<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Kerajaan Islam di Indonesia by Muhammad Daffa</title>
      <link>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-05-16 06:24:10 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-05-16 12:11:50 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>M.daffa Malaka </title>
         <author>fanteng1662</author>
         <link>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995511654</link>
         <description><![CDATA[<div>Fakultas Hukum Terbaik di Medan Sumut<br>enid<br>Kerajaan Malaka: Sejarah, Raja dan Peninggalannya<br>Annisa by Annisa&nbsp; Maret 23, 2024<br>Kerajaan Malaka Sejarah, Raja dan Peninggalannya<br>Kerajaan Malaka Sejarah, Raja dan Peninggalannya<br><br>Sejarah Kerajaan Malaka<br>Kerajaan Malaka adalah sebuah kerajaan Melayu yang berpusat di Malaka, Malaysia. Ditempatan pendiriannya pada tahun 1402, Kerajaan Malaka dihadiri oleh Parameswara, anak dari Raja Sriwijaya di Palembang. Pendiri kerajaan ini disinyalir berkaitan dengan perang saudara di Majapahit, yang menyebabkan Parameswara melarikan diri ke Tumasik (Singapura) dan kemudian menuju ke Semenanjung Malaya.<br><br>Parameswara mendirikan ini di sekitar pelabuhan Malaka, yang kemudian berkembang menjadi kerajaan Islam yang berpengaruh di Selat Malaka (Sumatera dan Semenanjung Malaka).<br><br>Berkembangnya kerajaan ini disebabkan oleh perdagangan internasional yang dilakukan oleh pedagang Islam yang berasal dari Samudra Hindia, Selat Malaka, Laut China Selatan, dan perairan Nusantara. Malaka dikenal sebagai pintu gerbang Nusantara, karena ia menjadi jalan lalu lintas bagi pedagang-pedagang asing yang berhak masuk dan keluar pelabuhan-pelabuhan Indonesia.<br><br>Raja Kerajaan Malaka<br>Parameswara (1402-1409)<br>Parameswara, anak dari Raja Sriwijaya di Palembang, mendirikan Kerajaan Malaka pada tahun 1402. Dia mendirikan kerajaan ini setelah melarikan diri dari kejaran pasukan Majapahit. Parameswara menganut agama Islam dan merubah namanya menjadi Iskandar Syah, kemudian menjadikan kerajaan ini menjadi Kerajaan Islam.<br><br>Iskandar Syah (1409-1414)<br>Pada masa pemerintahannya, Iskandar Syah meminta bantuan kepada Kaisar China dengan menyatakan takluk kepadanya pada tahun 1405.<br>Muhammad Iskandar Syah (1414-1424)<br><br>Iskandar Syah memiliki putra bernama Muhammad Iskandar Syah, yang pada masa pemerintahannya meningkatkan kekuasaan Kerajaan Malaka hingga mencapai seluruh Semenanjung Malaya.<br><br>Mudzafat Syah (1424-1458)<br>Setelah berhasil menyingkirkan Muhammad Iskandar Syah, Mudzafat Syah naik tahta dengan gelar sultan. Pada masa pemerintahannya, terjadi serangan dari Kerajaan Siam (serangan dari darat dan laut), namun dapat digagalkan. Mengadakan perluasan wilayah ke daerah-daerah yang berada di sekitar Kerajaan Malaka seperti Pahang, Indragiri dan Kampar.<br><br>Sultan Mansyur Syah (1458-1477)<br>Sultan Mansyur Syah merupakan putra dari Sultan Mudzafat Syah. Pada masa pemerintahannya, kerajaan ini mencapai puncak kejayaan sebagai pusat perdagangan dan pusat penyebaran Islam di Asia Tenggara.<br><br>Sultan Alaudin Syah (1477-1488)<br>Sultan Alaudin Syah merupakan putra dari Sultan Mansyur Syah. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Malaka mulai mengalami kemunduran, satu persatu wilayah kekuasaan Kerajaan Malaka mulai melepaskan diri.<br><br>Sultan Mahmud Syah (1488-1511)<br>Sultan Mahmud Syah merupakan putra dari Sultan Alaudin Syah. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Malaka merupakan kerajaan yang sangat lemah, wilayah kekuasaannya meliputi sebagian kecil Semenanjung Malaya.<br><br>Peninggalan Kerajaan Malaka<br>Benteng A Famosa: Simbol kejayaan Portugis di Malaka.<br>Istana Kesultanan Malaka: Tempat tinggal para sultan dan pusat pemerintahan.<br>Masjid Melaka: Salah satu masjid tertua di Malaka, pusat keagamaan dan pendidikan.<br>Kompleks Makam Sultan Malaka: Tempat peristirahatan para sultan dan keluarganya.<br>Bukit China: Tempat pemakaman orang-orang Tionghoa.<br>Koleksi Batu Bersurat dan Mata Uang: Menunjukkan sejarah dan hubungan perdagangan kerajaan.<br>Hikayat Hang Tuah dan Sejarah Melayu: Karya sastra yang menceritakan kisah dan sejarah kerajaan</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2487643394/2df7092406949e7cd1ec6abbd91b5c95/609510e377be0.jpg" />
         <pubDate>2024-05-16 06:29:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995511654</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Samudera pasai</title>
         <author>fanteng1662</author>
         <link>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995519569</link>
         <description><![CDATA[<div>Kerajaan Samudera Pasai terletak di Aceh, dan merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini didirikan oleh Meurah Silu pada tahun 1267 M. Bukti-bukti arkeologis keberadaan kerajaan ini adalah ditemukannya makam raja-raja Pasai di kampung Geudong, Aceh Utara. Makam ini terletak di dekat reruntuhan bangunan pusat kerajaan Samudera di desa Beuringin, kecamatan Samudera, sekitar 17 km sebelah timur Lhokseumawe. Di antara makam raja-raja tersebut, terdapat nama Sultan Malik al-Saleh, Raja Pasai pertama. Malik al-Saleh adalah nama baru Meurah Silu setelah ia masuk Islam, dan merupakan sultan Islam pertama di Indonesia. Berkuasa lebih kurang 29 tahun (1297-1326 M). Kerajaan Samudera Pasai merupakan gabungan dari Kerajaan Pase dan Peurlak, dengan raja pertama Malik al-Saleh.<br><br>Seorang pengembara Muslim dari Maghribi, Ibnu Bathutah sempat mengunjungi Pasai tahun 1346 M. ia juga menceritakan bahwa, ketika ia di Cina, ia melihat adanya kapal Sultan Pasai di negeri Cina. Memang, sumber-sumber Cina ada menyebutkan bahwa utusan Pasai secara rutin datang ke Cina untuk menyerahkan upeti. Informasi lain juga menyebutkan bahwa, Sultan Pasai mengirimkan utusan ke Quilon, India Barat pada tahun 1282 M. Ini membuktikan bahwa Pasai memiliki relasi yang cukup luas dengan kerajaan luar<br><br>Pada masa jayanya, Samudera Pasai merupakan pusat perniagaan penting di kawasan itu, dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai negeri, seperti Cina, India, Siam, Arab dan Persia. Komoditas utama adalah lada. Sebagai bandar perdagangan yang besar, Samudera Pasai mengeluarkan mata uang emas yang disebut dirham. Uang ini digunakan secara resmi di kerajaan tersebut. Di samping sebagai pusat perdagangan, Samudera Pasai juga merupakan pusat perkembangan agama Islam.<br><br>Seiring perkembangan zaman, Samudera mengalami kemunduran, hingga ditaklukkan oleh Majapahit sekitar tahun 1360 M. Pada tahun 1524 M ditaklukkan oleh kerajaan Aceh.<br><br>SILSILAH<br>1. Sultan Malikul Saleh (1267-1297 M)<br>2. Sultan Muhammad Malikul Zahir (1297-1326 M)<br>3. Sultan Mahmud Malik Az-Zahir (1326 ± 1345<br>4. Sultan Malik Az-Zahir (?- 1346)<br>5. Sultan Ahmad Malik Az-Zahir yang memerintah (ca. 1346-1383)<br>6. Sultan Zain Al-Abidin Malik Az-Zahir yang memerintah (1383-1405)<br>7. Sultanah Nahrasiyah, yang memerintah (1405-1412)<br>8. Sultan Sallah Ad-Din yang memerintah (ca.1402-?)<br>9. Sultan yang kesembilan yaitu Abu Zaid Malik Az-Zahir (?-1455)<br>10.Sultan Mahmud Malik Az-Zahir, memerintah (ca.1455-ca. 1477)<br>11.Sultan Zain Al-‘Abidin, memerintah (ca.1477-ca.1500)<br>12.Sultan Abdullah Malik Az-Zahir, yang memerintah (ca.1501-1513)<br>13.Sultan Zain Al’Abidin, yang memerintah tahun 1513-1524<br><br>PERIODE PEMERINTAHAN<br>Rentang masa kekuasan Samudera Pasai berlangsung sekitar 3 abad, dari abad ke-13 hingga 16 M.<br><br>WILAYAH KEKUASAAN<br>Wilayah kekuasaan Pasai mencakup wilayah Aceh ketika itu.<br><br>STRUKTUR PEMERINTAHAN<br>Pimpinan tertinggi kerajaan berada di tangan sultan yang biasanya memerintah secara turun temurun. disamping terdapat seorang sultan sebagai pimpinan kerajaan, terdapat pula beberapa jabatan lain, seperti Menteri Besar (Perdana Menteri atau Orang Kaya Besar), seorang Bendahara, seorang Komandan Militer atau Panglima Angkatan laut yang lebih dikenal dengan gelar Laksamana, seorang Sekretaris Kerajaan, seorang Kepala Mahkamah Agama yang dinamakan Qadi, dan beberapa orang Syahbandar yang mengepalai dan mengawasi pedagang-pedagang asing di kota-kota pelabuhan yang berada di bawah pengaruh kerajaan itu. Biasanya para Syahbandar ini juga menjabat sebagai penghubung antara sultan dan pedagang-pedagang asing.<br><br>Selain itu menurut catatan M.Yunus Jamil, bahwa pejabat-pejabat Kerajaan Islam Samudera Pasai terdiri dari orang-orang alim dan bijaksana. Adapun nama-nama dan jabatan-jabatan mereka adalah sebagai berikut:<br>1. Seri Kaya Saiyid Ghiyasyuddin, sebagai Perdana Menteri.<br>2. Saiyid Ali bin Ali Al Makaarani, sebagai Syaikhul Islam.<br>3. Bawa Kayu Ali Hisamuddin Al Malabari, sebagai Menteri Luar Negeri<br><br>KEHIDUPAN POLITIK<br>Kerajaan Samudra Pasai yang didirikan oleh Marah Silu bergelar Sultan Malik al- Saleh, sebagai raja pertama yang memerintah tahun 1285 – 1297. Pada masa pemerintahannya, datang seorang musafir dari Venetia (Italia) tahun 1292 yang bernama Marcopolo, melalui catatan perjalanan Marcopololah maka dapat diketahui bahwa raja Samudra Pasai bergelar Sultan. Setelah Sultan Malik al-Saleh wafat, maka pemerintahannya digantikan oleh keturunannya yaitu Sultan Muhammad yang bergelar Sultan Malik al-Tahir I (1297 – 1326). Pengganti dari Sultan Muhammad adalah Sultan Ahmad yang juga bergelar Sultan Malik al-Tahir II (1326 – 1348). Pada masa ini pemerintahan Samudra Pasai berkembang pesat dan terus menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan Islam di India maupun Arab. Bahkan melalui catatan kunjungan Ibnu Batutah seorang utusan dari Sultan Delhi tahun 1345 dapat diketahui Samudra Pasai merupakan pelabuhan yang penting dan istananya disusun dan diatur secara India dan patihnya bergelar Amir. Pada masa selanjutnya pemerintahan Samudra Pasai tidak banyak diketahui karena pemerintahan Sultan Zaenal Abidin yang juga bergelar Sultan Malik al-Tahir III kurang begitu jelas. Menurut sejarah Melayu, kerajaan Samudra Pasai diserang oleh kerajaan Siam. Dengan demikian karena tidak adanya data sejarah yang lengkap, maka runtuhnya Samudra Pasai tidak diketahui secara jelas. Dari penjelasan di atas, apakah Anda sudah paham? Kalau sudah paham simak uraian materi berikutnya.<br><br>KEHIDUPAN EKONOMI<br>Dengan letaknya yang strategis, maka Samudra Pasai berkembang sebagai kerajaan Maritim, dan bandar transito. Dengan demikian Samudra Pasai menggantikan peranan Sriwijaya di Selat Malaka.<br>Kerajaan Samudra Pasai memiliki hegemoni (pengaruh) atas pelabuhan-pelabuhan penting di Pidie, Perlak, dan lain-lain. Samudra Pasai berkembang pesat pada masa pemerintahan Sultan Malik al-Tahir II. Hal ini juga sesuai dengan keterangan Ibnu Batulah.<br>Komoditi perdagangan dari Samudra yang penting adalah lada, kapurbarus dan emas. Dan untuk kepentingan perdagangan sudah dikenal uang sebagai alat tukar yaitu uang emas yang dinamakan Deureuham (dirham).<br><br>KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA<br>Telah disebutkan di muka bahwa, Pasai merupakan kerajaan besar, pusat perdagangan dan perkembangan agama Islam. Sebagai kerajaan besar, di kerajaan ini juga berkembang suatu kehidupan yang menghasilkan karya tulis yang baik. Sekelompok minoritas kreatif berhasil memanfaatkan huruf Arab yang dibawa oleh agama Islam, untuk menulis karya mereka dalam bahasa Melayu. Inilah yang kemudian disebut sebagai bahasa Jawi, dan hurufnya disebut Arab Jawi. Di antara karya tulis tersebut adalah Hikayat Raja Pasai (HRP). Bagian awal teks ini diperkirakan ditulis sekitar tahun 1360 M. HRP menandai dimulainya perkembangan sastra Melayu klasik di bumi nusantara. Bahasa Melayu tersebut kemudian juga digunakan oleh Syaikh Abdurrauf al-Singkili untuk menuliskan buku-bukunya.<br><br>Sejalan dengan itu, juga berkembang ilmu tasawuf. Di antara buku tasawuf yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu adalah Durru al-Manzum, karya Maulana Abu Ishak. Kitab ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Makhdum Patakan, atas permintaan dari Sultan Malaka. Informasi di atas menceritakan sekelumit peran yang telah dimainkan oleh Samudera Pasai dalam posisinya sebagai pusat tamadun Islam di Asia Tenggara pada masa itu.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2487643394/81fa1675e4447c71168c250ff93747bf/607f0afc9f435.jpg" />
         <pubDate>2024-05-16 06:34:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995519569</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aceh</title>
         <author>fanteng1662</author>
         <link>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995523360</link>
         <description><![CDATA[<div>Kerajaan Aceh Darussalam, juga dikenal sebagai Kesultanan Aceh, merupakan sebuah kerajaan Islam yang berdiri di provinsi Aceh, Indonesia.<br><br>Kesultanan Aceh terletak di utara pulau Sumatra dengan ibu kotanya di Banda Aceh Darussalam. Kerajaan ini merupakan kekuatan regional utama pada abad ke-16 dan ke-17 sebelum mengalami periode penurunan yang panjang.<br><br>Pada tahun 1496, Sultan Ali Mughayat Syah dinobatkan sebagai sultan pertama . Kemudian, pada masa Sultan Selim II dari Turki Utsmani, beberapa teknisi dan pembuat senjata dikirimkan ke Aceh, yang kemudian mampu memproduksi meriam sendiri dari kuningan .<br><br>Kerajaan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan Hindu dan Budha sebelumnya, seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan Indrapura (Indrapuri).<br><br>Raja Kerajaan Aceh<br>1. Sultan Ali Mughayat Syah (1496-1528 M)<br>2. Sultan Salahudin (1528-1537 M)<br>3. Sultan Alaudin Riayat Syah al-Kahar (1537-1568 M)<br>4. Sultan Husein Ali Riayat Syah (1568-1575 M)<br>5. Sultan Muda (1575 M)<br>6. Sultan Sri Alam (1575-1576 M)<br>7. Sultan Zain al-Abidin (1576-1577 M)<br>8. Sultan Ala’ al-Din Mansur Syah (1577-1589 M)<br>9. Sultan Buyong (1589-1596 M)<br>10. Sultan Ala’ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1596-1604 M)<br>11. Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607 M)<br>12. Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1607-1636 M)<br>13. Sultan Iskandar Thani (1636-1641 M)<br>14. Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675 M)<br>15. Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678 M)<br>16. Sri Ratu Zagi al-Din Inayat Syah (1678-1688 M)<br>17. Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699 M)<br>18. Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim Jamal al-Din (1699-1702 M)<br>19. Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703 M)<br>20. Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703-1726 M)<br>21. Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din (1726 M)<br>22. Sultan Syams al-Alam (1726-1727 M)<br>23. Sultan Ala’ al-Din Ahmad Syah (1727-1735 M)<br>24. Sultan Ala al-Din Johan Syah (1735-1760 M)<br>25. Sultan Mahmud Syah (1760-1781 M)<br>26. Sultan Badr al-Din (1791-1795 M)<br>27. Sultan Sulaiman Syah (1795)<br>29. Alauddin Muhammad Daud Syah<br>29. Sultan Ala al-Din Jauhar al-Alam (1795-1915 M) dan (1818-1824 M)<br>30. Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1818 M)<br>21. Sultan Muhammad Syah (1824-1938 M)<br>22. Sultan Suleiman Syah (1939-1957 M)<br>33. Sultan Mansur Syah (1857-1870 M)<br>24. Sultan Mahmud Syah (1870-1874 M)<br>25. Sultan Muhammad Daud Syah (1974-1903 M<br><br>Peninggalan Kerajaan Aceh<br>Peninggalan Kerajaan Aceh Darussalam dapat dilihat dalam berbagai aspek, termasuk dalam bidang literatur dan militer. Syaikh Daud Rumy menerbitkan Risalah Masailal Muhtadin li Ikhwanil Muhtadi yang menjadi kitab pengantar di dayah sampai sekarang.<br><br>Syaikh Nuruddin Ar-Raniry setidaknya menulis 27 kitab dalam bahasa Melayu dan Arab. Yang paling terkenal adalah Sirath al-Mustaqim, kitab fiqih pertama terlengkap dalam bahasa Melayu .<br><br>Dalam bidang militer, pada masa Sultan Selim II dari Turki Utsmani, Aceh menerima pengiriman teknisi dan pembuat senjata, yang kemudian memungkinkan kerajaan ini untuk memproduksi meriam sendiri dari kuningan</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2487643394/a2c67298b88ccfb82c777ef75335ff1e/20230403_img_20230403_wa0000.jpg" />
         <pubDate>2024-05-16 06:36:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995523360</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pagaruyung </title>
         <author>fanteng1662</author>
         <link>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995529822</link>
         <description><![CDATA[<div>Dikutip dari laman resmi Universitas Sains dan Teknologi Komputer, asal usul nama Pagaruyung sebagai sebuah kerajaan tidak dapat dipastikan dari Tambo yang diterima oleh masyarakat Minangkabau. Meskipun beberapa prasasti yang ditinggalkan oleh Adityawarman menunjukkan bahwa dia memang pernah menjadi raja di negeri tersebut, tepatnya sebagai Tuan Surawasa, seperti yang diinterpretasikan dari Prasasti Batusangkar.<br><br></div><div>Pada tahun 1347, Adityawarman memproklamirkan diri sebagai raja di Malayapura. Ia adalah putra Adwayawarman, sebagaimana tercantum dalam Prasasti Kuburajo, dan putra Dara Jingga dari Kerajaan Dharmasraya seperti yang disebut dalam Pararaton. Selama pemerintahannya, Adityawarman kemungkinan memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah pedalaman Minangkabau setelah berperang bersama Mahapatih Gajah Mada menaklukkan Bali dan Palembang.<br><br></div><div>Dari prasasti Suruaso yang beraksara Melayu, Adityawarman menyelesaikan pembangunan selokan untuk mengairi taman Nandana Sri Surawasa, yang sebelumnya dibuat oleh pamannya, Akarendrawarman, raja sebelumnya. Prasasti ini menunjukkan adanya adat Minangkabau yang kemungkinan baru diterapkan oleh Kerajaan Pagaruyung setelah beradaptasi dengan lingkungan sekitar, termasuk wilayah Luhak Nan Tigo.<br><br></div><div>Adityawarman dikirim untuk menaklukkan daerah-daerah penting di Sumatera sebagai raja bawahan (uparaja) dari Majapahit. Meskipun prasasti-prasasti yang ditinggalkannya tidak menyebutkan Bhumi Jawa, berita Tiongkok mencatat bahwa Adityawarman mengirimkan utusan ke sana sebanyak 6 kali antara tahun 1371 dan 1377.<br><br></div><div>Setelah kematiannya, Majapahit kemungkinan mengirim ekspedisi pada tahun 1409 untuk menaklukkan kerajaan ini. Legenda Minangkabau mencatat pertempuran sengit dengan tentara Majapahit di daerah Padang Sibusuk, tempat yang konon dinamakan demikian karena banyaknya mayat.<br><br></div><div>Sebelum berdirinya kerajaan ini, masyarakat Minangkabau sudah memiliki sistem politik berbasis konfederasi dari berbagai Nagari dan Luhak. Ini menunjukkan bahwa kerajaan Pagaruyung merupakan perubahan sistem administrasi bagi masyarakat setempat.<br><br></div><div>Wilayah Kerajaan Pagaruyung</div><div>Wilayah Minangkabau meliputi dataran tinggi pedalaman Sumatera di mana rajanya tinggal, juga wilayah pantai timur Arcat (antara Aru dan Rokan) hingga ke Jambi dan kota-kota pelabuhan di pantai barat seperti Panchur Barus, Tiku, dan Pariaman.<br><br></div><div>Tanah Indragiri, Siak, dan Arcat juga dianggap bagian dari wilayah Minangkabau, dengan Teluk Kuantan sebagai pelabuhan utama raja Minangkabau. Namun, sebagian daerah rantau seperti Siak (Gasib), Kampar Pekan Tua, dan Indragiri kemudian lepas dan ditaklukkan oleh Kesultanan Malaka dan Kesultanan Aceh.<br><br></div><div>Batas utara wilayah Minangkabau adalah Sikilang Aia Bangih, yang sekarang berada di Pasaman Barat dan berbatasan dengan Natal, Sumatera Utara. Terdapat juga wilayah lain seperti Taratak Aia Hitam di Bengkulu, Durian Ditakuak Rajo di Kabupaten Bungo, Jambi, dan Aia Babaliak Mudiak di hilir sungai Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau sekarang.<br><br></div><div>Pendiri Kerajaan Pagaruyung</div><div>Dilansir dari Repository Universitas Negeri Medan, berdasarkan prasasti yang ditemukan seperti prasasti Kubu Rajo, prasasti Pagaruyung, dan Prasasti Suroaso, Adityawarman (1347 - 1375) adalah pendiri dan raja pertama Kerajaan Pagaruyung. Dia berasal dari keluarga kerajaan Darmasraya (Melayu) dan sebelumnya adalah panglima perang Majapahit. Awalnya, Kerajaan Pagaruyung yang dipimpin oleh Adityawarman mengikuti agama Buddha. Pada abad ke-16, kerajaan ini beralih menjadi Islam di bawah kepemimpinan Sultan Alif.<br><br></div><div>Demikianlah penjelasan mengenai sejarah, letak, dan pendiri Kerajaan Pagaruyung. Semoga bermanfaat, ya.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2487643394/5884b3621bf33b876fb215fcf3e1d906/Istano_Rajo_Basa_Pagaruyung.jpg" />
         <pubDate>2024-05-16 06:40:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995529822</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Indrapura</title>
         <author>fanteng1662</author>
         <link>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995536781</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Salah satu makam raja Inderapura</div><div><br>Pada akhir abad ke-17, pusat wilayah Inderapura mencakup lembah sungai Airhaji dan Batang Inderapura, terdiri atas dua puluh koto. Masing-masing koto diperintah oleh seorang <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Menteri">menteri</a>, yang berfungsi seperti <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Penghulu">penghulu</a> di wilayah Minangkabau lainnya. Sementara pada daerah Anak Sungai, yang mencakup lembah Manjuto dan Airdikit (disebut sebagai Negeri Empat Belas Koto), dan Muko-muko (Lima Koto), sistem pemerintahannya tidak jauh berbeda.<br><br></div><div><br>Untuk kawasan utara, disebut dengan <em>Banda Sapuluah</em> (<a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Bandar_Sepuluh">Bandar Sepuluh</a>) yang dipimpin oleh <em>Rajo nan Ampek</em> (4 orang yang bergelar raja; Raja Airhaji, Raja Bungo Pasang, Raja Kambang, Raja Palangai). Kawasan ini merupakan semacam <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Konfederasi">konfederasi</a> dari 10 daerah atau <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Nagari">nagari</a> (<a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Negeri">negeri</a>), yang juga masing-masing dipimpin oleh 10 orang <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Penghulu">penghulu</a>.<br><br></div><div><br>Pada kawasan bagian selatan, di mana sistem pemerintahan yang terdiri dari desa-desa berada di bawah wewenang <em>peroatin</em> (kepala yang bertanggung jawab menyelesaikan sengketa di muara sungai). Peroatin ini pada awalnya berjumlah 59 orang (peroatin nan kurang satu enam puluh). Para menteri dan peroatin ini tunduk pada kekuasaan raja atau sultan.<br><br></div><div><strong>Masa Belanda</strong></div><div><br>Pada 1663, belanda melalui VOC membuat sebuah kontrak dengan Kerajaan Indrapura terkait batas wilayah. VOC ketika itu menyatakan batas wilayah Kerajaan Indrapura dengan wilayah lainnya dengan perpanjian yang kemudian dinamai "<em>Verbond Indrapoera</em>". Batas yang dinyatakan VOC itu ditandai atau disimbolkan dengan alam, seperti laut, gunung, dan daerah spesifik.<a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kerajaan_Inderapura#cite_note-19"><sup>[19]<br></sup></a><br></div><ul><li>Sebelah utara wilayah kekuasaan Kerajaan Indrapura membentang hingga Air Bangis, yaitu hingga pelabuhan Air Bangis dan berbatsan langsung dengan <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kerajaan_Inderapura#Kerajaan_Batang_Toru&amp;action=edit&amp;redlink=1">Kerajaan Batang Toru</a> (atau dikenal juga dengan Kerajaan Batak).</li><li>Sebelah selatan kekuasaan membentang hingga Ketaun yang berujuang ke Taratak Air Hitam, yaitu daerah yang masuk ke wilayah <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Sriwijaya">Kerajaan Sriwijawa</a>.</li><li>Sebelah timur wilayah kekuasaannya hingga gunung tertinggi di Pulau Sumatera yang kini disebut dengan Gunung Kerinci dan berbatasan langsung dengan <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kerajaan_Jambu_Lipo">Kerajaan Jambi</a>.</li><li>Sebelah barat berbatasan langsung dengan laut lepas.</li></ul><div><br>Batas wilayah kekuasaan Kerajaan Indrapura ini pada akhirnya diakui oleh kerajaan lain di Nusantara, terutama kerajaan yang berdekatan dengannya. Selain itu, batas wilayah ini juga diakui oleh kerajaan di luar Nusantara, seperti Malaka dan kerajaan di Negeri Cina.<br><br></div><div><br>Pada 1665, VOC merilis sebuah peta yang memuat pembagian wilayah di pesisir barat. Pada peta tersebut juga diterangkan batas wilayah kekuasaan Kerajaan Indrapura, namun berbeda dengan batas wilayah sebelumnya.<a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kerajaan_Inderapura#cite_note-20"><sup>[20]<br></sup></a><br></div><div><strong>Daftar Raja Inderapura</strong></div><div><br>Berikut adalah <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Daftar_Raja_Inderapura">daftar Raja Inderapura</a>:<br><br></div><div><br><strong>TahunNama atau gelarCatatan dan peristiwa penting</strong><br>1550 | <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kerajaan_Inderapura#Munawar_Syah_dari_Inderapura&amp;action=edit&amp;redlink=1">Sultan Munawar Syah</a><br>Raja Mamulia | <br>1580 | <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kerajaan_Inderapura#Raja_Dewi&amp;action=edit&amp;redlink=1">Raja Dewi</a> | Nama lainnya adalah <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kerajaan_Inderapura#Putri_Rekna_Candra_Dewi&amp;action=edit&amp;redlink=1">Putri Rekna Candra Dewi</a><br>1616 | <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kerajaan_Inderapura#Raja_Itam&amp;action=edit&amp;redlink=1">Raja Itam</a> | <br>1624 | <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kerajaan_Inderapura#Raja_Besar&amp;action=edit&amp;redlink=1">Raja Besar</a> | <br>1625 | <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kerajaan_Inderapura#Raja_Puti&amp;action=edit&amp;redlink=1">Raja Puti</a> | Nama lainnya <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kerajaan_Inderapura#Putri_Rekna_Alun&amp;action=edit&amp;redlink=1">Putri Rekna Alun</a><br>1633 | <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kerajaan_Inderapura#Muzzaffar_Syah_dari_Inderapura&amp;action=edit&amp;redlink=1">Sultan Muzzaffar Syah</a><br>Raja Malfarsyah | <br>1660 | <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kerajaan_Inderapura#Muhammad_Syah_dari_Inderapura&amp;action=edit&amp;redlink=1">Sultan Muhammad Syah</a> | <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kerajaan_Inderapura#Raja_Adil&amp;action=edit&amp;redlink=1">Raja Adil</a> menuntut hak yang sama.<br>1691 | <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kerajaan_Inderapura#Mansur_Syah_dari_Inderapura&amp;action=edit&amp;redlink=1">Sultan Mansur Syah</a> | <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kerajaan_Inderapura#Sultan_Gulemat&amp;action=edit&amp;redlink=1">Sultan Gulemat</a> putra Raja Adil berkedudukan di Manjuto melepaskan diri dari Inderapura.<br>1696 | <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kerajaan_Inderapura#Raja_Pesisir&amp;action=edit&amp;redlink=1">Raja Pesisir</a> | <br>1760 | <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kerajaan_Inderapura#Raja_Pesisir_II&amp;action=edit&amp;redlink=1">Raja Pesisir II</a> | <br>1790 | <a href="https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kerajaan_Inderapura#Raja_Pesisir_III&amp;action=edit&amp;redlink=1">Raja Pesisir III</a></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2487643394/bf07778480370fa7be5a16ea4df42d4b/300px_Sebuah_bekas_bangunan_Indrapura.jpg" />
         <pubDate>2024-05-16 06:44:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995536781</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Demak</title>
         <author>fanteng1662</author>
         <link>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995562340</link>
         <description><![CDATA[<div>Kesultanan Demak atau Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa yang berdiri pada perempat akhir abad ke-15 di Demak. Demak sebelumnya merupakan kadipaten Majapahit yang telah melemah saat itu untuk beberapa tahun sebelum melepaskan diri. Berdasarkan cerita tradisional Jawa, kerajaan ini didirikan oleh Raden Patah, yang merupakan keluarga dinasti Majapahit.[6][7]<br><br>Kesultanan Demak<br>Nagari Kasultanan Demak<br>1481/1482[a]–1554<br>Peta rentang operasi militer yang dilakukan oleh Kesultanan Demak (serta sekutunya seperti Kesultanan Cirebon), termasuk ekspedisi ke Melaka Portugis, hingga pada masa pemerintahan Trenggana (1518–1546)<br>Peta rentang operasi militer yang dilakukan oleh Kesultanan Demak (serta sekutunya seperti Kesultanan Cirebon), termasuk ekspedisi ke Melaka Portugis, hingga pada masa pemerintahan Trenggana (1518–1546)<br>Status<br>Kesultanan<br>Ibu kota<br>Bintoro (1478–1546)<br>Prawoto (1546–1547)<br>Jipang (1547–1554)<br>Bahasa yang umum digunakan<br>Jawa Kuno (selanjutnya berkembang menjadi bahasa Jawa modern seperti sekarang)<br>Agama<br>Islam (resmi)<br>Pemerintahan<br>Monarki absolut Islam<br>• 1478–1504<br>Raden Patah<br>• 1505–1518<br>Trenggana<br>• 1518–1521<br>Pati Unus<br>• 1521-1546 [4]Trenggana sepertinya memerintah Demak selama dua kali.[5]}}<br>Trenggana<br>• 1546–1547<br>Sunan Prawoto<br>• 1547 - 1554<br>Arya Penangsang<br>Pendirian<br>Era Sejarah<br>Penyebaran Islam di Jawa<br>• Pendirian<br>1481/1482[a]<br>• Ekspedisi ke Melaka Portugis<br>1512, 1521<br>• Penaklukkan Sunda Kelapa<br>1527<br>• Perpindahan kekuasaan ke Pajang<br>1554<br>Didahului oleh	Digantikan oleh<br>	Majapahit<br>ksl Pajang	<br>ksl Cirebon	<br>ksl Banten	<br>krj Kalinyamat	<br>&nbsp;<br>Sekarang bagian dari<br>&nbsp;Indonesia<br>&nbsp;Tahun Saka 1400 (1478 M) adalah waktu yang biasa diceritakan secara tradisional untuk menandakan kejatuhan Majapahit (sirna ilang kertaning bhumi), atau tepatnya ibu kotanya. Namun, De Graaf menyatakan bahwa cerita itu tidak dapat diandalkan dan menjelaskan bahwa Majapahit setidaknya masih bertahan hingga 1527 M.[1] Meskipun demikian, Raffles menulis dalam bukunya yang terkenal, The History of Java, bahwa Kesultanan Demak secara tradisional berdiri pada tahun Saka 1403 (1481 M).[2] Ricklefs juga menulis dengan mengutip sebuah babad bahwa Majapahit runtuh pada Saka 1400, Demak berdiri pada Saka 1403, dan runtuh pada Saka 1500 (1578 M).[3]<br>Sunting kotak infoSunting kotak info • Lihat • BicaraInfo templat<br>Demak memainkan peran penting dalam mengakhiri kekuasaan Majapahit dan penyebaran Islam di Jawa.[8] Sepanjang awal hingga pertengahan abad ke-16, Demak berada pada puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Trenggana. Pada masanya, ia melakukan penaklukkan ke pelabuhan-pelabuhan utama di Pulau Jawa hingga ke pedalaman yang mungkin belum tersentuh Islam.[9] Salah satu pelabuhan yang ditaklukkan Demak adalah Sunda Kelapa, yang pada waktu itu berada dalam kekuasaan Kerajaan Sunda. Hubungan aliansinya dengan Imperium Portugal sejak 1511 menjadi ancaman bagi Demak. Pada 1527, pasukan dari Demak dan Cirebon yang dipimpin oleh Fatahillah melancarkan serangan sukses ke Sunda Kelapa yang memukul mundur Portugal dan Sunda. Fatahillah kemudian mengganti nama pelabuhan tersebut menjadi Jayakarta.[10] Di luar Jawa, Demak memiliki kekuasaan atas Jambi dan Palembang di Sumatra bagian timur.[11]<br><br>Kerajaan mulai mengalami kemunduran ketika Trenggana terbunuh dalam perang melawan Panarukan pada 1546. Sunan Prawoto kemudian naik takhta menggantikannya, tetapi dibunuh pada 1547 oleh suruhan Arya Panangsang, penguasa Jipang yang ingin menjadi raja Demak.[12] Perang perebutan takhta segera terjadi dan berakhir dengan dibunuhnya Arya Penangsang oleh Joko Tingkir, penguasa Pajang, sebagai hukuman. Joko Tingkir kemudian memindahkan kekuasaan Demak ke Pajang, tempat kekuasaannya. Dengan demikian Kerajaan Demak berakhir dengan didirikannya Kesultanan Pajang.[10][13]</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2487643394/2ad7d332aff589687d09d0ac7be8c03f/6421ae7d8c277.jpg" />
         <pubDate>2024-05-16 06:58:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995562340</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Benten</title>
         <author>fanteng1662</author>
         <link>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995566966</link>
         <description><![CDATA[<div>Fakultas Hukum Terbaik di Medan Sumut<br>enid<br>Kerajaan Banten: Sejarah, Raja dan Peninggalannya<br>Annisa by Annisa&nbsp; Maret 8, 2024<br>Kerajaan Banten Sejarah, Raja dan Peninggalannya<br>Kerajaan Banten Sejarah, Raja dan Peninggalannya<br><br>Kerajaan Banten<br>Kerajaan Banten, atau Kesultanan Banten, merupakan kerajaan Islam yang pernah berjaya di ujung barat Pulau Jawa. Didirikan pada abad ke-16, kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa dan menjadi salah satu pusat perdagangan maritim terkuat di Asia Tenggara.<br><br>Awal Mula dan Masa Kejayaan<br>Kesultanan Banten didirikan oleh Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati, pada tahun 1526. Berkat dukungan para ulama dan rakyat, Banten berkembang pesat menjadi kerajaan maritim yang makmur.<br><br>Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683), Banten mencapai puncak kejayaannya. Kerajaan ini menjalin hubungan perdagangan dengan berbagai negara di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Eropa. Banten juga menjadi pusat penyebaran Islam di Pulau Jawa.<br><br>Meskipun kuat, Kesultanan Banten harus menghadapi perlawanan dari VOC, kongsi dagang Belanda yang ingin menguasai perdagangan di Nusantara. Pertempuran sengit terjadi antara Banten dan VOC, dengan Sultan Ageng Tirtayasa memimpin perlawanan.<br><br>Raja-raja Kerajaan Banten<br>Sultan Maulana Hasanuddin atau Pangeran Sabakingkin (1552-1570)<br>Sultan Maulana Yusuf atau Pangeran Pasareyan (1570-1585)<br>Sultan Maulana Muhammad atau Pangeran Sedangrana (1585-1596)<br>Pangeran Ratu (1596-1647)<br>Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad (1647-1651)<br>Sultan Ageng Tirtayasa atau Sultan Abu al-Fath Abdul Fattah (1651-1682)<br>Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar (1683-1687)<br>Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya (1687-1690)<br>Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin (1690-1733)<br>Sultan Abul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin (1733-1747)<br>Ratu Syarifah Fatimah (1747-1750)<br>Sultan Arif Zainul Asyiqin al-Qadiri (1753-1773)<br>Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin (1773-1799)<br>Sultan Abul Fath Muhammad Muhyiddin Zainussalihin (1799-1803)<br>Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin (1803-1808)<br>Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin (1809-1813)<br>Peninggallan kerajaan banten<br>Peninggalan Kerajaan Banten merupakan bukti kejayaan dan keberlanjutan peradaban yang perlu diapresiasi. Beberapa peninggalan yang masih dapat ditemukan hingga kini antara lain adalah:<br><br>Masjid Agung Banten: Masjid ini merupakan peninggalan Kerajaan Banten yang juga dijadikan sebagai simbol kejayaan Kerajaan Banten. Masjid ini memiliki komplek dengan luas tanah sekitar 1,3 hektar dan dikelilingi pagar tembok setinggi satu meter .<br>Keraton Surosowan: Keraton ini terletak di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Bangunan ini merupakan simbol kebesaran dan kekayaan Kerajaan Banten .<br>Benteng Speelwijk: Benteng ini merupakan bukti penjagaan Kerajaan Banten atas serangan laut sekaligus digunakan untuk memantau aktivitas pelayaran .<br>Vihara Avalokitesvara: Vihara ini menjadi bukti akan keterbukaan Kerajaan Banten dengan seluruh agama, di mana pada dinding Vihara terdapat relief legenda siluman ular putih .<br>Danau Tasikardi: Danau ini adalah danau buatan pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf dengan lapisan batu bara dan keramik.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2487643394/4c4ee1843185365ac74dc3bd357a5836/Kerajaan_Banten_Sejarah_Raja_dan_Peninggalannya.jpg" />
         <pubDate>2024-05-16 07:00:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995566966</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Cirebon</title>
         <author>fanteng1662</author>
         <link>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995570572</link>
         <description><![CDATA[<div>Kompas.com Stori Kerajaan Cirebon: Letak, Pendiri, Masa Kejayaan, dan Peninggalan Kompas.com, 28 Mei 2021, 16:24 WIB Baca di App Widya Lestari Ningsih, Nibras Nada Nailufar Tim Redaksi 4 Lihat Foto KOMPAS.com - Kerajaan Cirebon adalah kerajaan Islam di Pulau Jawa yang berdiri antara abad ke-15 hingga abad ke-17. Pada masanya, kerajaan ini pernah menjadi pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran. Hal ini karena Kerajaan Cirebon terletak di pantai utara Jawa, antara perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Pendiri Kerajaan Cirebon adalah Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana, putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran. Pertumbuhan dan perkembangan pesat dialami kerajaan ini saat diperintah oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati (1479-1568 M). Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+ Di bawah kekuasaannya, Kesultanan Cirebon mengalami pertumbuhan pesat di bidang agama, politik, maupun ekonomi. Setelah lebih dari dua abad berdiri, Kerajaan Cirebon runtuh pada abad ke-17. Baca juga: Sejarah Berdirinya Kerajaan Cirebon Sejarah awal Kerajaan Cirebon Sumber sejarah Kerajaan Cirebon didapat dari Babad Tanah Sunda dan Carita Purwaka Caruban Nagari. Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+ Berdasarkan dua sumber tersebut, diketahui bahwa Cirebon pada awalnya adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa. Dengan dukungan pelabuhan yang ramai, wilayahnya pun berkembang menjadi kota besar di pesisir utara Jawa. Setelah Ki Gedeng Tapa wafat, cucunya yang bernama Walangsungsang, mendirikan istana Pakungwati dan membentuk pemerintahan di Cirebon. Dengan demikian, orang yang dianggap sebagai pendiri Kesultanan Cirebon adalah Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana. Usai menunaikan ibadah haji, ia dikenal sebagai Haji Abdullah Iman dan tampil sebagai raja Cirebon pertama yang aktif menyebarkan agama Islam kepada rakyatnya. Baca juga: Raja-Raja Kerajaan Cirebon Perkembangan agama Islam dan masa keemasan Kerajaan Cirebon Salah satu raja terkenal Kerajaan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, yang berkuasa antara 1479-1568 M. Selain memajukan kerajaan, Syarif Hidayatullah berperan besar dalam penyebaran agama Islam di Cirebon. Pada masa pemerintahannya, ia banyak menaklukkan daerah di Pulau Jawa untuk kepentingan politik dan menyebarkan ajaran Islam. Beberapa wilayah yang berhasil dikuasai adalah Banten, Sunda Kelapa, dan Rajagaluh. Sementara di bidang perekonomian, Sunan Gunung Jati menitikberatkan pada perdagangan dengan berbagai bangsa, seperti Campa, Malaka, India, Cina, dan Arab. Sunan Gunung Jati kemudian diyakini sebagai pendiri dinasti raja-raja Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten serta penyebar agama Islam di Jawa Barat. Baca juga: Kerajaan Pajajaran: Berdirinya, Raja-raja, Keruntuhan, dan Peninggalan Keruntuhan Kerajaan Cirebon Runtuhnya Kerajaan Cirebon dimulai pada 1666, pada masa pemerintahan Panembahan Ratu II atau Pangeran Rasmi. Penyebab keruntuhan dilatarbelakangi oleh fitnah dari Sultan Amangkurat I, penguasa Mataram yang juga mertua Panembahan Ratu II. Sultan Amangkurat I memanggil Panembahan Ratu II ke Surakarta dan menuduhnya telah bersekongkol dengan Banten untuk menjatuhkan kekuasaannya di Mataram. Akibatnya, Panembahan Ratu diasingkan dan wafat di Surakarta pada 1667. Setelah Panembahan Ratu II wafat, kekosongan dalam Kerajaan Cirebon diambil alih oleh Mataram. Pengambilalihan sepihak ini memicu amarah dari Sultan Ageng Tirtayasa yang berkuasa di Banten. Sultan Ageng Tirtayasa kemudian turun tangan untuk membebaskan putra Panembahan Ratu II yang juga diasingkan oleh Mataram. Setelah itu, Kesultanan Cirebon terpecah menjadi tiga, yang masing-masing berkuasa dan menurunkan para sultan berikutnya. Pecahnya kesultanan juga menandai runtuhnya Kerajaan Cirebon, karena keadaan semakin diperkeruh dengan politik adu domba VOC. Peninggalan Kerajaan Cirebon Keraton Kasepuhan Keraton Kanoman Keraton Kacirebon Masjid Agung Cirebon Makam Sunan Gunung Jati<br><br>Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kerajaan Cirebon: Letak, Pendiri, Masa Kejayaan, dan Peninggalan", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/stori/read/2021/05/28/162453079/kerajaan-cirebon-letak-pendiri-masa-kejayaan-dan-peninggalan?page=all.<br><br><br>Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6<br>Download aplikasi: https://kmp.im/app6</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2487643394/666c3ddd4d761b3bc34b0924ec60a936/6112a55c5af65.jpg" />
         <pubDate>2024-05-16 07:03:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995570572</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mataram islam</title>
         <author>fanteng1662</author>
         <link>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995574484</link>
         <description><![CDATA[<div>detikJateng<br>Home<br>Berita<br>Sepakbola<br>Hukum &amp; Kriminal<br>Budaya<br>Wisata<br>Kuliner<br>Bisnis<br>Jateng Meriah<br>Foto<br>Video<br>Indeks<br>detikJateng<br>Budaya<br>Kerajaan Mataram Islam: Sejarah, Pendiri, Kejayaan-Keruntuhan<br>Noris Roby Setiyawan - detikJateng<br>Minggu, 21 Mei 2023 16:37 WIB<br>BAGIKAN &nbsp;<br>Komentar<br>Raja dan Ratu Belanda Kunjungi Keraton Yogyakarta<br>Kerajaan Mataram Islam: Sejarah, Pendiri, Kejayaan-Keruntuhan. (Foto: Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Rabu (11/3/2020) / Pradito Rida Pertana-detikcom)<br>Solo - Kerajaan Mataram Islam adalah salah satu kerajaan yang dahulu pernah berjaya dalam sejarah Indonesia. Kerajaan yang diperkirakan telah berdiri semenjak abad ke-15 tersebut berpusat di Kota Gede, Yogyakarta.<br>Meskipun cukup terkenal dalam cerita-cerita sejarah mengenai Kerajaan Mataram Islam, namun ternyata tidak sedikit dari masyarakat yang tidak mengetahui mengenai kerajaan ini. Lantas seperti apa sejarah Kerajaan Mataram Islam?<br><br>Berikut ini sejarah, pendiri, dan kejayaan hingga keruntuhan Kerajaan Mataram Islam, dikutip dari jurnal 'Sejarah Agama Islam di Kerajaan Mataram pada Masa Panembahan Senapati, 1584-1601' oleh Rizal Zamzami (2018) dan jurnal 'Sejarah Perkembangan Mataram Islam Kraton Plered' oleh Siswanta (2019), Jumat (19/5/2023).<br><br>Sejarah dan Pendiri Kerajaan Mataram Islam<br>Kerajaan Mataram Islam berawal dari sebidang tanah perdikan yang diberikan oleh Sultan Adiwijaya dari Kesultanan Pajang kepada Ki Pemanahan sebagai bentuk balas jasa karena telah membantu dalam melakukan perlawanan terhadap Arya Penangsang.<br><br>Sebidang tanah tersebut dulunya merupakan hutan atau alas bernama mentaok, kemudian oleh Ki Pemanahan dilakukan pembabadan atau biasa disebut dengan babad alas. Tidak kurang selama 7 tahun Ki Pemanahan membangun Mataram dan menjadikannya sebagai pusat kekuasaan baru yang diberi nama Kota Gede.<br><br>Selanjutnya setelah Ki Pemanahan wafat pada tahun 1584 Masehi, ia digantikan oleh putranya yang bernama Sutawijaya. Ternyata selama dipimpin oleh Sutawijaya, Mataram berhasil berkembang dan mampu mengalahkan Kerajaan Pajang. Dengan demikian Sutawijaya naik takhta setelah merebut wilayah Pajang dari Hadiwijaya dengan gelar Panembahan Senopati. Pada saat itu wilayah Kerajaan Mataram hanya hutan mentaok dan bekas Kerajaan Pajang.<br><br>Baca juga:<br>Sejarah Kerajaan Mataram Kuno: Raja-raja, Peninggalan, Kejayaan-Keruntuhan<br>Kejayaan<br>Di masa pemerintahan Sultan Agung Kerajaan Mataram Islam mengalami puncak kejayaan. Pada masa itu Kerajaan Mataram Islam berhasil melakukan perluasan wilayah dan menguasai daerah Jawa Tengah, sebagian besar Jawa Timur, Jawa Barat, dan Madura. Sultan Agung juga turut aktif dalam melakukan perlawanan terhadap kependudukan VOC di wilayah Batavia. Tercatat Kerajaan Mataram Islam telah melakukan serangan sebanyak dua kali ke Batavia.<br><br>Selain itu, Kerajaan Mataram Islam juga berhasil menjalin hubungan kerja sama yang baik dengan sejumlah kerajaan lainnya di Pulau Jawa seperti Kerajaan Banten dan Kerajaan Cirebon. Meskipun belum berhasil mengalah VOC di Batavia, namun selama pemerintahan Sultan Agung telah berhasil membawa Kerajaan Mataram menjadi kerajaan Islam yang cukup besar di tanah Jawa.<br><br>Keruntuhan<br>Terkenal sebagai salah satu kerajaan yang aktif melakukan perlawanan terhadap VOC, namun menjelang keruntuhannya Kerajaan Mataram Islam justru meminta bantuan terhadap VOC. Masa-masa keruntuhan Kerajaan Mataram Islam sudah mulai terlihat ketika pemerintahan Sultan Agung berakhir dan dilanjutkan oleh putranya yang bergelar Kanjeng Susuhunan Prabu Amangkurat Agung atau biasa disebut dengan Amangkurat I.<br><br>Tanda-tanda kemunduran, yakni dengan adanya serangan yang dilakukan oleh Trunojoyo berhasil memporak-porandakan pertahanan Keraton Plered yang merupakan istana dari Kerajaan Mataram Islam. Atas peristiwa tersebut kemudian Amangkurat I pergi dan melarikan diri dari Keraton Plered serta meminta perlindungan dari pihak VOC.<br><br>Akhirnya Amangkurat I meninggal dalam masa pelariannya di Tegal pada tahun 1677. Kemudian digantikan oleh putra mahkota Kerajaan Mataram Islam dengan gelar Amangkurat II dan diterima sebagai bangsawan Jawa di Tegal.<br><br>Secara umum keruntuhan Kerajaan Mataram Islam ditandai dengan disepakatinya Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang membagi Kerajaan Mataram Islam menjadi dua bagian yakni Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.<br><br>Baca juga:<br>Daftar Kerajaan yang Pernah Berjaya di Jawa Tengah, Kalingga hingga Mataram<br>Raja-raja Kerajaan Mataram Islam<br>Panembahan Senopati atau Sutawijaya<br>Prabu Hanyokrowati atau Raden Mas Jolang<br>Adipati Martoputro<br>Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo atau Raden Mas Rangsang<br>Amangkurat I<br>Amangkurat II atau Raden Mas Rahmat<br>Amangkurat III<br>Demikian informasi soal Kerajaan Mataram Islam, sejarah, pendiri, dan kejayaan hingga keruntuhan. Semoga bermanfaat, Lur!,</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2487643394/cc2a1708d281c10ca4b24eea739160fb/e2aa68a9_a2c7_43bc_ae93_bcf4137b680a_169.jpeg" />
         <pubDate>2024-05-16 07:05:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995574484</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tidore</title>
         <author>fanteng1662</author>
         <link>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995580143</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Sejarah Berdirinya Kerajaan Tidore<br></strong><br></div><div>Kerajaan Tidore pertama kali didirikan pada tahun 1081. Saat itu, agama dan letak pusat kekuasaan Kerajaan Tidore belum bisa dipastikan.&nbsp;<br><br></div><div>Baru pada periode pemerintahan Kolano Balibunga, sumber sejarah Tidore mulai sedikit ditemukan, teman-teman.&nbsp;<br>Sejarah Berdirinya Kerajaan Tidore<br><br>Kerajaan Tidore pertama kali didirikan pada tahun 1081. Saat itu, agama dan letak pusat kekuasaan Kerajaan Tidore belum bisa dipastikan.&nbsp;<br><br>Baru pada periode pemerintahan Kolano Balibunga, sumber sejarah Tidore mulai sedikit ditemukan, teman-teman.&nbsp;<br><br><br>Pada 1495, diketahui bahwa kerajaan ini berpusat di Gam Tina dengan Sultan Cirilati atau Sultan Djamaluddin sebagai rajanya.&nbsp;<br><br>Sultan Djamaluddin masuk Islam karena dakwah seorang ulama dari Arab. Sultan ini pun diketahui merupakan raja pertama yang memakai gelar Sultan.</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2487643394/424192529f4c7819ecc6efe55caaf75e/belajar_sejarah_dari_keraton_kesultanan_tidore_RvEBIScGW6.JPG" />
         <pubDate>2024-05-16 07:08:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995580143</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ternate</title>
         <author>fanteng1662</author>
         <link>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995585257</link>
         <description><![CDATA[<div>Sejarah berdirinya Kerajaan Ternate bermula dari keberadaan empat kampung yang masing-masing dikepalai oleh seorang kepala marga atau disebut Momole. Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+ Empat kampung tersebut kemudian sepakat membentuk kerajaan, tetapi kala itu raja dan rakyatnya belum diketahui agamanya. Sejak zaman dahulu, Ternate dikenal sebagai penghasil rempah-rempah, sehingga penduduknya telah berhubungan dengan para pedagang dari Arab, Melayu, ataupun China. Seiring ramainya aktivitas perdagangan, ancaman dari para perompak pun semakin meresahkan. Setelah dilakukan musyawarah, para Momole sepakat menunjuk Momole Ciko sebagai kolano atau raja mereka. Sejak 1257 M, Momole Ciko resmi menjadi raja pertama Kerajaan Ternate dengan gelar Baab Mashur Malamo. Kerajaan ini terletak di Pulau Ternate, Provinsi Maluku Utara. Masuknya Islam ke Ternate Agama Islam mulai disebarkan di Ternate pada abad ke-14. Sedangkan keluarga kerajaan baru secara resmi memeluk Islam pada masa pemerintahan Kolano Marhum (1432–1486 M). Hikayat Ternate menyebutkan bahwa ketika Kolano Marhum berkuasa, datang seorang alim dari Jawa bernama Maulana Husein yang mengajarkan membaca Al-Qur'an dan menulis huruf Arab. Hal itulah yang membuat raja, keluarga kerajaan, dan masyarakat Ternate semakin tertarik untuk memeluk Islam. Kolano Marhum menjadi Raja Ternate pertama yang memeluk Islam, sedangkan putranya, Zainal Abidin, yang berkuasa antara 1486–1500 M mulai memberlakukan hukum-hukum Islam. Setelah bertransformasi menjadi kesultanan Islam, gelar kolano atau raja kemudian diganti dengan sultan. Baca juga: Sejarah Berdirinya Kerajaan Tidore Masa kejayaan Kerajaan Ternate Pada abad ke-15, Kerajaan Ternate mengalami perkembangan pesat, terutama di bidang perdagangan dan pelayaran, berkat kekayaan rempah-rempahnya. Akan tetapi, kestabilan kerajaan sempat terancam ketika bangsa Portugis mulai menginjak tanah Ternate. Sejak awal abad ke-16, sultan Ternate mulai melakukan perlawanan terhadap bangsa Portugis yang dirasa akan memonopoli perdagangan di wilayahnya. Terlebih lagi, Portugis telah mendirikan benteng yang diberi nama Benteng Sao Paulo di Ternate. Setelah peperangan selama beberapa tahun, bangsa Portugis baru dapat dikalahkan dan diusir pada 1577 M, ketika Sultan Baabullah berkuasa. Kemenangan Ternate atas Portugis ini tercatat sebagai kemenangan pertama putra nusantara melawan kekuatan barat. Selain itu, Sultan Baabullah (1570–1583 M) juga mengantarkan Kerajaan Ternate menuju puncak kejayaan. Di bawah pemerintahan Sultan Baabullah, wilayah kekuasaan Kerajaan Ternate membentang dari Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi Timur, Sulawesi Tengah, bagian selatan Kepulauan Filipina, dan Kepulauan Marshall di Pasifik. Pencapaian tersebut membuat Sultan Baabullah dijuluki sebagai Penguasa 72 Pulau yang semuanya berpenghuni. Baca juga: Raja-Raja Kerajaan Tidore Kemunduran Kerajaan Ternate Kerajaan Ternate mulai mengalami kemunduran setelah Sultan Baabullah wafat pada 1583 M. Tidak lama kemudian, Spanyol berani melakukan serangan dan berhasil merebut Benteng Gamulamu pada 1606 M. Kehidupan politik Kerajaan Ternate pun semakin kacau saat VOC datang dan memenangkan persaingan melawan bangsa barat lainnya. Sejak saat itu, VOC memegang hak atas monopoli perdagangan dan mulai mendirikan benteng di Ternate. Menjelang akhir abad ke-17, Kerajaan Ternate sepenuhnya berada di bawah kendali VOC. Hal inilah yang disebut-sebut sebagai penyebab runtuhnya Kerajaan Ternate, meskipun kerajaan ini tidak benar-benar hancur. Peninggalan Kerajaan Ternate Istana Kesultanan Ternate Masjid Jami Kesultanan Ternate Kompleks pemakaman sultan Ternate Benda-benda peninggalan di Museum Kesultanan Ternate (alat-alat perang, singgasana raja, Al-Qur'an tulisan tangan raja)<br><br>Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kerajaan Ternate: Sejarah, Letak, Masa Kejayaan, dan Peninggalan", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/stori/read/2021/08/16/130000279/kerajaan-ternate-sejarah-letak-masa-kejayaan-dan-peninggalan?page=all.<br><br><br>Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6<br>Download aplikasi: https://kmp.im/app6</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2487643394/8472e548488cb201cb4c4b596131a8fb/images_76jpeg_20230921011625.jpeg" />
         <pubDate>2024-05-16 07:12:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995585257</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gowa</title>
         <author>fanteng1662</author>
         <link>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995903018</link>
         <description><![CDATA[<div>Kompas.com Stori Kerajaan Gowa-Tallo: Letak, Kehidupan, Peninggalan, dan Keruntuhan Kompas.com, 21 April 2021, 16:36 WIB Baca di App Widya Lestari Ningsih, Nibras Nada Nailufar Tim Redaksi 3 Lihat Foto KOMPAS.com - Di Sulawesi Selatan terdapat salah satu kerajaan Islam terbesar, yaitu Kerajaan Gowa-Tallo atau Kerajaan Makassar. Letak wilayah inti kerajaan ini berada di daerah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Kerajaan Gowa-Tallo mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-17, ketika kesultanan ini berkembang sebagai pusat perdagangan dan mengembangkan berbagai inovasi di bidang pemerintahan, ekonomi, militer, dan sosial budaya. Awal mula kejayaan kerajaan ini tidak lepas dari peran Karaeng Patingalloang, seorang mangkubumi yang menjalankan kekuasaan pada 1639-1654, mendampingi Sultan Malikussaid yang kala itu masih kecil. Pemimpin kesultanan Gowa-Tallo yang paling terkenal adalah Sultan Hasanuddin. Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+ Saat Sultan Hasanuddin memerintah, terjadi perlawanan sengit melawan VOC yang melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah dari Kepulauan Maluku. Baca juga: Kerajaan Islam di Maluku Sejarah Sejarah Kerajaan Gowa-Tallo terbagi dalam dua zaman, yaitu periode sebelum memeluk Islam dan setelah memeluk Islam. Kerajaan Gowa-Tallo merupakan gabungan dari dua kerajaan yang berasal dari keturunan sama, yakni Kerajaan Gowa. Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+ Pada awalnya, di wilayah Gowa terdapat sembilan komunitas yang dikenal dengan nama Bate Salapang atau Sembilan Bendera. Sembilan komunitas tersebut adalah Tambolo, Lakiung, Saumata, Parang-parang, Data, Agangjene, Bisei, Kalili, dan Sero. Dengan berbagai cara, baik damai ataupun paksaan, sembilan komunitas tersebut membentuk Kerajaan Gowa. Tomanurung kemudian diangkat menjadi raja dan mewariskan Kerajaan Gowa kepada putranya, Tumassalangga. Bukti genealogis dan arkeologis mengisyaratkan bahwa pembentukan Kerajaan Gowa terjadi pada sekitar tahun 1300, di mana masyarakat dan penguasanya masih menganut kepercayaan animisme. Kerajaan Gowa pernah terbelah menjadi dua setelah masa pemerintahan Tonatangka Lopi pada abad ke-15. Dua putra Tonatangka Lopi, Batara Gowa dan Karaeng Loe ri Sero, berebut takhta sehingga terjadilah perang saudara. Setelah Batara Gowa menang, Karaeng Loe ri Sero turun ke muara Sungai Tallo dan mendirikan Kerajaan Tallo. Selama bertahun-tahun, dua kerajaan bersaudara ini tidak pernah akur. Hingga pada akhirnya, Gowa dan Tallo bersatu dalam kesepakatan "dua raja tetapi satu rakyat" pada 1565. Setelah bersatu kembali, kerajaan ini disebut Kerajaan Gowa-Tallo atau Kerajaan Makassar dengan sistem pembagian kekuasaan. Raja dipilih dari garis keturunan Gowa, sedangkan perdana menterinya dari keturunan Tallo. Baca juga: Wilayah Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya Kerajaan Gowa-Tallo pada masa Islam Seiring berkembangnya Gowa-Tallo menjadi pusat perdagangan di kawasan timur nusantara, para saudagar muslim mulai berniaga ke wilayah ini. Pada akhir abad ke-16, Kerajaan Gowa-Tallo memasuki masa Islam dan berubah menjadi kesultanan. Penguasa Gowa-Tallo pertama yang memeluk Islam adalah I Mangarangi Daeng Manrabbia (1593-1639) dengan gelar Sultan Alauddin I. Masa kejayaan Kerajaan Gowa-Tallo Sultan Hasanuddin atau dijuluki sebagai Ayam Jantan dari Timur yang naik takhta pada 1653 berhasil membawa Kerajaan Gowa-Tallo mencapai puncak kejayaan. Pada masa kejayaannya, kerajaan ini dikenal sebagai negara maritim yang menjadi pusat perdagangan di Indonesia bagian timur. Sementara perkembangan kerajaan di bidang sosial masa pemerintahan Sultan Hasanudin adalah memajukan pendidikan dan kebudayaan islam sehingga banyak murid yang belajar agama islam ke Banten. Sultan Hasanuddin adalah sosok raja yang sangat anti terhadap dominasi asing. Oleh karena itu, dirinya menentang kehadiran VOC yang kala itu telah berkuasa di Ambon. Perjuangan melawan penjajah di daerah Makasar dipimpin oleh Sultan Hasanuddin. Menyadari kedudukannya semakin terdesak, Belanda berupaya mengakhiri peperangan dengan melakukan politik adu domba antara Makassar dengan Kerajaan Bone (daerah kekuasaan Makassar). Baca juga: Masjid-masjid Peninggalan Kerajaan Islam dan Ciri-cirinya Keruntuhan Siasat politik adu domba yang dijalankan Belanda terbukti ampuh. Sebab, Raja Bone yaitu Aru Palaka, akhirnya mau bersekutu dengan VOC untuk menghancurkan Makassar. Perang inilah yang kemudian dikenal dengan nama Perang Makassar. Setelah bertahun-tahun berperang, Kerajaan Makassar harus mengakui kekalahannya dan menandatangani Perjanjian Bongaya pada 1667. Dalam perjanjian tersebut, banyak pasal yang merugikan Makassar, tetapi harus diterima Sultan Hasanuddin. Dua hari setelah perjanjian itu, Sultan Hasanuddin turun takhta dan menyerahkan kekuasaan kepada Sultan Amir Hamzah. Perjanjian Bongaya menjadi awal keruntuhan Kesultanan Gowa-Tallo. Pasalnya, raja-raja setelah Sultan Hasanuddin bukanlah raja yang merdeka dalam penentuan politik kenegaraan. Peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo Istana Balla Lompoa Istana Tamalate Masjid Katangka Benteng Somba Opu Benteng Fort Rotterdam<br><br>Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kerajaan Gowa-Tallo: Letak, Kehidupan, Peninggalan, dan Keruntuhan", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/stori/read/2021/04/21/163617279/kerajaan-gowa-tallo-letak-kehidupan-peninggalan-dan-keruntuhan?page=all.<br><br><br>Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6<br>Download aplikasi: https://kmp.im/app6</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2487643394/86b3e5a4934be8038164098091cef566/ilustrasi_kerajaan_gowa_tallo_169.png" />
         <pubDate>2024-05-16 12:02:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995903018</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tallo </title>
         <author>fanteng1662</author>
         <link>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995912773</link>
         <description><![CDATA[<div>Kerajaan Tallo berawal dari pertengahan abad ke-15, yaitu setelah wafatnya Raja Gowa ke-6 Tonatangkalopi. Penerusnya sebagai Raja Gowa ke-7 adalah anak tertuanya Batara Gowa Tuminanga ri Paralakkenna, sementara adiknya Karaeng Loe ri Sero memerintah sebagian wilayah sebagai Raja Tallo pertama.[3] Wilayah Kerajaan Tallo meliputi Samata, Pannampu, Moncong Loe, dan Parang Loe.[3]<br><br>Kedua kerajaan Tallo dan Gowa kemudian terlibat pertempuran dan persaingan, hingga Tallo terkalahkan. Pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-10 Tonipalangga Ulaweng dan Raja Tallo ke-4 Daeng Padulu' dicapailah kesepakatan Rua karaeng se're ata (dua raja tetapi satu rakyat), yang mana dengan persetujuan tersebut, maka dalam persekutuan itu Raja Gowa menjadi Sombaya (raja tertinggi) sedangkan Raja Tallo menjadi Tuma'bicara Butta (perdana menterinya) dari persekutuan kedua kerajaan tersebut. Sejak saat itu Kerajaan Tallo selalu terlibat dan mendukung ekspansi Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan dan sekitarnya.[3]<br><br>Di antara raja-raja Tallo yang menonjol adalah Karaeng Matoaya (1593-1623) dan anaknya Karaeng Pattingalloang (1641-1654), yang adalah para perdana menteri yang terpelajar dan andal, yang membawa Kesultanan Makassar pada masa keemasannya.[4]<br>Berikut ini adalah daftar Karaeng (raja) Kerajaan Tallo:[5]<br><br>No	Nama	Pemerintahan	Keterangan<br>1	Karaeng Loe ri Sero, Tuniawanga ri Sero	1460[6]–1490[6]	Anak Tunatangkalopi Raja Gowa ke-6<br>2	Karaeng Samarluka Tunilabu ri Suriwa	1490[6]–1500[c]	Anak raja sebelumnya<br>3	I Mangayoangberang Karaeng Pasi' gelar anumerta Karaeng Tunipasuru	1500[6]–1543[6]	Anak raja sebelumnya<br>4	I Mappatakakatana Daeng Padulu', Karaeng Pattingalloang, gelar anumerta "Tumenanga ri Makkoayang"	1543[6]–1576	Anak raja sebelumnya, perdana menteri pertama Kerajaan Gowa-Tallo<br>5	I Sambo Daeng Niasseng Karaeng Pattingalloang Karaeng Bainea	1576–1590[6]	Anak raja sebelumnya<br>6	I Tepukaraeng Daeng Parabbung, Karaeng Tunipasulu', gelar anumerta "Tunipasulu"[6]	1590[6]–1593	Anak raja sebelumnya dan Tunijallo<br>7	I Mallingkaan Daeng Mannyonri, Karaeng Matoayya, "Sultan Abdullah Awalul Islam", gelar anumerta "Tumenanga ri Agamana"	1593–1623	Anak raja ke-4, raja muslim pertama Kesultanan Makassar<br>8	I Manginyarrang Daeng Makkio, Karaeng Kanjilo, "Sultan Abdul Jafar Muzaffar", Tumammalinga ri Timoro, gelar anumerta "Tumenanga ri Tallo"	1623–1641	Anak raja sebelumnya, pernah menyerang Timor<br>9	I Mangadacinna I Daeng Baqle, Karaeng Pattingalloang, "Sultan Mahmud", gelar anumerta "Tumenanga ri Bontobiraeng"	1641-1654	Saudara raja sebelumnya<br>10	I Mappaiyo Daeng Mannyauru', "Sultan Harun Al Rasyid", gelar anumerta "Tumenanga ri Lampana"	1654-1673	Anak raja ke-8<br>11	I Mappincara Daeng Mattinri, Karaeng Kanjilo, "Sultan Abdul Qadir", gelar anumerta "Tumenanga ri Pasi'"	1673–1709	Anak raja sebelumnya<br>12	I Mappau'rangi Daeng Mannuntungi, Karaeng Boddia, "Sultan Sirajuddin", gelar anumerta "Tumenanga ri Tallo"	1709–1714	Anak raja sebelumnya<br>13	I Manrabbia Daeng Ma'nassa, Karaeng Kanjilo, "Sultan Najamuddin", gelar anumerta "Tumenanga ri Jawayya"	1714–1729	Anak raja sebelumnya, meninggal di Jawa<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2487643394/d76cdd6c5df992a8ae3b55f3f2e6eab1/IMG_20221223_143314_1.jpg" />
         <pubDate>2024-05-16 12:11:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fanteng1662/65n093wj2jr7sywt/wish/2995912773</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
