<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Pandemi Covid-19 by rizqi indana zulfa ramli</title>
      <link>https://padlet.com/ririsss/530kow8fvf0bhw1s</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-07-24 03:33:09 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-09-22 00:52:29 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/8.0/png/1f9a0.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Penambahan Kasus Aktif Covid-19 di DKI Jakarta</title>
         <author>ririsss</author>
         <link>https://padlet.com/ririsss/530kow8fvf0bhw1s/wish/3527508153</link>
         <description><![CDATA[<p>Menurut data dari Pemprov DKI Jakarta saat ini, ada 11.245 pasien COVID-19 yang masih aktif dari total 49.837 kasus yang tercatat di Jakarta. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyatakan bahwa rasio positif (perbandingan kasus baru dengan jumlah orang yang diperiksa) selama seminggu terakhir di bulan September mencapai 12,2 persen. Angka ini jauh melampaui batas aman yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu 5 persen.</p><p><br></p><p>Sejak Maret 2020, DKI Jakarta menunjukkan peningkatan kasus aktif COVID-19 yang signifikan dibandingkan dengan daerah lain. Pada bulan Maret 2020, terdapat 608 kasus aktif. Angka ini terus melonjak, mencapai 3.345 kasus pada bulan April, kemudian 4.650 kasus pada bulan Mei, dan puncaknya mencapai 11.245 kasus aktif pada bulan September 2020.</p><p><br></p><p>"Dengan melihat kedaruratan ini, maka tidak banyak pilihan bagi Jakarta kecuali menarik rem darurat sesegera mungkin," ujar Anies. Rem darurat alias status PSBB itu akan diterapkan kembali mulai Senin, 14 September mendatang.</p><p><br></p><p>Sumber: <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://www.tempo.co/">https://www.tempo.co/</a></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/3279323846/dca92b2fc609a98a4819ad0d154d3cee/Screenshot__100_.png" />
         <pubDate>2025-07-24 03:36:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ririsss/530kow8fvf0bhw1s/wish/3527508153</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dampak Besar Pandemi di Sektor Ekonomi</title>
         <author>ririsss</author>
         <link>https://padlet.com/ririsss/530kow8fvf0bhw1s/wish/3527510333</link>
         <description><![CDATA[<p>Kondisi pandemi Covid-19 yang tidak kunjung menurun memberi dampak amat besar pada sektor ekonomi di Indonesia. Dr. R. Stevanus C. Handoko S.Kom., MM anggota DPRD DIY yang juga menjadi pengamat kebijakan publik dan pelaku bisnis, menyampaikan dua dampak besar pandemi Covid-19 bagi perekonomian nasional.</p><p><br></p><p>Dampak yang pertama yang sangat terasa dan mudah sekali dilihat adalah melemahnya konsumsi rumah tangga atau melemahnya daya beli masyarakat secara luas. Hingga saat ini, masyarakat mengalami penurunan daya beli yang sangat signifikan. PPKM yang terus berlanjut dengan berbagai aturan pengetatan menghambat masyarakat untuk beraktifitas ekonomi. Regulasi pengetatan diberbagai sektor dari aturan PPKM memberikan pengaruh terhadap naik turunnya sektor ekonomi.Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah diharapkan mampu memberikan terobosan untuk dapat memberikan solusi agar kemampuan daya beli masyarakat tetap dapat bertahan.</p><p><br></p><p>Dampak kedua yang cukup signifikan adalah pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Pandemik covid-19 mendorong semua orang untuk tidak lagi beraktivitas secara konvensional. Pembatasan pertemuan, pembatasan aktivitas berkerumun menjadi pemicu perlu adanya inovasi dengan pemanfaatan teknologi. Teknologi informasi dan komunikasi menjadi jembatan bagi semua pihak untuk terus dapat bertahan dalam berbagai kondisi. Adaptasi dan implementasi teknologi informasi dan komunikasi di sektor ekonomi sudah tidak bisa dihindari. Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi tidak hanya dimonopoli oleh kalangan tertentu atau pengusaha kelas atas, namun sudah menjadi kebutuhan semua kalangan saat ini. Namun demikian, menjadi hambatan bagi para pelaku bisnis yang belum mampu beradaptasi dan mengimplementasi teknologi informasi dan komunikasi dalam bisnis nya.</p><p><br></p><p>Sumber: <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://www.dprd-diy.go.id/dampak-besar-pandemi-di-sektor-ekonomi/">https://www.dprd-diy.go.id/dampak-besar-pandemi-di-sektor-ekonomi/</a></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-07-24 03:39:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ririsss/530kow8fvf0bhw1s/wish/3527510333</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dampak Covid-19 Terhadap Pendidkan di Indonesia</title>
         <author>ririsss</author>
         <link>https://padlet.com/ririsss/530kow8fvf0bhw1s/wish/3528404688</link>
         <description><![CDATA[<p>Di tahun 2020, dunia menghadapi pandemi yang sangat besar, yaitu pandemi virus COVID-19, yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, terutama dalam bidang pendidikan. Menurut UNICEF, “Pandemi COVID-19 berdampak negatif pada pembelajaran anak-anak di semua jenjang pendidikan di Indonesia.” Lebih buruknya lagi, pemerintah di seluruh dunia menerapkan kebijakan di mana masyarakat harus melakukan “lockdown” atau tinggal di rumah untuk mengurangi penyebaran virus. Kebijakan ini menghasilkan tantangan yang besar bagi dunia pendidikan, di mana kegiatan pembelajaran yang seharusnya dilakukan secara tatap muka beralih menjadi pembelajaran jarak jauh.</p><p><br></p><p>Salah satu dampak paling signifikan dari pandemi ini adalah ketimpangan akses pendidikan. Tidak semua siswa memiliki perangkat teknologi dan akses internet yang memadai untuk mengikuti pelajaran daring atau mengakses materi pembelajaran. Di daerah terpencil, banyak siswa yang kesulitan karena kurangnya infrastruktur. Padahal seharusnya, mendapatkan akses pelayanan pendidikan itu adalah hak bagi seluruh warga negara di dunia. Pada tahun 2020, berdasarkan informasi dari <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="http://Kompas.id">Kompas.id</a>, “Anak-anak di pedesaan yang memiliki komputer atau laptop dan sambungan internet di rumahnya kurang dari 15 persen, sedangkan di wilayah perkotaan hanya 25 persen anak memiliki komputer atau laptop dan sambungan internet.” Hal ini menyebabkan kesenjangan pendidikan antara siswa di perkotaan dan di daerah pedesaan semakin melebar.</p><p><br></p><p>UNICEF juga mencatat bahwa penutupan sekolah yang berkepanjangan dan pembukaannya kembali yang terhalang oleh COVID-19 berdampak pada 60 juta anak di Indonesia, menyebabkan ketertinggalan pembelajaran yang signifikan. Hal ini sangat berdampak bagi Indonesia karena generasi penerus bangsa kita tidak akan bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas jika hal ini terus berlanjut. Selain ketimpangan akses, efektivitas pembelajaran jarak jauh juga menjadi tantangan. Berdasarkan Kemenag RI BDK Jakarta, “Beberapa guru di sekolah mengaku, jika pembelajaran daring ini tidak seefektif kegiatan pembelajaran konvensional (tatap muka langsung), karena beberapa materi harus dijelaskan secara langsung dan lebih lengkap. Selain itu materi yang disampaikan secara daring belum tentu bisa dipahami semua siswa.”</p><p><br></p><p>Sumber : <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://binus.ac.id/character-building/">https://binus.ac.id/character-building/</a></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-07-25 04:41:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ririsss/530kow8fvf0bhw1s/wish/3528404688</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
