<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Narasi Diskusi CYB by Ridha</title>
      <link>https://padlet.com/ridhapradani/NarasiDiskusiCYB</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-10-13 10:26:40 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2023-10-12 12:22:10 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f497.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Pertemuan 1 (Prolog)</title>
         <author>ridhapradani</author>
         <link>https://padlet.com/ridhapradani/NarasiDiskusiCYB/wish/2378816876</link>
         <description><![CDATA[<div>Pertemuan dibuka dengan perkenalan diri. Dilanjutkan dengan bergiliran membaca bagian prolog buku CYB, kemudian menarasikannya. Bersama-sama mengenali spirit Charlotte Mason, sang guru luar biasa.&nbsp;<br>Lalu dilanjutkan dengan menceritakan beberapa keresahan dan pengalaman bersama anak.<br><br>Kak Bida mengatakan dengan melihat anak&nbsp; sebagai pribadi yang utuh, bukan diibaratkan sebagai kertas putih kosong yg baru akan berwarna setelah kita coreti/ember kosong yg perlu kita isi sebetulnya sudah akan timbul perbedaan sikap kita kepada anak.&nbsp;<br><br>Seperti yang Ama bilang, harapannya dengan memahami metode ini kita nantinya tidak bergantung dengan siapapun dalam proses mendidik yang terkadang membingungkan ini. Dengan memahami metode ini kita bisa percaya diri untuk melakukan berbagai sikap dalam membimbing dan membersamai anak kita dalam proses belajar hidupnya.&nbsp;<br><br>(RIDHA)<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-10 15:25:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ridhapradani/NarasiDiskusiCYB/wish/2378816876</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pertemuan 2 (Prolog)</title>
         <author>ridhapradani</author>
         <link>https://padlet.com/ridhapradani/NarasiDiskusiCYB/wish/2378817456</link>
         <description><![CDATA[<div>Pertemuan kedua masih melanjutkan bagian prolog dari buku CYB, mengenal lebih banyak lagi tentang Charlotte Mason. Bagaimana Charlotte muda sudah membulatkan tekadnya menjadi pendidik, memiliki cita-cita yang tinggi serta mulia: menjalankan filsafat pendidikan yang dapat menyingkap potensi fisik, mental dan spiritual semua anak-anak. Dengan mengetahui hal ini saya pribadi merasa malu sebetulnya, dimana saya mulai tergerak mempelajari tentang pendidikan anak usia dini malah setelah memiliki anak. Maka tidak berlebihan apa yg tertulis di paragraf akhir bagian ini bahwa "Anak-anak dari banyak generasi akan berterimakasih kepada Tuhan untuk Charlotte Mason".&nbsp;<br><br>Point-point yang saya tangkap di diskusi kali ini (yang mana sedang kurang fokus sebetulnya karena sembari menjaga anak yang sedang tidak mau diam😅), yaitu:<br>- CM menyarankan untuk banyak membaca living books (buku-buku yg membentuk jiwa). Boleh juga memberikan buku-buku yg didalamnya terdapat nilai-nilai yg ingin kita perkenalkan/ajarkan/tanamkan. Sebetulnya masih belum terlalu paham buku yg seperti apa yg masuk dalam kategori "living books" tapi sebagaimana Mbak Ellen Kristi bilang di buku CYB memang harus sering praktek membaca langsung sampai nanti kita bisa membedakannya sendiri.&nbsp;<br>- narasi (mengikat ilmu). Sama seperti membaca buku, berlatih membuat narasi pun memang harus dibiasakan sehingga nanti menjadi terbiasa.&nbsp;<br>- kak bida menyarankan untuk membuka web Ambleside kalau mau tahu lebih dalam ttg kurikulum (kalau tidak salah tangkap😅)<br><br>Seperti pertemuan sebelumnya, pertemuan kali ini pun diselingi cerita-cerita dari pengalaman pribadi dari para anggota group. Selain belajar mengenal Charlotte Mason dan filosofi pendidikan beliau khususnya, kami pun sedang belajar mengenali satu sama lain sebetulnya dan menyenangkan sekali rasanya mengetahui ada teman-teman yg sedang sama-sama belajar memahami perilaku anak-anak, yang mana anak-anaknya pun berbeda-beda ya😁<br><br>Harapannya group ini langgeng dan bisa membawa semangat dalam mempelajari metode Charlotte Mason lebih lengkap dan mendalam lagi. Aamiin.<br><br>(RIDHA)<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-10 15:26:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ridhapradani/NarasiDiskusiCYB/wish/2378817456</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pertemuan 3 &amp; 4 (Miliki Cinta Yang Berpikir)</title>
         <author>ridhapradani</author>
         <link>https://padlet.com/ridhapradani/NarasiDiskusiCYB/wish/2378822966</link>
         <description><![CDATA[<div>Pertemuan 3 dan 4 mulai memasuki filosofi Charlotte Mason. Pada Bab ini kita disadarkan lagi bahwa memiliki anak adalah sebuah berkat sekaligus tanggung jawab yang luar biasa. Dalam menjalaninya tidak cukup orangtua hanya mengandalkan cinta saja sebagai naluri alamiahnya, tidak cukup hanya menjalaninya begitu saja sembari berdoa dan berharap tapi harus dilengkapi dengan berpikir, mencari berbagai ilmu pengetahuan dalam menjalaninya.<br><br>Dalam mendidik anak juga kita sebaiknya dapat menyeimbangkan di pertengahan perasaan dimana kita terlalu puas diri sehingga tidak mau belajar lagi dan rendah diri sehingga kita terus menerus merasa bersalah hingga putus asa, karena kedua titik ekstrim ini sama-sama buruk.<br><br>Raising children, raising ourselves. Paket kombo sebetulnya memiliki anak ini. Karena sembari membesarkan anak-anak, kita pun sekaligus mendewasakan diri kita sendiri. Ingin memiliki anak yang jujur kita dituntut untuk jujur lebih dulu, ingin memiliki anak yang gigih kita sendiri dituntut untuk punya kegigihan terlebih dahulu. Karena tidak mungkin menuntut orang lain mencapai target tertentu yang padahal diri kita sendiri pun jauh dari hal tersebut.<br><br>Mengetahui teorinya yang begitu sulit tetapi ditenangkan lagi oleh paragraf-paragraf yang mengatakan bahwa kita bisa menjalani ini dengan berjalannya waktu asal dibekali 'cinta yang berpikir' tadi. Practice makes perfect, sebagaimana peran-peran lain yang semakin hari dijalani akan semakin mahir. Karena sejatinya anak tidak membutuhkan orangtua yang sempurna tetapi orang tua yang terus mau belajar.<br><br>Seperti kata Kak Bida mengutip Socrates yang mengatakan bahwa "Hidup yang tidak teruji tidak layak dijalani". Semangat untuk kita semua😊❤️<br><br>(RIDHA)</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-10 15:29:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ridhapradani/NarasiDiskusiCYB/wish/2378822966</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pertemuan 5 &amp; 6 (Pahami Hakikat Anak)</title>
         <author>ridhapradani</author>
         <link>https://padlet.com/ridhapradani/NarasiDiskusiCYB/wish/2378825231</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada Bab ini dibahas dua poin filosofi (dari total 20 poin) Charlotte Mason;<br>Yang pertama adalah <em>children are born persons</em>. Dimana CM menekankan bahwa setiap anak itu unik, tidak ada duplikatnya. Walaupun masih anak-anak memiliki jiwa sama seperti kita manusia dewasa, yang memiliki keinginan-keinginannya sendiri. Terkadang kita merasa lebih tahu karena merasa telah hidup lebih lama dari mereka.<br>Tidak hanya unik tapi anak juga istimewa. Mereka membawa potensi-potensi tersendiri di dalam diri mereka yang dalam perjalanannya kita hanya membantu mereka menyingkapkannya untuk muncul ke permukaan.<br><br>Poin kedua adalah <em>they are not born either good or bad, but with possibilities for good and for evil</em>. Anak terlahir dalam kemungkinan bisa menjadi baik dan bisa menjadi buruk, bagaimana lingkungan membentuknya. Maka dari itu kita sebagai lingkungan pertama dan terdekatnya diharapkan dapat memaparkan sebanyak-banyaknya potensi-potensi baik yang sesuai dengan nilai-nilai baik yang diyakini orangtua/keluarga.&nbsp;<br><br>Lalu kemudian diskusi berlanjut dimana terkadang nilai-nilai baik dan buruk juga menjadi relatif bagi tiap-tiap manusia. Sehingga terucap oleh Kak Bida kalimat "Kebenaran Tuhan absolut, kebenaran manusia relatif"😁&nbsp; Dalam selingan gangguan balita yang mulai mengganggu proses diskusi, aku sempet menangkap juga Ama bilang bahwa nilai-nilai kebenaran yang misalnya telah kita yakini pun harus dipertanyakan terus apakah benar-benar baik atau malah mungkin sejalan kondisi malah berbalik menjadi buruk. (Maaf kalau salah tangkep Am😁)&nbsp;<br><br>Menjadi manusia, dalam peran apapun baik sebagai orangtua, anak dan berbagai peran lainnya memang selalu berproses. Tidak ada posisi stagnan. Ibarat sedang naik eskalator harus naik terus menerus bila tidak ingin terseret turun. Belajar terus.&nbsp;<br><br>CM mengingatkan lagi dalam bab ini peran penting orangtua dalam membantu memaparkan kepada gagasan-gagasan baik sehingga pilihan-pilihan yang terbentang di hadapan anak-anak adalah jalan-jalan ke kehidupan yang mulia. Aamiin❤️&nbsp;<br><br>Bismillah...<br>(RIDHA)</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-10 15:30:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ridhapradani/NarasiDiskusiCYB/wish/2378825231</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pertemuan 7,8,9,10 (Sadari Batas Otoritas Orangtua) 
</title>
         <author>ridhapradani</author>
         <link>https://padlet.com/ridhapradani/NarasiDiskusiCYB/wish/2444220962</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada masa sekarang dimana informasi tentang kesehatan mental sudah begitu banyak tersedia sehingga setiap harinya pasti terpapar, menyebabkan saya menjadi terlalu takut untuk membuat kesalahan dalam kegiatan pengasuhan, terlalu takut menimbulkan luka batin terhadap anak. Sehingga setelah saya refleksi lagi sikap saya cenderung terlalu menyenangkan anak (children-centered). Tapi lalu ketika tidak bisa menahan emosi marah, bentakan dan cubitan menjadi tidak tertahankan. Bentakan dan cubitan ini bukan didasari oleh pikiran bahwa anak berhak mendapatkannya untuk kebaikan kelak (supaya tangguh/tahan banting menghadapi dunia yang keras) seperti mungkin banyak orangtua di zaman dahulu melakukan &amp; memaklumi itu (parent-centered). Apabila sudah terlanjur melakukan kesalahan tersebut lalu menjadi berlebihan menyalahkan diri sendiri. Dalam sebuah Instagram Live membahas Habit of Obidience, saya ingat Mbak Ellen Kristi mengatakan bahwa rasa bersalah yang terlalu berlebihan dan takut menimbulkan luka batin tersebut bisa menghambat dalam proses penegakan otoritas.&nbsp;<br><br>Menurut CM sebetulnya anak menyadari otoritas orangtua secara natural, yang membuat anak tidak patuh pada orangtuanya adalah karena orangtua itu sendiri yang tidak percaya diri bahwa mereka memilikinya. Otoritas orangtua memiliki batasan syarat dan masa berlaku.<br><br>Mbak Ellen menyebut pendirian CM ini sebagai principle-centered parenting, relasi orangtua dan anak yang berpusat pada prinsip.<br>Jadi baik anak dan orangtua sama-sama menjalankan sebuah aturan yang bersumber dari sebuah hukum. Kuasanya bukan orangtua dan anak-anak tapi hukum tersebut, hukum alam, hukum kebenaran, hukum Tuhan. Seperti yang tertulis dalam bulir filosofi CM ke-3, mengatakan prinsip otoritas dan ketaatan berlaku bagi semua orang entah mereka menerimanya atau tidak.&nbsp;<br>Penerapan otoritas dan ketaatan pun harus dibatasi respek kepada anak menurut CM pada bulir filosofi ke-4. Orangtua dilarang keras berbuat seenaknya, mendasarkan aturan hanya karena dirasa memudahkan orangtua saja. Padahal seharusnya otoritas dibuat supaya memudahkan pihak yang berada dibawah otoritas yaitu anak-anak. Misalnya, otoritas orangtua dalam proses penegakan aturan-aturan membiasakan kebiasaan baik (kebiasaan belajar, kebiasaan makan sehat, kebiasaan tidur cukup/tidak terlalu malam, dll).<br><br>Otoritas orangtua memiliki masa berlaku, tidak selamanya. Ketika anak tersebut sudah dewasa (dimana parameter dewasa bisa saja menjadi berbeda-beda pada setiap orangtua, menurut saya pribadi adalah sekitar umur 25 ketika otak prefrontal korteks sudah hampir berkembang sempurna), sudah bisa memutuskan sendiri apa yang baik dan yang buruk bagi dirinya, maka saat itu orangtua sudah tidak memiliki otoritas lagi terhadap anak menurut saya. Lalu hubungan orangtua dan anak berganti seperti layaknya sahabat, yang hanya bisa sampai memberikan saran bukan lagi perintah.<br><br>(RIDHA)</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-01-14 07:10:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ridhapradani/NarasiDiskusiCYB/wish/2444220962</guid>
      </item>
      <item>
         <title>BAB IV (Rumuskan Filosofi Keluarga)</title>
         <author>ridhapradani</author>
         <link>https://padlet.com/ridhapradani/NarasiDiskusiCYB/wish/2625892831</link>
         <description><![CDATA[<div>Charlotte Mason mensyaratkan tiga pertanyaan penting untuk para orangtua yang ingin mengambil penuh tanggung jawab pendidikan anak-anaknya, yaitu;<br>&nbsp;1. Mengapa anak perlu belajar?<br>&nbsp;2. Apa yang perlu dipelajari?<br>&nbsp;3. Bagaimana sepatutnya mereka mempelajari itu?<br>&nbsp;Pertanyaan-pertanyaan yang menurut Mbak Ellen harus dijawab secara berurutan.&nbsp;<br><br>Pertanyaan awal "mengapa" ini nyatanya sangat sulit untuk dijawab. Dibutuhkan proses refleksi yang mendalam untuk menjawabnya dan bukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan sekali duduk. Butuh durasi waktu yang cukup panjang agar bisa menjawabnya secara jernih. Pencarian jawaban dari pertanyaan ini bisa dipermudah dengan mengetahui visi hidup kita di dunia yang berpegang pada pedoman hidup beragama, kitab suci (Al-Qur'an bagi saya). Dilanjutkan dengan merumuskan visi keluarga yang mesti dibicarakan dengan pasangan hidup. Menjadi tantangan tersendiri juga untuk merumuskan visi keluarga ini ternyata. Masing-masing saya dan suami kemudian memiliki&nbsp; pola kebiasaan yang dipengaruhi/dibawa dari pola asuh orangtua dan perjalanan hidup yang berbeda dari masing-masing kami, lalu terkadang memiliki tujuan-tujuan hidup yang seperti berbeda (padahal mungkin ke arah yang sama sebetulnya).&nbsp;<br><br>CM menyarankan memandang pendidikan sebagai "metode" bukan "sistem". Metode berisi visi tentang tujuan akhir yang diharapkan dari proses pendidikan dan prinsip-prinsip yang akan memandu kita sepanjang jalan menuju tujuan akhir itu. Metode itu luwes tidak kaku seperti sistem. Sedangkan sistem pendidikan adalah proses membakukan uraian tentang apa dan bagaimana suatu pendidikan dilaksanakan di lapangan. Pertanyaan apa dan bagaimana itu hanyalah kelanjutan dari persoalan mengapa. Sistem pendidikan hanya bisa efektif bagi orangtua yang paham tentang esensi pendidikan. Orangtua yang memahami esensi pendidikan akan memiliki arah tujuan yang akan bisa memanfaatkan berbagai kesempatan mendidik dari setiap aspek kehidupan anak-anaknya. Sepanjang waktu dalam kehidupan adalah proses pendidikan bersama, baik bagi anak-anak maupun orangtua yang sedang memdampinginya.&nbsp;<br><br>Mempertanyakan hal filosofis seperti tujuan hidup ini kemudian menjadi terasa asing ya bagi sebagian besar kita. Ilmu filsafat dipandang sebagai ilmu yang rumit, yang apabila ada seseorang mengambil sekolah lanjut ke keilmuan tersebut akan dipertanyakan "Terus nanti kerjanya jadi apa?"😁. Kemudian berefleksi pun menjadi suatu kegiatan yang terasa asing dilakukan karena terbiasa menganggap kegiatan refleksi hanya membuang-buang waktu, dimana waktu seringkali dikorelasikan dengan uang💸&nbsp;<br><br>Tegal, 17 Juni 2023.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-06-17 05:20:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ridhapradani/NarasiDiskusiCYB/wish/2625892831</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Narasi 1 Tahun Diskusi CYB</title>
         <author>ridhapradani</author>
         <link>https://padlet.com/ridhapradani/NarasiDiskusiCYB/wish/2743523206</link>
         <description><![CDATA[<div>Kalau bisa dibilang sekarang aku sedang jatuh cinta-jatuh cintanya dengan ide-ide Charlotte Mason ini. Terkagum-kagum juga dengan yang mengenalkannya, Mbak Ellen Kristi. Tapi lalu teringat pesan CM, "Tahu mengapa kita berbuat sesuatu dengan cara tertentu, bukan sekedar asal meniru, mengikut saja". Nah butuh refleksi yang mendalam dan berulang-ulang pula untuk benar-benar memahami kemudian yakin, dibutuhkan pula mempraktikannya langsung supaya mengerti betul konteksnya dalam keseharian.&nbsp;<br><br>CM mengingatkan bahwa tanggung jawab orangtua yang begitu besar. Kita sebagai perpanjangan tangan Tuhan dan dititipkan otoritasNya di dunia, diamanatkan untuk mendampingi anak dalam menyingkapkan potensi-potensi dirinya sebagai pribadi utuh sembari menyingkapkan potensi-potensi diri kita sendiri juga sebagai pribadi utuh. Sehingga dari yang tadinya tidak terlalu memikirkan tujuan pendidikan jadi "terpaksa" memikirkannya secara lebih serius. Tidak jarang kadang-kadang aku merasa kewalahan juga ya karena mematok pada panduan-panduan idealnya yang sangat tinggi itu.&nbsp;<br><br>Lalu merasa perlu berlatih selalu menyadari bahwa proses pendidikan itu adalah proses yang panjang, seumur hidup. Harapannya kemudian bisa sabar melakukan langkah-langkah kecilnya setiap hari sembari terus mengusahakan untuk rutin berefleksi tentang arah tujuan dan cara mencapai tujuan. Alih-alih merasa terbebani karena adanya pola pikir "tanggung jawab besar" semoga dengan memahami bahwa anak memiliki konteks juga sebagai "anugerah" maka harapannya akan membantu supaya merasa lebih ringan.&nbsp;<br><br>Membaca buku CYB dan mendiskusikannya setahun ini bersama teman-teman semua membuatku merasa tidak sendirian dalam perjalanan mengasuh diri dan mengasuh anak. Jadi doanya semoga diskusi ini bisa langgeng terus dan membawa kebaikan pada kita semuanya ya. Aamiin..❤️<br><br>Ridha<br>Tegal, 12 Oktober 2023.<br><br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 12:10:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ridhapradani/NarasiDiskusiCYB/wish/2743523206</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
