<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>MAIBETIARNI TUGAS KELOMPOK PAI KELAS 9B by Maibetiarni Sukri</title>
      <link>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj</link>
      <description>TULISKAN SEJARAH KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI NUSANTARA</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-09-03 04:51:34 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2023-09-04 13:26:29 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>SEJARAH KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI NUSANTARA  </title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719077244</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Kelompok 5</strong> <br><br><strong>- Fadil Zahwa </strong><br><strong>- Alyssa Ratu Ramadina </strong><br><strong>- Karunia Indah Mulandari</strong> <br><strong>- Melandri Sukma&nbsp;</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1326133860/1023d833e07862786a969f52f9f0408c/WhatsApp_Image_2021_09_05_at_9_22_45_AM.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-06 10:16:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719077244</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719078519</link>
         <description><![CDATA[<div>Berkembangnya agama Islam secara cepat dan meluas di Indonesia terutama di daerah pesisir karena adanya kontak dagang antara pedagang Islam dengan pedagang Indonesia. Para pedagang Islam dari Gujarat dalam menyiarkan agama Islam dengan cara bijaksana dan tanpa paksaan atau kekerasaan. Sehingga banyak pedagang maupun penduduk Indonesia pada masa lampau yang tertarik kepada agama Islam. Selain itu ajaran Islam tidak mengenal kasta.&nbsp;<br><br>Makin kuatnya pengaruh Islam dikalangan penduduk mendorong tumbuhnya kerajaan-kerajaan Islam di kepulauan Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam terkenal di Indonesia pada masa lampau dapat dijelaskan dibawah ini.&nbsp; &nbsp;&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-06 10:17:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719078519</guid>
      </item>
      <item>
         <title>1. Kerajaan Islam Samudara Pasai </title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719080820</link>
         <description><![CDATA[<div>Dari catatan Ibnu Battutah, dapat dipastikan bahwa Kerajaan Samudera Pasai berdiri lebih awal dibandingkan dinasti Usmani di Turki, kira-kira pada tahun 1297. Perkiraan tersebut dikuatkan dengan catatan Marcopolo, seorang saudagar dari Venesia, Italia, yang singgah di Samudera Pasai pada 1292. Marcopolo menerangkan bahwa telah melihat keberadaan kerajaan Islam yang berkembang pada waktu itu, yakni Samudera Pasai dengan ibukota Pasai. Selain dua catatan tersebut, sejarah Kerajaan Samudera Pasai juga dapat dilacak dari Hikayat Raja Pasai.<br>Kerajaan Samudera Pasai merupakan gabungan dari dua kerajaan, yakni Samudera dan Pasai. Penggabungan tersebut dilakukan oleh Marah Silu, raja pertama dengan gelar Sultan Malik Al-Saleh yang memimpin dari tahun 1285-1297. Setelah Marah Silu wafat, digantikan oleh putranya bernama Sultan Muhammad yang bergelar Malik Al Tahir (1297-1326).<br><br><strong>Masa kejayaan</strong>&nbsp;<br>Masa kejayaan Kerajaan Samudera Pasai berlangsung saat dipimpin oleh Mahmud Malik Az Zahir. Sultan Mahmud Malik Az Zahir adalah raja ketiga Samudera Pasai yang memerintah dari tahun 1326-1345. Ia meneruskan mempimpin setelah Marah Silu atau Sultan Malik Al Saleh (raja pertama) dan Sultan Muhammad Malik Az Zahir atau Sultan Malik al Tahir I (raja kedua). Pada masa kepemimpinannya Kerajaan Samudera Pasai mengalami perkembangan pesat dan terus menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan Islam di India maupun Arab. Puncak kejayaan Kerajaan Samudera Pasai juga ditandai dengan aktivitas perdagangan yang sudah maju, ramai, dan menggunakan koin emas sebagai alat pembayaran.<br>Koin emas yang disebut dirham ini pertama kali diperkenalkan oleh Sultan Muhammad Malik Az Zahir, ayah Mahmud Malik Az Zahir, dan kemudian digunakan secara resmi di kerajaan. Pada masa kejayaannya, Samudera Pasai merupakan pusat perniagaan penting di kawasan nusantara. Samudera Pasai memiliki banyak bandar yang dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai negeri, seperti Cina, India, Siam, Arab, dan Persia. Kerajaan ini juga dikenal sebagai penghasil rempah-rempah terkemuka di dunia dengan lada sebagai komoditas andalannya. Tidak hanya itu, Samudera Pasai juga menjadi produsen sutra, kapur barus, dan emas. Di samping sebagai pusat perdagangan, Samudera Pasai juga merupakan pusat perkembangan agama Islam.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1326133860/7344f50069fe82e8ca9d93487a4e575d/WhatsApp_Image_2021_09_05_at_10_25_06_AM.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-06 10:18:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719080820</guid>
      </item>
      <item>
         <title>2. Kerajaan Islam Demak</title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719084175</link>
         <description><![CDATA[<div>Kesultanan Demak atau Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa. Kerajaan Demak menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa di bawah kepemimpinan raja pertamanya. Kerajaan Demak berdiri pada awal abad ke-16 Masehi seiring kemunduran Majapahit.<br>Pendiri Kerajaan Demak adalah Raden Patah. Raden Patah adalah putra Raja Majapahit dan istrinya yang berasal dari China dan menjadi mualaf.&nbsp;<br><br>Kerajaan Demak menjadi pusat penyebaran agama Islam di bawah kepemimpinan Raden Patah dengan adanya peran sentral Wali Songo. Periode kepemimpinan Raden Patah adalah fase awal semakin berkembangnya ajaran Islam di Jawa. Raja Kerajaan Demak setelah Raden Fatah wafat pada 1518 yaitu Adipati Unus (1488 - 1521). Adipati Unus adalah putra Raden Patah. Sebelum menjadi sultan, Pati Unus terkenal dengan keberaniannya sebagai panglima perang. Julukan Pati Unus yaitu Pangeran Sabrang Lor muncul dari keberaniannya sebagai panglima tersebut.</div><div>Pati Unus memimpin penyerbuan kedua ke Malaka melawan Portugis pada 1521. Pati Unus wafat pada pertempuran tersebut.&nbsp;<br><br>Masa kejayaan Kerajaan Demak berlangsung saat dipimpin Sultan Trenggana (1521 - 1546). Sultan Trenggana naik takhta setelah Pati Unus.</div><div>Letak Kerajaan Demak berada di Demak, Jawa Tengah. Pada periode Sultan Trenggana, wilayah kekuasaan Demak meluas ke Jawa bagian timur dan barat. Pada 1527, pasukan Islam gabungan dari Demak dan Cirebon yang dipimpin Fatahillah atas perintah Sultan Trenggana berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa.</div><div>Nama Sunda Kelapa lalu diganti menjadi Jayakarta yang berarti kemenangan yang sempurna. Jayakarta kelak berganti nama menjadi Batavia, lalu Jakarta, ibu kota Republik Indonesia.</div><div>Sultan Trenggana wafat pada 1546. Insiden saat menyerang Panarukan, Situbondo, yang saat itu dikuasai Kerajaan Blambangan (Banyuwangi) membuat Sultan Trenggana terbunuh.</div><div><br>Wafatnya Sultan Trenggana membuat tampuk kepemimpinan Kerajaan Demak diperebutkan. Pangeran Surowiyoto atau Pangeran Sekar berupaya untuk menduduki kekuasaan mengalahkan Sunan Prawata, putra Sultan Trenggana. Sunan Prawata lalu membunuh Surowiyoto dan menduduki kekuasaan.</div><div>Kejadian tersebut menyebabkan surutnya dukungan terhadap kekuasaan Sunan Prawata. Ia lalu memindahkan pusat kekuasaan Demak ke wilayahnya di Prawoto, Pati, Jawa Tengah. Ia hanya berkuasa selama satu tahun karena dibunuh Arya Penangsang, putra Surowiyoto pada 1547.</div><div>Arya Penangsang menduduki takhta Kerajaan Demak setelah membunuh Sunan Prawata. Ia juga menyingkirkan Pangeran Hadiri atau Pangeran Kalinyamat, penguasa Jepara karena dianggap berbahaya bagi kekuasaannya.<br><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1326133860/12ea9d5eb46e60836beff51e036e93ec/WhatsApp_Image_2021_09_05_at_10_35_57_AM.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-06 10:21:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719084175</guid>
      </item>
      <item>
         <title>3. Kerajaan Islam Pajang </title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719086244</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada tahun 1568 berdiri kerajaan Islam Pajang. Pendiri kerajaan ini adalah <strong>Sultan</strong> <strong>Adiwijoyo</strong> atau <em>Joko Tingkir</em>. Ia berhasil mengalahkan Arya penangsang raja Demak. Ia kemudian memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Pajang, dapat dikatakan bahwa berdirinya kerajaan Islam Pajang erat kaitannya dengan kerajaan Demak. <br><br>Sultan Adiwijoyo atau Joko Tingkir adalah seorang yang suka menghargai pendukung atau pengikut yang turut bertempur bersamanya sewaktu menghadapi Arya Penangsang. Mereka yang telah berjasa oleh Sultan Adiwijoyo diberi hadiah penghargaan. Kedua orang yang dinilai sangat berjasa yaitu <strong>Kiai Ageng Pemanahan</strong> dihadiahi tanah di Mataram (sekitar Kotagede, dekat Yogyakarta). Sedangkan <strong>Kiai Panjawi</strong> dihadiahi tanah di daerah Pati. Mereka sekaligus diangkat menjadi bupati di daerahnya masing-masing. <br><br>Kiai Ageng Pemanahan yang menjadi Bupati Mataram mempunyai seorang putra bernama <strong>Sutowijoyo</strong>. Ia memiliki bakat di bidang kemiliteran. Sutowijoyo lebih dikenal sebagai <em>Senapti Ing Alaga</em> (Panglima Perang). Karena itu setelah Kiai Ageng pemanahan wafat pada tahun 1575, pemerintahan dilanjutkan oleh Sutowijoyo, putranya. <br><br>Setelah Sultan Adiwijoyo wafat pada tahun 1582, maka <strong>Arya Pangiri</strong> putra Sunan Pratowo (dari Demak) mencoba merebut kekuasaan dari <strong>Pangeran Benowo</strong> yang ketika itu menjadi penguasa Pajang menggantikan ayahnya. Pangeran Benowo meminta bantuan Sutowijoyo dalam menghadapi Arya Pangiri. Perebutan kekuasaan yang dilakukan Arya Pangiri tidak berhasil. Kemudian Pangeran Benowo menyerahkan kekuasaan Pajang kepada saudara angkatnya yang bernama Sutowijoyo karena tidak mampu lagi melanjutkan pemerintahan. Kemudian oleh Sutowijoyo pusat pemerintahan dipindahkan ke mataram. Dengan demikian tamatlah kerajaan Pajang.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1326133860/6c9609838b146bdb6378ce0b61125204/WhatsApp_Image_2021_09_06_at_10_08_37_AM.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-06 10:22:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719086244</guid>
      </item>
      <item>
         <title>4. Kerajaan Islam Mataram</title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719088758</link>
         <description><![CDATA[<div>Kerajaan Mataram Islam atau yang disebut dalam bahasa jawa<strong> Nagari Kasultanan Mataram</strong> merupakan kerajaan berbasis pertanian dengan menerapkan ajaran Islam.<br>Pusat Pemerintahan Kesultanan Mataram Islam terletak di wilayah <strong>Kuthagedhe</strong> yang berada di Kota Yogyakarta sekarang. <br><br>Kerajaan ini bermula dari keberhasilan <strong>Dhanang Sutowijoyo </strong>yang mengalahkan Aria Penangsang dalam sebuah pertempuran. Sebagai hasilnya, Sutowijoyo mendapatkan Hutan Mentaok dari <em>Sultan Hadi Wijaya</em> yang awalnya dimiliki oleh Sutowijoyo, yakni <strong>Kiai Ageng Pemanahan</strong>. Sutowijoyo yang memegang Hutan Mentaok kemudian mendapat gelar Panembahan <em>Senopalti Ing Alaga Sayidin Pantagama</em>. Lokasi Hutan Mentaok sebelumnya berada di kawasan Banguntapan, lalu kemudian pusat pemerintahannya berada di Kotagede.<br><br>Setelah Sutowijoyo meninggal, kekuasaan diturunkan pada putranya <strong>Prabu Hanyakrawati</strong>. Namun, Hanyakrawati hanya memerintah sebentar karena wafat saat berburu di hutan Krapyak. Atas kejadian tersebut, Hanyakrawati mendapat sebutan <em>Penembahan Seda ing Krapyak</em> yang berarti Raja yang wafat di Krapyak. Kekuasaan kemudian berada di tangan putra Hanyakrawati yaitu <strong>Adipari Martapura</strong>. Lagi-lagi kekuasaan tak bertahan lama. Karena sakit, tahta kemudian diserahkan pada<strong> Mas Rangsangpada</strong>. <br><br>Di masa inilah, Kesultanan Mataram mencapai kejayaannya. Raden Mas Rangsang atau yang dikenal sebagai<strong> Sultan Agung</strong> memerintah pada 1613-1645.<br>Sultan Agung berhasil melakukan ekspansi dan menguasai hampir seluruh wilayah di tanah Jawa.<br>Ia juga melakukan perlawanan kepada <strong>VOC</strong> dengan bekerja sama bersama Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon.<br><br>Seusai wafatnya Sultan Agung, tahta kerajaan diserahkan kepada <strong>Amangkurat I</strong>. Di masa ini, lokasi <strong>Keraton</strong> dipindahkan ke <strong>Plered</strong>. Selain itu, Gelar Sultan pun diganti menjadi Sunan.<br>Jika Sultan Agung sangat anti-VOC, Amangkurat I justru berteman dengan VOC. Hal ini menyebabkan perpecahan dalam Kerajaan Mataram Islam. Keraton kemudian dipindahkan lagi ke <strong>Kartasura</strong>. <br>Jika diurutkan, pengganti Amangkurat I adalah <strong>Amangkurat II</strong>, lalu <strong>Amangkurat III</strong>, kemudian <strong>Pakubuwana I</strong>, <strong>Amangkurat IV</strong>, dan <strong>Pakubuwana II</strong>.<br>Menurut Ki Sabdacarakatama, perpecahan kepada Kerajaan Islam Mataram dikarenakan <strong>VOC</strong> masih terjadi hingga Pakubuwana III naik tahta. Pada masa ini, wilayah Mataram dibagi menjadi Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta pada tahun 1755.&nbsp;<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1326133860/d79dd70613bff70f0c86def5fcb3f314/WhatsApp_Image_2021_09_06_at_1_48_02_PM.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-06 10:24:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719088758</guid>
      </item>
      <item>
         <title>5. Kerajaan Islam Cirebon</title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719098742</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada tahun 1522 berdiri kerajaan Islam Cirebon. Pendiri kerajaan yang sekaligus menjadi rajanya bernama <strong>Fatahillah</strong>. Ia sangat berjasa dalam mengislamkan Jawa Barat. Dibawah pemerintahannya kerjaan Islam Cirebon mencapai kejayaan. Daerah kekuasaannya bertambah luas. Kerajaan Islam Cirebon menjalin hubungan yang baik dengan kerajaan Islam Mataram. Pada tahun 1570 Fatahillah wafat. Selanjutnya ia digantikan oleh putranya bernama <strong>Pangeran Pasarean</strong>. Dalam perkembangannya kemudian pada tahun 1679 kerjaan Islam Cirebon dibagi menjadi dua kerajaan yaitu <em>Kasepuhan</em> dan <em>Kanoman</em>. <br><br>Pada masa tersebut kedudukan <strong>VOC</strong> di <strong>Batavia</strong> semakin kuat. Mereka bermaksud meluaskan kekuasaannya ke Cirebon. Maka Belanda dan VOC nya mengatur siasat dengan menerapkan politik adu domba atau <em>Devide et Impera</em>. Hal ini bertujuan untuk memperlemah kerajaan Islam Cirebon. Kerajaan islam cirebon yang sudah dipecah menjadi dua, oleh Belanda VOC dipecah lagi menjadi tiga masing-masing <em>Kasepuhan</em>, <em>Kanoman</em> dan<em> Kacirebonan</em>.&nbsp;<br><br>Dengan terpecahnya kerajaan Islam Cirebon menjadi 3 menyebabkan kerajaan Islam Cirebon semakin lemah kedudukannya. Keadaan ini terus dimanfaatkan oleh Belanda dan VOC untuk mengadu domba. Akhirnya pada abad ke-17 Cirebon berhasil dikuasai VOC.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1326133860/9a12b6fcdf28f999e442523b109ab20b/WhatsApp_Image_2021_09_06_at_10_23_16_AM.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-06 10:30:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719098742</guid>
      </item>
      <item>
         <title>6. Kerajaan Islam Banten</title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719100664</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Kerajaan Islam Banten</strong> adalah salah satu kerajaan Islam di Pulau Jawa yang pernah menjadi penguasa jalur pelayaran dan perdagangan. Hal ini didukung oleh posisinya yang strategis, yaitu di ujung barat Pulau Jawa, lebih tepatnya di Tanah Sunda, Provinsi Banten. Kerajaan Banten didirikan oleh <em>Syarif Hidayatullah</em> atau<em> Sunan Gunung Jati</em><strong> </strong>pada abad ke-16. Demikian, Sunan Gunung Jati tidak pernah bertindak sebagai raja. Raja pertama Kesultanan Banten adalah <strong>Sultan Maulana Hasanuddin</strong>, yang berkuasa antara 1552-1570 M.<br>Sedangkan masa kejayaan Kerajaan Banten berlangsung ketika pemerintahan <strong>Sultan Ageng Tirtayasa</strong> (1651-1683 M). Sultan Ageng Tirtayasa berhasil memajukan kekuatan politik dan angkatan perang Banten untuk melawan VOC. Hal itu pula yang kemudian mendorong Belanda melakukan politik adu domba hingga menjadi salah satu penyebab runtuhnya Kerajaan Banten.<br><br>Sebelum periode Islam, Banten adalah kota penting yang masih dalam kekuasaan Pajajaran. Pada awalnya, penguasa Pajajaran bermaksud menjalin kerjasama dengan Portugis untuk membantunya dalam menghadapi orang Islam di Jawa Tengah yang telah mengambil alih kekuasaan dari tangan raja-raja bawahan Majapahit. Namun, sebelum Portugis sempat mengambil manfaat dari perjanjian dengan mendirikan pos perdagangan, pelabuhan Banten telah diduduki oleh orang-orang Islam. <strong>Sunan Gunung Jati</strong><strong><em> </em></strong>berhasil menguasai Banten pada 1525-1526 M. <br><br>Kedatangan Sunan Gunung Jati ke Banten adalah bagian dari misi <strong>Sultan Trenggono</strong> dari Kerajaan Demak untuk mengusir Portugis dari nusantara. <br>Setelah berhasil menguasai Banten, Sunan Gunung Jati segera mengambil alih pemerintahan, tetapi tidak mengangkat dirinya sebagai raja. Pada 1552 M, Sunan Gunung Jati kembali ke Cirebon dan menyerahkan Banten kepada putra keduanya, <strong>Sultan Maulana Hasanuddin</strong>. Sejak saat itu, Sultan Maulana Hasanuddin resmi diangkat sebagai raja pertama Kerajaan Banten.<br><br>Setelah menjadi raja, Sultan Maulana Hasanuddin melanjutkan cita-cita ayahnya untuk meluaskan pengaruh Islam di tanah Banten. Bahkan Banten mempunyai peranan penting dalam penyebaran Islam di nusantara, khususnya di wilayah Jawa Barat, Jakarta, Lampung, dan Sumatera Selatan. Menurut catatan sejarah Banten, sultan yang berkuasa masih keturunan Nabi Muhammad, sehingga agama Islam benar-benar menjadi pedoman rakyatnya. Meski ajaran Islam memengaruhi sebagian besar aspek kehidupan, masyarakatnya telah menjalankan praktik toleransi terhadap pemeluk agama lain. Terlebih lagi, banyak orang India, Arab, Cina, Melayu, dan Jawa yang menetap di Banten. Kehidupan sosial masyarakat Banten semakin makmur pada masa pemerintahan <strong>Sultan Ageng Tirtayasa</strong>. Sebab, sultan sangat memerhatikan kesejahteraan rakyatnya, salah satu caranya dengan menerapkan sistem perdagangan bebas.&nbsp;<br><br>Kerajaan Banten berhasil mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Beberapa hal yang dilakukannya untuk memajukan Kesultanan Banten di antaranya, sebagai berikut :&nbsp; Memajukan wilayah perdagangan Banten hingga ke bagian selatan Pulau Sumatera dan Kalimantan, Banten dijadikan tempat perdagangan internasional yang memertemukan pedagang lokal dengan pedagang Eropa, Memajukan pendidikan dan kebudayaan Islam, Melakukan modernisasi bangunan keraton dengan bantuan arsitektur Lucas Cardeel, Membangun armada laut untuk melindungi perdagangan dari kerajaan lain dan serangan pasukan Eropa<br><br>Kegigihan Sultan Ageng Tirtayasa dalam melawan VOC mendorong Belanda melakukan politik adu domba. Politik adu domba ditujukan kepada Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya, Sultan Haji, yang kala itu sedang terlibat konflik. Siasat VOC pun berhasil, hingga Sultan Haji mau bekerjasama dengan Belanda demi meruntuhkan kekuasaan ayahnya. Pada 1683, Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap dan dipenjara sehingga harus menyerahkan kekuasaannya kepada putranya. Penangkapan Sultan Ageng Tirtayasa menjadi tanda berkibarnya kekuasaan VOC di Banten. Meski Sultan Abu Nashar Abdul Qahar atau Sultan Haji diangkat menjadi raja, tetapi pengangkatan tersebut disertai beberapa persyaratan yang tertuang dalam Perjanjian Banten.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1326133860/4bc45039eb35a232948a7911475e5a26/WhatsApp_Image_2021_09_06_at_2_46_12_PM.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-06 10:31:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719100664</guid>
      </item>
      <item>
         <title>7. Kerajaan Islam Ternate dan Tidore</title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719102631</link>
         <description><![CDATA[<div>Kerajaan Ternate dan Tidore merupakan dua kerajaan besar yang terletak di Kepulauan <strong>Halmahera Maluku Utara</strong>. Letak kedua kerajaan berada di Kepulauan Maluku merupakan menjadi sumber atau penghasil rempah-rempah Nusantara dan dunia. Sumber rempah-rempah tersebut mendorong bangsa-bangsa Eropa untuk menguasai. Kerajaan Ternate dan Tidore memiliki peran yang menonjol dalam menghadapi kekuatan-kekuatan asing yang mencoba menguasai Maluku.<br><br>Kerajaan Ternate atau dikenal Kerajaan <strong>Gapi </strong>dan Kerajaan Tidore berdiri pada abad ke-14. Pada masa itu, rempah-rempah umumnya diperlukan bangsa-bangsa Eropa. Sehingga harganya cukup tinggi dan telah membuat makmur rakyat Maluku. Pada pertengahan abad ke-15, kegiatan perdagangan rempah-rempah di Maluku semakin berkembang. Banyak sekali pedagang Jawa, Melayu, Arab, dan China yang datang ke Maluku untuk membeli rempah-rempah. Kedatangan mereka sebaliknya membawa beras, tenunan, perak, gading, dan barang-barang lainnya. Kerajaan-kerajaan di Maluku sangat akrab menjalin hubungan ekonomi dengan pedagang Jawa. <br><br>Bahkan pedagang Maluku sering berkunjung ke Jawa dan sebaliknya pedagang Jawa sering datang ke Maluku untuk membeli rempah-rempah. Hubungan tersebut berpengaruh terhadap proses penyebaran Islam di Kerajaan Ternate dan Tidore. Agama Islam pertama kali masuk di kepulauan Maluku dibawa oleh pedagang-pedagang dari Malaka dan para mubaligh dari pulau Jawa. Raja Ternate yang pertama kali menganut Islam adalah <strong>Zainal Abidin</strong> (1465-1486) yang berganti nama menjadi <strong>Sultan Marhum</strong>. Sementara Raja Tidore yang pertama kali masuk Islam adalah <strong>Ciriliyah</strong> yang kemudian berganti nama menjadi <strong>Sultan Jamaludin</strong>. Kerajaan Ternate dan Tidore awalnya hidup berdampingan secara damai.<br><br>Pada 1575, <strong>Sultan Baabullah</strong> mampu mengalahkan dan mengusir <strong>Portugis</strong> dari Ternate. Portugis kemudian pindah ke <em>Ambon</em> tapi tidak lama. Karena diserang oleh Kerajaan Tidore. Akhirnya Portugis pindah ke <strong>Timor Timur (Timor Leste)</strong>. Berakhirnya kekuasaan Portugis di Maluku membuat dua kerajaan mencapai puncak kejayaannya. Kerajaan Ternate mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Baabulah.&nbsp;<br><br>Sementara itu di kerajaan Tidore agama Islam pun berkembang pesat. Seperti halnya Ternate, kerajaan Tidore berubah menjadi kerajaan Islam, Tidore yang dipimpin oleh&nbsp; Sultan Tidore. Kedua kerajaan ini pada mulanya hidup berdampingan secara damai, saling menghormati kedaulatan&nbsp; masing-masing. Tetapi oleh bangsa Portugis dan Spanyol kedua kerajaan ini diadu domba. Sehingga nyaris terjadi pertentangan yang menjurus perang. Untung&nbsp; kedua pimpinan kerajaan menyadari hal ini. Mereka tidak mau diadu domba dengan bangsa sendiri. Kemudian kerajaan ini bersatu, bahu-membahu&nbsp; dalam menghadapi Portugis.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1326133860/e4d08df3504962246d6e0bad361a2ffb/WhatsApp_Image_2021_09_06_at_2_55_20_PM.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-06 10:33:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719102631</guid>
      </item>
      <item>
         <title>8. Kerajaan Islam Makassar</title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719104242</link>
         <description><![CDATA[<div>Kerajaan Makassar berdiri pada abad ke-16 Masehi yang awalnya terdiri atas dua kerajaan yaitu<strong> kerajaan Gowa dan Tallo</strong>, kemudian keduanya bersatu dibawah pimpinan raja Gowa yaitu <strong>Daeng Manrabba</strong>. Setelah menganut agama Islam, Ia bergelar <em>Sultan Alauddin</em>. Sedangkan Raja Tallo sendiri yaitu <strong>Karaeng Mattoaya</strong> yang bergelar <em>Sultan Abdullah</em>, Bersatunya kedua kerajaan ini bersamaan dengan tersebarnya agama Islam di <em>Sulawesi Selatan</em>.<br><br>Awalnya Upaya penyebaran agama Islam dari Jawa ke Makassar tidak banyak membawa hasil.&nbsp; Demikian pula usaha <strong>Sultan Baabullah</strong> dari Ternate yang mendorong penguasa Gowa-Tallo agar memeluk agama Islam.&nbsp; Islam baru dapat berpijak kuat di Makassar berkat upaya<strong> Datok Ribandang</strong> dari <em>Minangkabau</em>. <br><br>Pada tahun 1650, penguasa Gowa dan Tallo memeluk agama Islam. Dalam perjalanannya kerajaan masing-masing, dua kerajaan bersaudara ini dilanda peperangan bertahun-tahun. Hingga kemudian pada masa Gowa dipimpin <strong>Raja Gowa X</strong>, Kerajaan Tallo mengalami kekalahan. Kedua kerajaan kembar itu pun menjadi satu kerajaan dengan kesepakatan <em>“Rua Karaeng se’re ata”(dua raja, seorang hamba)</em>.&nbsp; Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo ini akhirnya meleburkan Pusat pemerintahan dari Kerajaan Makassar terletak di <strong>Sombaopu</strong>.&nbsp; <br>Letak kerajaan Makassar sangat strategis karena berada di jalur lalu lintas pelayaran antara Malaka dan Maluku. Letaknya yang sangat strategis itu menarik minat para pedagang untuk singgah di pelabuhan Sombaopu. Dalam waktu singkat, Makassar berkembang menjadi salah satu Bandar penting di wilayah timur Indonesia.<br><br>Pada awalnya di daerah Gowa terdapat sembilan komunitas, yang dikenal dengan nama <em>Bate Salapang (Sembilan Bendera)</em>, yang kemudian menjadi pusat kerajaan Gowa: <strong>Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero dan Kalili. <br><br></strong>Kerajaan ini memiliki raja yang paling terkenal bergelar <strong>Sultan Hasanuddin</strong>, yang saat itu melakukan peperangan yang dikenal dengan <strong>Perang Makassar </strong>(1666-1669) terhadap VOC yang dibantu oleh <strong>Kerajaan Bone</strong> yang dikuasai oleh satu wangsa <em>Suku Bugis</em> dengan rajanya <strong>Arung Palakka</strong>. Perang Makassar bukanlah perang antarsuku karena pihak Gowa memiliki sekutu dari kalangan Bugis; demikian pula pihak Belanda-Bone memiliki sekutu orang Makassar. Perang Makassar adalah perang terbesar VOC yang pernah dilakukannya di abad ke-17. <br><br>Sultan Hasanuddin (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 – meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun) adalah Raja Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama <strong><em>I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe.</em></strong><br><br>Setelah memeluk agama Islam, ia mendapat tambahan gelar <strong>Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana</strong>, hanya saja lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja. Karena keberaniannya, ia dijuluki <em>De Haantjes van Het Oosten</em> oleh Belanda yang artinya&nbsp; Ayam Jantan/Jago dari Benua Timur. Ia dimakamkan di <strong>Katangka, Makassar</strong>.<br><br><strong><br></strong><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1326133860/7241dca68d1c68aed7e52b62c1ec2fc3/WhatsApp_Image_2021_09_06_at_3_23_25_PM.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-06 10:34:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719104242</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peta/Tahun Kesultanan Islam Nusantara</title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719105901</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1326133860/58ad6cc98a0889e85400ca349fe185a7/WhatsApp_Image_2021_09_06_at_4_34_56_PM.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-06 10:35:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1719105901</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI NUSANTARA | Kel. 1 (Afifah, Alba, Andra, Dyland, Sri Mulyani)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1732361830</link>
         <description><![CDATA[<ul><li><strong>Kerajaan Islam Samudera Pasai (Lokseumawe, Aceh Utara)</strong></li></ul><div><br>Pada abad ke-13 berdirilah kerajaan Islam pertama di Indonesia yaitu Samudra Pasai. Pendiri kerajaan ini sekaligus menjadi raja pertama bernama Sultan malik al saleh.<br><br>Kemudian pada tahun 1297 sultan malik al saleh wafat, digantikan oleh putranya bernama Sultan Mahmud. Pada tahun 1326 Sultan Mahmud juga wafat. Selanjutnya di gantikan oleh Sultan Ahmad yang bergelar Sultan Malik Al-Tahir. Ibnu batuta menceritakan bahwa samudra pasai merupakan bandar utama pelabuhan yang sangat penting.<br><br></div><ul><li><strong>Kerajaan Demak (Demak, Jawa Tengah)</strong></li></ul><div><br>Kesultanan Demak atau Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa. Kerajaan Demak menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa di bawah kepemimpinan raja pertamanya. Kerajaan Demak berdiri pada awal abad ke-16 Masehi seiring kemunduran Majapahit. Pendiri Kerajaan Demak adalah Raden Patah. Raden Patah adalah putra Raja Majapahit dan istrinya yang berasal dari China dan menjadi mualaf. Kerajaan Demak menjadi pusat penyebaran agama Islam di bawah kepemimpinan Raden Patah dengan adanya peran sentral Wali Songo.&nbsp;<br><br>Pada periode Sultan Trenggana, wilayah kekuasaan Demak meluas ke Jawa bagian timur dan barat. Pada 1527, pasukan Islam gabungan dari Demak dan Cirebon yang dipimpin Fatahillah atas perintah Sultan Trenggana berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa.<br><br></div><ul><li><strong>Kerajaan Pajang (Perbatasan Desa Pajang, Kota Surakarta, dan Desa Makamhaji, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo)</strong></li></ul><div><br>Kerajaan Pajang berdiri pada tahun 1568 dan runtuh pada 1587. Pendiri Kerajaan Pajang adalah Sultan Hadiwijaya atau dikenal juga sebagai Jaka Tingkir. Sultan Hadiwijaya pula yang berhasil mengantarkan Pajang ke puncak kejayaan.&nbsp;<br><br>Pajang merupakan kerajaan bercorak Islam pertama di Jawa yang letaknya berada di pedalaman. Karena itu, kerajaan ini bersifat agraris dan mengandalkan pertanian sebagai tulang punggung perekonomian. Setelah 21 tahun berdiri, Kesultanan Pajang mengalami kemunduran dan akhirnya dijadikan sebagai negeri bawahan Mataram.<br><br></div><ul><li><strong>Kerajaan Mataram (Yogyakarta)</strong></li></ul><div><br>Kerajaan Islam di Pulau Jawa yang berkuasa antara abad ke-16 hingga abad ke-18. Pendiri Kerajaan Mataram Islam adalah Danang Sutawijaya atau Panembahan Senopati.<br><br>Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan ketika diperintah oleh Sultan Agung (1613-1645 M). Di bawah kekuasaannya, Mataram mampu menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya, termasuk Madura.<br><br></div><ul><li><strong>Kerajaan Islam Cirebon (Pantai Utara Pulau Jawa)</strong></li></ul><div><br>Pada tahun 1522 berdiri kerajaan Islam Cirebon. Pendiri kerajaan yang sekaligus menjadi rajanya bernama Fatahillah.<br><br>Pada tahun 1570 fatahillah wafat. Selanjutnya ia digantikan oleh putranya bernama pangeran pesarean. Dalam perkembangannya kemudian pada tahun 1679 kerajaan Islam Cirebon dibagi menjadi dua kerajaan yaitu kasepuhan dan kanoman.&nbsp;<br><br>Pada masa tersebut kedudukan VOC di Batavia semakin kuat, mereka bermaksud meluaskan kekuasaannya ke Cirebon. Hal ini bertujuan untuk memperlemah kerajaan Islam Cirebon. Keadaan ini terus dimanfaatkan oleh Belanda dan VOC untuk mengadu domba. Akhirnya pada abad-17 Cirebon berhasil dikuasai VOC.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1329008194/4314831046d2e98019bf97a02d4475d1/WhatsApp_Image_2021_09_06_at_21_34_05.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-11 08:14:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1732361830</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI NUSANTARA | Kelompok 1</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1732363939</link>
         <description><![CDATA[<ul><li><strong>Kerajaan Banten (Tanah Sunda, Banten)</strong></li></ul><div><br>Salah satu kerajaan Islam di Pulau Jawa yang pernah menjadi penguasa jalur pelayaran dan perdagangan. Hal ini didukung oleh posisinya yang strategis, yaitu di ujung barat Pulau Jawa, lebih tepatnya di Tanah Sunda, Provinsi Banten.<br><br>Kerajaan Banten didirikan oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati pada abad ke-16. Kendati demikian, Sunan Gunung Jati tidak pernah bertindak sebagai raja. Raja pertama Kesultanan Banten adalah Sultan Maulana Hasanuddin, yang berkuasa antara 1552-1570 M. Sedangkan masa kejayaan Kerajaan Banten berlangsung ketika pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683 M).<br><br></div><ul><li><strong>Kerajaan Ternate dan Tidore (Maluku)</strong></li></ul><div><br>Nama aslinya adalah Kerajaan Gapi, kemudian berubah menjadi Kesultanan Ternate karena mengikuti nama ibu kotanya.<br><br>Kerajaan Ternate didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada 1257 M, dan sejak saat itu memainkan peran penting di kawasan timur nusantara hingga abad ke-17. Masa kejayaannya berlangsung pada abad ke-16, berkat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan militernya.<br><br>Ternate dikenal sebagai kota penghasil rempah-rempah, sehingga penduduknya kerap berhubungan dengan pedagang dari Arab, Melayu, dan Tionghoa. Pada 1257, pemimpin klan Sampalu yang bernama Momole Ciko terpilih menjadi Raja Gapi pertama dengan gelar Baab Mashur Malamo (1257-1272 M).<br><br></div><ul><li><strong>Kerajaan Makassar&nbsp; (Gowa, Sulawesi Selatan)</strong></li></ul><div><br>Kerajaan ini merupakan gabungan dari dua kerajaan yang berasal dari keturunan Kerajaan Gowa, yang didirikan oleh Tumanurung Bainea pada awal abad ke-14. Pada abad ke-15, kerajaan ini dibagi menjadi dua, yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. Pada masa pemerintahan Raja Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi Kallonna, Gowa dan Tallo bersatu dan sejak saat itu disebut sebagai Kerajaan Gowa-Tallo atau Kerajaan Makassar.<br><br>Kesultanan Gowa-Tallo mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin atau yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur. Di bawah kekuasaannya, kerajaan ini menjadi pusat perdagangan di Indonesia bagian timur. Sultan Hasanuddin juga mempimpin perjuangan melawan penjajah di daerah Makassar.<br><br></div><ul><li><strong>Kerajaan Perlak (Peureulak, Aceh Timur)</strong></li></ul><div><br>Kerajaan Perlak diperkirakan berdiri pada 1 Muharram 225 H (840 M). Raja Perlak pertama adalah Saiyid Abdul Azis yang bergeral Sultan Aladin Saiyid Maulana Abdul Aziz Shah. Pada masa pemerintahannya, Perlak merupakan pusat kebudayaan Islam di Indonesia.<br><br>Dengan berdirinya kerajaan Perlak, maka datang pula 2 aliran, yakni Syiah dan Sunni. Peperangan antara dua aliran terus berlangsung hingga akhirnya dapat diredam setelah dibuat perjanjian damai yang disebut dengan Perjanjian Alue Meuh. Perjanjian tersebut mengatur pembagian Kerajaan Perlak menjadi dua, yakni Perlak Baroh (Syiah) yang berpusat di Bandar Khalifah dengan wilayah dipesisir. Sedangkan untuk aliran Sunni yaitu Perlak Tunong dengan wilayah di pedalaman.<br><br></div><ul><li><strong>Kerajaan Banjar (Kalimantan Selatan)</strong></li></ul><div><br>Sejarah Kerajaan Banjar dimulai sejak tahun 1526 Masehi dan berakhir pada 1905 Masehi. &nbsp;<br><br>Awalnya, Kesultanan Banjar terletak di wilayah Banjarmasin. Namun, dalam perjalanannya, kerajaan Islam ini berpindah-pindah ibu kota hingga ke Martapura.<br><br>Kasultanan Banjar mempunyai pengaruh kultural yang kuat terhadap sendi-sendi kehidupan Masyarakat Banjar hingga hari ini, mulai dari religi, bahasa, seni hingga sistem kemasyarakatan.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1329008194/12833c10ab284968fa3443a1299276e1/WhatsApp_Image_2021_09_06_at_21_35_48.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-11 08:17:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1732363939</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sejarah Kerajaan-Kerajaan Islam di Nusantara | Bagian 1 (Kelompok 2–Agit, Aurel, Fadhlan, Ridhwan, Zahra)</title>
         <author>Aurel_9B</author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1735793653</link>
         <description><![CDATA[<div><strong><br>1.Kerajaan Islam Samudra Pasai&nbsp;<br></strong><br></div><div><br>Pada abad ke-13, berdiri kerajaan Islam pertama di Indonesia yakni kerajaan Islam Samudra Pasai. Pendiri sekaligus raja pertama kerajaan ini adalah "Sultan Malik Al Saleh". Kerajaan ini berada di daerah Aceh Utara di Kabupaten Lokseumawe.<br><br></div><div><br>Setelah Sultan Malik al Saleh wafat pada tahun 1297, pemerintahannya dilanjutkan oleh putranya yang bernama “Sultan Mahmud”. Kemudian, beliau wafat pada tahun 1326 dan dilanjutkan oleh “Sultan Ahmad” yang bergelar “Sultan Malik Al Tahir”.<br><br></div><div><br>Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad kerajaan samudra pasai mendapat kunjungan Ibnu Batuta, utusan sultan Delhi. Ibnu Batuta bercerita bahwa kerajaan Samudra Pasai merupakan pelabuhan yang sangat penting karena merupakan tempat bongkar muat barang dagangan yang dibawa oleh pedagang dari dalam dan luar negri (India &amp; China).<br><br></div><div><strong><br>2. Kerajaan Islam Demak<br></strong><br></div><div><br>Pada abad ke-15 di Pulau Jawa berdiri kerajaan Islam Demak. Pendiri kerajaan ini bernama Raden Patah yang pernah menjabat sebagai seorang bupati di kerajaan Majapahit. Kerajaan ini didirikan karena melemahnya kekuasaan Majapahit.<br><br></div><div><br>Pada tahun 1513, kerajaan Demak mengirim armada tentaranya dipimpin oleh Pati Unus untuk mengusir Portugis di Malaka karena kedatangannya merupakan ancaman. Namun, hal itu gagal disebabkan Portugis memiliki armada yang lebih kuat dan lengkap.<br><br></div><div><br>Pada tahun 1518, Raden Patah wafat. Ia digantikan oleh putranya, Pati Unus selama 3 tahun sebelum akhirnya wafat dan digantikan oleh adik Pati Unus, Sultan Trenggono.<br><br></div><div><br>Pada tahun 1522, Portugis datang ke Sunda Kelapa, pelabuhan utama kerajaan Pajajaran. Portugis menjalin kerjasama dengan raja Pajajaran untuk menghadapi pasukan Islam Demak dan merencanakan mendirikan benteng di Sunda Kelapa.<br><br></div><div><br>Pada tahun 1572, kerajaan Islam Demak mengirimkan tentaranya dipimpin oleh Fatahillah untuk mengusir Portugis dari Sunda kelapa. Setelah berhasil, nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta yang sekarang menjadi Jakarta. Sementara itu, Demak berhasil menguasai Jawa Timur. Ekspedisi dipimpin langsung oleh Sultan Trenggono yang kemudian gugur dalam serangannya ke Pasuruan pada tahun 1546.<br><br></div><div><br>Berakhirnya kerajaan Islam Demak yakni, setelah Pangeran Adiwijoyo atau Joko Tingkir berhasil mengalahkan Arya Penangsang yang suka bertindak seenaknya dan kemudian, memindahkan keraton Demak ke Pajang pada tahun 1568.<br><br></div><div><strong><br>3. Kerajaan Islam Pajang&nbsp;<br></strong><br></div><div><br>Pada tahun 1568 kerajaan islam pajang berdiri yang didirikan oleh Sultan Adiwijoyo atau Joko Tingkir. Berdirinya kerajaan ini memiliki kaitan dengan dipindahkannya kerajaan Islam Demak.<br><br></div><div><br>Sultan Adiwijoyo memberikan hadiah kepada 2 orang yang dinilai sangat berjasa membantunya saat pertempuran, yaitu Kiai Ageng Pemanahan dihadiahi tanah di Mataram dan Kiai Panjawi dihadiahi tanah di Daerah Pati. Mereka berdua juga diangkat menjadi bupati di daerahnya masing-masing.<br><br></div><div><br>Kiai Ageng Pemanahan memiliki seorang putra bernama Sutowijoyo yang dikenal dengan Senapti Ing Alaga (Panglima Perang). Sehingga, pemerintahan Kiai Ageng Pemanahan dilanjutkan oleh putranya setelah beliau wafat.<br><br></div><div><br>Pada Perkembangannya di Pajang terjadi pergolakan hebat. Setelah Sultan Adiwijoyo wafat di tahun 1582, maka Arya Pangiri, putra Sunan Prawoto (dari Demak) mencoba merebut kekuasaan dari pangeran Benowo yang saat itu menjadi raja menggantikan ayahnya, Sultan Adiwijoyo. Pangeran Benowo dibantu oleh Sutowijoyo. Alhasil, perebutan kekuasaan tersebut gagal. Kekuasaan diserahkan kepada Sutowijoyo dan kemudian pusat pemerintahan dipindahkan ke Mataram.<br><br></div><div><strong><br>4. Kerajaan Islam Mataram<br></strong><br></div><div><br>Pada tahun 1586 berdiri kerajaan Islam Mataram. Pendiri kerajaan ini adalah Sutowijoyo. Letak kerajaan ini berada di Kotagede, sebelah tenggara kota Yogyakarta, Ketika memerintah dikerajaan Mataram, banyak bupati yang ingin melepaskan diri dari kekuasaannya. Diantaranya ada, bupati Ponorogo, Madiun, Kediri, Pasuruan, Surabaya, Cirebon dan Galuh. Namun tidak ada satupun usaha mereka yang berhasil.<br><br></div><div><br>Pada tahun 1601, Sutowijoyo wafat. Ia dimakamkan di Kotagede. Setelah Sutowijoyo wafat, kerajaan Mataram diperintah oleh Mas Jolang atau Penembahan Seda ing Krapyak.<br><br></div><div><br>Pada awal pemerintahannya, terjadi lagi pemberontakan-pemberontakan. Sementara, upaya memadamkan pemberontakan terus berlangsung dan belum berhasil dipadamkan, Mas Jolang wafat. la dimakamkan di Kotagede. Kemudian, pengganti Mas Jolang bernama Adipati Martapura. Tetapi, karena fisiknya yang lemah, pemerintahan Adipati Martapura diganti oleh Mas Rangsang.<br><br></div><div><br>Pada masa pemerintahannya, kerajaan Islam Mataram mencapai kemajuan yang pesat di bidang pertanian, agama dan kebudayaan. Karya sastra berupa buku berjudul Sastra Gending merupakan hasil karyanya sendiri. Wayang juga berkembang pesat. Pada masa pemerintahan Mas Rangsang (tahun 1633) juga ditetapkan perhitungan tahun Islam didasarkan bulan. Oleh sebab itu, Mas Rangsang lebih dikenal sebagai Sultan Agung.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1342672789/5656bcb68457f7f0dc153c648ed03c31/padlet_image_picker_file_3256daca_41a7_4ec6_be18_23ebf6b55786.jpg" />
         <pubDate>2021-09-13 12:01:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1735793653</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sejarah Kerajaan-Kerajaan Islam di Nusantara | Bagian 2 (Kelompok 2–Agit, Aurel, Fadhlan, Ridhwan, Zahra)</title>
         <author>Aurel_9B</author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1735806989</link>
         <description><![CDATA[<div><strong><br>5. Kerajaan Islam Cirebon<br></strong><br></div><div><br>Pada tahun 1522 berdiri kerajaan Islam Cirebon. Pendiri sekaligus raja dari kerajaan ini bernama Fatahillah. Ia sangat berjasa dalam mengislamkan Jawa Barat. Kerajaan ini pernah menjadi pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran. Hal ini karena, Kerajaan Cirebon terletak di pantai utara Jawa, antara perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Di bawah pemerintahannya kerajaan Islam Cirebon mencapai kejayaan. Pada tahun 1570, Fatahillah wafat. Selanjutnya ia digantikan oleh putranya bernama pangeran Pasarean. Kemudian, pada tahun 1679 kerajaan Islam Cirebon dibagi menjadi dua kerajaan, yaitu Kasepuhan dan Kanoman.<br><br></div><div><br>Pada masa itu, VOC sangatlah kuat dan mereka ingin memperluas daerah mereka ke Cirebon. Maka Belanda dan VOC-nya menerapkan politik adu domba atau Devide et Impera, untuk memperlemah kerajaan Islam Cirebon. Kerajaan Islam Cirebon yang sudah dipecah menjadi dua, terpecah lagi menjadi tiga, yaitu Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan.<br><br></div><div><br>Hal tersebut membuat kerajaan Islam Cirebon semakin lemah kedudukannya. Keadaan ini terus dimanfaatkan oleh Belanda dan VOC untuk mengadu domba, Akhirnya padda abad ke-17 Cirebon berhasil dikuasai VOC.<br><br></div><div><strong><br>6. Kerajaan Islam Banten<br></strong><br></div><div><br>Pada tahun 1552 berdiri kerajaan Islam Banten. Pendiri sekaligus raja dari kerajaan ini bernama Hasanuddin. Hasanuddin sama seperti ayahnya, giat menyiarkan agama Islam. Pada waktu itu kerajaan Pakuan Pajajaran masih menganut agama Hindu. Kerajaan Islam Banten yang semakin kuat kedudukannya tidak memanfaatkan hal ini untuk menyerang kerajaan tersebut. Tetapi, Hasanuddin meluaskan pengaruhnya ke Lampung. Kemudian, ia menikah dengan putri Sultan Indrapura. Oleh mertuanya Hasanuddin dihadiahi tanah di daerah Selebar.<br><br></div><div><br>Setelah Hasanuddin wafat, ia digantikan oleh putranya, Pangeran Yusuf. la meluaskan daerah kekuasaannya dan menaklukan Pakuan Pajaran (tahun 1579). Kemudian pada tahun 1580 Pangeran Yusuf wafat.<br><br></div><div><br>Setelah wafatnya Pangeran Yusuf, Kerajaan Islam Banten dipimpin oleh Maulana Muhammad. Pada tahun 1596, Maulana Muhammad mencoba menaklukkan Palembang yang saat itu diperintah oleh Ki Gede Ing Suro, untuk memperluas daerah kekuasaannya. Palembang nyaris jatuh ke tangan Maulana Muhammad tetapi, akhirnya ia gagal juga.<br><br></div><div><br>Setelah beliau wafat, seluruh kerajaan bingung karena anaknya yang harusnya menjadi penerusnya masih berumur 5 bulan. Maka, pemerintahan sementara dipegang oleh mangkubumi. Kemudian, muncul orang kuat bernama Pangeran Ranamenggala yang mengendalikan Banten.<br><br></div><div><strong><br>7.&nbsp; Kerajaan Islam Ternate dan Tidore<br></strong><br></div><div><br>Pada abad ke-13 di Maluku telah berdiri beberapa kerajaan tetapi ternyata, kerajaan ternate dan Tidore lah yang berkembang lebih maju. Hal ini dikarenakan, hasil buminya yang berupa rempah rempah. Banyaknya pedagang yang pergi berlayar ke Ternate untuk menukarkan barang dagangannya dengan rempah-rempah.<br><br></div><div><br>Pada abad ke-14 agama Islam berkembang pesat di Ternate. Dalam perkembangannya kemudian Ternate berubah menjadi kerajaan Islam. Kerajaan ini dipimpin oleh Sultan Harun. Pada masa pemerintahannya sering terjadi pertempuran antara penduduk Maluku dengan orang-orang Portugis dikarenakan, Portugis yang datang dan sering berbuat onar seperti memonopoli perdagangan.<br><br></div><div><br>Pada tahun 1570, Sultan Harun dibunuh karena ditipu oleh Portugis saat melakukan perjanjian damai melalui perundingan. Setelah beliau wafat, ia digantikan oleh putranya, Sultan Baabullah.<br><br></div><div><br>Kejadian tersebut menimbulkan kemarahan rakyat Maluku. Terlebih lagi Sultan Baabullah sebagai putranya. la bersumpah akan membalas dendam kematian ayahnya dengan mengenyahkan orang-orang Portugis dari bumi Maluku. Kemudian, Baabullah memimpin pasukannya bertempur melawan tentara Portugis yang berlangsung selama 4 tahun. Baabullah menang dan Portugis pun menyerah.<br><br></div><div><br>Sementara itu, sama dengan Ternate, kerajaan Tidore berubah menjadi kerajaan Islam Tidore yang dipimpin oleh sultan Tidore. Kedua kerajaan ini awalnya damai dan tentram tetapi, oleh Portugis dan Spanyol kedua kerajaan ini diadu domba. Sehingga nyaris terjadi peperangan. Tetapi, pemimpin dari dua kerajaan ini menyadarinya dan Kemudian bersatu dalam menghadapi Portugis.<br><br></div><div><strong><br>8. Kerajaan Islam Makassar<br></strong><br></div><div><br>Pada abad ke-16 di Sulawesi Selatan telah berdiri beberapa kerajaan tetapi, kerajaan Gowa dan Tallo mengalami kemajuan yang lebih pesat. Hal ini disebabkan letak kerajaan ini sangat strategis dan menguntungkan yakni terletak di tengah-tengah lalu-lintas pelayaran antara Malaka dan Maluku. Kedua kerajaan yaitu Gowa dan Tallo telah sepakat untuk menyatukan kerajaan mereka menjadi Kerajaan Islam Makassar. Kerajaan ini dipimpin oleh Sultan Alauddin dan Sultan Abdullah.<br><br></div><div><br>Kerajaan Islam Makassar mencapai puncak kejayaannya ketika masa Sultan Hasanuddin (tahun 1654-1669). Ia adalah cucu Sultan Alauddin, pendiri kerajaan Islam Makassar.<br><br></div><div><br>Belanda terus berusaha untuk menaklukan Sultan Hasanuddin. Pada waktu itu, Sultan Hasanuddin sedang berselisih dengan Aru Palaka, raja Bone dan Soppeng. Hal ini dimanfaatkan Belanda dengan menerapkan politik adu domba. Belanda dalam hal ini memihak Aru Palaka dan bersama memerangi Sultan Hasanuddin. Kemudian terjadi pertempuran hebat (tahun 1666-1669).<br><br></div><div><br>Sultan Hasanuddin terdesak dan Makassar hampir jatuh ke tangan Belanda. Akhirnya Sultan Hasanuddin bersedia membuat perjanjian damai yang dikenal dengan perjanjian Bongaya (1667).<br><br></div><div><br>Tetapi, Belanda yang licik melanggar perjanjian dan membuat Sultan Hasanuddin marah. Kemudian ia kembali memerangi Belanda. Dalam peperangan ini, Sultan Hasanuddin mendapat mendapat tekanan hebat dari Belanda dan, pada tahun 1669, Sultan Hasanuddin terpaksa menyerah dan Makassar pun dikuasai penjajah Belanda.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1342672789/b10ef52aa6f121538a5b6d332d0ae8b1/padlet_image_picker_file_8fed901d_aeb0_488c_93fd_15519e2dfe49.jpg" />
         <pubDate>2021-09-13 12:08:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1735806989</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KERAJAAN - KERAJAAN ISLAM DI NUSANTARA | Kel.3 (Kylee,Shahra,Rizki Febrian,Dasha,Auqi(tidak bisa dihubungi))</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1736662949</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>SEJARAH MASUK KERAJAAN ISLAM DI NUSANTARA<br></strong><br></div><div>Para ahli sejarah memberikan 4 teori bagaimana proses masuknya Islam ke Nusantara. Masing-masing teori dijelaskan berdasarkan rentan waktu yang berbeda. Mulai dari abad ke 7, hingga ada pula yang menyebutkan abad ke 13.<br><br>1. Teori Gujarat<br><br></div><div>Teori ini beranggapan bahwa agama dan kebudayaan Islam dibawa oleh para pedagang dari daerah Gujarat, India yang berlayar melewati selat Malaka. Teori ini menjelaskan bahwa kedatangan Islam ke Nusantara sekitar abad ke 13, melalui kontak para pedagang dan kerajaan Samudera Pasai yang menguasai selat Malaka pada saat itu.<br><br></div><div>Teori ini juga diperkuat dengan penemuan makam Sultan Samudera Pasai, Malik As-Saleh pada tahun 1297 yang bercorak Gujarat. Teori ini dikemukakan oleh S. Hurgronje dan J. Pijnapel.<br><br></div><div><strong>2. Teori Persia</strong></div><div><strong>Umar Amir Husen dan Hoesein Djadjadiningrat</strong> berpendapat bahwa Islam masuk ke Nusantara melalui para <strong>pedagang yang berasal dari Persia</strong>, bukan dari Gujarat. Persia adalah sebuah kerajaan yang saat ini kemungkinan besar berada di Iran.<br><br></div><div><strong>3. Teori China</strong><br> Teori ini berpendapat, bahwa migrasi masyarakat muslim China dari <strong>Kanton</strong> ke Nusantara, khususnya <strong>Palembang pada abad ke 9</strong> menjadi awal mula masuknya budaya Islam ke Nusantara. Hal ini dikuatkan dengan adanya bukti bahwa <strong>Raden Patah (Raja Demak) adalah keturunan China</strong>, penulisan gelar raja-raja Demak dengan istilah China, dan catatan yang menyebutkan bahwa pedagang China lah yang pertama menduduki pelabuhan-pelabuhan di Nusantara.<br><br></div><div><strong>4. Teori Mekkah</strong><br> Dalam teori ini dijelaskan bahwa Islam di Nusantara <strong>dibawa langsung oleh para musafir dari Arab</strong> yang memiliki semangat untuk menyebarkan Islam ke seluruh dunia pada <strong>abad ke 7</strong>. Hal ini diperkuat dengan adanya sebuah perkampungan <strong>Arab di Barus, Sumatera Utara</strong> yang dikenal dengan nama <strong>Bandar Khalifah</strong>.</div><div>Selain itu, di Samudera Pasai mahzab yang terkenal adalah mahzab Syafi’i. Mahzab ini juga terkenal di Arab dan Mesir pada saat itu. Kemudian yang terakhir adalah digunakannya gelar Al-Malik pada raja-raja Samudera Pasai seperti budaya Islam di Mesir. Teori inilah yang paling benyak mendapat dukungan para tokoh seperti, <strong>Van Leur, Anthony H. Johns, T.W Arnold, dan Buya Hamka</strong>.</div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1288126549/75912e2b16738d9e8a5aa31e25a3fb73/WhatsApp_Image_2021_09_13_at_23_12_46.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-13 16:15:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1736662949</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KERAJAAN - KERAJAAN ISLAM DI NUSANTARA | Kel.3 (Kylee,Shahra,Rizki Febrian,Dasha,Auqi(tidak bisa dihubungi))</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1736671988</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>KERAJAAN – KERAJAAN ISLAM DI NUSANTARA<br></strong><br></div><div>1.Kerajaan islam Samudra pasai<br><br></div><div>Kerajaan Samudera Pasai terletak di Aceh, dan merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini didirikan oleh Meurah Silu pada tahun 1267 M. Bukti-bukti arkeologis keberadaan kerajaan ini adalah ditemukannya makam raja-raja Pasai di kampung Geudong, Aceh Utara. Makam ini terletak di dekat reruntuhan bangunan pusat kerajaan Samudera di desa Beuringin, kecamatan Samudera, sekitar 17 km sebelah timur Lhokseumawe. Di antara makam raja-raja tersebut, terdapat nama Sultan Malik al-Saleh, Raja Pasai pertama. Malik al-Saleh adalah nama baru Meurah Silu setelah ia masuk Islam, dan merupakan sultan Islam pertama di Indonesia. Berkuasa lebih kurang 29 tahun (1297-1326 M). Kerajaan Samudera Pasai merupakan gabungan dari Kerajaan Pase dan Peurlak, dengan raja pertama Malik al-Saleh.<br><br></div><div>2.Kerajaan islam demak<br><br></div><div>Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama yang terdapat di pulau Jawa. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Patah di tahun 1478. Kerajaan Demak berkembang sebagai pusat perdagangan sekaligus pusat penyebaran agama Islam kala itu.</div><div>Penyebaran Islam saat itu sangat dipengaruh oleh jasa para wali baik di pulau Jawa maupun yang berada di luar pulau Jawa seperti Maluku hingga ke wilayah Kalimantan Timur. Di masa pemerintahan Raden Patah, kerajaan Demak mendirikan masjid yang kala itu juga dibantu oleh para wali ataupun sunan. Kemudian, kebudayaan yang berkembang di kerajaan Demak juga mendapat dukungan dari para wali terutama dari Sunan Kalijaga. Kehidupan masyarakat di sekitaran Kerajaan Demak juga telah diatur oleh aturan-aturan Islam tapi tetap tak meninggalkan tradisi lama mereka.<br><br></div><div>3.Kerajaan islam pajang<br><br></div><div>Kerajaan Pajang berdiri pada tahun 1568 dan runtuh pada 1587. Pendiri Kerajaan Pajang adalah Sultan Hadiwijaya atau dikenal juga sebagai Jaka Tingkir. Sultan Hadiwijaya pula yang berhasil mengantarkan Pajang ke puncak kejayaan.&nbsp;<br>&nbsp;<br>&nbsp;Pajang merupakan kerajaan bercorak Islam pertama di Jawa yang letaknya berada di pedalaman. Karena itu, kerajaan ini bersifat agraris dan mengandalkan pertanian sebagai tulang punggung perekonomian. Setelah 21 tahun berdiri, Kesultanan Pajang mengalami kemunduran dan akhirnya dijadikan sebagai negeri bawahan Mataram.<br><br></div><div>4.Kerajaan islam mataram<br><br></div><div><strong>Sejarah Kerajaan Mataram Islam</strong> dimulai ketika Ki Ageng Pemanahan membantu Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya, mengalahkan Arya Penangsang dari Jipang. ... Pertempuran antara Pajang dan <strong>Mataram</strong> berhasil dimenangkan oleh Sutawijaya. Setelah Sultan Hadiwijaya sakit dan akhirnya wafat, Sutawijaya mendirikan Kesultanan <strong>Mataram</strong>.</div><div>sebagai pendiri dan raja pertama Kerajaan Mataram Islam, Sutawijaya menghadapi banyak rintangan, terutama dari bupati di pantai utara Jawa yang dulunya tunduk kepada Pajang. Mereka terus melakukan pemberontakan karena ingin melepaskan diri dari Pajang dan menjadi kerajaan yang merdeka. Kendati demikian, Sutawijaya tetap berhasil melakukan perluasan wilayah hingga berhasil menduduki seluruh wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kesultanan Mataram mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 M).</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1288126549/f3cff050bf5a10f1b25990ad13279f61/WhatsApp_Image_2021_09_13_at_23_03_16.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-13 16:18:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1736671988</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KERAJAAN – KERAJAAN ISLAM DI NUSANTARA | KEL.3 (Kylee,Shahra,Rizki Febrian,Dasha,Auqi(tidak bisa dihubungi))</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1736687358</link>
         <description><![CDATA[<div>5.Kerajaan islam Cirebon<br><br></div><div>Kesultanan <strong>Cirebon berdiri</strong> pada abad ke-15 dan 16 Masehi Kesultanan <strong>Cirebon</strong> berlokasi di pantai utara pulau Jawa yang menjadi perbatasan antara wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat, ini membuat Kesultanan <strong>Cirebon</strong> menjadi pelabuhan sekaligus “jembatan” antara 2 kebudayaan, yaitu budaya Jawa dan Sunda.&nbsp;<br><br></div><div>Kesultanan Cirebon adalah kerajaan bercorak Islam pertama di tanah Sunda atau Jawa Barat. Sejarah kerajaan yang wilayahnya pernah menjadi bagian dari Kerajaan Tarumanegara lalu Pajajaran ini didirikan pada abad ke-15 Masehi, tepatnya tahun 1430. Awalnya, Cirebon merupakan daerah bernama Kebon Pesisir atau Tegal Alang-Alang. Kerajaan Cirebon dirintis oleh Raden Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), putra Raja Pajajaran dari Kerajaan Sunda Galuh, yakni Prabu Siliwangi dengan permaisurinya, Nyai Subang Larang.<br><br></div><div>6.Kerajaan banten<br><br></div><div>Kerajaan Islam Banten berada di ujung pulau Jawa yaitu daerah Banten. Tanda penyebaran Islam di wilayah ini bermula ketika Fatahillah merebut Banten dan mulai melakukan penyebaran Islam. Islam tersebar dengan baik saat itu karena dipengaruhi oleh banyaknya pedagang-pedagang asing seperti dari Gujarat, Persia, Turki, dan lain sebagainya. Masjid Agung Banten menjadi salah satu hasil peninggalan Islam yang dibangun sekitar abad ke 16 Masehi.<br><br></div><div>7.Kerajaan ternate dan tidore<br><br></div><div>Kerajaan Ternate</div><div>Menurut sejarah kerajaan Ternate telah berdiri sekitar abad ke 13 Masehi. Kerajaan ini berada di Maluku Utara dan beribukotakan di Simpalu. Penyebaran Islam di kerajaan Ternate dipengaruhi oleh ulama-ulama dari Jawa, Arab dan Melayu.</div><div>Kemudian, kerajaan ini pun resmi memeluk Islam setelah raja Zainal Abidin belajar tentang Islam dari Sunan Giri pada tahun 1486 Masehi. Sebagai pusat perdagangan rempah-rempah, maka banyak pedagang dari berbagai penjuru dunia yang singgah di wilayah Ternate.<br><br></div><div>Kerajaan Tidore</div><div>Kerajaan ini terletak di sebagian pulau Halmahera dan sebagian lagi di pulau Seram. Kerajaan Tidore memeluk Islam sekitar abad ke 15 Masehi. Cirali Lijitu merupakan sultan Tidore yang pertama kali memeluk agama Islam dan memiliki gelar Sultan Jamaludin.</div><div>Sultan Jamaludin memeluk Islam berkat seorang mubaligh bernama Syekh Mansyur. Kerajaan ini sendiri terkenal karena ekonomi perdagangan di sektor rempah-rempah. Menurut sumber sejarah, kerajaan Tidore kala itu memiliki persekutuan yang disebut dengan Ulisiwa yang terdiri atas wilayah Halmahera, Makyan, Kai, Jailolo serta pulau-pulau lainnya di wilayah sebelah timur Maluku.<br><br></div><div>8.Kerajaan islam makassar<br><br></div><div>Kerajaan Makassar adalah kerajaan yang berdiri pada abad ke-16 di Sulawesi Selatan. Kerajaan Makassar dikenal juga dengan nama Kerajaan Gowa Tallo. Kerajaan Makassar adalah kerajaan yang bercorak Islam sehingga disebut pula dengan Kesultanan Makassar.<br>&nbsp;Awalnya, Kerajaan Makassar adalah dua kerajaan yang berbeda yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. Dua kerajaan yang bersaudara ini berseteru selama bertahun-tahun.<br>&nbsp;<br>&nbsp;Perselisihan itu perlahan membaik berkat masuknya agama Islam ke tanah Sulawesi. Islam menyebar dengan pesat berkat kedatangan sejumlah tokoh agama dari Minangkabau.<br>&nbsp;<br>&nbsp;Nilai-nilai agama Islam mulai diperkenalkan kepada masyarakat hingga petinggi kerajaan. Pada 1650, penguasa Gowa dan Tallo pun memeluk Islam dan bersatu.<br>&nbsp;<br>&nbsp;Dua kerajaan ini bersatu di bawah kepemimpinan Raja Gowa, Daeng Manrabba yang bergelar Sultan Alauddin dan Raja Tallo Sultan Abdullah.<br>&nbsp;<br>&nbsp;Bersatunya Gowa dan Tallo membuat pusat pemerintahan Kerajaan Makassar berpindah ke Somba Opu. Letak Kerajaan Makassar ini sangat strategis karena berada di jalur lalu lintas pelayaran antara Malaka dan Maluku.</div><div>Kerajaan Makassar juga terkenal berkat salah satu rajanya yakni Sultan Hasanuddin. Sultan Hasanuddin memimpin perang melawan VOC yang dikenal juga dengan Perang Makassar pada 1669-1669. Kerajaan Makassar dibantu Kerajaan Bone di bawah komando Raja Arung Palakka.<br>&nbsp;<br>&nbsp;Berkat perjuangannya dalam perang ini, Sultan Hasunuddin mendapat gelar pahlawan nasional Indonesia. Keberanian Sultan Hasanuddin juga membuatnya diberi julukan Ayam Jantan dari Timur.<br>&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1288126549/74dbe3c429ebdf37a2c6e5b8c20e19d9/WhatsApp_Image_2021_09_13_at_23_03_16.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-13 16:23:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1736687358</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 4 ( Jennie, Raissa, Valen, Dimas) </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1766941183</link>
         <description><![CDATA[<div>Kerajaan Pajang&nbsp;adalah salah satu&nbsp;kerajaan Islam&nbsp;di Pulau Jawa yang terletak di daerah perbatasan Desa&nbsp;Pajang, Kota Surakarta, dan Desa Makamhaji, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.&nbsp;Kerajaan Pajang&nbsp;berdiri pada tahun 1568 dan runtuh pada 158.<br>Kerajaan Samudera Pasai<br>Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Letaknya di daerah Lhokseumawe, pantai timur Aceh. Raja-rajanya adalah Sultan Malik as-Saleh, Sultan Muhammad yang bergelar Malik Al-Tahir (1297-1326), Sultan Akhmad yang bergelar Malik Az Zahir (1326-1348) dan Zainal Abidin. Pada pertengahan abad ke-15 Samudra Pasai mengalami kemunduran karena diserang oleh Kerajaan Aceh.<br>Kerajaan Demak<br>Kerajaan Demak terletak di pantai utara Jawa Tengah, didirikan Raden Patah pada tahun 1478. Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Demak menjadi pusat kegiatan Wali Songo. Raden Patah mempunyai putera bernama Adipati Unus yang mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor. Pada masa pemerintahan Sultan Trenggono, Demak menyerang Sunda Kelapa, Banten, dan Cirebon. Ketiga daerah dapat direbut tahun 1526. Ketika menyerang Panarukan, Sultan Trenggono tewas dalam pertempuran.<br>Kerajaan Islam Mataram&nbsp;<br>Pada tahun 1586 berdiri kerajaan Islam Mataram. Pendiri kerajaan ini bernama Sutowijoyo yang bergelar Panembahan Senopalti Ing Alaga Sayidin Pantagama. Di masa pemerintahannya banyak bupati yang ingin melepaskan diri. Namun, karena Sutowijoyo memiliki keahlian dibidang kemiliteran ia berhasil mengatasi pemberontakan tersebut. Pada tahun 1601 Sutowijoyo wafat yang kemudian digantikan oleh Mas Jolang/Panembahan Seda Ing Krapyak. Pada masa pemerintahannya Surabaya melakukan perlawanan. Upayanya meredamkan pemberontakan terus berlangsung dan belum berhasil di padamkan, Mas Jolang wafat lalu digantikan oleh Adipati Martapura. Tapi ia tidak mampu menjalankan tugas pemerintahan karena keadaan fisik yang lemah serta sakit-sakitan. Penggantinya adalah Mas Rangsang. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Islam Mataram mencapai kemajuan yang pesat di bidang pertanian, agama dan kebudayaan. Mataram ketika itu merupakan kerajaan terhormat dan disegani.<br><br>Kerajaan Islam Cirebon<br>Pendiri sekaligus rajanya bernama Fatahillah. Di bawah pemerintahannya kerajaan islam cirebon mencapai kejayaan. Daerah kekuasaannya bertambah luas. Pada tahun 1570 Fatahillah wafat. Kemudian dia digantikan oleh Pangeran Pasarean. Dalam perkembangannya, pada tahun 1679 kerajaan Islam Cirebon dibagi menjadi dua kerajaan yaitu Kasepuhan dan Kanoman. Pada masa tersebut kedudukan VOC di batavia semakin kuat. Kerajaan Islam Cirebon yang sudah dipecah menjadi dua oleh Belanda VOC dipecah lagi menjadi tiga masing-masing Kasepuhan, Kanoman, dan kacirebonan. Hingga akhirnya pada abad ke-17 Cirebon berhasil dikuasai VOC.<br><br>Kerajaan Islam Banten<br>Pendiri kerajaan ini bernama Hasanuddin yang kemudian naik tahta menjadi raja di Banten setelah memperoleh mandat dari ayahnya Fatahillah. Di bawah pemerintahannya, kerajaan Islam Banten makin hari makin kuat kedudukannya. Ia meluaskan pengaruhnya ke Lampung, bahkan menikahi Putri Sultan Indrapura. Setelah Hasanuddin wafat dia digantikan oleh Pangeran Yusuf. Iya meluaskan daerah kekuasaannya dan menaklukkan pakuan Pajajaran. Pengganti Pangeran Yusuf setelah ia wafat adalah Maulana Muhammad. Pada tahun 1596 Maulana Muhammad mencoba menaklukkan Palembang. Palembang nyaris jatuh ke tangannya dan pasukannya, tetapi karena Maulana Muhammad gugur di tengah pertempuran maka serangan diberhentikan. Setelah Maulana Muhammad wafat pemerintahan sementara dipegang oleh seorang Mangkubumi. Dan perkembangannya muncul orang kuat bernama Pangeran Ranamenggala. Kemunduran kerajaan islam banten terjadi sejak masa pemerintahan Sultan Abdul Mufakir di mana belanda terus melakukan blokade blokade.<br>Pada abad ke -13 di Malukh telah beridir beberapa kerajaan seperti ternate,Tidore, Bacan dan Obi. Kerajaan ternate dan tidore lebih maju dibandingkan kerajaan lainnya. Disebabkan oleh hasil bumi yang berupa rempah- rempah. Banyak pedagang dari Kepulauan Nusantara dan Timur Tengah yang pergi berlayar ke Ternate.<br>Pada abad ke -14 kerajaan ternate berubah menjadi kerajaan Islam. Kerajaan ini di pimpin oleh Sultan Harun. Pada masanya orang-orang Portugis banyak yang datang berdagang ke Maluku. Tetapi mereka sering berbuat onar seperti memonopoli dagang secara paksa, bertindak sewenang wenang, mencampuri urusan pemerintahan dalam negeri. Akhirnya pada tahun 1570 Portugis dengan Sultan Ternate sepakat melakukan perdamaian melalui perundingan. Tetapi Portugis menipu Sultan Harun sewaktu dakan perundingan, ia dibunuh oleh orang Portugis atas suruhan gubernur mereka.<br><br>Setelah Sultan Harun wafat ia digantikan oleh putranya bernama Sultan Baabullah. Pengkhianatan keji Portugis terhadap sultan harun menimbulkan kemarahan rakyat Maluku. Dengan semangat membara Baabullah memimpin pasukannya bertempur melawan tentara Portugis. Perang berkobar selama 4 tahun(1570-1574). Benteng portugis di ternate dikuasai Baabullah dan pasukannya. Orang-orang Portugis yang masih hidup menyerah diperintahkan angkat kaki dari Maluku.&nbsp;<br><br>Sementara itu di kerajaan Tidore agama islam pun berkembang pesat. Kerajaaan Islam Tidore dipimpin oleh sultan tidore. Kerajaan ternate dan tidore pada mulanya hidup berdampingan secara damai, saling menghormati kedaulatan masing-masing. Tetapi oleh bangsa Portugis dan Spanyol kedua kerajaan ini diadu domba yang nyaris terjadi pertentangan yang menjurus perang. Kedua pemimpin kerajaan menyadari hal ini, kemudian kerajaan ini bersatu bahu-membahu dalam menghadapi Portugis.<br>Pada abad ke-16 di Sulawesi Selatan telah berdiri beberapa kerajaan seperti Gowa, Bone, Wajo, Luwu, dan Soppeng. Dalam perkembangan Kerajaan Gowa dan Tallo mengalami kemajuan yang lebih pesat. Disebabkan letak kerajaan ini di tengah-tengah lalu-lintas pelayaran antara Malaka dan Maluku. Kedua &nbsp; kerajaan Gowa dan Tallo, yang rajanya&nbsp; menganut agama Islam bersepakat menyatukan kerajaan mereka menjadi kerajaan Islam Makassar yang di pimpin oleh Sultan Alauddin (Daeng Manrabia), Raja Gowa. Sedangkan mangkubumi bernama Sultan Abdullah&nbsp; (Karaeng Matoaya), Raja Tallo.<br><br>Raja dan magkubumi kerajaan islam Makassar sangat giat dalan menyiarkan agama islam. Oleh karena itu Makasaar menjadi kerajaan Islam yang kuat.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-25 04:21:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/7la4sp5fep8g5pfj/wish/1766941183</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
