<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Tantangan Minggu Keenam- Menjalankan Kebiasan  by Fitry Rahmawaty</title>
      <link>https://padlet.com/CoP7HabitsMA/5y6jgbpbdfzj8rpg</link>
      <description>Minggu Keenam ini anda akan menerapkan Kebiasaan 5. Berusaha Mengerti Dahulu Kemudian Dimengerti.  Tantangan minggu ini adalah :Tugas 1. Untuk ketiga kalinya Buatlah rencana mingguan untuk minggu ini di hari Sabtu atau Minggu.  Gunakan Form Weekly Plan yang disediakan.  Jalankan dengan integritas dan lakukan refleksi diri pada hari Sabtu depan.Tugas 2. Buatlah komitmen untuk mempraktekkan Mendengar Empatik dengan dua orang yang berbeda.  Orang pertama kamu jelaskan bahwa kamu sedang belajar mempraktekkan mendengar empatik dalam percakapan dengan orang tsb.  Lalu praktekkan mendengar empatik secara konsisten dalam percakapan tsb.  Setelah selesai percakapan, tanyakan kepada orang tsb apa yang dia rasakan dalam komunikasi tsb.  Lakukan mendengar empatik kepada orang kedua yang kamu pilih dimana kamu melihat orang tsb sedang membutuhkan pendengar.  Lakukan dengan tulus mendengar empatik. Perhatikan bagaimana komunikasi berlangsung.Tugas 3. Pada akhir minggu ini buatlah refleksi atas pelaksanaan mendengar empatik.  Klik tanda (+) pada bagian kanan bawah untuk menuliskan refleksi anda.</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-08-22 02:56:42 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-09-11 14:38:17 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/8.0/svg/1f970.svg</url>
      </image>
      <item>
         <title>Pada akhir minggu ini buatlah refleksi atas pelaksanaan mendengar empatik.  Klik tanda (+) pada bagian kanan bawah untuk menuliskan refleksi anda.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/CoP7HabitsMA/5y6jgbpbdfzj8rpg/wish/3556194407</link>
         <description><![CDATA[<p>Minggu ini saya belajar untuk sungguh-sungguh menerapkan prinsip mendengar empatik. Dalam praktiknya, saya mencoba menahan diri untuk tidak langsung menanggapi atau memberi nasihat, melainkan lebih fokus memahami perasaan dan maksud orang lain. Hal ini ternyata membutuhkan kesabaran, karena secara alami saya ingin cepat memberikan respon.</p><p><br></p><p>Orang pertama yang saya pilih adalah suami. Sebelum memulai percakapan, saya menjelaskan bahwa saya sedang berlatih mendengar empatik. Saya mendengarkan ceritanya dengan perhatian, menjaga kontak mata, dan berusaha memahami dari sudut pandangnya. Setelah percakapan selesai, saya bertanya bagaimana perasaannya. Ia mengatakan merasa lebih lega dan dihargai, karena saya tidak memotong pembicaraan dan benar-benar mendengarkan. Pengalaman ini membuat saya sadar bahwa dengan mendengar lebih dulu, hubungan rumah tangga bisa terasa lebih harmonis.</p><p><br></p><p>Orang kedua, saya mencoba menerapkan mendengar empatik kepada salah satu murid yang sering menyepelekan pelajaran dan hasil belajarnya masih di bawah rata-rata. Ketika saya benar-benar mendengarkan, saya mengetahui bahwa ia memiliki cita-cita besar untuk masuk sekolah kedinasan. Ia selama ini hanya fokus mengikuti bimbel jasmani tanpa memperhatikan persiapan akademiknya. Setelah memahami kondisinya, saya tidak langsung menghakimi, melainkan mengajaknya membuat langkah nyata dengan membawa buku belajarnya setiap hari. Setiap hari saya menanyainya terkait materi persiapan, agar ia terbiasa belajar dan merasa didampingi. Dari pengalaman ini saya belajar bahwa dengan memahami terlebih dahulu, saya bisa memberi arahan yang lebih tepat, sehingga ia tetap bersemangat menggapai mimpinya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 01:06:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/CoP7HabitsMA/5y6jgbpbdfzj8rpg/wish/3556194407</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Check tanda + disini warna merah bawah yaa bestieee 😊</title>
         <author>permataonline</author>
         <link>https://padlet.com/CoP7HabitsMA/5y6jgbpbdfzj8rpg/wish/3556633234</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 05:56:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/CoP7HabitsMA/5y6jgbpbdfzj8rpg/wish/3556633234</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Evika</title>
         <author>evikatriayunita</author>
         <link>https://padlet.com/CoP7HabitsMA/5y6jgbpbdfzj8rpg/wish/3556677468</link>
         <description><![CDATA[<p>Saat menemukan status siswa saya yang 'lain' saya kemudian menanyakan terkait postingannya. Ternyata banyak hal yang diceritakannya, banyak hal yang sedang dihadapi nya tapi dia belum bisa mengatasi nya. Dari hal tersebut saya mencermati satu hal bahwa sebenarnya siswa ini bingung dengan sikap keluarga nya yang bertentangan dengan kebijakan sekolah. Saya berempati dengan hal ini tapi saya tunjukkan dengan apresiasi2 positif yang dia tunjukkan ke saya, sehingga di akhir pembicaraan dia terlihat semakin bersemangat dalam berbuat kebaikan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 06:29:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/CoP7HabitsMA/5y6jgbpbdfzj8rpg/wish/3556677468</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/CoP7HabitsMA/5y6jgbpbdfzj8rpg/wish/3556677852</link>
         <description><![CDATA[<p>Saat menemukan status siswa saya yang 'lain' saya kemudian menanyakan terkait postingannya. Ternyata banyak hal yang diceritakannya, banyak hal yang sedang dihadapi nya tapi dia belum bisa mengatasi nya. Dari hal tersebut saya mencermati satu hal bahwa sebenarnya siswa ini bingung dengan sikap keluarga nya yang bertentangan dengan kebijakan sekolah. Saya berempati dengan hal ini tapi saya tunjukkan dengan apresiasi2 positif yang dia tunjukkan ke saya, sehingga di akhir pembicaraan dia terlihat semakin bersemangat dalam berbuat kebaikan.</p><p><br/></p><p>Pada pekan ini saya menerapkan menerapkan mendengar efektif kepada dua orang teman saya, teman pertama saya dia menceritakan isi hatinya yang sedang dia rasakan, dia meluapkan apa yang menjadi beban pikirannya dan saya mencoba mendengarkan tanpa mendistraksi ceritanya, di akhir ceritanya dia menyampaikan bahwa dia tau apa yang harus dia lakukan, karena dia hanya ingin menyampaikan uneg-uneg dalam hatinya. </p><p><br/></p><p>pada teman kedua saya menyampaikan bahwa saya sedang belajar menerapkan mendengar empatik, dia bercerita mengalir, tanpa saya jeda dan saya respon apapun, saya hanya mendengarkan dengan seksama, </p><p><br/></p><p>Refleksi yang bisa saya ambil, bahwa sebenarnya ketika seseorang ingin bercerita kepada orang lain,hanya butuh pendengar saja tanpa harus diberi solusi. karena hal tersebut dapat mengurangi beban dalam pikiran dan hidupnya. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 06:30:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/CoP7HabitsMA/5y6jgbpbdfzj8rpg/wish/3556677852</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/CoP7HabitsMA/5y6jgbpbdfzj8rpg/wish/3562989515</link>
         <description><![CDATA[<p>Orang Pertama : Siswi XB yang sering curhat lewat chat hingga tengah malam. Saya memulai dengan menjelaskan kepada siswi ini bahwa saya sedang belajar untuk lebih mendengarkan secara empatik, dan saya ingin mempraktikkannya dalam percakapan kami. Saya menyampaikan bahwa saya tidak akan langsung memberi nasihat atau solusi, tapi akan benar-benar hadir dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh.</p><p>Selama percakapan (lewat chat), saya mencoba untuk tidak terburu-buru membalas dengan solusi. Saya mengulang beberapa pernyataannya dengan bahasa saya sendiri untuk memastikan saya memahami maksudnya. Saya juga memberi respon yang menunjukkan bahwa saya mendengar dan memahami perasaannya.</p><p>Setelah percakapan selesai, saya menanyakan bagaimana perasaannya selama berbicara dengan saya. Dia menjawab bahwa dia merasa lebih lega, merasa didengarkan, dan tidak dihakimi. Dia juga bilang, biasanya kalau curhat ke orang lain, dia hanya mendapat saran, tapi tidak merasa benar-benar didengarkan. Dari situ, saya merasa bahwa kehadiran yang utuh dan mendengarkan tanpa menginterupsi sangat berarti bagi dia.</p><p><br/></p><p>Orang Kedua : Siswi XB lain yang merasa tidak nyaman karena perlakuan kakak kelasnya terhadap dirinya. Untuk siswi ini, saya memulai percakapan tanpa menyebutkan praktik saya secara eksplisit, karena saya melihat memang dia sedang butuh ruang aman untuk bercerita. Saya memberi waktu dan ruang agar dia bisa menyampaikan keluhannya tanpa tekanan. Saya menghindari menyela, tidak langsung menilai, dan fokus pada bahasa tubuh serta nada suaranya yang ketakutan awalnya. Saya menggunakan teknik pantulan perasaan seperti: “Sepertinya kamu merasa tidak nyaman ya dengan situasi itu?” Hal ini mendorong dia untuk lebih terbuka. Ia akhirnya bisa mengungkapkan perasaannya dengan lebih jujur, bahkan tentang hal-hal yang sebelumnya ia simpan sendiri. Saya tidak langsung memberi solusi, tetapi hanya memastikan bahwa ia merasa aman dan dihargai. Setelah percakapan, saya bisa merasakan perubahannya dia tampak lebih tenang, dan bahkan mengucapkan terima kasih karena saya mau benar-benar mendengarkannya sampai selesai tanpa menyela.</p><p><br/></p><p>Pembelajaran dan dampak yang saya dapatkan adalah mendengar empatik bukan hanya soal mendengar dengan telinga, tapi juga hadir sepenuhnya dengan hati. Kadang, orang tidak butuh solusi instan, tapi hanya ingin didengarkan dan dipahami. Dengan mendengar secara empatik. Hubungan saya dengan siswa menjadi lebih dekat dan penuh kepercayaan. Kemudian saya bisa memahami masalah dari perspektif mereka dengan lebih dalam.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-01 07:18:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/CoP7HabitsMA/5y6jgbpbdfzj8rpg/wish/3562989515</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/CoP7HabitsMA/5y6jgbpbdfzj8rpg/wish/3580400240</link>
         <description><![CDATA[<p>Ada seorang siswa yang sering dianggap teman-temannya terlalu suka <em>flexing</em>—menceritakan prestasi, pencapaian, atau hal-hal yang dimilikinya. Dari luar, kesannya memang bisa membuat orang lain menilai ia sombong. Sebagai wali kelas, saya merasa perlu mengajaknya berbicara, karena khawatir kebiasaannya itu akan menjauhkan dirinya dari teman-teman.</p><p>Dalam percakapan, saya berusaha menerapkan Habit 5, yaitu mendengarkan dengan empati, tanpa buru-buru menghakimi bahwa ia sombong. Saat ia merasa aman untuk bercerita, terbuka sudah latar belakangnya: kebiasaan itu ternyata terbentuk karena kultur sekolah lamanya, di mana mayoritas teman-temannya berasal dari keluarga berada. Lebih dalam lagi, ia tumbuh tanpa sosok ayah sejak masuk SMA, dan hubungannya dengan kakak kandungnya pun kurang dekat.</p><p>Momen ini menjadi pelajaran berharga bagi saya. Terkadang perilaku yang tampak di luar hanyalah “permukaan,” sementara ada kisah yang jauh lebih dalam di baliknya. Dengan mendengarkan terlebih dahulu, saya bisa memahami kebutuhannya: bukan ingin dipuji, melainkan ingin diterima. Dari sinilah saya belajar bahwa Habit 5 bukan sekadar mendengar kata-kata, tapi juga memahami perasaan dan kebutuhan yang tersembunyi di baliknya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-11 14:38:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/CoP7HabitsMA/5y6jgbpbdfzj8rpg/wish/3580400240</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
