<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Pre Trip Penulisan Soal HOTS by Endah pop2021</title>
      <link>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w</link>
      <description>Made with a taste for adventure</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-11-09 02:55:58 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2021-11-09 09:59:01 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f914.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Rendahnya peringkat Indonesia berdasarkan hasil PISA (SASA)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877405387</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya pribadi merasa prihatin melihat rendahnya peringjat Indonesia berdasarkan hasil PISA baik dari kompetensi membaca, matematika, dan sains.<br>Jadi bertanya, apa yang salah dengan sistem pendidikan di Indonesia? Banyak materi yang harus diajarkan dan diketahui oleh siswa, namun terasa hambar, tak sampai melekat di hati. Saya kadang suka membayangkan jika kompetensi SD cukup calistung (baca tulis hitung), namun jika kemampuan itu bisa melekat di hati dan siswa jadi senang belajar, saya pikir ilmu apapun akan mudah dipelajari. (Maaf, jadi curcol)<br>Kembali ke peringkat Indonesia yang rendah, mungkin ada beberapa faktor yang mempengaruhi:<br>1. Kondisi pendidikan di setiap daerah sangat berbeda jauh (dimana kualitas rendah masih dominan) maka jadilah nilai rata2 kompetensi Indonesia di membaca, matematika, dan sains menjadi rendah.<br>2. Budaya membaca di Indonesia sangat rendah. Sebenarnya budaya membaca bisa dibangun salah satunya dari keluarga. Namun keluarga Indonesia sepertinya lebih suka main games dari pada membaca.<br>Itu dulu pendapat saya...<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-09 06:25:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877405387</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peringkat PISA Indonesia rendah. Why? Coretan Suci</title>
         <author>sucimey</author>
         <link>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877432688</link>
         <description><![CDATA[<div>Peringkat PISA Indonesia masih berada di rata-rata yang sangat rendah. Jauh di bawah kompetensi minimum. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya : minat literasi yang rendah, kualitas kurikulum pendidikan yang belum merata, dan kualitas guru dalam mengajar.<br><br></div><div>Yang menjadi faktor kunci utama adalah minat literasi yang rendah. Saat ini siswa-siswi kita mengalami degradasi minat baca yang sangat kritis. Minat baca rendah ini dipengaruhi banyak faktor diantaranya adalah gadget yang menyebabkan rasa malas membaca, dorongan dan sumber baca yang minim.&nbsp;<br><br></div><div>Banyak siswa ketika diberi tantangan untuk menjawab soal yang membutuhkan daya pikir tinggi langsung menyerah. Saya sering merasakan pengalaman ini sendiri. Ketika siswa diberi challenge untuk mengerjakan sebuah project, banyak diantara mereka langsung mengeluarkan statement menyerah.&nbsp;<br><br></div><div>Atau bahkan ini terjadi ketika gladi ANBK, banyak siswa yang tergagap dengan soal yang didapat. Teks yang panjang, dan membutuhkan alur berfikir yang sistematis langsung membuat kebingungan.<br><br></div><div>Siswa-siswi kita masih banyak yang tidak terbiasa untuk menelaah, menganalisis, memahami konteks suatu bacaan.&nbsp;<br><br></div><div>Ini menjadi salah satu tugas kita sebagai pendidik untuk terus mendorong, memberikan banyak latihan kepada murid, membiasakan mereka untuk memiliki jiwa tangguh pantang menyerah, menumbuhkan semangat literasi dalam diri mereka, berfikir kritis, analisis, dan problem solving.<br><br></div><div>Demikian pendapat saya. CMIIW..<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-09 06:43:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877432688</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hasil PISA 2021, Indonesia masih di Level rendah</title>
         <author>prettydiyana76</author>
         <link>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877506501</link>
         <description><![CDATA[<div>Hasil PISA tahun 2021 menunjukkan bahwa Indonesia masih di peringkat 62 dari 70 negara. Peringkat ini masih sama seperti pada tahun 2018. Artinya tingkat literasi di Indonesia tidak mengalami perubahan alias stagnan.<br>Mengapa hal ini dapat terjadi? Sebelumnya kita harus mengetahui apa itu literasi. Literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis (Wikipedia). Dari pengertian ini maka dengan literasi, pemahaman seseorang dapat bertambah dengan banyak membaca. Membaca tidak melulu diartikan dengan buku, karena kini literasi juga berkaitan dengan numerasi, literasi media, sains, dll.<br>Penyebab utama dari rendahnya tingkat literasi ini adalah kurikulum pendidikan Indonesia. Walaupun sudah berkali-kali mengganti kurikulum dan mentri nya (hehehe...) ternyata tidak otomatis tingkat literasi menjadi lebih baik. Biang keroknya adalah dari kurikulum tersebut siswa tidak dibiasakan untuk mengenal soal2 HOTS. Soal2 yang ada masih di tingkat LOTS. Makanya tak heranlah, ketika UN diberikan soal HOTS langsung klepek2... karena tak terbiasa. Dan sepertinya karena biasa instan, padahal butuh proses pembiasaan. Ini akibat kebanyakan makan mie instan...hihihi...<br>Penyebab berikutnya adalah kurangnya perhatian pemerintah terhadap penyediaan fasilitas pendidikan di Indonesia, seperti buku. Buku2 baru jarang diterbitkan apalagi sampai tersebar ke pelosok. Ditambah lagi dengan stigma bahwa masyarakat Indonesia memiliki minat baca yang rendah, walah makin jadilah. Saya teringat,saat ODWP, salah seorang OTM kelas 4 memperlihatkan, bahwa di Jerman, buku2 malah ditempatkan mendekati fasilitas umum, seperti halte. Sehingga, mereka mudah menjangkau buku2 tersebut, dan minat baca bertambah. Wah, kalo di Indonesia bisa diterapkan begitu nda, ya... nanti malah ngilang lagi (hush... hehehe). Kembali lagi..<br>Jadi perpustakaan tidak perlu ditempat yang eksklusif nan mahal, atau dilokasi yang masyarakat susah untuk akses. Ini yang bisa jadi masyarakat ada keengganan untuk ke perpustakaan.<br>Demikian pendapat saya yaa... </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-09 07:27:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877506501</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kenapa peringkat PISA Indonesia rendah? (Tarjudi)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877531636</link>
         <description><![CDATA[<div>Menurut saya ada beberapa hal yang menjadi faktor utama rendahnya peringkat PISA Indonesia, yaitu :<br>1. Minat literasi yang rendah diakibatnya oleh berbagai hal termasuk Gadget. Gadget dengan fitur fitur yang menarik membuat anak didik tidak tertarik untuk membaca.&nbsp;<br>2. Kompetensi guru yang belum merata dan banyak yang belum kompeten, belum mampu mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik dengan baik.<br>3. Indonesia sangat luas, ada daerah yang pendidikannya sudah maju dan ada yang masih tertinggal. daerah tertinggal sepertinya masih lebih dominan. ini sangat mempengaruhi peringatnya PISA Indonesia </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-09 07:39:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877531636</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tanggapan terhadap skor dan peringkat PISA (Neli)</title>
         <author>ganeliafajar</author>
         <link>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877557646</link>
         <description><![CDATA[<div>PISA (Programme for International Student Assesment) ini diselenggarakan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) yang melibatkan para ahli diseluruh dunia dengan teknik sampling yang shahih. Hasil PISA di tahun 2018 Indonesia yang menunjukkan 60-70 % siswa berada di bawah kompetensi minimum. Kalau melihat dari kenyataan yang ada disekitar dimana sering ditemukan siswa menjawab soal tidak nyambung, disuruh menjelaskan tapi siswa menjawab singkat, tidaklah heran hasilnya menunjukkan seperti itu.&nbsp;<br><br>Tapi yang terpenting dari hasil itu adalah bagaimana kita bisa mencari solusi agar Indonesia bisa bangkit dan bersama bergerak menumbuhkan minat baca. Tentunya ini tidak bisa parsial, harus semua elemen masyarakat disadarkan pentingnya penumbuhan minat baca.&nbsp;<br><br>Di lingkup terkecil yakni keluarga, harus memiliki program menumbuhkan minat baca sejak dini. Mulai dari mengenalkan buku, membacakan cerita, sampai anak mandiri membaca dan bisa menceritakan kembali bacaan yang dibaca.<br><br>Di lingkup sekolah, program-program penumbuhan minat baca harus didukung oleh semua guru. Jangan sampai program literasi dikorbankan dengan mengejar materi (Ups). Keteladanan guru dalam menumbuhkan minat baca menjadi hal penting bahkan utama untuk bisa ditiru oleh guru. Penyediaan sarana prasarana seperti pojok baca, perpustakaan, dan koleksi buku juga penting.<br><br>Di lingkup masyarakat, RT/RW Perlu mengadakan pojok-pojok baca yang disediakan di tempat-tempat fasilitas umum. Walaupun keamanan dan kebetahanannya fasilitas tersebut disana dipertanyakan paling tidak sudah ada usaha dari lingkup RT/RW. Tinggal diajak masyarakatnya untuk saling menjaga fasilitas umum.<br><br>Di lingkup pemerintah, perlu dikaji ulang kurikulum yang ada, apakah terlalu memberatkan sehingga guru sering sekali terjebak dalam kondisi kejar tayang materi pelajaran. Pengadaan pojok-pojok baca di stasiun, terminal, bandara, halte tentu menyenangkan. Tentunya diperlukan petugas khusus yang bisa melayani dan menjaga keberadaannya.&nbsp;<br><br>Semoga Indonesia segera bangkit dan menuju literasi yang lebih baik. Aamiin</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-09 07:53:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877557646</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ternyata...Indonesia masih berada di peringkat rendah dari hasil PISA   .... ???</title>
         <author>faridrachman14</author>
         <link>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877576462</link>
         <description><![CDATA[<div>Kini saatnya literasi Indonesia perlu menjadi perhatian khusus, berdasarkan hasil PISA bahwa Indonesia masih berada di level rendah, banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut, kurang minat membaca bisa dijadikan sebagai salah satu faktornya. Katakanlah siswa sebagai targetnya, sampai saat ini masih&nbsp; terlihat tidak begitu semangat&nbsp; ingin&nbsp; mengeksplor sumber bahan bacaan,&nbsp; terkesan hanya sebagai penerima informasi yang didapatkan dari guru, padahal dengan kemudahan media yang sekarang ini&nbsp; sangat membantu untuk bisa mengeksplorasi.&nbsp;<br>selanjutnya, ketika dihadapkan pada tantangan pemecahan masalah, kurang semangat untuk bisa tergerak memecahkan masalah , beralasan karena proses yang harus dilalui cukup lama dan panjang.&nbsp;<br>Pembiasan sangat perlu dilakukan, karena&nbsp; saya percaya "alah bisa karena biasa", budaya membaca perlu dilestarikan tidak harus dipaksakan membaca buku yang halamannya sampai 500, tetapi yang dipaksakan adalah niat untuk menambah wawasan dengan membaca. Bertambannya wawasan adalah modal untuk bisa memecahkan masalah -masalah yang ada&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-09 08:03:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877576462</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mengapa peringkat PISA Indonesia masih rendah? (Ehm menurut Titin)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877576805</link>
         <description><![CDATA[<div>Ehm...menurut saya, ada beberapa faktor yang mempengaruh, antara lain:<br>1. Rendahnya minat baca (literasi), mungkin diakibatkan banyaknya fasilitas yang memudahkan dan melenakan, seperti fitur-fitur menarik di HP.<br>2. Kurang meratanya tenaga pendidik. Banyak didaerah pelosok yang kekurangan tenaga pendidik.<br>3. Mutu atau kualitas tenaga pendidik. Tenaga-tenaga pendidik yang berkualitas kebanyakan terdapat di kota besar, sedangkan dipedesaan sangat minim dan alakadarnya saja.<br>4. Sarana dan prasarana. Untuk kota-kota besar mungkin tidak jadi masalah tetapi untuk di pelosok, mencari buku bacaan saja sulit. Atau mungkin koran sekedar untuk dibaca, apalagi buku-buku bagus. Dan tentukan teknologi yang memudahkan mereka untuk mendapatkan informasi juga terbatas.<br>5. Wilayah Indonesia yang luas dan dengan kondisi bentang alam yang berbeda-beda. Ini juga menjadi kendala menyebarnya ilmu pengetahuan dengan mudah.<br>6. Kondisi ekonomi bangsa Indonesia, yang juga masih lebih banyak yang kurang mampu, sehingga mereka hanya memikirkan kebutuhan pokok saja.&nbsp;<br>7. Belum lagi kurikulum pendidikan di Indonesia. Tetapi dengan perubahan-perubahan kurikulum akhir-akhri ini mungkin bisa menjadi awal kebangkitan perubahan pola pendidikan dan pemikiran bangsa kita ke depan.<br><br>Mungkin ini sedikit pendapat saya tentang peringkat PISA negara kita. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-09 08:03:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877576805</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mengapa Skor PISA kita Rendah? (Mas&#39;ud)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877593260</link>
         <description><![CDATA[<div>yang pernah saya baca, bahwa selama ini soal-soal ujian di Indonesia memiliki tingkat kesulitan di bawah PISA—yang sudah berbasis HOTS. Hal tersebut dikarenakan negara-negara pendiri OECD (organisasi yang mengadakan PISA) telah menerapkan sistem taksonomi Bloom dalam sistem pendidikan mereka. Sementara kurikulum di Indonesia sama sekali tidak menerapkan sistem tersebut, kecuali untuk ujian nasional. Pantas saja saat ujian sistem HOTS diberlakukan (2018-2019), para siswa di Indonesia mengeluh tak bisa mengerjakan soal. Mereka menganggap materinya terlalu sulit dan belum pernah diajarkan di sekolah, dan akhirnya nilai siswa-siswi indonesia rendah.<br><br>Selain itu kemampuan Literasi anak-anak indonesia masih rendah dan kompetensi gurunya juga masih rendah.&nbsp;<br><br>Oleh karena itu menjadi tantangan bagi kita, bagaimana caranya untuk meningkatkan hasil PISA ini?&nbsp;<br><br>mari kita jawab bersama...<br><br>demikian terimaksih..<br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-09 08:13:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877593260</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Belajar dari hasil Studi PISA (Siska)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877618301</link>
         <description><![CDATA[<div>Hasil skor PISA (Programme for International Student Assessment) untuk Indonesia tahun 2018 telah diumumkan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).&nbsp;</div><div>Pengukuran PISA bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan dengan mengukur kinerja siswa di pendidikan menengah (usia 15 tahun), terutama pada tiga bidang utama, yaitu matematika, sains, dan literasi.&nbsp;</div><div>Hasil PISA 2018 masih menempatkan Indonesia dalam peringkat bawah untuk kemampuan literasi, matematika dan sains. Di antara penilaian untuk 78 negara, Indonesia berada diurutan 72 untuk literasi (skor 371), peringkat 72 untuk matematika (skor 379), dan ranking 70 (skor 396) untuk sains. (Sumber:<a href="https://edukasi.kompas.com/read/2019/12/07/17393181/10-tanggapan-mas-menteri-soal-rapor-merah-skor-pisa-indonesia?page=all">https://edukasi.kompas.com/read/2019/12/07/17393181/10-tanggapan-mas-menteri-soal-rapor-merah-skor-pisa-indonesia?page=all</a>.)<br>Ternyata Indonesia masih harus terus belajar, karena berada di ranking 10 kebawah. Satu sisi saya sebagai guru/pendidik melihat kondisi ini prihatin luar biasa.</div><div>Tapi disisi lain, kita harus belajar kembali, membenahi diri terutama dalam memberikan warna Pendidikan dan pengajaran kepada anak didik kita. Pendidikan harus bisa mengubah pola pikir yang membentuk pola sikap. Karena kita sekolah islam, maka diharapkan bisa membentuk pola pikir islami. Al Qur’an telah menuntun kita dengan shahih. Diawali dengan perintah membaca (turunnya wahyu pertama, yaitu surat Al Alaq). Mengajarkan kita sentiasa membaca dan membaca. Dari kebiasaan membaca dapat menuju pola pikir yang mampu memecahkan permasalahan kehidupan. Intinya ilmu-ilmu yang kita pelajari harus bisa kita aplikasikan dalam kehidupan nyata (<em>problem soving</em>). Mudah-mudahan Pendidikan Indonesia bisa lebih baik lagi tidak hanya terkenal dengan seringnya gunta ganti kurikulum, yang sering membuat para orang tua menjerit. Tapi Pendidikan yang memiliki karakter yang khas.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-09 08:26:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877618301</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sebuah catatan kecil tentang Rendahnya Peringkat Indonesia berdasarkan hasil PISA</title>
         <author>hadifieapps</author>
         <link>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877621818</link>
         <description><![CDATA[<div>Sebelum menuliskan catatan rendahnya peringkat Indonesia berdasarkan hasil PISA, mohon ijin untuk mencoba membuat kerangka berfikir bahwa hasil PISA ini dibutuhkan oleh sebuah negara untuk dapat memperbaiki sistem pendidikannya dengan lebih baik, efektif, efisien dan inklusif. Dengan hasil PISA diharapkan sebuah negara bisa&nbsp;<br>a. Fokus membentuk pelajarnya menjadi pelajar yang bisa tangguh menghadapi tantangan,&nbsp;<br>b. Bisa berfikir analisis dan logika dan juga c. Menciptakan pelajar pelajar yang terus menerus mempunyai keinginan belajarnya sampai akhir kehidupan. Tidak terhenti pada satu titik.&nbsp;<br>Sekarang yang jadi pertanyaan besar adalah kenapa Indonesia bisa mendapatkan hasil PISA yang rendah dibandingkan negara-negara lain. Maka menurut pendapat saya, kita harus melihatnya dari berbagai sisi, prespektif dan juga menyeluruh.&nbsp;<br>1. Jika di lihat Dari sisi pelajar kita ketahui bahwa kemampuan literasi siswa kita masih perlu ditingkatkan. Kita bisa berkaca bahwa kemampuan membaca siswa masih di bawah rata-rata. Ada banyak faktor kenapa minat membaca orang Indonesia masih rendah&nbsp; antara lain, orang tua kurang memberikan stimulus untuk anak senang membaca, karena fasilitas perpustakaan terutama daerah-daerah terpencil sangat kurang, dan juga kurangnya taman bacaan yang ada di sekitar lingkungan. Dari semua itu maka faktor terbesarnya adalahnya karena masyarakat Indonesia belum sepenuhnya memahami manfaat dari membaca.&nbsp;<br>2. Sistem pendidiikan di Indonesia yang dahulu lebih banyak dtitik tekan pada materi pembelajaran lebih banyak di hafal tanpa menstimulus siswa untuk berfikir bagaimana menggunakan materi yang ada untuk bisa menyelesaikan suatu permasalahan. Misalkan kita dahulu lebih banyak menghafal rumus tanpa memahami dari manakah rumus itu berasal.&nbsp;<br>3. Tenaga pendidik dalam hal ini adalah kompetensinya. 4 kompetensi guru belum teroptimalkan dengan baik. Sehingga. Guru yang mempunyai peran dalam menerjemahkan kurikulum dalam ruang-ruang kelasnya menjadi guru yang hanya sekedar mengajar dan terlupa akan hakekat belajar. &nbsp;<br>Oleh karenanya menurut pendapat saya. kita butuh untuk menstimulus siswa-siswa kita untuk menumbuhkan skill&nbsp; yang dibutuhkan pada abad 21, dan pembelajaran era 4.0 bahkan 5.0. Kebutuhan skill pembelajaran abad 21 adalah 4 Critical Thinking, creativity, communication skill, collaboration.&nbsp;<br>nah salah satu point untuk menumbuhkan critical thinking adalah dengan pemberian soal-soal HOTS pada siswa. Soal HOTS pada siswa menumbuhkan kemampuan menyelesaikan suatu masalah secara kreatif, berfikir kritis, mempunyai daya cipta, mampu mengambil keputusan, dan juga mampu memberikan argumen. &nbsp;<br>HOTS juga dibutuhkan untuk bisa beradaptasi dengan perubahan dan menjawab tantangan-tantangan baru dalam menghadapi perkembangan jaman.&nbsp;<br>Demikian catatan kecil saya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-09 08:28:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877621818</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pendapat saya tentang PISA Indonesia rendah. kita bisa coba menjalankan strategi Mas Mentri dengan lima strategi untuk menjalankan pembelajaran holistik demi mengembangkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul. apa saja trateginya?</title>
         <author>ronaldrhiberu</author>
         <link>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877656118</link>
         <description><![CDATA[<div>cek di https://edukasi.kompas.com/read/2020/04/05/154418571/nilai-pisa-siswa-indonesia-rendah-nadiem-siapkan-5-strategi-ini?page=all</div>]]></description>
         <enclosure url="https://edukasi.kompas.com/read/2020/04/05/154418571/nilai-pisa-siswa-indonesia-rendah-nadiem-siapkan-5-strategi-ini?page=all" />
         <pubDate>2021-11-09 08:46:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877656118</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peringkat PISA Indonesia rendah. menurut (eko) </title>
         <author>ekosantosouny</author>
         <link>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877657440</link>
         <description><![CDATA[<div>Menurut saya rendahnya minat baca masyarakat Indonesia ini makin menyebabkan kualitas dan mutu pendidikan di Indonesia juga hanya jalan di tempat (stagnan) dan cenderung mundur. Sudah semestinya pemerintah mendorong dan lebih maksimal lagi dalam menumbuhkan dan meningkatkan budaya membaca masyarakat Indonesia. Mulai dari memperbanyak kegiatan membaca, baik di sekolah maupun di rumah, hingga pengadaan sarana dan prasarana seperti penyediaan buku-buku bacaan dan pelajaran, baik di perpustakaan sekolah, perpustakaan daerah, maupun memperbanyak taman-taman bacaan masyarakat.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-09 08:47:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/popendah567/75sxz4a9gh50h69w/wish/1877657440</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
