<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>PARADIGMA GENDER by Nining Purwaningsih</title>
      <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79</link>
      <description>Refleksikan pembelajaran hari ini, ya.</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-02-28 04:37:35 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-04-13 14:05:36 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f4ac.png</url>
      </image>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346278237</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Sinta Rahmadini</p><p>Nim: 2221240004</p><p>Kelas: pnf 2a</p><p><br/></p><p>Paradigma gender </p><p>Gender merupakan ekspektasi masyarakat terhadap peran seseorang berdasarkan jenis kelamin. Sedangkan jenis kelamin merupakan keadaan biologis yang bersifat tetap dan tidak dapat diubah. </p><p>Gender dapat berubah seiring berjalannya waktu dan tergantung tempat. </p><p><br/></p><p>Sering juga terjadi diskriminasi gender yang kebanyakan memberatkan pihak perempuan diantaranya ialah stereotip dari masyarakat dan marginalisasi yang membatasi perempuan dalam pekerjaan atau kontribusi di dalam masyarakat</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 07:07:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346278237</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>syahdarevaliya</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346288977</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>NAMA: SYAHDA REVALIYA </strong></p><p><strong>NIM: 2221240090</strong></p><p><strong>KELAS: 2C</strong></p><p><br></p><p>         REFLEKSI REVIEW MATERI</p><p><br></p><p>Pada pembahasan yang dapat saya ambil dari materi ini membahas soal gender bukan cuma laki-laki dan perempuan secara biologis, tapi juga bagaimana peran mereka dibentuk oleh budaya dan masyarakat, dengan mengetahui bahwa jenis kelamin dan gender itu sangat memiliki perbedaan yang di signifikan dan saya jadi tahu tentang apa itu patriarki dan patriarki ternyata bisa jadi sumber masalah bikin laki-laki punya lebih banyak hak dan kuasa, sementara perempuan sering dianggap nomor dua. Jadi refleksi yang dapat saya ambil adalah kita harus sadar bahwa gender itu lebih dari sekadar laki-laki atau perempuan dan kita harus kritis terhadap norma-norma yang ada dan ikut mendorong perubahan biar lebih adil dari materi ini kita bisa belajar buat tidak langsung nerima aturan lama yang bikin satu gender lebih tinggi dari yang lain. Kita bisa mulai dari hal terkecil contohnya tidak mengejek temen karena "tidak cocok" sama standar gender yang ada.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 07:21:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346288977</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>hikmahtsy17</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346289619</link>
         <description><![CDATA[<p><strong><mark>Nama : Hikmah Tussyahiroh </mark></strong></p><p><strong><mark>Kelas  : 2 B (PNF)</mark></strong></p><p><strong><mark>NIM    : 2221240051</mark></strong></p><p><br/></p><blockquote><p><strong><mark>PARADIGMA GENDER</mark></strong></p></blockquote><p><strong>Gender</strong> merupakan hal yang berbeda dengan jenis kelamin yang secara biologis sudah jelas identitasnya, namun gender ialah suatu anggapan/pandangan orang lain terhadap individu terkait kodrat atau identitas dirinya.</p><p><br/></p><p>Salah satu problem gender yang kerap terjadi hingga saat ini ialah <strong><mark>IDEOLOGI PATRIARKI</mark></strong>, yang beranggapan bahwa perempuan tidak bisa berperan sebagai pemimpin (<strong>subordinat</strong>) dan mengharuskan laki-laki yang mengatur tentang apapun dan mendominasi segalanya (<strong>superordinat</strong>).</p><p>Seiring berjalannya waktu, kini "gerakan perempuan" atau "feminisme" yang melawan patriarki sudah semakin marak untuk memperjuangkan hak perempuan agar dapat terpenuhi serta menyuarakan tentang kesetaraan gender.</p><p><br/></p><p><strong><mark>PERBEDAAN GENDER &amp; JENIS KELAMIN </mark></strong></p><p>Lantas apa bedanya gender dan jenis kelamin? </p><ul><li><p><strong>Gender</strong> : dapat berubah dan ditukar, bermusim, bergantung pada budaya, bukan kodrat Tuhan.</p><p><br/></p></li><li><p><strong>Jenis Kelamin</strong> : Tidak dapat berubah dan ditukar, berlaku seumur hidup dan dimana saja, kodrat Tuhan.</p></li></ul><p><br/></p><p><strong><mark>KESETARAAN &amp; KEADILAN GENDER</mark></strong></p><p>Terdapat beberapa teori yang mengupas tentang problem gender yang marak diperjuangkan ini, diantaranya adalah : </p><ol><li><p><strong>Teori Nurture</strong>, perbedaan gender yang bersumber dari faktor biologis dan alamiah. </p></li><li><p><strong>Teori Nature</strong>, mengemukakan perbedaan gender ialah hasil dari proses lingkungan sosial dan budaya</p></li><li><p><strong>Teori Equilibrium</strong>, mengatakan kesetaraan gender dapat dicapai dengan keseimbangan antara faktor alami dan perubahan sosial </p></li></ol><p><br/></p><p>Saat ini, kesetaraan gender di Indonesia masih tergolong belum sempurna. Dikarenakan tenaga kerja laki-laki di sektor formal jauh lebih tinggi daripada perempuan, kebanyakan perempuan ditolak untuk pekerjaan semacam ini karena dinilai tidak memenuhi spesifikasi. Terlebih bagi perempuan yang tinggal di pedesaan harus menghadapi budaya patriarki yang sangat kental, yang mengharuskan perempuan hanya mengurus suami dan anak tanpa melakukan hal yang lainnya seperti bekerja atau meraih pendidikan tinggi.</p><p><br/></p><p><strong><mark>DISKRIMINASI GENDER</mark></strong></p><p>Penyebab sebuah gender terdiskriminasi ialah sebagai berikut: </p><ol><li><p>Stereotip (pandangan)</p></li><li><p>Subordinasi (dominan)</p></li><li><p>Beban ganda (peran ganda) </p></li><li><p>Marginalisasi (wilayah)</p></li><li><p>Kekerasan (verbal &amp; non-verbal) </p><p><br/></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 07:22:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346289619</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346450609</link>
         <description><![CDATA[<p>PARADIGMA GENDER</p><p><br></p><p>Futuhatul ain_2221240053_2B</p><p><br></p><p>Ideologi patriarki yang di mana laki-laki mendominasi perempuan di dalam masyarakat, khususnya dalam konteks sejarah feminisme di Perancis dan dampaknya di negara-negara di Eropa, Afrika, dan Asia. Selain itu dijelaskan pengertian gender sebagai atribut yang berkaitan dengan ekonomi, sosial, politik, dan budaya, serta bagaimana hal ini mempengaruhi peluang perempuan dan laki-laki. terdapat juga penjelasan mengenai perbedaan antara gender dan jenis kelamin yang menekankan bahwa gender berkaitan dengan peran sosial dan budaya sementara jenis kelamin bersifat biologis.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 10:26:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346450609</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ayeshaadzani87</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346458794</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Ayesha Adzani Simbran </p><p>Nim: 2221240025 (2b)</p><p><br/></p><p>pada pertemuan kali ini membahas tentang paradigma gender.</p><p><br/></p><p>pendidikan non formal memiliki beberapa cakupan diantaranya paud, pendidikan keaksaraan, pendidikan kesetaraan, pendidikan kepemudaan, pendidikan kecakapan hidup, pendidikan untuk mengembangkan karakter peserta didik, pendidikan dan keterampilan kerja serta pendidikan pemberdayaan perempuan.</p><p><br/></p><p>dari materi tadi saya lebih memahami bagaimana perempuan harus di hargai lalu penting nya pendidikan dalam mengembangkan karakter seseorang, tidak memandang gender atau jenis kelamin, misalnya laki laki lebih ditakuti dari pada perempuan. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 10:36:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346458794</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Sevia Salsabila Azahra</title>
         <author>seviasalsabila0</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346459593</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Kelas : 2B (2221240024)</strong></p><p><br></p><p>Pembelajaran hari ini yaitu tentang Paradigma Gender. Menurut saya pribadi paradigma gender ini sangat penting untuk dipahami dari mulai mengenai konsep gender, perbedaan jenis kelaminnya, serta bagaimana budaya patriarki turut membentuk ketimpangan sosial. Materi ini menjelaskan bahwa gender bukan hanya perbedaan biologis, tetapi juga konstruksi sosial yang dapat berubah seiring perkembangan zaman. Ketimpangan gender yang masih ada hingga saat ini yaitu, diskriminasi dalam kesempatan pekerjaan, kepemimpinan, dan akses pendidikan. Penyebab adanya diskriminasi gender yaitu: 1. Stereotip (pandangan), 2. Subordinasi (dominan), 3. Beban ganda (peran ganda), 4. Marginalisasi (wilayah), 5. Kekerasan (verbal &amp; non verbal)</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 10:37:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346459593</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>azzahrapingkan58</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346463792</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Azzahra Diana Pingkan 2B</p><p>Nim: 2221240036</p><p><br/></p><p>dalam pertemuan kali ini membahas tentang " pradigma gender". setelah saya mendengarkan materi ini saya  mengetahui gender dan kelamin itu berbeda dan pemahaman tentang peran identitas  dengan hubungan laki laki dan perempuan dalam masyarakat dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan.</p><p>dan membahas tentang patriarki, y</p><p>ang menempatkan laki laki sebagai memegang kekuasaan utama, sangat berdampak dengan ketimpangan gender. menyebabkan perempuan diskriminasi dalam berbagai aspek kedidupan mereka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 10:41:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346463792</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>asihgaol123</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346468113</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA : TUPPAL BUDI ASIH</p><p>KELAS 2B </p><p>NIM 2221240039</p><p><br/></p><p>Hari ini membahas terkait paradigma gender. Paradigma gender merujuk pada kerangka berpikir atau pendekatan dalam memahami konsep gender dalam berbagai aspek kehidupan, seperti sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Paradigma ini berkembang seiring waktu dan dipengaruhi oleh berbagai teori serta gerakan sosial. Jenis kelamin dan gender merupakan dua hal berbeda.</p><p>Jenis kelamin adalah Perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan berdasarkan faktor genetik, hormonal, dan anatomi. Sedangkan gender adalah Konstruksi sosial yang menentukan peran, perilaku, dan identitas yang dikaitkan dengan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 10:47:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346468113</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rizqyahfatihahaulia</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346469349</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Fatihah Aulia Rizqyah </p><p>NIM : 2221240038</p><p>Kelas : B</p><p><br/></p><p>Dalam pembahasan materi dipertemuan kedua ini, saya menjadi lebih sadar bahwa masalah ini bukan hanya masalah perempuan; itu adalah tanggung jawab bersama.  Ketidaksetaraan yang berakar dalam budaya menyebabkan ketidaksetaraan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam hal akses ke pendidikan dan kesempatan kerja.  Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesetaraan gender, terutama melalui pendidikan yang dapat membangun pola pikir yang adil sejak dini.</p><p><br/></p><p>Selain itu, saya sadar bahwa perubahan menuju kesetaraan gender membutuhkan partisipasi aktif individu dan masyarakat serta kebijakan.  Menghapus stereotip gender dan mendukung pemberdayaan perempuan adalah tindakan kecil yang dapat memiliki konsekuensi yang signifikan.  Kita dapat membangun masyarakat yang lebih adil dan setara bagi semua orang dengan meningkatkan inklusi di lingkungan kita.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 10:48:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346469349</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>andiniserang4</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346471979</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Andini</p><p>Nim : 2221240007</p><p>Kelas : 2B </p><p><br/></p><p>Pertemuan hari ini membahas tentang Paradigma Gender</p><p>yang saya dapat untuk refleksi ini adalah</p><p> gender mengacu pada atribut ekonomi, sosial politik, dan budaya dan peluang yang terkait dengan menjadi perempuan dan laki- laki.</p><p>Perbedaan Gender dan Jenis kelamin juga salah satunya Gender bisa berubah tetapi jenis kelamin tidak bisa berubah. Gender dapat di tukarkan sedangkan jenis kelamin tidak dapat dipertukarkan, Gender bukan kodrat Tuhan tetapi jenis kelamin kodrat( ciptaan tuhan).</p><p> Kesetaraan &amp; keadilan ada 3 yaitu: </p><p>1. Teori Nurture </p><p>2. Teori Nature</p><p>3. Teori Equibilibrium</p><p><br/></p><p>Dan ketimpangan gender di Indonesia juga masih banyak terjadi contohnya diskriminasi gender</p><p>Diskriminasi Gender ada 5: </p><p>1. stereotip (anggapan yang sudah melekat)</p><p>2. Subordinasi ( posisi seseorang di anggap kurang memiliki peran)</p><p>3. Beban Ganda/ Double Burden ( seseorang yang memiliki dua peran, misalnya perempuan yang bekerja di rumah dan bekerja juga di pabrik atau bekerja di tempat lainnya)</p><p>4. Marginalisasi ( pengucilan kelompok terhadap akses/ sumber daya)</p><p>5. kekerasan/ violence ( Dimana perempuan lebih rentan mengalami kekerasan.Contohnya: Kdrt, Bentakan, Ancaman)</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 10:51:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346471979</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346477594</link>
         <description><![CDATA[<p>Muhammad Hilmi Arrazan_2221240066_2B</p><p>Dari materi yang telah dipaparkan dan dijelaskan oleh ibu nining, terkait dengan paradigma gender, ternyata antara gender dan kelamin itu ada perbedaannya, kalau gender itu bisa berubah sedangkan kelamin itu bawaan dari lahir atau kodratnya ( dari tuhan ). Dan kita tau apa sih itu ideologi patriarki, ideologi patriarki adalah kondisi dimana derajat laki laki itu lebih tinggi dibandingkan derajat wanita, nah dari ideologi patriarki juga lah yang bisa menyebabkan adanya kesetaraan gender.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 10:57:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346477594</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>kimachan09</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346484663</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Ima Maulia  Azzahra</p><p>NIM : 2221240023</p><p>Kelas : 2B</p><p><br/></p><p>Refleksi pembelajaran hari ini mengenai paradigma gender yang mencakup materi mengenai perbedaan gender dan jenis kelamin, ideologi patriarki, ketimpangan gender serta diskriminasi gender. </p><p><br/></p><p>Pada perkuliahan tadi, dijelaskan bahwa perbedaan gender dan jenis kelamin diantaranya: </p><p>Gender dapat dirubah, dapat dipertukarkan dan bukan kodrat tuhan. Sedangkan jenis kelamin tidak dapat dirubah, tidak dapat dipertukarkan dan sudah kodrat tuhan. </p><p><br/></p><p>Adapun ideologi patriarki, yang artinya laki-laki yang dipandang lebih tinggi dari perempuan yang akhirnya melahirkan stratifikasi gender yaitu ketimpangan dalam kekuasaan pada laki-laki dan perempuan.</p><p><br/></p><p>Diskriminasi gender, artinya perlakuan yang tidak setara atau tidak adil terhadap seseorang berdasarkan jenis kelaminnya, contoh diskriminasi gender diantaranya: stereotipe, subordinasi, beban ganda, marginalisasi dan kekerasan.</p><p><br/></p><p>Kesimpulannya, memahami mengenai paradigma gender, berguna untuk mengatasi diskriminasi terhadap perempuan atau kelompok minoritas lainnya, serta meningkatkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 11:06:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346484663</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ica818572</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346489362</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Nurrohmatun nisa </p><p>Kelas : 2B</p><p>Nim : 2221240094</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Dalam pertemuan kali ini membahas tentang materi "pradigma gender"</p><p><br/></p><p>pradigma gender ini adalah nilai yang membentuk persepsi masyarakat tentang peran, norma, dan harapan yang berkaitan dengan jenis kelamin. Ini mencakup bagaimana masyarakat melihat perbedaan antara laki-laki dan perempuan, serta bagaimana hal ini mempengaruhi hubungan sosial, ekonomi, dan politik.</p><p><br/></p><p>gender dan jenis kelamin berbeda,  gender adalah cara pandang masyarakat dan dapat  berubah oleh kebudayaan masing-masing sedangkan jenis kelamin tidak dapat  berubah karena sudah kodratnya</p><p>Jenis kelamin adalah kategori biologis yang membedakan laki-laki dan perempuan berdasarkan karakteristik genetik, ciri fisik, dan aspek biologis.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 11:11:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346489362</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346489998</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Septi Ropih Yustitia</p><p>NIM : 2221240052</p><p>Kelas : 2B</p><p><br/></p><p>Dari hasil pembelajaran pada hari ini dengan materi Paradigma Gender, saya dapat mengetahui cakupan dari pendidikan nonformal yaitu dimulai dari, PAUD, Pend. Keaksaraan, Pend. Kesetaraan, Pend. Kecakapan Hidup, Pend. kepemudaan, Pend. Pemberdayaan Perempuan, Pend. teeterampilan dan Pelatihan kerja, serta pendidikan lain yg ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.</p><p>Lalu terdapat pula Ideologi Patriaki (Sumber masalah Gender) dimana terdapat budaya perempuan itu dibawah laki-laki, yang selalu diutamakan adalah laki-laki, dan suara perempuan masih minoritas di dengar. Ideologi yaitu Nilai / apa yang diharapkan, Norma yaitu apa yang harus dilakukan, dan kepercayaan. Hadirnya gerakan perempuan terjadi karena adanya startifikasi gender yang kemudian telah mendorong lahirnya gerakan sosial di kalangan kaum perempuan yg bertujuan membela dan memperluas hak-hak kaum perempuan. Feminisme bermula di Prancis pada abad 18 dan kemudian Menyebar ke negara-negara lain di Benua Eropa, Amerika, Afrika dan Asia. Sehingga perempuan sudah lagi tidak direndahkan sebab sudah adanya kesetaraan gender, namun hal tersebut tidak menghilangkan kodrat seorang perempuan dari tugas dan kewajibannya. </p><p><br/></p><p>Adapun perbedaan antara Gender dan Jenis Kelamin, diantaranya gender : Bisa berubah, dapat dipertukarkan, tergantung musim, tergantung budaya masing-masing, bukan kodrat Tuhan (buatan masyarakat). Sedangan jenis kelamin : Tidak bisa berubah, tidak dapat di pertukarkan, berlaku sepanjang masa, berlaku dimana saja, sesuai Kodrat (Ciptaan tuhan). </p><p><br/></p><ul><li><p>Teori Nurture</p></li></ul><p>"Perbedaan gender bersumber dari fatetor biologis dan alamiah, Seperti perbedaan hormon, Struktur Otak, dan genetika.</p><ul><li><p> Teori Mature</p></li></ul><p>"Perbedaan gender merupakan hasıl dari proses sostal, budaya, dan ungkungan."</p><ul><li><p>Teori Equilibrium</p></li></ul><p>"Kesetaraan gender dapat dicapai dengan leeseimbangan antara faktor alami dan perubahan sosial."</p><p><br/></p><p>Diskriminasi Gender juga terjadi karenya adanya, Stereotip, Subordinasi, Beban Ganda / Double Burden, Marginalisasi, kekerasan/ violence. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 11:12:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346489998</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>fashaputri2004</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346492262</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Fashadyana Putri Nugraha</strong></p><p><strong>NIM: 2221240082 </strong></p><p><strong>Kelas: 2B</strong></p><p><br/></p><p>Topik pembelajaran hari ini adalah tentang topik gender, perbedaan gender dan jenis kelamin, kesetaraan dan keadilan gender, dan diskriminasi gender. Gender berbeda dengan jenis kelamin, gender adalah pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Kesetaraan gender yaitu pandangan bahwa semua orang harus memiliki kesempatan, sumber daya, dan pengetahuan yang seimbang dengan tidak mendiskriminasi karena sifat kodrati mereka. Dikriminasi gender terjadi karena kesenjangan/ketidaksetaraan gender, ketidaksetaraan gender menganggap bahwa pria dan wanita tidaklah setara dan bahwa gender berdampak pada pengalaman hidup seseorang. Beberapa contoh diskriminasi gender yaitu seperti memberi perlakuan berbeda kepada laki-laki dan perempuan, meremehkan seseorang berdasarkan jenis kelaminnya, mengintimidasi seseorang berdasarkan jenis kelaminnya. Penyebab diskriminasi gender diakibatkan minimnya pengetahuan masyarakat tentang kesetaraan gender, budaya patriarki, stereotip gender, beban ganda dan marginalisasi. Terdapat beberapa cara untuk mengatasi diskriminasi gender, seperti memberikan edukasi tentang perbedaan gender dan jenis kelamin serta peran sosial yang sesuai dengan gender masing-masing, memberdayakan perempuan untuk berpartisipasi lebih besar dalam masyarakat, serta menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah bagi semua, baik di tempat kerja maupun di masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 11:15:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346492262</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346496927</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama:M.Royyan Putra Firdaus</p><p>Nim:2221240021</p><p>Kelas:2B</p><p><br/></p><p>Paradigma gender merujuk pada cara-cara sistematis dan teoritis untuk memahami peran, identitas, dan hubungan antara gender dalam masyarakat. Ini mencakup pendekatan dan pemikiran yang berbeda tentang bagaimana gender dibentuk, dipersepsi, dan berfungsi dalam konteks sosial, budaya, dan politik.</p><p>Jenis kelamin merujuk pada karakteristik biologis dan fisiologis yang membedakan individu sebagai pria atau wanita. Ini biasanya ditentukan oleh faktor genetik, hormon, dan anatomi. Selain itu, dalam konteks sosial dan budaya, ada juga pemahaman tentang gender yang mencakup peran, perilaku, dan identitas yang terkait dengan pria dan wanita. </p><p>Ada beberapa istilah terkait, seperti:</p><p>- <strong>Jenis Kelamin Biologis</strong>: Merujuk pada atribut fisik dan genetik, seperti kromosom, organ reproduksi, dan ciri seksual sekunder.</p><p>- <strong>Gender</strong>: Merujuk pada peran dan ekspektasi sosial yang terkait dengan menjadi pria atau wanita.</p><p>Jika ada pertanyaan lebih spesifik, silakan tanya!</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 11:20:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346496927</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>cantikaekazahra03</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346502403</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Cantika Eka Zahra </p><p>Kelas : Pnf 2b</p><p>NIM : 2221240085</p><p><br/></p><p>Dari hasil pembelajaran ini tentang paradigma gender, kita bisa tau perbedaan gender dan jenis kelamin yang dimna kalau gender itu bisa berubah  sesuai budayanya masing-masing sedangkan jenis kelamin sudah bawaan dari lahir atau sudah kodratnya.</p><p>Adapun ideologi patriarki yang artinya kondisi dimna laki - laki di pandang lebih tinggi di banding perempuan,hal ini lah yang menyebabkan ketimpangan sosial atau kesetaraan gender .</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 11:26:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346502403</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346507232</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA :JAHARUDIN</p><p>NIM: 2221240084</p><p>KELAS: 2B</p><p><strong>Dari hasil pembelajaran tentang paradiga gender adalah</strong></p><p><strong>1. Pengertian Paradigma Gender</strong></p><p>Paradigma gender adalah suatu kerangka berpikir atau cara pandang terhadap hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Paradigma ini berfungsi sebagai landasan dalam memahami perbedaan peran, hak, dan tanggung jawab berdasarkan gender, serta bagaimana konstruksi sosial membentuk relasi gender dalam masyarakat.</p><p>Paradigma gender bukan hanya membahas perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, tetapi lebih menekankan pada bagaimana perbedaan tersebut dikonstruksi secara sosial dan budaya, serta bagaimana dampaknya terhadap ketimpangan atau keadilan gender.</p><p><strong>2. Perspektif dalam Paradigma Gender</strong></p><p>Ada beberapa perspektif utama dalam paradigma gender yang menjelaskan bagaimana gender dikonstruksi dan dipahami dalam masyarakat:</p><p><strong>a. Perspektif Biologis</strong><br>Perspektif ini beranggapan bahwa perbedaan peran laki-laki dan perempuan disebabkan oleh faktor biologis, seperti perbedaan fisik dan hormonal. Misalnya, perempuan dianggap lebih cocok dalam peran keibuan karena kemampuan melahirkan dan menyusui, sedangkan laki-laki dianggap lebih kuat secara fisik sehingga diharapkan menjadi pemimpin atau pencari nafkah.</p><p><strong>b. Perspektif Sosiokultural</strong><br>Pandangan ini menekankan bahwa peran gender bukanlah sesuatu yang tetap, tetapi dibentuk oleh norma dan budaya masyarakat. Misalnya, di beberapa budaya, perempuan diharapkan untuk mengurus rumah tangga, sementara laki-laki didorong untuk bekerja di luar rumah. Perspektif ini membuka peluang untuk perubahan sosial menuju kesetaraan gender.</p><p><strong>c. Perspektif Feminisme</strong><br>Feminisme melihat paradigma gender dalam konteks ketidakadilan dan ketimpangan yang dialami perempuan akibat dominasi sistem patriarki. Gerakan feminisme berupaya menghapus diskriminasi berbasis gender dan menuntut kesetaraan hak bagi perempuan dalam berbagai bidang kehidupan.</p><p><strong>d. Perspektif Strukturalis</strong><br>Perspektif ini menekankan bahwa ketimpangan gender bukan hanya akibat konstruksi sosial, tetapi juga dipengaruhi oleh struktur ekonomi dan politik. Sistem kapitalisme, misalnya, sering kali mengeksploitasi tenaga kerja perempuan dengan upah yang lebih rendah dibandingkan laki-laki.</p><p><strong>3. Implikasi Paradigma Gender dalam Kehidupan</strong></p><p>Paradigma gender memiliki dampak yang luas dalam berbagai aspek kehidupan, seperti:</p><p><strong>a. Pendidikan</strong></p><ul><li><p>Perubahan paradigma gender telah meningkatkan akses perempuan terhadap pendidikan yang lebih tinggi.</p></li><li><p>Mengurangi stereotip gender dalam bidang studi tertentu, seperti perempuan dalam STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics).</p></li></ul><p><strong>b. Ekonomi</strong></p><ul><li><p>Mendorong kesetaraan upah antara laki-laki dan perempuan.</p></li><li><p>Membuka peluang bagi perempuan untuk berkarier dalam berbagai sektor yang sebelumnya didominasi laki-laki.</p></li></ul><p><strong>c. Politik dan Kepemimpinan</strong></p><ul><li><p>Meningkatkan partisipasi perempuan dalam politik dan pemerintahan.</p></li><li><p>Mendorong kebijakan afirmatif untuk meningkatkan representasi perempuan dalam posisi strategis.</p></li></ul><p><strong>d. Hukum dan Hak Asasi Manusia</strong></p><ul><li><p>Penghapusan diskriminasi berbasis gender melalui kebijakan dan regulasi.</p></li><li><p>Perlindungan hukum terhadap kekerasan berbasis gender, seperti kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan seksual.</p></li></ul><p><strong>e. Keluarga dan Peran Sosial</strong></p><ul><li><p>Membuka kesempatan bagi laki-laki untuk lebih berperan dalam urusan domestik, seperti mengasuh anak dan pekerjaan rumah tangga.</p></li><li><p>Mengurangi tekanan sosial terhadap perempuan untuk mengikuti peran tradisional sebagai ibu rumah tangga.</p></li></ul><p><strong>4. Tantangan dalam Implementasi Paradigma Gender</strong></p><p>Meskipun paradigma gender telah berkembang, masih ada beberapa tantangan dalam penerapannya, seperti:</p><ol><li><p><strong>Norma Sosial yang Mengakar</strong> – Banyak masyarakat masih memegang teguh nilai-nilai patriarki yang membatasi peran perempuan.</p></li><li><p><strong>Diskriminasi dalam Dunia Kerja</strong> – Masih terdapat kesenjangan upah dan peluang karier antara laki-laki dan perempuan.</p></li><li><p><strong>Minimnya Akses terhadap Pendidikan dan Kesehatan</strong> – Di beberapa daerah, perempuan masih menghadapi kesulitan dalam mendapatkan pendidikan dan layanan kesehatan yang layak.</p></li><li><p><strong>Kekerasan Berbasis Gender</strong> – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan pelecehan seksual masih menjadi masalah serius.</p></li></ol><p><strong>Kesimpulan</strong></p><p>Paradigma gender adalah cara pandang dalam memahami hubungan antara laki-laki dan perempuan yang dipengaruhi oleh faktor biologis, sosial, budaya, dan struktural. Perubahan paradigma gender telah membuka jalan bagi kesetaraan dalam berbagai bidang kehidupan, meskipun masih terdapat tantangan dalam implementasinya. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara individu, masyarakat, dan pemerintah untuk menciptakan kesetaraan gender yang lebih adil dan berkelanjutan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 11:31:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346507232</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346511886</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Thafia Yandrianingsih </p><p>Kelas: 2B </p><p>Nim: ( 2221240067 )</p><p><br/></p><p>Pembelajaran hari ini membahas tentang Paradigma Gender. Terdapat perbedaan antara gender dan jenis kelamin.</p><p>Gender: Bisa berubah, dapat dipertukarkan, tergantung musim, tergantung budaya masing masing, dan bukan kodrat tuhan ( buatan masyarakat ). Sedangkan jenis kelamin: tidak bisa dirubah, tidak dapat dipertukarkan berlaku sepanjang masa, berlaku dimana saja, kodrat (ciptaan tuhan). Selanjutnya ada Ideologi Patriarki sumber masalah gender, yang bisa diartikan bahwa patriarki ini adalah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi perempuan. Patriarki dapat diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial budaya, dan pendidikan. Selanjutnya ada Kesetaraan dan Keadilan Gender yang terdiri dari beberapa teori, yaitu: </p><p>1. Teori Nurture Perbedaan gender</p><p>bersumber dari faktor</p><p>biologis dan alamiah, seperti perbedaan</p><p>hormon, struktur otak,</p><p>dan genetika.</p><p>2. Teori Nature Perbedaan gender</p><p>merupakan hasil dari</p><p>proses sosial, budaya,</p><p>dan lingkungan.</p><p>3. Teori Equilibrium: Kesetaraan gender</p><p>dapat dicapai dengan</p><p>keseimbangan antara</p><p>faktor alami dan</p><p>perubahan sosial.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 11:35:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346511886</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>lyfiaal</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346527197</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Amanda Azkha Alifia Londi</p><p>Kelas: 2B</p><p>NIM: 2221240040</p><p><br/></p><p>hasil dari pembelajaran hari ini tentang <mark>paradigma gender</mark>, menjelaskan tentang kesetaraan dan keadilan gender dan membahas tentang diskrimimasi gender, gender adalah pembagian peran laki laki dan perempuan. laki laki dan perempuan dalam masyarakat dapat mempengaruhi sebagai aspek kehidupan dan membahas tentang patriarki yang menempatkan laki laki sebagai pemimpin, ini sangat berdampak terhadap kesetaraan gender yg menyebabkan diskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan. ketimpangan gender yang masih ada hingga kini yaitu: </p><p>1. tentang kepemimpinan</p><p>2. pekerjaan</p><p>3. pendidikan</p><p>dan penyebab diskriminasi gender yaitu:</p><p>1. <mark>stereotip </mark>(pandangan)</p><p>2. <mark>subordinasi </mark>(dominan)</p><p>3. <mark>marginalisasi</mark> (wilayah)</p><p>4. <mark>beban ganda</mark> (peran ganda)</p><p>5. <mark>kekerasan</mark> (vernal dan non verbal)</p><p>selain itu penyebab diskriminasi gender bisa juga diakibatkan minimnya pengetahuan tentang kesetaraan gender dan salah satu cara untuk mencegah itu adalah dengan cara memberikan edukasi tentang gender dan peran sosial yg sesuai.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 11:51:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346527197</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>syifanurfarihah6</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346543999</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Syifa Nurfarihah</p><p>Nim: 2221240022</p><p>Kelas: 2B</p><p><br/></p><p>Pembelajaran hari ini membahas tentang Paradigma Gender, sering kali paradigma gender merajuk pada cara pandang kita terhadap peran identitas, dan anatara hubungan laki-laki dengan perempuan. Dalam paradigma ini, perbedaan antara gender sering dianggap sebagai suatu kontsruksi sosial, bukan semata-mata perbedaan biologis. Pembelajaran ini membantu saya menjqdi tau bahwa gender dan kelamin itu adalah 2 hal yang berbeda, karena gender bisa diubah sedangkan kelamin tidak bisa karena bawaan dari lahir atau keadaan biologis. </p><p>Paradigma gender juga sudah membentuk peran yang kaku bagi laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki cenderung diasosiasikan dengan kekuatan dan kepemimpinan, sementara perempuan dengan kelembutan dan pengasuhan. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, paradigma ini telah mengalami perubahan signifikan, dengan munculnya kesetaraan gender yang menuntut peran lebih fleksibel dan inklusif.</p><p>Selain itu, paradigma ini menentang struktur patriaki yang menguntungkan laki-laki dan mendiskriminasi perempuan, serta berfokus pada penciptaan kesetaraan dan pemberdayaan bagi semua individu, tanpa memandang gender identitas mereka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 12:10:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346543999</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nabilamarsha338</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346545789</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>NAMA: Nabila Marsha Wulandari</strong></p><p><strong>NIM: 2221240081</strong></p><p><strong>Kelas: 2 B</strong></p><p><br/></p><p>Dari pembelajaran hari ini membahas tentang paradigma gender. Gender mengacu pada atribut ekonomi, sosial, politik, dan budaya dan peluang yang terkait dengan menjadi perempuan dan laki-laki. Definisi sosial tentang apa artinya menjadi perempuan atau laki-laki bervariasi di antara budaya dan perubahan dari waktu ke waktu. Gender adalah sebuah istilah untuk mendeskripsikan peran, bisa berubah, dapat dipertukarkan, tergantung musim, tergantung budaya masing-masing, bukan kodrat tuhan (buatan masyarakat) dan perilaku yang dilekatkan pada perempuan dan laki-laki sebagai hasil dari konstruksi sosial. Sedangkan jenis kelamin, tidak bisa diubah, tidak dapat dipertukarkan, berlaku sepanjang masa, berlaku dimana saja, dan kodrat (ciptaan tuhan). </p><p>Menurut Robert Jackson &amp; Georg Sorensen adapun kondisi perempuan sekarang: </p><ul><li><p>Memiliki 1% properti dunia</p></li><li><p>Mewakili 80% dari seluruh pengungsi(bersama dengan anak).</p></li><li><p>5% menjadi kepala negara dan menteri</p></li><li><p>Mewakili 60% dari seluruh buta huruf</p></li><li><p>Memperoleh gaji 10% dari seluruh pendapatan </p></li><li><p>Menghabiskan sekitar 60% dari seluruh</p><p>jam kerja.</p></li></ul><p><strong>Ideologi Partriarki &amp; Sumber masalah Gender: </strong></p><p><strong>Ideologi</strong>: </p><p>1.Nilai / apa yang diharapkan,</p><p>2.Norma / apa yang harus dilakukan</p><p>3.Kepercayaan.</p><p><strong>Ideologi Patriarki</strong>: </p><p>1. Patriarki bentuk organisasi sosial dimana laki-laki mendominasi perempuan. Ideologi patriarki merupakan pandangan yang menempatkan laki-laki sebagai superordinat dari perempuan. Perempuan dalam hal ini bersifat subordinat.</p><p>2. Ideologi Patriarki melahirkan stratifikasi gender yaitu ketimpangan dalam pembagian</p><p>kekayaan, kekuasaan dan privilege antara laki-laki dan perempuan.</p><p><strong>Kesataraan</strong> <strong>keadilan</strong> &amp; <strong>gender</strong></p><p>1.Teori Nurture</p><p>Perbedaan gender bersumber dari faktor biologis dan alamiah, seperti perbedaan hormon, struktur otak,</p><p>dan genetika.</p><p>2.Teori Nature</p><p>Perbedaan gender merupakan hasil dari proses sosial, budaya, dan lingkungan.</p><p>3.Teori Equilibrium</p><p>Kesetaraan gender dapat dicapai dengan keseimbangan antara faktor alami dan perubahan sosial.</p><p><strong>Diskriminasi</strong> <strong>Gender</strong></p><p>1. Stereotip </p><p>2. Subordinasi</p><p>3.   Beban Ganda/Double Burden </p><p>4. Marginalisasi</p><p>5.Kekerasan/Violence</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 12:12:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346545789</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nazwafatsyaaa</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346547373</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Nazwa Fatsya</p><p>Nim: 2221240093</p><p>Kelas: 2B</p><p>Pada pertemuan ke 2 ini membahas Paradigma Gender. Topik pembahasannya adalah Konsep Gender, Perbedaan Gender &amp; Jenis Kelamin Kesetaraan dan Keadilan gender, Diskriminasi Gender, Refleksi Pembelajaran</p><p>*Kondisi Perempuan</p><p>1. Memiliki 1% properti dunia</p><p>2. ⁠5% menjadi kepala negara dan menteri</p><p>3. ⁠Menghabiskan sekitar 60% dari seluruh jam kerja</p><p>4. ⁠Memperoleh gaji 10% dari seluruh pendapatan </p><p>5. ⁠Mewakili 60% dari seluruh buta huruf</p><p>6. ⁠Mewakili 80% dari seluruh</p><p>pengungsi (bersama dengan anak).</p><p>* Ideologi Patriaki </p><p>1. Patriarki bentuk organisasi sosial dimana laki-laki mendominasi perempuan.</p><p>2. Ideologi patriarki merupakan pandangan yang menempatkan laki-laki sebagai superordinat dari perempuan. Perempuan dalam hal ini bersifat subordinat.</p><p>3. Ideologi Patriarki melahirkan stratifikasi gender yaitu ketimpangan dalam pembagian kekayaan, kekuasaan dan privilege antara laki-laki dan perempuan.</p><p>• Perbedaan Gender &amp; Jenis kelamin</p><p>1. Gender bisa berubah, sedangkan jenis kelamin tidak bisa berubah</p><p>2. ⁠Gender dapat di pertukarkan, sedangkan jenis kelamin tidak dapat di pertukarkan</p><p>3. ⁠Gender tergantung musim, sedangkan jenis kelamin berlaku sepanjang masa</p><p>4. ⁠Gender tergantung budaya masing-masing, sedangkan jenis kelamin berlaku dimana saja</p><p>5. ⁠Gender bukan kodrat Tuhan (buatan masyarakat), sedangkan jenis kelamin kodrat (ciptaan Tuhan)</p><p>* Kesetaraan &amp; Keadilan Gender</p><p>1. Teori Nurture</p><p>Perbedaan gender birlogis dad ari aiao, seperti perbedaan hormon, struktur otak, dan genetika.</p><p>2. Teori Nature</p><p>Perbedaan gender merupakan hasil dari proses sosial, budaya, dan lingkungan.</p><p>3. Teori Equilibrium </p><p>Kesetaraan gender dapat dicapai dengan keseimbangan antara faktor alami dan perubahan sosial.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 12:14:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346547373</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>sitianini1122</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346549904</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Siti Nur'Aini</p><p>Nim : 2221240005</p><p>Kelas : 2A  </p><p>Pembelajaran hari ini membahas tentang paradigma gender, materi ini membahas tentang perbedaan antara gender dan jenis kelamin. ternyata banyak peran gender dalam masyarakat yang saya lihat sebenarnya bukan kodrat, melainkan hasil dari norma sosial. gender juga sering kali dipengaruhi oleh ideologi patriarki yang menempatkan laki-laki dalam posisi dominan. ada berbagai teori yang menjelaskan asal usul perbedaan gender, mulai dari faktor biologis, faktor sosial budaya, sampai keseimbangan antara keduanya. dalam materi ini menunjukan bagaimana perempuan masih tertinggal dalam hal kepemilikan properti, respresentasi politik dan penghasilan. dalam materi ini juga dijelaskan bentuk diskriminasi gender, seperti stereotipe, subordinasi, beban ganda, marginalisasi dan kekerasan. kesetaraan gender juga bisa dicapai melalui berbagai teori, termasuk pendekatan keseimbangan antara faktor biologis dan perubahan sosial.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 12:16:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346549904</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346553175</link>
         <description><![CDATA[<p>hani aprilia (2221240003) 2A</p><p><br/></p><p>Refleksi Pembelajaran Paradigma Gender</p><p><br/></p><p>Dalam mempelajari paradigma gender, saya semakin memahami bahwa gender bukan sekadar perbedaan biologis, tetapi juga konstruksi sosial yang membentuk peran, harapan, dan norma dalam masyarakat. Banyak ketidakadilan yang terjadi akibat pemahaman gender yang sudah mengakar, seperti kesenjangan upah bagi perempuan, keterbatasan akses terhadap pendidikan, serta tekanan sosial terhadap laki-laki untuk memenuhi standar maskulinitas tertentu.</p><p><br/></p><p>Pembelajaran ini membantu saya melihat bahwa banyak hal yang selama ini dianggap wajar ternyata mengandung bias gender. Kesadaran ini mendorong saya untuk lebih kritis dalam menilai berbagai aspek kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, pertemanan. </p><p><br/></p><p>Saya menyadari bahwa memahami gender bukan hanya soal teori, tetapi juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan lebih sadar akan bias gender, saya bisa lebih mendukung kesetaraan dan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif. Ke depan, saya berharap dapat terus mengembangkan pemahaman ini dan berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih adil bagi semua.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 12:20:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346553175</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346554686</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Athiyatun Najah</p><p>Kelas :2A</p><p>Nim : 2221240078</p><p><br></p><p>Pada pertemuan hariini membahas mengenai analisis gender yang dimana presentase dari kondisi perempuan yaitu :</p><p>1. 1% memiliki properti didunia</p><p>2. 5% menjadi kepala negara,hal ini ditunjukkan dengan kepala negara yang masi didominasi oleh laki-laki. </p><p>3. Menghabiskan dari  60% seluruh jam kerja, yang dimana ketika perempuan bekerja diluar rumah mereka juga mengurus hal-hal rumah, baik mengurus anak suami ataupun yang lainnya. </p><p>Dan yang selanjutnya itu membahas mengenai ideologi patriarki yang dimana ideologi patriarki tersebut laki-laki lebih mendominasi dibandingkan dengan perempuan. Dan yang terakhir membahas mengenai perbedaan gender dan jenis kelamin yang pada akhirnya gender merupakan sesuatu yang bisa dirubah aka tetapi jika jenis kelamin tidak bisa dirubah(takdir). </p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 12:22:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346554686</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346558246</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Rani Argynti</strong></p><p><strong>2221240070</strong></p><p><strong>2B</strong></p><p><br/></p><p>pertemuan ini membahas tentang  paradigma gender, setelah saya mendengarkan materi ini menambah pengetahuan saya ternyata gender dan kelamin itu sebuah pernyataan yang berbeda dan pemahaman tentang peran identitas dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Kesetaraan gender juga dapat dicapai melalui keseimbangan antara faktor alami dan perubahan sosial dan ada pula sistem sosial patriarki yang menempatkan laki-laki Sebagai pemegang kekuasaan utama sangat berdampak pada ketimpangan gender</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 12:25:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346558246</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>sr3769120</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346559184</link>
         <description><![CDATA[<p>Siti Rohmah_2221240069_2B</p><p><br/></p><p>Pertemuan hari ini membahas tentang paradigma gender.</p><p><br/></p><p>Paradigma gender adalah cara pandang dan pemahaman tentang peran, identitas, dan hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Paradigma ini dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, seperti pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan politik.</p><p>Untuk mencapai kesetaraan dan keadilan antara laki-laki dan perempuan.</p><p><br/></p><p>Paradigma gender dan jenis kelamin adalah dua konsep yang berbeda.</p><p>- Paradigma gender merujuk pada peran, identitas, dan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan yang dipengaruhi oleh budaya, sosial, dan politik.</p><p>- Jenis kelamin merujuk pada karakteristik biologis dan fisik yang membedakan laki-laki dan perempuan yang ditentukan oleh faktor genetik.</p><p><br/></p><p>Keduanya tidak selalu selaras dan dapat berbeda-beda.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 12:26:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346559184</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>jjuna2444</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346568627</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Suci Suryati (2221240010) </strong></p><p><strong>Kelas 2B</strong></p><p>Melalui pertemuan kedua hari ini membahas pradigma gender, saya menyadari bahwa gender bukan hanya tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga bagaimana masyarakat memberikan peran dan tanggung jawab kepada masing-masing. Gender dibentuk oleh budaya dan norma sosial, sehingga perannya bisa berubah seiring waktu. Sementara itu, jenis kelamin bersifat biologis dan tidak dapat diubah. Namun, dalam kenyataannya, masih banyak ketimpangan gender yang terjadi akibat sistem patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pihak yang lebih dominan dibandingkan perempuan. Akibatnya, perempuan sering mengalami diskriminasi dalam berbagai bentuk, seperti stereotip yang membatasi peran mereka, subordinasi yang membuat perempuan dianggap kurang penting, beban ganda dalam pekerjaan dan rumah tangga, hingga marginalisasi dalam pendidikan dan pekerjaan.  </p><p><br/></p><p>Untuk memahami perbedaan gender, terdapat tiga teori utama. <em>Teori Nurture</em> berpendapat bahwa perbedaan gender disebabkan oleh faktor biologis seperti hormon dan genetika.<em> Teori Nature</em> menekankan bahwa perbedaan gender lebih dipengaruhi oleh budaya, lingkungan, dan kebiasaan sosial. Sedangkan <em>Teori Equilibrium </em>menyatakan bahwa kesetaraan gender dapat dicapai dengan menyeimbangkan faktor biologis dan sosial. Salah satu cara mengatasi ketimpangan gender adalah melalui pendidikan yang setara bagi semua. Dengan adanya akses pendidikan yang merata, perempuan bisa mendapatkan keterampilan dan peluang yang sama dengan laki-laki untuk berkembang dalam berbagai bidang kehidupan.  </p><p><br/></p><p>Kesetaraan gender bukan hanya tanggung jawab perempuan, tetapi seluruh elemen masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk menghapus stereotip yang membatasi peran perempuan, memberikan kesempatan yang sama dalam pekerjaan dan kepemimpinan, serta melindungi hak perempuan dari segala bentuk diskriminasi dan kekerasan. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, diharapkan masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan setara dapat tercipta, di mana laki-laki dan perempuan memiliki hak serta kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi bagi kemajuan bersama.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 12:37:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346568627</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>equinameylanie</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346622267</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Rosa natalia tarigan</p><p>Kelas  : 2B (2221240068)</p><p><br/></p><p>Pada pembahasan hari ini tentang paradigma gender, menurut saya paradigma gender adalah kosep gender,perbedaan jenis kelaminnya serta bagaimana budaya patriarki turut membentuk ketimpang sosial.</p><p><br/></p><p>gender adalah perbedaan yang dikonstruksi secara sosial antara laki-laki dan perempuan, sedangkan jenis kelamin merujuk pada perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan.</p><p><br/></p><p>Perbedaan gender dan kelamin adalah kalau gender itu bisa berubah sedangkan kelamin itu dari bawaan, lahir atau kodratnya (ciptaan Tuhan) </p><p><br/></p><p>Kesetaraan dan keadilan ada 3 yaitu :</p><p>1. Teori Nurture </p><p>2. teori nature </p><p>3. teori Equibilibrium</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 13:30:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346622267</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346652615</link>
         <description><![CDATA[<p>"Gender mengacu pada atribut ekonomi,sosial,politik,dan budaya dan peluang yang terkait dengan menjadi perempuan dan laki-laki. Definisi sosial tentang apa artinya menjadi perempuan atau laki laki bervariasi di antara budaya dan perubahan dari waktu ke waktu"</p><p>Ideologi patriaki merupakan bentuk organisasi sosial dimna laki-laki mendominasi perempuan, ideologi patriaki merupakan pandangan yang menempatkan laki laki sebagai superordinat dan perempuan. perempuan dalam hal ini bersifat subrodinat, Ideologi patriaki melahirkan stratifikasi gender yaitu ketimpangan dalam pembagian kekayaan,kekuasaan dan privilafe antara laki-laki dan perempuan </p><p>Perbedaan gender dan kelamin</p><p>Gender:</p><p>1.bisa berubah</p><p>2.Dapat ditukarkan</p><p>3.Tergantung musim</p><p>4.Tergantung budaya masing-masing </p><p>Bukan kodrat tuhan (buatan masyarakat)</p><p>Jenis Kelamin:</p><p>1.Tidak berubah</p><p>2.Tidak dapat dipertukarkan </p><p>3.Berlaku sepanjang masa</p><p>4.Berlaku dimna saja</p><p>5.Kodrat (ciptaan tuhan)</p><p>Ada 3 teori kesetaraan dan keadilan gender</p><p>1.Teori Nurture</p><p>2.Teori Nature</p><p>3.Teori Equilibrium </p><p>Diskriminasi Gender </p><p>1.Streotip</p><p>2.Subordinasi</p><p>3.Bebas Ganda/Double Burden</p><p>4.Marginalisasi</p><p>5 Kekerasan/Violence</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 13:54:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346652615</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346678531</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama :Nadya Rizqia Khairina</p><p>NIM:2221240076</p><p>Kelas:2A</p><p><br/></p><p>Pemahaman saya dengan materi yang telah di sampaikan bu nining sebagai berikut:</p><p><strong><em>Pengertian Gender </em></strong>adalahPerbedaan sifat, peranan, fungsi dan tanggung jawab antara laki- laki dan perempuan yang bukan berdasar pada perbedaan biologis, tetapi berdasar konstruksi sosial budaya yang dipengaruhi oleh struktur masyarakat yang lebih luas, sehingga dapat berubah sesuai perkembangan zaman</p><p><mark>Perbedaan Jenis Kelamin&amp;Gender</mark></p><p>👨🏻‍🦰👩🏻 <strong>Jenis kelamin:</strong></p><p>Perbedaan fisik atau fisiologis antara Laki-laki dan Perempuan(alat kelamin/sistem reproduksi, ciri fisik)</p><p>🔱tidak dapat berubah-&gt;ketentuan biologis (kodrat)</p><p><br/></p><p>🚸<strong>Gender</strong></p><p>Perbedaan secara sosial dan budaya dalam sikap dan tindakan yang diasosiasikan dengan kelelakian dan keperempuanan</p><p>⚜️dapat berubah-&gt;dipelajari (learn-unlearn),adaptasi</p><p><br/></p><p><mark>Contoh Deskriminasi Gender</mark>🖐🏻🙅🏻‍♀️🙅🏻‍♂️</p><p><strong>1.Stereotip</strong>: pelabelan atau penandaan berdasarkan pandangan yang sangat menyederhanakan (oversimplified standardized image or idea) → negatif</p><p>Stereotip menjadi dasar bentuk-bentuk ketimpangan gender lainnya</p><p><strong>2. Beban kerja ganda</strong>: beban kerja yang lebih berat pada salah satu jenis kelamin (umumnya perempuan)</p><p><strong>3. Marginalisasi</strong>: meniadakan peran perempuan dari kegiatan ekonomi dari asumsi dalam (pengembangan) ilmu pengetahuan, dan dari kebijakan pemerintah, interpretasi keagamaan /tradisi/adat suku</p><p><strong>4. Subordinasi</strong>: menilai peran-peran secaraberbeda atas dasar gender → pandangan lebih rendah dan kurang penting menyebabkan perempuan tidak memiliki akses atas sumberdaya, pengambilan keputusan, dll</p><p><strong>5. Kekerasan</strong>: tindakan kekerasan berbasis gender, baik fisik maupun non-fisik dapat berbentuk kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, dan kekerasan ekonomi</p><p><br/></p><p><mark>Ideologi</mark> 📝</p><p>1.Nilai / apa yang diharapkan,</p><p>2.Norma / apa yang harus dilakukan</p><p>3. Kepercayaan.</p><p>👨‍⚖️<mark>Ideologi Patriarki</mark>👨🏻‍⚖️</p><p>1.Patriarki bentuk organisasi sosial dimana laki-laki mendominasi perempuan. </p><p>2.Ideologi patriarki merupakan pandangan yang menempatkan laki-laki sebagai</p><p>superordinat dari perempuan. Perempuan dalam hal ini bersifat subordinat. </p><p>3.Ideologi Patriarki melahirkan stratifikasi gender yaitu ketimpangan dalam pembagian</p><p>kekayaan, kekuasaan dan privilege antara laki-laki dan perempuan.</p><p>👩🏻‍🔬👩🏻‍💻&nbsp; <mark>Gerakan Perempuan</mark></p><p>🔅Adanya stratifikasi gender telah mendorong lahirnya gerakan sosial di kalangan kaum perempuan, yang bertujuan membela dan memperluas hak-hak kaum perempuan. Gerakan ini dinamakan fenimisme.</p><p>🔆Feminisme bermula di Perancis pada abad ke 18 dan kemudin menyebar ke negara-negara lain dibenua Eropa, Amerika, Afrika dan Asia.</p><p><br/></p><p>🚦<mark>Kesetaraan Gender🚦</mark></p><p><br/></p><p>🧠<strong>Teori Nurture</strong></p><p>Perbedaan gender bersumber dari faktor biologis dan alamiah, seperti perbedaan hormon, struktur otak,</p><p>dan genetika.</p><p>🏟<strong>Teori Nature</strong></p><p>Perbedaan gender merupakan hasil dari proses sosial, budaya,</p><p>dan lingkungan.</p><p>🗼<strong>Teori Equilibrium</strong></p><p>Kesetaraan gender</p><p>dapat dicapai dengan Alamat Padlet keseimbangan antara faktor alami dan perubahan sosial.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 14:13:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346678531</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ahmadfakihmaulana1</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346690841</link>
         <description><![CDATA[<p>nama : ahmad fakih maulana</p><p>kelas : 2B</p><p>NIM : 2221240006</p><p><br/></p><p>pada pertemuan hari ini yang di bahas adalah tentang paradigma gender, didalam materi paradigma gender ini menjelaskan bahwa gender dengan jenis kelamin itu adalah suatu hal yang berbeda, jenis kelamin adalah hal yang tidak akan bisa dirubah seperti laki-laki dan perempuan yang berdasar pada biologis seorang manusia, sedangkan gender dapat berubah ubah seiring dengan sosial dan budaya yang berlaku di lingkungan dan masyarakat.</p><p>perbedaan antara gender dan jenis kelamin ada 5 yaitu :</p><p>gender </p><p>-bisa berubah</p><p>-dapat dipertukarkan</p><p>-tergantung musim</p><p>-tergantung budaya masing masing</p><p>-bukan kodrat tuhan</p><p><br/></p><p>jenis kelamin</p><p>-tidak bisa diubah</p><p>-tidak dapat dipertukarkan</p><p>-berlaku sepanjang masa</p><p>-berlaku dimana saja</p><p>-kodrat tuhan</p><p><br/></p><p>untuk memahami perbedaan gender terdapat 3 teori :</p><p>1. teori nurture (perbedaan gender bersumber dari faktor biologis dan alamiah)</p><p>2. ⁠teori nature (perbedaan gender merupakan hasil dari proses sosial, budaya, dan lingkungan)</p><p>3. ⁠teori equilibrium (kesetaraan gender dapat dicapai dengan keseimbangan antara faktor alami dan perubahan sosial)</p><p><br/></p><p>Di Indonesia masih sering terjadi ketimpangan gender dalam banyak hal, terutama dalam hal pekerjaan karena tidak sedikit orang orang Indonesia yang menggunakan ideologi patriarki kepada para perempuan yang berarti laki laki derajatnya lebih tinggi daripada perempuan sehingga menyebabkan ketimpangan gender.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 14:23:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346690841</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346694059</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Difa Desti Sabillah </p><p>Nim : <a rel="noopener noreferrer nofollow">2221240097</a></p><p>Kelas : 2A</p><p><br/></p><p>Pembelajaran yang saya dapatkan hari ini adalah masyarakat yang masih dipengaruhi oleh ideologi patriarki, perempuan sering kali mengalami ketidakadilan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti ekonomi, politik, dan pendidikan. Ketimpangan ini melahirkan berbagai bentuk diskriminasi, seperti stereotip gender, subordinasi, beban ganda, marginalisasi, dan kekerasan.</p><p><br/></p><p>Penting bagi kita untuk memahami konsep kesetaraan dan keadilan gender agar dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan adil.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 14:25:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346694059</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>maliardk21</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346790803</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Muhammad Ali Abdurrahman K.D</p><p>NIM: 2221240055</p><p><br/></p><p>Dari pertemuan hari ini, dengan materi paradigma gender saya jadi mengetahui bahwa gender dan kelamin itu berbeda, jenis kelamin tidak akan bisa diubah sebagaimana bawaan mereka saat lahir dilihat dari biologis manusia, namun gender dapat berubah ubah tergantung sosial dan budaya di lingkungan masyarakat mereka.</p><p><br/></p><p>Ada 3 teori untuk memahami perbedaan gender, yaitu:</p><p>terdapat 3 teori:</p><p>1. teori nurture (perbedaan gender bersumber dari faktor biologis dan alamiah)</p><p>2. teori nature (perbedaan gender merupakan hasil dari proses sosial, budaya, dan lingkungan)</p><p>3. teori equilibrium (kesetaraan gender dapat dicapai dengan keseimbangan antara faktor alami dan perubahan sosial)</p><p><br/></p><p>Saat ini masih banyak kasus ketimpangan gender seperti ideologi patriarki, perempuan dianggap tidak berhak mendapat keadilan dalam hal kehidupan, ekonomi dan pendidikan. Hal ini dapat memunculkan berbagai macam diskriminasi terhadap perempuan dimana laki laki akan selalu menganggap derajat mereka lebih tinggi daripada perempuan.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 15:40:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346790803</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346832337</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: muhammad miftahuddin</p><p>Nim:2221240098</p><p>Kelas:2B</p><p><br/></p><p>padaa pertemuan hari ini yang dibahas adalah tentang pengertian Gender adalah Perbedaan sifat, peranan, fungsi dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang bukan berdasar pada perbedaan biologis, tetapi berdasar konstruksi sosial budaya yang dipengaruhi oleh struktur masyarakat yang lebih luas, sehingga dapat berubah sesuai perkembangan zaman. </p><p>Ada 3 teori untuk memahami perbedaan gender, yaitu:</p><p>1.teori nurture (perbedaan gender bersumber dari faktor biologis dan alamiah) </p><p>2.teori nature (perbedaan gender merupakan hasil dari proses sosial,budaya, dan lingkungan) </p><p>3.teori equilibrium (kesetaraan gender dapat dicapai dengan keseimbangan antara faktor alami dan perubahan sosial) </p><p><br/></p><p>Di Indonesia saat ini masih sering terjadi atau masih banyak kasus ketimpangan gender seperti ideologi patriarki, perempuan dianggap tidak berhak mendapatkan keadilan dalam hal kehidupan, dan ekonomi Indonesia menggunakan ideologi patriarki kepada perempuan yang berarti laki laki jauh lebih tinggi daripada perempuan sehingga hal ini dapat menimbulkan ketimpangan gender</p><p><br/></p><p>Diskriminasi Gender</p><p>1. stereotip</p><p>2.subordinasi</p><p>3.Bebas ganda/Double Burden</p><p>4.Marginalisasi</p><p>5.kekerasan/Violence</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 16:15:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346832337</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346879789</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Natasha Kayla </p><p>Nim : 2221240032 </p><p>Kelas : 2A </p><p>Pada pembelajaran hari ini membahas tentang paradigma gender </p><p>pendidikan adalah salah satu bidang yang sangat dipengaruhi oleh paradigma gender. Dari tahun ke tahun paradigma gender mengalami perubahan tetapi masih ada tantangan yang harus diatasi. Saat ini kesetaraan akses semakin membaik, beberapa sistem pendidikan mulai menerapkan pendekatan inklusif untuk memastikan bahwa representasi gender dalam materi ajar lebih seimbang.</p><p>Paradigma gender mulai di akses hingga kedalam kurikulum dan pemilihan karier. Kesadaran akan kesetaraan gender dalam pendidikan sangat penting agar semua individu tanpa memandang gender, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan mencapai potensinya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 16:54:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346879789</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346895869</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Almaida Septiani </p><p>kelas: 2A</p><p>NIM: 2221240049</p><p><br/></p><p>pada pertemuan ke 2 kali ini membahas tentang paradigma gender, yang dimana dijelaskan bahwa gender dan jenis kelamin itu dua konsep yang berbeda. Gender merujuk pada peran, identitas, dan ekspresi yang terkait dengan jenis kelamin individu sedangkan jenis kelamin merujuk pada karakteristik biologis yang membedakan antara laki-laki dan perempuan. </p><p><br/></p><p>perbedaan antara gender dan jenis kelamin:</p><p>GENDER </p><p>1. Bisa berubah </p><p>2. Dapat dipertukarkan </p><p>3. Tergantung musim </p><p>4. tergantung budaya masing-masing </p><p>5. Bukan kodrat tuhan (buatan masyarakat)</p><p>JENIS KELAMIN </p><p>1. Tidak bisa berubah </p><p>2. tidak dapat dipertukarkan </p><p>3. berlaku sepanjang masa</p><p>4. berlaku dimana saja </p><p>5. kodrat (ciptaan Tuhan)</p><p><br/></p><p>Kesetaraan dan keadilan gender:</p><p>1. Teori Nurture, Perbedaan genderbersumber dari faktorbiologis dan alamiah,seperti perbedaan hormon, struktur otak</p><p>2. Teori Nature, perbedaan gendermerupakan hasil dariproses sosial, budaya,dan lingkungan.</p><p>3. Teori Equilibriu, Kesetaraan genderd apat dicapai dengan keseimbangan antara faktor alami danperubahan sosial.</p><p><br/></p><p>Deskriminasi gender :</p><p>streotipe, subordinasi, beban ganda, marginalisasi, kekerasan.</p><p><br/></p><p>Gender bukanlah tentang laki-laki atau perempuan, tapi tentang kesetaraan dan keadilan bagi semua orang</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 17:08:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346895869</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346915449</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Muhamad Juan Safiq</p><p>Kelas : 2A</p><p>NIM : 2221240048</p><p><br/></p><p>Refleksi Pertemuan 2: Perspektif Gender dalam Pendidikan Nonformal</p><p><br/></p><p>Dalam pertemuan ini, saya memahami bahwa gender bukan hanya perbedaan biologis, tetapi juga hasil dari konstruksi sosial yang memengaruhi peran dan akses individu dalam pendidikan. Pendidikan Nonformal (PNF) berperan besar dalam mendorong kesetaraan gender karena sifatnya yang lebih fleksibel dan mampu menjangkau kelompok yang kurang mendapatkan akses pendidikan.</p><p><br/></p><p>Namun, tantangan masih ada, seperti adanya stereotip gender dan minimnya keterlibatan laki-laki dalam program pemberdayaan. Sebagai mahasiswa PNF, saya menyadari pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang adil dan inklusif. Materi ini memberikan wawasan baru bagi saya tentang bagaimana pendidikan dapat menjadi sarana untuk menciptakan perubahan menuju kesetaraan gender.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 17:27:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346915449</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>haalthirtymei</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346942027</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>NAMA: Siti Kholimatul Sa'diah</strong></p><p><strong>KELAS: 2A</strong></p><p><strong>NIM: 2221240047</strong></p><p><br/></p><p><br/></p><p>Pada pertemuan kali ini membahas tentang <strong><em>Paradigma Gender</em></strong><em>,</em> yang dimana di dalam nya membahas tentang perbedaan gender dan jenis kelamin, patriarki, ketimpangan gender di indonesia dan diskriminasi gender. Dari hal-hal diatas saya dapat mengetahui sesuatu yang selama ini saya anggap sama, contohnya saya mengira bahwa gender dan jenis kelamin itu sama, tapi nyata nya kedua hal itu berbeda, yang dimana gender ialah perbedaan peran, sifat, identitas, dan perilaku antara laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh masyarakat dan budaya. Ketimpangan gender juga masi terjadi di indonesia contohnya laki2 lebih menjadi dominan untuk menjadi pemimpin dan tenaga kerja formal. Diskriminasi gender juga kerap terjadi di masyarakat dan itu menjadi hal yang sangat lumrah apalagi di daerah pedesaan, seperti stereotipe, subordinasi, beban ganda atau peran ganda dan kekerasan. Ideologi patriarki adalah sumber dari masalah diskriminasi dan ketimpangan gender, biasanya patriarki itu kepercayaan turun menurun yang dianggap benar, dimana laki-laki lebih mendominasi dan perempuan dianggap lemah.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 17:51:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3346942027</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347034707</link>
         <description><![CDATA[<p>nama: afan hadi firmansyah</p><p>nim: 2221240001</p><p>kelas: 2A </p><p><br/></p><p>pada pertemuan hari ini yaitu membahas tentang paradigma gender, yang bisa saya ambil ialah, gender dan kelamin itu suatu perbedaan dimana gender mempunyai sifat bisa diubah tergantung bagaimana budaya yang ada dimasyarakat dan bukan kodrat tuhan, sedangkan kelamin sifatnya tidak bisa diubah karena sudah kodrat tuhan.</p><p>Selain itu, yang terjadi pada permasalahan gender adalah masihnya  menganut patriarki, dimana seorang laki laki selalu mendominasi dibandingkan perempuan dan hal ini mempunyai dampak untuk perempuan seperti, terjadinya kekerasan, marginalisasi yaitu perempuan mengalami kemiskinan dan peminggiran, subordinasi ialah perempuan selalu dipandang rendah daripada laki laki, hal ini dapat terjadinya tindakan pelecehan seksual baik secara verbal maupun non verbal. </p><p>Namun kesetaraan gender bisa dicapai, seperti teori equilibrium mengatakan,  kesetaraan gender dicapai dengan faktor alami dan perubahan sosial, yang artinya laki laki dan perempuan harus bekerja sama dalam kemitraan, keduanya saling bekerja sama dikehidupan masyarakat maupun keluarga.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 19:31:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347034707</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347078118</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Galang Rizky Pratama</p><p>Nim : 2221240002</p><p>Kelas : 2A</p><p><br/></p><p><strong>Refleksi tentang Paradigma Gender</strong>  </p><p>Setelah mempelajari materi mengenai paradigma gender, saya memahami bahwa konsep gender bukan sekadar perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga berkaitan dengan konstruksi sosial, budaya, dan ekonomi yang membentuk peran serta harapan terhadap masing-masing gender. Paradigma gender menyoroti bagaimana stereotip dan norma yang telah mengakar dalam masyarakat sering kali menciptakan ketidaksetaraan, baik dalam lingkungan keluarga, pekerjaan, maupun ruang publik lainnya.  </p><p>Salah satu hal yang menarik adalah bagaimana peran gender tidak bersifat tetap, melainkan bisa berubah seiring dengan perkembangan zaman dan kesadaran masyarakat. Misalnya, dalam banyak budaya tradisional, perempuan cenderung diharapkan untuk mengurus rumah tangga, sementara laki-laki mencari nafkah. Namun, saat ini semakin banyak perempuan yang berkiprah di dunia profesional, dan laki-laki pun mulai mengambil peran lebih aktif dalam pengasuhan anak.  </p><p>Selain itu, paradigma gender juga mengajarkan pentingnya kesetaraan dan keadilan gender. Kesetaraan bukan berarti menyamakan segalanya, tetapi memberikan kesempatan yang adil bagi semua orang tanpa dibatasi oleh stereotip gender. Contohnya, dalam dunia kerja, masih banyak diskriminasi berbasis gender yang menghambat perempuan untuk mendapatkan posisi kepemimpinan atau upah yang setara dengan laki-laki.  </p><p>Dari materi ini, saya menyadari bahwa membangun kesetaraan gender bukan hanya tugas individu tertentu, tetapi tanggung jawab bersama. Perubahan bisa dimulai dari diri sendiri, misalnya dengan tidak membatasi diri atau orang lain berdasarkan gender, serta mendukung kebijakan yang lebih inklusif dan adil. Kesadaran ini penting agar kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih setara, di mana setiap individu dapat berkembang sesuai dengan potensinya tanpa terhalang oleh norma gender yang membatasi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 20:26:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347078118</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nnazwaulia</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347120459</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Nazwa Aulia</p><p>NIM : 2221240087</p><p>Kelas : 2C</p><p><br/></p><p><strong>Refleksi Pembelajaran "Paradigma Gender"</strong></p><p>Dalam pembelajaran ini membahas perbedaan antara gender dan jenis kelamin adalah salah satu hal yang sangat menarik. Jenis kelamin adalah sesuatu yang biologis dan tidak dapat diubah, sedangkan&nbsp;gender adalah konstruksi sosial yang dapat berubah seiring waktu dan berbeda antar budaya, tetapi jenis kelamin adalah sesuatu yang biologis dan tidak dapat diubah. Pembahasan ini menjelaskan pada banyaknya ketidakadilan yang muncul karena kita sering mencampuradukkan keduanya.</p><p>Selain itu, paradigma gender membantu kita memahami bagaimana ideologi patriarki menyebabkan ketidaksetaraan gender. Patriarki adalah sistem sosial di mana laki-laki menguasai dan mendominasi perempuan. Ideologi ini menyebabkan stratifikasi gender, yang menunjukkan bahwa antara laki-laki dan perempuan ada perbedaan dalam pembagian kekayaan, kekuasaan, dan hak istimewa. Hal ini dapat terlihat dalam berbagai bentuk, seperti diskriminasi di tempat kerja, kekerasan dalam rumah tangga, dan kurangnya representasi perempuan dalam politik dan pengambilan keputusan.</p><p>Diskriminasi gender juga menjadi fokus dalam pembelajaran ini. Diskriminasi gender dapat berupa stereotip, subordinasi, beban ganda, marginalisasi, dan kekerasan. Saya sadar bahwa diskriminasi ini tidak hanya merugikan seseorang, tetapi juga menghambat kemajuan masyarakat secara keseluruhan.</p><p>Namun, paradigma gender juga memberikan harapan melalui feminisme dan gerakan perempuan. Gerakan ini berjuang bukan hanya untuk mempertahankan dan memperluas hak-hak perempuan tetapi juga untuk menentang&nbsp;norma gender yang tidak adil. Tidak hanya perempuan, feminisme adalah tentang menciptakan&nbsp;masyarakat yang lebih adil dan inklusif bagi semua orang, tanpa memandang jenis kelamin.</p><p>Keadilan &amp;&nbsp;kesetaraan gender adalah tujuan yang ingin dicapai. Kesetaraan gender bukan membuat laki-laki dan perempuan menjadi sama tetapi memberikan kesempatan yang sama dan menghargai perbedaan masing-masing. Keadilan gender berarti memastikan bahwa setiap orang memiliki akses yang sama terhadap sumber daya dan peluang tanpa mempertimbangkan jenis kelamin mereka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 21:47:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347120459</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rahmaauliya040806</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347138936</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Rahma Aulia</p><p>Kelas : 2A</p><p>Nim : 2221240092</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Jum'at 28 Februari 2025</p><p>Review Pradigma Gender.</p><p><br/></p><p>Menurut Teori Nurture Perbedaan gender bersumber dari faktor biologis dan alamiah, sepertu perbedaan hormon, struktur otak dan genetika. Sedangkan menurut Teori Equilinrium Kesetaraan gender dapat dicapai dengan keseimbangan antara faktor alami dan perubahan sosial.</p><p>Analisis Gender menyangkup Ideologi Patriaki yang dimana dibagi menjadi 3 aspek yakni : Ideologi, Ideologi Patriaki, Gerakan perempuan.</p><p>Tujuan analisis gender adalah untuk mengetahui latar belakang terjadinya kesenjangan gender, mengidentifikasi aspek-aspek kesenjangan gender, merumuskan masalah gender akibat kesenjangan, dan mengidentifikasi langkah-langkah intervensi yang diperlukan.</p><p>Analisis gender penting karena ketidaksetaraan gender masih terjadi di berbagai bidang, termasuk ketenagakerjaan, pendidikan, dan politik.</p><p>Misalnya, perempuan seringkali memiliki akses yang lebih sedikit ke pasar kerja dan menerima upah yang lebih rendah dibandingkan laki-laki</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 22:28:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347138936</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347149009</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Moh Firdausil Mutaqin</p><p>Nim : 2221240079</p><p>Kelas : 2A</p><p><br/></p><p>Refleksi Pembelajaran terkait "Paradigma gander" </p><p><br/></p><p>Jum'at 28 Februari 2025</p><p><br/></p><p>nah di pertemuan kedua ini kita membahas paradigma gander apa si itu paradigma gander.. Paradigma gander adalah cara pandang  atau pemahaman tentang bagaimana peran, identitas dan hubungan antara laki-laki dan perempuan di bentuk dalam masyarakat. Paradigma ini berkaitan dengan kontruksi sosial, budaya, dan sejarah yang memengaruhi cara kita melihat dan memperlakukan individu berdasarkan jenis kelamin. </p><p><br/></p><p>Menurut simone de Beauvoir menyatakan bahwa " Perempuan tidak di lahirkan sebagai perempuan, tetapi di buat menjadi perempuan " Artinya adalah ini menunjukkan bahwa peran gander tidak lah di tentukan secara alami, melainkan di bentuk oleh norma dan struktur sosial. </p><p><br/></p><p>Salah satu hal terpenting dari paradigma gander adalah pemahaman bahwa identitas gander bukan lah hal yang hanya berdasarkan pada jenis kelamin biologis, melainkan dapat di bentuk oleh budaya, norma sosial, dan pengalaman individu. Paradigma gander mengakui bahwa ada keragaman dalam cara orang mengidentifikasi diri mereka. </p><p><br/></p><p>Di sisi lain, perubahan dalam paradigma gander ini mengarah pada upaya untuk menciptakan kesetaraan dan inklusivitas, di mana individu di hargai dan di Terima berdasarkan pilihan dan identitas gender mereka, bukan pada norma yang di paksakan. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-28 22:54:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347149009</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>restikayundiana4</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347196256</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Restika Yundiana</p><p>Kelas: PNF, 2A</p><p>Nim: 2221240046</p><p><br/></p><p>Dari yang saya pahami terkait pembelajaran 28 Februari 2025 mata kuliah Analisi Gender dan Pendidikan Keluarga, Paradigma Gender sempat membahasa Patriarki juga yang saya pahami dan saya tangkap Patriarki ini adalah dimana seorang lelaki lebih dominan dalam mengambil peran di bandingkan perempuan, dari pembalajran 28 februari 2025 saya memahami terkait gender dan jenis kelamin yang memang ternyata berbeda seperti Gender ini ternyata bisa berubah, dapat dipertukarkan, tergantung musim, tergantung budaya masing-masing dan bukan kodrat tuhan yang di maksudkan yaitu buatan masyarakat. Sedangkan, Jenis Kelamin yaitu tidak bisa berubah, tidak dapat di pertukarkan, berlaku sepanjang masa, berlaku di mana saja, dan kodrat yaitu ciptaan tuhan. lalu Ketimpangan Gender di Indonesia yang di bahas pada 28 februari 2025 dimana data menunjukan di pedesaan ketimpangan gender ini masih berlaku atau memang masih ada dan nyatanya memang seperti itu, contohnya di desa saya sendiri atau di lingkungan saya terkait ketimpangan gender ini masih sangat kental masyarakat yang memang masih berpikir bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena nantinya akan di dapur juga ujung-ujungnya dan masih banyak lagi. Terkait Subordinasi dan Marginalisasi saya jadi memahami sesudah pembelajaran 28 Februari 2025 yaitu Subordinasi adalah posisi atau suatu kelompok yang di anggap kurang penting, sedangkan Marginalisasi yaitu proses pengucilan kelompok terhadap sumber daya, hak dll.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-01 01:16:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347196256</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>suciioktavia065</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347198927</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama  : Suci Oktavia Ramadani </p><p>Nim     : 2221240063</p><p>Kelas   : 2A</p><p><br/></p><p>Refleksi Pembelajaran "Paradigma Gender"</p><p><br/></p><p>Pada pembelajaran kemarin yang saya tangkap tentang Paradigma Gender adalah,   Gender dan jenis kelamin adalah dua hal yang berbeda. Gender dibentuk melalui interaksi sosial, tradisi, dan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat yang membuat konsep maskulin atau feminin. Gender mengubah stereotip seperti ekspektasi bahwa laki-laki harus tegas dan kuat, sedangkan perempuan harus lembut dan pengasih. Stereotip ini tidak hanya membatasi individu dalam mengekspresikan identitasnya, tetapi juga berkontribusi pada struktur kekuasaan yang mengarah pada ketidaksetaraan. Lalu terjadilah Ketidaksetaraan dalam berbagai aspek kehidupan, misalnya dalam kesempatan pendidikan, pekerjaan, dan pembagian peran di rumah tangga.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-01 01:24:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347198927</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347216483</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama     : Laras Juliana Sapira</p><p>Nim        : 2221240031</p><p>Kelas      : 2A</p><p><br/></p><p>Pradigma Gender </p><p><br/></p><p>Seringkali kita mengaitkan antara jenis kelamin dengan gender, padahal itu adalah 2 hal yang berbeda. </p><p>1. Gender adalah hasil dari konstruksi sosial dan budaya, sifatnya bisa berubah sesuai dengan kondisi sosial dan budaya pada saat itu (Teori Nature) </p><p>2. Jenis kelamin adalah tanda biologis suatu gender dan ini tidak bisa di ubah ataupun dipengaruhi oleh musim. </p><p>Dari 2 perbedaan di atas kita mengetahui bahwa gender itu berkaitan dengan sosial dan budaya, dan ada satu kata yang sering di katakan "ketimpangan gender" Yaitu "patriarki"</p><p>Apa itu patriarki? </p><p>Patriarki adalah kondisi di mana adanya ketimpangan dari salah satu gender (laki-laki dan perempuan). Di dalam konsep patriarki, semua hal di dasarkan pada peraturan dari laki-laki sedangkan perempuan hanya berada di posisi "menerima" dan "melakukan". </p><p><br/></p><p>Akibatnya banyak perempuan yang mendominasi permasalah sosial terutama di bidang pendidikan. Bahkan Robert Jacksone dan Georg Sorensen saja mengatakan bahwa kasus buta huruf 60% nya di duduki oleh perempuan dan perempuan pun hanya terdapat 5% yang berhasil memiliki jabatan strategis dalam pekerjaan. </p><p><br/></p><p>Adanya ketidaksetaraan gender ini juga bisa menjadi awal mula diskriminasi gender yang terdiri dari aspek ;</p><p>1. Stereotipe</p><p>2. Subordinasi</p><p>3. Beban ganda</p><p>4. Marginalisasi</p><p>5. Kekerasan</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-01 02:06:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347216483</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347220570</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Nazma Kamila Ramadhani</p><p>Kelas: 2A</p><p>Nim: 2221240061</p><p>Jumat, 28 Februari 2025</p><p><br/></p><p>Refleksi Pembelajaran mengenai "Paradigma Gender"</p><p><br/></p><p>Pada pembelajaran kali ini membahas tentang paradigma gender. Dari materi yang telah disampaikan, saya jadi lebih memahami bahwa gender dan jenis kelamin itu merupakan dua hal yang berbeda. Gender adalah perbedaan peran, perilaku, harapan, serta identitas laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial dan budaya. Sementara itu, jenis kelamin adalah kodrat biologis yang merupakan ciptaan Tuhan, tidak berubah, tidak dapat dipertukarkan, serta berlaku sepanjang masa. Dengan demikian, paradigma gender adalah cara kita memandang dan memahami perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan di masyarakat.</p><p><br/></p><p>Materi ini juga membahas tentang ideologi patriarki yaitu sistem yang menempatkan laki-laki lebih tinggi dari perempuan. Contohnya adalah pandangan bahwa perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi karena pada akhirnya akan bekerja di dapur dan menjadi ibu rumah tangga. Perspektif semacam inilah yang menjadi salah satu penyebab utama ketidaksetaraan gender. </p><p><br/></p><p>Akibat dari ideologi patriarki gender tersebut muncul berbagai bentuk diskriminasi gender. Diskriminasi ini dapat berupa stereotip (pelabelan negatif berdasarkan gender), subordinasi (penempatan satu gender lebih rendah dari gender lainnya), beban ganda (double burden yaitu tanggung jawab ganda yang tidak seimbang), marginalisasi (pengabaian atau pengucilan), dan bahkan kekerasan.</p><p><br/></p><p>Namun, seiring berjalannya waktu, muncul gerakan perempuan sebagai respons terhadap ketidakadilan ini. Gerakan ini bertujuan untuk membela dan memperluas hak-hak perempuan. Berkat perjuangan tersebut, kini semakin banyak perempuan yang menjadi pemimpin dan memiliki kesempatan untuk mengejar pendidikan serta cita-cita mereka. Selain itu, peran laki-laki pun mengalami perubahan, di mana mereka semakin terlibat dalam mengurus rumah tangga dan merawat anak. </p><p><br/></p><p>Jadi pembelajaran ini memberikan pemahaman tentang pentingnya kesetaraan dan keadilan gender. Untuk mewujudkannya, diperlukan upaya untuk mengubah ideologi patriarki, menghapus diskriminasi gender, dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua individu, tanpa memandang jenis kelamin.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-01 02:17:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347220570</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>fadhilahibni</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347222980</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: fadhilah ibni safitri</p><p>kelas : 2A</p><p>nim: 221240018</p><p><br/></p><p>Dari pertemuan hari ini, gender gender akan menjadi materi paradigma dengan jenis kelamin dan gender yang berbeda. Gender tidak berubah sebagai bawaan dari orang biologis, tetapi gender dapat berubah tergantung pada komunitas sosial dan budaya.</p><p>444 Ada tiga teori untuk memahami perbedaan gender. Dengan kata lain, ada tiga teori:</p><p>444 1. Teori makanan (perbedaan spesifik dari faktor biologis dan alam)</p><p>2. Hal ini dapat menyebabkan berbagai jenis diskriminasi terhadap wanita, di mana pria berasumsi bahwa</p><p>44 pria selalu lebih tinggi daripada wanita.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-01 02:23:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347222980</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347245295</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : LUTVIHAKIM </p><p>Nim :2221240034</p><p>Kelas: 2A</p><p><br/></p><p>Prada reflek materi hari ini dengan judul </p><p>"Pradigma gender"</p><p><br/></p><p>Gender mengacu pada atribut ekonomi, sosial, publik dan budaya  dan peluang yang terkait menjadi perempuan dan laki laki . Definisi sosial tentang apa artinya perempuan menjadi laki laki bervariasi di antara budaya dan perubahan dari waktu ke waktu.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Selanjutnya adapun 3 teori yang mencakup keadilan kesetaraan gender </p><ol><li><p>Teori nurture</p><p>Perbedaan gender dari Faktor biologis dan alamiah, seperti  perbedaan hormon, struktur otak dan genetika </p></li><li><p>Teori nature</p><p>Perbedaan gender merupakan hasil dari proses sosial budaya dan lingkungan </p></li><li><p>Teori aqulibrium</p><p>Kesetaraan gender dapat di capai dengan keseimbangan antara faktor alami dan perubahan sosial </p><p><br/></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-01 03:20:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347245295</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347247167</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Az zahra karunia Akbar</p><p>Nim : 2221240057</p><p>Kelas : 2C</p><p> " Paradigma gender"</p><p> </p><p>Dalam mempelajari paradigma gender, saya semakin memahami bahwa gender bukan sekadar perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga merupakan konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh budaya, norma, dan kebijakan yang berlaku dalam masyarakat.</p><p>Salah satu hal yang menarik adalah konsep ideologi patriarki yang menjadi sumber utama ketimpangan gender. Patriarki menciptakan sistem sosial di mana laki-laki memiliki posisi dominan dibandingkan perempuan, yang mengarah pada berbagai bentuk diskriminasi, seperti subordinasi, stereotip gender, beban ganda, marginalisasi, dan bahkan kekerasan berbasis gender.</p><p>Selain itu, kesetaraan gender bukan sekadar memberikan hak yang sama bagi laki-laki dan perempuan, tetapi juga tentang keadilan gender, yaitu memberikan akses dan peluang yang setara sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu. Beberapa teori seperti Teori Nurture dan Teori Nature membantu menjelaskan bagaimana perbedaan gender terbentuk dari faktor biologis dan sosial.</p><p>Dalam konteks pendidikan, analisis gender sangat penting dalam memastikan bahwa baik laki-laki maupun perempuan mendapatkan akses pendidikan yang adil. Pendidikan non-formal juga memiliki peran besar dalam memberdayakan perempuan, terutama dalam bidang literasi, keterampilan hidup, dan pelatihan kerja.</p><p>Kesimpulan dari refleksi ini adalah bahwa perjuangan untuk mencapai kesetaraan gender masih harus terus dilakukan melalui berbagai upaya, baik di tingkat individu, keluarga, hingga kebijakan publik. Saya menjadi lebih sadar akan pentingnya menghindari bias gender dalam kehidupan sehari-hari dan turut serta dalam mendorong lingkungan yang lebih inklusif dan adil bagi semua.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-01 03:26:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347247167</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347257087</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama : Bagas Fajri Ramadana</strong></p><p><br/></p><p>NIM: 2221240080</p><p>Kelas: 2A</p><p><br/></p><p>Gender adalah konsep sosial yang merujuk pada peran, perilaku, ekspresi, dan identitas yang dikonstruksikan oleh masyarakat dan budaya sebagai "pria" atau "wanita". Gender bukanlah sesuatu yang inheren atau biologis (seperti jenis kelamin/seks), tetapi dipelajari, dibentuk, dan berubah seiring waktu dan antar budaya.</p><p>Sedangkan Paradigma gender adalah cara pandang atau kerangka berpikir yang digunakan untuk memahami dan menganalisis perbedaan peran, tanggung jawab, hak, dan kesempatan antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Paradigma ini mengakui bahwa perbedaan gender tidak semata-mata bersifat biologis (seks), tetapi juga dibentuk oleh faktor-faktor sosial, budaya, dan historis.</p><p><br/></p><p>Aspek aspek utama Paradigma Gender</p><ol><li><p>Perbedaan seks dan gender</p></li><li><p>Kontruksi sosial gender</p></li><li><p>Relasi kuasa gender</p></li><li><p>Interseksionalitas</p></li><li><p>Perubahan dan pemberdayaan gender</p></li></ol><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-01 03:57:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347257087</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347270764</link>
         <description><![CDATA[<p>Yudi wahyudi 2A (2221240062)</p><p><br/></p><p>Pada pembahasan kali ini membahas paradigma gender dan di inisisai oleh kelas A,B, dan C setelah membahas ini saya jadi mengetahui bahwa jenis kelamin dan gender itu memiliki perbedaan yang sangat signifikan. gender yang saya pahami dari pembahasan tadi adalah sebuah cara pandang dan sesuatu yang di buat oleh msyarakat dan bersifat bisa di rubah dan di pengaruhi oleh kebudayaan masing masing. sementara jenis kelamin adalah sebuah kodrat dari Tuhan dan tidak dapat dirubah dari sejak lahir sampai akhir hayatnya. adapun pada pembahasan tadi membahas diskriminasi gender di pengaruhi oleh : 1. streotip 2. subordinasi 3. beban ganda/double garden 4. marginalisasi 5. kekerasan</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-01 04:37:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3347270764</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355374502</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Almaida Septiani </strong></p><p><strong>Kelas: 2A</strong></p><p><strong>NIM: 2221240049</strong></p><p><strong>Pertemuan ke 3</strong></p><p><br/></p><p><strong>Pengertian </strong></p><p>teori feminisme adalah gerakan sosial dan teori yang memperjuangkan kesetaraan hak antara pria dan wanita. Tujuan utamanya yaitu untuk menghapus diskriminasi gender dan memberikan kebebasan serta kesetaraan bagi perempuan. </p><p><br/></p><p><strong>Sejarah singkat </strong></p><p>Pertama pada abad ke 19-20 fokus pada hak suara dan kesetaraan hukum.</p><p>Kedua pada abad 1960-1980 fokus pada hak reproduksi, akses pendidikan dan kesetaraan dalam pekerjaan.</p><p>ketiga pada abad 1990 hingga sekarang fokus pada keberagaman identitas perempuan dan isu-isu global.</p><p><br/></p><p><strong>Feminisme Liberal</strong></p><p>Berfokus pada kesetaraan gender melalui reformasi hukum dan kebijakan tanpa mengubah struktur sosial yang mendasarinya. Menekankan hak individu dan akses yang setara dalam pendidikan pekerjaan, serta politik.</p><p><br/></p><p><strong>Tokoh-tokoh</strong></p><p>Betty Friedan – Penulis The Feminine Mystique (1963), yang mengkritik peran tradisional perempuan dalam rumah tangga.</p><p>John Stuart Mill – Filosof yang mendukung kesetaraan hak perempuan dalam bukunya The Subjection of Women (1869).</p><p><br/></p><p><strong>Feminisme Liberal</strong></p><p>Dampak: Berperan penting dalam pengakuan hak suara perempuan dan kesetaraan pendidikan.</p><p>Kontribusi: Mendorong perundang-undangan yang menjamin kesetaraan perempuan dibidang politik dan hukum.</p><p><br/></p><p><strong>Feminisme Radikal</strong></p><p>Menganggap patriarki sebagai akar utama penindasan perempuan dan berusaha menghapus struktur kekuasaan yang mendukung dominasi laki-laki, sering kali dengan perubahan sosial yang lebih</p><p>mendalam. </p><p><br/></p><p><strong>Tokoh-tokoh</strong></p><p>Catharine MacKinnon – Mengembangkan teori hukum tentang pelecehan seksual sebagai bentuk dominasi patriarki.</p><p>Shulamith Firestone – Menulis The Dialectic of Sex (1970), yang menekankan bagaimana biologi digunakan untuk menindas perempuan.</p><p><br/></p><p><strong>Feminisme Radikal</strong></p><p>Dampak: Meningkatkan kesadaran tentang akar penyebab penindasan perempuan yang berhubungan dengan patriarki dan struktur sosial yang lebih luas.</p><p>Kontribusi: Mendorong perdebatan tentang kekerasan berbasis gender dan seksisme sistemik, serta pentingnya perubahan</p><p>mendalam dalam struktur sosial. </p><p><br/></p><p><strong>Feminisme Sosialis</strong></p><p>Dampak: Menghubungkan kelas dan gender,serta menekankan perubahan sosial sebagai kunci untuk membebaskan perempuan.</p><p>Kontribusi: Menyuarakan hak-hak</p><p>perempuan dalam konteks perubahan sosial secara keseluruhan, serta memperjuangkan hak kerja dan akses ke layanan publik.</p><p><br/></p><p><strong>Damak liberal </strong></p><p>Dampaknya terlihat dalam meningkatnya</p><p>kesadaran terhadap gender dan identitas, tetapi kelemahannya adalah terlalu teoritis dan kurang solusi konkret.</p><p>Kontribusi: </p><p>Aliran ini berkontribusi dalam memperjuangkan hak kelompok minoritas dan mengkritik </p><p>feminisme arus utama yang kurang inklusif.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 04:11:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355374502</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rizqyahfatihahaulia</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355376723</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Fatihah Aulia Rizqyah </p><p>NIM : 2221240038</p><p>Kelas : 2B</p><p><br/></p><p>Pada pertemuan kali ini, setelah mempelajari konsep gender dan feminisme, saya lebih memahami bahwa ketimpangan gender adalah konstruksi sosial dan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi dan bukanlah hasil dari alam.  Wawasan ini membuat saya lebih sadar bahwa kesetaraan gender lebih dari hanya memberikan hak tambahan kepada perempuan. Ini lebih tentang menciptakan keseimbangan dan keadilan bagi semua orang, baik laki-laki maupun perempuan.</p><p><br/></p><p>Saya melihat bahwa dalam dunia pendidikan, masih ada banyak hambatan yang menghalangi kesempatan yang sama bagi laki-laki dan perempuan.  Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan termasuk norma sosial, nilai budaya yang kuat, dan kebijakan pendidikan yang belum sepenuhnya mendukung kesetaraan gender.  Oleh karena itu, saya sadar bahwa keluarga sangat penting dalam mengajarkan anak-anak pola pikir yang lebih adil dan inklusif sejak dini.</p><p><br/></p><p>Melalui refleksi ini, saya juga memikirkan apa yang dapat saya lakukan untuk membangun lingkungan yang lebih adil dan setara.  Salah satu cara sederhana yang bisa saya lakukan adalah menjadi lebih sadar terhadap stereotip gender yang ada di sekitar saya dan berani menentangnya di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat.  Dengan demikian, saya berharap dapat membantu membangun masyarakat yang lebih adil, damai, dan terbuka untuk semua orang.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 04:13:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355376723</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>jjuna2444</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355377278</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama : Suci Suryati </strong></p><p><strong>Nim    : 22212240019</strong></p><p><strong>Kelas  : 2B</strong></p><p><br/></p><p>Ketidaksetaraan gender bukanlah sesuatu yang terjadi secara alami, melainkan hasil dari konstruksi sosial dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Stereotip gender yang masih kuat dalam masyarakat membatasi peran laki-laki dan perempuan, baik dalam kehidupan keluarga, pendidikan, maupun dunia kerja. Misalnya, perempuan sering kali dianggap lebih cocok dalam ranah domestik, sementara laki-laki didorong untuk berkarier di bidang profesional. Pandangan seperti ini menyebabkan adanya ketimpangan akses dan kesempatan, terutama dalam pendidikan.  </p><p><br/></p><p>Feminisme hadir sebagai gerakan untuk menentang diskriminasi dan memperjuangkan keadilan bagi semua individu, bukan hanya perempuan. Feminisme liberal menekankan kesetaraan hak melalui kebijakan hukum dan pendidikan, sementara feminisme radikal melihat akar ketidakadilan dalam sistem patriarki yang menguntungkan laki-laki. Feminisme sosialis menyoroti ketimpangan ekonomi sebagai faktor utama diskriminasi gender, sedangkan feminisme postmodern mengkritisi bagaimana bahasa dan budaya membentuk peran gender.</p><p><br/></p><p>Dalam konteks pendidikan, kesetaraan gender menjadi kunci utama dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil. Namun, masih banyak hambatan yang menghalangi tercapainya kesetaraan tersebut, seperti kondisi sosial-ekonomi, norma budaya, dan kebijakan yang belum inklusif. UNESCO (2021) menekankan bahwa pendidikan harus dirancang untuk menghapus bias gender, memberikan akses yang setara bagi laki-laki dan perempuan, serta mendorong sistem pembelajaran yang lebih adil.  </p><p><br/></p><p>Sebagai refleksi, saya menyadari bahwa perubahan menuju kesetaraan gender tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan pemerintah atau sistem pendidikan, tetapi harus dimulai dari kesadaran individu. Cara berpikir, berbicara, dan bertindak yang lebih kritis terhadap bias gender menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan yang lebih adil. Selain itu, mendukung kebijakan dan program yang mendorong kesetaraan gender, baik dalam pendidikan maupun masyarakat, merupakan bentuk kontribusi nyata dalam perjuangan ini.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 04:14:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355377278</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ayeshaadzani87</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355382760</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Ayesha Adzani Simbran </p><p>Nim: 2221240025 (2B)</p><p><br/></p><p>1. pengertian gender:</p><p>gender merupakan perbedaan yang terlihat antara laki laki dan perempuan. gender adalah sifat dan perilaku yang di letakkan pada laki laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya. gender berbeda dengan jenis kelamin, jenis kelamin dapat diubah sedangkan gender tidak dapat di ubah.</p><p><br/></p><p>2. pengertian feminisme:</p><p>gerakan feminisme dapat diartikan sebagai kesadaran terhadap adanya diskriminasi, ketidakadilan yang di lanjutkan dengan upaya untuk mengubah keadaan tersebut menuju kesebuah sistem masyarakat yang lebih adil.</p><p><br/></p><p>3. pembagian feminisme</p><p>feminisme dibagi menjadi 4 bagian:</p><p>a. feminisme liberal ( berkembang berdasarkan perubahan visi dan konsep pemikiran gerakan feminis)</p><p>b. feminisme radikal (berpusat pada biologis, ketidakadilan gender disebabkan dari perbedaan biologis antara laki laki dan perempuan)</p><p>c. feminisme sosialis ( ketidakpuasan feminis, dan sifat pemikiran marxis yang dasarnya buta gender)</p><p>d. feminisme postmodern (memahami stereotip gender sebagai konstruksi budaya patriaki yang dibentuk melalui bahasa)</p><p><br/></p><p>pendidikan adalah usaha yang nanti nya mewujudkan suatu impian melalui pembelajaran untuk mengembangkan potensi diri (spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia) </p><p><br/></p><p>keadilan dan kesetaraan adalah gagasan dasar dengan tujuan dan misi utama peradaban manusia untuk mencapai kesejahteraan, membangun keharmonisan kehidupan bermasyarakat.</p><p><br/></p><p>4. doktrin ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan </p><p>a. marginalisasi terhadap perempuan (menggeser perempuan ke pinggiran)</p><p>b. stereotip masyarakat terhadap perempuan (pembakuan diskriminasi antara laki laki dan perempuan)</p><p>c. subordinasi terhadap perempuan (perempuan dan karya karya nya lebih rendah dari laki laki)</p><p>d. beban ganda terhadap perempuan (pekerjaan perempuan akan lama jika di kerjakan oleh laki laki)</p><p>e. kekerasan terhadap perempuan (pelecehan, permintaan hubungan seks di tempat umum)</p><p><br/></p><p>5. faktor faktor </p><p>a. kondisi sosial ekonomi keluarga </p><p>b. lemahnya kesetaraan gender</p><p>c. manajemen rumah tangga belum seimbang </p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 04:20:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355382760</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>sr3769120</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355391694</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Siti Rohmah </strong></p><p><strong>Kelas: 2B</strong></p><p><strong>Nim: 2221240069</strong></p><p>Pada pertemuan hari ini kita membahas tentang gender dan faranisme </p><p><br/></p><p>Pengertian gende</p><p>Gender merupakan perbedaan yg terlihat antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku </p><p><br/></p><p>Pengertian feminisme </p><p>Gerakan feminisme dapat diartikan sebagai kesadaran terhadap adanya diskriminasi, ketidakadilan, dan subordinasi </p><p><br/></p><p>Feminisme liberal dan redikal</p><p>-Feminisme liberal telah muncul pada abad ke18</p><p>-feminisme Redikal berpusat pada aspek biologis.</p><p><br/></p><p>Feminisme sosialis dan postmodern</p><p>-Feminisme sosial </p><p>-Feminisme postmodern </p><p><br/></p><p>Pandangan masyarakat Indonesia terhadap peran gender dalam kehidupan sosial, khususnya dalam pendidikan, masih belum setara. Perempuan masih mengalami diskriminasi dan marginalisasi dalam berbagai aspek kehidupan.</p><p><br/></p><p>Faktor-faktor yang menyebabkan ketimpangan gender dalam akses dan kesempatan pendidikan antara lain:</p><p>- Kondisi sosial-ekonomi keluarga</p><p>- Nilai-nilai budaya dan tradisi yang berlaku</p><p>- Kebijakan pemerintah tentang pendidikan</p><p>- Ekspektasi sosial mengenai peran gender</p><p><br/></p><p>Untuk mewujudkan kesetaraan gender dalam pendidikan, perlu dilakukan:</p><p><br/></p><p>- Strategi yang dapat dilakukan untuk mewujudkan kesetaraan gender dalam pendidikan</p><p>- Partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat</p><p>- Mengajarkan bahwa semua anggota keluarga memiliki hak dan kewajiban yang setara</p><p>Dengan demikian, kita dapat mencapai kesetaraan gender dalam pendidikan dan mewujudkan keadilan bagi semua individu.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 04:28:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355391694</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355395194</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Futuhatul Ain </p><p>Nim : 2221240053</p><p>Kelas : 2B</p><ul><li><p>Pengertian gender : gender adalah sifat dan perilaku yang diletakkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya </p></li><li><p>Jenis feminisme :</p><p>a. Liberal berkembang berdasarkan perubahan visi dan konsep pemikiran gerakan feminisme.</p><p>b. Radikal berpendapat bahwa ketidakadilan gender disebabkan dari perbedaan biologis antara pria dan wanita itu sendiri.</p><p>c. Sosialis </p><p>d. Postmodern memahami stereotip gender sebagai konstruksi budaya patriarki yang dibentuk melalui bahasa. </p></li><li><p>Keadilan dan kesetaraan adalah gagasan dasar, tujuan dan misi utama peradaban manusia untuk mencapai kesejahteraan membangun keharmonisan kehidupan bermasyarakat dan bernegara dan membangun keluarga berkualitas. </p></li><li><p>Doktrin ketidak setraan laki-laki dan wanita : marginalisasi terhadap perempuan, stereotip masyarakat terhadap perempuan, subordinasi terhadap perempuan,beban ganda terhadap perempuan, kekerasan terhadap perempuan.</p></li><li><p>Faktor penyebab terjadinya ketimpangan gender : kondisi sosial ekonomi keluarga koman nilai-nilai budaya dan tradisi yang berlaku, kebijakan pemerintah tentang pendidikan, dan ekspektasi sosial mengenai peran gender, lemahnya kesetaraan gender, sistem struktur sekolah kurang memberikan kesepakatan bagi perempuan, manajemen rumah tangga belum seimbang.</p></li><li><p>Pada nyatanya kesetaraan gender dilakukan agar adanya keadilan untuk laki-laki dan perempuan agar ada partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat</p></li><li><p>Pengaruh konstitusi budaya terhadap perbedaan gender dalam pendidikan sekolah seringkali menciptakan harapan dan norma-norma sosial terkait dengan apa yang dianggap sesuai dengan perempuan yang berbentuk dalam masyarakat biasa menciptakan pembatasan dalam pilihan dan prestasi siswa. </p></li><li><p>Orang tua merupakan pihak utama yang bertanggung jawab dalam pendidikan dalam keluarga, orang tua menekankan pentingnya kesetaraan dan keadilan antara laki-laki dan perempuan dan mengajarkan bahwa semua anggota keluarga memiliki hak dan kewajiban yang setara</p><p>Kesimpulan yaitu bahwa perjuangan untuk mencapai kesetaraan gender tetap dibutuhkan. Kesadaran dan kolaborasi kolektif semangat vital untuk menciptakan lingkungan yang secara rugi setiap individu.</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 04:32:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355395194</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>kimachan09</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355448027</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Ima Maulia Azzahra</p><p>NIM: 2221240023</p><p>Kelas: 2B</p><p><br/></p><p>Refleksi materi hari ini mengenai Teori feminisme, Perspektif gender dalam ilmu sosialdan pendidikan, serta Penerapan teori gender dalam jangkauan pendidikan keluarga. </p><p><br/></p><p>- Teori Feminisme:</p><p>1. Feminisme radikal: berpendapat bahwa ketidak adilan gender disebabkan oleh perbedaan biologis antara wanita dan pria. </p><p>2. Feminisme liberal: berkembang berdasarkan visi dan konsep pemikiran gerakan feminis. </p><p>3. Feminisme sosialis: kecenderungan Maxis yang menganggap opresi thdp wanita jauh di bawah pentingnya opresi pada pria. </p><p>4. Feminisme postmodern: kontruksi budaya patriarki yang dibentuk melalui bahasa. </p><p><br/></p><p>- Perspektif masyarakat terhadap peran gender dalam ilmu sosial dan pendidikan: </p><p>Keadilan dan kesetaraan adalah gagasan dasar, tujuan dan misi utama peradaban manusia untuk mencapai kesejahteraan, membangun keharmonisan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, dan membangun keluarga berkualitas, maka dari itu, sudah seharusnya masyarakat menegakkan kesetaraan dalam hal apapun tanpa memandang gender. </p><p><br/></p><p>- Penerapan teori gender dalam jangkauan pendidikan keluarga:</p><p>Kesetaraan gender dilakukan agar adanya keadilan untuk laki-laki dan perempuan dan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat. Contoh dalam keluarga yaitu memberi pengertian pada anak bahwa pekerjaan rumah bukan hanya tanggung jawab perempuan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 05:15:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355448027</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355451010</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Ratu Zahra Huwaida</p><p>NIM: 2221240054</p><p>Kelas: 2B</p><p><br/></p><p>Perbedaan gender di masyarakat Indonesia bukanlah sesuatu yang bersifat alami atau biologis, melainkan hasil dari konstruksi sosial dan budaya yang terbentuk melalui proses panjang sosialisasi nilai dan norma. Pandangan tradisional yang membedakan peran laki-laki dan perempuan masih sangat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan.  </p><p>Meskipun ada perkembangan dalam sektor pendidikan, kesetaraan gender dalam pendidikan masih perlu diperjuangkan. Keluarga, sebagai lingkungan pertama bagi anak, memiliki peran penting dalam membentuk pola pikir yang responsif terhadap kesetaraan gender. Pendidikan juga berperan sebagai sarana utama dalam menciptakan kesempatan yang sama bagi laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, diperlukan usaha berkelanjutan untuk memastikan perempuan mendapatkan hak dan kesempatan yang setara dalam pendidikan dan kehidupan sosial secara keseluruhan.</p><p><br/></p><p>Doktrin Ketidasetaraan Antara Laki-laki dan</p><p>Perempuan:</p><ol><li><p>Marginalisasi terhadap perempuan </p></li><li><p>Steorotip masyarakat terhadap perempuan </p></li><li><p>Subordinasi terhadap perempuan </p></li><li><p>Beban ganda terhadap perempuan </p></li><li><p>Kekerasan terhadap perempuan </p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 05:17:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355451010</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>asihgaol123</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355456913</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Tuppal Budi Asih L.G</p><p>Kelas : 2B</p><p>Nim : 2221240039</p><p><br/></p><p>Secara etimologinya kata feminis berasal dari Bahasa latin femina yang diterjemahkan dalam bahasa inggris sebagai femine, artinya memiliki sifat-sifat sebagai perempuan, kemudian ditambah kata "isme"  yang dapat berarti paham. Oleh sebab itu, gerakan feminisme dapat diartikan sebagai kesadaran terhadap adanya diskriminasi, ketidakadilan, dan subordinasi perempuan yang dilanjutkan dengan Upaya untuk mengubah keadaan tersebut menuju ke sebuah sistem masyarakat yang&nbsp;lebih&nbsp;adil. </p><p><br/></p><ol><li><p>Feminisme Liberal</p></li></ol><p>eminisme liberal telah muncul pada abad ke-18 dan terus berkembang menjadi sebuah gerakan feminis yang penting hingga abad ke-20. Feminisme liberal berkembang berdasarkan perubahan visi dan konsep pemikiran gerakan feminis. Pada abad ke-18, feminisme liberal dimunculkan dalam bentuk gagasan tentang masyarakat yang adil dan mendukung pengembangan diri perempuan yang sama dengan laki-laki. </p><p><br/></p><p> 2. Feminisme radikal</p><p>Feminisme radikal berpusat pada aspek biologis. Mereka berpendapat bahwa ketidakadilan gender disebabkan dari perbedaan biologis antara pria dan wanita itu sendiri. Maksudnya adalah perempuan merasa diekploitasi oleh kaum laki-laki dalam hal-hal biologis yang dimiliki perempuan, misalnya adalah peran kehamilan dan keibuan yang selalu diperankan oleh perempuan. </p><p><br/></p><ol start="3"><li><p>Feminisme Sosialis</p></li></ol><p>Feminisme sosialis pada umumnya merupakan hasil ketidakpuasan feminis Marxis atas sifat pemikiran Marxis yang pada dasarnya buta gender, dan atas kecenderungan Marxis untuk menganggap opresi terhadap wanita jauh di bawah pentingnya opresi terhadap pekerja. Marxis mengasumsikan bahwa wanita menderita di tangan kaum borjuis.</p><p><br/></p><ol start="4"><li><p>Feminisme Postmodern</p><p>Feminisme postmodern pada dasarnya merujuk pada ide-ide postmodern serta konsep-konsep dari posstrukturalisme dan feminisme Perancis.&nbsp;Feminisme posmodern memahami stereotip gender sebagai konstruksi budaya patriarki yang dibentuk melalui bahasa. Untuk itu aliran pemikiran ini bertujuan melakukan dekonstruksi atas gender untuk membebaskan individu dalam mendefinisikan pemahaman mereka tentang apa artinya menjadi diri mereka sendiri.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 05:21:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355456913</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nabilamarsha338</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355507269</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Nabila Marsha Wulandari</p><p>Kelas: 2 B</p><p>NIM : 2221240081</p><p><br/></p><p>Pada pembelajaran hari ini membahas tentang, Teori feminisme (Liberal, Radikal,</p><p>Sosialisasi, Postmodern) Perspektif</p><p>gender dalam ilmu sosial</p><p>dan pendidikan, Penerapan Teori</p><p>Gender dalam jangkauan pendidikan</p><p>keluarga.</p><p><br/></p><p><strong>Pengertian Gender</strong></p><p>Gender merupakan perbedaan yang terlihat antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkahlaku. Gender berasal dari bahasa latin “GENUS”yang berarti jenis atau tipe. Gender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya.</p><p><br/></p><p><strong>Pengertian Feminisme</strong></p><p>Gerakan feminisme dapat diartikan sebagai kesadaran</p><p>terhadap adanya diskriminasi, ketidakadilan, dan subordinasi perempuan yang dilanjutkan dengan Upaya untuk mengubah keadaan tersebut menuju ke sebuah sistem masyarakat yang lebih adil.</p><p><br/></p><p><strong>Feminisme Liberal dan Radikal</strong></p><ul><li><p>Feminisme Liberal telah muncul pada abad ke-18 dan terus berkembang menjadi sebuah gerakan feminis yang penting hingga abad ke-20. Feminisme liberal berkembang berdasarkan perubahan visi dan konsep pemikiran gerakan feminis.</p></li><li><p>Feminisme Radikal berpusat pada aspek biologis. Mereka berpendapat bahwa ketidakadilan gender disebabkan dari perbedaan biologis antara pria dan wanita itu sendiri.</p></li></ul><p><br/></p><p><strong>Feminisme Sosialis dan Postmodern</strong></p><ul><li><p>Feminisme Sosialis pada umumnya merupakan hasil ketidakpuasan feminis Marxis atas sifat pemikiran Marxis yang pada dasarnya buta gender, dan atas kecenderungan Marxis untuk menganggap opresi terhadap wanita jauh di bawah pentingnya opresi terhadap pekerja.</p></li><li><p>Feminisme Postmodern pada dasarnya merujuk pada ide-ide postmodern serta konsep-konsep dari posstrukturalisme dan feminisme Perancis. Feminisme posmodern memahami stereotip gender sebagai konstruksi budaya patriarki yang dibentuk melalui bahasa.</p></li></ul><p><br/></p><p><strong>Doktrin ketidasetaraan antara Laki-laki dan</strong></p><p><strong>Perempuan.</strong></p><ol><li><p>Marginalisasi terhadap perempuan.</p></li><li><p>Steorotip masyarakat terhadap perempuan</p></li><li><p>Subordinasi terhadap perempuan</p></li><li><p>Beban ganda terhadap perempuan</p></li><li><p>Kekerasan terhadap perempuan</p></li></ol><p><br/></p><p><strong>Faktor-faktor yang menyebabkan masih adanya ketimpangan gender dalam akses dankesempatan pendidikan</strong></p><ul><li><p>Kondisi sosial-ekonomi keluarga</p></li><li><p>Nilai-nilai budaya dan tradisi yang berlaku</p></li><li><p>Kebijakan pemerintah tentang pendidikan, dan ekspektasi sosial mengenai peran gender</p></li><li><p>Lemahnya kesetaraan gender</p></li><li><p>Sistem struktur sekolah kurang memberikan kesempatan bagi perempuan</p></li><li><p>Sistem struktur sekolah kurang memberikan kesempatan bagi perempuan</p></li><li><p>Manajemen rumah tangga belum seimbang</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 06:07:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355507269</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355566286</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Thafia Yandrianingsih </p><p>Nim: 2221240067</p><p>Kelas: 2B</p><p><br/></p><p>Pada pertemuan hari ini membahas tentang Teori Feminisme (Liberal, Radikal, Sosialisasi, Postmodern) Perspektif Gender Dalam Ilmu Sosial</p><p>dan Pendidikan, Penerapan Teori Gender Dalam Jangkauan Pendidikan Keluarga. </p><p><br/></p><p>Gender merupakan perbedaan yang terlihat antara lakilaki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Gender berasal dari bahasa latin “GENUS” yang berarti jenis atau tipe. Gender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya. </p><p>• Pengertian Feminisme</p><p>Gerakan feminisme dapat diartikan sebagai kesadaran terhadap adanya diskriminasi, ketidakadilan, dan subordinasi perempuan yang dilanjutkan dengan Upaya untuk mengubah keadaan tersebut menuju ke sebuah sistem masyarakat yang lebih adil.</p><p>• Feminisme Liberal dan Radikal </p><p>&gt; Feminisme Liberal telah muncul pada abad ke- 18 dan terus berkembang menjadi sebuah</p><p>gerakan feminis yang penting hingga abad ke- 20. Feminisme liberal berkembang berdasarkan</p><p>perubahan visi dan konsep pemikiran gerakan</p><p>feminis</p><p>&gt; Feminisme Radikal berpusat pada aspek biologis.</p><p>Mereka berpendapat bahwa ketidakadilan gender disebabkan dari perbedaan biologis antara pria dan wanita itu sendiri.</p><p>• Feminisme Sosialis dan Postmodern</p><p>&gt; Feminisme Sosialis pada umumnya merupakan hasil ketidakpuasan feminis Marxis atas sifat pemikiran Marxis yang pada dasarnya buta gender, dan atas kecenderungan Marxis untuk menganggap opresi terhadap wanita jauh di bawah</p><p>pentingnya opresi terhadap pekerja.</p><p>&gt; Feminisme Postmodern pada dasarnya merujuk pada ide-ide postmodern serta konsep-konsep dari posstrukturalisme dan feminisme Perancis. Feminisme posmodern memahami stereotip gender sebagai konstruksi budaya patriarki yang dibentuk melalui bahasa. </p><p>• Faktor-faktor yang menyebabkan masih adanya</p><p>ketimpangan gender dalam akses dan</p><p>kesempatan pendidikan</p><p>- kondisi sosial</p><p>- ekonomi keluarga</p><p>- nilai-nilai budaya dan tradisi yang berlaku</p><p>- kebijakan pemerintah tentang pendidikan, dan ekspektasi sosial mengenai peran gender</p><p>- Lemahnya kesetaraan gender</p><p>- Sistem struktur sekolah kurang memberikan kesempatan bagi perempuan</p><p>- Manajemen r</p><p>umah tangga belum seimbang</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 07:05:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355566286</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>andiniserang4</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355581248</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Andini</p><p>Kelas : 2B</p><p>Nim: 2221240007</p><p><br/></p><p>pada refleksi ini kelompok 1 membahas tentang Teori Feminisme (Liberal, Radikal, </p><p>Sosialisasi, Postmodern) Perspektif </p><p>Gender Dalam Ilmu Sosial </p><p>dan Pendidikan, Penerapan Teori Gender Dalam Jangkauan Pendidikan Keluarga</p><p><br/></p><p>Pengertian Feminisme dapat di artikan sebagai kesadaran terhadap adanya diskriminasi, ketidakadilan, dan subordinasi perempuan yang dilanjutkan dengan upaya untuk mengubah keadaan menuju ke sebuah sistem masyarakat yang adil.</p><p> </p><p>• Feminisme Liberal dan Radikal</p><p> Feminisme Liberal lebih berkembang berdasarkan perubahan visi dan konsep pemikiran gerakan yang feminis. Sedangkan Feminisme Radikal berpusat kepada biologis mereka berpendapat bahwa ketidakadilan gender di sebabkan dari perbedaan biologis antara pria dan wanita</p><p><br/></p><p>• Feminisme Sosialis dan Postmodern</p><p>feminisme sosialis pada umumnya merupakan hasil ketidakpuasan feminis Markis untuk menganggap oprasi terhadap wanita jauh di bawah pentingnya operasi terhadap pekerja. Sedangkan Feminisme Postmodern memahami stereotip </p><p>gender sebagai kontruksi budaya patriarki yang di bentuk melalui bahasa.</p><p><br/></p><p> Doktrin Ketidaksetaraan Antara Laki-Laki dan Perempuan </p><p>1. Marginalisasi Terhadap Perempuan</p><p>2. Stereotip masyarakat terhadap perempuan </p><p>3. Subordinasi terhadap perempuan </p><p>4. Beban ganda terhadap perempuan </p><p>5. Kekerasan terhadap perempuan</p><p><br/></p><p>Pengaruh kontruksi budaya terhadap perbedaan gender dalam pendidikan persekolahan yaitu</p><p>budaya sering kali menciptakan </p><p>harapan dan norma-norma sosial terkait dengan apa yang dianggap sesuai untuk laki-laki dan perempuan. Stereotip Gender: Stereotip yang terbentuk dalam masyarakat bisa menciptakan pembatasan dalam pilihan dan prestasi siswa</p><p><br/></p><p>Peran keluarga dalam membentuk pola pikir anak yang responsif terhadap kesetaraan gender:</p><p>Orang tua bertanggung jawab dalam pendidikan di dalam keluarga orang tua menekankan pentingnya kesetaraan dan keadilan antara laki-laki dan perempuan mengajarkan bahwa semua anggota keluarga memiliki hak dan kewajiban yang setara membantu.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 07:19:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355581248</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>fashaputri2004</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355593438</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Fashadyana Putri Nugraha</p><p>NIM: 2221240082</p><p>Kelas: 2B</p><p><br/></p><p>Hari ini kita mempelajari teori gender dan feminisme, gender adalah peran dan aturan yang ditetapkan masyarakat untuk laki-laki dan perempuan, termasuk cara berperilaku, berpakaian, dan berinteraksi. Pandangan ini bisa berubah seiring waktu dan budaya. Sedangkan feminisme adalah gerakan yang memperjuangkan kesetaraan hak dan kesempatan bagi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pendidikan, pekerjaan, dan politik. Feminisme terbagi menjadi empat, yaitu feminisme liberal, radikal, sosialis dan postmodern.</p><p><br/></p><p>Pandangan masyarakat Indonesia terhadap peran gender dalam pendidikan telah mengalami perubahan. Dulu, laki-laki lebih diutamakan untuk pendidikan tinggi, sementara perempuan sering diarahkan ke peran domestik. Namun, kini kesadaran akan kesetaraan gender semakin meningkat, dan perempuan didorong untuk mendapatkan pendidikan yang setara. Meski begitu, masih ada stereotip dalam pemilihan jurusan atau profesi. Upaya terus dilakukan agar semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan.</p><p><br/></p><p>Ketimpangan gender dalam pendidikan disebabkan oleh beberapa faktor, seperti norma budaya yang membatasi peran perempuan, keterbatasan ekonomi yang membuat pendidikan laki-laki lebih diprioritaskan, serta akses dan fasilitas sekolah yang belum merata. Selain itu, pernikahan dini sering membuat perempuan putus sekolah, dan stereotip terhadap jurusan tertentu menghambat pilihan karier mereka. Kurangnya kebijakan yang mendukung juga menjadi tantangan dalam mewujudkan kesetaraan pendidikan bagi semua gender.</p><p><br/></p><p>Untuk mewujudkan kesetaraan gender dalam pendidikan, perlu dilakukan edukasi masyarakat, menyediakan akses pendidikan yang setara, serta menerapkan kebijakan inklusif seperti beasiswa dan perlindungan dari pernikahan dini. Selain itu, menghapus stereotip gender dalam kurikulum, meningkatkan peran perempuan dalam pendidikan, dan menyediakan fasilitas yang ramah gender juga penting agar semua individu memiliki kesempatan belajar yang sama.</p><p><br/></p><p>Konstruksi budaya memengaruhi perbedaan gender dalam pendidikan, seperti anggapan bahwa laki-laki lebih diutamakan untuk pendidikan tinggi, sementara perempuan lebih diarahkan ke peran domestik. Stereotip juga membatasi pilihan jurusan, dengan laki-laki didorong ke bidang STEM dan perempuan ke bidang sosial. Namun, perubahan sosial mulai mendorong kesetaraan dalam akses pendidikan.</p><p><br/></p><p>Keluarga berperan penting dalam membentuk pola pikir anak yang responsif terhadap kesetaraan gender. Orang tua dapat memberikan pendidikan yang adil tanpa membedakan peran berdasarkan gender, seperti membagi tugas rumah secara setara antara anak laki-laki dan perempuan.</p><p>Selain itu, keluarga dapat mendukung anak dalam memilih pendidikan dan karier sesuai minatnya, tanpa terpengaruh stereotip gender. Dengan memberikan contoh dan nilai-nilai kesetaraan sejak dini, anak akan tumbuh dengan pola pikir yang lebih terbuka dan menghargai hak yang sama bagi semua individu.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 07:31:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355593438</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>hikmahtsy17</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355629771</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Hikmah Tussyahiroh </p><p>NIM   : 2221240051</p><p>Kelas : 2 B </p><p><br/></p><p><br/></p><blockquote><p><strong>Review Materi 1 : "Teori Feminisme dan Perspektif Gender dalam Ilmu Sosial dan Pendidikan" </strong></p><p><br/></p></blockquote><p> <strong><mark>Teori Feminisme dan Perspektif Gender</mark></strong></p><p> Teori feminisme menjadi beberapa aliran utama: Liberal, Radikal, Sosialis, dan Postmodern, menjelaskan masing-masing dengan jelas. Penjelasan ini memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana setiap aliran memandang isu-isu gender dan peran perempuan dalam masyarakat.</p><p><br/></p><p> <strong><mark>Pengertian Gender dan Feminisme</mark></strong></p><p>Gender sebagai perbedaan nilai dan perilaku antara laki-laki dan perempuan, yang terbentuk secara sosial dan budaya. Penjelasan ini penting untuk memahami konteks di mana diskriminasi dan ketidakadilan gender terjadi. Selain itu, penjelasan mengenai feminisme sebagai gerakan kesadaran terhadap diskriminasi perempuan memberikan landasan yang kuat bagi pembaca untuk memahami tujuan dari berbagai teori yang dibahas.</p><p><br/></p><p><strong><mark>Analisis Teori Feminisme</mark></strong></p><p>Pembahasan mengenai feminisme Liberal dan Radikal memperlihatkan evolusi pemikiran feminis dari abad ke-18 hingga ke-20. Sementara itu, feminisme Sosialis dan Postmodern menyoroti masalah ketidakpuasan terhadap pendekatan Marxis dan memahami stereotip gender sebagai konstruksi budaya. Penjelasan ini menambah dimensi penting dalam memahami kompleksitas isu gender.</p><p><br/></p><p> <strong><mark>Pandangan Masyarakat Terhadap Gender</mark></strong></p><p> Penekanan pada pendidikan sebagai sarana untuk mencapai kesetaraan gender sangat relevan. Penulis mengidentifikasi berbagai faktor yang menyebabkan ketimpangan gender dan memberikan analisis yang mendalam terhadap marginalisasi, stereotip, subordinasi, dan kekerasan terhadap perempuan.</p><p><br/></p><p><strong><mark>Strategi untuk Kesetaraan Gender</mark></strong></p><p>Bagian terakhir menyajikan strategi untuk mewujudkan kesetaraan gender dalam pendidikan. Menekankan pentingnya partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat dan peran keluarga dalam membentuk pola pikir anak mengenai kesetaraan gender. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan harus dimulai dari lingkungan terdekat sebelum meluas ke masyarakat.</p><p><br/></p><p> <strong><mark>Kesimpulan</mark></strong></p><p>Secara keseluruhan, presentasi ini memberikan wawasan yang berharga mengenai teori feminisme dan aplikasinya dalam konteks sosial dan pendidikan. Perjuangan untuk kesetaraan gender masih perlu dilanjutkan, dan dokumen ini menjadi sumber yang penting untuk memahami tantangan dan langkah-langkah yang perlu diambil.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 08:07:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355629771</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rosanataliatarigan02</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355896997</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Rosa natalia tarigan</p><p>Nim     : 2221240068</p><p>Kelas   : 2B</p><p><br/></p><p>Pada hari ini kita membahas tentang teori feminisme (Liberal, Radikal, Sosialisasi, Postmodern) Perspektif Gender Dalam Ilmu Sosial dan Pendidikan, Penerapan Teori Gender Dalam Jangkauan Pendidikan Keluarga</p><p><br/></p><p><strong>Gender</strong> merupakan perbedaan yang terlihat antara laki laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Gender berasal dari bahasa latin “GENUS” yang berarti jenis atau tipe. Gender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya</p><p><br/></p><p><strong>Gerakan feminisme</strong> dapat diartikan sebagai kesadaran terhadap adanya diskriminasi, ketidakadilan, dan subordinasi perempuan yang dilanjutkan dengan Upaya untuk mengubah keadaan tersebut menuju ke sebuah sistem masyarakat yang lebih adil. </p><p><br/></p><p><strong>Feminisme Liberal dan Radikal</strong></p><ol><li><p>Feminisme Liberal telah muncul pada abad ke 18 dan terus berkembang menjadi sebuah gerakan feminis yang penting hingga abad ke 20. Feminisme liberal berkembang berdasarkan perubahan visi dan konsep pemikiran gerakan feminis</p></li><li><p>Feminisme Radikal berpusat pada aspek biologis. Mereka ketidakadilan berpendapat gender disebabkan bahwa dari perbedaan biologis antara pria dan wanita itu sendiri.</p><p><br/></p></li></ol><p><strong>Feminisme Sosialis dan Postmodern</strong></p><ol><li><p>Feminisme Sosialis pada umumnya merupakan hasil ketidakpuasan feminis Marxis atas sifat pemikiran Marxis yang pada dasarnya buta gender, dan atas kecenderungan Marxis untuk menganggap opresi terhadap wanita jauh di bawah pentingnya opresi terhadap pekerja.</p></li><li><p>Feminisme Postmodern pada dasarnya merujuk pada ide-ide postmodern serta konsep-konsep dari posstrukturalisme dan feminisme Perancis. Feminisme posmodern memahami stereotip gender sebagai konstruksi budaya patriarki yang dibentuk melalui bahasa.</p></li></ol><p><br/></p><p>Doktrin Ketidasetaraan Antara Laki-laki dan Perempuan</p><ol><li><p><strong>MARGINALISASI TERHADAP PEREMPUAN </strong></p><p>Marginalisasi berarti menempatkan atau mengeser perempuan kepinggiran</p></li><li><p><strong>STEOROTIP MASYARAKAT TERHADAP PEREMPUAN</strong></p><p> Pandangan stereotip masyarakat yakni pembakuan diskriminasi antara perempuan dan laki-laki.</p></li><li><p><strong>SUBORDINASI TERHADAP PEREMPUAN</strong></p><p><strong> </strong>Pandangan ini memposisikan perempuan dan karya karyanya lebih rendah dari laki-laki</p></li><li><p><strong>BEBAN GANDA TERHADAP PEREMPUAN</strong> </p><p>Pekerjaan yang diberikan kepada perempuan lebih lama mengerjakannya bila diberikan kepada laki laki</p></li><li><p><strong>KEKERASAAN TERHADAP PEREMPUAN</strong> </p><p>kekerasan terhadap perempuan dapat berupa kekerasan psikis seperti: pelecehan, permintaan hubungan seks ditempat umum, senda gurau yang melecehkan perempuan.</p></li></ol><p><br/></p><p><strong>Faktor-faktor yang menyebabkan masih adanya ketimpangan gender dalam akses dan kesempatan pendidikan</strong></p><ol><li><p>Kondisi sosial-ekonomi keluarga </p></li><li><p>Nilai-nilai budaya dan tradisi yang berlaku </p></li><li><p>Kebijakan pemerintah tentang pendidikan, dan ekspektasi sosial mengenai peran gender</p></li><li><p>Lemahnya kesetaraan gender </p></li><li><p>Sistem struktur sekolah kurang memberikan kesempatan bagi perempuan</p></li><li><p>Sistem struktur sekolah kurang memberikan kesempatan bagi perempuan</p></li><li><p>Manajemen rumah tangga belum seimbang</p></li></ol><p><br/></p><p><strong>Peran keluarga dalam membentuk pola pikir anak yang responsif terhadap kesetaraan gender</strong></p><p>Keluarga merupakan pijakan pertama dalam perkembangan kehidupan manusia perpustakaan melalui keluarga manusia mengenal berbagai pengetahuan dan dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki. tua merupakan pihak utama yang bertanggung jawab dalam pendidikan di dalam keluarga orang tua menekankan pentingnya kesetaraan dan keadilan antara laki-laki dan perempuan mengajarkan bahwa semua anggota keluarga memiliki hak dan kewajiban yang setara membantu</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 12:46:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355896997</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ica818572</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355906804</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Nurrohmatun Nisa</p><p>Kelas : 2B</p><p>Nim : 2221240094</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Gender merupakan perbedaan yang terlihat antara laki- laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Gender berasal dari bahasa latin “GENUS” yang berarti jenis atau tipe.</p><p>Pengertian feminisme, Gerakan feminisme dapat diartikan sebagai kesadaran terhadap adanya diskriminasi, ketidakadilan, dan subordinasi perempuan yang dilanjutkan dengan Upaya untuk mengubah keadaan tersebut menuju ke sebuah sistem masyarakat yang lebih adil.</p><p><br/></p><p>Feminisme di bagi menjadi empat yaitu :</p><p><br/></p><p>• Feminisme Liberal telah muncul pada abad ke- 18 dan terus berkembang menjadi sebuah gerakan feminis yang penting hingga abad ke- 20. </p><p>• Feminisme Radikal berpusat pada aspek biologis. Mereka berpendapat bahwa ketidakadilan gender disebabkan dari perbedaan biologis antara pria dan wanita itu sendiri.</p><p>• Feminisme Sosialis pada umumnya merupakan hasil ketidakpuasan feminis Marxis atas sifat pemikiran Marxis yang pada dasarnya buta gender, dan atas kecenderungan Marxis untuk menganggap opresi terhadap wanita jauh di bawah pentingnya opresi terhadap pekerja.</p><p>• Feminisme Postmodern pada dasarnya merujuk pada ide-ide postmodern serta konsep-konsep dari posstrukturalisme dan feminisme Perancis. Feminisme posmodern memahami stereotip gender sebagai konstruksi budaya patriarki yang dibentuk melalui bahasa.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 12:55:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355906804</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355979200</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Septi Ropih Yustitia</p><p>NIM : 2221240052</p><p>Kelas : 2B</p><p>Tugas : Refleksi Kelompok 1</p><p><br/></p><p>Dalam pertemuan ini kami membahas aspek teori feminisme dan perspektif gender dalam konteks ilmu sosial dan pendidikan. Secara umum, materi yang di sampaikan memberikan pemahaman yang komprehensif tentang bagaimana gender dipandang dalam masyarakat, terutama dalam konteks pendidikan. Di awali dengan definisi gender dan feminisme, menjelaskan bahwa gender bukan hanya terkait dengan perbedaan biologis, tetapi juga merupakan hasil konstruksi sosial dan budaya. Penjelasan tentang berbagai aliran feminisme, seperti liberal, radikal, sosialis, dan postmodern, memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana masing-masing pendekatan melihat isu-isu ketidakadilan gender. </p><p><br/></p><p>Selanjutnya, pembahasan ini juga memberi pandangan masyarakat Indonesia terhadap peran gender, serta tantangan yang dihadapi dalam mencapai kesetaraan gender dalam pendidikan. Penekanan pada pentingnya pendidikan sebagai sarana untuk menciptakan kesetaraan dan keadilan antara laki-laki dan perempuan sangat relevan, mengingat banyaknya stereotip dan norma sosial yang masih menghambat kemajuan di bidang ini. Pentingnya peran keluarga dalam membentuk pola pikir anak mengenai kesetaraan gender juga diangkat dalam dokumen ini. Keluarga sebagai unit sosial pertama memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak-anak tentang hak dan kewajiban yang setara antara laki-laki dan perempuan. Ini mencerminkan bahwa perubahan dalam masyarakat bisa dimulai dari lingkungan terkecil.</p><p><br/></p><p>Kesimpulan yang dapat diiambil menunjukkan bahwa perbedaan gender tidaklah bersifat kodrati, melainkan hasil dari proses sosial yang panjang. Meskipun ada kemajuan dalam pendidikan, perjuangan untuk kesetaraan gender masih perlu dilanjutkan. Dalam pembelajaran ini berhasil di sampaikan pesan penting, yaitu mengenai perlunya perhatian dan aksi untuk memastikan bahwa perempuan mendapatkan hak dan kesempatan yang setara dalam pendidikan dan kehidupan sosial.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 13:57:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355979200</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355982623</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Galang Rizky Pratama</p><p>Kelas : 2A</p><p>Nim : 2221240002</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Materi yang disajikan mengenai teori feminisme memberikan pemahaman komprehensif tentang perkembangan gerakan feminisme dari berbagai perspektif. Feminisme tidak hanya sekadar perjuangan untuk kesetaraan gender, tetapi juga sebuah kajian teoretis yang menelusuri bagaimana struktur sosial, budaya, dan ekonomi membentuk ketidakadilan berbasis gender.  </p><p>Salah satu poin refleksi utama dari materi ini adalah bahwa feminisme bukan gerakan yang monolitik, melainkan memiliki berbagai aliran yang masing-masing menawarkan pendekatan berbeda dalam memahami dan mengatasi ketidakadilan gender. <strong>Feminisme liberal</strong> menekankan reformasi hukum sebagai solusi, sementara <strong>feminisme radikal</strong> berusaha menghapus patriarki dari akarnya. <strong>Feminisme sosialis</strong> melihat keterkaitan erat antara kapitalisme dan penindasan perempuan, sedangkan <strong>feminisme postmodern</strong> menyoroti kompleksitas identitas gender dan menolak pendekatan universal dalam memahami pengalaman perempuan.  </p><p>Pemahaman terhadap teori feminisme ini penting karena berkontribusi dalam melihat ketimpangan sosial secara lebih luas. Misalnya, feminisme postmodern yang dikemukakan oleh Judith Butler dan bell hooks mengingatkan bahwa perjuangan kesetaraan tidak bisa hanya berfokus pada perempuan kelas menengah atau kelompok mayoritas, tetapi harus mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti ras, kelas sosial, dan orientasi seksual. Hal ini menunjukkan bahwa feminisme harus inklusif dan mampu menanggapi tantangan sosial yang terus berkembang.  </p><p>Dalam konteks kehidupan sehari-hari, refleksi terhadap materi ini dapat membantu kita lebih peka terhadap diskriminasi gender yang masih terjadi, baik dalam dunia pendidikan, pekerjaan, maupun lingkungan sosial. Pemikiran kritis dari feminisme juga dapat digunakan untuk menganalisis kebijakan publik, representasi perempuan dalam media, dan bagaimana norma-norma sosial mempengaruhi peluang serta hak perempuan.  </p><p>Secara keseluruhan, memahami teori feminisme bukan hanya tentang memperjuangkan hak perempuan, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih adil bagi semua gender. Materi ini menjadi landasan penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan perspektif kritis terhadap berbagai isu gender dan menerapkannya dalam berbagai aspek kehidupan.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 14:00:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355982623</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>lyfiaal</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355983003</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Amanda Azkha Alifia Londi</p><p>Kelas: 2B</p><p>NIM: 2221240040</p><p><br/></p><p>Kesetaraan gender adalah kondisi di mana laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi dan kemampuan mereka, serta memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dalam berbagai aspek kehidupan.</p><p><br/></p><p>Prinsip</p><p>Kesetaraan gender berdasarkan pada beberapa prinsip, yaitu:</p><p><br/></p><p>1. Kesempatan yang sama: Laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan, pekerjaan, dan sumber daya lainnya.</p><p>2. Hak yang sama: Laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama untuk mengambil keputusan dan berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan.</p><p>3. Tanggung jawab yang sama: Laki-laki dan perempuan memiliki tanggung jawab yang sama untuk mengambil peran dan tanggung jawab dalam berbagai aspek kehidupan.</p><p><br/></p><p>Tujuan</p><p>Kesetaraan gender memiliki beberapa tujuan, yaitu:</p><p><br/></p><p>1. Meningkatkan kesadaran: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesetaraan gender.</p><p>2. Mengurangi diskriminasi: Mengurangi diskriminasi terhadap perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan.</p><p>3. Meningkatkan partisipasi: Meningkatkan partisipasi perempuan dan laki-laki dalam proses pengambilan keputusan dan pembangunan.</p><p><br/></p><p>Manfaat</p><p>Kesetaraan gender memiliki beberapa manfaat, yaitu:</p><p><br/></p><p>1. Meningkatkan kualitas hidup: Meningkatkan kualitas hidup perempuan dan laki-laki.</p><p>2. Meningkatkan produktivitas: Meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam berbagai aspek kehidupan.</p><p>3. Meningkatkan keadilan: Meningkatkan keadilan dan kesetaraan dalam berbagai aspek kehidupan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 14:00:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3355983003</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>seviasalsabila0</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356003660</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama : Sevia Salsabila Azahra </strong></p><p><strong>Kelas : 2B (2221240024)</strong></p><p><br/></p><p>Pada pertemuan hari ini kita mempelajari materi tentang " Teori feminisme (liberal, radikal, sosialisasi, postmodern) prespektif gender dalam ilmu sosial dan pendidikan, penerapan teori gender dalam jangkauan pendidikan keluarga"</p><p>Teori feminisme memberikan beragam pandangan mengenai gender yang berdampak besar di bidang sosial dan pendidikan. Empat pendekatan utama – liberal, radikal, sosialis, dan postmodern – menyajikan analisis yang bervariasi terkait dengan ketidaksetaraan gender dan cara-cara untuk mengatasinya. Penerapan sudut pandang gender ini, khususnya dalam konteks pendidikan keluarga, memiliki dampak yang luas.</p><p><br/></p><p> Berikut Ringkasan Teori Feminisme dan Perspektif Gender:</p><p><strong>Feminisme Liberal: </strong>Memusatkan perhatian pada kesetaraan dalam kesempatan dan aksesibilitas bagi perempuan. Mereka mengklaim bahwa ketidaksetaraan gender disebabkan oleh hambatan-hambatan sosial dan hukum yang dapat dihilangkan lewat reformasi. Dalam bidang pendidikan, ini melibatkan mendorong partisipasi perempuan di pendidikan tinggi dan pekerjaan yang biasanya didominasi oleh laki-laki, serta menghapus berbagai bentuk diskriminasi dalam kurikulum dan kebijakan pendidikan. Dalam konteks pendidikan keluarga, pendekatan ini menyoroti pentingnya peran setara orang tua dalam pengasuhan anak dan pembagian tugas rumah tangga.</p><p><br/></p><p><strong>Feminisme Radikal: </strong>Menekankan dominasi patriarki sebagai penyebab utama ketidaksetaraan gender. Mereka berargumentasi bahwa sistem sosial dirancang untuk menindas perempuan dan perubahan fundamental diperlukan untuk mencapai kesetaraan. Dalam pendidikan, ini berarti menantang struktur kekuasaan yang ada dan meningkatkan kewaspadaan terhadap patriarki. Dalam pendidikan keluarga, fokusnya adalah mendekonstruksi peran gender tradisional serta menciptakan hubungan yang lebih setara antara orang tua dan anak.</p><p><br/></p><p><strong>Feminisme Sosialis: </strong>Menggabungkan analisis feminisme radikal dengan perspektif kelas sosial. Mereka berpendapat bahwa ketidaksetaraan gender sangat berkaitan dengan ketidaksetaraan ekonomi dan sistem kapitalisme. Dalam pendidikan, ini menyoroti interaksi antara kelas sosial dan gender yang membentuk pengalaman pendidikan perempuan. Dalam pendidikan keluarga, pendekatan ini menekankan akses yang adil terhadap sumber daya ekonomi bagi perempuan dan keluarga, serta pengakuan atas beban ganda yang dihadapi perempuan antara pekerjaan dan tugas rumah tangga.</p><p><br/></p><p><strong>Feminisme Postmodern:</strong> Menekankan keberagaman pengalaman perempuan dan menolak gagasan tentang identitas perempuan yang tunggal dan universal. Mereka mempertanyakan konstruksi sosial mengenai gender serta menegaskan pentingnya membongkar narasi dominan. Dalam pendidikan, ini mencakup mempromosikan pluralisme dan inklusivitas, serta menantang representasi gender yang bias dalam kurikulum. Dalam pendidikan keluarga, pendekatan ini menyoroti pentingnya menghargai keragaman dalam keluarga dan menghindari generalisasi terkait peran gender.</p><p><br/></p><p><strong>Penerapan Perspektif Gender dalam Pendidikan Keluarga:</strong></p><p>Penerapan sudut pandang gender dalam pendidikan keluarga bertujuan untuk membangun lingkungan yang lebih adil dan setara bagi semua anak. Ini mencakup:</p><p>Menantang peran gender yang konvensional: Mendorong anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, untuk mengeksplorasi beragam minat dan bakat tanpa batasan gender.</p><p>Membagi tanggung jawab rumah tangga secara adil: Mengajarkan anak-anak mengenai pentingnya kolaborasi dan divisi tugas di dalam rumah.</p><p>Mendorong komunikasi yang terbuka dan setara: Menciptakan suasana di mana anak-anak merasa bebas untuk menyampaikan perasaan dan pandangan mereka.</p><p>Mengajarkan kesetaraan gender kepada anak-anak: Memberikan pendidikan tentang hak-hak perempuan serta pentingnya melawan diskriminasi gender.</p><p><br/></p><p>Sebagai kesimpulan, teori feminisme menyediakan suatu kerangka kerja yang bernilai untuk memahami serta mengatasi ketidaksetaraan gender dalam konteks pendidikan dan keluarga. Penerapan perspektif gender dalam pendidikan keluarga menjadi sangat penting untuk menciptakan generasi yang lebih adil dan setara. Penting untuk diperhatikan bahwa keempat pendekatan feminisme ini saling melengkapi dan menyuguhkan pandangan yang berbeda namun saling terkait dalam memahami kompleksitas gender.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 14:11:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356003660</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>daffaid27</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356015312</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Muhammad Miftahuddin</p><p>Kelas : 2B</p><p>NIM : 2221240014</p><p><br/></p><p>Kesetaraan gender merujuk pada kondisi di mana individu, tanpa memandang jenis kelamin, memiliki hak, tanggung jawab, dan peluang yang sama. Konsep ini meliputi berbagai aspek kehidupan, termasuk sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Berikut adalah rangkuman lengkap mengenai kesetaraan gender:</p><p><br/></p><p>1. Kesetaraan gender adalah prinsip yang menekankan bahwa semua orang harus diperlakukan sama, terlepas dari jenis kelamin mereka. Ini berarti memberikan akses yang setara kepada perempuan dan laki-laki dalam segala hal, termasuk pendidikan, pekerjaan, dan layanan kesehatan.</p><p><br/></p><p> 2. Pentingnya Kesetaraan Gender</p><p><br/></p><p>- Pengembangan Ekonomi: Kesetaraan gender dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Memperdayakan perempuan dalam dunia kerja meningkatkan produktivitas dan inovasi.</p><p><br/></p><p>- Kesehatan dan Pendidikan: Perempuan yang berpendidikan cenderung memiliki anak yang lebih sehat dan berpendidikan, yang berdampak positif bagi generasi mendatang.</p><p><br/></p><p>- Stabilitas Sosial: Kesetaraan gender berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas dalam masyarakat.</p><p><br/></p><p> 3. Tantangan dalam Mencapai Kesetaraan Gender</p><p><br/></p><p>- Stereotip Gender: Perilaku dan norma yang mengakar dalam masyarakat dapat membatasi peran perempuan dan laki-laki.</p><p>- Kekerasan Berbasis Gender: Perempuan sering menjadi korban kekerasan dalam berbagai bentuk, baik fisik, seksual, maupun psikologis.</p><p>- Akses Terbatas: Perempuan di banyak negara masih menghadapi hambatan dalam mengakses pendidikan, layanan kesehatan, dan kesempatan kerja.</p><p><br/></p><p> 4. Upaya Mewujudkan Kesetaraan Gender</p><p><br/></p><p>- Kebijakan Publik: Pemerintah perlu merumuskan dan menerapkan kebijakan yang mendukung kesetaraan gender, seperti cuti melahirkan dan perlindungan hukum bagi korban kekerasan.</p><p>- Edukasi dan Kesadaran: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesetaraan gender melalui pendidikan dan kampanye publik.</p><p>- Partisipasi Perempuan: Mendorong partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan di berbagai sektor, termasuk politik dan bisnis.</p><p><br/></p><p> 5. Kesetaraan Gender di Berbagai Negara</p><p><br/></p><p>- Negara Berkembang: Banyak tantangan yang dihadapi, seperti kemiskinan dan tradisi yang menghambat kesetaraan.</p><p>- Negara Maju: Meskipun telah mencapai kemajuan, masih terdapat kesenjangan, terutama di bidang upah dan representasi politik.</p><p><br/></p><p> 6. Kesimpulan</p><p><br/></p><p>Kesetaraan gender merupakan isu yang kompleks dan multidimensional. Mewujudkan kesetaraan gender bukan hanya tanggung jawab perempuan, tetapi juga laki-laki dan masyarakat secara keseluruhan. Dengan kerja sama dan komitmen dari semua pihak, kesetaraan gender dapat dicapai, memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 14:19:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356015312</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356035860</link>
         <description><![CDATA[<p>Muhammad Hilmi Arrazan_2221240066</p><p><br/></p><p>Yang saya dapat ambil dari materi yang sudh di jelaskan oleh kelompok 1 mengenai teoei fenimisme adalah secara etimologinya kata feminis berasal dari Bahasa latin femina yang diterjemahkan dalam bahasa inggris sebagai femine, artinya memiliki sifat-sifat sebagai perempuan, kemudian ditambah kata "isme"  yang dapat berarti paham. Oleh sebab itu, gerakan feminisme dapat diartikan sebagai kesadaran terhadap adanya diskriminasi, Feminisme Liberal</p><p>		Feminisme liberal telah muncul pada abad ke-18 dan terus berkembang menjadi sebuah gerakan feminis yang penting hingga abad ke-20. Feminisme liberal berkembang berdasarkan perubahan visi dan konsep pemikiran gerakan feminis. Pada abad ke-18, Feminisme radikal</p><p>		Feminisme radikal berpusat pada aspek biologis. Mereka berpendapat bahwa ketidakadilan gender disebabkan dari perbedaan biologis antara pria dan wanita itu sendiri.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 14:34:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356035860</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356059651</link>
         <description><![CDATA[<p>nama:muhammad anderson</p><p>kelas:2b</p><p>nim:2221240083</p><p>Pada pertemuan kali ini, kita mempelajari tentang berbagai teori feminisme (liberal, radikal, sosialis, dan postmodern) serta perspektif gender dalam ilmu sosial dan pendidikan, khususnya dalam penerapannya di pendidikan keluarga. Teori feminisme menawarkan pandangan yang beragam tentang gender, yang memiliki dampak signifikan dalam bidang sosial dan pendidikan. Keempat pendekatan utama ini – liberal, radikal, sosialis, dan postmodern – memberikan analisis yang berbeda mengenai ketidaksetaraan gender serta solusi untuk mengatasinya. Penerapan perspektif gender ini, terutama dalam konteks pendidikan keluarga, sangat berpengaruh.</p><p><strong>Ringkasan Teori Feminisme dan Perspektif Gender:</strong></p><ul><li><p><strong>Feminisme Liberal</strong>: Fokus pada kesetaraan kesempatan dan akses bagi perempuan. Menurut mereka, ketidaksetaraan gender muncul akibat hambatan sosial dan hukum yang bisa diubah melalui reformasi. Dalam pendidikan, ini termasuk mendorong perempuan untuk berpartisipasi lebih banyak dalam pendidikan tinggi dan pekerjaan yang biasanya didominasi laki-laki, serta menghilangkan diskriminasi dalam kurikulum dan kebijakan pendidikan. Dalam pendidikan keluarga, pendekatan ini menekankan peran setara orang tua dalam mengasuh anak dan membagi tugas rumah tangga.</p></li><li><p><strong>Feminisme Radikal</strong>: Menyatakan bahwa dominasi patriarki adalah akar masalah ketidaksetaraan gender. Mereka berpendapat bahwa sistem sosial dibuat untuk menindas perempuan dan perubahan besar diperlukan untuk mencapainya. Dalam pendidikan, ini berarti menantang struktur kekuasaan yang ada dan meningkatkan kesadaran terhadap patriarki. Dalam pendidikan keluarga, fokusnya adalah untuk menghapus peran gender tradisional dan menciptakan hubungan yang lebih setara antara orang tua dan anak.</p></li><li><p><strong>Feminisme Sosialis</strong>: Menggabungkan analisis feminisme radikal dengan perspektif kelas sosial, menganggap bahwa ketidaksetaraan gender berkaitan erat dengan ketidaksetaraan ekonomi dan sistem kapitalisme. Dalam pendidikan, pendekatan ini menyoroti hubungan antara kelas sosial dan gender yang memengaruhi pengalaman perempuan dalam pendidikan. Dalam pendidikan keluarga, ini menekankan pentingnya akses yang setara terhadap sumber daya ekonomi bagi perempuan dan keluarga, serta pengakuan terhadap beban ganda perempuan antara pekerjaan dan tugas rumah tangga.</p></li><li><p><strong>Feminisme Postmodern</strong>: Menekankan keberagaman pengalaman perempuan dan menolak gagasan tentang identitas perempuan yang tunggal dan universal. Mereka mempertanyakan konstruksi sosial tentang gender dan menekankan pentingnya membongkar narasi dominan. Dalam pendidikan, ini berarti mempromosikan pluralisme dan inklusivitas, serta menantang representasi gender yang bias dalam kurikulum. Dalam pendidikan keluarga, pendekatan ini mendorong untuk menghargai keragaman dalam keluarga dan menghindari generalisasi mengenai peran gender.</p></li></ul><p><strong>Penerapan Perspektif Gender dalam Pendidikan Keluarga:</strong> Penerapan perspektif gender dalam pendidikan keluarga bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang lebih adil dan setara bagi semua anak, antara lain dengan:</p><ul><li><p>Menantang peran gender tradisional: Mendorong anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, untuk mengeksplorasi berbagai minat dan bakat tanpa batasan gender.</p></li><li><p>Membagi tanggung jawab rumah tangga secara adil: Mengajarkan anak-anak tentang pentingnya kerjasama dan pembagian tugas di rumah.</p></li><li><p>Mendorong komunikasi yang terbuka dan setara: Menciptakan suasana di mana anak-anak bebas untuk menyampaikan perasaan dan pendapat mereka.</p></li><li><p>Mengajarkan kesetaraan gender: Memberikan pendidikan tentang hak-hak perempuan dan pentingnya melawan diskriminasi gender.</p></li></ul><p>Sebagai kesimpulan, teori feminisme memberikan kerangka yang berguna untuk memahami dan mengatasi ketidaksetaraan gender dalam konteks pendidikan dan keluarga. Penerapan perspektif gender dalam pendidikan keluarga sangat penting untuk membentuk generasi yang lebih adil dan setara. Keempat pendekatan feminisme ini saling melengkapi, memberikan pandangan yang berbeda namun saling terkait dalam memahami kompleksitas gender.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 14:52:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356059651</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356077109</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Nazma Kamila R</p><p>Kelas: 2A</p><p>Nim: 2221240061</p><p>presentasi hari ini membahas tentang feminisme yaitu gerakan sosial dan teori yang bertujuan memperjuangkan kesetaraan hak antara pria dan wanita. Feminisme memiliki sejarah panjang yang terbagi dalam 3 gelombang utama. Gelombang 1 (abad ke 19- awal abad ke 20) berfokus pada hak suara dan kesetaraan hukum. Gelombang 2 (1960-1980) menyoroti hak reproduksi, akses pendidikan, dan kesetaraan dalam pekerjaan. Sementara itu, gelombang 3 (1990- sekarang) lebih menekankan keberagaman identitas perempuan dan isu-isu global.</p><p>Ada beberapa teori feminisme yang disampaikan yaitu:</p><p>1.Feminisme Liberal: berfokus pada reformasi hukum untuk menciptakan, kesetaraan gender. </p><p>2.Feminisme Radikal yang menganggap patriarki sebagai akar penindasan perempuan.</p><p>3.Feminisme Sosialis: menghubungkan penindasan perempuan dengan kapitalisme dan patriarki.</p><p>4.Feminisme Postmodern: yang menekankan keragaman identitas gender sambil mengkritik pandangan universal tentang perempuan.</p><p>Setiap aliran memiliki tokoh penting, seperti Betty Friedan, Catharine MacKinnon, Alexandra Kollontai, dan Judith Butler, yang memberikan kontribusi besar dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Kesimpulannya, feminisme adalah gerakan yang terus berkembang untuk menciptakan dunia yang lebih adil bagi semua gender.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 15:06:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356077109</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nabilahfauziah2</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356189605</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Nabila Fauziah</p><p>Nim: 2221240020</p><p>kelas: 2A</p><p>Dipertemuan kali ini saya jadi tau apa itu Teori feminisme jadi teori feminisme adalah Gerakan sosial dan teori yang memperjuangkan kesetaraan hak antara pria dan wanita. Yang bertujuan untuk </p><p>Menghapus diskriminasi gender dan memberikan kebebasan serta kesetaraan bagi perempuan.</p><p>•Feminisme Liberal yaitu di sebut dengan kesetaraan gender yang melalui reformasi hukum dan kebijakan tanpa mengubah struktur sosial yang mendasarinya. Menekankan hak individu dan akses yang setara dalam pendidikan, pekerjaan, serta politik. Salah satu tokohnya adalah John Stuart Mill, seorang Filosof yang mendukung kesetaraan hak perempuan dalam bukunya The Subjection of Women (1869).</p><p>•Feminiame Radikal Menganggap patriarki sebagai akar utama penindasan perempuan dan berusaha menghapus struktur kekuasaan yang mendukung dominasi laki-laki, sering kali dengan perubahan sosial yang lebih mendalam. Salah satu tokohnya adalah Catharine MacKinnon – Mengembangkan teori hukum tentang pelecehan seksual sebagai bentuk dominasi patriarki.</p><p>• Feminisme Sosialis yaitu teori yang menghubungkan penindasan perempuan dengan sistem kapitalisme dan patriarki, menekankan pentingnya perubahan ekonomi dan sosial untuk mencapai kesetaraan gender, Clara Zetkin Aktivis yang mengadvokasi hak pekerja perempuan dan mencetuskan Hari Perempuan Internasional. </p><p>•Feminisme Postmodern, Menolak pandangan universal tentang perempuan dan mengkritik gagasan bahwa ada satu pengalaman feminin yang sama, dengan menekankan keragaman, bahasa, dan konstruksi sosial identitas gender. Judith Butler yang mengembangkan teori tentang gender sebagai konstruksi sosial dalam Gender Trouble (1990). Dampaknya terlihat dalam meningkatnya kesadaran terhadap gender dan identitas, tetapi kelemahannya adalah terlalu teoretis dan kurang solusi  yanga</p><p>konkret.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 16:42:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356189605</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356189727</link>
         <description><![CDATA[<p>nama : Achmad Zulfan Maulana Piling</p><p>kelas : 2C</p><p>NIM : 2221240060</p><p><br/></p><p>Feminisme dan perspektif gender mengeksplorasi perlakuan terhadap pria dan wanita dalam masyarakat. Ada beberapa jenis feminisme, termasuk feminisme liberal yang mengutamakan kesetaraan melalui hukum, feminisme radikal yang mengamati ketidakadilan dari sudut biologis, feminisme sosialis yang mengaitkan gender dengan aspek ekonomi, serta feminisme postmodern yang lebih terbuka mengenai identitas gender. Dalam bidang pendidikan, perspektif gender berperan dalam menciptakan sistem pembelajaran yang adil, termasuk kurikulum yang tidak bias dan memberikan kesempatan yang sama untuk semua pelajar.</p><p>Di dalam keluarga, pentingnya pendidikan tentang gender bertujuan untuk mencegah stereotip, memberikan peluang yang setara bagi anak lakilaki dan perempuan, serta menanamkan nilainilai kesetaraan sejak dini. Jika prinsip ini dilaksanakan dengan baik, maka kesadaran akan kesetaraan gender akan meningkat, diskriminasi bisa menurun, dan generasi mendatang bisa lebih adil dalam memahami perbedaan gender.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 16:42:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356189727</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>maliardk21</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356190922</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Muhammad Ali Abdurrahman K.D</p><p>kelas: 2B</p><p>NIM: 221240055</p><p><br/></p><p>Pertemuan hari ini membahas tentang feminisme dan perspektif gender menurut ilmu sosial dan pendidikan. </p><p>Pembahasan ini memberikan pemahaman tentang feminisme dan gender dari banyak perspektif. Gerakan feminisme dapat diartikan sebagai kesadaran</p><p>terhadap adanya diskriminasi, ketidakadilan, dan</p><p>subordinasi perempuan yang dilanjutkan dengan Upaya</p><p>untuk mengubah keadaan tersebut menuju ke sebuah</p><p>sistem masyarakat yang lebih adil. </p><p>Feminisme dibagi menjadi 4:</p><ol><li><p>Feminisme radikal</p></li><li><p>Feminisme liberal</p></li><li><p>Feminisme sosialis</p></li><li><p>Feminisme postmodern</p></li></ol><p>Persepsi masyarakat Indonesia tentang peran gender dalam pendidikan telah berkembang. Laki-laki didahulukan untuk pendidikan tinggi, sementara perempuan sering diarahkan untuk pekerjaan rumah tangga. Namun, kesadaran akan kesetaraan gender semakin meningkat saat ini, dan perempuan sekarang didorong untuk mendapatkan akses pendidikan yang sama dengan pria. Meskipun demikian, ada stereotip tentang cara memilih jurusan atau profesi. Upaya terus dilakukan agar semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 16:43:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356190922</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356193785</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA:M.Royyan Putra Firdaus </p><p>KELAS:2B</p><p>NIM:2221240021</p><p><br/></p><p>Pada pembelajaran hari ini, saya tau tentang Teori feminisme dan perspektif gender dalam ilmu sosial serta pendidikan memberikan kerangka untuk memahami ketidaksetaraan gender.</p><p>Feminisme liberal berfokus pada kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan, terutama dalam bidang pendidikan, pekerjaan, dan politik. Teori ini menekankan bahwa diskriminasi gender berasal dari norma sosial dan hukum yang membatasi perempuan untuk berpartisipasi di ruang publik.</p><p>Feminisme radikal memandang penindasan perempuan sebagai akibat dari sistem patriarki yang mengakar, terutama dalam lingkup privat seperti tubuh dan seksualitas. Teori ini menyoroti isu-isu seperti kekerasan terhadap perempuan, hak reproduksi, dan dominasi laki-laki dalam masyarakat.</p><p>Feminisme sosialis menggabungkan analisis gender dengan analisis kelas sosial. Penindasan terhadap perempuan dianggap sebagai hasil dari kapitalisme yang memperkuat peran tradisional gender, seperti tugas domestik yang tidak dihargai secara ekonomi.</p><p>Feminisme postmodern berfokus pada dekonstruksi bahasa dan budaya yang membentuk stereotip gender. Teori ini menolak pandangan biner (laki-laki/perempuan) dan hierarki gender yang diciptakan oleh masyarakat patriarkal.</p><p>Penerapan Teori Gender dalam Pendidikan Keluarga.</p><p> Penghapusan Stereotip Gender: Orang tua dapat mengajarkan anak-anak bahwa peran domestik atau publik tidak terbatas pada jenis kelamin tertentu.</p><p> Model Peran Positif: Orang tua dapat menjadi teladan dengan menunjukkan hubungan yang setara antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga.</p><p>Pengenalan Literasi Gender: Melalui cerita, buku, atau film yang mendobrak stereotip gender, anak-anak diajarkan untuk menghormati keberagaman peran gender tanpa batasan tradisional. </p><p>Komunikasi Terbuka: Diskusi tentang kesetaraan gender dapat membantu anak-anak memahami isu-isu ketidakadilan gender dan mendorong mereka untuk bersikap inklusif.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 16:46:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356193785</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ariqsulthan06</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356194604</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Ariq Sulthan Darmawan </p><p>NIM : 2221240088</p><p>Kelas : 2C</p><p><br/></p><p>Feminisme dan sudut pandang gender meneliti bagaimana peran pria dan wanita terbentuk oleh budaya dan lingkungan sosial. Ada berbagai aliran dalam feminisme, termasuk feminisme liberal yang berfokus pada perubahan kebijakan, feminisme radikal yang menekankan aspek biologis, feminisme sosialis yang mengaitkan gender dengan ekonomi, serta feminisme postmodern yang mengakui variasi identitas gender. Dalam konteks pendidikan, sudut pandang gender berkontribusi pada pengembangan sistem belajar yang lebih adil melalui kurikulum yang peka gender, cara mengajar yang adil, dan akses pendidikan yang setara.</p><p>Dalam konteks pendidikan di rumah, penerapan konsep gender harus dimulai sejak awal. Hal ini dilakukan dengan menghindari stereotip, memberikan peluang yang sama untuk anakanak, dan menanamkan nilai keadilan. Hasil dari tindakan ini adalah meningkatnya pemahaman akan pentingnya kesetaraan gender, berkurangnya tindakan diskriminatif, serta lahirnya generasi yang lebih adil dalam pandangan tentang peran pria dan wanita dalam masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 16:47:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356194604</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>suciioktavia065</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356208293</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Suci Oktavia Ramadani </p><p>Kelas : 2A</p><p>Nim   : 2221240063</p><p><br/></p><p>Teori feminisme berkembang di benua eropa pada abad ke 19, teori feminisme sendiri adalah teori gerakan keseteraan gender dan hak-hak atas perempuan. Teori feminisme, mempunyai berbagai aliran feminisme diantarnya; </p><p>1. Feminisme Liberal, yang dimana Cewek dan cowok harus punya kesempatan yang sama entah itu di bidang manapun. </p><p>2. Feminisme Sosialis, bukan cuma soal cewek dan cowok. Masalahnya juga di uang dan kerjaan. Kalau sistem ekonominya adil, cewek juga bakal lebih dihargai. </p><p>3. Feminisme Radikal, masalahnya ada di aturan lama yang bikin cewek selalu kalah. Kita harus ubah semuanya dari akar, biar cewek nggak ditindas lagi.</p><p>4. Feminisme Postmodern, nggak ada satu cara buat jadi cewek. Setiap orang punya cerita dan cara sendiri. Kita harus dengerin semua suara, biar nggak ada yang merasa kecil.</p><p><br/></p><p>Lalu ada pula kapitalisme sebagai sistem ekonomi yang berfokus pada keuntungan dan akumulasi modal sering kali menciptakan kondisi kerja yang eksploitatif dan diskriminatif, termasuk terhadap perempuan. Dalam konteks perburuhan, perempuan seringkali dikucilkan atau mengalami diskriminasi baik dalam akses pekerjaan, kesempatan promosi, hingga perlindungan kerja. Misalnya, regulasi terkait izin kerja untuk perempuan, seperti cuti hamil atau perlindungan terhadap pelecehan seksual di tempat kerja, sering kali dijadikan alasan oleh perusahaan untuk tidak mempekerjakan atau membatasi peran perempuan dalam pekerjaan tertentu.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 16:59:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356208293</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rahmaauliya040806</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356215287</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Rahma Aulia</p><p>Kelas : 2A</p><p>Nim : 2221240092</p><p><br/></p><p>Di Pertemuan kali, kelompok 1 memaparkan tentang Teori Feminisme.</p><p>yang dimana sebuah gerakan sosial dan ideologi yang memperjuangkan kesetaraan hak dan keadilan bagi perempuan, menuntut pengakuan terhadap ketidakadilan gender yang ada dalam masyarakat. Secara umum, feminisme bertujuan untuk mengubah struktur sosial yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat dibandingkan laki-laki.</p><p>Feminisme memiliki beberapa aliran utama, antara lain:</p><p><br/></p><ul><li><p>Feminisme Liberal: Menekankan pada kesetaraan hak melalui reformasi hukum dan politik, serta kebebasan individu bagi perempuan.</p></li><li><p>Feminisme Radikal: Menganggap patriarki sebagai sistem penindasan utama dan menyerukan perubahan mendasar dalam struktur sosial.</p></li><li><p>Sosial: Menggabungkan analisis kelas dengan isu gender, berfokus pada bagaimana keduanya saling mempengaruhi dalam konteks penindasan.</p></li></ul><p><br/></p><p>Feminisme telah berkembang melalui beberapa gelombang sejak abad ke-19, dimulai dengan gerakan awal yang berfokus pada hak suara dan pendidikan, hingga munculnya berbagai aliran feminis di abad ke-20 yang memperluas cakupan perjuangan untuk mencakup isu-isu seperti kekerasan berbasis gender dan representasi dalam media</p><p>Dengan demikian, feminisme bukan hanya sekadar teori, tetapi juga merupakan gerakan aktif yang berupaya menciptakan perubahan sosial demi keadilan gender.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 17:05:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356215287</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356231335</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Natasha Kayla </p><p>Nim : 2221240032</p><p>Kelas : 2A</p><p>Teori feminisme dan perspektif gender sosial menjelaskan bahwa ketidakadilan gender bukan sekadar isu biologis, tetapi juga merupakan produk dari konstruksi sosial yang menentukan peran pria dan wanita dalam masyarakat.Teori feminisme menekankan berbagai macam bentuk penindasan yang dialami perempuan dan memberikan solusi melalui berbagai pendekatan, seperti perubahan hukum (feminisme liberal), penghilangan patriarki (feminisme radikal), analisis terhadap kapitalisme (feminisme Marxis/Sosialis), serta pengakuan akan ragam pengalaman perempuan (feminisme postmodern dan interseksional Sementara itu, pandangan gender sosial menerangkan bahwa norma dan budaya membentuk cara masyarakat memahami gender. Konsep seperti peran gender, maskulinitas hegemonik, dan interseksionalitas menunjukkan bahwa pengalaman gender dipengaruhi oleh faktor lain seperti etnis, kelas sosial, dan orientasi seksual.Kesadaran terhadap teori feminisme dan sudut pandang gender sosial sangat krusial untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara. Hal ini mengakibatkan perubahan kebijakan, sikap sosial, dan budaya yang lebih ramah bagi semua individu, tanpa memandang identitas gender mereka</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 17:20:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356231335</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rafifnarda10</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356234019</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama:Nadya Rizqia Khairina</p><p>Kelas:2A</p><p>NIM:2221240076</p><p>Materi yang sudah di sampaikan Jumat,8 Maret 2025 mengenai <mark>Teori Feminisme</mark> yaitu=&gt;Gerakan sosial yang memperjuangkan kesetaraan hak antara pria dan wanita.</p><p><mark>Tujuannya</mark> adalah menghapus diskriminasi gender dan memberikan kebebasan serta kesetaraan bagi perempuan.</p><p>👩🏻‍🦱<em>Gelombang Feminisme:</em></p><p>⏳Gelombang Pertama (Abad ke-19 hingga awal abad ke-20): Fokus pada hak suara dan kesetaraan hukum.</p><p>⏳Gelombang Kedua (1960-an hingga 1980-an): Menekankan hak reproduksi, akses pendidikan, dan kesetaraan dalam pekerjaan.</p><p>⏳Gelombang Ketiga (1990-an hingga sekarang): Memperhatikan keberagaman identitas perempuan dan isu-isu global.</p><p>⚜Jenis-jenis Teori Feminisme=</p><p>🔆Feminisme Liberal=</p><p>Berfokus pada kesetaraan gender melalui reformasi hukum.</p><p>Tokoh penting: Betty Friedan dan John Stuart Mill. Dampak, Mendorong hak suara dan kesetaraan pendidikan.</p><p>🔆Feminisme Radikal=</p><p>Menganggap patriarki sebagai penyebab utama penindasan perempuan.</p><p>Tokoh penting: Catharine MacKinnon dan Shulamith Firestone.</p><p>Dampak: Meningkatkan kesadaran tentang kekerasan berbasis gender.</p><p>🔆Feminisme Sosialis=</p><p>Menghubungkan penindasan perempuan dengan kapitalisme.</p><p>Tokoh penting: Alexandra Kollontai dan Clara Zetkin.</p><p>Dampak: Menekankan perubahan sosial untuk membebaskan perempuan.</p><p>🔆Feminisme Postmodern=</p><p>Menolak pandangan universal tentang perempuan dan menekankan keragaman.</p><p>Tokoh penting: Judith Butler dan bell hooks.</p><p>Dampak: Meningkatkan kesadaran tentang identitas gender, meskipun kurang solusi konkret.</p><p>Kesimpulan:</p><p>🔱Feminisme adalah gerakan yang terus berkembang untuk menciptakan dunia yang lebih adil bagi semua gender.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 17:23:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356234019</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>haalthirtymei</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356272917</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>NAMA: Siti Kholimatul Sa'diah</strong></p><p><strong>KELAS: 2A</strong></p><p><strong>NIM: 2221240047</strong></p><p><br/></p><p>Pada pertemuan kali ini membahas  tentang teori feminisme yang mencakup pengertian, tujuan,sejarah singkatnya,macam-macam teori feminisme,tokoh-tokohnya,dampak,kontribusi. Teori feminisme ialah sebuah gerakan sosial dan teori-teori yang memperjuangkan kesetaraan hak akan pria dan wanita, tujuan utama dari teori feminisme ini ialah salah satunya menghapus diskriminasi, memberikan kebebasan serta kesetaraan bagi perempuan. Adapun beberapa jenis teori feminisme, yaitu diantaranya:</p><p>●Teori feminisme liberal: Teori ini berfokus pada kesetaraan gender yang tanpa mengubah stuktur sosial yang mendasarinya, dan juga menekankan hak individu, akses kesetaraan dari segi pekerjaan,politik,serta pendidikan.</p><p>●Teori feminisme radikal: Teori ini berpendapat bahwa budaya patriarki adalah sebab dari penindasan bagi perempuan. </p><p>●Teori feminisme sosialis: Teori ini menghubungkan penindasan perempuan dengan kapitalisme dan patriarki serta menekankan pentingnya perubahan ekonomi dan sosial untuk mencapai kesetaraan gender.</p><p>●Teori feminisme postmodern: Teori ini menolak pandangan dari universal tentang perempuan dan mengkritik gagasan bahwa ada satu feminim yang sama dengan menekankan keragaman ,bahasa, dan konstruksi sosial.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 18:02:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356272917</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rifahiif70</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356447525</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama :Iif Rif'ah </p><p>Nim : 2221240050</p><p>Kelas : 2A</p><p>Mata kuliah : analisis gender dan pendidikan keluarga</p><p>Tugas : mereview presentasi kelompok 1</p><p><br/></p><p>Feminisme adalah gerakan yang memperjuangkan kesetaraan gender dan penghapusan diskriminasi terhadap perempuan. Seiring waktu, feminisme berkembang dalam berbagai gelombang dan aliran, menyesuaikan dengan tantangan sosial dan budaya yang berubah.</p><p>Meskipun banyak kemajuan telah dicapai dalam hak politik, ekonomi, dan sosial, ketidaksetaraan gender masih menjadi masalah di berbagai bidang, seperti kesenjangan upah, kekerasan berbasis gender, akses terhadap kesehatan reproduksi, serta representasi perempuan dalam kepemimpinan dan media.</p><p>Feminisme tetap relevan dan dibutuhkan untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan bebas dari diskriminasi berdasarkan gender. Dengan terus berkembangnya pemikiran dan gerakan feminis, perjuangan untuk kesetaraan akan terus berlanjut, tidak hanya untuk perempuan, tetapi juga untuk semua kelompok yang mengalami ketidakadilan gender.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 22:01:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356447525</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>sitianini1122</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356449167</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Siti Nur'Aini </p><p>Kelas : 2A </p><p>Nim : 2221240005</p><p><br/></p><p>Materi kali ini membahasa tentang teori feminisme. </p><p>teori feminisme adalah gerakan sosial dan teori yang memperjuangkan kesetaraan hak antara pria dan wanita. tujuannya adalah untuk menghapus diskriminasi gender dan memberikan kebebasan serta kesetaraan bagi perempuan. </p><p>Ada beberapa jenis-jenis teori feminisme </p><p>- feminisme liberal : berfokus pada kesetaraan gender melalui reformasi hukum dan kebijakan tanpa mengubah struktur sosial yang mendasarinya. </p><p>tokoh : betty friedan dan john stuart mill </p><p>-feminisme radikal : teori ini menganggap patriaki sebagai akar utama penindasan perempuan dan berusaha menghapus struktur laki-laki </p><p>tokoh : catharina mackinnon dan shulamith firestone</p><p>-feminisme sosial : teori ini menghubungkan penindasan perempuan dengan sistem kapitalisme dan patriarki </p><p>tokoh : alexandra kollontai dan clara zetkin </p><p>-feminisme postmodern : teori ini menolak pandangan universal tentang perempuan dan mengkritik gagasan bahwa ada satu pengalaman feminim yang sama </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 22:05:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356449167</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356460153</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Afan Hadi Firmansyah</p><p>Nim: 2221240001</p><p>Kelas: 2A</p><p><br/></p><p>Pada pertemuan presentasi kali ini yaitu membahas tentang teori feminisme.</p><p>Teori feminisme yaitu teori yang memperjuangkan kesetaraan hak antara pria dan perempuan serta menghapus diskriminasi gender dan memberikan kebebasan kesetaraan bagi perempuan.</p><p>Ada beberapa teori feminisme seperti,</p><p>Feminisme Liberal, berfokus pada kesetaraan gender melalui reformasi hukum dan kebijakan, disini menekankan hak individu dan mendapatkan akses yang setara.</p><p>Feminisme Radikal, patriarki sebagai akar utama penindasan perempuan dan berusaha menghapus struktur kekuasaan, disini posisi laki laki selalu mendominasi.</p><p>Feminisme Sosialis, menekankan perubahan ekonomi dan sosial untuk mencapai kesetaraan gender, disini menghubungkan penindasan perempuan dengan sistem kapitalisme dan patriarki.</p><p>Feminisme Postmodern, yaitu menolak semua pandangan universal tentang perempuan dan mengkritik gagasan bahwa ada satu pengalaman feminim yang sama. </p><p>Adapun gelombang teori feminisme dari dulu hingga sekarang</p><p>Gelombang pertama (Abad ke-19 hingga awal abad ke-20): Fokus pada hak suara dan kesetaraan hukum.</p><p>Gelombang kedua (1960-an hingga 1980-an): Fokus pada hak reproduksi, akses pendidikan, dan kesetaraan dalam pekerjaan.</p><p>Gelombang ketiga (1990-an hingga sekarang): Fokus pada keberagaman identitas perempuan dan isu-isu global.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 22:28:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356460153</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>restikayundiana4</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356478900</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Restika Yundiana</p><p>Kelas: 2A</p><p><br/></p><p>Pada pertemuan ke 3 inii presentasi yang membahas Teori Feminisme yang dimana saya tangkap bahwa yang di maksud teori ini yaitu berfokus pada kesetaraan gender melalui reformasi hukum dan kebijakan tanpa mengubah struktur sosial yang mendasarinya, menekankan hak indivisu dan akses yang setara dalam pendidikan, pekerjaan serta politik.</p><p><br/></p><p>Dampak dengan adanya Teori Feminisme ini yaitu sangat amat positif dimana Teori Feminisme ini berperan penting dalam pengakuan hak suara perempuan dan kesetaraan pendidikan.</p><p>Lalu juga ada tokoh-tokoh yang berperan atau ikut serta dalam Teori Feminisme ini yang saya tulis di buku saya saat kelompok 1 menjelaskan yaitu ada</p><ol><li><p>Catharine MacKinnon dimana dia ini mengembangkan teori hukum tentang pelecehan seksual sebagai bentuk dominasi patriarki.</p></li><li><p>Shulamith Firestone – Menulis The Dialectic of Sex (1970), yang menekankan bagaimana biologi digunakan untuk menindas perempuan.</p><p><br/></p></li></ol><p>Disini juga ada Feminisme Radikal dimana sepemahaman saya yaitu meningkatkan kesadaran tentang akar penyebab penindasan perempuan yang berhubungan dengan patriarki dan struktur sosial yang lebih luas.</p><p>Selain ada Feminisme Radikal disini ada Feminisme Sosialis yang dimana Menggabungkan kelas dan gender, serta menekankan perubahan sosial sebagai kunci untuk membebaskan perempuan.</p><p>Yang terkahir ada Feminisme Postmodern yang dimana Aliran ini berkontribusi dalam memperjuangkan hak kelompok minoritas dan mengkritik feminisme arus utama yang kurang inklusif.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-07 23:14:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356478900</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356497344</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Laras Juliana Sapira</p><p>Nim     : 2221240031</p><p>Kelas   : 2A</p><p><br/></p><p>Teori Feminisme</p><p><br/></p><p>Adanya ketimpangan hukum antara pria dan wanita sangat membuat resah, terutama sebagai seorang wanita, di mana kita hanya di tuntut namun tanpa di dengar dan di perhatikan. Teori feminisme adalah teori yang memperjuangkan adanya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, dan hal ini lah yang menjadi dasar adanya teori feminisme (di mulai pada abad ke 19, dari benua Eropa). </p><p><br/></p><p>Seperti teori-teori lainnya yang memiliki aliran, teori feminisme juga memiliki alirannya</p><p>1. Teori feminisme liberal &gt; berfokus pada kesetaraan di ranah hukum, dalam artian mereformasi hukum-hukum yang hanya menitikberatkan pada perempuan tanpa merubah struktur sosial yang mendasari nya. </p><p>2. Teori feminisme radikal &gt; teori ini berfokus pada kekuasaan, dimana teori ini menganggap bahwa patriarki adalah akar dari adanya ketimpangan antara pria dan wanita. Hal ini akan berdampak pada terbebasnya perempuan pada "penindasan" Yang terjadi. </p><p>3. Teori feminisme sosialis &gt; ini menghubungkan antara sistem kapitalisme dan patriarki, di mana teori ini mengumpulkan massa yang sangat mendukung tidak adanya patriarki. </p><p>4. Teori feminisme postmodern &gt; Menolak pandangan universal tentang perempuan dan mengkritik gagasan bahwa ada satu pengalaman feminim yang sama, dengan menekankan keragaman, bahasa dan kontruksi sosial identitas gender. </p><p><br/></p><p>Dari ke-4 aliran feminisme ini bisa kita lihat bahwa teori feminisme sangat di butuhkan dan perlu untuk selalu di suarakan untuk menjaga adanya kesetaraan gender dan punahnya sistem patriarki yang terkadang selalu terjadi "penindasan" di dalamnya. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-08 00:11:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356497344</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>fadhilahibni</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356499950</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: fadhilah ibni safitri</p><p>Nim: 2221240018</p><p>Kelas: 2A</p><p>Teori Feminisme</p><p> Keberadaan ketidaksetaraan hukum antara pria dan wanita sangat gelisah, terutama karena wanita yang hanya ditantang oleh kita yang ditanya dan tidak diperhatikan. Teori feminisme adalah teori yang memperjuangkan kesetaraan antara perempuan dan laki -laki, dan ini adalah dasar dari teori feminisme (dari abad ke -19 oleh benua Eropa).</p><p>Seperti teori lain dengan</p><p>sungai, teori feminis juga memiliki sungai. Teori feminisme liberal berfokus pada kesetaraan dalam bidang hukum dalam arti bahwa ia mereformasi hukum yang hanya menekankan perempuan tanpa mengubah struktur sosial yang menjadi dasarnya. </p><p>2. Teori Feminisme Radikal&gt; Teori ini berfokus pada kekuasaan, dengan mempertimbangkan teori ini bahwa patriarki adalah akar dari keberadaan ketidaksetaraan antara pria dan wanita. Ini mempengaruhi kebebasan perempuan dalam "penindasan" yang muncul.Teori Feminisme Sosialis Ketiga&gt; Ini menggabungkan sistem kapitalisme dan patriarki</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-08 00:19:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356499950</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>valfathory</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356504712</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Mubammad Virly Al Fathory</strong></p><p><strong>II-A</strong></p><p><strong>2221240065</strong></p><p><br/></p><p>Pada presentasi kali ini, kelompok 1 telah menjelaskan mengenai femisme yaitu gerakan sosial dan teori yang memperjuangkan kesetaraan hak wanita dan perempuan, yang bertujuan untuk menghapus diskriminasi gender. Yang telah dijelaskan oleh kelompok 1 feminisme terbagi menjadi beberapa aliran seperti:</p><p>1.Feminisme Sosialis</p><p>2.Feminisme Radikalis</p><p>3.Feminisme Liberal</p><p>4.Feminisme Postmodern</p><p><br/></p><p>Yang semuanya merujuk pada kesetaraan hak wanita dan laki-laki, ataupun keseluruhan gender yang bertujuan untuk kesejahteraan dan keadilan bersama.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-08 00:32:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356504712</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356535783</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : LUTVIHAKIM </p><p>Nim:2221240034</p><p>Kelas :2A</p><p><br/></p><p>Pada presentasi kali ini kelompok 1 telah menjelaskan mengenai feminisme yaitu gerakan sosial dan teori yang memperjuangkan kesetaraan hak wanita dan perempuan yang bertujuan untuk diskriminasi gender yang telah di jelaskan oleh kelompok 1 </p><p>Feminisme terbagi menjadi beberapa aliran </p><p>Seperti:</p><p>1.fenimisme sosialis</p><p>2.fenimisme Redikalis </p><p>3.fenimisme Liberal</p><p>4.fenimisme postmorn</p><p><br/></p><p>Yang semua merujuk pada kesetaraan hak wanita dan laki-laki ataupun </p><p>Keseluruhan gender yang bertujuan untuk </p><p>Kesejahteraan dan keadilan bersama</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-08 01:48:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356535783</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356552521</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Sinta rahmadini </p><p>Nim : 2221240004</p><p>Kelas : 2A</p><p><br/></p><p>Pada presentasi kelompok 1 kemarin hal yang dapat saya ambil adalah: </p><p><br/></p><p>Teori feminisme adalah suatu kerangka teori yang digunakan untuk memahami dan menganalisis peran, posisi, dan pengalaman perempuan dalam masyarakat. Teori feminisme berfokus pada isu-isu seperti kesetaraan gender, keadilan sosial, dan penghapusan diskriminasi terhadap perempuan.</p><p><br/></p><p>Sejarah Singkat Feminisme</p><p>Feminisme memiliki sejarah yang panjang dan kompleks, dengan berbagai gelombang dan aliran yang berbeda.</p><p><br/></p><p>Gelombang Pertama (1848-1920)</p><p>Gelombang pertama feminisme berfokus pada isu-isu seperti hak pilih, hak pendidikan, dan hak kerja bagi perempuan. Tokoh-tokoh seperti Elizabeth Cady Stanton dan Susan B. Anthony menjadi pemimpin dalam gerakan ini.</p><p><br/></p><p>Gelombang Kedua (1960-1980)</p><p>Gelombang kedua feminisme berfokus pada isu-isu seperti kesetaraan gender, keadilan sosial, dan penghapusan diskriminasi terhadap perempuan. Tokoh-tokoh seperti Betty Friedan dan Gloria Steinem menjadi pemimpin dalam gerakan ini.</p><p><br/></p><p>Gelombang Ketiga (1990-sekarang</p><p>Gelombang ketiga feminisme berfokus pada isu-isu seperti kekerasan terhadap perempuan, hak reproduksi, dan penghapusan diskriminasi terhadap perempuan dalam berbagai bidang. Tokoh-tokoh seperti bell hooks dan Judith Butler menjadi pemimpin dalam gerakan ini.</p><p><br/></p><p>Aliran-Aliran Feminisme</p><p>Feminisme memiliki berbagai aliran yang berbeda, antara lain:</p><p><br/></p><p>1. Feminisme Liberal: Berfokus pada kesetaraan gender dan hak-hak perempuan dalam bidang politik dan ekonomi.</p><p>2. Feminisme Radikal: Berfokus pada penghapusan patriarki dan sistem-sistem yang menindas perempuan.</p><p>3.Feminisme Sosialis: Berfokus pada kesetaraan gender dan keadilan sosial dalam bidang ekonomi dan politik.</p><p>4. Feminisme Poststrukturalis: Berfokus pada penghapusan diskriminasi terhadap perempuan dalam bidang bahasa dan budayanya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-08 02:28:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356552521</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356564571</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Chelsea Annisa Sapitri </p><p>Nim: 2221240017</p><p>kelas: 2A</p><p><br/></p><p>Pada presentation kali ini kelompok 1 telah menjelaskan tendang feminimisme yaitu gerakan social dan terima yang memperjuangkan kesetaraan Hak wanita dan perempuan yang bertujuan untuk diskriminasi gender. Teori feminisme di gunakan untuk memahami dan menganalisis peran posisi dan pengalaman perempuan dalam masyarakat. Teori ini berfokus pada isu isu seperti kesetaraan generasi keadilan sosial dan penghapusan diskriminasi terhadap perempuan</p><p><br/></p><p>Feminism terbagi menjadi beberapa aliran:</p><ol><li><p>Feminisme sosialisasi</p></li><li><p>Feminisme redikalis</p></li><li><p>Feminisme postmorn</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-08 02:55:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356564571</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nnazwaulia</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356592686</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Nazwa Aulia</strong></p><p><strong>NIM: 2221240087</strong></p><p><strong>Kelas: 2C</strong></p><p><br/></p><p>Refleksi Pembelajaran Pertemuan Ke 2</p><p><br/></p><p>Pertemuan ke 2 ini membahas bahwa gender bukan hanya perbedaan biologis, norma sosial yang membentuk peran laki-laki dan perempuan juga mempengaruhi gender.  Banyak teori feminisme menunjukkan bahwa ketidakadilan gender dapat dipahami dan diatasi melalui perubahan sosial, kesadaran individu, dan kebijakan.  </p><p><br/></p><p>Perspektif gender dalam bidang ilmu sosial dan pendidikan membantu memahami bagaimana struktur sosial, budaya, dan kebijakan dapat memperkuat atau mengurangi ketimpangan gender. Pendidikan memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih adil, termasuk kesempatan yang setara melalui kurikulum dan metode pengajaran.  Pendidikan keluarga juga sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai kesetaraan sejak dini, menghilangkan stereotip gender dari cara orang tua membesarkan anak.  </p><p><br/></p><p>Kesadaran gender harus ditanamkan sejak dini dalam keluarga dan pendidikan agar generasi mendatang dapat tumbuh dalam lingkungan yang lebih adil dan inklusif.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-08 04:13:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3356592686</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>argyantirani</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365666705</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA : Rani Argyanti</p><p>NIM : 2221240070</p><p>KELAS : 2B</p><p><br/></p><p>setelah mendengarkan persentasi tadi materi yang di sampaikan oleh teman teman bahwasannya gender berbeda dengan konsep jenis kelamin karena melibatkan peran dan fungsi sosial unik laki-laki dan perempuan, yang dibentuk oleh lingkungan tempat kita tingggal. Konsep kesetaraan gender dalam pengasuhan anak yang telah d sampaikan menekankan bahwa perempuan dan laki-laki harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendidik anak dan tanggung jawab untuk mengasuh anak harus dibagi secara adil dan seimbang. Meskipun gender yang ditanamkan pada laki-laki maupun perempuan sudah dibentuk secara sosial dan budaya, tetapi perilaku bias gender dapat merugikan laki-laki maupun perempuan ketika salah satunya menjadi korban sistem tersebut. Dan bias gender mengacu pada sikap, keyakinan,dan tindakan yang secara tidak adil memihak atau mendiskriminasi seorang berdasarkan jenis kelamin mereka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 02:27:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365666705</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>fashaputri2004</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365673549</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Fashadyana Putri Nugraha</strong></p><p><strong>NIM: 2221240082</strong></p><p><strong>Kelas: 2B (Pend. Non Formal)</strong></p><p><br/></p><p>Basis gender adalah perbedaan peran dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang dibuat oleh masyarakat. Misalnya, banyak orang menganggap laki-laki harus bekerja mencari uang, sementara perempuan lebih cocok mengurus rumah tangga. Padahal, sebenarnya semua orang harus punya kesempatan yang sama untuk memilih peran mereka sendiri.</p><p><br/></p><p>Karena adanya perbedaan ini, sering terjadi ketidakadilan, seperti perempuan yang sulit mendapatkan posisi tinggi di tempat kerja atau mendapatkan gaji lebih rendah dibanding laki-laki untuk pekerjaan yang sama. Selain itu, banyak perempuan juga mengalami kekerasan atau pelecehan hanya karena dianggap lebih lemah. Agar lebih adil, penting bagi masyarakat untuk memberi kesempatan yang sama bagi semua orang, tanpa memandang gender mereka.</p><p><br/></p><p>Untuk mencapai kesetaraan gender, kita perlu mengubah cara berpikir dan menghapus anggapan bahwa hanya laki-laki atau perempuan yang bisa melakukan pekerjaan tertentu. Misalnya, laki-laki juga bisa menjadi guru TK, dan perempuan juga bisa menjadi insinyur atau pemimpin perusahaan. Jika kita mendukung semua orang untuk berkembang sesuai kemampuannya, maka masyarakat akan menjadi lebih adil dan harmonis.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 02:31:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365673549</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365682104</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Cantika Eka Zahra </p><p>Kelas : 2b</p><p>NIM : 2221240085</p><p>Pembahasan kelompok 2 hari ini membahas tentang Keluarga punya peran besar dalam ngebentuk identitas gender anak sejak kecil lewat pola asuh dan lingkungan. Penting buat ngajarin kesetaraan gender biar laki-laki dan perempuan punya hak serta tanggung jawab yang adil. Meski udah ada aturan, bias gender masih sering kejadian, terutama di dunia pendidikan. Makanya, perlu usaha lebih buat ngebangun masyarakat yang lebih adil.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 02:36:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365682104</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>syifanurfarihah6</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365694886</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Syifa Nurfarihah</p><p>Kelas: 2B</p><p>NIM: 2221240022</p><p><br/></p><p>Pembahasan hari ini tentang Peran keluarga, pola pengasuhan dan analisis bias gender dalam praktik pendidikan keluarga. Pendidikan keluarga berperan penting dalam membentuk karakter anak. Pola pengasuhan yang tepat harus didasarkan pada keseimbangan antara kedisiplinan dan kasih sayang. Selain itu, keluarga perlu menyadari dan menghindari bias gender dalam praktik pendidikan agar anak dapat tumbuh dengan kesempatan yang setara dan berkembang sesuai dengan potensinya.</p><p>Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam pendidikan anak. Orang tua membentuk dasar nilai, moral, dan karakter anak.</p><p>Keluarga berperan dalam memberikan kasih sayang, perlindungan, dan stimulasi untuk perkembangan kognitif, sosial, dan emosional.</p><p>Keluarga menanamkan kebiasaan baik, seperti disiplin, etika, dan nilai sosial.</p><p>Orang tua mengawasi pergaulan dan aktivitas anak agar tetap dalam koridor yang positif.</p><p>Pola pengasuhan juga mempengaruhi perkembangan anak, dan umumnya dibagi menjadi empat jenis: Pengasuhan Otoriter (Authoritarian), orang tua menuntut kepatuhan tinggi tanpa memberikan banyak kebebasan. Anak cenderung kurang percaya diri dan bergantung pada aturan.</p><p>Pengasuhan Demokratis (Authoritative), orang tua tegas tetapi tetap memberikan kebebasan yang wajar. Anak cenderung lebih percaya diri, mandiri, dan mampu beradaptasi.</p><p>Pengasuhan Permisif (Permissive), orang tua terlalu longgar dan tidak memberikan banyak batasan. Anak bisa tumbuh menjadi kurang disiplin dan sulit mengontrol diri. Pengasuhan Tidak Terlibat (Neglectful), orang tua kurang peduli terhadap kebutuhan anak. Anak berisiko mengalami masalah emosional dan sosial.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 02:44:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365694886</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>futuhatulain40</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365699859</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama : Futuhatul Ain </strong></p><p><strong>Nim : 2221240053</strong></p><p><strong>Kelas : 2B</strong></p><p>Peran keluarga, Pola pengasuhan dan analisis bias gender dalam praktik pendidikan keluarga </p><p>1. Peran keluarga dalam pembentukan identitas gender</p><p>- gender merupakan konsep perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakter emosional.</p><p>- faktor yang mempengaruhi perkembangan identitas gender anak yaitu lingkungan sosial, budaya, dan orang tua. </p><p>2. Pola pengasuhan berbasis kesetaraan gender </p><p>- kesetaraan gender dalam pengasuhan anak yaitu mereka harus diajari hal-hal yang sama dan tanggung jawab dibagi secara adil dan seimbang. Selain pembagian tugas yang adil dalam pengambilan keputusan juga harus melibatkan kedua belah pihak </p><p>( perempuan dan laki-laki), akses yang sama terhadap sumber daya, perubahan sikap dan perilaku berpengaruh dalam proses pengasuhan anak. </p><p>3. Analisis bias gender dalam praktik </p><p>- bias gender mengacu pada sikap, keyakinan, dan tindakan yang secara tidak adil memihak atau mendiskriminasi seorang berdasarkan jenis kelamin mereka. Bias gender dapat terjadi di lingkungan kerja, pendidikan, rumah tangga, bahkan di masyarakat. </p><p>4. Kesimpulan </p><p>- bias gender ini masih terjadi di berbagai tempat, waktu, dan situasi. seringkali wanita banyak dirugikan. Dalam penelitian menunjukkan bahwa laki-laki seringkali diposisikan sebagai simbol kesuksesan sementara perempuan lebih sering terjebak dalam peran tradisional dan negatif, menciptakan ketidakadilan dalam hubungan gender di semua lapisan masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 02:47:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365699859</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ayeshaadzani87</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365721865</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Ayesha Adzani Simbran </p><p>Nim: 2221240025 (b)</p><p><br/></p><p>tugas resume analisis gender</p><p><br/></p><p>konsep gender melibatkan peran, fungsi serta status sosial baik untuk laki-laki maupun perempuan yang dimana dibentuk oleh lingkungan tempat mereka tinggal.</p><p><br/></p><p>adapun pola asuh nya berupa tanggung jawab yang sama baik untuk laki laki maupun perempuan, Mendukung minat serta bakat anak nya, dan memberikan contoh kepada anak anaknya, misalnya tugas ayah tidak hanya mencari nafkah akan tetapi bisa juga mengerjakan pekerjaan rumah.</p><p><br/></p><p>adapun aspek nya yaitu pengambilan keputusan merupakan hak bersama, pembagian tugas harus sama tanpa membedakan satu dengan lainnya dengan maksud perubahan sikap dan perilaku.</p><p><br/></p><p>bias gender dalam praktek berpacu pada sikap perilaku tanpa adanya diskriminasi contohnya perempuan lebih sering diberi tanggung jawab dalam hal rumah tangga, penggunaan siswa/ mahasiswa untuk seluruhnya padahal untuk perempuan adalah siswi/mahasiswi</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 03:00:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365721865</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365760912</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Thafia Yandrianingsih </p><p>Nim: 2221240067</p><p>Kelas: 2B</p><p><br/></p><p><strong>Peran Keluarga, Pola Pengasuhan dan Analisis Bias Gender Dalam Praktik Pendidikan </strong></p><p>• Peran Keluarga Dalam Pembentukan Identitas Gender</p><p>Istilah kata "Gender" berasal dari bahasa inggris, yang berarti "jenis kelamin".</p><p>• Pola Pengasuhan Berbasis Kesetaraan Gender </p><p>Konsep “kesetaraan gender dalam pengasuhan anak” menekankan bahwa perempuan dan laki-laki harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendidik anak, tanpa mempertimbangkan jenis kelamin mereka. Konsep dasar adalah bahwa untuk mengasuh anak, baik perempuan maupun laki-laki memiliki kemampuan yang sama, dan tanggung jawab harus </p><p>dibagi secara adil dan seimbang (Shofiyatun Nisa’ &amp; Kurniawan, 2024).</p><p>• Bias Gender Dalam Praktik </p><p>Menurut bahasa “bias” merupakan dianggap sebagai situasi yang baik atau buruk. Meskipun gender adalah atribut yang ditanamkan pada laki-laki maupun perempuan dan dibentuk secara sosial dan budaya, perilaku bias gender berasal dari sistem dan struktur yang dapat merugikan laki-laki maupun perempuan ketika salah satunya menjadi korban sistem tersebut. Bias gender mengacu pada sikap, keyakinan,dan tindakan yang secara tidak adil memihak atau mendiskriminasi seorang berdasarkan jenis kelamin mereka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 03:26:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365760912</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365800730</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Sindy</p><p>Kelas: 2B</p><p>NIM: 2221240009</p><p><br/></p><p>keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan harus memenuhi psikologis dan biologis anak, keluarga diharapkan untuk dapat menghasilkan anak yang mampu di kehidupan dan menerima nilai budaya kehidupan. Keluarga dapat dikatakan sebagai kelompok inti karena mereka adalah pendidikan pertama dan alamiah bagi anak. Anak-anak di didik agar mereka dapat mempunyai bekal untuk memasuki kehidupan dewasa.</p><p>Gender adalah istilah untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan yang bersifat bawaan sebagai ciptaan tuhan dan di bentuk oleh budaya serta di pelajari dan disosialisasikan sejak usia dini. Peran gender saat ini dapat membantu kita untuk memikirkan pembagian peran yang di berikan kepada perempuan dan laki-laki.</p><p>Pola asuh orang tua dapat di artikan sebagai interaksi antara anak dan orang tua serta sebagai sistem/cara kerja atau bentuk dalam menjaga,merawat,mendidik dan membimbing afar mereka dapat berdiri sendiri.</p><p>kesetraan gender salam pengasuhan sangat berperan penting agar dapat</p><p>1. Menghasilkan keluarga yang harmonis dimana semua keluarga orang dapat bekerja sama.</p><p>2. Untuk meningkatkan sehat jasmani anak sehingga mereka dapat berkembang dengan baik, membangun masyarakat yang lebih setara dan adil.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 03:56:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365800730</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365831506</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA : TUPPAL BUDI ASIH</p><p>KELAS : 2B</p><p>NIM : 2221240039</p><p><br/></p><p>Istilah "gender" mengacu pada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal peran, perilaku, dan karakter emosional yang dibentuk secara sosial dan budaya. Ini berbeda dengan jenis kelamin biologis. Identitas gender seseorang sudah ada sejak lahir dan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti lingkungan sosial mereka dan perilaku orang tua mereka. Proses pembentukan identitas gender dimulai saat anak masih bayi dan mulai memahami kategori sosial yang berkaitan dengan gender mereka pada usia dini. Orang tua harus mengajarkan anak konsep kesetaraan gender secara langsung maupun tidak langsung selama pengasuhan karena keluarga menjadi tempat utama bagi anak untuk belajar tentang norma dan prinsip dasar yang membentuk identitas mereka.</p><p><br/></p><p>Konsep kesetaraan gender dalam pengasuhan anak menekankan bahwa perempuan dan laki-laki harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendidik anak dan memiliki tanggung jawab yang dibagi secara adil. Pola peran yang ada saat ini seringkali membatasi kemampuan orang tua untuk melaksanakan tugas mereka dengan baik, sehingga penting untuk mengubah norma sosial dan budaya yang ada agar keduanya dapat berkontribusi secara setara dalam mendidik anak.</p><p><br/></p><p>Bias gender adalah masalah yang kompleks dan mendalam yang mencakup pandangan, kepercayaan, dan tindakan diskriminatif terhadap orang berdasarkan jenis kelamin. Baik laki-laki maupun perempuan dapat mengalami bias ini, yang muncul di berbagai bagian kehidupan kita, seperti di tempat kerja, pendidikan, dan masyarakat. Meskipun Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 8 Tahun 2016 menetapkan peraturan yang bertujuan untuk melindungi kesetaraan gender, kesalahpahaman tentang masalah gender masih sering terjadi, terutama mengenai representasi yang tidak seimbang dalam materi pendidikan. Menurut penelitian, laki-laki sering dianggap sebagai representasi kesuksesan, sementara perempuan sering dianggap sebagai representasi negatif dari peran dan stereotip tradisional. Akibatnya, upaya lebih lanjut diperlukan untuk memerangi bias gender dan menciptakan masyarakat yang lebih setara dan adil.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 04:26:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365831506</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nabilamarsha338</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365934009</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA: NABILA MARSHA WULANDARI</p><p>KELAS : 2 B</p><p>NIM: 2221240081</p><p><br/></p><p><strong>PERAN KELUARGA DALAM PEMBENTUKAN IDENTITAS GENDER</strong></p><p>Istilah kata “gender” berasal dari bahasa inggris, yang berarti “jenis kelamin”. Menurut Adriany (2014) menjelaskan bahwa istilah “gender” mengacu pada konsep perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakter emosional. Gender berbeda dengan konsep jenis kelamin karena melibatkan peran dan fungsi sosial unik laki-laki dan perempuan, yang dibentuk oleh lingkungan tempat kita tinggal.</p><p><br/></p><p><strong>POLA PENGASUHAN BERBASIS</strong></p><p><strong>KESETARAAN GENDER</strong></p><p>Konsep “kesetaraan gender dalam pengasuhan anak” menekankan bahwa perempuan dan laki-laki harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendidik anak, tanpa mempertimbangkan jenis kelamin mereka. Konsep dasar adalah bahwa untuk mengasuh anak, baik perempuan maupunlaki-laki memiliki kemampuan yang sama, dan tanggung jawab harus dibagi secara adil dan seimbang (Shofiyatun Nisa’ &amp;</p><p>Kurniawan, 2024).</p><p>BIAS GENDER DALAMPRAKTIK</p><p>Menurut bahasa “bias” merupakan dianggap sebagai situasi yang baik atau buruk. Meskipun gender adalah atribut yang ditanamkan pada laki-laki maupun perempuan dan dibentuk secara sosial dan budaya, perilaku bias gender berasal dari sistem dan struktur yang dapat merugikan laki-laki maupun perempuan ketika salah satunya menjadi korban sistem tersebut. Bias gender mengacu pada sikap, keyakinan,dan tindakan yang secara tidak adil memihak atau mendiskriminasi seorang berdasarkan jenis kelamin mereka.</p><p><br/></p><p><strong>CONTOH PRAKTIK BIAS GENDER</strong></p><p>a) Laki-laki sering dianggap sebagai representasi dari berbagai hal, terutama yang berkaitan dengan kesuksesan dan kebaikan.</p><p>b) Laki-laki dianggap aktif dalam urusan pernikahan dan seksualitas</p><p>c) Perempuan lebih sering bertanggung jawab atas rumah tangga</p><p>d) Perempuan sering dianggap negatif, dan</p><p>e) Ada ketidakseimbangan dalam hubungan antara laki-laki dan</p><p>perempuan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 05:45:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365934009</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>hikmahtsy17</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365986264</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Hikmah Tussyahiroh </p><p>NIM   : 2221240051</p><p>Kelas : 2 B </p><p><br/></p><blockquote><p><strong>REVIEW MATERI </strong></p><p><strong><mark>Peran Keluarga, Pola Pengasuhan dan Analisis Bias Gender Dalam Praktik Pendidikan</mark></strong></p></blockquote><p><br/></p><p><strong><mark>PERAN KELUARGA </mark></strong></p><p>Keluarga sangat berperan dalam pembentukan identitas gender, yang membedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan ialah pembagian tugas, contohnya pembagian tugas dalam rumah dan pengajaran pembiasaan perilaku oleh orang tua yang untuk anak laki-laki dan anak perempuan. </p><p><br/></p><p><strong><mark>POLA PENGASUHAN BERBASIS KESETARAAN GENDER </mark></strong></p><p>Pola asuh kesetaraan peran dalam keluarga harus diterapkan untuk mematahkan stigma yang mengikat di masyarakat saat ini, contohnya perempuan identik dengan tugas dapur dan pekerjaan rumah sedangkan anak laki-laki identik dengan bekerja diluar dan didorong untuk meraih kesuksesan yang lebih baik. Namun, dalam hal pola asuh kesetaraan gender ini keduanya memiliki tugas yang sama. Misalnya anak laki-laki harus pandai merawat kebersihan dan bisa memasak tidak hanya dibebankan kepada perempuan.</p><p><br/></p><p><strong><mark>BIAS GENDER </mark></strong></p><p>Terkadang bias gender dapat merugikan salah satu pihak. Dikarenakan bias gender ialah sebuah sistem atau struktur yang menjadi sebuah ketidakadilan. </p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 06:33:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365986264</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ahmadfakihmaulana1</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365993415</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Ahmad Fakih Maulana</p><p>NIM : 2221240006</p><p>Kelas : 2B</p><p><br/></p><p>pembahasan pada hari ini membahas tentang peran keluarga, pola pengasuhan, dan analisis bias gender dalam praktik pendidikan keluarga.</p><p><br/></p><p>keluarga memiliki peran yang krusial dalam membangun gender seorang anak karena seorang anak pasti belajar melalui keluarganya terlebih dahulu, orang tua juga harus menerapkan “kesetaraan gender” dalam lingkungan keluarga, hal ini menekankan bahwa perempuan atau laki-laki harus mendapatkan kesempatan yang sama tanpa mempertimbangkan jenis kelamin seseorang.</p><p><br/></p><p>aspek penting gagasan :</p><p>-Pembagian tugas yang adil,</p><p>perempuan dan laki-laki</p><p>harus berbagi bertanggung</p><p>jawab pengasuhan tanpa</p><p>memandang jenis kelamin.</p><p>-Pengambilan keputusan</p><p>bersama, keduanya memiliki</p><p>jumlah suara yang saat</p><p>mengambil keputusan.</p><p>-Akses yang sama terhadap sumber</p><p>daya, perempuan dan laki-laki</p><p>seharusnya memiliki akses yang sama</p><p>terhadap sumber daya yang diperlukan</p><p>untuk pengasuhan.</p><p>-Perubahan sikap dan perilaku,</p><p>pentingnya untuk mengubah</p><p>pandangan orang lain perempuan dan</p><p>laki-laki tentang peran dalam</p><p>pengasuhan anak agar saling</p><p>mendukung</p><p><br/></p><p>Bias gender merupakan dianggap sebagai situasi yang baik atau buruk. Meskipun gender adalah atribut yang ditanamkan pada laki-laki maupun perempuan dan dibentuk secara sosial dan budaya, perilaku bias gender berasal dari sistem dan struktur yang dapat merugikan laki-laki maupun</p><p>perempuan ketika salah satunya menjadi korban sistem tersebut. Bias gender mengacu pada sikap, keyakinan,dan</p><p>tindakan yang secara tidak adil memihak atau mendiskriminasi seorang berdasarkan jenis kelamin mereka.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 06:38:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3365993415</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>andiniserang4</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366031644</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Andini</p><p>Kelas: 2B</p><p>Nim: 2221240007</p><p><br/></p><p>Pembahasan hari ini yaitu menjelaskan Peran Keluarga, Pola Pengasuhan dan Analisis Bias Gender dalam Praktik Pendidikan</p><p><br/></p><p>Istilah "Gender" berasal dari bahasa inggris, yang berarti "jenis kelamin". Menurut Adriany (2014) menjelaskan bahwa istilah " gender" mengacu pada konsep perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakter emosional. Gender berbeda dengan konsep jenis kelamin karena melibatkan peran dan fungsi sosial untuk laki- laki dan perempuan, yang di bentuk oleh lingkungan tempat kita tinggal.</p><p><br/></p><p>Pola Pengasuhan Berbasis Kesetaraan Gender</p><p>Konsep "kesetaraan gender" dalam pengasuhan anak" menekankan bahwa perempuan dan laki-laki harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendidik anak, tanpa mempertimbangkan jenis kelamin mereka. Konsep dasar adalah untuk mengasuh anak, baik perempuan maupun laki-laki memiliki kemampuan yang sama, dan rasa tanggung jawab harus dibagi secara adil dan seimbang (Shofiyatun Nisa' &amp; Kurniawan, 2024).</p><p><br/></p><p>Bias Gender Dalam Praktik</p><p>Menurut bahasa "bias" dianggap sebagai situasi yang baik atau buruk, Meskipun gender adalah atribut yang ditanamkan pada laki-laki maupun perempuan dan dibentuk secara sosial dan budaya, perilaku bias gender berasal dari sistem dan struktur yang dapat merugikan laki-laki maupun perempuan ketika salah satunya menjadi korban sistem tersebut. Bias gender mengacu pada sikap, keyakinan, dan tindakan yang secara tidak adil memihak atau mendiskriminasi seseorang berdasarkan jenis kelaminnya.</p><p><br/></p><p>Contoh Praktik Bias Gender</p><p>1. Perempuan lebih sering bertanggung jawab atas rumah tangga, Padahal laki-laki pun bisa untuk ikut berkontribusi dalam urusan rumah tangga, tidak selalu perempuan.</p><p>2. Laki-laki dianggap aktif dalam urusan pernikahan dan seksualitas. nyatanya belum tentu laki-laki bisa dan paham di dalam urusan tersebut.</p><p>3. Ketidakseimbangan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 07:16:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366031644</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nabilahfauziah2</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366054552</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nabila Fauziah 2221240020</strong></p><p><strong>Kelas: 2A</strong></p><p>Dari pertemuan hari ini, saya jadi mengetahui bahwa pendidikan berwawasan gender sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil. Saya memahami bahwa pendidikan tidak hanya sekadar memberikan ilmu, tetapi juga berperan dalam menanamkan nilai-nilai kesetaraan gender sejak dini. Selain itu, saya menyadari bahwa keluarga memiliki peran besar dalam membentuk identitas gender anak melalui pola asuh yang diterapkan.</p><p><br/></p><p>Saya juga belajar bahwa anak yang dibesarkan dengan pola asuh yang setara akan memiliki kesempatan berkembang sesuai potensinya tanpa terbebani oleh stereotip gender. Namun, ternyata bias gender masih sering terjadi, terutama dalam keluarga, di mana anak perempuan sering kali mendapatkan perlakuan lebih terbatas dibandingkan anak laki-laki. Oleh karena itu, saya memahami bahwa pendidikan gender harus menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat agar setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi tanpa diskriminasi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 07:36:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366054552</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366055827</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Ratu Zahra Huwaida</p><p>NIM: 2221240054</p><p>Kelas: 2221240054</p><p><br/></p><p><strong>Pembahasaan pada hari ini tentang Peran Keluarga, Pola Pengasuhan dan Analisis</strong></p><p><strong>Bias Gender Dalam PraktikPendidikan.</strong></p><p><br/></p><p>Istilah kata “gender” berasal dari bahasa inggris, yang berarti “jenis kelamin”. Menurut Adriany (2014) menjelaskan bahwa istilah “gender” mengacu pada konsep perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakter emosional. Gender berbeda dengan konsep jenis kelamin karena melibatkan peran dan fungsi sosial unik laki-laki dan perempuan, yang dibentuk oleh lingkungan tempat kita tinggal.</p><p><br/></p><p>Konsep “kesetaraan gender dalam pengasuhan anak” menekankan bahwa perempuan dan laki-laki harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendidik anak, tanpa mempertimbangkan jenis kelamin mereka.</p><p><br/></p><p>Menurut bahasa “bias” merupakan dianggap sebagai situasi yang baik atau buruk. Meskipun gender adalah atribut yang ditanamkan pada laki-laki maupun perempuan dan dibentuk secara sosial dan budaya, perilaku bias gender berasal dari sistem dan struktur yang dapat merugikan laki-laki maupun perempuan ketika salah satunya menjadi korban sistem tersebut. Bias gender mengacu pada sikap, keyakinan,dan tindakan yang secara tidak adil memihak atau mendiskriminasi seorang berdasarkan jenis kelamin mereka.</p><p><br/></p><p>Contoh praktik bias gender:</p><p>a) Laki-laki sering dianggap sebagai representasi dari berbagai hal,</p><p>terutama yang berkaitan dengan kesuksesan dan kebaikan,</p><p>b) Laki-laki dianggap aktif dalam urusan pernikahan dan seksualitas,</p><p>c) Perempuan lebih sering bertanggung jawab atas rumah tangga,</p><p>d) Perempuan sering dianggap negatif, dan</p><p>e) Ada ketidakseimbangan dalam hubungan antara laki-laki dan</p><p>perempuan</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 07:38:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366055827</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>lyfiaal</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366208449</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Amanda Azkha Alifia Londi</p><p>Kelas: 2B</p><p>NIM: 2221240040</p><p><br/></p><p>Istilah kata “gender” berasal dari bahasa inggris, yang berarti “jenis kelamin”. Menurut Adriany (2014) menjelaskan bahwa istilah “gender” mengacu pada konsep perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakter emosional. Gender berbeda dengan konsep jenis kelamin karena melibatkan peran dan fungsi sosial unik laki-laki dan perempuan, yang dibentuk oleh lingkungan tempat kita tinggal. </p><p>Konsep “kesetaraan gender dalam pengasuhan anak” </p><p>menekankan bahwa perempuan dan laki-laki harus </p><p>memiliki kesempatan yang sama untuk mendidik </p><p>anak, tanpa mempertimbangkan jenis kelamin mereka. Konsep dasar adalah bahwa untuk mengasuh anak, baik perempuan maupunlaki-laki memiliki </p><p>kemampuan yang sama, dan tanggung jawab harus dibagi secara adil dan seimbang (Shofiyatun Nisa’ &amp; Kurniawan, 2024). </p><p><br/></p><p>-<mark>Aspek penting gagasan</mark></p><p>a. Pembagian tugas yang adil, </p><p>perempuan dan laki-laki </p><p>harus berbagi bertanggung </p><p>jawab pengasuhan tanpa </p><p>memandang jenis kelamin.</p><p> </p><p>b. Pengambilan keputusan </p><p>bersama, keduanya memiliki </p><p>jumlah suara yang saat </p><p>mengambil keputusan.</p><p> </p><p>c. Akses yang sama terhadap sumber daya, perempuan dan laki-laki seharusnya memiliki akses  yang sama terhadap sumber daya yang diperlukan untuk pengasuhan.</p><p> </p><p>d. Perubahan sikap dan perilaku, pentingnya untuk mengubah </p><p>pandangan orang lain perempuan dan laki-laki tentang peran dalam pengasuhan.</p><p><br/></p><p>-<mark>Bias gender dalam peraktik</mark></p><p>Menurut bahasa “bias” merupakan dianggap sebagai situasi yang baik atau buruk. Meskipun gender adalah atribut yang ditanamkan pada laki-laki maupun perempuan dan dibentuk secara sosial dan budaya, perilaku bias gender berasal dari sistem dan struktur yang dapat merugikan laki-laki maupun perempuan ketika salah satunya menjadi korban sistem tersebut. Bias gender mengacu pada sikap, keyakinan,dan tindakan yang secara tidak adil memihak atau mendiskriminasi seorang berdasarkan jenis kelamin mereka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 10:06:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366208449</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>seviasalsabila0</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366216705</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Sevia Salsabila Azahra </strong></p><p><strong>Kelas : 2B ( 2221240024)</strong></p><p><br/></p><p>Pembahasan pada hari ini membahas tentang peran keluarga, pola pengasuhan, dan analisis bias gender dalam praktik pendidikan keluarga.</p><p><br/></p><p><strong>Peran Keluarga</strong></p><p>Keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan nilai-nilai individu. Beberapa peran utama keluarga meliputi:</p><p><strong>•Pendidikan Awal: </strong>Keluarga adalah tempat pertama di mana anak-anak belajar nilai, norma, dan keterampilan sosial.</p><p><strong>•Dukungan Emosional: </strong>Keluarga memberikan dukungan emosional yang penting untuk perkembangan mental dan emosional anak.</p><p><strong>•Pengajaran Moral: </strong>Keluarga mengajarkan prinsip-prinsip moral dan etika yang menjadi dasar bagi kehidupan sosial anak.</p><p><br/></p><p><strong>Pola Pengasuhan</strong></p><p>Pola pengasuhan merujuk pada cara orang tua mendidik dan membesarkan anak-anak mereka. Beberapa pola pengasuhan yang umum adalah:</p><p><strong>•Pengasuhan Otoriter: </strong>Orang tua membuat keputusan tanpa masukan dari anak, dan anak diharapkan patuh tanpa pertanyaan.</p><p><strong>•Pengasuhan Permissif:</strong> Orang tua cenderung membiarkan anak melakukan apa yang mereka inginkan dengan sedikit atau tanpa batasan.</p><p><strong>•Pengasuhan Demokratis: </strong>Orang tua melibatkan anak dalam pengambilan keputusan dan menghargai pendapat mereka.</p><p><br/></p><p><strong>Analisis Bias Gender dalam Praktik Pendidikan Keluarga</strong></p><p>Bias gender adalah preferensi atau prasangka terhadap satu jenis kelamin yang dapat mempengaruhi cara orang tua mendidik anak-anak mereka. Beberapa aspek penting dalam analisis ini meliputi:</p><p><strong>•Peran Tradisional: </strong>Stereotip tradisional tentang peran gender dapat mempengaruhi ekspektasi dan perilaku orang tua terhadap anak laki-laki dan perempuan.</p><p><strong>•Penghargaan dan Pengakuan: </strong>Cara orang tua memberikan penghargaan dan pengakuan kepada anak-anak mereka sering kali dipengaruhi oleh norma gender.</p><p><strong>•Pembagian Tugas: </strong>Pembagian tugas rumah tangga dan tanggung jawab antara anak laki-laki dan perempuan dalam keluarga dapat mencerminkan bias gender.</p><p><br/></p><p>Dengan memahami peran keluarga, pola pengasuhan, dan bias gender, praktisi pendidikan keluarga dapat bekerja untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung perkembangan semua anggota keluarga secara merata.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 10:14:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366216705</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ica818572</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366270618</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Nurrohmatun Nisa</p><p>Nim: 2221240094</p><p>Kelas 2B </p><p><br/></p><p><br/></p><p>Pertemua kali ini membahas materi tentang “PERAN KELUARGA, POLA PENGASUHAN DAN ANALISIS BIAS GENDER DALAM PRAKTIK PENDIDIKAN”</p><p><br/></p><p>Peran keluarga dalam pembentukan identitas gender : Adriany (2014) menjelaskan bahwa kata "gender" berasal dari bahasa Inggris, yang berarti "jenis kelamin", dan mengacu pada konsep perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakter emosional.  Gender berbeda dari konsep jenis kelamin karena melibatkan peran dan fungsi sosial yang berbeda untuk laki-laki dan perempuan, yang dibentuk oleh lingkungan kita.</p><p><br/></p><p>POLA PENGASUHAN BERBASIS KESETARAAN</p><p><br/></p><p>Konsep "kesetaraan gender dalam pengasuhan anak" menekankan bahwa perempuan dan laki-laki harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendidik anak, tanpa mempertimbangkan jenis kelamin mereka. Konsep dasar dari konsep ini adalah bahwa baik perempuan maupun laki-laki memiliki kemampuan yang sama untuk mendidik anak, dan tanggung jawab harus dibagi secara seimbang dan adil (Shofiyatun Nisa &amp; Kurniawan, 2024).</p><p><br/></p><p>BIAS GENDER DALAM PRAKTIK</p><p><br/></p><p>"Bias" berarti dianggap sebagai keadaan yang baik atau buruk.  Meskipun gender merupakan sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan dan dibentuk secara sosial dan budaya, perilaku bias gender berasal dari sistem dan struktur yang dapat merugikan laki-laki maupun perempuan ketika sistem tersebut menjadi korban.  Sikap, pendapat, dan tindakan yang secara tidak adil memihak atau mendiskriminasi seseorang berdasarkan jenis kelamin mereka disebut bias gender.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 11:07:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366270618</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rizqyahfatihahaulia</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366316002</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Fatihah Aulia Rizqyah</p><p>NIM : 2221240038</p><p>Kelas : 2B</p><p><br/></p><p>Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk identitas gender anak. Ketika ayah dan ibu saling berbagi tanggung jawab dalam pengasuhan, hal ini dapat membantu mengurangi pandangan yang bias terhadap gender. Namun, masih ada anggapan bahwa ibu lebih bertanggung jawab dalam merawat anak, sementara ayah lebih fokus pada mencari nafkah.</p><p><br/></p><p>Di dunia pendidikan, stereotip gender juga masih terlihat jelas. Anak laki-laki sering kali diarahkan untuk belajar di bidang sains dan teknologi, sedangkan anak perempuan lebih didorong untuk terlibat dalam bidang sosial. Hal ini dapat membatasi pilihan dan peluang mereka untuk berkembang sesuai dengan minat dan bakat masing-masing.</p><p><br/></p><p>Kesetaraan gender bukan hanya tentang memberikan hak yang sama, tetapi juga tentang menciptakan cara pandang yang lebih adil. Setiap individu seharusnya dinilai berdasarkan kemampuan dan potensi mereka, bukan berdasarkan jenis kelamin. Oleh karena itu, perubahan harus dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat sekitar.</p><p><br/></p><p>Dengan demikian, penting bagi kita untuk terus berupaya menciptakan lingkungan yang mendukung kesetaraan gender, agar setiap anak dapat tumbuh dan berkembang tanpa batasan yang disebabkan oleh stereotip gender.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 11:54:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366316002</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366336114</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama:M.Royyan Putra Firdaus </p><p>Nim:2221240021</p><p>Kelas:2B</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>Peran Keluarga dalam Pendidikan</p><p>Keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan pola pikir anak terkait kesetaraan gender. Pendidikan gender dalam keluarga dapat membantu menciptakan relasi yang harmonis antara laki-laki dan perempuan. Dengan manajemen sumber daya keluarga yang berwawasan gender, orang tua dapat mengurangi kesenjangan gender dan memberikan kesempatan yang setara kepada anak-anak untuk berkembang sesuai potensi mereka tanpa memandang jenis kelamin. </p><p><br/></p><p>Pola Pengasuhan dan Bias Gender</p><p>Pola pengasuhan orang tua sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya dan persepsi gender. Di Indonesia, bias gender sering terjadi dalam pola asuh anak. Penelitian menunjukkan bahwa 65,31% pengasuhan anak usia dini mengandung bias gender. Pola asuh otoriter memiliki tingkat bias tertinggi (55,14%), diikuti oleh pola asuh permisif (29,61%) dan demokratis (22,01%). </p><p><br/></p><p>Bias Gender dalam Praktik Pendidikan</p><p>Bias gender juga ditemukan dalam praktik pendidikan formal. Contohnya adalah pelabelan stereotip seperti "anak perempuan rajin" dan "anak laki-laki malas," serta perhatian yang lebih besar diberikan kepada siswa laki-laki dibandingkan siswi perempuan dalam proses belajar-mengajar. Stereotip ini memperkuat subordinasi perempuan di lingkungan pendidikan. </p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 12:13:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366336114</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366342773</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama:muhammad anderson</p><p>kelas:2b</p><p>nim:2221240083</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>Kata "gender" berasal dari bahasa Inggris yang berarti "jenis kelamin". Menurut Adriany (2014), istilah "gender" merujuk pada konsep perbedaan antara laki-laki dan perempuan, baik dalam hal peran, perilaku, mentalitas, maupun karakter emosional. Gender berbeda dengan jenis kelamin karena melibatkan peran dan fungsi sosial yang unik bagi laki-laki dan perempuan, yang dibentuk oleh lingkungan sosial tempat mereka tinggal.</p><p>Konsep "kesetaraan gender dalam pengasuhan anak" menekankan bahwa perempuan dan laki-laki harus memiliki peluang yang setara dalam mendidik anak, tanpa mempertimbangkan jenis kelamin mereka.</p><p>Dalam bahasa, "bias" merujuk pada pandangan yang menganggap suatu situasi sebagai baik atau buruk. Meskipun gender merupakan atribut yang dibentuk secara sosial dan budaya untuk laki-laki dan perempuan, perilaku bias gender muncul dari sistem dan struktur yang dapat merugikan kedua belah pihak, tergantung siapa yang menjadi korban dari sistem tersebut. Bias gender mengacu pada sikap, keyakinan, dan tindakan yang secara tidak adil mendukung atau mendiskriminasi seseorang berdasarkan jenis kelaminnya.</p><p>Contoh praktik bias gender meliputi: a) Laki-laki sering dianggap sebagai simbol dari berbagai hal, terutama yang berkaitan dengan kesuksesan dan kebaikan. b) Laki-laki dianggap lebih aktif dalam urusan pernikahan dan seksualitas. c) Perempuan lebih sering dibebani tanggung jawab rumah tangga. d) Perempuan sering dipandang secara negatif. e) Ada ketidakseimbangan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 12:19:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366342773</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>azzahrapingkan58</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366343568</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Azzahra Diana Pingkan</p><p>Nim: 2221240036</p><p><br/></p><p>saya ingin meriview pertemuan ke 2 </p><p>Peran keluarga dalam pembentukan identitas  "gender" berasal dari bahasa inggris, yang berarti "jenis kelamin". Menurut Adriany (2014) menjelaskan bahwa istilah "gender" mengacu pada konsep perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakter emosional.</p><p>pola pengasuhan berbasis kesetaraan gender Konsep "kesetaraan gender dalam pengasuhan anak" menekankan bahwa perempuan dan laki-laki harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendidik anak, tanpa mempertimbangkan jenis kelamin mereka.</p><p>contoh praktik bias gender</p><p>- Laki-laki sering dianggap sebagai representasi dari berbagai hal, terutama yang berkaitan dengan kesuksesan dan kebaikan,</p><p>- Laki-laki dianggap aktif dalam urusan pernikahan dan seksualitas,</p><p>- Perempuan lebih sering bertanggung jawab atas rumah tangga,</p><p>- Perempuan sering dianggap negatif, dan </p><p>- Ada ketidakseimbangan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 12:19:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366343568</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366353759</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA: JAHARUDIN</p><p>NIM: 2221240084</p><p>KELAS: 2B</p><p><strong>Peran, Pola Pengasuhan, dan Analisis Gender dalam Praktik Pendidikan</strong></p><ol><li><p><strong>Peran Keluarga dalam Identitas Gender</strong></p><ul><li><p>Keluarga membentuk pemahaman anak tentang gender melalui pola asuh, nilai, dan ekspektasi sosial.</p></li><li><p>Anak sering diarahkan pada peran gender tertentu sejak kecil, misalnya laki-laki diajarkan untuk mandiri, sementara perempuan lebih diarahkan pada tugas domestik.</p></li></ul></li><li><p><strong>Pola Pengasuhan Berbasis Kesetaraan Gender</strong></p><ul><li><p>Mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak serta tanggung jawab yang sama dalam kehidupan.</p></li><li><p>Mendorong pembagian peran yang adil dalam keluarga tanpa membedakan jenis kelamin, seperti ayah juga berperan dalam pengasuhan anak.</p></li></ul></li><li><p><strong>Analisis Gender dalam Praktik Pendidikan</strong></p><ul><li><p>Masih ada bias gender dalam pendidikan, seperti anggapan bahwa mata pelajaran STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) lebih cocok untuk laki-laki.</p></li><li><p>Kurikulum dan bahan ajar sering kali kurang mencerminkan kesetaraan gender.</p></li><li><p>Peran guru sangat penting dalam memastikan lingkungan belajar yang adil bagi semua gender.</p></li></ul></li></ol><p>Kesimpulannya, kesetaraan gender dalam pendidikan harus dimulai dari keluarga melalui pola pengasuhan yang inklusif, serta didukung oleh sistem pendidikan yang bebas dari bias gender.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 12:28:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366353759</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rosanataliatarigan02</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366398522</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Rosa Natalia Tarigan</p><p>Nim    : 2221240068</p><p>Kelas  : 2B</p><p><br/></p><p><strong>PERAN KELUARGA DALAM PEMBENTUKAN IDENTITAS GENDER</strong></p><p>Istilah kata “gender” berasal dari bahasa inggris, yang berarti “jenis kelamin”. Menurut Adriany (2014) menjelaskan bahwa istilah “gender” mengacu pada konsep perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakter emosional. Gender berbeda dengan konsep jenis kelamin karena melibatkan peran dan fungsi sosial unik laki-laki dan perempuan, yang dibentuk oleh lingkungan tempat kita tinggal.</p><p>Menurut bahasa “bias” merupakan dianggap sebagai situasi yang baik atau buruk. Meskipun gender adalah atribut yang ditanamkan pada laki-laki maupun perempuan dan dibentuk secara sosial dan budaya, perilaku bias gender berasal dari sistem dan struktur yang dapat merugikan laki-laki maupun perempuan ketika salah satunya menjadi korban sistem tersebut. Bias gender mengacu pada sikap, keyakinan,dan tindakan yang secara tidak adil memihak atau mendiskriminasi seorang berdasarkan jenis kelamin mereka.</p><p><br/></p><p><strong>CONTOH PRAKTIK BIAS GENDER</strong> </p><p>a) Laki-laki sering dianggap sebagai representasi dari berbagai hal, terutama yang berkaitan dengan kesuksesan dan kebaikan</p><p> b) Laki-laki dianggap aktif dalam urusan pernikahan dan seksualitas</p><p> c) Perempuan lebih sering bertanggung jawab atas rumah tangga</p><p>d) Perempuan sering dianggap negatif, dan e) Ada ketidakseimbangan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan</p><p><br/></p><p>Kesimpulan mengenai Peran Keluarga dalam Pembentukan Identitas Gender menunjukkan bahwa istilah "gender" merujuk pada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam aspek peran, perilaku, serta karakter emosional yang terbentuk melalui pengaruh sosial dan budaya. Konsep kesetaraan gender dalam pengasuhan anak menekankan pentingnya memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan dan laki-laki dalam mendidik anak, serta menjalankan tanggung jawab secara adil. Bias gender merupakan masalah yang kompleks dan mendalam, mencakup berbagai pandangan, kepercayaan, serta tindakan diskriminatif yang ditujukan kepada individu berdasarkan jenis kelamin. Baik laki-laki maupun perempuan bisa menjadi korban bias ini, yang dapat muncul di berbagai aspek kehidupan, termasuk di tempat kerja, pendidikan, dan dalam masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 13:06:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366398522</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366412655</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Natasha Kayla </p><p>Nim : 2221240032</p><p>Kelas : 2A</p><p>Salah satu nilai yang ditanamkan dalam</p><p>keluarga kepada anak adalah gender.</p><p>Keluarga merupakan agen sosialisasi yang</p><p>pertama mengajarkan seorang anak laki-laki</p><p>untuk menganut sifat maskulin, dan seorang</p><p>anak perempuan menganut sifat feminim.</p><p>Terdapat tiga hal yang mempengaruhi</p><p>perkembangan gender, yaitu pengaruh</p><p>biologis, sosial, dan kognitif. Pertama,</p><p>pengaruh biologis dipahami melalui faktor-</p><p>faktor biologis dari keturunan. Kedua,</p><p>pengaruh sosial dipahami melalui faktor-</p><p>faktor yang muncul dari interaksi antara</p><p>seorang anak terhadap lingkungnnya, baik</p><p>dalam keluarga, budaya, masyarakat, media</p><p>maupun sekolah.Ketiga, pengaruh kognitif</p><p>yang dipahami bahwa pembagian gender</p><p>anak terjadi setelah anak berfikir bahwa</p><p>dirinya laki-laki atau perempuan, setelah</p><p>mereka secara konsisten menyadari bahwa</p><p>dirinya laki-laki atau perempuan dengan</p><p>memilih aktivitas, objek, dan sikap yang</p><p>konsisten dengan label ini.</p><p>Setelah mengatahui klasifikasi tersebut</p><p>maka kita dapat menyimpulkan bahwa</p><p>pengaruh orang tua diklasifikasikan sebagai</p><p>pengaruh sosial terhadap gender. Peran orang</p><p>tua terhadap perkembangan gender adalah</p><p>awal yang penting dalam suatu komunitas</p><p>karena merupakan lingkup terkecil dan</p><p>terdekat dalam suatu hubungan interpersonal.</p><p>Peran ini akan menjadi pola yang membentuk</p><p>karakter sebuah individu terhadap</p><p>perkembangan gendernya. Perilaku orang tua</p><p>terhadap anak mereka akan menjadi</p><p>konstruksi identitas yang terekam dalam diri</p><p>seorang anak.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 13:17:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366412655</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366412761</link>
         <description><![CDATA[<p>Difa Desti Sabillah</p><p>2221240097</p><p>2A </p><p><br/></p><p><br/></p><p>Pendidikan berwawasan gender menekankan pentingnya peran keluarga dalam membentuk identitas dan konsep diri anak, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga kepribadian dan sosial. Anak belajar peran gender melalui lingkungan sekitar, seperti keluarga, sekolah, teman, dan media, serta melalui teori imitasi dan reinforcement. Pengasuhan berbasis kesetaraan gender mendorong perlakuan adil bagi anak laki-laki dan perempuan, mencakup kasih sayang, tanggung jawab, pendidikan bebas, serta penanaman nilai anti diskriminasi. Pendidikan gender penting untuk menciptakan masyarakat yang adil dan harus menjadi tanggung jawab bersama keluarga, sekolah, dan masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 13:17:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366412761</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366413159</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Athiyatun Najah</p><p>Kelas : 2A</p><p>Nim : 2221240078</p><p>Di pertemuan minggu ini mata kuliah analisis gender membahas mengenai Pendidikan Berwawasan Gender dalam materi tersebut membahas mengenai peran keluarga dalam pembentukan identitas gender. Pembentukan identitas gender sendiri tidak hanya berpusat pada akademik akan tetapi juga mencakup pada perkembangan anak baik dari konsep diri ataupun kepribadian seorang anak. Adapun 3 Teori Menurut Maccoby dan Jacklin yaitu : 1) Teori Imitasi, dalam teori ini anak-anak belajar gender dengan cara meniru orang sekitar. 2) Teori Sosialicatizion, teori ini juga menjelaskan bahwa anak-anak belajar peran gender dari keluarga, sekolah, teman serta media sejak kecil. Da menyesuaikan diri dengan norma yang diajarkan. 3) Teori Rainfocement, teori ini juga menjelaskan bahwa anak-anak belajar peran gender berdasarkan dipuji atau diberi hadiah jika sesuai dengan harapan masyarakat, dan ditegur atau di koreksi jika tidak. Dalam pola pengasuhan berbasis kesetaraan gender juga berfokus terhadap memberikan perlakuan yang setara antara anak laki-laki dan anak perempuan dalam berbagai hal baik pendidikan ataupun tanggung jawab.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 13:17:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366413159</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>valfathory</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366423553</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Muhammad Virly Al Fathory</strong></p><p><strong>II-A</strong></p><p>2221240065</p><p><br/></p><p>Pada presentasi kali ini, kelompok 2 dari kelas II A telah mempresentasikan mengenai pendidikan berwawasan gender, sebagaimana telah di jelaskan bahwa peran keluarga dalam pembentukan identitas gender sangat berperan penting, ini menunjukan bahwa bukan hanya akademik semata sebagai bahan orientasi belajar, tetapi kembali ke pendidikan dari setiap anak yaitu kedua orang tua, kedua orang tua yang cukup bisa memiliki wawasan yang luas dapat mengimplementasikanya dengan baik pula terhadap anak, terkait pengkuatan identitas diri ataupun gender, maka pondasi ketika dewasa nanti menjadi kuat dalam harga diri identitas dan tidak melakukan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan hukum alam identitas gender.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 13:26:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366423553</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366424797</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Almaida Septiani </p><p>Kelas: 2A</p><p>NIM: 2221240049</p><p>PENDIDIKAN BERWAWASAN GENDER</p><p><br/></p><p>PERAN KELUARGA DALAM</p><p>PEMBENTUKAN IDENTITAS GENDER</p><p>Pendidikan keluarga tidak hanya berpusat pada akademik semata tetapi juga mencakup perkembangan anak baik dari konsep diri maupun kepribadian anak. Sebagaimana yang disampaikan Hurlock bahwa melalui keluarga, anak belajar mengenai nilai, norma, peran sosial, adat istiadat yang ditanamkan oleh orang tuanya serta belajar memainkan perannya sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. </p><p><br/></p><p>TIGA TEORI MENURUT MACCOBY DAN JACKLIN</p><p>TEORI IMITASI</p><p>Anak-anak belajar gender dengan meniru orang disekitarnya dan menganggapnya sebagai aturan.</p><p>TEORI SOCIALIZATION</p><p>Anak-anak belajar peran gender dari keluarga, sekolah,</p><p>teman, dan media sejak kecil, lalu menyesuaikan diri</p><p>dengan norma yang diajarkan.</p><p>TEORI REINFORCEMENT.</p><p>Anak-anak belajar peran gender karena dipuji atau</p><p>diberi hadiah jika sesuai dengan harapan masyarakat,</p><p>dan ditegur atau dikoreksi jika tidak, sehingga mereka</p><p>cenderung mengikuti aturan gender yang ada.</p><p><br/></p><p>POLA PENGASUHAN BERBASIS KESETARAAN GENDER</p><p>Kesetaraan gender menjadi isu penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pengasuhan anak. Pola pengasuhan berbasis kesetaraan gender berfokus pada  yang setara bagi anak laki-laki dan perempuan dalam berbagai hal, seperti pendidikan,hak, dan tanggung jawab.</p><p><br/></p><p>PRINSIP-PRINSIP UTAMA DALAM PENGASUHAN</p><p>BERBASIS KESETARAAN GENDER:</p><p>1. Kesetaraan dalam Pemberian Kasih Sayang dan Perhatian</p><p>2. Pembagian Tanggung Jawab yang Adil dalam Keluarga</p><p>3. Penghormatan terhadap Hak dan Keputusan Anak</p><p>4. Pendidikan yang Tidak Bias Gender</p><p>5. Mendorong Kebebasan Bereksplorasi dan Mengembangkan Potensi6. Komunikasi yang Setara dan Inklusif</p><p>7. Menjadi Role Model dalam Kesetaraan Gender</p><p>8. Menanamkan Nilai-Nilai </p><p>Anti-Diskriminasi dan Empati</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 13:26:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366424797</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366437267</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Yudi wahyudi </p><p>Nim : 2221240062</p><p>Kelas 2A</p><p><br/></p><p>Pertemuan kali ini membahas tentang pendidikan berwawasan gender dalam ruang lingkup keluarga dari yang saya presentasikan bersama teman teman,Kesetaraan gender menjadi isu penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pengasuhan anak. Karena Pola pengasuhan berbasis kesetaraan gender berfokus pada memberikan perlakuan yang setara bagi anak laki-laki dan perempuan dalam berbagai hal, seperti pendidikan hak, dan tanggung jawab.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 13:33:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366437267</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nkiranah</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366442416</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Nisa Kiranah </p><p>Kelas : 2A</p><p>Nim : 2221240077</p><p>Di pertemuan minggu ini kelompok 2 telah memaparkan materi tentang pendidikan berwawasan gender. Yaitu pendidikan yang berwawasan gender menekankan pentingnya mencakup tidak hanya aspek akademik, tetapi juga pengembangan konsep diri dan kepribadian anak. Dalam hal ini, keluarga memiliki peran yang sangat vital dalam membentuk identitas gender melalui pola asuh yang diterapkan. Anak-anak belajar tentang peran gender dengan meniru lingkungan di sekitar mereka serta melalui penguatan dari interaksi sosial. Kesetaraan gender dalam pengasuhan menjadi kunci untuk memberikan perlakuan yang adil bagi anak laki-laki dan perempuan, termasuk dalam hal kasih sayang, tanggung jawab, hak, dan pendidikan. Dengan menerapkan prinsip kesetaraan gender dalam pola asuh, anak-anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi mereka tanpa terikat pada stereotip gender yang ada. Namun, masih terdapat bias gender yang sering muncul, terutama dalam konteks pendidikan di dalam keluarga. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif dari sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih adil dan setara bagi semua individu.Pendidikan yang berwawasan gender menekankan pentingnya mencakup tidak hanya aspek akademik, tetapi juga pengembangan konsep diri dan kepribadian anak. Dalam hal ini, keluarga memiliki peran yang sangat vital dalam membentuk identitas gender melalui pola asuh yang diterapkan. Anak-anak belajar tentang peran gender dengan meniru lingkungan di sekitar mereka serta melalui penguatan dari interaksi sosial. Kesetaraan gender dalam pengasuhan menjadi kunci untuk memberikan perlakuan yang adil bagi anak laki-laki dan perempuan, termasuk dalam hal kasih sayang, tanggung jawab, hak, dan pendidikan. Dengan menerapkan prinsip kesetaraan gender dalam pola asuh, anak-anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi mereka tanpa terikat pada stereotip gender yang ada. Namun, masih terdapat bias gender yang sering muncul, terutama dalam konteks pendidikan di dalam keluarga. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif dari sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih adil dan setara bagi semua individu.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 13:37:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366442416</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>sitianini1122</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366498849</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama : Siti Nur’Aini </strong></p><p><strong>Nim : 2221240005 </strong></p><p><strong>Kelas : 2A</strong></p><p><br/></p><p>Materi ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan yang mempertimbangkan aspek gender untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara. Salah satu contohnya adalah bagaimana pola asuh keluarga membentuk identitas gender anak-anak. Anak-anak belajar peran gender melalui imitasi, penguatan sosial, dan pengalaman sehari-hari dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial lainnya. Tapi masalah seperti bias gender yang sering terjadi dalam pendidikan keluarga masih ada.  Anak perempuan seringkali menerima perlakuan yang lebih terbatas dibandingkan anak laki-laki dalam hal kebebasan, tanggung jawab, dan akses ke pendidikan dan peluang lainnya.  Untuk menyelesaikan masalah ini, pendekatan pengasuhan yang mengutamakan kesetaraan gender harus diterapkan.  Ini termasuk memberikan hak anak, penghormatan terhadap hak mereka, pembagian tanggung jawab yang adil, dan pendidikan yang bebas dari diskriminasi gender.  Selain itu, orang tua dan pendidik harus menjadi role model dalam menerapkan nilai-nilai anti-diskriminasi dan kesetaraan gender.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 14:19:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366498849</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366515803</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: LUTVIHAKIM </p><p>Nime :2221240034</p><p>Kelas :2A</p><p><br/></p><p>Pada pertemuan hari ini kelompok 2 telah memperesentasikan tentang pendidikan berwawasan gender </p><p>Dengan topik pembahasan san peran keluarga dalam pembentukan indentitas gender </p><p>Pendidikan keluarga tidak hanya berpusat pada akademik semata tetapi juga mencakup perkembangan anak baik dari konsep diri maupun kepribadian anak. </p><p>Sebagai mana yang telah di sampaikan Hurlock bahwa melalui keluarga , anak belajar mengenai nilai,norma,peran sosial, adat istiadat yang di tanamkan oleh orang tuanya </p><p>Ada 2 teori menurut marcoby dan jacklin</p><p>1.teori sosialcatizion</p><p>2.teori rainforcement</p><p><br/></p><p>Pola pengasuhan berbasis kesetaraan gender kesetaraan gender menjadi isu penting dalam berbagai aspek kehidupan </p><p><br/></p><p>Prinsip pernsip utama dalam pengasuhan berbasis kesetaraan gender </p><p>1.kesetaran dalam pemberian perhatian dan kasih sayang </p><p>2.pembagian tanggung jawab yang adil dalam keluarga </p><p><a rel="noopener noreferrer nofollow" href="http://3.pe">3.pe</a>nghormatan terhadap hak dan keputusan anak </p><p>4.pendidikan yang tidak bias gender </p><p>5.mendorong kebebasan berekplorasi  dan mengembangkan potensi </p><p>6.kominikasi yang setara dengan inklusif </p><p>7.menjais roler model dalam kesetaraan gender </p><p>8.menambah nilai-nilai  diskriminasi dan empati </p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 14:31:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366515803</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366757738</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Moh Firdausil Mutaqin</p><p>Nim : 2221240079</p><p>kelas : 2A</p><p><br/></p><p>pada pertemuan kali ini membahas tentang "peran keluarga dalam pembentukan gender" </p><p><br/></p><p>Keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenali anak, dan memiliki pengaruh besar dalam pembentukan identitas gender. Sebagai tempat sosialisasi pertama, keluarga memegang peran penting dalam mengenalkan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku terkait gender.  </p><p>kelompok 2 menjelaskan poin' yang saya fahami di antaranya sebagai berikut.</p><p><br/></p><ol><li><p><strong>Sosialisasi Gender Sejak Dini:</strong> Sejak usia dini, anak-anak mulai mempelajari peran dan ekspektasi berdasarkan jenis kelamin nya. Orang tua, sebagai figur utama dalam keluarga, secara langsung maupun tidak langsung mengajarkan nilai-nilai gender melalui perilaku sehari-hari, seperti cara berbicara, berpakaian, atau berinteraksi. Misalnya, anak laki-laki seringkali diberikan mainan yang lebih bersifat aktif atau konstruktif, sementara anak perempuan diberi mainan yang lebih bersifat lembut atau sosial.</p></li><li><p><strong>Penyebaran Stereotip Gender:</strong> Dalam keluarga, anak-anak juga sering diperkenalkan dengan stereotip gender yang sudah ada dalam masyarakat. Orang tua atau anggota keluarga lainnya dapat tanpa disadari memperkuat peran-peran tradisional, seperti menganggap laki-laki harus menjadi pemimpin atau pencari nafkah, sementara perempuan lebih berfokus pada pekerjaan rumah tangga dan merawat anak. Hal ini dapat membatasi peluang anak untuk mengembangkan potensi mereka sesuai dengan minat dan bakat yang tidak dibatasi oleh konstruksi sosial tentang gender.</p></li><li><p><strong>Peran Orang Tua Sebagai Model Perilaku:</strong> Orang tua berfungsi sebagai contoh pertama dalam kehidupan anak. Tindakan dan sikap orang tua terhadap pekerjaan, pembagian tugas rumah tangga, serta cara mereka berinteraksi dengan orang lain memberikan gambaran bagi anak tentang bagaimana peran gender seharusnya dijalani. Misalnya, jika seorang ayah berbagi tugas rumah tangga dengan ibu, anak-anak cenderung lebih terbuka terhadap konsep kesetaraan gender di masa depan.</p></li><li><p><strong>Pembentukan Pandangan Gender melalui Komunikasi:</strong> Keluarga yang terbuka dalam komunikasi tentang peran gender dapat membantu anak-anak membangun pemahaman yang lebih fleksibel dan inklusif mengenai gender. Diskusi mengenai perbedaan gender, kesetaraan hak, dan keadilan dapat memberikan anak-anak wawasan yang lebih luas, serta mengurangi pengaruh stereotip gender yang bisa mengekang perkembangan mereka.</p></li><li><p><strong>Pemberdayaan Anak untuk Mengikuti Potensi Mereka:</strong> Keluarga yang memahami pentingnya kesetaraan gender akan mendukung anak-anaknya tanpa membedakan berdasarkan jenis kelamin. Mereka akan memberi kesempatan yang sama bagi anak perempuan untuk mengejar pendidikan atau berkarier, serta memberi ruang bagi anak laki-laki untuk mengeksplorasi minat mereka, misalnya dalam bidang seni atau pekerjaan yang lebih mengedepankan empati dan perawatan. Dengan cara ini, anak-anak diberdayakan untuk menjadi individu yang berkembang sesuai dengan kemampuan dan pilihan mereka, tanpa terbatas oleh peran gender tradisional.</p></li><li><p><strong>Pendidikan Tentang Kesetaraan Gender:</strong> Keluarga yang memberikan pendidikan tentang kesetaraan gender mengajarkan anak-anak untuk menghargai satu sama lain tanpa memandang jenis kelamin. Hal ini penting untuk mengurangi diskriminasi gender yang sering terjadi dalam masyarakat. Keluarga juga dapat memperkenalkan konsep hak asasi manusia, di mana semua individu berhak memperoleh kesempatan yang setara dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, pekerjaan, dan kebebasan berpendapat.</p></li></ol><p>Secara keseluruhan, keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan identitas gender anak. Dengan memberikan teladan yang adil, mendukung kesetaraan, dan mengurangi pengaruh stereotip gender, keluarga dapat membantu anak-anak mengembangkan potensi nya tanpa dibatasi oleh konstruksi sosial mengenai gender. Ini akan menciptakan generasi yang lebih peka terhadap isu-isu gender dan berkontribusi pada masyarakat yang lebih inklusif dan setara.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 18:06:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366757738</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nadyark</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366770179</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama:Nadya Rizqia Khairina</p><p>Kelas:2A</p><p> <br><mark>Definisi dan Tujuan🎯</mark></p><p>1. Pendidikan Berwawasan Gender adalah pendekatan&nbsp; pendidikan yang menekankan pentingnya kesetaraan gender dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pendidikan dan pola pengasuhan anak.Yang menekankan pentingnya kesetaraan gender dalam berbagai aspek kehidupan.</p><p>2. Tujuan utama adalah menciptakan masyarakat yang lebih adil dan inklusif.</p><p><br/></p><p><mark>Peran Keluarga dalam Pendidikan Berwawasan Gender</mark>👨‍👩‍👦👨‍👩‍👧</p><p>1. Keluarga adalah tempat pertama di mana anak belajar nilai-nilai, norma, peran sosial, dan adat istiadat.</p><p>2. Keluarga memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk identitas gender anak.</p><p><br/></p><p><mark>Teori Pembelajaran Peran Gender🤰🏻</mark>🫃🏻</p><p>1. Teori Imitasi: anak-anak meniru perilaku orang-orang di sekitarnya yang dianggap sesuai dengan gender mereka.</p><p>2. Teori Sosialisasi: anak-anak belajar peran gender dari lingkungan mereka, seperti keluarga, sekolah, teman sebaya, dan media.</p><p>3. Teori Reinforcement: anak-anak cenderung mengikuti aturan gender karena mendapatkan pujian atau hadiah ketika mereka mematuhi norma tersebut.</p><p><br/></p><p><mark>Prinsip-Prinsip Pengasuhan Berbasis Kesetaraan Gender</mark>🧚🏻‍♂️</p><p>1. Pemberian kasih sayang dan perhatian yang setara kepada semua anak tanpa memandang jenis kelamin mereka.</p><p>2. Pembagian tanggung jawab dalam keluarga secara adil.</p><p>3. Pengajaran anak-anak untuk menghormati hak dan keputusan orang lain.</p><p>4. Pemberian kebebasan kepada anak-anak untuk bereksplorasi tanpa batasan berdasarkan stereotip gender.</p><p>5. Komunikasi yang inklusif dan setara antara orang tua dan anak.</p><p><br/></p><p><mark>Pentingnya Pendidikan Berwawasan Gender🧜🏻‍♀️🧜🏻</mark></p><p>1. Menciptakan masyarakat yang lebih adil dan inklusif.</p><p>2. Memberikan ilmu pengetahuan dan menanamkan nilai-nilai kesetaraan gender kepada generasi muda.</p><p>3. Mengatasi bias gender dan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 18:20:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366770179</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rahmaauliya040806</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366780513</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Rahma Aulia</p><p>Kelas : 2A</p><p>Nim : 2221240092</p><p><br/></p><p>Pendidikan Berwawasan Gender adalah pendekatan yang menekankan pentingnya kesetaraan gender dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pendidikan dan pola pengasuhan anak. Pendidikan ini tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan kepribadian dan konsep diri anak, yang sebagian besar dipengaruhi oleh keluarga.</p><p>Ada tiga teori utama yang menjelaskan bagaimana anak-anak mempelajari peran gender menurut Maccoby dan Jacklin:</p><p>Teori Imitasi, di mana anak-anak meniru perilaku orang-orang di sekitarnya yang dianggap sesuai dengan gender mereka.</p><p>Teori Sosialisasi, yang menyatakan bahwa anak-anak belajar peran gender dari lingkungan mereka, seperti keluarga, sekolah, teman sebaya, dan media.</p><p>Teori Reinforcement, yang menggambarkan bahwa anak-anak cenderung mengikuti aturan gender karena mendapatkan pujian atau hadiah ketika mereka mematuhi norma tersebut, atau mendapatkan koreksi ketika mereka melanggar.</p><p>Dalam hal pengasuhan, kesetaraan gender menjadi isu penting. Pola pengasuhan berbasis kesetaraan gender bertujuan untuk memberikan perlakuan yang adil bagi anak laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan, hak-hak dasar, dan tanggung jawab. Pola ini tidak hanya membebaskan anak dari stereotip gender tetapi juga memungkinkan mereka untuk mengembangkan potensi mereka secara maksimal.</p><p>Oleh karena itu, pendidikan berwawasan gender harus menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dengan kerja sama ini, setiap individu dapat memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang tanpa terikat oleh stereotip atau diskriminasi berdasarkan jenis kelamin mereka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 18:32:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366780513</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rifahiif70</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366855988</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama  : Iif Rif'ah</p><p>Nim      : 2221240050</p><p>Kelas    : 2A</p><p>Tugas  : review analisis gender pendidikan keluarga</p><p>      </p><p>      "Pendidikan Berwawasan Gender"  pendidikan berperan penting dalam membentuk kesetaraan gender di masyarakat. Keluarga memiliki pengaruh besar dalam membentuk identitas gender anak melalui pola asuh yang diterapkan. Anak yang dibesarkan dengan pola pengasuhan berbasis kesetaraan gender akan lebih bebas berkembang sesuai potensinya tanpa terikat stereotip gender.</p><p><br/></p><p>Namun, bias gender masih sering terjadi, terutama dalam pendidikan keluarga, di mana anak perempuan sering mendapat perlakuan lebih terbatas dibandingkan anak laki-laki. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif dari keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk memastikan setiap individu mendapatkan kesempatan yang sama dalam pendidikan dan kehidupan sosial.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 20:29:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366855988</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>haalthirtymei</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366863013</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Siti Kholimatul Sa'diah</strong></p><p><strong>Nim:2221240047</strong></p><p><strong>Kelas: 2A</strong></p><p><br/></p><p>Pada pertemuan kali ini membahas tentang pendidikan berwawasan gender, yang dimana di pembahasan kali ini menekankan pentingnya  pendidikan yang tidak berwawasan sesuai jenis kelamin melainkan sesuai gender, Di negara kita ini kebanyakan menekankan berdasarkan jenis kelamin sehingga terjadi ketimpangan gender,contohnya anak perempuan dianggap wajib dalam hal bersih-bersih rumah sedangkan laki-laki tidak. Hal ini menunjukkan bahwa harus ada pola pengasuhan terhadap anak sedari kecil dari keluarga agar tidak terjadi ketimpangan gender, sehingga sebelah pihak merasa tidak adil dan merasa bebannya lebih berat. Stereotipe sosial juga sangat mempengaruhi hal ini, dikarenakan stereotipe sosial ini telah menyebar luas dan dianggap benar.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 20:42:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366863013</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366871841</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Suci Oktavia Ramadani </p><p>Nim    : 2221240063</p><p>Kelas : 2A</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Pendidikan yang mempertimbangkan aspek gender berperan penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil. Keluarga memiliki pengaruh besar dalam membentuk identitas gender anak. Pendidikan dalam keluarga tidak hanya berfokus pada aspek akademik tetapi juga mencakup perkembangan konsep diri dan kepribadian anak. Anak belajar tentang gender melalui observasi dan interaksi dengan lingkungan sekitarnya, termasuk keluarga, sekolah, teman, dan media.</p><p><br/></p><p>Ada pula tiga teori menurut Maccoby dan Jacklin yang menjelaskan bagaimana anak belajar peran gender:</p><p><br/></p><p>•Teori Imitasi: Anak meniru perilaku orang lain di sekitarnya.</p><p>•Teori Sosialisasi: Anak belajar norma gender dari masyarakat dan menyesuaikan diri.</p><p>•Teori Reinforcement: Anak mendapatkan penghargaan atau teguran berdasarkan kepatuhan mereka terhadap peran gender yang diharapkan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 20:59:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366871841</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>jjuna2444</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366894317</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA ( SUCI SURYATI) 2221240010</p><p>KELAS ( 2B )</p><p><br/></p><p>Ketika membaca materi ini, saya menyadari bahwa pola asuh dalam keluarga memiliki dampak yang sangat besar terhadap cara seseorang melihat dirinya sendiri dan orang lain. Sejak kecil, kita dibentuk oleh nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga dan lingkungan sekitar. Jika sejak dini kita diajarkan bahwa perempuan harus di rumah dan laki-laki harus bekerja, maka pola pikir seperti ini akan terbawa hingga dewasa dan berdampak pada kesenjangan sosial.</p><p><br/></p><p>Identitas gender seseorang tidak terbentuk secara alami, tetapi dibentuk oleh lingkungan sosial, terutama keluarga. Sejak kecil, anak-anak belajar memahami peran gender dari apa yang mereka lihat dan alami di rumah. Jika mereka tumbuh dalam lingkungan yang masih membedakan peran laki-laki dan perempuan secara kaku—misalnya, laki-laki dianggap sebagai pemimpin dan pencari nafkah, sementara perempuan diharapkan mengurus rumah tangga—maka pola pikir ini akan terus terbawa hingga dewasa. Oleh karena itu, pola pengasuhan berbasis kesetaraan gender sangat penting untuk diterapkan dalam keluarga. Kesetaraan dalam pengasuhan berarti ayah dan ibu sama-sama memiliki tanggung jawab dalam mendidik anak, berbagi peran dalam rumah tangga, serta mengambil keputusan bersama. Dengan demikian, anak-anak akan tumbuh dengan pemahaman bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam kehidupan.  </p><p><br/></p><p>Namun, kenyataannya bias gender masih sering ditemukan, terutama dalam pendidikan dan dunia kerja. Laki-laki sering dianggap lebih layak untuk posisi kepemimpinan, sementara perempuan masih menghadapi stereotip yang membatasi perannya, seperti anggapan bahwa mereka lebih cocok untuk pekerjaan domestik atau bidang tertentu saja. Bias ini tidak hanya merugikan perempuan, tetapi juga laki-laki, karena mereka pun sering kali terbebani dengan ekspektasi bahwa mereka harus selalu kuat, mandiri, dan menjadi pencari nafkah utama. Pandangan yang tidak adil ini muncul karena sistem dan budaya yang telah mengakar di masyarakat. Oleh karena itu, kesetaraan gender bukan hanya tentang memberikan hak yang sama, tetapi juga mengubah cara pandang yang telah tertanam agar lebih inklusif dan adil bagi semua.  </p><p><br/></p><p>Setelah memahami materi ini, saya semakin menyadari bahwa bias gender sering kali terjadi tanpa disadari, tetapi dampaknya nyata dalam kehidupan. Saya juga melihat bahwa perubahan harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga dan pendidikan. Jika anak-anak sejak dini diajarkan tentang pentingnya kesetaraan dan keadilan dalam peran sosial, mereka akan tumbuh menjadi individu yang lebih terbuka dan menghargai perbedaan. Oleh karena itu, saya merasa perlu lebih kritis dalam melihat bagaimana lingkungan sekitar membentuk pola pikir saya dan orang lain. Dengan meningkatkan kesadaran ini, saya berharap bisa berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih adil, baik di keluarga, dunia pendidikan, maupun masyarakat luas.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-14 21:50:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366894317</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366956770</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Sinta rahmadini </p><p>NIM: 2221240004</p><p>Kelas: PNF 2A</p><p><br/></p><p><strong>Pendidikan berwawasan gender </strong></p><p><strong>A. Peran keluarga dalam pembentukan identitas gender </strong></p><p>Pendidikan keluarga merupakan pendidikan pertama yang didapatkan oleh seorang anak, yang tidak hanya berpusat pada akademik tapi juga mencakup seluruh proses perkembangan anak. Sebagaimana yang disampaikan hurlock bahwa anak belajar mengenai nilai, norma, peran sosial, adat istiadat serta belajar memainkan perannya sebagai makhluk individu dan makhluk sosial melalui keluarga. </p><p><strong>B. Tiga teori menurut maccoby dan jacklin</strong></p><ul><li><p>Teori imitasi </p><p>Anak-anak belajar tentang gender dengan meniru orang di sekitarnya dan menganggapnya sebagai aturan. </p></li><li><p>Teori sosialicatizion</p><p>Anak-anak belajar peran gender dari keluarga, sekolah, teman, dan media sejak kecil, lalu menyesuaikan diri dengan norma yang diajarkan. </p></li><li><p>Teori rainfocement</p><p>Anak-anak belajar peran gender karena dipuji atau diberi hadiah jika sesuai dengan kehidupan masyarakat, dan ditegur atau dikoreksi jika tidak, sehingga mereka cenderung mengikuti aturan gender yang ada. </p><p><strong>C. Pengasuhan berbasis kesetaraan gender </strong></p><p>Pola pengasuhan berbasis kesetaraan gender berfokus pada memberikan perlakuan yang setara bagi anak laki-laki dan perempuan dalam berbagai hal, seperti pendidikan, hak, dan tanggung jawab. </p><p><strong>D. Prinsip-prinsip utama dalam pengasuhan berbasis kesetaraan gender </strong></p><ol><li><p>Kesetaraan dalam pemberian kasih sayang dan perhatian </p></li><li><p>Pembagian tanggung jawab yang adil dalam keluarga </p></li><li><p>Penghormatan terhadap hak dan keputusan anak </p></li><li><p>Pendidikan yang tidak bias gender </p></li><li><p>Mendorong kebebasan bereksplorasi dan mengembangkan potensi </p></li><li><p>Komunikasi yang setara dan inklusif </p></li><li><p>Menjadi role model dalam kesetaraan gender </p></li><li><p>Menanamkan nilai-nilai anti diskriminasi dan empati</p></li></ol></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-15 00:42:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366956770</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nabilahfauziah2</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366987768</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama        : Laras Juliana Sapira</strong></p><p><strong>Nim            : 2221240031</strong></p><p><strong>Kelas         : 2A</strong></p><p><br/></p><p>Pendidikan Berwawasan Gender</p><p><br/></p><p>Terkadang kita lupa bahwa apa yang menjadi penyebab utama seseorang bisa LGBT, ganti jenis kelamin bahkan tidak setaranya gender itu dimulai dari wawasan gender dalam keluarga. Peran keluarga dalam pendidikan berwawasan gender tentu sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang wawasan gender pada individu tersebut, karena pada dasarnya anak (individu tersebut) belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar (teori imitasi). </p><p><br/></p><p>Dan dua teori lainnya yaitu teori Socialita Zion dan rainfocement dalam wawasan gender pun mengatakan bahwa anak akan belajar tentang gender dari keluarga, sekolah, teman dan lingkungan sekitarnya dan ketika mereka di beri gift atas apa yang sesuai ekpetasi masyrakat dan mendapat teguran jika itu bertentangan, sehingga mereka mengikuti apa yang menjadi kebiasaan dalam masyarakat nya.</p><p><br/></p><p>Hal ini lah yang menjadi problem mindset gender pada saat ini yang menyebabkan banyaknya ketidaksetaraan gender. Namun, dalam menyikapi hal ini ada beberapa prinsip dalam mencegah adanya ketidaksetaraan gender dan di mulai dari keluarga. </p><p>1. Kesetaraan dalam Pemberian Kasih Sayang dan Perhatian</p><p>2. Pembagian Tanggung Jawab yang Adil dalam Keluarga</p><p>3. Penghormatan terhadap Hak dan Keputusan Anak</p><p>4. Pendidikan yang Tidak Bias Gender</p><p>5. Mendorong Kebebasan Bereksplorasi dan Mengembangkan Potensi</p><p>6. Komunikasi yang Setara dan Inklusif</p><p>7. Menjadi Role Model dalam Kesetaraan Gender</p><p>8. Menanamkan Nilai-Nilai Anti-Diskriminasi dan Empati</p><p><br/></p><p>Dari 8 prinsip tersebut kita bisa menerapkan secara perlahan dalam keluarga untuk mencegah ketidaksetaraan gender, karena peran keluarga di sini sangat penting selain dari apa yang dilakukan pemerintah yaitu penyuluhan tentang gender.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-15 01:57:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366987768</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366994033</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama  : Azzahra karunia akbar</p><p>Nim.    : 2221240057</p><p>Kelas.  : 2C</p><p><br/></p><p>   Pendidikan berwawasan gender</p><p><br/></p><p>1. Peran Keluarga dalam Pembentukan Identitas Gender</p><p>Anak belajar konsep gender dengan meniru orang di sekitarnya dan menganggapnya sebagai aturan.</p><p>Mereka mendapatkan pemahaman peran gender dari keluarga, sekolah, teman, dan media sejak kecil.</p><p>Ada tiga teori dari Maccoby dan Jacklin terkait pembelajaran gender:</p><p>Teori Imitasi – Anak meniru perilaku yang mereka lihat.</p><p>Teori Sosialisasi – Anak menyesuaikan diri dengan norma yang diajarkan.</p><p>Teori Reinforcement – Anak cenderung mengikuti aturan gender karena adanya pujian atau hukuman sosial.</p><p>2. Pola Pengasuhan Berbasis Kesetaraan Gender</p><p>Pengasuhan yang setara bertujuan untuk memberikan perlakuan yang adil antara anak laki-laki dan perempuan. Prinsip utama dalam pola ini:</p><p>Kasih sayang yang setara</p><p>Pembagian tanggung jawab yang adil dalam keluarga</p><p>Penghormatan terhadap hak dan keputusan anak</p><p>Pendidikan yang tidak bias gender</p><p>Mendorong eksplorasi dan pengembangan potensi anak</p><p>Komunikasi yang setara dan inklusif</p><p>Menjadi role model dalam kesetaraan gender</p><p>Menanamkan nilai anti-diskriminasi dan empati</p><p>3. Kesimpulan</p><p>Pendidikan harus mempertimbangkan aspek gender untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil.</p><p>Keluarga berperan besar dalam membentuk identitas gender anak.</p><p>Anak yang dididik dengan pola asuh setara berkembang lebih bebas tanpa batasan stereotip gender.</p><p>Bias gender masih terjadi, terutama dalam pendidikan keluarga.</p><p>Pendidikan gender menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk menjamin kesempatan yang setara bagi semua individu.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-15 02:12:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366994033</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366997253</link>
         <description><![CDATA[<p>hani aprilia</p><p>2221240003</p><p>2A</p><p><br/></p><p><strong>Pendidikan Berwawasan Gender</strong></p><p>Pendidikan berwawasan gender bertujuan menciptakan sistem pendidikan yang adil bagi semua gender dengan menghapus stereotip dan diskriminasi. Materinya mencakup konsep gender dan kesetaraan, analisis bias dalam pendidikan, strategi pengajaran inklusif, serta implementasi kebijakan yang mendukung kesetaraan.</p><p>Manfaatnya meliputi pengurangan diskriminasi, peningkatan partisipasi perempuan di berbagai bidang, dan lingkungan belajar yang lebih inklusif. Namun, tantangannya mencakup resistensi budaya, kurangnya pelatihan guru, dan keterbatasan implementasi kebijakan.</p><p>Pendidikan ini penting untuk memastikan semua individu memiliki kesempatan yang setara dalam belajar dan berkembang.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-15 02:19:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3366997253</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3367029005</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Afan Hadi Firmansyah</p><p>Nim: 2221240001</p><p>Kelas: 2A</p><p><br/></p><p>Pembelajaran berwawasan gender, adanya yang pertama yaitu peran keluarga sebagai pembentukan identitas gender, disini begitu pentingnya untuk orang tua memberirikan didikan untuk seorang anak dimulai dari usia kecil mengenai perannya sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Agar ketika seorang anak sudah tumbuh dengan usia yang sudah lebih menhenal kehidupan tidak adanya penyimpangan gender yang di lakukan. </p><p>Selain itu juga, pentingnya memberikan pola pengasuhan berbasis kesetaraan gender, sebagai orang tua yang mempunyai anak, pentingnya melakukan pemberian pola pengasuhan kesetaraan gender, dimana seorang laki laki dan perempuan di anggap setara dengan aspek aspek tertentu seperti norma yang sudah ada. Memberikan kesetaraan ini juga dalam berbagai hal seperti pendidikan, hak dan tanggung jawab agar tidak adanya kecemburuan dari seorang anak di dalam keluarga baik itu laki laki maupun perempuan. Adapun beberapa prinsip yang dapat di berikan dalam memberikan pengasuhan berbasis kesetaraan gender yaitu, memberikan perhatian dan kasih sayang dengan setara, menghormati dalam pengambilan keputusan seorang anak, komunikasi yang setara dan inklusif, menanamkan nilai anti diskriminasi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-15 03:40:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3367029005</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3367430885</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Bagas Fajri Ramadana</p><p><br/></p><p>Nim : 2221240080</p><p><br/></p><p>Kelas : 2A</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>pembahasan pada hari ini membahas tentang peran keluarga, pola pengasuhan, dan analisis bias gender dalam praktik pendidikan keluarga.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>keluarga memiliki peran yang krusial dalam membangun gender seorang anak karena seorang anak pasti belajar melalui keluarganya terlebih dahulu, orang tua juga harus menerapkan “kesetaraan gender” dalam lingkungan keluarga, hal ini menekankan bahwa perempuan atau laki-laki harus mendapatkan kesempatan yang sama tanpa mempertimbangkan jenis kelamin seseorang.</p><p><br/></p><p>aspek penting gagasan :</p><p>•Pembagian tugas yang adil,</p><p>perempuan dan laki-laki</p><p>harus berbagi bertanggung</p><p>jawab pengasuhan tanpa</p><p>memandang jenis kelamin.</p><p><br/></p><p>•Pengambilan keputusan:</p><p>bersama, keduanya memiliki</p><p>jumlah suara yang saat</p><p>mengambil keputusan.</p><p><br/></p><p>•Akses yang sama terhadap sumber:</p><p>daya, perempuan dan laki-laki</p><p>seharusnya memiliki akses yang sama</p><p>terhadap sumber daya yang diperlukan untuk pengasuhan Perubahan sikap dan perilaku,</p><p>pentingnya untuk mengubah</p><p>pandangan orang lain perempuan dan</p><p>laki-laki tentang peran dalam pengasuhan anak agar saling mendukung</p><p><br/></p><p>Bias gender merupakan dianggap sebagai situasi yang baik atau buruk. Meskipun gender adalah atribut yang ditanamkan pada laki-laki maupun perempuan dan dibentuk secara sosial dan budaya, perilaku bias gender berasal dari sistem dan struktur yang dapat merugikan laki-laki maupun</p><p><br/></p><p>perempuan ketika salah satunya menjadi korban sistem tersebut. Bias gender mengacu pada sikap, keyakinan,dan</p><p><br/></p><p>tindakan yang secara tidak adil memihak atau mendiskriminasi seorang berdasarkan jenis kelamin mereka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-15 19:04:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3367430885</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>argyantirani</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376466497</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Rani Argyanti</strong></p><p><a rel="noopener noreferrer nofollow"><strong>2221240070</strong></a></p><p><strong>2B</strong></p><p><br/></p><p>jadi pengarusutamaan gender bertujuan untuk memasukkan perspektif gender dalam kebijakan agar program yang dijalankan di dapat merespon ketimpangan yang ada dan dapat mengurangi kesenjangan gender. tujuannya meningkatkan akses dan partisipasi perempuan, memastikan keberlanjutan pembangunan inklusif, mengintegrasi perspektif gender dalam pengambilan keputusan dan memberdayakan perempuan. Dalam pendidikan nonformal peran pemberdayaan gender mencapai kesetaraan penting dalam keadilan gender, Tujuan pemberdayaan gender di pendidikan nonformal  Salah satunya meningkatkan partisipasi perempuan. pengaruh budaya yang kuat menyebabkan perbedaan peran dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan, Pendekatan ini memberikan fleksibilitas bagi perempuan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sumber daya yang relevan tanpa terikat oleh struktur pendidikan formal yang kaku.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 10:24:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376466497</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nazwafatsyaaa</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376497465</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Nazwa fatsya</p><p>Nim: 2221240093</p><p>Kelas: 2B</p><p><br/></p><p>Definisi Pengarusutamaan Gender</p><p>Pengarusutamaan gender adalah strategi yang bertujuan untuk memasukkan perspektif gender ke dalam kebijakan pembangunan agar program-program yang dijalankan dapat merespons ketimpangan yang ada dan mengurangi kesenjangan yang terjadi antara perempuan dan laki-laki.</p><p><br/></p><p>Tujuan Pengarusutamaan Gender</p><p>- Mengurangi Ketimpangan Gender</p><p>- Meningkatkan Akses dan Partisipasi</p><p>Perempuan</p><p>- Memastikan Keberlanjutan Pembangunan</p><p>Inklusif</p><p>- Mengintegrasikan Perspektif Gender Dalam</p><p>Pengambilan Keputusan</p><p>- Memberdayakan Perempuan</p><p><br/></p><p>Pendidikan Non Formal</p><p>Sebagai Sarana</p><p>Pemberdayaan GenderPemberdayaan gender dalam pendidikan nonformal memainkan peran penting dalam mencapai kesetaraan dan keadilan gender. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas bagi perempuan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sumber daya yang relevan tanpa terikat oleh struktur pendidikan formal yang kaku.</p><p><br/></p><p>Definisi Stereotip Gender Mempengaruhi Akses Terhadap Pendidikan Non Formal</p><p>Stereotipe merupakan suatu pandangan atau</p><p>keyakinan yang dimiliki sekelompok orang tentang</p><p>karakteristik atau sifat tertentu dari individu atau</p><p>kelompok lain. Dengan demikian, dapat disimpulkan</p><p>bahwa "stereotip gender" adalah persepsi yang</p><p>mencerminkan kesan dan keyakinan mengenai perilaku</p><p>yang melekat pada perempuan dan laki-laki.</p><p><br/></p><p>Pengaruh Stereotip Gender Dalam</p><p>Mengakses Pendidikan Non Formal</p><p>Pengaruh budaya yang kuat menyebabkan perbedaan</p><p>peran dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan,</p><p>sering kali berdasarkan perbedaan fisik, yang kemudian</p><p>menimbulkan kesenjangan, termasuk di dunia kerja. Contoh</p><p>kasus yang terjadi di lembaga Pendidikan Nonformal adalah</p><p>profesi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yang</p><p>umumnya didominasi oleh perempuan dan telah menjadi</p><p>hal yang dianggap biasa di masyarakat. Hingga saat ini,</p><p>peran guru di PAUD dan Taman Kanak-Kanak (TK) masih</p><p>sangat identik dengan perempuan, sementara laki-laki</p><p>sering dianggap kurang cocok untuk menjalani profesi ini</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 10:54:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376497465</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>syifanurfarihah6</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376497895</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Syifa Nurfarihah</p><p>NIM: 2221240022</p><p>Kelas: 2B</p><p><br/></p><p>Jadi materi ini membahas bagaimana pendidikan nonformal berkontribusi dalam pengarusutamaan gender, berperan sebagai sarana pemberdayaan gender, serta hambatan yang disebabkan oleh stereotip gender dalam mengakses pendidikan nonformal. pendidikan nonformal memiliki peran penting dalam pengarusutamaan gender dengan memberikan kesempatan belajar yang lebih fleksibel bagi semua kelompok, terutama bagi perempuan dan kelompok rentan lainnya. Pendidikan ini mampu mengatasi hambatan-hambatan yang sering dialami dalam pendidikan formal, seperti keterbatasan akses, norma sosial, dan beban domestik. Pendidikan nonformal tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga memberdayakan individu, terutama perempuan, untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Akan tetapi mesikpun pendidikan nonformal memiliki potensi besar dalam pengarusutamaan gender, masih ada hambatan. Norma sosial yang mengutamakan peran perempuan di ranah domestik, beban kerja yang lebih besar, serta anggapan bahwa pendidikan nonformal kurang bergengsi menjadi faktor penghambat. Selain itu, masih kurangnya program pendidikan nonformal yang responsif gender juga memperparah ketimpangan akses. Intinya, pendidikan nonformal berperan penting dalam mengarusutamakan gender dan memberdayakan perempuan. Namun, tantangan seperti stereotip gender dan keterbatasan akses masih perlu diatasi melalui kebijakan yang lebih inklusif.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 10:54:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376497895</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376517409</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Ratu Zahra Huwaida</p><p>NIM: 2221240054</p><p>Kelas : 2B</p><p><br/></p><p>Pembahasan hari ini tentang Kontribusi Pendidikan Non Formal dalam pengarusutamaan gender, Pendidikan nonformal sebagai sarana pemberdayaan gender, Stereotip gender mempengaruhi akses terhadap pendidikan nonformal.</p><p><br/></p><p>Pengarusutamaan gender adalah strategi yang bertujuan untuk memasukkan perspektif gender ke dalam kebijakan pembangunan agar program-program yang dijalankan dapat merespons ketimpangan yang ada dan mengurangi kesenjangan yang terjadi antara perempuan dan laki-laki.</p><p><br/></p><p>Pemberdayaan gender dalam pendidikan nonformal memainkan peran penting dalam mencapai kesetaraan dan keadilan gender. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas bagi perempuan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sumber daya yang relevan tanpa terikat oleh struktur pendidikan formal yang kaku.</p><p><br/></p><p>Stereotipe merupakan suatu pandangan atau keyakinan yang dimiliki sekelompok orang tentang karakteristik atau sifat tertentu dari individu atau kelompok lain. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa "stereotip gender" adalah persepsi yang mencerminkan kesan dan keyakinan mengenai perilaku yang melekat pada perempuan dan laki-laki.</p><p><br/></p><p>Pengaruh budaya yang kuat menyebabkan perbedaan peran dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan, sering kali berdasarkan perbedaan fisik, yang kemudian menimbulkan kesenjangan, termasuk di dunia kerja. Contoh kasus yang terjadi di lembaga Pendidikan Nonformal adalah profesi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yang umumnya didominasi oleh perempuan dan telah menjadi hal yang dianggap biasa di masyarakat. Hingga saat ini, peran guru di PAUD dan Taman Kanak-Kanak (TK) masih sangat identik dengan perempuan, sementara laki-laki sering dianggap kurang cocok untuk menjalani profesi ini.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 11:14:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376517409</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376540598</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Andini</p><p>Nim : 2221240007</p><p>Kelas : 2B</p><p><br/></p><p>Pada pertemuan hari ini membahas tentang Kontribusi Pendidikan Non Formal dalam Pengarusutamaan Gender Pendidikan Non Formal Sebagai Sarana Pemberdayaan Gender, Stereotip Gender Mempengaruhi Akses Terhadap Pendidikan Non Formal </p><p><br/></p><p>Definisi Pengarusutamaan Gender</p><p> Pengarus utamaan gender adalah strategi yang bertujuan untuk memasukkan perspektif gender dalam kebijakan pembangunan agar program-program yang dijalankan dapat merespons ketimpangan yang ada dan mengurangi kesenjangan yang terjadi antara perempuan dan laki-laki.</p><p><br/></p><p>Tujuan Pengarusutamaan Gender </p><p>- Meningkatkan Akses dan Partisipasi</p><p>Perempuan </p><p>- Memastikan Keberlanjutan Pembangunan</p><p>Inklusif</p><p>- Mengintegrasikan Perspektif Gender Dalam</p><p>Pengambilan Keputusan</p><p>- Memberdayakan Perempuan</p><p>- Mengurangi ketimpangan sosial </p><p><br/></p><p>Kontribusi Pendidikan Non Formal dalam pengarusutamaan gender </p><p>- Kelompok Belajar Keterampilan</p><p>(KBK)</p><p>- Kelompok Belajar Usaha (KBU)</p><p>- Taman Bacaan Masyarakat (TBM)</p><p>- Program Kecakapan Hidup/life skill</p><p>- Kegiatan Keaksaraan Fungsional</p><p><br/></p><p>Pendidikan Non Formal Sebagai Sarana pemberdayaan Gender </p><p>Pemberdayaan gender dalam pendidikan</p><p>nonformal memainkan peran penting dalam mencapai kesetaraan dan keadilan gender.</p><p>Pendekatan ini memberikan fleksibilitas bagi</p><p>perempuan untuk memperoleh</p><p>pengetahuan, keterampilan, dan sumber</p><p>daya yang relevan tanpa terikat oleh</p><p>struktur pendidikan formal yang kaku. </p><p><br/></p><p>Definisi Sterotiep Gender Dalam Pendidikan Non Formal </p><p>Stereotipe merupakan suatu pandangan atau</p><p>keyakinan yang dimiliki sekelompok orang tentang karakteristik atau sifat tertentu dari individu atau kelompok lain. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa "stereotip gender" adalah persepsi yang mencerminkan kesan dan keyakinan mengenai perilaku yang melekat pada perempuan dan laki-laki.</p><p><br/></p><p>Pengaruh Sterotiep Gender Dalam Mengakses Pendidikan Non Formal </p><p>Pengaruh budaya yang kuat menyebabkan perbedaan peran dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan,sering kali berdasarkan perbedaan fisik, yang kemudian menimbulkan kesenjangan, termasuk di dunia kerja.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 11:37:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376540598</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>jamaludin6452</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376638701</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: jamaludin</p><p>Kelas:2B</p><p>Jadi pertemuan minggu ini membahas terkait </p><p>-pengarusutamaan gender<br>-kontribusi pendidikan non formal dalam pengarusutamaan gender<br>-pendidikan non formal sebagai sarana pemberdayaan gender<br>-tujuan pemberdayaan gender di pendidikan non formal<br>- contoh pemberdayaan gender di pendidikan non forma</p><p><br/></p><p>Judul Kontribusi Pendidikan Non Formal dalam pengarusutamaan gender, Pendidikan nonformal sebagai sarana pemberdayaan gender, Stereotip gender mempengaruhi akses terhadap pendidikan nonformal</p><p>•Pengarusutamaan Gender</p><p>Pengarusutamaan gender adalah strategi yang bertujuan untuk memasukkan perspektif gender ke dalam kebijakan pembangunan agar program-program yang dijalankan dapat merespons ketimpangan yang ada dan mengurangi kesenjangan yang terjadi antara perempuan dan laki-laki</p><p>Pengarusutamaan Gender</p><p>- Mengurangi Ketimpangan Gender</p><p>- Meningkatkan Akses dan Partisipasi Perempuan</p><p>- Memastikan Keberlanjutan Pembangunan Inklusif</p><p>- Mengintegrasikan Perspektif Gender Dalam Pengambilan Keputusan</p><p>- Memberdayakan Perempuan</p><p>• Kontribusi Pendidikan Non Formal Dalam Pengarusutamaan Gender</p><p>- Regiatan Reaksaraan Fungsional</p><p>- Kelompok Belajar Keterampilan (KBK)</p><p>Kelompok Belajar Usaha (KBU)</p><p>Taman Bacaan Masyarakat (TBM)</p><p>- Program Kecakapan Hidup/life skill</p><p>• Pendidikan Non Formal Sebagai Sarana Pemberdayaan Gender</p><p>Pemberdayaan gender dalam pendidikan nonformal memainkan peran penting dalam mencapai kesetaraan dan keadilan gender. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas bagi</p><p>perempuan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sumber daya yang relevan tanpa terikat oleh struktur pendidikan formal yang kaku</p><p>• Tujuan Pemberdayaan Gender Di Pendidikan Non Formal</p><p>Adapun tujuan dari Pemberdayaan Gender di Pendidikan Non Formal adalah untuk:</p><p>- Mengurangi Kesenjangan Gender</p><p>• Contoh Pembedayaan Gender di Pendidikan Non Formal</p><p>1. (Pelatihan Keterampilan untuk Perempuan di Lembaga Pendidikan Nonformal)</p><p>Banyak lembaga pendidikan nonformal yang menawarkan pelatihan keterampilan khusus bagi perempuan, seperti pelatihan menjahit, kerajinan tangan, atau kewirausahaan.</p><p>2. (Sekolah Alam untuk Anak-Anak dengan Fokus pada Kesetaraan Gender)</p><p>Beberapa lembaga pendidikan nonformal, seperti Sekolah Alam, mengintegrasikan pendidikan tentang kesetaraan gender dalam kurikulum mereka.</p><p>Definisi Stereotip Gender Mempengaruhi Akses Terhadap Pendidikan Non Formal</p><p>*Definisi Stereotip Gender Mempengaruhi Akses Terhadap Pendidikan Non Formal"</p><p>Stereotipe merupakan suatu pandangan atau keyakinan yang dimiliki sekelompok orang tentang karakteristik atau sifat tertentu dari individu atau kelompok lain. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa "stereotip gender" adalah persepsi yang mencerminkan kesan dan keyakinan mengenai perilaku yang melekat pada perempuan dan laki-laki.</p><p>Pengaruh Stereotip Gender Dalam Mengakses Pendidikan Non Formal</p><p>Pengaruh budaya yang kuat menyebabkan perbedaan peran dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan, sering kali berdasarkan perbedaan fisik, yang kemudian menimbulkan kesenjangan, termasuk di dunia kerja. Contoh kasus yang terjadi di lembaga Pendidikan Nonformal adalah profesi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yang umumnya didominasi oleh perempuan dan telah menjadi hal yang dianggap biasa di masyarakat. Hingga saat ini, peran guru di PAUD dan Taman Kanak-Kanak (TK) masih sangat identik dengan perempuan, sementara laki-laki sering dianggap kurang cocok untuk menjalani profesi ini.</p><p>Jadi saya mengetahui bahwasanya Pendidikan nonformal dapat berkontribusi untuk pengarusutamaan dan pemberdayaan gender melalui berbagai program Pendidikan Nonformal yang dapat menjembatani perempuan dalam meningkatkan kualitas pengetahuan dan kemandirian. Pemberdayaan gender dalam pendidikan nonformal memainkan peran penting dalam mencapai kesetaraan dan keadilan gender. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas bagi perempuan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sumber daya yang relevan tanpa terikat oleh struktur pendidikan formal yang kaku. Pengaruh budaya patriarki menyebabkan perbedaan peran dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan, sering ali berdasarkan perbedaan fisik, yang kemudian menimbulkan kesenjangan, termasuk di dunia kerja.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 13:04:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376638701</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376652146</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Septi Ropih Yustitia</p><p>NIM : 2221240052</p><p>Kelas : 2B</p><p><br/></p><p>Pada pertemuan kali ini, presentasi dengan materi "Kontribusi Pendidikan Non Formal dalam pengarusutamaan gender, Pendidikan nonformal sebagai sarana pemberdayaan gender, Stereotip gender mempengaruhi akses terhadap pendidikan nonformal" yang di sampaikan oleh kelompok 3, berisi tentang :</p><p><br/></p><p>Pengarusutamaan gender merupakan strategi yang bertujuan untuk memasukkan perspektif gender ke dalam kebijakan pembangunan agar program-program yang dijalankan dapat merespons ketimpangan yang ada dan mengurangi kesenjangan yang terjadi antara perempuan dan laki-laki. </p><p><br/></p><ol><li><p>Adapaun tujuan Pengarusutamaan Gender, yaitu :</p></li></ol><ul><li><p>Mengurangi Ketimpangan Gender</p></li><li><p>Meningkatkan Akses dan Partisipasi Perempuan</p></li><li><p>Memastikan Keberlanjutan Pembangunan Inklusif</p></li><li><p>Mengintegrasikan Perspektif Gender Dalam Pengambilan Keputusan</p></li><li><p>Memberdayakan Perempuan</p></li></ul><p><br/></p><ol start="2"><li><p>Kontribusi Pendidikan Non Formal Dalam Pengarusutamaan Gender </p></li></ol><ul><li><p>Regiatan Reaksaraan Fungsional</p></li><li><p>Kelompok Belajar Keterampilan (KBK)</p></li><li><p>Kelompok Belajar Usaha (KBU)</p></li><li><p>Taman Bacaan Masyarakat (TBM)</p></li><li><p>Program Kecakapan Hidup/lifeskill</p></li></ul><p><br/></p><ol start="3"><li><p>Pendidikan Non Formal Sebagai Sarana Pemberdayaan Gender</p></li></ol><p>Pendekatan ini memberikan fleksibilitas bagi perempuan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sumber daya yang relevan tanpa terikat oleh struktur pendidikan formal yang kaku.</p><p><br/></p><ol start="4"><li><p>Tujuan Pemberdayaan Gender Di Pendidikan Non Formal</p></li></ol><ul><li><p>Mengurangi Kesenjangan Gender</p></li><li><p>Meningkatkan Partisipasi Perempuan </p></li><li><p>Membangun Kesadaran Tentang Hak-hak Gender</p></li><li><p>Mengembangkan Kapasitas Individu dan Komunitas</p></li></ul><p><br/></p><ol start="5"><li><p>Stereotip Gender Mempengaruhi Akses Terhadap Pendidikan Non Formal</p></li></ol><p>"stereotip gender" adalah persepsi yang mencerminkan kesan dan keyakinan mengenai perilaku yang melekat pada perempuan dan laki-laki.</p><p><br/></p><ol start="6"><li><p>Pengaruh Stereotip Gender Dalam Mengakses Pendidikan Non Formal</p></li></ol><p>Pengaruh budaya yang kuat menyebabkan perbedaan peran dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan, sering kali berdasarkan perbedaan fisik, yang kemudian menimbulkan kesenjangan, termasuk di dunia kerja,</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 13:15:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376652146</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>kimachan09</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376702586</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA : Ima Maulia Azzahra</p><p>NIM : 2221240023</p><p>KELAS : 2B</p><p><br/></p><p>Resume Materi hari ini: </p><p><br/></p><p>1. Kontribusi pendidikan non formal dalam pengarustamaan gender. </p><p>Pengarusutamaan gender adalah strategi yang bertujuan untuk memasukkan perspektif gender ke dalam kebijakan pembangunan agar program-program yang dijalankan dapat merespons ketimpangan yang ada dan mengurangi kesenjangan yang terjadi antara perempuan dan laki-laki. Tujuannya Mengurangi Ketimpangan Gender, Meningkatkan Akses dan Partisipasi Perempuan, Memastikan Keberlanjutan Pembangunan Inklusif.</p><p><br/></p><p>Kontribusinya berupa: Kegiatan Keaksaraan Fungsional, Kelompok Belajar Keterampilan, Kelompok Belajar Usaha (KBU).</p><p><br/></p><p>2. Pendidikan non formal sebagai sarana pemberdayaan gender. </p><p>Tujuan dari Pemberdayaan Gender di Pendidikan Non Formal adalah untuk: Mengurangi Kesenjangan Gender Meningkatkan Partisipasi Perempuan, Membangun Kesadaran Tentang Hak-hak Gender, Mengembangkan Kapasitas Individu dan Komunitas. </p><p><br/></p><p>3. Stereotip gender mempengaruhi akses terhadap pendidikan non formal. </p><p>Pengaruh budaya yang kuat menyebabkan perbedaan peran dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan, sering kali berdasarkan perbedaan fisik, yang kemudian menimbulkan kesenjangan, termasuk di dunia kerja. Contoh kasus yang terjadi di lembaga Pendidikan Nonformal adalah profesi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yang umumnya didominasi oleh perempuan dan telah menjadi hal yang dianggap biasa di masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 13:52:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376702586</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>futuhatulain40</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376778929</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama : Futuhatul Ain </strong></p><p><strong>Nim : 2221240053</strong></p><p><strong>Kelas : 2B</strong></p><p>Kontribusi pendidikan non formal dalam pengarusutamaan gender, pendidikan non formal sebagai sarana pemberdayaan gender, secara aktif gender mempengaruhi akses terhadap pendidikan non formal</p><p> Pengaruh utama gender adalah strategi untuk mengintegrasikan perspektif gender dalam kebijakan pembangunan. Tujuannya adalah merespons ketimpangan antara perempuan dan laki-laki serta mengurangi kesenjangan yang ada, sehingga menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara.</p><p>Non-formal dapat menjadi sarana pemberdayaan gender yang penting, di mana pemberdayaan ini bersama pendidikan formal berkontribusi pada kesetaraan dan keadilan gender. Pendekatan non-formal memberikan fleksibilitas bagi perempuan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan komunikasi, dan sumber daya tanpa terikat oleh struktur pendidikan formal yang kaku. </p><p>Tujuan dari pemberdayaan gender di pendidikan non formal yaitu mengurangi kesenjangan, meningkatkan partisipasi perempuan, membangun kesadaran tentang hak-hak gender mengembangkan kapasitas individu dan komunitas </p><p>Stereotip gender adalah pandangan atau keyakinan kelompok tentang karakteristik tertentu dari individu atau kelompok lain. Stereotip ini mempengaruhi akses terhadap pendidikan non-formal, menciptakan persepsi yang mencerminkan kesan dan keyakinan tentang perilaku yang melekat pada perempuan dan laki-laki.</p><p>Dengan adanya pengaruh budaya yang kuat terjadi perbedaan peran dan kedudukan antar laki-laki dan perempuan bisa didasari dengan fisik sehingga menimbulkan kesenjangan di dunia kerja. </p><p>Pendidikan non-formal berperan penting dalam pengarusutamaan gender dan pemberdayaan perempuan dengan memberikan akses fleksibel untuk pengetahuan dan keterampilan. Ini membantu mengurangi kesenjangan gender, meningkatkan partisipasi perempuan, dan membangun kesadaran hak-hak gender. Namun, stereotip gender yang ada masih menghambat akses tersebut. Oleh karena itu, penting untuk mendorong kebijakan yang mendukung kesetaraan gender dalam pendidikan non-formal.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 14:45:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376778929</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ica818572</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376818039</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Nurrohmatun Nisa</p><p>Kelas : 2B </p><p>Nim : 2221240094</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Pertemuan tadi menjelaskan mengenai materi tentang Kontribusi Pendidikan Non Formal dalam pengarusutamaan gender, Pendidikan nonformal sebagai sarana pemberdayaan gender, Stereotip gender mempengaruhi akses terhadap pendidikan nonformal.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Pengarusutamaan gender adalah  strategi yang bertujuan untuk memasukkan perspektif gender ke dalam kebijakan pembangunan agar program-program yang dijalankan dapat merespons ketimpangan yang ada dan mengurangi kesenjangan yang terjadi antara perempuan dan laki-laki.</p><p><br/></p><p>Definisi Stereotip Gender Mempengaruhi Akses Terhadap Pendidikan Non Formal* Stereotipe merupakan suatu pandangan atau keyakinan yang dimiliki sekelompok orang tentang karakteristik atau sifat tertentu dari individu atau kelompok lain. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa "stereotip gender" adalah persepsi yang mencerminkan kesan dan keyakinan mengenai perilaku yang melekat pada perempuan dan laki-laki.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Pendidikan nonformal dapat berkontribusi untuk pengarusutamaan dan pemberdayaan gender melalui berbagai program Pendidikan Nonformal yang dapat menjembatani perempuan dalam meningkatkan kualitas pengetahuan dan kemandirian. Pemberdayaan gender dalam pendidikan nonformal memainkan peran penting dalam mencapai kesetaraan dan keadilan gender. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas bagi perempuan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sumber daya yang relevan tanpa terikat oleh struktur pendidikan formal yang kaku. Pengaruh budaya patriarki menyebabkan perbedaan peran dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan, sering kali berdasarkan perbedaan fisik, yang kemudian menimbulkan kesenjangan, termasuk di dunia kerja.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 15:15:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376818039</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376818704</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA: JAHARUDIN</p><p>NIM: 221240084</p><p>KELAS: 2B</p><p>Pendidikan nonformal memiliki peran penting dalam pengarusutamaan gender dan pemberdayaan masyarakat. Berikut adalah beberapa aspek utama terkait hubungan antara pendidikan nonformal dan gender:</p><p><strong>1. Kontribusi Pendidikan Nonformal dalam Pengarusutamaan Gender</strong></p><p>Pengarusutamaan gender dalam pendidikan nonformal bertujuan untuk menciptakan kesetaraan akses dan kesempatan bagi semua gender dalam memperoleh pendidikan. Kontribusi pendidikan nonformal dalam pengarusutamaan gender meliputi:</p><ul><li><p><strong>Pemberdayaan perempuan dan kelompok rentan:</strong> Program pendidikan nonformal seperti kursus keterampilan, pelatihan kewirausahaan, dan kelas literasi membantu meningkatkan kemandirian perempuan dan kelompok rentan lainnya.</p></li><li><p><strong>Peningkatan kesadaran gender:</strong> Program pendidikan nonformal sering kali memasukkan modul kesetaraan gender yang mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat terhadap peran gender.</p></li><li><p><strong>Fleksibilitas akses pendidikan:</strong> Pendidikan nonformal memungkinkan perempuan yang terbatas oleh peran domestik atau faktor ekonomi untuk tetap mendapatkan ilmu dan keterampilan.</p></li></ul><p><strong>2. Pendidikan Nonformal sebagai Sarana Pemberdayaan Gender</strong></p><p>Pendidikan nonformal menjadi alat pemberdayaan gender karena sifatnya yang lebih inklusif dan fleksibel dibanding pendidikan formal. Pemberdayaan gender melalui pendidikan nonformal dapat dilihat dari beberapa aspek:</p><ul><li><p><strong>Peningkatan keterampilan ekonomi:</strong> Kursus kejuruan dan pelatihan kerja meningkatkan kemandirian finansial perempuan, yang sering kali mengalami keterbatasan akses terhadap pekerjaan formal.</p></li><li><p><strong>Meningkatkan kepercayaan diri dan partisipasi sosial:</strong> Pendidikan nonformal sering kali menjadi wadah bagi perempuan dan kelompok marginal untuk membangun jaringan sosial serta meningkatkan partisipasi dalam kegiatan masyarakat.</p></li><li><p><strong>Menyediakan ruang aman bagi perempuan:</strong> Beberapa program pendidikan nonformal dikhususkan untuk perempuan agar mereka dapat belajar tanpa takut diskriminasi atau kekerasan berbasis gender.</p></li></ul><p><strong>3. Pengaruh Gender terhadap Akses Pendidikan Nonformal</strong></p><p>Faktor gender dapat memengaruhi sejauh mana seseorang dapat mengakses pendidikan nonformal, baik dalam aspek peluang maupun tantangan:</p><ul><li><p><strong>Norma sosial dan budaya:</strong> Di beberapa komunitas, norma yang menempatkan perempuan dalam ranah domestik dapat menghambat partisipasi mereka dalam pendidikan nonformal.</p></li><li><p><strong>Tanggung jawab domestik:</strong> Perempuan sering kali memiliki tanggung jawab rumah tangga yang besar, sehingga sulit untuk mengikuti pendidikan nonformal yang membutuhkan waktu di luar rumah.</p></li><li><p><strong>Faktor ekonomi:</strong> Keterbatasan keuangan membuat perempuan dan kelompok rentan lainnya sulit mengakses pelatihan berbayar, meskipun pendidikan nonformal sering kali lebih terjangkau dibanding pendidikan formal.</p></li><li><p><strong>Kebijakan pemerintah dan dukungan lembaga:</strong> Jika ada kebijakan yang mendukung akses perempuan ke pendidikan nonformal, maka peluang mereka untuk mendapatkan pendidikan dan pemberdayaan akan meningkat.</p></li></ul><p><strong>Kesimpulan</strong></p><p>Pendidikan nonformal berperan besar dalam pengarusutamaan gender dan pemberdayaan kelompok marginal, terutama perempuan. Namun, faktor gender juga dapat menjadi penghalang bagi akses ke pendidikan nonformal jika tidak ada kebijakan dan intervensi yang mendukung kesetaraan. Oleh karena itu, diperlukan upaya dari pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk memastikan pendidikan nonformal benar-benar menjadi alat pemberdayaan yang inklusif.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 15:16:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376818704</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ayeshaadzani87</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376823506</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Ayesha Adzani Simbran </p><p>Nim: 2221240025 (2b)</p><p><br/></p><p>definisi pengarusutamaan gender: strategi yang bertujuan untuk memasukkan perspektif gender kedalam kebijakan pembangunan agar program program dapat dijalankan dan mengurangi ketimpangan antara laki laki dan perempuan.</p><p><br/></p><p>tujuan nya adalah sebagai berikut </p><p>a. mengurangi ketimpangan </p><p>b. meningkatkan akses dan partisipasi perempuan </p><p>c. memberdayakan perempuan</p><p><br/></p><p>adapun kontribusi pendidikan non formal dalam pengarusutamaan gender adalah </p><p>a. kegiatan keaksaraan fungsi</p><p>b. KBK</p><p>c. kelompok belajar usaha</p><p>d. taman baca masyarakat</p><p><br/></p><p>pendidikan non formal sebagai sarana pemberdayaan gender: pemberdayaan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender. pendekatan ini untuk memberikan fleksibilitas bagi perempuan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sumber data yang relevan.</p><p><br/></p><p>tujuan pemberdayaan gender dalam pendidikan non formal </p><p>a. mengurangi kesenjangan </p><p>b. meningkatkan partisipasi perempuan </p><p>c. membangun kesadaran tentang hak gender</p><p><br/></p><p>kesimpulan</p><p>Pendidikan non formal dapat berkontribusi untuk pengarusutamaan dan pemberdayaan gender melalui berbagai program pendidikan non formal. pendidikan non formal dapat menjembatani perempuan dalam meningkatkan kualitas, pengetahuan, dan kemandirian.</p><p><br/></p><p>pengaruh budaya patriaki menyebabkan perbedaan peran dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan berdasarkan fisik, lalu menjadi kesenjangan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 15:20:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376823506</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>seviasalsabila0</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376824146</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama : Sevia Salsabila Azahra </strong></p><p><strong>Kelas : 2B (2221240024)</strong></p><p><br/></p><p><strong>Resume materi hari ini dari kelompok 3 yaitu:</strong></p><p><strong>Kontribusi Pendidikan Nonformal dalam Pengarusutamaan Gender</strong></p><p>Pendidikan nonformal memiliki peran penting dalam mendukung pengarusutamaan gender, yaitu upaya untuk memastikan bahwa perspektif gender menjadi bagian integral dari kebijakan, program, dan kegiatan di berbagai sektor, termasuk pendidikan. Kontribusi pendidikan nonformal dalam pengarusutamaan gender antara lain:</p><ol><li><p><strong>Meningkatkan Akses Pendidikan bagi Perempuan dan Kelompok Rentan</strong></p><p>Pendidikan nonformal menyediakan kesempatan bagi perempuan, anak putus sekolah, serta kelompok marginal lainnya untuk mendapatkan pendidikan yang fleksibel dan sesuai kebutuhan mereka.</p></li><li><p><strong>Menyediakan Pendidikan Keterampilan yang Berorientasi Kesetaraan Gender</strong></p><p>Program pendidikan nonformal sering kali mencakup pelatihan keterampilan yang dapat meningkatkan kemandirian ekonomi perempuan, seperti wirausaha, kejuruan, dan keterampilan digital.</p></li><li><p><strong>Mempromosikan Kesadaran dan Pemahaman tentang Gender</strong></p><p>Melalui berbagai program seperti kursus literasi gender, pendidikan kesehatan reproduksi, dan pemberdayaan perempuan, pendidikan nonformal membantu mengubah norma sosial yang mendiskriminasi gender tertentu.</p></li></ol><p><strong>Pendidikan Nonformal sebagai Sarana Pemberdayaan Gender</strong></p><p>Pendidikan nonformal berperan sebagai sarana pemberdayaan gender dengan cara:</p><ol><li><p><strong>Membantu Perempuan dan Laki-laki Mengembangkan Kemandirian</strong></p><p>Program pelatihan kerja dan pengembangan keterampilan membantu perempuan memperoleh pekerjaan yang layak dan mengurangi ketergantungan ekonomi pada laki-laki.</p></li><li><p><strong>Menumbuhkan Kepercayaan Diri dan Kesadaran Hak</strong></p><p>Pendidikan nonformal sering kali mengajarkan hak-hak asasi manusia dan kesetaraan gender, sehingga individu lebih percaya diri dalam menuntut hak mereka.</p></li><li><p><strong>Membuka Peluang Partisipasi dalam Masyarakat</strong></p><p>Dengan keterampilan yang diperoleh dari pendidikan nonformal, perempuan lebih aktif dalam kegiatan sosial, politik, dan ekonomi, yang pada akhirnya berkontribusi pada pembangunan masyarakat yang lebih inklusif.</p></li></ol><p><strong>Stereotip Gender Mempengaruhi Akses terhadap Pendidikan Nonformal</strong></p><p>Stereotip gender adalah pandangan atau persepsi yang membedakan peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan secara kaku. Stereotip ini dapat memengaruhi akses terhadap pendidikan nonformal melalui:</p><ol><li><p><strong>Pembatasan Peran Gender dalam Masyarakat</strong></p><p>Perempuan sering kali dianggap hanya cocok untuk pekerjaan domestik, sehingga tidak didukung untuk mengikuti pelatihan keterampilan atau pendidikan nonformal yang dapat meningkatkan karier mereka.</p></li><li><p><strong>Kurangnya Dukungan dari Keluarga dan Lingkungan</strong></p><p>Beberapa komunitas masih menganggap bahwa pendidikan nonformal tidak penting bagi perempuan, sehingga mereka tidak mendapatkan izin atau dukungan untuk mengikuti program pendidikan tersebut.</p></li><li><p><strong>Minimnya Representasi Perempuan dalam Bidang Tertentu</strong></p><p>Beberapa bidang pelatihan, seperti teknik dan teknologi, masih didominasi oleh laki-laki, sehingga perempuan merasa tidak percaya diri atau enggan untuk berpartisipasi.</p></li><li><p><strong>Beban Ganda Perempuan</strong></p><p>Perempuan sering menghadapi beban ganda dalam rumah tangga dan pekerjaan, yang membuat mereka kesulitan untuk mengikuti pendidikan nonformal meskipun memiliki keinginan untuk belajar.</p></li></ol><p>Dengan mengatasi stereotip gender, pendidikan nonformal dapat menjadi alat yang lebih efektif dalam mendukung kesetaraan gender</p><p> dan pemberdayaan semua individu.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 15:20:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376824146</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>sr3769120</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376826599</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Siti Rohmah</p><p>Nim: 2221240069</p><p>Kelas 2B</p><p><br/></p><p><strong>Definisi pengaruh keutamaan gender.</strong></p><p>Pengaruh utamaan gender adalah strategi yang bertujuan untuk memasukkan perspektif gender ke dalam kebijakan pembangunan agar program-program yang dilakukan dapat merespon ketimpangan yang ada dan mengurangi kesenjangan yang terjadi antara perempuan dan laki-laki</p><p><strong>Sarana pemberdayaan gender.</strong></p><p>Pemberdayaan gender dalam pendidikan informal memainkan peran penting dalam mencapai kesetaraan dan keadilan gender. </p><p><strong>Tujuan pemberdayaan </strong></p><p>Adapun tujuan dan pemberdayaan gender di pendidikan formal adalah untuk mengurangi kesenjangan gender, meningkatkan partisipasi perempuan, membangun kesadaran tentang hak-hak gender, mengembangkan kapasitas individu dan komunitas. </p><p><strong>Contoh pemberdayaan.</strong></p><p><strong> </strong>Pelatihan keterampilan untuk perempuan di lembaga pendidikan non formal, sekolah alam untuk anak-anak dengan fokus pada kesetaraan gender. </p><p><strong>Definisi stereotip gender </strong></p><p>Kreatif merupakan suatu pandangan atau keyakinan yang dimiliki sekelompok orang tentang karakteristik atau sifat tertentu dari individu atau kelompok lain. </p><p><strong>Pengaruh stereotip gender. </strong></p><p>Pengaruh budaya yang kuat menyebabkan perbedaan peran dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan seringkali berdasarkan perbedaan fisik, yang kemudian menimbulkan kesenjangan, termasuk di dunia kerja.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 15:22:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376826599</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376828931</link>
         <description><![CDATA[<p>Sindy (2221240009) 2B</p><p><br/></p><p>pengarusutamaan gender untuk memasukkan persepektif gender dalam kebijakan pembangunan agar program-program dapat merespon ketimpangan yang ada dn mengurangi kesetaraan gender. Pendidikan non formal dapat berkontribusi dalam pengarusutamaan dan pemberdayaan gender melalui berbagai program pendidikan non formal. Pemberdayaan gender dalam pendidikan non formal memainkan peran penting untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender.</p><p>beberapa tujuan pengarusutamaan gender </p><p>- mengurangi ketimpangan gender</p><p>- meningkatkan akses partisipasi perempuan</p><p>- memastikan keberlanjutan pembangunan inklusif </p><p>Kontribusi pendidikan non formal dalam pengarusutamaan gender </p><p>- kegiatan keaksaraan fungsional </p><p>- kelompok belajar keterampilan (KBK)</p><p>- taman bacaan masyarakat (TBM)</p><p>- program kecakapan hidup/ life skill</p><p>Tujuan pemberdayaan gender di pendidikan non formal </p><p>- mengurangi kesenjangan gender</p><p>- membangun kesadaran tentang hak-hak gender</p><p>- mengembangkan kapasitas individu dan komunitas</p><p>Contoh pemberdayaan gender PNF</p><p>1. pelatihan keterampilan untuk perempuan di lembaga pnf seperti keterampilan khusus menjahit,kerajinan tangan atau kewirausahaan </p><p>2. sekolah alam anak-anak dengan fokus kesetaraan gender agar dapat mengintegrasikan pendidikan tentang kesetaraan gender dalam kurikulum mereka</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 15:24:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376828931</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376838211</link>
         <description><![CDATA[<p>Muhammad Hilmi Arrazan ( 2221240066)</p><p><br/></p><p>Kita dapat mengetahui apa itu definisi pengarustamaan gender, tujuan pengarutmaan gender, kontribusi dalam pendidikan non formal dan pendidikan non formal sebagai sarana pemberdayaan gender.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 15:33:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376838211</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rosanataliatarigan02</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376841461</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Rosa Natalia Tarigan</p><p>Nim     : 2221240068</p><p>Kelas   : 2B</p><p><br/></p><p>Pada pertemuan hari ini membahas tentang Kontribusi Pendidikan Non Formal dalam Pengarusutamaan Gender Pendidikan Non Formal sebagai sarana pemberdayaan gender, Stereotip gender mempengaruhi akses terhadap Pendidikan Non Formal</p><p><br/></p><p>Pengarusutamaan gender adalah strategi yang bertujuan untuk memasukkan perspektif gender ke dalam kebijakan pembangunan agar program-program yang dijalankan dapat merespons ketimpangan yang ada dan mengurangi kesenjangan yang terjadi antara perempuan dan laki-laki</p><p><br/></p><p>Tujuan Pengarusutamaan Gender Mengurangi Ketimpangan Gender,Meningkatkan Akses dan Partisipasi Perempuan, Memastikan Keberlanjutan Pembangunan Inklusif, Mengintegrasikan Perspektif Gender Dalam Pengambilan Keputusan Memberdayakan Perempuan</p><p><br/></p><p>pemberdayaan gender dalam pendidikan nonformal memainkan peran penting dalam mencapai kesetaraan dan keadilan gender. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas bagi perempuan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sumber daya yang relevan tanpa terikat oleh struktur pendidikan formal yang kaku.</p><p><br/></p><p>Tujuan Pemberdayaan Gender Di Pendidikan Non Formal Adapun tujuan dari Pemberdayaan Gender di Pendidikan Non Formal adalah untuk Mengurangi Kesenjangan Gender, Meningkatkan Partisipasi Perempuan, Membangun Kesadaran Tentang Hak hak Gender, Mengembangkan Kapasitas Individu dan Komunitas.</p><p><br/></p><p>Stereotipe merupakan suatu pandangan atau keyakinan yang dimiliki sekelompok orang tentang karakteristik atau sifat tertentu dari individu atau kelompok lain. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa "stereotip gender" adalah persepsi yang mencerminkan kesan dan keyakinan mengenai perilaku yang melekat pada perempuan dan laki-laki.</p><p><br/></p><p>Pendidikan nonformal dapat berkontribusi untuk pengarusutamaan dan pemberdayaan gender melalui berbagai program Pendidikan Nonformal yang dapat menjembatani perempuan dalam meningkatkan kualitas pengetahuan dan kemandirian. Pemberdayaan gender dalam pendidikan nonformal memainkan peran penting dalam mencapai kesetaraan dan keadilan gender. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas bagi perempuan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sumber daya yang relevan tanpa terikat oleh struktur pendidikan formal yang kaku. Pengaruh budaya patriarki menyebabkan perbedaan peran dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan, sering kali berdasarkan perbedaan fisik, yang kemudian menimbulkan kesenjangan, termasuk di dunia kerja</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 15:36:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376841461</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376846800</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama:M.Royyan Putra Firdaus</p><p>Nim:2221240021</p><p>Kelas:2B</p><p><br/></p><p>Kontribusi Pendidikan Nonformal dalam Pengarusutamaan GenderFleksibilitas dan Aksesibilitas: Program nonformal dirancang agar dapat diakses oleh kelompok yang mungkin tidak terlayani oleh sistem pendidikan formal, seperti perempuan yang harus mengurus keluarga atau kelompok masyarakat yang terpinggirkan.</p><p>Penyusunan Materi yang Sensitif Gender: Dengan merancang kurikulum yang bebas dari stereotip dan bias, pendidikan nonformal dapat membantu membangun pemahaman yang lebih egaliter dan mengarusutamakan perspektif gender dalam setiap kegiatan belajar mengajar.</p><p>Pemberdayaan Komunitas: Melalui pendekatan yang lebih kontekstual, pendidikan nonformal mendorong partisipasi aktif dari semua anggota masyarakat sehingga kesetaraan gender dapat diwujudkan secara praktis.</p><p>Pendidikan Nonformal sebagai Sarana Pemberdayaan GenderPengembangan Keterampilan dan Kepemimpinan: Program pendidikan nonformal sering kali menyediakan pelatihan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan ekonomi lokal, sehingga perempuan dapat lebih mandiri secara ekonomi dan berperan dalam pengambilan keputusan di lingkungan mereka.</p><p>Inklusi Sosial: Pendidikan nonformal memberikan ruang bagi perempuan untuk mengakses informasi, memperluas jejaring sosial, dan meningkatkan partisipasi dalam kegiatan komunitas, yang secara keseluruhan mendukung pemberdayaan gender.Pengaruh Stereotip Gender terhadap Akses Pendidikan NonformalPembatasan Peran dan Ekspektasi Sosial: Stereotip yang menganggap perempuan harus mengutamakan peran domestik atau laki-laki harus menjadi pencari nafkah utama dapat membuat kelompok tertentu merasa terhambat untuk mengikuti program pendidikan nonformal.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 15:40:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376846800</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376854687</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama : Suci Suryati (2221240010) </strong></p><p><strong>Kelas (2B)</strong></p><p><br/></p><p>Dari materi hari ini yang telah di presentasikan, saya semakin memahami bahwa pendidikan nonformal memiliki peran besar dalam mengarusutamakan gender dan memberdayakan perempuan. Selama ini, pendidikan sering kali dikaitkan dengan sekolah formal, padahal pendidikan nonformal juga memberikan dampak signifikan, terutama bagi mereka yang tidak memiliki akses ke pendidikan formal. Berbagai program seperti pelatihan keterampilan, kelompok belajar, dan taman baca masyarakat dapat menjadi sarana bagi perempuan untuk meningkatkan kualitas diri mereka, baik dalam aspek ekonomi maupun sosial.</p><p>Selain itu, saya juga menyadari bahwa stereotip gender masih menjadi hambatan dalam akses pendidikan nonformal. Budaya patriarki yang masih kuat di masyarakat sering kali membatasi peran perempuan dan laki-laki dalam dunia pendidikan dan pekerjaan. Contohnya, profesi guru PAUD yang masih dianggap sebagai pekerjaan perempuan menunjukkan bahwa ada batasan tidak tertulis yang menghambat laki-laki untuk terlibat dalam peran tersebut. Hal ini membuktikan bahwa pola pikir yang membedakan peran berdasarkan gender masih sangat kuat dan perlu diubah agar setiap individu memiliki kesempatan yang sama tanpa terbatas oleh norma sosial yang kaku.</p><p>Kesimpulannya, pendidikan nonformal bukan hanya sekadar alternatif, tetapi juga solusi dalam mengatasi kesenjangan gender. Dengan memberikan fleksibilitas bagi perempuan untuk belajar dan berkembang, pendidikan nonformal mampu menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara. Namun, upaya ini harus didukung dengan perubahan pola pikir dan kebijakan yang lebih inklusif agar tidak ada lagi batasan gender dalam akses pendidikan dan kesempatan kerja.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 15:47:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376854687</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>cantikaekazahra03</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376863201</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Cantika Eka Zahra </p><p>Kelas : 2b</p><p>NIM : 2221240085</p><p><br/></p><p>Dari materi hari ini membahas bahwa Pendidikan nonformal berperan dalam mendorong pengarusutamaan dan pemberdayaan gender melalui berbagai program yang dapat membantu perempuan dalam meningkatkan pengetahuan dan kemandirian. Pendekatan ini penting untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender, karena memberikan kesempatan bagi perempuan untuk memperoleh keterampilan dan sumber daya yang relevan tanpa terikat oleh sistem pendidikan formal. Pengaruh budaya patriarki sering kali menyebabkan perbedaan peran dan status antara laki-laki dan perempuan, yang akhirnya menimbulkan kesenjangan, terutama dalam dunia kerja.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 15:54:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376863201</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ahmadfakihmaulana1</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376865643</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : ahmad fakih maulana</p><p>kelas : 2B</p><p>NIM : 2221240006</p><p>pada pembahasan materi hari ini adalah gender dalam pendidikan non formal </p><p><br/></p><p>Pengarusutamaan gender adalah strategi yang bertujuan untuk memasukkan perspektif gender ke dalam kebijakan pembangunan agar program-program yang dijalankan dapat merespons ketimpangan yang ada dan mengurangi kesenjangan yang terjadi antara perempuan dan laki-laki</p><p><br/></p><p>tujuan :</p><p>-Mengurangi Ketimpangan Gender</p><p>-Meningkatkan Akses dan Partisipasi Perempuan  </p><p>-Memastikan Keberlanjutan Pembangunan Inklusif -Mengintegrasikan Perspektif Gender Dalam Pengambilan Keputusan </p><p>-Memberdayakan Perempuan</p><p><br/></p><p>kontribusi pnf :</p><p>-kegiatan keaksaraan fungsional </p><p>-kelompok belajar keterampilan</p><p>-kelompok belajar usaha</p><p>-taman baca masyarakat</p><p>-program kecakapan hidup</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 15:57:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376865643</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>maliardk21</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376879143</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Muhammad Ali Abdurrahman K.D</p><p>NIM: 2221240055</p><p>Kelas: 2B</p><p><br/></p><p>Materi yang disampaikan hari ini adalah Kontribusi Pendidikan Non</p><p>Formal dalam</p><p>pengarusutamaan gender. Definisi Pengarusutamaan gender adalah strategi yang bertujuan untuk memasukkan perspektif gender ke</p><p>dalam kebijakan pembangunan agar program-program yang dijalankan dapat merespons ketimpangan yang ada dan mengurangi kesenjangan yang terjadi antara perempuan dan laki-laki.</p><p><br/></p><p>Tujuan dari Pengarusutamaan gender yaitu: </p><p>- Mengurangi Ketimpangan Gender</p><p>- Meningkatkan Akses dan Partisipasi</p><p>Perempuan</p><p>- Memastikan Keberlanjutan Pembangunan Inklusif</p><p>- Mengintegrasikan Perspektif Gender Dalam Pengambilan Keputusan</p><p>- Memberdayakan Perempuan</p><p><br/></p><p>Kontribusi Pendidikan Non Formal Dalam Pengarusutamaan Gender yaitu:</p><p>- Kegiatan Keaksaraan Fungsional</p><p>- Kelompok Belajar Keterampilan (KBK)</p><p>- Kelompok Belajar Usaha (KBU)</p><p>- Taman Bacaan Masyarakat (TBM)</p><p>- Program Kecakapan Hidup/lifeskill</p><p><br/></p><p>Contoh Pembedayaan Gender di</p><p>Pendidikan Non Formal:</p><p>1. (Pelatihan Keterampilan untuk Perempuan di Lembaga Pendidikan Nonformal) Banyak lembaga pendidikan nonformal yang menawarkan pelatihan keterampilan khusus bagi perempuan, seperti</p><p>pelatihan menjahit, kerajinan tangan, atau kewirausahaan.</p><p>2. (Sekolah Alam untuk Anak-Anak dengan Fokus pada Kesetaraan Gender) Beberapa lembaga pendidikan nonformal, seperti Sekolah Alam, mengintegrasikan pendidikan tentang kesetaraan gender dalam kurikulum mereka. </p><p><br/></p><p>Definisi stereotip gender mempengaruhi akses terhadap Pendidikan Non Formal adalah</p><p>Stereotipe merupakan suatu pandangan atau keyakinan yang dimiliki sekelompok orang tentang</p><p>karakteristik atau sifat tertentu dari individu atau kelompok lain. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa "stereotip gender" adalah persepsi yang mencerminkan kesan dan keyakinan mengenai perilaku yang melekat pada perempuan dan laki-laki.</p><p><br/></p><p>Pengaruh Stereotip Gender Dalam</p><p>Mengakses Pendidikan Non Formal</p><p>Pengaruh budaya yang kuat menyebabkan perbedaan peran dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan, sering kali berdasarkan perbedaan fisik, yang kemudian</p><p>menimbulkan kesenjangan, termasuk di dunia kerja. Contoh kasus yang terjadi di lembaga Pendidikan Nonformal adalah profesi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yang umumnya didominasi oleh perempuan dan telah menjadi hal yang dianggap biasa di masyarakat. Hingga saat ini, peran guru di PAUD dan Taman Kanak-Kanak (TK) masih</p><p>sangat identik dengan perempuan, sementara laki-laki sering dianggap kurang cocok untuk menjalani profesi ini.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 16:09:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376879143</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>hikmahtsy17</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376925058</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Hikmah Tussyahiroh </p><p>NIM   : 2221240051</p><p>Kelas  : 2B </p><p><br/></p><blockquote><p><em><mark>Kontribusi Pendidikan Non </mark></em></p><p><em><mark>Formal dalam </mark></em></p><p><em><mark>pengarusutamaan gender</mark></em></p></blockquote><p><br/></p><p>Pengarusutamaan gender adalah strategi yang bertujuan untuk memasukkan perspektif gender ke dalam kebijakan pembangunan agar program-program </p><p>yang dijalankan dapat merespons ketimpangan yang ada dan mengurangi kesenjangan yang terjadi antara perempuan dan laki laki.</p><p><br/></p><p>Pemberdayaan gender dalam pendidikan </p><p>nonformal memainkan peran penting dalam mencapai kesetaraan dan keadilan gender. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas bagi perempuan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sumber daya yang relevan tanpa terikat oleh struktur pendidikan formal yang kaku.</p><p><br/></p><p>Pengaruh budaya yang kuat menyebabkan perbedaan </p><p>peran dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan, sering kali berdasarkan perbedaan fisik, yang kemudian menimbulkan kesenjangan, termasuk di dunia kerja. Contoh kasus yang terjadi di lembaga Pendidikan Nonformal adalah profesi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yang umumnya didominasi oleh perempuan dan telah menjadi hal yang dianggap biasa di masyarakat. Hingga saat ini, peran guru di PAUD dan Taman Kanak-Kanak (TK) masih sangat identik dengan perempuan, sementara laki-laki sering dianggap kurang cocok untuk menjalani profesi ini.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 16:55:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3376925058</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>haalthirtymei</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377061223</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Siti Kholimatul Sa'diah</strong></p><p><strong>Nim: 2221240047</strong></p><p><strong>Kelas: 2A</strong></p><p><br/></p><p>Pada pertemuan kali ini membahas tentang pengaruh pendidikan non formal dalam pengarusutamaan kesetaraan gender. Pendidikan non formal memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap peran gender dalam masyarakat, karena dapat mengubah persepsi dan sikap masyarakat terhadap pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Melalui pendidikan non formal, baik perempuan maupun laki-laki diberi kesempatan misalnya: untuk mengembangkan keterampilan yang dapat meningkatkan kualitas hidup mereka, termasuk dalam hal pekerjaan dan keputusan sosial politik. Disini zaman sekarang juga sudah banyak orang yang sadar akan kesetaraan gender, contohnya laki-laki  boleh menangis, perempuan mulai memiliki karir yang lebih sukses dari pada laki-laki, beres-beres rumah tidak harus di lakukan oleh perempuan dan lain-lainnya. Namun nyatanya walaupun sudah banyak yang sadar akan kesetaraan gender, masih banyak sekali stereotipe dan stigma-stigma sosial, patriarki yang menghambat dan menormalisasikannya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 19:36:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377061223</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rahmaauliya040806</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377090962</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama : Rahma Aulia</strong></p><p><strong>Kelas : 2A</strong></p><p><strong>Nim : 2221240092</strong></p><p><br/></p><p>Pendidikan nonformal memiliki peran yang sangat penting dalam pengarusutamaan kesetaraan gender, terutama dalam meningkatkan akses perempuan terhadap pendidikan dan pemberdayaan. Salah satu keunggulan pendidikan nonformal adalah fleksibilitasnya, yang memungkinkan perempuan, terutama mereka yang memiliki tanggung jawab keluarga atau tinggal di daerah terpencil, untuk tetap mendapatkan kesempatan belajar tanpa harus terikat pada jadwal dan struktur yang kaku seperti dalam pendidikan formal. Hal ini menjadi solusi bagi banyak perempuan yang sebelumnya terhalang oleh berbagai kendala sosial, ekonomi, atau geografis.</p><p>Selain itu, pendidikan nonformal sering kali berfokus pada pengembangan keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari, seperti keterampilan kewirausahaan, manajemen keuangan, atau pelatihan kerja. Dengan keterampilan ini, perempuan dapat meningkatkan kemandirian ekonomi mereka, mengurangi ketergantungan pada pihak lain, dan memperluas peluang untuk berkontribusi dalam masyarakat. Pemberdayaan ekonomi ini menjadi salah satu kunci penting dalam mendorong kesetaraan gender karena perempuan yang mandiri secara finansial cenderung memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam keluarga maupun komunitasnya.</p><p>Program pendidikan nonformal juga sering kali mencakup materi tentang kesadaran gender dan hak asasi manusia. Melalui pendidikan ini, masyarakat diajak untuk memahami pentingnya kesetaraan gender dan mengurangi stereotip serta diskriminasi berbasis gender. Pendidikan semacam ini membantu menciptakan lingkungan sosial yang lebih inklusif dan mendukung perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai bidang kehidupan.</p><p>Selain itu, pendidikan nonformal dapat menjadi jembatan bagi perempuan untuk melanjutkan pendidikan formal yang sebelumnya tidak mereka dapatkan. Banyak program nonformal dirancang untuk memberikan sertifikasi atau pengakuan yang memungkinkan peserta melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi. Ini membuka peluang bagi perempuan untuk mengembangkan potensi mereka di bidang akademik maupun profesional.</p><p>Pendidikan nonformal juga berperan dalam pengembangan kepemimpinan perempuan. Melalui pelatihan-pelatihan kepemimpinan, perempuan diberi kesempatan untuk mengasah kemampuan berbicara di depan umum, mengambil keputusan, dan memimpin proyek-proyek komunitas. Hal ini tidak hanya meningkatkan rasa percaya diri mereka tetapi juga mendorong mereka untuk menjadi agen perubahan di lingkungan mereka.</p><p>Dengan berbagai kontribusinya tersebut, pendidikan nonformal menjadi alat yang efektif dalam mendorong kesetaraan gender. Tidak hanya membantu perempuan mendapatkan akses pendidikan dan pemberdayaan, tetapi juga berkontribusi pada perubahan sosial yang lebih luas menuju masyarakat yang adil dan setara bagi semua gender.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 20:25:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377090962</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377109587</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Galang Rizky Pratama</p><p>Nim : 2221240002</p><p>Kelas : 2A</p><p><br/></p><p>Selama mengikuti mata kuliah ini, saya jadi lebih sadar bahwa pendidikan bukan hanya soal sekolah atau bangku kuliah. Ada banyak bentuk pembelajaran di luar pendidikan formal yang ternyata punya pengaruh besar dalam membangun kesetaraan gender. Pendidikan nonformal, seperti pelatihan keterampilan, program pemberdayaan perempuan, atau diskusi komunitas, bisa jadi cara yang efektif untuk membuka wawasan dan mengubah pola pikir masyarakat.</p><p>Salah satu hal yang paling menarik bagi saya adalah bagaimana pendidikan nonformal bisa menjangkau kelompok yang sering terpinggirkan. Misalnya, perempuan di daerah pedesaan atau orang-orang yang tidak punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi. Dengan metode yang lebih fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan mereka, pendidikan nonformal memberi kesempatan bagi lebih banyak orang untuk memahami pentingnya kesetaraan gender.</p><p>Yang juga membuat saya berpikir adalah bagaimana cara menyampaikan pendidikan itu sendiri. Ternyata, pendekatan yang lebih partisipatif—seperti diskusi, berbagi pengalaman, atau simulasi—jauh lebih efektif dibanding hanya mendengar ceramah panjang lebar. Dengan metode yang lebih interaktif, orang-orang lebih mudah memahami dan menerima konsep kesetaraan gender sebagai sesuatu yang memang harus diperjuangkan bersama, bukan hanya tugas satu pihak saja.</p><p>Tapi, tentu saja tidak semuanya berjalan mulus. Ada banyak tantangan yang dihadapi, mulai dari budaya patriarki yang masih kuat, kurangnya dukungan kebijakan, hingga akses terbatas ke sumber daya. Hal ini membuat saya sadar bahwa mengarusutamakan kesetaraan gender lewat pendidikan nonformal bukanlah tugas yang bisa diselesaikan sendirian. Diperlukan kerja sama antara pemerintah, komunitas, dan berbagai pihak lainnya agar perubahan bisa benar-benar terjadi.</p><p>Secara keseluruhan, mata kuliah ini membuka mata saya bahwa kesetaraan gender bukan hanya teori, tetapi sesuatu yang bisa kita wujudkan dengan cara yang lebih konkret. Pendidikan nonformal bisa jadi alat yang ampuh untuk mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat. Dari sini, saya jadi semakin yakin bahwa setiap orang, termasuk saya sendiri, punya peran dalam menciptakan lingkungan yang lebih adil dan setara bagi semua.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 21:01:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377109587</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377110454</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Athiyatun Najah</p><p>Kelas : 2A</p><p>Nim :2221240078</p><p><br/></p><p>Pada pertemuan hari ini membahas mengenai gender dan pendidikan nonformal yang dimana definisi gender menurut oakley yaitu perbedaan antara wanita dan laki-laki yang dibentuk berdasarkan faktor sosial dan budaya misalnya, wanita dianggap lemah lembut, emosionalemosional sedangkan laki-laki dianggap kuat, rasional, dan prakarsa. Adapun pengaruh dalam pendidikan nonformal yaitu mengubah persepsi dan sikap masyarakat terhadap </p><p>pembagian peran antara laki-laki dan </p><p>perempuan. Melalui pendidikan non-formal, </p><p>baik perempuan maupun laki-laki diberi </p><p>kesempatan untuk mengembangkan </p><p>keterampilan yang dapat meningkatkan </p><p>kualitas hidup mereka, termasuk dalam hal </p><p>pekerjaan dan keputusan sosial-politik.Teori-teori hukum pendukung antara lain, teori keadilan Distrbutif, teori hak asasi manusia, dan teori feminsme hukum.</p><p>Pengarusutamaan dalam gender antara lain yaitu : </p><p>1)mewujudkan kesetaraan gender dan keadilan gender </p><p>2) Tidak hanya soal akses, tetapi juga pengakuan </p><p>kebutuhan spesifik tiap gender. </p><p>3) Menciptakan lingkungan belajar yang aman &amp; bebas </p><p>diskriminasi. </p><p>4) Mendorong potensi siswa tanpa batasan norma </p><p>sosia</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 21:03:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377110454</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377117684</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA : Moh Firdausil Mutaqin</p><p>Nim : 2221240079 </p><p>Kelas : 2A</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Pada diskusi minggu ini yaitu mendiskusikan terkait dengan Kontribusi Pendidikan Nonformal dalam Pengarusutamaan Gender</p><p><br/></p><p>Setelah mempelajari tentang kontribusi pendidikan nonformal dalam pengarusutamaan gender, saya menyadari betapa pentingnya pendidikan di luar sistem formal dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara. Selama ini, kita sering berpikir bahwa pendidikan hanya berkaitan dengan sekolah dan universitas, padahal ada banyak orang yang tidak memiliki akses ke pendidikan formal tetapi tetap bisa belajar dan berkembang melalui jalur nonformal.</p><p><br/></p><p>Pendidikan nonformal membuka peluang bagi orang² yang sering terpinggirkan, terutama perempuan yang masih menghadapi berbagai hambatan sosial dan ekonomi. Program seperti kursus keterampilan, pelatihan kewirausahaan, dan penyuluhan kesehatan reproduksi menjadi sarana penting bagi mereka untuk meningkatkan kualitas hidup. Saya jadi lebih memahami bahwa pendidikan bukan sekadar tentang akademik, tetapi juga tentang membangun kemandirian, meningkatkan kepercayaan diri, dan memberikan kesadaran akan hak-hak yang dimiliki.</p><p><br/></p><p>Namun, saya juga melihat bahwa ada banyak tantangan yang dihadapi dalam implementasi pendidikan nonformal untuk pengarusutamaan gender. Tidak semua masyarakat menerima konsep kesetaraan gender dengan mudah, karena masih ada norma budaya yang membatasi peran perempuan. Selain itu, kurangnya dukungan kebijakan dan dana juga menjadi kendala besar dalam menjalankan program-program ini secara maksimal.</p><p><br/></p><p>Dari pembelajaran ini, saya semakin yakin bahwa perubahan tidak bisa terjadi dalam semalam. Diperlukan kerja sama dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, organisasi masyarakat, hingga individu untuk terus memperjuangkan pendidikan yang lebih inklusif. Saya juga merasa bahwa sebagai bagian dari masyarakat, saya memiliki peran dalam mendukung kesetaraan gender, bahkan dari hal-hal kecil seperti menyebarkan kesadaran atau mendukung program pemberdayaan perempuan di lingkungan sekitar.</p><p><br/></p><p>Secara keseluruhan, materi ini membuka mata saya bahwa pendidikan nonformal bukan sekadar alternatif, tetapi solusi nyata dalam menciptakan kesetaraan. Dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan berbasis kebutuhan masyarakat, pendidikan nonformal bisa menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih adil bagi semua.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 21:17:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377117684</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>sitianini1122</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377121379</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Siti Nur’Aini </p><p>Nim : 2221240005 </p><p>Kelas : 2A </p><p>Pemberdayaan gender dalam pendidikan nonformal memainkan peran yang sangat signifikan dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. Dengan pendekatan yang lebih terbuka dan inklusif, pendidikan nonformal memberi ruang bagi perempuan untuk mengakses pengetahuan yang sebelumnya mungkin tidak tersedia bagi mereka. Hal ini tidak hanya memperkaya wawasan mereka, tetapi juga memberikan mereka keterampilan yang diperlukan untuk berpartisipasi secara lebih aktif dalam masyarakat. Keberadaan pendidikan nonformal memungkinkan perempuan untuk mengembangkan potensi diri mereka, memperbaiki kondisi ekonomi, dan bahkan meningkatkan posisi mereka dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga dan komunitas.</p><p>Pemberdayaan perempuan melalui pendidikan nonformal ini sangat penting dalam konteks perubahan sosial. Dengan adanya pendidikan yang lebih terbuka dan fleksibel, perempuan dapat memperoleh sumber daya yang relevan, tanpa terhambat oleh pembatasan yang sering kali ditemukan dalam sistem pendidikan formal. Ini memberikan perempuan kesempatan untuk belajar sesuai dengan kebutuhan dan waktu mereka, serta menghindari diskriminasi yang mungkin terjadi dalam sistem pendidikan formal yang sering kali memihak pada norma-norma tradisional yang mengutamakan peran laki-laki. Dalam hal ini, pendidikan nonformal menjadi salah satu alat yang sangat efektif untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 21:25:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377121379</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>restikayundiana4</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377125630</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Restika Yundiana</p><p>Nim: 2221240046</p><p>Kelas: PNF 2A</p><p><br/></p><p>Pada pertemuan kali ini membahasa terkait “GENDER DAN PENDIDIKAN</p><p>NON FORMAL” dari yang di paparkan oleh kelompok 3 terkait materi tersebut di jelaskan apa itu gender dan yang saya pahami yaitu untuk menjelaskan perbedaan antara pria dan wanita dalam masyarakat. Gender juga merujuk pada karakteristik, perilaku dan ekspetasi yang masyarakat hubungkan dengan pria dan wanita.</p><p>Dari yang di paparkan kelompok 3 menjelaskan jelas bahwa Pendidikan Non Formal dalam hal ini memiliki peran besar terhadap peran gender dalam</p><p>masyarakat, karena dapat mengubah</p><p>persepsi dan sikap masyarakat terhadap</p><p>pembagian peran antara laki-laki dan</p><p>perempuan. Melalui pendidikan non-formal,</p><p>baik perempuan maupun laki-laki diberi</p><p>kesempatan untuk mengembangkan</p><p>keterampilan yang dapat meningkatkan</p><p>kualitas hidup mereka, termasuk dalam hal</p><p>pekerjaan dan keputusan sosial-politik. Namun, nyatanya tambahan dari bu nining tidak hanya dalam pendidikan non formal dalam pendidikan formal dan pemerintah juga sangat penting terkait peran gender dalam masyarakat karena beberapa alasan seperti:</p><ul><li><p>menghapuskan diskriminasi gender, dari bagian ini pemerintah dan pendidikan formal menyediakan pendidikan yang sama bagi semua siswa tanpa memandang jenis kelamin</p></li><li><p>Membantu siswa mengembangkan kemampuan dan bakat, dalam poin ini pendidikan gender dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan dan bakat mereka tanpa dibatasi oleh stereotip gender.</p></li></ul><p>dan masi banyak lagi bagaimana pendidikan non formal, formal maupun pemerintah yang memang seperti bu nining katakan sangat perlu dan harus berperan aktif dalam pendidikan gender ini terutama di indonesia sendiri.</p><p>Materi pertemuan ini juga ada beberapa teori-teori hukum pendukung yaitu ada:</p><ul><li><p>Teori Keadilan Distributif (Distributive Justice)</p></li><li><p>Teori Hak Asasi Manusia (Human Rights Law)</p></li><li><p>Teori Feminisme Hukum (Feminist Legal Theory)</p></li></ul><p>Dan yang saya pahami terkait materi ini yaitu Pendidikan non-formal memainkan peran kunci dalam mengatasi kesenjangan gender dengan menyediakan akses pendidikan yang lebih luwes, terutama bagi perempuan dan kelompok marjinal yang mengalami hambatan dalam mengakses pendidikan formal. Melalui pendidikan non-formal, masyarakat dapat mengalami perubahan dalam persepsi dan sikap terhadap peran gender, sehingga membantu mengubah pembagian peran antara laki-laki dan perempuan secara lebih adil dan setara.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 21:35:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377125630</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377136745</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Muhammad Miftahuddin</p><p>Kelas: 2B</p><p>Nim:2221240098</p><p><br></p><p>Materi yang disampaikan hari ini adalah Kontribusi Pendidikan Non Formal dalam pengarusutamaan gender Pengarusutamaan gender adalah strategi yang bertujuan untuk memasukkan perspektif gender ke dalam kebijakan pembangunan agar program-program yang dijalankan dapat merespons ketimpangan yang ada dan mengurangi kesenjangan yang terjadi antara perempuan dan laki-laki. </p><p><br></p><p>Tujuan yang dapat dilakukan</p><ul><li><p>Menyusun kebijakan yang responsif gender</p></li><li><p>Meningkatkan peran dan kemandirian lembaga pemberdayaan perempuan</p></li><li><p>Menyediakan sarana dan prasarana yang responsif gender</p></li><li><p>Mengadakan kegiatan yang menargetkan prioritas dan kebutuhan perempuan</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 22:02:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377136745</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377136965</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Difa Desti Sabillah</p><p>Kelas : 2A </p><p>Nim : 2221240097</p><p><br></p><p>Pembelajaran yang saya dapatkan dari presentasi ini adalah pentingnya pendidikan non-formal dalam mendukung pengarusutamaan gender. Saya menyadari bahwa pendidikan non-formal memiliki peran besar dalam pemberdayaan perempuan dan perubahan norma sosial yang membatasi peran gender tertentu. Selain itu, saya juga belajar bahwa pendidikan non-formal memberikan kesempatan yang lebih luas bagi individu, terutama perempuan, untuk memperoleh keterampilan praktis yang dapat meningkatkan kemandirian dan partisipasi mereka dalam berbagai aspek kehidupan, baik sosial, ekonomi, maupun politik. Pembelajaran ini juga membuka wawasan saya tentang pentingnya kesadaran gender dan bagaimana pendidikan dapat menjadi alat untuk menciptakan masyarakat yang lebih setara.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 22:02:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377136965</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377141099</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: LUTVIHAKIM </p><p>Nime  :2221240034</p><p>Kelas :2A</p><p><br/></p><p>Pada pertemuan kali ini kelompok 3 menjelaskan keterkaitan nya  gender dalam pendidikan non formal </p><p> Kelopak 3 menjelaskan bahwasanya  gender adalah istilah yang digunakan menjelaskan perbedaan antara pria dan wanita dalam masyarakat.gender merujuk pada karakteristik dalam masyarakat, perilaku dan ekspektasi yang masyarakat </p><p>Hubungan Dengan laki laki dan dan perempuan </p><p><br/></p><p>Menurut Oakley </p><p>Gender merujuk pada perbedaan antara pria dan wanita yang di bentuk oleh faktor sosial dan budaya. Contoh nya wanita sebagai lemah lembut dalam, emosional, bersifat ibu ibu, dan sejenisnya .pria dianggap kuat,rasional,perkasa dan sebagainya </p><p> </p><p>Pendidikan non formal memiliki pengaruh terhadap peran gender dalam masyarakat, dapat membantu persepsi dan sikap masyarakat terhadap pembagian peran antara laki - laki dan perempuan. Melalui pendidikan non formal baik perempuan  laki-laki diberi kesempatan untuk mengembangkan keterampilan yang  dapat meningkatkan kualitas hidup mereka termasuk dalam hal pekerjaan dan keputusan sosial -politik </p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-21 22:13:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377141099</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nkiranah</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377192478</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Nisa Kiranah </p><p>Kelas : 2A</p><p>Nim : 2221240077</p><p><br/></p><p>Pada pertemuan minggu ini saya dapat menyimpulkan terkait materi yang telah dipaparkan oleh kelompok 3 bahwasanya Pendidikan non-formal sangat berperan penting dalam mengurangi kesenjangan gender dengan memberikan akses belajar yang lebih fleksibel, terutama bagi perempuan dan kelompok marginal. Selain meningkatkan keterampilan dan kepercayaan diri, pendidikan ini juga membantu mengatasi stereotip gender dalam dunia kerja dan karir. Dengan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan bebas diskriminasi, individu dapat berkembang tanpa batasan norma sosial. Didukung oleh berbagai teori hukum, pendidikan non-formal menjadi sarana untuk mewujudkan kesetaraan gender, menciptakan masyarakat yang lebih adil, serta membuka peluang yang setara bagi semua individu.Pendidikan non-formal berperan penting dalam mengurangi kesenjangan gender dengan memberikan akses belajar yang lebih fleksibel, terutama bagi perempuan dan kelompok marginal. Selain meningkatkan keterampilan dan kepercayaan diri, pendidikan ini juga membantu mengatasi stereotip gender dalam dunia kerja dan karir. Dengan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan bebas diskriminasi, individu dapat berkembang tanpa batasan norma sosial. Didukung oleh berbagai teori hukum, pendidikan non-formal menjadi sarana untuk mewujudkan kesetaraan gender, menciptakan masyarakat yang lebih adil, serta membuka peluang yang setara bagi semua individu.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-22 00:41:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377192478</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rifahiif70</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377199400</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama   : Iif Rif'ah</p><p><br/></p><p>Nim      : 2221240050</p><p><br/></p><p>Kelas  : 2A</p><p><br/></p><p>Review presentasi kelompok 3 </p><p>Jadi menurut saya gender dan pendidikan non formal ini dimana gender itu istilah pembeda dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan tetapi disini gender ini adalah sebuah karakteristik dalam masyarakat, prilaku dan ekspektasi masyarakat.Pendidikan non formal ini memiliki pengaruh yang besar karna memiliki peran besar kepada masyarakat dan bisa merubah perspektif dan sikap terhadap perempuan. Peran pendidikan non formal Kesetaraan gender dalam pendidikan nonformal memastikan bahwa semua individu, tanpa memandang gender, memiliki akses, kesempatan, dan manfaat yang sama dalam pembelajaran di luar sistem formal. Ini mencakup akses yang adil, kurikulum yang inklusif, partisipasi aktif, pemberdayaan ekonomi, dan lingkungan belajar yang aman. Dengan menerapkan prinsip kesetaraan gender, pendidikan nonformal dapat menjadi alat yang efektif dalam meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan bagi semua.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-22 01:00:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377199400</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377208452</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Laras Juliana Sapira</p><p>Nim    : 2221240031</p><p>Kelas  : 2A</p><p><br/></p><p><strong>"Gender dan Pendidikan Non Formal"</strong></p><p><br/></p><p>Gender bukan sekadar perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga mencakup bagaimana masyarakat membentuk peran, karakteristik, serta ekspektasi terhadap masing-masing gender.</p><p><br/></p><p>Pendidikan non-formal memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk kesadaran masyarakat terkait peran gender. Melalui pendidikan non-formal, baik laki-laki maupun perempuan dapat memperoleh akses yang lebih luas untuk meningkatkan keterampilan mereka, yang pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan mereka dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk karier dan keterlibatan dalam pengambilan keputusan di lingkungan sosial.</p><p><br/></p><p>Namun, seperti yang dijelaskan oleh Bu Nining, peran pendidikan dalam menciptakan kesetaraan gender tidak hanya terbatas pada pendidikan non-formal. Pendidikan formal dan kebijakan pemerintah juga memiliki tanggung jawab besar dalam menghapuskan bias gender dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua individu.</p><p><br/></p><p>Beberapa alasan pentingnya pendidikan formal dan kebijakan pemerintah dalam mendukung kesetaraan gender antara lain:</p><ol><li><p>Menghilangkan diskriminasi gender. Dengan adanya kebijakan yang tepat, pendidikan formal dapat menjamin hak yang setara bagi semua peserta didik tanpa memandang jenis kelamin.</p></li></ol><ol start="2"><li><p>Mendukung pengembangan potensi individu. Pendidikan berbasis kesetaraan gender memungkinkan setiap orang untuk mengembangkan bakat dan minatnya tanpa dibatasi oleh norma sosial yang mengekang.</p></li></ol><p><br/></p><p>Selain itu, materi ini juga menyoroti beberapa teori hukum yang berkaitan dengan kesetaraan gender, seperti:</p><ol><li><p>Teori Keadilan Distributif (Distributive Justice), yang menitikberatkan pada pemerataan akses terhadap sumber daya dan peluang bagi semua individu.</p></li></ol><ol start="2"><li><p>Teori Hak Asasi Manusia (Human Rights Law), yang menegaskan bahwa semua orang memiliki hak yang sama dalam pendidikan dan aspek kehidupan lainnya.</p></li></ol><ol start="3"><li><p>Teori Feminisme Hukum (Feminist Legal Theory), yang berfokus pada bagaimana hukum dapat digunakan untuk mengurangi ketidakadilan berbasis gender.</p></li></ol><p><br/></p><p>Dari pembahasan ini, dapat dipahami bahwa pendidikan non-formal menjadi salah satu sarana penting dalam mengatasi ketimpangan gender, terutama bagi kelompok yang menghadapi kesulitan dalam mengakses pendidikan formal. Dengan pendekatan yang lebih fleksibel, pendidikan non-formal dapat membantu mengubah cara pandang masyarakat mengenai pembagian peran gender, sehingga tercipta keadilan dan kesetaraan yang lebih baik antara laki-laki dan perempuan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-22 01:23:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377208452</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377212029</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Chelsea Annisa Sapitri</p><p>Kelas: 2A</p><p>Nim: 2221240017</p><p><br/></p><p>pelajaran yang saya dapatkan dari presentasi ini adalah  bagaimana pentingnya sih pendidikan no formal berperan dalam pemberdayaan perempuan dan menjadikan aturan yang selalu menjadi hambatan perempuan. kemudian saya juga dapat memehami bahwa pendidikan non formal memberikan suatu kesempatan yang begitu luas untuk beberpa individu, perempuan salah satunya. untuk memperoleh keterampilan praktis yang dapat meningkatkan kemandirian dan rasa ingin berpartisi pasi dalam segala aspek kehidupan, mau dalam sosial, ekonomi, politik.  </p><p>pengurus utama dalam gender lain yaitu: </p><ol><li><p>mewujudkan kesetaraan gender dan ke adlian dalam gender</p></li><li><p>. mempermudah dalam segala hal, tidak cuma soal akses tapi juga pengakuan dan kebutuhan spesifik tiap gender.</p></li><li><p>menciptakan ketenangan, aman, dan bebas diskriminasi.</p></li><li><p>mendoron potensi siswa tanpa batasan norma sosial.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-22 01:31:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377212029</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>fadhilahibni</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377240922</link>
         <description><![CDATA[<p>fadhilah ibni safitri</p><p>2221240018</p><p>2A</p><p>Meningkatkan jenis kelamin pendidikan non-formal memainkan peran yang sangat penting dalam mencapai kesetaraan dan keadilan gender. Ini memiliki pendekatan yang lebih terbuka dan terintegrasi, sehingga tidak memberikan pendidikan formal dan tidak memberikan ruang untuk akses ke pengetahuan yang sebelumnya tidak tersedia. Ini tidak hanya memperkaya wawasan Anda, tetapi juga memberikan keterampilan yang Anda butuhkan untuk secara aktif terlibat dalam masyarakat. Keberadaan pendidikan non-formal memungkinkan perempuan untuk mengembangkan potensi mereka, memperbaiki situasi keuangan mereka, dan bahkan meningkatkan posisi mereka dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga dan masyarakat. Pemberdayaan</p><p>Wanita melalui pendidikan non-formal sangat penting dalam konteks perubahan sosial. Pelatihan yang lebih terbuka dan fleksibel memungkinkan wanita untuk menerima sumber daya yang relevan tanpa terhambat oleh pembatasan yang umum dalam sistem pendidikan formal. Ini memberi wanita kesempatan untuk belajar sesuai dengan kebutuhan dan waktu mereka dan menghindari diskriminasi yang mungkin terjadi dalam sistem pendidikan formal yang mendukung norma -norma tradisional yang memprioritaskan peran laki -laki. Dalam hal ini, ini bukan bentuk formal dan merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk menciptakan masyarakat yang sama di pameran.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-22 02:40:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377240922</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377265167</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Nazma Kamila Ramadhani</p><p>Kelas: 2A</p><p>Nim: 2221240061</p><p><br/></p><p>Presentasi dari Kelompok 3 ini membahas topik yang sangat penting, yaitu mengenai bagaimana pendidikan non-formal dapat berperan dalam mewujudkan kesetaraan gender. </p><p><br/></p><p>Presentasi kemarin menjelaskan dahulu tentang konsep gender, yang dimana bukan hanya sebagai perbedaan biologis antara pria dan wanita, tetapi sebagai konstruksi sosial dan budaya yang membentuk peran dan ekspektasi terhadap keduanya. Penjelasan mengenai bagaimana stereotip gender terbentuk juga sangat membantu untuk memahami akar permasalahan ketidaksetaraan gender. </p><p><br/></p><p>Poin yang paling menarik adalah bagaimana pendidikan non-formal dipandang sebagai alat yang efektif untuk mengatasi stereotip gender. Soalnya, pendidikan non formal ini lebih fleksibel dan bisa diakses sama siapa aja, termasuk perempuan yang mungkin susah sekolah formal. Dengan pendidikan non-formal, perempuan bisa belajar berbagai keterampilan, jadi lebih percaya diri, dan bisa berkontribusi lebih banyak di  masyarakat.</p><p><br/></p><p>Kesetaraan gender bukan cuma soal memberi kesempatan yang sama, tapi juga soal ngertiin kebutuhan masing-masing. Jadi, pendidikan non-formal harus bisa bikin lingkungan belajar yang aman dan bebas dari diskriminasi. Dengan begitu, semua orang bisa berkembang sesuai potensi masing-masing, tanpa terhalang sama norma-norma yang udah ketinggalan zaman.</p><p><br/></p><p>Jadi, kesimpulannya, pendidikan non-formal memuliki peran yang sangat penting untuk mewujudkan kesetaraan gender. Dengan pendidikan yang tepat, kita bisa mengubah cara pandang masyarakat dan menciptakan dunia yang lebih adil buat semua orang.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-22 03:37:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377265167</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377265837</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Muhamad Juan Safiq</p><p>Kelas : 2A</p><p>NIM: 2221240048</p><p><br/></p><p>Dari presentasi ini, saya memahami bahwa pendidikan non-formal memiliki peran penting dalam mendukung kesetaraan gender. Saya menyadari bahwa pendidikan non-formal dapat memberdayakan perempuan serta mendorong perubahan terhadap norma sosial yang masih membatasi peran gender tertentu. Selain itu, saya juga belajar bahwa pendidikan non-formal memberikan peluang lebih luas bagi individu, khususnya perempuan, untuk memperoleh keterampilan yang bermanfaat dalam meningkatkan kemandirian serta partisipasi mereka dalam berbagai bidang kehidupan, baik sosial, ekonomi, maupun politik. Pembelajaran ini juga membuat saya lebih memahami pentingnya kesadaran gender dan bagaimana pendidikan dapat menjadi sarana dalam mewujudkan masyarakat yang lebih inklusif dan adil.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-22 03:38:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377265837</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nadyark</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377269059</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama:Nadya Rizqia Khairina</p><p>NIM:2221240076</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Dengan materi yang sedang didiskusikan saya </p><p>jadi lebih sadar bahwa pendidikan bukan hanya soal sekolah atau bangku kuliah.</p><p>Ada banyak bentuk pembelajaran di luar pendidikan formal yang ternyata punya pengaruh besar dalam membangun kesetaraan gender. Pendidikan nonformal, seperti pelatihan keterampilan, program pemberdayaan perempuan, atau diskusi komunitas, bisa jadi cara yang efektif untuk membuka wawasan dan mengubah pola pikir masyarakat. saya adalah bagaimana pendidikan nonformal bisa menjangkau kelompok yang sering terpinggirkan.Misalnya, perempuan di daerah pedesaan atau orang-orang yang tidak punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi. Dengan metode yang lebih fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan mereka, pendidikan nonformal memberi kesempatan bagi lebih banyak orang untuk memahami pentingnya kesetaraan gender.Yang juga membuatsaya berpikir adalah bagaimana cara menyampaikan pendidikan itu sendiri. Ternyata, pendekatan yang lebih partisipatif -seperti diskusi, berbagi pengalaman, atau simulasi-jauh lebih efektif dibanding hanya mendengar ceramah panjang lebar. Dengan metode yang lebih interaktif, orang-orang lebih mudah memahami dan menerima konsep kesetaraan gender sebagai sesuatu yang memang harus diperjuangkan bersama, bukan hanya tugas satu pihak saja Tapi, tentu saja tidak semuanya berjalan mulus. Ada banyak tantangan yang dihadapi, mulai dari budaya patriarki yang masih kuat, kurangnya dukungan kebijakan, hingga akses terbatas ke sumber daya. Hal ini membuat saya sadar bahwa mengarusutamakan kesetaraan gender lewat pendidikan nonformal bukanlah tugas yang bisa diselesaikan sendirian.</p><p>Diperlukan kerja sama antara pemerintah, komunitas, dan berbagai pihak lainnya agar perubahan bisa benar-benar teriadi yang bisa kita wujudkan dengan cara yang lebih konkret. Pendidikan nonformal bisa jadi alat yang ampuh untuk mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat. Dari sini, saya jadi semakin yakin bahwa setiap orang, termasuk saya sendiri, punya peran dalam menciptakan lingkungan yang lebih adil dan setara bagi semua.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-22 03:46:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377269059</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377283218</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama  : Suci Oktavia Ramadani </p><p>Kelas  : 2A</p><p>Nim    : 2221240063</p><p><br/></p><p>Pendidikan nonformal memiliki peran krusial dalam mendorong kesetaraan gender, terutama di masyarakat yang masih menghadapi kesenjangan akses pendidikan antara laki-laki dan perempuan.  Program berbasis komunitas di pendidikan Non Formal yang melibatkan laki-laki dan perempuan dalam diskusi kesetaraan gender dapat membantu mengurangi stereotip dan diskriminasi. Pendidikan berbasis nilai-nilai kesetaraan ini akan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, di mana setiap individu, tanpa memandang gender, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. </p><p><br/></p><p>Adapun teori-teori yang mendukung keseteraan gender dalam mendapatkan pendidikan; </p><p><br/></p><p>1. Teori Keadilan Distributif (Distributive Justice) → Menekankan distribusi sumber daya dan kesempatan secara adil. Dalam kesetaraan gender, teori ini mendukung kebijakan yang memastikan perempuan dan laki-laki mendapatkan akses yang sama terhadap pendidikan, pekerjaan, dan hak ekonomi.</p><p><br/></p><p>2. Teori Hak Asasi Manusia (Human Rights Law) → Menyatakan bahwa semua individu memiliki hak yang sama tanpa diskriminasi gender. Teori ini menjadi dasar hukum untuk melindungi hak perempuan, seperti melalui konvensi internasional (misalnya CEDAW) dan kebijakan anti-diskriminasi.</p><p><br/></p><p>3. Teori Feminisme Hukum (Feminist Legal Theory) → Mengkritik sistem hukum yang cenderung patriarkal dan mendorong perubahan hukum agar lebih adil bagi perempuan. Contohnya, revisi aturan terkait pelecehan seksual, kesetaraan upah, dan perlindungan terhadap kekerasan berbasis gender.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-22 04:09:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377283218</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377323187</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Bagas Fajri Ramadana</p><p><br/></p><p>Nim: 2221240080</p><p><br/></p><p>Kelas: 2A</p><p><br/></p><p>Pembelajaran Yang Dapat Saya Ambil Hari Ini</p><p><br/></p><p>1. Kontribusi pendidikan non formal dalam pengarustamaan gender. </p><p><br/></p><p>Pengarusutamaan gender adalah strategi yang bertujuan untuk memasukkan perspektif gender ke dalam kebijakan pembangunan agar program-program yang dijalankan dapat merespons ketimpangan yang ada dan mengurangi kesenjangan yang terjadi antara perempuan dan laki-laki. Tujuannya Mengurangi Ketimpangan Gender, Meningkatkan Akses dan Partisipasi Perempuan, Memastikan Keberlanjutan Pembangunan Inklusif.</p><p>Kontribusinya berupa: Kegiatan Keaksaraan Fungsional, Kelompok Belajar Keterampilan, Kelompok Belajar Usaha (KBU).</p><p><br/></p><p>2. Pendidikan non formal sebagai sarana pemberdayaan gender. </p><p>Tujuan dari Pemberdayaan Gender di Pendidikan Non Formal adalah untuk: Mengurangi Kesenjangan Gender Meningkatkan Partisipasi Perempuan, Membangun Kesadaran Tentang Hak-hak Gender, Mengembangkan Kapasitas Individu dan Komunitas. </p><p><br/></p><p>3. Stereotip gender mempengaruhi akses terhadap pendidikan non formal. Pengaruh budaya yang kuat menyebabkan perbedaan peran dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan, sering kali berdasarkan perbedaan fisik, yang kemudian menimbulkan kesenjangan, termasuk di dunia kerja. Contoh kasus yang terjadi di lembaga Pendidikan Nonformal adalah profesi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yang umumnya didominasi oleh perempuan dan telah menjadi hal yang dianggap biasa di masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-22 06:33:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377323187</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nnazwaulia</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377574570</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Nazwa Aulia</p><p>NIM: 2221240087</p><p>Kelas: 2C</p><p><br/></p><p><strong>Refleksi Pembelajaran</strong></p><p>Pendidikan nonformal memiliki peran penting dalam pengarusutamaan gender.  Pendidikan harus diakses oleh lebih banyak orang daripada hanya jalur formal, terutama bagi perempuan karena mereka sering menghadapi hambatan sosial dan ekonomi.  Perempuan dapat menjadi lebih mandiri, percaya diri, dan berperan aktif dalam berbagai bidang kehidupan melalui program pelatihan keterampilan, pendidikan kesetaraan, dan kursus kewirausahaan.</p><p><br/></p><p>Selain meningkatkan taraf hidup individu, pendidikan nonformal juga membantu mengubah cara pandang masyarakat terhadap peran perempuan. Kesetaraan gender bukan hanya tentang hak individu, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan adil. Untuk mencapai hal ini, hal-hal seperti kurikulum inklusif, pelatihan kesetaraan gender, dan partisipasi komunitas dalam perubahan norma sosial diperlukan.</p><p><br/></p><p>Jadi, pendidikan nonformal bukan sekadar alternatif bagi mereka yang tidak bisa mendapatkan pendidikan formal, tetapi juga alat strategis untuk melakukan perubahan sosial yang lebih luas. Ketika perempuan diberi kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan dan keterampilan, mereka memiliki kapasitas untuk berkontribusi lebih banyak dalam masyarakat, mendorong pembentukan lingkungan yang lebih setara dan berkelanjut</p><p>an.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-22 15:40:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377574570</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>afanhadi91</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377703200</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Afan Hadi Firmansyah</p><p>Nim: 2221240001</p><p>Kelas: 2A</p><p><br/></p><p>Pendidikan non formal memiliki peran yang sangat penting dalam pengarusutamaan gender. Sebagai jalur pendidikan di luar sistem pendidikan formal, pendidikan non formal menawarkan fleksibilitas dan pendekatan yang lebih kontekstual dalam menyebarkan nilai-nilai kesetaraan gender.</p><p>Melalui pendidikan non formal, konsep kesetaraan gender dapat diintegrasikan ke dalam berbagai program seperti pelatihan keterampilan, literasi keuangan, dan kesehatan reproduksi yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik masyarakat. Pendekatan partisipatif yang umumnya digunakan dalam pendidikan non formal juga menciptakan ruang dialog terbuka untuk menantang norma-norma gender yang merugikan dan mengembangkan pemikiran kritis tentang peran gender. Program-program ini sering kali menjadi katalisator perubahan sosial di tingkat akar rumput, memberdayakan individu untuk mengenali dan mengubah praktik diskriminatif.</p><p>Lebih dari itu, pendidikan non formal mampu menjembatani kesenjangan pengetahuan dan keterampilan yang diakibatkan oleh ketidaksetaraan akses pendidikan formal. Dengan demikian, pendidikan non formal tidak hanya berkontribusi pada penyebaran pemahaman teoretis tentang kesetaraan gender.</p><p>1. Teori Keadilan Distributif (Distributive Justice) Menekankan distribusi sumber daya dan kesempatan secara adil. Dalam kesetaraan gender, teori ini mendukung kebijakan yang memastikan perempuan dan laki-laki mendapatkan akses yang sama terhadap pendidikan, pekerjaan dan hak ekonomi.</p><p>2. Teori Hak Asasi Manusia (Human Rights Law) Menyatakan bahwa semua individu memiliki hak yang sama tanpa diskriminasi gender. Teori ini menjadi dasar hukum untuk melindungi hak perempuan, seperti melalui konvensi internasional (CEDAW) dan kebijakan anti diskriminasi</p><p>3. Teori Feminisme Hukum (Feminist Legal Theory) mengkritik sistem hukum yang cenderung patriarki dan mendorong perubahan hukum agar lebih adil bagi perempuan. Contohnya, revisi aturan terkait pelecehan seksual, kesetaraan upah, perlindungan terhadap kekerasan berbasis gender.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-22 21:34:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3377703200</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3378180170</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Hani Aprilia</p><p>Nim: 2221240003</p><p>kelas 2A</p><p><br/></p><p>Pendidikan nonformal memiliki peran penting dalam pengarusutamaan gender. Pendidikan harus diakses oleh lebih banyak orang daripada hanya jalur formal, terutama bagi perempuan karena mereka sering menghadapi hambatan sosial dan ekonomi. Perempuan dapat menjadi lebih mandiri, percaya diri, dan berperan aktif dalam berbagai bidang kehidupan melalui program pelatihan keterampilan, pendidikan kesetaraan, dan kursus kewirausahaan.</p><p>Selain meningkatkan taraf hidup individu, pendidikan nonformal juga membantu mengubah cara pandang masyarakat terhadap peran perempuan. Kesetaraan gender bukan hanya tentang hak individu, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan adil. Untuk mencapai hal ini, hal-hal seperti kurikulum inklusif, pelatihan kesetaraan gender, dan partisipasi komunitas dalam perubahan norma sosial diperlukan.</p><p>pendidikan nonformal bukan sekadar alternatif bagi mereka yang tidak bisa mendapatkan pendidikan formal, tetapi juga alat strategis untuk melakukan perubahan sosial yang lebih luas. Ketika perempuan diberi kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan dan keterampilan, mereka memiliki kapasitas untuk berkontribusi lebih banyak dalam masyarakat, mendorong pembentukan lingkungan yang lebih setara dan berkelanjut an.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-23 16:45:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3378180170</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>argyantirani</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386400339</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama : Rani argyanti</strong></p><p><strong>Nim : 2221240070</strong></p><p><strong>Kelas : 2B</strong></p><p><br/></p><p>istilah gender bisa dikatakan adalah jenis kelamin tetapi dalam Webster's New World Dictionary Diartikan perbedaan yang terlihat antara pria dan wanita dalam hal nilai serta perilaku. Suatu konsep budaya yang berusaha menciptakan perbedaan dalam hal peran, sikap, mental, dan karakter emosional antara pria dan wanita yang berkembang dalam masyarakat. Dan juga keluarga dan pendidikan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan di dalam keluarga ada pendidikan.</p><p>identitas gender seseorang sudah ada sejak lahir dan dipengaruhi oleh banyak faktor seperti lingkungan sosial dan perilaku orang tua proses pembentukan identitas gender dimulai saat anak masih bayi dan mulai memahami kategori sosial yang berkaitan dengan gender mereka pada usia dini.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 08:07:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386400339</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>fashaputri2004</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386407425</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Fashadyana Putri Nugraha</p><p>NIM: 2221240082</p><p>Kelas: 2B</p><p><br/></p><p>Pada siang hari ini kita mempelajari materi tentang Teknik Analisis Gender dalam Pendidikan Keluarga, "gender" berasal dari bahasa inggris yang berarti jenis kelamin. Dijelaskan bahwa gender merupakan suatu konsep budaya yang berusaha menciptakan perbedaan dalam hal peran, sikap, mental, dan karakter emosional antara pria dan wanita yang berkembang dalam masyarakat. Sedangkan pendidikan keluarga itu dua konsep yang tidak bisa dipisahkan, dimana terdapat keluarga, disitu pula terdapat pendidikan. </p><p><br/></p><p>Terdapat dua model dalam teknik analisis gender, yang pertama yaitu model harvard dan yang kedua yaitu model moser. Pendekatan model harvard berlandaskan pada metode efisiensi WID, yang menjadi salah satu dasar awal untuk menganalisis gender serta perencanaan terkait gender. Teknik pengolahan model moser, yang juga dikenal sebagai kerangka moser, didasarkan pada keyakinan bahwa perencanaan terkait gender memiliki sifat teknis dan politis.</p><p><br/></p><p>Dari materi tersebut kita tahu bahwa peran kedua orang tua sangat penting bagi perkembangan anak, dengan nilai-nilai keluarga dan norma masyarakat yang dianut, serta pola asuh yang baik dari orang tua akan memberikan pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung dari sang anak. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 08:15:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386407425</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>jjuna2444</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386408983</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama : Suci Suryati (2221240010)</strong></p><p><strong>Kelas (2B)</strong></p><p><br/></p><p>Berdasarkan materi yang dipaparkan, hal yang fundamental dan menarik perhatian adalah konsep gender itu sendiri, yang melampaui sekadar perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan. Gender, sebagaimana diuraikan, merupakan konstruksi sosial dan budaya yang secara aktif membentuk peran, perilaku, dan ekspektasi yang dibebankan kepada masing-masing jenis kelamin. Ini bukan entitas statis, melainkan konsep dinamis yang terus berkembang dan dipengaruhi oleh konteks sosial.</p><p><br/></p><p>Dalam ranah pendidikan keluarga, analisis gender memegang peranan krusial. Keluarga, sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama, menjadi tempat anak-anak memperoleh pemahaman awal tentang peran gender. Orang tua, seringkali tanpa disadari, menanamkan nilai-nilai dan norma-norma gender melalui pola asuh, interaksi, dan ekspektasi yang mereka tunjukkan. Pembahasan materi ini menyoroti bagaimana pengasuhan yang berperspektif gender dapat secara signifikan memengaruhi perkembangan anak, baik secara positif maupun negatif. Stereotip gender, yang merupakan keyakinan yang terlalu disederhanakan dan digeneralisasikan tentang atribut dan perilaku yang dianggap sesuai untuk setiap jenis kelamin, dapat menjadi penghalang serius dalam mencapai kesetaraan gender dan perkembangan individu yang holistik.</p><p><br/></p><p>Model Harvard dan Model Moser, yang dipaparkan dalam pembahasan materi, menawarkan kerangka analisis yang berbeda namun saling melengkapi dalam memahami isu gender. Model Harvard, yang berakar pada pendekatan Women in Development (WID), menekankan pada efisiensi dan integrasi gender dalam proses pembangunan. Model ini berfokus pada bagaimana memasukkan pertimbangan gender ke dalam proyek dan kebijakan pembangunan untuk mencapai hasil yang lebih efektif dan berkelanjutan. Di sisi lain, Model Moser, yang dikembangkan oleh Caroline Moser, memberikan perspektif yang lebih politis dan transformatif. Model ini mengakui bahwa perencanaan gender tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga melibatkan dinamika kekuasaan dan konflik. Model Moser mendorong analisis yang lebih kritis terhadap hubungan gender dan upaya untuk mentransformasikan ketidaksetaraan gender yang mendasar.</p><p><br/></p><p>Secara keseluruhan, pembahasan materi ini memperkaya pemahaman saya tentang kompleksitas isu gender dan relevansinya yang mendalam dalam pendidikan keluarga. Penting bagi orang tua, pendidik, dan masyarakat luas untuk mengembangkan kesadaran gender yang kritis. Kesadaran ini memungkinkan kita untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan adil, di mana setiap individu dapat berkembang secara optimal, tanpa dibatasi oleh stereotip gender yang merugikan. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 08:16:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386408983</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nnazwaulia</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386410500</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Nazwa Aulia</strong></p><p><strong>NIM: 2221240087</strong></p><p><strong>Kelas: 2C</strong></p><p><br/></p><p><strong>Refleksi Pembelajaran</strong></p><p>Teknik analisis gender dalam pendidikan keluarga menunjukkan betapa pentingnya memahami peran gender dalam konteks keluarga.&nbsp;Analisis gender adalah alat penting untuk memahami bagaimana peran dan harapan laki-laki dan perempuan terbentuk dalam keluarga. Melalui materi yang sudah dijelaskan, saya belajar&nbsp;bahwa pendidikan keluarga adalah tentang menanamkan nilai-nilai sosial, budaya, dan moral yang akan membentuk pandangan dunia anak-anak.</p><p><br/></p><p>Salah satu hal yang sangat menarik adalah bagaimana peran gender dapat memengaruhi pola asuh dan interaksi dalam keluarga.&nbsp;Saya percaya bahwa anak-anak harus dididik tentang kesetaraan gender sejak dini agar mereka memahami hak dan tanggung jawab masing-masing, ini sangat penting untuk memastikan bahwa mereka tidak terjebak dalam stereotip yang sering terjadi di masyarakat.</p><p><br/></p><p>Dalam menerapkan analisis gender dalam pendidikan keluarga ada banyak hambatan yang harus dihadapi, seperti norma-norma patriarki yang masih kuat.&nbsp;Namun, kita dapat menghindari pembagian tugas berdasarkan gender dengan membangun komunikasi yang terbuka. Meskipun ini adalah tindakan kecil, tetapi dapat membantu mengubah lingkungan anak-anak menjadi lebih adil.</p><p><br/></p><p>Pembelajaran ini mengingatkan saya bahwa kita semua memiliki peran dalam mendidik generasi mendatang. Dengan menerapkan teknik analisis gender, kita tidak hanya berkontribusi pada kesejahteraan keluarga, tetapi juga pada masyarakat yang lebih setara.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 08:18:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386410500</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rizqyahfatihahaulia</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386410660</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Fatihah Aulia Rizqyah </p><p>NIM : 2221240038</p><p>Kelas : 2B</p><p><br/></p><p>Pada materi kali ini dijelaskan bahwa gender bukan hanya soal perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan, tapi juga dibentuk oleh lingkungan dan cara seseorang dibesarkan dalam keluarga. Keluarga adalah tempat pertama di mana anak belajar tentang gender. Cara orang tua mendidik anak sangat berpengaruh pada bagaimana mereka melihat peran laki-laki dan perempuan. Jika orang tua masih berpikir bahwa laki-laki dan perempuan harus memiliki peran yang berbeda secara kaku, anak bisa tumbuh dengan pola pikir yang sama. Sebaliknya, jika orang tua mengajarkan kesetaraan gender, anak akan lebih terbuka dan memahami bahwa semua orang bisa memiliki peran yang sama dalam kehidupan.</p><p><br/></p><p>Materi ini juga membahas tantangan dalam memahami gender, seperti anggapan lama tentang peran laki-laki dan perempuan yang masih kuat serta kurangnya edukasi tentang gender. Di banyak masyarakat, peran gender sering diteruskan dari generasi ke generasi tanpa disadari, sehingga sulit untuk mengubah pola pikir yang sudah ada sejak lama.</p><p><br/></p><p>Salah satu solusi yang dibahas adalah pendidikan dan kebijakan yang mendukung kesetaraan gender. Artinya, perubahan tidak bisa hanya dilakukan oleh individu atau keluarga saja, tetapi juga butuh dukungan dari masyarakat dan pemerintah. Misalnya, dalam pendidikan, kurikulum yang lebih terbuka bisa membantu anak-anak memahami bahwa laki-laki dan perempuan punya hak dan kesempatan yang sama.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 08:18:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386410660</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>sr3769120</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386414788</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Siti Rohmah </p><p>Nim: 2221240069</p><p>Kelas: 2B</p><p><br/></p><p>Pada pertemuan kali ini membahas tentang "Teknik analisis gender dalam pendidikan keluarga"</p><p>Gender diterjemahkan sebagai perbedaan yang terlihat antara pria dan wanita dalam hal nilai serta perilaku. Gender merupakan suatu konsep budaya yang berusaha menciptakan perbedaan dalam hal peran, sikap, mental, dan karakter emosional antara pria dan wanita yang berkembang dalam masyarakat. </p><p>Sedangkan Keluarga dan pendidikan adalah dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Di mana terdapat keluarga di situ pula ada pendidikan. </p><p>Teknik analisis gender </p><p>1. Model Harvard</p><p>2. Model moser</p><p>Kerangka analisis model Harvard: pendekatan ini berlandaskan pada metode efisiensi Wid, yang menjadi salah satu dasar awal untuk menganalisis gender serta perencanaan terkait gender. </p><p>Kerangka analisis model moser: teknik pengolahan model moser, yang juga dikenal sebagai kerangka moser, didasarkan pada keyakinan bahwa perencanaan terkait gender memiliki sifat teknis dan politis. </p><p>Adapun tantangan dan solusi dalam implementasi yaitu:</p><p>1. Stereotip gender </p><p>2. Kurangnya pelatihan </p><p>Sedangkan solusinya yaitu:</p><p>1. Penyuluhan dan pendidikan </p><p>2. Kebijakan yang mendukung.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 08:22:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386414788</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386418060</link>
         <description><![CDATA[<p>Tuppal Budi Asih </p><p>Kelas : 2B</p><p>NIM : 2221240039</p><p><br/></p><p>Teknik analisis gender dalam peran keluarga</p><p>Istilah "Gender" berasal dari bahasa Inggris yang berarti "jenis kelamin". Dalam Webster's New World Dictionary, gender diterjemahkan sebagai perbedaan yang terlihat antara pria dan wanita dalam hal nilai serta perilaku. Dalam Webster's Studies Encyclopedia, dijelaskan bahwa gender merupakan suatu konsep budaya yang berusaha menciptakan perbedaan dalam hal peran, sikap, mental, dan karakter emosional antara pria dan wanita yang berkembang dalam masyarakat.</p><p><br/></p><p>Pendidikan Keluarga</p><p><br/></p><p>Keluarga dan pendidikan adalah dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Dimana terdapat keluarga, di situ pula ada pendidikan. Ketika orang tua melaksanakan peran dan tugas mereka dalam mendidik anak, di sisi lain, anak juga memerlukan pendidikan dari orang tua. Dalam UU Sisdiknas, dijelaskan bahwa pendidikan keluarga adalah bagian dari jalur pendidikan di luar sekolah yang dilakukan di dalam keluarga, yang memberikan kepercayaan agama, nilai budaya, moral, serta keterampilan.</p><p><br/></p><p>Teknik Analisis Gender</p><p><br/></p><p>1. Model Harvard</p><p><br/></p><p>2. Model Moser</p><p><br/></p><p>Kerangka Analisis Model Harvard</p><p><br/></p><p>Model Harvard, atau yang dikenal sebagai Kerangka Analisis Harvard, diciptakan oleh Harvard Institute for International Development melalui kerjasamanya dengan Kantor Women In Development (WID)-USAID. Pendekatan ini berlandaskan pada metode efisiensi WID, yang menjadi salah satu dasar awal untuk menganalisis gender serta perencanaan terkait gender.</p><p><br/></p><p>Kerangka Analisis Model Moser</p><p><br/></p><p>Teknik pengolahan model Moser, yang juga dikenal sebagai Kerangka Moser, didasarkan pada keyakinan bahwa perencanaan terkait gender memiliki sifat teknis dan politis. Kerangka ini memandang bahwa ada ketegangan dalam proses perencanaan serta transformasi dan menggambarkan perencanaan sebagai suatu bentuk "diskusi." Kerangka Pemikiran Perencanaan Gender ala Moser (Moser, 1993) diciptakan oleh Caroline Moser, Seorang peneliti senior yang memiliki pengalaman yang signifikan dalam perencanaan gender.</p><p><br/></p><p>Aplikasi Teknik Analisis Gender Dalam Pendidikan Keluarga</p><p><br/></p><p>Outcome Anak Sebagai Suatu Produk dari Pengasuhan Anak Berperspektif Gender Keluarga mempunyai peran yang sangat tinggi dan merupakan sumber iustitusi paling awal dan paling kuat dalam mensosialisaikan anak-anaknya, baik putra maupun putri sesuai Dengan nilai-nilai keluarga dan norma masyarakat yang dianut Pengasuhan yang dilakukan oleh ayah dan ibu memberi pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung pada perilaku Pelajar. Kualitas pengasuhan baik oleh ayah maupun ibu berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku kenakalan remaja.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 08:26:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386418060</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386421623</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Hani Aprilia</strong></p><p><strong>Nim: 2221240003</strong></p><p><strong>Kelas 2A</strong></p><p><br/></p><p><br/></p><p>Setelah belajar ini, saya jadi tahu bahwa teknik analisis sangat penting dalam perencanaan program pendidikan keluarga. Dengan memahami analisis kebutuhan, SWOT, serta evaluasi formatif dan sumatif, kita bisa merancang program yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan keluarga. Selain itu, saya juga menyadari bahwa penerapan analisis ini membantu dalam pengambilan keputusan, pengembangan strategi pembelajaran, serta monitoring dan evaluasi program agar hasilnya lebih optimal.</p><p>Saya juga memahami bahwa pendidikan keluarga bukan hanya tentang mengajarkan nilai-nilai dasar, tetapi juga tentang merancang strategi yang tepat agar program dapat berjalan dengan baik dan memberikan dampak yang nyata. Dengan pendekatan berbasis data dan evaluasi yang berkelanjutan, pendidikan keluarga dapat lebih adaptif terhadap perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 08:29:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386421623</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386428247</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Sinta rahmadini </p><p>Nim: 2221240004</p><p>Kelas: 2A</p><p><br/></p><p>Berdasarkan presentasi yang disampaikan oleh kelompok 4 pada hari ini kita mempelajari tentang:</p><p><br/></p><p><strong>Teknik analisis gender dan aplikasi dalam perencanaan program pendidikan keluarga </strong></p><ol><li><p><strong>Pendidikan keluarga</strong> </p><p>Salah satu faktor penting yang membentuk karakter dan kualitas generasi berikutnya adalah pendidikan keluarga. Keluarga tidak hanya mendidik tentang akademis, tetapi juga nilai-nilai moral, etika, dan keterampilan hidup. </p></li><li><p><strong>Teknik analisis gender </strong></p><ul><li><p><strong>Gender role analysis: </strong>menganalisis peran gender dalam masyarakat. </p></li><li><p><strong>Harvard analytical framework: </strong>menganalisis peran ekonomi dan kontrol sumber daya </p></li><li><p><strong>Moser gender planning framework: </strong>mengidentifikasi tiga peran perempuan </p></li><li><p><strong>Gender analysis matrix: </strong>mengkaji akses, kontrol, dan manfaat. </p></li><li><p><strong>Women's empowerment framework: </strong>menganalisis pemberdayaan perempuan </p></li></ul></li><li><p><strong>Aplikasi teknik dalam pendidikan keluarga </strong></p><ul><li><p><strong>Gender role analysis: </strong>menyeimbangkan peran ayah dan ibu dalam pendidikan anak </p></li><li><p><strong>Harvard analytical framework: </strong>menyeimbangkan kontrol dalam pengambilan keputusan pendidikan </p></li><li><p><strong>Moser gender planning framework: </strong>mengurangi beban ganda pada ibu </p></li><li><p><strong>Gender analysis matrix: </strong>menentukan strategi pembagian peran yang lebih adil </p></li><li><p><strong>Women's empowerment framework: </strong>meningkatkan keterlibatan ibu dalam keputusan pendidikan </p></li></ul><p>Jadi, teknik analisis gender dalam pendidikan keluarga membantu mengidentifikasi dan mengatasi ketidaksetaraan gender serta meningkatkan kesadaran dari pemahaman tentang kesetaraan gender untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang adil dan setara.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 08:36:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386428247</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nabilahfauziah2</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386435488</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Nabila Fauziah </strong></p><p><strong>Nim: 2221240020</strong></p><p><strong>Kelas: 2A</strong></p><p><br/></p><p>Dari pemaparan materi hari ini saya jadi mengetahui bahwa pendidikan keluarga tidak hanya tentang pendidikan akademis, tetapi juga nilai-nilai moral, etika, dan keterampilan hidup. Namun, seringkali peran dalam keluarga terbagi secara tidak seimbang berdasarkan gender, dengan ibu tetap bertanggung jawab utama dan ayah cenderung kurang terlibat. Peran gender yang tidak setara dalam pendidikan keluarga dapat memengaruhi seberapa baik anak belajar. Lalu di pertemuan kali ini juga membahas tentang teknis analisis gender diantaranya </p><p>1.Gender Role Analysis: Menganalisis peran gender dalam masyarakat</p><p>2.Harvard Analytical Framework: Menganalisis peran ekonomi dan kontrol sumber daya.</p><p>3.Moser Gender Planning Framework: Mengidentifikasi tiga peran perempuan.</p><p>4.Gender Analysis Matrix (GAM): Mengkaji akses, kontrol, dan manfaat.</p><p>5.Women’s Empowerment Framework:Menganalisis pemberdayaan perempuan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 08:43:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386435488</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>lyfiaal</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386436867</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Amanda Azkha Alifia Londi</p><p>Kelas: 2B</p><p>NIM:2221240040</p><p><br/></p><p>-Istilah "Gender" berasal dari bahasa Inggris yang berarti "jenis kelamin". Dalam Webster's New World Dictionary, gender </p><p>diterjemahkan sebagai perbedaan yang terlihat antara pria dan wanita dalam hal nilai serta perilaku. Dalam Webster's Studies Encyclopedia, dijelaskan bahwa gender merupakan suatu konsep budaya yang berusaha menciptakan perbedaan dalam hal peran, sikap, mental, dan karakter emosional antara pria dan wanita yang berkembang dalam masyarakat. </p><p><br/></p><p>-Teknik Analisis Gender:</p><p>1. Model Harvard</p><p> = Pendekatan ini berlandaskan pada metode efisiensi WID, yang menjadi salah satu dasar awal untuk menganalisis gender serta perencanaan terkait gender.</p><p> </p><p>2. Model Moser </p><p>= Kerangka ini memandang bahwa ada ketegangan dalam proses perencanaan serta transformasi dan menggambarkan perencanaan sebagai suatu bentuk "diskusi."</p><p><br/></p><p>-Teknik Analisis Gender </p><p>Dalam Pendidikan Keluarga:</p><p>Outcome Anak Sebagai Suatu Produk dari Pengasuhan Anak </p><p>Berperspektif Gender Keluarga mempunyai peran yang </p><p>sangat tinggi dan merupakan sumber iustitusi paling awal </p><p>dan paling kuat dalam mensosialisaikan anak-anaknya, baik putra maupun putri sesuai Dengan nilai-nilai keluarga dan </p><p>norma masyarakat yang dianut Pengasuhan yang dilakukan </p><p>oleh ayah dan ibu memberi pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung pada perilaku Pelajar. Kualitas </p><p>pengasuhan baik oleh ayah maupun ibu berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku kenakalan remaja.</p><p><br/></p><p>-Tantangan Dan Solusi Dalam </p><p>Implementasi:</p><p>Tantangan dalam Teknik Analisis Gender </p><p>1. Stereotip Gender </p><p>2. Kurangnya Pelatihan </p><p>Solusi dalam Teknik Analisis Gender </p><p>1. Penyuluhan dan Pendidikan </p><p>2. Kebijakan yang Mendukung</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 08:45:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386436867</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386442639</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Natasha Kayla </p><p>Nim : 2221240032 </p><p>Kelas : 2A </p><p><br/></p><p>Analisis gender adalah teknik yang digunakan untuk menyusun kebijakan dan program yang memperhatikan kesetaraan gender. Dalam perencanaan program pendidikan keluarga, analisis gender dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan dan hambatan gender. Analisis Model Harvard atau Kerangka Analisis Harvard, dikembangkan oleh Harvard Institute for International Development, bekerja sama dengan Kantor Women In Development  (WID)-USAID. Model Harvard ini didasarkan pada pendekatan efisiensi WID yang merupakan kerangka analisis gender dan perencanaan gender yang paling awal. Teknik analisis model Moser atau disebut juga Kerangka Moser, didasarkan pada pendapat bahwa perencanaan gender bersifat teknis dan politis. Kerangka ini mengasumsikan adanya konflik dalam proses perencanaan dan proses transformasi serta mencirikan perencanaan sebagai suatu “debat”.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 08:52:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386442639</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386443479</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA: JAHARUDIN</p><p>NIM: 2221240084</p><p>KELAS: 2B</p><p><br/></p><p>Teknik analisis gender dalam peran keluarga digunakan untuk memahami bagaimana peran, tanggung jawab, dan relasi antara anggota keluarga dipengaruhi oleh konstruksi sosial gender. Berikut beberapa teknik analisis gender yang dapat diterapkan dalam konteks keluarga:</p><p>1. <strong>Analisis Peran Gender (Gender Role Analysis)</strong></p><ul><li><p>Mengidentifikasi perbedaan peran suami, istri, anak laki-laki, dan anak perempuan dalam keluarga.</p></li><li><p>Menelaah bagaimana norma sosial membentuk ekspektasi terhadap masing-masing anggota keluarga.</p></li><li><p>Contoh: Perempuan diharapkan mengurus rumah tangga, sementara laki-laki dianggap sebagai pencari nafkah utama.</p></li></ul><p>2. <strong>Analisis Akses dan Kontrol Sumber Daya (Access and Control Analysis)</strong></p><ul><li><p>Mengkaji siapa yang memiliki akses terhadap sumber daya keluarga (pendapatan, properti, pendidikan, dan kesehatan).</p></li><li><p>Menganalisis siapa yang memiliki kontrol atas keputusan keluarga terkait keuangan, pendidikan anak, atau pekerjaan.</p></li><li><p>Contoh: Suami memiliki kontrol penuh atas keuangan keluarga, sementara istri hanya mengelola uang belanja harian.</p></li></ul><p>3. <strong>Analisis Pembagian Kerja Berbasis Gender (Gender Division of Labor Analysis)</strong></p><ul><li><p>Menelaah bagaimana tugas domestik dan pekerjaan di luar rumah dibagi berdasarkan gender.</p></li><li><p>Memeriksa apakah ada beban kerja ganda (double burden) pada perempuan yang bekerja sekaligus mengurus rumah tangga.</p></li><li><p>Contoh: Seorang ibu bekerja di kantor tetapi masih diharapkan memasak dan mengasuh anak setelah pulang kerja.</p></li></ul><p>4. <strong>Analisis Relasi Gender dalam Pengambilan Keputusan</strong></p><ul><li><p>Mengamati sejauh mana perempuan dan laki-laki memiliki peran dalam pengambilan keputusan keluarga.</p></li><li><p>Meneliti apakah ada ketimpangan dalam proses pengambilan keputusan, misalnya dalam hal pendidikan anak atau investasi keluarga.</p></li><li><p>Contoh: Dalam beberapa budaya, keputusan utama seperti membeli rumah atau memilih sekolah anak lebih banyak ditentukan oleh suami.</p></li></ul><p>5. <strong>Analisis Kesenjangan Gender dalam Sosialisasi Anak</strong></p><ul><li><p>Mengkaji bagaimana pola pengasuhan anak berbeda berdasarkan jenis kelamin.</p></li><li><p>Menganalisis bagaimana norma gender ditanamkan sejak kecil dalam keluarga.</p></li><li><p>Contoh: Anak perempuan diajarkan memasak dan membersihkan rumah, sementara anak laki-laki diajarkan keterampilan teknis atau dibiarkan bermain lebih bebas.</p></li></ul><p>Teknik-teknik ini membantu mengungkap ketimpangan gender dalam keluarga dan dapat digunakan untuk merancang kebijakan atau intervensi yang lebih adil dalam kehidupan rumah tangga.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 08:52:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386443479</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386447011</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Thafia Yandrianingsih </p><p>Kelas: 2B</p><p>Nim: 2221240067</p><p><br/></p><p><strong>Teknik Analisis Gender Dalam Pendidikan Keluarga</strong></p><p>Pengertian Analisis Gender</p><p>Istilah "Gender" berasal dari bahasa Inggris yang berarti "jenis kelamin". Dalam Webster's New World Dictionary, gender diterjemahkan sebagai perbedaan yang terlihat antara pria dan wanita dalam hal nilai serta perilaku. Dalam Webster's Studies Encyclopedia, dijelaskan bahwa gender merupakan suatu konsep budaya yang berusaha menciptakan perbedaan dalam hal peran, sikap, mental, dan karakter emosional antara pria dan wanita yang berkembang dalam masyarakat.</p><p><br/></p><p><strong>Pendidikan Keluarga</strong></p><p>Keluarga dan pendidikan adalah dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Dimana terdapat keluarga, di situ pula ada pendidikan. Ketika orang tua melaksanakan peran dan tugas mereka dalam mendidik anak, di sisi lain, anak juga memerlukan pendidikan dari orang tua. Dalam UU Sisdiknas, dijelaskan bahwa pendidikan keluarga adalah bagian dari jalur pendidikan di luar sekolah yang dilakukan di dalam keluarga, yang memberikan kepercayaan agama, nilai budaya, moral, serta keterampilan.</p><p><br/></p><p><strong>Teknik Analisis Gender</strong></p><p><strong>1. Model Harvard</strong></p><p>Kerangka Analisis Model Harvard atau yang dikenal sebagai Kerangka Analisis Harvard, diciptakan oleh Harvard Institute for International Development melalui kerjasamanya dengan Kantor Women In Development (WID)-USAID. Pendekatan ini berlandaskan pada metode efisiensi WID, yang menjadi salah satu dasar awal untuk menganalisis gender serta perencanaan terkait gender.</p><p><strong>2. Model Moser</strong></p><p>Kerangka Analisis Model Moser atau Teknik pengolahan model Moser, yang juga dikenal sebagai Kerangka Moser, didasarkan pada keyakinan bahwa perencanaan terkait gender memiliki sifat teknis dan politis. Kerangka ini memandang bahwa ada ketegangan dalam proses perencanaan serta transformasi dan menggambarkan perencanaan sebagai suatu bentuk "diskusi." Kerangka Pemikiran Perencanaan Gender ala Moser (Moser, 1993) diciptakan oleh Caroline Moser, Seorang peneliti senior yang memiliki pengalaman yang signifikan dalam perencanaan gender.</p><p><br/></p><p><strong>Aplikasi Teknik Analisis Gender Dalam Pendidikan Keluarga</strong></p><p>Outcome Anak Sebagai Suatu Produk dari Pengasuhan Anak Berperspektif Gender Keluarga mempunyai peran yang sangat tinggi dan merupakan sumber institusi paling awal dan paling kuat dalam mensosialisaikan anak-anaknya, baik putra maupun putri sesuai Dengan nilai-nilai keluarga dan norma masyarakat yang dianut Pengasuhan yang dilakukan oleh ayah dan ibu memberi pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung pada perilaku Pelajar. Kualitas pengasuhan baik oleh ayah maupun ibu berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku kenakalan remaja.</p><p><br/></p><p><strong>Tantangan Dan Solusi Dalam Implementasi</strong></p><p>• Tantangan dalam Teknik Analisis Gender</p><p>1. Stereotip Gender</p><p>2. Kurangnya Pelatihan</p><p>• Solusi dalam Teknik Analisis Gender</p><p>1. Penyuluhan dan Pendidikan,</p><p>2. Kebijakan yang Mendukung</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 08:57:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386447011</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nazwafatsyaaa</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386458408</link>
         <description><![CDATA[<p>Nazwa fatsya</p><p>2B</p><p>2221240093</p><p><br/></p><p>Kerangka Analisis Model Harvard</p><p><br/></p><p>Model Harvard, atau yang dikenal sebagai Kerangka Analisis Harvard, diciptakan oleh Harvard Institute for International Development melalui kerjasamanya dengan Kantor Women In Development (WID)-USAID. Pendekatan ini berlandaskan pada metode efisiensi WID, yang menjadi salah satu dasar awal untuk menganalisis gender serta perencanaan terkait gender.</p><p><br/></p><p>Kerangka Analisis Model Moser</p><p><br/></p><p>Teknik pengolahan model Moser, yang juga dikenal sebagai Kerangka Moser, didasarkan pada keyakinan bahwa perencanaan terkait gender memiliki sifat teknis dan politis. Kerangka ini memandang bahwa ada ketegangan dalam proses perencanaan serta transformasi dan menggambarkan perencanaan sebagai suatu bentuk "diskusi.</p><p>" Kerangka Pemikiran Perencanaan Gender ala Moser ( Moser, 1993 ) diciptakan oleh Caroline Moser, Seorang peneliti senior yang memiliki pengalaman yang signifikan dalam perencanaan gender</p><p><br/></p><p>Aplikasi Teknik Analisis Gender Dalam Pendidikan Keluarga</p><p><br/></p><p>Outcome Anak Sebagai Suatu Produk dari Pengasuhan Anak Berperspektif Gender Keluarga mempunyai peran yang sangat tinggi dan merupakan sumber iustitusi paling awal dan paling kuat dalam mensosialisaikan anak-anaknya, baik putra maupun putri sesuai Dengan nilai-nilai keluarga dan norma masyarakat yang dianut Pengasuhan yang dilakukan oleh ayah dan ibu memberi pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung pada perilaku Pelajar. Kualitas pengasuhan baik oleh ayah maupun ibu berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku kenakalan remaja</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 09:10:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386458408</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386467400</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Yudi Wahyudi </p><p>Kelas : 2A</p><p>NiM : 2221240062</p><p><br/></p><p>pembelajaran hari ini membahas teknik analisis gender dalam pendidikan keluarga </p><p><br/></p><p>Masing masing kelompok tadi memberikan berapa teknik dengan penjelasan dan teori dasarnya, dan di pembahasan hambatan dan tantangannya masih pada pembahasan kemarin yaitu hambatan ekonomi, sosial, norma, dan budaya. sehingga ini juga menimbulkan pertanyaan bagi saya bagaimana jika budaya yang di masyarakat di hancur lebur dan di hilangkan? apakah kesetaraan gender itu bisa tercipta?</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 09:20:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386467400</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nkiranah</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386472752</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Nisa Kiranah </p><p>Kelas : PNF 2A</p><p>Nim : 2221240077</p><p><br/></p><p>Presentasi ini mengangkat tema mengenai teknik analisis gender dalam perencanaan pendidikan keluarga. Pendidikan dalam lingkungan keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter anak. Namun, seringkali terjadi ketimpangan dalam peran, di mana ibu lebih mendominasi sementara ayah kurang terlibat. Ketimpangan ini semakin diperparah oleh faktor budaya dan norma sosial yang ada, sehingga analisis gender menjadi sangat diperlukan untuk menciptakan pola asuh yang lebih adil.</p><p><br/></p><p>Beberapa teknik analisis gender yang dapat diterapkan antara lain adalah Gender Role Analysis, Harvard Analytical Framework, Moser Gender Planning Framework, Gender Analysis Matrix (GAM), dan Women’s Empowerment Framework. Teknik-teknik ini bertujuan untuk menyeimbangkan peran ayah dan ibu, mengurangi beban ganda yang sering dihadapi oleh ibu, serta meningkatkan keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan terkait pendidikan anak.</p><p><br/></p><p>Dengan demikian, kesimpulannya adalah bahwa kesetaraan dalam pendidikan keluarga dapat berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan baik bagi keluarga maupun masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting adanya keterlibatan kedua orang tua, edukasi kepada masyarakat, serta dukungan dari pemerintah dan lembaga pendidikan untuk menciptakan pola pengasuhan yang lebih adil dan inklusif.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 09:25:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386472752</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386503019</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama:Nadya Rizqia Khairina</p><p>Kelas:2A</p><p>NIM:2221240076</p><p>👨‍👩‍👧👨‍👩‍👧Salah satu faktor penting yang membentuk karakter dan kualitas generasi berikutnya adalah pendidikan keluarga. Keluarga mendidik anak tidak hanya tentang pendidikan akademis, tetapi juga nilai-nilai moral, etika, dan keterampilan hidup. Namun, seringkali peran dalam keluarga terbagi secara tidak seimbang berdasarkan gender, dengan ibu tetap bertanggung jawab utama dan ayah cenderung kurang terlibat. Peran gender yang tidak setara dalam pendidikan keluarga dapat memengaruhi seberapa baik anak belajar. Faktor budaya, norma sosial, dan keterbatasan akses ke sumber daya pendidikan semuanya memperburuk ketimpangan tersebut. Oleh karena itu, untuk menciptakan pola asuh yang lebih adil dan inklusif, analisis gender yang menyeluruh diperlukan saat merancang program pendidikan keluarga.</p><p>👨‍👩‍👧Teknik analisis gender👨‍👩‍👧</p><p>1. Gender Role Analysis: Menganalisis peran gender dalam masyarakat.</p><p>2. Harvard Analytical Framework: Menganalisis peran ekonomi dan kontrol sumber daya.</p><p>3.Moser Gender Planning Framework: Mengidentifikasi tiga peran perempuan.</p><p>4. Gender Analysis Matrix (GAM): Mengkaji akses, kontrol, dan manfaat.</p><p>5.Women’s Empowerment Framework: Menganalisis pemberdayaan perempuan.</p><p>👨‍👩‍👧aplikasi analisi gender dalam Pendidikan keluarga👨‍👩‍👧</p><p>1.Gender Role Analysis: Menyeimbangkan peran ayah dan ibu dalam pendidikan anak.</p><p>2. Harvard Analytical Framework: Menyeimbangkan kontrol dalam pengambilan keputusan pendidikan.</p><p>3. Moser Gender Planning Framework: Mengurangi beban ganda pada ibu.</p><p>4. Gender Analysis Matrix: Menentukan strategi pembagian peran yang lebih adil.</p><p>5. Women’s Empowerment Framework: Meningkatkan keterlibatan ibu dalam keputusan pendidikan</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 09:54:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386503019</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ica818572</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386511949</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Nurrohmatun Nisa </p><p>Kelas : 2B</p><p>Nim : 2221240094</p><p><br/></p><p>Pertemuan hari ini membahas tentang materi</p><p>Teknik Analisis Gender Dalam Pendidikan Keluarga.</p><p><br/></p><p>Pendidikan keluarga </p><p>Dalam UU Sisdiknas, dijelaskan bahwa pendidikan keluarga adalah bagian dari jalur pendidikan di luar sekolah yang dilakukan di dalam keluarga, yang memberikan kepercayaan agama, nilai budaya, moral, serta keterampilan.</p><p><br/></p><p>Teknik Analisis Gender</p><p>1. Model Harvard </p><p>2. Model Moser</p><p><br/></p><p>Kerangka Analisis Model Harvard</p><p> Model Harvard, atau yang dikenal sebagai Kerangka Analisis Harvard, diciptakan oleh Harvard Institute for International Development melalui kerjasamanya dengan Kantor Women In Development (WID)-USAID. Pendekatan ini berlandaskan pada metode efisiensi WID, yang menjadi salah satu dasar awal untuk menganalisis gender serta perencanaan terkait gender.</p><p><br/></p><p>Kerangka Analisis Model Moser</p><p>    Teknik pengolahan model Moser, yang juga dikenal sebagai Kerangka Moser, didasarkan pada keyakinan bahwa perencanaan terkait gender memiliki sifat teknis dan politis. Kerangka ini memandang bahwa ada ketegangan dalam proses perencanaan serta transformasi dan menggambarkan perencanaan sebagai suatu bentuk "diskusi." Kerangka Pemikiran Perencanaan Gender ala Moser ( Moser, 1993 ) diciptakan oleh Caroline Moser, Seorang peneliti senior yang memiliki pengalaman yang signifikan dalam perencanaan gender.</p><p><br/></p><p>Aplikasi Teknik Analisis Gender</p><p>Dalam Pendidikan keluarga </p><p> Outcome Anak Sebagai Suatu Produk dari Pengasuhan Anak Berperspektif Gender Keluarga mempunyai peran yang sangat tinggi dan merupakan sumber iustitusi paling awal dan paling kuat dalam mensosialisaikan anak-anaknya, baik putra maupun putri sesuai Dengan nilai-nilai keluarga dan norma masyarakat yang dianut Pengasuhan yang dilakukan oleh ayah dan ibu memberi pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung pada perilaku Pelajar. Kualitas pengasuhan baik oleh ayah maupun ibu berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku kenakalan remaja.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 10:02:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386511949</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>jamaludin6452</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386519587</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: jamaludin</p><p>Kelas: 2B</p><p>Riview materi</p><p><em>Minggu ini membahasa tentang teknik analisis gender dalam pendidikan keluarga</em></p><p>- tadi membahasa pengertian analisi gender </p><p>Istilah gender  berasal dari bahasa inggris yang berarti jenis kelamin , dalam websters new worid dictionary gender bisa diartikan sebagai perbedaan yang terlihat antara peria dan wanita dalam hal nilai seperti perilaku ,dalam websters studies encyclopedia dijelaskan bawa gender merupakan suatu konsep budaya yang menciptakan perbedaan dalam hal peran sikap mental dan karakter emosional antara peria dan wanita yang berkembang dalam masyarakat.</p><p>- Dan tadi juga membahas pendidikan keluaraga </p><p>Keluarga dan pendidikan adalah dua konsep yang tidak dapat dipisahakan, dimana terdapat keluarga, di situ pula ada pendidikan. Ketika orang tua melaksankan peran dan tugas mereka dalam mendidik anak, dan di sisi lain, anak juga memerlukan pendidikan dari orang tua. Menurut uu sisdiknas, dijelaskan bahwa pendidikan keluarga adalah bagian dari jalur pendidikan diluar sekolah yang dilakukan keluarga terhadap anaknya, yang diberikan kepercayaan agama,nilai buday moral, serta keterampilan .</p><p>- tadi juga membahas tenik analisi gender terdiri dari</p><p>1.Model harvar</p><p> gaya refensi harvard, atau model manjemen sumber daya manusia harvard</p><p>2. Model moser</p><p>Alat analisi gender dalam perancangan pembangunan  </p><p>1.Kerangka analisis harvard</p><p>Model, harvard, atau yang dikenal sebagai kerangka analis harvard,diciptakan oleh harvard institute for international devolopment untuk kerjasama dengan kantor (WID)-USAID. Pendekatan ini berlandasan pada metode efisensi WID, yang menjadi salah satu dasar awal untuk menganalisis gender serta perencanan terkait gender. </p><p>Tujuan dari kerangka harvard meliputi:</p><p>- menyatakan bahwa laki-laki maupun perempuan memiliki kontribusi dalam investasi secara ekonomi </p><p>- membantu perencaan dalam merancang proyek yang lebih efektif dan meningkatkan peroduktivitas secara keseluruhan</p><p>- mengumpulkan informasi yang lebih terperinci sebagai dasar untuk mencapai efesiesi</p><p>- mengidentifikasi peran perempuan dan laki-laki dalam masyarakat </p><p>2.Kerangka analisis model moser </p><p>Teknik pengolahan moser lebih kekeyakinan dan perancangan terkait gender,</p><p>Tujuan dari kerangka pemikiran perancang gender moser</p><p>- menyorotin bagamana pembagian pekerjaan kemampuan perempuan dalam partisifasi dalam perogram yang dirancang </p><p>- membantu perencanan untuk menyadari bahwa kebutuhan perempuan serkali berbeda dengan laki-laki </p><p>- aplikasi teknik analisi gender dalam pendidikan keluarga</p><p>Dansaya mengetahui OutcomeAnakSebagaiSuatuProdukdariPengasuhanAnak Berperspektif Gender Keluarga mempunyai peran yang Sangat</p><p>Tinggidanmerupakansumberiustitusipalingawal</p><p>danpalingkuatdalammensosialisaikananak-anaknya,baik putramaupunputrisesuaiDengannilai-nilaikeluargadan normamasyarakatyangdianutPengasuhanyangdilakukan</p><p>olehayahdanibumemberipengaruhbaiksecaralangsung maupuntidaklangsungpadaperilakuPelajar.Kualitas pengasuhanbaikolehayahmaupunibuberpengaruhsecara signifikanterhadapperilakukenakalanremaja.</p><p>-dan tadi membahas  TantanganDan Solusi DalamImplementasi</p><p>TantangandalamTeknikAnalisisGender</p><p>1. StereotipGender</p><p>2. KurangnyaPelatihan</p><p>SolusidalamTeknikAnalisisGender</p><p>1.PenyuluhandanPendidikan</p><p>2. KebijakanyangMendukung</p><p>Dari materi analisi gender dalam pendidikan  keluarga saya banyak mengetahui dari istilah gender perbedan peran dan perilaku wanita dan laki-laki dalam pendidikan informal, ada pola asu keluarga terhadap anak, belajar juga terkalit mendidik anak, pendidik keluarga yang diajarkan oleh kedua orangtua kepda anaknya, terkait memberikan kepercayan agama, nilai budaya moral, serta keterampilan dll.ri</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 10:10:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386519587</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386561848</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA : SEPTI ROPIH YUSTITIA</p><p>NIM : 2221240052</p><p>KELAS : 2B</p><p><br/></p><p>Dalam pembelajaran hari ini mempelajari materi tentang Teknik Analisis Gender dalam Pendidikan Keluarga dengan dua model kerangka analisis, di antaranya:</p><p><br/></p><p><strong>MODEL HARVARD</strong> </p><p><br/></p><p>Model Harvard, atau yang dikenal sebagai Kerangka Analisis Harvard, diciptakan oleh Harvard Institute for International Development melalui kerjasamanya dengan Kantor Women In Development (WID)-USAID. Pendekatan ini berlandaskan pada metode efisiensi WID, yang menjadi salah satu dasar awal untuk menganalisis gender serta perencanaan terkait gender.</p><p><br/></p><p><strong>MODEL MOSER</strong></p><p><br/></p><p>Teknik pengolahan model Moser, yang juga dikenal sebagai Kerangka Moser, didasarkan pada keyakinan bahwa perencanaan terkait gender memiliki sifat teknis dan politis. Kerangka ini memandang bahwa ada ketegangan dalam proses perencanaan serta transformasi dan menggambarkan perencanaan sebagai suatu bentuk "diskusi." Kerangka Pemikiran Perencanaan Gender ala Moser ( Moser, 1993 ) diciptakan oleh Caroline Moser, Seorang peneliti senior yang memiliki pengalaman yang signifikan dalam perencanaan gender.</p><p> </p><p><strong>APLIKASI TEKNIK ANALISIS GENDER </strong></p><p><strong> </strong></p><p>Outcome Anak Sebagai Suatu Produk dari Pengasuhan Anak Berperspektif Gender Keluarga mempunyai peran yang sangat tinggi dan merupakan sumber iustitusi paling awal dan paling kuat dalam mensosialisaikan anak-anaknya, baik putra maupun putri sesuai Dengan nilai-nilai keluarga dan norma masyarakat yang dianut pengasuhan yang dilakukan oleh ayah dan ibu memberi pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung pada perilaku Pelajar. Kualitas pengasuhan baik oleh ayah maupun ibu berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku kenakalan remaja.</p><p><br/></p><p><strong>TANTANGAN DAN SOLUSI DALAM IMPLEMENTASI </strong></p><p><br/></p><p>Tantangan dalam Teknik Analisis Gender </p><p>1. Stereotip Gender </p><p>2. Kurangnya Pelatihan </p><p>Solusi dalam Teknik Analisis Gender </p><p>1. Penyuluhan dan Pendidikan </p><p>2. Kebijakan yang Mendukung</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 10:51:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386561848</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nabilamarsha338</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386568170</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Nabila Marsha Wulandari</p><p>NIM: 2221240081</p><p>Kelas: 2 B</p><p><br/></p><p><strong>Pengertian analisis gender</strong></p><p>Istilah "Gender" berasal dari bahasa Inggris yang berarti "jenis kelamin". Dalam Webster's New World Dictionary, gender diterjemahkan sebagai perbedaan yang terlihat antara pria dan wanita dalam hal nilai serta perilaku. Dalam Webster's Studies Encyclopedia, dijelaskan bahwa gender merupakan suatu konsep budaya yang berusaha menciptakan perbedaan dalam hal peran, sikap, mental, dan karakter emosional antara pria dan wanita yang berkembang dalam masyarakat.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><strong>Pendidikan Keluarga</strong></p><p>Keluarga dan pendidikan adalah dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Dimana terdapat keluarga, di situ pula ada pendidikan. Ketika orang tua melaksanakan peran dan tugas mereka dalam mendidik anak, di sisi lain, anak juga memerlukan pendidikan dariorang tua. Dalam UU Sisdiknas, dijelaskan bahwa pendidikan</p><p>keluarga adalah bagian dari jalur pendidikan di luar sekolah yang dilakukan di dalam keluarga, yang memberikan kepercayaan agama, nilai budaya, moral, serta keterampilan.</p><p><br/></p><p><strong>Teknik analisis gender</strong></p><p>Model Harvard</p><p>Model Harvard, atau yang dikenal sebagai Kerangka Analisis Harvard, diciptakan oleh Harvard Institute for International Development melalui kerjasamanya dengan</p><p>Kantor Women In Development (WID)-USAID. Pendekatan ini berlandaskan pada metode efisiensi WID, yang menjadi</p><p>salah satu dasar awal untuk menganalisis gender serta perencanaan terkait gender.</p><p><br/></p><p>Model Moser</p><p>Teknik pengolahan model Moser, yang juga dikenal sebagai</p><p>Kerangka Moser, didasarkan pada keyakinan bahwa</p><p>perencanaan terkait gender memiliki sifat teknis dan politis.</p><p>Kerangka ini memandang bahwa ada ketegangan dalam proses</p><p>perencanaan serta transformasi dan menggambarkan</p><p>perencanaan sebagai suatu bentuk "diskusi." Kerangka Pemikiran</p><p>Perencanaan Gender ala Moser ( Moser, 1993 ) diciptakan oleh</p><p>Caroline Moser, Seorang peneliti senior yang memiliki pengalaman yang signifikan dalam perencanaan gender.</p><p><br/></p><p><strong>Aplikasi Teknik Analisis Gender</strong></p><p>Dalam Pendidikan Keluarga</p><p>Outcome Anak Sebagai Suatu Produk dari Pengasuhan Anak Berperspektif Gender Keluarga mempunyai peran yang sangat tinggi dan merupakan sumber iustitusi paling awal dan paling kuat dalam mensosialisaikan anak-anaknya, baik</p><p>putra maupun putri sesuai Dengan nilai-nilai keluarga dan norma masyarakat yang dianut Pengasuhan yang dilakukan</p><p>oleh ayah dan ibu memberi pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung pada perilaku Pelajar. Kualitas pengasuhan baik oleh ayah maupun ibu berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku kenakalan remaja.</p><p><br/></p><p><strong>Tantangan Dan Solusi Dalam Implementasi</strong></p><p>Tantangan dalam Teknik Analisis Gender</p><p>1. Stereotip Gender</p><p>2. Kurangnya Pelatihan</p><p><br/></p><p><strong>Solusi dalam Teknik Analisis Gender</strong></p><p>1. Penyuluhan dan Pendidikan</p><p>2. Kebijakan yang Mendukun</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 10:58:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386568170</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386633603</link>
         <description><![CDATA[<p>Sindy_2221240009_2B</p><p><br/></p><p>Keluarga berfungsi sebagai institusi pendidikan pertama bagi anak yang baru lahir. keluarga menjadi tempat di mana anak-anak menerima pendidikan dan bimbingan awal yang sangat penting. Peran orang tua sangat krusial dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang berkualitas, yang pada gilirannya membentuk karakter dan kepribadian anak Pendidikan yang diterima dalam keluarga memiliki dampak besar terhadap perkembangan anak, termasuk dalam proses pendidikan formal selanjutnya.Keluarga dapat dianggap sebagai lingkungan pendidikan yang pertama, paling signifikan, dan paling dekat yang dapat dialami oleh seorang anak. Dalam konteks  ini, tradisi pendidikan dalam keluarga berlangsung melalui tiga kerangka utama, yaitu asih, asah, dan asuh. Pendidikan keluarga, menurut Friedman, memiliki lima fungsi utama: </p><p>1.Fungsi Afektif (Affective Function) Fungsi ini berkaitan dengan pengembangan emosi dan hubungan antarpribadi dalam lingkungan keluarga</p><p>2.Fungsi Sosialisasi dan Penempatan Sosial (Socialization and Social  Placement Function) Fungsi ini berfokus pada proses sosialisasi anak ke dalam norma, nilai, dan budaya masyarakat. </p><p>3.Fungsi Reproduksi (Reproductive Function)  Fungsi ini berkaitan dengan aspek biologis dan sosial dari reproduksi.  </p><p>4.Fungsi Ekonomi (Economic Function)  Fungsi ini mencakup aspek ekonomi dalam keluarga, di mana keluarga bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dasar anggotanya, seperti makanan, tempat tinggal, dan pendidikan.  </p><p>5.Fungsi Perawatan dan Pemeliharaan Kesehatan (Health Care Function)  Fungsi ini berfokus pada aspek kesehatan dan kesejahteraan anggota keluarga.</p><p><br/></p><p>Teknik Analisis Gender  Teknik Analisis Gender terdiri dari : </p><p>1. Model Harvard, Pendekatan ini berlandaskan pada metode efisiensi WID, yang menjadi salah satu dasar awal untuk menganalisis gender serta perencanaan terkait gender. </p><p>2. Mode Moser,  perencanaan terkait gender memiliki sifat teknis dan politis. Kerangka ini memandang bahwa ada ketegangan dalam proses perencanaan serta transformasi dan menggambarkan perencanaan sebagai suatu bentuk "diskusi." </p><p><br/></p><p>Tantangan dan solusi dalam implementasi Tantangan dalam Teknik Analisis Gender </p><p>1. Stereotip Gender 2. Kurangnya Pelatihan Solusi dalam Teknik Analisis Gender 1. Penyuluhan dan Pendidikan 2. Kebijakan yang Mendukung</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 12:01:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386633603</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386667043</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : ATHIYATUN N</p><p>Nim :2221240078</p><p>Kelas :2A</p><p>Materi pembelajaran hariini membahas mengenai teknik analisis gender dan aplikasi dalam perencanaan program pendidikan keluarga. Dalam hal ini faktor penting dalam membentuk karakter generasi selanjutnya yaitu melalui pendidikan keluarga, dimana keluarga mendidik anak tidak hanya akademis saja akan tetapi juga nilai, moral, etika juga keterampilan hidup yang harus diajarkan kepada anak. Namun seringkali peran dalam keluarga tidak seimbang berdasarkan gender, dimana ibu bertanggungjawab penuh akang tetapi ayah cenderung kurang terlibat dalam perannya, hal tersebut juga dapat berpengaruh terhadap anak dalam pola belajar dan bersosialisasi nya. Adapun teknik analisis gender antara lain : </p><p>     1. Gender Role Analysis: Menganalisis peran gender dalam masyarakat.</p><p>2. Harvard Analytical Framework: Menganalisis peran ekonomi dan kontrol sumber daya.</p><p>      3.Moser Gender Planning Framework: Mengidentifikasi tiga peran perempuan.</p><p>4. Gender Analysis Matrix (GAM): Mengkaji akses, kontrol, dan manfaat.</p><p>       5.Women’s Empowerment Framework: Menganalisis pemberdayaan perempuan.</p><p><br/></p><p>Pengaplikasian teknik analisis gender anatara lain :</p><p>1.Gender Role Analysis: Menyeimbangkan peran ayah dan ibu dalam pendidikan anak.</p><p>2. Harvard Analytical Framework: Menyeimbangkan kontrol dalam pengambilan keputusan pendidikan.</p><p>3. Moser Gender Planning Framework: Mengurangi beban ganda pada ibu.</p><p>4. Gender Analysis Matrix: Menentukan strategi pembagian peran yang lebih adil.</p><p>5. Women’s Empowerment Framework: Meningkatkan</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 12:33:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386667043</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rosanataliatarigan02</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386727945</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Rosa Natalia Tarigan</p><p>Nim     : 2221240068</p><p>Kelas   : 2B</p><p>Istilah "Gender" berasal dari bahasa Inggris yang berarti "jenis kelamin". Dalam Webster's New World Dictionary, gender diterjemahkan sebagai perbedaan yang terlihat antara pria dan wanita dalam hal nilai serta perilaku. Dalam Webster's Studies Encyclopedia, dijelaskan bahwa gender merupakan suatu konsep budaya yang berusaha menciptakan perbedaan dalam hal peran, sikap, mental, dan karakter emosional antara pria dan wanita yang berkembang dalam masyarakat.</p><p><br/></p><p>Pendidikan keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan individu dan masyarakat, karena merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter dan nilai-nilai moral anak. Sebagai agen sosialisasi pertama, keluarga mengajarkan anak tentang etika, empati, dan tanggung jawab, serta membantu mereka mengembangkan keterampilan sosial yang diperlukan untuk berinteraksi dengan orang lain.</p><p><br/></p><p>Keluarga dan pendidikan adalah dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Dimana terdapat keluarga, di situ pula ada pendidikan. Ketika orang tua melaksanakan peran dan tugas mereka dalam mendidik anak, di sisi lain, anak juga memerlukan pendidikan dari orang tua. Dalam UU Sisdiknas, dijelaskan bahwa pendidikan keluarga adalah bagian dari jalur pendidikan di luar sekolah yang dilakukan di dalam keluarga, yang memberikan kepercayaan agama, nilai budaya, moral, serta keterampilan</p><p><br/></p><p>Teknik Analisis Gender Teknik Analisis Gender</p><ol><li><p>Model Harvard, atau yang dikenal sebagai Kerangka Analisis Harvard, diciptakan oleh Harvard Institute for International Development melalui kerjasamanya dengan Kantor Women In Development (WID)-USAID. Pendekatan ini berlandaskan pada metode efisiensi WID, yang menjadi salah satu dasar awal untuk menganalisis gender serta perencanaan terkait gender</p></li><li><p>Kerangka Analisis Model Moser Moser Teknik pengolahan model Moser, yang juga dikenal sebagai Kerangka Moser, didasarkan pada keyakinan bahwa perencanaan terkait gender memiliki sifat teknis dan politis. Kerangka ini memandang bahwa ada ketegangan dalam proses perencanaan serta transformasi dan menggambarkan perencanaan sebagai suatu bentuk "diskusi." Kerangka Pemikiran Perencanaan Gender ala Moser ( Moser, 1993 ) diciptakan oleh Caroline Moser, Seorang peneliti senior yang memiliki pengalaman yang signifikan dalam perencanaan gender</p></li></ol><p><br/></p><p><strong>Tantangan Tantangan Dan Solusi Dalam Dan Solusi Dalam Implementasi Implementasi</strong></p><ul><li><p>Tantangan dalam Teknik Analisis Gender</p></li></ul><p>              1. Stereotip Gender </p><p>              2. Kurangnya Pelatihan </p><ul><li><p>Solusi dalam Teknik Analisis Gender </p><p>       1. Penyuluhan dan Pendidikan </p><p>       2. Kebijakan yang Mendukung</p></li></ul><p>Peran Keluarga Dalam Pembentukan Identitas Gender bahwa istilah "gender" mengacu pada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal peran, perilaku, dan karakter emosional yang dibentuk secara sosial dan budaya. Ini berbeda dengan jenis kelamin biologis. Identitas gender seseorang sudah ada sejak lahir dan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti lingkungan sosial mereka dan perilaku orang tua mereka. Proses pembentukan identitas gender dimulai saat anak masih bayi dan mulai memahami kategori sosial yang berkaitan dengan gender mereka pada usia dini</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 13:23:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386727945</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>cantikaekazahra03</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386742533</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Cantika Eka Zahra </p><p>Kelas : 2b</p><p>NIM :2221240085</p><p><br/></p><p>Pada materi hari ini membahas bahwa gender tidak hanya berkaitan dengan perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan dan pola asuh dalam keluarga. Anak-anak memperoleh pemahaman tentang gender melalui cara orang tua mendidik mereka. Jika orang tua masih menerapkan pembagian peran yang kaku antara laki-laki dan perempuan, anak cenderung mengadopsi pola pikir serupa. Sebaliknya, ketika kesetaraan gender diajarkan, anak akan lebih terbuka terhadap gagasan bahwa semua orang dapat memiliki peran yang setara dalam kehidupan.</p><p><br/></p><p>Salah satu tantangan dalam memahami gender adalah kuatnya pengaruh nilai-nilai tradisional serta kurangnya edukasi yang memadai. Di banyak masyarakat, peran gender diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa disadari, sehingga perubahan pola pikir menjadi sulit. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan dukungan dalam bentuk pendidikan dan kebijakan yang mendorong kesetaraan gender. Misalnya, kurikulum yang lebih inklusif dapat membantu anak-anak memahami bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak serta kesempatan yang sama. Dengan demikian, perubahan tidak hanya bergantung pada individu atau keluarga, tetapi juga memerlukan peran aktif masyarakat dan pemerintah.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 13:35:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386742533</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ahmadfakihmaulana1</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386823745</link>
         <description><![CDATA[<p>nama : ahmad fakih maulana</p><p>NIM : 2221240006</p><p>kelas : 2B</p><p><br/></p><p>pembahasan pada hari ini membahas tentang teknik analisis gender dalam pendidikan keluarga</p><p><br/></p><p>ada dua teknik analisis gender yaitu model harvard dan moser.</p><p><br/></p><p>harvard : Model Harvard, atau yang dikenal sebagai Kerangka Analisis Harvard, diciptakan oleh Harvard Institute for International Development melalui kerjasamanya dengan Kantor Women In Development (WID)-USAID. Pendekatan</p><p>ini berlandaskan pada metode efisiensi WID, yang menjadi salah satu dasar awal untuk menganalisis gender serta perencanaan terkait gender</p><p><br/></p><p>moser : Teknik pengolahan model Moser, yang juga dikenal sebagai Kerangka Moser, didasarkan pada keyakinan bahwa perencanaan terkait gender memiliki sifat teknis dan politis. Kerangka ini memandang bahwa ada ketegangan dalam proses perencanaan serta transformasi dan menggambarkan perencanaan sebagai suatu bentuk "diskusi. " Kerangka Pemikiran</p><p>Perencanaan Gender ala Moser ( Moser, 1993 ) diciptakan oleh Caroline Moser, Seorang peneliti senior yang memiliki</p><p>pengalaman yang signifikan dalam perencanaan gender.</p><p><br/></p><p>pengaplikasian : Outcome Anak Sebagai Suatu Produk dari Pengasuhan Anak</p><p>Berperspektif Gender Keluarga mempunyai peran yang sangat tinggi dan merupakan sumber iustitusi paling awal dan paling kuat dalam mensosialisaikan anak-anaknya, baik</p><p>putra maupun putri sesuai Dengan nilai-nilai keluarga dan norma masyarakat yang dianut Pengasuhan yang dilakukan oleh ayah dan ibu memberi pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung pada perilaku Pelajar.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 14:35:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386823745</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>kimachan09</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386826004</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Ima Maulia Azzahra</p><p>NIM: 2221240023</p><p>Kelas: 2B</p><p><br/></p><p>Refleksi hari ini mengenai Teknik Analisis Gender dalam Pendidikan Keluarga. </p><p><br/></p><p>Teknik analisis gender terbagi menjadi dua diantaranya:</p><p>1. Model Harvard</p><p>Model Harvard, atau yang dikenal sebagai Kerangka Analisis Harvard, diciptakan oleh Harvard Institute for International Development melalui kerjasamanya dengan Kantor Women In Development (WID)-USAID. Pendekatan ini berlandaskan pada metode efisiensi WID, yang menjadi salah satu dasar awal untuk menganalisis gender serta perencanaan terkait gender.</p><p><br/></p><p>2. Model Moser</p><p>Teknik pengolahan model Moser, yang juga dikenal sebagai Kerangka Moser, didasarkan pada keyakinan bahwa perencanaan terkait gender memiliki sifat teknis dan politis. Kerangka ini memandang bahwa ada ketegangan dalam proses perencanaan serta transformasi dan menggambarkan perencanaan sebagai suatu bentuk "diskusi." Kerangka Pemikiran Perencanaan Gender ala Moser (Moser, 1993) diciptakan oleh Caroline Moser, Seorang peneliti senior yang memiliki pengalaman yang signifikan dalam perencanaan gender.</p><p><br/></p><p>Kesimpulannya, Peran Keluarga Dalam Pembentukan Identitas Gender bahwa istilah "gender" mengacu pada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal peran, perilaku, dan karakter emosional yang dibentuk secara sosial dan budaya. Ini berbeda dengan jenis kelamin biologis. Identitas gender seseorang sudah ada sejak lahir dan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti lingkungan sosial mereka dan perilaku orang tua mereka. Proses pembentukan identitas gender dimulai saat anak masih bayi dan mulai memahami kategori sosial yang berkaitan dengan gender mereka pada usia dini.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 14:37:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386826004</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386826907</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Ratu Zahra Huwaida</p><p>Kelas  : 2B</p><p>NIM   : 2221240054</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Pengertian<strong> </strong>Analisis Gender:</p><p>Gender mengacu pada perbedaan sosial dan budaya antara laki-laki dan perempuan dalam peran, sikap, mental, dan karakter emosional. Ini berbeda dari jenis kelamin biologis dan berkembang dalam masyarakat.  </p><p><br/></p><p>Pendidikan Keluarga:</p><p>Pendidikan keluarga adalah bagian dari sistem pendidikan di luar sekolah yang dilakukan dalam keluarga. Orang tua memiliki peran utama dalam mendidik anak-anak dengan menanamkan nilai agama, budaya, moral, dan keterampilan.  </p><p><br/></p><p>Teknik Analisis Gender:</p><p>Dua model utama dalam analisis gender:  </p><p>- Model Harvard: Dikembangkan oleh Harvard Institute for International Development, berfokus pada efisiensi dalam menganalisis dan merencanakan gender.  </p><p>- Model Moser: Dikembangkan oleh Caroline Moser, menekankan aspek teknis dan politis dalam perencanaan gender serta melihatnya sebagai bentuk diskusi sosial.  </p><p><br/></p><p>Aplikasi Analisis Gender dalam Pendidikan Keluarga:</p><p>- Keluarga memainkan peran penting dalam membentuk perspektif gender anak sejak dini. </p><p>- Pola asuh ayah dan ibu memengaruhi perilaku anak, termasuk dalam aspek kenakalan remaja.  </p><p><br/></p><p>Tantangan dan Solusi dalam implementasi : </p><p>- Tantangan: Stereotip gender dan kurangnya pelatihan mengenai analisis gender.  </p><p>- Solusi: Penyuluhan dan pendidikan, serta kebijakan yang mendukung kesetaraan gender.  </p><p>  </p><p>Identitas gender dibentuk oleh faktor sosial dan budaya, bukan hanya faktor biologis. Proses ini dimulai sejak anak lahir dan dipengaruhi oleh lingkungan serta pola asuh orang tua.  </p><p>Semoga rangkuman ini membantu!</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 14:38:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386826907</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ayeshaadzani87</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386835001</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Ayesha Adzani Simbran</p><p>Nim: 2221240025 (2B)</p><p><br/></p><p>tugas refleksi dari kelompok 4 </p><p>teknis analisis gender dalam pendidikan keluarga </p><p><br/></p><p>1. pengertian analisis gender</p><p>dalam webster's new world dictionary berarti perbedaan laki laki dan perempuan terlihat dari hal nilai dan perilaku.</p><p><br/></p><p>2. pendidikan keluarga </p><p>keluarga dan pendidikan merupakan 2 hal yang tidak dapat dipisahkan, ketika ada keluarga maka disitulah terdapat pendidikan. pendidikan keluarga dapat diartikan pula sebagai jalur pendidikan diluad sekolah yang memberikan kepercayaan agama, nilai budaya, moral serta keterampilan.</p><p><br/></p><p>3. teknis analisis gender di bagi 2</p><p>a. model Harvard </p><p>b. model moser</p><p><br/></p><p>4. tantangan dalam teknik analisis gender </p><p>a. stereotip gender</p><p>b. kurangnya pelatihan </p><p><br/></p><p>5. solusi teknik analisis gender </p><p>a. penyuluhan dan pendidikan </p><p>b. kebijakan yang mendukung</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 14:44:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386835001</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386836923</link>
         <description><![CDATA[<p>Muhammad Hilmi Arrazan (2221240066)</p><p>2B</p><p><br/></p><p>TEKNIK ANALISIS GENDER DALAM PENDIDIKAN  </p><p>KELUARGA </p><p><br/></p><p>Disini kita tahu bahwa, Keluarga berfungsi sebagai institusi pendidikan pertama bagi anak yang baru  </p><p>lahir. Setiap individu akan mengembangkan karakter dan sifat yang berbeda-beda,  </p><p>tergantung pada lingkungan keluarga mereka. Dalam konteks ini, keluarga menjadi  </p><p>tempat di mana anak-anak menerima pendidikan dan bimbingan awal yang sangat  </p><p>penting. </p><p><br/></p><p>memiliki lima fungsi utama yang  </p><p>sangat penting dalam perkembangan individu dan masyarakat :</p><p>A. Fungsi Afektif (Affective Function) </p><p>Fungsi ini berkaitan dengan pengembangan emosi dan hubungan  </p><p>antarpribadi dalam lingkungan keluarga</p><p><br/></p><p>B.Fungsi Sosialisasi dan Penempatan Sosial (Socialization and Social  </p><p>Placement Function)  </p><p>Fungsi ini berfokus pada proses sosialisasi anak ke dalam norma, nilai, dan  </p><p>budaya masyarakat</p><p><br/></p><p>C.Fungsi Reproduksi (Reproductive Function)  </p><p>Fungsi ini berkaitan dengan aspek biologis dan sosial dari reproduksi.  </p><p>Dalam konteks pendidikan keluarga, fungsi reproduksi tidak hanya  </p><p>mencakup kelahiran anak, tetapi juga pendidikan tentang kesehatan  </p><p>reproduksi, perencanaan keluarga, dan tanggung jawab </p><p><br/></p><p>D.Fungsi Ekonomi (Economic Function)  </p><p>Fungsi ini mencakup aspek ekonomi dalam keluarga, di mana keluarga  </p><p>bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dasar anggotanya, seperti  </p><p>makanan, tempat tinggal, dan pendidikan.</p><p><br/></p><p>E.Fungsi Perawatan dan Pemeliharaan Kesehatan (Health Care Function)  </p><p>Fungsi ini berfokus pada aspek kesehatan dan kesejahteraan anggota  </p><p>keluarga. </p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 14:46:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386836923</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>syifanurfarihah6</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386845019</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Syifa Nurfarihah</p><p>NIM: 2221240022</p><p>Kelas: 2B</p><p><br/></p><p>Materi hari ini membahas tentang teknik analisis gender dalam pendidikan keluarga. Gender adalah perbedaan yang terlihat antara pria dan wanita jika dikaji dari nilai dan perilakunya. Gender berfungsi sebagai istilah untuk menggambarkan perbedaan sosial antara laki-laki dan perempuan. Gender merupakan sekumpulan atribut dan perilaku yang ada secara budaya di antara pria dan wanita. Sejalan dengan itu, gender juga mencerminkan hubungan sosial yang memisahkan fungsi dan peran antara wanita dan pria. Perbedaan fungsi dan peran di antara keduanya tidak ditentukan semata-mata oleh aspek biologis, tetapi berdasarkan posisi, fungsi, dan peranan masing-masing dalam berbagai aspek kehidupan dan pembangunan. Analisis gender juga suatu pendekatan untuk memahami perbedaan peran, tanggung jawab, akses, dan peluang antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pendidikan keluarga. Teknik ini digunakan untuk mengidentifikasi ketidaksetaraan serta dampaknya terhadap individu dan masyarakat. Hal ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan keluarga yang lebih adil dan setara. Dapat mengidentifikasi dan mengevaluasi bagaimana peran gender diterapkan dalam keluarga. Mengidentifikasi ketidaksetaraan gender dalam pembagian tugas, pengasuhan, dan pemberian akses terhadap pendidikan dalam keluarga. Mengevaluasi sejauh mana stereotip gender memengaruhi pendidikan anak dalam keluarga. Mendorong pola asuh yang lebih adil dan setara bagi semua anak. Meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya kesetaraan gender dalam pendidikan keluarga. Menanamkan nilai-nilai kesetaraan gender sejak dini agar anak tumbuh dalam lingkungan yang inklusif dan adil.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 14:52:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386845019</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386849867</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Muhammad miftahuddin</p><p>Kelas: 2B</p><p>Nim: 2221240098</p><p><br/></p><p>Materi hari menjelaskan tentang teknik analisis gender</p><p>Istilah "Gender" berasal dari bahasa Inggris yang berarti "jenis</p><p>kelamin"</p><p>. Dalam Webster's New World Dictionary, gender</p><p>diterjemahkan sebagai perbedaan yang terlihat antara pria dan</p><p>wanita dalam hal nilai serta perilaku. Dalam Webster's Studies</p><p>Encyclopedia, dijelaskan bahwa gender merupakan suatu konsep</p><p>budaya yang berusaha menciptakan perbedaan dalam hal peran,</p><p>sikap, mental, dan karakter emosional antara pria dan wanita yang</p><p>berkembang dalam masyarakat.</p><p><br/></p><p>pendidikan keluarga Keluarga dan pendidikan adalah dua konsep yang tidak dapat </p><p>dipisahkan. Dimana terdapat keluarga, di situ pula ada pendidikan. </p><p>Ketika orang tua melaksanakan peran dan tugas mereka dalam </p><p>mendidik anak, di sisi lain, anak juga memerlukan pendidikan dari </p><p>orang tua.</p><p><br/></p><p>adapun teknik pendidikan keluarga yaitu</p><ol><li><p>model harvard Model Harvard, atau yang dikenal sebagai Kerangka Analisis Harvard, diciptakan oleh Harvard Institute for International Development melalui kerjasamanya dengan Kantor Women In Development (WID)-USAID. </p></li><li><p> Model moser teknik pengolahan model Moser, yang juga dikenal sebagai Kerangka Moser, didasarkan pada keyakinan bahwa perencanaan terkait gender memiliki sifat teknis dan politis.Kerangka ini memandang bahwa ada ketegangan dalam proses perencanaan serta transformasi dan menggambarkan perencanaan sebagai suatu bentuk diskusi. </p></li></ol><p>adapun teknik analisis gender dalam pendidikan keluarga Outcome Anak Sebagai Suatu Produk dari Pengasuhan Anak </p><p>Berperspektif Gender Keluarga mempunyai peran yang </p><p>sangat tinggi dan merupakan sumber iustitusi paling awal </p><p>dan paling kuat dalam mensosialisaikan anak-anaknya, baik </p><p>putra maupun putri sesuai Dengan nilai-nilai keluarga dan </p><p>norma masyarakat yang dianut Pengasuhan yang dilakukan </p><p>oleh ayah dan ibu memberi pengaruh baik secara langsung </p><p>maupun tidak langsung pada perilaku Pelajar. </p><p>Tantangan dalam Teknik Analisis Gender</p><p>1. Stereotip Gender</p><p>2. Kurangnya Pelatihan</p><p>Solusi dalam Teknik Analisis Gender</p><p>1. Penyuluhan dan Pendidikan</p><p>2. Kebijakan yang Mendukung</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 14:56:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386849867</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386938300</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama:M.Royyan Putra Firdaus </p><p>Nim:2221240021</p><p>Kelas:2B</p><p><br/></p><p>1.Definisi dan Tujuan Analisis Gender</p><p>Analisis gender merupakan suatu proses sistematis untuk mengidentifikasi perbedaan, peran, fungsi, dan tanggung jawab antara laki‑laki dan perempuan. Dalam konteks pendidikan keluarga, analisis ini bertujuan untuk mengungkap ketimpangan dan diskriminasi yang mungkin terjadi, sehingga dapat dijadikan dasar untuk merumuskan kebijakan dan program yang responsif gender.</p><p>2. Data dan Variabel yang Digunakan</p><p>Data Terpilah: Informasi dikumpulkan dengan membedakan variabel berdasarkan jenis kelamin (kuantitatif maupun kualitatif).</p><p>Indikator Utama: Akses, peran, kontrol, dan manfaat yang diperoleh masing‑masing dari anggota keluarga dalam berbagai aktivitas, baik di ranah domestik maupun publik.</p><p>3. Model-Model Analisis Gender</p><p>Beberapa model telah dikembangkan untuk memandu proses analisis, di antaranya:</p><p>Model Harvard: Dikembangkan oleh Harvard Institute for International Development, model ini menekankan pada pemetaan peran publik, domestik, dan sosial budaya serta pengukuran investasi ekonomi yang dilakukan oleh kedua gender.</p><p>Model Moser: Berfokus pada perencanaan gender, model ini menekankan pada konflik perencanaan dan pentingnya menyeimbangkan kebutuhan praktis dengan kebutuhan strategis untuk mencapai keadilan gender.</p><p>4. Penerapan dalam Pendidikan Keluarga</p><p>Pendidikan sebagai Agen Sosialisasi: Keluarga merupakan unit pendidikan pertama yang membentuk pola pikir anak. Teknik analisis gender membantu mengidentifikasi bagaimana peran dan sikap orang tua dapat mempengaruhi persepsi serta harapan anak terkait gender.</p><p>Pengarusutamaan Kebijakan: Hasil analisis digunakan untuk memberikan masukan dalam penyusunan program pendidikan keluarga yang mengintegrasikan perspektif gender, sehingga diharapkan tercipta lingkungan keluarga yang adil dan setara.</p><p>5. Manfaat dan Implikasi</p><p>Peningkatan Kesadaran: Melalui analisis ini, diharapkan para pendidik dan pembuat kebijakan memahami akar permasalahan ketidaksetaraan gender dalam keluarga.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 16:12:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386938300</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rifahiif70</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386955879</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Iif Rif'ah</p><p>Nim : 2221240050</p><p>Kelas : 2A</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>Teknik analisis gender dan aplikasi dalam perencanaan program pendidikan keluarga</p><p><br/></p><p>Disini yang saya tangkap bahwa pendidikan keluarga tidak hanya mendidik tentang akademisi melainkan mereka mendidik tentang moral, etika, dan norma norma sosial. Disini ada ketimpangan antara ibu dan ayah karna ketidak seimbang gender, seorang ibu lebih bertanggung jawab akan tugasnya mendidik anaknya akan tetapi sang ayah kurang dalam mendidik anak, karna ketidak seimbang itu akan berpengaruh terhadap anak nyanya. Oleh karna itu keluarga harus menciptakan pola asuh yang lebih baik, adil dan inklusif analisis gender yang menyuruh diperlukan saat merencang pendidikan keluarga.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 16:27:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386955879</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>restikayundiana4</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386977540</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Restika Yundiana </p><p>Nim: 2221240046</p><p>Kelas: 2A</p><p><br/></p><p>Dalam pertemuan minggu ini yang membahas “TEKNIK ANALISIS GENDER DAN APLIKASI DALAM PERENCANAAN PROGRAM PENDIDIKAN KELUARGA” saya jadi memahami terkait dari Teknik Analisis Gender bahwa ada beberapa di dalamnya seperti:</p><p>1. Gender Role Analysis yang dimana menganalisis peran gender dalam masyarakat.</p><p>2. Harvard Analytical Framework dimana di maksudkan menganalisis peran ekonomi dan kontrol sumber daya.</p><p>3.Moser Gender Planning Framework yang di maksudkan yaitu mengidentifikasi tiga peran perempuan.</p><p>4. Gender Analysis Matrix (GAM) yaitu mengkaji akses, kontrol, dan manfaat.</p><p>5.Women’s Empowerment Framework maksudnya yaitu menganalisis pemberdayaan perempuan.</p><p>Lalu juga ada terkait pengaplikasikan teknik tersebut dalam pendidikan keluarga yang di jelaskan seperti ada</p><p>1.Gender Role Analysis: Menyeimbangkan peran ayah dan ibu dalam pendidikan anak.</p><p>2. Harvard Analytical Framework: Menyeimbangkan kontrol dalam pengambilan keputusan pendidikan.</p><p>3. Moser Gender Planning Framework: Mengurangi beban ganda pada ibu.</p><p>4. Gender Analysis Matrix: Menentukan strategi pembagian peran yang lebih adil.</p><p>5. Women’s Empowerment Framework: Meningkatkan keterlibatan ibu dalam keputusan pendidikan</p><p>Dari materi tersebut saya lebih memahami analisis gender ini ternyata sangat membantu dalam mengidentifikasi ketimpangan dalam pendidikan keluarga, pendidikan kesetaraan gender yang di terapkan dalam keluarga sangat penting karena mampu meningkatkan kesejahteraaan individu dan keluarga.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 16:49:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386977540</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>maliardk21</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386983819</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Muhammad Ali Abdurrahman K.D</p><p>NIM: 2221240055</p><p>Kelas: 2B</p><p><br></p><p>Materi hari ini menjelaskan tentang Tkenik Analisis Gender Dalam Pendidikan Keluarga. </p><p><br></p><p>Pengertian pendidikan keluarga adalah Keluarga dan pendidikan adalah dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Dimana terdapat keluarga, di situ pula ada pendidikan. Ketika orang tua melaksanakan peran dan tugas mereka dalam mendidik anak, di sisi lain, anak juga memerlukan pendidikan dari orang tua. Dalam UU Sisdiknas, dijelaskan bahwa pendidikan keluarga adalah bagian dari jalur pendidikan di luar sekolah yang dilakukan di dalam keluarga, yang memberikan kepercayaan agama, nilai budaya, moral, serta keterampilan.</p><p><br></p><p>Ada 2 model teknik analisis gender, yaitu: </p><ol><li><p>Model Harvard</p></li><li><p>Model Moser</p></li></ol><p><br></p><p>Contoh aplikasi teknik analisis gender dalam pendidikan keluarga adalah outcome Anak Sebagai Suatu Produk dari Pengasuhan Anak Berperspektif Gender Keluarga mempunyai peran yang sangat tinggi dan merupakan sumber iustitusi paling awal dan paling kuat dalam mensosialisaikan anak-anaknya, baik putra maupun putri sesuai Dengan nilai-nilai keluarga dan norma masyarakat yang dianut Pengasuhan yang dilakukan oleh ayah dan ibu memberi pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung pada perilaku Pelajar. Kualitas pengasuhan baik oleh ayah maupun ibu berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku kenakalan remaja.</p><p><br></p><p>Peran Keluarga Dalam Pembentukan Identitas Gender bahwa istilah "gender" mengacu pada perbedaan antar laki-laki dan perempuan dalam hal peran, perilaku, dan karakter emosional yang dibentuk secara sosial dan budaya. Ini berbeda dengan jenis kelamin biologis. Identitas gender seseorang sudah ada sejak lahir dan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti lingkungan sosial mereka dan perilaku orang tua mereka. Proses pembentukan identitas gender dimulai saat anak masih bayi dan mulai memahami kategori sosial yang berkaitan dengan gender mereka pada usia dini.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 16:55:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3386983819</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3387020923</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Almaida Septiani </p><p>Kelas: 2A</p><p>NIM: 2221240049</p><p>Hari ini membahas teknik analisis gender dalam pendidikan keluarga, adalah pendekatan yang bertujuan untuk memahami bagaimana peran, tanggung jawab, dan pengalaman individu dalam keluarga dipengaruhi oleh perbedaan gender. Dalam implementasinya, analisis gender tidak hanya berfokus pada pembagian tugas domestik, tetapi juga bagaimana nilai, norma, dan kebijakan dalam keluarga dapat memengaruhi perkembangan individu berdasarkan jenis kelamin mereka. Salah satu metode yang efektif untuk melakukan analisis gender adalah dengan mengamati peran orang tua dalam mendidik anak-anak mereka. Pertanyaan yang bisa diajukan adalah apakah anak laki-laki dan perempuan mendapatkan kesempatan yang setara dalam mengekspresikan pendapat, mengejar pendidikan, dan menentukan pilihan karier di masa depan. Di samping itu, sangat penting untuk memperhatikan pola komunikasi dalam keluarga. Apakah ada kecenderungan perbedaan dalam cara orang tua berbicara kepada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan. Dalam praktiknya, teknik analisis gender dapat diterapkan melalui diskusi keluarga yang terbuka, di mana setiap anggota diberi kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat tanpa adanya diskriminasi. Selain itu, mendidik anak-anak dengan memberikan teladan langsung mengenai kesetaraan, seperti membagi tugas rumah tangga secara adil tanpa membedakan berdasarkan jenis kelamin, juga merupakan metode yang efektif. Dengan memahami teknik analisis gender dalam pendidikan keluarga, diharapkan dapat terbentuk lingkungan yang lebih inklusif dan adil. Hal ini akan membantu menciptakan generasi yang sadar akan pentingnya kesetaraan gender sejak dini, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi individu yang lebih menghargai perbedaan dan mampu menciptakan hubungan yang harmonis dalam kehidupan sosial mereka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 17:34:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3387020923</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>valfathory</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3387058629</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Muhammad Virly Al Fathory</strong></p><p><strong>II A</strong></p><p><br/></p><p>"TEKNIK ANALISIS GENDER DAN APLIKASI DALAM PERENCANAAN PROGRAM PENDIDIKAN KELUARGA" </p><p>dalam pertemuan kali ini membahas tentang teknik pengaplikasian gender dalam lingkungan keluarga, ada beberapa teknik diantaranya:</p><p><br/></p><p>1. Gender Role Analysis yang dimana menganalisis peran gender dalam masyarakat. 2. Harvard Analytical Framework dimana di maksudkan menganalisis peran ekonomi dan kontrol sumber daya.3.Moser Gender Planning Framework yang di maksudkan yaitu mengidentifikasi tiga peran perempuan. 4. Gender Analysis Matrix (GAM) yaitu mengkaji akses, kontrol, dan manfaat. 5.Women's Empowerment Framework maksudnya yaitu menganalisis pemberdayaan perempuan. Lalu juga ada terkait pengaplikasikan teknik tersebut dalam pendidikan keluarga yang dijelaskan seperti ada 1.Gender Role Analysis: Menyeimbangkan peran ayah dan ibu dalam pendidikan anak. </p><p>2.Harvard Analytical Framework: Menyeimbangkan kontrol dalam pengambilan keputusan pendidikan. </p><p>3. Moser Gender Planning Framework: Mengurangi beban ganda pada ibu. </p><p>4. Gender Analysis Matrix: Menentukan strategi pembagian peran yang lebih adil, </p><p>5. Women's Empowerment Framework: Meningkatkan keterlibatan ibu dalam keputusan pendidikan Dari materi tersebut saya lebih memahami analisis gender ini ternyata sangat membantu dalam mengidentifikasi ketimpangan dalam pendidikan keluarga, pendidikan kesetaraan gender yang di terapkan dalam keluarga.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 18:17:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3387058629</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3387099999</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Difa Desti Sabillah</p><p>Nim : 2221240097</p><p>Kelas : 2A</p><p><br/></p><p>TEKNIK ANALISIS GENDER DAN APLIKASI DALAM PERENCANAAN PROGRAM PENDIDIKAN KELUARGA</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Analisis Gender dalam Pendidikan Keluarga</p><p>Pendidikan keluarga memegang peranan penting dalam membentuk karakter dan kualitas generasi berikutnya. Namun, peran yang tidak seimbang berdasarkan gender dalam keluarga, di mana ibu sering kali memikul tanggung jawab utama, dapat mempengaruhi proses pendidikan anak. Faktor budaya dan norma sosial memperburuk ketimpangan ini. Untuk menciptakan pendidikan keluarga yang lebih adil dan inklusif, beberapa</p><p>pendekatan analisis gender yang dapat diterapkan adalah:</p><p><br/></p><p>1. Gender Role Analysis: </p><p>Menyeimbangkan peran ayah dan ibu dalam pendidikan anak.</p><p><br/></p><p>2. Harvard Analytical Framework: Menyeimbangkan kontrol dalam pengambilan keputusan pendidikan.</p><p><br/></p><p>3. Moser Gender Planning Framework: Mengurangi beban ganda pada ibu.</p><p><br/></p><p>4. Gender Analysis Matrix (GAM): Mengembangkan strategi pembagian peran yang lebih adil dalam keluarga.</p><p><br/></p><p>5. Women’s Empowerment Framework: Meningkatkan keterlibatan ibu dalam keputusan pendidikan.</p><p><br/></p><p>Dengan penerapan analisis gender ini, berharap pendidikan keluarga menjadi lebih adil dan mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 19:11:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3387099999</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3387175670</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Muhamad Juan Safiq</p><p>Nim : 2221240048</p><p>Kelas : 2A</p><p><br/></p><p>Refleksi Pembelajaran Online: Analisis Gender dalam Pendidikan Keluarga</p><p><br/></p><p>Dalam perkuliahan online kali ini, saya mendapatkan wawasan yang lebih mendalam tentang pentingnya analisis gender dalam pendidikan keluarga. Saya menyadari bahwa dalam banyak kasus, ibu masih memegang peran utama dalam pendidikan anak, sementara ayah sering kali memiliki keterlibatan yang lebih minim. Ketimpangan ini bukan hanya disebabkan oleh keputusan individu dalam keluarga, tetapi juga dipengaruhi oleh norma sosial dan budaya yang telah lama mengakar.</p><p><br/></p><p>Melalui pembelajaran ini, saya memahami bagaimana beberapa pendekatan analisis gender dapat diterapkan untuk menciptakan pendidikan keluarga yang lebih adil. Moser Gender Planning Framework membantu mengurangi beban ganda yang sering dihadapi ibu, sementara Gender Analysis Matrix (GAM) memberikan strategi dalam membagi peran keluarga secara lebih seimbang. Selain itu, Women’s Empowerment Framework menekankan pentingnya peran ibu dalam pengambilan keputusan pendidikan.</p><p><br/></p><p>Refleksi dari materi ini mengingatkan saya bahwa pendidikan yang berkualitas dalam keluarga harus bersifat inklusif dan berbasis kesetaraan. Dengan menerapkan prinsip-prinsip gender yang lebih adil, baik ibu maupun ayah dapat berkontribusi secara optimal dalam mendidik anak. Saya merasa bahwa pemahaman ini sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari dan dapat menjadi dasar untuk perubahan pola pikir dalam membangun keluarga yang lebih harmonis dan berkeadilan gender.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-28 21:33:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3387175670</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3387279396</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Laras Juliana Sapira</p><p>Nim    : 2221240031</p><p>Kelas  : 2A</p><p><br/></p><p><strong>"Teknik Analisis Gender dan Aplikasi Dalam Perencanaan Program Pendidikan Keluarga"</strong></p><p><br/></p><p>Dalam perkuliahan kali ini, saya semakin memahami pentingnya teknik analisis gender dalam pendidikan keluarga. Analisis gender bukan hanya tentang pembagian tugas domestik, tetapi juga mencakup nilai, norma, serta kebijakan yang membentuk peran ayah dan ibu dalam mendidik anak. Saya menyadari bahwa dalam banyak keluarga, ibu masih menanggung beban ganda dalam pendidikan anak, sementara keterlibatan ayah cenderung lebih minim. Ketimpangan ini bukan hanya hasil keputusan individu, tetapi juga dipengaruhi oleh struktur sosial dan budaya yang telah lama mengakar.</p><p><br/></p><p>Melalui berbagai pendekatan analisis gender, saya memahami bagaimana menciptakan pendidikan keluarga yang lebih adil dan inklusif. Misalnya, <mark>Gender Role Analysis</mark> membantu mengidentifikasi perbedaan peran ayah dan ibu serta mencari keseimbangan dalam tanggung jawab mereka. <mark>Harvard Analytical Framework </mark> menekankan pentingnya keseimbangan dalam kontrol sumber daya dan pengambilan keputusan dalam keluarga. <mark>Mose   Gender planning framework</mark> menawarkan strategi untuk mengurangi beban ganda pada ibu, sementara <mark>gender Analysis matrix (GAM) </mark>membantu menyusun strategi pembagian peran yang lebih adil. Di sisi lain, Women’s Empowerment Framework berfokus pada peningkatan peran ibu dalam pengambilan keputusan pendidikan.</p><p><br/></p><p>Pemahaman ini juga mengajarkan saya bahwa pendidikan keluarga yang berkeadilan gender tidak hanya dapat dicapai melalui teori, tetapi juga melalui praktik langsung. Salah satu caranya adalah dengan membangun pola komunikasi yang terbuka dalam keluarga, di mana setiap anggota memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat tanpa diskriminasi. Selain itu, penting untuk memberikan contoh nyata kepada anak-anak mengenai kesetaraan gender, seperti membagi tugas rumah tangga secara adil tanpa memandang jenis kelamin.</p><p><br/></p><p>Refleksi ini menyadarkan saya bahwa kesetaraan gender dalam pendidikan keluarga bukan hanya sebuah konsep, tetapi juga sebuah kebutuhan. Dengan menerapkan prinsip-prinsip gender yang lebih inklusif, diharapkan generasi mendatang dapat tumbuh menjadi individu yang lebih menghargai perbedaan, memiliki kesadaran tinggi terhadap keadilan gender, serta mampu menciptakan hubungan yang harmonis dalam kehidupan sosial mereka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-29 02:20:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3387279396</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3387281015</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Nazma Kamila R</p><p>Kelas: 2A</p><p>Nim: 2221240061</p><p><br/></p><p>Pada presentasi kali ini membahas tentang pentingnya teknik analisis dan aplikasi gender dalam perencanaan program pendidikan keluarga. Pendidikan keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak dan menanamkan nilai-nilai kesetaraan gender, tanggung jawab, serta kerja sama. Untuk mencapai hal ini, diperlukan pemahaman yang mendalam tentang peran gender dalam keluarga dan masyarakat.</p><p><br/></p><p>Adapun Teknik analisis gender seperti Gender Role Analysis, analisis kebutuhan gender, dan Gender Impact Assessment hal tersebut dapat diterapkan dalam program pendidikan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesetaraan. Dengan mendorong pembagian tugas yang adil, mengintegrasikan nilai-nilai kesetaraan dalam aktivitas sehari-hari, dan meningkatkan pemahaman tentang peran masing-masing anggota keluarga, jika hal tersebut sudah dapat terpenuhi kita dapat menciptakan generasi yang adil, harmonis, dan berkualitas.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-29 02:24:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3387281015</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rahmaauliya040806</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3387436736</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama : Rahma Aulia</strong></p><p><strong>Nim : 2221240092</strong></p><p><strong>Kelas : 1A</strong></p><p><br/></p><p><strong>Dari kesimpulan presentator yaknik </strong>Aplikasi analisis gender dalam perencanaan program pendidikan keluarga mencakup berbagai aspek. Pertama, prinsip kesetaraan gender dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan anak usia dini agar anak-anak tidak hanya mendapatkan perlakuan yang adil tetapi juga belajar menghargai perbedaan gender sejak dini. Kedua, program pendidikan keluarga dapat dirancang untuk melibatkan kedua orang tua secara aktif dalam proses pengasuhan, sehingga tanggung jawab mendidik anak tidak hanya dibebankan kepada ibu tetapi juga kepada ayah. Hal ini penting untuk menciptakan keseimbangan peran antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga.</p><p>Selain itu, kebijakan pendidikan yang responsif terhadap isu gender harus dikembangkan untuk memastikan bahwa semua anak memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses pendidikan berkualitas tanpa diskriminasi berdasarkan jenis kelamin. Misalnya, program pendidikan keluarga dapat mencakup pelatihan bagi orang tua tentang pentingnya mendukung anak perempuan untuk mengejar pendidikan tinggi atau karier di bidang yang sering dianggap sebagai "dominan laki-laki."</p><p>Dengan menerapkan analisis gender secara menyeluruh, program pendidikan keluarga dapat menjadi lebih inklusif dan adil, sekaligus berkontribusi pada penghapusan stereotip gender di masyarakat. Hal ini tidak hanya meningkatkan kualitas hidup individu tetapi juga memperkuat struktur sosial secara keseluruhan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-29 10:22:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3387436736</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3387659973</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Bagas Fajri Ramadana </p><p>Nim:2221240080</p><p>Kelas:2A</p><p><br/></p><p>1.Definisi dan Tujuan Analisis Gender</p><p><br/></p><p>Analisis gender merupakan suatu proses sistematis untuk mengidentifikasi perbedaan, peran, fungsi, dan tanggung jawab antara laki‑laki dan perempuan. Dalam konteks pendidikan keluarga, analisis ini bertujuan untuk mengungkap ketimpangan dan diskriminasi yang mungkin terjadi, sehingga dapat dijadikan dasar untuk merumuskan kebijakan dan program yang responsif gender.</p><p><br/></p><p>2. Data dan Variabel yang Digunakan</p><p><br/></p><p>Data Terpilah: Informasi dikumpulkan dengan membedakan variabel berdasarkan jenis kelamin (kuantitatif maupun kualitatif).</p><p><br/></p><p>Indikator Utama: Akses, peran, kontrol, dan manfaat yang diperoleh masing‑masing dari anggota keluarga dalam berbagai aktivitas, baik di ranah domestik maupun publik.</p><p><br/></p><p>3. Model-Model Analisis Gender</p><p><br/></p><p>Beberapa model telah dikembangkan untuk memandu proses analisis, di antaranya:</p><p><br/></p><p>Model Harvard: Dikembangkan oleh Harvard Institute for International Development, model ini menekankan pada pemetaan peran publik, domestik, dan sosial budaya serta pengukuran investasi ekonomi yang dilakukan oleh kedua gender.</p><p><br/></p><p>Model Moser: Berfokus pada perencanaan gender, model ini menekankan pada konflik perencanaan dan pentingnya menyeimbangkan kebutuhan praktis dengan kebutuhan strategis untuk mencapai keadilan gender.</p><p><br/></p><p>4. Penerapan dalam Pendidikan Keluarga</p><p><br/></p><p>Pendidikan sebagai Agen Sosialisasi: Keluarga merupakan unit pendidikan pertama yang membentuk pola pikir anak. Teknik analisis gender membantu mengidentifikasi bagaimana peran dan sikap orang tua dapat mempengaruhi persepsi serta harapan anak terkait gender.</p><p><br/></p><p>Pengarusutamaan Kebijakan: Hasil analisis digunakan untuk memberikan masukan dalam penyusunan program pendidikan keluarga yang mengintegrasikan perspektif gender, sehingga diharapkan tercipta lingkungan keluarga yang adil dan setara.</p><p><br/></p><p>5. Manfaat dan Implikasi</p><p><br/></p><p>Peningkatan Kesadaran: Melalui analisis ini, diharapkan para pendidik dan pembuat kebijakan memahami akar permasalahan ketidaksetaraan gender dalam keluarga.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-03-29 18:32:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3387659973</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>argyantirani</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405494117</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Rani Argyanti</strong></p><p><strong>2221240070</strong></p><p><strong>2B</strong></p><p><br/></p><p>pengelolaan sumber daya dan pengelolaan konflik gender dalam keluarga</p><p>keluarga diartikan sebagai kekerabatan yang sangat mendasar, Keluarga dapat dipahami sebagai kelompok sosial yang terbentuk berdasarkan ikatan kekerabatan atau perkawinan, yang memiliki peran penting dalam pembentukan individu dan sebagai tempat utama bagi anak-anak untuk belajar bersosialisasi dan tempat mereka dilahirkan. </p><p>Konsep gender secara umum merujuk pada peran dan tanggung</p><p>jawab laki-laki dan perempuan yang dibentuk dan diinternalisasi melalui kebiasaan keluarga dan budaya masyarakat. Sumber daya keluarga merupakan modal yang harus dikelola dengan baik oleh seluruh anggota keluarga untuk mencapai kesejahteraan keluarga, Manajemen sumber daya manusia adalah suatu kegiatan untuk merencanakan, mengorganisasi, memimpin, serta mengontrol sumber potensi manusia untuk mencapai tujuan organisasi. </p><p>Keluarga unit terkecil dalam masyarakat yang membutuhkan pengelolaan sumber daya agar dapat mencapai kesejahteraan dan keseimbangan dalam kehidupan. Sumber daya keluarga mencakup sumber daya manusia, Sumber daya materi adalah segala bentuk kekayaan</p><p>yang dimiliki atau dikelola oleh keluarga yang berfungsi sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan hidup, Konflik dalam rumah tangga tidak bisa kita hindari, bahkan setiap</p><p>insan yang bernyawa pasti akan mengalami yang namanya konflik, dimanapun, kapanpun, siapapun dan bagaimanapun. dan faktor penyebab konflik penghasilan, keterampilan, perbedaan pendapat, gaya komunikasi, sikap anak, kdrt, egoisme, resolusi konflik.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 02:47:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405494117</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nazwafatsyaaa</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405500300</link>
         <description><![CDATA[<p>Nazwa fatsya</p><p>2221240093</p><p>2B</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>DEFINISI KELUARGA &amp; FUNGSINYA</p><p>Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),</p><p>keluarga diartikan sebagai satuan kekerabatan</p><p>yang sangat mendasar. Definisi ini menekankan</p><p>pada ikatan kekerabatan sebagai inti dari</p><p>pembentukan keluarga. Keluarga dapat</p><p>dipahami sebagai kelompok sosial yang</p><p>terbentuk berdasarkan ikatan kekerabatan atau</p><p>perkawinan, yang memiliki peran penting dalam</p><p>pembentukan individu dan masyarakat secara</p><p>keseluruhan Keluarga sebagai unit terkecil</p><p>dalam masyarakat, memiliki beragam tipe yang</p><p>dibedakan berdasarkan struktur dan sistem</p><p>kekerabatan</p><p>Menurut Parsons (1951), ada dua</p><p>fungsi penting keluarga:</p><p>1. sebagai tempat utama bagi</p><p>anak-anak untuk belajar</p><p>bersosialisasi dan</p><p>tempat mereka dilahirkan</p><p>2. sebagai tempat untuk</p><p>menjaga kestabilan kepribadian</p><p>remaja atau orang dewasa.</p><p><br/></p><p>Definisi Gender</p><p><br/></p><p>Konsep gender secara umum merujuk pada peran dan tanggung</p><p>jawab laki-laki dan perempuan yang dibentuk dan diinternalisasi</p><p>melalui kebiasaan keluarga dan budaya masyarakat. Gender juga</p><p>didefinisikan sebagai pembedaan peran, atribut, dan perilaku yang</p><p>dianggap pantas oleh masyarakat</p><p>untuk laki-laki dan perempuan.</p><p><br/></p><p>DEFINISI SUMBER DAYA KELUARGA</p><p>Sumber daya keluarga merupakan modal yang harus dikelola</p><p>dengan baik oleh seluruh anggota keluarga untuk mencapai</p><p>kesejahteraan keluarga. Sumber daya manusia dalam</p><p>keluarga ditinjau dari segi fisik, mental, dan pendidikan</p><p>anggota keluarga. Manajemen sumber daya manusia adalah</p><p>suatu kegiatan untuk merencanakan, mengorganisasi,</p><p>memimpin, serta mengontrol sumber potensi manusia untuk</p><p>mencapai tujuan organisasi.</p><p><br/></p><p>MENGELOLA SUMBER DAYA KELUARGA</p><p>Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang</p><p>membutuhkan pengelolaan sumber daya agar dapat</p><p>mencapai kesejahteraan dan keseimbangan dalam</p><p>kehidupan. Sumber daya keluarga mencakup sumber</p><p>daya manusia, sumber daya materi, dan sumber daya</p><p>waktu, yang harus dikelola secara efektif agar dapat</p><p>memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan keluarga.</p><p><br/></p><p>FAKTOR PENYEBAB KONFLIK</p><p>1. PENGHASILAN</p><p>2. ⁠ KETERAMPILAN</p><p>3. PERBEDAAN PENDAPAT</p><p>4. ⁠ GAYA KOMUNIKASI</p><p>5. ⁠ SIKAP ANAK</p><p>6. ⁠ KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT)</p><p>7. ⁠ EGOISME</p><p>8. ⁠ RESOLUSI KONFLIK</p><p><br/></p><p><br/></p><p>PENDEKATAN PENDIDIKAN NON-FORMAL</p><p>UNTUK MENDUKUNG KELUARGA</p><p>A. METODE PENDIDIKAN NON FORMAL MENDUKUKUNG</p><p>KELUARGA</p><p>Pendidikan nonformal berperan sebagai jalur</p><p>alternatif pendidikan yang</p><p>lebih fleksibel, responsif terhadap kebutuhan</p><p>masyarakat dan kontekstual terhadap budaya lokal.</p><p><br/></p><p>KESIMPULAN</p><p>PENGELOLAAN SUMBER DAYA KELUARGA (WAKTU, UANG, DAN TENAGA)</p><p>SANGAT DIPENGARUHI OLEH PERAN GENDER YANG DIKONSTRUKSI SECARA</p><p>SOSIAL. STEREOTIP GENDER TRADISIONAL SERINGKALI MEMBATASI PERAN</p><p>DAN TANGGUNG JAWAB ANGGOTA KELUARGA BERDASARKAN JENIS</p><p>KELAMIN, YANG DAPAT MENYEBABKAN KETIDAKADILAN DALAM ALOKASI</p><p>SUMBER DAYA. OLEH KARENA ITU, PENGELOLAAN SUMBER DAYA</p><p>KELUARGA YANG EFEKTIF DAN ADIL MEMERLUKAN KESADARAN AKAN</p><p>KONSTRUKSI GENDER DAN UPAYA UNTUK MENGHAPUS STEREOTIP YANG</p><p>MERUGIKAN</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 02:50:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405500300</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405558289</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Tuppal Budi Asih </p><p>Kelas : 2B</p><p>NIM : 2221240039</p><p><br/></p><p>Pengelolaan sumber daya keluarga (waktu, uang, dan tenaga) sangat dipengaruhi oleh peran gender yang dikonstruksi secara sosial. Stereotip gender tradisional seringkali membatasi peran dan tanggung jawab anggota keluarga berdasarkan jenis kelamin, yang dapat menyebabkan ketidakadilan dalam alokasi sumber daya. Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya keluarga yang efektif dan adil memerlukan kesadaran akan konstruksi gender dan upaya untuk menghapus stereotip yang merugikan. Pembagian tugas dan tanggung jawab. yang didasarkan pada kemampuan dan kesepakatan bersama, bukan semata-mata pada jenis kelamin, akan meningkatkan kesejahteraan keluarga secara keseluruhan. Lebih lanjut, konflik dalam keluarga seringkali berakar pada ketidaksetaraan gender dalam pembagian peran, akses terhadap sumber daya. dan pengambilan keputusan. Menyelesaikan konflik gender secara konstruktif membutuhkan pendekatan yang mengedepankan kesetaraan dan keadilan, melalui komunikasi yang terbuka, empati, negosiasi, dan kesediaan untuk mengubah norma gender yang tidak adil. Untuk mencapai pengelolaan sumber daya yang berkeadilan gender dan mengatasi konflik gender secara efektif,. keluarga perlu mempromosikan kesadaran dan pendidikan gender, mendorong pembagian tugas yang setara, memfasilitasi komunikasi yang terbuka. melibatkan semua anggota keluarga dalam pengambilan keputusan, menerapkan prinsip negosiasi dan kompromi, menantang norma gender yang merugikan, dan mencari dukungan eksternal jika diperlukan. Dengan demikian, keluarga dapat menciptakan lingkungan yang lebih harmonis, sejahtera, dan berkeadilan bagi seluruh anggotanya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 03:21:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405558289</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405561872</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Futuhatul ain</p><p>Nim : 2221240053</p><p>Kelas : 2B</p><p>PENGELOLAAN SUMBER DAYA DAN PENGELOLAAN KONFLIK GENDER DALAM KELUARGA</p><p>1. Definisi keluarga dan fungsinya&nbsp; : keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terbentuk dari ikatan kekerabatan atau perkawinan. berfungsi sebagai tempat pendidikan dan stabilitas. secara umum gender merujuk pada peran tangung jawab antara laki-laki dan perempuan.</p><p><br></p><p>2. Mengelola sumber daya kekeluargaan: mengelola sumber daya di perlukan agar keluarga dapat mencapai kesejahteraan dan keseimbangan hidup.</p><p><br></p><p>3. Sumberdaya keluarga dapat mencakup sumber daya manusia yang merujuk pada kemampuan fisik, kondisi mental dan latar belakang pendidikan ini merupakan aspek penting dalam menciptakan keluarga yang sehat, produktif dan mandiri. Sumberdaya materi penghasilan atau kekayaan yang di kelola untuk mencapai kesejahteraan keluarga. Sumberdaya waktu di perlukan dalam setiap keluarga agar terciptanya waktu dan efektif sangat penting untuk hubungan atau komunikasi antara anggota keluarga</p><p><br></p><p>4. Konflik keluarga dapat muncul cari perbedaan pendapat, kurangnya Komunikasi, dan faktor seperti penghasilan, keterampilan. Pendidikan non formal dapat membantu menyelesaikan konflik dan meningkatkan komunikasi dalam kelurga.</p><p>PENGELOLAAN SUMBER DAYA DAN PENGELOLAAN KONFLIK GENDER DALAM KELUARGA </p><p> </p><p>1. Definisi keluarga dan fungsinya&nbsp; : keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terbentuk dari ikatan kekerabatan atau perkawinan. berfungsi sebagai tempat pendidikan dan stabilitas. secara umum gender merujuk pada peran tangung jawab antara laki-laki dan perempuan.</p><p> 2. Mengelola sumber daya kekeluargaan: mengelola sumber daya di perlukan agar keluarga dapat mencapai kesejahteraan dan keseimbangan hidup. </p><p>3. Sumberdaya keluarga dapat mencakup sumber daya manusia yang merujuk pada kemampuan fisik, kondisi mental dan latar belakang pendidikan ini merupakan aspek penting dalam menciptakan keluarga yang sehat, produktif dan mandiri. Sumberdaya materi penghasilan atau kekayaan yang di kelola untuk mencapai kesejahteraan keluarga. Sumberdaya waktu di perlukan dalam setiap keluarga agar terciptanya waktu dan efektif sangat penting untuk hubungan atau komunikasi antara anggota keluarga </p><p><br> 4. Konflik keluarga dapat muncul cari perbedaan pendapat, kurangnya Komunikasi, dan faktor seperti penghasilan, keterampilan. Pendidikan non formal dapat membantu menyelesaikan konflik dan meningkatkan komunikasi dalam kelurga.</p><p> </p><p> </p><p> </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 03:24:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405561872</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>fashaputri2004</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405565473</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Fashadyana Putri Nugraha</strong></p><p><strong>NIM: 2221240082</strong></p><p><strong>Kelas: 2B</strong></p><p><br/></p><p>Pengelolaan sumber daya dan konflik gender dalam keluarga itu penting banget untuk menjaga agar semuanya berjalan lancar. Dalam hal ini, suami dan istri harus bisa kerja sama dengan baik, supaya tugas-tugas di rumah bisa dibagi rata. Misalnya, urusan rumah tangga dan merawat anak jangan hanya jadi beban salah satu pihak. Dengan cara ini, semua anggota keluarga bisa berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing, sehingga nggak ada yang merasa kelelahan atau tertekan. Ketika peran dibagi dengan adil, keluarga juga bisa lebih mudah mengambil keputusan yang tepat untuk kebutuhan bersama.</p><p>Di sisi lain, konflik gender sering muncul karena adanya perbedaan pendapat atau pembagian tugas yang nggak seimbang. Untuk mengatasi masalah ini, komunikasi yang terbuka sangat penting. Suami dan istri perlu saling mendengarkan dan mencari solusi bareng-bareng jika ada ketidakcocokan. Kalau perlu, minta bantuan dari konselor atau orang lain yang bisa memberikan perspektif baru. Dengan cara ini, hubungan dalam keluarga bisa lebih harmonis, dan anak-anak pun akan belajar tentang pentingnya kesetaraan gender dari orang tua mereka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 03:26:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405565473</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rizqyahfatihahaulia</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405569618</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Fatihah Aulia Rizqyah </p><p>NIM : 2221240038</p><p>Kelas : 2B</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Pada Materi hari ini menjelaskan bahwa keluarga itu memang kelompok kecil dalam masyarakat, tapi perannya sangat penting dalam kehidupan. Di dalam keluarga, ada beberapa hal penting yang harus dijaga dan dikelola dengan baik, yaitu sumber daya manusia (anggota keluarga), sumber daya materi (harta atau uang), dan sumber daya waktu. Semua itu harus diatur dan digunakan dengan bijak agar kehidupan dalam keluarga bisa berjalan harmonis, sejahtera, dan penuh kebahagiaan.</p><p><br/></p><p>Selain itu, dalam materi ini juga dijelaskan tentang adanya masalah atau konflik dalam keluarga, terutama soal peran gender antara laki-laki dan perempuan. Biasanya, konflik itu terjadi karena adanya perbedaan pendapat, masalah keuangan, sikap egois, atau cara berkomunikasi yang kurang baik. Maka dari itu, penting bagi setiap anggota keluarga untuk saling memahami, mendengarkan satu sama lain, dan menyelesaikan masalah dengan cara yang damai agar hubungan dalam keluarga tetap harmonis.</p><p><br/></p><p>Di bagian akhir, materi ini juga membahas pentingnya pendidikan non-formal dalam membantu keluarga menghadapi berbagai masalah, termasuk konflik gender. Pendidikan non-formal ini bisa berupa penyuluhan, bimbingan, atau program dari masyarakat yang bertujuan untuk membantu keluarga menjadi lebih adil, saling menghargai, dan mampu menghadapi perubahan zaman. Dengan adanya dukungan seperti ini, diharapkan keluarga bisa menjadi tempat yang nyaman, penuh cinta, dan jauh dari pertengkaran.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 03:29:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405569618</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>sr3769120</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405572179</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Siti Rohmah </p><p>Nim: 2221240069</p><p>Kelas: 2B</p><p><br/></p><p>Pada pertemuan hari ini membahas tentang, Pengelolaan Sumber Daya dan Konflik Gender dalam Keluarga</p><p><br/></p><p>Definisi dan Fungsi Keluarga:</p><p>Keluarga adalah unit kekerabatan yang mendasar, berfungsi sebagai tempat sosialisasi anak dan menjaga kestabilan kepribadian.</p><p>Definisi Gender:</p><p>Gender merujuk pada peran dan tanggung jawab yang dibentuk oleh budaya, membedakan atribut dan perilaku yang dianggap sesuai untuk laki-laki dan perempuan.</p><p>Sumber daya keluarga mencakup:</p><p>1. Sumber Daya Manusia: Kemampuan fisik, mental, dan pendidikan anggota.</p><p>2. Sumber Daya Materi:</p><p>3. Kekayaan yang dimiliki untuk mencapai kesejahteraan.</p><p>3. Sumber Daya Waktu: Pengelolaan waktu yang efektif penting untuk hubungan antaranggota keluarga.</p><p>Konflik dalam Keluarga:</p><p>Konflik tidak dapat dihindari dan dapat bersifat internal atau eksternal. Faktor penyebabnya termasuk perbedaan pendapat, komunikasi, dan kekerasan dalam rumah tangga.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 03:30:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405572179</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405631797</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA: JAHARUDIN</p><p>NIM: 221240084</p><p>KELAS: 2B</p><p><strong>pengelolaan sumber daya dan konflik gender dalam keluarga</strong>,</p><p><strong>Pembahasan: Pengelolaan Sumber Daya dan Konflik Gender dalam Keluarga</strong></p><p><strong>1. Pendahuluan</strong></p><p>Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memiliki peran penting dalam pembentukan nilai, norma, dan perilaku anggotanya. Namun, dalam praktiknya, struktur keluarga sering kali mencerminkan ketimpangan gender, terutama dalam hal pengelolaan sumber daya dan pembagian peran. Ketimpangan ini dapat memicu konflik gender yang berdampak pada kesejahteraan keluarga secara keseluruhan.</p><p><strong>2. Pengelolaan Sumber Daya dalam Keluarga</strong></p><p>Sumber daya dalam keluarga mencakup berbagai aspek seperti keuangan, aset, pendidikan, informasi, dan tenaga kerja. Idealnya, pengelolaan sumber daya dilakukan secara adil dan berdasarkan kesepakatan bersama. Namun, dalam banyak kasus, terdapat dominasi oleh salah satu pihak, biasanya suami, terutama dalam masyarakat patriarkal.</p><p>Contoh:</p><ul><li><p>Dalam banyak keluarga, suami bertindak sebagai kepala keluarga dan pengambil keputusan utama, termasuk dalam pengelolaan keuangan.</p></li><li><p>Perempuan yang bekerja di luar rumah sering tetap diharapkan mengurus pekerjaan domestik, tanpa pembagian tugas yang adil.</p></li></ul><p><strong>3. Konflik Gender dalam Keluarga</strong></p><p>Ketimpangan dalam pengelolaan sumber daya sering memunculkan konflik gender. Konflik ini bisa berupa:</p><ul><li><p><strong>Konflik peran</strong>: Perempuan merasa terbebani karena harus menjalankan peran ganda (di luar dan di dalam rumah).</p></li><li><p><strong>Konflik pengambilan keputusan</strong>: Ketika keputusan penting selalu didominasi oleh laki-laki, perempuan merasa suaranya tidak dihargai.</p></li><li><p><strong>Konflik hak dan akses</strong>: Dalam beberapa budaya, anak laki-laki lebih diutamakan dalam pendidikan atau warisan.</p></li></ul><p>Konflik ini tidak hanya berdampak pada hubungan antar anggota keluarga, tetapi juga dapat menurunkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan emosional, terutama pada perempuan dan anak-anak.</p><p><strong>4. Tinjauan Teoritis</strong></p><p>a. <strong>Teori Feminisme</strong></p><p>Teori ini menyoroti bagaimana struktur sosial dan budaya menciptakan ketimpangan gender. Dalam keluarga, feminisme melihat dominasi laki-laki atas perempuan dalam pengelolaan sumber daya sebagai bentuk ketidakadilan struktural yang harus diubah.</p><p>b. <strong>Teori Peran Sosial (Eagly, 1987)</strong></p><p>Teori ini menjelaskan bahwa peran gender bukan berasal dari kodrat biologis, melainkan konstruksi sosial. Artinya, perempuan dianggap "wajib" mengurus rumah tangga karena norma sosial yang terbentuk, bukan karena kemampuan alami.</p><p>c. <strong>Teori Konflik (Karl Marx)</strong></p><p>Marx melihat ketimpangan dalam keluarga sebagai bagian dari konflik kelas dan kekuasaan. Dalam konteks gender, laki-laki sebagai kelompok dominan mempertahankan kontrol atas sumber daya agar status nya tetap terjaga.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 04:21:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405631797</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405637268</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>Nama: Andini</p><p>Kelas: 2B</p><p>Nim: 2221240007</p><p><br/></p><p>Pada pertemuan hari ini membahas </p><p>PENGELOLAAN SUMBER DAYA DAN PENGELOLAAN KONFLIK GENDER DALAM KELUARGA</p><p><br/></p><p>• Definisi Keluarga dan Fungsi Keluarga </p><p>Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) keluarga diartikan sebagai satuan kekerabatan yang sangat mendasar. Definisi ini menekankan pada ikatan kekerabatan sebagai inti dari pembentukan keluarga</p><p> Ada dua fungsi penting keluarga:</p><p>1. Sebagai tempat utama bagi anak-anak untuk belajarbersosialisasi dan tempat mereka dilahirkan.</p><p>2. sebagai tempat untuk menjaga kestabilan kepribadian remaja atau orang dewasa.</p><p><br/></p><p>• Definisi Gender </p><p>Konsep gender secara umum merujuk pada peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang dibentuk dan diinternalisasi</p><p>melalui kebiasaan keluarga dan budaya masyarakat.</p><p>• Definisi Sumber Daya Keluarga</p><p>Sumber daya keluarga merupakan modal yang harus dikelola dengan baik oleh seluruh anggota keluarga untuk mencapai kesejahteraan keluarga. </p><p>• Mengelola Sumber Daya Keluarga </p><p>Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang membutuhkan pengelolaan sumber daya agar dapat mencapai kesejahteraan dan keseimbangan dalam</p><p>kehidupan. </p><p>• Klasifikasi Sumber Daya Keluarga </p><p>1. Sumber Daya Manusia </p><p> Sumber daya manusia dalam keluarga merujuk pada kemampuan fisik, kondisi</p><p>mental, serta latar belakang pendidikan yang dimiliki setiap anggota keluarga.</p><p>2. Sumber Daya Materi </p><p>Sumber daya materi adalah segala bentuk kekayaan yang dimiliki atau dikelola oleh keluarga yang berfungsi sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan hidup.</p><p>3. Sumber Daya Waktu </p><p>Waktu adalah sumber daya yang sangat terbatas, tidak dapat diperoleh kembali setelah digunakan. </p><p><br/></p><p>• Definisi Konflik</p><p>Secara etimologis, istilah konflik berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata con yang berarti "bersama", dan fligere yang bermakna "benturan" atau "tabrakan".</p><p>• Jenis Konflik</p><p>Konflik dalam rumah tangga tidak bisa kita</p><p>hindari, bahkan setiap insan yang bernyawa pasti akan mengalami yang namanya konflik, dimanapun, kapanpun, siapapun dan bagaimanapun.</p><p>• Konflik Menurut Lewis Coser</p><p>Ada Konflik internal, konflik eksternal, Zero Sum dan Motive Conflict, Personality Based dan Situational Conflict, Basic dan Non-Basic Conflictama, Personality Based dan Situational Conflict.</p><p>• Faktor Penyebab Konflik </p><p>1. Penghasilan </p><p>2. Keterampilan </p><p>3. Perbedaan pendapat </p><p>4. Gaya komunikasi </p><p>5. Sikap anak</p><p>6. Kekerasan dalam rumah tangga (kdrt)</p><p>7. Egoisme </p><p>8. Resolusi Konflik</p><p><br/></p><p>• Pendekatan Metode PNF Dalam Mendukung Keluarga</p><p> Dapat berperan sebagai jalur alternatif pendidikan yang lebih fleksibel, responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan kontekstual terhadap budaya lokal.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 04:25:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405637268</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405658704</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Hikmah Tussyahiroh </p><p>NIM : 2221240051</p><p>Kelas : 2 B </p><p>Tanggal : 11 April 2025</p><p><br/></p><p><br/></p><p>REVIEW MATERI </p><p>PENGELOLAAN SUMBER DAYA DAN PENGELOLAAN KONFLIK GENDER DALAM KELUARGA </p><p><br/></p><p>Keluarga adalah sekelompok orang yang memiliki keterikatan kerabat inti antar satu sama lain. Konflik dalam keluarga disebabkan oleh beberapa hal diantaranya ekonomi, gaya komunikasi, KDRT, egoisme, keterampilan, dan lain lain.</p><p><br/></p><p>Dalam keluarga, terdapat sumber daya yang menyokong keluarga untuk menjadi sejahtera diantaranya: </p><ul><li><p>Sumber Daya Manusia, yang mencakup kemampuan fisik, kesehatan mental, dan latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh setiap anggota keluarga.</p></li><li><p>Sumber Daya Materi, bentuk kekayaan yang dimiliki atau dikelola oleh keluarga untuk mencapai kesejahteraan hidup. </p></li><li><p>Sumber Daya Waktu, yaitu pemanfaatan waktu yang tepat dalam sebuah keluarga dalam menjalani kehidupannya. </p><p><br/></p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 04:41:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405658704</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>syifanurfarihah6</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405913782</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Syifa Nurfarihah</p><p>Kelas: 2B</p><p>NIM: 2221240022</p><p><br/></p><p>Pengelolaan sumber daya dan pengelolaan konflik gender dalam keluarga, pengelolaan sumber daya adalah proses mengatur dan memanfaatkan berbagai aset keluarga seperti uang, waktu, tenaga, dan keterampilan secara efektif dan efisien. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga, meningkatkan kesejahteraan, dan mencapai tujuan bersama. Keberhasilan pengelolaan sumber daya sangat bergantung pada perencanaan, pembagian peran yang adil, serta komunikasi antar anggota keluarga. Pengelolaan sumber daya dan konflik gender dalam keluarga sangat penting untuk menciptakan lingkungan keluarga yang sehat, harmonis, dan berkelanjutan. Kesuksesan pengelolaan ini bergantung pada komunikasi yang baik, kesadaran akan kesetaraan gender, serta kerjasama antara semua anggota keluarga. Sumber daya keluarga merupakan modal yang harus dikelola</p><p>dengan baik oleh seluruh anggota keluarga untuk mencapai</p><p>kesejahteraan keluarga. Sumber daya manusia dalam</p><p>keluarga ditinjau dari segi fisik, mental, dan pendidikan</p><p>anggota keluarga. Manajemen sumber daya manusia adalah</p><p>suatu kegiatan untuk merencanakan, mengorganisasi,</p><p>memimpin, serta mengontrol sumber potensi manusia untuk mencapai tujuan organisasi.</p><p>Konflik gender dalam keluarga sering muncul akibat perbedaan pandangan atau ketimpangan dalam pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Hal ini bisa menimbulkan ketegangan dan mengganggu keharmonisan rumah tangga. Pengelolaan konflik gender dilakukan melalui komunikasi terbuka, saling pengertian, pembagian peran yang setara, serta edukasi tentang pentingnya kesetaraan gender. Bila perlu, mediasi atau konseling keluarga dapat menjadi solusi.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 07:55:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405913782</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nnazwaulia</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405979079</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Nazwa Aulia</strong></p><p><strong>NIM: 2221240087</strong></p><p><strong>Kelas: 2C</strong></p><p><br/></p><p><strong>Refleksi Pembelajaran</strong></p><p>Dari materi yang dijelaskan aaya memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang peran gender dalam keluarga setelah mempelajari materi tentang pengelolaan sumber daya dan konflik gender dalam keluarga. Jika peran antara laki-laki dan perempuan tidak dibagi secara adil, hal-hal seperti pengambilan keputusan, pembagian tanggung jawab rumah, dan pengasuh anak dapat berjalan tidak seimbang. Ternyata, banyak orang masih salah paham tentang gender. Banyak orang percaya bahwa masalah gender hanya berkaitan dengan perempuan. Padahal, ini adalah masalah yang berkaitan dengan hubungan dan tanggung jawab bersama. Keluarga dapat mengalami konflik karena ketidaksesuaian peran ini, terutama jika tidak ada komunikasi yang baik.</p><p><br/></p><p>Materi ini menjelaskan bahwa meskipun konflik dalam keluarga adalah wajar, mereka harus diselesaikan dengan cara yang sehat, seperti berbicara, mendengarkan satu sama lain, atau melalui konseling. Jika tidak, konflik dapat berkembang menjadi kekerasan fisik atau verbal. Yang menarik adalah bahwa pendidikan non-formal juga dapat berkontribusi besar pada pembentukan keluarga yang lebih harmonis. Anggota keluarga dapat belajar tentang kesetaraan gender dan cara yang lebih cerdas untuk menangani masalah melalui pelatihan atau diskusi kelompok.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 09:00:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3405979079</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>seviasalsabila0</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406053167</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Sevia Salsabila Azahra </strong></p><p><strong>Nim: 2221240024</strong></p><p><strong>Kelas: 2B</strong></p><p><br/></p><p><strong>1. Pengelolaan Sumber Daya dalam Keluarga</strong></p><p>Pengelolaan sumber daya adalah proses merencanakan, mengatur, dan menggunakan sumber daya yang dimiliki keluarga agar kebutuhan hidup dapat terpenuhi secara optimal.</p><p><br/></p><p>Jenis-jenis sumber daya keluarga:</p><p>•Sumber daya manusia: tenaga, waktu, keterampilan, dan pengetahuan anggota keluarga.</p><p>•Sumber daya alam: air, tanah, udara, dan energi.</p><p>•Sumber daya finansial: pendapatan dan aset keluarga.</p><p>•Sumber daya sosial: hubungan sosial, jaringan, dan dukungan masyarakat.</p><p><br/></p><p>Tujuan pengelolaan sumber daya:</p><p>•Mencapai kesejahteraan keluarga.</p><p>•Memenuhi kebutuhan fisik dan emosional anggota keluarga.</p><p>•Menyediakan kestabilan ekonomi.</p><p><br/></p><p>Prinsip pengelolaan:</p><p>•Efisiensi: menggunakan sumber daya secara hemat dan tepat.</p><p>•Efektivitas: hasil maksimal dari penggunaan sumber daya.</p><p>•Keadilan: pembagian tugas dan manfaat secara adil di antara anggota keluarga.</p><p><br/></p><p><strong>2. Pengelolaan Konflik Gender dalam Keluarga</strong></p><p>Konflik gender dalam keluarga bisa muncul karena perbedaan pandangan, peran, atau harapan antara laki-laki dan perempuan dalam menjalani kehidupan keluarga.</p><p><br/></p><p>Penyebab konflik gender:</p><p>•Pembagian peran yang tidak adil (misalnya, istri harus mengurus rumah sepenuhnya).</p><p>•Stereotip gender yang membatasi potensi anggota keluarga.</p><p>•Kurangnya komunikasi yang sehat antara pasangan atau anggota keluarga.</p><p><br/></p><p>Dampak konflik gender:</p><p>•Ketidakharmonisan rumah tangga.</p><p>•Ketimpangan relasi antaranggota keluarga.</p><p>•Terganggunya perkembangan psikologis anak.</p><p><br/></p><p>Strategi pengelolaan konflik gender:</p><p>•Komunikasi terbuka dan jujur.</p><p>•Penyusunan peran secara adil dan fleksibel.</p><p>•Peningkatan kesadaran tentang kesetaraan gender.</p><p>•Kompromi dan kerja sama dalam pengambilan keputusan.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 10:26:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406053167</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406078287</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Septi Ropih Yustitia</p><p>NIM : 2221240052 </p><p>Kelas : 2B</p><p><br/></p><p>Hari ini telah dilaksanakan kegiatan perkuliahan dengan materi "PENGELOLAAN SUMBER DAYA DAN PENGELOLAAN KONFLIK GENDER DALAM KELUARGA"</p><p><br/></p><p>Setelah perkuliahan ini saya dapat mengetahui apa itu definisi keluarga dan juga definisi gender. Selain itu, terdapat juga beberapa pengertian yang disampaikan oleh kelompok yang telah berpresentasi, diantaranya :</p><p><br/></p><p>Mengetahui Sumber daya keluarga yang merupakan modal yang harus dikelola dengan baik oleh seluruh anggota keluarga untuk mencapai kesejahteraan keluarga. Sumber daya manusia dalam keluarga ditinjau dari segi fisik, mental, dan pendidikan anggota keluarga. Manajemen sumber daya manusia adalah suatu kegiatan untuk merencanakan, mengorganisasi, memimpin, serta mengontrol sumber potensi manusia untuk mencapai tujuan organisasi. Saya juga dapat tau ketiga perbedaan dari Sumber daya manusia, sumber daya materi, dan juga sumber daya waktu, yang ternyata dapat menjadikan hal tersebut sumber dari tumbuhnya perkonflikkan dalam sebuah keluarga terutama suami dan istri.   Selain itu juga dijelaskan apa itu definisi dari konflik itu sendiri dan jenis dari konflik-konflik menurut pendapat para alhi juga. Saya juga dapat mengetahui bahwa Pendidikan Non Formal menjadi salah satu metode pendekatan dalam konflik keluarga, yaitu Pendidikan nonformal berperan sebagai jalur alternatif pendidikan yang lebih fleksibel, responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan kontekstual terhadap budaya lokal. </p><p><br/></p><p>Pendekataj ini relevan terutama dalam mengatasai tantangan sosial daj ekonomi internal keluarga. Pendekatam budaya lokal sebagai dasar pembelajaran, pemanfaatn teknologi untuk pembelajaran fleksibel, program intervensi sosial berbasis pendidikan keluarga, keterlibatan komunitas dan lembaga pendidikan non formal.</p><p><br/></p><p>Evaluasi efektivitas pendidikan non formal dalam mendukung pendidikan keluarga untuk menilai keberhasilan pendid8kan non formal dalam mendukung keluarga, evaluasi dilakukan dari beberapa.as0ek perubahan pola komunikasi dan resolusi konflik adalah salah satu dampak signifikan dari pendidikan non formal pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran fleksibel. Kapasitas adaptasi terhadap perubahan sosial ketersediaan dan keberlanjutan layanan pendidikan keluarga terciptanya generasi yang tangguh, pengelolaana sumber daya keluarga meliputi waktu, uang dan tenaga yang menjadi pengaruh peran gemder yang dikontruksi secara sosial</p><p> strereotip gender tradisional sering kali membatasi peran dan tanggung jawab anggota keluarga berdasarkan jenis kelamin, yang dapat menyebabkan ketidakadilan dalam alokasi sumber daya. Jadi, pengelolaan sumber daya keluarga yang efektif dan adil memerlukan kesadaran akan kontruksi gender dan upaya untuk menghapus strereotip yang merugikan.</p><p><br/></p><p> </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 10:57:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406078287</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nabilahfauziah2</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406133861</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Nabila Fauziah </strong></p><p><strong>Nim: 2221240020</strong></p><p><strong>Kelas: 2A</strong></p><p><br/></p><p>Dari pertemuan hari ini yang membahas tentang "pengelolaan sumber daya dan pengelolaan konflik gender dalam keluarga" saya jadi mengetahui bahwa keluarga memiliki peran penting sebagai unit sosial terkecil dalam membentuk karakter individu, dan gender bukan sekadar perbedaan biologis, melainkan hasil konstruksi sosial dan budaya. Ketimpangan peran gender bisa menimbulkan konflik dalam keluarga, terutama dalam pengelolaan sumber daya seperti waktu, uang, dan tenaga, di mana perempuan seringkali mengalami beban ganda.</p><p>Untuk mengatasi hal ini, pendidikan nonformal hadir sebagai solusi yang mendorong kesetaraan dan keharmonisan keluarga melalui peningkatan kesadaran gender, partisipasi seluruh anggota keluarga, serta pemberdayaan perempuan agar bisa berkontribusi secara setara di rumah maupun masyarakat.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 11:58:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406133861</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nkiranah</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406153336</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Nisa Kiranah </p><p>Nim : 2221240077</p><p>Kelas : PNF 2A</p><p><br/></p><p>Dalam presentasi materi minggu ini dapat disimpulkan bahwa Keluarga berperan penting dalam membentuk karakter individu, termasuk dalam hal peran gender. Ketimpangan peran, terutama yang bersifat stereotip, dapat memicu konflik, terutama saat perempuan menghadapi beban ganda antara pekerjaan rumah dan luar. Pendidikan nonformal menjadi solusi untuk menumbuhkan kesetaraan, meningkatkan kesadaran gender, dan memberdayakan perempuan. Kegiatan seperti berkebun juga dapat mendukung keharmonisan keluarga serta menjaga lingkungan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 12:19:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406153336</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>haalthirtymei</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406188567</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Siti Kholimatul Sa'diah</strong></p><p><strong>Nim:2221240047</strong></p><p><strong>Kelas: 2A</strong></p><p><br/></p><p><br/></p><p>Pada pertemuan kali ini membahas tentang pengelola sumber daya dan pengelolaan konflik gender dalam keluarga, konflik gender dalam keluarga terjadi akibat adanya ketimpangan peran dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan. Hal ini disebabkan oleh pandangan tradisional yang kaku mengenai peran masing-masing gender, stereotip bahwa perempuan lebih lemah atau emosional, pembagian tugas domestik yang tidak adil, serta ketimpangan kekuasaan yang dapat memicu kekerasan dalam rumah tangga. Untuk menyelesaikan konflik tersebut, dibutuhkan pendidikan kesetaraan gender yang mengajarkan pentingnya keadilan peran, komunikasi terbuka antar anggota keluarga, serta pembagian tugas rumah tangga berdasarkan kemampuan, bukan jenis kelamin. Dalam pengelolaan sumber daya keluarga, ketimpangan gender tampak pada pembagian waktu, uang, dan tenaga, di mana perempuan cenderung mengalami beban ganda karena harus mengurus rumah dan bekerja di luar. Oleh karena itu, pendidikan nonformal sangat berperan dalam membangun kesadaran gender, mendorong partisipasi keluarga dalam diskusi bersama, dan memberdayakan perempuan agar dapat berkontribusi secara setara di lingkungan rumah tangga maupun masyarakat luas.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 12:52:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406188567</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>kimachan09</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406236928</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Ima Maulia Azzahra</p><p>NIM : 2221240023</p><p>Kelas : 2B</p><p><br/></p><p>Pada perkuliahan hari ini membahas tentang Sumber daya dalam keluarga serta konflik-konflik yang terjadi dalam keluarga serta penyebabnya, dari materi ini saya dapat mengetahui jenis jenis sumber daya dalam keluarga yang harus dikelola agar mencapai tujuan keluarga, serta dapat mengetahui konflik-konflik dalam keluarga beserta faktor penyebab konflik yang bisa dicegah. </p><p><br/></p><p>1. Sumber daya dalam keluarga</p><p>Sumber daya keluarga  kesejahteraan keluarga.Sumber daya keluarga mencakup sumber daya manusia, sumber daya materi, dan sumber daya waktu, yang harus dikelola secara efektif agar dapat memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan keluarga.</p><p><br/></p><p>Sumber daya keluarga diklasifikasikan menjadi 3:</p><p>1. Sumber Daya Manusia</p><p>2. Sumber Daya Materi</p><p>3. Sumber Daya Waktu</p><p><br/></p><p>2. Identifikasi dan resolusi konflik dalam keluarga</p><p><br/></p><p>Banyak jenis konflik yang ada di keluarga di antaranya konflik eksternal dan konflik internal. </p><p>Faktor penyebab konflik:</p><p><br/></p><p>1. Penghasilan</p><p>2. Keterampilan</p><p>3. Perbedaan Pendapat</p><p>4. Gaya Komunikasi</p><p>5. Sikap Anak</p><p>6. Kekerasan Dalam Rumah Tangga(KDRT) </p><p>7. Egoisme.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 13:32:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406236928</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>cantikaekazahra03</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406253996</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Cantika Eka Zahra </p><p>Kelas  : 2b </p><p>NIM   : 2221240085</p><p><br/></p><p>Dalam materi hari ini menyampaikan bahwa  keluarga sebagai unit sosial terkecil, keluarga memainkan peran penting dalam pembentukan individu dan memainkan peran penting dalam proses sosialisasi anak.  Pengendalian sumber daya manusia dan materi dalam keluarga sangat penting untuk kesejahteraan dan keseimbangan hidup.  Peran dan tanggung jawab setiap anggota keluarga dipengaruhi oleh konsep gender yang dibentuk oleh budaya dan tradisi keluarga.  Namun, pada kenyataannya, konflik rumah tangga tidak dapat dihindari.  Berbagai hal, seperti perbedaan pendapatan, keterampilan, cara berkomunikasi, hingga kekerasan dalam rumah tangga, dapat menyebabkan konflik.  Akibatnya, untuk membangun keluarga yang harmonis dan sejahtera, penting bagi keluarga untuk memiliki cara yang baik dalam mengelola sumber daya dan menyelesaikan konflik.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 13:45:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406253996</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406256584</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Thafia Yandrianingsih </p><p>Nim: 2221240067</p><p>Kelas: 2B</p><p>Pada kelas hari ini kita membahas tentang </p><p>PENGELOLAAN SUMBER DAYA DAN PENGELOLAAN KONFLIK GENDER DALAM KELUARGA</p><p>• DEFINISI KELUARGA &amp; FUNGSINYA</p><p>Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),</p><p>keluarga diartikan sebagai satuan kekerabatan</p><p>yang sangat mendasar. Definisi ini menekankan</p><p>pada ikatan kekerabatan sebagai inti dari</p><p>pembentukan keluarga. Menurut Parsons (1951), ada dua fungsi penting keluarga:</p><p>1. sebagai tempat utama bagi anak-anak untuk belajar bersosialisasi dan tempat mereka dilahirkan</p><p>2. sebagai tempat untuk menjaga kestabilan kepribadian remaja atau orang dewasa.</p><p>• DEFINISI GENDER</p><p>Konsep gender secara umum merujuk pada peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang dibentuk dan diinternalisasi melalui kebiasaan keluarga dan budaya masyarakat. Gender juga</p><p>didefinisikan sebagai pembedaan peran, atribut, dan perilaku yang dianggap pantas oleh masyarakat untuk laki-laki dan perempuan.</p><p>• DEFINISI SUMBER DAYA KELUARGA</p><p>Sumber daya keluarga merupakan modal yang harus dikelola dengan baik oleh seluruh anggota keluarga untuk mencapai kesejahteraan keluarga. Sumber daya manusia dalam keluarga ditinjau dari segi fisik, mental, dan pendidikan anggota keluarga. Manajemen sumber daya manusia adalah suatu kegiatan untuk merencanakan, mengorganisasi, memimpin, serta mengontrol sumber potensi manusia untuk mencapai tujuan organisasi.</p><p>• MENGELOLA SUMBER DAYA KELUARGA</p><p>Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang membutuhkan pengelolaan sumber daya agar dapat mencapai kesejahteraan dan keseimbangan dalam kehidupan.</p><p>• MANAJEMEN SUMBER DAYA INI MEMEGANG PERANAN PENTING DALAM KEBERLANJUTAN DAN KESEJAHTERAAN KELUARGA</p><p>Klasifikasi Sumber Daya Keluarga:</p><p>- Sumber Daya Manusia</p><p>Sumber daya manusia dalam keluarga merujuk pada kemampuan fisik, kondisi mental, serta latar belakang pendidikan yang dimiliki setiap anggota keluarga.</p><p>- Sumber Daya Materi</p><p>Sumber daya materi adalah segala bentuk kekayaan yang dimiliki atau dikelola oleh keluarga yang berfungsi sebagai sarana untuk mencapai</p><p>kesejahteraan hidup.</p><p>- Sumber Daya Waktu</p><p>Waktu adalah sumber daya yang sangat terbatas, tidak dapat diperoleh kembali setelah digunakan.</p><p>• IDENTIFIKASI DAN RESOLUSI KONFLIK GENDER DALAM KELUARGA</p><p>A. DEFINISI KONFLIK </p><p>Secara etimologis, istilah konflik berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata con yang berarti "bersama", dan fligere yang bermakna "benturan" atau "tabrakan.</p><p>B. JENIS KONFLIK </p><p>Konflik dalam rumah tangga tidak bisa kita</p><p>hindari, bahkan setiap insan yang bernyawa pasti akan mengalami yang namanya konflik, dimanapun, kapanpun, siapapun dan bagaimanapun.</p><p>• KONFLIK MENURUT LEWIS COSER</p><p>- KONFLIK EKSTERNAL</p><p>- KONFLIK INTERNAL</p><p>- ZERO SUM DAN MOTIVE CONFLICT</p><p>- PERSONALITY BASED DAN SITUATIONAL CONFLICT</p><p>- BASIC DAN NON-BASIC CONFLICTAMA</p><p>- PERSONALITY BASED DAN SITUATIONAL CONFLICT</p><p>• FAKTOR PENYEBAB KONFLIK</p><p>1. PENGHASILAN</p><p>2. KETERAMPILAN</p><p>3. PERBEDAAN PENDAPAT</p><p>4. GAYA KOMUNIKASI</p><p>5. SIKAP ANAK</p><p>6. KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT)</p><p>7. EGOISME</p><p>8. RESOLUSI KONFLIK</p><p>• PENDEKATAN PENDIDIKAN NON-FORMAL UNTUK MENDUKUNG KELUARGA</p><p>A. METODE PENDIDIKAN NON FORMAL MENDUKUKUNG KELUARGA</p><p>Pendidikan nonformal berperan sebagai jalur alternatif pendidikan yang lebih fleksibel, responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan kontekstual terhadap budaya lokal.</p><p>• PENDEKATAN INI RELEVAN TERUTAMA DALAM MENGATASI TANTANGAN SOSIAL DAN EKONOMI DAN KONFLIK INTERNAL KELUARGA.</p><p>1. PENDEKATAN BUDAAY ;OKAL SEBAGAI DASAR</p><p>PEMBELAJARAN</p><p>2. PEMANFAATAN TEKNOLOGI UNTUK PEMBELAJRAN FLEKSIBEL</p><p>3. PROGRAM INTERVENSI SOSIAL BERBASIH PENDIDIKAN KELLUARGA</p><p>4. KETERLIBATAN KOMUNITAS DAN LEMBAGA</p><p>PENDIDIKAN NON FORMAL</p><p>B. EVALUASI EFEKTIVITAS PENDIDIKAN NONFORMAL DALAM MENDUKUNG PENDIDIKAN KELUARGA UNTUK MENILAI KEBERHASILAN PENDIDIKAN NON FORMAL DALAM MENDUKUNG KELUARGA, EVALUASI DI LAKUKAN DARI BEBERAPA ASPEK</p><p>1. PERUBAHAN POLA KOMUNIKASI DAN RESOLUSI KONFLIK SALAH SATU DAMPAK SIGNIFIKAN DARI PENDIDIKAN NONFORMAL</p><p>2. PEMANFAATAN TEKNOLOGI UNTUK PEMBELAJARAN FLEKSIBEL</p><p>3. KAPASITAS ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL</p><p>4. KETERSEDIAAN DAN KEBERLANJUTAN LAYANAN PENDIDIKAN KELUARGA</p><p>5. TERCIPTANYA GENERASI YANG TANGGUH</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 13:47:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406256584</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406264962</link>
         <description><![CDATA[<p>nama : achmad zulfan maulana piliang</p><p>NIM : 2221240060</p><p>KELAS 2C</p><p><br/></p><p>dari presentasi hari ini, Materi ini membahas pentingnya peran gender dalam kehidupan keluarga, khususnya dalam pengelolaan sumber daya dan penanganan konflik. Peran gender dibentuk sejak dini melalui sosialisasi dalam keluarga. Dalam realitasnya, masih banyak ketimpangan akibat budaya patriarki yang membuat perempuan lebih terbebani tugas domestik dan kurang dilibatkan dalam pengambilan keputusan ekonomi.</p><p>Dalam konteks pengelolaan sumber daya keluarga, kesetaraan gender seharusnya memberi akses setara bagi laki-laki dan perempuan dalam mengelola waktu, uang, dan tenaga. Namun, hal ini belum sepenuhnya terwujud karena adanya subordinasi terhadap perempuan.</p><p>Konflik dalam keluarga bisa muncul dari berbagai pihak, seperti antara suami-istri, orang tua-anak, atau antar saudara. Jenis konflik meliputi konflik ekonomi, pola asuh anak, keterbukaan, dan akses pendidikan. Konflik yang tidak diselesaikan dengan baik bisa berujung pada kekerasan fisik, verbal, atau simbolik.</p><p>Pendidikan Non-Formal (PNF) dapat menjadi solusi dengan pendekatan yang kontekstual dan humanis. PNF membantu memperkuat nilai-nilai keluarga, memberdayakan perempuan, serta meningkatkan keterampilan menyelesaikan konflik melalui pelatihan dan konseling.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 13:54:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406264962</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406268191</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Amanda Azkha Alifia Londi</p><p>NIM: 2221240040</p><p>Kelas: 2B</p><p><br/></p><p>Menurut Kamus Indonesia Besar (KBBI), keluarga&nbsp; ditafsirkan sebagai unit hubungan yang sangat mendasar definisi ini menekankan ikatan relatif sebagai inti dari pendidikan keluarga dibentuk berdasarkan kerabat dan ikatan pernikahan, dan memainkan peran penting dalam pembentukan individu dan masyarakat sebagai unit terkecil masyarakat, dan dapat dipahami sebagai kelompok sosial dari berbagai jenis berdasarkan struktur dan sistem kekerabatan. Menurut&nbsp; Parsons (1951), ada dua fungsi keluarga penting dari</p><p>1 sebagai tempat stabilitas karakter untuk&nbsp; remaja atau orang dewasa untuk menilai keberhasilan pendidikan informal dalam mendukung keluarga, penilaian ini dibuat dari beberapa aspek 1 layanan Pendidikan Ketersediaan dan Keberlanjutan Keluarga 5 Menciptakan Generasi yang Sulit.</p><p><br/></p><p>Mendorong dialog dan negosiasi antar anggota keluarga dalam menentukan pembagian tugas dan tanggung jawab. Pembagian ini hendaknya didasarkan pada kemampuan, minat, dan ketersediaan masing-masing individu, tanpa terpaku pada norma gender tradisional.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 13:57:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406268191</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406270601</link>
         <description><![CDATA[<p>Sindy (2221240009)_2b</p><p><br/></p><p>Definisi Keluarga dan Fungsinya </p><p>Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), keluarga diartikan sebagai satuan kekerabatan yang sangat mendasar. Menurut Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 memberikan  </p><p>definisi yang lebih spesifik dan legal, yaitu unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya (duda), atau ibu dan anaknya (janda). Definisi ini memperjelas struktur keluarga dalam konteks hukum dan kependudukan, dengan mengakui keberagaman bentuk keluarga yang ada di masyarakat.</p><p>Menurut Parsons (1951), ada dua fungsi penting keluarga: </p><p>1. sebagai tempat utama bagi </p><p>anak-anak untuk belajar </p><p>bersosialisasi dan </p><p>tempat mereka dilahirkan</p><p>2. sebagai tempat untuk </p><p>menjaga kestabilan kepribadian </p><p>remaja atau orang dewasa.</p><p><br/></p><p>Definisi gender</p><p>Konsep gender secara umum merujuk pada peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang dibentuk dan diinternalisasi melalui kebiasaan keluarga dan budaya masyarakat. Gender juga didefinisikan sebagai pembedaan peran, atribut, dan perilaku yang dianggap pantas oleh masyarakat untuk laki-laki dan perempuan.</p><p><br/></p><p>definisi sumber daya keluarga </p><p>Sumber daya keluarga merupakan modal yang harus dikelola dengan baik oleh seluruh anggota keluarga untuk mencapai kesejahteraan keluarga. </p><p> </p><p>klasifikasi sumber daya keluarga</p><p>•sumber daya manusia</p><p>•sumber daya materi</p><p>•sumber daya waktu</p><p><br/></p><p>konflik gender dalam keluarga </p><p>•definisi konflik</p><p>Secara etimologis, istilah konflik berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata con yang berarti "bersama" dan fligere yang bermakna "benturan atau tabrakan"</p><p>•jenis konflik</p><p>konflik dalam rumah tidak bisa di hindari bahkan dalam setiap insan yang bernyawa pasti akan mengalami konflik</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 13:59:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406270601</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nabilamarsha338</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406270983</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Nabila Marsha Wulandari</strong></p><p><strong>Kelas: 2B</strong></p><p><strong>NIM: 2221240081</strong></p><p><br/></p><p>Pada pertemuan kali ini membahas tentang Pengelolaan sumber daya dan pengelolaan konflik gender dalam keluarga </p><p><br/></p><p>DEFINISI KELUARGA &amp; FUNGSINYA</p><p>Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), keluarga diartikan sebagai satuan kekerabatan yang sangat mendasar. Definisi ini menekankan pada ikatan kekerabatan sebagai inti dari pembentukan keluarga. Keluarga dapat dipahami sebagai kelompok sosial yang terbentuk berdasarkan ikatan kekerabatan atau perkawinan, yang memiliki peran penting dalam</p><p>pembentukan individu dan masyarakat secara keseluruhan Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat, memiliki beragam tipe yang dibedakan berdasarkan struktur dan sistem kekerabatan. </p><p><br/></p><p><strong>Definisi gender</strong></p><p>Konsep gender secara umum merujuk pada peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang dibentuk dan diinternalisasi</p><p>melalui kebiasaan keluarga dan budaya masyarakat. Gender juga didefinisikan sebagai pembedaan peran, atribut, dan perilaku yang dianggap pantas oleh masyarakat untuk laki-laki dan perempuan.</p><p><br/></p><p>MENGELOLA SUMBER</p><p>DAYA KELUARGA</p><p>Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang membutuhkan pengelolaan sumber daya agar dapat</p><p>mencapai kesejahteraan dan keseimbangan dalam kehidupan. Sumber daya keluarga mencakup sumber daya manusia, sumber daya materi, dan sumber daya</p><p>waktu, yang harus dikelola secara efektif agar dapat memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan keluarga.</p><p><br/></p><p>IDENTIFIKASI DAN RESOLUSI KONFLIK</p><p>GENDER DALAM KELUARGA</p><p><strong>A. Definisi Konflik</strong></p><p>Secara etimologis, istilah konflik berasal</p><p>dari bahasa Latin, yaitu dari kata con</p><p>yang berarti "bersama", dan fligere yang</p><p>bermakna "benturan" atau "tabrakan".</p><p><br/></p><p><strong>B. Jenis Konflik</strong></p><p>Konflik dalam rumah tangga tidak bisa kita</p><p>hindari, bahkan setiap insan yang bernyawa pasti akan mengalami yang namanya konflik, dimanapun, kapanpun, siapapun dan bagaimanapun.</p><p><br/></p><p>FAKTOR PENYEBAB KONFLIK</p><p>1. PENGHASILAN</p><p>2. KETERAMPILAN</p><p>3. PERBEDAAN PENDAPAT</p><p>4. GAYA KOMUNIKASI</p><p>5. SIKAP ANAK</p><p>6. KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT)</p><p>7. EGOISME</p><p>8. RESOLUSI KONFLIK</p><p><br/></p><p>PENDEKATAN INI RELEVAN TERUTAMA DALAM MENGATASI TANTANGAN SOSIAL DAN EKONOMI DAN KONFLIK INTERNAL</p><p>KELUARGA. </p><ol><li><p>PENDEKATAN BUDAAY ;OKAL SEBAGAI DASAR PEMBELAJARAN</p></li><li><p> PEMANFAATAN TEKNOLOGI UNTUK PEMBELAJARAN FLEKSIBEL</p></li><li><p>PROGRAM INTERVENSI SOSIAL BERBASIH PENDIDIKAN KELUARGA</p></li><li><p>KETERLIBATAN KOMUNITAS DAN LEMBAGA PENDIDIKAN NON FORMAL</p></li></ol><p><br/></p><p>EVALUASI EFEKTIVITAS PENDIDIKAN NONFORMAL DALAM MENDUKUNG PENDIDIKAN KELUARGA UNTUK MENILAI KEBERHASILAN PENDIDIKAN NON FORMAL DALAM MENDUKUNG KELUARGA, EVALUASI DI LAKUKAN DARI BEBERAPA ASPEK</p><p>1. PERUBAHAN POLA KOMUNIKASI DAN RESOLUSI KONFLIK SALAH SATU DAMPAK SIGNIFIKAN DARI PENDIDIKAN NONFORMAL</p><p>2. PEMANFAATAN TEKNOLOGI UNTUK PEMBELAJARAN FLEKSIBEL</p><p>3. KAPASITAS ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL</p><p>4. KETERSEDIAAN DAN KEBERLANJUTAN LAYANAN PENDIDIKAN KELUARGA</p><p>5. TERCIPTANYA GENERASI YANG TANGGUH</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 13:59:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406270983</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rosanataliatarigan02</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406281457</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Rosa natalia tarigan</p><p>Nim    : 2221240068</p><p>Kelas  : 2B </p><p><br/></p><p>Keluarga merupakan ikatan paling mendasar yang menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat. Tanpa keluarga, sulit untuk menciptakan masyarakat yang seimbang. Peran keluarga sangat signifikan terhadap perubahan sosial dalam masyarakat. Masalah atau konflik dalam keluarga akan sangat memengaruhi situasi masyarakat. Keluarga, sebagai unit fundamental dalam masyarakat, memainkan peran krusial dalam membentuk karakter individu dan dinamika sosial secara keseluruhan. Keberhasilan keluarga dalam menjalankan fungsinya sangat dipengaruhi oleh kemampuan dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya, termasuk waktu, tenaga, dan finansial.</p><p><br/></p><p>Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), keluarga diartikan sebagai satuan kekerabatan yang sangat mendasar. Definisi ini menekankan pada ikatan kekerabatan sebagai inti dari pembentukan keluarga. Menurut Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 memberikan definisi yang lebih spesifik dan legal, yaitu unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya (duda), atau ibu dan anaknya (janda).</p><p><br/></p><p>Keluarga merupakan bagian dari masyarakat yang lahir dan berada di dalamnya, secara berangsur-angsur akan melepaskan ciri-ciri tersebut karena tumbuhnya mereka ke arah pendewasaan Ciri-ciri umum keluarga antara lain seperti dikemukakan oleh Mac Iver dan Page (1952) adalah pertama keluarga merupakan hubungan perkawinan,kedua berbentuk perkawinan atau susunan kelembagaan yang berkenaan dengan hubungan perkawinan yang sengaja dibentuk dan dipelihara, ketiga suatu sistem tata-nama, termasuk bentuk perhitungan garis keturunan, keempat ketentuan-ketentuan ekonomi yang dibentuk oleh anggota-anggota kelompok yang mempunyai ketentuan khusus terhadap kebutuhan ekonomi yang berkaitan dengan kemampuan untuk mempunyai keturunan dan membesarkan anak, kelima merupakan tempat tinggal bersama, rumah atau rumah tangga yang walau bagaimanapun, tidak mungkin menjadi terpisah terhadap kelompok keluarga.</p><p><br/></p><p>Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang membutuhkan pengelolaan sumber daya agar dapat mencapai kesejahteraan dan keseimbangan dalam kehidupan.</p><p><br/></p><p><strong>KONFLIK MENURUT LEWIS COSER </strong></p><ol><li><p>KONFLIK EKSTERNA</p></li><li><p>KONFLIK INTERNAL</p></li><li><p>ZERO SUM DAN MOTIVE CONFLICT</p></li><li><p>PERSONALITY BASED DAN SITUATIONAL CONFLIC</p></li><li><p>BASIC DAN NON-BASIC CONFLICTAMA</p></li><li><p>PERSONALITY BASED DAN SITUATIONAL CONFLICT</p></li></ol><p><br/></p><p>Menurut Fitzpatrick, terdapat empat strategi yang bisa digunakan pasangan suami istri untuk menyelesaikan konflik dalam pernikahan, yaitu dengan cara menghindari konflik, bersikap mengalah, melakukan diskusi, dan menunjukkan kompetensi. Strategi menghindari konflik dilakukan dengan menunjukkan sikap atau perilaku yang dapat menjauhkan mereka dari pertengkaran yang berkepanjangan, salah satunya dengan mengalihkan topik pembicaraan dari masalah yang sedang dipersoalkan.</p><p><br/></p><p><strong>METODE PENDIDIKAN NON FORMAL MENDUKUKUNG KELUARGA</strong></p><p>Pendidikan nonformal berperan sebagai jalur alternatif pendidikan yang lebih fleksibel, responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan kontekstual terhadap budaya lokal. Dalam mendukung keluarga, pendidikan non-formal tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap sistem pendidikan formal, tetapi juga sebagai wahana penguatan karakter, keterampilan hidup, dan ketahanan keluarga. Pendekatan ini relevan terutama dalam mengatasi tantangan sosial dan ekonomi dan konflik internal keluarga.</p><p><br/></p><p><strong>PENDEKATAN INI RELEVAN TERUTAMA DALAM MENGATASI TANTANGAN SOSIAL DAN EKONOMI DAN KONFLIK INTERNAL KELUARGA. </strong></p><ol><li><p>PENDEKATAN BUDAAY LOKAL SEBAGAI DASAR PEMBELAJARAN</p></li><li><p> PEMANFAATAN TEKNOLOGI UNTUK PEMBELAJRAN FLEKSIBEL </p></li><li><p>PROGRAM INTERVENSI SOSIAL BERBASIH PENDIDIKAN KELLUARGA </p></li><li><p>KETERLIBATAN KOMUNITAS DAN LEMBAGA PENDIDIKAN NON FORMAL</p></li></ol><p><br/></p><p>Kesimpulan pengelolaan sumber daya keluarga yaitu waktu uang dan tenaga sangat di pengaruhi oleh peran gender yang dikonstruksi secara sosial. stereotip gender tradisional seringkali membatasi peran dan tanggung jawab anggota keluarga berdasarkan jenis kelamin, yang dapat menyebabkan ketidakadilan dalam alokasi sumber daya. oleh karena itu, pengelolaan sumber daya keluarga yang efektif dan adil memerlukan kesadaraan akan konstruksi gender dan upaya untuk menghapus streotip yang merugikan. </p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 14:07:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406281457</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406305607</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : muhammad hilmi arrazan</p><p>Kelas. : 2b</p><p>Nim.   : 2221240066</p><p><br/></p><p>PENGELOLAAN SUMBER DAYA DAN PENGELOLAAN  </p><p>KONFLIK GENDER DALAM KELUARGA</p><p><br/></p><p>Menurut Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 memberikan  </p><p>definisi yang lebih spesifik dan legal, yaitu unit terkecil dari masyarakat  </p><p>yang terdiri dari suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya (duda),  </p><p>atau ibu dan anaknya (janda). Definisi ini memperjelas struktur keluarga  </p><p>dalam konteks hukum dan kependudukan, dengan mengakui  </p><p>keberagaman bentuk keluarga yang ada di masyarakat. Dengan  </p><p>demikian, keluarga dapat dipahami sebagai kelompok sosial yang  </p><p>terbentuk berdasarkan ikatan kekerabatan atau perkawinan</p><p><br/></p><p>Keluarga merupakan bagian dari masyarakat yang lahir dan berada  </p><p>di dalamnya, secara berangsur-angsur akan melepaskan ciri-ciri tersebut  </p><p>karena tumbuhnya mereka ke arah pendewasaan Ciri-ciri umum  </p><p>keluarga antara lain seperti dikemukakan oleh Mac Iver dan Page (1952)  </p><p>adalah pertama keluarga merupakan hubungan perkawinan, kedua  </p><p>berbentuk perkawinan atau susunan kelembagaan yang berkenaan  </p><p>dengan hubungan perkawinan yang sengaja dibentuk dan dipelihara,  </p><p>ketiga suatu sistem tata-nama, termasuk bentuk perhitungan garis  </p><p>keturunan, keempat ketentuan-ketentuan ekonomi yang dibentuk oleh  </p><p>anggota-anggota kelompok yang mempunyai ketentuan khusus terhadap  </p><p>kebutuhan ekonomi yang berkaitan dengan kemampuan untuk  </p><p>mempunyai keturunan dan membesarkan anak</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 14:26:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406305607</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rafifnarda10</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406315367</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama:Nadya Rizqia Khairina</p><p>Kelas:2A</p><p>NIM:2221240076</p><p>👨‍👩‍👦keluarga 👨‍👩‍👦merupakan unit sosial terkecil yang sangat berperan dalam pembentukan karakter individu. Dalam konteks ini, gender tidak dipahami hanya sebagai perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, tetapi sebagai hasil konstruksi sosial dan budaya yang menentukan peran serta harapan terhadap masing-masing jenis kelamin. Ketimpangan dalam peran gender menjadi salah satu penyebab utama munculnya konflik dalam rumah tangga, seperti perbedaan tanggung jawab, dominasi dalam pengambilan keputusan, hingga terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).</p><p>Dalam pengelolaan sumber daya keluarga seperti waktu, uang, dan tenaga, terjadi pembagian peran yang tidak seimbang. Dari sisi tenaga, perempuan mengalami beban ganda karena harus</p><p>menjalankan peran ganda di rumah dan di luar rumah.</p><p>🚪🔑Mengatasi konflik-konflik ini, dibutuhkan pendekatan yang menyeluruh, seperti edukasi tentang kesetaraan gender, komunikasi yang terbuka antar anggota keluarga, distribusi tanggung jawab berdasarkan kemampuan, serta adanya konseling atau mediasi oleh pihak ketiga ketika terjadi konflik serius.</p><p>📚Pendidikan nonformal menjadi salah satu solusi yang efektif dalam menciptakan keharmonisan keluarga berbasis kesetaraan gender. Program pendidikan yang fleksibel dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya peran setara dalam keluarga.</p><p>Kesimpulannya, peran gender dalam keluarga sangat mempengaruhi pengelolaan sumber daya dan keharmonisan rumah tangga. Ketimpangan peran dapat menimbulkan konflik, namun hal ini dapat diatasi dengan pendekatan pendidikan, komunikasi, dan kerja sama.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 14:33:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406315367</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ahmadfakihmaulana1</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406369052</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Ahmad Fakih Maulana</p><p>Kelas : 2B</p><p>NIM : 2221240006</p><p>Mata Kuliah : Analisis gender</p><p><br/></p><p><br/></p><p>pada pertemuan kali ini membahas tentang pengelolaan sumber daya dan pengelolaan konflik gender dalam keluarga.</p><p><br/></p><p>Definisi keluarga : keluarga diartikan sebagai satuan kekerabatan yang sangat mendasar. Definisi ini menekankan</p><p>pada ikatan kekerabatan sebagai inti dari</p><p>pembentukan keluarga. Keluarga dapat</p><p>dipahami sebagai kelompok sosial yang</p><p>terbentuk berdasarkan ikatan kekerabatan atau perkawinan.</p><p><br/></p><p>ada dua fungsi keluarga yaitu sebagai tempat utama bagi anak anak untuk belajar bersosialisasi dan sebagai tempat untuk</p><p>menjaga kestabilan kepribadian</p><p><br/></p><p>definisi sumber daya keluarga : Sumber daya keluarga merupakan modal yang harus dikelola dengan baik oleh seluruh anggota keluarga untuk mencapai kesejahteraan keluarga.</p><p><br/></p><p>sumber daya keluarga dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu :</p><ol><li><p>sumber daya manusia</p></li><li><p>sumber daya materi</p></li><li><p>sumber daya waktu</p></li></ol><p><br/></p><p>identifikasi dan resolusi konflik</p><p>ada 6 macam konflik menurut lewis coser :</p><ol><li><p>konflik eksternal</p></li><li><p>konflik internal</p></li><li><p>zero sum dan motive conflict</p></li><li><p>personality based dan situational conflict</p></li><li><p>basic dan non basic conflictama</p></li><li><p>personality based dan situational conflict</p></li></ol><p><br/></p><p>faktor penyebab konflik :</p><ol><li><p>penghasilan</p></li><li><p>keterampilan</p></li><li><p>perbedaan pendapat</p></li><li><p>gaya komunikasi</p></li><li><p>sikap anak</p></li><li><p>KDRT</p></li><li><p>egoisme</p></li><li><p>resolusi konflik</p></li></ol><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 15:18:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406369052</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406375473</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Shakyla Auryn Putri</p><p>Kelas. : 2A</p><p>Nim.   : 2221240096</p><p>Mk.     : Analisis Gender</p><p><br/></p><p>Dalam presentasi ini, kelompok kami membahas soal "Pengelolaan Sumber Daya dan Konflik Gender dalam Keluarga". Topik ini penting karena peran gender itu mulai terbentuk dari keluarga. Sayangnya, masih banyak yang salah paham soal gender seolah hanya urusan perempuan. Padahal, ini tentang bagaimana laki-laki dan perempuan bisa berbagi peran secara adil di rumah.</p><p>Di keluarga, perempuan sering kali cuma dihadapkan pada tugas domestik, sementara laki-laki dianggap yang paling berwenang ambil keputusan. Ini salah satu bentuk ketimpangan. Padahal, baik laki-laki maupun perempuan harusnya sama-sama punya akses dan tanggung jawab dalam mengatur uang, waktu, dan tenaga di rumah.</p><p>Masalahnya, ketimpangan kayak gini sering jadi sumber konflik. Misalnya, karena beda pandangan antara suami-istri, soal pola asuh anak, atau bahkan soal pendidikan anak. Kalau nggak diatasi dengan baik, konflik ini bisa jadi bentuk kekerasan juga baik fisik, verbal, maupun simbolik.</p><p>Solusinya bisa lewat Pendidikan Non-Formal. PNF itu fleksibel dan bisa menyesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat. Misalnya, lewat pelatihan keterampilan hidup, diskusi kelompok, atau konseling keluarga. Peran ibu dan pemberdayaan perempuan juga penting banget dalam menciptakan keluarga yang harmonis.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 15:23:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406375473</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406436405</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Restika Yundiana</p><p>Nim: 2221240046</p><p>Kelas: 2A</p><p><br/></p><p>di pertemuan kali ini kelompok 5 membahas terkait “Pengelolaan Sumber Daya dan Pengelolaan Konflik Gender Dalam Keluarga” dari yang sudah di paparkan pada saat presentasi tadi saya jadi memahami bahwa peran gender dalam pengelolaan sumber daya ada beberapa seperti ada Waktu yang dimana di maksudkan yaitu Perempuan cenderung menghabiskan waktu untuk tugas domestik, laki-laki lebih banyak terlibat dalam pekerjaan di luar rumah. Lalu ada Uang yang dimana di maksudkan yaitu laki-laki sering dianggap pencari nafkah utama, lalu perempuan biasanya mengelola keuangan rumah tangga. dan yang terakhir ada Tenaga yang di maksudkan yaitu Beban ganda pada perempuan (domestik dan pekerjaan luar). selanjutnya ada beberapa konflik gender dalam keluarga yg dimana yang di jelaskan oleh para presentator seperti ada ‘peran tradisional yang di maksudkan yaitu ekspetasi kaku terhadap peran perempuan dan laki-laki’ lalu ada ‘ stereotip gender yaitu maksudnya presepsi bahwa perempuan lebih lemah atau emosional’ selanjutnya ada ‘Ketidakadilan Tugas yaitu Beban kerja domestik tidak merata’ lalu yang terakhir ada ‘Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) maksudnya yaitu Ketidaksetaraan kekuasaan’</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 16:15:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406436405</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nabilahfauziah2</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406707764</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Nabila Fauziah </strong></p><p><strong>Nim: 2221240020</strong></p><p><strong>Kelas: 2A</strong></p><p><br/></p><p>Pada pertemuan hari ini mengenai "pengelolaan sumber daya dan pengelolaan konflik gender dalam keluarga" saya jadi mengetahui bahwa keluarga memiliki peran penting sebagai unit sosial terkecil dalam membentuk karakter individu, dan gender bukan sekadar perbedaan biologis, melainkan hasil konstruksi sosial dan budaya. Ketimpangan peran gender bisa menimbulkan konflik dalam keluarga, terutama dalam pengelolaan sumber daya seperti waktu, uang, dan tenaga, di mana perempuan seringkali mengalami beban ganda.</p><p>Untuk mengatasi hal ini, pendidikan nonformal hadir sebagai solusi yang mendorong kesetaraan dan keharmonisan keluarga melalui peningkatan kesadaran gender, partisipasi seluruh anggota keluarga, serta pemberdayaan perempuan agar bisa berkontribusi secara setara di rumah maupun masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 22:46:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406707764</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406751298</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: jamaludin</p><p>Kelas: 2B</p><p>Nim: 2221240037</p><p>Mata kuliah: analisis gender</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>Pada pertemuan minggu ini membahas terkait pengelolahan sumber daya dan pengelolahan konflik gender dalam keluarga.</p><p>&nbsp;</p><p><strong>Definisi keluarga</strong></p><p>Bisa diartikan sebagai kelompok sosial terkecil yang terdiri dari suami,istri,anak,atau anggota,lain,hidup bersama,dalam satu rumah tangga,dan terikat oleh hubungan darah,perkawinan.</p><p><strong>Fungsi itu</strong></p><p>Bisa berupa fungsi itu biologis(reproduksi) keturunan, fungsi ekonomi seperti kebutuhan sandang,pangan dan papan.</p><p>&nbsp;</p><p><strong>Definisi gender</strong></p><p>Lebih merujuk pada tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang dibentuk dan internalisasi melalui kebiasaan keluarga dan budaya masyarakt.</p><p>&nbsp;</p><p><strong>Definisi sumber daya keluarga</strong></p><p>Lebih kemenglolah uang dengan baik oleh seluruh anggota keluarga untuk mencapai kesejahteran keluarga.</p><p>&nbsp;</p><p><strong>Manajemen sumber daya ini memegang peran penting dalam berkelanjutan dan kesejahteran keluarga. Klasifikasi sumber daya keluarga ada tiga:</strong></p><p>1. Sumber daya manusia</p><p>2. Sumber daya materi</p><p>3. Sumber daya waktu</p><p>&nbsp;</p><p><strong>Indentifikasi dan resolusi konfilik ada6 macam konflik yaitu:</strong></p><p>1.Konflik esternal</p><p>2.Konflik internal</p><p><a rel="noopener noreferrer nofollow" href="http://3.Zero">3.Zero</a> sum dan motive conflict</p><p>4.Personality based dan situtional conflict</p><p>5.Basic dan situastional conflict</p><p>6. personality based dan situational conflict</p><p>&nbsp;</p><p><strong>Faktor penyebab konflik:</strong></p><p>1.Penghasilan</p><p>2.Keterampilan</p><p>3.Perbedaan pendapat</p><p>4.Gaya komunikasi</p><p>5.Sikap anak</p><p>6.Kdrt</p><p>7.Egoisme</p><p>8.Resolusi konflik</p><p>&nbsp;</p><p>Jadi dari materi pengelohan sumber daya dan pengelolahan konflik gender dalam keluarga, saya banyak ilmu baru terkait bagaimana kita sebagai yang akan berumah tangga, kita harus komitmen antara antara calon laki dan calon perempuan, agar tidak terjadi konflik gender dalam keluarga.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-12 00:46:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406751298</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>maliardk21</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406761849</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Muhammad Ali Abdurrahman K.D</p><p>NIM: 2221240055</p><p>Kelas: 2B</p><p><br></p><p>Pertemuan hari ini membahas tentang "pengelolaan sumber daya dan pengelolaan konflik gender dalam keluarga" tentang betapa pentingnya keluarga sebagai unit sosial terkecil dalam membentuk karakter seseorang. Gender bukan sekadar perbedaan biologis, tetapi konstruksi sosial dan budaya. Peran gender yang tidak selaras dapat menyebabkan konflik dalam keluarga, terutama dalam hal mengelola sumber daya seperti waktu, uang, dan tenaga, di mana perempuan seringkali mengalami beban ganda. Untuk mengatasi masalah ini, pendidikan nonformal membantu kesetaraan dan keharmonisan keluarga dengan meningkatkan kesadaran gender, mendorong partisipasi seluruh keluarga, dan memberikan kesempatan kepada perempuan untuk berkontribusi secara setara dalam masyarakat dan di rumah.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-12 01:10:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406761849</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406773821</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Hani Aprilia</strong></p><p><strong>Kelas 2A</strong></p><p><strong>Nim: 2221240003</strong></p><p><br/></p><p>pada pertempuran minggu ini kelompok 5 membahas tentang "pengelolaan sumber daya dan pengelolaan konflik gender dalam keluarga" dari materi ini saya memahami banyak hal seperti</p><p>Pengelolaan sumber daya dalam keluarga merupakan proses penting yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap berbagai sumber daya yang dimiliki oleh keluarga. Sumber daya ini meliputi sumber daya manusia seperti tenaga, waktu, dan keterampilan, serta sumber daya non-manusia seperti uang, barang, dan informasi. Tujuan dari pengelolaan ini adalah untuk memastikan bahwa seluruh anggota keluarga dapat hidup sejahtera dengan pemenuhan kebutuhan yang efisien dan efektif.</p><p>Dalam praktiknya, pengelolaan sumber daya keluarga memerlukan prinsip-prinsip dasar seperti perencanaan berdasarkan kebutuhan, pembagian peran secara adil, dan evaluasi berkala terhadap penggunaan sumber daya. Perencanaan membantu keluarga menetapkan prioritas, sedangkan pembagian tanggung jawab mendorong kerjasama dan rasa tanggung jawab antaranggota keluarga. Evaluasi berfungsi sebagai alat pengendalian agar penggunaan sumber daya tetap sesuai dengan tujuan keluarga.</p><p>Sementara itu, pengelolaan konflik gender dalam keluarga menjadi isu penting yang perlu diperhatikan dalam menciptakan keharmonisan rumah tangga. Konflik gender biasanya timbul akibat ketimpangan peran antara laki-laki dan perempuan, yang sering kali dipengaruhi oleh nilai budaya atau stereotip yang mengakar dalam masyarakat. Ketika pembagian tugas tidak adil atau tidak sesuai kesepakatan, konflik bisa muncul, menimbulkan ketegangan emosional hingga berpotensi memicu kekerasan dalam rumah tangga.</p><p>Untuk mengelola konflik gender, keluarga perlu menerapkan komunikasi yang terbuka dan empatik antara anggota keluarga. Setiap anggota hendaknya diajak berdiskusi mengenai pembagian peran dan tanggung jawab, serta diberi ruang untuk menyampaikan pendapat. Selain itu, penting untuk menanamkan nilai-nilai kesetaraan gender sejak dini, baik dalam pendidikan maupun dalam praktik sehari-hari. Dengan pendekatan musyawarah dan kompromi, konflik dapat dikelola secara konstruktif sehingga tercipta suasana keluarga yang harmonis dan saling menghargai.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-12 01:38:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406773821</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>fadhilahibni</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406777885</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: fadhilah ibni safitri</p><p>Kelas: 2A</p><p>Nim: 2221240018</p><p>Pada pertemuan minggu ini membahas terkait pengelolahan sumber daya dan pengelolahan konflik gender dalam keluarga.</p><p><br/></p><p>Definisi keluarga Bisa diartikan sebagai kelompok sosial terkecil yang terdiri dari suami, Istri, anak, atau anggota, lain, hidup bersama, dalam satu rumah tangga,dan terikat oleh hubungan darah, perkawinan. Fungsi itu Bisa berupa fungsi itu biologis (reproduksi) keturunan, fungsi ekonomi seperti kebutuhan sandang,pangan dan papan.</p><p><br/></p><p>Definisi gender</p><p>Lebih merujuk pada tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang dibentuk dan internalisasi melalui kebiasaan keluarga dan budaya masyarakt.</p><p><br/></p><p>Definisi sumber daya keluarga</p><p>Lebih kemenglolah uang dengan baik oleh seluruh anggota keluarga untuk mencapai kesejahteran keluarga.</p><p>Manajemen sumber daya ini memegang peran penting dalam berkelanjutan dan kesejahteran keluarga. Klasifikasi sumber daya keluarga ada tiga:</p><p>1. Sumber daya manusia</p><p>2. Sumber daya materi</p><p>3. Sumber daya waktu</p><p>Indentifikasi dan resolusi konfilik ada6 macam konflik yaitu:</p><p>1. Konflik esternal</p><p>2.Konflik internal</p><p>3.Zero sum dan motive conflik</p><p>4. Personality based dan situtional conflik</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-12 01:47:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406777885</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>valfathory</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406781316</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Muhammad Virly Al Fathory</strong></p><p><strong>2221240065</strong></p><p><strong>II A</strong></p><p><br/></p><p>Pada presentasi kali ini mengenai pengelolaan sumber daya dan pengelolaan konflik gender dalam keluarga, bahwa pengelolaan sumber daya dalam keluarga mencakup pengaturan keuangan, waktu, tenaga, serta perhatian antaranggota keluarga.</p><p><br/></p><p> Refleksi saya adalah bahwa keberhasilan keluarga tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar sumber daya yang dimiliki, tetapi bagaimana sumber daya tersebut dimanfaatkan secara bijak dan adil.</p><p><br/></p><p>Pembagian peran dalam mengelola sumber daya harus berdasarkan kemampuan, bukan semata-mata pada stereotip peran gender. Ketika suami dan istri bisa saling bekerja sama, saling menghargai kontribusi masing-masing—baik dalam pekerjaan rumah, pengasuhan, maupun mencari nafkah—maka keseimbangan dalam keluarga lebih mudah tercapai.</p><p><br/></p><p>Konflik gender sering kali muncul karena adanya ketimpangan peran, ekspektasi budaya, atau kurangnya komunikasi. Dalam keluarga, penting untuk menyadari bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak dan kewajiban yang setara. Ketika satu pihak merasa dibebani secara tidak adil hanya karena perannya sebagai "laki-laki" atau "perempuan", konflik rentan terjadi.</p><p><br/></p><p>Refleksi saya adalah bahwa pengelolaan konflik gender memerlukan empati, keterbukaan, dan kemauan untuk mendengarkan. Keluarga yang sehat adalah yang mampu berdialog tanpa saling menyalahkan, dan mampu menyesuaikan peran berdasarkan situasi, bukan semata berdasarkan jenis kelamin. Dengan demikian, keluarga menjadi ruang yang inklusif dan suportif bagi semua anggotanya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-12 01:52:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406781316</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406786438</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Nama Kamila Ramadhani </p><p>Nim: 2221240061</p><p>Kelas: 2A</p><p><br/></p><p>"Pengelolaan Sumber Daya dan Pengelolaan Konflik Gender dalam Keluarga"</p><p><br/></p><p>Setelah mengetahui materi ini dan seperti yang sudah di jelaskan pada kelompok terakhir ini tentang pengelolaan sumber daya dan pengelolaan konflik gender dalam keluarga, saya jadi lebih memahami betapa pentingnya kesetaraan gender dalam membangun keluarga yang harmonis. Materi ini membuka mata saya tentang bagaimana peran tradisional gender bisa memicu ketidakadilan dan konflik dalam keluarga. Saya menyadari bahwa komunikasi yang baik, pembagian tugas yang adil, dan saling menghargai perbedaan adalah kunci untuk menciptakan lingkungan keluarga yang sehat dan bahagia.</p><p>Selain itu, materi ini juga memberikan pemahaman bahwa pendidikan kesetaraan gender bukan hanya tanggung jawab orang tua, tetapi juga seluruh anggota keluarga. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip kesetaraan gender, kita dapat menciptakan keluarga yang lebih inklusif, suportif, dan harmonis</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-12 02:01:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406786438</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406795530</link>
         <description><![CDATA[<p>nama: Almaida Septiani </p><p>kelas: 2A</p><p>NIM: 2221240049</p><p><br/></p><p>Dari materi yang didapat</p><p>Di dalam keluarga, hal kayak uang, waktu, tenaga itu namanya sumber daya. Nah, kadang yang ngatur itu cuma satu pihak, biasanya laki-laki, padahal perempuan juga punya andil besar. Kalau peran dalam keluarga nggak adil misalnya istri harus ngurus rumah plus kerja tapi suami santai aja itu bisa bikin konflik. Bias gender kayak gitu sering bikin salah paham dan pertengkaran. Makanya penting banget buat saling komunikasi, bagi tugas bareng, dan hargai satu sama lain. Keluarga yang adil dan setara itu lebih damai dan harmonis.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-12 02:19:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406795530</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406795574</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Suci Oktavia Ramadani </p><p>kelas  : 2A</p><p>Nim    : 2221240063</p><p><br/></p><p>Di sebuah keluarga yang harmonis, peran masing-masing anggota menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter. Kehidupan sehari-hari memperlihatkan bagaimana perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan tidak hanya berdasarkan aspek biologis, tetapi juga sebagai hasil konstruksi sosial dan budaya. Perempuan, misalnya, seringkali menghabiskan waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas domestik dan mengelola keuangan rumah tangga, sehingga mereka harus menanggung beban ganda antara pekerjaan di dalam dan di luar rumah. Sementara itu, laki-laki umumnya dianggap sebagai pencari nafkah utama yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja di luar.</p><p><br/></p><p>Ekspektasi peran tradisional yang kaku dan stereotip—seperti anggapan bahwa perempuan adalah sosok yang lebih lemah atau emosional—seringkali semakin memperparah ketimpangan tersebut. Ketidakmerataan dalam pembagian tugas menyebabkan timbulnya ketegangan yang kemudian berpotensi memicu konflik dalam keluarga, bahkan hingga terjadi kekerasan. Untuk mengatasi permasalahan ini, penting bagi setiap keluarga melakukan evaluasi internal dengan memperbaiki pembagian tugas secara adil, sesuai dengan kemampuan masing-masing anggota.</p><p><br/></p><p>Salah satu solusi efektif yang ditawarkan adalah melalui pendidikan nonformal. Pendidikan ini memiliki peran vital dalam membuka ruang komunikasi yang empatik antara seluruh anggota keluarga. Dengan pendekatan yang inklusif, setiap individu diajak untuk saling memahami kebutuhan dan harapan satu sama lain, sehingga terbentuk dialog yang konstruktif untuk menyelesaikan konflik. Selain itu, dukungan konseling serta mediasi oleh pihak ketiga juga dapat menjadi alternatif penting dalam menyelesaikan permasalahan secara objektif.</p><p><br/></p><p>Pada akhirnya, melalui pendidikan kesetaraan gender dan dialog terbuka, keluarga dapat menciptakan lingkungan yang mendukung keadilan dan keharmonisan. Setiap langkah kecil yang diambil untuk mengubah paradigma tradisional menjadi lebih inklusif memiliki dampak besar terhadap kesejahteraan emosional dan sosial semua anggota keluarga, menciptakan tatanan kehidupan yang lebih seimbang dan harmonis.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-12 02:19:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406795574</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406805408</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Moh Firdausil Mutaqin</p><p>Nim : 2221240079</p><p>Kelas : 2A</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>"Pengelolaan Sumber Daya dan Pengelolaan Konflik Gender dalam Keluarga"</p><p><br/></p><p>Setelah mempelajari materi tentang pengelolaan sumber daya dan konflik gender dalam keluarga, saya menyadari bahwa keluarga bukan hanya unit sosial, tetapi juga sistem yang harus dikelola dengan bijak agar tetap harmonis. Pengelolaan sumber daya, baik itu waktu, tenaga, keuangan, maupun emosional, memiliki peran penting dalam mendukung kesejahteraan seluruh anggota keluarga.</p><p><br/></p><p>Saya belajar bahwa pembagian peran dalam keluarga sering kali masih dipengaruhi oleh konstruksi gender yang sudah tertanam secara budaya. Hal ini dapat menimbulkan konflik, terutama jika salah satu pihak merasa terbebani atau tidak dihargai. Oleh karena itu, komunikasi yang terbuka dan kesepahaman antaranggota keluarga sangat penting untuk menyelesaikan perbedaan pandangan terkait peran dan tanggung jawab.</p><p><br/></p><p>Saya juga menyadari bahwa konflik gender dalam keluarga bukan sesuatu yang bisa dihindari sepenuhnya, tetapi bisa dikelola dengan pendekatan yang adil dan setara. Perlu adanya saling pengertian, empati, dan keinginan untuk berubah demi menciptakan relasi yang sehat. Ini membuat saya lebih reflektif terhadap peran saya sendiri dalam keluarga dan pentingnya memperjuangkan keadilan gender mulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga.</p><p><br/></p><p>Secara keseluruhan, pembelajaran ini membuka wawasan saya tentang pentingnya manajemen keluarga yang berbasis kesetaraan dan keadilan, yang pada akhirnya akan berdampak pada keharmonisan dan kebahagiaan bersama.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-12 02:38:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406805408</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406809049</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Yudi Wahyudi </p><p>Nim : 2221240062</p><p>kelas : 2A</p><p><br/></p><p>Hari ini membahas tentang pengelolaan sumber daya dan pengelolaan konflik gender dalam keluarga. Saya belajar bahwa kesetaraan gender ini masih terus di perjuangkan sampai pada hari ini dan tantangannya pun sangat banyak, Termasuk kontruksi yang berubah ubah. jangankan dalam ruang lingkup sosial bahkan dalam lingkup keluarga pun terkadang kita masih menemukan ketidakadilan gender. oleh karena itu kelompok pada hari ini hadir untuk membahas permasalahan dan solusi yang bisa di tawarkan dalam pembangunan masyarakat dan sekaligus memberikan pemahaman terkait peran pendidikan non formal dalam pembangunan tersebut.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-12 02:46:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406809049</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>agniamalia1998</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406865537</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Agni Amalia Putri</p><p>NIM : 2221240043</p><p>Kelas : 2C</p><p><br/></p><p>Materi ini membahas tentang bagaimana peran gender terbentuk dan berpengaruh dalam kehidupan keluarga. Sejak kecil, kita sudah mulai belajar tentang peran laki-laki dan perempuan lewat kebiasaan di rumah—siapa yang masak, siapa yang bekerja di luar, siapa yang mengasuh anak. Hal-hal seperti ini tanpa sadar membentuk pola pikir kita tentang siapa yang “seharusnya” melakukan apa. Padahal, seharusnya laki-laki dan perempuan punya tanggung jawab yang setara, meskipun secara biologis memang ada perbedaan.</p><p><br/></p><p>Sayangnya, di masyarakat kita masih banyak yang menganggap urusan domestik hanya tanggung jawab perempuan, sementara laki-laki lebih dominan di ruang publik. Ini membuat perempuan sering kali nggak dilibatkan dalam pengambilan keputusan penting di rumah, terutama soal ekonomi. Untuk menciptakan keluarga yang sehat dan adil, penting banget ada kesadaran sejak dini dan pembagian peran yang lebih seimbang.</p><p><br/></p><p>Konflik dalam keluarga pun nggak bisa dihindari—dan itu wajar. Entah itu antara suami-istri, orang tua dan anak, atau antar saudara. Tapi, konflik ini bisa jadi hal yang positif kalau diselesaikan dengan cara yang tepat. Masalahnya sering muncul karena ketimpangan peran, perbedaan pandangan, atau harapan yang nggak sejalan. Kalau nggak ditangani, konflik bisa berkembang jadi bentuk kekerasan, baik secara fisik, verbal, maupun simbolik.</p><p><br/></p><p>Di sinilah pentingnya komunikasi. Dengan ngobrol terbuka, negosiasi, atau bahkan konseling, banyak masalah bisa diselesaikan sebelum memburuk. Selain itu, pendidikan non-formal juga punya peran besar. Lewat kegiatan di luar sekolah seperti pelatihan, diskusi kelompok, atau program pemberdayaan, keluarga bisa belajar cara menyelesaikan konflik dengan adil dan setara. Intinya, harmoni dalam keluarga itu bukan soal siapa yang berkuasa, tapi bagaimana semua anggota saling memahami dan berbagi peran.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-12 05:11:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406865537</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>yyaza0075</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406867533</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Quinsyifa alfayyaza andika putri </p><p>Nim : 2221240095 </p><p>Kelas : 2c</p><p><br/></p><p>Isi dari presentasi ini membahas tentang bagaimana peran gender terbentuk dan dijalankan dalam keluarga, serta bagaimana ketimpangan gender bisa memicu konflik dalam rumah tangga. Penjelasannya menyoroti bahwa sejak kecil, laki-laki dan perempuan sudah diarahkan pada peran tertentu melalui aktivitas sehari-hari. Meskipun idealnya peran dalam keluarga dibagi setara, kenyataannya masih banyak yang terjebak dalam budaya patriarki yang membebani perempuan dengan pekerjaan domestik.</p><p><br/></p><p>Konflik dalam keluarga muncul karena berbagai hal seperti ketimpangan peran, perbedaan pendapat, hingga perubahan sosial. Konflik bisa terjadi antara pasangan suami-istri, orang tua-anak, maupun antar saudara, dan bisa berkembang menjadi kekerasan fisik, verbal, atau simbolik.</p><p><br/></p><p>Sebagai solusi, pendidikan non-formal dianggap penting untuk membentuk karakter, memperkuat nilai sosial, serta memberdayakan perempuan dan keluarga melalui pendekatan yang fleksibel dan kontekstual. Intinya, kesetaraan gender dan komunikasi yang terbuka adalah kunci untuk keluarga yang harmonis dan adil.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-12 05:16:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406867533</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406910624</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Natasha Kayla </p><p>Kelas : 2A </p><p>Nim : 2221240032</p><p><br/></p><p>Pembahasan tentang sumber daya dan pengelolaan konflik gender dalam keluarga membantu kita memahami bagaimana peran laki-laki dan perempuan terbentuk dalam budaya, serta bagaimana ketimpangan dalam pembagian peran dan sumber daya bisa menimbulkan konflik.</p><p> Ketika salah satu pihak merasa tidak adil dalam beban atau pengambilan keputusan, konflik bisa muncul. Untuk mengelolanya, dibutuhkan komunikasi yang terbuka dan sikap saling menghargai. Dengan pengelolaan yang baik, keluarga bisa menjadi lingkungan yang adil, harmonis, dan membentuk anak-anak dengan nilai kesetaraan gender.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-12 07:19:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406910624</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rm2mzrk9zn</author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406936287</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Mutiara Ardini Latifah</p><p>Nim: 2221240072</p><p>Kelas: 2C</p><p><br/></p><p><strong>Refleksi Belajar: Sumber Daya dan Pengelolaan Konflik Gender dalam Keluarga</strong></p><p><br/></p><p>Setelah mempelajari materi tentang sumber daya dan konflik gender dalam keluarga, saya jadi lebih sadar bahwa keluarga bukan sekadar tempat tinggal, tapi juga ruang di mana kekuasaan, peran, dan akses terhadap sumber daya sering kali dibentuk oleh norma-norma gender yang tidak selalu adil. Saya mulai melihat bahwa dalam banyak keluarga, pembagian tugas dan hak sering kali masih timpang, terutama antara laki-laki dan perempuan.</p><p><br/></p><p>Yang paling menyentuh saya adalah bagaimana konflik bisa muncul bukan karena ketidaksukaan antar anggota keluarga, tapi karena harapan dan peran gender yang dibentuk sejak lama. </p><p><br/></p><p>Misalnya, ketika perempuan dianggap "seharusnya" mengurus rumah atau anak, sementara laki-laki "seharusnya" mencari nafkah. Ketika peran ini tidak sejalan dengan kenyataan atau keinginan individu, konflik pun bisa terjadi,baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.</p><p>Saya juga belajar bahwa pengelolaan konflik tidak bisa dilakukan hanya dengan menenangkan situasi sesaat. Perlu ada kesadaran bersama tentang kesetaraan, komunikasi yang terbuka, dan keinginan untuk mendengarkan perspektif satu sama lain. Keluarga idealnya menjadi tempat yang adil, di mana semua anggota merasa didengar dan dihargai, tanpa dibatasi oleh konstruksi gender yang kaku.</p><p><br/></p><p>Refleksi ini membuat saya ingin lebih sadar dalam membangun relasi yang setara di keluarga saya sendiri,baik sekarang maupun di masa depan. Saya percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari hal-hal kecil, termasuk bagaimana kita memperlakukan satu sama lain di rumah.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-12 08:10:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406936287</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406936684</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Difa Desti Sabillah</p><p>Kelas : 2 a</p><p>Nim : 2221240097</p><p><br/></p><p>Pengelolaan sumber daya dan konflik gender dalam keluarga sangat penting untuk menciptakan keharmonisan rumah tangga. Sumber daya keluarga meliputi finansial, waktu, tenaga, dan keterampilan yang perlu dikelola secara adil dan partisipatif. Sementara itu, konflik gender sering muncul akibat ketimpangan peran berdasarkan norma sosial, terutama dalam sistem patriarki.</p><p>Untuk mengatasi konflik gender, diperlukan komunikasi terbuka, empati, dan kesadaran akan pentingnya kesetaraan gender. Integrasi antara pengelolaan sumber daya dan penanganan konflik gender akan mendorong terciptanya keluarga yang harmonis, adil, dan setara.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-12 08:12:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406936684</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406982764</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>Refleksi</p><p>Nama: Muhamad Juan Safiq</p><p>Kelas: 2A</p><p>NIM: 2221240048</p><p><br/></p><p>Dari materi yang saya dapat, saya jadi lebih memahami bahwa dalam keluarga, hal-hal seperti uang, waktu, dan tenaga disebut sebagai sumber daya. Sayangnya, sering kali yang mengatur hanya satu pihak, biasanya laki-laki, padahal perempuan juga punya peran besar dalam mengelola keluarga.</p><p><br/></p><p>Ketika pembagian peran tidak adil—misalnya istri harus bekerja dan mengurus rumah, sementara suami tidak ikut berkontribusi—hal itu bisa menimbulkan ketegangan, kesalahpahaman, dan bahkan konflik. Bias gender seperti ini masih sering terjadi di masyarakat dan perlu disadari sebagai hal yang perlu diubah.</p><p><br/></p><p>Karena itu, penting banget adanya komunikasi yang terbuka, pembagian tugas yang adil, dan saling menghargai dalam keluarga. Keluarga yang setara akan lebih harmonis, damai, dan saling mendukung satu sama lain.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-12 09:47:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3406982764</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3407704131</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama  : Azzahra karunia akbar</p><p>Nim     : 2221240057</p><p>Kelas.  : 2C</p><p><br/></p><p>"Pengelolaan sumber daya dan pengelolaan konflik gender dalam keluarga "</p><p>Peran gender dalam kehidupan sehari-hari sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dibentuk sejak dini dalam lingkungan keluarga. Di dalam keluarga, laki-laki dan perempuan mulai memahami peran masing-masing melalui aktivitas seperti pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak. Namun, masih banyak masyarakat yang salah kaprah dalam memahami konsep gender, yang sering dianggap hanya berkaitan dengan perempuan.</p><p>Peran gender juga sangat memengaruhi pengelolaan sumber daya dalam keluarga, seperti waktu, uang, dan tenaga. Budaya patriarki menyebabkan perempuan lebih dibebani tugas domestik, sementara laki-laki lebih banyak terlibat dalam urusan publik. Idealnya, ada pembagian peran yang adil dan setara antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga.</p><p>Konflik dalam keluarga adalah hal yang wajar dan bisa berasal dari berbagai pihak, seperti antara suami dan istri, orang tua dan anak, maupun antar saudara. Konflik gender dapat dipicu oleh ketimpangan peran, perbedaan nilai, serta harapan yang tidak sejalan. Jika tidak diselesaikan dengan baik, konflik ini bisa berkembang menjadi kekerasan fisik, verbal, maupun simbolik. Oleh karena itu, strategi penyelesaian konflik seperti komunikasi terbuka, negosiasi, mediasi, dan konseling sangat dibutuhkan.</p><p>Selain itu, pendidikan non-formal (PNF) juga memiliki peran penting dalam menciptakan keharmonisan keluarga. PNF dapat berlangsung di lingkungan keluarga dan masyarakat, serta menekankan pembentukan karakter, nilai sosial, budaya, dan keagamaan. Melalui pendekatan ini, diharapkan kesadaran akan kesetaraan gender dapat ditanamkan, serta kemampuan untuk menyelesaikan konflik dapat ditingkatkan.</p><p>Secara keseluruhan, presentasi ini menekankan pentingnya kesetaraan gender dalam keluarga, pembagian peran yang adil, serta perlunya pendidikan dan pendekatan resolusi konflik yang tepat untuk menciptakan keluarga yang harmonis dan sejahtera.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-13 14:05:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niningpurwaningsih354_1/77asppu7poobuj79/wish/3407704131</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
