<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Peran dan Keteladanan Tokoh Ulama Islam di Indonesia by sorawillens</title>
      <link>https://padlet.com/sorawillens21/5hfq11jjb0r4it1b</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-05-05 11:41:59 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-05-07 11:19:19 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title></title>
         <author>sorawillens21</author>
         <link>https://padlet.com/sorawillens21/5hfq11jjb0r4it1b/wish/3437542695</link>
         <description><![CDATA[<p>1588	 &nbsp; &nbsp; &nbsp; —	&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; 1604</p><p><br>Asal mereka: Hamzah al fansuri berasal dari Barus, Sumatera utara. Pada masa Kerajaan Aceh Darussalam.</p><p><br/></p><p>Hasil tulisan: Syair Burung Unggas, Syair Dagang, Syair Perahu, Syair si Burung Pipit, Syair si Burung Pungguk, Syair Sidang Fakir, ada juga dalam bentuk prosa; antara lain Kitab Asrar al-Arifin, Sharab al-Asyikin, Kitab Al-Muntahi/Zinar al-Muwahidin.</p><p><br/></p><p>Pemikiran: dari ringkasan ku, beliau melihatnya bahwa Tuhan = alam itu sama. Jadi, saat alam sedang bergerak (daun bergoyang karena angin), artinya Tuhan lagi Bergerak. Ia dikenal sebagai penganut aliran Wahdatul wujud. Ia menjadi tokoh yang menyebarkan ilmu Islam melalui saluran penyebaran agama islam yang disebut dengan Tasawuf  . Ia dipengaruhi oleh pemikiran dari bin Arabi tentang wahdatul wujud yang sedang populer saat itu di Persia dan India.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Perjuangan: menulis ide-ide panteisme (ajran yang menyamakan Tuhan kekuatan-kekuatan dan hukum-hukum alam semesta) dalam bahasa Melayu. Selain itu ia juga dianggap sebagai penyair pertama yang dikenal di dunia Melayu. Pandangannya ini pun disebarkan oleh seorang ahli teologi asal Aceh, Shamsuddin as-Sumatrani. Namun, pandangan Hamzah Fansuri dianggap sesat oleh Nuruddin ar-Raniri. </p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3788166899/7a198f3a83c68ba84c8bd6a89466fdac/download.jpg" />
         <pubDate>2025-05-06 07:05:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sorawillens21/5hfq11jjb0r4it1b/wish/3437542695</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>sorawillens21</author>
         <link>https://padlet.com/sorawillens21/5hfq11jjb0r4it1b/wish/3437552190</link>
         <description><![CDATA[<p>Abad ke-16 	 — 	1658</p><p><br/></p><p>Asal mereka: Disebut ar-Raniri karena beliau dilahirkan di daerah Ranir (Rander) yang terletak dekat Gujarat (India). Diperkirakan bahwa kedatangan ar-Raniri di Aceh tidak mendapat sambutan dari Sultan Iskandar Muda (1636).</p><p><br></p><p>Hasil tulisan: Ia menulis dalam bidang Tauhid, tasawuf, fikih, hadis, usul fikih praktis dan menulis sejarah Aceh. Di antara karya-karya beliau adalah as-sirat al-mustaqim, bustan as-Salatin fi Zikri al-Awwalin wa al-akhirin, Asrar al-insan fi Ma’rifati al- Ruh wa al-Akhirin, Aqa’id al-Sulfiyyat al-Muwahhidin, Lata’if al-Asrar, Jawahir, al-Ulum fi Kasyf al-Ma’lum dan karya-karya lainnya.</p><p><br></p><p>Pemikiran: Tokoh ini adalah tokoh tasawuf yang terkenal dan sebagai perintis anti paham wujudiyyah di Aceh pada masa pemerintahan Iskandar Tsani. Otaknya sangat cerdas dan berhasil menjatuhkan dan melenyapkan paham Wujudiyyah. Menurut paham ar-Raniri, wujudiyyah adalah suatu paham yang menyesatkan. Dan bagi Raniri pandangan Hamzah Fansuri ini tidak sesuai dengan keyakinan Islam.</p><p><br></p><p>Perjuangan: Ia berusaha untuk menghapus karya dan nama Hamzah Fansuri. Semua karya tulis Fansuri lalu dibakar abis. Pada waktu itu, ia tidak bisa berkarya karena sultan sangat fanatik dengan ajaran wujudiyyah yang dianutnya. Hal ini membuat ar-Raniri tidak bisa berbuat apa-apa dan tergerak untuk melanjutkan perjalanannya ke Pahang dan tinggal beberapa tahun. Lalu pada masa itu pemerintahan Sultan Ahmad Iskandar Tsani (putra dari Sultan Ahmad) yang tidak lain merupakan menantu dari Sultan Iskandar Muda sendiri menggantikan tahta Iskandar Muda.</p><p><br></p><p>Sejak itu, ar-Raniri kembali ke Aceh dan menetap disana (1637-1644) untuk perlindungan dari Sultan. Di masa inilah Nuruddin ar-Raniri bisa berkiprah di Aceh karena selain dipercaya oleh Sultan, ia mendapat fasilitas seperti tempat tinggal di istana dan ia dinobatkan sebagai mufti (Syeikh al-Islam) selama hidup di Aceh 7 tahun, ia jadi penulis produktif yang menentang doktrin wujudiyyah yang dianut oleh Hamzah fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani.</p><p><br></p><p>Ia telah berguru dengan Sayyid Umar Abu Hafsah Abdullah Basyaiban yang di India lebih dikenal dengan Sayyid Abdul Rahman Tajuddin. Ia ditunjuk oleh Basyaiban sebagai khalifah dalam tarekat Rifai’yah pada dirinya ia pun diutus untuk menyebarkannya di wilayah Melayu-Indonesia.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3788166899/349963aa900c2a954dfda82d4398643d/nuruddin_alraniri.jpg" />
         <pubDate>2025-05-06 07:13:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sorawillens21/5hfq11jjb0r4it1b/wish/3437552190</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>sorawillens21</author>
         <link>https://padlet.com/sorawillens21/5hfq11jjb0r4it1b/wish/3437554050</link>
         <description><![CDATA[<p>1620&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; —&nbsp; &nbsp; 	1693</p><p><br/></p><p>Asal mereka: Ia dilahirkan di Singkil Aceh, juga dikenal dengan gelar Teungku Syekh Kuala. Menurut sebagian keterangan, keluarganya berasal dari Persia atau Arabia.</p><p><br></p><p>Hasil tulisan: karyanya adalah Mir’at at-Thulab, Tarjumanul Mustajid, Terjemah hadis Arba’in karya Imam Nawawi, Mawa’iz al-badi, Tanbih al-Masyi, Kifayatul Muhtajin.</p><p><br></p><p>Pemikiran: Berdasarkan dari tafsirnya, <em>Tarjumanul Mustafid </em>disusun menggunakan metode tahlili, yakni dengan menjelaskan kandungan ayat secara berurutan sesuai dengan ayatnya. Syekh Abdurrauf menjelaskan terlebih dahulu nama surah, jumlah ayat, tempat turun, asbabun nuzulnya, hingga penjelasan tentang bacaan imam Qiraat, baru kemudian kandungannya. Syekh Abdurrauf tidak terpaku pada satu corak tertentu seperti fikih atau tasawuf, tetapi berupaya menggunakan corak yang umum yang disesuaikan dengan kandungan ayatnya. Uraian dalam tafsir ini dibuat menggunakan penjelasan yang singkat dan padat, dibuat secara berturutan sehingga memberikan kemudahan tersendiri.</p><p><br></p><p>Perjuangan: Pendidikan agamanya pertama kali didapat dari ayahnya sendiri, kemudian melanjutkan pendidikan di Barus yang dipimpin oleh Syekh Hamzah Fansuri. Ilmu yang dipelajari adalah ilmu agama, sejarah, mantik, filsafat, sastra, dan bahasa Parsi. Perjalanan keilmuannya dilanjutkan di wilayah Timur Tengah seperti Mesir, dan Makkah. Di Makkah, Syekh Abdurrauf bermukim selama kurang lebih 19 tahun untuk mendalami ilmu agama. Di antara guru-gurunya, dari memahami banyak disiplin keilmuan seperti tasawuf, fikih, hadis, hingga tafsir. Beliau juga sangat lekat dengan Tarekat Syatariyah. Terkait dengan tarekat ini, Sykeh Abdurrauf adalah orang pertama yang memperkenalkannya di Indonesia, mulai dari Aceh sendiri, Sumatera pada umumnya hingga ke wilayah Cirebon, Jawa Barat.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3788166899/610ac8f7de07fd1c93f4a33cbbc92fda/syekh_abdurrauf.jpg" />
         <pubDate>2025-05-06 07:14:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sorawillens21/5hfq11jjb0r4it1b/wish/3437554050</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>sorawillens21</author>
         <link>https://padlet.com/sorawillens21/5hfq11jjb0r4it1b/wish/3439796213</link>
         <description><![CDATA[<p>1626	&nbsp; &nbsp; &nbsp; — 		1699</p><p><br/></p><p>Asal mereka: Melekat dengan namanya karena ia lahir di Makassar.</p><p><br></p><p>Hasil tulisan: Zubdat Al-Asrār: Inti dari Rahasia</p><p><br></p><p>Pemikiran: Syaikh Yusuf al-Makassari memiliki pemikiran yang mendalam dalam bidang tasawuf dan tauhid,pemurnian kepada kepercayaan kepada keesaan Tuhan dengan menekankan pada pemurnian keimanan dan pemahaman tentang keesaan Allah (transendensi-Nya)</p><p><br></p><p>Perjuangan: perjuangan ia menjadi seorang ulama besar, wali, dan pejuang menentang kolonialisme di Indonesia. Gelar syaikh dan tajul khalwatiy menunjukkan bahwa ia adalah seorang mursyid tarekat yang mencapai derajat sufi atau wali. Ia juga termasuk kerabat dekat Raja Gowa dan disapa dalam bahasa Makassar dengan Tuanta Salamaka. Ia diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Ceylon (Sri Lanka) pada tahun 1684, lalu pindah ke Cape Town pada tahun 1694. Beliau sangat harum dan dihormati di Cape Town, penghormatan itu diberikan oleh kaum muslimin dan orang Afrika selatan. Mereka berterima kasih karena Syaikh Yusuf dan beberapa ulama lainnya berjasa membawa Islam ke wilayah itu dan bertahan serta berkembang terus hingga sekarang. Mazhab Syafi’i juga dipertahankan oleh warga disana.&nbsp;</p><p><br></p><p>Syaikh Yusuf menjadi ulama besar setelah belajar agama Islam di Raniri/Gujarat (India), Yaman, Haramain (Makkah dan Madinah), dan Damaskus (Syam/Syria) sekitar 21 tahun. Ia pernah menemui Syaikh Nuruddin ar-Raniri, di tempat beliau datangi, beliau mendalami agama Islam dan menerima ijazah tarekat dari beberapa mursyid yaitu tarekat Qadiriyyah, Khalwatiyyah, Naqsyabandiyyah, Ba’Alawiyyah, dan Syatthariyyah. Sejalan dengan hal itu, umat Islam di Cape Town mengamalkan beberapa teks dzikir yang mengakui beliau sebagai penganjur agama Islam dan guru spiritual.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3788166899/0e6410b5707a561fbb038301684f3942/download__1_.jpg" />
         <pubDate>2025-05-07 11:15:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sorawillens21/5hfq11jjb0r4it1b/wish/3439796213</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>sorawillens21</author>
         <link>https://padlet.com/sorawillens21/5hfq11jjb0r4it1b/wish/3439798130</link>
         <description><![CDATA[<p>1704 	 &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; —	&nbsp; &nbsp; 1785&nbsp;</p><p><br>Asal mereka: beliau adalah ulama yang berasal dari Yaman.</p><p><br></p><p>Hasil tulisan: Kitab Lubab Ihya Ulumid-Din, Bidayah al-Hidayah, Zahraul Murid fi Bayani Kalimatit Tauhid, al-Urwatul Wusqa wa Silsilatu Waliyil Atqa, Ratib Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani, Nasihatul Muslimina wa Tazkrratul Mu’minina fi Fadailil Jihadi wa Karamatil Mujtahidima fi Sabilillah.</p><p><br></p><p>Pemikiran: Beliau mendalami ilmu tasawuf dan sering mengkritik kalangan yang mempraktikkan tarekat secara berlebihan. Ia selalu mengingatkan akan bahaya kesesatan yang diakibatkan oleh aliran-aliran tarekat tersebut, tarekat Wujudiyah Mulhid. Maka, untuk mencegahnya, Syekh Abdus Samad menulis intisari dua kitab Lubab Ihya Ulumid-Din dan Bidayah al-Hidayah, berkaitan dengan ajaran tasawufnya, ia mengambil jalan tengah antara doktrin tasawuf Imam al-Ghazali dan ajaran Wahdatul Wujud Ibnu Arabi; bahwa manusia sempurna (insan kamil) adalah manusia yang memandang hakikat Yang Maha Esa itu dalam fenomena alam yang serba aneka dengan tingkat makrifat tertinggi sehingga mampu melihat Allah SWT. sebagai penguasa mutlak.</p><p><br></p><p>Perjuangan: Syekh Abdus Samad dilantik menjadi Mufti Negeri Kedah pada awal abad ke-18. Di Patani, ia menghafal matan ilmu-ilmu bahasa Arab. Dalam bidang syariat Islam, ia mempelajari fikih mazhab Imam Syafi’i. Hal ini mengangkat dirinya menjadi salah seorang ulama Nusantara yang disegani dan dihormati di kalangan ulama Arab juga Nusantara. Pengruh Syekh Abdus Samad cukup besar, khusunya berkaitan dengan ajaran tasawuf. Dengan ada cerita ia menorah menaiki kapak belanda sehingg aterpaksa menebang kayu di hutan untuk membuat kayu dan berangkatlah ke Mekah dengan beberapa orang muridnya saking benci nya dengan Belanda. Saat ia menetap di Makkah, hubungan antara beliau dengan saudara dan ulama di Indonesia tidak pernah terputus.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3788166899/466e550ca626b90a89f6b227e8493a8b/Syekh_abdu_Samad.jpg" />
         <pubDate>2025-05-07 11:17:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sorawillens21/5hfq11jjb0r4it1b/wish/3439798130</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>sorawillens21</author>
         <link>https://padlet.com/sorawillens21/5hfq11jjb0r4it1b/wish/3439798537</link>
         <description><![CDATA[<p>1813	&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; —	&nbsp; &nbsp; 	1897</p><p><br></p><p>Asal mereka: lahir Tanara, Tirtayasa, Serang, Banten. Nama al-Batani digunakan sebagai nisbat untuk membedakan dengan sebutan Imam Nawawi, seorang ulama besar dan produktif dari Nawa Damaskus.</p><p><br></p><p>Hasil tulisan: <em>yang terkenal </em>Tafsir al-Munir, Nasaihul Ibad, Fathul Samad al-Alim, al-Tausyikh, Kasyifatus Saja, al-Futuhat al-Madaniyyah, Tanqihul Qaul, Nihayatul Zain, Targibul Mustaqim, Hidayatul Azkiya, Madarijul Su’ud, Bugyatul Awam, Fathul Majid.</p><p><br></p><p>Pemikiran: Syekh Nawawi berperan penting di kalangan ulama al-Jawwi, mendorong studi Islam dan melahirkan ulama pesantren terkemuka. Ia menekankan pentingnya kemerdekaan dari kolonialisme agar ajaran Islam dapat diterapkan dengan bebas di Indonesia. Melalui pendidikan, ia menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan anti-imperialisme secara halus. Pengaruhnya terhadap komunitas al-Jawwi di Mekkah menarik perhatian Belanda, hingga mereka mengirim Snouck Hurgronje pada 1884–1885 untuk menyelidiki aktivitas ulama Indonesia di sana.</p><p><br></p><p>Perjuangan: Syekh Nawawi mulai belajar ilmu agama Islam sejak berusia lima tahun, langsung dari ayahnya. Beliau mempelajari pengetahuan dasar bahasa Arab, fikih, tahud, Al-Qur’an, dan tafsir. Pada usia 8 tahun, ia berguru kepada K. H. Sahal, salah satu ulama terkenal di Banten saat itu, kemudian melanjutkan kegiatan menimba ilmu ke Raden H. Yusuf di purwakarta. Beliau berangkat pergi ke Arab Saudi, dengan tugas samping untuk melaksanakan ibadah haji, keberangkatan yang penting bagi ia untuk menimba ilmu. Dia belajar kepada ulama al-Jawi lainnya.</p><p><br></p><p>Selama mengajar, ia dikenal sebagai seorang guru yang berkomunikatif, simpatik, mudah dipahami penjelasannya. Dia mengajar ilmu fikih, ilmu kalam, tasawuf, tafsir, hadis, dan bahasa Arab. Ia di juluki sebagai Sayyid Ulama al-Hijaz karena telah mencapai posisi intelektual terkemuka di Timur Tengah, dan juga menjadi salah sat ulama paling penting yang berperan dalam proses transmisi Islam ke Nusantara.</p><p><br></p><p>Nama beliau tidak hanya terkenal di daerah Arab Saudi, teta[i juga di Syria, Mesir, Turki, dan Hindustan. Penguasaan yang mendalam terhadap ilmu agama dan banyaknya kitab karyanya yang sampai sekarang masih menjadi rujukan di mayoritas pesantren di Indonesia, nama Sykeh Nawawi dijuluki sebagai Bapak Kitab Kuning Indonesia.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3788166899/38c29aff1352a80193bd9c842efbb425/Syekh_Nawawi.jpg" />
         <pubDate>2025-05-07 11:17:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sorawillens21/5hfq11jjb0r4it1b/wish/3439798537</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>sorawillens21</author>
         <link>https://padlet.com/sorawillens21/5hfq11jjb0r4it1b/wish/3439798889</link>
         <description><![CDATA[<p>1820 &nbsp; &nbsp; 	—	 &nbsp; 1903</p><p><br></p><p>Asal mereka: Kampung Darat, Semarang</p><p><br></p><p>Hasil tulisan: Faid ar-Rahman fi tarjamati Tasfsir Kalam al-Malik al-Dayyan. al-Jalalain, al-Kabir, Lubab al-Ta’wil</p><p><br></p><p>Pemikiran: Kyai Sholeh Darat memandang Islam sebagai agama yang harus dipahami secara rasional, membumi, dan dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat. Melalui karya-karyanya dalam bahasa Jawa aksara Pegon, seperti <em>Faid al-Rahman</em>, ia menekankan pentingnya pengajaran agama yang tidak hanya berbasis hafalan, tetapi juga pemahaman makna. Bagi beliau, memahami ajaran Islam secara mendalam adalah dasar bagi pembentukan akhlak, keadilan sosial, dan pembebasan dari kebodohan spiritual. Akhirnya melakukan istikharah hingga akhirnya beliau mendapatkan isyarat untuk menyebarkan juz awal untuk kepentingan khalayak umum.</p><p><br></p><p>Perjuangan: Dalam konteks kolonialisme, Kyai Sholeh Darat memilih jalur non-kekerasan dengan memperkuat kesadaran umat melalui pendidikan. Ia meyakini bahwa kebodohan adalah akar dari penindasan, sehingga dakwahnya diarahkan untuk mencerdaskan rakyat dan menumbuhkan keberanian moral. Melalui murid-muridnya seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan, serta pengaruhnya terhadap R.A. Kartini, pemikirannya melampaui zamannya dan menjadikan namanya abadi sebagai pelopor Islam progresif dan pembebas di Nusantara.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3788166899/e60472383ac830389e1cacea4ab27bbc/kyai_Muhammad.jpg" />
         <pubDate>2025-05-07 11:18:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sorawillens21/5hfq11jjb0r4it1b/wish/3439798889</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
