<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>hello maret :) by taaarosita</title>
      <link>https://padlet.com/semuarosita/5h9dtx8np8qr</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2018-04-03 05:32:51 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-11-15 19:34:54 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Judul buku 	: Yang Muda Yang Belajar  “ Genggam Dunia Dengan Akhlak Mulia” Penulis		: Rifan Mahulauw Penerbit 	: Tinta Medina	Baca covernya, langsung pengen beli.. hahhah karena ngerasa masih muda ya… :p , key gak apalah ya usia uda gak muda tapi kan semangat harus tetap muda. Buku ini lumayan bacanya lama padalah tipis, hanya 298 halaman karena bukunya tipis tapi isinya dalem, bahasanya ringan tapi  banyak quotes nya jadi sayanya inget inget dulu… 	Yuk ah mulai , yang muda yang katanya masa dimana semuanya serba enak dan mudah , ternyata memang benar adanya tapi syarat dan ketentuannya berlaku !. Dunia berharap kepada para pemuda-pemuda yang tangguh jelas yang berakjlak baik jelas tapi ternyata lebih dari itu. Ternyata kita semua bisa menjadi dokter, bukan dokter yang memang profesinya sebagai dokter mengobati orang sakit tapi sebagai khalifah dibumi ini kita dituntut dan wajib menyebarkan kebaikan, mengajak pada kebaikan dan yang baik baik lainnya. Di tengah fenomena jaman now, terkadang muda mudi tak selalu bisa diandalkan, dalam buku diceritakan bagaimana muda mudi malah menjadi cabe-cabean atau terong-terongan, miris. Bahkan dalam buku diceritakan bahwa hasil penelitian BNN pemakai narkoba dikalangan pemuda semakin banyak, syedih. 	Pemuda yang inysaallah usianya masih panjang, ini mah segimana takdir ya. Tapi pemuda bisa menggapai impian lebih banyak dari segi usia dan ketahanan tubuh, tapi ternyata tidak itu saja pemuda diharapkan dapat : menghargai waktu, disiplin, sadar, konsisten, tanggung jawab, jangan sok, berani, percaya diri  jangan cepat puas, dan lainnya. Namun dari buku ini saya paling senang pada bahasan Kejar Tuhan bukan hanya Masa depan “Yakin akan kematian. Harus lebih yakin tentang kehadiran Tuhan dan masa depan yang cerah diperoleh dengan menggantungkan segala sesuatu hanya di atas keimanan”. 	Ternyata kunci dari menjadi pemuda idaman adalah menjadi cerdas juga beriman. Melaksanakan hal-hal di cintai Allah dan menjauhi segala yang dibenci Allah. Ingin menjadi pemuda idaman ternyata tidak sulit, di dalam buku ini penulis mengajak pemuda untuk : melakukan shalat Dhuha karena Dhuha for stronger self tahajud, saat hadir dua pilihan istikharahlah !  , jangan maksiat, fasting to increase your faith, Rawatib is your road, tawakal is the first and the last one, lakukan yang wajib, do’a adalah kunci. 	Tidak ada kata terlambat untuk berubah, tidak ada yang tidak mungkin menurut Allah, selalu </title>
         <author>semuarosita</author>
         <link>https://padlet.com/semuarosita/5h9dtx8np8qr/wish/247992266</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-04-03 05:35:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/semuarosita/5h9dtx8np8qr/wish/247992266</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>yuniabanipratiwi</author>
         <link>https://padlet.com/semuarosita/5h9dtx8np8qr/wish/248008818</link>
         <description><![CDATA[<div>Judul Buku       : Cara Terbaik Mendidik Anak Sendiri Adalah Dengan Mendidik Anak Orang Lain</div><div>Penulis             : Heru Kurniawan</div><div>Tahun Terbit   : 2017</div><div>Penerbit          : PT Elex Media Komputindo</div><div> </div><div>Hai Readers, sebenarnya saya agak kesulitan untuk meresensi buku ini. Karena buku ini terdiri dari 48 bab yang setiap babnya itu menceritakan tentang pengalaman penulis yang tidak saling berkelanjutan. Tapi walaupun begitu, setiap bab tersebut bisa diambil hikmahnya kok. </div><div>Seperti yang sudah saya katakan di awal bahwa buku tersebut menceritakan tentang pengalaman penulis yang sudah empat tahun mendirikan Rumah Kreatif Wadas Kelir. Saya rasa Rumah ini adalah tempat bermain sekaligus belajar yang didirikan oleh penulis. Saya sebut saja “Relawan” ya. Penulis menceritakan kehebatan anak-anak yang dibimbingnya. Di rumah tersebut, anak anak belajar dan bermain mengembangkan kreativitas seperti menulis, menari, musik, teater, bahasa, matematika, dan masih banyak lagi. Anak-anak yang tergabung dalam RKWk (Rumah Kreatif Wadas Kelir) terdiri dari anak-anak pedesaan yang kini jumlahnya mencapai empat puluh anak, mulai dari yang belum sekolah sampai yang sudah sekolah menengah. Adapun relawan yang sering mengisi kegiatan di RKWK selain dari penulis yaitu mahasiswa. Karena penulis merupakan seorang dosen. </div><div>Rutinitas bermain dan belajar sangat menyenangkan bagi anak-anak disana. Mereka bahkan lebih nyaman dan betah berlama-lama di RKWK. Lebih betah dibandingkan di rumah dan di sekolah. Bagaimana tidak, konsep belajar tanpa kelas yang menjunjung tinggi kreativitas tanpa batas membuat anak-anak senang (tidak jenuh) serta cara mendidik dan mengajar sang relawan yang menyenangkan pun membuat anak-anak seakan belajar hal hal baru yang luar biasa bagi mereka. </div><div>Berikut adalah beberapa hikmah yang bisa dipetik dalam buku ini.</div><div>1.      Arti kebanggaan bagi anak itu sederhana, dan peran orang tua diperlukan untuk membuat anak-anak bangga dengan dirinya sendiri.</div><div>2.      Gembira dan bahagia bagi anak anak itu sangat sederhana, dan itu sungguh indah.</div><div>3.      Anak adalah guru istimewa yang hatinya seperti baja. Kuat menahan penderitaan yang begitu perih. Yang jika orang dewasa mengalami seperti yang dialami anak-anak, bisa jadi orang dewasa itu tidak akan kuat dan mampu untuk bertahan.</div><div>4.      Bagaimana caranya anak-anak berani? Sebab, nyatanya sebagian besar anak anak malu saat:</div><div>a.      disuruh maju memperkenalkan diri tidak mau,</div><div>b.      menjawab pertanyaan tidak mau,</div><div>c.       bertanya tak ada yang mau.</div><div>Memberikan reward berupa pujian dan hadiah menjadi salah satu cara agar bisa menumbuhkan rasa keberanian pada anak.</div><div>5.      Agar kita bisa masuk ke dunia anak, maka kita harus bisa berinteraksi dengan mereka serta bermain bersama mereka.</div><div>6.      Selalu ada pengetahuan yang tentunya bisa dibagi bersama anak ketika melakukan berbagai kegiatan. Pengetahuan tersebut haruslah membuat anak-anak menjadi lebih baik lagi.</div><div>7.      Anak anak semakin menyatu dengan RKWK ketika pintu rumahnya selalu dibuka untuk mereka.</div><div>8.      Ciri khas anak-anak yang luar biasa adalah ketika kita sudah menyatu dengan dunianya, maka kita akan diposisikan sebagai orang istimewa (teman).</div><div>9.      Memberikan ruang dan melibatkan anak-anak dalam komunikasi sehari-hari merupakan arti penting menghargai sikap-sikap anak.</div><div>10.  Manfaatkan perkenalan anak untuk membangun mimpi mereka (jadi orang hebat untuk membangun bangsa ini jadi lebih bermartabat.</div><div>11.  Bermain adalah salah satu bentuk kreativitas yang tidak perlu dilarang karena mungkin disaat itulah anak-anak sedang belajar.</div><div>12.  Sangat efektif jika kita menciptakan kompetisi kehebatan dan kebaikan kepada anak-anak.</div><div>13.  Selalu jadi idola. Inilah cara paling ampuh untuk masuk memberi ilmu dan kreatifitas anak.</div><div>14.  Berbuat baik pada anak adalah rahasia untuk menjadikan anak-anak mau berbagi (berbuat baik).</div><div>15.  Begitu hebatnya bahasa sentuhan yang didukung dengan kata-kata indah dalam menaklukkan hati anak-anak.</div><div>16.  Kita harus memahami bahwa anak juga punya hati, yang jika sobek hati itu perihnya bisa terasa sampai dewasa.</div><div>17.  Yang diinginkan oleh anak dari kita adalah bisa menjadi sahabat.</div><div>18.  Mengembangkan permainan bagi anak itu perlu karena  mungkin saja permainan yang menyenangkan tersebut dapat memberikan pengalaman yang luar biasa bagi anak.</div><div>19.  Jika ingin anak-anak kita punya kecerdasan dan krativitas yang bagus, maka yuk kita mengajar anak-anak orang lain demi anak kita sendiri.</div><div>20.  Kreativitas anak harus bisa dikembangkan tanpa batas.</div><div>21.  Anak-anak adalah individu yang penuh penasaran. Ia, sosok istimewa yang bisa memahami kerja keras dan kesungguhan orang terdekatnya dan bisa juga menjadi guru bagi kita. </div><div>22.  Pengalaman yang menakjubkan bukan dari hal-hal yang aneh, mahal, dan luar biasa. Pengalaman menakjubkan adalah pengalaman yang belum pernah dialami anak. Pengalaman yang membuatnya belajar. Sehingga anak mendapatkan ilmu dan pengalaman dari observasinya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-04-03 07:21:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/semuarosita/5h9dtx8np8qr/wish/248008818</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>yuniabanipratiwi</author>
         <link>https://padlet.com/semuarosita/5h9dtx8np8qr/wish/248009020</link>
         <description><![CDATA[<div>Judul Buku      : Totto-chan (Gadis Cilik di Jendela)</div><div>Penulis             : Tetsuko Kuroyanagi</div><div>Ilustrasi           : Chihiro Iwasaki</div><div>Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama</div><div>Alih Bahasa     : Widya Kirana.</div><div>Buku ini menceritakan Totto-chan yang menjalani masa kecilnya sekitar tahun 1940an. Ia dianggap nakal oleh sebagian guru dan akhirnya di keluarkan dari sekolah. Totto-chan sering melakukan hal-hal aneh di kelas. Ia tak henti-hentinya membuka dan menutup meja belajar. Suatu hari, ia hanya berdiri di depan jendela sambil menanti sekumpulan pemusik jalanan dan memanggilnya untuk mengadakan pertunjukan hingga kelas pun menjadi gaduh. Para guru dibuatnya kesal dan akhirnya mereka menyerahkan kembali Totto-chan kepada orang tuanya. Sampai akhirnya ia dipindahkan ke sekolah baru oleh mamanya. Ia didaftarkan bersekolah di Tomoe Gakuen. Disana ia bertemu dengan Sosaku Kobayashi, kepala sekolah Tomoe Gakuen. Sekolah ini sangat berbeda. Disini, murid boleh belajar mulai dari apa saja yang mereka suka. Ada yang memulai hari dengan belajar fisika, ada yang menggambar dahulu, ada yang ingin belajar bahasa dahulu. Totto-chan tidak hanya belajar fisika, berhitung, musik, bahasa dan lain-lain di sana. Ia juga mendapatkan pelajaran berharga tentang persahabatan, rasa hormat dan menghargai orang lain, serta kebebasan menjadi diri sendiri. Mereka di beri satu bangku tetap, tetapi boleh duduk dimana saja dan kapan saja. Kelas mereka pun tidak berada di bangunan sekolah seperti pada umumnya, para murid menempati gerbong kereta sebagai kelas mereka. Gerbong itu model lama. Ia bisa belajar sambil menikmati pemandangan di luar gerbong seolah-olah ia sedang melakukan perjalanan dengan kereta.</div><div>Oh ya nama Totto-chan yang sebenarnya adalah Tetsuko. Sebelum ia lahir, semua teman mama papanya yakin bahwa bayi yang akan lahir itu berjenis kelamin laki- laki. Mereka pun memutuskan menamai bayi mereka Toru. Ketika ternyata yang lahir bayi perempuan, mereka agak  kecewa. Tapi mereka menyukai huruf Cina untuk toru (yang berarti menembus, mengalun hingga jauh, jernih, dan menggema seperti suara) maka mereka menggunakan huruf itu untuk nama anak perempuan dengan memakai ucapan versi Cina tetsuko dan menambahkan akhiran ko yang biasa digunakan untuk nama anak perempuan. Jadi, semua orang memanggilnya Tetsuko-chan. Tapi bagi gadis cilik itu, nama itu tidak terdengar seperti Tetsuko-chan. Jadi, setiap kali seseorang bertanya siapa namanya, ia akan menjawab, Totto-chan. Ia bahkan mengira chan adalah bagian dari namanya. Papanya kadang memanggil Totsky. Semua orang memanggilnya Totto-chan, dan meskipun ia menuliskan Tetsuko sebagai namanya di buku tulisnya di sekolah, gadis cilik iitu selalu mengganggap dirinya Totto-chan.</div><div>Hari demi hari dilewati Totto-chan dengan kegembiraan dan peristiwa yang tak terduga. Ada kegembiraan, ada pula duka yang ia rasakan semasa kecil. Kesedihan Totto-chan bermula ketika ia kehilangan salah satu sahabatnya (Yasuaki-chan) yang meninggal kala itu. Totto-chan teringat saat ia pertama kali berkenalan dengan Yasuaki-chan yang terkena polio. Totto-chan sayang pada Yasuaki-chan. Mereka sering makan siang bersama, menghabiskan sarapan bersama, berjalan bersama ke stasiun sepulang sekolah. Kesedihan Totto-chan selanjutnya yaitu ketika Rocky, anjing kesayangannya hilang. ia begitu sangat sedih karena Rocky meninggalkannya tak lama setelah sahabatnya (Yasuaki-chan) meninggal. </div><div>Totto-chan dan juga anak lainnya tidak menyadari bahwa Perang Pasifik sudah pecah . Sampai kemudian , perang dan segala kengeriannya telah mulai terasa di kehidupan Totto – chan dan keluarganya . Setiap hari, para pria dan pemuda di sekitar tempat Totto-chan dikirim pergi untuk berperang. Hingga akhirnya, Sekolah Tomoe terbakar! Semuanya terjadi pada malam hari. Banyak bom yang dijatuhkan pesawat pesawat Amerika menimpa gerbong-gerbong kelas. Sekolah Tomoe musnah dimakan api pada serangan bom di Tokyo tahun 1945. Api berkobar menghancurkan semuanya . Totto-chan tak pernah tahu bagaimana perasaan kepala sekolah saat melihatnya , tapi yang ia tahu hatinya merasa sesak saat tahu keinginannya untuk menjadi guru di Tomoe telah hancur.</div><div>Mr. Kobayashi meninggal tahun 1963. Dia meninggal pada usia 69 tahun sebelum sempat mendirikan kembali sekolah yang dicita-citakannya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-04-03 07:22:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/semuarosita/5h9dtx8np8qr/wish/248009020</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tarbiyah vs Ta&#39;dib</title>
         <author>dprayuni</author>
         <link>https://padlet.com/semuarosita/5h9dtx8np8qr/wish/248015403</link>
         <description><![CDATA[<div>Judul : Catatan Kuliah Home Schooling dan Pendidikan Islam<br>Pengarang : Much Ridho<br>Penerbit : KM Publishing<br>Tahun terbit : 2017<br>Ketebalan : 102hlm<br><br>Pendidikan (education) berasal dari kata educare yang dapat diartikan tumbuh kembang, menjaga, peduli, meningkatkan dan membesarkan. Akan tetapi dalam perkembangannya terdapat penyempitan makna dimana pendidikan diartikan hanya sebagai sekolah. Sekolah awalnya merupakan kegiatan mengisi waktu luang untuk mempelajari sesuatu akan tetapi berubah menjadi aktivitas utama. Hal ini dianggap merampas pengasuhan oleh orangtua. Tugas orangtua dianggap selesai ketika anak memasuki usia sekolah. Lama kelamaan muncul fenomena orang tua lupa dan kehilangan rasa percaya diri untuk mengurus anak sendiri sehingga menyerahkan pada lembaga lain. Menjadi ortu adalah sesuatu yang harus diperjuangkan, dipelajari, dan dilatih kembali.<br><br>Islam sendiri memiliki dua konsep dalam pendidikan yang dikenal dengan tarbiyah dan ta'dib. Keduanya beriringan dan saling melengkapi satu sama lain sehingga tidak menghilangkan pengasuhan orangtua dan pencapaian terhadap ilmu pengetahun. Tarbiyah dilakukan oleh orangtua, dimana tidak ada aspek pengetahuan/ilmu yang didatangkan dari luar, tidak ada paksaan sehingga dibiarkan tumbuh serta berkembang. Tarbiyah mengedepankan metode inside-out. Saat ini konsep tarbiyah lebih dikenal dengan istilah "parenting". Adapun ta'dib dilakukan oleh ahli ilmu, dimana ada pemberian wewenang pada pelaku untuk menyampaikan apa saja yang harus diterima objeknya. Dalam ta'dib tidak peduli urusan penerima ilmu, murid harus menyesuaikan guru. Jika murid tidak mampu atau belum sanggup ikuti proses pendidikan maka tidak diizinkan untuk belajar atau pantas dikeluarkan. Ta'dib bersifat outside-in. Berdasarkan hal tersebut maka ta'dib diibaratkan seperti sekolah dimana menyiapkan siswanya menjadi seorang ahli ilmu. <br><br>Ahli ilmu berkewajiban untuk mengajarkan ilmunya. Timbul pertanyaan bagaimana jika orangtua sekaligus sebagai ahli ilmu, maka orangtua yang berilmu memiliki kewajiban melaksanakan tarbiyah dan ta'dib. Disinilah akhirnya diperkenalkan konsep home education atau ada yang menyebutkan sebagai home schooling (HS). HS tidak dimaksudkan untuk menyaingi sekolah tapi beranggapan bahwa kewajiban utama anak adalah belajar dan konsentrasi HS adalah bagaimana agar anak senang belajar. Belajar itu maknanya bukan masuk kedalam lembaga tertentu tapi menuntut ilmu dan mencari guru.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-04-03 07:50:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/semuarosita/5h9dtx8np8qr/wish/248015403</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tarbiyah vs Ta&#39;dib</title>
         <author>dprayuni</author>
         <link>https://padlet.com/semuarosita/5h9dtx8np8qr/wish/248015768</link>
         <description><![CDATA[<div>Judul : Catatan Kuliah Home Schooling dan Pendidikan Islam<br>Pengarang : Much Ridho<br>Penerbit : KM Publishing<br>Tahun terbit : 2017<br>Ketebalan : 102hlm<br><br>Pendidikan (education) berasal dari kata educare yang dapat diartikan tumbuh kembang, menjaga, peduli, meningkatkan dan membesarkan. Akan tetapi dalam perkembangannya terdapat penyempitan makna dimana pendidikan diartikan hanya sebagai sekolah. Sekolah awalnya merupakan kegiatan mengisi waktu luang untuk mempelajari sesuatu akan tetapi berubah menjadi aktivitas utama. Hal ini dianggap merampas pengasuhan oleh orangtua. Tugas orangtua dianggap selesai ketika anak memasuki usia sekolah. Lama kelamaan muncul fenomena orang tua lupa dan kehilangan rasa percaya diri untuk mengurus anak sendiri sehingga menyerahkan pada lembaga lain. Menjadi ortu adalah sesuatu yang harus diperjuangkan, dipelajari, dan dilatih kembali.<br><br>Islam sendiri memiliki dua konsep dalam pendidikan yang dikenal dengan tarbiyah dan ta'dib. Keduanya beriringan dan saling melengkapi satu sama lain sehingga tidak menghilangkan pengasuhan orangtua dan pencapaian terhadap ilmu pengetahun. Tarbiyah dilakukan oleh orangtua, dimana tidak ada aspek pengetahuan/ilmu yang didatangkan dari luar, tidak ada paksaan sehingga dibiarkan tumbuh serta berkembang. Tarbiyah mengedepankan metode inside-out. Saat ini konsep tarbiyah lebih dikenal dengan istilah "parenting". Adapun ta'dib dilakukan oleh ahli ilmu, dimana ada pemberian wewenang pada pelaku untuk menyampaikan apa saja yang harus diterima objeknya. Dalam ta'dib tidak peduli urusan penerima ilmu, murid harus menyesuaikan guru. Jika murid tidak mampu atau belum sanggup ikuti proses pendidikan maka tidak diizinkan untuk belajar atau pantas dikeluarkan. Ta'dib bersifat outside-in. Berdasarkan hal tersebut maka ta'dib diibaratkan seperti sekolah dimana menyiapkan siswanya menjadi seorang ahli ilmu. <br><br>Ahli ilmu berkewajiban untuk mengajarkan ilmunya. Timbul pertanyaan bagaimana jika orangtua sekaligus sebagai ahli ilmu, maka orangtua yang berilmu memiliki kewajiban melaksanakan tarbiyah dan ta'dib. Disinilah akhirnya diperkenalkan konsep home education atau ada yang menyebutkan sebagai home schooling (HS). HS tidak dimaksudkan untuk menyaingi sekolah tapi beranggapan bahwa kewajiban utama anak adalah belajar dan konsentrasi HS adalah bagaimana agar anak senang belajar. Belajar itu maknanya bukan masuk kedalam lembaga tertentu tapi menuntut ilmu dan mencari guru.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-04-03 07:52:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/semuarosita/5h9dtx8np8qr/wish/248015768</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>iniumighazy</author>
         <link>https://padlet.com/semuarosita/5h9dtx8np8qr/wish/248019298</link>
         <description><![CDATA[<div>&nbsp;</div><div><strong>RESENSI BUKU KE-5</strong>&nbsp;</div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div><strong>Mendidik Anak Secara Islami</strong>&nbsp;</div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div><strong>Judul Buku: Tarbiyatul Aulad Fil Islam</strong>&nbsp;</div><div><strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; (Pendidikan Anak dalam Islam)</strong>&nbsp;</div><div><strong>Penulis&nbsp; &nbsp; &nbsp; : DR. Abdullah Nashih ‘Ulwan</strong>&nbsp;</div><div><strong>Penerjemah: Arif Rahman Hakim, Lc.&nbsp;</strong></div><div><strong>Penerbit &nbsp; : Insan Kamil</strong>&nbsp;</div><div><strong>Tempat Terbit: Surakarta, Solo.</strong>&nbsp;</div><div><strong>Tahun Terbit: Juni 2012</strong>&nbsp;</div><div><strong>Jumlah Halaman: 906 halaman</strong>&nbsp;</div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div>Buku ini merupakan buku panduan tentang cara mendidik anak dalam Islam. Bagi seorang muslim atau muslimah, buku ini sangat penting untuk dipahami isinya karena berkaitan dengan pembentukan generasi muslim yang berkualitas di masa kini dan masa mendatang. Buku ini dilengkapi dengan dalil-dalil yang berlandaskan Alquran dan Sunnah serta pendapat para ulama dan fuqaha.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Penulis buku ini adalah salah seorang ulama, faqih, da’I, dan pendidik yang dilahirkan di Halab Suriah 1347H/ 1928M, di sebuah keluarga yang taat beragama. Nasabnya sampai kepada Al Husain bin Abi Thalib.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Usai mendapatkan ijazah sekolah menengah atas syariah pada tahun 1949 M ia lalu meneruskan studinya di universitas Al-Azhar Asy-syarif dan menyelesaikan S1-nya di Fakultas Ushuluddin pada tahun 1952 M. Kemudian pada tahun 1954 M, ia menyelesaikan S2-nya lalu kembali ke Halab dan bekerja sebagai pengajar materi pendidikan Islam di SMA. Lalu ia pergi ke Yordania, kemudian ke Arab Saudi dan bekerja sebagai pengajar di universitas Al-Malik ‘Abdul Aziz. Di sanalah ia menyelesaikan S3-nya dan mendapatkan gelar doktor dalam bidang fikih dan dakwah. Ia bekerja di sana hingga meninggal dunia pada hari Sabtu, 5 Muharram 1398H/ 29 Agustus 1987 M. Karya-karya penulis lebih kurang ada 46 karya termasuk buku yang sangat luar biasa ini.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Buku ini dibagi menjadi tiga bagian,yakni:&nbsp;</div><div>Bagian pertama terdiri dari empat pasal. Pasal pertama, pernikahan yang ideal dan kaitannya dengan pendidikan. Pasal kedua, Perasaan psikologis terhadap anak.&nbsp; Pasal ketiga, Hukum-hukum yang berkaitan dengan kelahiran. Pasal keempat, Sebab-sebab terjadinya kenakalan pada anak dan penanggulangannya.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Bagian Kedua Tanggung Jawab Para Pendidik yang terdiri dari tujuh pasal. Pasal pertama, Tanggung Jawab Pendidikan Iman. Pasal Kedua, Tanggung Jawab Pendidikan Moral. Pasal ketiga, Tanggung Jawab Pendidikan Fisik. Pasal Keempat, Tanggung Jawab Pendidikan Akal. Pasal Kelima, Tanggung Jawab Pendidikan Kejiwaan. Pasal Keenam, Tanggung Jawab pendidikan Sosial. Pasal Ketujuh, Tanggung Jawab pendidikan Seksual.&nbsp;</div><div>Bagian ketiga terdiri atas tiga pasal. Pasal pertama, Metode dan Sarana Pendidikan yang Berpengaruh pada Anak. Pasal Kedua, Kaidah-kaidah Asasi dalam Pendidikan Anak. Pasal ketiga, Saran Pendidikan yang Penting.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>Bagian Pertama</strong>&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Pada Bagian awal, penulis menjelaskan keterkaitan antara pernikahan ideal dan pendidikan anak. Pernikahan ideal dalam Islam adalah pernikahan berlandaskan pada iman atau ketauhidan. Yang menjadi prioritas seorang muslim atau seorang muslimah dalam memilih pasangan hidupnya seyogyanya adalah agama atau keshalihannya. Hal ini sangat penting karena pada hakikatnya pernikahan adalah pondasi yang akan membentuk keluarga, melahirkan generasi-generasi penerus yang akan menjadi pembangun peradaban di masyarakat.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Pernikahan merupakan fitrah manusia yang menjaga kemaslahatan sosial seperti melindungi kelangsungan hidup manusia, menjaga nasab, melindungi masyarakat dari kerusakan moral, melindungi masyarakat dari berbagai penyakit, menentramkan jiwa dan rohani, menjalin kerjasama antara suami istri dalam membangun keluarga, menumbuhkan naluri kebapakan dan keibuan.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Pernikahan yang ideal harus berdasarkan pilihan, yakni yang pertama hendaknya berdasarkan agama, berdasarkan keturunan dan kemuliaan, memilih orang yang jauh dari hubungan kekerabatan supaya terhindar dari penyakit, hendaknya mengutamakan yang masih gadis dan memilih wanita yang subur karena Rasullullah akan bangga dengan jumlah umatnya yang banyak.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Sudah menjadi fitrah bahwa setiap orang tua yang dianugerahi anak memiliki rasa cinta dan sayang kepada anaknya. Rasa sayang akan mendorong orang tua untuk melindungi, memberi perhatian, dan memenuhi hak-hak anaknya secara lahir dan batin. Seorang muslim tidak diperbolehkan membenci anak perempuan seperti orang-orang zaman jahiliyah yang tidak menghendaki anak perempuan hingga mereka mengubur bayi perempuan. Naudzubillah. Itu adalah perbuatan terkutuk.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Seorang muslim harus menerima segala ketetapan Allah dengan rasa syukur dan sabar. Dalam menghadapi kematian anak pun orang tua harus sabar karena anak tersebut akan memberi syafaat kepada kedua orang tuanya di hari kiamat. Bagaimana pun besarnya perasaan cinta orang tua terhadap anaknya, tetaplah harus senantiasa mengutamakan kepentingan Islam termasuk berjihad di jalan-Nya.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Dalam mendidik anak (usia kanak-kanak dan pubertas) terdapat tahapan-tahapan, yakni: mengingatkan atau memberikan nasihat, mengancam, memboikot,&nbsp; sampai tindakan memukul yang tidak melukai. Namun, seorang pendidik hendaknya jangan sampai mengutamakan cara yang keras ketika cara yang ringan masih bisa ditempuh.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Seorang Pendidik hendaknya memberikan ucapan selamat dan rasa turut bergembira ketika seseorang melahirkan, Mengumandangkan adzan dan iqamah ketika anak terlahir, mentahnik anak dengan kurma, mencukur rambut anak, memberi nama anak dengan nama yang baik. Disunnahkan untuk melaksanakan aqiqah di hari ketujuh atau di hari lainnya. Anak laki-laki di aqiqahi dua kambing dan anak perempuan diaqiqahi satu kambing. Kemudian, diwajibkan khitan ketika anak (Laki-laki) mendekati masa balig. Hikmah dari khitan, pangkal kefitrahan syiar Islam dan syariat, membedakan muslim dan umat lainnya, bukti pengakuan peribadatan kepada Allah, dan menyehatkan.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Kenakalan pada anak bisa disebabkan hal-hal berikut,&nbsp;</div><ol><li>Kemiskinan yang mendera keluarga</li><li>Perselisihan dan percekcokan antara ayah dan ibu</li><li>Perceraian yang disertai kemiskinan</li><li>Kesenggangan yang menyita masa kanak-kanak dan remaja</li><li>Lingkungan dan teman yang buruk</li><li>Perlakuan yang buruk dari orang tua</li><li>Tayangan film Kriminal dan Pornografi</li><li>Merebaknya pengangguran di masyarakat</li><li>Keteledoran orang tua akan pendidikan anak</li><li>Anak yatim&nbsp;</li></ol><div>&nbsp;</div><div><em>“Alangkah baiknya para orang tua dan pendidik untuk berjalan di jalan Islam dan manhajnya yang lurus dalam mendidik anak. Sehingga mereka bisa menyaksikan anak-anak tersebut bagaikan malaikat dalam hal kesucian rohnya, kejernihan jiwanya, kebersihan hatinya, dan ketaatan kepada perintah Rabbnya.</em>”&nbsp;</div><div>Hal 100&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>Bagian Kedua</strong>&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Salah satu tanggung jawab pendidikan paling besar yang mendapat perhatian Islam adalah tanggung jawab para pendidik terhadap siapa saja yang menjadi tanggung jawabnya untuk mengajari, mengarahkan, dan mendidik. Sebetulnya ini adalah tanggung jawab yang besar, berat, dan urgen. Sebab tanggung jawab ini dimulai sejak kelahiran hingga anak tumbuh sampai pada tahap usia pra pubertas dan pubertas hingga menjadi seorang mukallaf (terbebani kewajiban).&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Hendaknya para pendidik mengetahui batasan-batasan tanggung jawab mereka, tahapan-tahapan yang dilaluinya, dan sisi-sisinya yang beragam. Agar mereka bisa menegakkan tanggung jawab mereka dengan sesempurna mungkin dan semulia mungkin. Adapun tanggung jawab yang paling utama adalah tanggung jawab pendidikan iman, moral, fisik, akal, kejiwaan, sosial, dan seks.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>Tanggung Jawab Pendidikan Iman</strong>&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Maksud dari tanggung jawab pendidikan Iman adalah mengikat anak dengan dasar-dasar keimanan, rukun Islam, dan dasar-dasar syariat semenjak anak sudah mengerti dan memahami. Pendidikan Iman ini berlandaskan pada wasiat Rasulullah Saw. dan petunjuknya.&nbsp;</div><div>1)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Membuka kehidupan anak dengan kalimat Tauhid La Ilaha Illallah&nbsp;</div><div>2)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Mengajarkannya masalah halal dan haram setelah ia berakal&nbsp;</div><div>3)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Memerintahkannya untuk beribadah saat umurnya tujuh tahun&nbsp;</div><div>4)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Mendidiknya untuk mencintai Nabi, keluarganya, dan cinta membaca Alquran.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Batasan-batasan tanggung jawab dalam menumbuhkembangkan anak di atas keimanan dan prinsip dasar Islam.&nbsp;</div><div>1)&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Membina mereka untuk selalu beriman kepada Allah dengan jalan ta’ammul (merenungi) dan tafkir (memikirkan penciptaan langit dan bumi) yang diberikan saat mereka memasuki usia tamyiz (bisa membedakan mana yang baik dan buruk)&nbsp;</div><div>2)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Menanamkan ruh kekhusyukan, takwa, dan ibadah kepada Allah Rabb semesta Alam dengan cara membuka penglihatan mereka terhadap kekuasaan Allah yang penuh keajaiban.&nbsp;</div><div>3)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Mendidik dalam diri mereka ruh muraqabatullah (merasa diawasi Allah) dengan cara melatih seorang anak agar merasa dirinya diawasi Allah. Ajarkanlah keikhlasan kepada Allah dalam setiap perkataan, perbuatan, dan semua perilakunya.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>Tanggung Jawab Pendidikan Moral</strong>&nbsp;</div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div>Keluhuran akhlak, tingkah laku, dan watak adalah buah keimanan yang tertanam dalam&nbsp; menumbuhkan agama yang benar.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Para pendidik bertanggung jawab terhadap pembentukkan moral anak-anak semenjak mereka kecil, seperti kejujuran, amanah, istiqamah, itsar, menolong orang yang kesusahan, menghormati orang tua, memuliakan tamu, berbuat baik kepada tetangga, dan saling mencintai terhadap sesama.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Mereka juga bertanggung jawab untuk menyucikan lisan-lisan mereka dan celaan, percekcokan, kata-kata keji dan kotor, serta segala yang menimbulkan kerusakan moral dan keburukan pendidikan.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Para pendidik harus memberikan perhatian dan pengawasan yang serius terhadap tingkah laku anak. Ada empat hal perbuatan yang harus dihindarkan dari anak-anak, yaitu: gemar berbohong, gemar mencuri, gemar mencaci, kenakalan dan penyimpangan.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Rasulullah telah menjelaskan bagi para orang tua, wali, dan para pendidik akan metode ilmiah, dan dasar-dasar yang benar dalam pendidikan anak.&nbsp;</div><div>1)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Menghindarkan anak dari perilaku ikut-ikutan (taklid buta)&nbsp;</div><div>2)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Mencegahnya agar tidak tenggelam dalam kesenangan&nbsp;</div><div>3)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Melarangnya mendengar musik dan nyanyian 🤬&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Beberapa penyebab kerusakan moral dan penyimpangan perilaku pada anak, diantaranya: Orang tua membiarkan&nbsp; anaknya bergaul dengan teman yang tidak baik; menonton film-film yang mengandung pornografi dan kekerasan; memperkenankan anak membeli majalah-majalah atau gambar-gambar yang mempertontonkan aurat; meremehkan perintah mengenakan hijab bagi keluarga dan memberi keleluasaan untuk bepergian dan bersolek; tidak mengawasi anak dengan baik.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>Tanggung Jawab Pendidikan Fisik</strong>&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Islam telah menggariskan beberapa metode dalam mendidik fisik anak-anak supaya para pendidik mengetahui besarnya tanggung jawab dan amanah yang telah Allah bebankan. Beberapa tanggung jawab tersebut adalah:&nbsp;</div><div>1)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Kewajiban memberikan nafkah kepada keluarga dan anak&nbsp;</div><div>2)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Mengikuti aturan-aturan kesehatan dalam makan dan minum&nbsp;</div><div>3)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Membentengi diri dari penyakit menular&nbsp;</div><div>4)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Mengobati penyakit&nbsp;</div><div>5)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Menerapkan prinsip tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain.&nbsp;</div><div>6)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Membiasakan anak gemar berolahraga dan menaiki tunggangan&nbsp;</div><div>7)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Membiasakan anak untuk zuhud dan tidak larut dalam kenikmatan&nbsp;</div><div>8)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Menanamkan karakter bersungguh-sungguh dan perwira kepada anak.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Fenomena membahayakan yang meliputi kehidupan anak-anak yang wajib diwaspadai.&nbsp;</div><div>1)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Fenomena Rokok&nbsp;</div><div>2)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Fenomena onani&nbsp;</div><div>3)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Fenomena minuman keras dan narkoba&nbsp;</div><div>4)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Fenomena perzinaan dan homoseksual&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>Tanggung Jawab Pendidikan Akal</strong>&nbsp;</div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div>Pendidikan rasio (akal) yaitu membentuk pola pikir anak terhadap segala sesuatu yang bermanfaat baik berupa ilmu syar’I, kebudayaan,&nbsp; ilmu modern, kesadaran, pemikiran, dan peradaban. Sehingga anak menjadi matang dalam pemikiran dan terbentuk secara ilmu dan kebudayaan.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Pendidikan keimanan adalah fondasi, pendidikan fisik adalah persiapan dan pembentukan, pendidikan akhlak adalah penanaman dan pembiasaan. Adapun pendidikan rasio adalah penyadaran, pembudayaan, dan pengajaran. Semuanya saling berkaitan melengkapi di dalam usaha membentuk pribadi anak yang sempurna agar menjadi manusia yang lurus dalam melaksanakan kewajiban, menyampaikan risalah, dan menegakkan tanggung jawabnya.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Tiga permasalahan dalam pendidikan rasio yang harus ditempuh para pendidik.&nbsp;</div><div><strong>1)</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Kewajiban mengajar</strong>&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Tanggung jawab ini sangat penting dan besar dalam Islam. Para pendidik termasuk orang tua diberi amanah untuk mengajarkan dan mendidik anak-anak mereka; menumbuhkan kesadaran mempelajari berbagai macam kebudayaan dan ilmu; memfokuskan kemampuan berpikir untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam, pengetahuan yang murni, dan pertimbangan yang matang. Dengan ini semua kecerdasannya akan tampak, akalnya akan semakin matang, dan kecerdikannya akan muncul.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Seorang muslim baik laki-laki maupun perempuan diwajibkan menuntut ilmu dan mengajarkannya. Sebab, Ilmu adalah cahaya yang memajukan peradaban manusia. Hendaknya para pendidik memulai memberikan pengajaran membaca Alquran sejak awal masa kanak-kanak karena pada masa itu anak-anak memiliki pemikiran yang jernih, daya dan ingatan yang kuat, dan semangat yang tinggi.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>2)</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Kesadaran pemikiran</strong>&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Menumbuhkan kesadaran berpikir adalah hubungan seorang anak dengan Islam sebagai agama dan Negara; hubungannya dengan alquran sebagai undang-undang dan syariat; hubungannya dengan sejarah Islam yang gemilang sebagai kemuliaan dan ketinggian; wawasan keislaman sebagai ruh dan pemikiran.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Seorang pendidik harus menuntun anaknya agar mengetahui hakikat agama Islam serta dasar, syariat, dan hukum apa saja yang terkandung di dalamnya. Para pendidik harus benar-benar menyerahkan anak-anak mereka kepada para pembimbing yang berilmu dan ikhlas yang bisa mengajarkan agama islam sebagai sistem yang bersifat universal dan komprehensif. Para pendidik harus meluruskan pemikiran mereka manakala terasuki pemikiran yang sesat dan menyesatkan.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>3)</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Kesehatan akal</strong>&nbsp;</div><div>Batasan-batasan tanggung jawab orang tua dalam menjaga kesehatan akal anak-anak adalah menjauhkan mereka dari kerusakan-kerusakan yang terjadi di masyarakat. Hal-hal tersebut memiliki dampak buruk terhadap akal dan daya ingat, serta jasmani manusia secara umum. Kerusakan tersebut adalah mengonsumsi minuman keras, kebiasaan onani, merokok, dan rangsangan-rangsangan seksual.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>Tanggung Jawab Pendidikan Kejiwaan</strong>&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Pendidikan kejiwaan adalah mendidik anak semenjak usia dini agar berani dan terus terang, tidak takut, mandiri, suka menolong orang lain, mengendalikan emosi, dan menghiasi diri dengan segala bentuk kemuliaan diri baik secara kejiwaan dan akhlak secara mutlak. Sasaran pendidikan ini adalah membentuk anak, menyempurnakan, serta menyeimbangkan kepribadiannya sehingga saat ia memasuki usia taklif, ia telah mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya dengan baik dan penuh makna. &nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Faktor-faktor yang menghancurkan eksistensi kepribadian anak (gangguan psikologis)&nbsp;</div><div>1)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Minder, solusinya adalah membiasakan anak bergaul dengan orang lain&nbsp;</div><div>2)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Takut, solusinya tumbuhkanlah keimanan, beribadah, dan berserah diri kepada Allah.; berikanlah kebebasan bertindak, dan membiasakannya memikul tanggung jawab; tidak menakut-nakuti anak dengan hantu, setan dsb; memberikan kesempatan kepada anak untuk bergaul dengan orang lain, mengajarkan seni berperang Rasulullah saw, sikap kepahlawanan, akhlak-akhlak terpuji tokoh-tokoh besar.&nbsp;</div><div>3)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Perasaan memiliki kekurangan, solusinya mengokohkan keyakinan terhadap takdir Allah; bertahap dalam mendidik anak; membiasakan hidup sederhana, percaya diri, menanggung beban, dan berani; Meneladani Rasulullah Saw.&nbsp;</div><div>4)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Hasad (Iri hati), solusinya, mencurahkan cinta kasih kepada anak; mewujudkan keadilan di antara sesama anak; menghilangkan faktor-faktor yang menyebabkan hasad.&nbsp;</div><div>5)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Marah, solusinya membiasakan anak untuk bisa mengatasi rasa marahnya dengan mengubah posisi tubuhnya, mengambil air wudhu, diam, dan meminta pertolongan kepada Allah dari godaan setan.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>Tanggung jawab Pendidikan Sosial</strong>&nbsp;</div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div>Pendidikan sosial adalah mengajari anak semenjak kecilnya agar berpegang pada etika sosial yang utama dan dasar-dasar kejiwaan yang mulia bersumber dari akidah islam yang abadi dan perasaan keimanan yang tulus. Tujuannya adalah agar seorang anak tampil di masyarakat sebagai generasi yang mampu berinteraksi sosial dengan baik, beradab, seimbang, berakal yang matang, dan berperilaku yang bijaksana.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>1)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Penanaman dasar-dasar kejiwaan yang mulia&nbsp;</div><div>Untuk menanamkan prinsip dasar kejiwaan ini di dalam individu dan masyarakat Islam, nabi Saw. memberikan arahan dan wasiat yang lurus. Prinsip yang harus ditanamkan, yaitu&nbsp;</div><div>a)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Takwa&nbsp;</div><div>&nbsp;Takwa adalah sebuah perasaan dalam sanubari, kelembutan dalam perasaan, rasa takut yang terus menerus, kewaspadaan yang tiada henti, dan menghindari hambatan di tengah jalan. Takwa mampu menghindarkan diri dari kerusakan, kejahatan, dan dosa-dosa.&nbsp;</div><div>b)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Persaudaraan&nbsp;</div><div>Persaudaraan adalah ikatan hati yang melahirkan perasaan yang mendalam akan kelemahlembutan, kecintaan, dan penghormatan kepada siapa saja yang terikat kepadanya karena akidah Islam, keimanan, dan ketakwaan. Rasa persaudaraan akan membentuk sikap positif, seperti saling menolong, itsar, berkasih sayang, dan memaafkan.&nbsp;</div><div>c)&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Kasih Sayang&nbsp;</div><div>Kasih sayang adalah perasaan halus dalam hati, kelembutan dalam sanubari, dan kepekaan perasaan yang bisa menumbuhkan perasaan simpati kepada orang lain dan lemah lembut kepada mereka. Kasih sayang dapat menjauhkan diri dari tindakan menyakiti orang lain, kejahatan, dan sumber kebajikan.&nbsp;</div><div>d)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Itsar&nbsp;</div><div>Itsar adalah perasaan jiwa yang terwujud dalam bentuk mengutamakan orang lain daripada diri sendiri dalam kebaikan dan kepentingan pribadi yang bermanfaat. Itsar adalah perangai yang baik selama bertujuan mencari keridhaan Allah.&nbsp;</div><div>e)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Memaafkan orang lain&nbsp;</div><div>f)&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Keberanian&nbsp;</div><div>2)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Menjaga hak orang lain, yaitu hak orang tua, hak kerabat, hak tetangga, hak guru, hak teman, hak orang yang lebih tua, kewajiban melaksanakan etika bermasyarakat, pengawasan dan kritik sosial.&nbsp;</div><div><strong>Tanggung Jawab Pendidikan Seks</strong>&nbsp;</div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div>Pendidikan seks adalah memberikan pengajaran, pengertian, dan keterangan yang jelas kepada anak ketika ia sudah memahami hal-hal yang berkaitan dengan seks dan pernikahan. Sehingga ketika anak memasuki usia baligh dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan hidupnya, ia tahu mana halal haram, dan sudah terbiasa dengan akhlak Islam. Sikapnya baik, tidak mengumbar nafsunya dan tidak bersikap permisif.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Fase dalam pendidikan seks yang harus diperhatikan orang tua&nbsp;</div><div>1)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Usia 7-10 tahun, dinamakan juga dengan kanak-kanak usia akhir, anak-anak diajarkan etika meminta izin untuk masuk ke kamar orang tua dan orang lain, serta etika melihat lawan jenis.&nbsp;</div><div>2)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Usia 10-14 tahun, dinamakan juga usia remaja. Anak dijauhkan dari segala yang mengarah kepada seks.&nbsp;</div><div>3)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Usia setelah balig yang dinamakan dengan usia pemuda/pemudi. Anak diajarkan tentang cara-cara menjaga kehormatan dan menahan diri ketika ia belum mampu untuk menikah.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Langkah-langkah yang harus dilakukan pendidik untuk mengarahkan anak berkaitan dengan seks&nbsp;</div><ol><li>Etika meminta izin</li></ol><div>Keharusan meminta izin ada pada tiga waktu dan keadaan, yaitu : sebelum shalat fajar, tengah hari, dan setelah shalat isya. Pendidik harus menjadikan etika Alquran sebagai acuan dalam mengajarkan anak, saat ia sudah mulai memahami etika meminta izin masuk ke kamar orang tuanya.&nbsp;</div><ol><li>Etika Melihat mahram, etika melihat tunangan, etika melihat istri, dan etika melihat perempuan yang bukan mahram.</li><li>Menjauhkan anak dari hal-hal yang merangsang hasrat seksual</li><li>Mengajarkan anak hukum-hukum syar’I yang berhubungan dengan usia remaja dan dewasa</li><li>Pernikahan dan hubungan seks</li><li>&nbsp;Menjaga kesucian diri bagi yang belum mampu menikah</li><li>Bolehkah menjelaskan Seks secara terang-terangan kepada anak?</li></ol><div>Alquran meliputi juga sejumlah wawasan yang berkaitan dengan seks yang tidak apa-apa untuk diungkapkan dan dijelaskan ciri-cirinya. Wawasan ini harus dipahami oleh semua orang.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Hendaknya setiap orang tua selalu teringat firman Allah Swt. ini yang artinya:&nbsp;</div><div><em>“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.</em>” (QS. At-Tahrim, 66: 6)&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>Bagian Ketiga</strong>&nbsp;</div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div><strong>Pasal kesatu: Metode dan Sarana yang Berpengaruh Pada Anak</strong>&nbsp;</div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div>Seorang pendidik yang baik akan selalu mencari sarana dan metode pendidikan yang sangat berpengaruh dalam pembentukkan akidah dan akhlak anak, dalam pembentukkan pengetahuan, mental, dan sosialnya. Sehingga anak dapat mencapai ciri-ciri kesempurnaannya, lebih matang, serta lebih menonjol ciri kedewasaan dan kestabilan emosinya.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Sarana dan metode pendidikan yang sangat berpengaruh dalam pembentukkan akidah dan akhlak anak berpusat pada lima perkara, yaitu:&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>1)</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Mendidik dengan keteladanan</strong>&nbsp;</div><div>Keteladanan dalam pendidikan adalah cara yang paling efektif dan berhasil dalam mempersiapkan anak dari segi akhlak, membentuk mental, dan sosialnya. Hal itu dikarenakan pendidik adalah panutan atau idola dalam pandangan anak dan contoh yang baik di mata mereka. Anak akan mengikuti tingkah laku pendidiknya, meniru akhlaknya baik disadari atau tidak. Bahkan, semua perkataan dan perbuatan pendidik akan terpatri dalam diri anak dan menjadi bagian dari persepsinya. Rasulullah adalah teladan yang sempurna bagi umatnya.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>2)</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Mendidik dengan kebiasaan</strong>&nbsp;</div><div>Telah ditetapkan dalam syariat Islam bahwa anak semenjak lahir sudah diciptakan dalam keadaan bertauhid yang murni, agama yang lurus, dan iman kepada Allah. Dari sini tibalah saatnya pembiasaan, pendiktean, dan pendisiplinan mengambil perannya dalam pertumbuhan anak dan menguatkan tauhid yang murni, akhlak yang mulia, jiwa yang agung, dan etika syariat yang lurus.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Anak adalah amanah bagi orang tuanya. Hatinya yang suci adalah substansi yang berharga jika ia dibiasakan dengan kebaikan ia akan tumbuh dalam kebaikan dan bahagia di dunia dan akhirat. Adapun jika ia dibiasakan dengan kejelekan ia akan sengsara dan celaka. Oleh karena itu, menjaga anak adalah dengan mendidik, mendisiplinkan, dan mengajarkan akhlak-akhlak terpuji.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>3)</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Mendidik dengan nasihat</strong>&nbsp;</div><div>Nasihat memiliki pengaruh yang besar untuk membuat anak mengerti tentang hakikat sesuatu dan memberinya kesadaran tentang prinsip-prinsip Islam. Sehingga tidak heran kalau&nbsp; Alquran mengajak bicara kepada setiap jiwa serta mengulang-ngulangnya pada banyak ayat.&nbsp;</div><div>Cara Alquran dalam menyampaikan nasihat menggunakan beberapa gaya bahasa, yakni:&nbsp;</div><div>a)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Seruan persuasif yang disertai pengambilan hati dan pengingkaran.&nbsp;</div><div>Contoh dalam (QS. AlBaqarah (2): 132) melalui ungkapan nabi Ibrahim dan Yaqub&nbsp;</div><div><em>“Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.”</em>&nbsp;</div><div>b)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Gaya bahasa kisah yang disertai pelajaran dan nasihat&nbsp;</div><div>Contoh dalam QS. An 🤬’at(79): 15&nbsp;</div><div><em>“Sudah sampaikah kepadamu (Ya Muhammad) kisah Musa?”</em>&nbsp;</div><div>c)&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Pengarahan Alquran yang mengandung pesan dan nasihat&nbsp;</div><div>Contoh dalam (QS. Adz-Dzariyat (51): 20-21)&nbsp;</div><div><em>“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”</em>&nbsp;</div><div><em>&nbsp;</em></div><div>Metode yang digunakan Rasulullah Saw. dalam menyampaikan nasihat&nbsp;</div><div>a)&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Metode berkisah, misalnya kisah Si Lepra, si Botak, dan Si Buta, dan Kisah kayu yang ajaib&nbsp;</div><div>b)&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Metode dialog dan bertanya&nbsp;</div><div>c)&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Memulai penyampaian nasihat dengan sumpah atas nama Allah&nbsp;</div><div>d)&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Menyisipkan canda atau gurauan&nbsp;</div><div>e)&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Mengatur pemberian nasihat untuk menghindari rasa bosan&nbsp;</div><div>f)&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Membuat nasihat yang sedang disampaikan dapat menguasai pendengar&nbsp;</div><div>g)&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Menyampaikan nasihat dengan memberi contoh&nbsp;</div><div>h)&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Memberi nasihat dengan peragaan tangan&nbsp;</div><div>i)&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Melalui media gambar dan penjelasan&nbsp;</div><div>j)&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Dengan praktik&nbsp;</div><div>k)&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Dengan memanfaatkan momen atau kesempatan&nbsp;</div><div>l)&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Beralih kepada yang paling penting&nbsp;</div><div>m)&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Dengan menunjukkan perkara yang diharamkan&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>4)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Mendidik dengan perhatian/ pengawasan&nbsp;</div><div>Orang tua dan pendidik harus selalu memperhatikan dan mengawasi anak-anak mereka di semua aspek kehidupan (keimanan, ketakwaan, praktik ibadah, akal, akhlak, jasmani, mental/jiwa, dan sosial) dan pendidikannya.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>5)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Mendidik dengan hukuman&nbsp;</div><div>Hukum-hukum yang terdapat dalam syariat Islam mencakup prinsip-prinsip yang holistik yang mengandung perkara-perkara penting. Para ulama ijtihad dan ushl fikih merangkumnya ke dalam lima perkara, yaitu: menjaga agama, jiwa, kehormatan, akal, dan harta.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Hukuman bagi pelanggar syariat disebut dengan had dan ta’zir. Had adalah hukuman yang ditentukan kadarnya oleh syariat yang menjadi hak Allah dan kewajiban bagi hamba-Nya, diantaranya: had irtidad, had membunuh jiwa, had mencuri, had menuduh berzina, had zina, had bagi yang berbuat kerusakan di muka bumi,&nbsp; had minum minuman keras.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Adapun ta’zir yaitu hukuman yang tidak ditentukan ukurannya oleh syariat yang wajib dilakukan sebagai hak Allah atau manusia, dalam setiap maksiat yang tidak termasuk pelanggaran had dan tidak juga kifarat. Contohnya, seperti teguran atau pencegahan dan sebagai pendidikan yang mengandung maslahat untuk umat.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Hukuman merupakan solusi yang pasti dan tegas untuk mengatasi masalah bangsa dan umat serta menjaga keamanan dan kestabilan. Bangsa yang hidup tanpa adanya hukuman bagi orang yang melakukan kejahatan adalah bangsa yang hedonis dan menyimpang.Mereka hidup dalam kekacauan sosial yang tidak pernah berhenti, tenggelam dalam kriminalitas yang kontinu.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Ketika Allah menetapkan hukuman bagi para hamba-Nya, maka dialah yang paling mengetahui dengan apa&nbsp; yang ditetapkan-Nya itu. Seandainya menurut Allah hukuman itu tidak dapat mewujudkan keamanan dan kestabilan bagi individu dan masyarakat, pasti Allah tidak akan mensyariatkan hukuman had bagi mereka.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Cara yang diajarkan Islam dalam memberikan hukuman kepada anak&nbsp;</div><div>1)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Bersikap lemah lembut adalah hal yang pokok dalam memperlakukan anak&nbsp;</div><div>2)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Memperhatikan karakter anak yang melakukan kesalahan&nbsp;</div><div>3)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Memberi hukuman secara bertahap dari yang ringan sampai yang keras&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Pendidik haruslah menjadi seorang yang bijak dalam menggunakan hukuman yang sesuai dengan tingkat kecerdasan anak, pengetahuan, dan wataknya. Pendidik harus mencari penyebab yang mendorong anak melakukan kesalahan, memperhatikan usianya, pengetahuannya,&nbsp; serta lingkungannya. Semua itu dapat membantu pendidik untuk mendiagnosis penyakit lalu memberikan solusi yang sesuai dengan keadaan anak.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Cara Rasulullah dalam mengatasi penyimpangan anak&nbsp;</div><div>1)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Menunjukkan kesalahan dengan mengarahkannya&nbsp;</div><div>2)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Menunjukkan kesalahan dengan sikap lembut&nbsp;</div><div>3)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Menunjukkan kesalahan dengan isyarat&nbsp;</div><div>4)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Menunjukkan kesalahan dengan menegur&nbsp;</div><div>5)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Menunjukkan kesalahan dengan menjauhinya&nbsp;</div><div>6)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Menunjukkan kesalahan dengan hukuman yang menyadarkan&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>Pasal kedua: Kaidah-Kaidah Asasi dalam Pendidikan</strong>&nbsp;</div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div><strong>Sifat-sifat dasar yang harus dimiliki seorang pendidik</strong>&nbsp;</div><div>1)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Ikhlas&nbsp;</div><div>2)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Takwa&nbsp;</div><div>3)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Berilmu pengetahuan&nbsp;</div><div>4)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Santun/ pemaaf&nbsp;</div><div>5)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Menyadari tanggung jawab&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Setiap pendidik yang beriman, berakal, cerdas, dan bijaksana harusa bangkit untuk mengemban tanggung jawab dengan sebaik-baiknya. Ia harus menyadari bahwa murka Allah menantinya jika ia menyia-nyiakan tanggung jawab tersebut. Pada hari kiamat, tanggung jawab tersebut amatlah berat dan sulit saat dihisab.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Pendidik juga harus mengetahui dan mewaspadai bahwa terdapat rencana-rencana besar dan konspirasi yang dilakukan nonmuslim dalam upaya merusak dan menghancurkan individu, keluarga, dan masyarakat muslim. Mereka bertujuan merusak akidah&nbsp; dan akhlak umat Islam dengan prinsip anti agama yang sesat, minuman keras, seks, syahwat, dan taklid buta.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Mereka yang melakukan konspirasi berdasarkan keberadaan data yang faktual yaitu orang-orang komunis, kaum salibis, Yahudi dan Freemansory, dan kaum imperialis/kolonialis.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Pendidik harus lebih keras berusaha untuk melaksanakan kewajiban yang diberikan Islam dengan memberikan pendidikan yang sebaik-baiknya kepada anak, membimbing keluarga, dan mengarahkan semua orang yang menjadi tanggung jawab Anda.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>Kaidah-kaidah Asasi dalam pendidikan Anak</strong>&nbsp;</div><div>1)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Kaidah ikatan yang terdiri atas ikatan akidah, ikatan rohani (ibadah, Alquran, masjid, dzikrullah, dan olahraga)&nbsp;</div><div>2)&nbsp; &nbsp; &nbsp; Kaidah memberi peringatan&nbsp;</div><div>Seorang pendidik perlu memahami hal-hal berikut, pertama, peringatan yang kontinu bagi anak dapat menanamkan ke dalam hatinya kebencian kepada kejelekan dan kerusakan. Kedua, mengetahui hakikat penyimpangan, keyakinan antituhan/agama, dan sikap hedonisme&nbsp; dapat menambah semangat pendidik untuk serius menjalani tanggung jawabnya.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Peringatan-peringatan penting&nbsp;</div><div>(1)&nbsp; &nbsp; Peringatan dari kemurtadan&nbsp;</div><div>(2)&nbsp; &nbsp; Peringatan terhadap Atheisme&nbsp;</div><div>(3)&nbsp; &nbsp; Peringatan dari hiburan yang haram&nbsp;</div><div>(4)&nbsp; &nbsp; Peringatan dari taklid buta&nbsp;</div><div>(5)&nbsp; &nbsp; Peringatan dari kerusakan akhlak&nbsp;</div><div>(6)&nbsp; &nbsp; Peringatan dari yang haram&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>&nbsp;Pendidik haruslah menjaga keseimbangan antara kaidah ikatan dan kaidah peringatan, menyatukan antara sikap aktif dan pasif, dan selalu mengawasi anak di setiap gerak-geriknya. Sehingga ketika melihat adanya penyimpangan pada anak, ia bisa langsung mengembalikan ke jalur yang seharusnya.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>Pasal ketiga: Sarana Pendidikan</strong>&nbsp;</div><div>&nbsp;Beberapa saran pendidikan yang sangat diperlukan yang meliputi berbagai sarana pendidikan&nbsp;</div><div>1) Memotivasi anak untuk melakukan usaha atau pekerjaan yang mulia&nbsp;</div><div>2) Memperhatikan kesiapan anak secara fitrahnya&nbsp;</div><div>3) Memberikan anak kesempatan untuk bermain dan bersantai&nbsp;</div><div>4) Mengadakan kerja sama antara rumah, masjid, dan sekolah&nbsp;</div><div>5) Menguatkan hubungan antara pendidikan dan anak&nbsp;</div><div>6) Selalu menjalankan manhaj pendidikan&nbsp;</div><div>7) Menyiapkan sarana wawasan yang bermanfaat untuk anak&nbsp;</div><div>8) Memotivasi anak untuk selalu membaca dan menelaah&nbsp;</div><div>9) Anak selalu menyadari tanggung jawabnya terhadap Islam&nbsp;</div><div>10) Memperdalam semangat jihad anak dalam dirinya&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Berjanjilah kepada Allah untuk menjalankan manhaj Islam dalam mendidik anak. Bulatkanlah tekad untuk melaksanakan kewajiban menerapkan manhaj tersebut dengan setiap fasenya segala aspeknya dan semua bagiannya. Laksanakanlah tanggung jawab Anda dan lakukanlah kewajiban Anda agar terwujud di dalam tubuh masyarakat Islam keshalehan anak-anak dan keluarga dan terwujudnya para pejuang demi kemuliaan Islam.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><em>“Dan katakanlah, bekerjalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah (9): 105)”</em>&nbsp;</div><div><em>&nbsp;</em></div><div>Buku ini menjelaskan metode mendidik anak secara islami dengan sangat detail dan menyeluruh. Dilengkapi pula dengan dalil-dalil atau keterangan dari Alquran dan Al hadist berkaitan dengan pendidikan anak. Tambahan lagi, terdapat penjelasan atau keterangan dan pendapat dari salafushalih dan alim ulama. Penjelasannya sangat gamblang dan lugas. Namun, ada beberapa keterangan (dalil Alquran dan hadist) yang disampaikan berulang karena mungkin pembahasannya memang berkaitan. Buku ini sangat dianjurkan untuk dibaca para orang tua atau pendidik (guru) yang ingin mendidik anak-anaknya dengan manhaj Islam yang lurus.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Wassalam&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div>&nbsp;</div><div>&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-04-03 08:09:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/semuarosita/5h9dtx8np8qr/wish/248019298</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Judul Buku : Rentang Kisah </title>
         <author>semuarosita</author>
         <link>https://padlet.com/semuarosita/5h9dtx8np8qr/wish/248428009</link>
         <description><![CDATA[<div>Penulis : Gita Savitri Devi <br>Penerbit : Gagas Media <br><br>       Awalnya saya gak tau Gita ini siapa , seringnya dari Bu Maya aja rekan kerja di Alcent katanya dia pinter banget dan sekolah S1 nya di Jerman , akhirnya beli bukunya. aga lama sih bukunya gak di baca... soalnya baca dulu buku lainnya jadi di pinjamkan dulu ke anak murid.. <br>      Alhamdulillah ... bacanya untuk penulis pemula sangat nyaman untuk di baca saya selesaikan dalam 1 hari saja, di sela sela istirahat , alurnya enak, dia bercerita tentang dirinya dengan sangat terbuka , jujur dan apa adanya, saya suka... <br>      Perjalanan yang cukup panjang Gita untuk belajar di Jerman, ia juga gadis yang pintar rasa malas saat ia SMA ia bayar saat akan masuk ke univ di Jerman. ah disiplinnya disini muncul tanggungjawabnya kuat, dan kebersamaan dengan ibunya yang dulu ia anggap musuh kini lebih dekat, ia tau arti nya sebuah perjuangan dalam kehidupan.<br>        Momen seru dan bikin baper, saat "teman hidup" gita menjadi mualaf... indah subhanallah... dan Gita juga berhijab saat di Jerman... Gita menceritakan dengan penuh suka cita, seneng aja bacanya.. :) <br>         Gita juga sangat kritis, terhadap lingkungan sekitarnya, apalagi Indonesia sebagai negara kelahirannya Gita amat peduli, dia juga berkontribusi banyak sebagai youtuber dan vloger dia bisa menginspirasi banyak pemuda Indonesia , tapi sayangnya masih banyak juga yang nyela, ya namanya manusia mungkin ada yang suka ada yang engga. Tapi saya suka boleh kan :) <br>     so buat pemud apalagi anak SMA yang masih suka galau galau gak jelas meningan baca bukunya deh, ambil banyak hikmah dari bukunya. <br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-04-04 10:20:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/semuarosita/5h9dtx8np8qr/wish/248428009</guid>
      </item>
      <item>
         <title> “ THE FALL OF KHILAFAH”</title>
         <author>maryam_rahmah</author>
         <link>https://padlet.com/semuarosita/5h9dtx8np8qr/wish/248761100</link>
         <description><![CDATA[<div>TEBAL BUKU	:    563 Halaman<br>PENULIS	:   EUGENE ROGAN<br><br>Untuk memulai membaca buku ini, kita harus sudah siap mental untuk menyelesaikan tebalnya buku sejarah yang terkadang membuat dahi berkerut karena banyaknya kilas balik sejarah dengan beragam latar belakang,  nama, lokasi, tahun yang sulit diingat. Nikmati saja ... baca pelan-pelan dan resapi secara mendalam.<br><br>Kilas balik dimulai dari era Perang Dunia I dari awal hingga akhir peperangan, yang didalamnya melibatkan Khalifah Utsmaniyah. Perang ini memisahkan dua blok besar yaitu blok sekutu dan blok poros, dimana blok poros adalah blok yang dinyatakan kalah. Konsekuensi dari kekalahan adalah kesediaan untuk memenuhi syarat perdamaian. Hal inilah yang menjadi pemicu runtuhnya Khilafah Utsmaniyah.<br><br>Berbagai peperangan besar setelah terjadi Perang Dunia I digambarkan secara dramatis pada buku ini. Hampir seluruh peperangan ini melibatkan Khalifah Utsmaniyah. Khalifah Utsmaniyah mengalami berbagai kegagalan khususnya saat terdesak di perbatasan saat terjadinya perang besar, gagal dalam melakukan serangan basalan dan akhirnya medang di Dardanella, Gallipoli dan Kut. Namun setelah itu, Khalifah Utsmaniyah berhasil menguasai wilayah sekutu dan beberapa daerah sentral hingga terjadinya revolusi Arab dan perubahan mata angin. <br><br>Blok poros sebelum dinyatakan kalah, sempat merasakan deretan kemenangan karena berhasil mengeluarkan Rusia akibat Revolusi Bolshevik. Namun, karena hasutan musuh, panglima Utsmaniyah menjadi pendorong jatuhnya Palestina, Irak, suriah, dan Hijaz ke tangan sekutu yang memang didukung oleh gerakan revolusi Arab. Belum lagi saat itu, pasukan AS mulai bergabung ke beberapa perang besar yang menyebabkan peta kekuasaan dan kekuatan menjadi tidak seimbang. Akhirnya satu persatu koloni di blok poros menyerah, seperti Bulgaria, Jerman dan Austria hingga akhirnya Khalifah Utsmaniyah pun menyerah. <br><br>Menarik sekali bagi pecinta sejarah ... Bagus</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-04-05 07:12:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/semuarosita/5h9dtx8np8qr/wish/248761100</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Resensi Buku Maret 2018 </title>
         <author>mynameisindahp</author>
         <link>https://padlet.com/semuarosita/5h9dtx8np8qr/wish/249170254</link>
         <description><![CDATA[<div>Judul Buku : Origin<br><br></div><div>Penulis : Dan Brown<br><br></div><div>Penerbit : PT. Bentang Pustaka<br><br></div><div>Tahun terbit : Januari 2018<br><br></div><div>Jumlah halaman : 507 halaman<br><br></div><div>Mulai Membaca : 8 Febuari 2018<br><br></div><div>Selesai Membaca : 3 April 2018<br><br></div><div> Huft, akhirnya beres juga baca buku ini! Setelah sempat ingin baca genre buku yang lain, akhirnya kembali lagi membaca buku action...</div><div>Profesor Langdon mendapat undangan untuk menghadiri presentasi mantan muridnya, Sang Jenius dari Harvard, Edmond Kirsch di Spanyol. Sebelumnya, Edmond Kirsch telah membuat sebuah video dan dipresentasikan kepada kepala parlemen agama dunia. Ada tiga perwakilan agama di sana; Uskup Valdespino yang mewakili Katolik, Syed al-Fadl yang mewakili umat Islam dan Rabi Yehuda Köves, yang mewakili umat Yahudi. Reaksi ketiga pemimpin agama terhadap video Kirsh sama : Bahaya!<br><br></div><div>Setibanya di museum, professor Langdon bertemu Kirsch, dia masih muridnya yang dulu, seorang ateis yang selalu mempertanyakan agama dan kebudayaan manusia. Pada saat itu, Kirsch dengan bangga mempresentasikan penemuan yang menjelaskan dua pertanyaan misteri umat manusia : (1) Dari mana asal kita? (2) Kemana kita akan pergi? Tetapi, sebelum memulai penjelasan, Kirsch ditembak mati oleh seorang veteran yang telah kehilangan anak dan istri karena bom bunuh diri di Gereja beberapa tahun  yang lalu. Kematian Kirsch yang mendadak tersiar ke seluruh penjuru dunia karena presentasi tersebut ditayangkan secara langsung. Profesor Langdon dan Ms. Vidal (tunangan pangeran Spanyol dan juga seorang kurator museum) terkena imbasnya. Mereka dituduh sebagai dalang dari semua ini.<br><br></div><div>Profesor Langdon dan Ms. Vidal, dibantu oleh asisten virtual Kirsch Winston lewat telepon pintar, mereka berhasil melarikan diri dari polisi kerajaan. Profesor Langdon dan Ms. Vidal berusaha untuk meneruskan presentasi Edmond, tetapi mereka harus menemukan password yang terenskripsi dari kode-kode yang dipilih Edmond. <br><br></div><div>Novel ini sangat berbeda dengan novel-novel Dan Brown sebelumnya, petualangan untuk mencari dan mendeskripsikan kode tidak terasa menantang dibandingkan novel sebelumnya. Walaupun demikian unsur konspirasi agama dan teknologi sangat kental di buku ini. Selain petualangan Profesor Langdon dan Ms. Vidal, penulis memasukan berita-berita dari situs, pergulatan batin sang pangeran muda dan ayahnya dan pergolakan batin sang pembunuh. Akhir dari novel ini tidak disangka-sangka, walaupun pembaca sebenarnya bisa mengambil kesimpulan lewat plot cerita yang dibangun dari awal hingga ke sepertiga terakhir cerita. Setelah membaca novel ini, mungkin pembaca (seperti saya) merasa sedikit khawatir terhadap masa depan, tetapi hal yang menarik dari buku ini adalah adanya beberapa kutipan yang bagus untuk mengambarkan masa depan (cocok banget buat saya yang lagi galau). Seperti kutipan milik Winston Churchill (412) yang menyebutkan : <em>Keberhasilan adalah kemampuan untuk maju dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan antusiasme</em>. <br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/239509112/317ac003289444bc21795d7471f909c7/photo.jpeg" />
         <pubDate>2018-04-06 10:52:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/semuarosita/5h9dtx8np8qr/wish/249170254</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/semuarosita/5h9dtx8np8qr/wish/458353133</link>
         <description><![CDATA[<div>Yang muda yang belajar<br><br></div>]]></description>
         <pubDate>2020-03-11 13:39:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/semuarosita/5h9dtx8np8qr/wish/458353133</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
