<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Aku Pulang by iffah-B-062</title>
      <link>https://padlet.com/bahriyyahiffah/TugasPOV_AkuPulang</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-09-23 03:44:16 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-09-23 04:08:40 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Iffah_062_B</title>
         <author>bahriyyahiffah</author>
         <link>https://padlet.com/bahriyyahiffah/TugasPOV_AkuPulang/wish/3598814415</link>
         <description><![CDATA[<p>hari ini cina mendung. sore sore, aku melangkahkan kaki dengan cepat menuju bandara. hatiku berdebar, antara senang karena akan pulang kampung dan cemas karena akan naik pesawat. maklum, aku sedikit penakut. bandara sore ini ramai padat, cukup bising akibat polusi suara. aku duduk di bangku panjang sambil melipat tangan. penerbangan masih satu jam lagi. kupasang headset di telinga, memutar lagu Berita Kepada Kawan milik Ebiet G. Ade. Tak terasa, pengumuman keberangkatan pesawat boing 737 sayup terdengar. aku segera menggendong ransel dan menggeret koperku yang berisi pakaian dan oleh oleh untuk keluarga. aku tersenyum lebar.</p><p><br/></p><p>aku melangkah pelan di lorong pesawat, menuju kursi di samping jendela. kupanjatkan doa untuk keselamatan diri dan orang orang. sebelum berangkat, temanku membawakan bekal sandwich untukku. oh betapa nikmatnya. setelah kenyang, aku mengantuk. headset masih terpasang rapi di telinga, lagu yang disetel sudah berganti beberapa genre. perlahan, aku tertidur lelap.</p><p><br/></p><p>tiba tiba, tubuhku terguncang. aku membelalakkan mata, kaget. terbangun dengan jantung yang berdegup cepat. ya tuhan, apa yang sedang terjadi?</p><p>setelah lima detik, aku tersadar. pesawat kami terguncang. suara peringatan dari announcer terdengar samar, menyuruh mengencangkan ikat pinggang dan memasang masker oksigen. aku panik, semua panik. koperku jatuh dari atas dan menimpa sebagian kepalaku. aku mengambil handphoneku dengan susah payah, membuka aplikasi whatsapp, mengirim sedikit pesan suara ke grup keluarga.mataku terpejam sambil merapal doa. aku tidak bisa melihat keadaan sekitar karena mataku mulai kabur, tapi aku tahu itu sangat chaos.</p><p>kondisi pesawat makin tak karuan. dari jendela, aku melihat ekornya terbakar. perlahan terbakar, sampai ke sayap. asapnya menebal menjadi hitam pekat. percikan api menyebar, aku tersentak. pesawat terhuyung, sempoyongan.</p><p><br/></p><p>BOOMMM!!! pesawat jatuh. tubuhku terpental keluar jendela. jatuh ke laut. aku menyaksikan orang orang jatuh bertebaran di laut biru. puing puing pesawat sebagian mengambang, ada yang tenggelam juga. aku panik sejadi jadinya. tanganku merayap ke atas air, mencari udara. hidungku kembang kempis. mulutku setengah terbuka berikhtiar di detik terakhir. aku tahu ini tidak lama lagi, tapi setidaknya aku mengusahakan semuanya. aku terpejam, didekap laut biru yang beranjak merah.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-23 03:50:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/bahriyyahiffah/TugasPOV_AkuPulang/wish/3598814415</guid>
      </item>
      <item>
         <title>POV 3_KaylaNafisah_079_B</title>
         <author>kayla25039</author>
         <link>https://padlet.com/bahriyyahiffah/TugasPOV_AkuPulang/wish/3598814675</link>
         <description><![CDATA[<p>Sinar matahari menyorot di sore hari pertanda akan terbenam terlihat ika akan pulang ke kampung halaman menemui keluarganya. Ika sedang menunggu penerbangan sambil membawa koper menuju ke gerbang pesawat yang akan ia naiki. Mencari tempat duduk yang sudah tertera di dalam tiket memasukan koper ke kabin pesawat dan ika sangat menanti untuk segera sampai di kampung halamannya yaitu Indonesia.</p><p><br></p><p>Duduk melihat kearah jendela melihat pemandangan selama perjalanan. Ika duduk tepat sejajar dengan sayap pesawat. Ika menguap menandakan ia sudah mengantuk. Matanya perlahan-lahan menutup dan tertidur lelap, ditengah tidurnya ika merasakan getaran yang ternyata pesawat tersebut mengalami turbulence. Pesawat tak kunjung stabil akan tetapi pilot memberi tahu untuk mengencangkan sabuk pengaman.</p><p><br></p><p>&nbsp;Pilot berusaha semaksimal mungkin agar pesawat tetap stabil akan tetapi ada yang salah dengan mesin pesawat yang sedang di tumpangi oleh ika. Semakin lama wajah Ika yang awalnya sangat bahagia karena ingin pulang ke kampung halaman namun itu hanya akan menjadi di dalam mimpinya saja, sekarang ika menutup matanya berpegangan dan mengucap banyak doa di dalam hatinya meminta agar tuhan menyelamatkannya.&nbsp;</p><p><br></p><p>Ika terlarut dalam doanya seketika mendengar pilot mengumumkan pesawat akan segera jatuh dan meminta untuk memasangkan masker oksigen yang turun dari langit-langit pesawat dan segera untuk mengirimkan pesan kepada keluarga. Ika mengirimkan pesan suara yang berisi “mah pah, mungkin hari ini Ika tidak jadi bertemu kalian, ika minta maaf ya karena belum sempat meluangkan waktu untuk bertemu dengan kalian. Ika tidak bisa makan soto mang ali lagi bersama kalian. Mah pah tolong doakan Ika ya.” air mata jatuh menetes tidak karuan.&nbsp;</p><p>Teriakan terdengar semakin histeris dari seluruh penumpang. Harapannya hilang pada awalnya Ika sangat berbahagia karena sangat menanti kepulangannya ke Indonesia yang ternyata itu hanya sekedar harapan yang tak pernah menjadi kenyataan. Suara ledakan keras terdengar dari arah belakang yang membuat penumpang lain makin menjerit histeris. Aroma terbakar tercium oleh Ika, Ika melihat keluar jendela asap dari pesawat tersebut sudah tak terkendali menutup langit. Pesawat semakin cepat turun ke dasaran bumi, tepat ditengah kegelapan pesawat mengenai hamparan air laut.&nbsp;</p><p><br></p><p>Ika berusaha untuk menyelamatkan dirinya mencari oksigen berenang mengetuk jendela meminta pertolongan. Ika melihat sekitar sudah banyak yang tak bernyawa itu membuat semakin ketakutan. Menunggu pertolongan itu hanya sebuah harapan, ika berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan diri, semakin lama waktu berlalu usaha ika sia-sia karena adanya tekanan membuat ika susah bergerak. Air mulai memasuki tubuhnya membuat ia susah bernafas. Tenaganya semakin terkuras dan kunjung lemas kehilangan oksigen dan menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-23 03:50:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/bahriyyahiffah/TugasPOV_AkuPulang/wish/3598814675</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Safa - 104 - C - POV Kedua</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/bahriyyahiffah/TugasPOV_AkuPulang/wish/3598815917</link>
         <description><![CDATA[<p>Kamu melihat sekitarmu. Disaat orang lain sudah berpegangan tangan dengan yang terkasih, kamu masih harus melewati samudra untuk pulang ke pelukan keluargamu. </p><p><br/></p><p>Kopermu terasa berat, badanmu sudah mulai letih menyusuri bandara. Suara pekerja yang lantang menyerukan penerbangan dari China ke Indonesia membuatmu tersenyum. Akhirnya kamu bisa pulang. </p><p><br/></p><p> di sebelah kaca pada Boeing 737 bukan perasaan baru bagimu. Kali terakhir kamu menaikinya, kamu pergi meninggalkan negeri tercintamu. Semua rindu akan terbalaskan nanti, pikirmu. Tanpa takut, kamu pun perlahan terlelap dalam tidur, berfikir bahwa akan terbangun di tanah air tercinta. </p><p>Suara grusak-grusuk dari kursi sebelah membangunkanmu. Kamu menggerutu kesal, tidak ingin membuka mata. Samar-samar kamu dengar orang itu mengucap cepat, seakan berdoa. Kamu berniat menegur, namun badanmu dibangunkan oleh hal lain. </p><p>Pesawatnya bergetar hebat tanpa kendali! </p><p>Kamu spontan terkejut, matamu membuka lebar karena getaran itu. Orang di sebelahmu akhirnya menoleh kepadamu, seakan-akan putus asa. Pramugari di sayap depan masih berusaha menenangkan, membuatmu memiliki secercah harapan. </p><p><br/></p><p>Harapan tersebut tak tinggal lama, pesawat dikejutkan oleh suara keras. Semua penumpang pun histeris, merasa kalau sudah habis disinilah mereka. Masker oksigen turun di hadapanmu, membuatmu sadar atas gentingnya suasana ini. Kamu menonggakkan kepalamu, berharap bahwa mungkin akan dapat petunjuk dari seorang pramugari. Naas, yang kamu temukan hanyalah wajah pucat, seperti tahu akan nasib akhirnya. Pengumuman buruk itu datang. Himbauan untuk menghubungi keluarga di rumah, memberi kabar bahwa kamu mungkin tidak kembali. </p><p><br/></p><p>Kamu pun terdiam kaku. Kebingunganmu sudah mulai terhapus, digantikan perasaan putus asa. Setelah segalanya, apakah kamu hanya selesai disini? Inilah akhir dari semuanya? Batinmu. Tanpa kamu sadari jari jemarimu sudah membuka grup keluarga, jempolmu memencet tombol pesan suara, dan suara paraumu akhirnya keluar untuk menyampaikan sebuah pesan. </p><p><br/></p><p>"Pa, Ma, pesawat yang ditunggangi Ika sepertinya akan terjatuh. Maaf ya, Ma, Pa, Ika mungkin tidak bisa pulang. Maaf Ika belum bisa makan soto Mang Ali sama kalian lagi. Do'akan Ika ya."</p><p><br/></p><p>Dunia seperti blur dimatamu, asap yang mengumpul di belakang pesawat mulai masuk dalam pandanganmu. Dentuman, dentuman, dentuman. Semua itu kamu dengar berulang kali. Kamu tahu tidak ada jalan keluar dari ini. Pilihan akhirmu hanyalah jatuh ke bawah bersama rongsokkan pesawat. Melihat bawah pun kamu tak sudi. Hanya ada hamparan air yang luas menyambutmu. Buka Mamamu, bukan Papamu, tapi laut. </p><p><br/></p><p>Kamu bahkan tak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba paru-parumu di isi air, membuatmu kesulitan bernafas. Kamu mencoba untuk berenang keatas, memikirkan bahwa kamu masih ingin bertemu lagi dengan keluarga. Namun sayangnya, staminamu bukan stamina atlet. Bagaimanapun caramu mencoba, badanmu seperti terlalu berat, terlalu lelah. Matamu perlahan melihat hitam dan badanmu menjadi kaku. Walaupun mulutmu tertutup, kamu merasakan rasa Soto Mang Ali secara samar-samar di lidahmu untuk terakhir kalinya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-23 03:51:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/bahriyyahiffah/TugasPOV_AkuPulang/wish/3598815917</guid>
      </item>
      <item>
         <title>POV - Orang Kedua </title>
         <author>aubrey25001</author>
         <link>https://padlet.com/bahriyyahiffah/TugasPOV_AkuPulang/wish/3598816907</link>
         <description><![CDATA[<p>Aubrey Lamia Putri Hapsari / C / 121</p><p><br/></p><p>Kamu telah menanti momen ini sejak lama, yaitu pulang ke rumah. Suasana di bandara hari itu cukup tenang, mungkin karena penerbangan tidak terlalu padat. Kamu melihat orang berlalu-lalang, dengan mimik wajah yang berbeda-beda. Suara pengumuman dari pengeras suara membuatmu merasa gugup. Untuk entah ke berapa kalinya, kamu mengecek tiket untuk memastikan segala hal sudah sepenuhnya siap.</p><p><br/></p><p>Pintu gerbang terbuka, kamu menyeret kopermu dan melangkah ke dalam pesawat. Senyum pramugari menyambutmu dengan hangat, kamu membalas senyumannya dan berjalan ke tempat dudukmu dekat jendela. Kamu menyimpan kopermu di kabin dan mengenakan sabuk pengaman. Terlihat dari luar, matahari mulai terbenam pertanda malam telah tiba.</p><p><br/></p><p>Beberapa menit setelah lepas landas, matamu terasa berat. Kepalamu mulai bersandar ke jendela pesawat, suara mesin seakan menjadi lagu pengantar tidur, membawamu ke alam mimpi.</p><p><br/></p><p>Saat kamu membuka mata, dunia telah berubah.</p><p><br/></p><p>Pesawat terguncang dengan hebat. Kamu melihat sekelilingmu panik dan lampu kabin mulai berkedip. Jantungmu mulai berdegup dengan cepat, napasmu memburu. Tidak lama kemudian, kamu mendengar suara ledakan. Dengan cepat kamu menoleh ke luar jendela dan melihat api melahap pesawat itu pelan-pelan.</p><p><br/></p><p>Pengumuman dari pilot seperti menghantammu seperti guntur. Katanya, kami tidak bisa selamat. Dengan cepat, kamu menghubungi keluargamu, berharap pesan itu tersampaikan.</p><p><br/></p><p>Penumpang lain ada yang mulai menjerit, ada yang menangis, dan ada juga yang berdoa. Topeng oksigen mulai jatuh dari langit-langit.</p><p><br/></p><p>Belum sempat untuk meraih topeng itu, kamu mendengar ledakan untuk kedua kalinya. Tubuhmu terlempar bersama kursi, bersama segalanya. Di saat bersamaan, pesawat menghantam laut.</p><p><br/></p><p>Kamu tenggelam. Tubuhmu terlalu berat untuk melawan. Air mulai memenuhi dada. Pandanganmu mulai kabur. Semuanya gelap.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4336681109/f4e6e0fb8d062ad9474819921d76c8d5/934CCE99_8AD6_4862_B359_65F8E0EA0D9B.jpeg" />
         <pubDate>2025-09-23 03:52:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/bahriyyahiffah/TugasPOV_AkuPulang/wish/3598816907</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nailah Nursyifa_C_140_POV KETIGA </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/bahriyyahiffah/TugasPOV_AkuPulang/wish/3598823079</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>                   Aku pulang </strong></p><p><br/></p><p>Matahari hampir terbenam ketika kala itu. Berjalan dengan langkang cepatnya di lantai biru yang licin, juga dengan ramainya Bandara kala itu. Ika mengantree untuk memasuki pesawat Boeing 737 dari China. Ia menggegam paspornya dengan erat. Senyumnya merekah, matanya menyipit. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Kedua orang tuanya di Jakarta. Segera setelah memasuki pesawat ia menduduki seat nya di dekat jendela, untuk memandangai langit malam.</p><p><br/></p><p>Perjalanan itu memakan waktu yang cukup lama, Ika tertidur lelap karena kelelahan setelah menyelesaikan perkuliahaannya. Ika merupakan mahasiswi semester 3 yang kuliah di China. Ia membuka matanya ketika pesawat mengalami turbulensi pertama, gumpalan awan cumulus menghalangi jalannya pesawat, disusul dengan badai angin yang cukup kencang. Getaran hebat terjadi di dalam pesawat, Ika bersiap. Menit berlalu, namun turbulensi tidak juga berhenti. Keringat dingin membasahi keningnya. Wajahnya pucat, dadanya sesak. Rapalan doa ia bacakan, mulutnya tidak berhenti bergerak. Tangannya mengepal kedada. Suara berisik makin terdengar, banyak para penumpang teriak histeris. Kru pesawat berusaha menenangkan, namun terhuyung dan terpental ke bagian belakang pesawat. Tidak ada jalan keluar bagi mereka.</p><p><br/></p><p>Beberapa menit berikutnya, di tengah kepanikan yang semakin menggila, suara pilot mengudara, merobek sisa-sisa harapan. Pengumuman itu laksana vonis mati. Penumpang di kapal ini tidak bisa selamat, terlihat di wajah mereka pasrah. Pilot pesawat menyuruh para penumpang memberikan pesan terakhir ke orang terdekat mereka. Dengan tangan yang gemetar. Ika cepat membuka gawai nya, dengan tetap merapalkan doa. Hanya sebuah pesan suara yang Ia kirimkan di grup keluarganya. Membuka bibir pasrah dengan hidung yang memerah, Ika mulai merekam suaranya. ‘’ Mah, Pah, sepertinya pesawat yang ditumpangi Ika tidak bisa selamat, mungkin kita tidak bisa betemu lagi di Jakarta. Tidak bisa makan Soto Mang Ali bersama, dan mungkin Ika tidak bisa melanjutkan kuliah lagi setelah ini. Mohon berikan doa untuk Ika ya, Mah, Pah.’’ suaranya parau, hancur oleh isak tangis yang tak tertahankan. Pesan itu terkirim, membawa serta serpihan hatinya yang telah remuk.</p><p><br/></p><p>Masker oksigen mulai di turunkan, teriakan penumpang makin keras, pengumuman kembali terdengan tentang kerusakan mesin pesawat. Di balik jendela asap tebal semakin banyak, di susul dengan nyala api. Ekor pesawat perlahan lahan mulai terbakar, dengan keadaan pesawan miring dan akan segera terjatuh ke bawah. Ika menyaksikan ajalnya sendiri. Ketakutan sendirian, juga berdoa sendirian. Nyala api semakin mendekat, namun pesawat lebih dulu jatuh ke Laut. Benturan badan pesawat dengan air laut dingin mengudara, meledekan suara keras. Ika masih sadar ketika kemudian air mulai masuk ke badan pesawat, diam diam menenggelamkannya, jauh kedalam, sebelum sempat ia berenang ke atas. Laut memeluknya erat, dengan merah darah airnya. Kesadarannya mulai memudar, perlahan, air menariknya semakin dalam, jauh dari cahaya, menenggelamkan jasad dan mimpi-mimpinya yang tak sempat terwujud.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-23 03:56:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/bahriyyahiffah/TugasPOV_AkuPulang/wish/3598823079</guid>
      </item>
      <item>
         <title>POV orang pertama_Kireina Aulia Dewi_061_B</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/bahriyyahiffah/TugasPOV_AkuPulang/wish/3598839483</link>
         <description><![CDATA[<p>Aku menatap sekian banyak orang sibuk berlalu lalang di ruang tunggu bandara. Terbayang jelas di otakku bahwa orang-orang itu mungkin saja akan menemui orang-orang tersayangnya. Pikiranku kembali pada tujuanku. Aku termangu, Menunggu petugas bandara menyebutkan open gate untuk keberangkatanku dari China menuju Jakarta dengan pesawat Boeing-737. Tak sabar aku bertemu keluargaku tercinta, setelah sekian lama berada di China untuk mengemban ilmu.</p><p>Saat waktu keberangkatanku tiba, aku melangkah penuh semangat dengan segenap rindu yang kusimpan. Rindu tak tertahan kepada keluargaku, terbayang wajah wajah manis mereka menungguku dengan hangat di ruang tamu rumah, bersama-sama siap menyantap hidangan kesukaan keluarga kami, Soto Mang Ali.</p><p><br/></p><p>Sesaat setelah aku masuk dan duduk di kursi pesawat tepat di samping jendela, rasa ngantuk menyergapku dan mataku seketika terpejam. Aku terlelap. Nyenyak. Hingga kemudian…</p><p>Mataku yang masih terpejam tiba-tiba merasakan getaran hebat. Mataku perlahan terbuka, masih sayup-sayup. Aku masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Seolah mimpi buruk, tiba-tiba suara kru pesawat mengumumkan emergency, mengundang rasa panik seisi pesawat, disusul oleh guncangan yang kian lama kian bergetar hebat. Pandanganku terfokus pada lampu dalam pesawat yang berkedip tak karuan, koper-koper di bagasi mulai ambruk berjatuhan, menciptakan suara dentuman keras disertai suara gemuruh teriakan seisi pesawat yang panik luar biasa. Dengan cepat aku menarik masker oksigen yang ada di depanku dengan tangan gemetar dan napas yang tak karuan. Aku menatap ke luar jendela dan aku bisa merasakan pesawat ini melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, siap mengantar lautan luas dibawah sana. Aku hanya bisa memejamkan mata dan berdoa, meski aku tahu kesempatan untuk hidup bahkan mungkin sudah tidak ada. Tiba-tiba aku teringat akan keluargaku. Keluargaku yang menungguku dirumah. Keluargaku yang siap menyambutku. Dengan tangan gemetar hebat aku meraba dan meraih ponselku di saku. Aku buka aplikasi WhatsApp dan segera memencet grup chat yang ku sematkan, “My Lovely Family❤️”.</p><p>Kutekan tombol voicenote dan kuberucap dengan lirih sambil kupejamkan mataku,</p><p>“Ma,Pa, pesawat yang aku tumpangi…me..mengalami kecelakaan, ss..sepertinya kita..hiks..tidak bisa…hiks…bertemu dan makan Soto Mang Ali… be..bersama…..maafkan aku ya Ma, Pa, Aku sa..sayang kalian.”</p><p>Kukirimkan voice note itu dengan tangisan yang seketika pecah. Air mataku mengalir deras di pipi menyadari bahwa kematian sudah berdiri tepat di depanku. Kugenggam erat handphoneku, berharap semua ini hanyalah mimpi. Seolah tak ada ampun, Kebulan asap dari belakang pesawat tiba-tiba memenuhi pandangan dan semakin menyesakkan dadaku. Pesawat bagian belakang kini terbakar karena mesin yang rusak. Mulutku tak henti berdzikir sembari menangis pilu.</p><p>Dentuman keras memekakkan telinga. Detik ini aku tahu, pesawat yang kami tumpangi sudah terjun masuk ke dalam lautan lepas. Hal terakhir yang ku dengar ialah suara ledakan dan teriakan orang yang tak karuan. Seketika semua suara hilang. Senyap. </p><p><br/></p><p>Kini aku pulang.</p><p><br/></p><p>Tapi bukan ke keluargaku.</p><p> </p><p>Melainkan ke Sang Pencipta. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-23 04:08:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/bahriyyahiffah/TugasPOV_AkuPulang/wish/3598839483</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
