<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Refleksi Kerajaan Hindhu-Budha by Dila Putri Anggraini</title>
      <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-09-19 09:49:41 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-12-03 16:13:25 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>MOHD.AIZZAM MUDDIN XTKR3 NO 22</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128909682</link>
         <description><![CDATA[<p><br></p><p><br></p><p>Sejarah Nusantara pada Era Kerajaan Hindu Buddha berkembang karena hubungan dagang wilayah Nusantara dengan negara-negara dari luar, seperti India, Tiongkok, dan wilayah Timur Tengah. Agama Hindu masuk ke Indonesia pada periode tarikh Masehi. Ajaran Hindu yang berkembang di beberapa tempat di Nusantara disebut dengan aliran Waiṣṇawa, yaitu suatu ajaran yang memuja Dewa Wiṣṇu sebagai dewa utama. Ajaran ini dianut oleh kelompok-kelompok masyarakat di Situs Kota Kapur, Bangka, Situs Cibuaya, Situs Karawang dan Situs Muarakaman, Kutai (pada sekitar abad ke- 5-7 M). Bukti adanya Agama Hindu tampak pada prasasti Tuk Mas yang ditemukan di Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang, Jawa Tengah, di lereng Gunung Merbabu yang diperkirakan berasal dari pertengahan abad ke-7</p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p>Dalam ajaran Buddha, diketahui dianut oleh kelompok masyarakat Nusantara tepatnya di Situs Batujaya, Situs Bukit Siguntang di Sumatera Selatan, dan Situs Batu Pait di Kalimantan Barat pada sekitar abad ke-6-7 M.Proses penyebaran agama Buddha dilakukan oleh para Dharmaduta yang bertugas untuk menyebarkan Dharma atau ajaran Buddha ke seluruh dunia. Penyebaran agama Buddha di Indonesia dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri yang belajar di India dan menjadi Bhiksu kemudian menyebarkan ajarannya di Nusantara. Untuk di daerah pulau Jawa, agama Buddha datang pada Abad ke-5 yang disebarkan oleh pangeran Khasmir (bernama Gunadharma). Pada abad ke-9, penyebaran Agama Buddha dilakukan oleh pendeta-pendeta dari wilayah India yaitu Gaudidwipa (benggala) dan Gujaradesa (Gujarat). Bukti tertua adanya pengaruh Buddha India di Indonesia adalah dengan ditemukannya Arca Buddha dari perunggu di Sempaga, Sulawesi Selatan. Antara abad ke 4 hingga abad ke 16 di berbagai wilayah nusantara berdiri berbagai kerajaan yang bercorak agama Hindu dan Buddha</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-20 02:25:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128909682</guid>
      </item>
      <item>
         <title>OKAVELINO M GIWANARA A 10 TKR 3/25</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128911240</link>
         <description><![CDATA[<p> Apresiasi terhadap warisan budaya: Kita perlu menghargai dan melestarikan warisan budaya yang ditinggalkan oleh kerajaan- kerajaan Hindu- Buddha. Toleransi dan keberagaman: Kehidupan beragama yang harmonis pada masa itu dapat menjadi contoh bagi kita untuk hidup berdampingan secara damai. Pentingnya pendidikan dan pengetahuan: Kemajuan kerajaan- kerajaan Hindu- Buddha tidak lepas dari peran pendidikan dan pengetahuan. Ketahanan dan adaptasi: Kita dapat belajar dari kemampuan kerajaan- kerajaan Hindu- Buddha dalam menghadapi perubahan dan tantangan</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-20 02:26:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128911240</guid>
      </item>
      <item>
         <title>6.AZRIYAL REZA PRATAMA</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128913067</link>
         <description><![CDATA[<p><a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Nusantara">Sejarah Nusantara</a>&nbsp;pada Era Kerajaan Hindu Buddha berkembang karena hubungan dagang wilayah&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Nusantara">Nusantara</a>&nbsp;dengan negara-negara dari luar, seperti&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/India">India</a>,&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tiongkok">Tiongkok</a>, dan wilayah&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Timur_Tengah">Timur Tengah</a>. Agama Hindu masuk ke&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Indonesia">Indonesia</a>&nbsp;pada periode tarikh Masehi. Ajaran&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Agama_Hindu">Hindu</a>&nbsp;yang berkembang di beberapa tempat di Nusantara disebut dengan aliran&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Waisnawa">Waiṣṇawa</a>, yaitu suatu ajaran yang memuja&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Wisnu">Dewa Wiṣṇu</a>&nbsp;sebagai&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Dewa">dewa</a>&nbsp;utama. Ajaran ini dianut oleh kelompok-kelompok masyarakat di Situs&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kota_Kapur,_Mendo_Barat,_Bangka">Kota Kapur</a>, Bangka, Situs&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Cibuaya,_Karawang">Cibuaya</a>,&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" class="new" href="https://id.m.wikipedia.org/w/index.php?title=Situs_Karawang&amp;action=edit&amp;redlink=1">Situs Karawang</a>&nbsp;dan&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" class="new" href="https://id.m.wikipedia.org/w/index.php?title=Situs_Muarakaman&amp;action=edit&amp;redlink=1">Situs Muarakaman</a>,&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" class="mw-disambig" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kutai">Kutai</a>&nbsp;(pada sekitar abad ke- 5-7 M). Bukti adanya Agama Hindu tampak pada prasasti Tuk Mas yang ditemukan di Desa&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Lebak">Lebak</a>, Kecamatan Grabag,&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" class="mw-redirect" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Magelang">Magelang</a>, Jawa Tengah, di lereng Gunung&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gunung_Merbabu">Merbabu</a>&nbsp;yang diperkirakan berasal dari pertengahan abad ke-7</p><p>Dalam ajaran Buddha, diketahui dianut oleh kelompok masyarakat Nusantara tepatnya di Situs&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Batujaya,_Karawang">Batujaya</a>,&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" class="new" href="https://id.m.wikipedia.org/w/index.php?title=Situs_Bukit_Siguntang&amp;action=edit&amp;redlink=1">Situs Bukit Siguntang</a>&nbsp;di&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Selatan">Sumatera Selatan</a>, dan&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Situs_Batu_Pait">Situs Batu Pait</a>&nbsp;di&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Barat">Kalimantan Barat</a>&nbsp;pada sekitar abad ke-6-7 M.<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Nusantara_pada_era_kerajaan_Hindu-Buddha#cite_note-FOOTNOTEIndradjaja201430-1"><sup>[1]</sup></a>&nbsp;Proses penyebaran agama Buddha dilakukan oleh para&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" class="new" href="https://id.m.wikipedia.org/w/index.php?title=Dharmaduta&amp;action=edit&amp;redlink=1">Dharmaduta</a>&nbsp;yang bertugas untuk menyebarkan&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Dharma">Dharma</a>&nbsp;atau ajaran Buddha ke seluruh dunia. Penyebaran agama Buddha di Indonesia dilakukan oleh&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" class="mw-redirect" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Indonesia">bangsa Indonesia</a>&nbsp;sendiri yang belajar di India dan menjadi&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Biksu">Bhiksu</a>&nbsp;kemudian menyebarkan ajarannya di Nusantara. Untuk di daerah pulau&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Jawa">Jawa</a>, agama Buddha datang pada Abad ke-5 yang disebarkan oleh&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" class="new" href="https://id.m.wikipedia.org/w/index.php?title=Pangeran_Khasmir&amp;action=edit&amp;redlink=1">pangeran Khasmir</a>&nbsp;(bernama&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gunadharma">Gunadharma</a>). Pada abad ke-9, penyebaran Agama Buddha dilakukan oleh pendeta-pendeta dari wilayah India yaitu&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" class="new" href="https://id.m.wikipedia.org/w/index.php?title=Gaudidwipa&amp;action=edit&amp;redlink=1">Gaudidwipa</a>&nbsp;(<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Benggala">benggala</a>) dan&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" class="new" href="https://id.m.wikipedia.org/w/index.php?title=Gujaradesa&amp;action=edit&amp;redlink=1">Gujaradesa</a>&nbsp;(<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gujarat">Gujarat</a>). Bukti tertua adanya pengaruh Buddha India di Indonesia adalah dengan ditemukannya&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Arca">Arca</a>&nbsp;Buddha dari perunggu di Sempaga,&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Selatan">Sulawesi Selatan</a>. Antara abad ke 4 hingga abad ke 16 di berbagai wilayah nusantara berdiri berbagai kerajaan yang bercorak agama Hindu dan Buddha.<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Nusantara_pada_era_kerajaan_Hindu-Buddha#cite_note-FOOTNOTEFauzi20171731-2"><sup>[2]</sup></a></p><p>Sejak masuknya agama Hindu dan Buddha, masyarakat prasejarah Nusantara yang sebelumnya memiliki kepercayaan&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Animisme">animisme</a>&nbsp;dan&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" class="mw-disambig" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Dinamisme">dinamisme</a>&nbsp;beralih memeluk agama Hindu dan Buddha</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-20 02:27:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128913067</guid>
      </item>
      <item>
         <title>APRI WAHYUDI/X TKR 3/05</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128915703</link>
         <description><![CDATA[<p>Apresiasi terhadap warisan budaya: Kita perlu menghargai dan melestarikan warisan budaya yang ditinggalkan oleh kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha.</p><p><br></p><p>Toleransi dan keberagaman:</p><p><br></p><p>Kehidupan beragama yang harmonis pada masa itu dapat menjadi contoh bagi kita untuk hidup berdampingan secara damai.</p><p><br></p><p>• Pentingnya pendidikan dan pengetahuan:</p><p><br></p><p>Kemajuan kerajaan- kerajaan Hindu- Buddha tidak lepas dari peran pendidikan dan pengetahuan.</p><p><br></p><p>Ketahanan dan adaptasi: Kita dapat belajar dari kemampuan kerajaan- kerajaan Hindu- Buddha dalam menghadapi perubahan dan tantangan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-20 02:28:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128915703</guid>
      </item>
      <item>
         <title>dava jhorgy angga bima saputra / 9 / 10 tkr 3 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128918904</link>
         <description><![CDATA[<p>Agama Hindu-Buddha mulai berkembang di Indonesia pada awal masehi lewat aktivitas perdagangan. Pada masa itu, hubungan dagang antara Nusantara dengan negara-negara India, Tiongkok, dan Timur Tengah membuat agama Hindu-Buddha masuk dengan mudah di kalangan masyarakat.<br><br>Masuknya Hindu-Buddha ke Indonesia tentu membawa pengaruh yang cukup signifikan di beberapa bidang, seperti kebudayaan, kepercayaan, ekonomi, sosial, dan pemerintahan. Perkembangan pesat agama Hindu-Buddha juga diikuti dengan berdirinya banyak kerajaan bercorak Hindu-Buddha pada masa itu.<br><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-20 02:29:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128918904</guid>
      </item>
      <item>
         <title>subas tape</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128919747</link>
         <description><![CDATA[<p>HAKI NGELAMAK</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-20 02:30:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128919747</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Satya Dewangga p/28/10 TKR 3</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128919849</link>
         <description><![CDATA[<p>Agama Hindu-Buddha mulai berkembang di Indonesia pada awal masehi lewat aktivitas perdagangan. Pada masa itu, hubungan dagang antara Nusantara dengan negara-negara India, Tiongkok, dan Timur Tengah membuat agama Hindu-Buddha masuk dengan mudah di kalangan masyarakat</p><p>Masuknya Hindu-Buddha ke Indonesia tentu membawa pengaruh yang cukup signifikan di beberapa bidang, seperti kebudayaan, kepercayaan, ekonomi, sosial, dan pemerintahan. Perkembangan pesat agama Hindu-Buddha juga diikuti dengan berdirinya banyak kerajaan bercorak Hindu-Buddha pada masa itu.</p><p>Kerajaan Salakanagara adalah salah satu kerajaan di Indonesia yang berdiri antara tahun 130-362 M. Salakanagara diyakini sebagai leluhur Suku Sunda, karena wilayah peradaban keduanya sama persis. Pendiri Kerajaan Salakanagara adalah Dewawarman I yang memerintah antara 130-168 M dengan gelar Prabu Darmalokapala Aji Raksa Gapura Sagara.</p><p>Kerajaan Hindu-Buddha yang juga sempat berdiri di Indonesia adalah: Kerajaan Indraprahasta (598-747 M) Kerajaan Melayu (671-1375 M) Kerajaan Sriwijaya (683-1377 M) Kerajaan Sunda (932-1579 M) Kerajaan Galuh (612-1595 M) Kerajaan Mataram Kuno (732-1007 M) Kerajaan Kajuruhan (800-an) Kerajaan Bali (913-1908 M) Kerajaan Kahuripan (1019-1045 M) Kerajaan Pajajaran (923-1597 M) Kerajaan Jenggala (1045-1136 M) Kerajaan Kediri (1045-1222 M) Kerajaan Singasari (1222-1292 M) Kerajaan Majapahit (1293-1500 M)</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-20 02:30:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128919849</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ahmad Sariffudin (1) X TKR 3 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128921882</link>
         <description><![CDATA[<p>Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia – Hindu-Buddha menjadi salah satu agama yang berkembang pesat di Nusantara pada masa lampau. Pengaruh agama Hindu mencapai Nusantara diperkirakan sejak abad ke-1. Perkembangan pesat agama Hindu diikuti dengan berdirinya banyak kerajaan bercorak Hindu saat itu. Beberapa kerajaan yang berdiri sekitar abad ke-4, yaitu Kerajaan Kutai Martapura di Kalimantan Timur, Tarumanagara di Jawa Barat, Kerajaan Kalingga di Pantai Utara Jawa Tengah, dan Kerajaan Bedahulu di Gianyar.</p><p><br></p><p>Adapun kerajaan Hindu kuno di Nusantara yang menonjol adalah Kerajaan Medang karena dikenal membangun Candi Prambanan. Sejak itulah, agama Hindu kemudian menyebar bersama dengan Buddhisme di seluruh Nusantara dan mencapai puncak pengaruhnya pada abad ke-14.</p><p>1. Kerajaan Kutai Martapura</p><p>Prasasti Yupa.</p><p><br></p><p>Menurut kajian yang dilakukan oleh Muhammad Sarip (2021) dalam bukunya berjudul Kerajaan Martapura dalam Literasi Sejarah Kutai 400–1635, kerajaan Hindu tertua di Nusantara adalah Martapura (bukan Martadipura) di Kecamatan Muara Kaman, bukan Kutai Kertanegara (berdiri abad ke 14)Yupa berjumlah tujuh buah itu mayoritas menceritakan kemakmuran periode Mulawarman. Kini, ketujuh batu Yupa tersebut berada di Museum Nasional.</p><p>penguasa Kerajaan Kutai Martapura antara lain:</p><p><br></p><p><br></p><p>Maharaja Kundungga Anumerta Dewawarman;</p><p>Maharaja Aswawarman;</p><p>Maharaja Mulawarman;</p><p>Maharaja Sri Aswawarman;</p><p>Maharaja Marawijayawarman;</p><p>Maharaja Gajayanawarman;</p><p>Maharaja Tunggawarman;</p><p>Maharaja Jayanagawarman;</p><p>Maharaja Nalasingawarman;</p><p>Maharaja Nala Parana Tungga;</p><p>Maharaja Gadinggawarman Dewa;</p><p>Maharaja Indrawarman Dewa;</p><p>Maharaja Sanggawarman Dewa;</p><p>Maharaja Candrawarman;</p><p>Maharaja Prabu Mula Tungga Dewa;</p><p>Maharaja Nala Indra Dewa;</p><p>Maharaja Indra Mulyawarman Dewa;</p><p>Maharaja Sri Langka Dewa;</p><p>Maharaja Guna Parana Dewa;</p><p>Maharaja Wijayawarman;</p><p>Maharaja Indra Mulya;</p><p>Maharaja Sri Aji Dewa;</p><p>Maharaja Mulia Putera;</p><p>Maharaja Nala Pandita;</p><p>Maharaja Indra Paruta Dewa;</p><p>Maharaja Dermasatia.</p><p><br></p><p><br></p><p>2. Kerajaan Tarumanagara</p><p>Tarumanagara atau Kerajaan Taruma merupakan sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah barat pulau Jawa pada abad ke-5 hingga abad ke-7 M. Tarumanagara merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan catatan sejarah dan peninggalan artefak di sekitar lokasi kerajaan. Peninggalan-peninggalan itu memperlihatkan jika Tarumanagara merupakan kerajaan Hindu aliran Waisnawa.</p><p>Kata tarumanagara berasal dari kata taruma dan nagara. Nagara artinya kerajaan atau negara, sedangkan taruma berasal dari kata “tarum” yang merupakan nama sungai yang membelah Jawa Barat, yaitu Ci Tarum.</p><p>Adapun raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Tarumanagara antara lain:</p><p><br></p><p>Jayasingawarman (358–382);</p><p>Dharmayawarman (382–395);</p><p>Purnawarman (395–434);</p><p>Wisnuwarman (434–455);</p><p>Indrawarman (455–515);</p><p>Candrawarman (515–535);</p><p>Suryawarman (535–561);</p><p>Kertawarman (561–628);</p><p>Sudhawarman (628–639);</p><p>Hariwangsawarman (639–640);</p><p>Nagajayawarman (640–666);</p><p>Linggawarman (666–669).</p><p><br></p><p><br></p><p>3. Kerajaan Medang</p><p>Catatan awal Kerajaan Medang ada dalam prasasti Canggal (732), yang ditemukan di dalam kompleks Candi Gunung Wukir di Dusun Canggal, barat daya Kabupaten Magelang. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sanskerta dan menggunakan aksara Pallawa. Isinya menceritakan tentang pendirian Siwalingga (lambang Siwa) di daerah Kuñjarakuñjadeça (Kunjarakunja), yang terletak di pulau bernama Yawadwipa (Jawa) yang diberkahi dengan banyak beras dan emas.</p><p>Kisah Sanna, Sannaha, dan Sanjaya juga dijelaskan dalam Carita Parahyangan, sebuah naskah yang disusun sekitar akhir abad ke-16. Secara garis besar, kisah dari naskah Carita Parahyangan memiliki kesamaan tokoh dengan Prasasti Canggal.</p><p><br></p><p>4. Kerajaan Sriwijaya</p><p><br></p><p>Candi Muara Takus dianggap telah ada pada zaman keemasan Sriwijaya, sehingga beberapa sejarawan menganggapnya sebagai salah satu peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya</p><p>Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan maritim yang berada di Sumatra, tetapi kekuasaannya mencapai Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Semenanjung Malaya, Thailand, Kamboja dan lainnya. Sriwijaya berasal dari bahasa Sanskerta, sri yang berarti “bercahaya” dan vijaya yang berarti “kemenangan”.</p><p><br></p><p><br></p><p>5. Kerajaan Kadiri</p><p>Masa-masa awal Kerajaan Kadiri atau Panjalu tidak banyak diketahui. Prasasti Turun Hyang II (1044) yang dikeluarkan oleh Kerajaan Janggala hanya memberitakan adanya perang saudara antara kedua putra Airlangga.</p><p><br></p><p>Pada akhir November 1042, Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Putra yang bernama Sri Samarawijaya mendapatkan kerajaan barat bernama Panjalu dan pusatnya di kota baru, yaitu Daha. Adapun putranya yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Janggala dan pusatnya di kota lama, yaitu Kahuripan.</p><p><br></p><p><br></p><p>6. Kerajaan Singhasari</p><p><br></p><p>Candi Singhasari dibangun sebagai tempat pemuliaan Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singhasari.</p><p><br></p><p>Berdasarkan Prasasti Kudadu, nama resmi Kerajaan Singhasari adalah Kerajaan Tumapel. Menurut Nagarakretagama, ibu kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja ketika pertama kali didirikan tahun 1222.</p><p><br></p><p>Pada 1253, Raja Wisnuwardhana awalnya mengangkat putranya yang bernama Kertanagara sebagai yuwaraja (putra mahkota) dan mengganti nama ibu kota kerajaan menjadi Singhasari. Nama Singhasari yang merupakan nama ibu kota kemudian justru lebih terkenal daripada nama Tumapel</p><p><br></p><p>7.Kerajaan Majapahit</p><p>Majapahit adalah sebuah kerajaan kuno di Indonesia yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan pada masa kekuasaan Hayam Wuruk yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389. Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Semenanjung Malaya dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia.</p><p><br></p><p>Majapahit banyak meninggalkan tempat-tempat suci, sisa-sisa sarana ritual keagamaan masa itu. Bangunan-bangunan suci ini dikenal dengan nama candi, pemandian suci (pertirtan) dan gua-gua pertapaan. Bangunan-bangunan yang ditinggalkan tersebut kebanyakan beraliran agama Siwa dan sedikit yang bersifat agama Buddha, yaitu lain  Candi Jago, Bhayalangu, Sanggrahan, dan Jabung. Peninggalan lain dari kerajaan ini adalah Kakawin Nagarakretagama, Arjunawijaya, dan Sutasom</p><p>a.</p><p><br></p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-20 02:31:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128921882</guid>
      </item>
      <item>
         <title>TIAN AL SYAMSYA/31/X TKR3</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128924345</link>
         <description><![CDATA[<ul><li><p><strong>Apresiasi terhadap warisan budaya:</strong> Kita perlu menghargai dan melestarikan warisan budaya yang ditinggalkan oleh kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha.</p></li><li><p><strong>Toleransi dan keberagaman:</strong> Kehidupan beragama yang harmonis pada masa itu dapat menjadi contoh bagi kita untuk hidup berdampingan secara damai.</p></li><li><p><strong>Pentingnya pendidikan dan pengetahuan:</strong> Kemajuan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha tidak lepas dari peran pendidikan dan pengetahuan.</p></li><li><p><strong>Ketahanan dan adaptasi:</strong> Kita dapat belajar dari kemampuan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha dalam menghadapi perubahan dan tantangan.</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-20 02:33:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128924345</guid>
      </item>
      <item>
         <title>DHAVIN DIANDRA RADITYA 10 / XTKR 3 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128928703</link>
         <description><![CDATA[<p>Sejarah Nusantara pada Era Kerajaan Hindu Buddha berkembang karena hubungan dagang wilayah Nusantara dengan negara-negara dari luar, seperti India, Tiongkok, dan wilayah Timur Tengah. Agama Hindu masuk ke Indonesia pada periode tarikh Masehi. Ajaran Hindu yang berkembang di beberapa tempat di Nusantara disebut dengan aliran Waiṣṇawa, yaitu suatu ajaran yang memuja Dewa Wiṣṇu sebagai dewa utama. Ajaran ini dianut oleh kelompok-kelompok masyarakat di Situs Kota Kapur, Bangka, Situs Cibuaya, Situs Karawang dan Situs Muarakaman, Kutai (pada sekitar abad ke- 5-7 M). Bukti adanya Agama Hindu tampak pada prasasti Tuk Mas yang ditemukan di Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang, Jawa Tengah, di lereng Gunung Merbabu yang diperkirakan berasal dari pertengahan abad ke-7</p><p>Dalam ajaran Buddha, diketahui dianut oleh kelompok masyarakat Nusantara tepatnya di Situs Batujaya, Situs Bukit Siguntang di Sumatera Selatan, dan Situs Batu Pait di Kalimantan Barat pada sekitar abad ke-6-7 M.Proses penyebaran agama Buddha dilakukan oleh para Dharmaduta yang bertugas untuk menyebarkan Dharma atau ajaran Buddha ke seluruh dunia. Penyebaran agama Buddha di Indonesia dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri yang belajar di India dan menjadi Bhiksu kemudian menyebarkan ajarannya di Nusantara. Untuk di daerah pulau Jawa, agama Buddha datang pada Abad ke-5 yang disebarkan oleh pangeran Khasmir (bernama Gunadharma). Pada abad ke-9, penyebaran Agama Buddha dilakukan oleh pendeta-pendeta dari wilayah India yaitu Gaudidwipa (benggala) dan Gujaradesa (Gujarat). Bukti tertua adanya pengaruh Buddha India di Indonesia adalah dengan ditemukannya Arca Buddha dari perunggu di Sempaga, Sulawesi Selatan. Antara abad ke 4 hingga abad ke 16 di berbagai wilayah nusantara berdiri berbagai kerajaan yang bercorak agama Hindu dan Buddha.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-20 02:35:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128928703</guid>
      </item>
      <item>
         <title>haki arek ngelamakk</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128931329</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-20 02:36:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128931329</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mochammad Choirul Rizal 21/xtkr 3</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128934589</link>
         <description><![CDATA[<p>Kerajaan Kutai</p><p>Kerajaan Hindu tertua di Nusantara yang berdiri pada abad ke-4 Masehi di dekat Sungai Mahakam, Kalimantan Timur </p><p> </p><p><br></p><p>Kerajaan Tarumanegara</p><p>Kerajaan tertua di Jawa Barat </p><p> </p><p>Kerajaan Sriwijaya</p><p>Salah satu kerajaan maritim Hindu-Buddha terbesar di Nusantara yang pernah menjadi pusat pengembangan agama Buddha di Asia Tenggara </p><p> </p><p><br></p><p>Kerajaan Salakanagara</p><p>Kerajaan yang meliputi daerah Jawa bagian barat dan diyakini sebagai leluhur Suku Sunda </p><p> </p><p><br></p><p>Kerajaan Singasari</p><p>Kerajaan bercorak Hindu yang berada di sekitar Kota Malang, Jawa Timur </p><p> </p><p><br></p><p>Kerajaan Kalingga</p><p>Kerajaan bercorak Buddha yang terletak di pantai utara Jawa Tengah, antara Kabupaten Pekalongan dan Jepara </p><p> </p><p>Kerajaan Tulang Bawang</p><p>Kerajaan yang diperkirakan ada sejak abad ke-5 Masehi </p><p> </p><p>Kerajaan Kota Kapur</p><p>Kerajaan yang diperkirakan eksis pada sekitar abad ke-6 sampai ke-7 Masehi, dan terletik di Kota Kapur, Pulau Bangka </p><p> </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-20 02:38:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128934589</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ZIDAN FAHREL ISLAMI [37] 10 TKR 3 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128935527</link>
         <description><![CDATA[<p>Kita harus memwariskan kepada cucu kita dam Kita perlu menghargai dan melestarikan warisan budaya yang ditinggalkan oleh kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha.kita perlu meyakini kepada Indonesia bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki nilai yang bagusKita harus memwariskan kepada cucu kita dam Kita perlu menghargai dan melestarikan warisan budaya yang ditinggalkan oleh kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha.kita perlu meyakini kepada Indonesia bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki nilai yang bagus</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-20 02:39:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128935527</guid>
      </item>
      <item>
         <title>opet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewaopet opet dewa</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128936234</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-20 02:39:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128936234</guid>
      </item>
      <item>
         <title>subas tape ponorogosubas tape ponorogosubas tape ponorogosubas tape ponorogosubas tape ponorogosubas tape ponorogosubas tape ponorogosubas tape ponorogo</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128937392</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-20 02:40:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128937392</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Andi Reyzha 03</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128938142</link>
         <description><![CDATA[<p>Dalam ajaran Buddha, diketahui dianut oleh kelompok masyarakat Nusantara tepatnya di Situs Batujaya, Situs Bukit Siguntang di Sumatera Selatan, dan Situs Batu Pait di Kalimantan Barat pada sekitar abad ke-6-7 M.Proses penyebaran agama Buddha dilakukan oleh para Dharmaduta yang bertugas untuk menyebarkan Dharma atau ajaran Buddha ke seluruh dunia. Penyebaran agama Buddha di Indonesia dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri yang belajar di India dan menjadi Bhiksu kemudian menyebarkan ajarannya di Nusantara. Untuk di daerah pulau Jawa, agama Buddha datang pada Abad ke-5 yang disebarkan oleh pangeran Khasmir (bernama Gunadharma). Pada abad ke-9, penyebaran Agama Buddha dilakukan oleh pendeta-pendeta dari wilayah India yaitu Gaudidwipa (benggala) dan Gujaradesa (Gujarat). Bukti tertua adanya pengaruh Buddha India di Indonesia adalah dengan ditemukannya Arca Buddha dari perunggu di Sempaga, Sulawesi Selatan. Antara abad ke 4 hingga abad ke 16 di berbagai wilayah.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-20 02:40:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128938142</guid>
      </item>
      <item>
         <title>MAS ADIB DAMAR S X_TKR-3/19</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128938327</link>
         <description><![CDATA[<p>Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia – Hindu-Buddha menjadi salah satu agama yang berkembang pesat di Nusantara pada masa lampau. Pengaruh agama Hindu mencapai Nusantara diperkirakan sejak abad ke-1. Perkembangan pesat agama Hindu diikuti dengan berdirinya banyak kerajaan bercorak Hindu saat itu. Beberapa kerajaan yang berdiri sekitar abad ke-4, yaitu Kerajaan Kutai Martapura di Kalimantan Timur, Tarumanagara di Jawa Barat, Kerajaan Kalingga di Pantai Utara Jawa Tengah, dan Kerajaan Bedahulu di Gianyar.</p><p><br></p><p>Adapun kerajaan Hindu kuno di Nusantara yang menonjol adalah Kerajaan Medang karena dikenal membangun Candi Prambanan. Sejak itulah, agama Hindu kemudian menyebar bersama dengan Buddhisme di seluruh Nusantara dan mencapai puncak pengaruhnya pada abad ke-14.</p><p>1. Kerajaan Kutai Martapura</p><p>Prasasti Yupa.</p><p><br></p><p>Menurut kajian yang dilakukan oleh Muhammad Sarip (2021) dalam bukunya berjudul Kerajaan Martapura dalam Literasi Sejarah Kutai 400–1635, kerajaan Hindu tertua di Nusantara adalah Martapura (bukan Martadipura) di Kecamatan Muara Kaman, bukan Kutai Kertanegara (berdiri abad ke 14)Yupa berjumlah tujuh buah itu mayoritas menceritakan kemakmuran periode Mulawarman. Kini, ketujuh batu Yupa tersebut berada di Museum Nasional.</p><p>penguasa Kerajaan Kutai Martapura antara lain:</p><p><br></p><p><br></p><p>Maharaja Kundungga Anumerta Dewawarman;</p><p>Maharaja Aswawarman;</p><p>Maharaja Mulawarman;</p><p>Maharaja Sri Aswawarman;</p><p>Maharaja Marawijayawarman;</p><p>Maharaja Gajayanawarman;</p><p>Maharaja Tunggawarman;</p><p>Maharaja Jayanagawarman;</p><p>Maharaja Nalasingawarman;</p><p>Maharaja Nala Parana Tungga;</p><p>Maharaja Gadinggawarman Dewa;</p><p>Maharaja Indrawarman Dewa;</p><p>Maharaja Sanggawarman Dewa;</p><p>Maharaja Candrawarman;</p><p>Maharaja Prabu Mula Tungga Dewa;</p><p>Maharaja Nala Indra Dewa;</p><p>Maharaja Indra Mulyawarman Dewa;</p><p>Maharaja Sri Langka Dewa;</p><p>Maharaja Guna Parana Dewa;</p><p>Maharaja Wijayawarman;</p><p>Maharaja Indra Mulya;</p><p>Maharaja Sri Aji Dewa;</p><p>Maharaja Mulia Putera;</p><p>Maharaja Nala Pandita;</p><p>Maharaja Indra Paruta Dewa;</p><p>Maharaja Dermasatia.</p><p><br></p><p><br></p><p>2. Kerajaan Tarumanagara</p><p>Tarumanagara atau Kerajaan Taruma merupakan sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah barat pulau Jawa pada abad ke-5 hingga abad ke-7 M. Tarumanagara merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan catatan sejarah dan peninggalan artefak di sekitar lokasi kerajaan. Peninggalan-peninggalan itu memperlihatkan jika Tarumanagara merupakan kerajaan Hindu aliran Waisnawa.</p><p>Kata tarumanagara berasal dari kata taruma dan nagara. Nagara artinya kerajaan atau negara, sedangkan taruma berasal dari kata “tarum” yang merupakan nama sungai yang membelah Jawa Barat, yaitu Ci Tarum.</p><p>Adapun raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Tarumanagara antara lain:</p><p><br></p><p>Jayasingawarman (358–382);</p><p>Dharmayawarman (382–395);</p><p>Purnawarman (395–434);</p><p>Wisnuwarman (434–455);</p><p>Indrawarman (455–515);</p><p>Candrawarman (515–535);</p><p>Suryawarman (535–561);</p><p>Kertawarman (561–628);</p><p>Sudhawarman (628–639);</p><p>Hariwangsawarman (639–640);</p><p>Nagajayawarman (640–666);</p><p>Linggawarman (666–669).</p><p><br></p><p><br></p><p>3. Kerajaan Medang</p><p>Catatan awal Kerajaan Medang ada dalam prasasti Canggal (732), yang ditemukan di dalam kompleks Candi Gunung Wukir di Dusun Canggal, barat daya Kabupaten Magelang. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sanskerta dan menggunakan aksara Pallawa. Isinya menceritakan tentang pendirian Siwalingga (lambang Siwa) di daerah Kuñjarakuñjadeça (Kunjarakunja), yang terletak di pulau bernama Yawadwipa (Jawa) yang diberkahi dengan banyak beras dan emas.</p><p>Kisah Sanna, Sannaha, dan Sanjaya juga dijelaskan dalam Carita Parahyangan, sebuah naskah yang disusun sekitar akhir abad ke-16. Secara garis besar, kisah dari naskah Carita Parahyangan memiliki kesamaan tokoh dengan Prasasti Canggal.</p><p><br></p><p>4. Kerajaan Sriwijaya</p><p><br></p><p>Candi Muara Takus dianggap telah ada pada zaman keemasan Sriwijaya, sehingga beberapa sejarawan menganggapnya sebagai salah satu peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya</p><p>Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan maritim yang berada di Sumatra, tetapi kekuasaannya mencapai Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Semenanjung Malaya, Thailand, Kamboja dan lainnya. Sriwijaya berasal dari bahasa Sanskerta, sri yang berarti “bercahaya” dan vijaya yang berarti “kemenangan”.</p><p><br></p><p><br></p><p>5. Kerajaan Kadiri</p><p>Masa-masa awal Kerajaan Kadiri atau Panjalu tidak banyak diketahui. Prasasti Turun Hyang II (1044) yang dikeluarkan oleh Kerajaan Janggala hanya memberitakan adanya perang saudara antara kedua putra Airlangga.</p><p><br></p><p>Pada akhir November 1042, Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Putra yang bernama Sri Samarawijaya mendapatkan kerajaan barat bernama Panjalu dan pusatnya di kota baru, yaitu Daha. Adapun putranya yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Janggala dan pusatnya di kota lama, yaitu Kahuripan.</p><p><br></p><p><br></p><p>6. Kerajaan Singhasari</p><p><br></p><p>Candi Singhasari dibangun sebagai tempat pemuliaan Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singhasari.</p><p><br></p><p>Berdasarkan Prasasti Kudadu, nama resmi Kerajaan Singhasari adalah Kerajaan Tumapel. Menurut Nagarakretagama, ibu kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja ketika pertama kali didirikan tahun 1222.</p><p><br></p><p>Pada 1253, Raja Wisnuwardhana awalnya mengangkat putranya yang bernama Kertanagara sebagai yuwaraja (putra mahkota) dan mengganti nama ibu kota kerajaan menjadi Singhasari. Nama Singhasari yang merupakan nama ibu kota kemudian justru lebih terkenal daripada nama Tumapel</p><p><br></p><p>7.Kerajaan Majapahit</p><p>Majapahit adalah sebuah kerajaan kuno di Indonesia yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan pada masa kekuasaan Hayam Wuruk yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389. Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Semenanjung Malaya dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia.</p><p><br></p><p>Majapahit banyak meninggalkan tempat-tempat suci, sisa-sisa sarana ritual keagamaan masa itu. Bangunan-bangunan suci ini dikenal dengan nama candi, pemandian suci (pertirtan) dan gua-gua pertapaan. Bangunan-bangunan yang ditinggalkan tersebut kebanyakan beraliran agama Siwa dan sedikit yang bersifat agama Buddha, yaitu lain  Candi Jago, Bhayalangu, Sanggrahan, dan Jabung. Peninggalan lain dari kerajaan ini adalah Kakawin Nagarakretagama, Arjunawijaya, dan Sutasom</p><p>a.</p><p><br></p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-20 02:40:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128938327</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Andriano ferdhiansyah/X-TKR-3/04</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128958452</link>
         <description><![CDATA[<p>Sejarah Nusantara pada Era Kerajaan Hindu Buddha berkembang karena hubungan dagang wilayah Nusantara dengan negara-negara dari luar, seperti India, Tiongkok, dan wilayah Timur Tengah. Agama Hindu masuk ke Indonesia pada periode tarikh Masehi. Ajaran Hindu yang berkembang di beberapa tempat di Nusantara disebut dengan aliran Waiṣṇawa, yaitu suatu ajaran yang memuja Dewa Wiṣṇu sebagai dewa utama. Ajaran ini dianut oleh kelompok-kelompok masyarakat di Situs Kota Kapur, Bangka, Situs Cibuaya, Situs Karawang dan Situs Muarakaman, Kutai (pada sekitar abad ke- 5-7 M). Bukti adanya Agama Hindu tampak pada prasasti Tuk Mas yang ditemukan di Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang, Jawa Tengah, di lereng Gunung Merbabu yang diperkirakan berasal dari pertengahan abad ke-7</p><p>Dalam ajaran Buddha, diketahui dianut oleh kelompok masyarakat Nusantara tepatnya di Situs Batujaya, Situs Bukit Siguntang di Sumatera Selatan, dan Situs Batu Pait di Kalimantan Barat pada sekitar abad ke-6-7 M.[1] Proses penyebaran agama Buddha dilakukan oleh para Dharmaduta yang bertugas untuk menyebarkan Dharma atau ajaran Buddha ke seluruh dunia. Penyebaran agama Buddha di Indonesia dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri yang belajar di India dan menjadi Bhiksu kemudian menyebarkan ajarannya di Nusantara. Untuk di daerah pulau Jawa, agama Buddha datang pada Abad ke-5 yang disebarkan oleh pangeran Khasmir (bernama Gunadharma). Pada abad ke-9, penyebaran Agama Buddha dilakukan oleh pendeta-pendeta dari wilayah India yaitu Gaudidwipa (benggala) dan Gujaradesa (Gujarat). Bukti tertua adanya pengaruh Buddha India di Indonesia adalah dengan ditemukannya Arca Buddha dari perunggu di Sempaga, Sulawesi Selatan. Antara abad ke 4 hingga abad ke 16 di berbagai wilayah nusantara berdiri berbagai kerajaan yang bercorak agama Hindu dan Buddha.[2]</p><p>Sejak masuknya agama Hindu dan Buddha, masyarakat prasejarah Nusantara yang sebelumnya memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme beralih memeluk agama Hindu dan Buddha</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-20 02:50:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128958452</guid>
      </item>
      <item>
         <title>AKBAR YANUARTA 10-TKR 3</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128961408</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>Sejarah Kerajaan Sriwijaya dan Peninggalan Kerajaan</p><p>Annisa by Annisa  Februari 29, 2024</p><p>Sejarah Kerajaan Sriwijaya dan Peninggalan Kerajaan</p><p>Sejarah Kerajaan Sriwijaya dan Peninggalan Kerajaan</p><p><br/></p><p>Sejarah Kerajaan Sriwijaya</p><p>Kerajaan Sriwijaya adalah sebuah kerajaan bahari historis yang berasal dari Pulau Sumatra dan berlangsung sekitar abad ke-7 hingga abad ke-11 Masehi. Kerajaan ini didirikan secara resmi pada tahun 682 Masehi, seperti yang tercatat dalam prasasti Kedukan Bukit.</p><p><br/></p><p>Nama “Sriwijaya” diambil dari kata “Sri” yang berarti cahaya dan “Wijaya” yang berarti kemenangan gemilang, merujuk pada kejayaan dan kegemilangan kerajaan ini.</p><p><br/></p><p>Kerajaan Sriwijaya memiliki pengaruh besar di kawasan Nusantara barat dan menjadi pusat agama, budaya, dan perdagangan di Asia Tenggara dan Asia Timur.</p><p><br/></p><p>Pada abad ke-9 Masehi, Sriwijaya mencapai masa kejayaannya di bawah pemerintahan Raja Balaputradewa. Namun, pada abad ke-13 Masehi, kerajaan ini runtuh akibat serangan dari Kerajaan Singasari di Jawa</p><p><br/></p><p>Di bawah kepemimpinan Raja Balaputradewa, Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan maritim yang membangun armada laut kuat. Selain itu, Sriwijaya berhasil mengendalikan jalur perdagangan utama di wilayahnya hingga Malaysia, Singapura, dan Thailand Selatan.</p><p><br/></p><p>Namun, serangan dari Kerajaan Cola mengakibatkan keruntuhan Sriwijaya karena terganggunya jalur perdagangan utamanya. Akibatnya, ibu kota Sriwijaya dipindahkan ke Jambi dan lambat laun kekuasaan Sriwijaya meredup.</p><p><br/></p><p>Sejarah Kerajaan Sriwijaya mencakup periode awal berdiri, masa kejayaan, hingga keruntuhan. Pendiriannya dipimpin oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa pada tahun 682 Masehi dengan ekspedisi untuk menguasai wilayah-wilayah strategis perdagangan.</p><p><br/></p><p>Masa kejayaannya terjadi sejak abad ke-7 hingga abad ke-11 Masehi sebelum mengalami penurunan akibat serangan musuh dan gangguan jalur perdagangan utamanya.</p><p><br/></p><p>Daftar raja-raja Kerajaan Sriwijaya</p><p>Dapunta Hyang Sri Jayanasa (abad ke-7 M)</p><p>Samaragrawira (abad ke-8 M)</p><p>Dharanindra (abad ke-8 M)</p><p>Samaratungga (abad ke-9 M)</p><p>Balaputradewa (abad ke-9 M)</p><p>Sriwijaya Maharaja (abad ke-10 M)</p><p>Sri Cudamani Warmadewa (abad ke-11 M)</p><p>Kertanegara (abad ke-12 M)</p><p>Raja-raja ini memiliki peran penting dalam sejarah Kerajaan Sriwijaya, yang berdiri pada tahun 682 Masehi dan mencapai masa kejayaannya pada abad ke-9 Masehi</p><p><br/></p><p>Peninggalan Kerajaan Sriwijaya</p><p>Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang masih ada hingga saat ini antara lain:</p><p><br/></p><p>Prasasti Kedukan Bukit</p><p>Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di sekitar tepian sungai Batang, Kedukan Bukit, Kota Palembang. Prasasti ini berisikan tentang pemberian izin kepada seorang pendeta Budha untuk mendirikan tempat ibadah.</p><p><br/></p><p>Prasasti ini merupakan bukti sejarah dan kemajuan Kerajaan Sriwijaya, yang berasal dari Pulau Sumatra dan berdiri pada tahun 682 Masehi.</p><p><br/></p><p>Prasasti Ligor</p><p>Prasasti Ligor ditemukan di Thailand bagian selatan oleh Nakhon Si Thammarat. Prasasti ini menceritakan kisah raja Sriwijaya yang membangun Tisamaya Caitya untuk Kajara.</p><p><br/></p><p>Prasasti Kota Kapur</p><p>Prasasti Kota Kapur ditemukan di Kota Kapur, Bangka Belitung. Prasasti ini diperkirakan ditulis pada 656 Masehi. Prasasti Kota Kapur berisikan permintaan kepada Dewa untuk menjaga persatuan dan kesatuan Kerajaan Sriwijaya.</p><p><br/></p><p>Prasasti Talang Tuo</p><p>Prasasti Talang Tuo ditemukan di sekitar Palembang, Sumatera Selatan. Prasasti ini berisi tentang pembangunan taman oleh Sri Jayanasa, yang dibuat untuk rakyat pada abad ke-7.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>Kerajaan Salakanagara Kerajaan Salakanagara adalah salah satu kerajaan di Indonesia yang berdiri antara tahun 130-362 M. Salakanagara diyakini sebagai leluhur Suku Sunda, karena wilayah peradaban keduanya sama persis. Pendiri Kerajaan Salakanagara adalah Dewawarman I yang memerintah antara 130-168 M dengan gelar Prabu Darmalokapala Aji Raksa Gapura Sagara.Selama berdiri, Kerajaan Salakanagara meliputi daerah Jawa bagian barat. Sayangnya, setelah berkuasa selama sekitar 232 tahun, Kerajaan Salakanagara berada di bawah kuasa Kerajaan Tarumanegara.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>Kerajaan Tarumanegara Selanjutnya adalah Kerajaan Tarumanegara yang didirikan pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M. Pendiri Kerajaan Tarumanegara adalah Maharesi Jayasingawarman dari India, yang datang ke Nusantara karena kekacauan dan penjajahan oleh pasukan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada. Kerajaan yang terletak di tepi Sungai Citarum, Jawa Barat ini mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Purnawarman yang berkuasa antara 395-434 M. Di bawah kekuasaannya, Kerajaan Tarumanegara berhasil berkuasa atas 48 daerah di Nusantara. Namun, kejayaan ini tidak bertahan lama, karena Kerajaan Tarumanegara runtuh pada 669 M.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>Kerajaan Kutai adalah kerajaan bercorak Hindu yang berdiri di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, sekitar abad ke-4 Masehi. Kerajaan ini memiliki beberapa nama, di antaranya Kerajaan Kutai Martadipura, Kerajaan Mulawarman, dan Kerajaan Kutai Mulawarman. </p><p> </p><p>Berikut adalah beberapa hal yang perlu diketahui tentang Kerajaan Kutai: </p><p> </p><p>Pendiri</p><p>Raja pertama Kerajaan Kutai adalah Maharaja Kudungga, yang memiliki gelar anumerta Dewawarman. </p><p> </p><p>Prasasti Yupa</p><p>Prasasti Yupa adalah bukti sejarah tertua Kerajaan Kutai yang berbentuk tiang batu sebanyak tujuh buah. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sanskerta dan menggunakan huruf Pallawa. </p><p> </p><p>Masa Kejayaan</p><p>Kejayaan Kerajaan Kutai terjadi pada masa pemerintahan Raja Mulawarman. Dalam prasasti Yupa, disebutkan bahwa Raja Mulawarman melakukan pengorbanan emas yang dibagikan kepada rakyatnya dan dijadikan persembahan kepada para dewa. </p><p> </p><p>Peninggalan</p><p>Beberapa peninggalan Kerajaan Kutai di antaranya adalah Ketopong, busana kebesaran, Keris Bukit Kang, Meriam Gentar Bumi, dan Meriam Sapu Jagat. </p><p> </p><p>Letak</p><p>Kerajaan Kutai terletak di Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. </p><p> </p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-20 02:52:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3128961408</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : ERLANGGA RADITYA WIBISONO (No: 11) </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3152866108</link>
         <description><![CDATA[<p>Apresiasi terhadap warisan budaya: Kita perlu menghargai dan melestarikan warisan budaya yang ditinggalkan oleh kerajaan- kerajaan Hindu- Buddha. Toleransi dan keberagaman: Kehidupan beragama yang harmonis pada masa itu dapat menjadi contoh bagi kita untuk hidup berdampingan secara damal. Pentingnya pendidikan dan pengetahuan: Kemajuan kerajaan- kerajaan Hindu- Buddha tidak lepas dari peran pendidikan dan pengetahuan. Ketahanan dan adaptasi: Kita dapat belajar dari kemampuan kerajaan- kerajaan Hindu- Buddha dalam menghadapi perubahan dan tantangan</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-04 01:42:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3152866108</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bayu eris habibi 07/10 TKR 3</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3152897980</link>
         <description><![CDATA[<p>Kerajaan Hindu Budha di Indonesia dan Penjelasannya – Sejak mengakhiri masa prasejarah pada abad ke-4 M, di berbagai wilayah nusantara berdiri sejumlah kerajaan-kerajaan Hindu Budha yang bukti-bukti keberadaannya masih bisa disaksikan sampai sekarang.</p><p><br/></p><p>Keberadaan kerajaan-kerajaan Hindu Budha ini menjadi bukti bahwa di masa lalu Indonesia pernah menjadi bangsa yang besar dan tidak tertinggal dengan bangsa-bangsa lain di muka bumi.</p><p><br/></p><p>Meski kerajaan-kerajaan Hindu Budha ini sudah lama runtuh. Namun, semangat dan peninggalannya bisa digunakan sebagai penyemangat untuk membangkitkan kembali kejayaan nusantara.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-04 02:08:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3152897980</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SUEB ANDIKA KURNIAWAN (30)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3164028081</link>
         <description><![CDATA[<p>TKR 3</p><p><br></p><p>Apresiasi terhadap warisan budaya: Kita perlu menghargai dan melestarikan warisan budaya yang ditinggalkan oleh kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha.</p><p><br></p><p>Toleransi dan keberagaman: Kehidupan beragama yang harmonis pada masa itu dapat menjadi contoh bagi kita untuk hidup berdampingan secara damai.</p><p><br></p><p>Pentingnya pendidikan dan pengetahuan: Kemajuan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha tidak lepas dari peran pendidikan dan pengetahuan.</p><p><br></p><p>Ketahanan dan adaptasi: Kita dapat belajar dari kemampuan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha dalam menghadapi perubahan dan tantangan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-11 01:35:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3164028081</guid>
      </item>
      <item>
         <title>IRSYADUNNUR M. 15 / 10TKR3</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3218131914</link>
         <description><![CDATA[<p>Apresiasi terhadap warisan budaya: Kita perlu menghargai dan melestarikan warisan budaya yang ditinggalkan oleh kerajaan- kerajaan Hindu- Buddha. Toleransi dan keberagaman: Kehidupan beragama yang harmonis pada masa itu dapat menjadi contoh bagi kita untuk hidup berdampingan secara damai. Pentingnya pendidikan dan pengetahuan: Kemajuan kerajaan- kerajaan Hindu- Buddha tidak lepas dari peran pendidikan dan pengetahuan. Ketahanan dan adaptasi: Kita dapat belajar dari kemampuan kerajaan- kerajaan Hindu- Buddha dalam menghadapi perubahan dan tantangan</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-15 01:43:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3218131914</guid>
      </item>
      <item>
         <title>W Fabian E.M,35,10 Tkr 3</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3229151002</link>
         <description><![CDATA[<p>Sejarah Nusantara pada Era Kerajaan Hindu Buddha berkembang karena hubungan dagang wilayah Nusantara dengan negara-negara dari luar, seperti India, Tiongkok, dan wilayah Timur Tengah. Agama Hindu masuk ke Indonesia pada periode tarikh Masehi. Ajaran Hindu yang berkembang di beberapa tempat di Nusantara disebut dengan aliran Waiṣṇawa, yaitu suatu ajaran yang memuja Dewa Wiṣṇu sebagai dewa utama. Ajaran ini dianut oleh kelompok-kelompok masyarakat di Situs Kota Kapur, Bangka, Situs Cibuaya, Situs Karawang dan Situs Muarakaman, Kutai (pada sekitar abad ke- 5-7 M). Bukti adanya Agama Hindu tampak pada prasasti Tuk Mas yang ditemukan di Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang, Jawa Tengah, di lereng Gunung Merbabu yang diperkirakan berasal dari pertengahan abad ke-7</p><p>Dalam ajaran Buddha, diketahui dianut oleh kelompok masyarakat Nusantara tepatnya di Situs Batujaya, Situs Bukit Siguntang di Sumatera Selatan, dan Situs Batu Pait di Kalimantan Barat pada sekitar abad ke-6-7 M.Proses penyebaran agama Buddha dilakukan oleh para Dharmaduta yang bertugas untuk menyebarkan Dharma atau ajaran Buddha ke seluruh dunia. Penyebaran agama Buddha di Indonesia dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri yang belajar di India dan menjadi Bhiksu kemudian menyebarkan ajarannya di Nusantara. Untuk di daerah pulau Jawa, agama Buddha datang pada Abad ke-5 yang disebarkan oleh pangeran Khasmir (bernama Gunadharma). Pada abad ke-9, penyebaran Agama Buddha dilakukan oleh pendeta-pendeta dari wilayah India yaitu Gaudidwipa (benggala) dan Gujaradesa (Gujarat). Bukti tertua adanya pengaruh Buddha India di Indonesia adalah dengan ditemukannya Arca Buddha dari perunggu di Sempaga, Sulawesi Selatan. Antara abad ke 4 hingga abad ke 16 di berbagai wilayah nusantara berdiri berbagai kerajaan yang bercorak agama Hindu dan Buddha.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-22 01:35:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dilaputri060/6fwxkw8e55moc0o9/wish/3229151002</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
