<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Kala senja memancarkan indahnya by Lisma Wrn</title>
      <link>https://padlet.com/lismaawrn/4a70920vyyhfftug</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2023-05-22 18:46:26 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2023-05-31 14:27:26 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title></title>
         <author>lismaawrn</author>
         <link>https://padlet.com/lismaawrn/4a70920vyyhfftug/wish/2600460551</link>
         <description><![CDATA[<div>Aku membopong ranselku berlari kecil diantara gemericik air hujan. Jalanan mulai sepi dipenuhi aroma basah dari dedaunan ditemani dengan genangan air hujan sebagai bukti bahwa ia jatuh hari ini. Aku duduk di halte bus menunggu bus terakhir. Seraya menunggu, aku memerhatikan taman di seberang halte. Tampak dua kaki kecil berlarian dengan senyum yang merekah dan sesekali tertawa, mereka habis diguyur hujan. Sepintas hal itu membawaku pada kejadian sepuluh tahun silam dimana aku turut bermain hujan bersama seseorang, mengingat itu tanpa sadar bibirku mengguratkan senyum. Senja memecah lamunanku, sudah tiga puluh menit berlalu namun satu bus pun tak kunjung menghampiri. Angin menyapu seluruh jalanan hingga dinginnya menyentuh kulitku, membuat gemertakan diantara gigiku. Aku mengelus lututku dan memeluk diriku sendiri “dingin sekali” batinku. Sebuah mobil sedan berhenti tepat di ujung jalan, menurunkan seorang penumpang wanita yang sedang meracau, tak lama mobil itu meninggalkan sang wanita sendirian. Wanita itu berjalan menghampiri halte dengan wajah yang kesal sementara bibirnya tak berhenti bergerak. Mobil sedan putih itu kembali, seorang pria menjerit bertanya apakah sang wanita tak ingin masuk dan sang pria berkata kembali bahwa dia tak membujuknya tetapi hanya kewajiban untuk mengantar kembali pulang. Wanita itu mengumpat dan menyuruhnya pergi, mobil putihpun menghilang diujung jalan melewati kabut sore itu. Sang wanita menangis dan terus meracau seperti orang mabuk. Sedikit pertunjukan kecil di minggu sore pikirku, ini membuat kupu-kupu diperutku seakan berputar, sangat geli mendengar ocehannya yang mengisi keheningan kota. Sang wanita beranjak dari tempat duduknya dan berjalan pergi menjauhi halte sambil menangis. Akupun turut beranjak, saatnya jalan kaki untuk pulang. Baru saja aku bangkit namun sebuah jemari menahan lenganku. Aku menoleh dan mendapati seorang lelaki yang aku kenali, dia sosok yang pernah aku cintai. “Aku ragu tadi apakah ini benar dirimu,” ucapnya. Aku membeku, tak percaya ini terjadi. Sosok yang ku pikir takkan pernah ku temui lagi ternyata muncul dihadapanku. Nafasku seakan berhenti, darahku berdesir. “Ada apa?” Dia mulai bertanya, “kenapa kau disini?” Hanya itu yang terucap dibibirku. Dia menjawab bahwa ingin bertemu denganku,”aku berjanji akan menemuimu kembali bukan?”. Aku tak percaya bahwa perpisahan buruk itu membawanya kembali padaku. Saat itu, ia katakan bahwa ia tak lagi mencintaiku dan ia harus pergi jauh. Aku hancur mendengarnya, aku mengatakan bahwa aku ingin tetap mencintainya dan berharap dapat bertemu lagi meskipun semua terdengar semu. Tahun ke tahun aku percaya kami dapat bertemu, namun semakin lama kepercayaan itu perlahan pudar. Hari ini lelaki ini tepat dihadapanku, sedikit membenci namun haru. “Sedetikpun aku tak pernah tak mencintaimu, selalu. Meninggalkanmu saat itu karena aku tak memiliki apapun untuk kujanjikan kepadamu, maafkan aku,” ia berkata dan meraih tanganku. Aku memeluknya, tangisku pecah dengan air mata yang membahasi bajunya, sore itu ia mengatarku pulang. Tahun telah berlalu, kini aku membopong seorang anak kecil dipunggungku sambil berlari kecil menuju halte. Rintik hujan berjatuhan membawa kami kembali pada masa lalu tapi kali ini jalanan cukup ramai. Ia turut membawa anak kecil digandengannya, hujan jatuh semakin deras. Kedua anak kami bermain hujan sementara dia merangkulku. Disebelah kami dua pasangan paruh baya sedang bercengkrama dengan romantisnya, di ujung jalan sebuah mobil menurunkan penumpang. Mataku terbalalak tatkala melihat seorang wanita turun dengan anak usia tiga tahun. Wanita itu meracau dan dengan wajah kesal menuju halte. Wanita ini adalah wanita yang aku temui beberapa tahun lalu di halte ini, adegan yang sama kembali kutemui. Ia memerhatikanku seakan mengenaliku, “1,2,3” aku menghitung, mobil tadi kembali. Seorang pria kini turun dan bertanya apakah wanita itu tak ingin naik, dan pria itu berkata kembali “aku tak membujukmu, hanya mengkhawatirkan anakku.” Wanita itu mendengus kesal namun ia memilih untuk masuk kembali ke mobil, tak seperti dahulu. Lucu sekali batinku, seorang pria yang sangat gengsi untuk membujuk dan seorang wanita yang juga sama gengsinya. Bus terakhir tiba, aku dan suamiku tak bergerak, kami hanya ingin menikmati suasana senja dipinggir kota seraya mengenang pertemuan kami.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-05-22 18:25:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/lismaawrn/4a70920vyyhfftug/wish/2600460551</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
