<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Bahasa Indonesia by uniq</title>
      <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti</link>
      <description>Membaca Mengasyikkan</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2018-11-22 04:33:58 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2021-11-05 12:54:04 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>TUGAS </title>
         <author>unique01_wb</author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306906294</link>
         <description><![CDATA[<div>Carilah satu Hikayat kemudian tentukan ide pokok, unsur-unsur instrinsik dan ekstrinsiknya. dan berikan gambar hikayatnya</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 04:35:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306906294</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ratih dewi rusman</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306908895</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:01:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306908895</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muh Raihan Arifki</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306908904</link>
         <description><![CDATA[<div>Hikayat Sri Rama<br>Ide pokok paragraf:<br>1: sri lama dan laksamana pergi ke hutan belantara mencari sita dewi<br>2:di dalam hutan, mereka bertemu dengan seekor burung jantan dan empat ekor burung betina<br>3:Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seekor bangau yang sedang minum di tepi danau. Bertanyalah Sri Rama pada bangau itu<br>4:Tak lama kemudian datanglah seorang anak yang hendak mengail.<br>5:Sri Rama merasa haus dan menyuruh Laksamana untuk mencarikannya air.<br>6 :Mereka bertemu dengan seekor burung besar bernama Jentayu yang tertambat sayapnya dan yang sebelah rebah. <br>7:Jentayu berpesan pada Sri Rama jika akan pergi menyeberang ke negeri Langka Puri, Sri Rama tidak boleh singgah ke tepi laut <br>8:Sri Rama menyuruh Laksamana  mencari tempat yang tidak terdapat manusia dengan memberinya sebuah tongkat.<br><strong>Unsur-unsur intrinsik Hikayat Sri Rama:</strong></div><div><strong>Tema</strong>: Kesetiaan dan pengorbanan</div><ul><li>bukti: Para patik Sri Rama berani berkorban nyawa demi membantu Sri Rama yang sedang kesulitan mencari Sita Dewi. Mereka bakti akan perintah Sri Rama dengan menunujukkan kesetiaan mereka pada Sri Rama.</li></ul><div><strong>Alur</strong>: Maju</div><ul><li>bukti: Sri Rama mencari Sita Dewi yang dibawa lari oleh Maharaja Rawana. Dia berhasil menemukan petunjuk tentang keberadaan Sita Dewi saat bertemu dengan Jentayu. Namun, Jentayu mati setelah menceritakan tentang pertarungannya melawan Maharaja rawana. Mayat Jentayu dibakar di atas tangan Sri Rama.</li></ul><ol><li><strong>Penokohan</strong>: diceritakan secara dramatik (tidak langsung)</li><li><strong>Tokoh</strong>:</li><li>Tokoh utama: Sri Rama</li><li>Tokoh tambahan: Laksamana, Sita Dewi, Maharaja Rawana, Jentayu, Dasampani, burung jantan, dan bangau.</li><li><strong>Setting/latar cerita</strong></li><li>Latar waktu: siang hari</li></ol><div>bukti: pada paragraf enam kalimat pertama pada hikayat</div><ol><li>Latar tempat: di hutan rimba belantara</li></ol><div>bukti: pada paragraf pertama kalimat kedua</div><ol><li>Latar suasana: bahagia, mengaharukan</li></ol><div>bukti: Sri Rama terharu melihat kesetiaan Jentayu atas pengabdiannya menolong Sita Dewi.</div><ol><li><strong>Sudut pandang</strong>: menggunakan orang ketiga sebagai pelaku utama</li><li><strong>Amanat</strong>: hargailah pengorbanan seseorang yang telah rela mati demi menbantu kita.</li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:01:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306908904</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muh.Furqan.M</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306908917</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:01:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306908917</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur wahidah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306908955</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:02:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306908955</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rhaehan Shandy</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306908969</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>HIKAYAT INDERA BANGSAWAN</strong></div><div>Paragraf 1:<br>Syah Peri dan Indera Bangsawan pergi mencari buluh perindu.<br><br>Paragraf 2:<br>Syah Peri dan Indera Bangsawan berpisah karena hujan badai.<br><br>Paragraf 3:<br>Syah Peri yang menyerahkan diri kepada Tuhan.<br><br>Paragraf 4:<br>Sesampainya di taman, Syah Peri menoreh gendang dan keluarlah Ratna Sari dan dayang-dayangnya. Garuda yang menahan Ratna Sari menyerang dan berhasil dikalahkan oleh Syah Peri.  <br><br>Paragraf 5:<br>Indera Bangsawan bertemu dengan raksasa yang menjadi neneknya dan bercerita bahwa ia berada negeri Antah Berantah yang diperintah oleh Raja Kabir.<br><br>Paragraf 6:<br>Raja Kabir mengumumkan bahwa barang siapa yang dapat membunuh Buraksa dan yang dapat memberikan air susu harimau yang baru saja beranak akan dinikahkan dengan Puteri Kemala Sari yang sedang sakit mata.  <br><br>Paragraf 7:<br>Titah baginda mengenai barang siapa yang mendapat susu harimau akan menikah dengan tuan putri.<br><br>Paragraf 8:<br>Kesaktian Si Hutan telah kembali seperti dahulu kala.<br><br>Paragraf 9:<br>Kesembilan anak raja menemui Indera Bangsawan untuk meminta susu harimau tetapi oleh Indera Bangsawan diberikan susu kambing. Sedangkan susu harimau diserahkan Indera Bangsawan kepada raja.<br><br>Paragraf 10:<br>Putri Kemala Sari pun sembuh, tetapi Raja Kabir masih bersedih hati karena harus menyerahkan Putri Kemala Sari kepada Buraksa.<br><br>Paragraf 11:<br>Raja Kabir mengumumkan bahwa barang siapa dapat mengambil jubah Buraksa akan menjadi suami Putri Kemala Sari.<br><br>Paragraf 12:<br>Indera Bangsawan berhasil membawa lari Puteri dan mengambil jubah Buraksa.<br><br>Paragraf 13:<br>Kesembilan anak raja mengambil selimut Buraksa dan mengatakan kepada Raja Kabir bahwa selimut itu adalah jubah Buraksa.<br><br>Paragraf 14:<br>Indera Bangsawan menyerahkan Puteri dan jubah Buraksa dan kemudian Raja Kabur mengumumkan hari pernikahan Indera Bangsawan dan Puteri Kemala Sari.</div><div><strong>Unsur Intrinsik<br>1. Tema</strong><br>Siapa menanam akan memeteik hasilnya.<br><br><strong>2. Tokoh</strong><br><strong>a. Protagonis</strong><br>Raja Indera Bungsu, Putri Sitti Kendi, Syah Peri, Indera Bangsawan, Mualin Sufian, Raksasa Perempuan, Putri Ratna Sari, Putri Kemala Sari.</div><div><strong>b. Antagonis</strong><br>Raksasa Garuda.</div><div><strong>c. Tritagonis</strong><br>Raja Kabir.<br><br><strong>3. Penokohan<br>a. Raja Indera Bungsu</strong><br>Sabar dalam menghadapi ujian: selalu berdoa memohon kepada Allah untuk diberikan putra.<br>Dermawan, suka tolong menolong, dan perhatian terhadap rakyatnya : beliau sering membagikan sedekah kepada fakir miskin.<br>Penyayang dan perhatian terhadap kedua putranya : kedua putranya dididik dengan baik sehingga tumbuh dengan akhlak dan perilaku yang baik.<br><br><strong>b. Putri Sitti Kendi</strong><br>Sabar dan tawakal dalam menghadapi ujian : selalu berdoa memohon kepada Allah untuk diberikan putra. Sayang dan perhatian terhadap kedua putranya : kedua putranya dididik dengan baik sehingga tumbuh denngan akhlak dan perilaku yang baik.<br><br><strong>c. Syah Peri</strong><br>Patuh kepada kedua orang tuanya: melaksanakan perintah Baginda Raja Indera Bungsu untuk mencari buluh perindu.<br>Perhatian dan pantang menyerah : selalu peduli dengan keadaan saudara kembarnya.Pemberani : berhasil mengalahkan raksasa Garuda untuk menyelamatkan Putri Ratna Sari dan dayang- dayang.Suka menolong : menyelamatkan Putri Ratna Sari dari serangan raksasa Garuda dan berusaha menyembuhkan Indera Bangsawan.<br><br><strong>d. Indera Bangsawan</strong><br>Patuh kepada kedua orang tua : melaksanakan perintah Baginda Raja untuk mencari buluh perindu.<br>Pantang menyerah : berhasil mendapatkan buluh perindu dan berusaha mengejar melawan raksasa Buraksa.<br>Pemberani dan suka menolong : berhasil mengalahkan raksasa Buraksa untuk menyelamatkan Putri Kemala Sari, dan rakyat Raja Kabir.<br>Menghargai usaha orang lain : memberikan Batu Khitmat kepada Syah Peri untuk membalas kebaikan Syah Peri yang telah menyelamatkan nyawanya<br><br><strong>e. Mualin Sufian</strong><br>Suka t menolong : mau mengajarkan berbagai ilmu yang ia miliki kepada kedua putra Baginda Raja Indera Bungsu.<br><br><strong>f. Raksasa Garuda</strong><br>Jahat : menyerang negra Putri Ratna Sari.<br><br><strong>g. Putri Ratna Sari</strong><br>Suka menolong : menolong dayang- dayangnya dari serangan raksasa Garuda dengan bersembunyi di dalam gendang.<br><br><strong>h. Putri Kemala Sari</strong><br>Patuh kepada kedua orang tua : mau dijadikan upeti oleh sang ayah, Raja Kabir.<br><br><strong>i. Raksasa Perempuan</strong><br>Suka menolong : banyak memberikan pengalaman baiknya, memberikan ilmu-ilmu, memberikan buluh perindu, dan memberikan sebuah senjata berupa sarung kesaktian untuk melawan Buraksa kepada Indera Bangsawan.<br><br><strong>j. Raksasa Buraksa</strong><br>Jahat : meluluh lantakkan negara yang dimpin Raja Kabir.<br><br><strong>k. Raja Kabir</strong><br>Mudah menyerah : :takluk kepada raksasa dan akan menyerahkan putrinya sebagai upeti kepada raksasa Buraksa<br><br><strong>4. Lattar/ setting</strong><br><strong>a. Lattar tempat</strong><br>Negeri Kobat Syarial : kerajaan yang dipimpin Baginda Raja Indera Bugsu.<br>Di hutan : Syah Peri dan Indera Bungsu pergi ke hutan utnuk mencari buluh perindu.<br>Disebuah taman : Syah Peri bertemu dan menyelamatkan Putri Ratna Sari dan dayang- dayangnya dari serangan raksasa Garuda.<br>Di gua : Indera Bangsawan bertemu dengan raksasa perempuan di gua kemudian dijadikannya sebagai neneknya<br>Negeri antah berantah : negeri yang dipimpin Raja Kabir yang pada saat itu tengah diserang raksasa Buraksa.<br><br><strong>b. Lattar waktu</strong><br>Peristiwa dalam kutipan hikayat terjadi pada keseluruhan waktu (pagi, siang, sore, dan malam).<br><br><strong>c. Lattar suasana</strong><br>Bahagia : Syah Peri dan Putri Ratna Sari beserta dayng- dayangnya selamat dari serangan raksasa Garuda yang telah dikalahkan Syah Peri; Idera Bangsawan dapat mengalahkan raksasa Buraksa dan hidup bahagia bersama Putri Kemala Sari; Indera Bangsawan berhasil mendapatkan buluh perindu yang diinginkan ayahnya, dan kembali ke negeri Kobat Sayhrial dengan selamat; Indera Bangsawan dinobatkan menjadi raja Kobat Syahrial menggantikan ayahnya; dan Syah Peri dengan kerajaanya.</div><div><br>Sedih : di tengah perjalanan dalam mencari buluh perindu Syah Peri dan Indera Bangsawan terpisah karena angin topan, hujan lebat dan awan yang gelap gulita. Pada saat itu Putri Ratna Sari diserang raksasa Garuda, dan negara Raja Kabir diserang raksasa Buraksa; Indera Bangsawan tiba- tiba jatuh sakit.<br><br><strong>5. Sudut pandang</strong><br>Orang ketiga serba tahu.<br><strong><br>6. Alur</strong><br>Alur pada hikayat tersebut adalah alur maju. Alasannya karena hikayat menceritakan awal raja Indera Bungsu yang tidak memiliki anak, Indra Bangsawan diasuh oleh raksasa dan dianggap sebagai neneknya sampai akhirnya Indra Bangsawan menyamar menjadi budak berambut keriting sebagai Si Hutan masuk di kerajaan antah berantah. Dengan kepandaian yang dimiliki Indra Bangsawan, Buraksa dapat dikalahkan. Pada akhirnya indra Bangsawan dihadiahi oleh Raja Kabir utuk menjadi suami Putri Kemala Sari.<br><br><strong>7. Amanat</strong><br>a. Hendaklah kita selalu mengingat Allah SWT.<br>b. Hendaklah kita saling tolong- menolong.<br>c. Hendaklah kita tidak mudah menyerah.<br>d. Hendaklah kita selalu bersikap sportif dan jujur.<br><br><strong>8. Gaya bahasa</strong><br>Majas metafora : Tuan puteri terharu akan kesetiaannya dan menamainya si Kembar.<br><strong>Unsur Ekstrinsik1. Nilai religius</strong><br>Hal ini dibuktikan dengan beberapa peristiwa yang dilakukan beberapa tokoh. Contohnya, melakukan pembacaan doa qunut, membagikan sedekah kepada fakir miskin, dan berpasrah kepada Allah. Hubunganya dengan nilai masa kini yaitu pembacaan doa qunut kurang dilaksanakn apalagi orang- orang metropolitan, mereka hanya menganggap itu adalah budaya pada nenek moyang mereka.<br><strong><br>2. Nilai sosial</strong><br>Saling menolong sesama.<br><br><strong>3. Nilai moral</strong><br>Tidak mudah menyerah, selalu berusaha, bersikap sportif, jujur dan menghargai usaha orang lain.<br><strong><br>4. Nilai budaya</strong><br>Pada jaman dahulu masih ada perjodohan dan kepercayaan akan kesaktian benda</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:02:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306908969</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Andini pratiwi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306908972</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:02:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306908972</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhammad Ibrahim</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306909001</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>HIKAYAT IBNU HASAN</strong></div><div><strong>“IBNU HASAN”<br></strong>1)PARAGRAF PERTAMA</div><div>  Pada zaman dahulu kala, ada seorang kaya hartawan bernama Syekh Hasan, banyak harta banyak uang terkenal kesetiap negeri.<br>2)PARAGRAF KEDUA<br>   Syekh Hasan sangat bijaksana, mengasihi fakir miskin, menyayangi yang kekurangan, menasehati yang berikiran sempit, mengingatkan orang yang bodoh, diajari ilmu yang baik, walaupun harus mengeluarkan biaya.<br>3)PARAGRAF KETIGA<br>   Syekh Hasan saudagar yang kaya raya memiliki seorang anak laki-laki yang sangat tampan, pendiam, dan baik budi, berusia sekitar tujuh tahun Ibnu Hasan namanya. <br>   Ayahnya berfikir,”Alangkah salahnya aku, menyayangi diluar batas, tanpa pertimbangan, bagaimana kalau akhirnya, dimurkai Allah Yang Agung, aku pasti durhaka tak dapat mendidik anak mengkaji ilmu yang bermanfaat.<br>4)PARAGRAF KEEMPAT<br>   Dipanggilnya putranya, anak itu segera mendatanginya diusap-usapnya putranya sambildinasihati bahwa ia harus mengaji.<br>5)PARAGRAF KELIMA<br>  Singkat cerita, Ibnu Hasan yang akan berangkat kepesantren, berpisah dengan kedua orangtuanya hatinya sangat sedih.<br>6)PARAGRAF KEENAM</div><div>   Singkat cerita Ibnu Hasan sudah berangkat dikawal dua pengasuhnya sejak kecil, Mairin dan Mairun.<br>7)PARAGRAF KETUJUH<br>   Pada suatu hari, saatba’da zuhur, Ibnu Hasan sedang di jalan, bertemu seseorang bernama Saleh, yang baru pulang dari sekalah, Ibnu Hasan menyapa,”Anda pulang dari mana?” Saleh menjawab dengan sopan,”Saya pulang sekolah.” Ibnu Hasan bertanya lagi,” Sekolah itu apa? Coba jelaskan padaku!” yang ditanya menjawab,”Apakah anda belum tahu?” “sekolah itu tempat ilmu, tepatnya tempat belajar,  berhitung, menulis, mengeja, belajar tatakrama, sopan santun terhadap yang lebih tua dan yang lebih muda, dan terhadap sesama, harus sesuai dengan aturan.”<br>8)PARAGRF KEDELAPAN<br>   Begitu Ibnu Hasan mendengar penjelasan tersebut, betapa girang hatinya, dia segera pulang, menghadap kyai dan meminta izinya, untuk belajar disekolah, guna mencari ilmu. Sekarang katakan padaku apa yang sebenarnya kamu harapkan.” Kyai berkata demikian, tujuan untuk menguji muridnya, apakah betul-betul ingin mencari ilmu atau hanya alasan supaya mendapat pujian. Ibnu Hasan menunduk, menjawab agak malu,”Hamba ingin menjelaskan mengapa hamba besusah payah tanpa mengenal lelah, mencari ilmu. Memang sangkaan orang begitu karena ayahku kaya raya, tidak kekurangan uang, ternaknya pun banyak, hamba tidak usah bekerja, karena tidak akan kekurangan. Namun, pendapat hamba tidak demikian, akan sangat memalukan seandainya ayah sudah tiada, sudah meninggal dunia, semua hartanya jatuh ketangan hamba. Tapi, ternyata tidak terurus karena saya tidak teliti akhirnya harta itu habis, bukan bertambah. Distulah terlihat ternyata kalau hamba ini bodoh. Bukan bertambah mashur, asalnya anak orang kaya, harus menjadi buruh. Begitulah pendapat saya karena modal sudah ada saya hanya tinggal melanjutkan.</div><div><br><strong>UNSUR INTRINSIK</strong></div><div><br></div><div><strong>1.</strong>          <strong>TEMA</strong></div><div>v Seorang anak ( Ibnu Hasan ) yang berbakti, menuruti dan mematuhi perkataan orang tua</div><div>v Seorang anak ( Ibnu Hasan ) yang ingin mengkaji ilmu yang bermanfaat</div><div><br></div><div><strong>2.</strong>          <strong>ALUR</strong></div><div>Alur yang digunakan dalam hikayat tersebut adalah alur maju</div><div><br></div><div><strong>3.</strong>          <strong>SUDUT PANDANG</strong></div><div>Sudut pandangnya adalah sudut pandang orang ketiga</div><div><br></div><div><strong>4.</strong>          <strong>GAYA BAHASA</strong></div><div>Gaya bahasa yang digunakan dapat dimengerti dan jelas</div><div><br></div><div><strong>5.</strong>          <strong>LATAR</strong></div><div>v <strong>LATAR TEMPAT</strong></div><div>Negeri Bagdad, Pusat Kota Negara Mesir, Pesantren</div><div>v <strong>LATAR WAKTU</strong></div><div>Syahdan, zaman dahulu kala, saat ba’da zuhur</div><div>v <strong>LATAR SUASANA</strong></div><div>Senang, sedih</div><div><br></div><div><strong>6.</strong>          <strong>PENOKOHAN</strong></div><div>v  <strong>BERDASARKAN SIFAT</strong></div><div>Syekh Hasan                      : Protagonis</div><div>Ibnu Hasan                         : Protagonis</div><div>Ibu Ibnu Hasan                   : Protagonis</div><div>Mairun                                : Protagonis</div><div>Mairin                                 : Protagonis</div><div>Saleh                                   : Protagonis</div><div>Guru Kyai                          : Protagonis</div><div>v  <strong>METODE PENOKOHAN ( METODE ANALITIK DAN DRAMATIK )</strong></div><div>Syekh Hasan               : Sangat bijaksana, mengasihi fakir miskin, menyayangi yang kekurangan, menasehati yang berikiran sempit, mengingatkan orang yang bodoh, diajari ilmu yang baik, walaupun harus mengeluarkan biaya, berupa pakaian atau uang, karena itu banyak pengikutnya, seorang hartawan ( banyak harta dan uang ).</div><div>Ibnu Hasan                   : Tidak sombong, perilakunya kalem, walaupun hidupnya dimanjakan, tidak kekurangan sandang, suka bersolek</div><div>Ibu Ibnu Hasan           : Baik, penyanyang</div><div>Mairun                        : Baik</div><div>Mairin                         : Baik</div><div>Saleh                           : Baik, pintar</div><div>Guru Kyai                   : Baik</div><div><br></div><div><strong>7.</strong>    <strong>AMANAT</strong></div><div>Janganlah menjadi orang yang sombong, angkuh dan menghina orang lain hanya karena kita banyak harta dan tidak kekurangan sandang pangan serta jadilah anak yang selalu berbakti kepada orang tua.</div><div><br></div><div><strong>8.</strong>    <strong>KONFLIK</strong></div><div>Karena Ibnu Hasan diperintah ayahnya untuk mengkaji ilmu yang bermanfaat ke Negara Mesir sehingga ibunya tidak tahan melihatnya pergi dan menangis terisak-isak.</div><div><br></div><div><strong>UNSUR EKSTRINSIK</strong></div><div><br></div><div><strong>1)</strong>   <strong>NILAI AGAMA</strong></div><div>Nilai agama yang terdapat dari penggalan hikayat tersebut adalah berkat doa orang tua kepada anaknya maka selamatlah anaknya sampai tujuan serta sebagai umat yang beragama kita selalu berdoa kepada Tuhan Yang maha Esa agar selalu diberikan keselamatan dan juga kita selalu menyanyangi orang yang tidak mampu.</div><div><br></div><div><strong>2)</strong>   <strong>NILAI SOSIAL</strong></div><div>Nilai sosial yang terdapat dari penggalan hikayat tersebut adalah bahwa kita sesame manusia harus saling tolong menolong dan saling melindungi satu sama lain.</div><div><br></div><div><strong>3)</strong>   <strong>NILAI BUDAYA</strong></div><div><br></div><div>Nilai budaya yang terdapat dari penggalan hikayat tersebut adalah bahwa kita sebagai seorang anak akan selalu mematuhi perkataan orang tua kita namun perintah yang positif.</div><div><br></div><div><strong>4)</strong>   <strong>NILAI ADAT ISTIADAT/ETIKA</strong></div><div>Nilai etika dari penggalan hikayat tersebut adalah jangan merasa sombong dan saling tolong menolonglah terhadap sesama karena setiap orang akan saling membutuhkan ( makhluk sosial ).</div><div><br></div><div><strong>5)</strong>   <strong>NILAI EKONOMI</strong></div><div>Nilai ekonomi yang terdapat dari penggalan hikayat tersebut adalah bahwa orang tersebut merupakan orang yang banyak harta dan uang serta terkenal kemana-mana.</div><div><br></div><div><strong>6)</strong>   <strong>NILAI PENDIDIKAN</strong></div><div>Nilai pendidikan yang terdapat dari penggalan hikayat tersebut adalah bahwa kita menuntut ilmu bukan untuk mendapat pujian melainkan untuk mendapatkan imu yang bermanfaat untuk masa depan yang lebih baik<br>    </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:02:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306909001</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306909016</link>
         <description><![CDATA[<div>Dwi Wulan Ahmad<br><br><strong>Hikayat Bunga Kemuning<br><br>• Ide pokok <br> <br><br>1. Seorang raja mempunyai 10 orang puteri dan istrinya meninggal saat melahirkan puteri kesepuluh yaitu Puteri Kuning.<br><br>2. Suatu hari raja akan pergi jauh.<br><br>3. Ketika pulang, raja memberi Puteri Kuning sebuah kalung batu hijau dan membuat Puteri Hijau merasa cemburu<br><br>4. Puteri Hijau bersama saudaranya yang lain memukul kepala Puteri Kuning hingga meninggal kemudian menguburnya tanpa sepengatahuan orang-orang di istana.<br><br>5. Mengetahui puteri bungsunya hilang, raja pun mencarinya tapi tidak ditemukan.<br><br>6. Pada suatu hari tumbuhlah sebuah tanaman di atas kuburan Puteri Kuning yang kemudian dinamakan Puteri Kemuning karena tanaman tersebut terlihat seperti Puteri Kuning.<br><br><br></strong>UNSUR INTRINSIK</div><div><strong>Alur/plot</strong>         : Alur Maju </div><div>                          Bukti : karna dalam cerita ini tidak menceritakan tentang masa lalu.</div><div><br></div><div><strong>Tema  </strong>            : Kekeluargaan, Kerajaan dan Kasih sayang tulus seorang anak kepada                                  ayahnya.</div><div><br></div><div><strong>Latar/setting  : </strong></div><div>1.    Latar tempat :<br><strong>Kerajaan</strong> (bukti: hikayat ini mengisahkan tentang kerajaan jaman dahulu.)<br><strong>Taman (</strong>bukti : tanpa ragu, putri kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu.)<br><strong>Danau</strong> (bukti : ketika sang raja tiba di istana kesembilan putrinya masih bermain di danau.)<br><strong>Teras istana</strong> (bukti : sementara putri kuning sedang merangkai bunga di teras istana.)</div><div>2.    Latar waktu : Pada zaman dahulu kala</div><div>3.    Latar suasana : Sedih (bukti: berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil menemukan Putri Kemuning. Raja sangat sedih. "Aku ini ayah yang buruk," katanya.)</div><div><br></div><div><strong>Tokoh:</strong></div><div>1.      Protagonis       : Raja dan Putri Kuning</div><div>2.      Antagonis        : Putri Jingga, Putri Nila, Putri Hijau, Putri Kelabu, Putri Oranye, Putri Merah Merona, Putri Kuning dan 2 putri lainnya.</div><div><br></div><div><strong>Karaker tokoh-tokoh</strong></div><div>1.      Raja :<br><strong>Bijaksana</strong> (bukti: sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana)<br><strong>Penyayang</strong> (bukti: sang raja sangat menyayangi anak-anaknya)</div><div>2.      Putri kuning :<br><strong>Baik hati</strong> (bukti: karna para inang sibuk untuk menuruti permintaan kakak-kakaknya, taman menjadi tidak ada yang membersihkan. Tapi dengan senang hati putri kuning mau membantu membersihkan taman.)<br><strong>Penyabar </strong>(bukti: “Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!” ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan. Putri kuning diam saja dan menyapu sampah sampah itu.)<strong> </strong><br><strong>Ramah</strong> (bukti: Sebaliknya ia selalu riang dan tersenyum ramah kepada siapa pun.)</div><div>3.      Puteri Hijau         : <strong>Jahat,  mudah iri (</strong>bukti: Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. "Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!" katanya dengan perasaan iri)</div><div>4.      Kakak-kakak putri kuning : <strong>Nakal, manja, jahat</strong>. (bukti: sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka, merampas kalung putri kuning, menangkap dan memukul kepala putri kuning sampai putri kuning meninggal dan menguburnya tanpa memberitahu ayahnya (raja).</div><div><br></div><div><strong>Sudut Pandang</strong>          : Orang Pertama dan orang ketiga.</div><div><br><strong>Amanat :</strong><br>-Berlaku baiklah kepada sesama saudara kita<br>-Berfikirlah terlebih dahulu ketika kita akan bertindak</div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div>UNSUR EKSTRINSIK</div><div><strong> Nilai Sosial</strong></div><div>Mencoba untuk lebih baik</div><div><strong> Nilai Agama</strong></div><div><strong><br><br><br></strong><br></div><div> </div><div><br></div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:03:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306909016</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nurul aulia </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306909081</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:03:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306909081</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nurul Ramadhani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306909124</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:04:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306909124</guid>
      </item>
      <item>
         <title>RAMANDHA KHAIRUN AMIN</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306909125</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:04:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306909125</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dwi ichsan tamvan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306909529</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:07:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306909529</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ilham jaya kususma</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306909750</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:08:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306909750</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nurul Ramadhani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306909892</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:09:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306909892</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Siti shakila</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306910061</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:11:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306910061</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhammad syafiismath ramadhan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306910086</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:11:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306910086</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ilham jaya kusuma</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306910116</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:11:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306910116</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muh Alif Adhim </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306910472</link>
         <description><![CDATA[<blockquote><strong>HIKAYAT JAYA LENGKARA</strong><br> <br>Tersebut cerita seorang raja yang terlalu besar kerajaannya, Saeful Muluk namanya, Ajam Saukat nama kerajaanya. Adapun raja ini telah berkawin dengan Putri Sukanda Rum. Tetapi oleh karena permaisurinya tidak beranak, ia berkawin dengan Putri Sukanda baying-bayang. Hatta berapa lamanya, Puteri Sukanda bayang-bayangpun beranak anak kembar yang diberi nama Makdam dan Makdim. Permaisuri takut kehilangan kasih sayang raja sama sekali, lalu berdoa meminta anak. Doanya dikabulkan. Hatta berapa lamanya, ia pun beranaklah seorang anak laki-laki yang terlalu baik rupanya. Anak itu ialah Jaya Lengkara. Adapun semasa Jaya Langkara jadi itu, negeri pun terlalu makmur, makanan murah dan banyak pedagang yang datang pergi. Segala ahli nujum, hulubalang dan rakyat sekalian juga mengucap syukur kepada Alloh.<br>Kemudian raja menyuruh anaknya yang lain ,Makdam dan Makdim pergi bertanyakan nasib Jaya Langkara pada seorang kadi. Kadi itu meramalkan bahwa Jaya Langkara akan menjadi raja besar yang terlalu banyak sakti dan segala raja-raja besar tiada yang dapat melawannya dan segala margastua juga tunduk kepadanya dengan khidmat. Mendengar ramalan yang demikian, Makdam dan Makdim menjadi sakit hatinya. Mereka berdusta kepada ayahanda mereka dengan mengatakan, jikalau Jaya Langkara ada dalam negeri, negeri akan binasa, beras padi juga akan menjadi mahal. Raja termakan fitnah ini dan membuang Jaya Langkara dengan bundayanya dari negeri.<br>Naga guna menyelamatkan Jaya Langkara. Bersama-sama mereka akan pergi ke negeri Peringgi. Jaya Langkara menewaskan seorang ajar-ajar dan memaksanya masuk islam. Dengan bantuan raja jin yang sudah masuk islam, ia membebaskan Makdam dan Makdim dari penjara. Ratna Kasina dan Ratna Dewi dikawinkan dengan Makdam.Bunga Kumkuma putih juga sudah diperolehnya.<br>Mangkubumi mesir coba mengambil bunga itu dari jaya langkara dan ditewaskan. Jaya Langkara mengampuni dia, bila mendengar sebab-sebab ia ingin mendapat kan bunga itu. Jaya Langkara pergi ke Mesir dan memohon supaya puteri Ratna Dewi dikawinkan dengan Makdim. Permaohonan nya diterima dengan baik oleh raja Mesir. Bersama –sama dengan Ratna Kasina, Jaya Langkara berangkat ke negeri Ajam Saukat dan menyembuhkan penyakit raja yang tak lain adalah ayahnya. Selang berapa lamanya, Jaya Langkara kembali ke hutan untuk mencari bundanya.Ratna Kasina menyusul tidak lama kemudian, karena tidak tahan di ganggu oleh Makdam dan Makdim yang sudah ke negeri Ajam Saukat. Karena berahi mereka akan putri Ratna Kasina, Makdam dan Makdim coba membunuh Jaya Langkara. Naga guna menyelamatkan dan membawanya bersama-sama dengan Puteri Ratna Kasina ke negeri Madinah. Raja Madinah sangat bergembira. Jaya Langkara dikawinkan dengan puteri Ratna Kasina. Raja Madinah sendiri juga berkawin dengan bunda jaya langkara. Hatta berapa lamanya. Jaya Langkara pun menjadi raja, negeri Madinah pun terlalu makmur dan besar kerajaannya. Segala raja besar pun menghantar upeti ke madinah setiap tahun.<br><strong> </strong><br><strong>Unsur Intrisik Hikayat Melayu “ Jaya Lengkara”</strong><br>1. Tema: perebutan tahta dan kedengkian saudara Jaya lengkara di kerajaan Ajam Saukat.<br>2. Penokohan:<br>• Saeful Muluk→ mudah terpengaruh ( mempercayai fitnah Makdam dan makdim terhadap Jaya Lengkara. )<br>• Putri Sukanda Rum.<br>• Putri Sukanda bayang-bayang.<br>• Makdam dan Makdim→pemfitnah, irihati ( memfitnah Jaya lengkara karena iri hati. )<br>• Jaya Lengkara→suka menolong, pemaaf ( walaupun telah difitnah oleh Makdam dan Makdim tapi Jaya Lengkar tetap memaafkannya). Bijaksana ( memimpin kerajaan dengan bijaksana). Tabah, sabar (Jaya Lengkara tetap tabah menerima segala cobaan yang menimpanya)<br>• Ratna Dewi.<br>• Ratna Kasina.<br>• Naga→ penolong (menolong Jaya Lengkara yang tengah kesusahan).<br>• Mangkubumi Mesir→jahat ( mencoba merampas bunga Kumkuma Putih).<br>• Raja Madinah→ baik hati (menerima kedatangan Jaya Lengkara dan menikahkannya dengan Ratna Kasina).<br>3. Latar:<br>• Tempat:<br> Ajam Saukat (…..di Kerajaan Ajam Saukat).<br> Negeri Peringgi (…..mereka kenNegeri Peringgi).<br> Mesir ( Jaya Lengkara pergi ke Mesir).<br> Hutan (….pergi ke hutan untuk mencari bundanya).<br> Madinah (….bersama dengan Ratna Kasina pergi ke Madinah).<br>• Suasana:<br> Menyedihkan (raja mengusir jaya lengkara dan Ibunya).<br> Bahagia (Raja Madinah sangat bahagia).<br>• Alat :<br> Bunga Kumkuma Putih (bunga Kumkuma Putih juga sudah diperolehnya).<br> Upeti (Segala raja besar pun menghantet upeti ke Madinah setiap tahun).<br> <br>4. Sudut Pandang : orang ketiga serba tahu.<br> <br>5. Alur : maju<br>Tahapan :<br>• Pengenalan: raja mendapatkan anak dari kedua istrinya yaitu Makdam dan Makdim, Jaya Lengkara.<br>• Konflik : raja menyuruh Makdam dam Makdim ke seorang Kadi untuk menanyakan nasib jaya Lengkara.<br>• Penanjakan: Makdam dan Makdim berdusta kepada ayahnya dan memfinah Jaya Lengkara. Hingga akirnya Jaya lenkara dan ibunya diusir dari kerajaan.<br>• Klimaks: ketika bunga Kumkuma telah didapatkan oleh jaya Lengkara, magkubumi Mesir mencoba untuk merbut dri tangan Jaya Lengkara.<br>• Anti klimaks: Jaya Lengkar pergi ke hutan untuk mencari ibunya, kemudian Ratna Kasina meenyusul karena tidak tahan diganggu oleh Makdam dan Makdim. Makdam dan Makdim yang marah kepada jaya Lengkara mencoba untuk membunuhnya.<br>• Ending: jaya Lengkar diselamatkan oleh naga dan dibawa ke Madinah. Dan dikawinkan dengan Ratna Kasina serta dijadikan raja. Negeri Madinah pun makmur dan besar.<br> <br>6. Amanat:<br>• Iri hati dan dengki akan mengkalahkan dan mencelakakan diri sendiri.<br>• Meneggakan keadilan dan kebenaran harus dilakukan untuk mensejahterakan rakyat.<br>• Memaafkan kesalahan orang lain adalah salah satu bentuk menciptakan kedaimaan.<br> <br>7. Nilai:<br>• Agama:<br> Jangan suka memfitnah orang lain.<br> Jangan iri kepada orang lain.<br> Berdo’alah dengan sungguh-sungguh.<br> Jangan mudah percaya dengan ramalan.<br> <br>• Sosial:<br> Tolong-menolonglah dengan sesama.<br> <br>• Moral:<br> Jangan menjadi seorang pendendam.<br> Jangan iri kepada orang lain.<br> </blockquote>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:16:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306910472</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nurul aulia </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306910494</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>HIKAYAT MALIM DEMAN”</strong></div><div> </div><div>Malim deman adalah putra raja dari bandan muar yang sangat bijaksana, lagi sangat elok rupanya. Setelah besar, malim deman bermimpi seorang wali Allah menyuruhnya pergi kerumah nenek kebayan untuk mendapatkan puteri bungsu dari kayangan sebagai istrinya. Dengan pengiring yang banyak, pergilah malim Deman ke rumah nenek kebayan. Dengan bantuan nenek kebayan juga, ia berhasil mencuri baju layang putri bungsu, sehingga puteri Bungsu tidak dapat kembali ke kayangan. Nenek kebayan lalu mengawinkan mereka.</div><div>Maka berapa lama, mereka pun kembali ke Bandar Muar. Jamuan makanan besar-besaran lalu di adakan. Malim Deman juga ditabalkan menjadi raja. Tidak lama kemudian Malin Deman gering, lalu mangkat. Sejak kematian ayahhanda, Malim Deman lali memerintah negeri. Setiap hari ia asyik menyambung ayam saja. Dalam keadaan yang demikian, Puteri Bungsu pun melahirkan seorang anak yang diberi nama Malim Dewana. Akhirnya Malim Dewana besarlah, tetapi Malim Deman tetap tidak mau kembali ke istana melihat puteranya. Putri Bungsu sangat masyghul hatinya. Kebetulan pula ia menemukan kembali baju layangnya. Maka ia pun terbang kembali kekayangan dengan anaknya Malim Dewana.</div><div>Sepeninggal Puteri Bungsu,  barulah Malim Deman menyesal. Tujuh hari tujuh malam  ia tidak beradu, tidak santap, leka dengan menangis saja. Akhirnya ia berazam pergi mendapatkan istri dan anaknya kembali. Dengan susah payah, sampailah ia ke rumah nenek kebayan dan bertanya dimana diperoleh burung borak yang dapat membawanya kekayangan. Dengan bantuan nenek kebayan, tahulah ia bahwa Puteri Terus Mata ada menyimpan burung borak. Raja jin bersedia meminjamkan burung borak kepada Malim Deman dengan syarat bahwa Malim Deman harus kawin dengan anaknya yaitu Puteri Terus Mata. Malim Deman menyanggupi hal ini.</div><div>Sesampainya di kayangan didapatinya Puteri Bungsu akan dikawinkan dengan Mambang Molek. Malim Deman mengalahkan Mambang Molek dalam menyambung ayam. Maka timbullah pertikaman antara keduanya. Mambang Molek terbunuh. Sekali lagi Malim Deman sekeluarga pun turun kembali ke dunia semula. Perkawinan dengan Puteri Terus Mata lalu diadakan.</div><div>Hatta Malim Deman pun menjadi seorang raja yang sangat bijaksana lagi gagah berani. Dan baginda katiga laki istri juga sangat sayang kepada Puteranya</div><div><strong>B). UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK HIKAYAT</strong></div><div><strong>Unsur Intrinsik</strong></div><div><strong>1.</strong> <strong>Tema</strong></div><div>    Tema yang diambil dalam  hikayat “Malim Deman” adalah tentangKehidupan seorang raja.</div><div><strong>2.</strong> <strong>Penokohan</strong></div><div>    Malim Deman : <br>      Bijaksana.</div><div>    Bukti :<br>      “Malim Deman adalah putera raja dari Bandar Muar yang  sangat bijaksana, lagi sangat elok rupanya”</div><div>    Nenek Kebayan :<br>      Penolong.</div><div>    Bukti :<br>      Dengan bantuan nenek kebayan juga, ia berasil mencuri selendang putri bungsu.</div><div>    Putri Bungsu : <br>      Mudah tersinggung atau mudah marah.</div><div>    Bukti :  <br>      “Puteri Bungsu sangat masyghul hatinya”</div><div>    Raja Jin : <br>       Licik.</div><div>    Bukti : <br>      “Raja jin bersedia meminjamkan burung borak kepada   Malin Deman dengan syarat . . .”</div><div>    Malim Dewana :<br>      Penurut.</div><div>   Bukti :<br>      “Maka ia pun terbang kembali kekayangan dengan anaknya Malim Dewana”.</div><div> </div><div><strong>3.</strong> <strong>Latar/Setting</strong></div><div> Latar Tempat :  <em> </em><br><em>     Bandar Muar</em></div><div>     “selang berapa lama, mereka pun kembali ke Bandar Muar”</div><div>                  <em>Rumah  Nenek Kebayan</em></div><div>     “akhirnya, sampailah ia kerumah nenek Kebayan”</div><div>             <em>Kayangan</em></div><div>     “sesampainya di kayangan didapatinya Puteri Bungsu . . .”</div><div> </div><div>Latar Suasana :</div><div>     Suasana Menegangkan :</div><div>     “Malim Deman mengalahkan mambang molek denganmenyambung ayam, maka timbullah  pertikaman <br>     antara keduanya”</div><div>     Suasana Senang:</div><div>     “Sekali lagi Malim Deman sekeluarga pun turun kembali ke dunia semula”</div><div><strong>4.</strong>  <strong>Alur</strong></div><div>    Maju</div><div>- <strong>Ekposisi (Tahap perkenalan):</strong></div><div>   “Malim deman adalah putera raja dari Bandar Muar yang sangat bijaksana, lagi sangat elok rupanya”</div><div>- <strong>Penampilan Permasalahan:</strong></div><div>   “setelah besar, Malim Deman bermimpi seorang wali Allah menyuruhnya pergi kerumah nenek kebayan <br>   untuk mendapatkan puteri bungsu dari kayangan sebagai istrinya”</div><div>- <strong>Komplikasi (Tahap Permasalah) :</strong></div><div>   “puteri bungsu sangat masyghul hatinya. Kebetulan pula ia menemukan kembali baju kayangan. Maka ia <br>   pun terbang kembali kekayangan dengan anaknya Malin Dewana”</div><div>- <strong>Tahap Klimaks :</strong></div><div>   “sesampainya di kayangan didapatinya Puteri Bungsu akan dikawinkan dengan Mambang Molek. Malim <br>   Deman mengalahkan Mambang dalam menyambung ayam. Maka timbullah pertikaman antara keduanya”</div><div>- <strong>Tahap Ketegangan Menurun:</strong></div><div>   “sekali lagi Malim Deman sekeluarga pun turun ke dunia semula”.</div><div><strong>5.</strong> <strong>Sudut Pandang</strong></div><div>    “Akhirnya, sampailah ia kerumah nenek kebayan “</div><div>    Dari data di atas digambarkan bahwa penulis menggunakan Sudut pandang orang ketiga serba tahu.</div><div><strong>6. Gaya Bahasa</strong></div><div>     Penggunaan bahasanya sulit di mengerti.</div><div>     Menggunakan bahasa melayu kuno.</div><div>     Menggunakan kata penghubung maka dalam awal kalimat, contoh:</div><div>     “Maka berapa lama, mereka pun kembali ke Bandar Muar”.</div><div><strong>7.</strong>  <strong>Amanat</strong></div><div>     Keluarga itu sangat penting dalam  kehidupan  kita, jadi jangan kita sia-siakan keluarga kita tersebut.</div><div>     Saling tolong-menolonglah  terhadap sesama, tetapi jangan tolong-menolong dalam berbuat kejahatan.</div><div>     Janganlah kita mudah menyerah dalam menghadapi suatu hal.</div><div><strong> </strong></div><div><strong> Unsur Ekstrinsik</strong> <br>Nilai Pendidikan</div><div>- Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.</div><div>Nilai Moral</div><div>- Jangan kita terlalu memaksakan kehendak kita pada orang lain. Kita harus bersikap bijaksana dalam <br>   menghadapi segala hal di dalam hidup kita.</div><div>Nilai Budaya</div><div>- Kita harus saling menghormati terhadap sesama</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:16:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306910494</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306910587</link>
         <description><![CDATA[<div><br><br><br><br><br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:17:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306910587</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nurul Ramadhani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306910608</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:18:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306910608</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ratih dewi rusman</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306910675</link>
         <description><![CDATA[<div><strong><br>HIKAYAT PANJI SEMIRANG</strong></div><div><br>IDE POKOKNYA<br>Paragraf 1:<br>Dewi Candra Kirana melarikan diri dari istana, dan dalam perjalanannya, akhirnya memutuskan untuk membangun kerajaan sendiri.<br>Paragraf 2:<br>Dewi candra kirana menyamar sebagai seorang laki-laki dan berganti nama menjadi Sri Baginda Panji Semirang Asmarantaka). <br>Paragraf 3:<br>Perjalanan sangat berliku, Panji Semirang yang patah hati karena mendengar Inu Kertapati telah menikah dengan Galuh Ajeng, akhirnya meninggalkan istana dan memutuskan untuk menjadi Warga Gambuh Asmara dan mengelana ke negeri Gagelang atas nasehat bibinya, Biku Gandasari. <br><br></div><div><br><strong>Unsur-Unsur Intrinsik</strong></div><div><strong>Tema Silsilah Panji Semirang</strong></div><div><strong>Latar Suasana</strong></div><div>Bahagia ( Terlalu amat berkasih-kasihan empat bersaudara,…)</div><div><strong>Latar Waktu</strong></div><div>Zaman dahulu ( Sebermula pada zaman dahulu kala ada raja di Tanah Jawa empat bersaudara…)</div><div><strong>Latar Tempat</strong></div><div>-Tanah Jawa ( Sebermula pada zaman dahulu kala ada raja di Tanah Jawa</div><div>empat bersaudra,……)</div><div>-Kuripan ( Yang tua menjadi ratu di Kuripan)</div><div>-Daha ( yang tengah menjadi ratu di Daha)</div><div>-Gegelang ( yang bungsu menjadi ratu di Gegelang)</div><div>-Karang Banjar Ketapang ( …, maka dipungutkan inang pengasuh dengan</div><div>sepertinya dan diberi pekarangan oleh Baginda di Karang Banjar Ketapang.)</div><div> </div><div><strong>Watak Tokoh</strong></div><div>Raja: periang ( …..pada segenap tahun utus-mengutus, empat buah negeri itu terlalu amat baik perintahnya dan periksanya akan segala rakyatnya,…..Dan termasyurlah pada segala negeri di Tanah Jawa akan raja empat buah negeri itu, terlalu baik perintahnya,…..)</div><div>Nata Kuripan: agung ( ….dan sikapnya dan jejak keagung-agungan), mau menerima pendapat ( Setelah sang nata mendengar kata Permaisuri demikian maka dipikirkan sang Nata, benarlah seperti kata Permaisuri.), tekun (Maka sang Nata dan Permaisuri pun memujalah dua laki istri kepada segala macam Dewa-Dewa siang dan malam empat puluh hari empat puluh malam.)</div><div>Permaisuri: tekun (Maka sang Nata dan Permaisuri pun memujalah dua laki istri kepada segala macam Dewa-Dewa siang dan malam empat puluh hari empat puluh malam.), berkeinginan kuat (ingin rasanya ia hendak berputera laki-laki yang baikparasnya.)</div><div><strong>Sudut Pandang</strong></div><div>Orang ketiga tunggal ( Karena tidak melibatkan sang pencerita di dalamnya)</div><div><strong>Gaya bahasa</strong></div><div>-Menggunakan majas repetisi (terdapat dalam kata “maka”)</div><div>-Menggunakan majas hiperbola (…..dan mendam kula dan menghabiskan segala rerawitan isi laut dan darat.)</div><div><strong>Nilai-Nilai (Unsur Ekstrinsik)</strong></div><div>•Religi ( terdapat dalam pemujaan dewa)</div><div>•Kesabaran dan ketekunan (ketika sang Nata dan Permaisuri menyembah</div><div>dewa selama 40 hari 40 malam)</div><div>•Kerukunan ( terdapat dalam empat bersaudara yang berkasih-kasihan)</div><div>•Pengharapan ( terdapat dalam keinginan Nata dan Permaisuri dalam</div><div>mendapatkan anak</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:18:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306910675</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ramandha khairun amin</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306910775</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Hikayat Gunung Tidar Dan</strong></div><div><strong>Tombak Kiai Panjang</strong></div><div> </div><div>Syahdan, dahulu kala Tanah Jawa ini masih berupa hutan belantara yang tiada seorangpun berani tinggal di sana. Sebagian besar wilayah Jawa ini dahulu masih dikuasai berbagai makhluk halus. Konon Tanah Jawa yang dikelilingi laut ini bak perahu yang mudah oleng oleh ombak laut yang besar. Maka melihat itu para dewata segera mencari cara untuk mengatasinya.</div><div>Maka berkumpullah para dewa untuk membahas persoalan Tanah Jawa yang tidak pernah tenang oleh hantaman ombak itu. Diutuslah sejumlah dewa untuk tugas menenangkan pulau ini. Mereka membawa sejumlah bala tentara menuju Pulau Jawa sebelah barat. Namun, tiba-tiba Pulau Jawa kembali oleng dan berat sebelah karena para dewa dan bala tentara hanya menempati wilayah </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:19:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306910775</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hajar nurlealani suwardi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306910972</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:21:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306910972</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muh.Furqan.Makkah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306911173</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>“PERKARA SI BUNGKUK DAN SI PANJANG”</strong></div><div><br>Ide Pokok Paragraf :<br><br> </div><div>1. Maka pada suatu hari adalah dua orang laki-istri berjalan.     <br>2. ada pula seorang Bedawi duduk di seberang sana sungai itu.</div><div><br></div><div>3. Bedawi itu pun turunlah ia ke dalam sungai itu merendahkan dirinya, hingga lehernya juga ia berjalan menuju orang tua yang bungkuk laki-istri itu. </div><div><br>3.Kata orang tua itu kepada istrinya, "Pergilah diri dahulu." Setelah itu maka turunlah perempuan itu ke dalam sungai dengan orang Bedawi itu. </div><div><br></div><div>4. Keduanya pun mandilah, setelah sudah maka makanlah ia keduanya segala perbekalan itu. Maka segala kelakuan itu semuanya dilihat oleh orang tua bungkuk itu dan segala hal perempuan itu dengan Bedawi itu.</div><div><br></div><div>5. Setelah dilihat oleh orang tua itu akan Bedawi dengan istrinya berjalan, maka ia pun berkata-kata dalam hatinya, "Daripada hidup melihat hal yang demikian ini, baiklah aku mati."</div><div><br></div><div>6.Setelah itu maka terjunlah ia ke dalam sungai itu. Maka heranlah ia, karena dilihatnya sungai itu aimya tiada dalam, maka mengarunglah ia ke seberang lalu diikutnya Bedawi itu. Dengan hal yang demikian itu maka sampailah ia kepada dusun tempat Masyhudulhakk itu.</div><div><br></div><div>7.Maka orang tua itu pun datanglah mengadu kepada Masyhudulhakk. Setelah itu maka disuruh oleh Masyhudulhakk panggil Bedawi itu. </div><div><br></div><div>8.Maka dengan demikian jadi bergaduhlah mereka itu. Syahdan maka gemparlah. Maka orang pun berhimpun, datang melihat hal mereka itu ketiga.</div><div><br></div><div>9.Maka diperjauhkannyalah laki-laki itu keduanya. Arkian maka diperiksa pula oleh Masyhudulhakk. </div><div><br></div><div>10.Maka disuruh oleh Masyhudulhakk perjauhkan. Setelah itu maka dibawa pula si Panjang itu. Maka kata Masyhudulhakk, "Berkata benarlah engkau ini. Sungguhkah perempuan itu istrimu?"</div><div><br></div><div>11.Maka kata Bedawi itu, "Bahwa perempuan itu telah nyatalah istri hamba; lagi pula perempuan itu sendiri sudah berikrar, mengatakan hamba ini tentulah suaminya."Syahdan maka Masyhudulhakk pun tertawa</div><div><br></div><div>12.Maka disuruh oleh Masyhudulhakk jauhkan laki-laki Bedawi itu. Setelah itu maka dipanggilnya pula orang tua itu. "</div><div><br></div><div>13.Maka Masyhudulhakk dengan sekalian orang banyak itu pun tahulah akan salah Bedawi itu dan kebenaran orang tua itu. </div><div><br></div><div>14.Maka bertambah-tambah masyhurlah arif bijaksana Masyhudulhakk itu.</div><div><br></div><div><strong>Unsur Intrinsik dan ekstrinsik HIKAYAT</strong></div><div><br></div><div><br></div><div>Judul           : Hikayat Mashudulhakk (perkara si bungkuk dan si panjang)</div><div>Unsur intrinsik :</div><div>·         Tema               : Kesetiaan dan Pengkhianatan dalam Cinta</div><div>·         Tokoh             :</div><div>ü  Masyhudulhakk : arif, bijaksana, suka menolong, cerdik, baik hati.</div><div>ú  …Masyhudulhakk pun besarlah. Kalakian maka bertambah-tambah cerdiknya dan akalnya itu.</div><div>ú  Maka bertambah-tambah masyhurlah arif bijaksana Masyhudulhakk itu.</div><div>ú  …..Maka pikirlah 5) Masyhudulhakk,"Baik kepada seorang-seorang aku bertanya, supaya berketahuan siapa salah dan siapa benar di dalam tiga orang mereka itu.</div><div>ü  Si Bungkuk : setia pada istrinya, suka mengalah, mudah percaya.</div><div>ú  Maka kata orang tua itu, "Istri hamba, dari kecil nikah dengan hamba.</div><div>ú  Maka Bedawi itu pun turunlah ia ke dalam sungai itu merendahkan dirinya, hingga lehernya juga ia berjalan menuju orang tua yang bungkuk laki-istri itu. Maka kata orang tua itu, "Tuan hamba seberangkan apalah 2) hamba kedua ini.</div><div>ú  Maka kata orang tua itu kepada istrinya, "Pergilah diri dahulu." Setelah itu maka turunlah perempuan itu ke dalam sungai dengan orang Bedawi itu.</div><div><br></div><div>ü  Si Panjang / Bedawi : licik, egois.</div><div>ú  Setelah didengar oleh Bedawi kata orang tua bungkuk itu dan serta dilihatnya perempuan itu baik rupanya, maka orang Bedawi itu pun sukalah, dan berkata di dalam hatinya, "Untunglah sekali ini!</div><div>ú  Maka kata Bedawi itu, "Bahwa perempuan itu telah nyatalah istri hamba; lagi pula perempuan itu sendiri sudah berikrar, mengatakan hamba ini tentulah suaminya.</div><div>ü  Istri Si Bungkuk : mudah dirayu, tidak setia, suka berbohong, egois.</div><div>ú  hamba jadikan istri hamba." Maka berbagai-bagailah katanya akan perempuan itu.Maka kata perempuan itu kepadanya, "Baiklah.</div><div>ú  ….maka diperiksa pula oleh Masyhudulhakk. Maka kata perempuan itu, "Si Panjang itulah suami hamba.</div><div>·         Setting :</div><div>ü  tempat :</div><div>ú  tepi sungai : Maka ia pun berhentilah di tebing sungai itu dengan istrinya.</div><div>ú  Sungai : turunlah perempuanitu ke dalam sungai dengan orang Bedawi itu</div><div>ü  Suasana :</div><div>ú  menegangkan: Maka pada sangka orang tua itu, air sungai itu dalam juga.</div><div>ú  Mengecewakan:  "Daripada hidup melihat hal yang demikian ini, baiklah aku mati.Setelah itu maka terjunlah ia ke dalam sungai itu.</div><div>ú  Membingungkan: Maka dengan demikian jadi bergaduhlah mereka itu. Syahdan maka gemparlah.</div><div>ü  Waktu : tidak diketahui</div><div>·         Alur : Alur maju</div><div>ü  Eksposisi         :</div><div>Mashudulhakk arif bijaksana dan pandai memutuskan perkara-perkara yang sulit  maka berapa lamanya Masyhudulhakk pun besarlah. Kalakian maka bertambah-tambah cerdiknya dan akalnya itu. Maka pada suatu hari adalah dua orang laki-istri berjalan. Maka sampailah ia kepada suatu sungai.</div><div>ü  Complication   :</div><div>….serta dilihatnyaperempuan itu baik rupanya, maka orang Bedawi itu pun sukalah, dan berkata di dalam hatinya, "Untunglah sekali ini!</div><div>ü  Rising action   :</div><div>Maka sampailah kepada pertengahan sungai itu, maka kata Bedawi itu kepada perempuan itu, "Akan tuan ini terlalu elok rupanya dengan mudanya. Mengapa maka tuan hamba berlakikan orang tua bungkuk ini? Baik juga tuan hamba buangkan orang bungkuk itu, agar supaya tuan hamba, hamba ambit, hamba jadikan istri hamba."</div><div>ü  Turning point :</div><div>Maka orang tua itu pun datanglah mengadu kepada Masyhudulhakk. Setelah itu maka disuruh oleh Masyhudulhakk panggil Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun datanglah dengan perempuan itu. Masyhudulhakk, "Baik kepada seorang-seorang aku bertanya, supaya berketahuan siapa salah dan siapa benar di dalam tiga orang mereka itu.</div><div>ü  Ending                        :</div><div>Masyhudulhakk dengan sekalian orang banyak itu pun tahulah akan salah Bedawi itu dan kebenaran orang tua itu. Maka Bedawi itu pun mengakulah salahnya. Demikian juga perempuan celaka itu. Lalu didera oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu serta dengan perempuan celaka itu seratus kali.</div><div>·         Poin of View :</div><div>ü  orang ke-3 :</div><div>Maka bertambah-tambah masyhurlah arif bijaksana Masyhudulhakk itu.</div><div>·         Amanat :</div><div>ü  Jangan berbohong karena berbohong itu tidak baik, merupakan dosa, dan hanya akan menimbulkan kerugian pada diri kita sendiri</div><div>ü  Bantulah dengan ikhlas orang yang membutuhkan bantuan</div><div>ü  Syukurilah jodoh yang telah diberikan Tuhan, yakini bahwa jodoh itu baik untuk kita</div><div>ü  Jangan mengambil keputusan sesaat yang belum dipikirkan dampaknya</div><div>ü  Jadilah orang yang bijaksana dalam mengatasi suatu masalah</div><div><br></div><div>Unsur ekstrinsik :</div><div>·         Nilai religiusitas : kita harus selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah. Jangan pernah merasa iri dengan apa yang tidak kita miliki karena apa yang te;ah diberikan Allah kepada kita adalah sesuatu yang memang terbaik untuk kita. Janagn seperti yang ada pada hikayat mashudulhakk.</div><div><br></div><div>·         Nilai moral :</div><div>Janganlah  sekali-kali  kita memutar balikkan fakta, mengatakan bahwa yang salah itu benar dansebaliknya, karena bagaimanapun juga kebenaran akan mengalahkan ketidak benaran.</div><div>·         Nilai social budaya :</div><div>Sebuah kesalahan pastilah akan mendapat sebuah balasan, pada hikayat ini diterangkan bahwa seorang yang melakukan keslahan seperti berbohong maka akan did era sebanyak seratus kali. (<em>Lalu didera oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu serta dengan perempuan celaka itu seratus kali</em>.)</div><div>·         Kepengarangan :</div><div>Hikayat mashudulhakk ini dari salah satu naskah lama (Collectie v.d. Wall) dengan diubah di sana-sini setelah dibandingkan dengan buku yang diterbitkan oleh A.F. v.d. Wall (menurut naskah yang lain dalam kumpulan yang tersebut).Dalam Volksalmanak Melayu 1931 (Balai Pustaka) isi naskah yang dipakai v.d. Wall itu diringkaskan dan sambungannya dimuat pula, dengan alamat "Masyudhak".. Dinantinya.</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:24:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306911173</guid>
      </item>
      <item>
         <title>MUHAMMAD SYAFIISMATH RAMADHAN</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306911411</link>
         <description><![CDATA[<div>Asal Usul Telaga Ngebel<br><br>Dahulu kala ada seorang pendita terkenal bernama Begawan Wida. Rumahnya di lereng sebelah barat Gunung Wilis. Istri Begawan Wida telah lama meninggal. Begawan Wida mempunyai seorang anak yang menjelang dewasa, anak perempuan itu sangat cantik. Siapa pun yang pernah bertemu anak itu pasti akan tertarik. Begitu pula Begawan Wida, ia pun tertarik dengan anak perempuannya. Begawan Wida tidak bias membedakan apa yang tidak boleh dilakukan seorang ayah terhadap anak gadisnya.<br>Atas kehendak Yang Maha Kuasa, putri Begawan Wida pun hamil. Putri Begawan Wida akhirnya melahirkan seorang anak, namun anak yang dilahirkan bukanlah manusia, melainkan seekor ular. Karena merasa malu, putri Begawan Wida pun bunuh diri. Sang ular jelmaan itu tidak mengetahui siapa orang tuanya. Dia terus mencari-cari kedua orang tuanya kemana pun tetapi tidak ditemukan. Akhirnya dia bertapa di desa tempat tinggalnya bernama Ganda yuda selama bertahun-tahun.<br>Ketika sedang bertapa, terdapat sekumpulan penduduk dari sebelah barat desa Ganda yuda yang mencari binatang buruan ke hutan untuk keperluan perhelatan. Penduduk tersebut menemukan seekor ular yang besar, dan akhirnya mereka memutuskan untuk membunuh ular tersebut dan dipotong-potong.Sang ular jelmaan itu pun menjelma menjadi seorang anak, kemudian dia datang ke kampung Ganda yuda. Dia datang untuk meminta makan, namun semua penduduk tidak ada yang memberikannya makan, karena dia sangat jelek dan sakit kudisan.<br>Namun ada seorang nenek bernama Nyai Latung, karena merasa kasihan sang nenek pun memberinya makan. Setelah dia selesai menyantap makanan yang diberikan, dia pun memberi peringatan kepada sang nenek bahwa akan terjadi sebuah bencana. Sang anak pun menghilang dan akhirnya ia kembali ke kampung Ganda yuda dengan keadaan yang lebih baik, lalu ia menancapkan sebuah lidi ke tanah. Tidak ada seorang pun yang berhasil mencabut lidi tersebut. Dan akhirnya sang anak pun yang hanya bias mencabut lidi tersebut, akan tetapi keluar air yang sangat banyak dari tempat lidi tersebut ditancapkan.<br>Kampung itu pun akhirnya tenggelam menjadi sebuah telaga, telaga itu pun diberi nama “Telaga Ngebel”. Ngebel tampaknya berasal dari rasa benci dan sebal.<br><br><br><br>1.      Unsur intrinsik :<br><br>a.      Tema : kebencian dan rasa sebal anak putri Begawan Wida<br>b.      Alur : cerita ini menggunakan alur maju<br><br>“Sepeninggal ibunya, bayi ular itu sangat bingung. Dia tidak mengetahui siapa orang tua nya. Dia mencari ke sana kemari, tapi kedua orang tuanya tidak ditemukan. Akhirnya, dia tinggal di tempat itu. Dia bertapa sampai bertahun-tahun.”<br><br>c.       Latar :<br><br>·        Latar tempat :<br>a.      Desa Ganda yuda<br>b.      Lereng sebelah barat Gunung Wilis<br>c.      Hutan<br>d.      Halaman gubuk<br>·        Latar suasana :<br>a.      Kebencian<br>b.      Rasa sebal<br>c.      Menegangkan<br>d.      Menyedihkan<br>·        Latar waktu : -<br><br>d.      Tokoh dan Penokohan :<br><br>1.      Begawan Wida<br>Penokohan  : tidak diceritakan<br>2.      Putri Begawan Wida<br>Penokohan : tidak diceritakan<br>3.      Nyai Latung<br>Penokohan : baik hati,<br>4.      Anak putri Begawan Wida (Baru Klinting)<br>Penokohan : pendendam<br><br>e.      Sudut pandang : cerita ini menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu (dia)<br><br>f.       Amanat :<br>Hendaknya kita tidak boleh mempunyai sifat pendendam terhadap orang yang sudah jahat kepada kita, walaupun mereka sudah jahat tetapi akan lebih baik jika kita bias menerima nya dengan lapang dada tanpa harus membalas dendam.<br><br><br>2.      Unsur Ekstrinsik :<br><br>a.      Nilai Moral :<br>·        Tidak boleh menghardik dan mengejek orang lain.<br>b.      Nilai Sosial :<br>·        Menjaga silaturahmi dan kekerabatan dengan mengundang seseorang untuk hadir dalam suatu perhelatan yang digelar<br>c.      Nilai Religius :<br>·        Atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa segala sesuatu yang tidak mungkin akan mungkin terjadi.<br>d.      Nilai Pendidikan :<br>·        Harus menyayangi sesama tidak memandang tua atau muda nya seseorang<br>e.      Nilai Budaya :<br><br>·        Pada masyarakat dahulu, para penduduk di suatu daerah tertentu mencari binatang buruan ke hutan untuk keperluan perhelatan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:26:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306911411</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ANDINI PRATIWI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306911525</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>HIKAYAT MALIM DEMAN”</strong></div><div> </div><div> A.) IDE POKOK<br>Paragraf 1= malim demam adalah putra Raja dari bandan muar yang sangat bijaksana, lagi sangak elok rupanya. <br>paragraf 2=sejak kematian ayahanda,malim demam lali memerintah negeri. Setiap hari ia asyik menyambung Ayam Saja.putri bungsu melahirkan seorang anak yang diberi nama Malik dewana.saat malim dewana tumbuh dewasa, malim demam tetap tidak mau kembali ke istina melihat puteranya. <br>Paragraf 3=sepeninggal puteri bungsu, barulah malim demam malim menyesal. <br>Paragaraf 4= sesampainya dikayangan, malim demam mengalahkan mambang molekdalam menyambung Adam. Maka timbullah pertikaian antara keduanya, mambang molek terbunuh, <br>Paragraf 5=hatta Malik demam pun menjadi seorang Raja yang sangat bijaksana lagi gagah berani. Dan baginda ketiga laki istri juga sangat sayang kepada puteranya. <br> <strong> B). UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK HIKAYAT</strong></div><div><strong>Unsur Intrinsik</strong></div><div><strong>1.</strong> <strong>Tema</strong></div><div>    Tema yang diambil dalam  hikayat “Malim Deman” adalah tentangKehidupan seorang raja.</div><div><strong>2.</strong> <strong>Penokohan</strong></div><div>    Malim Deman : <br>      Bijaksana.</div><div>    Bukti :<br>      “Malim Deman adalah putera raja dari Bandar Muar yang  sangat bijaksana, lagi sangat elok rupanya”</div><div>    Nenek Kebayan :<br>      Penolong.</div><div>    Bukti :<br>      Dengan bantuan nenek kebayan juga, ia berasil mencuri selendang putri bungsu.</div><div>    Putri Bungsu : <br>      Mudah tersinggung atau mudah marah.</div><div>    Bukti :  <br>      “Puteri Bungsu sangat masyghul hatinya”</div><div>    Raja Jin : <br>       Licik.</div><div>    Bukti : <br>      “Raja jin bersedia meminjamkan burung borak kepada   Malin Deman dengan syarat . . .”</div><div>    Malim Dewana :<br>      Penurut.</div><div>   Bukti :<br>      “Maka ia pun terbang kembali kekayangan dengan anaknya Malim Dewana”.</div><div> </div><div><strong>3.</strong> <strong>Latar/Setting</strong></div><div> Latar Tempat :  <em> </em><br><em>     Bandar Muar</em></div><div>     “selang berapa lama, mereka pun kembali ke Bandar Muar”</div><div>                  <em>Rumah  Nenek Kebayan</em></div><div>     “akhirnya, sampailah ia kerumah nenek Kebayan”</div><div>             <em>Kayangan</em></div><div>     “sesampainya di kayangan didapatinya Puteri Bungsu . . .”</div><div> </div><div>Latar Suasana :</div><div>     Suasana Menegangkan :</div><div>     “Malim Deman mengalahkan mambang molek denganmenyambung ayam, maka timbullah  pertikaman <br>     antara keduanya”</div><div>     Suasana Senang:</div><div>     “Sekali lagi Malim Deman sekeluarga pun turun kembali ke dunia semula”</div><div><strong>4.</strong>  <strong>Alur</strong></div><div>    Maju<br><br>- <strong>Ekposisi (Tahap perkenalan):</strong></div><div>   “Malim deman adalah putera raja dari Bandar Muar yang sangat bijaksana, lagi sangat elok rupanya”</div><div>- <strong>Penampilan Permasalahan:</strong></div><div>   “setelah besar, Malim Deman bermimpi seorang wali Allah menyuruhnya pergi kerumah nenek kebayan <br>   untuk mendapatkan puteri bungsu dari kayangan sebagai istrinya”</div><div>- <strong>Komplikasi (Tahap Permasalah) :</strong></div><div>   “puteri bungsu sangat masyghul hatinya. Kebetulan pula ia menemukan kembali baju kayangan. Maka ia <br>   pun terbang kembali kekayangan dengan anaknya Malin Dewana<br>- <strong>Tahap Klimaks :</strong></div><div>   “sesampainya di kayangan didapatinya Puteri Bungsu akan dikawinkan dengan Mambang Molek. Malim <br>   Deman mengalahkan Mambang dalam menyambung ayam. Maka timbullah pertikaman antara keduanya”</div><div>- <strong>Tahap Ketegangan Menurun:</strong></div><div>   “sekali lagi Malim Deman sekeluarga pun turun ke dunia semula”.</div><div><strong>5.</strong> <strong>Sudut Pandang</strong></div><div>    “Akhirnya, sampailah ia kerumah nenek kebayan “</div><div>    Dari data di atas digambarkan bahwa penulis menggunakan Sudut pandang orang ketiga serba tahu.</div><div><strong>6. Gaya Bahasa</strong></div><div>     Penggunaan bahasanya sulit di mengerti.</div><div>     Menggunakan bahasa melayu kuno.</div><div>     Menggunakan kata penghubung maka dalam awal kalimat, contoh:</div><div>     “Maka berapa lama, mereka pun kembali ke Bandar Muar”.</div><div><strong>7.</strong>  <strong>Amanat</strong></div><div>     Keluarga itu sangat penting dalam  kehidupan  kita, jadi jangan kita sia-siakan keluarga kita tersebut<br>Saling tolong-menolonglah  terhadap sesama, tetapi jangan tolong-menolong dalam berbuat kejahatan.</div><div>     Janganlah kita mudah menyerah dalam menghadapi suatu hal.</div><div><strong> </strong></div><div><strong> Unsur Ekstrinsik</strong> <br>Nilai Pendidikan</div><div>- Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.</div><div>Nilai Moral</div><div>- Jangan kita terlalu memaksakan kehendak kita pada orang lain. Kita harus bersikap bijaksana dalam <br>   menghadapi segala hal di dalam hidup kita.</div><div>Nilai Budaya</div><div>- Kita harus saling menghormati terhadap sesama.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:27:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306911525</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Siti shakila</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306911541</link>
         <description><![CDATA[<div>HIKAYAT ABU NAWAS: PESAN BAGI HAKIM<br><br> <br><br>Bapaknya Abu Nawas adalah Penghulu Kerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari bapaknya Abu Nawas yang sudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia.<br><br>Abu Nawas dipanggil ke istana. la diperintah Sultan (Raja) untuk mengubur jenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tata cara memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan men-do’akannya. Maka Sultan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan bapaknya.<br><br>Namun..,demi mendengar rencana sang Sultan. Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadi gila.<br><br>Usai upacara pemakaman bapaknya. Abu Nawas mengambil batang sepotong batang pisang dan diperlakukannya seperti kuda, ia menunggang kuda dari batang pisang itu sambil berlari-lari dari kuburan bapaknya menuju rumahnya. Orang yang melihat menjadi terheran-heran dibuatnya.<br><br>Pada hari yang lain ia mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang cukup banyak untuk pergi ke makam bapaknya. Dan di atas makam bapaknya itu ia mengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita.<br><br>Kini semua orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, mereka menganggap Abu Nawas sudah menjadi gila karena ditinggal mati oleh bapaknya.<br><br>Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Sultan Harun Al Rasyid datang menemui Abu Nawas.<br><br>“Hai Abu Nawas kau dipanggil Sultan untuk menghadap ke istana.” kata wazir utusan Sultan.<br><br>“Buat apa sultan memanggilku, aku tidak ada keperluan dengannya.” jawab Abu Nawas dengan entengnya seperti tanpa beban.<br><br>“Hai Abu Nawas kau tidak boleh berkata seperti itu kepada rajamu.”<br><br>“Hai wazir, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil ini kudaku ini dan mandikan di sungai supaya bersih dan segar.” kata Abu Nawas sambil menyodorkan sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan.<br><br>Si wazir hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas. “Abu Nawas kau mau apa tidak menghadap Sultan?” kata wazir.<br><br>“Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu maka aku tidak mau.” kata<br><br>Abu Nawas.<br><br>“Apa maksudnya Abu Nawas?” tanya wazir dengan rasa penasaran.<br><br>“Sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada rajamu.” sergah Abu Nawas sembari menyaruk debu dan dilempar ke arah si wazir dan teman-temannya.<br><br>Si wazir segera menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas. Mereka laporkan keadaan Abu Nawas yang seperti tak waras itu kepada Sultan Harun Al Rasyid.<br><br>Dengan geram Sultan berkata,”Kalian bodoh semua, hanya menghadapkan Abu Nawas kemari saja tak becus! Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas bawa dia kemari dengan suka rela ataupun terpaksa.”<br><br>Si wazir segera mengajak beberapa prajurit istana. Dan dengan paksa Abu Nawas di hadirkan di hadapan raja.<br><br>Namun lagi-lagi di depan raja Abu Nawas berlagak pilon bahkan tingkah-nya ugal-ugalan tak selayaknya berada di hadapan seorang raja.<br><br>“Abu Nawas bersikaplah sopan!” tegur Baginda. “Ya Baginda, tahukah Anda……?”<br><br>‘Apa Abu Nawas…?”<br><br>“Baginda…terasi itu asalnya dari udang !”<br><br>“Kurang ajar kau menghinaku Nawas !”<br><br>“Tidak Baginda! Siapa bilang udang berasal dari terasi?”<br><br>Baginda merasa dilecehkan, ia naik pitam dan segera memberi perintah kepada para pengawalnya.<br><br>“Hajar dia ! Pukuli dia sebanyak dua puluh lima kali.”<br><br>Wah-wah! Abu Nawas yang kurus kering itu akhirnya lemas tak berdaya dipukuli tentara yang bertubuh kekar.<br><br>Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar istana. Ketika sampai di pintu gerbang kota, ia dicegat oleh penjaga.<br><br>“Hai Abu Nawas! Tempo hari ketika kau hendak masuk kekota ini kita telah mengadakan perjanjian. Masak kau lupa pada janjimu itu? Jika engkau diberi hadiah oleh Baginda maka engkau berkata: Aku bagi dua; engkau satu bagian, aku satu bagian. Nah, sekarang mana bagianku itu?”<br><br>“Hai penjaga pintu gerbang, apakah kau benar-benar menginginkan hadiah Baginda yang diberikan kepadaku tadi?”<br><br>“lya, tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita?”<br><br>“Balk, aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!”<br><br>“Wah ternyata kau baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu, kau kan sudah sering menerima hadiah dari Baginda.”<br><br>Tanpa banyak cakap lagi Abu Nawas mengambil sebatang kayu yang agak besar lalu orang itu dipukulinya sebanyak dua puluh lima kali.Tentu saja orang itu menjerit-jerit kesakitan dan menganggap Abu Nawas telah menjadi gila.<br><br>Setelah penunggu gerbang kota itu klenger Abu Nawas meninggalkannya begitu saja, ia terus melangkah pulang ke rumahnya.<br><br>Sementara itu si penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada Sultan Harun Al Rasyid.<br><br>“Ya, Tuanku Syah Alam, ampun beribu ampun. Hamba datang kemari mengadukan Abu Nawas yang telah memukul hamba sebanyak dua puluh lima kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohom keadilan dari Tuanku Baginda.”<br><br>Baginda segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Abu Nawas. Setelah Abu Nawas berada di hadapan Baginda ia ditanya.”Hai Abu Nawas! Benarkah kau telah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kali pukulan?”<br><br>Berkata Abu Nawas, “Ampun Tuanku, sudah sepatutnya dia menerima pukulan itu<br><br>“Apa maksudmu? Coba kau jelaskan seb orang itu?” tanya Baginda.<br><br>“Tuanku,”kata Abu Nawas.”Hamba dan p. mengadakan perjanjian bahwa jika’hamba diberi hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian saya. Nah pagi tadi hamba menerima hadial maka saya berikan pula hadiah dua puluh limi kali.<br><br>“Hai penunggu pintu gerbang, benarkah kau berjanji seperti itu dengan Abu Nawas?” tanya Baginda.<br><br>“Benar Tuanku,”jawab penunggu pintu gerbang mengira jika Baginda memberikan hadiah pada abunawas.<br><br>“Hahahahaha…….!Dasar tukang peras,<br><br>sahut Baginda.”Abu Nawas tiada bersalah bahwa penjaga pintu gerbang kota Baghdad suka memeras orang! Kalau kau tidak berubah aku akan memecat dan menghukum kamu!”<br><br>“Ampun Tuanku,”sahut penjaga pintu gerbang.<br><br>Abu Nawas berkata,”Tuanku, hamba sue tiba-tiba diwajibkan hadir di tempat ini, pai Hamba mohon ganti rugi. Sebab jatah waktu karena panggilan Tuanku. Padahal besok r untuk keluarga hamba.”<br><br>Sejenak Baginda melengak, terkejut ate tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak,” Hahahah<br><br>Baginda kemudian memerintahkan bem sekantong uang perak kepada Abu Nawas. A hati gembira.<br><br>Tetapi sesampai di rumahnya Abu Naw bahkan semakin nyentrik seperti orang gila J<br><br>Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid rm menterinya.<br><br>“Apa pendapat kalian mengenai Abu N. sebagai kadi?”3<br><br>Wazir atau perdana meneteri berkata,”Melihat keadaan Abu Nawas yang semakin parah otaknya maka sebaiknya Tuanku mengangkat orang lain saja menjadi kadi.”<br><br>Menteri-menteri yang lain juga mengutarakan pendapat yang sama. “Tuanku, Abu Nawas telah menjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi.”<br><br>“Baiklah, kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari, karena bapaknya baru saja mati. Jika tidak sembuh-sembuh juga bolehlah kita mencari kadi yang lain saja.”<br><br>Setelah lewat satu bulan Abu Nawas masih dinggap gila, maka Sultan Harun Al Rasyid mengangkat orang lain menjadi kadi atau penghulu kerajaan Baghdad.<br><br>Konon dalam seuatu pertemuan besar ada seseorang bernama Polan yang sejak lama berambisi menjadi Kadi, la mempengaruhi orang-orang di sekitar Baginda untuk menyetujui jika ia diangkat menjadi Kadi, maka tatkala ia mengajukan dirinya menjadi Kadi kepada Baginda maka dengan mudah Baginda menyetujuinya.<br><br>Begitu mendengar Polan diangkat menjadi kadi maka Abu Nawas mengucapkan syukur kepada Tuhan. “Alhamdulillah….. aku telah terlepas dari balak yang mengerikan.Tapi….sayang sekali kenapa hams Polan yang menjadi Kadi, kenapa tidak yang lain saja.”<br><br>Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila? Ceritanya begini: Pada suatu hari ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia ia panggil Abu Nawas untuk menghadap. Abu Nawas pun datang mendapati bapaknya yang sudah lemah lunglai.<br><br>Berkata bapaknya, “Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah telinga kanan dan telinga kiriku.”<br><br>Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya. la cium telinga kanan bapaknya, ternyata berbau harum, sedangkan yang sebelah kiri berbau sangat busuk.<br><br>“Bagamaina anakku? Sudah kau cium?” “Benar Bapak!”<br><br>“Ceritakan dengan sejujurnya, baunya kedua telingaku ini.” “Aduh Pak, sungguh mengherankan, telinga Bapak yang sebelah kanan berbau harum sekali. Tapi… yang sebelah kiri kok baunya amat busuk?”<br><br>“Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?” “Wahai bapakku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini.’;<br><br>Berkata Syeikh Maulana.Tada suatu hari datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang seorang lagi karena aku tak suka maka tak kudengar pengaduannya. Inilah resiko menjadi Kadi (Penghulu). Jika kelak kau suka menjadi Kadi maka kau akan mengalami hal yang sama, namun Jika kau tidak suka menjadi Kadi maka buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih sebagai Kadi o!eh Sultan Harun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak Sultan Harun AI.Rasyid pastilah tetap memilihmu sebagai Kadi.”<br><br>Nah, itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila. Hanya untuk menghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi kadi, seorang kadi atau penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatu perkara. Waiaupun Abu Nawas tidak menjadi Kadi namun dia sering diajak konsultasi oleh sang Raja untuk memutus suatu perkara. Bahkan ia kerap kali dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan Baginda Raja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.<br><br> <br><br>Unsur Intrinsik :<br><br>Tema : keadilan<br><br>Alur : Menggunakan alur maju mundur. Karena penulis menceritakan cerita tidak berurutan dari awal hingga akhir.<br><br>Setting/ Latar :<br><br>-Setting Tempat : Negeri Antah Berantah, kerajaan raja Bahgdad, rumah Abunawas.<br><br>Setting Suasana : ramai, menegangkan, dan bahagia.<br><br>Sudut Pandang Pengarang : orang ketiga serba tahu.<br><br>Amanat :<br><br>-kita harus banyak-banyak bersyukur.<br><br>Jangan selalu melihat ke atas, sekali-kali lihatlah kebawah, karena masih banyak orang yang hidupnya lebih menderita dari kita.<br><br>– Hadapilah semua rintangan dan cobaan dalam hidup dengan sabar dan rendah hati.<br><br>-Jangan memandang seseorang dari tampak luarnya saja, tapi lihatlah ke dalam hatinya.<br><br>-Hendaknya kita dapat menolong sesama yang mengalami kesukaran.<br><br>-Janganlah kita mudah menyerah dalam menghadapi suatu hal.<br><br>-Hidup dan kematian, bahagia dan kesedihan, semua berada di tanan Tuhan, manusia hanya dapat menjalani takdir yang telah ditentukan.<br><br>-kita harus selalu bersikap adil<br><br> <br><br>Unsur Ekstrinsik :<br><br>1. Nilai Moral<br><br>Kita harus bersikap bijaksana dalam menghadapi segala hal di dalam hidup kita.<br><br>Jangan kita terlalu memaksakan kehendak kita kalau sebenarnya tidak mampu.<br><br>2. Nilai Budaya<br><br>Sebagai seorang raja kita harus memberikan contoh yang baik kepada rakyat.<br><br>3. Nilai Sosial<br><br>Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.<br><br>Hendaknya kita mau berbagi untuk meringankan beban orang lain.<br><br>4. Nilai Religius<br><br>Jangan mempercayai ramalan yang belum tentu kebenarannya.<br><br>Percayalah pada Tuhan bahwa Dialah yang menentukan nasib manusia.<br><br>5. Nilai Pendidikan<br><br>Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:28:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306911541</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ilham jaya Kusuma</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306911575</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:28:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306911575</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Wahidah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306911664</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Ringkasan karya sastra melayu Hikayat Inderaputra</strong></div><div> </div><div>Maharaja Bikrama Puspa memilikiseorang putra bernama Inderaputra.ia sangat arif,bijaksana,perkasa dan sakti.tetapi nasibnya kurang beruntung.waktu kecil,ia pernah diterbangkan oleh merak emas.lalu ia jatuh ditaman dan pelihara oleh nenek Kabayan.dan ia diangkat menjadi anak perdana menteri.</div><div>            Pada suatu hari,Raja Syahsan pergi berburu dan melihat seokor kijang menangisi ibunya yang telah mati.baginda pun terharu dan ingin mempunyai anak.kemudian baginda mendengar kabar di sebuah gunung yang jauh,ada seorang maharesi pertapa yang sakti,namanya Berma Sakti.karena tempatnya sangat jauh,tiada seorang pun sanggup kesana.akan tetapi Inderaputra pun menawarkan diri untuk pergi ke gunung itu.</div><div>Maka pergilah Inderaputra mencari obat itu.Ia pun melewati rintangan-rintangan yang sulit dan berbahaya.Akhirnya ia pun sampai di tempat pertapaan Berma sakti dan ia diberi sebuah obat.</div><div>Raja syasian pun sangat gembira.setelah permaisuri memakan obat yang dibawa indraputera,permaisuri pun hamil dan melahirkan seorang anak yang cantik yang diberi nama tuan putri indra seri bulan.suatu hari indraputera dituduh berbuat jahat dengan dayang.akhirnya ia pun dibuang disebuah negeri.dan raja dinegeri tersebut pun menawarkan indraputera dan memberikan sehalai kain yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit.</div><div>Tuan puteri seri bulan pun telah beranjak dewasa dan tak lama kemudian,tuan puteri sakit dan tak ada seorang tabib pun yang dapat menyembuhkannya. Indraputera pun muncul dan menyembuhkan tuan puteri.meskipun banyak masalah yang menerjang akhirnya indera putra dapat meminang tuan putri indara seri bulan.</div><div><strong> </strong></div><div><strong>Unsur-unsur yang terdapat di Hikayat Indraputera,yaitu</strong></div><div><strong>A.Tema:</strong></div><div>kebaikan yang tulus membawa kebahagian</div><div><strong> </strong></div><div><strong>B.Penokohan:</strong></div><div>-indraputera:arif,bijaksana,perkasa,sakti dan baik</div><div>-raja syasian: baik dan bijaksana</div><div>-nenek kabayan:penolong dan perduli</div><div>-berma sakti:sakti,baik dan penolong</div><div>-tuan puteri indra seri bulan: cantik</div><div><strong> </strong></div><div><strong>C.alur:</strong></div><div>alur maju</div><div>            Karena ceritanya menceritakan mulai ia dibuang oleh merak emas disuatu taman      </div><div>            Sampai ia dapat meminang tuan putri</div><div><strong> </strong></div><div><strong>D.setting:                                                                                                      </strong></div><div>            -waktu:beberapa lama,suatu hari,tidak lama kemudian,pada suatu ketika dan</div><div>              akhirnya</div><div>            -tempat:digunung,ditaman,dikebun nenek, dan disebuah negeri</div><div>            -suasana: menegangkan dan mengembirakan</div><div><strong> </strong></div><div><strong>E.Sudut pandang:</strong></div><div>Sudut pandang orang ke-3</div><div><strong> </strong></div><div><strong>F.Gaya bahasa:</strong></div><div>susah dimengerti,bahasa nya tidak baku.</div><div><strong> </strong></div><div><strong>G.Amanat:</strong></div><div>lakukanlah kebaikan dengan setulus hati dan tanpa pamrih</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:29:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306911664</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muh dwi ichsan h</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306911935</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:32:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306911935</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hajar nurlealani suwardi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306912224</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>HIKAYAT PANJI SEMIRANG<br>Unsur-Unsur Intrinsik</strong></div><div><strong>Tema Silsilah Panji Semirang</strong></div><div><strong>Latar Suasana</strong></div><div>Bahagia ( Terlalu amat berkasih-kasihan empat bersaudara,…)</div><div><strong>Latar Waktu</strong></div><div>Zaman dahulu ( Sebermula pada zaman dahulu kala ada raja di Tanah Jawa empat bersaudara…)</div><div><strong>Latar Tempat</strong></div><div>-Tanah Jawa ( Sebermula pada zaman dahulu kala ada raja di Tanah Jawa</div><div>empat bersaudra,……)</div><div>-Kuripan ( Yang tua menjadi ratu di Kuripan)</div><div>-Daha ( yang tengah menjadi ratu di Daha)</div><div>-Gegelang ( yang bungsu menjadi ratu di Gegelang)</div><div>-Karang Banjar Ketapang ( …, maka dipungutkan inang pengasuh dengan</div><div>sepertinya dan diberi pekarangan oleh Baginda di Karang Banjar Ketapang.)</div><div> </div><div><strong>Watak Tokoh</strong></div><div>Raja: periang ( …..pada segenap tahun utus-mengutus, empat buah negeri itu terlalu amat baik perintahnya dan periksanya akan segala rakyatnya,…..Dan termasyurlah pada segala negeri di Tanah Jawa akan raja empat buah negeri itu, terlalu baik perintahnya,…..)</div><div>Nata Kuripan: agung ( ….dan sikapnya dan jejak keagung-agungan), mau menerima pendapat ( Setelah sang nata mendengar kata Permaisuri demikian maka dipikirkan sang Nata, benarlah seperti kata Permaisuri.), tekun (Maka sang Nata dan Permaisuri pun memujalah dua laki istri kepada segala macam Dewa-Dewa siang dan malam empat puluh hari empat puluh malam.)</div><div>Permaisuri: tekun (Maka sang Nata dan Permaisuri pun memujalah dua laki istri kepada segala macam Dewa-Dewa siang dan malam empat puluh hari empat puluh malam.), berkeinginan kuat (ingin rasanya ia hendak berputera laki-laki yang baikparasnya.)</div><div><strong>Sudut Pandang</strong></div><div>Orang ketiga tunggal ( Karena tidak melibatkan sang pencerita di dalamnya)</div><div><strong>Gaya bahasa</strong></div><div>-Menggunakan majas repetisi (terdapat dalam kata “maka”)</div><div>-Menggunakan majas hiperbola (…..dan mendam kula dan menghabiskan segala rerawitan isi laut dan darat.)</div><div><strong>Nilai-Nilai (Unsur Ekstrinsik)</strong></div><div>•Religi ( terdapat dalam pemujaan dewa)</div><div>•Kesabaran dan ketekunan (ketika sang Nata dan Permaisuri menyembah</div><div>dewa selama 40 hari 40 malam)</div><div>•Kerukunan ( terdapat dalam empat bersaudara yang berkasih-kasihan)</div><div>•Pengharapan ( terdapat dalam keinginan Nata dan Permaisuri dalam</div><div>mendapatkan anak).</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:35:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306912224</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muh ilham jaya</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306913190</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 05:44:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/306913190</guid>
      </item>
      <item>
         <title>M.Ridho F</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308083349</link>
         <description><![CDATA[<div>Ide Pokok       :<br>1.      Kakek tersebut adalah orang yang baik hati dan suka menolong, namun terlalu mudah percaya pada ular.<br>2.      Ular itu mungkin dapat berencana licik, namun orang jahat akan mendapat kebrukan pula.<br>3.      Kakek yang pasrah akhirnya dapat pertolongan dari Allah, dan iapun selamat.<br><br>Unsur intrinsik<br>1.     Tema                             : Balas Budi <br>2.      Perwatakan tokoh      :<br>a)      Si Kakek       : Baik hati, pandai, taat, terlalu mudah percaya pada siapapun, suka  menolong dan pasrah.<br>-        Baik Hati : Dia rela menolong ular yang bahkan bisa membahayakan nyawanya sendiri.<br>-        Pandai : Selain dikenal alim dan taat, ia juga terkenal berotot kuat dan berotak encer.<br>-        Taat : Ia dikenal takut kepada Allah, gandrung pada kebenaran, beribadah wajib setiap waktu, menjaga salat lima waktu dan selalu mengusahakan membaca Al-Qur’an pagi dan petang.<br>-        Terlalu mudah percaya pada siapapun : Dia terlalu percaya bahkan pada hal yang dia endiripun tahu jika itu dapat membunuhnya.<br>-        Suka menolong : bukankah aku telah menyelamatkanmu, tetapi sekarang aku pula yang hendak kamu bunuh?<br>-        Pasrah : Terserah kepada Allah Yang Esa sajalah. Dia cukup bagiku, sebagai penolong terbaik .<br>b)      Ular               : Licik, jahat, suka berbohong, dan tidak tahu balas budi.<br>-        Licik : Buktinya kamu biarkan saja musuhmu masuk ke mulutmu, padahal semua orang tahu bahwa ia ingin membunuhmu setiap ada kesempatan.<br>-        Jahat : Sekarang kuberi kamu dua pilihan, terserah kamu memilih yang mana; mau kumakan hatimu atau kumakan jantungmu? Kedua-duanya sama-sama membuatmu sekarat.<br>-        Suka berbohong : Pada awalnya dia berjanji hanya akan bersembunyi, tetapi ternyata dia juga mengancam untuk memakan hati atau jantung si kakek.<br>-        Tidak tahu balas budi : Setelah diberi pertolongan oleh kakek, bukannya berterima kasih, ular itu malah mau membunuh kakek.<br>c)      Suara penolong : Baik hati, suka menolong.<br>-            Baik hati : Dia ada disaat yang tepat. Saat kakaek akan dibunuh oleh ular itu.<br>-            Suka menolong : Tuhan yang telah memberi pertolongan dengan mengirimkan seorang juru penyelamat untuknya.<br> <br> <br>Unsur Ekstrinsik<br>1.       Nilai Moral : Kita dapat belajar bahwa menolong orang itu memang baik, namun kita juga harus memikirkan pula tentang akibat dari pertolongan kita itu.<br>2.       Nilai Pendidikan      : Kita dapat belajar bahwa perbuatan baik juga akan mendapatkan balasan yang baik pula.<br>3.       Nilai Religius: Allah akan selalu melindungi hamba-Nya yang taat kepada-Nya.<br>4.       Nilai Sosial : Menolong sesama yang membutuhkan adalah hal yang baik, apalagi bila memang sedang membutuhkan pertolongan.<br>5.       Nilai Budaya: Budaya tolong-menolong antara kiat memang harus selalu diterapkan dimanapun dan kapanpun.<br>6.       Nilai Estetika: Hubungan antar umat manusia yang saling tolong-menolong dan pertolongan Allah yang terkadang tak terduga.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 01:13:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308083349</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muh Alif Akbar B</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308083602</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 01:14:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308083602</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ARSI MINARSI </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308083796</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>“Si Miskin”</strong></div><div><br></div><div>   Seorang raja beserta permaisurinya di Keindraan dibuang menjadi miskin oleh dewa Batara Indera, dia kemudian dikenal senagai Si Miskin.<br><br>  Si Miskin dan istrinya pergi ke Negara Antah Berantah dimana mereka diusir-usir karena pakaianya yang seperti di mamah anjing dan terpaksa tinggal di hutan.<br><br>  Istri Si Miskin hamil dan mengidam mangga dari kebun raja Negeri Antah Berantah. Di Miskin pun berupaya mengambilnya.<br><br>  Si Miskin pergilah si Miskin menghadap raja memohon mempelam. Setelah diperolehnya setangkai mangga, pulanglah ia segera. Isterinya menyambut dengan tertawa-tawa dan terus dimakannya mangga itu.<br> <br>  Setelah genap bulannya,akhirnya melahirkan, anaknya adalah laki-laki dan diberi nama Marakarmah (anak yang lahir dalam kesulitan).<br><br>  Ketika menggali tanah,didapatnya sebuah tajau yang berisi emas.Si Miskin dan keluarganya tiba-tiba menjadi kaya karena penemuannya.<br><br>  Dengan kekayaan ini Si Miskin mendirikan Kerajaan Puspa Sari dan menamakan dirinya Maharaja Indera Angkasa dan isterinya bernama Tuan Puteri Ratna Dewi. Ia kemudian memiliki anak kedua yang bernama Nila Kesuma.<br><br>  Karena kekayaannya kerajaan ini mengundang iri kerajaan Antah Berantah. Rajanya kemudian mengatur agar ahli nujum berbohong terhadap ramalannya dan mengatakan bahwa kedua anak itu akan membawa bencana.<br><br>  Akhirnya Marakarmah dan Nila Utama diusir akibat ramalan palsu itu.<br><br>  Di pengasingan Marakarmah dituduh mencuri dan dibuang ke laut. Sementara Nila Utama bertemu dan menikah dengan Putera Mahkota kerajaan Palinggam Cahaya.<br><br>  Sementara Marakarmah akirnya mendarat dan bertemu dengan Cahaya Chairani yang ditawan para raksasa. Mereka berhasil melarikan diri dan menumpang kapal. Namun nahkoda kapal tertarik dengan Cahaya Chairani dan membuang Marakarmah kel laut lagi sehingga dia dimakan ikan.<br><br>  Marakarmah berhasil keluar dari perut ikan dan bekerja pada Nenek Kebayan yang menjual bunga dan bisa bertemu kembali dengan Cahaya Chairani.<br><br>  Marakarmah kemudian bertemu lagi dengan adiknya Nila Kusema.<br><br>  Marakarmah kemudian kembali ke orang tuanya yang lagi-lagi menjadi Si Miskin dan membantu membangun kembali kerajaannya.<br><br>  Akhirnya, Marakarmah pergi negara mertuanya dan memggantikan mertuanya debagai raja.<br><br></div><div><strong>Unsur Intrinsik dalam hikayat Si Miskin</strong></div><div>1.    Tema :  Kunci kesuksesan adalah kesabaran. Perjalanan hidup seseorang yang mengalami banyak rintangan dan cobaan.</div><div><br></div><div>2.    Alur : Menggunakan alur maju, karena penulis menceritakan peristiwa tersebut dari awal permasalahan sampai akhir permasalahan.</div><div><br></div><div>3.    Setting/ Latar :</div><div>¯ -Setting Tempat : Negeri Antah Berantah, hutan, pasar, Negeri Puspa Sari, Lautan, Tepi Pantai Pulau Raksasa, Kapal, Negeri Palinggam Cahaya.</div><div>¯ Setting Suasana : tegang, mencekam dan Ketakutan, bahagia, menyedihkan</div><div><br></div><div>4.    Sudut Pandang Pengarang : orang ketiga serba tahu.</div><div><br><br></div><div>5.    Amanat :</div><div>¯  Seorang pemimpin yang baik adalah seorang yang adil dan pemurah.</div><div>¯  Janganlah mudah terpengaruh dengan kata-kata oran lain.</div><div>¯  Hadapilah semua rintangan dan cobaan dalam hidup dengan sabar dan rendah      hati.</div><div>¯  Jangan memandang seseorang dari tampak luarnya saja, tapi lihatlah ke dalam hatinya.</div><div>¯  Hendaknya kita dapat menolong sesama yang mengalami kesukaran.</div><div>¯  Janganlah kita mudah menyerah dalam menghadapi suatu hal.</div><div>¯  Hidup dan kematian, bahagia dan kesedihan, semua berada di tanan Tuhan, manusia hanya dapat menjalani takdir yang telah ditentukan.</div><div><strong>Unsur Ekstrinsik dalam Hikayat Si Miskin</strong></div><div>1. Nilai Moral</div><div>Kita harus bersikap bijaksana dalam menghadapi segala hal di dalam hidup kita.</div><div>Jangan kita terlalu memaksakan kehendak kita pada orang lain.</div><div>2. Nilai Budaya</div><div>Sebagai seorang anak kita harus menghormati orangtua.</div><div>Hendaknya seorang anak dapat berbakti pada orang tua.</div><div>3. Nilai Sosial</div><div>Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.</div><div>Hendaknya kita mau berbagi untuk meringankan beban orang lain.</div><div>4. Nilai Religius</div><div>Jangan mempercayai ramalan yang belum tentu kebenarannya.</div><div>Percayalah pada Tuhan bahwa Dialah yang menentukan nasib manusia.</div><div>5. Nilai Pendidikan</div><div>Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.</div><div>Jangan mempercayai ramalan yang belum tentu kebenarannya.</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 01:15:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308083796</guid>
      </item>
      <item>
         <title>atikah nur fadhilah </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308083930</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>HIKAYAT BAYAN BUDIMAN <br><br></strong>ide pokok 1 : semula ada saudagar di negara Ajam.Khojan Mubarok namanya,terlalu amat kaya,akan tetapi ia tiada beranak<br><br>ide pokok 2 : berapa lama setelah ia berdoa kepada Tuhan,maka saudagar Mubarok pun beranaklah istrinya seorang anak laki-laki yang di beri nama Khojan Maimun<br><br>ide pokok 3 : Sebelum dia pergi ,berpesanlah dia pada istrinya itu,jika ada barang suatu pekerjaan,mufakatlah dengan dua ekor unggas itu,hubaya-hubaya jangan tiada ,karena fitnah di dunia amat besar lagi tajam dari pada senjata.<br><br>ide pokok 4 : maka pada suatu malam,pamitlah Bibi Zainab kepada burung tiung itu hendak menemui anak raja itu,maka bernasehatkah di tentang perbuatanya yang melanggar aturan Allah SWT.maka marahlah istri Khojan Maimun dan disentakkannya tiung itu dari sangkarnya dan dihempaskannya sampai mati.<br><br>ide pokok 5 : Setelah ia sudah berpikir demikian itu,mak ujarnya,”Aduhai Siti yang baik paras,pergilah dengan segeranya mendapatkan anak raja itu. <br><br>ide pokok 6 : Bayan yang bijak bukan sahaja dapat menyelamatkan nyawanya tetapi juga dapat menyekat isteri tuannya daripada menjadi isteri yang curang. Dia juga dapat menjaga nama baik tuannya serta menyelamatkan rumah tangga tuannya.<br><br>ide pokok 7 : Kerana marah dan kecewa, lelaki itu memohon agar Tuhan mengembalikan usianya yang telah diberi kepada isterinya. Dengan kehendak Tuhan, isterinya mati semula.<br><br><strong>Unsur Intrinsik :</strong><br>Tema : Kesetiaan seorang Istri<br>Alur : Menggunakan alur melingkar kaerna cerita bolak-balik ke masa lalu.<br>Setting/ Latar :<br>-Setting Tempat : Negeri Antah Berantah, rumah istri saudagar.<br>-Setting Suasana : tegang, mencekam dan Ketakutan, bahagia, menyedihkan,<br>Sudut Pandang Pengarang : orang ketiga serba tahu.<br>Amanat :<br>-seorang istri harus patuh pada suaminya<br>-kita harus setia pada satu pasangan<br>Harus tawakal dalam menghadapi cobaan.<br>-Janganlah kita mudah menyerah dalam menghadapi suatu hal.<br>Jangan gegabah dalam mengambil keputusan.<br><br><br><strong>Unsur Ekstrinsik :</strong><br>1. Nilai Moral<br>Kita harus bersikap bijaksana dalam menghadapi segala hal di dalam hidup kita.<br>Jangan kita terlalu memaksakan kehendak kita pada orang lain, dan kita harus mau mendegarkan pendapat orang lain.<br>2. Nilai Budaya<br>Seorang istri hendaknya patu pada perkataan suami.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 01:16:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308083930</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ACHMAD RIZKY YASIN</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308084052</link>
         <description><![CDATA[<div><strong> HIKAYAT BURUNG CENDERAWASIH</strong></div><div> </div><div>Ide pokok 1:Sahibul hikayat telah diriwayatkan dalam Kitab Tajul Muluk, mengisahkan seekor burung yang bergelar burung cenderawasih. Adapun asal usulnya bermula dari kayangan. Ide pokok 2:Menurut kebanyakan orang lama yang arif mengatakan ianya berasal dari syurga dan selalu berdamping dengan para wali. Memiliki kepala seperti kuning keemasan. Dengan empat sayap yang tiada taranya. Akan kelihatan sangat jelas sekiranya bersayap penuh adanya. Sesuatu yang sangat nyata perbezaannya adalah dua antena atau ekor ‘areil‘ yang panjang di ekor belakang. Barangsiapa yang melihatnya pastilah terpegun dan takjub akan keindahan dan kepelikan burung cenderawasih.</div><div>Amatlah jarang sekali orang memiliki burung cenderawasih. Ini kerana burung ini bukanlah berasal dari bumi ini. Ide pokok 3:Umum mengetahui bahawa burung Cenderawasih ini hanya dimiliki oleh kaum kerabat istana saja. Hatta mengikut sejarah, kebanyakan kerabat-kerabat istana Melayu mempunyai burung cenderawasih. Mayoritas para peniaga yang ditemui mengatakan ia membawa tuah yang hebat.</div><div> Ide pokok</div><div> </div><div>. Ide pokok 4:Ada yang mati dalam keadaan terbang, ada yang mati dalam keadaan istirahat dan ada yang mati dalam keadaan tidur.</div><div>Walau bagaimanapun, Melayu Antique telah menjalankan kajian secara rapi untuk menerima hakikat sebenar mengenai BURUNG CENDERAWASIH ini. Ide pokok 5:Mengikut kajian ilmu pengetahuan yang dijalankan, burung ini lebih terkenal di kalangan penduduk nusantara dengan panggilan Burung Cenderawasih. Bagi kalangan masyarakat China pula, burung ini dipanggil sebagai Burung Phoenix yang banyak dikaitkan dengan kalangan kerabat istana Maharaja China. Bagi kalangan penduduk Eropah, burung ini lebih terkenal dengan panggilan ‘Bird of Paradise‘. Secara faktanya, asal usul burung ini gagal ditemui atau didapathingga sekarang. Tiada bukti yang menunjukkan ianya berasal dari alam nyata ini. Namun satu lagi fakta yang perlu diterima, burung cenderawasih turun ke bumi hanya di IRIAN JAYA (Papua sekarang), Indonesia saja. Tetapi yang pelik namun satu kebenaran burung ini hanya turun seekor saja dalam waktu tujuh tahun. Dan ia turun untuk mati. Sesiapa yang menjumpainya adalah satu tuah. Oleh itu, kebanyakan burung cenderawasih yang anda saksikan mungkin berumur lebih dari 10 tahun, 100 tahun atau sebagainya. Kebanyakkannya sudah beberapa generasi yang mewarisi burung ini.</div><div>Telah dinyatakan dalam kitab Tajul Muluk bahawa burung cenderawasih mempunyai pelbagai kelebihan. Seluruh badannya daripada dalam isi perut sehinggalah bulunya mempunyai khasiat yang misteri. Kebanyakannya digunakan untuk perubatan. Namun ramai yang memburunya kerana ‘tuahnya’. Burung cenderawasih digunakan sebagai ‘pelaris’. Baik untuk pelaris diri atau perniagaan. Sekiranya seseorang memiliki bulu burung cenderawasih sahaja pun sudah cukup untuk dijadikan sebagai pelaris. Mengikut ramai orang yang ditemui memakainya sebagai pelaris menyatakan, bulu burung cenderawasih ini merupakan pelaris yang paling besar. Hanya orang yang memilikinya yang tahu akan kelebihannya ini. Namun yang pasti burung cenderawasih bukannya calang-calang burung. Penuh dengan keunikan, misteri, ajaib, tuah.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 01:16:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308084052</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Irjihan annisa f.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308084851</link>
         <description><![CDATA[<div><br>BUAYA PEROMPAK<br><br><strong>Ide pokok 1 : </strong>Alkisah, Sungai Tulang Bawang sangat terkenal dengan keganasan buayanya. Setiap nelayan yang melewati sungai itu harus selalu berhati-hati. Begitupula penduduk yang sering mandi dan mencuci di tepi sungai itu. Menurut cerita, sudah banyak manusia yang hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak sama sekali<br>Ide pokok 2 : kejadian yang mengerikan itu terulang kembali. Seorang gadis cantik yang bernama Aminah tiba-tiba hilang saat sedang mencuci di tepi sungai itu. Anehnya, walaupun warga sudah berhari-hari mencarinya dengan menyusuri tepi sungai, tapi tidak juga menemukannya. Gadis itu hilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Sepertinya ia sirna bagaikan ditelan bumi. Warga pun berhenti melakukan pencarian, karena menganggap bahwa Aminah telah mati dimakan buaya.<br>Ide pokok 3 : Sementara itu, di sebuah tempat di dasar sungai tampak seorang gadis tergolek lemas. Ia adalah si Aminah. Ia baru saja tersadar dari pingsannya.</div><div>“Ayah, Ibu, aku ada di mana? gumam Aminah setengah sadar memanggil kedua orangtuanya.</div><div><strong>Unsur-unsur intrinsiknya</strong>:</div><div>1. Tema                               : Buaya perompak</div><div>2. Seting</div><div>a. Tempat                    : Sungai, gua</div><div>b. Waktu                     : Berhari</div><div>c.Suasana                     : Mengagumkan, tegang.</div><div>3.Alur                                 : Mundur.</div><div>4.Penokohan</div><div>a.Protagonis                : Aminah,</div><div>b.Antagonis                 : Buaya ( Somad)</div><div>c.Tritagonis                 : Orang yang mencari rotan dihutan</div><div>d.Figuran                     : Warga</div><div>5.Amanat                            : -Tetaplah berusaha meski belum membuahkan hasil.</div><div>                                             -Jangan suka merampas hak milik Orang lain          </div><div>6.Sudut pandang                : Serba tau</div><div>7.Gaya bahasa                    : Peribahasa.</div><div> </div><div><strong>Unsur-unsur ekstrinsiknya</strong>: Bernilai sosial, nilai pendidikan, nilai keagamaan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 01:20:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308084851</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ANNISA AULIA FITRIANI </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308085618</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>HIKAYAT SRI RAMA</strong></div><div><strong> </strong></div><div> ide pokok 1 :Pada suatu hari, Sri Rama dan Laksamana pergi mencari Sita Dewi. Mereka berjalan menelusuri hutan rimba belantara namun tak juga mendapat kabar keberadaan Sita Dewi.<br>ide pokok 2 : Malam tlah berganti siang. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seekor bangau yang sedang minum di tepi danau. Bertanyalah Sri Rama pada bangau itu. Bangau mengatakan bahwa ia melihat bayang-bayang seorang wanita dibawa oleh Maharaja Rawana.<br>ide pokok 3 : Setelah Sri Rama memohon doa, ia kembali melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian datanglah seorang anak yang hendak mengail. Tetapi, anak itu melihat bangau yang sedang minum kemudian menjerat lehernya untuk dijual ke pasar. Sri Rama dan Laksamana bertemu dengan anak itu dan membebaskan bangau dengan memberi anak itu sebuah cincin.<br>ide pokok 4 : Ketika dalam perjalanan, Sri Rama merasa haus dan menyuruh Laksamana untuk mencarikannya air. Sri Rama menyuruh Laksamana untuk mengikuti jatunya anak panah agar dapat menemukan sumber air. Setelah berhasil mendapatkan air itu, Laksamana membawanya pada Sri Rama. <br>ide pokon 5 : Mereka bertemu dengan seekor burung besar bernama Jentayu yang tertambat sayapnya dan yang sebelah rebah. Sri Rama bertanya padanya mengapa sampai Jentayu seperti itu. Jentayu menceritakan semuanya pada Sri Rama tentang pertarungannya melawan Maharaja Rawana. Setelah Jentayu selesai bercerita, ia lalu memberikan cincin yang dilontarkan Sita Dewi saat Jentayu gugur ke bumi saat berperang dengan Maharaja Rawana. Kemudian, cincin itu diambil oleh Sri Rama. Bahagialah Sri Rama melihat cincin itu memang benar cincin istrinya, Sita Dewi.</div><div>Jentayu berpesan pada Sri Rama jika akan pergi menyeberang ke negeri Langka Puri, Sri Rama tidak boleh singgah ke tepi laut karena di sana terdapat gunung bernama Gendara Wanam. Di dalam bukit tersebut ada saudara Jentayu yang bernama Dasampani sedang bertapa. Jentayu tak ingin saudaranya itu mengetahui bahwa dirinya akan segera mati. Setelah Jentayu selesai berpesan, ia pun mati.<br><br><strong>Unsur-unsur intrinsik Hikayat Sri Rama:</strong></div><div><strong>Tema</strong>: Kesetiaan dan pengorbanan</div><ul><li>bukti: Para patik Sri Rama berani berkorban nyawa demi membantu Sri Rama yang sedang kesulitan mencari Sita Dewi. Mereka bakti akan perintah Sri Rama dengan menunujukkan kesetiaan mereka pada Sri Rama.</li></ul><div><strong>Alur</strong>: Maju</div><ul><li>bukti: Sri Rama mencari Sita Dewi yang dibawa lari oleh Maharaja Rawana. Dia berhasil menemukan petunjuk tentang keberadaan Sita Dewi saat bertemu dengan Jentayu. Namun, Jentayu mati setelah menceritakan tentang pertarungannya melawan Maharaja rawana. Mayat Jentayu dibakar di atas tangan Sri Rama.</li></ul><ol><li><strong>Penokohan</strong>: diceritakan secara dramatik (tidak langsung)</li><li><strong>Tokoh</strong>:</li><li>Tokoh utama: Sri Rama</li><li>Tokoh tambahan: Laksamana, Sita Dewi, Maharaja Rawana, Jentayu, Dasampani, burung jantan, dan bangau.</li><li><strong>Setting/latar cerita</strong></li><li>Latar waktu: siang hari</li></ol><div>bukti: pada paragraf enam kalimat pertama pada hikayat</div><ol><li>Latar tempat: di hutan rimba belantara</li></ol><div>bukti: pada paragraf pertama kalimat kedua</div><ol><li>Latar suasana: bahagia, mengaharukan</li></ol><div>bukti: Sri Rama terharu melihat kesetiaan Jentayu atas pengabdiannya menolong Sita Dewi.</div><ol><li><strong>Sudut pandang</strong>: menggunakan orang ketiga sebagai pelaku utama</li><li><strong>Amanat</strong>: hargailah pengorbanan seseorang yang telah rela mati demi menbantu kita.</li></ol><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 01:24:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308085618</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Wahidah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308085735</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 01:24:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308085735</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ilham jaya Kusuma </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308086923</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 01:30:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308086923</guid>
      </item>
      <item>
         <title>A.Dzalfa Maulana Aiman</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308087020</link>
         <description><![CDATA[<div>Ide pokok setiap paragraf hikayat bunga kemuning:<br>Paragraf 1: kesibukan raja telah membuat putri-putrinya tumbuh menjadi anak yang manja dan nakal<br>Paragraf 2: Si Bungsu Kuning tumbuh menjadi anak yang berbeda dari semua saudarinya.<br>Paragraf 3: Sang Raja pergi dan menanyakan oleh-oleh kepada para anaknya. sang bungsu berharap keselamatan ayahnya.<br>Paragraf 4: Sang Raja datang membawakan oleh-oleh batu hujau untuk sang bungsu.<br>Paragraf 5: pada perebutan kalung, bungsu kuning meninggal dan dikubur oleh saudara-saudaranya.<br>Paragraf 6: Sang Raja mengirim anak-anaknya pergi jauh belajar. tiba-tiba tumbuh bunga berwarna kunging dan Raja menamainya bunga kemuning<br><br><strong><br>Alur/plot</strong>         : Alur Maju </div><div>                          Bukti : karna dalam cerita ini tidak menceritakan tentang masa lalu.</div><div><br></div><div><strong>Tema  </strong>            : Kekeluargaan, Kerajaan dan Kasih sayang tulus seorang anak kepada                                  ayahnya.</div><div><br></div><div><strong>Latar/setting  : </strong></div><div>1.    Latar tempat :<br><strong>Kerajaan</strong> (bukti: hikayat ini mengisahkan tentang kerajaan jaman dahulu.)<br><strong>Taman (</strong>bukti : tanpa ragu, putri kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu.)<br><strong>Danau</strong> (bukti : ketika sang raja tiba di istana kesembilan putrinya masih bermain di danau.)<br><strong>Teras istana</strong> (bukti : sementara putri kuning sedang merangkai bunga di teras istana.)</div><div>2.    Latar waktu : Pada zaman dahulu kala</div><div>3.    Latar suasana : Sedih (bukti: berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil menemukan Putri Kemuning. Raja sangat sedih. "Aku ini ayah yang buruk," katanya.)</div><div><br></div><div><strong>Tokoh:</strong></div><div>1.      Protagonis       : Raja dan Putri Kuning</div><div>2.      Antagonis        : Putri Jingga, Putri Nila, Putri Hijau, Putri Kelabu, Putri Oranye, Putri Merah Merona, Putri Kuning dan 2 putri lainnya.</div><div><br></div><div><strong>Karaker tokoh-tokoh</strong></div><div>1.      Raja :<br><strong>Bijaksana</strong> (bukti: sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana)<br><strong>Penyayang</strong> (bukti: sang raja sangat menyayangi anak-anaknya)</div><div>2.      Putri kuning :<br><strong>Baik hati</strong> (bukti: karna para inang sibuk untuk menuruti permintaan kakak-kakaknya, taman menjadi tidak ada yang membersihkan. Tapi dengan senang hati putri kuning mau membantu membersihkan taman.)<br><strong>Penyabar </strong>(bukti: “Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!” ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan. Putri kuning diam saja dan menyapu sampah sampah itu.)<strong> </strong><br><strong>Ramah</strong> (bukti: Sebaliknya ia selalu riang dan tersenyum ramah kepada siapa pun.)</div><div>3.      Puteri Hijau         : <strong>Jahat,  mudah iri (</strong>bukti: Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. "Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!" katanya dengan perasaan iri)</div><div>4.      Kakak-kakak putri kuning : <strong>Nakal, manja, jahat</strong>. (bukti: sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka, merampas kalung putri kuning, menangkap dan memukul kepala putri kuning sampai putri kuning meninggal dan menguburnya tanpa memberitahu ayahnya (raja).</div><div><br></div><div><strong>Sudut Pandang</strong>          : Orang Pertama dan orang ketiga.</div><div><br><strong>Amanat :</strong><br>-Berlaku baiklah kepada sesama saudara kita<br>-Berfikirlah terlebih dahulu ketika kita akan bertindak</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 01:31:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308087020</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308087536</link>
         <description><![CDATA[
u]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 01:33:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308087536</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nurhanifah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308087874</link>
         <description><![CDATA[<div><strong><del>HIKAYAT  KALILA DAN DAMINA</del></strong></div><div><strong><del> </del></strong></div><div><strong><del>A.    SINOPSIS “ HIKAYAT KALILA DAN DAMINA”</del></strong></div><div><strong><del> Ide pokok</del></strong></div><div><strong><del>Ada seekor lembu benama Sjatrabah yang mengikuti tuannya membawa barang  dagangan untuk berniaga, saat  sampai di sebuah hutan, Sjatrabah terperosok kesebuah lubang lumpur. </del></strong></div><div><strong><del> </del></strong></div><div><strong><del>B.     UNSUR INTRINSIK “ HIKAYAT KALILA DAN DAMINA”</del></strong></div><div><strong><del>          Tema        : Kesyirikan </del></strong></div><div><strong><del>         Latar          :</del></strong></div><div><strong><del> 1. Tempat             : Hutan, Kerajaan,</del></strong></div><div><strong><del> 2. Waktu              : Jaman dahulu, Malam hari</del></strong></div><div><strong><del> 3. Suasana            : Menegangkan,   </del></strong></div><div><strong><del>         Alur           : Maju</del></strong></div><div><strong><del>         Tahap Alur            :</del></strong></div><div><strong><del>1.      Perkenalan                               : Paragraf 1  dan Paragraf 2 kalimat 1 dan 2</del></strong></div><div><strong><del>2.      Pemunculan Masalah              : Paragraf  2  kalimat 3  sampai terakhir</del></strong></div><div><strong><del>3.      Klimaks                                   : Paragraf 3</del></strong></div><div><strong><del>4.      Ketegangan menurun              : Paragraf 4</del></strong></div><div><strong><del>5.      Penyelesaian                            : Paragraf 4 kalimat terakhir</del></strong></div><div><strong><del>         Bahasa       : Dominan bahasa Indonesia dan ada sebagian bahasa klise ( bahasa melayu)</del></strong></div><div><strong><del>         Tokoh dan Perwatakan     :</del></strong></div><div><strong><del>1.      Perkembangan Tokohnya        :</del></strong></div><div><strong><del>a)      Statis               : Kalila, Ibu Raja Singa, Tuan Sjatrabah, Hamba Tuan  dari Sjatrabah         </del></strong></div><div><strong><del>b)      Dinamis           : Damina, Raja Singa</del></strong></div><div><strong><del>2.      Peran   :</del></strong></div><div><strong><del>a)      Protagonis       : Sjatrabah</del></strong></div><div><strong><del>b)      Antagonis        : Damina</del></strong></div><div><strong><del>c)      Tritagonis        :  Kalila</del></strong></div><div><strong><del>3.      Tokoh dalam Cerita    :</del></strong></div><div><strong><del>a)      Tokoh Utama              :  Sjatrabah, Damina, Raja Singa</del></strong></div><div><strong><del>b)      Tokoh Bawahan          : Kalila, Ibu Raja Singa, Tuan Sjatrabah, Hamba   Tuan dari Sjatrabah, </del></strong></div><div><strong><del>4.      Perwatakan     :</del></strong></div><div><strong><del>a)      Fisik    :  </del></strong></div><div><strong><del>b)      Batin   :</del></strong></div><div><strong><del>Damina                                    :  Licik, </del></strong></div><div><strong><del>Kalila                                       : Bijak, pandai ,</del></strong></div><div><strong><del>Hamba   Tuan dari Sjatrabah  : Apatis</del></strong></div><div><strong><del>Ibu Raja Singa                                    : Peduli, Tegas,</del></strong></div><div><strong><del>Raja Singa                               : Tegas</del></strong></div><div><strong><del>Sjatrabah                                 : mulia, baik dan ikhlas  dalam     berkawan</del></strong></div><div><strong><del>Tuan Sjatrabah                        :  Apatis</del></strong></div><div><strong><del>         Sudut Pandang     : Orang ke tiga serba Tahu</del></strong></div><div><strong><del>         Amanat     : Kajahatan (fitnah) tidak akan selamanya tertutupi, karena   kebenaran pasti akan terbukti.     </del></strong></div><div><strong><del> </del></strong></div><div><strong><del>C.     UNSUR EKSTRINSIK “ HIKAYAT KALILA DAN DAMINA”</del></strong></div><div><strong><del>         Biografi Pengarang     : </del></strong></div><div><strong><del>Baidaba, seorang filsuf India yang hidup pada abad 3 Masehi. Menulis buku Hikayat Kalilah &amp; Dimmah untuk Dabsyalim, Raja India. Karyanya mengandung kisah-kisah alegoris atau kiasan dalam bahasa binatang (fabel) yang dimaksudkan sebagai kritik dan nasihat kepada seorang raja yang lalim. Melalui fabel-fabelnya , Baidaba bermaksud meluruskan berbagai penyimpangan yang dilakukan sang Raja dalam sgenap sepak-terjang politik kekuasaan dan perjalanan hidupnya. Karena kandungan kearifannya sangat berbobot dan dituturkan dalam bahasa yang mudah dipahami, sehingga karyanya mampu bertahan hingga sekarang.</del></strong></div><div><strong><del>Dalam hikayat ini disebut bahwa pengarangnya bernama Baidapa. Konon nama ini merupakan sebuah bentuk yang sudah rusak dari nama Sanskerta </del></strong><strong><em><del>Widyapati</del></em></strong><strong><del> yang bisa diartikan sebagai "Raja Ilmu Pengetahuan". Sedangkan judul hikayat Kalila dan Daminah konon merupakan sebuah bentuk rusak dari Karn</del></strong></div><div><strong><del>         Keadaan    Budaya            : </del></strong></div><div><strong><del>Hikayat Kalila dan Daminah adalah sebuah hikayat dalam bahasa Melayu yang merupakan sebuah terjemahan daribahasa Arab. Tetapi karya sastra ini bukanlah sebuah karangan asli dalam bahasa Arab pula, melainkan sebuah terjemahan daribahsa Persia kuna. Karangan dalam bahasa Persia Kuna ini pada gilirannya merupakan terjemahan daribahsa Samsekerta. Dalam bahasa Sanskerta karya sastra ini disebut Panca Tatra.</del></strong></div><div><strong><del> </del></strong></div><div><strong><del> </del></strong></div><div><strong><del>D.     NILAI -  NILAI  DALAM “ HIKAYAT KALILA DAN DAMINA”</del></strong></div><div><strong><del>         Nilai Moral                        : Semua bentuk Kejahatan pasti akan musnah jika dilawan dengan kebaikan</del></strong></div><div><strong><del>         Nilai Religius                    : Agama mengajarkan bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, hal itu terbukti dalam hikayat ini.</del></strong></div><div><strong><del>         Nilai Pendidikan               :  Memberikan sebuah pelajaran berharga bahwa sekecil apapun yang kita lakukan   pasti ada balasannya.</del></strong></div><div><strong><del>         Nilai Sosial Budaya          :  Menddidik kita untuk senantiasa  berhati mulia, baik dan  ikhlas  dalam berkawan</del></strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 01:34:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308087874</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ilham jaya Kusuma</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308088073</link>
         <description><![CDATA[<div> 1)PARAGRAF PERTAMA<br> Suatu hari terdapat sepasang suami istri yang hendak menyebrang sungai. Namun, mereka tidak menemukan perahu untuk menyebrang sungai tersebut. Karena laki-laki tua tersebut tidak mengetahui kedalaman sungai tersebut, lagipula dia bungkuk maka ia tidak berani untuk turun ke sungai. Dilihatnya seorang laki-laki Bedawi yang ada di seberang sungai, maka laki-laki tua itu <br>meminta tolong kepada Bedawi untuk menyeberangkan ke sungai. <br> 2)PARAGRAF KEDUA<br>  Bedawi itu memanfaatkan laki-laki tua dengan berbohong bahwa sungainya dalam dengan ia memendekkan tubuhnya sampai lehernya tertutup air. Dia juga menginginkan istri orang tua itu dengan beralasan bahwa dia tidak mungkin membawa dua orang sekaligus maka laki-laki tua itu menyuruh istrinya untuk menyeberang terlebih dahulu.<br> 3).PARAGRAF KETIGA<br>  Bedawi itu merasa sangat beruntung karena dengan dengan kelicikannya, ia membawa perempuan itu dan bekal barang-barang sepasang suami istri tersebut. Di tengah-tengah sungai Bedawi itu mencoba merayu perempuan tersebut dengan mengejeknya bahwa seorang wanita cantik tetapi mempunyai suami yang bungkuk. Dan ia mengatakan untuk memperistri wanita itu.<br> 4)PARAGRAF KEEMPAT<br>  Setelah sampai di tepi sungai, Bedawi dan perempuan itu mandi lalu menikmati perbekalan yang telah dibawanya. Setelah itu mereka berjalan-jalan. Dari kejauhan, orang tua bungkuk itu merasa heran dengan tingkah laku Bedawi dan istrinya tersebut. Lalu ia memutuskan untuk menyusul mereka, ia nekat untuk menyeberangi sungai walaupun taruhannya nyawa. Setelah turun ke sungai, orang tua bungkuk tersebut heran karena ternyata sungai tersebut tidaklah dalam airnya.<br> 5)PARAGRAF KELIMA<br>  Sesampainya di tepi sungai, orang tua tersebut pergi ke dusun Masyhudulhakk untuk mengadukan masalahnya tersebut. Setelah itu, Masyhudulhakk memanggil Bedawi dan perempuan tersebut dan menanyakan ‘’siapakah perempuan itu?”<br>6)PARAGRAF KEENAM<br>   Bedawi pun menjawab bahwa perempuan itu adalah istrinya yang telah dinikahinya. Akan tetapi, orang tua tersebut menyangkal perkataan Bedawi bahwa perempuan itu adalah istrinya. Maka terjadilah pertengkaran antara Bedawi dengan orang tua itu. Dan banyak orang yang berkerumun melihat kegaduhan tersebut.<br>  <br><br></div><div><strong>B. UNSUR INTRINSIK</strong></div><div><br></div><div>1. Tema               : Kesetiaan dan Pengkhianatan Cinta<br>2. Alur                 : Alur maju<br>3. Sudut Pandang : orang ketiga serba tahu<br>4. Latar               : </div><div>      a. Latar tempat   : tepi sungai, sungai, sebuah dusun<br>      b. Latar suasana :menegangkan, mengecewakan<br>      c. Latar Waktu    :siang hari<br>5. Penokohan       :<br>      a.  Masyhudulhakk : baik hati, arif, bijaksana, pintar, suka menolong, cerdik</div><div>         b. Si Bungkuk        : baik hati, setia pada istrinya, pemaaf, mudah percaya</div><div>      c. Istri Si Bungkuk  : mudah dirayu, egois, tidak setia, suka berbohong<br>      d. Si Panjang / Bedawi : jahat, licik, egois<br>6. Amanat             :<br>Kita tidak boleh mudah tergoda oleh rayuan-rayuan yang belum pasti kebenarannya. Karena itu akan membuat kita kecewa.<br>Kita tidak boleh bohongkepada siapapun. Karena berbohong itu berdosa dan dapat merugikan diri kita sendiri juga.<br>Kita harus membantu orang dengan ikhlas.<br>Syukurilah jodoh yang telah diberikan oleh Tuhan. Yakinlah bahwa jodoh kita tersebut adalah yang terbaik untuk kita.<br>Yakinlah bahwa kebaikan akan mengalahkan kejahatan. Karena kejahatan apapun akan terkuak walaupun sudah ditutup-tutupi sedemikian rupa.</div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><strong>C. UNSUR EKSTRINSI</strong></div><div><br>1. Nilai Moral<br>Kejujuran<br>Di dalam hikayat ini terdapat nilai kejujuran yang harus ditanamkan dalam diri ini di kehidupan sehari-hari. Dalam hikayat tersebut Bedawi dan perempuan itu tidak jujur maka mereka mendapatkan akibatnya yaitu harus menanggung malu dan mendapat hukuman karena kebohongannya.<br>Kebijaksanaan<br>Dalam hikayat ini tokoh Masyhudulhakk mempunyai sifat bijaksana yang baik untuk dicontoh. Dia bijaksana dalam menyelesaikan suatu masalah yang ia hadapi.<br>Kesetiaan<br>Dalam hikayat ini kita diajarkan untuk menjadi orang yang setia. Tokoh orang tua bungkuk tersebut mempunyai kesetiaan yang tinggi kepada istrinya. Dia tidak rela jika istrinya berselingkuh dengan orang lain, bahkan ia rela bertaruh nyawa demi istrinya saat melihat istrinya bersama Bedawi tersebut.<br>Nilai Sosial<br>Tolong menolong<br>Masyhudulhakk punya sifat tolong menolong dengan sesama. Dia dengan ikhlas menolong orang yang membutuhkan pertolongannya untuk menyelesaikan suatu masalah.<br>Bermusyawarah<br>Dalam hikayat tersebut terdapat budaya musyawarah untuk menyelesaikan suatu masalah. Bukan dengan kekerasan ataupun dengan cara fisik. Akan tetapi, dalam hikayat ini terdapat budaya untuk bermusyawarah secara baik-baik untuk memecahkan masalah.<br>Nilai Agama<br>Dalam hikayat ini, Masyhudulhakk menyuruh Bedawi dan perempuan itu untuk bertaubat agar dapat dilebur dosa-dosa yang ia perbuat. Bersyukur kepada Tuhan atas jodoh yang telah diberikan. <br>3. Kepengarangan<br><br>Hikayat mashudulhakk ini dari salah satu naskah lama (Collectie v.d. Wall) dengan diubah di sana-sini setelah dibandingkan dengan buku yang diterbitkan oleh A.F. v.d. Wall (menurut naskah yang lain dalam kumpulan yang tersebut).Dalam Volksalmanak Melayu 1931 (Balai Pustaka) isi naskah yang dipakai v.d. Wall itu diringkaskan dan sambungannya dimuat pula, dengan alamat "Masyudhak".. Dinantinya</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 01:36:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308088073</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Siti shakila</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308088221</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>HIKAYAT ABU NAWAS: PESAN BAGI HAKIM<br>Paragraf 1: </strong>ABU NAWAS adalah penghulu kerajaan baghdad bernama Maulana.<br><strong>Paragraf 2: </strong>Suatu hari ayah Abu Nawas yang sudah tua dan sakit-sakitan itu akhirnya meninggal dunia.<br><strong>Paragraf 3: </strong>Abu Nawas dipanggil ke Istana untuk diperintah Sultan (Raja) untuk mengubur jenazah ayahnya itu sebagaimana adat Syekh Maulana.<br><strong>Paragraf 4: </strong>Sultan memanggil Abu Nawas dan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan ayahnya.<br><strong>Paragraf 5: </strong>Namun, Abu Nawas mendengar rencanaSang Sultan. Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadi gila.<br><br>unsur Intrinsik :<br><br>Tema : keadilan<br><br>Alur : Menggunakan alur maju mundur. Karena penulis menceritakan cerita tidak berurutan dari awal hingga akhir.<br><br>Setting/ Latar :<br><br>-Setting Tempat : Negeri Antah Berantah, kerajaan raja Bahgdad, rumah Abunawas.<br><br>Setting Suasana : ramai, menegangkan, dan bahagia.<br><br>Sudut Pandang Pengarang : orang ketiga serba tahu.<br><br>Amanat :<br><br>-kita harus banyak-banyak bersyukur.<br><br>Jangan selalu melihat ke atas, sekali-kali lihatlah kebawah, karena masih banyak orang yang hidupnya lebih menderita dari kita.<br><br>– Hadapilah semua rintangan dan cobaan dalam hidup dengan sabar dan rendah hati.<br><br>-Jangan memandang seseorang dari tampak luarnya saja, tapi lihatlah ke dalam hatinya.<br><br>-Hendaknya kita dapat menolong sesama yang mengalami kesukaran.<br><br>-Janganlah kita mudah menyerah dalam menghadapi suatu hal.<br><br>-Hidup dan kematian, bahagia dan kesedihan, semua berada di tanan Tuhan, manusia hanya dapat menjalani takdir yang telah ditentukan.<br><br>-kita harus selalu bersikap adil.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 01:36:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308088221</guid>
      </item>
      <item>
         <title>AQSHA AKIL</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308091337</link>
         <description><![CDATA[<div>PARAGRAF I<br>Hikayat Bunga Kemuning</div><div>Dahulu kala, ada seorang anak raja yang memiliki 10 orang putri yang dia beri nama dengan berbagai nama-nama warna. Istri menyanyikan raja sendiri telah lama meninggal usai melahirkan anak bungsu mereka, Putri Kuning. Berbeda dengan anak-anak yang lain, Putri Kuning ini memiliki perilaku yang sangat baik, tidak seperti kaka-kaknya yang bandel dan manja.<br><br>PARAGRAF II</div><div>Suatu hari, menyanyikan rasa untuk pergi ke tujuan. Ke-9 putri-putrinya demi dibawakn oleh-oleh yang mewah dari sang raja. Sementara itu, Putri Kuning tidak meminta apa pun, dan hanya berharap menyanyikan raja pulang dengan selamat.<br><br>PARAGRAF III</div><div>Singkat kata, sang raja pulang dibawa oleh-oleh. Namun, oleh-oleh itu tidak diberikan untuk ke-9 putrinya, sekaligus kepada Putri Kuning Seorang. Putri Hijau dan saudara-saudara Putri Kuning lainnya dan berniat untuk memberi pelajaran kepada adik mereka.<br><br>PARAGRAF IV</div><div>Tanpa sepengetahuan sang raja, Putri Kuning dipukul oleh kakak-kakaknya hingga meninggal dan dikuburkan di tempat-tempat yang takjauh dari istana. Mengetahui sifat menghilang, menyanyikan raja pun mencari-cari putri bungsunya, namun tak jua ditemukan.<br><br>PARAGRAF V</div><div>Suatu hari, sang raja melihat sebuah bunga berwarna kuning yang tumbuh di sebuah tanah. Ternyata, itu adalah kuburan dari anak bungsu sang raja. Melihat bunga itu, sang raja pun lantas menamainya dengan bunga kemuning<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 01:54:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308091337</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muh Alif Akbar B</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308091588</link>
         <description><![CDATA[<div>Ide Pokok :Hikayat Panji Semirang<br><br>Paragraf 1:<br>Seorang raja di Tanah Jawa yang merupakan empat bersaudara.<br><br>Paragraf 2:<br>Bermula dari seseorang yang bernama Nata Kuripan dengan selirnya yang bernama Paduka Mahadewi.Orang-orang menyebut anak tersebut dengan sebutan Raden Banjar Ketapang.</div><div><br>Paragraf 3:<br>Permaisuri Kuripan yang mengetahui itu, juga ingin mempunyai anak laki-laki yang baik parasnya.Setelah beberapa lama, mereka memutuskan untuk menyembah segala dewa-dewa selama 40 hari 40 malam agar keinginannya dikabulkan.<br><br><strong>Unsur-Unsur Intrinsik</strong></div><div><strong>Tema :Silsilah Panji Semirang</strong></div><div><strong>•Latar Suasana</strong></div><div>Bahagia ( Terlalu amat berkasih-kasihan empat bersaudara,…)</div><div><strong>•Latar Waktu</strong></div><div>Zaman dahulu ( Sebermula pada zaman dahulu kala ada raja di Tanah Jawa empat bersaudara…)</div><div><strong>•Latar Tempat</strong></div><div>-Tanah Jawa ( Sebermula pada zaman dahulu kala ada raja di Tanah Jawa</div><div>empat bersaudra,……)</div><div>-Kuripan ( Yang tua menjadi ratu di Kuripan)</div><div>-Daha ( yang tengah menjadi ratu di Daha)</div><div>-Gegelang ( yang bungsu menjadi ratu di Gegelang)</div><div>-Karang Banjar Ketapang ( …, maka dipungutkan inang pengasuh dengan</div><div>sepertinya dan diberi pekarangan oleh Baginda di Karang Banjar Ketapang.)</div><div> </div><div><strong>•Watak Tokoh</strong></div><div>Raja: periang ( …..pada segenap tahun utus-mengutus, empat buah negeri itu terlalu amat baik perintahnya dan periksanya akan segala rakyatnya,…..Dan termasyurlah pada segala negeri di Tanah Jawa akan raja empat buah negeri itu, terlalu baik perintahnya,…..)</div><div>Nata Kuripan: agung ( ….dan sikapnya dan jejak keagung-agungan), mau menerima pendapat ( Setelah sang nata mendengar kata Permaisuri demikian maka dipikirkan sang Nata, benarlah seperti kata Permaisuri.), tekun (Maka sang Nata dan Permaisuri pun memujalah dua laki istri kepada segala macam Dewa-Dewa siang dan malam empat puluh hari empat puluh malam.)</div><div>Permaisuri: tekun (Maka sang Nata dan Permaisuri pun memujalah dua laki istri kepada segala macam Dewa-Dewa siang dan malam empat puluh hari empat puluh malam.), berkeinginan kuat (ingin rasanya ia hendak berputera laki-laki yang baikparasnya.)</div><div><strong>•Sudut Pandang</strong></div><div>Orang ketiga tunggal ( Karena tidak melibatkan sang pencerita di dalamnya)</div><div><strong>•Gaya bahasa</strong></div><div>-Menggunakan majas repetisi (terdapat dalam kata “maka”)</div><div>-Menggunakan majas hiperbola (…..dan mendam kula dan menghabiskan segala rerawitan isi laut dan darat.)</div><div><strong>•Nilai-Nilai (Unsur Ekstrinsik)</strong></div><div>•Religi ( terdapat dalam pemujaan dewa)</div><div>•Kesabaran dan ketekunan (ketika sang Nata dan Permaisuri menyembah</div><div>dewa selama 40 hari 40 malam)</div><div>•Kerukunan ( terdapat dalam empat bersaudara yang berkasih-kasihan)</div><div>•Pengharapan ( terdapat dalam keinginan Nata dan Permaisuri dalam</div><div>mendapatkan anak).</div><div> </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 01:55:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308091588</guid>
      </item>
      <item>
         <title>NUR WAHIDAH</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308091724</link>
         <description><![CDATA[<div>IDE POKOKNYA:<br>PARAGRAF 1:<br>Maharaja Bikrama Puspa memiliki seorang putra bernama Inderaputra.ia sangat arif,bijaksana,perkasa dan sakti.tetapi nasibnya kurang beruntung.waktu kecil,ia pernah diterbangkan oleh merak emas.<br>PARAGRAF 2:<br><br></div><div>Raja syasian pun sangat gembira.setelah permaisuri memakan obat yang dibawa indraputera,permaisuri pun hamil dan melahirkan seorang anak yang cantik yang diberi nama tuan putri indra seri bulan.suatu hari indraputera dituduh berbuat jahat dengan dayang.akhirnya ia pun dibuang disebuah negeri.dan raja dinegeri tersebut pun menawarkan indraputera dan memberikan sehalai kain yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit.<br>PARAGRAF 3:<br>Indraputera pun muncul dan menyembuhkan tuan puteri.meskipun banyak masalah yang menerjang akhirnya indera putra dapat meminang tuan putri indara seri bulan.</div><div><strong> </strong></div><div><br><br><strong>Unsur-unsur yang terdapat di Hikayat Indraputera,yaitu</strong></div><div><strong>A.Tema:</strong></div><div>kebaikan yang tulus membawa kebahagian</div><div><strong> </strong></div><div><strong>B.Penokohan:</strong></div><div>-indraputera:arif,bijaksana,perkasa,sakti dan baik</div><div>-raja syasian: baik dan bijaksana</div><div>-nenek kabayan:penolong dan perduli</div><div>-berma sakti:sakti,baik dan penolong</div><div>-tuan puteri indra seri bulan: cantik</div><div><strong> </strong></div><div><strong>C.alur:</strong></div><div>alur maju</div><div>            Karena ceritanya menceritakan mulai ia dibuang oleh merak emas disuatu taman      </div><div>            Sampai ia dapat meminang tuan putri</div><div><strong> </strong></div><div><strong>D.setting:                                                                                                      </strong></div><div>            -waktu:beberapa lama,suatu hari,tidak lama kemudian,pada suatu ketika dan</div><div>              akhirnya</div><div>            -tempat:digunung,ditaman,dikebun nenek, dan disebuah negeri</div><div>            -suasana: menegangkan dan mengembirakan</div><div><strong> </strong></div><div><strong>E.Sudut pandang:</strong></div><div>Sudut pandang orang ke-3</div><div><strong> </strong></div><div><strong>F.Gaya bahasa:</strong></div><div>susah dimengerti,bahasa nya tidak baku.</div><div><strong> </strong></div><div><strong>G.Amanat:</strong></div><div>lakukanlah kebaikan dengan setulus hati dan tanpa pamrih</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 01:56:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308091724</guid>
      </item>
      <item>
         <title>DEWI ZHAKINAH </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308091865</link>
         <description><![CDATA[<div>HIKAYAT BUNGA KEMUNING <br> ide pokok dalam setiap paragraf :<br> 1. Dahulu kala, ada seorang raja yang memiliki sepuluh orang puteri yang cantik-cantik. <br> <br> 2. Kesepuluh puteri itu dinamai dengan nama-nama warna. <br> <br> 3. Suatu hari raja hendak pergi dan semua anaknya meminta oleh-oleh, tapi puteri kuning hanya meminta ayahnya pulang dengan selamat.<br> <br> 4. Selama sang raja pergi, para puteri semakin nakal dan malas. <br> <br> 5. Puteri kuning bisa merasakan penderitaan para pelayan yang dipaksa mematuhi berbagai perintah kakak-kakaknya.<br> <br> 6. Ketika sang raja pulang, ia memberi Puteri Kuning sebuah kalung batu hijau. <br> <br> 7. Puteri Hijau merasa cemburu dan memukul kepala puteri kuning hingga meninggal dan menguburnya.<br> <br> 7. Mengetahui puteri bungsunya hilang, sang raja mencarinya, namun pencariannya tak membuahkan hasil.<br> <br> 9. Suatu hari tumbuhlah sebuah tanaman di atas kubur Puteri Kuning. Karena tanaman tersebut nampak seperti Puteri Kuning, maka sang raja menamainya Puteri Kemuning.<br> <br> UNSUR INTRINSIK<br> <br> Alur/plot         : Alur Maju<br> <br>                           Bukti : karna dalam cerita ini tidak menceritakan tentang masa lalu.<br> <br> <br> Tema              : Kekeluargaan, Kerajaan dan Kasih sayang tulus seorang anak kepada                                 ayahnya.<br> <br> <br> Latar/setting  :<br> <br> 1.    Latar tempat :<br> Kerajaan (bukti: hikayat ini mengisahkan tentang kerajaan jaman dahulu.)<br> Taman (bukti : tanpa ragu, putri kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu.)<br> Danau (bukti : ketika sang raja tiba di istana kesembilan putrinya masih bermain di danau.)<br> Teras istana (bukti : sementara putri kuning sedang merangkai bunga di teras istana.)<br> <br> 2.    Latar waktu : Pada zaman dahulu kala<br> <br> 3.    Latar suasana : Sedih (bukti: berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil menemukan Putri Kemuning. Raja sangat sedih. "Aku ini ayah yang buruk," katanya.)<br> <br> <br> Tokoh:<br> <br> 1.      Protagonis       : Raja dan Putri Kuning<br> <br> 2.      Antagonis        : Putri Jingga, Putri Nila, Putri Hijau, Putri Kelabu, Putri Oranye, Putri Merah Merona, Putri Kuning dan 2 putri lainnya.<br> <br> <br> Karaker tokoh-tokoh<br> <br> 1.      Raja :<br> Bijaksana (bukti: sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana)<br> Penyayang (bukti: sang raja sangat menyayangi anak-anaknya)<br> <br> 2.      Putri kuning :<br> Baik hati (bukti: karna para inang sibuk untuk menuruti permintaan kakak-kakaknya, taman menjadi tidak ada yang membersihkan. Tapi dengan senang hati putri kuning mau membantu membersihkan taman.)<br> Penyabar (bukti: “Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!” ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan. Putri kuning diam saja dan menyapu sampah sampah itu.) <br> Ramah (bukti: Sebaliknya ia selalu riang dan tersenyum ramah kepada siapa pun.)<br> <br> 3.      Puteri Hijau         : Jahat,  mudah iri (bukti: Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. "Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!" katanya dengan perasaan iri)<br> <br> 4.      Kakak-kakak putri kuning : Nakal, manja, jahat. (bukti: sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka, merampas kalung putri kuning, menangkap dan memukul kepala putri kuning sampai putri kuning meninggal dan menguburnya tanpa memberitahu ayahnya (raja).<br> <br> <br> Sudut Pandang          : Orang Pertama dan orang ketiga.<br> <br> <br> Amanat :<br> -Berlaku baiklah kepada sesama saudara kita<br> -Berfikirlah terlebih dahulu ketika kita akan bertindak<br> <br> <br> <br> <br> UNSUR EKSTRINSIK<br> <br>  Nilai Sosial<br> <br> Mencoba untuk lebih baik<br> <br>  Nilai Agama<br> <br> Berbuat baik walaupun dibalas kejahatan<br> <br> (Bukti agama islam)<br> <br> “Sesungguhnya rahmat Allah Swt amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)<br> <br> “Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil (orang yang bepergian) dan hamba sahayamu (pembantu).” (QS. An-Nisa [4]: 36).<br> <br> Nilai Moral<br> <br> Keburukan akan terbongkar dengan sendirinya walaupun ditutupi.<br> <br>  Nilai Budaya<br> <br> Sopan dan santun kepada orang tua, Pada jaman dahulu tentang pemberian nama putri atau putra.<br> <br> <br> Gaya Bahasa :<br> <br> Majas metafora : Batangnya bagaikan jubah puteri, daunnya bulat berkilau bagai kalung batu hijau, bunganya putih kekuningan dan sangat wangi!<br> <br> <br> Majas ironi      : "Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku”<br> <br> Majas Paradoks : Meskipun kecantikan mereka hampir sama, si bungsu Puteri Kuning sedikit berbeda, Ia tak terlihat manja dan nakal. Sebaliknya ia selalu riang dan dan tersenyum ramah kepada siapapun. Ia lebih suka bebergian dengan inang pengasuh daripada dengan kakak-kakaknya.<br> <br> <br> <br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 01:56:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308091865</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Yoga</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308092276</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 01:58:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308092276</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Afhi tampan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308092859</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 02:02:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308092859</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Afhi tm</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308093035</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 02:03:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308093035</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muh dwi ichsan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308093309</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 02:05:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308093309</guid>
      </item>
      <item>
         <title>MUHAMMAD SYAFIISMATH RAMADHAN</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308093336</link>
         <description><![CDATA[<div>Asal Usul Telaga Ngebel</div><div>     Paragraph 1 </div><div>       Dahulu kala ada seorang pendita terkenal bernama Begawan Wida. Rumahnya di lereng sebelah barat Gunung Wilis. Istri Begawan Wida telah lama meninggal. Begawan Wida mempunyai seorang anak yang menjelang dewasa, anak perempuan itu sangat cantik.</div><div>Paragraph 2</div><div>Atas kehendak Yang Maha Kuasa, putri Begawan Wida pun hamil. Putri Begawan Wida akhirnya melahirkan seorang anak, namun anak yang dilahirkan bukanlah manusia, melainkan seekor ular. Karena merasa malu, putri Begawan Wida pun bunuh diri. Sang ular jelmaan itu tidak mengetahui siapa orang tuanya. Akhirnya dia bertapa di desa tempat tinggalnya bernama Ganda yuda selama bertahun-tahun.</div><div>Paragraph 3</div><div>Ketika sedang bertapa, terdapat sekumpulan penduduk dari sebelah barat desa Ganda yuda yang mencari binatang buruan ke hutan untuk keperluan perhelatan. Penduduk tersebut menemukan seekor ular yang besar, dan akhirnya mereka memutuskan untuk membunuh ular tersebut dan dipotong-potong.Sang ular jelmaan itu pun menjelma menjadi seorang anak, kemudian dia datang ke kampung Ganda yuda. Dia datang untuk meminta makan, namun semua penduduk tidak ada yang memberikannya makan, karena dia sangat jelek dan sakit kudisan.</div><div>Namun ada seorang nenek bernama Nyai Latung, karena merasa kasihan sang nenek pun memberinya makan. Setelah dia selesai menyantap makanan yang diberikan, dia pun memberi peringatan kepada sang nenek bahwa akan terjadi sebuah bencana. Sang anak pun menghilang dan akhirnya ia kembali ke kampung Ganda yuda dengan keadaan yang lebih baik, lalu ia menancapkan sebuah lidi ke tanah. Tidak ada seorang pun yang berhasil mencabut lidi tersebut. Dan akhirnya sang anak pun yang hanya bias mencabut lidi tersebut, akan tetapi keluar air yang sangat banyak dari tempat lidi tersebut ditancapkan.</div><div>Kampung itu pun akhirnya tenggelam menjadi sebuah telaga, telaga itu pun diberi nama “Telaga Ngebel”. Ngebel tampaknya berasal dari rasa benci dan sebal.</div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div>1.      Unsur intrinsik :</div><div><br></div><div>a.      Tema : kebencian dan rasa sebal anak putri Begawan Wida</div><div>b.      Alur : cerita ini menggunakan alur maju</div><div><br></div><div>“Sepeninggal ibunya, bayi ular itu sangat bingung. Dia tidak mengetahui siapa orang tua nya. Dia mencari ke sana kemari, tapi kedua orang tuanya tidak ditemukan. Akhirnya, dia tinggal di tempat itu. Dia bertapa sampai bertahun-tahun.”</div><div><br></div><div>c.       Latar :</div><div><br></div><div>·        Latar tempat :</div><div>a.      Desa Ganda yuda</div><div>b.      Lereng sebelah barat Gunung Wilis</div><div>c.      Hutan</div><div>d.      Halaman gubuk</div><div>·        Latar suasana :</div><div>a.      Kebencian</div><div>b.      Rasa sebal</div><div>c.      Menegangkan</div><div>d.      Menyedihkan</div><div>·        Latar waktu : -</div><div><br></div><div>d.      Tokoh dan Penokohan :</div><div><br></div><div>1.      Begawan Wida</div><div>Penokohan  : tidak diceritakan</div><div>2.      Putri Begawan Wida</div><div>Penokohan : tidak diceritakan</div><div>3.      Nyai Latung</div><div>Penokohan : baik hati,</div><div>4.      Anak putri Begawan Wida (Baru Klinting)</div><div>Penokohan : pendendam</div><div><br></div><div>e.      Sudut pandang : cerita ini menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu (dia)</div><div><br></div><div>f.       Amanat :</div><div>Hendaknya kita tidak boleh mempunyai sifat pendendam terhadap orang yang sudah jahat kepada kita, walaupun mereka sudah jahat tetapi akan lebih baik jika kita bias menerima nya dengan lapang dada tanpa harus membalas dendam.</div><div><br></div><div><br></div><div>2.      Unsur Ekstrinsik :</div><div><br></div><div>a.      Nilai Moral :</div><div>·        Tidak boleh menghardik dan mengejek orang lain.</div><div>b.      Nilai Sosial :</div><div>·        Menjaga silaturahmi dan kekerabatan dengan mengundang seseorang untuk hadir dalam suatu perhelatan yang digelar</div><div>c.      Nilai Religius :</div><div>·        Atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa segala sesuatu yang tidak mungkin akan mungkin terjadi.</div><div>d.      Nilai Pendidikan :</div><div>·        Harus menyayangi sesama tidak memandang tua atau muda nya seseorang</div><div>e.      Nilai Budaya :</div><div><br></div><div>·        Pada masyarakat dahulu, para penduduk di suatu daerah tertentu mencari binatang buruan ke hutan untuk keperluan perhelatan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 02:05:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308093336</guid>
      </item>
      <item>
         <title>. Hikayat Tanjung LesungSuatu ketika, ada seorang pengembara yang bernama Raden Budog yang tengah beristirahat di pohon ketapang laut yang ada di suatu pantai. </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308093532</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 02:06:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308093532</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mutiara Bahtiar </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308095869</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>“IBNU HASAN”<br><br>Ide pokok</strong></div><div>Syahdan, zaman dahulu kala, ada seorang kaya hartawan, bernama Syekh Hasan, banyak harta banyak uang, terkenal kesetiap negeri, merupakan orang terkaya, bertempat tinggal du negeri Bagdad, yang terkenal kemana-mana, sebagai kota yang paling ramai saat itu.</div><div>.</div><div><br></div><div>           UNSUR INSTRINSIK</div><div>Ø  Tema    : Bakti seorang anak terhadap orang tuanya</div><div>Ø  Tokoh   : </div><div>o   Ibnu Hasan</div><div>o   Syekh Hasan</div><div>o   Ibu Ibnu Hasan</div><div>o   Mairin</div><div>o   Mairun</div><div>o   Saleh</div><div>o   Kyai guru</div><div>Ø  Penokohan : </div><div>o   Ibnu Hasan = Baik, tidak sombong, kalem, pendiam, penurut</div><div>o   Syekh Hasan = Baik, Bijaksan, Penyayang</div><div>o   Ibu Ibnu Hasan = Baik, Penyayang</div><div>o   Mairin dan Mairum = Setia</div><div>o   Saleh = Sopan</div><div>o   Kyai guru = Baik</div><div>Ø  Plot/Alur : Alur Maju</div><div>Ø  Latar :</div><div>o   Latar tempat = Negeri Bagdad, Mesir, Pesantren</div><div>o   Latar waktu = Zaman dahulu kala, Saat ba’da Dzuhur</div><div>o   Latar suasan = Mengahrukan, sedih, Prihatin</div><div>Ø  Sudut pandang : Orang ketiga tunggal</div><div>Ø  Amanat : Patuhlah kepda kedua orangtuamu, berbuat baiklah kesesama manusia dan janganlah sekali-kali engkau menyombongkan diri.</div><div><br></div><div><br></div><div>UNSUR INSTRINSIK</div><div>Ø  Agama : Menganut agama Islam</div><div>Ø  Pendidikan : Ibnu Hasan baru saja ingin menuntut ilmu pada kyai guru</div><div>Ø  Adat istiadat : Sopan, mengasihi yg kekurangan, dll</div><div>Ø  Status ekonomi : Syekh Hasan sangat kaya raya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 02:18:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308095869</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Yusril Andika</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308097965</link>
         <description><![CDATA[<div>HIKAYAT : BUAYA PEROMPAK<br><br> <br>1) PARAGRAF PERTAMA<br>Alkisah, Sungai Tulang Bawang sangat terkenal dengan keganasan buayanya. Setiap nelayan yang melewati sungai itu harus selalu berhati-hati. Begitupula penduduk yang sering mandi dan mencuci di tepi sungai itu. Menurut cerita, sudah banyak manusia yang hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak sama sekali.<br><br><br></div><div>2)PARAGRAF KEDUA<br>Pada suatu hari, kejadian yang mengerikan itu terulang kembali. Seorang gadis cantik yang bernama Aminah tiba-tiba hilang saat sedang mencuci di tepi sungai itu. Anehnya, walaupun warga sudah berhari-hari mencarinya dengan menyusuri tepi sungai, tapi tidak juga menemukannya. Gadis itu hilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Sepertinya ia sirna bagaikan ditelan bumi. Warga pun berhenti melakukan pencarian, karena menganggap bahwa Aminah telah mati dimakan buaya.<br><br>3)PARAGRAF KETIGA<br>Dengan sekuat tenaga, Aminah bangkit dari tidurnya. Betapa terkejutnya ia ketika menyadari bahwa dirinya berada dalam sebuah gua. Yang lebih mengejutkannya lagi, ketika ia melihat dinding-dinding gua itu dipenuhi oleh harta benda yang tak ternilai harganya. Ada permata, emas, intan, maupun pakaian indah-indah yang memancarkan sinar berkilauan diterpa cahaya obor yang menempel di dinding-dinding gua.<br><br>4)PARAGRAF KEEMPAT<br>“Dulu, aku terkena kutukan karena perbuatanku yang sangat jahat. Namaku dulu adalah Somad, perampok ulung di Sungai Tulang Bawang. Aku selalu merampas harta benda setiap saudagar yang berlayar di sungai ini. Semua hasil rampokanku kusimpan dalam gua ini,” jelas Buaya itu.<br><br><br>5) PARAGRAF KELIMA<br>“Kalau aku butuh makanan, harta itu aku jual sedikit di pasar desa di tepi Sungai Tulang Bawang saat bulan purnama tiba. Tidak seorang penduduk pun yang tahu bahwa aku adalah buaya jadi-jadian. Mereka juga tidak tahu kalau aku telah membangun terowongan di balik gua ini. Terowongan itu menghubungkan gua ini dengan desa tersebut,” ungkap Buaya itu.<br><br><br></div><div>6) PARAGRAF KEENAM<br>Tanpa disadarinya, Buaya Perompak itu telah membuka rahasia gua tempat kediamannya. Hal itu tidak disia-siakan oleh Aminah. Secara seksama, ia telah menyimak dan selalu akan mengingat semua keterangan yang berharga itu, agar suatu saat kelak ia bisa melarikan diri dari gua itu<br><br>7) PARAGRAF KETUJUH<br>Akhirnya, Aminah pun tinggal bersama Buaya Perompak itu di dalam gua. Setiap hari Buaya itu memberinya perhiasan yang indah dan mewah. Tubuhnya yang molek ditutupi oleh pakaian yang terbuat dari kain sutra. Tangan dan lehernya dipenuhi oleh perhiasan emas yang berpermata intan.<br><br><br></div><div>8) PARAGRAF KEDELAPAN<br>Pada suatu hari, Buaya Perompak itu sedikit lengah. Ia tertidur pulas dan meninggalkan pintu gua dalam keadaan terbuka. Melihat keadaan itu, Aminah pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.<br><br><br></div><div>9) PARAGRAF KESEMBILAN<br>Untungnya Aminah sempat merekam dalam pikirannya tentang cerita Buaya itu bahwa ada sebuah terowongan yang menghubungkan gua itu dengan sebuah desa di tepi Sungai Tulang Bawang. Dengan sangat hati-hati, Aminah pun keluar sambil berjingkat-jingkat. Ia sudah tidak sempat berpikir untuk membawa harta benda milik sang Buaya, kecuali pakaian dan perhiasan yang masih melekat di tubuhnya.<br><br><br></div><div>10) PARAGRAF KESEPULUH<br>Setelah beberapa saat mencari, Aminah pun menemukan sebuah terowongan yang sempit di balik gua itu dan segera menelusurinya. Tidak lama kemudian, tak jauh dari depannya terlihat sinar matahari memancar masuk ke dalam terowongan. Hal itu menandakan bahwa sebentar lagi ia akan sampai di mulut terowongan. Dengan perasaan was-was, ia terus menelusuri terowongan itu dan sesekali menoleh ke belakang, karena khawatir Buaya Perompak itu terbangun dan membututinya. Ketika ia sampai di mulut terowongan, terlihatlah di depannya sebuah hutan lebat. Alangkah senangnya hati Aminah, karena selamat dari ancaman Buaya Perompak itu.<br><br>11) PARAGRAF KESEBELAS<br>Setelah itu, Aminah pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga ia berada di hutan itu. Oleh karena merasa iba, penduduk desa itu pun mengantar Aminah pulang ke kampung halamannya. Sesampai di rumahnya, Aminah pun memberikan penduduk desa itu hadiah sebagian perhiasan yang melekat di tubuhnya sebagai ucapan terima kasih.<br><br><br></div><div>12) PARAGRAF KEDUABELAS<br>Akhirnya, Aminah pun selamat kembali ke kampung halamannya. Seluruh penduduk di kampungnya menyambutnya dengan gembira. Ia pun menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya kepada kedua orangtuanya dan seluruh warga di kampungnya. Sejak itu, warga pun semakin berhati-hati untuk mandi dan mencuci di tepi Sungai Tulang Bawang.</div><div><br></div><div><br>13) PARAGRAF KETIGABELAS<br>Demikian cerita Buaya Perompak dari darah Tulang Bawang, Lampung, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas yaitu, keutamaan sifat tidak mudah putus asa dan keburukan sifat suka merampas hak milik orang lain.</div><div><br>14) PARAGRAF KEEMPAT BELAS<br>Pertama, keutamaan sifat tidak mudah putus asa. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Aminah yang tidak mudah putus asa menghadapi ancaman Buaya Perompak. Dengan kecerdikannya, ia pun berhasil mengelabui Buaya Perompak itu dan berhasil menyelamatkan diri. Dari hal ini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa sifat tidak mudah putus asa dapat melahirkan pikiran-pikiran yang jernih.<br><br><br></div><div>16) PARAGRAF KEENAM BELAS<br>Kedua, keburukan sifat suka merampas hak milik orang lain. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Somad (perompak) yang senantiasa merampas harta benda setiap penduduk yang melewati Sungai Tulang Bawang. Akibat perbuatan jahatnya tersebut, ia pun terkena kutukan menjadi seekor buaya.<br><br>           <br><br> <br><br>Unsur-unsur intrinsiknya:<br><br>1. Tema                               : Buaya perompak<br><br>2. Seting<br><br>a. Tempat                    : Sungai, gua<br><br>b. Waktu                     : Berhari<br><br>c.Suasana                     : Mengagumkan, tegang.<br><br>3.Alur                                 : Mundur.<br><br>4.Penokohan<br><br>a.Protagonis                : Aminah,<br><br>b.Antagonis                 : Buaya ( Somad)<br><br>c.Tritagonis                 : Orang yang mencari rotan dihutan<br><br>d.Figuran                     : Warga<br><br>5.Amanat                            : -Tetaplah berusaha meski belum membuahkan hasil.<br><br>                                             -Jangan suka merampas hak milik Orang lain          <br><br>6.Sudut pandang                : Serba tau<br><br>7.Gaya bahasa                    : Peribahasa.<br><br> <br><br>Unsur-unsur ekstrinsiknya: Bernilai sosial, nilai pendidikan, nilai keagamaan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 02:27:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308097965</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nurul Ramadhani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308116485</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>“IBNU HASAN”<br><br>Ide </strong></div><div>Syahdan, zaman dahulu kala, ada seorang kaya hartawan, bernama Syekh Hasan, banyak harta banyak uang, terkenal kesetiap negeri, merupakan orang terkaya, bertempat tinggal du negeri Bagdad, yang terkenal kemana-mana, sebagai kota yang paling ramai saat itu.</div><div>.</div><div><br></div><div>           UNSUR INSTRINSIK</div><div>Ø  Tema    : Bakti seorang anak terhadap orang tuanya</div><div>Ø  Tokoh   : </div><div>o   Ibnu Hasan</div><div>o   Syekh Hasan</div><div>o   Ibu Ibnu Hasan</div><div>o   Mairin</div><div>o   Mairun</div><div>o   Saleh</div><div>o   Kyai guru</div><div>Ø  Penokohan : </div><div>o   Ibnu Hasan = Baik, tidak sombong, kalem, pendiam, penurut</div><div>o   Syekh Hasan = Baik, Bijaksan, Penyayang</div><div>o   Ibu Ibnu Hasan = Baik, Penyayang</div><div>o   Mairin dan Mairum = Setia</div><div>o   Saleh = Sopan</div><div>o   Kyai guru = Baik</div><div>Ø  Plot/Alur : Alur Maju</div><div>Ø  Latar :</div><div>o   Latar tempat = Negeri Bagdad, Mesir, Pesantren</div><div>o   Latar waktu = Zaman dahulu kala, Saat ba’da Dzuhur</div><div>o   Latar suasan = Mengahrukan, sedih, Prihatin</div><div>Ø  Sudut pandang : Orang ketiga tunggal</div><div>Ø  Amanat : Patuhlah kepda kedua orangtuamu, berbuat baiklah kesesama manusia dan janganlah sekali-kali engkau menyombongkan diri.</div><div><br></div><div><br></div><div>UNSUR INSTRINSIK</div><div>Ø  Agama : Menganut agama Islam</div><div>Ø  Pendidikan : Ibnu Hasan baru saja ingin menuntut ilmu pada kyai guru</div><div>Ø  Adat istiadat : Sopan, mengasihi yg kekurangan, dll</div><div>Ø  Status ekonomi : Syekh Hasan sangat kaya raya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 04:26:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/308116485</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/922382896</link>
         <description><![CDATA[<div>Teks hikayat</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-11-14 04:34:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/922382896</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/930816228</link>
         <description><![CDATA[<div>Majas</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-11-17 09:03:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/930816228</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Majas dalam hikayat ibnu hasan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/1869871465</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-05 12:54:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/68n4zsyhmcti/wish/1869871465</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
