. Dan tidak terasa sudah sore hari. "Nancy, bagaimana ini malam hampir tiba, tapi kita tidak menemukan tempat yang cocok untuk mendirikan tenda." kata Michele dengan tampang khawatir. "tenang saja pasti kita bisa mendapatkan tempat untuk mendirikan tenda michele." kata Nancy sambil tersenyum. Beberapa menit kemudian, mereka pun menemukan tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. setelah mendirikan tenda, Nancy dan temannya, Tom mencari kayu untuk membuat api ungggun. Malam hari sudah tiba, Mereka berkumpul mengelilingi api unggun sambil berbagi cerita. Tiba-tiba saja ada suara aneh yang sangat keras seperti seseorang yang sedang merasakan kesakitan yang luar biasa, dari kejauhan sepasang mata merah sedang melihat kearah mereka. Mereka terdiam. Ada yang terasa aneh, Nancy pun melihat kearah kanan, dan ternyata Cindy,teman Nancy, telah menghilang. Nancy dan teman-temannya pun panik mencari Cindy. Nancy berlalri mencari-cari Cindy. Ternyata dia tersesat, ke sebuah rumah kosong, dan gelap. Teman-teman Nancy yang lain keluar dan melarikan diri dari pulau itu. Sedangkan Nancy berada di tengah-tengah pulau itu. Cindy? tidak diketahui keberadaannya. </p></blockquote>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-22 08:08:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/71415067</guid>
      </item>
      <item>
         <title>nama </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72359486</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-28 02:37:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72359486</guid>
      </item>
      <item>
         <title>nama : SONIA SAFITRI SABELA </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72596164</link>
         <description><![CDATA[<p> CERPEN :PERCINTAAN</p><p>CINTA SEJATI <br></p><p>NILAI<br></p><p>Cerita ini merupakan kisah nyata seorang tante yang saya temui di Bali, 
tetapi detail yang saya sebutkan mungkin tidak sesuai dengan kisah 
aslinya. Saya menuliskan apa yang saya tangkap dari yang diceritakan 
tante. Sebut saja Ami (bukan nama sebenarnya). Tante Ami bercerita 
mengenai pengalaman hidupnya ketika masa kuliah.
</p><p>Sekitar dua puluh tahun yang lalu, Ami sedang menjalankan semester 
terakhir dan berusaha menyelesaikan skripsi. Disaat itu pula, 2 minggu 
yang akan datang, Ami akan dipersunting oleh seorang pria yang bernama 
Iman (bukan nama sebenarnya).</p>
<p>Ami dan Iman telah berpacaran selama 7 tahun. Iman merupakan teman SD
 Ami. Mereka telah kenal selama 14 tahun. Masa 7 tahun adalah masa 
pertemanan, dan kemudian dilanjutkan ke masa pacaran. Mereka bahkan 
telah bertunangan dan 2 minggu ke depan, Ami dan Iman akan melangsungkan
 ijab kabul.</p>
<p>Entah mimpi apa semalam, tiba-tiba Ami dikejutkan oleh suatu berita.</p>
<p>Adiknya Iman: Mbak Ami, Mbak Ami. Mas Iman…Mas Iman….kena musibah!<br>
Ami: Innalillahi wa inna illahi roji’un…</p>
<p>Saat itu Ami tidak mengetahui musibah apa yang menimpa Iman. Kemudian sang adik melanjutkan beritanya…</p>
<p>Adiknya Iman: Mas Iman…kecelakaan…dan..meninggal…<br>
Ami: Innalillahi wa inna illahi roji’un…</p>
<p>…dan Ami kemudian pingsan…</p>
<p>Setelah bangun, Ami dihadapkan oleh mayat tunangannya. Ami yang shock
 berat tak bisa berkata apa-apa. Bahkan tidak ada air mata yang 
mengalir.</p>
<p>Ketika memandikan jenazahnya, Amit terdiam. Ami memeluk tubuh Iman 
yang sudah dingin dengan begitu erat dan tak mau melepaskannya hingga 
akhirnya orang tua Iman mencoba meminta Ami agar tabah menghadapi semua 
ini.</p>
<p>Setelah dikuburkan, Ami tetap terdiam. Ia berdoa khusyuk di depan kuburan Iman.</p>
<p>Sampai seminggu ke depan, Ami tak punya nafsu makan. Ia hanya makan 
sedikit. Ia pun tak banyak bicara. Menangis pun tidak. Skripsinya 
terlantar begitu saja. Orangtua Ami pun semakin cemas melihat sikap 
anaknya tersebut.</p>
<p>Akhirnya bapaknya Ami memarahi Ami. Sang bapak sengaja menekan anak 
tersebut supaya ia mengeluarkan air mata. Tentu berat bagi Ami 
kehilangan orang yang dicintainya, tapi tidak mengeluarkan air mata sama
 sekali. Rasanya beban Ami belum dikeluarkan.</p>
<p>Setelah dimarahi oleh bapaknya, barulah Ami menangis. Tumpahlah semua kesedihan hatinya. Setidaknya, satu beban telah berkurang.</p>
<p>…tiga bulan kemudian…</p>
<p>Skripsi Ami belum juga kelar. Orangtuanya pun tidak mengharap banyak 
karena sangat mengerti keadaan Ami. Sepeninggal Iman, Ami masih terus 
meratapi dan merasa Iman hanya pergi jauh. Nanti juga kembali, pikirnya.</p>
<p>Di dalam wajah sendunya, tiba-tiba ada seorang pria yang tertarik 
melihat Ami. Satria namanya (bukan nama sebenarnya). Ia tertarik dengan 
paras Ami yang manis dan pendiam. Satria pun mencoba mencaritahu tentang
 Ami dan ia mendengar kisah Ami lengkap dari teman-temannya.</p>
<p>Setelah mendapatkan berbagai informasi tentang Ami, ia coba mendekati
 Ami. Ami yang hatinya sudah beku, tidak peduli akan kehadiran Satria. 
Beberapa kali ajakan Satria tidak direspon olehnya.</p>
<p>Satria pun pantang menyerah, sampai akhirnya Ami sedikit luluh. Ami 
pun mengajak Satria ke kuburan Iman. Disana Ami meminta Satria minta 
ijin kepada Iman untuk berhubungan dengan Ami. Satria yang begitu 
menyayangi Ami menuruti keinginan perempuan itu. Ia pun berdoa serta 
minta ijin kepada kuburan Iman.</p>
<p>Masa pacaran Ami dan Satria begitu unik. Setiap ingin pergi berdua, 
mereka selalu mampir ke kuburan Iman untuk minta ijin dan memberitahu 
bahwa hari ini mereka akan pergi kemana. Hal itu terus terjadi 
berulang-ulang. Tampaknya sampai kapanpun posisi Iman di hati Ami tidak 
ada yang menggeser. Tetapi Satria pun sangat mengerti hal itu dan tetap 
rela bersanding disisi Ami, walaupun sebagai orang kedua dihati Ami.</p>
<p>Setahun sudah masa pacaran mereka. Skripsi Ami sudah selesai enam 
bulan yang lalu dan ia lulus dengan nilai baik. Satria pun memutuskan 
untuk melamar Ami.</p>
<p>Sebelum melamar Ami, Satria mengunjungi kuburan Iman sendirian. Ini 
sudah menjadi ritual bagi dirinya. Disana ia mengobrol dengan batu nisan
 tersebut, membacakan yasin, sekaligus minta ijin untuk melamar Ami. 
Setelah itu Satria pulang, dan malamnya ia melamar Ami.</p>
<p>Ami tentu saja senang. Tapi tetap saja, di hati Ami masih terkenang 
sosok Iman. Ami menceritakan bagaimana perasaannya ke Satria dan 
bagaimana posisi Iman dihatinya. Satria menerima semua itu dengan lapang
 dada. Baginya, Ami adalah prioritas utamanya. Apapun keinginan Ami, ia 
akan menuruti semua itu, asalkan Ami bahagia.</p>
<p>Ami pun akhirnya menerima lamaran Satria.</p>
<p>…beberapa bulan setelah menikah…</p>
<p>Di rumah yang damai, terpampang foto perkawinan Ami dan Satria. Tak 
jauh dari foto tersebut, ada foto perkawinan Ami ukuran 4R. Foto 
perkawinan biasa, namun ada yang janggal. Di foto tersebut terpampang 
wajah Ami dan Iman.</p>
<p>Ya, Ami yang masih terus mencintai Iman mengganti foto pasangan 
disebelahnya dengan wajah Iman. Foto itupun terletak tak jauh dari foto 
perkawinan Satria dan Ami. Sekilas terlihat foto tersebut hasil rekayasa
 yang dibuat oleh Ami. Namun Satria mengijinkan Ami meletakkan foto 
tersebut tak jauh dari foto perkawinan mereka.</p>
<p>Bagaimanapun Ami tetap akan mencintai Iman sekaligus mencintai 
Satria, suami tercintanya. Dan Satria merupakan pria yang memiliki hati 
sejati. Baginya, cinta sejatinya adalah Ami. Apapun yang Ami lakukan, ia
 berusaha menerima semua keadaan itu. Baginya tak ada yang perlu 
dicemburui dari batu nisan. Ia tetap menjalankan rumah tangganya dengan 
sakinah, mawaddah dan warramah, hingga saat ini…</p>
<p>Mendengar cerita diatas, terus terang saya merasa sedih, terharu, 
sekaligus miris. Saya kagum dengan sosok Satria yang ternyata 
benar-benar mencintai Tante Ami. Saya juga mengerti kepedihan Tante Ami 
ketika ditinggalkan tunangannya. Tentu rasanya sulit ditinggalkan oleh 
orang yang sudah membekas dihati.</p>
Akankah ada pria-pria seperti Satria? Saya harap semoga banyak pria 
yang akan tetap setia kepada seorang wanita, menerima mereka apa adanya]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-29 02:36:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72596164</guid>
      </item>
      <item>
         <title>NAMA : ANISA FITRI RAHMADANI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72596523</link>
         <description><![CDATA[CERPEN : PERCINTAAN <br>PENGORBANAN SEBUAH CINTA <br>NILAI

<p>Ada seekor burung pipit kecil dan bungan dan mawar putih
yang bersahabat. Kedekatan mereka berangsur berubah menjadi rasa cinta.sang
burung mencintai ,sangat mencintai mawar putih dengan segenap jiwa&nbsp; namun&nbsp;
sayang,mawar putih tidak merasakan apa yang di&nbsp; rasakan oleh sang burung karena mawar&nbsp; putih tengah mencintai mawar merah.sang
burung berusaha mengungkapkan cintanya pada mawar putih dan berjuang keras
membuktikan cintanya kepada sang&nbsp; mawar
putih ,namun mawar putih tidak mempedulikan cinta sang burung dan memilih mawar
merah karena keteguhan cinta sang burung mawar putih mulai luluh dan memberikan
syarat kepada burung pipit ,syarat nya adalah bunga akan menerima sang burung
jika sang burung bisa berubah warna putih menjadi merah. Sang burung paham betul
tujuan sang mawar putih memintanya mengubah warna bunga menjadi merah.tidak
lain agar bunga mawar putih mendapatkan cinta sang burung.suatu&nbsp; harin ia terbang diatas mawar putih kemudian
dia melukai dirinya sendiri higgga darah menetes ke bungga mawar sehingga
berubahlah bunga mawar putih menjadi merah . lama kelamaan sang burung&nbsp; menjadi lelah dengan luka luka nya dan
akhirnya terjatuh sebelum terjatuh burung berkata “aku mencintaimu melebihi keinginanku atas kebahagiianku memilikimu.aku
tau aku takkan pernah memilikimu,namun cintaku menembus dinding itu&nbsp; dan hanya ini yang bisa aku berikan untuk
membuktikan cintaku padamu.selamat tinggal sayangku. Aku cinta
padamu.berbahagialah cintamu’’ </p><br>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-29 02:42:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72596523</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72601980</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-29 04:10:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72601980</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama:ADE WULAN N.P</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72601981</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/72459293/cb8625a2a2c23a6e9538fcb13530e251cb3b9f91/e211c61c96908f84c3ee6c74e87a9ec2.jpg" />
         <pubDate>2015-09-29 04:10:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72601981</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama: Putri Alayda R</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72628111</link>
         <description><![CDATA[<p>CERPEN</p><p>

<p>CERPEN</p>

<p>Misteri dibalik Pintu Pelapon</p>

<p>Tibalah saat yang ku nanti-nanti bersama keluarga yaitu pindah rumah dan menikmati
rumah yang baru yang selama ini aku impikan yaitu, rumah yang mempunyai
pekarangan yang luas dan terdapat kolam renang. Sebelumnya, rumah yang aku
tinggali kemarin tidak ada kolam renangnya, dan itu membuat ku sangat bosan dan
jenuh. Aku sangat senang dan gembira ketika tiba dirumah baru rumah yang aku
idam-idamkan. Aku sama sekali gak nyangka aku bisa tinggal bersama keluargaku
dirumah yang seindah ini.&nbsp;</p><p><span style="font-size: 13px;">Hari demi haripun berlalu. Aku dan keluargaku sudah hampir sebulan dirumah baru ini. Semua berasa berbeda, karena masih dalam suasana baru. Hampir setiap malam aku menghabiskan malam-malamku didalam kamar baruku, yang letaknya berdampingan dengan kamar abangku yang kini sudah bekerja.</span></p><p><span style="font-size: 13px;">Nah, </span><span style="font-size: 13px;">tibalah saat yang menebarkan, dimana yang membuat detak jantungku begitu terasa </span><span style="font-size: 13px;">berdetak kencang. Dimana waktu itu, ayah dan ibuku mendapatkan kabar dari </span><span style="font-size: 13px;">telepon bibiku yang berada dibandung. Ada musibah bahwa suami dari bibiku </span><span style="font-size: 13px;">sakit, dan waktu itu ayah dan ibuku memutuskan untuk menengoknya dan kebetulan </span><span style="font-size: 13px;">hari pertama ujian akhir nasionalku. Ayah ibuku meninggalkan aku dirumah </span><span style="font-size: 13px;">bersama abangku. Akupun menerima keputusan itu karna ya mau gimana lagi, aku </span><span style="font-size: 13px;">cukup mendoakan saja semoga pamanku cepat sembuh.&nbsp;</span></p><p><span style="font-size: 13px;">Malam </span><span style="font-size: 13px;">demi malam telah kulewati, sehinga pada waktu malam jumat. Perasaan ku tiba-tiba </span><span style="font-size: 13px;">tidak enak. Aku merasa ada yang tidak beres dibalik pintu diatas pelapon. </span><span style="font-size: 13px;">Tetapi aku abaikan saja. Aku terus asik belajar karna besok hari terakhir </span><span style="font-size: 13px;">ujian. Tiba-tiba terdengarlah suara aneh dibalik pintu pelapon itu. Semakin </span><span style="font-size: 13px;">dalam kuperhatikan semakin bergoyang pintu itu. Bulu badanku semakin merinding </span><span style="font-size: 13px;">ketika pintu itu terbuka sedikit, seolah ada orang dibalik pintu itu yang </span><span style="font-size: 13px;">menggoyang-goyangkannya. Aku pun tak dapat membendung rasa takutku yang teramat </span><span style="font-size: 13px;">sangat dalam, yang membuatku langsung menangis. “aaaaaaa, abang ada hantuuuuu” </span><span style="font-size: 13px;">teriakku memanggil abangku sambil terus menangis. Tak lama kemudian, abang </span><span style="font-size: 13px;">beserta temannya datang menghampiriku yg kebetulan temennya tadi ada dirumah. </span><span style="font-size: 13px;">“ada apa dek?”. Tanyanya yang sudah ada berada disampingku. “bang,itu”. Aku </span><span style="font-size: 13px;">menunjuk kearah pintu yang terus bergoyang terbuka tertutup, seakan ingin </span><span style="font-size: 13px;">memperlihatkan sesuatu yang ada didalam pelapon itu. Abang dan temannya </span><span style="font-size: 13px;">memberanikan diri untuk memanjatnya dan melihat apa yang menyebabkan pelapon </span><span style="font-size: 13px;">itu selalu bergoyang. Ketika mereka berhasil mendekati pelapon itu, mereka </span><span style="font-size: 13px;">mencium bau tak enak yang sangat menyengat. “astaghfirullah!”. Pekik abangku </span><span style="font-size: 13px;">ketika melihat sesuatu dipelapon itu yang begitu sangat nyeramkan yaitu seorang </span><span style="font-size: 13px;">mayat anak perempuan yang telah membusuk didalam pelapon. Tanpa menunda-nunda </span><span style="font-size: 13px;">lagi. Abang segera menghubungi polisi untuk melaporkan kejadian ini.&nbsp;</span></p><p><span style="font-size: 13px;">Dari </span><span style="font-size: 13px;">informasi yang didapat. Anak perempuan didalam pelalpon tersebut sengaja </span><span style="font-size: 13px;">dibunuh dan disimpan didalam pelapon oleh orangtuanya. Karena, anaknya tidak </span><span style="font-size: 13px;">memiliki tubuh seperti kita yang normal. Ya. Mereka adalah pemilik rumah ini. </span><span style="font-size: 13px;">Rumah yang aku tinggali bersama keluargaku sekarang. Kini kedua orangtuanya pun </span><span style="font-size: 13px;">telah ditemukan dan diamankan oleh pihak kepolisian. Aku bernafas legah. Tidak </span><span style="font-size: 13px;">ada lagi yang aku takuti sekarang. Ayah dan ibuku juga sudah balik dan sudah </span><span style="font-size: 13px;">mengetahui kejadian&nbsp; ini. Sekarang, aku, </span><span style="font-size: 13px;">ayah, dan ibuku berkumpul diruang keluarga. Abangku masih belum pulang dari </span><span style="font-size: 13px;">kerjanya. Dan kini dirumah bertambah 1 anggota, yaitu adik sepupu aku yang </span><span style="font-size: 13px;">bernama Giselle. Dia tinggal dirumahku untuk sementara ini. Jadi aku merasa </span><span style="font-size: 13px;">tidak sendiri lagi jika aku ditinggal oleh ayah ibu dan abangku. Karena aku </span><span style="font-size: 13px;">telah mempunyai teman yang membuat aku tidak ketakutan lagi.&nbsp; </span></p>

</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-29 08:59:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72628111</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama:Devi Puji Lestari</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72646458</link>
         <description><![CDATA[<p>Tugas : Cerpen</p><p>

<p>                                             Diam-dia ku masih mencintaimu<br></p><p>Detik demi detik berlalu, namun tak sedikit
pun bayangmu berlalu dari otakku. Hari demi hari ku lalui, aku berusaha membuka
hati, tapi aku tak bisa, hanya kamu yang mampu mengisi hatiku. Diam-diam, aku
tetap mencintaimu.</p>Diam-diam, aku tetap menjaga hatiku entah
sampai kapan. Diam-diam, hanya kamu yang ku mau, tak ada orang lain. Diam-diam
aku menunggu dalam ketidakpastian, apakah kamu sama sepertiku? Masih tetap
menjaga hati? Atau kau akan coba pindah ke lain hati?Aku tak tau, yang aku tau, aku mencintaimu,
walau hanya dalam diam. Aku tak ingin pindah ke lain hati.Hingga suatu hari, aku menyadari, sedikit demi
sedikit hatimu telah bergeser. Kau memilih untuk pergi dari bayang-bayangku,
sedangkan aku tidak. Aku tetap bertahan. Aku mencoba rela, asal kau bahagia.
Karena aku bukan hanya sekedar ingin memilikimu, aku mencintaimu.
<p>Walau sesungguhnya aku kecewa. Kemana semua
kata cintamu dulu? Lalu apa kau tak pernah sadar sesungguhnya betapa aku tak
ingin perpisahan itu ada?</p>Kamu yang tak pernah sadar, dalam diamku, aku
terlalu mencintaimu.Kamu yang tak pernah sadar saat perpisahan itu
datang, sesungguhnya aku masih sangat mengharapkanmu.Ingatkah kamu saat kau berkata, “maaf, aku gak
bisa jadi cowok yang terbaik buat kamu, semoga kamu dapet yang lebih baik.”Kau tak ingat ya apa yang ku katakan?</p><p>Aku berkata dari lubuk hatiku, “i hope someday
you will ;)”Apa kamu tak sadar betapa aku masih ingin
terus bersamamu? Betapa aku akan mempertahankan perasaanku ini untukmu?Lalu apa kau ingat saat aku mengirim sms
kepadamu “kenapa kamu gak bales sms aku?” tidakkah kau sadar aku masih ingin
bersamamu, sangat ingin bersamamuAku renungi apa salahku, kamu selalu bilang
aku ini kurang perhatian, apa kamu tidak pernah sadar akan perhatian perhatian
kecilku? Apa kamu tak pernah sadar dalam diamku aku selalu mencoba jadi yang
terbaik untukmu?Dalam perpisahan kita, aku tetap dan masih
memperhatikanmu. Aku berusaha berubah, menjadi wanita yang lebih perhatian
seperti yang kau mau, berharap suatu saat tuhan pertemukan kita kembali. Aku
berusaha kembali masuk ke kehidupanmu, berusaha menghubungimu lagi, berusaha
untuk dekat denganmu lagi, hingga akhirnya aku ingin mengatakan padamu bahwa
aku akan mencoba sekali lagi menjadi lebih baik bagimu. Apa kau tak pernah
melihat betapa ku mencoba jadi yang terbaik untuk dirimu?Yang kamu tau, cintaku tak besar padamu – kamu
hanya tau cinta mu lah yang jauh lebih besar padaku, tanpa kau pernah peka
betapa aku mencintaimu, betapa seringnya aku memelukmu dalam doaku.Kau tak pernah peka terhadap perasaanku, kau
lebih memilih mendengar apa kata orang dari pada mencoba mendengar kata hatimu
sendiri.Yang kamu tau aku jahat, karena aku berhenti
mencoba bertahan padamu, tanpa kau pahami betapa galaunya hatiku dengan segala
pengabaianmu, aku perlu kau yakinkan saat itu, tapi kenapa malah kau yang jadi
tak yakin padaku? Malah kamu yang mau lihat perubahanku? Bukankah aku yang
sedang gundah dengan perubahan sikapmu yang drastis, yang seolah tak peduli
lagi padaku? Aku yang perlu diyakinkan, setidaknya kita sama sama meyakinkan.
Harusnya kamu meyakinkan aku kalau memang kamu butuh aku. Tapi kamu malah
bilang kalaupun kita tak saling bersama lagi, kita akan terbiasa kok nantinya.
Kata itu menusuk, terngiang ngiang dan membuatku tambah ragu, kalau aku tidak
benar benar spesial di matamu. Yup, tapi kamu benar, memang sekarang kamu telah
terbiasa, bahkan sudah terbiasa mencintai yang lain, aku memang tak terlalu
spesial di matamu.Tapi semua itu sudah berlalu. Kini aku tau,
apalah arti aku menunggu jika kamu tak cinta lagi. Ternyata cintamu tak sekuat
kata-katamu waktu itu, tak sekuat yang ku kira.
Sekarang waktunya bagiku menutup semua kisah
yang telah lalu, tenang saja, aku tak akan memintamu kembali, karena aku tulus
mencintaimu, bukan hanya sekedar ingin memilikimu. Lakukanlah apa yang kau mau,
asal kau bahagia. Mungkin bahagiamu memang bukan bahagiaku. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk saling membahagiakan.

</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-29 11:15:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72646458</guid>
      </item>
      <item>
         <title>nama : nur adinda permata sari</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72646825</link>
         <description><![CDATA[cerpen percintaan<br>nilai: <br><p>Pagi hari,
yang cerah. Semua masih sama seperti biasanya. Namaku masih tetap Laila, masih
tetap duduk di kelas 9. Dan masih bersekolah di SMP Muhammadiyah 1 Yogyakarta.
Rumah dan keluargaku juga masih sama.<br>
<br>
Hanya satu yang berbeda, hatiku. Hatiku sedang hancur, mendapat kabar buruk
dari penghibur hatiku. Yang nyatanya, dia hanya memberikan harapan palsu, saja.
Bukan ‘perhatian’ yang ku kira.<br>
“Ngelamun aja, yuk kantin”, sapa sahabat terdekatku, Minda.<br>
“Haha, yuk!”, aku spontan tertawa kecil, karena ‘merasa’ dikagetkan.<br>
Halaman sekolahku tidak begitu luas, tapi sekarang, jaraknya terasa sangat
jauh. Saat Minda menanyakan; Kenapa aku ‘galau’ ?</p>
<table>
 <tbody>
</tbody></table>
<p>Aku hanya
diam, aku yakin dia sudah tau apa alasannya. Kemarin aku uda luapkan semua
cerita dan kesedihanku sama dia, bahkan tangisku..<br>
“Udahlah gak usah terlalu dipikirin. Kita uda mau ujian lho La, semangat! Kamu
pasti bisa La, kamu kuat”, ucap Minda menyemangatiku, saat ke luar dari kelas.
Karena sedari tadi aku hanya diam. Tetep aja, aku diem dan hanya membalasnya
dengan senyuman.<br>
“Iya La, nanti ga bisa masuk SMADA, mati kau!”, canda Azza, yang juga
sahabatku. Ini sangat menggelikan. Aku dan semua sahabatku, sontak tertawa. Dia
memang sahabat yang paling berbeda dari yang lain. Dia sangat humoris. Dia-lah
perncair suasana kita.<br>
“Yuk balik, udah bel tuh. Denger ngga?”, ajak Azza kepadaku dan yang lainnya,
dengan nada semangat.<br>
“Yuk”, jawab kita serempak dan disertai dengan anggukan dari yang lain.<br>
“Ma-te-ma-ti-ka”, begitulah aku mengeja kata yang tertempel di sampul buku
tulis berwarna cokelat ini.<br>
Seperti biasanya, kami berkelompok untuk mengerjakan beberapa soal untuk
persiapan ujian. Nama kelompok ku Fidayodela, terdiri dari beberapa anak kece;
Fitri, Dava, Yovie, Desthi dan aku, Laila. Menurut penglihatan temen-temen dari
kelompok yang lain, kelompok ku adalah yang ternyaman! Karena kami konsekuen
dengan hak dan kewajiban kami. Saatnya serius kita konsentrasi, saatnya free
kita bener-bener gila. Pokoknya nyaman dan nyenengin kok!<br>
Seperti hari biasanya, aku sama temen-temen pulang naik bus, angkutan umum.
Tapi, aku ngerasa ada yang beda dari biasanya, semua temen-temenku dari tadi
senyum dan ketawa ga jelas. Mencurigakan. Yakin, pasti ada yang mereka
sembunyiin.<br>
<br>
Ini lagi.. Aku ngga ngerti sama perilaku Minda, yang ini. Dia mau duduk bentar
di tengah jalan mau ke halte. Aku sih nurut aja. Awalnya, aku cuman fokus sama
cemilan di tanganku ini. Tapi kok, tiba-tiba...<br>
“Ada yang dateng! Aku mau pergi! Aku ngga mau di sini! Aku benci dia!”, teriak
ku dalam hati. Sekarang, aku telah melahap habis cemilanku. Bingung asli, mau
ngapain. Fix, aku salting.<br>
“Minda, ayo pulang..”, kataku sama Minda yang baru asyik ngobrol sama temen
yang lain.<br>
“Nanti dulu ah La”, jawab Minda, santai. Dia bener-bener gak mikirin aku yang
dari tadi salting, dan muak liat...<br>
“Gawat! Ini bener-bener gawat. Tuhan...”, aku pengen teriak
sekenceng-kencengnya, berharap temen-temen denger dan bakal segera pulang.<br>
<br>
Entah kapan waktu uda mulai berdetik, dia... Iya, dia. Fauzan. Uda turun dari
sepedanya dan sekarang jalan, menghampiri aku.<br>
“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, boleh?”, ujarnya dengan nada lembut dan
tanpa ku sadari, aku mengangguk.<br>
Aku lihat sekelilingku. Masih sama, masih temen-temenku aja yang di sini. Dan
masih saja, mereka sibuk ngobrol. Seperti tidak tau, aku ‘akan’ ngobrol sama
Fauzan. Atau mungkin berpura-pura tak tau(?)<br>
<br>
Aku duduk. Tepat di depan dia berdiri. Capek tau berdiri.<br>
“Aku suka sama kamu, aku cinta sama kamu”, kata Fauzan dengan singkat. Jelas.
Mendarat tepat di telinga. Mengebom hatiku. Meledaklah, duar!<br>
Sekejap aku mengangkat pandanganku yang sedari tadi melihat ke bawah. Aku diam,
menatapnya. Aku usir pandanganku ke sekitar. Aku makin diem, bahkan sekarang
aku membelakkan mata. Hampir semua teman satu kelas aku, di sini. Ngeliat ini.
Rasaku amburadul.<br>
<br>
Aku ngga pernah nyangka, ternyata dia memendam ini(?) pengen banget aku bilang
ke dia, “Maafin aku yang udah buruk sangka sama kamu. Aku uda ngira, kamu cinta
sama orang lain dan menganggapku cuman sebagai pelampiasan kamu”. Tapi ku
urungkan niatku.<br>
“Aku juga cinta sama kamu”, jawabku lirih. Agar tak ada temen yang denger.
Ternyata hipotesaku nol. Temen-temen uda tukeran telinga sama kelelawar. Mereka
semua denger. Semua teriak, menggodaku.<br>
“Mau ngga jadi pacarku?”, katanya dengan singkat di tengah-tengah teriakan
temen-temen. Lalu semua diam. Aku melihatnya, lebih lekat. Aku lihat ada
harapan besar di matanya.<br>
Aku menunduk, lagi. Aku ngga tau harus berkata apa. Aku punya prinsip, ngga mau
pacaran selama aku belum memiliki ‘ikatan suci’.<br>
<br>
Tapi, di samping itu.. Aku juga pengen hangout, makan bareng dan seneng-seneng
yang lain, sama lawan jenis. Aku pasti bahagia. Dunia ini milik aku. Karena,
cinta datang dengan senyum kecil yang sangat manis.<br>
“Min...da?”, kataku dengan memberikan isyarat bahwa aku membutuhkan solusi.<br>
“Udah, terima aja Lai!”, ujar Yulia bersemangat.<br>
“Iya, nanti nyesel loh”, ujar Fitri dengan senyum manisnya.<br>
<br>
Semua temanku pun berujar...<br>
“Terima aja, anggap ini cuman ‘status’. Kamu masih bisa jaga diri kamu. Tetap
istiqomah sama prinsip kamu. Aku yakin, pasti Fauzan bakal ngebantu kamu buat
jaga prinsip kamu. Dia ngga mungkin nyakitin kamu”, bisik Minda.<br>
Aku peluk dia, erat.<br>
“Iya, aku mau”, jawabku dengan senyum kecil untuknya. Semua temen-temen teriak,
gempar.<br>
Akhirnya, aku berlalu dari dia. Kami berjalan menuju halte, tempat kita biasa
nunggu bus.<br>
Aku seneng, aku sangat bersyukur kepada Allah. Semoga Allah ngga marah sama
aku. Aku bisa miliki cinta di hati aku dengan sebuah jawaban pasti. Aku sangat
menikmati hidup dengan cinta yang aku punya, dengan Fauzan. Indah...</p>
<br>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-29 11:17:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72646825</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama: Sarah Pauline PutriHardi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72647587</link>
         <description><![CDATA[<blockquote style="margin: 0 0 0 40px; border: none; padding: 0px;"><blockquote style="margin: 0 0 0 40px; border: none; padding: 0px;"><blockquote style="margin: 0 0 0 40px; border: none; padding: 0px;"><blockquote style="margin: 0 0 0 40px; border: none; padding: 0px;"><p>Tugas : CERPEN</p></blockquote></blockquote></blockquote></blockquote><blockquote style="margin: 0 0 0 40px; border: none; padding: 0px;"><blockquote style="margin: 0 0 0 40px; border: none; padding: 0px;"><blockquote style="margin: 0 0 0 40px; border: none; padding: 0px;"><blockquote style="margin: 0 0 0 40px; border: none; padding: 0px;"><blockquote style="margin: 0 0 0 40px; border: none; padding: 0px;"><p><span style="font-size: 13px; color: rgb(102, 102, 102);">

THE WALKING DEAD</span></p></blockquote></blockquote></blockquote></blockquote></blockquote><p><span style="color: rgb(102, 102, 102); font-size: 13px;">
pada hari itu saya pergi ke supermarket untuk membeli barang-barang kebutuhan yang kurang waktu saya mengambil sebuah minuman saya melihat seorang wanita yang berjalan yang sangat aneh sambil menundukkan kepalanya. saya menghampirinya. saya bertanya. " anda kenapa? apakah anda baik-baik saja ? " pada saat aku selesai bertanya tiba-tiba wanita itu menyerangku akupun panik dan melemparkan barang belanjaanku ke arahnya  itu langsung berlali ke arahku aku panik. akupun berteriak " ada apa ini !" sepontan saja aku menelpon polisi dan dari arah kanan seorang pria berprilaku yang sama aku langsung mengambil palu tepat di sebelahku dan langsung menyerang pria tersebut, setelah menyerang aku lari ke pintu exit. aku terkejut melihat sekelilingku ternyata banyak sekali manusia mati setengah hidup aku bingung mau berlari ke arah mana. dengan palu yang aku pegang ini aku berfikir tidak mungkin aku melawan zombie itu dengan palu ini, zombie itu sangat banyak dan merasa sangat kelaparan. dan aku pun kembali ke dalam supermarket itu untuk mencari jalan keluar . tentu saja aku mencari pintu cadangan dan ternyata tidak ada zombie disana aku selamat dan kembali pulang . anehnya banyak darah di dalam rumahku  . aku mencari hewan peliharaanku. aku melihat hewan peliharaanku telah dimakan oleh zombie. aku terdiam. dari belakang ada yang menyerang dan menggigitku. dan virus zombie itu tertular.</span></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-29 11:23:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72647587</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tarina putri</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72647668</link>
         <description><![CDATA[<p>Tugas : Cerpen <br></p><p>

<p>Gak terasa gue udah SMP. Di SMP gue milih untuk ekskul basket . Saat itu gue
baru tahu dia. Ya dia namanya adri . Dan gue baru tahu kalau dia anak 7-7 kelas
sebelah. Gue masih inget banget kata-kata yang pertama kali gue ucapin ke dia.<br>
“Woy, baris woy” ucap adri.<br>
“ini udah baris” ucap gue.<br>
“Gue gak ngomong sama lo” ucap adri.</p>

<p>Di saat itu gue kesel banget. Tapi lama-lama perasaan itu mulai muncul. Gue
sering banget curhat sama sahabat gue, namanya devi . Pdkt pertama gue ketika
gue follow twitternya. Devi adalah orang yang paling baik yang pernah gue
kenal. Akhirnya gue kirim pesan ke adri .<br>
“Hy” kata gue,.<br>
“ini siapa?” kata dia.<br>
“tarina” kata gue.</p>

<p>Habis itu dia gak bales. Gue curhat sama devi , akhirnya gue dapet pin bb
adri, terus langsung diaccept sama dia. Akhirnya gue bbm-an sama dia, setelah
lama gue bbm-an, gue ngerasa nyaman banget sama dia. Dia cowok terbaik yang
pernah gue kenal. Sampai pada suatu hari gue ngeberaniin diri untuk ungkapin
perasaan yang selama ini gue pendam. Gue “Ping!!!”<br>
“iya?” Kata dia.<br>
“boleh ngomong sesuatu gak” kata gue.<br>
“boleh” kata dia.<br>
“I love you” kata gue.<br>
“Hah, eh sorry nih gue udah taken, maaf ya” kata dia.</p>

<p>Gue gak bisa berkata apa-apa hanya sakit yang gue rasakan. Gue hanya bisa
meneteskan air mata di kamar gue. Kenapa? Gue bagaikan orang bodoh yang gak ada
gunanya. Kenapa gue harus mengalami semua ini? Kenapa? Sekarang hanya sakit
yang gue rasakan. Walaupun bagi dia kata-kata itu biasa, tapi begitu sakit gue
rasakan. Memang gue manusia bodoh. Mungkin dia bahagia dengan pacarnya yang
sekarang. Apakah gue bahagia melihat orang yang sangat gue cintai bersama orang
lain? gak, yang gue rasakan saat ini hanya sakit dan sakit.</p>

<p>Pada saat itu gue gak berani bbm-an lagi sama dia. Gue takut perkataan gue
salah dan pasti gue akan ngerasain hal itu lagi. Harus berapa banyak air mata
yang ku buang untuk mengobati hati gue? tidak ada yang bisa mengobati hati gue.
Hari demi hari gue laluin tanpa lo di hati gue. Mungkin gue ditakdirkan memang
gak berjodoh sama dia. Sekarang aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan. Tapi
gue pengen banget nunjukin rasa sayang gue ke lo, bahwa rasa gue ini tulus buat
lo. Gue tahu masih banyak cowok yang lebih baik dari lo. Tapi cuma lo yang bisa
bikin gue nyaman. Mungkin bagi lo gue bukan siapa-siapa, tapi bagi gue lo
adalah orang yang sangat berarti.</p>

<p>Tapi betul kata sahabat gue indah, “Kalau kamu mau ngerasain cinta, kamu
juga harus siap untuk sakit”. Tapi gue sangat sayang sama dia. Andai dia dapat
merasakan apa yang gue rasakan saat ini, pasti rasanya sakit banget. Gak ada
yang bisa mengobati luka ini kecuali diobati dengan orang melukainya. Sampai
sekarang gue belum bisa ngelupain dia. Tapi gue gak mau jika suatu saat nanti
dia tiba-tiba datang, seakan-akan tidak pernah ada rasa bersalah di dalam
hatinya.</p>

<p>Semuanya terlalu indah untuk dikenang. Mungkin bagi dia itu semua gak indah,
tapi bagi gue semua itu indah. Tidak terasa sudah 3 bulan yang lalu kejadian
itu terjadi. Tapi sampai saat ini aku masih menunggu sesuatu yang tidak pasti.
Akhirnya temen gue indah berusaha untuk bicara kepada dia.<br>
“apakah lo mau ngebuka pintu hati lo buat tari? Tari masih nunggu lo, kata
indah, ”<br>
“gue gak boleh pacaran sama Mama gue, nanti deh kalau gue berubah pikiran gue
kasih tahu lo” kata adri. </p>

<p>Apakah semua itu hanya alasan agar dia gak pacaran dengan gue. Kalau dia
memang gak cinta dan gak sayang sama gue bilang aja. Percuma nanti kalau gue
pacaran sama dia, tapi dianya gak cinta dan gak sayang. Itu namanya dia kasihan
sama gue. Gue cuma mau satu dari dia, gue pengen dia jujur tentang perasaannya.
Dan sekarang gue tau satu hal, “Bahwa dia cuma anggap gue sebagai teman, gak
lebih”</p>

<p>Suatu saat nanti dia akan merasakan disia-siakan. Tapi sebenarnya gue gak
mau dia merasakan apa yang sekarang gue rasakan. Tapi pasti semua orang di
dunia ini akan merasakan itu semua. Rasanya menunggu orang yang sangat dia
cintai. Mungkin gue bagi lo memang gak berarti lagi, tapi doa gue selalu
menyertai ke manapun lo pergi. Dan pada akhirnya gue cuma bisa memendam
semuanya, walaupun dia sudah tahu tentang perasaan ini. Sekarang gue cuma
kehilangan orang yang tidak mencintai gue, sementara dia kehilangan orang yang
sangat mencintainya dengan tulus yaitu gue.</p>

<p>Akhirnya dia tidak akan menjadi milikku. Sekarang aku membulatkan tekad untuk
melupakannya, tetapi tetap saja tidak bisa. Tapi perjalanan gue masih panjang
banget, gue gak mau cuma gara-gara ini gue kenapa-kenapa. Gue pengen lo
menghargai perasaan gue ke lo. “I still love you”</p>

<p>Tamat</p>

</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-29 11:23:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72647668</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Muhammad Rachmadani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72647751</link>
         <description><![CDATA[<p>tugas : cerpen <br></p><p><p>                                                        Cinta Monyetku<br></p><p>Aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu. Tapi aku tak mampu untuk
 ungkapkan rasaku padamu karena sahabatku juga menyukaimu. Aku pendam 
perasaan ini sampai kita lulus dari SMP. Sejak kelulusan itu kita tak 
pernah berjumpa lagi. Kamu tahu, meskipun kita tak saling jumpa tapi 
perasaan itu masih ada di dalam hatiku.</p>
<p>Sampai suatu hari tanpa sengaja kita satu angkot sewaktu pulang 
sekolah. Yah, sekolahmu dan sekolahku memang berdekatan tapi sayang kita
 tak pernah bertemu. Kamu tahu, betapa senangnya aku saat kembali 
bertemu padamu.<br>
“Ikaaa…” sapamu riang di dalam angkot<br>
“Hai Pit…” sahutku riang. Kita pun saling ngobrol dengan riangnya. 
Hingga saat kamu sampai tujuan, rasanya aku tak ingin berpisah denganmu.</p>
<p>Yah, Sipit itulah nama kesayanganku padamu. Sampai kapanpun nama itu 
akan selalu terukir di dalam hatiku. Sejak pertemuan itu, aku sudah tak 
pernah bertemu lagi denganmu. Rasa rindu di hatiku, aku pendam 
dalam-dalam. Aku berusaha mengalihkan pikiranku tentangmu dengan 
mengikuti semua ekskul di sekolahku. Ternyata aku sanggup melupakanmu.</p>
<p>Hingga suatu hari kita pun tanpa sengaja bertemu lagi di jalan. Entah
 kenapa jantungku masih berdegub cepat ketika bertemu denganmu. Kamu 
juga pernah berkata padaku “Kamu kelihatan lebih feminim sekarang”. Yah,
 kamu memuji imageku yang sekarang. Karena dulu sewaktu SMP, aku 
merupakan cewek yang tomboy. “Gimana gak, feminim coba kalau akunya 
sekolah di SMK Jurusan Pariwisata lagi hehehehehe” candaku saat itu. 
“Aku suka melihatmu berubah” kata terakhirmu untukku sebelum kita 
berpisah. Kamu tahu, aku bahagia sekali mendengar pujianmu itu. Tapi 
sayang setelah kita sama sama lulus dari SMK, aku tak pernah lagi 
bertemu bahkan mendengar kabarmu.</p>
<p>Tiga bulan kemudian baru aku ketahui ternyata, kamu sudah pergi jauh 
ke kalimantan untuk bekerja disana. Betapa sedih hatiku saat itu. Aku 
patah hati sebelum aku ungkapkan semua perasaanku padamu.<br>
Hingga tiga tahun lamanya aku menutup diriku untuk orang lain. Hingga 
pada suatu saat aku diperkenalkan seorang cowok yang baik oleh saudara 
sepupuku. Enam bulan lamanya kita menjalani masa PDKT. Dan pada bulan 
Januari 2008 tepatnya jam 12 malam, cowok itu mengungkapkan perasaan 
sukanya padaku. Kamu tahu, aku pun diambang dilema saat itu. Tapi aku 
berusaha untuk mencoba membuka hatiku untuknya. Ternyata dialah jodohku 
yang diciptakan ALLAH SWT untuk mengobati patah hatiku karena 
kepergianmu.</p>
<p>Dua tahun kemudian dia pun meminangku dan sejak itu aku sama sekali 
berusaha untuk melupakanmu untuk selama-lamanya. Alhamdulilah sekarang 
aku telah bahagia dengan keluarga kecilku. Tapi aku masih selalu 
berharap dan berdoa semoga kamu dapatkan jodoh yang lebih baik dari aku.
 Dan hidupmu bahagia sama seperti hidupku saat ini.</p></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-29 11:24:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72647751</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Ricky Prasojo Bhagaskoro Atma Putra</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72658248</link>
         <description><![CDATA[<blockquote style="margin: 0 0 0 40px; border: none; padding: 0px;"><blockquote style="margin: 0 0 0 40px; border: none; padding: 0px;"><blockquote style="margin: 0 0 0 40px; border: none; padding: 0px;"><blockquote style="margin: 0 0 0 40px; border: none; padding: 0px;"><p><p>Cinta&nbsp;yang&nbsp;Menjadi&nbsp;Persahabatan</p></p></blockquote></blockquote></blockquote></blockquote><p><p>Saya&nbsp;belum&nbsp;pernah&nbsp;merasakan&nbsp;cinta&nbsp;pertama&nbsp;bahkan&nbsp;ketika&nbsp;aku&nbsp;sedang&nbsp;belajar&nbsp;di&nbsp;SMA.&nbsp;Saya&nbsp;tidak&nbsp;tahu&nbsp;mengapa&nbsp;hal&nbsp;itu&nbsp;terjadi,&nbsp;mungkin&nbsp;karena&nbsp;saya&nbsp;terlalu&nbsp;banyak&nbsp;belajar&nbsp;ketika&nbsp;di&nbsp;waktu&nbsp;SMP&nbsp;jadi&nbsp;saya&nbsp;tidak&nbsp;pernah&nbsp;menemukan&nbsp;cinta&nbsp;yang&nbsp;benar-benar&nbsp;mengesankan.&nbsp;Ketika&nbsp;awalan&nbsp;masuk&nbsp;SMA,&nbsp;cinta&nbsp;tidak&nbsp;datang&nbsp;karena&nbsp;sibuk&nbsp;dengan&nbsp;berbagai&nbsp;kegiatan&nbsp;di&nbsp;Sekolah&nbsp;dan&nbsp;bersemangat&nbsp;untuk&nbsp;mengejar&nbsp;nilai&nbsp;Tertinggi&nbsp;di&nbsp;kelas.&nbsp;Saya&nbsp;juga&nbsp;tdak&nbsp;terlalu&nbsp;tertarik&nbsp;pada&nbsp;anak&nbsp;perempuan&nbsp;di&nbsp;sekitar&nbsp;saya.</p><p>Pada&nbsp;awal&nbsp;masuk&nbsp;SMA,&nbsp;ada&nbsp;benar-benar&nbsp;seorang&nbsp;gadis&nbsp;yang&nbsp;tampak&nbsp;memiliki&nbsp;minat&nbsp;saya.&nbsp;Dia&nbsp;mulai&nbsp;memberikan&nbsp;pesan&nbsp;singkat&nbsp;pada&nbsp;dasarnya&nbsp;yang&nbsp;ingin&nbsp;mengenal&nbsp;saya&nbsp;lebih.&nbsp;Dia&nbsp;terus&nbsp;menyambut&nbsp;saya&nbsp;melalui&nbsp;pesan&nbsp;singkat.&nbsp;Anehnya,&nbsp;dia&nbsp;tidak&nbsp;menyebutkan&nbsp;nama&nbsp;sebenarnya&nbsp;dan&nbsp;hanya&nbsp;menyebutkan&nbsp;inisial.&nbsp;Aku&nbsp;digunakan&nbsp;untuk&nbsp;menanggapi&nbsp;pesan&nbsp;teks&nbsp;tanpa&nbsp;mengetahui&nbsp;identitas&nbsp;orang&nbsp;yang&nbsp;mengirim.&nbsp;Beberapa&nbsp;kali&nbsp;saya&nbsp;berbicara&nbsp;dengannya&nbsp;tentang&nbsp;beberapa&nbsp;hal&nbsp;melalui&nbsp;pesan&nbsp;singkat.&nbsp;Namun,&nbsp;aku&nbsp;punya&nbsp;rasa&nbsp;bosan&nbsp;dengan&nbsp;situasi&nbsp;dan&nbsp;bersemangat&nbsp;untuk&nbsp;mencari&nbsp;tahu&nbsp;nama&nbsp;sebenarnya.</p><p>Saya&nbsp;tidak&nbsp;suka&nbsp;orang-orang&nbsp;yang&nbsp;terus&nbsp;menyembunyikan&nbsp;identitas&nbsp;dan&nbsp;jadi&nbsp;penasaran&nbsp;ingin&nbsp;tahu.&nbsp;Suatu&nbsp;kali,&nbsp;aku&nbsp;tahu&nbsp;karena&nbsp;aku&nbsp;memanggilnya&nbsp;melalui&nbsp;telepon.&nbsp;Saya&nbsp;tidak&nbsp;jauh&nbsp;dari&nbsp;dia,&nbsp;dan&nbsp;dia&nbsp;menyadari&nbsp;bahwa&nbsp;saya&nbsp;sedang&nbsp;berbicara&nbsp;di&nbsp;telepon.&nbsp;Dia&nbsp;sangat&nbsp;pemalu&nbsp;dan&nbsp;tidak&nbsp;ingin&nbsp;menyapa&nbsp;lagi&nbsp;dengan&nbsp;saya&nbsp;melalui&nbsp;pesan&nbsp;teks&nbsp;di&nbsp;ponsel.</p><p>ini cuman Cerpen Karangan Saya, dan bukan pengalaman saya hehe...</p></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-29 12:23:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72658248</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Eko Setio Wijanarko</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72660883</link>
         <description><![CDATA[<pre>Tugas Cerpen


</pre><p><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;" id="docs-internal-guid-5e9d86c8-1917-533e-9d16-973ab68ec685">BOLOS SEKOLAH</span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"><br class="kix-line-break"></span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"><br class="kix-line-break"></span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"> Adzan Maghrib pun berkumandang. Fikri segera melaksanakan sholat maghrib berjamaah bersama Ibunya. Setelah melaksanaka sholat maghrib ia meminta doa kepada Allah agar dia kelak saat dewasa nanti menjadi orang shaleh dan menjadi orang yang sukses. Dia juga tidak lupa untuk mendoakan ayahnya yang telah meinggal saat Fikri masih kecil. Karena sejak saat itu Ibunya Fikri menjadi tulang punggung dengan bekerja sebagai Karyawan swasta di sebuah perusahaan ternama.</span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"><br class="kix-line-break"></span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"><br class="kix-line-break"></span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;">Keesokan harinya, Fikri dan teman – temannya berjanji untuk bermain sepak bola di lapangan depan perumahan mereka. “Ibu, Fikri izin bermain sepak bola dulu ya bu?.” Izin Fikri kepada ibunya. “Iya, kamu boleh bermain sepak bola asalkan, sebelum maghrib sudah sampai di rumah.” Jawab ibu kepada Fikri. “Iya, Fikri janji bu.” sahut Fikri kepada ibunya. Fikri pun langsung pergi meninggalkan rumah dengan mengendarai sepedanya menyusuri jalan perumahan yang basah karena hujan baru saja mengguyur tempat itu.</span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"><br class="kix-line-break"></span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"><br class="kix-line-break"></span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;">Saat tiba di lapangan ternyata teman-teman Fikri sudah menunggunya sejak tadi. ‘’Itu dia si Fikri.” Kata Badu sambil menunjuk ke arah Fikri. “Oh, iya itu dia baru datang.” Kata Doni sambil melihat ke arah Fikri. Fikri melihat teman-temannya dari kejauhan, Fikri berpikir pasti teman-temannya tak sabar untuk bermain bola bersama dia. “Maaf, aku telat sudah membuat kalian menunggu lama..” Kata Fikri minta maaf kepada temannya. “Iya Fik, tidak apa-apa lagipula kita tidak buru-buru mau bermain sepak bola.” Sahut Badu kepada Fikri. “Iya, benar kata Badu.” Sahut Doni. “ Jadi kan kita bermain sepak bola?” tanya Fikri kepada teman-temannya. “Jadi, ayo kita bermain sepak bola!” seru Doni kepada teman-temannya. Permainan pun berlansung dengan seru. Tiba-tiba Doni tidak sengaja menyenggol kaki kanan Fikri sehingga dia terjatuh. “Kamu tidak apa – apa kan Fikri?” tanya doni sambil membantu Fikri untuk berdiri. “Ng..Nggak apa-apa.” Jawab Fikri sambil menahan rasa sakit di kaki kanannya. “Sudah lebih baik kita berhenti saja bermain bolanya.” Kata Badu kepada teman-temannya. “Fik, bagaimana kalau aku mengantar kamu pulang?.” tanya Doni kepada Fikri. “Iya, boleh” jawab Fikri kepada Doni. Akhirnya permainan mereka pun selesai. Fikri diantar pulang oleh Doni karena kaki kanan Fikri yang tidak bisa mengendarai sepeda sedangkan Badu pulang sendiri ke rumahnya.</span><br></p><p><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"><br></span></p><p><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;" id="docs-internal-guid-5e9d86c8-1918-73b1-8bb7-ce79def1cdd1">Sesampai tiba di depan rumah Fikri, dia langsung berterima kasih kepada Doni karena Doni telah mengantarkan Fikri ke rumahnya. “Don, maaf sudah membuat kamu repot mengantarkan aku ke rumah.” Permintaan maaf Fikri kepada Doni. “tidak apa – apa Fik lagipula kan aku sudah membuat kaki kanan kamu terluka tadi saat bermain sepak bola seharusnya aku yang minta maaf bukan kamu.” Jawab Doni kepada Fikri. “Iya aku sudah maafin kamu kok, terima kasih Fik sudah antar aku ke rumah.” Sahut Fikri. “Iya, sudah ya Fik aku mau pulang ke rumah dulu nanti dimarahi oleh Ibu kalau pulang setelah maghrib.” Pamitnya kepada Fikri. “Iya, hati-hati di jalan. “ Sahutnya</span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"><br class="kix-line-break"></span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"><br class="kix-line-break"></span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;">Fikri pun masuk rumah sambil menahan rasa sakit pada kaki kanannya. “Assalamualaikum bu, Fikri pulang.” Salamnya sambil membuka pintu rumah. “Wallaikumsalam, akhirnya kamu pulang juga ibu sudah siapkan makanan buat makan malam.” Jawab Ibu kepada Fikri. “I..iya bu.” Kata fikri sambil menahan rasa sakit pada kakinya. “Kaki kamu kenapa Fik?” tanya Ibu kepada Fikri. “Iya bu ini tadi Doni tidak sengaja menyenggol kaki Fikri sampai aku terjatuh.” Jawab Fikri kepada Ibunya. “Oh, ya sudah sana mandi setelah itu obati luka yang ada pada kakimu.” Jawab Ibu kepada Fikri. “Baik bu.” Sahut Fikri kepada ibunya.</span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"><br class="kix-line-break"></span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;">Setelah Fikri melaksanakan Sholat maghrib ia pun langsung bergegas menuju ke ruang makan dan menyantap makan malam itu. “ Fik, bagaimana masakan ibu enak tidak?.” Tanya ibu kepada Fikri. “Alhamdulillah, enak bu.” jawabnya. “Oh iya Fik ibu punya hadiah buat kamu.” Kata ibu. “Hadiah apa bu?” tanya Fikri kepada ibunya. Ibunya segera mengeluarkan sebungkus kotak yang masih terbungkus dengan rapih. “Ini ibu membelikan kamu sebuah ponsel kebetulan ibu dapet rejeki hari ini.” kata Ibu sambil memberikan ponsel kepada Fikri. “Terima kasih bu, Fikri berjanji setelah dibelikan ponsel Fikri akan lebih giat lagi dalam belajar.” Sahutnya. “Bagus Fikri Ibu suka kalau kamu akan lebih giat lagi setelah kamu diberikan ponsel baru.</span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"><br></span></p><p><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"><br></span></p><p><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;" id="docs-internal-guid-5e9d86c8-1918-fd44-c55e-d7c2d3c5896d">Keesokan harinya saat Fikri tiba di sekolah, Kelas sudah mulai rame tidak seperti biasanya. Suasana kelas bercampur aduk ada yang sedang mengobrol dan ada pula yang sedang bermain ponsel dengan asiknya. “Hai Fikri.” Panggil Rio kepada Fikri teman sebangkunya. Fikri pun lansung duduk disebelah Rio. Bel masuk pun telah berbunyi dan pelajaran pun akan dimulai. Pelajaran pertama yaitu kimia oleh Bapak Widi. Beliau pun masuk lalu menyuruh ketua kelas untuk memimpin doa. Saat pelajaran dimulai Rio hanya fokus kepada ponselnya saja. “Rio,sstt Rio udah berhenti main ponselnya.” tegur Fikri kepada Rio dengan nada pelan. “Kenapa?, tanggung ini lagi seru mainnya.” Jawab Rio. “Nanti kamu kena marah sama pak guru.” Tegur Fikri kepada Rio. Ternyata diam-diam Pak Widi memperhatikan mereka yang sedang berbisik-bisik itu. “Fikri dan Rio apa yang sedang kalian bicarakan? Dari tadi kalian hanya berbicara saja.” tegur Pak Widi kepada mereka berdua. “Nggh ini pak si Rio.. si Rio..” jawab Fikri dengan rag-ragu. “Ada apa dengan Rio, Fikri?” potongnya. “Si Fikri dari tadi tidak memperhatikan selama Bapak menjelaskan tadi.” jawab Fikri. “Apa benar Rio kamu tidak memperhatikan pada saat Bapak menjelaskan di papan tulis tadi?” tanya Pak Widi kepada Rio. “I..iya pak.” jawab Rio dengan terbata-terbata. Tanpa pikir panjang Pak Widi segera bergegas menuju tempat duduk mereka berdua. “Coba keluarkan ponselmu.” Tegur Pak Widi kepada Rio dengan nada marah. “B.. Baik ini pak.” sahutnya Rio sambil megeluarkan ponsel dan memberinya kepada Pak Widi. “Pasti ponsel ini yang membuat kamu tidak memperhatikan Bapak tadi, benar bukan?” tanya Pak Widi, “Iya pak.” jawabnya dengan lesu dan menahan malu. “Mulai hari ini Bapak akan memegang sementara ponsel ini kalau kamu ingin ponsel ini kembali, temui Bapak bersama orang tua kamu besok di ruang guru.” kata Pak Widi dengan tegas. Pak Widi pun langsung melanjutkan pelajaran hingga bel istirahat berbunyi.</span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"><br></span></p><p><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"><br></span></p><p><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;" id="docs-internal-guid-5e9d86c8-1919-65fe-5812-7bffa0cd2d64">Bel istirahat pun berbunyi, Pelajaran Pak Widi pun selesai. Semua siswa keluar kelas untuk menuju ke kantin. Tapi tidak dengan Rio dia hanya tertunduk lesu dan lemas mungkin karena ponsel dia disita oleh Pak Widi. “Kamu kenapa Rio dari tadi kok lemas?” tanya Fikri. “Iya, aku malu kalau sampai besok orang tua aku harus menghadap Pak Widi apalagi masalahnya tentang ponsel tadi.” jawab Rio dengan nada agak kesal. “Oh, soal tadi lagian kamu kenapa tidak mau dengar nasihat aku tadi jadi ponsel kamu disita.” jawab Fikri kepada Rio. “Tadi itu aku sedang keasikan kirim pesan sama teman lama aku.” jawab Rio. “Ya sudah kamu bilang aja ke orang tua kamu tentang masalah ini secara baik-baik siapa tahu orang tua kamu bisa mengerti maksud kamu tanpa harus marah-marah.” sahut Fikri. “Tidak tahu lah , aku pusing mikirin soal masalah ini.” jawab Rio sambil meninggalkan Fikri. Bel masuk pun berbunyi, selama pelajaran berlangsung tampak dari muka Rio yang murung karena memikirkan masalah yang tadi bagaimana dia harus memberitahu masalah itu kepada orang tuanya karena kedua orang tua Rio bekerja di luar negeri bahkan saat pengambilan hasil nilai semester lalu pun di wakilkan oleh bibinya. Bel pulang pun berbunyi Fikri lansung bergegas pulang ke rumahnya.</span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"><br></span></p><p><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"><br></span></p><p><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;" id="docs-internal-guid-5e9d86c8-1919-eab9-7516-b6faa5cb5ffe">Keesokan harinya, bel masuk pun sudah berbunyi tetapi Rio belum datang ke sekolah. tidak ada yang tahu kabar Rio apakah dia sakit atau izin yang jelas Rio tidak datang ke sekolah hari ini. Saat bel istirahat pun Pak Widi juga menanyakan kepada teman – teman di kelas mengapa Rio tidak datang sekolah padahal hari ini dia mempunyai janji untuk membawa orang tua Rio ke sekolah. Akhirnya Fikri memutuskan untuk ke rumah Rio seusai pulang sekolah bersama Badu dan Doni.</span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"><br class="kix-line-break"></span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"><br class="kix-line-break"></span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;">Bel pulang pun telah berbunyi. Fikri,Badu dan Doni berniat untuk mengunjungi rumah Rio. Saat tiba di rumah Rio, Fikri pun langsung menekan bel yang ada di depan pagar ruamah Rio. “Assalamualaikum, Rio!” panggil Fikri dengan nada keras. “Wallaikumsalam, eh ada Fikri,Badu dan Doni. Ayo, silakan masuk!” ajaknya Bibi kepada mereka. “Terima kasih bi, tidak usah masuk takut ngerepotin bibi.” jawab Badu kepada Bibi. “Sebenarnya ke datangan kami kesini untuk menanyakan mengapa Rio tidak masuk ke sekolah hari ini, memang mengapa Rio tidak masuk ke sekolah hari ini?” tanya Doni kepada Bibi. “Lho, bukannya hari ini Rio datang ke sekolah?” jawab Bibi dengan kaget. “Tidak bi, seharian ini Rio tidak datang ke sekolah padahal Pak Widi menayakan kabar Rio.” jawab Fikri. “Tadi pagi Rio sudah izin kepada bibi sambil mengenakan seragam sekolah.” jawab Bibi. “Tapi kami tidak melihat Rio, bi padahal Rio sudah punya janji untuk menghadap Pak Widi bersama orang tua.” jawab Fikri. “Rio, juga tidak cerita kepada bibi kalau hari ini dia dipanggil untuk menghadapa Pak Widi bersama orang tua, memang ada apa dengan Rio?” tanya Bibi kepada mereka. “Begini bi, pada saat pelajaran Pak Widi, Rio tidak memperhatikan dia hanya asik dengan ponselnya sehinnga Rio ditegur dan dimarahi oleh Pak Widi serta beliau menyita ponsel milik Rio karena itu ponsel milik akan di kembalikan apabila orng tuanya telah menghadap Pak Widi.” Kata Fikri menjelaskan masalah yang terjadi. “Oh jadi begitu, itu si Rio baru pulang.” jawab Bibi sambil menujuk ke arah Rio. “Maaf bi, Rio tidak meberitahukan masalah ini kepada bibi.” kata Rio sambil tertunduk lesu. “Iya tidak apa – apa lain kali kalau ada masalah seperti ini langsung bilang ke bibi.” Nasihat Bibi kepada Rio. “Iya, benar kata Bibi, Rio.” sahut Badu. “Jadi besok kamu masuk ke sekolah kan?” tanya Fikri. “Iya besok aku akan pergi ke sekolah” jawab Rio. “Bi, kami izin pamit pulang dulu. Assalamualaikum.” pamitnya Doni kepada Bibi “Iya, wallaikumsalam hati-hati di jalan. Mereka pun bertiga bergegas ke rumah masing – masing sedangkan Bibi tetap melaporkan masalah ini kepada kedua orang tua Rio.</span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"><br class="kix-line-break"></span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"><br class="kix-line-break"></span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;">Esok paginya. Bibi Rio yang menghadap Pak Widi karena kedua orang tua Rio tidak bisa datang ke sekolah karena mereka masih ada urusan pekerjaan di luar negeri. Pak Widi pun mengembalikan ponsel milik Rio dengan syarat dia harus berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi dan Rio pun menerima janji itu.</span><span style="font-size: 25.5742583274841px; font-family: Arial; color: rgb(0, 0, 0); font-style: normal; font-variant: normal; background-color: transparent;"><br></span></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-29 12:33:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72660883</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72671662</link>
         <description><![CDATA[<p>tugas cerpen

<p>Ghost Of The House</p>

<p>Pada suatu hari Riri pulang sekolah jam 3 sore,sesampai
dirumah mamanya berkata.
</p><p>"Ri, nanti jam 6 mama mau ke rumah sakit"
</p><p>Riri menjawab.
</p><p>"Sama siapa ma?, Riri sendiri di rumah?
</p><p>"ya, pasti kan adekmu pada ikut,gak bakal lama kok".
Riri pun mengangguk nurut. Jam 6 pun tiba mamanya telah pergi, Riri menonton TV
sambil menunggu adzan magrib. Saat adzan magrib,riri pergi ke kamar mandi yang
ada di kamarnya untuk berwudhu. Sewaktu mau berwudhu tiba-tiba mati lampu, riri
pun panik, dia langsung cepat-cepat keluar dan meraba untuk mencari hpnya yang
dia taruh di meja kamarnya. Awalnya riri tidak memiliki rasa takut sama
sekali,saat mendapat hpnya,dia langsung menyalakan flash kameranya. Saat itu
juga tidak tahu kenapa, tiba-tiba perasaan takutnya muncul, riri mencoba untuk
tidak memikirkan hal-hal yang aneh dan lanjut mengambil air wudhu lalu sholat.
Setelah sholat dia teringat kalau dia ada PR, jadi riri memutuskan untuk ke
dapur mencari lilin, riri bukan hanya menyalakan 1 lilin tetapi 3 lilin untuk
di kamarnya dan 1 lilin di ruang tamu. Dia pun mengerjakan PR di kamarnya,entah
kenapa tiba-tiba Riri merasa agak aneh,dia selalu merasa kalau ada yang
memperhatikannya, dia mendengar suara seperti ada orang yang lewat bolak balik
di ruang tamu, yang mana kamarnya di dekat ruang tamu, dia juga selalu
mendengar seperti ada yang membuka pintu rumahnya, tapi setiap kali riri keluar
untuk memeriksanya, tidak ada apa-apa, berkali-kali dan selalu sama seperti
itu. Riri semakin takut, pikirannya sudah kacau, gak bisa konsentrasi
mengerjakan PR, mau ke tetangga tapi gak ada orangnya, mau keluar yang ada
tambah takut. Akhirnya Riri menutup pintu kamarnya, menyalakan laptop dan
menyetel lagu keras-keras untuk menghilangkan rasa takutnya. Tapi percuma Riri
tetap saja merasa seperti&nbsp; ada yang
mengawasinya, padahal sudah 3 lilin yang menyala di kamarnya di tambah flash
lampu kamera hpnya dan cahaya dari laptop. Riri mencoba tidak menghiraukan dan
tetap mengerjakan PR. Riri seperti itu sampai jam 9, dalam hatinya berkata.
</p><p>“Kemana mama ini? Katanya sebentar lah kok sampe jam segini”.
</p><p>Tiba-tiba ada yang membuka pintu rumah,Riri pun cepat-cepat
keluar untuk melihat siapa,yang ternyata itu mamanya, sekitar 15 menit setelah
mamanya datang, lampu pun nyala kembali. Riri memceritakan semuanya kepada
mamanya dan mamanya menjawab.
</p><p>“Setiap rumah itu pasti ada penghuninya,asalkan kamu tidak
ganggu dia juga gak bakal ganggu kamu.”
</p><p>Sejak saat itu kalau Riri mau di tinggal sendirian di rumah
pasti dia akan menolak, kalau tidak dia akan meminta salah satu dari adeknya
untuk tetap tinggal dirumah bersamanya.</p>

</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-29 13:07:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72671662</guid>
      </item>
      <item>
         <title>nama:indri al fitriani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72832783</link>
         <description><![CDATA[<p>tugas: cerpen </p><p>ibu</p><p><span style="font-size: 13px; color: rgb(102, 102, 102);">Ketika saya bertanya kepada ibu ’’ ibu apakah aku cantik?’’tidak’’jawab ibu.lalu saya </span><span style="font-size: 13px;">bertanya lagi.’’bu apakah aku gemuk dan besar ?’’ibu saya mengangguk,’’tentu</span></p><p>saja’’,saya terkejut.’’bu apakah ibu menginginkan bersamaku selamanya?’’ibu menggeleng.’’tidak’’.</p><p><span style="font-size: 13px; color: rgb(102, 102, 102);">Saya sangat tidak percaya dengan apa yang telah saya dengar .’’ibu apakah engkau akan menangis jika aku mininggalkan ibu ?’’ibu dengan tenang menjawab .’’ibu tidak akan menangisimu.</span></p>

<p>Saya sangat terpukul dengan jawaban ibu saya dan saya lari ke dalam kamar.lalu ibu memegang pundak saya dan menatanya sambil berkata:’’kamu tidak cantik ,tapi sangat cantik .satu-satunya yang terfikir gemuk/besar&nbsp; tentangmu adalah
hatimu.ibu tidak menginginkan bersamamu tap ibu membuhtukanmu bersam ibu
selamanya.dan sayang,ibu tidak akan menangis jika engkau meninggalkan ibu tapi
ibu akan mati.lalu saya memeluk ibu saya dengan rasa yang tak mampu saya
lukiskan.</p>

<p>Sayangilah ibumu dengan sungguh-sungguh karna surga berada di telapak kaki ibu.mohon ampunan jika kamu pernah menyakiti hati ibumu.seseorang ibu dan kita ibarat mata dan lengan .jika mata tergores lengan tak kan merasa sakit.tapi jika lengan terluka maka mata akan mengeluarkan air mata untuk lengan.</p>

<p>‘’kasih
sayang ibu bagaikan sang surya yang menyinari dunia tanpa imbalan apapun”</p>

<p><b>“Love you mom you are my inspiration
motivation in my life”</b></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-29 22:57:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72832783</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : farida</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72838247</link>
         <description><![CDATA[<p>tugas cerpen</p><p>Kenangan bersama sahabat</p><p>"Kangen, itu yang kurasakan saat ini setelah hampir 4 tahun lamanya aku 
tidak pernah bertemu lagi dengan sahabat-sahabat istimewaku. Hendrik, 
Riko, Kemal, Indra, Ika, Lia, Dedi, Yugus, dan Zaenal adalah sahabat 
terbaikku sekaligus partner kerjaku dulu di Surabaya. Aku sendiri biasa 
dipanggil Herteg oleh teman-temanku. Banyak kenangan berharga yang 
kuperoleh selama 3 bulan bersama mereka. Diantaranya adalah ketika 
memasuki bulan puasa kami jadi semakin akrab dan kompak. Kami sering 
sahur dan buka puasa bersama ditempat kerjaan. Mbak Indra biasanya yang 
sering memasak nasi untuk kami, sementara kami hanya tinggal beli 
lauknya saja di warung terdekat. Riko dan Kemal biasanya yang paling 
rakus makan. Sampai-sampai yang masak pun tidak kebagian nasi. Zaenal 
juga sering tak kebagian jatah nasi. Ia mengalah untuk bikin mie instan 
saja. Menurutnya lebih praktis dan irit tentunya. Yang memprihatinkan 
ialah kalau sedang mendekati tanggal tua. Semua teman-teman pada ngirit,
 sampai makan pun seadanya. Pernah kami semua cuma makan pakai kerupuk 
dan kecap manis. Mbak Indra yang merasa kasihan menyuruh Lia untuk 
membeli gorengan di warung seadanya. Tak tahunya yang dibelinya justru 
molen dan pisang goreng. Aku dan teman-teman yang lain sampai ketawa 
gara-gara Lia salah beli gorengan. Karena sudah terlanjur dibeli, 
terpaksa kami makan bersama nasi. Yang penting kami kenyang walaupun 
rasanya sungguh tak dapat kami bayangkan.<br>
Kami juga sering bercanda kalau lagi kumpul bersama. Hendrik dan Kemal 
malah sering usil kalau lihat karyawan cewek yang lagi sendirian. Mbak 
Indra, Ika, dan Lia pernah hampir nangis gara-gara ulah mereka berdua. 
Aku sendiri juga pernah dikerjain mereka. Waktu itu aku lagi sibuk 
bersih-bersih. Tiba-tiba Hendrik memanggilku dan menyuruhku berbalik ke 
belakang. Katanya sih bajuku belakangnya kotor. Eh gak tahunya dia malah
 memasukkan pecahan es batu kedalam bajuku. Sontak aku kaget dan 
kedinginan. Justru teman-teman yang melihatku malah tertawa.</p><p>
Kejadian seru lain yaitu ketika Aku, Kemal, Dedi, Yugus, Lia, dan Ika 
sedang main kartu remi. Aturan mainnya yang kalah mukanya harus 
dicoretin pakai spidol. Kemal dan Lia bergantian kalah terus sehingga 
muka mereka kelihatan seperti badut dipinggir jalan, penuh dengan 
coretan. Aku dan yang lain jadi tertawa lepas melihat mereka. Beruntung 
aku hanya sekali kalah saat itu.<br><br>
Dan kenangan yang satu ini yang pasti selalu ku ingat hingga sekarang. 
Yaitu tradisi bagi anak baru harus mentraktir seniornya kalau sudah 
gajian nanti. Waktu itu aku dan Yugus bergantian mentraktir teman-teman.
 Riko, Kemal, dan Dedi mengajakku makan nasi lauk ayam panggang. 
Sementara Mbak Indra, Ika, dan Lia minta dibelikan es krim. Ya akhirnya 
ku turuti semua permintaan teman-teman. Aku justru merasa senang dan 
bangga bisa mentraktir mereka.<br>
Puncak kebersamaan kami adalah ketika tiap sebulan sekali kami mengikuti
 Opname besar-besaran atau biasa dikenal dengan SO GRAND. Mulai dari 
tutup toko jam 9 malam hingga pagi datang menyapa, kami semua berjibaku 
mencari dan menghitung barang-barang yang ada. Semalaman kami tak tidur 
karena demi pekerjaan kami. Kalau lelah dan mengantuk, kadang kami 
istirahat sebentar dan bikin kopi ataupun susu hangat. Bahkan teman kami
 Lia dan Mbak Indra pernah sampai pingsan gara-gara kelelahan. Aku jadi 
kasihan dan terharu menyaksikan teman-teman yang selalu bersemangat tiap
 ikut SO GRAND. Tapi dari situlah aku menyadari ternyata untuk meraih 
suatu keberhasilan itu tak mudah. Butuh kerja keras, semangat yang 
berlipat ganda, bahkan cucuran keringat dan tetesan air mata.<br>Semoga 
lebaran tahun depan kita bisa berkumpul bersama setidaknya untuk reuni 
kecil setelah kita saling terpisah karena ada rejeki yang lebih baik 
ditempat lain.<br>Terimakasih para sahabat istimewaku.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-30 00:14:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72838247</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Jumani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72838566</link>
         <description><![CDATA[<p>tugas cerpen</p><p>

</p><p><b>kadal dan Ular Air</b></p>

<p>Disebuah
kolam yang cukup besar dan dalam seekor kadal sedang berjalan di pinggiran
kolam kadal itu sedang mencari kegiatan baru kadal itu sangat ingin mencoba
sesuati yang baru, dia sangat ingin berpetualang ketika dia berjalan
dipinggiran kolam sambil mengeluarkan lidahnya dia melihat sesuatu muncul dari
dalam air hal pertama yang dilihat oleh kadal itu adalah sebuah kepala yang
melenggak lenggok kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu kemudian kadal
itu mendekati mahkluk yang muncul dari dalam air itu dan dia sedikit kaget
ternyata dia melihat seekor ular air. Ketika itu ular air juga melihat
kehadiran sang kadal lalu mendekatinya, setelah sampai dekat dengan sang kadal
ular itu meninggikan kepalanya dan berkata :”Apa yang sedang dilakukan oleh
seekor kadal gemuk ini dipinggiran kolam?” kadal itu menjauh dari sang ular
karena dia takut dimangsa olehnya “Aku hanya sedang mencari kegiatan baru, aku
hanya ingin mencari sebuah petualangan”. Kata sang kadal. “Kenapa kau
menghindar dariku? Aku tidak memakan mu aku telah kenyang memakan ikan kecil
yang ada di kolam itu” kata sang ular “jadi kau ingin sebuah petualangan yang
seru” kata ular sambil mendesis “Ya itu benar aku ingin sekali mencoba sesuatu
yang baru” kata sang kadal dengan penuh semangat “apa kau pernah melewati kolam
ini sendiri?” Tanya sang ular. “Aku tidak pernah melewatinya kolam ini terlalu
luas untuk aku sebrangi meskipun aku bisa sedikit berenang tapi aku takut untuk
menyebrangi kolam ini dari satu tepian ketepian lainnya”. Jawan sang kadal “apa
kau mau menyebaranginya aku akan membantunya” ajak sang ular. Sang kadal sangat
ingin sekali menyebranginya dan tanpa berpikir panjang kadal itu menerima
ajakan dari sang ular “Baiklah kalo begitu carilah sesuatu yang bisa dijadikan
sebagai tali!” Pinta sang ular “Untuk apa tali itu?” Tanya sang kadal dengan
heran “Tali itu untuk kau ikatkan ke ekorku ketika kita berenang menyebrangi
kolam ini kau tidak akan tenggelam, aku akan menarikmu kepermukaan”. jelas sang
ular.<span> 
Lalu sang kadal mencari tali di pinggiran kolam dan dia mendapatkan nya,
setelah itu sang kadal menalikan kaki depannya ke ekor sang ular dengan sangat
kuat. Selesai itu kini sang ular dan sang kadal berenang menyebrangi kolam luas
itu namun di tengah-tengah kolam sang ular berpikir untuk menenggelamkan sang
kadal sebelum mencapai tepian, ketika hal itu akan dilakukan oleh sang ular
tiba-tiba tibuhnya tertarik ke atas dia mencoba melepaskan diri dengan sekuat
tenaga namun hal itu percuma ternyata sang kadal disambar oleh seekor burung
alap-alap sehingga tubuh ular itu bergelantungan di udara. Saat itu sang
alap-alap melihat bukan hanya kadal saja yang dia tangkap namun begitu juga
seekor ular air dimana ekornya terikat pada kaki sang kadal.</span></p><p></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-30 00:18:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72838566</guid>
      </item>
      <item>
         <title>nama : riia </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72841978</link>
         <description><![CDATA[<p>tugas</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-30 00:59:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72841978</guid>
      </item>
      <item>
         <title>nama : riia </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72842081</link>
         <description><![CDATA[tugas cerpen <br>cinta dari

<p>“Kellie,” ada yang memanggilku dengan lembut.<br>
“Kellie …”</p>
<p>Dan tiba-tiba, Currrr!!! ada yang mencipratkan aku dengan air dingin. Mataku terkejap, aku langsung bangun. Ughh!!<br>
“Kellie, bangun. Sudah jam 5 pagi, masa Mom bangunin lagi, sih?” suara itu dari Mom.<br>
“Iya, iya!” aku langsung mengambil handuk kesayanganku dan langsung mandi.</p>
<p>Lima belas menit kemudian, aku sudah rapi dengan baju seragamku. 
Rambutku yang panjang sepinggang sudah aku sisir dan aku kuncir memakai 
kunciran pita yang berwarna merah.<br>
“Mom, makan apa pagi ini?” tanyaku sambil membereskan tas sekolahku.<br>
“Emm, roti gandum isi beef dan keju,” jawab Mom. “Hidangan penutupnya cookies choco cips!”<br>
“Yummy!” aku langsung melahap porsiku. Setelah selesai makan, aku langsung meminum susu cokelatku.<br>
“Mom! Pagi ini aku berangkat sekarang. Karena ada pelajaran olahraga!” 
kataku di ambang pintu. Mom mengangguk, beliau menghampiriku dan 
mengecup pipiku.<br>
“Hati-hati, Sayang,” Mom melambaikan tangannya.</p>
<p>Walau pun, aku lahir di keluarga kaya tapi aku ke sekolah berjalan 
kaki. Sebelah komplek rumahku, kan, langsung sekolahku. Aku sampai di 
sekolah jam 6 pagi. Suasana di sekolah cukup banyak anak-anak yang 
sedang bermain di halaman sekolah. Ada juga yang baru datang seperti 
aku.<br>
“Kellie!” panggil seseorang. Suara tak asing bagiku.<br>
“Oh, Kennedy!” aku membalasnya. Kennedy adalah sahabatku yang paling akrab.<br>
“Yuk, masuk ke kelas. Oh, ya, kata Mommy-ku kita langsung baca buku 
Sosial, nanti akan ada ulangan harian Sosial!” jawab Kennedy. Mommy-nya 
Kennedy, kan, wali kelasku. Tapi aku memanggilnya Mrs. Checill.</p>
<p>Sesampainya di kelas, tasku aku taruh di kursiku. Aku langsung 
mengeluarkan buku Sosialku dan langsung baca-baca. Ku lihat Kennedy 
membaca bukunya dengan semangat.<br>
Kriinggg! Bertepatan bel masuk berbunyi, aku sudah selesai baca. Aku 
menaruh buku Sosial di laci dan berdiri untuk memberi salam pagi.<br>
“Good morning, Teacher. How are you today?” salam kami ketika Mrs. Checill masuk kelas.<br>
“Good morning, My Students. I’m fine, thank you. And you?” jawab dan tanya Mrs. Checill.<br>
“I’m fine, thank you,” jawab kami lalu duduk kembali di kursinya masing-masing.<br>
“Nah, sekarang kerjakan ulangan harian Sosial yang Mrs. Checill bagikan, silakan kerjakan!” jawab Mrs. Checill dengan tenang.<br>
Semua anak tercengang. Sedangkan aku dan Kennedy hanya tersenyum senang.</p>
<p>Kriingg! Pelajaran berganti. Aku dan Kennedy mengumpulkan kertas 
ulangan dengan tersenyum senang. Kemudian, kami mengambil handuk kecil 
kami dan botol minum. Langsung menuju lapangan saja!<br>
“Kellie, Mr. Olekey mana, ya?” tanya Kennedy heran.<br>
“Ahh, itu bersama teman kita yang lain,” jawabku sambil menuding Mr. Olekey.<br>
Kami menyapa Mr. Olekey bersama. Kemudian berbaris rapi.<br>
“Anak-anak, sekarang olahraga hari ini jogging dan berlari. 
Pertama-tama, kalian jogging mengelilingi sekolah kita 1 putaran, ya, 
lalu kembali ke lapangan untuk beristirahat sejenak, paham?” kata Mr. 
Olekey.<br>
“Paham!” ucap kami lantang.<br>
“Nah, mulai dari barisan Kellie, lalu Olivia dan seterusnya!” kata Mr. Olekey. “Ingat! Jogging! Jangan berlari, ya!”<br>
Akhirnya Olahraga selesai. Dilanjutkan pelajaran lain. Akhirnya bel pulang.</p>
<p>Aku dan Kennedy melewati sebuah pohon tua. Tiba-tiba …<br>
“Awas, Kellie!!!”<br>
Brukkk! Pohon tua patah dan menimpa Kennedy!<br>
“Kennedy!” kataku histeris.<br>
“Kellie, janganlah engkau menangis. A-aku, akan se…sela, selalu, ingat… kkk, ka, kam, kamu ….” Plekk! Kennedy.<br>
“Kennedy!” kataku lemah.</p>
<p>Kennedy telah meninggalkanku. Tapi aku tidak boleh melupakannya. Cinta dari sahabatku tetap ku rasa di hatiku.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-30 01:00:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72842081</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Ayu anggereni</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72842905</link>
         <description><![CDATA[<p>tugas Cerpen ''Persahabatan</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/73426492/8b24b1f7b7f498a106b8bade62d6cede636ba7a6/a1b33207d32dbefeba0b17eb204e5dc3.jpg" />
         <pubDate>2015-09-30 01:10:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72842905</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886510</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-30 09:37:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886510</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886511</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-30 09:37:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886511</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama:</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886518</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-30 09:37:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886518</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama:Ahmad Rizal</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886542</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-30 09:37:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886542</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama:Ahmad Rizal S</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886547</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-30 09:37:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886547</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama:Ahmad Rizal S</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886559</link>
         <description><![CDATA[<p>T</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-30 09:37:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886559</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama:Ahmad Rizal S</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886579</link>
         <description><![CDATA[<p>Tugas </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-30 09:38:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886579</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama:Ahmad Rizal S</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886609</link>
         <description><![CDATA[<p>Tugas Cerpe</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-30 09:38:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886609</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama:Ahmad Rizal S</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886652</link>
         <description><![CDATA[<p>Tugas Cerpen</p><p>Contoh Cerpen Persahabat
Nikmatnya bila semua serba tercukupi, semua keinginan bisa terpenuhi sampai barang apapun bisa dibelinya, itulah riska, seorang anak dari kongomerat yang sangat kaya, Ibu dan Ayahnya adalah pengusaha besar yang berada di daera Kota Jakarta. Tapi hal yang sangat baik dari keluarga itu adalah mereka mampu bersikap dan berperilaku layaknya orang biasa, bersopan santun, ramah terhadap tetangga begitupun kepada orang –orang yang berkunjung ke rumahnya. Tak terkecuali dengan riska, anaknya manis dan tidak pernah manja dengan orang tuanya,dia bisa bersikap baik terhadap semua orang termasuk teman-temanya sehingga banyak yang betah ketika bertamu kerumahnya.
Nikmatnya bila semua serba tercukupi, semua keinginan bisa terpenuhi sampai barang apapun bisa dibelinya, itulah riska, seorang anak dari kongomerat yang sangat kaya, Ibu dan Ayahnya adalah pengusaha besar yang berada di daera Kota Jakarta. Tapi hal yang sangat baik dari keluarga itu adalah mereka mampu bersikap dan berperilaku layaknya orang biasa, bersopan santun, ramah terhadap tetangga begitupun kepada orang –orang yang berkunjung ke rumahnya. Tak terkecuali dengan riska, anaknya manis dan tidak pernah manja dengan orang tuanya,dia bisa bersikap baik terhadap semua orang termasuk teman-temanya sehingga banyak yang betah ketika bertamu kerumahnya.
Salah satu sahabat terbaik riska yaitu Ika, dia berasal dari keluarga sederhana, rumahnya yang masih satu kecamatan dengan riska mambuatnya gampang untuk bermain atau sekedar bertemu dengan riska.  Namun pada hari ini sahabatnya Ika tak pernah keliatan lagi,, hampir sudah 3 minggu ini.“Ko` Ika ngga` pernah keliatan? Kemana ya, g biasanya dia selalu masuk sekolah”.“Mungkin sakit” , jawaban dari Mama“Kalo begitu coba nanti sore aku pengen ke rumahnya lagi”. Kata riska sangat bersemangatSudah beberapa kali riska mengetuk pintu, namun tak ada jawaban dari dalam rumah, kemudian tiba – tiba muncul orang dari sebelah rumah.“Ada apa mb”, tanya orang lelaki itu“Saya mau mencari teman saya , Ikanamanya”, jawabnya cepatAlangka terkejutnya jawaban dari lelaki itu, jika Ika yang selama ini diakenal dan menjadi sahabatnya mengontrak di rumah itu, kemudian kembali ke desanya karena menurutkabar orang tuanya sudah berhenti bekerja akibat di PHK oleh perusahaanya.Sekembalinya riska ke rumah, ia hanya bisa melamun dan tidak bisa berbuat apa – apa. Lantas ia pun bergegas ingin mencari Ika di desanya.“Mama, aku ingin mencari Ika, biarkan dia bisa melanjutkan sekolahnya lagi”, tanyanya“Baiklah kalo itu keinginanmu, mari bergegas dan segera mencari alamtIka dahulu”, jawab Mamanya dengan penuh perhatianAkhirnya keinginan Riska  terpenuhi, dan selama beberapa jam bertanya – tanya di tempat pedesaan yang pernah Riska ketahui, bisa menemukan alamat rumah Ika. Kedatanganya pun disambut haru dan isak tangis oleh keluarganya termasuk Ika. Pelukan hangat diantara mereka menjadikanpersahabatanya semakin erat.“Ika, kedatanganku sama keluarga ingin mengajakmu kembali bersekolah sekaligus ikut kami ke Jakarta lagi”. Katanya Riska“Soal sekolah dan biaya apapun, kamu ngga` usah khawatis biar saya yang menanggunya”, lanjut Papa Riska“Baiklah bila Riska dan Bapak Ibu menghendaki dan memberikan kesempatan itu pada saya, saya sangat bersyukur dan banyak mengucapkan terima kasih atas kebaikan Riska dan keluarga”. Jawabnya Ika diselingi haru yang luar biasa.“terima kasih banyak Pak, Buk, kami tidak bisa lagi harus memberikan imbalan seperti apa, karena hanya petani biasa”, lanjutnya Ibu dan Bapak IkaLalu mereka pun kembali berpelukan untuk kembali menyambut Ika menjadi sahabatnya kembali.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-30 09:38:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886652</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama:Ahmad Rizal S</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886675</link>
         <description><![CDATA[<p>Tugas Cerpen</p><p>
Nikmatnya bila semua serba tercukupi, semua keinginan bisa terpenuhi sampai barang apapun bisa dibelinya, itulah riska, seorang anak dari kongomerat yang sangat kaya, Ibu dan Ayahnya adalah pengusaha besar yang berada di daera Kota Jakarta. Tapi hal yang sangat baik dari keluarga itu adalah mereka mampu bersikap dan berperilaku layaknya orang biasa, bersopan santun, ramah terhadap tetangga begitupun kepada orang –orang yang berkunjung ke rumahnya. Tak terkecuali dengan riska, anaknya manis dan tidak pernah manja dengan orang tuanya,dia bisa bersikap baik terhadap semua orang termasuk teman-temanya sehingga banyak yang betah ketika bertamu kerumahnya.
Nikmatnya bila semua serba tercukupi, semua keinginan bisa terpenuhi sampai barang apapun bisa dibelinya, itulah riska, seorang anak dari kongomerat yang sangat kaya, Ibu dan Ayahnya adalah pengusaha besar yang berada di daera Kota Jakarta. Tapi hal yang sangat baik dari keluarga itu adalah mereka mampu bersikap dan berperilaku layaknya orang biasa, bersopan santun, ramah terhadap tetangga begitupun kepada orang –orang yang berkunjung ke rumahnya. Tak terkecuali dengan riska, anaknya manis dan tidak pernah manja dengan orang tuanya,dia bisa bersikap baik terhadap semua orang termasuk teman-temanya sehingga banyak yang betah ketika bertamu kerumahnya.
Salah satu sahabat terbaik riska yaitu Ika, dia berasal dari keluarga sederhana, rumahnya yang masih satu kecamatan dengan riska mambuatnya gampang untuk bermain atau sekedar bertemu dengan riska.  Namun pada hari ini sahabatnya Ika tak pernah keliatan lagi,, hampir sudah 3 minggu ini.“Ko` Ika ngga` pernah keliatan? Kemana ya, g biasanya dia selalu masuk sekolah”.“Mungkin sakit” , jawaban dari Mama“Kalo begitu coba nanti sore aku pengen ke rumahnya lagi”. Kata riska sangat bersemangatSudah beberapa kali riska mengetuk pintu, namun tak ada jawaban dari dalam rumah, kemudian tiba – tiba muncul orang dari sebelah rumah.“Ada apa mb”, tanya orang lelaki itu“Saya mau mencari teman saya , Ikanamanya”, jawabnya cepatAlangka terkejutnya jawaban dari lelaki itu, jika Ika yang selama ini diakenal dan menjadi sahabatnya mengontrak di rumah itu, kemudian kembali ke desanya karena menurutkabar orang tuanya sudah berhenti bekerja akibat di PHK oleh perusahaanya.Sekembalinya riska ke rumah, ia hanya bisa melamun dan tidak bisa berbuat apa – apa. Lantas ia pun bergegas ingin mencari Ika di desanya.“Mama, aku ingin mencari Ika, biarkan dia bisa melanjutkan sekolahnya lagi”, tanyanya“Baiklah kalo itu keinginanmu, mari bergegas dan segera mencari alamtIka dahulu”, jawab Mamanya dengan penuh perhatianAkhirnya keinginan Riska  terpenuhi, dan selama beberapa jam bertanya – tanya di tempat pedesaan yang pernah Riska ketahui, bisa menemukan alamat rumah Ika. Kedatanganya pun disambut haru dan isak tangis oleh keluarganya termasuk Ika. Pelukan hangat diantara mereka menjadikanpersahabatanya semakin erat.“Ika, kedatanganku sama keluarga ingin mengajakmu kembali bersekolah sekaligus ikut kami ke Jakarta lagi”. Katanya Riska“Soal sekolah dan biaya apapun, kamu ngga` usah khawatis biar saya yang menanggunya”, lanjut Papa Riska“Baiklah bila Riska dan Bapak Ibu menghendaki dan memberikan kesempatan itu pada saya, saya sangat bersyukur dan banyak mengucapkan terima kasih atas kebaikan Riska dan keluarga”. Jawabnya Ika diselingi haru yang luar biasa.“terima kasih banyak Pak, Buk, kami tidak bisa lagi harus memberikan imbalan seperti apa, karena hanya petani biasa”, lanjutnya Ibu dan Bapak IkaLalu mereka pun kembali berpelukan untuk kembali menyambut Ika menjadi sahabatnya kembali.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-30 09:38:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886675</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama:Ahmad Rizal S</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886679</link>
         <description><![CDATA[<p>Tugas Cerpen</p><p>Nikmatnya bila semua serba tercukupi, semua keinginan bisa terpenuhi sampai barang apapun bisa dibelinya, itulah riska, seorang anak dari kongomerat yang sangat kaya, Ibu dan Ayahnya adalah pengusaha besar yang berada di daera Kota Jakarta. Tapi hal yang sangat baik dari keluarga itu adalah mereka mampu bersikap dan berperilaku layaknya orang biasa, bersopan santun, ramah terhadap tetangga begitupun kepada orang –orang yang berkunjung ke rumahnya. Tak terkecuali dengan riska, anaknya manis dan tidak pernah manja dengan orang tuanya,dia bisa bersikap baik terhadap semua orang termasuk teman-temanya sehingga banyak yang betah ketika bertamu kerumahnya.
Nikmatnya bila semua serba tercukupi, semua keinginan bisa terpenuhi sampai barang apapun bisa dibelinya, itulah riska, seorang anak dari kongomerat yang sangat kaya, Ibu dan Ayahnya adalah pengusaha besar yang berada di daera Kota Jakarta. Tapi hal yang sangat baik dari keluarga itu adalah mereka mampu bersikap dan berperilaku layaknya orang biasa, bersopan santun, ramah terhadap tetangga begitupun kepada orang –orang yang berkunjung ke rumahnya. Tak terkecuali dengan riska, anaknya manis dan tidak pernah manja dengan orang tuanya,dia bisa bersikap baik terhadap semua orang termasuk teman-temanya sehingga banyak yang betah ketika bertamu kerumahnya.
Salah satu sahabat terbaik riska yaitu Ika, dia berasal dari keluarga sederhana, rumahnya yang masih satu kecamatan dengan riska mambuatnya gampang untuk bermain atau sekedar bertemu dengan riska.  Namun pada hari ini sahabatnya Ika tak pernah keliatan lagi,, hampir sudah 3 minggu ini.“Ko` Ika ngga` pernah keliatan? Kemana ya, g biasanya dia selalu masuk sekolah”.“Mungkin sakit” , jawaban dari Mama“Kalo begitu coba nanti sore aku pengen ke rumahnya lagi”. Kata riska sangat bersemangatSudah beberapa kali riska mengetuk pintu, namun tak ada jawaban dari dalam rumah, kemudian tiba – tiba muncul orang dari sebelah rumah.“Ada apa mb”, tanya orang lelaki itu“Saya mau mencari teman saya , Ikanamanya”, jawabnya cepatAlangka terkejutnya jawaban dari lelaki itu, jika Ika yang selama ini diakenal dan menjadi sahabatnya mengontrak di rumah itu, kemudian kembali ke desanya karena menurutkabar orang tuanya sudah berhenti bekerja akibat di PHK oleh perusahaanya.Sekembalinya riska ke rumah, ia hanya bisa melamun dan tidak bisa berbuat apa – apa. Lantas ia pun bergegas ingin mencari Ika di desanya.“Mama, aku ingin mencari Ika, biarkan dia bisa melanjutkan sekolahnya lagi”, tanyanya“Baiklah kalo itu keinginanmu, mari bergegas dan segera mencari alamtIka dahulu”, jawab Mamanya dengan penuh perhatianAkhirnya keinginan Riska  terpenuhi, dan selama beberapa jam bertanya – tanya di tempat pedesaan yang pernah Riska ketahui, bisa menemukan alamat rumah Ika. Kedatanganya pun disambut haru dan isak tangis oleh keluarganya termasuk Ika. Pelukan hangat diantara mereka menjadikanpersahabatanya semakin erat.“Ika, kedatanganku sama keluarga ingin mengajakmu kembali bersekolah sekaligus ikut kami ke Jakarta lagi”. Katanya Riska“Soal sekolah dan biaya apapun, kamu ngga` usah khawatis biar saya yang menanggunya”, lanjut Papa Riska“Baiklah bila Riska dan Bapak Ibu menghendaki dan memberikan kesempatan itu pada saya, saya sangat bersyukur dan banyak mengucapkan terima kasih atas kebaikan Riska dan keluarga”. Jawabnya Ika diselingi haru yang luar biasa.“terima kasih banyak Pak, Buk, kami tidak bisa lagi harus memberikan imbalan seperti apa, karena hanya petani biasa”, lanjutnya Ibu dan Bapak IkaLalu mereka pun kembali berpelukan untuk kembali menyambut Ika menjadi sahabatnya kembali.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-30 09:39:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72886679</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama: Medika Sulistiya</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72923907</link>
         <description><![CDATA[<p>DARK HOUSE</p><p>Waktu itu, Tom berumur 5 tahun. Dia pindah ke sebuah perumahan yang tak jauh dari rumah yang dia tinggalkan dulu.</p><p>Rumahnya berada diblock A rumahnya cukup besar, dengan 2 lantai, dan satu kolam renang dibelakang rumahnya. Tom sangat senang melihat tanaman yang tumbuh didepan rumahnya, karena tanaman itu dihinggapi seekor kupu-kupu yang sangat indah. Tapi, pada saat dia melihatrumah yang berada disamping rumahnya itu, Tom terdiam karena ada seorang wanita yang sedang tersenyum padanya, sambil melambaikan tangan.</p><p>Malam telah tiba perayaan atas rumah barunya dimulai. Banyak sekali keluarganya yang berkunjung. Sampai jam 10 malam ada keributan diluar. Orang tua dan paman Tom pun pergi keluar untuk melihatnya. Dan ternyata terjadi pembunuhan yang menewaskan seorang wanita. Pembunuh itu terjadi karena permaslahan yang dibuat oleh kekasih wanita tersebut. Paman Tom pun bertanya pada polisi itu.</p><p>“Permisi Pak, wanita itu terbunuh dimana?”</p><p>“Wanita dibunuh ditepat dikamarnya, dan mayatnya ditempatakan dilemari.” Kata polisi yang menemukan mayatnya.</p><p>Paman Tom terkejut, dan langsung pergi kedalam rumah.</p><p>Beberapa tahun kemudian, Tom berumur 17 tahun. Dia mau mengajak temannya berpesta dirumahnya.</p><p>“Bagaimana kalau kita berpesta dirumahku?” ujar Tom bersemangat.</p><p>“Kedengarannya menyenangkan. Baiklah Tom!” kata temannya Tom.</p><p>Tom langsung segera pulang dan menyiapkan minuman dan makanan. Serta gelas dan lain-lain untuk pestanya. Sedangkan kedua orang tuanya sedang pergi. <span style="font-size: 13px;">5 menit kemudian, setelah Tom selesai mempersiapkan barang-barang untuk pesta. Teman-teman Tom datang.</span></p><p>“Oh kalian! Silahkan masuk! Ayok!” kata Tom sambil membuka pintu.</p><p><span style="font-size: 13px;">Setelah masuk teman-temannya langsung menyalakan musik. sedangkan Tom pergi kekamarnya dilantai dua untuk berganti pakaian waktu Tom berganti pakaian dia melihat kejendela. Pas saja. Jendelanya berhadapan dengan jendela rumah yang dulu pernah terjadi pembunuhan. Dia melihat seorang wanita tersenyum dan melambaikan tangan ke Tom. Tom langsung berlari kelantai dengan wajah yang aneh.</span></p><p>Tak lama Billy datang. Billy merupakan teman yang sering mengejek-mengejek Tom disekolah.</p><p>“Hey Tom! Aku menantangmu untuk masuk ke rumah diseberang sana itu!” kata Billy.</p><p>“A..aaa...ak..Akuu?’ Tom pun ketakutan.</p><p>“Iya kamu!” balas Billy.</p><p>“Hmmm.. Baiklah.” jawab Tom</p><p>Billy pun masuk kerumah itu. Tetapi, setelah 1 jam terlewatkan, Billy pun tidak keluar dari rumah tersebut. Tom pun takut dan berusaha meyakinan diri untuk masuk kerumah itu sendirian.</p><p>Saat Tom membuka pintu, Tom pun mulai ketakutan. Saat menaiki tangga, Tom melihat sesosok mayat yang tergantung didekat tangga. Dan Tom pun sangat ketakutan melihat mayat itu, dan akhirnya Tom pun berlari menuju pintu keluar. Pintuitu terkunci dan Tom pun tidak bisa keluar dari rumah itu, Tom pun berlari ke lantai atas melewati sesosok mayat tersebut, tom pun masuk ke sebuah kamar yang terbukapintunya saat memasuki kamar itu tom melihat lemari yang sedang terbuka , Tom punpenasaran dan menyamperin Lemari tersebut dan dia merasa Tom di dorong dan akhirnya tom pun terjebak di lemari itu.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-30 13:08:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72923907</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama: Tri Herawati</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72961367</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/77226655/25d84663cef9b805189eb97938806b62d2d4cea4/8adf061f70ae55ddb6e71a231414df48.docx" />
         <pubDate>2015-09-30 14:39:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72961367</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72995123</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/77404511/4c0361bcb53a8884e37c6998e18025a842a5632f/749631fba33a3e053f0adb5db9196fef.docx" />
         <pubDate>2015-09-30 16:19:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/72995123</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama:Andi Salsabila Putri</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/73051686</link>
         <description><![CDATA[<p>Seorang wanita dan gelang</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/73426492/e9c81c7c98a39ecf648cd86e6a1427c04c7d49ef/09be0f48d039ba3f3ef7dffaab97482c.jpg" />
         <pubDate>2015-09-30 19:14:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/73051686</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama:Animar</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/73078073</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-30 22:51:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/73078073</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama:Animar Daud</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/73078076</link>
         <description><![CDATA[<p>Tugas Cerpen</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2015-09-30 22:51:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/octatiyas123/x1/wish/73078076</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
