<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Pemikiran tokoh-tokoh Hubungan Internasional di Dunia dan di Indonesia (Hans J. Morgenthau &amp; Robert Gilpin) by Ninda Lutfianti</title>
      <link>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn</link>
      <description>Menurut pendapat Hans J. Morgenthau dalam hubungan Internasional &quot;stabilitas sistem dunia bergantung pada hegemon dan distribusi kekuatan&quot;, sedangkan menurut Robert Gilpin &quot;sistem dunia lebih stabil jika terdapat satu negara hegemon kuat yang mengatur perdagangan, keamanan, dan aturan global&quot;. 

Menurut pendapat anda manakah pendapat yang paling relevan untuk dapat menjaga stabilitas dan keamanan global dalam era Perang Dingin. Kaitkan dengan beberapa pendapat dari beberapa tokoh yang sudah kita diskusikan dipertemukan sebelumnya.</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-10-03 09:27:18 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-10-03 16:01:06 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f4ac.png</url>
      </image>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616859644</link>
         <description><![CDATA[<p>Assalamu'alaikum selamat malam ibu dosen dan teman presentasi. Saya Ade Rohidi ingin bertanya menurut Hans J. Morgenthau, Kepentingan nasional didefinisikan dalam kerangka kekuasaan, bagaimana konsep kepentingan nasional ala Morgenthau dapat digunakan Indonesia dalam menghadapi sengketa laut natuna utara dengan tongkok! Terima kasih</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-03 13:16:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616859644</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>imamrohidi</author>
         <link>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616864259</link>
         <description><![CDATA[<p>baik ibu</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-03 13:20:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616864259</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616867764</link>
         <description><![CDATA[<p>Menurut saya, pemikiran Robert Gilpin lebih relevan dalam era Perang Dingin. Stabilitas dunia terjaga karena ada dua hegemon besar, yaitu AS dan Uni Soviet, yg saling menahan diri agar tdk terjadi perang langsung. Kondisi ini sesuai dengan teori bipolar Kenneth Waltz yang menyebut sistem dua kutub lebih stabil daripada multipolar. Jadi, dominasi hegemon inilah yang membuat keamanan global relatif terjaga.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-03 13:22:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616867764</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616871100</link>
         <description><![CDATA[<p>Assalamualaikum.. </p><p>saya riscaya sihotang kelompok 5</p><p> izin menjawab bu </p><p>Menurut Hans J. Morgenthau, stabilitas dalam hubungan internasional bergantung pada keseimbangan kekuatan (balance of power). Artinya, tidak ada satu negara pun yang boleh terlalu dominan, sebab dominasi akan memicu perlawanan dari negara lain dan menimbulkan konflik. Konsep ini sangat relevan dalam era Perang Dingin, di mana Amerika Serikat dan Uni Soviet sama-sama menjadi kekuatan besar yang saling menahan agar tidak ada pihak yang benar-benar menguasai dunia. Sistem ini menciptakan deterrence (pencegahan) melalui senjata nuklir dan aliansi militer seperti NATO dan Pakta Warsawa.</p><p>Sementara itu, Robert Gilpin menekankan bahwa sistem dunia lebih stabil jika ada satu negara hegemon yang kuat dan mampu mengatur jalannya perdagangan, keamanan, dan aturan global. Pandangan ini disebut hegemonic stability theory. Dalam Perang Dingin, pandangan ini bisa dikaitkan dengan dominasi Amerika Serikat di dunia Barat yang menata sistem perdagangan internasional (IMF, World Bank, GATT) sekaligus menjadi pelindung keamanan melalui NATO. Gilpin beranggapan, tanpa kekuatan hegemon, sistem internasional cenderung kacau karena tidak ada pihak yang bisa menegakkan aturan bersama.</p><p>Jika dilihat dari relevansi pada masa Perang Dingin, pendapat Hans Morgenthau tampak lebih sesuai, sebab realitas saat itu ditandai dengan adanya dua kutub kekuatan besar (bipolar) yang saling mengimbangi. Sistem bipolar ini dianggap lebih stabil dibanding sistem multipolar, karena hanya ada dua aktor dominan yang menjaga keseimbangan. Perimbangan kekuatan inilah yang membuat Perang Dingin tidak berubah menjadi Perang Dunia III, meski ketegangan militer dan ideologi berlangsung hampir setengah abad.</p><p>Namun, pemikiran Gilpin juga tidak bisa diabaikan. Setelah runtuhnya Uni Soviet (1991), dunia sempat masuk ke fase unipolar dengan dominasi Amerika Serikat sebagai hegemon tunggal. Masa ini menunjukkan bahwa teori Gilpin relevan dalam menjelaskan stabilitas sistem internasional pasca-Perang Dingin, karena AS mampu mengatur perdagangan global dan keamanan melalui intervensi politik serta lembaga internasional.</p><p>Sekian dan terima kasih..</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-03 13:24:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616871100</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>imamrohidi</author>
         <link>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616877588</link>
         <description><![CDATA[<p>Mohon izin menjawab ibu dalam era Perang Dingin, pendapat Robert Gilpin tentang hegemonic stability theory lebih relevan untuk menjelaskan stabilitas dan keamanan global dibanding pandangan Hans J. Morgenthau. Gilpin menekankan bahwa sistem internasional lebih stabil jika terdapat satu negara hegemon yang mampu mengatur perdagangan, keamanan, dan aturan global. Hal ini terlihat pada dominasi Amerika Serikat sebagai hegemon liberal setelah Perang Dunia II, melalui lembaga-lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, dan NATO yang berfungsi menjaga keteraturan sistem.</p><p>Sementara itu, pendapat Morgenthau tetap penting karena menekankan distribusi kekuatan dan kepentingan nasional dalam kerangka realisme klasik. Pandangan ini relevan dalam menjelaskan politik kekuasaan bipolar antara AS dan Uni Soviet, di mana keseimbangan kekuatan (balance of power) mencegah terjadinya perang besar melalui doktrin deterensi nuklir.</p><p>Jika dibandingkan dengan tokoh lain, misalnya Kenneth Waltz dalam neorealisme, ia berpendapat bahwa stabilitas lebih terjamin dalam sistem bipolar, karena dua kekuatan besar dapat langsung mengontrol dan menyeimbangkan satu sama lain. Pandangan Waltz ini memperkuat argumentasi bahwa distribusi kekuatan (seperti dikatakan Morgenthau) memang menentukan stabilitas Perang Dingin.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-03 13:29:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616877588</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>imamrohidi</author>
         <link>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616879778</link>
         <description><![CDATA[<p>Dalam konteks era Perang Dingin, pandangan Robert Gilpin tentang perlunya hegemon kuat lebih relevan untuk menjaga stabilitas global, khususnya di blok Barat, namun harus dipahami berdampingan dengan gagasan Morgenthau tentang distribusi kekuasaan yang menjelaskan mengapa sistem bipolar relatif stabil.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-03 13:30:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616879778</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616894241</link>
         <description><![CDATA[<p>Assalamualaikum </p><p>Selamat malam bu</p><p>Saya eka Purwaningsih dari kelompok 4</p><p>Izin menyampaikan, dari beberapa pendapat kedua tokoh tersebut pendapat Robert galpin lebih relevan untuk menjelaskan stabilitas dan keamanan global pada masa perang dingin, dalam makalah juga terdapat penjelasan mengenai konsep Robert galpin yaitu hegemonic stability theory yang berpendapat </p><p>bahwa sistem internasional lebih stabil ketika ada satu negara hegemon yang dominan. Hegemon menyediakan barang publik internasional seperti keamanan, </p><p>stabilitas moneter, dan keteraturan perdagangan global</p><p>Karena sistem internasional yang stabil maka akan menciptakan satu negara hegemon yang kuat </p><p>Pada masa perang dingin memang menciptakan suatu ketegangan, namun terdapat kekuatan besar dari AS dan Uni Soviet, sehingga kedua negara itu membentuk tatanan internasional berdasarkan kepentingan mereka, seperti AS dengan sistem ekonomi pasar bebas dan institusi internasional seperti IMF dan PBB, sedangkan Uni Soviet membentuk Pakta Warsawa dan sistem ekonomi sosialis. Dominasi dua hegemon ini menciptakan keseimbangan kekuatan global yang relatif stabil meski ada ketegangan</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-03 13:39:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616894241</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nugraharizal343</author>
         <link>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616908680</link>
         <description><![CDATA[<p>saya Rizal dari kelompok 3, jadi yang secara singkat nya pemikiran morgenthau itu menekan kan kepentingan nasional yang mana di definisikan sebagai kekuasaan sedangkan gilpin fokus nya lebih perubahan sistem internasional dan ekonomi politik global. lalu mengenai perang dingin ini kalo kita melihat dari karya nya seperti di materi kami yaitu politics among nations yang mana menjelaskan negara selalu bertindak untuk mengejar kepentingan nasional nya yang paling utama adalah kekuasaannya dari militer ekonomi dan politik. nah selama perang dingin ini adalah manifestasi sempurna karena dimana AS dan Uni Soviet terlibat dalam permainan zero - sum untuk memperluas pengaruh global mereka. tapi teori gilpin juga sangat relevan untuk menjelaskan stabilitas di dalam blok barat, seperti AS bertindak sebagai hemon bagi Dunia Bebas. AS menciptakan tatanan ekonomi dan kemanan yang stabil bagi sekutunya. nah dari tatanan tersebut ini memungkin kan negara negara eropa barat dan Jepang untuk pulih dan makmur yang pada akhirnya memperkuat aliansi anti-soviet</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-03 13:47:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616908680</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>gantengtaufiq79</author>
         <link>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616910065</link>
         <description><![CDATA[<p>Saya Muhammad Ramadhan Taufiq izin menjawab Bu...antara dua pendapat tokoh tersebut ,kalo mengenai tentang konflik klasik seperti perang dingin berarti pendapatnya Morganthau,klo mengenai dinamika kontemporer berarti yg relevan pendapatnya gilphin...</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-03 13:48:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616910065</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nugraharizal343</author>
         <link>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616927789</link>
         <description><![CDATA[<p>jadi pada akhirnya kalo melihat teori gilpin itu menjelaskan kohesi dan keberhasilan blok barat, tetapi morgenthau juga menjelaskan mengapa kedua blok tersebut tidak saling menghancurkan saja gitu dalam perang terbuka. oleh karena itu, untuk stabilitas global. jadi menurut saya konsep balance of power morgenthau lebih fundamental </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-03 13:58:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616927789</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>zikriiking02</author>
         <link>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616937718</link>
         <description><![CDATA[<p>Saya zikri dari kelompok 6 izin menjawab ibu ... Kalau bicara era Perang Dingin, menurut saya pandangan yang paling relevan adalah Hans J. Morgenthau.</p><p><br/></p><p>Kenapa? Karena Perang Dingin itu bukan soal ada satu negara hegemon tunggal yang mengatur dunia (seperti kata Gilpin), tapi justru stabilitasnya lahir dari keseimbangan kekuatan antara dua blok besar: Amerika Serikat dengan blok Barat (kapitalis-demokratis) dan Uni Soviet dengan blok Timur (komunis).</p><p><br/></p><p>Sistem ini melahirkan semacam “stabilitas ketakutan” atau balance of terror. Kedua pihak sama-sama kuat—baik secara militer (terutama nuklir) maupun ekonomi—sehingga mereka saling menahan diri. Tidak ada yang berani menyerang langsung karena konsekuensinya bisa kehancuran bersama (mutually assured destruction).</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-03 14:04:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616937718</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>msdkuncoro</author>
         <link>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616944332</link>
         <description><![CDATA[<p>Mas Dewi Kuncoro, menurut saya pribadi dalam menjaga stabilitas dan keamanan militer global di era perang dingin adalah pendapat dari Hans J Morghentaun. Karna stabilitas itu lebih banyak ditentukan oleh Balance of Power Militer and Nuclear antara US dan Uni Soviet<strong>. </strong>Tanpa kesadaran akan batas kekuasaan, berbeda dalam pendapat Robert Glipin yang dimana menjelaskan mengapa US menciptakan lembaga ekonomi internasional, dan kenapa muncul kompetisi ideologi-ekonomi dengan Uni Soviet.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-03 14:08:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616944332</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616948443</link>
         <description><![CDATA[<p>Assalamualaikum Wr.Wb saya Lanita Hanifati dari kelompok 5 izin menjawab. Menurut saya jika dalam konteks Perang Dingin, pandangan Hans J. Morgenthau lebih relevan dibanding Robert Gilpin, karena stabilitas global saat itu tidak ditentukan oleh satu hegemon tunggal, melainkan oleh keseimbangan kekuatan (balance of power) antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Bipolaritas ini menciptakan “balance of terror” melalui deterrence nuklir serta aliansi militer (NATO vs Pakta Warsawa), yang mencegah perang dunia besar meskipun terjadi konflik proxy. Pemikiran ini sejalan dengan gagasan John Locke tentang kontrak sosial, di mana stabilitas tercapai jika ada kesepakatan aturan bersama dalam konteks internasional, tampak pada perjanjian SALT dan norma nuklir yang disepakati dua kutub besar. Sementara itu, gagasan Montesquieu tentang pemisahan kekuasaan juga dapat diterapkan dalam sistem internasional, kekuatan yang terbagi ke dalam dua blok besar justru menciptakan semacam “pembagian kekuasaan global” yang mencegah dominasi absolut satu pihak. Dengan demikian, perpaduan antara teori realisme Morgenthau dan nilai-nilai liberal klasik Locke serta Montesquieu menunjukkan bahwa stabilitas Perang Dingin lahir dari kombinasi balance of power dan adanya aturan serta pembatasan kekuasaan di tingkat global.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-03 14:11:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616948443</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nugraharizal343</author>
         <link>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616952918</link>
         <description><![CDATA[<p>lalu mengenai tokoh yang sudah kita bahas di Minggu lalu seperti montesquieu dalam perang dingin membantu menjelaskan mengapa perang dingin bukan hanya perebutan kekuasaan seperti yang di maksud morgenthau, tetapi konflik ideologis antara dua sistem politik yang fundamental berbeda. lalu John Locke mewakili cita cita ideologis barat seperti demokrasi, ham, supermasi hukum dan mungkin kerja sama melalui institusi internasional. meskipun realitas nya perang dingin didominasi oleh logika kekuasaan morgenthau, tapi tujuan akhir AS dan sekutunya didasarkan pada prinsip Locke. jadi sementara morgenthau menjelaskan strateginya sedangkan Locke menjelaskan ideologi nya. dan lagi perang dingin itu kan baik AS maupun Uni Soviet tidak percaya satu sama lain untuk melucuti senjata, seperti ketakutan akan penghianatan inilah yang mendorong perlombaan senjata tanpa akhir itu lah sebuah cerminan dari pesimisme rousseau terhadap kerja sama dibawah anarki. pemikiran morgenthau tentang perjuangan abadi untuk kekuasaan berakar pada pandangan pesimistis ala rousseau ini..</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-03 14:14:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3616952918</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nindalutfianti11</author>
         <link>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3617014345</link>
         <description><![CDATA[<p>Dalam era perang Dingin, dunia ada dalam kondisi bipolar (terdapat dua kekuatan besar yaitu AS dan Uni Soviet). Hal ini menggambarkan apa yang disampaikan Thomas Hobbes mengenai kondisi alamiah manusia yaitu “perang melawan semua”. dan Machiaveli, di mana negara menggunakan segala cara demi mempertahankan kekuasaan dan pengaruhnya.</p><p><br></p><p><strong>Hans J. Morgenthau </strong>menekankan bahwa stabilitas sistem internasional bergantung pada “distribusi kekuatan yang terwujud melalui mekanisme <em>balance of power”. </em>Sedangkan, Robert Gilpin menekankan bahwa dunia lebih stabil jika dipimpin oleh satu hegemon. Melalui dua penekanan yang dikeluarkan oleh kedua tokoh tersebut terlihat bahwa sebenarnya tdk menggambarkan adanya stabilitas dan keamanan global. Karena jika melihat apa yang disampaikan oleh Gilpin, sangat tidak mencerminkan adanya kekuatan yang dipimpin oleh satu hegemon. Berbeda dengan Hans J. Morgenthau yang justru memberi penekanan pada mekanisme balance of power, yang mana hal tersebut tercermin dalam aksi-aksi yang dilakukan oleh sebagian besar negara untuk tidak terlibat dalam perang langsung. Seperti halnya pembentukan GNB dan ASEAN, menjadi sebuah alternatif untuk tidak terlibat dalam konflik dan justru menjadi sebuah usaha menuju <em>balance of power.</em></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-03 14:55:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindalutfianti11/4e79ba92olbd8qmn/wish/3617014345</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
