<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Menulis Cerpen  by seli mauludani</title>
      <link>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf</link>
      <description>Made with the strength to succeed</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-07-15 00:49:51 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2026-02-25 20:14:04 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f4d6.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Judul:</title>
         <author>selimauludani</author>
         <link>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2243732632</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Orientasi<br>2. Komplikasi<br>3. Klimaks<br>4. Resolusi<br>5. Amanat/pesan</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/643036952/e922b3a6f47b257ab250587fda4dd394/padlet_image_picker_file_01ff1d17_eef5_4d35_bfbd_8f0f7a1ee8c6.jpg" />
         <pubDate>2022-07-15 00:49:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2243732632</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Judul:</title>
         <author>selimauludani</author>
         <link>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2243732639</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Orientasi<br>2. Komplikasi<br>3. Klimaks<br>4. Resolusi<br>5. Amanat/pesan</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/643036952/5a3a42f352ee0fac2fda97a08caf6bdc/padlet_image_picker_file_a6213b97_0894_4f1c_a053_070a996dec33.jpg" />
         <pubDate>2022-07-15 00:49:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2243732639</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Judul:</title>
         <author>selimauludani</author>
         <link>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2243732654</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Orientasi<br>2. Komplikasi<br>3. Klimaks<br>4. Resolusi<br>5. Amanat/pesan</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/643036952/399e7301adfa639eb268922f4a4c47b8/padlet_image_picker_file_bdc390d8_5a5f_4177_8910_e1d10c015263.jpg" />
         <pubDate>2022-07-15 00:49:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2243732654</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tugas</title>
         <author>selimauludani</author>
         <link>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2243877442</link>
         <description><![CDATA[<div>Buatlah sebuah cerita pendek dengan topik bebas berdasarkan gambar di atas dari 5 komponen alur di atas.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-15 03:41:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2243877442</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Judul:</title>
         <author>selimauludani</author>
         <link>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2280562188</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Orientasi<br>2. Komplikasi<br>3. Klimaks<br>4. Resolusi<br>5. Amanat/pesan</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/643036952/e7fefb4f1abcd15f15967ec22b69fdd0/padlet_image_picker_file_c695f25b_86d4_48e4_815a_90ca434f8f72.jpg" />
         <pubDate>2022-09-02 10:16:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2280562188</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Judul:</title>
         <author>selimauludani</author>
         <link>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2280572619</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Orientasi<br>2. Komplikasi<br>3. Klimaks<br>4. Resolusi<br>5. Amanat/pesan</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/643036952/72952972e89dd80daf04b984b924f5fd/padlet_image_picker_file_caf3e33f_46c9_4905_b7e6_0833bdf1f30b.jpg" />
         <pubDate>2022-09-02 10:33:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2280572619</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Judul:</title>
         <author>selimauludani</author>
         <link>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2280573365</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Orientasi<br>2. Komplikasi<br>3. Klimaks<br>4. Resolusi<br>5. Amanat/pesan</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/643036952/d1bf218ec3e3ecfe5ccfa68a3b2ec1a6/padlet_image_picker_file_880b6d4a_73a0_40b7_9841_4ff307b43441.jpg" />
         <pubDate>2022-09-02 10:34:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2280573365</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tenun</title>
         <author>kaylanadindraariyanto</author>
         <link>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2286184259</link>
         <description><![CDATA[<div>Di desa sebelah, terkenal sekali dengan kain tenunnya. Para gadis dan orang berkepentingan berbondong-bondong datang untuk membeli kain tenun dari desa itu. Apakah orang-orang di desa ku iri oleh kemakmuran mereka dalam berdagang? Mungkin beberapa, namun aku sendiri tidak.<br><br>Desaku sendiri makmur karena dagangan buah-buahan dan sayuran kami, beda kategori saja. Gurih dan lezat adalah kata-kata yang sering dilontarkan oleh pembeli pada kami, dan kami bangga akan hal itu. Aku pun bangga dengan desaku dan ciri khas makmurnya.<br><br>Walau begitu aku suka kain tenun. Polanya cantik pula enak dipakai. Namun bukan karena dua hal itu aku menyukai kain tenun, bahkan dulu aku termasuk orang-orang yang menganggap kalau kain tenun itu biasa saja. Namun karena beliau, Bi Darminah, atau biasa dipanggil biyung oleh ku. Biyung sudah berjasa banyak untukku. Kalau bukan karena beliau, mungkin kaki kananku sudah diamputasi sekarang.&nbsp;<br><br>Biyung adalah salah satu tetua di desa sebelah, beliau suka sekali menenun. Biyung sudah nyaris kepala 7, namun biyung tidak memiliki cucu ataupun anak karena alasan-alasan yang berhubungan dengan tragedi puluhan tahun silam. Menurutku, biyung memiliki kain tenunannya yang indah. Aku biasanya mampir untuk belajar menenun, melihat biyung menenun, ataupun sekedar berbincang.&nbsp;<br><br>Sejak aku berumur 11 tahun aku sudah sering mengunjungi biyung ketika libur sekolah. Saat biyung belum setua sekarang kadang aku ikut mengikuti biyung untuk mencari serat kayu. Sekarang, cukup duduk di dekat beliau dan menyaksikan beliau menenun sudah cukup bagiku.<br><br>Suatu hari di hari libur yang sama, setelah menempuh jarak yang sama, aku sampai di desa sebelah menuju rumah biyung. Aku kira semua akan sama saja. Aku mengetuk rumah biyung lalu ia akan menyahutiku 'Tak dikunci!', lalu aku akan masuk dan menghampiri beliau dan memberikan satu dua buah.<br><br>Namun kali ini berbeda, di dapur milik biyung ada seorang bocah laki-laki, tidak lebih dari 8 tahun dari fisiknya. Ia sedang memasak, entah apa. Aku yang terheran-heran, tentu saja menghampiri biyung.<br><br>"Bi?" Buyung, dengan wajahnya yang penuh keriput menoleh ke arahku. Ekspresinya tetap datar.&nbsp;<br><br>"Hmm?"<br>"Bukankah biyung tidak punya cucu?" Kini wajah biyung yang penuh keriput berubah sumringah, diikuti dengan tawa para orang sepuh yang khas. "Dia bukan cucuku, cah ayu. Tapi, mungkin aku akan menganggap dia begitu!"<br><br>Biyung berhenti menenun, lalu menoleh pada anak lelaki itu. Kian aroma masakannya tercium, aku bisa mengenali apa yang ia masak. Opor ayam. Ini hari sabtu, dan kemungkinan malam ini akan ada acara besar si desa ini.&nbsp;<br><br>Biyung menyandarkan dirinya pada tembok, "Namanya Kuswan, dia berasal dari selatan sana," telunjuk biyung terarah pada arah selatan rumahnya, sambil meregangkan badannya dia menunjuk. Mengindikasikan bahwa selatannya itu, jauh, jauh sekali.&nbsp;<br><br>"Dia merantau demi kain tenun?" Biyung menggeleng, ia kembali menyandarkan dirinya pada tembok. Kini wajahnya berubah kelam. Menghembuskan napas panjang, ia pun bercerita soal Kuswan. "Kuswan, melarikan diri dari desanya,"<br><br>Mulutku ternganga. Bocah sekecil itu? Melarikan diri dari selatan hingga sampai di desa ini?! Ada apa gerangan?! Biyung nampaknya bisa membaca ekspresiku.<br><br>"Ketika aku ingin menimba air di pagi hari, kutemukan Kuswan di teras rumahku. Badannya kurus sekali. Setelah ku beri ia makan, barulah ia cerita. Desa dulu tempat ia tinggal diinvasi oleh para preman. Ibu bapaknya meninggal terpenggal, ia berhasil melarikan diri dan dengan ajaibnya, bertahan hidup berminggu-minggu. Setelah berjalan tanpa tujuan tibalah ia di desa ini, tepatnya di teras rumahku," biyung lanjut menenun kain bervariasi merah dan ungu tersebut.&nbsp;<br><br>"Biyung akan angkat dia jadi anak? Cucu?" Biyung menggedikan bahunya. Biyung berkata ia baru menemui Kuswan 4 hari yang lalu. Kedatangan Kuswan menggegerkan seluruh desa dan beramai-ramai mereka berbela sungkawa soal apa yang terjadi pada Kuswan dan memberikan bantuan pada biyung, sebagai pengurus Kuswan sekarang.&nbsp;<br><br>Aku menatap anak lelaki itu. Ia mengenakan kain tenun sebagai bawahan. Betisnya penuh luka baretan juga tangannya. Bahkan beberapa ada yang membiru, namun ia tetap memasak opor. Yang paling parah, terlihat luka bakar yang jelas di punggungnya. Biyung sudah berbicara pada Kuswan bahwa ia tak perlu melakukan apapun, namun Kuswan tetap kekeuh untuk membalas budi dan para orang-orang desa. Salah satu caranya ialah dengan memasak opor untuk berpasitipasi pada acara besar mereka nanti malam.<br><br>Biyung menengok ke arah jam dinding di depannya. Jam menunjukan pukul 5 sore. "Jika kau dibolehkan pulang malam, ikutlah acara syukuran malam ini. Bi Sarni baru&nbsp; menikah lagi tadi malam," buyung mendekatkan wajahnya pada telingaku. "Dan percayalah, masakan buatan Kuswan itu enak."&nbsp;<br><br>Soal boleh tidaknya pulang malam itu boleh-boleh saja, tapi aku termasuk orang yang takut untuk pulang malam. Jadi, aku akan bermalam sebentar di rumah biyung, sepertinya terdengar asik juga acara syukuran ini. Lagipula, selama hari libur aku tidak ada kerjaan sama sekali.&nbsp;<br><br>Aku memutuskan untuk menenun bersama biyung, sambil menunggu pukul 7 malam untuk acaranya. Dan Kuswan, tetap memasak.&nbsp;<br><br><br>Tak lama acara syukuran kawinan Bi Sarni tiba. Terdengar musik dangdut di kanan-kiriku. Orang-orang berlalu lalang, ada yang menari, makan, dan menyalami Bi Sarni dan suami barunya. Aku kenal Bi Sarni, ia tidak menenun tapi ia menjual kapas. Saat insiden dulu, ia membantuku dengan memberikan kapas-kapasnya untuk memberishkan lukakku.&nbsp;<br><br>Aku menghampiri Bi Sarni dan menyalaminya. Mungkin ia mengingatku, mungkin tidak. Namun ia tersenyum padaku, begitupula pada tamu-tamu lain. Aku menghampiri bagian makanan, ku bisa lihat terpajang banyak sekali makanan lezat mulai dari kangkung, tahu, nasi goreng, pepes ikan, dan juga opor ayam. Aku rasa opor ayam itu buatan Kuswan.<br><br>Aku mencari tempat duduk kosong, di dalam tenda ramai sekali, mungkin sebaiknya aku akan duduk di luar saja, menyaksikan bocah yang lain main petasan. Aku mengambil opor dan juga nasi goreng, kombinasi yang sedikit aneh tapi ini enak, kok.&nbsp;<br><br>Selagi aku makan aku melihat Kuswan sedang duduk sendiri, memeluk kain tenun yang menutupi bagian tubuh atasnya. Ia tidak nampak kedinginan, namun mungkin ia mencari rasa aman dengan memeluk kain tenun itu. Aku memutuskan untuk menghampirinya di tengah keramaian yang meriah ini.<br><br>"Kuswan, ya?" Bocah itu mengangguk. Ia tak berbicara sedikitpun, untuk sekarang. Ia tampak trauma sekali. "Aku turut berduka cita soal apa yang terjadi padamu, keluargamu, dan desamu,"<br><br>"Tak apa, terima kasih," ia memeluk kain tenunnya makin erat. Aku terus memakan opor dan nasi goreng disebelahnya. "Kuswan, opor buatanmu enak banget," aku menepuk pundaknya. Ia tetap diam, namun aku tahu ia sedikit tersenyum karena pujianku. Setidaknya, mungkin ia bisa merasa senang di tengah badai hatinya setelah semua yang terjadi.<br><br><br><br>Jika diperhatikan dengan lebih seksama, beberapa luka di badannya masih termasuk luka basah. "Mau ke puskesmas? Lukamu lumayan parah dan harus segera diobati," Kuswan mengangguk.<br><br>&nbsp;Aku menarik pergelangan tangannya dan menuntunnya ke puskesmas. Untung-untung saja puskesmas di sini tidak memerlukan kendaraan beroda untuk sampai disana, jalan 30 menit saja cukup.<br><br>Kuswan memperhatikan sekitar, sedikit was was. Seiring kami berjalan kami disapa oleh para orang-orang di desa ini, sebagian dari mereka mengenalku, dan juga Kuswan. Kuswan masih menganalisa lingkungan di sekitarnya, setelah merasa bahwa orang-orang disini tidak jahat ia mulai rileks.&nbsp;<br><br>Pada dasarnya Kuswan itu masih anak-anak, dan anak-anak adalah mahluk yang penasaran. Kuswan memperhatikan luka di bawah lututku yang kasarnya, cukup mengerikan dan tidak enak untuk dilihat. Ia menatapku kemudian, namun tampak segan untuk bertanya.&nbsp;<br><br>"Dulu saat aku berumur 11 tahun aku bermain-main di hutan dekat desa ini. Lalu saat aku tersandung tiba tiba ada pohon besar yang menimpa kakiku. Selama berjam jam aku berteriak dan meminta tolong, lalu biyung datang,"<br><br>"Biyung?"<br><br>"Bi Darminah, Kuswan," Kuswan mengangguk, ia kembali dalam mode menyimaknya. "Biyung bergegas memanggil para orang-orang desa, dengan begitu aku selamat. Saat tiba di rumah sakit, dokter mengatakan jika biyung tidak datang maka kemungkinan kakiku harus diamputasi, dan kemungkinan terburuk adalah aku mati begitu saja,"<br><br>"Apakah lukanya masih sakit?"<br><br>"Sudah tidak," Kuswan terus memperhatikan luka di lututku yang mengerikan itu. Sambil berjalan ia ceritakan lagi soal dirinya, kali ini dengan detail lebih. "Aku percaya aku bisa bertahan hidup karena kain tenun pemberian ibu,"<br><br>"Oh ya? Kok bisa?"&nbsp;<br><br>"Dahulu, sebelum semua tragedi ini terjadi, ibuku adalah seorang penenun, sama seperti Bi Darminah.&nbsp; Ia memberikan ku bawahan tenunan ini, yang diperbaiki oleh Bi Darminah karena rusak," ucapnya sambil ia mengayun ayunkan bawahan tenunannya yang seperti sarung.&nbsp;<br><br>"Lalu ketika malam pembantaian terjadi ibuku buru-buru memberikan ini dan menyuruhku untuk berlari sekencang mungkin. Aku menengok ke belakang, aku lihat kepala bapak dan ibu lepas dari badan mereka. Selagi aku berlari aku dapat mendengar teriakan-teriakan mereka yang ditikam, dipenggal, disiksa oleh para penjahat. Aku sempat tertangkap, disiksa, digores sana sini, bahkan punggungku dibakar oleh mereka," suara Kuswan mulai bergetar di akhir-akhir kalimatnya. Kuswan menangis, dengan sigap aku langsung memeluk tubuh kecilnya yang malang.<br><br>"A-aku berlari berminggu-minggu, hanya ingin hidup dan terlepas dari kejaran mereka, itu saja," Kuswan menangis. Ia lelah menangis tapi apadaya beban hati yang ia tanggung sungguh berat bagi bocah seumurannya. Kami diam disitu sebentar, jalan yang kami pijak agak jauh dari pemukiman, setidaknya tangisan Kuswan tidak akan terdengar warga setempat.<br><br>"Kuswan masih mau ke puskesmas?" Dalam tangisannya yang kencang, ia samar-samar mengangguk. Tubuh Kuswan itu kurus, kecil, jadi bukan masalah bagiku untuk menggendongnya hingga puskesmas. Puskesmas juga tinggal 10 menit lagi, hingga aku dan Kuswan sampai.<br><br>"Sampai sekarang aku masih bisa membawa kain tenun pemberian ibu, walau rusak sedikit. Aku percaya, bahwa kain tenun ini seperti pelindung bagiku,"<br><br>Ia terus menangis di punggungku. Pasti akan menjadi trauma berat baginya, seorang anak kecil tak berdaya yang harus menyaksikan adegan-adegan mengerikan itu tepat di depan matanya sendiri. Yang penting, sekarang Kuswan harus dibawa ke puskesmas sesegera mungkin!<br><br>Tapi memang, kain tenun yang sedari tadi dia genggam motifnya indah sekali.<br><br><br><br>"Ajaib! Sungguh ajaib! Dengan luka bakar sebesar itu anak ini hanya mengalami luka bakar tingkat dua! Kalau begini salep antibiotik sudah cukup. Apabila ada keluhan lain bisa langsung segera mendatangi puskesmas. Lekas sembuh anak hebat!" Bu perawat mengelus kepala Kuswan, kita semua kaget. Aku kira Kuswan sampai harus dirawat apalah namun dia tak apa.&nbsp;<br><br>Berkat BPJS seluruh pengobatan Kuswan menjadi gratis, kamipun berhasil mendapatkan salepnya, dan Kuswan boleh pulang. Kuswan tampak senang luka-luka di badannya akhirnya akan terobati.<br><br>"Tapi kamu keren Kuswan, bisa bertahan dari serangan-serangan para preman, bahkan hanya mendapat luka bakar tingkat dua wakau punggungmu benar-benar dibakar,"<br><br>"Ya aku percaya ini semua karena keajaiban kain tenun pemberian ibu," Kuswan lebih bersemangat, walau ia tetap terlihat lemas.&nbsp;<br><br>"Itu hanya kain tenun, bukan?"<br><br>"Apakah ketika kakimu tertimpa pohon Bi Darminah memberikan kain tenun?" Aku mencoba mengingat-ingat lagi insiden itu, dan ya Kuswan benar. Ketika batang pohon itu berhasil diangkat kakiku (lututku) mengalami beberapa pendarahan, dan biyung yang ada di sana langsung membukus kakiku dengan kain tenun.<br><br>"Ya, biyung membungkus kakiku dengan kain tenun yang ia bawa," Kuswan tersenyum, sepertinya ia merasa benar.<br><br>"Bagaimana kalau kain tenun milik Bi Darminah memiliki keajaiban juga? Itulah sebabnya kakimu tidak jadi diamputasi?"&nbsp;<br><br>"Konyol sekali, tidak mungkin," aku terkekeh pada perkataan Kuswan. Harusnya aku maklumi saja, lagipula dia tidak lebih tua dari 8 tahun.<br><br>"Aku saja selamat, mungkin kamu juga. Berkat kain tenun,"&nbsp; Kuswan berjalan mendahuluiku, dengan langkah semangatnya. Sungguh perkaataan konyol seorang bocah, namun, bagaimana kalau ia benar? Apakah itu sebabnya juga, kain tenun ramai dibeli orang-orang?<br><br>Seperkian detik aku melamun, Kuswan berlari menjauh dariku. "Kuswan kamu masih sakit! Jangan lari-lari!" Hari sudah malam, walau para penduduk desa biasanya masih bangun jam segini, tetap saja jarang ada penerangan di jalan ke puskesmas ini. Semoga saja biyung tidaj kerepotan mengurusi bocah ini, secara biyung sudah kepala 7.<br><br><br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-09-07 10:27:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2286184259</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tentang Jalanan #1</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2286341745</link>
         <description><![CDATA[<div>Waktu kini menunjukkan pukul lima sore. Tak lama lagi, matahari akan berpaling dari langit. Semua orang nampak berhamburan keluar dari kantor. Sedangkan aku masih terduduk di atas kursi cafe sambil menyeruput secangkir cappucino dengan santai. Tiba-tiba aku mendapat panggilan telepon dari atasanku.</div><div><br></div><div>"Halo, Mas Daffa, jangan lupa besok dateng jam tujuh pagi. Berita soal kandidat presiden 2024 harus segera kita muat besok."</div><div><br></div><div>"Oh, siap, Bu. InsyaAllah besok saya akan datang tepat waktu."&nbsp;</div><div><br></div><div>"Siip, saya tunggu ya."</div><div><br></div><div>Namanya Bu Lilis. Orangnya sih baik tapi juga tegas. Jangan sampai besok aku telat masuk kantor. Bisa-bisa nanti disuruh asistensi OB seminggu kalau tidak mau dipotong gaji. Setelah membayar tagihan cafe, aku menunggu angkot di trotoar pinggir jalan. Menit demi menit berlalu, ada banyak angkot yang lewat. Tetapi penuh semua. Wajarlah karena ini sudah jam pulang kantor. Di waktu tersebut orang-orang ingin cepat sampai di rumah. Namun ada juga beberapa yang nongkrong dulu ke mall atau ke mana. Akhirnya setelah menunggu cukup lama, ada angkot yang bisa ku tumpangi. Aku duduk di dekat pintu dengan memangku tas dan kamera di paha.&nbsp;</div><div><br></div><div>Jalanan begitu ramai dan berisik dengan nyaringnya suara klakson kendaraan disertai dengan teriakan pengendaranya. Teriakan dan umpatan para pengendara mungkin sangat menyebalkan. Namun terkadang bisa menjadi bahan tawaan.&nbsp;</div><div><br></div><div>"MINGGIR WOI! INI BUKAN TANAH NENEK LOE!"</div><div><br></div><div>"SETAN MOTOR, SETAN!"</div><div><br></div><div>"ANJ***, JALAN LAH, *AB*, N**T** LAH BAPAK LO AMA POLISI, K**T**!"</div><div><br></div><div>"MIJON, SPRIT, AQUA, PUCUK!"</div><div><br></div><div>Yaaah, indahnya Jakarta. Bahkan hal yang membuat kesusahan pun, bisa menjadi hiburan bagi orang lain. Aku sudah tinggal di kota ini selama empat tahun. Kampung halamanku berada di Yogyakarta. Sudah lama aku tidak bertemu papah dan mamah di sana. Selama di Jakarta, Aku tinggal di sebuah kost yang terletak di sekitaran Cipete. Empat tahun tinggal di Jakarta, tidak ada banyak hal yang berubah. Termasuk lalu lintasnya di sore dan pagi hari. Aku hanya termenung di dalam angkot sambil berharap cepat keluar dari brutalnya macet sialan ini. Sekarang sudah pukul setengah enam lewat. Matahari mulai berpaling dari langit. Tetapi aku belum juga berpaling dari macetnya jalanan. Aku pun bertanya kepada si supir angkot.</div><div><br></div><div>“Bang, kok kayaknya ni macet parah amat?.”</div><div><br></div><div>“Yah, namanya juga jam pulang kerja, mas. Orang-orang udah pada pengen pulang.”</div><div><br><br></div><div>Dulu papah pernah bilang kepadaku, sebaiknya jangan kerja di Jakarta. Katanya nanti tua di jalan. Mungkin dulu aku seharusnya mendengarkan apa kata papah. Siapa tahu sekarang aku bisa jadi sebulan atau dua bulan lebih muda. lima belas menit kemudian aku masih menunggu. Hari sudah mulai gelap, tetapi aku masih terjebak. Terus ku katakan pada diriku untuk sabar dan jangan emosi. Emosi mungkin bisa ku tahan, tetapi sabarnya tidak selalu. Macet itu sangatlah menyebalkan. Banyak orang pastinya berharap rute yang mereka lalui tidak akan macet nantinya. Namun, juga ada beberapa orang yang malah mengharapkan macet segera terjadi. Karena bisa menjadi pintu rezeki bagi mereka. Ya, mereka adalah para pengamen dan pedagang pinggir jalan yang dengan cerdik memanfaatkan kesempatan di balik kesempitan orang lain.&nbsp;</div><div><br></div><div>Kini angkot sedang berada di atas jebatan yang di bawahnya adalah jalan tol dengan pemandangan yang “khas jam pulang kerja”. Kemacetan ini nampaknya tidak ada rakhir. Aku harus tidak bisa duduk saja di angkot sambil tidur berharap ketika bangun, angkot sialan ini sudah ngetem di Cipete.</div><div><br></div><div>“Persetan dengan macet, aku sudah muak! Mendingan jalan kaki aje ke Cipete!”</div><div><br></div><div>&nbsp;Aku pun turun dari angkot. Kemudian mengambil kamera dan memotret apa yang ku lihat sore itu. Bagi orang lain yang tidak di sana, mungkin akan terlihat biasa saja. Tetapi bagi mereka yang di sana, foto ini akan otomatis membuat orang yang melihatnya depresi, bahkan orang buta sekalipun. Setelah memotret suasana jalanan, aku membayar ongkos angkot dan berjalan menyusuri jembatan. Berjalan menuju Cipete yang cukup jauh. Hari pun sudah gelap. Setelah berjalan sekitar dua kilometer, aku memutuskan untuk istirahat sementara di warkop setempat.&nbsp;</div><div><br><br></div><div>“Bang, susu jahe segelas!”</div><div><br></div><div>“Siiip, ape lagi?”</div><div><br></div><div>“Eee… Udah, bang, itu aja.”</div><div><br></div><div>“Yaudeh, sepuluh rebu.”</div><div><br></div><div>“Hah? bayar sekarang, bang? Belom juga minum.”</div><div><br></div><div>“Ya iye, emang nape? gak boleh? Mo kabur ye lo?”</div><div><br></div><div>“Ng-nggak kok, bang. N-nih ceban.”</div><div><br></div><div>Beberapa menit kemudian, susu jahe pun telah habis ku minum. aku melanjutkan kembali perjalanan ke kost di Cipete. Sempat terpikirkan olehku, apakah sebaiknya aku naik ojek online aja ya? Lebih cepat dan santai. Sayangnya hari itu adalah tanggal tua dan masih lama sebelum gajian. Sebaiknya hemat-hemat uang agar bisa terus bertahan. Aku jalan kaki melewati jalan pintas yang langsung tembus ke Cipete. Namun, jalanan&nbsp; itu gelap gulita. Sedikit sekali lampu yang menerangi jalan tersebut. Orang-orang selalu waspada ketika lewat jalan itu. Takut nanti ada begal dan hal lain semacamnya.&nbsp;<br><br>Untungnya bagiku adalah malam itu adalah malam Jumat. Kenapa? Karena pastinya para komplotan begal tidak akan berani beraksi di waktu-waktu seperti ini. Di malam hari yang dingin, aku menyusuri jalan itu sambil berharap dijauhkan dari marabahaya. Tetapi, dari kejauhan, aku melihat sebuah karung beras berbentuk lonjong yang tergeletak di tengah jalan. Ku pikir itu sepertinya ada truk pengangkut yang kehilangan muatannya. Aku pun berjalan mendekati karung beras itu. Namun, semakin dekat dan dekat karung beras itu tampak menyerupai sosok pocong yang terbaring di tengah jalan. Aku langsung memotret sosok itu dengan kamera secepat mungkin sebelum ambil seribu langkah.&nbsp;</div><div><br></div><div>Namun sebelum sempat lari, aku mendengar ada seseorang di belakangku. Aku menoleh ke belakang dan terlihat seseorang bertubuh besar dan di tangan nya terdapat sebuah celurit bersiap-siap untuk menyerangku. Aku langsung lari secepat angin sebelum dia dapat menghampiriku. Aku sempat menoleh ke belakang dan terlihat di belakangku gerombolan begal mengejarku sambil membawa senjata tajam di tangan mereka masing-masing.</div><div><br></div><div>“TOLOONG! TOLOOONG!”</div><div><br></div><div>“WOI! SINI LO! JANGAN KABUR, BA*G***!”</div><div><br></div><div>Aku terus dan terus berlari secepat mungkin. Ketika aku mendengar suara motor dari belakang, ku pikir tamatlah twitter ku setelah tweet macet-macetan tadi sore. Namun, di depan terlihat ada sekelompok orang berjaket hitam dengan motor datang dari arah berlawanan. Ku kira mereka adalah polisi, namun ternyata mereka adalah geng begal sebelah yang sepertinya memang memperebutkan jalan ini dengan geng begal di belakangku. Kupikir aku akan dijepit seperti sandwich. Sehingga aku langsung melompat ke sebuah gang kecil dan sempit. Dua geng begal yang berhadapan tadi bersiap-siap untuk saling serang. Kemudian terjadilah tawuran hebat malam itu. Aku hendak menelpon polisi, tapi sudahlah, jalanan bukan tempat untuk pahlawan.&nbsp;<br><br>Perjalananku kemudian berlanjut. Sudah pukul delapan malam, Cipete tidak jauh. Tetapi kakiku terasa sangat pegal setelah dikejar begal tadi. Aku mampir dulu ke sebuah warkop yang tak jauh. Di sana aku memesan secangkir teh susu. Namun seperti ada yang tidak beres dengan warkop satu ini. Suasana di warkop tersebut nampak aneh.</div><div><br></div><div>“Hadeh, teh susu satu, bang!”</div><div><br></div><div>“Mmm.” ucap si abang warkop dengan mukanya yang pucat.</div><div><br></div><div>Aku mencium bau dupa yang sangat menyengat dari ruangan dalam warkop. Bau itu membuatku bersin berkali-kali. Tiba-tiba, Armin, temanku dari direksi menelpon.</div><div><br></div><div>“Gimana, Daf? Besok kita bakal ngeliput salah satu berita yang akan <em>booming </em>se-Indonesia! Lo dah ready kan?”</div><div><br></div><div>“Ready gigimu! aku belom sampe rumah sampe sekarang ini.”</div><div><br></div><div>“Loh? lo bukannya dah pulang dari sore tadi?”</div><div><br></div><div>“AAH, panjang ceritanya, Min. Besok dah aku cerita.”</div><div><br></div><div>“<em>By the way </em>lo lagi di mane, Daf?”</div><div><br></div><div>“Lagi istirahat di warkop.”</div><div><br></div><div>“Warkop mana?”</div><div><br></div><div>“Warkop yang di jalan tikus ke Cipete itu. Warkopnya Bang Mail.”</div><div><br></div><div>“Hah? Warkop Bang Mail? Bukannya Bang Mail udah pindah ke Pancoran?”</div><div><br></div><div>“Lah, itu Bang Mail lagi bikin teh susu.”</div><div><br></div><div>“Serius, Daf! Bang Mail sekarang udah gak jualan di deket Cipete… Daf?... Loh? Daf?... Halo?”</div><div><br><br></div><div>Aku langsung menutup telepon dari Armin. Ada yang tidak beres. Kok Bang Mail masih jualan di Cipete? Tiba-tiba Bang Mail datang sambil membawakan teh susu pesananku.&nbsp;</div><div><br></div><div>“Tujuh ribu aja.”</div><div><br></div><div>“I-ini, bang, oh iya, kok abang masih jualan di deket Cipete? Bukannya udah pindah?”</div><div><br></div><div>Sambil tertawa kecil, Bang Mail berbisik dengan suara yang menyeramkan.</div><div><br></div><div>“Udah ketahuan ya?”</div><div><br><br></div><div>Tanpa pikir panjang, aku langsung lompat dari kursi warkop dan lari secepat mungkin. Setelah berlari lumayan jauh dari warkop, akhirnya aku bisa tenang karena aku sudah tiba di Cipete. Sekarang tinggal menuju kost tempat aku tinggal. Jam tanganku menunjukan pukul sembilan malam kurang. Kost tidak jauh lagi. Tubuhku terasa lemas karena sudah berlari secepat angin berkali-kali. Oh ya, tadi saat lari dari warkop aku sempat memotret warkop tersebut dan warkop itu terlihat gelap dan seperti rumah hantu. Sepertinya tadi ada yang menutup pandanganku sehingga aku asal masuk saja.&nbsp;<br><br>Semakin larut, malam terasa semakin dingin. Dengan tertatih aku berjalan melintasi pinggir jalanan. Aku ingin menumpang sebuah angkot. Tapi sepertinya sudah tidak ada angkot yang masih narik di jam segini.&nbsp;</div><div><br></div><div>Namun, tak ada angin, tak ada hujan, aku melihat sebuah angkot yang masih narik di jam segini. Aku melambaikan tanganku untuk memanggil angkot tersebut dan meminta tumpangan ke kosan yang sudah tidak jauh lagi dengan naik angkot. Di dalam angkot aku melihat ada pasangan suami istri yang sedang menggendong anak mereka yang tertidur sambil ditutupi selimut kecil. Anehnya anak itu terlihat berusia delapan tahunan tetapi ia tidur sambil digendong oleh orangtuanya. Raut wajah kedua orangtuanya pun terlihat sangat sedih. Aku pun mencoba mengobrol bersama mereka.</div><div><br></div><div>“Permisi, pak, bu. Itu anaknya lagi tidur?”</div><div><br></div><div>“Anak saya sudah tidur mas, untuk selamanya.” bisik si ibu&nbsp;</div><div><br></div><div>Aku kaget dan merinding. Jangan-jangan ini setan lagi! Tapi ternyata ya mereka bukan setan, hanya sepasang suami istri yang malang. Mereka bercerita kepadaku kalau anak mereka mengidap penyakit keras. Namun, mereka tidak mampu untuk membiayai pengobatan anak mereka di rumah sakit. Dokter yang menangani anak mereka ingin menolong karena anak mereka dalam kondisi kritis tapi dilarang oleh pemilik rumah sakit dan anak itu dibiarkan meninggal tepat di depan mata mereka.&nbsp;<br><br>Mereka kemudian menuju ke masjid terdekat agar mayat anaknya bisa diurus. Rencananya mereka akan menuntut pihak rumah sakit ke pengadilan. Namun apalah daya, mereka hanya orang kecil. Karena tertarik dengan kisah mereka aku pun berencana akan meliput berita tersebut esoknya. Sekarang aku hanya bisa berharap semoga mereka ikhlas dan sabar telah ditinggal oleh sang buah hati.</div><div><br></div><div>Angkot pun sampai di depan kosan. Aku turun dari angkot dan membayar si supir. Aku mengetuk pintu kost dengan sangat lemas. Ncang Amir, si pemilik kost kaget melihatku pulang malam-malam begini. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh lewat. Aku langsung naik ke atas menuju kamarku. Ketika memasuki kamar dan berbaring di atas kasur. Rasa penatku perlahan menghilang. Betapa kacaunya hari ini. Pertama kena macet parah,&nbsp; terus dikejar gerombolan begal, terus masuk ke warkop setan, dan setelah itu bertemu sepasang suami istri yang menggendong mayat anaknya. Setelah aku mengganti pakaian, ada satu hal lagi yang ingin aku lakukan sebelum tidur. Aku pun menyiapkan semua data dari keempat kejadian lalu dan kemudian menelepon si Armin.</div><div><br></div><div>“Min, kamu masih di direksi kan? Aku baru nyampe rumah nih.”</div><div><br></div><div>“Bentar lagi mau pulang, gua dah capek.”</div><div><br></div><div>“Aku mau nitip empat draft berita boleh gak? Nggak harus dimuat sekarang sih, simpen aja buat besok pagi. Ntar aku aja yang langsung muat.Ini mau nitip aja dulu.”</div><div><br></div><div>“Oooh, yaudah oke, oke.”</div><div><br></div><div>“Siip, aku kirim via Telegram ya.”</div><div><br></div><div>“Siip, baru kekirim nih. Gua pindahin ke flashdisk kantor dulu, bentar.”</div><div><br></div><div>“Oh ya, Daf, tajuknya nanti apa? sekalian gitu kan biar nggak lupa.”</div><div><br></div><div>“Hmm… Gimana kalo… <em>“Tentang Jalanan”</em>?”</div><div><br></div><div>“Boleh juga, <em>Tentang Jalanan</em>.”</div><div><br></div><div>“Oke, makasih ya, Min!”</div><div><br></div><div>“Sama-sama, dah buruan tidur lo! Besok kerja lagi!”</div><div><br><br></div><div>Begitulah kisahku tiga bulan yang lalu dan bagaimana <em>Tentang Jalanan</em> bisa muncul di koran dan majalah yang berawal dari ketidaksabaran menunggu macet. Bicara soal macet, kita semua pasti tidak ingin hal itu terjadi selama perjalanan, terutama saat kita sedang buru-buru. Akan tetapi kesabaran itu tentunya layak untuk terus dipertahankan meskipun susah untuk melakukannya. Kita hidup di zaman susah yang membuat pikiran resah. Persaingan ketat yang butuh toleransi tinggi. Bingung antara cari pacar atau cari kerja. Karena sama-sama berat dan terlalu banyak syarat. Kita sama-sama pergi bekerja untuk cari makan. Yaa kita tidak perlu juga untuk sikut-sikutan. Toh kita kan tidak ingin cari keributan. Karena kita pun ingin tenang dalam menjalani kehidupan. Daripada kita bertindak dengan emosi hingga hilang akal sehat, tapi terus tetap melarat. Maka lebih baik kita bertindak dengan otak untuk tetap berusaha agar cepat kaya.&nbsp;</div><div><br><br><br><br><br><br></div><div>07/09/2022</div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-09-07 12:53:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2286341745</guid>
      </item>
      <item>
         <title>P.S.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2286355473</link>
         <description><![CDATA[<div>Di padlet liatnya kurang enak :/</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-09-07 13:01:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2286355473</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dead Heat</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2335082210</link>
         <description><![CDATA[<div>It was a nice Friday school afternoon where Han and his friends decided to go to the Theme Park for their holidays, they all agreed on meeting at the train station at 7 AM and have their breakfast together at the Theme Park.<br><br>"See ya, Han~!"<br><br>"See you too, Sora!"<br><br>Said Sora and Han as they part path to their home.<br><br>"Tadaima~"<br><br>Han shouted while entering his home<br><br>"Okaeri, Ani!"<br><br>Han's little sister Eve replied while rushing to Han<br><br>"Ani, can you continue fixing my CRX? It's so close to finish, and I also need it for tomorrow because I wanna hang out with my friends."<br><br>"No, I am busy tonight."<br><br>"Pleaseee? You said we would fix it yesterday but you kept saying you were busy."<br><br>Han thinking ahead, since his car crashed last month and it hasn't been fixed yet maybe he could fix Eve's CRX and get a ride tomorrow.<br><br>"Fine sure... I'll fix it."<br><br>"YAAAY~"<br><br>Screamed Eve as Han agreed to fix her CRX. Han walked upstairs to his room and changed his clothes to his working mechanic clothes, walked downstairs to his garage ready.<br><br>"I'll fix it under one condition."<br><br>"What is it?"<br><br>"Give me a ride tomorrow to the train station at 6:30 AM and pick me up at 4 PM."<br><br>"Fineeee."<br><br>After Eve agreed Han's condition, Han started working on the CRX. Han secretly adds a twin exhaust system that Eve has been wanting for long, Han got his hands on it last week and has been wanting to make it a surprise for her birthday. But Han also ordered a sequential turbo, so he could make it as her present later.&nbsp;<br><br>It was 9 PM and Han finally was done with the CRX.<br><br>"Eve!!! Your car is finished!"<br><br>Han screamed calling for Eve<br><br>"I'm coming I'm coming I'm coming!"<br><br>Eve said as she runs to the garage<br><br>"Woaaah! This looks good as new!"<br><br>"Yeah, I fixed everything and I added a little spice."<br><br>"What, whatever I wanna test drive it!"<br><br>"I suggest not to tonight, save your excitement for tomorrow."<br><br>"Ugh, fine... Thanks, Ani."<br><br>They both head back to their room and sleep the night through.<br><br>Rise and shine, Han woke up at 5 AM to do his daily workout at his home gym. Proceed with making breakfast for Eve, while Eve is walking downstairs like a zombie.<br><br>"Get ready, I cooked you breakfast. We're leaving in 30 minutes so eat up and prepare."<br><br>Eve eats her breakfast and prepares her clothes. She proceeds to wear her makeup and Han just happens to walk in her room. So rare to see Eve wearing make up since she's naturally beautiful already.<br><br>"What's with the makeup...?"<br><br>"Ugh nothing? I'm just wearing it."<br><br>"Hmm... very unusual, is a boy coming along with your friends tomorrow? Just happens to be someone you... like?"<br><br>"Huh? What? No.. no? Yea no? It's just the girls, just get out of my room and wait near the car!"<br><br>Han grins it away and heads to the garage, he took the CRX key and started the car. A loud B16B Swapped CRX screams in 210HP twin exhaust system started. Han was so proud of himself for the confidence last night that the car would work without a problem, because installing the twin exhaust system took him 4 hours.<br><br>"Whose car is that?"<br><br>Said Eve from upstairs as she walks down with her purse ready to go out.<br><br>"Wait, this sounds like the dream exhaust I wanted months ago."<br><br>"Yes, I actually got it last week and decided to install it here."<br><br>Eve stood standing still overwhelmed with tears of joy<br><br>"I can't cry, I HAVE A MAKE UP ON."<br><br>Han laughed and Eve wants to give it a drive, she said it was an amazing sudden upgrade. They arrived at the station and Eve dropped Han off and said goodbyes. Han met with the others and waited for the last dude, it was 7 AM and Han bought a snack at the train station kiosk.<br><br>"Yo everyone, I got ourselves some snacks."<br><br>"Yoo, thanks my guy."<br><br>"Thank you thank you!"<br><br>"I'm good, thanks Han!"<br><br>Everyone's gratitude while reaching their hand on the snack bag. Then Sora came last because there was a bit of problem with his car in the morning, he said it was something with his gearbox. They all then purchased their tickets and sat down on the train, it was crowded but all of them managed to get a seat.&nbsp;<br><br>They arrived to the Theme Park and bought some tickets, and the first thing they did was to try a few rides before eating breakfast.&nbsp;<br><br>"Wanna try that ride out?"<br><br>"The long drop? Ah hell naw man, it's way too early for that thing."<br><br>"Cmon, you scared or something?"<br><br>"Yeah you scared, Chi?<br><br>"Fine, let's go..."<br><br>"That's the spirit!"<br><br>Said the boys running towards the waiting line. It was a short one and they finally got in the ride, it's a tall ride, with seats, and how it work is by lifting the seats up and dropping them down. Everyone was already exhausted by the first ride and since it was 10:30 AM, they decided to have brunch instead.<br><br>"Right boys, what to eat?"<br><br>"I feel like eggs and sausages... but heavier."<br><br>"I want pancakes and wings..."<br><br>"I'm following the others."<br><br>Everyone then walked into the restaurant that serves mostly everything, Planet Foodie is the place for all food. They all order their food and ate together. Han eating his Ice cream waffles with Turkey Leg, Sora with his Bacon Eggs &amp; Sausages, Sacchi with his Pancakes and 6 pieces of wings, and Setsuya with his Fish n Chips. Everyone was full and it was 12 PM. They all want to chill after eating a lot so they decided to hop on the Ferris wheel.<br><br>"Yeah let's let our food go down first, wanna go on the Ferris then?"<br><br>Asked Han. Everyone agrees so they wait for the next shuffle. Everyone got on and they all went up slowly, the view from up there was amazing but the sun wasn't that supporting.&nbsp;<br><br>"It's really hot don't you think?"<br><br>"Yeah, should've come here like at 2 PM or something this is way too hot."<br><br>"I feel like we're burning aaaaaaaa."<br><br>Everyone whined about the weather. After a while and at the top of the Ferris wheel, a melting steel piece dropped from the roof. The roof was starting to melt due to the insane heat of the sun, and everyone was at red hot. It also melts the floor and everything was hot. They haven't realized yet due to the extreme heat that's causing their mind. Until they realized it...<br><br>"YO WE'RE MELTING."<br><br>"WTF, THE SUN IS ACTUALLY BURNING US ALL."<br><br>"WE'RE GONNA DIE!"<br><br>Screamed everyone while the ride was slowly turning into a disaster. Some of the Ferris wheel ride was burning off and falling, and they realized something... The sun looks really close as it should be. Then their ride was slowly cranking as if it was gonna fall down.<br><br>"Are we shaking?"<br><br>"I think we are..."<br><br>"EVERYONE DON'T PANIC AND CAUSE A SUDDEN MOVE, CALM DOWN!"<br><br>Han screamed to everyone while the ride shakes. Then Sacchi panicked and caused a sudden move which made their ride fall. Everyone falls down and crashed the floor, but everyone was still fine except Sacchi. Sacchi was stuck under a metal bar, and was also knocked over unconscious. Han had something against him which made him think not to help him because he caused the sudden move, but since Han is nice he decided to help him out.&nbsp;<br><br>The other haven't got up and recover to stand up, Han got up and starts walking towards Sacchi.&nbsp;<br><br>"Hang on there, pal. I'll save you."<br><br>Han stuttering as he walks towards Sacchi. He struggled to lift of the bar at first, but then overtime he got it. He pulls Sacchi out and then saved him, Han also collapsed after using all of his last energy saving Sacchi. Everyone was collapsed on the park until Han heard a siren before going to a coma.<br><br>"Where am I?"<br><br>Said Han as he slowly got up from a bed in a hospital, he looked around and saw Sacchi on the other bed. He's still in a coma and in critical damage. A nurse came to Han and asked how he was feeling.<br><br>"Sir, are you feeling okay?"<br><br>"Huh, am I in the hospital?"<br><br>"Yes, sir."<br><br>"What happened."<br><br>The nurse turned on the TV as the news are still on going<br><br>"Breaking news, the sun was moving 20cm off of it's normal place, the sudden heat change was way too extreme than expected. The sun caused around 330 degree celsius which caused so many disaster."<br><br>Han was so confused, but he shook it off. He wonders where the others are.<br><br>"Uh, do you know where the others are?"<br><br>"Who else was with you, sir?"<br><br>"Sora, Sacchi, Setsuya."<br><br>"I believe Sora and Setsuya are in the next room, they're fine and have woken up already. Meanwhile Sacchi is still in coma, his injury was fatal."<br><br>Han stared at Sacchi next to him, he thinks... What would happen if he left him be?</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-11 11:19:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2335082210</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>selimauludani</author>
         <link>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2335099423</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/643036952/d4eb8857eeff39684d807f16c8b25d74/padlet_image_picker_file_12211ea0_2611_4028_b77e_0150246b824a.jpg" />
         <pubDate>2022-10-11 11:35:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2335099423</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ujungnya Zonk </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2335544890</link>
         <description><![CDATA[<div>Halo, nama gua Budi Widyonto. Gua berusia 27 tahun. Dan hari ini, tanggal 11 Oktober 2022, gua meninggal.<br><br>Sejak kecil gua udah tahu apa impian gua, yaitu menjadi pilot. Kenapa gua mau jadi pilot? Karena keren aja gitu pas gua liat di tv, ambisinya kebawa deh ampe gede. Namun, gua dan keluarga gua adalah warga miskin. Pendidikan yang bagus pun gak gua dapetin. Pekerjaan bapak ibu gua pun gak seberapa. Bapak gua adalah seorang satpam, sedangkan ibu gua adalah seorang pembantu rumah tangga.&nbsp;<br><br>Kami tinggal di sebuah desa bernama&nbsp; Angkadarta, sebuah tempat yang bisa dibilang jarang dipedulikan oleh pemerintah. Tempat yang sunyi, damai, tentram, bahkan harmonis, walaupun -warganya hidup sebatang kara. Gua dan keluarga gua juga seneng-seneng aja hidup disini. Sampai akhirnya, dia datang.&nbsp;<br><br>Ketika gua berusia 16 tahun, gua lagi main bola bareng temen-temen gua abis pulang sekolah, terus tiba-tiba, ada kayak mobil mewah masuk ke desa. “Weh buset! Di, liat dah mobilnya keren amat! Pasti orang kaya tuh!” ucap Udin ke gua. “Buset, mau-mau aja gitu ada orang kaya masuk ke desa ini? Buat apa coba?” kata gua.&nbsp;<br><br>Bagian sini saya sudah mulai ngantuk :(&nbsp;<br><br>Sebuah keluarga “kaya” keluar dari mobil itu. Bapak, ibu, dan juga puteri mereka semua memakai pakaian yang bisa gua bilang “sangat mewah”. Desa kami gapernah kedatengan warga tajir. Teman-teman gua sibuk memandangi dan mengomentari pasangan kaya itu dan mobil mereka. Sedangkan gua… sibuk membatu dan memandangi puteri mereka yang cantik jelita.&nbsp;<br><br>ADUH BU MAAP SAYA NGANTUK TAPI POKOKNYA SI CEWE NGAJAK SI BUDI BUAT TINGGAL DI JAKARTA SOALNYA SI CEWEKNYA NAKSIR DAN AKHIRNYA PACARAN. TERUS BUDI KAYAK DIMASUKIN KE SEKOLAH NEGRI YANG BAGUS. SI BUDI KEK CERITA KE SI CEWEK KALO DIA PENGEN JADI PILOT, TERUS SI CEWE NYEMANGATIN ALA2 CENTIL GITU TERUS BUDI JADI AMBIS BGT BELAJAR. TERNYATA SI CEWE ITU TIPE YANG GAMPANG BOSEN, SUKA TUKER2 AMA “NYOBA2” COWO, JADINYA TU CEWE KEPERGOK SELINGKUH AMA COWO LAIN. SI BUDI AKHIRNYA KESEL GARA2 DIA UDH NINGGALIN SEMUANYA DAN KELUARGA DIA DEMI CEWEK NAKAL.&nbsp;<br><br>pokoknya di akhir, budi jadi pilot elit. dan pada suatu hari, dia sadar kalo salah satu penumpang dia adalah si cewe itu. dan si budi sengajain deh jatohin pesawatnya :D<br><br>-the end-&nbsp;<br><br>(peringatan: ide di pikiran saya lebih bagus daripada di atas. saya gak tau aja cara nulisnya gimana. ending yang diatas ngasal btw) <br><br><br><br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-11 15:46:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/selimauludani/5gkrerwzitknpxyf/wish/2335544890</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
