<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Penyusunan Penelitian Tindakan Kelas by Anak Tiwul</title>
      <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60</link>
      <description>Guru SMAN 3 Pangkal Pinang</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2018-11-27 00:30:11 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-09-26 06:18:01 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Herda Sinambela</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308095735</link>
         <description><![CDATA[<div>Judul<br>UPAYA PENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X.IPS 3 PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR TIGA VARIABEL (SPLTV) MELALUI METODE PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DI SMA NEGERI 3 PANGKALPINANG TP 2018/2019 <br><br><strong>BAB I</strong> </div><div><strong>PENDAHULUAN</strong> </div><div> </div><div><strong>A.</strong>    <strong>Latar Belakang</strong> </div><div>Berbagai cara telah dilaksanakan oleh pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia misalnya pemerintah membuat perubahan-perubahan baru diantaranya dengan membuat kurikulum 2013. Pada era globalisasi sekarang ini, orang dituntut untuk berlomba-lomba menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya. </div><div>Dalam kurikulum 2013, materi sistem persamaan linear tiga variabel terdapat pada Kompetensi Dasar 3.3 Menyusun sistem persamaan linear tiga variabel dari masalah kontekstual dan Kompetensi Dasar 4.3 Menyelesaikan masalah kontekstual yang berkaitan dengan sistem persamaan linear tiga variabel. </div><div>Rendahnya hasil belajar peserta didik ditandai nilai peserta didik yang belum mencapai kkm yaitu 75. Berdasarkan pengalaman penulis selama mengajar khususnya materi sistem persamaan linear tiga variabel, peserta didik belum mampu membuat model matematika dari masalah kontekstual baik itu aljabar linier satu variabel, dua variabel dan aljabar linier tiga variabel dan keinginan untuk berlatih soal masih rendah. Selain itu, pelaksanaan pembelajaran di SMA Negeri 3 Pangkalpinang kelas X IPS<sub>3 </sub>belum berjalan seperti yang diharapkan. Dimana motivasi belajar peserta didik masih rendah, peserta didik belum aktif dalam kegiatan pembelajaran baik dalam aktivitas bertanya maupun diskusi dan kurang percaya diri untuk menampilkan hasil pekerjaannya di depan kelas. Guru dalam melaksanakan pembelajaran masih sangat konvensional, guru masih kurang dalam menggunakan metode, teknik dan strategi yang tepat untuk pencapaian indikator dan Kompetensi Dasar pembelajaran. Sehingga pembelajaran di kelas pun terasa kurang menyenangkan. Metode yang digunakan biasanya berupa metode ceramah, diskusi dan latihan soal. Sehingga, pembelajaran terasa membosankan peserta didik dan sangat monoton. Pembelajaran seperti itu berdampak pada hasil belajar peserta didik yang rendah. </div><div>Kurikulum 2013 revisi merupakan sebuah kurikulum yang mengutamakan pada pemahaman, skill, dan pendidikan berkarakter, dimana peseta didik dituntut untuk paham atas materi, aktif dalam proses berdiskusi dan presentasi, memiliki sopan santun dan sikpa disiplin yang tinggi serta mampu memechkan masalah kontekstual matematika dalam kehidupan nyata.  Dengan demikian didalam pembelajaran matematika, agar pembelajaran itu lebih bermakna dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka pendidik dalam mengajarkan matematika harus dikaitkan dalam kehidupan nyata sehingga peserta didik mampu memahami konsep dan dapat menyelesaikan masalah matematika yang dihadapinya. Pembelajaran seperti ini dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Pendekatan itu antara lain <em>Realistic Mathematics Education (RME), Contecstual Teaching Learning (CTL) dan  Problem Solving.</em> yang dapat mengajarkan peserta didik aktif dalam pembelajaran. </div><div>Pembelajaran dengan model <em>problem based learning</em> menjadikan masalah nyata sebagai pemicu bagi proses belajar peserta didik sebelum mereka mengetahui konsep formal serta mampu membangun pengetahuan tertentu dan sekaligus mengembangkan kemampuan berfikir kritis dan keterampilan menyelesaikan masalah. </div><div>Menurut Gijselaers (Hosnan 2014:298) menunjukkan bahwa penerapan PBL menjadikan peserta didik mampu mengidentifikasi informasi yang diketahui dan diperlukan serta strategi yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah.  Dengan demikian ketika peserta didik mampu memecahkan masalah matematika khususnya pada pokok bahasan sistem persamaan linear tiga variabel maka secara tidak langsung peserta didik pun bisa memahami konsep dari sistem persamaaan tiga variabel itu sendiri. </div><div>Agar peserta didik termotivasi untuk belajar mandiri, maka aktivitas bealajar peserta didik perlu dibangkitkan dan dikembangkan. <em>problem based learning</em> dalam pembelajaran ini dapat melatih peserta didik untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau soal-soal yang berkaitan dengan materi yang dipelajari sehingga mengantarkan peserta didik memahami konsep dan aktivitas peserta didik  bisa terliahat saat itu. </div><div>Dengan menggunakan pendekatan ini diharapkan memberi kesempatan yang luas kepada peserta didik untuk aktif belajar dan mengupayakan agar pembelajaran yang terpusat kepada pendidik <em>(teaching oriented)</em> berubah menjadi terpusat kepada peserta didik<em> (student oriented).</em> </div><div>Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis termotivasi melakukan penelitian yang berjudul “<strong><em>Upaya Peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X. IPS 3 pada materi Sisitem Persamaan Linear Tiga Variabel melalui metode Problem Based Learning (PBL) di SMA Negeri 3 Pangkalpinang TP 2018/2019”</em></strong> </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 02:18:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308095735</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nurlela</title>
         <author>nurlelasp19</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308095737</link>
         <description><![CDATA[<div>Siswa malas bertanya <br>Siswa sulit menyelesaikan soal dalam menghitung<br>Siswa takut menjawab<br>Siswa tidak berani maju ke depan kelas<br>Siswa banyak remidial<br><br>Meningkatkan hasil belajar siswa pada materi dinami rotasi di kelas Xi Mipa 1 SMA Negeri 3 Pangkalpinang <br>Tahun 2018-2019</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337195521/82c2ad9acd8a423074727dc6e40b8947/1543286965898_1286434210.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 02:18:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308095737</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ermi Royanti</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308095738</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Kondisi siswa dalam pembelajaran pasif<br>2. Kondisi siswa dalam pembelajaran mengantuk dan kurang motivasi<br>3. Kondisi siswa dalam pembelajaran susah dalam menghapal ayat Al-Qur'an<br>4. Kondisi siswa dalam belajar kurang bersemangat dalam mempelajari materi tertentu<br>5. Guru kurang menguasai metode untuk membangun motivasi siswa dalam belajar<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 02:18:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308095738</guid>
      </item>
      <item>
         <title>RISMA DAMANIK (BIOLOGI)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308095749</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Materi invertebrata  banyak dan sulit.<br>2. Siswa kurang tertarik dengan beberapa materi tertentu karena benda nya tidak di kenali<br>3. Setiap penilaian nilai siswa 70 persen dibawah kkm<br>4.saat pelajaran kurang bekerja sama<br>5. Lebih dari 60 % siswa Kurang motivasi belajar<br><br>Judul<br>Upaya Meningkatkan Penguasaan Konsep Mateei Invertebrata dengan Metode Make A Match ddngan permainan kartu Pada Siswa kelas X SMA negeri 3 Pangkalpinang<br> </div><div>BAB I. </div><div> PENDAHULUAN </div><div> </div><div>A.  Latar Belakang Masalah <br><br></div><div>Belajar Biologi seharusnya menjadi mata pelajaran yang sangat  menyenangkan karena materinya menyangkut tentang mahkluk hidup yang berhubungan secara langsung maupun tidak langsung dengan kehidupan manusia, namun berdasarkan hasil pengamatan guru biologi kelas X SMAN 3 Pangkalpinang diperoleh data bahwa setiap kali diadakan evaluasi khususnya  KD Invertebrata  hanya 25 % yang mencapai KKM. Rendahnya pencapaian nilai akhir siswa ini, menjadi indikasi bahwa pembelajaran yang dilakukan belum efektif. Kemungkinan lain yang menjadi alasan adalah materi Invertebrata sangat banyak dan siswa sulit untuk memahami materi yang essensial dan  seringkali ditemukan siswa yang tidak berminat dalam mempelajari invertebrata karena pada topik tersebut ada banyak  bahasa latin yang susah untuk dipelajari. Ditambah lagi banyak objek kajian  materinya berkaitan dengan objek yang tidak dapat dilihat  oleh indera secara langsung.  Hal ini mengakibatkan imajinasi siswa terhadap objek yang dipelajari sangat terbatas, dan penempatan jam  belajar biologi yang tidak tepat sehingga perhatian siswa terhadap materi biologi tidak terkonsentrasi penuh. <br><br></div><div>Meskipun berbagai metode telah dilakukan diantaranya ceramah, diskusi informasi dan jig saw, tetapi masih memiliki kelemahan yaitu belum dapat meningkatkan minat maupun pemahaman siswa terhadap materi biologi.  Hasilnya masih jauh dari harapan; hanya siswa yang tertentu  yang terlibat dalam proses pembelajaran. Apabila diberikan tugas siswa cenderung mengandalkan temannya dan lari dari tanggung jawabnya. <br><br></div><div>Sekaitan dengan itu dalam sesi pembelajaran, guru kerap berhadapan dengan pelajar yang berbeda dari segi kebolehan mereka. Hal ini memerlukan kepakaran guru dalam menentukan strategi pengajaran dan pembelajaran. Ini bermakna, guru boleh menentukan pendekatan, memilih kaedah dan menetapkan teknik-teknik tertentu yang sesuai dengan perkembangan dan kebolehan pelajar. Strategi yang dipilih itu, selain berpotensi memotivasi pelajar agar belajar secara aktif, juga harus mampu membantu menganalisis konsep atau idea dan berupaya menarik hati pelajar serta dapat menghasilkan pembelajaran yang bermakna. Perlunya guru menarik perhatian pelajar dalam sesuatu pengajaran, aktivitas-aktivitas yang dipilih hendaklah yang menarik dan mempunyai potensi yang tinggi untuk membolehkan isi pelajaran dan konsep-konsep yang diterjemahkan secara jelas. Aktivitas harus mempengaruhi intelektual, emosi dan minat pelajar secara berkesan <br><br></div><div>Berhasilnya proses pembelajaran di dalam kelas dapat tercapai dengan peran aktif guru dan siswa. Meskipun guru telah menyiapkan strategi belajar yang  sistematis namun tidak diikuti dengan minat siswa maka pemahaman siswa tidaklah maksimal. Menurut Suharsimi Arikunto     ( 2010: 24),  salah satu faktor yang membentuk dan berpengaruh pada proses pembelajaran yaitu peran aktif siswa dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.  Untuk itu diperlukan metode yang tepat dalam kegiatan pembelajaran dengan maksud mengubah suasana kegiatan pembelajaran dari siswa pasif menjadi lebih aktif dan menyenangkan . Salah satu cara untuk meningkatkan ketuntasan belajar materi ini yaitu dengan menggunakan teknik mencari pasangan. Teknik ini dikenal pula dengan nama <em>Make a Match</em>, yang dikembangkan oleh Larana Curran pada tahun 1994. Keunggulan teknik ini yaitu peserta didik mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep dalam suasana belajar yang menyenangkan (Sugiyanto, 2008: 47 dalam : Agus Riyanto). Keunggulan lain dari <em>Make A Match</em> adalah menciptakan keaktifan dan motivasi siswa dalam diskusi. Hal ini sejalan dengan pendapat Hamalik (1994:116 dalam www.ras-eko.com/2011//metode-make.html ), “Motivasi yang kuat erat hubungannya dengan peningkatan keaktifan siswa yang dapat dilakukan dengan strategi pembelajaran tertentu, dan motivasi belajar dapat ditujukan ke arah kegiatan-kegiatan kreatif. Apabila motivasi yang dimiliki oleh siswa diberi berbagai tantangan, akan tumbuh kegiatan kreatif.” Selanjutnya, penerapan metode <em>make a match</em> dapat membangkitkan keingintahuan dan kerja sama di antara siswa serta mampu menciptakan kondisi yang menyenangkan. Hal ini sesuai dengan tuntutan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) bahwa pelaksanaan proses pembelajaran mengikuti standar kompetensi, yaitu: berpusat pada siswa; mengembangkan keingintahunan dan imajinasi; memiliki semangat mandiri, bekerja sama, dan kompetensi; menciptakan kondisi yang menyenangkan; mengembangkan beragam kemampuan dan pengalaman belajar; karakteristik mata pelajaran. <br><br></div><div>            Inilah yang melatar belakangi saya ingin melakukan penelitian tentang metode Make A Mtach dengan menggunakan permainan kartu domino. <br>B rumusan masalah<br>Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka rumusan masalah sebagai berikut :<br>1. Apakah metode pembelajaran make a match dengan permainan kartu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.<br>2. Apakah dengan pembelajaran make a match dengan permainan kartu peluang siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran dapat ditingkatkan?<br>C. Ruang lingkup penelitian<br>Agar permasalahan yang lebih bagus maka penelitiannya dibatasi:<br>1. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas 10 SMA Negeri 3 Pangkalpinang tahun pelajaran 2016-2017<br>2. Topik yang diajarkan Dalam penelitian ini adalah invertebrata<br>3. Motivasi belajar dalam kaitan hanya ini hanya dibatasi pada motivasi dalam pembelajaran biologi invertebrata<br>4. Peningkatan prestasi belajar siswa dengan topik invertebrata<br><br>D. Tujuan penelitian <br> Tujuan utama dilakukan penelitian ini adalah sebagai berikut:<br> 1 untuk mengetahui motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran dengan metode pembelajaran make a match dengan permainan kartu domino <br>2. untuk mengetahui pencapaian tujuan pembelajaran yang diperoleh siswa setelah mengikuti pembelajaran make a match dengan permainan kartu dalam materi invertebrata<br>E. Manfaat penelitian<br> manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut<br>1. dapat meningkatkan pemahaman guru tentang PTK <br>2.dapat menjadi bahan pertimbangan bagi peneliti dan bagi para guru biologi lainnya dalam menerapkan pembelajaran dalam materi invertebrata <br>3.hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bagian dari Upaya pengembangan metode pembelajaran<br>BAB.II.<br>TINJAUAN PUSTAKA<br>a. Hakikat belajar<br>Mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuan mengajar berarti partisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan membuat makna mencari kejelasan bersikap kritis dan mengadakan curi justifikasi jadi mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri (Battencount,1989 dalam uparno P,1997 halaman 65) belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu secara sadar untuk memperoleh perubahan tingkah laku tertentu baik yang diamati secara langsung maupun yang tidak dapat diamati secara langsung sebagai pengalaman dalam interaksinya dengan lingkungan terdapat dikatakan bahwa belajar suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan dan menghasilkan perubahan dalam pengetahuan dan pemahaman keterampilan serta nilai-nilai dan sikap belajar biologi dalam kerangka pengajaran dan pendidikan di sekolah adalah proses aktivitas siswa arahan dan bimbingan untuk mempelajari materi biologi kegiatan belajar siswa diharapkan memperoleh tentang fakta fakta konsep prinsip hukum metode ilmiah dan sikap ilmiah serta keterkaitan antara komponen-komponen itu selanjutnya semua hal yang dipelajari tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan nyata dan dapat digunakan untuk mempelajari perkembangan sains dan teknologi proses belajar harus bertumbuh dan berkembang dari Dini anak sendiri dengan kata lain anak-anak yang harus aktif belajar sedangkan guru bertindak sebagai pemimpin dengan ini pada dasarnya mengemukakan bahwa mengajar adalah membimbing kegiatan belajar anak "teaching is guidance of learning activities teaching is for the purpose oaiding the pupil learn"....(hamalik 2002 halaman 58)<br>B. Pelajaran kooperatif dalam setting kooperatif siswa dapat berpartisipasi untuk saling berbagi ide dan berbagi rasa dalam diskusi. ketergantungan positif para siswa didirikan oleh kesepakatan kelompok dalam menemukan jawaban dan menentukan strategi pemecahan masalah .keterampilan kognitif sangat ditekankan dalam proses diskusi kelompok yang erat kaitannya dengan dua hal yaitu ;<br> (1).apakah yang dapat dilakukan oleh tiap-tiap anggota agar yang dilakukannya bermanfaat bagi kelompok <br>(2) .apa yang dilakukan oleh tiap-tiap anggota untuk menjadikan kelompoknya lebih baik<br>Pada mulanya guru menggunakan pembelajaran kooperatif agar siswa bekerja bersama untuk mencapai tujuan bersama menjadikan siswa bekerja secara kooperatif secara kompetitif maupun secara individualistik memiliki implikasi yang penting untuk keberhasilan pembelajaran matematika dalam situasi pembelajaran kooperatif pencapaian tujuan siswa berkorelasi positif siswa yakin bahwa mereka akan dapat mencapai tujuan pembelajaran jika siswa lain dalam kelompokmu juga mencapai keberhasilan siswa mencari hasil yang bermanfaat kepada semua yang terlibat secara kooperatif pembelajaran kooperatif mungkin memperlihatkan kontras antara pembelajaran kompetitif dan pembelajaran individualistik ketika pelajaran biologi dijalankan secara kompetitif maka siswa bekerja kembali dalam kelompoknya Untuk menentukan siapa yang terbaik para siswa di rangking dalam kurung peringkat dalam bentuk kurva yang menuntut mereka untuk bekerja lebih cepat dan lebih akurat daripada temannya dalam pembelajaran yang individualistik siswa bekerja sendiri untuk mencapai tujuan pembelajaran tujuan individual diuji pencapaiannya setiap hari usaha Siswadi evaluasi melalui tes terstandar dan penghargaan diberikan sesuai dengan hasil belajarnya .<br>Model pembelajaran kooperatif didasarkan atas falsafah homo homini socius falsafah ini menekankan bahwa Manusia adalah makhluk sosial (Lie,2003 halaman 27) sedangkan menurut Ibrahim( 2000 halaman 2 )Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang membantu siswa mempelajari isi akademik dan hubungan sosial. ciri khusus permasalahan kooperatif mencakup 5 unsur yang harus diterapkan yang meliputi saling ketergantungan positif tanggung jawab perseorangan tatap muka komunikasi antaranggota dan evaluasi proses kelompok (Lie,2003 halaman 30)<br>Model pembelajaran kooperatif bukanlah hal yang sama sekali baru bagi guru model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda tinggi sedang dan rendah dan Jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras budaya suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan gender model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran guru meningkatkan partisipasi dan keaktifan siswa dalam kelas guru menerapkan metode pembelajaran make a match metode make a match atau mencari pasangan merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan kepada siswa Penerapan metode ini dimulai dari Ari teknik yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban atau soal sebelum batas waktunya siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi point teknik metode pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh lorna curran 1994 Salah satu keunggulan Teknik ini adalah siswa mencari pasangannya sambil belajar mengenai suatu konsep atau Topik dalam suasana yang menyenangkan langkah-langkah Penerapan metode make a match sebagai berikut <br>1 guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban <br>2 setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal dan jawaban<br> 3 tiap siswa memikirkan jawaban soal dari kartu yang dipegang <br>4 setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya misalnya memegang kartu yang bertuliskan bela negara akan berpasangan kartu yang bertuliskan isi soal sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada negara dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara<br> 5 setiap siswa yang dapat menciptakan kartunya sebelum batas waktu diberi poin<br>6 Jika siswa tidak dapat menciptakan kartunya dengan kartu temannya atau tidak dapat menemukan karakter vokal atau kartu jawaban akan mendapatkan hukuman yang telah disepakati bersama setelah satu babak atau dikocok lagi agar siswa tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya demikian seterusnya<br> 8 siswa juga bisa bergabung dengan dua atau tiga lainnya yang memegang kartu yang cocok <br>9 guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran pada Penerapan metode make a match diperoleh beberapa teman temuan bahwa Metode Make A Match dapat memupuk kerjasama siswa dalam menjawab pertanyaan dengan mencocokkan kartu yang ada di tangan mereka proses pembelajaran lebih menarik dan nampak sebagian besar Siswa lebih antusias mengikuti proses pembelajaran dan keaktifan siswa tampak sekali pada saat mencari pasangan kartun yang masing-masing hal ini merupakan suatu ciri pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh Lee 2002 bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang menitikberatkan pada gotong royong dan kerjasama kelompok<br>Setiap metode pembelajaran tentu memiliki memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam penelitian ini guru menggunakan metode Make A Match karena memiliki kelebihan yaitu <br>1. mampu menciptakan suasana belajar aktif dan menyenangkan <br> 2. materi pembelajaran yang disampaikan lebih menarik perhatian siswa<br>3. Suasana kegembiraan akan tumbuh Dalam proses pembelajaran <br>4 kerjasama antar sesama siswa terwujud dengan dinamis<br> 5 munculnya dinamika gotong royong yang merata di seluruh siswa<br>6. Mampu meningkatkan hasil belajar siswa mencapai taraf ketuntasan belajar secara klasikal 87,5%<br>Namun di samping kelebihannya tentu metode ini memiliki kelemahan diantaranya<br> 1 diperlukan bimbingan dari guru untuk melakukan kegiatan <br>2 waktu yang tersedia perlu dibatasi jangan sampai siswa terlalu banyak bermain-main dalam proses pembelajaran<br> 3 guru perlu persiapan bahan dan alat yang memadai .<br>4. Pada kelas yang banyak lebih dari 30 jika kurang bijaksana maka yang muncul adalah suasana seperti pasar dengan keramaian yang tak terkendali tentu saja kondisi ini akan mengganggu ketenangan belajar di kelas kiri dan kanannya apalagi jika gedung kelas tidak kedap suara tapi hal ini bisa diantisipasi dengan menyepakati beberapa komitmen<br><br>C. minat dan motivasi belajar<br>banyak ahli memberikan pengertian yang berbeda tentang motivasi dalam pembelajaran, Yang intinya adalah motivasi merupakan dorongan yang timbul dari diri seseorang atau kelompok yang disadari atau tidak disadari untuk melakukan tindakan dalam mencapai tujuan sehingga motivasi dibagi menjadi dua yaitu satu motivasi intrinsik yaitu motivasi yang muncul dalam diri seseorang 2 motivasi ekstrinsik yaitu motivasi berupa usaha pembentukan dari orang lain ada berbagai teori motivasi yang digunakan membuat instrumen penelitian salah satunya yang cukup bagus mendeskripsi minat dan motivasi belajar adalah Keller 1987 John Keller Berdasarkan model yang diajukan yang telah membuat suatu instrumen pengumpul minat dan motivasi belajar conceler mendeskripsikan minat belajar motivasi belajar siswa melalui empat komponen utama sesuai dengan model yang disebutkan ARCS (Attention,relenvace ,rconfidence ,satisfaction atau dalam bahasa Indonesia atensi(perhatian) relevansi (kesesuaian )kepercayaan diri dan kepuasan.<br><br>2. 2<br> </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337195093/e22410e02471f33bcda3e87a3e4f634c/15432873004641550932244.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 02:18:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308095749</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lisa (kimia)</title>
         <author>lisaesemkadua</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308095782</link>
         <description><![CDATA[<div>masalah yang saya hadapi:</div><div>1.kimia adalah pelajaran abstrak.sehingga membosankan dan sulit dipahami siswa<br>2. kurangnya alat peraga buat mengaplikasikan materi<br>3.Pemilihan metode tidak sesuai dengan <br>4.guru kurang menguasai metode pembelajaran yang menarik dan bervariasi<br>5.level kognitif pelajaran kimia banyak ke prosedur dan metakognitif sehingga perlu adanya penalaran yang tinggi. sehingga ketuntasan tdk mencapai 70<br><br>UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS dan HASIL BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN MODEL KOOPERATIF COURSE REVIEW HORAY (CRH) ANTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KIMIA SEMESTER 2 TP.2018/2019 PESERTA DIDIK KELAS XI JURUSAN IPA di SMA NEGERI 3 PANGKALPINANG pada POKOK BAHASAN LARUTAN ASAM BASA<br><br><strong>BAB</strong> I.PENDAHULUAN<br>A.Latar belakang<br>Belajar secara umum dapat diartikan<sup>1</sup> sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan. jadi perubahan perilaku adalah hasil belajar. artinya,seseorang dikatakan telah belajar, jika ia dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan sebelumnya.<br><br>Perubahan perilaku ditandai dengan meningkatnya aktivitas dan hasil belajar peserta didik. Pada kurikulum 2013, ketuntasan belajar secara klasikal harus dicapai  untuk penilaian kongnitif setiap mata pelajaran. <br><br>Kimia adalah mata pelajaran yang sifatnya abstrak. materinya berisikan tentang unsur kimia, zat, sifat zat, struktur ikatan molekulnya dan bagaimana reaksi-reaksinya dengan zat lain, energi panas reaksi, laju reaksinya,dll. Materi ini sulit dipelajari dengan mata telanjang. Perlu adanya penggunaan alat peraga atau pun kegiatan nyata yang mendukung pemahaman sehingga peserta didik tidak hanya duduk diam dan mendengar namun melakukan. Karena sejatinya pembelajaran bermakna adalah pembelajaran yang "menemukan" bukan "menerima.<br><br>Level kognitif yang disajikan pelajaran kimia kelas XI kurikulum 2013 lebih condong ke penerapan dan penalaran,yaitu pada prosedur dan metakognitif. Oleh karena itu, guru dituntut ekstra untuk melakukan penguasaan kelas yang nyaman dan menggunakan metode yang tidak konvensional di kelas agar terjadi lah pembelajaran bermakna agar terpenuhi tujuan kompetensi dasar tersebut.<br><br>Berdasarkan data evaluasi diri baik proses maupun hasil pada pembelajaran semester gazal th.2018-2019 kelas XI MIPA 4 di SMA Negeri 3 Pangkalpinang, guru masih menggunakan metode pembelajaran konvensional. Hasil belajar yang didapatkan belum mencapai ketuntasan kelas yaitu masih dibawah 70%. Hal ini merupakan salah satu masalah pembelajaran yang harus diselesaikan.<br><br>Oleh karena itu, guru mencoba menggunakan model Pembelajaran Kooperatif Course Review Horay (CRH) sehingga juga mengaktifkan peserta didik bekerja dalam kelompok. Hasil yang diharapkan dari PTK ini adalah aktivitas dan persentase pketuntasan belajar peserta didik meningkat.<br><br><strong>B.RUMUSAN MASALAH</strong></div><ul><li>Apakah dengan menggunakan model kooperatif Course Review Horay (CRH) dapat meningkatkan aktivitas peserta didik kelas XI MIPA 4 di SMA Negeri 3 Pangkalpinang pada pokok bahasan Larutan Asam Basa?</li><li>Apakah dengan menggunakan model Kooperatif Course Riview Horay (CRH) dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas XI MIPA 4 di SMA Negeri 3 Pangkalpinang pada pokok bahasan Larutan Asam basa?</li><li>Bagaimana implementasi model kooperatif Course Review Horay (CRH) dalam.meningkatkan aktivitas dan hasil belajar didik kelas XI MIPA 4 di SMA Negeri 3 Pangkalpinang pada pokok bahasan Larutan asam basa?</li></ul><div><br>C.TUJUAN PENELITIAN</div><ul><li>Untuk mengetahui apakah dengan menggunakan model kooperatif Course Review Horay (CRH) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar kimia peserta didik kelas XI MIPA 4 di SMA Negeri 3 Pangkalpinang</li><li>Untuk mengetahui implemetasi Model kooperatif dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar kimia peserta didik kelas XI MIPA 4 di SMA Negeri 3 Pangkalpinang</li></ul><div><br>D.MANFAAT PENELITIAN<br>1. Manfaat untuk Guru :</div><ul><li> untuk menambah wawasan guru tentang model pembelajaran kooperatif Course Review Horay (CRH) dalam pembelajaran</li><li>sebagai sumbangan yang positif bagi guru dalam rangka peningkatan kualitas peserta didik</li></ul><div><br>2. Manfaat untuk pemerintah/instansi pendidikan :</div><ul><li>sebagai masukan bagi pemerintah/instansi pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan.</li></ul><div><br>BAB II.<br>TINJAUAN PUSTAKA<br>1.MODEL PEMBELAJARAN<br>Model Pembelajaran adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran yang disusun secara sistematis untuk mencapai tujuan belajar yang menyangkut sintaksis, sistem sosial, prinsip reaksi dan sistem pendukung. sedangkan menurut Arend dalam Trianto, mengatakan "model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau satu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas (https://ainamulyana.blogspot.com/2016/04/model-pembelajaran-dalam-kurikulum-2013.html diakses tanggal 28 November 2018 pukul 07.50 WIB)</div><ul><li>Pengertian Model pembelajaran CRH</li></ul><div>Menurut dwitantra (2010) model pembelajaran course review horay adalah suatu model pembelajaran dengan dengan pengujian pemahaman menggunakan kotak yang diisi dengan nomor untuk menuliskan jawabannya yang paling dulu mendapatkan tanda benar langsung berteriak horay. Sedangkan menurut Imran dalam (Nur Malecha,2011) model pembelajaran course review horay merupakan suatu model pembelajaran dengan pengujian pemahaman menggunakan kotak yang diisi dengan nomor untuk menuliskan jawabannya. Yang paling dulu mendapatkan tanda benar vertikal atau horizontal atau, diagonal langsung berteriak <em>horay.<br>Berbekal dari pengertian para ahli diatas bahwa model pembelajaran course review horay (CRH) adalah suatu model pembelajaran course review horay adalah suatu model atau desain pembelajaran untuk menguji pemahaman siswa dengan menggunakan strategi games yang mana jika siswa mampu menjawab Benar maka siswa akan berteriak "Horay" (diakses di http challenge marlangen blogspot.com pada tanggal 28 November 2018 pukul 08.00 WIB)</em></div><ul><li> Prinsip pembelajaran dalam CRH adalah :</li></ul><ol><li>model pembelajaran crh sebaiknya digunakan dengan suatu tujuan tertentu yang relevan dengan tujuan yang akan dicapai sehingga pembelajaran akan sejalan dengan perencanaan awal pembelajaran</li><li>Direncanakan secara baik dan eksplisit dicantumkan dalam rencana pembelajaran.  jadi penggunaan model pembelajaran crh ini harus benar-benar berstruktur dan direncanakan. Karena dalam menggunakan model pembelajaran crh ini memerlukan keluwesan spontan sesuai dengan umpan balik yang diterima peserta didik.</li></ol><div>Umpan balik ini ada dua yaitu:</div><ol><li> umpan balik tingkah laku yang menyangkut perhatian dan keterlibatan peserta didik</li><li>Umpan balik informasi tentang pengetahuan dan pelajaran. ( diakses di http:// cheliemarlangen.blogspot.com/ pada tanggal 28 November 2018 pukul 08.00 WIB)</li></ol><ul><li><strong>Kekurangan dan kelebihan CRH</strong></li></ul><ol><li>Kelebihan model pembelajaran course review horay</li></ol><div>a. Pembelajaran lebih menarik<br>b. Mendorong peserta didik untuk dapat terjun ke dalam situasi pembelajaran<br>c. pembelajaran tidak monoton karena diselingi dengan hiburan atau game dengan begitu peserta didik tidak akan merasa jenuh<br>d. peserta didik lebih semangat belajar karena suasana belajar lebih menyenangkan<br>e. Adanya komunikasi dua arah<br><br>2<strong>. Kekurangan model pembelajaran CRH</strong><br>a. Peserta didik aktif dan peserta didik yang tidak aktif nilai disamakan<br>Artinya guru hanya menilai kelompok yang banyak mengatakan horey. Oleh karena itu, nilai yang diberikan guru dalam satu kelompok tersebut sama tanpa bisa membedakan mana peserta didik yang aktif dan yang tidak aktif<br>b. Adanya peluang untuk berlaku curang</div><ul><li>Langkah-langkah atau Sintak model pembelajaran CRH</li></ul><ol><li>Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai</li><li>Guru menyajikan materi</li><li>Pembagian kelompok</li><li>Untuk menguji pemahaman peserta didik disuruh membuat kartu atau kotak sesuai dengan kebutuhan dan diisi dengan nomor yang ditentukan guru</li><li>Guru membaca soal secara acak dan peserta didik menuliskan jawabannya di dalam kartu atau kotak nomor yang disebutkan guru</li><li>Setelah pembacaan soal dan jawaban peserta didik telah ditulis dalam kartu atau kotak guru dan peserta didik mendiskusikan soal yang telah diberikan tadi</li><li>Yang benar peserta didik diberi Bintang dan langsung berteriak Hore atau menyanyikan yel-yelnya</li><li> Nilai peserta didik dihitung dari jawaban yang benar dan yang banyak berteriak horay</li><li> Guru memberikan reward pada yang memperoleh nilai tinggi atau yang banyak memperoleh hore</li><li>Penutup</li></ol><div><br>II.AKTIVITAS BELAJAR<br>Aktivitas belajar peserta didik adalah aktivitas yang bersifat fisik atau mental (Sardiman 2005.96)<br>Aktivitas belajar adalah serangkaian kegiatan fisik atau jasmani maupun mental atau rohani yang berkaitan sehingga tercapailah belajar yang optimal.<br>Ciri-ciri aktivitas belajar :</div><ul><li> terjadi secara sadar</li><li>Bersifat fungsional</li><li>Bersifat positif dan aktif</li><li>Tidak bersifat sementara</li><li>Bertujuan dan terarah</li><li>Mencakup segala aspek tingkah laku</li></ul><div>III. HASIL BELAJAR<br>Menurut Bloom hasil belajar mencakup kemampuan kognitif afektif dan psikomotorik. (Diakses di www.karyatulisku.com/2017/10/pengertian-hasil-belajar.<br>Hasil belajar adalah suatu hasil nyata yang dicapai oleh peserta didik dalam usaha menguasai kecakapan jasmani dan rohani di sekolah yang diwujudkan dalam bentuk raport setiap semester (diakses di https://Aina Mulya.blogspot.com/2012/01/Pengertian-hasil-belajar-dan-faktor.html?m=1pada tanggal 28 November 2018 pukul 11.45 WIB)<br><br>Indikator hasil belajar peserta didik :</div><ol><li>Ketercapaian daya serap terhadap bahan pembelajaran yang diajarkan baik individu dan baik individu dan kelompok. Pengukuran dilakukan berdasarkan KKM</li><li> Perilaku yang digariskan oleh tujuan pembelajaran telah dicapai oleh peserta didik</li></ol><div><br>BAB III<br>METODOLOGI PENELTIAN<br>Penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) adalah salah satu penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, <br>dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja nya sebagai guru sehingga aktivitas dan hasil belajar peserta didik menjadi meningkat. Penelitian tindakan kelas atau PTK merupakan suatu model penelitian yang dikembangkan di kelas jadi dengan membuat PTK akan mampu menciptakan formula untuk memperbaiki kualitas hasil belajar peserta didik<br><strong>A.Setting Penelitian</strong></div><ol><li><strong>Subjek penelitian</strong></li></ol><div>Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah peserta didik kelas 11 MIPA 4 SMA Negeri 3 Pangkalpinang dengan jumlah peserta didik sebanyak 36 orang yang terdiri dari 17 perempuan dan 19 laki-laki.<br>2. <strong>Lokasi penelitian<br>Penelitian ini dilakukan di </strong>SMA Negeri 3 Pangkalpinang Jalan Mentok Kampung Keramat Kecamatan rangkui Kota Pangkal Pinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.<br>3. <strong>Waktu penelitian</strong><br>Penelitian dilakukan di semester gasal tahun pelajaran 2018-201<br>B. Prosedur Penelitian<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 02:18:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308095782</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Isnaini(BAHASA INGGRIS)</title>
         <author>isnainismaneta845</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308095905</link>
         <description><![CDATA[<div>BAB lI Landasan Teori agar terampil seseorang harus belajar artinya keterampilan seorang tidak serta-merta bisa terampil melainkan harus dengan pembelajaran terlebih dahulu semakin seseorang termotivasi mau belajar maka keterampilannya akan semakin terasa demikian halnya dengan keterampilan berbahasa semakin sering belajar dan berlatih secara rutin dan teratur dalam berkomunikasi secara aktif maka kemampuan bahasanya menjadi lebih baik. Keterampilan atau skill dianalogikan dengan seorang pengendara motor mobil atau kendaraan lain yang perlu mengetahui di mana alat pengendali apa yang dikendalikan dengan tangan apa yang dikendalikan dengan kaki di mana letaknya dan bagaimana menjalankannya ke semua ini merupakan latihan keseimbangan penggunaan otak kanan dan kiri dengan pengetahuan itu kemudian dia menjalankannya di jalan tanpa menabrak sesuatu dan dijalankan dengan kecepatan wajar nyaman serta dapat menghindari hambatan atau rintangan di jalan dengan aman semakin sering melakukan kegiatan menjalankan kendaraan maka akan terbentuk keterampilan orang yang hanya sesekali menjalankan.<br>keterampilan berbicara 21 konsep dasar keterampilan berbicara kemampuan berbahasa yang harus dimiliki oleh peserta didik di sekolah meliputi 4 aspek dasar yaitu keterampilan mendengarkan atau menyimak lisning skill membaca reading skill berbicara speaking skill dan menulis reading skill Tarigan 2008:1 keterampilan dasar dari kata dasar terampil yang berarti cakap mampu koma dan cekatan dalam menyelesaikan tugas. Menampilkan berarti membuat menjadi terampil atau memberikan keterampilan. Keterampilan secara bahasa adalah kecakapan untuk menyelesaikan tugas dan kecap dan kecakapan dalam pemakaian bahasa baik secara lisan maupun tulis sedangkan keterampilan secara tematis adalah kesanggupan pemakai bahasa untuk menanggapi secara benar stimulus lisan atau tulisan, menggunakan pola gramatikal dan kosakata secara tepat dan menterjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lain Seseorang dikatakan mempunyai keterampilan apabila orang tersebut mempunyai kesanggupan untuk berbuat dan melakukan tindakan dengan mudah dan tepat setelah melalui belajar (Sulastri,2008:9). siswa kurang<br>2. Pada saat jam pelajaran terakhir siswa mengantuk<br>3. Kurang termotivasi dalam belajar<br>4. Penguasaan vocabulary kurang<br>5. Kurang fokus dalam belajar<br><br>UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA SISWA KELAS XI MIPA1 SMA NEGERI 3 PANGKAL PINANG PADA SEMESTER I TP 2018/2019 MELALUI DIALOG TEKNIK<br>A.Latar Belakang Masalah<br>Pada era globalisasi ini kemampuan menggunakan bahasa Inggris merupakan suatu keharusan sebagai alat komunikasi saat ini. oleh karena itu penggunaan bahasa Inggris pada peserta didik diharapkan dapat meningkatkan terutama pada keterampilan berbicara. keterampilanberbicara merupakan salah satu komponen penting dalam pembelajaran bahasa Inggris di samping keterampilan mendengar membaca dan menulis. masalah yang terkait dengan pembelajaran bahasa Inggris pada kelas 11 ini adalah banyak yang mereka belum mampu berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris. Hal ini terbukti ketika guru mengajak mereka berkomunikasi dengan bahasa Inggris banyak dari mereka yang belum mampu berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris. ketidakmampuan ini diduga karena mereka tidak terbiasa berkomunikasi dalam bahasa Inggris dan adanya rasa malu untuk berbicara dalam bahasa Inggris, sehingga nanti akan menjadi bahan ejekan teman-temannya tidak ada keraguan lagi bahwa mereka enggan berbicara dalam bahasa Inggris. Mereka tampak merasa malu dan takut salah,mereka memang tahu banyak tentang bahasa Inggris tetapi sayangnya tidak tahu berbuat apa dengan bahasa Inggris itu sendiri.namun pada kenyataannya banyak peserta didik yang Ingin berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris namun mereka belum mampu untuk melakukannya,salah satu faktor yang mempengaruhi ketidakmampuan dalam berbicara bahasa Inggris adalah teknik yang digunakan dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar bahasa Inggris disebut metode dan teknik sangat memegang peranan penting. salah satu upaya guna meningkatkan keterampilan berbicara peserta didik adalah dengan menggunakan teknik dialog sebagai bentuk kegiatan pembelajaran di kelas, hal ini dimaksudkan untuk menciptakan English atmosfer di dalam di dalam kelas teknik Dialog itu sendiri digunakan untuk melatih kepercayaan diri mereka dalam berbicara bahasa Inggris. Diharapkan dengan menggunakan teknik ini peserta didik secara berpasangan mampu meningkatkan kemampuan berbicara mereka dalam bahasa Inggris dengan baik dan benar<br>B. RumusanMasalah<br>Berdasarkan hasil analisis masalah yang terjadi maka peneliti merumuskan permasalahan nya yaitu apakah penggunaan dialog teknik dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas 11 IPA 1 SMA Negeri 3 semester 1 tahun pelajaran 2018-2019<br>C. Tujuan Penelitian<br>Dari rumusan masalah di atas, penulis menyimpulkan tujuan dari penelitian yaitu untuk untuk mengetahui penggunaan dialog teknik dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas 11 IPA 1 SMA Negeri 3 semester 1 tahun pelajaran 2018-2019.<br>D. Manfaat Penelitian<br>Hasil dari penelitian ini diharapkan berguna bagi semua pihak khususnya guru dapat memberikan pengalaman yang berharga dalam melaksanakan penelitian ini dan menjadikan motivasi bagi guru untuk melakukan PTK selanjutnya dan menuntut guru untuk lebih kreativitas dalam proses pembelajaran di kelas.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337194988/33e276d57862080b1352277ca20699f2/15433048085486022155244097166983.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 02:18:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308095905</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Siti Nabsiati</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308096129</link>
         <description><![CDATA[<div><br>1. Kondisi siswa banyak yang pasif<br>2. Siswa banyak yang malas menbaca materi .<br>3. Siswa kurang menguasai kosa kata<br>4. Siswa kurang percaya diri<br>5. Siswa banyak yang mengantuk<br>Judul <br>Upaya peningkatkan kosa kata bahasa inggris siswa dengan metode menabung kosa kata pada kelas X ips 1 SMAN 3 Pabgkalpinang TP 2018/2019<br>L ntar belakang<br>Bahasa Inggris merupakan pelajaran wajib bagi siswa sejak Sekolah Menengah Pertama Sampai Ke Sekolah Menengah Atas baik SMK atau pun SMA Namun demikian bahasa Inggris masih banyak tidak dipahami kosakatanya ataupun makna kata kata Walaupun itu sangat sederhana sekali.<br>Memang tidak seluruh siswa disekolah yang saya ajar tetapi nay<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337195424/b3c5729373a39dea52eff9ac49e4ab28/1543286932300.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 02:19:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308096129</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Eddy Salahuddin</title>
         <author>edsadesamangkol237</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308096472</link>
         <description><![CDATA[<div>Bahasa Indonesia<br>Masalah<br>1. Kondisi peserta didik pasif<br>2. minat peserta didik kurang<br>3. nilai peserta didik rendah<br>4. peserta didik sulit berkonsentrasi<br><br>JUDUL<br><br></div><div>PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK DALAM MENULIS TEKS NEGOSIASI DENGAN METODE SUGESTOPEDIA DI KELAS X MIPA 3 SMA NEGERI 3 PANGKALPINANG TAHUN PELAJARAN 2018/2019<br><br>BAB I PENDAHULUAN</div><div>A. Latar Belakang<br> </div><div>Kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan setiap hari merupakan rangkaian kegiatan guru dan peserta didik  pada suatu kelas yang saling terkait dalam pelaksanaan kegiatan yang direncanakan oleh guru. Keberhasilan kegiatan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru. Guru merupakan pengelola tunggal di dalam kelas. Oleh karena itu, bila peserta didik kurang kompeten dalam suatu mata pelajaran, maka penyebab kurang berhasilnya hal itu adalah guru. <br><br></div><div>             Ada pendapat yang mengatakan menulis itu sulit. Oleh karena itu, peserta didik cenderung malas menulis.  Para peserta didik dapat mempelajari cara menulis teks negosiasi dengan cara yang  menarik. Akan tetapi, banyak di antara mereka yang mengalami kesulitan untuk menulis dengan baik.  <br><br></div><div>Sulitnya memahami materi menulis teks negosiasi juga terjadi pada peserta didik kelas X MIPA 3 SMA Negeri 3 Pangkalpinang. Dari 36 orang peserta didik kelas X tersebut, ketika menerima materi menulis teks negosiasi, hanya sekitar 25% yang mampu menguasai materi dengan  baik dan mencapai KKM.  Artinya, sebagian besar siswa,  yaitu 75% belum mencapai KKM. <br><br></div><div>Kondisi ini mendorong peneliti untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran yang tepat. Atas dasar hal itulah, peneliti menerapkan <em>metode sugestopedia</em> untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi menulis teks negosiasi. <br><br></div><div>Dalam kegiatan pembelajaran sejumlah peserta didik tidak aktif dalam mengikuti pembelajaran. Mereka hanya mendengarkan penjelasan guru saja. Jika tidak diinstruksikan, mereka cenderung tidak bertanya atau mengemukakan pendapat.<br> </div><div>Minat mereka dalam belajar sangat kurang, apalagi bila topik yang dibahas dalam teks kurang menarik bagi mereka. Hal ini ditandai dengan kurangnya tangapanan mereka terhadap materi yang dijelaskan guru. Peserta didik terlihat kurang antusias dalam menerima materi pelajaran. <br><br></div><div>Nilai yang mereka peroleh untuk kompetensi dasar teks tersebut juga sangat rendah. Rata-rata nilai mereka di bawah KKM. Sebagian besar siswa belum memahami materi dengan baik dan perlu peningkatan hasil. <br><br></div><div>Selain itu, sebagian besar peserta didik mengalami kesulitan berkonsentrasi. Hal ini ditandai dengan tidak bisanya mereka menjawab pertanyaan yang diberikan secara lisan selama proses pembelajaran di kelas. <br><br></div><div>Berkaitan dengan aspek kebahasaan, seperti kata, kalimat, gagasan pokok paragraf, sebagian besar siswa kurang memahaminya. Hal ini berdampak ketika mereka akan menyusun teks karena banyak kata dan kalimatnya yang tidak tepat secara struktural. <br> </div><div>Dengan met pembelajaran tersebut motivasi peserta didik dan hasil belajar  menulis teks negosiasi akan meningkat. <br><br></div><div> B. RUMUSAN MASALAH </div><div>Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan permasalahan yaitu ; <br><br></div><div>Bagaimana peningkatan motivasi dan hasil belajar peserta didik dalam menulis teks negosiasi dengan menerapkan<em> metode sugestopedia</em> di kelas X MIPA 3 SMA Negeri 3 Pangkalpinang Tahun Pelajaran 2018/2019 ? <br><br></div><div>C.     TUJUAN PENELITIAN </div><div>Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mendeskripsikan  peningkatan motivasi dan hasil belajar peserta didik dalam menulis teks teks negosiasi di kelas X MIPA 3 SMA Negeri 3 Pangkalpinang menggunakan <em>metode sugestopedia.</em> <br><br></div><div>D.    MANFAAT PENELITIAN </div><div>Hasil penelitian ini diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut: <br><br></div><ol><li>Manfaat bagi guru</li></ol><div>Penelitian ini diharapkan bermanfaat: <br><br></div><div>a.       Menerapkan penggunaan metode pembelajaran yang tepat dalam melaksanakan pembelajaran, salah satunya melalui penerapan <em>metode sugestopedia</em> <br><br></div><div>b.      Dapat dijadikan teknik alternatif dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa. <br><br></div><div>c.       Dapat memacu para guru agar lebih kreatif dan inovatif dalam menyelenggarakan pembelajaran dengan cara menentukan metode pembelajaran kreatif <br><br></div><ol><li>Manfaat bagi siswa</li></ol><div>Penelitian ini diharapkan bermanfaat: <br><br></div><div>a.       Memperbaiki kualitas pembelajaran, khususnya pembelajaran  bahasa Indonesia  pada siswa kelas X MIPA 3 SMA Negeri 3 Pangkalpinang pada materi menulis teks negosiasi <br><br></div><div>b.      Tumbuh semangat belajar siswa dan memberikan pengalaman belajar kepada siswa serta dapat meningkatkan motivasi, kreativitas, aktivitas, dan efektivitas pembelajaran siswa terhadap pelajaran bahasa Indonesia melalui penggunaan <em>metode sugestopedia.</em> <br><br></div><ol><li>Manfaat bagi sekolah</li></ol><div>Penelitian diharapkan bermanfaat: <br><br></div><div>a.       Menjadi bahan pertimbangan bagi sekolah dan pihak terkait lainnya untuk mengambil kebijakan dalam menentukan metode pembelajaran bahasa Indonesia sehingga  dapat mempertimbangkan media, teknik, atau strategi yang tepat untuk pembelajaran mata pelajaran tersebut. <br><br></div><div>b.      Meningkatkan mutu pendidikan di sekolah terutama pada mata pelajaran bahasa Indonesia <br><br></div><div>c.       Dapat mempertimbangkan teknik atau metode pembelajaran yang paling tepat bagi pembelajaran bahasa Indonesia <br><br></div><div> BAB II </div><h1>KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS</h1><div><br>A.     KAJIAN TEORI <br><br></div><div>1 . Pengertian Belajar: <br><br></div><div>Menurut Moh. Surya (1981: 32), belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan.<br><br></div><div>Menurut Trianto (2010:16), proses belajar terjadi melalui banyak cara baik yang disengaja maupun tidak disengaja dan berlangsung sepanjang waktu dan menuju pada suatu perubahan pada diri pembelajar.<br><br></div><div>Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tersebut, penulis berpendapat bahwa belajar merupakan proses atau aktivitas yang dilakukan dengan sadar untuk mengetahui sesuatu dengan tujuan mendapatkan suatu perubahan.<br><br></div><div>2 . Hasil Belajar                                   <br><br></div><div>Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006), hasil belajar adalah hasil yang dicapai dalam bentuk angka-angka atau skor setelah diberikan tes hasil belajar pada setiap akhir pembelajaran. Nilai yang diperoleh siswa menjadi acuan untuk melihat penguasaan siswa dalam menerima materi pelajaran.<br><br></div><div>Menurut Mulyasa (2008), hasil belajar merupakan prestasi belajar siswa secara keseluruhan yang menjadi indikator kompetensi dan derajat perubahan prilaku yang bersangkutan. Kompetensi yang harus dikuasai siswa perlu dinyatakan sedemikian rupa agar dapat dinilai sebagai wujud hasil belajar siswa yang mengacu pada pengalaman langsung.<br><br></div><div>Menurut Djamarah dan Zain (2006), hasil belajar adalah apa yang diperoleh siswa setelah dilakukan aktivitas belajar.<br><br></div><div> Menurut Sudjana (2010), hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar.<br><br></div><div>Menurut Suprijono (2009), hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, penegertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan.<br><br></div><div>Menurut Winkel yang dikutip Purwanto (2010), hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya.<br><br></div><div> Berdasarkan beberapa pendapat ahli tersebut, penulis berpendapat bahwa hasil belajar merupakan kemampuan atau kompetensi siswa yang terukur melalui  berbagai tes dan tertera dalam bentuk angka atau nilai tertentu. Hasil belajar ini merupakan indikator kompetensi atau kemampuan siswa tersebut dalam menguasai suatu materi pelajaran yang diterimanya. <br><br></div><div>3.  Motivasi<br><br></div><div>            Beberapa pengertian motivasi dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V, motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.<br><br></div><div>            Mulyasa (2003:112), mengatakan motivasi merupakan tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku menuju ke arah tujuan tertentu.<br><br></div><div>            Sardiman (2003:73), motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandainya dengan munculnya <em>feeling</em> dan didahului  dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. <br><br></div><div>            Berdasarkan beberapa pendapat para ahli, penulis merumuskan bahwa motivasi merupakan keinginan dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu, baik secara sadar maupun tidak dengan tujuan tertentu.<br><br></div><div>4. Menulis<br><br></div><div>Hendry Guntur Tarigan mengatakan menulis merupakan kegiatan menuangkan ide atau gagasan menggunakan bahasa tertulis sebagai media penyampaiannya. <br><br></div><div>Menurut Djago Tarigan, menulis merupakan kegiatan mengekspresikan secara tertulis berbagai macam ide, gagasan, perasaan, pendapat ataupun pikiran.<br><br></div><div>M. Atar Semi (20017:14) mengatakan bahwa menulis merupakan suatu proses kreatif memindahkan gagasan ke dalam lambang-lambang tulisan.</div><div>Burhan Nurgiantoro (1988: 273) mengatakan bahwa menulis adalah aktivitas aktif produktif, yaitu aktivitas menghasilkan bahasa.<br><br></div><div>Mc Crimmon dalam St. Y. Slamet (2008: 72), menulis adalah kegiatan menggali pikiran dan perasaan mengenai suatu subjek, memilih hal-hal yang akan ditulis, menentukan cara menulisnya sehingga pembaca dapat memahaminya dengan mudah dan jelas. <br><br></div><div>St. Y. Slamet sendiri mengatakan bahwa menulis adalah kegiatan yang memerlukan kemampuan kompleks.<br><br></div><div>Gebhardt dan Dawn Rodrigues (1989: 1) mengatakan bahwa menulis adalah salah satu hal penting yang dilakukan di sekolah.<br><br></div><div>Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat dirangkum bahwa menulis merupakan kegiatan mengungkapkan gagasan berupa proses kreatif menggunakan bahasa yang jelas dan sangat penting dilakukan  di sekolah. Bahkan, menulis memerlukan kemampuan kompleks yang ditandai dengan berbagai.   <br><br>5. Negosiasi</div><div>             Negosiasi adalah bentuk interaksi sosial yang berfungsi untuk mencapai kesepakatan di antara pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang berbeda. Menurut KBBI adalah proses tawar-menawar dengan jalan berunding untuk memberi atau menerima guna mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak dengan pihak lainnya. </div><div> </div><div>Negosiasi berasal dari bahasa inggris (<em>negotiate)</em> yang artinya perundingan dengan strategi khusus. Strategi-strategi dalam negosiasi- <em>win-win strategy</em> (strategi menang-menang)-<em>win-lose strategy</em> (strategi menang-kalah)-<em>lose-lose strategy</em> (strategi kalah-kalah).</div><div>                                                                         <br><br></div><div><br><br></div><div><br><br></div><div><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 02:20:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308096472</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Yani Wiliawati</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308096490</link>
         <description><![CDATA[<div> 1<br>. Siswa kurang bisa memahami materi yang cukup berat<br>2. Siswa kurang  motivasi belajar<br>3. Siswa kurang bisa menganaliisa<br>4. Siswa tidak suka menghapal<br>5. Siswa kurang bisa mengeluarkan pendapat<br>Meningkatkan motivasi dan hasil belajar kognitif peserta didik  melalui penerapan metode ceramah bervariasi dan penggunaan media audiovisual dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan materi pokok Demokrasi pada peserta didik kelas XI IPS 3 Semester 1 Kota Pangkalpinang Tahun Ajaran 2018/2019<br>1 bab 1<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337194998/85062e84832d0f523bea4390ce500740/15432867600661104054087.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 02:20:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308096490</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sri Agustini, Bahasa Indonesia</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308096492</link>
         <description><![CDATA[<div>1.Banyak siswa yang kurang berminat dan belum terampil menulis<br>2. Minat dan kemampuan satra rendah<br>3. Banyak siswa yang menyontek tulisan dari internet ketika menulis<br>4. Siswa kurang bersemangat ketika belajar<br>5. Komunikasi multi arah belum terjalin ketika kbm berlangsung<br>UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS TEKS SISWA KELAS XII IPS4 SMA NEGERI 3 PANGKALPINANG DENGAN MENGGUNAKAN MEYODE TJ2R DAN MEDIA GAMBAR<br><br>Bab 1 pendahuluan<br>1.1 latar belakang masalah<br>  Kegiatan belajar mengajar pada dasarnya mengembangkan kemampuan fisik dan psikis penyesuaian sosial siswa secara utuh. Di sini bawa judul gitu hasil belajar berupa perubahan perilaku atau tingkah laku, baik yang berupa pengetahuan, keterampilan motorik, atau penguasaan nilai-nilai (sikap).<br> Mata pelajaran bahasa Indonesia berfungsi sebagai salah satu alat untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis.<br>Setiap guru tentu memiliki kelebihan atau keterbatasan Sebagai pribadi. Sangat banyak dijumpai di lapangan ketika guru mengajar tidak mampu menarik perhatian siswa, bahkan cenderung membosankan. Hal ini mungkin terjadi karena ketika mengajar guru hanya menggunakan metode ceramah dan tanpa menggunakan media pembelajaran atau alat peraga. <br>Keberhasilan kegiatan belajar mengajar khususnya keberhasilan pembelajaran bahasa Indonesia sangat dipengaruhi oleh keberhasilan guru dalam merancang dan menciptakan kegiatan belajar mengajar yang dapat menarik dan memotivasi peserta didik. Apalagi saat ini, guru harus mampu merancang pembelajaran yang menerapkan strategi pembelajaran scientifik. Oleh karena itu, kegiatan belajar perlu dikembangkan secara sistematis, efektif dan efisien. Adanya variasi dalam kegiatan belajar merupakan suatu alternatif untuk menumbuhkembangkan motivasi serta aktivitas siswa dalam belajar. Proses pembelajaran secara keseluruhan dari awal sampai akhir kegiatan, harus dapat membangkitkan aktivitas siswa sebagai objek sekaligus sebagai subjek dalam pembelajaran. Guru harus menguasai kemampuan tersebut agar siswa memperoleh hasil belajar yang maksimal. <br>Pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung, peneliti sering kali menemukan kenyataan bahwa ada sebagian siswa yang bersikap acuh tak acuh, kurang aktif, tidak bersemangat atau kurang termotivasi. Hal ini merupakan salah satu sebab pembelajaran di kelas menjadi pasif sehingga hasil belajar yang diharapkan guru tidak sesuai dengan harapan. Hal ini merupakan salah satu sebab pembelajaran di kelas menjadi pasif sehingga hasil belajar yang diharapkan guru tidak sesuai dengan harapan. Hal ini bisa juga disebabkan oleh pengelolaan KBM yang belum efektif. Guru belum memanfaatkan media pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Kreativitas guru dalam mengembangkan dan memanfaatkan semaksimal mungkin berbagai media pembelajaran belum dilakukan oleh guru. <br>Pembelajaran yang berhasil dibuktikan melalui penguasaan materi oleh siswa. Tingkat penguasaan materi biasanya dinyatakan dengan nilai dalam bentuk angka. Kenyataan yang dihadapi oleh peneliti ketika melakukan pembelajaran pada kompetensi dasar menulis teks di kelas 12 IPS 4 SMA Negeri 3 Pangkalpinang dapat disimpulkan bahwa siswa kurang berminat dan belum mampu menulis.<br>Melalui diskusi dan pembahasan tentang beberapa komponen yang diasumsikan akan dapat membantu pembenahan perbaikan terhadap hasil belajar siswa tersebut, maka penulis dan teman sejawat bersepakat melakukan perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas (PTK) dengan judul "meningkatkan minat dan kemampuan siswa kelas 12 IPS 4 SMA Negeri 3 Pangkalpinang pada mata pelajaran bahasa Indonesia KD menulis teks dengan menggunakan metode TJ2R dan media gambar.<br><br>1.2 rumusan masalah<br>1.2.1 Bagaimanakah proses pembelajaran yang menggunakan metode TJ2R dan media gambar dalam pembelajaran menulis teks?<br>1.2.2 Apakah dengan menerapkan metode TJ2R dapat meningkatkan minat dan kemampuan siswa kelas 12 IPS 4 SMA Negeri 3 Pangkalpinang pada mata pelajaran bahasa Indonesia kompetensi dasar menulis teks?<br><br>1.3 tujuan penelitian<br>Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan minat dan hasil belajar peserta didik dalam proses kreatif menulis teks sehingga peserta didik berminat atau termotivasi dan terampil menulis, Sedangkan untuk guru penelitian ini diharapkan dapat memperbaiki cara guru dalam mengelola pembelajaran, meningkatkan profesionalisme guru dalam menambah pengalaman dan pengetahuan dalam pembelajaran.<br><br>1.4 manfaat penelitian<br>Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut.<br>1. Bagi guru<br>a. Dijadikan sebagai usaha menemukan kelemahan-kelemahan guru dalam proses pembelajaran dan sebagai bahan perbaikan dalam proses kegiatan belajar mengajar berikutnya.<br>b. Upaya meningkatkan mutu pembelajaran dan profesionalitas pada waktu yang akan datang.<br>C. Meningkatkan kemampuan profesional guru melalui penulisan karya ilmiah.<br><br>2. Bagi siswa<br>a. Dapat meningkatkan nilai/ hasil belajar siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya pada kompetensi dasar menulis teks.<br>b. Dengan adanya tindakan perbaikan Dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia.<br>c. Diharapkan dapat meningkatkan kreativitas siswa khususnya dalam mempelajari pelajaran bahasa Indonesia.<br><br>3. Bagi sekolah<br>Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan, khususnya peningkatan kualitas proses pembelajaran pada mata pelajaran bahasa Indonesia sehingga visi dan misi sekolah dapat tercapai.<br><br>Bab 2<br>Landasan teori<br>2.1 metode TJ2R<br>Suatu proses belajar mengajar tidak hanya sekedar proses memberi pelajaran atau menerima pelajaran. <br>Namun, terdapat proses penerimaan ilmu dari guru kepada murid. Untuk itu, agar dapat terjadi proses transfer ilmu tersebut perlu metode-metode untuk mencapai tujuan pembelajaran sehingga metode dapat menjadikan proses belajar mengajar semakin efektif dan efisien. <br>Metodologi pembelajaran menjadi cara penyampaian ilmu yang cukup penting, terutama untuk para pengajar perlu untuk mempelajari sekaligus mempraktikkan kepada peserta didiknya di kelas. Hal tersebut bertujuan agar dengan menggunakan metode pembelajaran dapat disusun penyampaian materi yang baik dan menarik sehingga hal tersebut dapat membuat peserta didik menjadi lebih bersemangat dalam belajar.<br>Salah satu metode pembelajaran yang penulis terapkan dalam pembelajaran menulis di kelas adalah metode TJ2R. TJ2R adalah singkatan dari tanya, jawab, rangkai, dan revisi. Metode tersebut merupakan metode yang sangat sederhana yang penulis terapkan pada materi pembelajaran menulis di kelas. Langkah-langkah metodeTJ2R adalah sebagai berikut.<br>1. Tanya<br> Guru memandu siswa menulis dengan mengemukakan pertanyaan pertanyaan yang sesuai dengan tema.<br>2. Jawab<br> Siswa memulai menulis dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan guru<br>3. rangkai<br>Siswa merangkai kalimat menjadi paragraf berdasarkan Jawaban pertanyaan yang telah dirumuskannya.<br>4. Revisi<br>Siswa membaca dan merevisi tulisannya.<br>2.2 media pembelajaran<br>2.2.1 pengertian media<br>Kata media berasal dari bahasa latin Medius yang secara harfiah berarti Tengah, perantara, atau pengantar. Tetapi secara lebih khusus, pengertian media dalam proses pembelajaran diartikan sebagai alat alat grafis, foto grafis, atau elektronik untuk menangkap, memproses memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Media juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan, merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemampuan siswa, sehingga dapat terdorong terlibat dalam proses pembelajaran. Gagnis mengartikanmedia sebagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar. A  Medium( flural media)is a Channel of communication, example in Cloud film, television, diagram, printed material, computers, and instructors. ( Media adalah saluran komunikasi termasuk Film, televisi, diagram, materi tercetak, komputer, dan instruktur). IECT (Association of Education and communication technology, 1977 ), memberikan batasan media sebagai segala bentuk saluran yang dipergunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. NEA ( National education Association) memberikan batasan media sebagai bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak, audio visual, serta peralatannya.<br>Dari berbagai batasan di atas dapat dirumuskan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, dapat membangkitkan semangat, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses pembelajaran pada diri siswa.<br><br>2.1.2 ciri-ciri media pembelajaran<br>Ciri-ciri khusus media pembelajaran berbeda menurut tujuan dan pengelompokannya. Ciri-ciri media dapat dilihat menurut kemampuannya membangkitkan rangsangan pada indra penglihatan pendengaran perabaan penciuman dan pengecapan. Maka ciri-ciri umum media pembelajaran adalah bahwa media itu dapat diraba, dilihat, didengar, dan diamati melalui panca indra. Disamping itu ciri-ciri media juga dapat dilihat menurut harganya, lingkup sasarannya, dan kontrol oleh pemakai.<br>Tiap-tiap media mempunyai karakteristik yang perlu dipahami oleh pemakainya. Dalam memilih media orang perlu memperhatikan tiga hal yaitu: <br>1. Kejelasan maksud dan tujuan pemilihan tersebut<br>2. Sifat dan ciri-ciri media yang akan dipilih<br>3. Adanya sejumlah media yang dapat dibandingkan karena pemilihan media pada dasarnya adalah proses pengambilan keputusan akan adanya alternatif-alternatif pemecahan yang dituntut oleh tujuan.<br>2.1.3 jenis-jenis media pembelajaran<br>Menurut Heinich, Molenda, Russel (1996:8) jenis media yang lazim dipergunakan dalam pembelajaran antara lain: media non proyeksi, media proyeksi, media audio, media gerak, media komputer, komputer multimedia, hypermedia, dan media jarak jauh.<br>Jenis media dalam pembelajaran adalah: <br>1. Media grafis seperti gambar, foto, grafik, bagan, diagram, kartun, poster, dan komik.<br>2. Media tiga dimensi yaitu media adalah bentuk model padat, model penampang, model susun, model kerja, dan diorama.<br>3. Media proyeksi seperti slide, film stips, film, dan OHP<br>4. Lingkungan sebagai media pembelajaran<br><br>Untuk menggunakan media sesuai dengan materi pelajaran perlu diketahui terlebih dahulu jenis-jenis media yang ada. Ada juga yang memisahkan jenis media sebagai berikut:<br>1. Media grafis<br> Termasuk didalamnya media visual yakni pesan yang akan disampaikan dituangkan kedalam simbol-simbol komunikasi visual.<br>2. Media audio<br>Media jenis ini berkaitan dengan indera pendengaran. Pesan yang akan disampaikan dituangkan kedalam lambang-lambang auditif baik verbal maupun nonverbal.  <br>3. Media proyeksi diam<br>Media jenis ini mempunyai persamaan dengan media grafis, dalam arti menyajikan rangsangan rangsangan visual. Perbedaannya, media grafis dapat secara langsung berinteraksi dengan pesan media yang bersangkutan. <br>2.1.4 kriteria pemilihan media pembelajaran<br>Media pembelajaran suatu cara, alat, atau proses yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari sumber pesan kepada penerima pesan yang berlangsung dalam proses pendidikan. Ramiszowski mengungkapkan "media" as the carriers on messages, from some transmitting Which may be a human being or case is the learne). Penggunaan media dalam pembelajaran atau disebut juga pembelajaran media dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, bahkan membawa pengaruh pengaruh psikologis terhadap siswa.<br><br>Menurut wilkinson, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih media pembelajaran, yakni:<br>1. Tujuan<br>Media yang dipilih hendaknya menunjang tujuan pembelajaran yang dirumuskan. Tujuan yang dirumuskan ini adalah kriteria yang paling cocok, sedangkan tujuan pembelajaran yang lain merupakan kelengkapan dari kriteria utama. <br>2. Ketepatgunaan<br>Jika materi yang akan dipelajari adalah bagian-bagian yang penting dari benda, maka gambar seperti bagan dan Slayer dapat digunakan. Apabila yang dipelajari adalah aspek-aspek yang menyangkut gerak, maka media film atau video akan lebih tepat. Wilkinson menyatakan bahwa penggunaan bahan-bahan yang bervariasi menghasilkan dan meningkatkan pencapaian akademik.<br>3. Keadaan siswa<br>Media akan efektif digunakan apabila tidak tergantung dari perbedaan interindividual antara siswa. Misalnya kalau siswa tergolong tipe auditif/ visual maka siswa yang tergolong auditif dapat belajar dengan media visual dan siswa yang tergolong visual dapat belajar dengan menggunakan media auditif. <br>4. Ketersediaan<br>Walaupun suatu media dinilai sangat tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran, media tersebut tidak dapat digunakan jika tidak tersedia. Menurut wilkinson, media merupakan alat mengajar dan belajar, peralatan tersebut harus tersedia ketika dibutuhkan untuk memenuhi keperluan siswa dan guru.<br>5. Biaya<br>Biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh dan menggunakan media, hendaknya benar-benar seimbang dengan hasil hasil yang akan dicapai.<br><br>Menurut Canei, R Springfield, dan Clark C (1998: 62) dasar pemilihan alat bantu visual adalah memilih alat bantu yang sesuai dengan kematangan, minat dan kemampuan kelompok, memilih alat bantu secara tepat untuk kegiatan pembelajaran, mempertahankan keseimbangan dalam jenis alat bantu yang dipilih, <br>menghindari alat bantu yang berlebihan, </div><div>peserta mempertanyakan Apakah alat bantu tersebut diperlukan dan dapat mempercepat pembelajaran atau tidak.<br>2.1.5 fungsi media pembelajaran<br>Menurut winataputra at all (2003) beberapa fungsi dari media pembelajaran adalah sebagai berikut.<br>a. Penggunaan media pembelajaran bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi memiliki fungsi tersendiri sebagai sarana bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang lebih efektif.<br>b. Media pembelajaran merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran. Hal ini mengandung pengertian bahwa media pembelajaran sebagai salah satu komponen yang tidak berdiri sendiri tetapi saling berhubungan dengan komponen lainnya dalam rangka menciptakan situasi belajar yang diharapkan.<br>c. Media pembelajaran Dalam penggunaannya harus relevan dengan tujuan dan isi pembelajaran. Fungsi Ini mengandung makna bahwa penggunaan media dalam pembelajaran harus selalu melihat kepada tujuan bahan ajar. <br>d. Media pembelajaran bukan berfungsi sebagai hiburan, Dengan demikian tidak diperkenankan menggunakannya hanya sekedar untuk permainan atau memancing perhatian siswa saja.<br>e. Media pembelajaran berfungsi mempercepat proses belajar. Fungsi Ini mengandung arti bahwa dengan media pembelajaran siswa dapat menangkap tujuan dan bahan ajar lebih mudah dan lebih cepat.<br>f. Media pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Pada umumnya hasil belajar siswa dengan menggunakan media pembelajaran akan tahan lama mengendap sehingga kualitas pembelajaran memiliki nilai yang tinggi.<br>g. Media pembelajaran meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir, Oleh karena itu dapat mengurangi terjadinya verbalisme.<br>Berdasarkan Penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran dalam hal ini dapat diterapkan pada pelajaran matematika dengan tujuan untuk menciptakan komunikasi yang baik antara guru dan siswa serta membantu memperjelas materi pelajaran, dan mencegah verbalisme pada diri siswa.<br><br>2.1.6 media gambar<br>Menurut Basuki dan Farida 2001: 42 mengemukakan kelebihan dan keterbatasan media gambar yaitu<br>a. Kelebihan media gambar<br>1. Umumnya murah harganya<br>2. Mudah didapat<br>3. Mudah digunakan<br>4. Dapat memperjelas suatu masalah<br>5. Lebih realistis<br>6. Dapat membantu mengatasi keterbatasan pengamatan<br>7. Dapat mengatasi keterbatasan ruang<br>b. Keterbatasan media gambar:<br>1. Semata-mata hanya medium visual<br>2. Ukuran gambar seringkali kurang tepat untuk pengajaran dalam kelompok besar<br>3. Memerlukan ketersediaan sumber keterampilan dan kejadian guru untuk dapat memanfaatkannya<br>Menurut Arief S sadiman 1992 29 mengemukakan kelebihan dan keterbatasan media gambar adalah<br>a. Kelebihan media khusus<br>1. Sifatnya concrete lebih realistis menunjukkan pokok masalah yang dibandingkan dengan gambar verbal semata.<br>2. Gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu<br>3. Gambar dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita<br>4. Dapat memperjelas suatu masalah kesalahpahaman Dalam bidang apa saja sehingga dapat mencegah atau membetulkan kesalahpahaman<br>5. Murah harganya dan gampang dilepas serta digunakan tanpa memerlukan peralatan khusus<br>b. Kelemahan media gambar<br>1. Hanya menekankan persepsi Indra mata<br>2. Gambar benda yang terlalu kompleks kurang efektif untuk kegiatan pembelajaran<br>3. Ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besar<br>4. Memerlukan keterbatasan sumber dan keterampilan kejelian untuk dapat memanfaatkannya.<br><br>Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan fungsi media gambar adalah<br>a. Kelebihan<br>1. Sifatnya konkret<br>2. Dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu<br>3. Ok dapat mengatasi keterbatasan pengamatan<br>4. Murah Harganya<br>b. Keterbatasan <br>1. Hanya medium biasa <br>2. Ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besar<br>3. memanfaatkannyaemerlukan kejelian guru untuk memanfaatkannya<br>BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN<br>3.1 lokasi dan waktu penelitian<br>Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada:<br>Lokasi : SMA Negeri 3 Pangkalpinang<br>Waktu : Semester ganjil tahun pelajaran 2018-2019 sebanyak 3 siklus masing-masing siklus 1 kali pertemuan<br>Mata pelajaran : bahasa Indonesia<br>3.2 subjek penelitian<br>Kelas:12 IPS4 SMA Negeri 3 Pangkalpinang tahun pelajaran 2018-2019<br>Karakteristik siswa:<br>Jumlah siswa<br> laki-laki <br>perempuan<br>3.3 Prosedur Penelitian<br>Penelitian dilakukan sebanyak tiga siklus masing-masing siklus 1 kali pertemuan<br>3.4 desain penelitian<br>Tahapan-tahapan setiap siklus pada tiap pertemuan adalah sebagai berikut.<br>1. Perencanaan <br>2. Pelaksanaan tindakan<br>3. Observasi/ pengamatan<br>4. Evaluasi <br>5. Refleksi <br><br><br> </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337195277/e98456e6346f69f305e13c3bcdd43b31/15432867848657775066870475682509.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 02:20:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308096492</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SRI KUSDARI</title>
         <author>srikusdari</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308096654</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Siswa malas membaca buku ,lebih suka bika hp untuk hal yang lain<br>2. Siswa banyak yang ngantuk, karena tidur larut malam<br>3. Siswa kalau ulangan nilainya 80% dibawah kkm.<br>4. Kurangnya media pembelajaran.<br>5. Siswa malas mengerjakan tugas dari guru<br><br>Judul<br> meningkatkan minat belajar sejarah siswa SMA Negeri 3 Pangkalpinang kelas XI dengan menggunakan model Jigsaw yang berbasis problem based leatning<br><br>Latar belakang<br>Bangsa yang besar adalah bukan bangsa yang wilayahnya luas, <br>namun Bangsa yang besar adalah jika elemen masyarakatnya mengerti, memahami  sejarah negaranya . Semua itu diperoleh melaluui proses pendidikan.<br>di era globalisasi saat ini permasalahan pendidikan selalu muncul persamaan dengan berkembang dan meningkatnya kemampuan siswa, situasi dan kondisi lingkungan yang ada, pengaruh informasi dan kebudayaan, serta berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. <br>perbaikan mutu pendidikan dan pengajaran senantiasa harus terus diupayakan dan dilaksanakan dengan jalan meningkatkan kualitas pembelajaran. <br>upaya peningkatan mutu pendidikan secara nasional telah pengkajian ulang terhadap kurikulum, sehingga terjadi penyempurnaan penyempurnaan kurikulum dari waktu ke waktu. Hingga saat ini menggunakan kurikulum K 13.<br>Mengingat pentingnya partisipasi siswa dalam proses belajar, maka guru diharapkan dapat menciptakan situasi pembelajaran yang lebih aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan<br><br><br>B.  identifikasi masalah<br> dari uraian latar belakang masalah di atas, maka identifikasi masalahnya sebagai berikut :<br> 1. siswa tidak bisa menempatkan diri dalam menggunakan hp.<br>2. siswa malas membaca buku paket sejarah lebih suka main hp.<br>3. hasil ulangan siswa 80% dibawah KKM.<br>4. kurangnya media pembelajaran sejarah yang bersifat nasional.<br>5. Siswa malas membuat kesimpulan materi yang sudah dipelajari.<br><br>C. Rumusan masalah<br>Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas adalah : " Bagaimana model pembelajaran Jigsaw diterapkan dalam upaya meningkatkan minat belajar sejarah siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 3 Pangkalpinang semester ganjil tahun ajaran 2018-2019 pada mata pelajaran sejarah ?<br><br>D. Tujuan Penelitian<br>Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan minat belajar sejarah siswa kelas XI IPS SMA Negeri 3 Pangkalpinang semester ganjil tahun ajaran 2018-2019.<br><br>E. Manfaat penelitian<br>1. Bagi siswa<br>a. Mengaktifkan belajar siswa, karena pembelajaran dilakukan dengan menyenangkan dan tidak membosankan.<br>b. Mendorong dan memotivasi siswa untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam belajar<br>2. Bagi guru<br>a. Memiliki gambaran tentang pembelajaran sejarah yang aktif, inovatif, efektif dan menyenangkan.<br>b. Meningkatkan kompetensinya dalam mengajar mata pelajaran sejarah.<br>3. Bagi sekolah<br>a. sebagai salah satu bahan untuk memperbaiki mutu pendidikan di sekolah.<br>b.  sebagai dasar untuk memotivasi guru dalam menerapkan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa melalui penerapan model pembelajaran yang inovatif.<br>c.  sebagai masukan tentang salah satu upaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran sejarah.<br><br>BAB II<br>Landasan Teori<br><br>Belajar adalah satu proses berkesinambungan yang terjadi pada individu seumur hidupnya. Menurut Slameto (28- 11 -2018 ).Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk mempetoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruan, sebagai hasil pengamatannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.<br> perubahan tingkah laku yang dimaksud dalam pengertian belajar menurut slameto nmempunyai ciri-ciri yaitu :<br>1. Perubahan terjadi diluar sadar<br>2. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional.<br>3. perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.<br>4. perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara.<br>5. perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah.<br>6.  perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.<br> Minat merupakan momen-momen dan kecenderungan jiwa yang terarah secara intensif kepada suatu objek yang dianggap paling efektif yang di dalamnya terdapat elemen-elemen efektif yang kuat.( menurut Kartono )<br> minat belajar membentuk sikap akademik tertentu yang bersifat sangat pribadi pada setiap siswa. Oleh karena itu, <br>minat belajar harus ditumbuhkan sendiri oleh masing-masing siswa. Pihak lainnya hanya memperkuat dan menumbuhkan minat atau untuk memelihara minat yang telah dimiliki seseorang. ( Loekmono, 1994 ) 28-12-2018.<br>model pembelajaran tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar maupun mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lainnya dalam kelompoknya.  jigsaw ini desain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran yang lain.  siswa juga tidak hanya mempelajari materi yang telah diberikan tetapi mereka juga harus memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain.( Elliot Aroson ).<br>Model problem Based Learning diartikan sebagai sebuah model pembelajaran yang didalamnya melibatkan siswa untuk berusaha memecahkan masalah dengan melalui beberapa tahap metode ilmiah mempelajari pengetahuan yang berkaitan dengan masalah tersebut dan sekaligus siswa diharapkan akan memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah ( menurut.Kamdi : 77 ). 28-11-2018<br>Model problem Based Learning secara umum dapat dikenali dengan adanya enam ciri yang dimilikinya, <br>Adapun keenam ciri tersebut adalah :<br><br>1. kegiatan belajar dengan model problem Based Learning dimulai dengan pemberian sebuah masalah<br>2.  masalah yang disajikan berkaitan dengan kehidupan nyata para siswa.<br>3. mengorganisasikan pembahasan seputar masalah, bukan membahas seputar disiplin ilmu.<br>4.  siswa diberikan tanggung jawab yang maksimal  dalam membentuk maupun menjalankan proses belajar secara langsung.<br>5. siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok kecil.<br>6.  siswa dituntut untuk mendemonstrasikan produk atau kinerja yang telah mereka pelajari.<br><br>BAB III<br><br> metode penelitian <br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 02:21:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308096654</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Harmeiruri</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308096898</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Kurangnya minat siswa terutama dalam menulis dan membaca<br>2. Kurangnya motivasi dalam belajar<br>3. Kurangnya motivasi dalam menulis dan menghafal kosa kata<br>4. Dengan metode pemecahan masalah dalam soal diharapkan mampu untuk berfikir kritis<br>5. Keaktifan dalam bertanya masih rendah<br>6. Faktor latar belakang siswa yang beragam, beberapa siswa dari sekolah yang belum mengenal bahasa Arab<br><br>Judul<br>Upaya Peningkatan Hasil Belajar siswa melalui empat keterampilan dalam pembelajaran bahasa Arab <br>di kelas XII MIPA 3 di SMA Negeri 3 Pangkalpinang<br>BAB I<br>PENDAHULUAN<br><strong>A. Latar Belakang<br></strong>Bahasa adalah jendela dunia dan alat pembuka (kunci) dari suatu ilmu pengetahuan. Dikatakan sebagai jendela dunia karena berbagai pengetahuan dan 1001 pengetahuan ada dan tercipta karena di bahasakan . Suatu kaum akan menyampaikan maksud mereka kepada kaum yang lain dengan melalui bahasa .Oleh karena itu bahasa merupakan sesuatu yang harus dipelajari dan diperaktekkan dalam berinteraksi dengan orang lain. Mengingat pentingnya bahasa sebagai alat komunikasi, maka dalam proses pembelajaran bahasa juga harus di arahkan pada tercapainya keterampilan berkomunikasi baik secara lisan atau tertulis dalam pemahaman dan penggunaan. Salah satu diantaranya adalah bahasa arab.<br> Dalam pembelajaran bahasa arab terdapat beberapa unsur bahasa yakni tata bunyi (fonology / ilm al-ashwat), tata tulis (orthography/kitabat al-huruf),tata kata(al-sharf), tata kalimat (al-nahwu),dan kosa kata (al-mufradat). Sedangkan keterampilan berbahasa terdiri atas: membaca (al-qira’ah),menulis (al-kitabah),berbicara (al-kalam) dan menyimak (al-istima’) . Untuk melatih dan mengajarkan unsur-unsur keterampilan tersebut, telah dikembangkan berbagai cara atau tehnik.<br> Pembelajaran bahasa arab di madarasah tsanawiyah atau madrasah aliyah adalah pembelajaran yang memungkinkan penguasaan keempat keterampilan yang mana keempat keterampilan tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Keterampilan menulis mempunyai peranan penting yang sama dengan keterampilan lainnya dalam pembelajaran bahasa arab. Selain itu keterampilan menulis digunakan manusia untuk menuangkan segala imajinasi, gagasan, pikiran, dan pandangan hidup untuk mencapai maksud . Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang digunakan dalam komunikasi secara tidak langsung, keterampilan menulis tidak didapatkan secara alamiah, tetapi harus melalui proses belajar dan berlatih .<br> Keterampilan menulis tidak bisa didapatkan secara langsung akan tetapi harus melalui proses belajar dan berlatih. Hal demikian terjadi karena bahasa arab memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dari huruf latin. Diantaranya perbedaan tersebut ialah bahwa huruf arab bersifat sillabary, dalam arti tidak mengenal huruf vocal karena semua hurufnya konsonan . Perbedaan lainnya ialah cara menulis dan membacanya dari kanan kekiri. Problema ini merupakan problema tersendiri dalam pembelajaran bahasa arab bagi siswa yang hanya mengenal huruf latin, seperti siswa-siswi Indonesia pada umumnya.<br> Menurut Hermawan, mengungkapkan bahwa keterampilan menulis adalah kemampuan dalam mendeskripsikan atau mengungkapkan isi pikiran, mulai dari aspek yang sederhana seperti menulis kata-kata sampai pada aspek yang kompleks yaitu mengarang . Namun pada kenyataannya, kegiatan menulis belum sepenuhnya terlaksana. Menyusun suatu gagasan, pendapat, dan pengalaman menjadi suatu rangkaian berbahasa tulis yang teratur, sistematis, dan logis bukan merupakan pekerjaan mudah, melainkan pekerjaan yang memerlukan latihan terus-menerus.<br> Menulis merupakan salah satu keterampilan yang dapat dibina dan dapat dilatihkan. Artinya kegiatan menulis itu dapat dilakukan hanya dengan cara dibina dan dilatihkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menulis diartikan sebagai kegiatan membuat angka atau huruf dengan pena, pensil, atau kapur dan sebagainya . Pembelajaran menulis merupakan merupakan salah satu pembelajaran yang memerlukan perhatian khusus baik dari guru mata pelajaran ataupun dari pihak-pihak yang terkait dalam penyusunan kurikulum pembelajaran.<br> Saat Ini pembelaran menulis lebih banyak disajikan dalam bentuk teori ,tidak banyak dalam bentuk praktek menulis. Keterampilan menulis yang tidak diimbangi dengan praktek menjadi salah satu faktor kurang terampilnya siswa dalam menulis. Siswa pada sekolah menengah atas seharusnya sudah lebih dapat untuk mengekspresikan gagasan, pikiran, dan perasaannya secara tertulis.<br> Setiap anak manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk menguasai setiap bahasa, walaupun dalam kadar dan dorongan yang berbeda. Adapun diantara perbedaan-perbedaan tersebut adalah tujuan-tujuan pengajaran yang ingin dicapai, kemampuan dasar yang dimiliki, motivasi yang ada di dalam diri dan minat serta ketekunannya mempelajari bahasa asing akan lebih sulit difahami daripada bahasa ibu (bahasa sendiri) karena selain kosakata yang jarang digunakan digunakan, struktur kata dan kalimatpun memerlukan waktu khusus untuk dipelajari. Oleh sebab itu, pengajaran Bahasa Asing dalam lembaga formal dan informal memerlukan metode pengajaran yang tepat digunakan, struktur kata dan kalimatpun memerlukan waktu khusus untuk dipelajari. Oleh sebab itu, pengajaran Bahasa Asing dalam lembaga formal dan informal memerlukan metode pengajaran yang tepat sesuai dengan tujuan umum pengajaran bahasa itu sendiri.<br> Menurut Yusuf dan Anwar dalam bukunya “metodologi pembelajaran bahasa arab” mengemukakan bahwa ada 6 metode pengajaran dalam bahasa arab yaitu metode bercakap-cakap, metode muthala’ah (membaca), metode imla’ (mendikte), metode insya’ (mengarang), metode mahfudzat (menghafal), metode qawaid (nahwu sharf) .<br> Metode imla’ disebut juga metode dikte atau metode menulis dimana guru mengucapkan materi pelajaran dan siswa disuruh menulisnya di buku tulis. Imla juga dapat dilakukan dengan cara guru menuliskan materi pelajaran imla’ di papan tulis kemudian dihapus dan kemudian siswa disuruh untuk menulisnya kembali di buku tulis . Metode pembelajaran imla’ itu berbeda-beda sesuai dengan tingkat perkembangan akal murid.<br> Kesulitan menulis yang dihadapi oleh siswa dalam mempelajari bahasa Arab dipengaruhi oleh minimnya pengetahuan bahasa Arab di kalangan siswa itu sendiri, hal ini disebabkan oleh karena kebanyakan dari mereka berasal dari sekolah yang belum mengenal bahasa Arab sama sekali dan belum pernah mempelajarinya. Di samping itu, ada juga yang berasal MI/MTs, namun tidak semua dari mereka mampu menuliskan kosakata (mufradath) ataupun kalimat Bahasa Arab secara baik dan benar.<br> Berdasarkan observasi awal yang saya peroleh bahwa dalam pembelajaran Bahasa Arab khususnya dalam keterampilan menulis,masih banyak mengalami kendala seperti (1) kurangnya pengetahuan tetang keterampilan menulis Bahasa Arab, (2) faktor latar belakang siswa yang beragam, beberapa siswa berasal dari sekolah yang belum memiliki dasar mengenal bahasa arab (3) hasil prestasi dalam pembelajaran bahasa arab rata-rata mendapat nilai rendah terutama dalam bidang keterampilan menulis.<br> Berdasarkan kendala-kendala yang dihadapi siswa tersebut, peneliti akan memfokuskan pada aspek keterampilan menulis melalui metode imla’. Dalam penelitian ini, peneliti memilih siswa kelas XII MIPA 3 SMA Negeri 3 Pangkalpinang sebagai subjek penelitian.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337194620/e644d7d6edab473075ceb3a305185ffb/1543288724244_1694804080.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 02:22:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308096898</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Elvan Pramartha</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308097011</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Peserta didik kurang semangat untuk praktek berbicara <br>2. Peserta didik tidak mampu membaca kalimat bahasa arab dengan baik dan benar<br>3. Peserta didik kurang menguasai kosa kata bahasa arab mengenai kehidupan sehari hari disekolah dan dirumah<br>4. Peserta didik kesulitan dalam menuliskan kalimat bahasa arab dengan benar<br>5. Peserta didikmalas dalam mengerjakan tugas<br><br>PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN ROLE PLAYING DALAM MATA PELAJARAN BAHASA ARAB GUNA MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA (KALAM) PESERTA DIDIK KELAS X IPS 1 SMAN 3 PANGKALPINANG<br><br> </div><div><strong>BAB I</strong> <br><br></div><div><strong>PENDAHULUAN</strong> <br><br></div><ol><li><strong>Latar Belakang</strong></li></ol><div> Maju dan terdepannya suatu bangsa tergantung peranan pendidikan yang berada didalamnya pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan tanpa pendidikan yang baik mustahil suatu bangsa akan maju dan berperadaban. </div><div>Guru  mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan dan kemajuan anak didiknya. Dari sinilah guru dituntut untuk dapat menjalankan tugas dengan sebaiknya-baiknya. Untuk mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan, guru harus “kaya” dengan berbagai model pembelajaran yang tepat dan sesuai kebutuhan anak didik. Sehingga nantinya proses pembelajaran tidak monoton dan membuat antusias anak didik dalam mengikuti materi pelajaran yang disampaikan. <br><br></div><div>Ada empat kompetensi dasar yang harus dimiliki anak didik dalam pembelajaran bahasa arab yaitu Istima (mendengarkan) ’, Kalam (berbicara), Qiro’ah (membaca), dan Kitabah (menulis). Adapun dari empat kompetensi tersebut terkadang hanya dua kompetensi saja yang selalu diperhatikan dan dipakai oleh guru yaitu kompetensi Qiro’ah dan kitabah. Sementara Istima’ dan Kalam jarang mendapat tempat atau terkadang dipinggirkan Padahal seseorang yang dikatakan mampu berbahasa arab tentunya pertama kali dilihat melalui kemampuan berbicaranya <br><br></div><div>Oleh karena itu  penulis berusaha melakukan penelitian tindakan kelas yang berkonsentrasi pada dua hal tersebut (istima’ dan kalam) terlebih dalam pengucapan dan berbicara dengan menggunakan strategi pembelajaran role-play. <br><br></div><div>Role playing (bermain peran) adalah sejenis permainan gerak yang di dalamnya ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang. Dalam role playing peserta didik dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas, meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas. Selain role playing seringkali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana anak didik membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang, ia juga berfungsi sebagai penanam karakter kata atau penggunaan ungkapan. </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337196259/eb33b5c2951c4e063069b9ce4c424617/1543286484526248154624.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 02:22:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308097011</guid>
      </item>
      <item>
         <title>M. Yudhistira</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308097066</link>
         <description><![CDATA[<div><br>1. Metode pembelajaran yang tidak variatif sehingga jenuh<br>2. Energi yang terkuras karena pulang terlalu sore<br>3. Terlalu banyak kegiatan sehingga banyak materi yang tertinggal<br>4. Mengantuk dan tidak bersemangat<br>5. Mencontek di saat ulangan<br>PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN SEJARAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE PESAN BERANTAI DALAM UPAYA MENINGGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS XI IPS 2 SMA NEGERI 3 PANGKALPINANG.<br><br>Bab 1<br>Latar belakang<br><br>Pendidikan merupakan faktor penting yang dapat digunakan merealisasi bakat-bakat yang dibawa manusia sejak lahir sehingga manusia mempunyai keterampilan yang dapat digunakan untuk menghidupi dirinya(profesi). Bila semua masyarakat mempunyai keterampilan yang berguna dapat diharapkan akan muncul masyarakat yang dinamis efektif dan produktif sasaran akhir dari keadaan masyarakat Seperti ini adalah pencapaian cita-cita bangsa sesuai dengan isi pembukaan undang-undang Dasar 1945.<br>Pendidikan merupakan suatu kegiatan interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Keberhasilan kegiatan pendidikan ditentukan oleh Bagaimana partisipasi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan interaksi dalam pendidikan tersebut sehingga peserta didik aktif mengambil bagian dalam kegiatan interaksi tersebut.<br>Oleh karena itu di dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan pendidik perlu sekali mengusahakan suatu strategi kegiatan pendidikan yang mengarah kepada keterlibatan partisipasi dan kegiatan peserta didik sebanyak-banyaknya.<br>Aktivitas belajar merupakan hal yang penting yang wajib dilakukan oleh seorang siswa sebagai pelajar namun tidak sedikit siswa memandang belajar sebagai suatu yang bikin bosan dan tidak terlalu penting Misalnya saja banyak ditemukan siswa yang malas dan merasa ogah-ogahan untuk belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru dalam menunjang belajar diperlukan adanya kemauan serta motivasi agar belajar itu dianggap sebagai aktivitas yang menyenangkan dan memperoleh manfaat.<br>Berdasarkan fakta hasil pengamatan guru dan observasi di Sekolah SMA Negeri 3 Pangkalpinang menunjukkan bahwa proses pembelajaran di kelas di IPS 2 mata pelajaran sejarah belum optimal pada kondisi awal dari 32 peserta didik di kelas mempunyai aktivitas pembelajaran sejarah yang rendah seperti metode pembelajaran yang tidak variatif sehingga jenuh, energi yang terkuras karena pulang terlalu sore, terlalu banyak kegiatan sehingga banyak materi yang tertinggal, peserta didik mengantuk dan tidak bersemangat, serta mencontek di saat ulangan harian.<br>Dari hasil kondisi awal tersebut menunjukkan bahwa masih diperlukan suatu tindakan dari seorang guru untuk menjadikan proses pembelajaran di kelas 11 IPS 2 terutama pada materi pelajaran sejarah sehingga ada perubahan aktivitas dan hasil belajar dari sebelumnya penulis mencoba berupaya melakukan perbaikan pembelajaran tersebut melalui penelitian tindakan kelas dengan menggunakan metode pesan berantai dalam memahami materi pelajaran sejarah.<br><br>B perumusan masalah<br>Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas maka yang menjadi inti permasalahan adalah bagaimana peningkatan motivasi belajar siswa serta kreativitas dan hasil belajar siswa dalam belajar mata pelajaran sejarah di kelas 11 IPS 2 SMA Negeri 3 Pangkalpinang.<br>Adapun rumusan masalah dapat dirinci sebagai berikut:<br>1. Bagaimana desain model pembelajaran kelompok dengan strategi pembelajaran metode pesan berantai di kelas 11 IPS 2 SMA Negeri 3 Pangkalpinang.<br>2. Bagaimana langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran pesan berantai pelajaran sejarah di kelas 11 IPS 2 SMA Negeri 3 Pangkalpinang<br>3. Bagaimana strategi guru untuk membuat semua siswa aktif dalam kelompok dalam penerapan model pembelajaran pesan berantai di kelas 11 IPS 2 SMA Negeri 3 Pangkalpinang<br>4. Bagaimana hasil pembelajaran sejarah dengan menggunakan model pembelajaran pesan berantai di kelas 11 IPS 2 SMA Negeri 3 Pangkalpinang<br><br>3. Tujuan penelitian<br>Tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran sejarah. Sedangkan bagi guru mata pelajaran penelitian ini dapat diharapkan memperbaiki cara guru dalam menyampaikan materi pelajaran dengan menggunakan berbagai variasi metode pembelajaran.<br><br>4. Manfaat penelitian<br>Penelitian ini diharapkan bermanfaat:<br>1. Menerapkan penggunaan metode pembelajaran yang tepat dalam melaksanakan pembelajaran salah satunya melalui Penerapan metode pesan berantai<br>2. Meningkatkan meningkatkan motivasi pembelajaran khususnya pembelajaran sejarah Indonesia pada kelas 11 IPS 2 SMA Negeri 3 Pangkalpinang<br>3. Meningkatkan mutu pendidikan di sekolah terutama pada mata pelajaran Sejarah Indonesia.<br><br>BAB II<br>KAJIAN TEORI<br><br>2.1 Strategi pembelajaran<br><br><br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337195916/c19bc33dffeb1705ac130baabb5993e0/15432866321821147823905488799437.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 02:23:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308097066</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nurya faida</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308097102</link>
         <description><![CDATA[<div>1.70 % siswa kurang perhatian<br>2.70 % siswa kurang motivasi belajarnya<br>3 50 % siswa remidial<br>4. 30% siswa terlambat<br>5. 95, % siswa tidak mengumpulkan tugas<br>Judul :<br>Upaya meningkatkan motivasi belajar siswa mata pelajaran sosiologi di kelas XI IIPS melalui metode puzzle di SMAN 3 PKP<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337196599/cb8fab41f5bbd14bc9bedeeeaa6a1760/15432870648041522411850.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 02:23:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308097102</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Listin</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308097114</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Ketika pembelajaran banyak siswa yg masih pasip.<br>2. Kurangnya penguasaan guru<br>3. Banyaknya siswa yg kurang tertarik dengan materi pembelajaran<br>4. Kurangnya daya tarik siswa dengan gurunya<br>5. Kurangnya metode yang bervariasi<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 02:23:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308097114</guid>
      </item>
      <item>
         <title> Nazlah</title>
         <author>nazlahyusran_23</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308097124</link>
         <description><![CDATA[<div>1.Siswa kurang aktif dalam pembelajaran<br>2.pengethuan dasar masih kurang.<br>3.siswa yg bertanya hanya 3 orang.<br>4 pencapaian ketuntasan belajar hanya 30%<br>5.kebiasaan siswa yg menyalin pekerjaan temannya<br>Judul upaya meningkatkan minatbelajar siswa tentanghukum tajwid di kelas X bahasa melaluimetode kartu berpasangan<br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337196654/d23353638a60a2a3871027fa8764fea7/1543286965160978656997.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 02:23:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308097124</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Elen Istantia</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308097135</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Siswa malas untuk membaca sehingga pengetahuan mereka msih kurang<br>2. Kurangnya memanfaatkn sumber, misalnya internet, untuk melihat hal-hal baru fakta2/kejadian yg terjadi di dlm maupun luar negeri. Terutama hal2 yg terkait dgn materi. <br>3. Motivasi bljr siswa masih kurang, terutama pada saat jam2 terakhir, karena suasana kelas yang panas<br>4. Siswa lebih termotivasi apabila menggunakan model dan metode yang melibatkan mereka untuk aktif dalam proses pembelajaran, misalnya bermain peran (role playing)<br>5. Siswa masing kurang aktif bertanya atau menanggapi suatu permasalah.<br>6. Siswa masih kesulitan untuk menganalisis soal2 yang berupa pemecahan masalah.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337196641/9eef4c7a010d1824acc7cb73af3341a9/1543287527274356575679.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 02:23:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308097135</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Niken  kumala sari</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308097271</link>
         <description><![CDATA[<div>Siswa malas bertanya<br>Jam pelajaran geografi di sore hari<br>Siswa mengantuk<br>Guru kurang menguasai metode pembelajaran<br>Siswa tidak tertarik belajar<br><br>PENERAPAN METODE KOOPERATIF DALAM PENINGKATAN MOTIVASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI MATERI DINAMIKA LITOSFER KELAS X IPS 4 DI SMAN 3 PANGKALPINANG TAHUN PELAJARAN 2018/2019</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 02:24:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308097271</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Asrobianti</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308097326</link>
         <description><![CDATA[<div>UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X IPS 1 SMA NEGERI 3 PADA PANGKALPINANGSMELALUI MODEL PEMBELRAN MIND MAPPING <br><strong>BAB I<br>PENDAHULUANA.</strong>	<br><strong>A. Latar Belakang </strong><br>Belajar merupakan suatu proses perubahan dalam kepribadian sebagaimana dimanifestasikan dalam perubahan penguasaan pola-pola respon tingkah laku yang baru nyata dalam perubahan ketrampilan, kebiasaan, kesanggupan, dan sikap. Proses belajar akan membawa perubahan baik yang bersifat aktual maupun potensial. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 1 (2003:6) dijelaskan bahwa: pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negaranya.           Peranan mata pelajaran sejarah sangat penting bagi siswa sebagai upaya dalam memberikan pembelajaran kepada siswa mengenai sikap menghargai berbagai kejadian yang telah terjadi di masa lampau terutama kejadian yang berkaitan dengan perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan kedaulatan negara serta harus memiliki jiwa nasionalis yang tinggi .Untuk mewujudkan pelaksanaan pembelajarannya yang berhasil baik  berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti di dapatkan hasil antara lain siswa kurang motivasi dalam melaksanakan kegiatan belajar di kelas, siswa malas untuk membaca materi yang diberikan oleh guru, sering hanya mengerjakan tugas hanya dengan melihat hasil teman, malas untuk mengulang materi yang diberikan kepada sisiwa dan siswa sering merasa bosan dan mengantuk jika belajar sejarah di jam terakhir.Untuk itu, perlu adanya inovasi dalam penyampaian materi baik dalam segi model, metode maupun media pembelajaran, sehingga pembelajaran lebih bermakna dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa , mudah dipahami oleh siswa, serta diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap sikap, proses dan hasil belajar siswa secara optimal.Berdasarkan paparan di atas, maka peneliti akan mencoba menggunakan  metode mind mapping. Menurut Tony Buzan (2004:4) Mind Mapping adalah cara mencatat yang kreatif, efektif, dan secara harfiah akan “memetakan” pikiran-pikiran kita. Mind Mappingadalah cara termudah untuk menempatkan informasi kedalam otak dan mengambil informasi keluar otak. Mind Mapping menggunakan garis lengkung, simbol, kata, dan gambar yang sesuai dengan satu rangkaian aturan yang sederhana, mendasar, alami, dan sesuai dengan cara kerja otak (Tony Buzan, 2011:5). Mind Mappinglebih merangsang secara visual daripada metode pencatatan tradisional yang cenderung linear dan satu warna (Tony Buzan, 2011:9). Mind map dianggap sebagai metode yang cocok untuk mempermudah siswa dalam memahami dan mengingat berbagai konsep atau materi dalam mata pelajaran sejarah khususnya dalam materi ajar sejarah yang memiliki komposisi penjabaran konsep yang lebih luas. Sesuai permasalahan yang telah diuraikan, penelitian mencoba menulis PTK  berjudul Upaya meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas X ips 1 SMA Negeri 3 Pangkalpinang melalui model pembelajaran mind mapping. Menurut Iwan Sugiarto dalam Daniel Hendra Purwoko  (2012:18), langkah pembelajaran menggunakan metode Mind Mapping adalah sebagai berikut:  	a. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. b. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa. c. Membagi siswa dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 3 sampai 4     siswa. d. Mempersiapkan alat-alat yang diperlukan antara lain kertas gambar, spidol warna,      pensil,  dan penghapus. e. Siswa memperhatikan penjelasanguru mengenai materi yang disampaikan dengan    menggunakan metode Mind Mappingf.  Guru membagi materi yang akan dibuat dengan metode Mind Mapping g. Siswa berdiskusi dengan kelompok masing-masing untuk kemudian membuat     materi dalam metode Mind Mappingh.  Setelah selesai, perwakilan kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil      MindMapping di depan kelas.B.	Rumusan Masalah PTK       Berdasarkan permasalahan diatas maka peneliti menyimpulkan permasalahan sebagai berikut :1.	Bagaimana meningkatkan motivasi belajar siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar di kelas2.	Bagaimana cara meningkatkan minat membaca materi yang diberikan oleh guru3.	Bagaimana cara menghilangkan rasa malas untuk mengulang materi yang diberikan kepada siswa.4.	Bagaimana cara meningkatkan minat belajar siswa untuk mengulang materi yang diberi kan kepada siswa5.	Bagaimana cara menghilangkan rasa bosan dan mengantuk jika belajar sejarah di jam terakhir.C.	Tujuan Penelitian         Mengacu pada rumusan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan metode Mind Map dalam meningkatkan motivasi belajar pada peserta didik secara lebih detail tujuan penelitian ini dijabarkan sebagai berikut:1.	Untuk  meningkatkan motivasi belajar siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar di kelas2.	Untuk meningkatkan minat membaca materi yang diberikan oleh guru3.	Untuk  menghilangkan rasa malas untuk mengulang materi yang diberikan kepada siswa.4.	Untuk  meningkatkan minat belajar siswa untuk mengulang materi yang diberi kan kepada siswa5.	Untuk  menghilangkan rasa bosan dan mengantuk jika belajar sejarah di jam terakhir.D.	Manfaat PenelitianHasil penelitian mengenai penerapan metode Mind Map dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik diharapkan dapat memberikan manfaat secara lebih rinci dijabarkan sebagai berikut:<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337196854/9b099209361635dfd49c278c464cc43d/1543287361566_5609611.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 02:24:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308097326</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SISWADI</title>
         <author>siswadican</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308097451</link>
         <description><![CDATA[<div>Masalah<br><br></div><div>1.       Peserta didik kurang aktif dalam melakukan percobaan variabel acak</div><div>2.       Guru belum menggunakan media pembelajaran yang dapat membantu siswa memahami materi pelajaran </div><div>3.       Siswa belum dapat membedakan kejadian dalam bentuk permutasi dan kombinasi </div><div>4.       Metode mengajar guru masih konvensional ceramah, tanya jawab dan penugasan<br>JUDUL PTK :<br> </div><div>Pemanfaatan  media nyata di lingkungan sekitar kelas untuk  meningkatkan aktifitas dan hasil belajar tentang  variabel acak di kelas XII IPA.4  SMA Negeri 3 Pangkalpinang  Semester 1 Tahun Pelajaran 2018-2019. <br><br> </div><div>A.      Latar Belakang Masalah </div><div>Aktivitas belajar merupakan hal penting yang wajib dilakukan  oleh seorang siswa sebagai pelajar, namun tidak sedikit siswa memandang belajar sebagai sesuatu yang bikin bosan dan tidak terlalu penting, misalnya saja, banyak ditemukan siswa malas, dan merasa ogah-ogahan untuk belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.Dalam menunjang belajar diperlukan adanya kemauan serta motivasi agar belajar itu dianggap sebagai aktivitas yang menyenangkan dan memperoleh manfaat. Pada dasarnya dengan adanya motivasi, maka dorongan individu untuk melakukan aktivitas belajar dan mengajar juga akan terlaksana dengan baik. Belajar dapat memberi perubahan yang positif jika dilakukan dengan efektif dan maksimal yang akan menghasilkan sebuah hasil berupa prestasi yang berguna untuk masa depan </div><div> </div><div>Matematika dipandang sebagai salah satu pelajaran yang sulit dan sangat menakutkan, sehingga berakibat hasil belajar matematika siswa masih rendah. Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar adalah aktivitas siswa. Dalam proses pembelajaran, siswa dituntut untuk aktif melalui aktivitas-aktivitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu yang singkat dapat membuat mereka berfikir tentang materi pelajaran terutama matematika. Pada saat siswa belajar tentang variabel acak, siswa mengalami proses tanpa ada rasa ingin tahu, tanpa pertanyaan, dan tanpa ada daya tarik terhadap hasil belajar siswa. Pada saat siswa belajar secara aktif, mereka mempunyai rasa ingin tahu terhadap sesuatu, misalnya dengan cara aktif bertanya, aktif menggunakan media koin sebagai percobaan . Keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran matematika sangat diperlukan, sehingga apa yang dipelajari akan lebih bermakna, dan tertanam dalam pikiran siswa. </div><div> </div><div>Berdasarkan fakta hasil pengamatan  guru dan observasi di sekolah SMA Negeri 3 Pangkalpinang , menunjukkan bahwa proses pembelajaran di kelas XII IPA.4 tentang variabel acak masih belum optimal. Pada Kondisi awal dari 38 peserta didik kelas XII IPA.4 SMA Negeri 3 Pangkalpinang mempunyai aktivitas pembelajaran matematika yang  rendah, seperti : 1. Aktif bertanya ada 5 orang (13,5 %), 2. Aktif menggunakan  media yang ada di sekitar kelas kegiatan melambungkan coin 10 orang  ( 26,32 %), 3. Keaktifan berdiskusi 8 orang  ( 21,05 %), 4. Hasil belajar siswa yang ≥ Kriteria Ketuntasan Minumum (KKM) 70 ada 21 orang ( 55,26  %) </div><div> </div><div>Dari hasil  kondisi awal tersebut  menunjukkan bahwa masih diperlukan suatu tindakan dari seorang guru  untuk menjadikan proses pembelajaran di kelas XII IPA. 4 terutama pada materi peluang variabel acak sehingga ada perubahan  aktifitas dan hasil belajar sebelumnya. Penulis mencoba berupaya melakukan  perbaikan pembelajaran tersebut melalui Penelitian Tindakan Kelas menggunakan media  yang ada dilingkungan  sekitar kelas yang dapat dimanfaatkan oleh peserta didik dalam memahami materi pelajaran matematika. <br><br>Berdasarkan uraian di atas peneliti ingin melakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan mengambil judul : <strong>Melalui Penggunaan   media nyata di lingkungan sekitar kelas untuk  meningkatkan penguasaan konsep nilai peluang variabel acak di kelas XII IPA.4  SMA Negeri 3 Pangkalpinang  Semester 1 Tahun Pelajaran 2018-2019</strong>.<br><br>B. Rumusan Masalah<br> </div><div>1.       Apakah dengan pemanfaatan  media nyata di lingkungan sekitar kelas dapat meningkatkan aktifitas  belajar matematika tentang nilai peluang variabel acak di kelas XII IPA . 3 SMA Negeri 3 Pangkalpinang  Semester 1 Tahun Pelajaran 2018-2019. </div><div>2.        Apakah dengan pemanfaatan  media nyata di lingkungan sekitar kelas dapat meningkatkan Hasil  belajar matematika tentang nilai peluang variabel acak di kelas XII IPA . 3 SMA Negeri 3 Pangkalpinang  Semester 1 Tahun Pelajaran 2018-2019. <br><br></div><div><br><br><br></div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337196188/54765ec1fa3d5656e6e769be69b9e104/foto_buat_ptk.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 02:24:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308097451</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Andriyadi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308097604</link>
         <description><![CDATA[<div>1.siswa yang tidak memiliki minat yang sama<br>2.materi dan dasar yang dimiliki siswa tidak seimbang<br>3.memahami siswa yang berkemampuan khusus<br>4.jam pelajaran praktek siswa kurang disiplin<br>5.siswa kurang berminat memahami membaca partitur.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 02:25:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308097604</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ermi Royanti</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308099340</link>
         <description><![CDATA[<div>Masalah yang saya hadapi:<br>1. Kondisi siswa yang kurang motivasi dalam pembelajaran PAI<br>2. Siswa kurang bersemangad dalam materi tertentu<br>3. Siswa susah memahami dalam mengidentifikasi hukum bacaan tajwid<br>4.siswa kurang bersemangad untuk mempelajari materi tertentu<br>5. Guru kurang menguasai metode yang cocok dengan kondisi siswa dalam pembelajaran<br>Meningkatkan kemampuan siswa dalam mempelajari hukum bacaan tajwid agar membaca Al-Qur'an dengan baik </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 02:35:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308099340</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tri Andari</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308099639</link>
         <description><![CDATA[<div>1.siswa kurang berminat menulis teks<br>2.kurang bisa memahami materi<br>3.kurang semangat belajar<br>4. kurang percaya diri saat tampil di depan teman-temannya<br>judul : peningkatan kompetensi menulis cerpen dengan media gambar <br>latar belakang<br>menulis merupakan suatu pembelajaran yang membutuhkan perhatian khusus.hal ini disebabkan menulis melibatkan berbagai ketrampilan lainnya, seperti kemampuan menggunakan kata-kata sesuai kaidah bahasa untuk menua<br> </div><div>Cerpen merupakan bacaan yang diminati semua kalangan terutama siswa. Hal itu karena bahasa cerpen mudah dimengerti dan ceritanya tidak terlalu panjang. sehingga ketika materi yang berkaitan dengan unsur intrinsik mereka tidak mengalami kesulitan.Tetapi ketika sampai pada materi menulis cerpen para siswa mulai bingung untuk menentukan tema. S<br>elain itu mereka bingung   memilih kata-kata yang tepat untuk mengembangkan tema yang telah mereka pilih.  </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 02:37:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308099639</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Petrus nampat</title>
         <author>petrusnampat</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308100025</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Siswa kurang motivasi terhadap pelajaran ekonomi.<br>2. Bagaimana mengajar yg menyenangkan dalam mengajarkan ekonomi<br>3. Banyaknya materi ekonomi<br>4. Kesulitan belajar karena buku materi yg tidak cukup<br>5. Banyak siswa kurang perhatian<br><br>Judul: upaya meningkatkan minat siswa dalam pelajaran ekonomi di kelas xi ips<br><br>Permasalahan </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337195158/3b7cb29a96a81b6318a62d9509c26ba5/1543288459829_1392150627.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 02:40:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308100025</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Supriati</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308100818</link>
         <description><![CDATA[<div>Judul <br>UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KD FUNGSI EKSPONEN KELAS X MIPA1 SMA NEGERI 3 PANGKALPINANG TAHUN PELAJARAN 2018/2019 DENGAN MENGGUNAKAN METODE PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING <br><br><strong>BAB I <br>PENDAHULUAN</strong></div><div><strong>A.     Latar Belakang </strong></div><div>Matematika merupakan salah satu bagian yang penting dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, diperlukan oleh setiap orang sebagai sarana untuk berpikir, karena matematika bermanfaat serta dapat memberi kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Seiiring dengan manfaat dan kegunaanya, dalam dunia pendidikan terutama bagi kalangan peserta didik, matematika dianggap sebagai salah satu mata pelajaran yang sulit, menakutkan, dan kurang menarik minat peserta didik untuk mempelajarinya oleh karena itu  motivasi peserta didik untuk mempelajarinya sangatlah kurang.<br><br></div><div>         Kesulitan belajar matematika membuat daya serap peserta didik sangatlah kurang , setiap penilaian, nilai  peserta didik nilainya selalu 70 % di bawah KKM dan ini telah menjadi hal yang umum dialami oleh peserta didik.  Sering kita dengar dari keluhan yang dilontarkan oleh sebagian besar peserta didik saat mempelajari matematika, bahwa matematika merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan, bosan, dan memusingkan. Pelajaran matematika yang masih terkesan menakutkan, menyulitkan peserta didik, dan menjadikan peserta didik pasif saat belajar, menjadi tantangan yang tersendiri bagi dunia pendidikan khsususnya pendidik yang mengajar, untuk mengembangkan berbagai matode pembelajaran sedemikian rupa sehingga belajar matematika itu menyenangkan.<br><br></div><div>  Kurang  keaktifan peserta didik tersebut diantaranya terlihat pada saat peserta didik mengajukan pertanyaan maupun menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pendidik, dimana sebagian besar peserta didik hanya terdiam dan memperhatikan dengan pasif materi yang disampaikan oleh pendidik. Hal ini kemungkinan karena minimnya media pembelajaran di kelas atau pendidik yang kurang kreatif dan semua ini berdampak pada hasil belajar peserta didik.<br><br></div><div> Berdasarkan hasil evaluasi belajar untuk materi statistik, peluang maupun nilai trigonometri (tes awal), bahwa nilai yang diperoleh peserta didik sangat jauh dari memuaskan. Hal ini dapat dilihat dari hasil evaluasi yang terdapat pada tabel di bawah ini: <br><br></div><div><strong>Tabel 1.1<br></strong><br></div><div><strong>Hasil Evaluasi Akhir Peserta Didik Semester Ganjil <br></strong><br></div><div><strong>Tahun Ajaran 2017/2018<br></strong><br></div><div> | <strong>No.</strong> | <strong>Materi</strong> | <strong>Peserta Didik  Mencapai KKM</strong> | <strong>Presentase (%)</strong> | <strong>Nilai Rata-rata</strong> <strong>(%)</strong><br> | 1. | Statistika | 12 orang  | 35.29 | 59.50<br> | 2. | Peluang | 2 orang | 5.88 | 61.06<br> | 3. | Trigonometri (Tes Awal) | 5 orang | 14.71 | 56.21</div><div>         <br><br></div><div>         Sedangkan, berdasarkan hasil diskusi/wawancara dengan peserta didik, sebagian besar peserta didik menyatakan bahwa penyebab kesulitan menerima materi yang membuat nilai ketuntasan menjadi rendah adalah jadwal untuk mata pelajaran matematika yang di setiap minggunnya selalu ada di <em>jam terakhir</em>. Peserta didik pada saat mendapat materi matematika, tidak dapat belajar dengan optimal karena kejenuhan , kemungkinan hal ini akan sangat membantu jika ada pemantapan penggunaan HP saat pembelajaran agar  penyajian materi dalam  suasana belajar menjadi  hidup. <br><br></div><div>Selain itu, pada umumnya peserta didik menyatakan bahwa mereka merasa paham pada saat pendidik menyampaikan materi, namun pada saat ujian berlangsung, mereka mulai kebingungan menyelesaikan soal-soal yang diberikan apalagi bila soal-soal tersebut agak berbeda dengan yang pernah dibahas. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik tidak belajar secara bermakna, namun mereka hanya belajar sebatas apa yang mereka terima dan kerjakan secara prosedural, terutama dalam kondisi peserta didik yang mendapat materi pada jam terakhir, dimana suasana belajar dalam kondisi peserta didik letih dan sering tidak fokus dalam menerima materi pelajaran. Pada saat pendidik melakukan diskusi secara santai disela-sela aktifitas belajar dan diluar pelajaran, peserta didik memberikan komentar bahwa mereka mengharapkan suasana belajar yang menarik dan menantang, sehingga mereka tidak merasa jenuh dan mengantuk saat sedang belajar. <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337194700/e760b6dc02993a16af81d0be8d53d232/1543287227750_586828231.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 02:45:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308100818</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Katalina</title>
         <author>katalinasulaiman</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308102685</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Masalah</strong><br>1.Peserta didik melanggar kedisiplinan di sekolah seperti , terlambat hadir, absen tampa keterangan , bolos( meningalkan sekolah tanpa izin), keluar kelas pada ja mata pelajaran.<br>2. Peserta didik mengalami kesulitan dalam mempersiapkan kondisi fisik dan psikisnya.<br>3. Peserta didik tidak termotivasi dalam belajar.<br>4. Peserta didik belum dapat mengendalikan emosinya.<br>5. Peserta didik enggan berkonsultasi dengan guru.<br><br>UPAYA MENINGKATKAN KONDISI FISIK DAN PSIKIS PESERTA DIDIK DALAM BELAJAR MELALUI PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING<br>A. Latar Belakang<br>Berdasarkan data kunjungan di ruang kesehatan, setiap hari peserta didik mengunjungi ruang kesehatan. Dengan rata-rata hampir 3 orang setiap harinya yang biasanya keluhan yang dialami yaitu pusing,mual, dan sakit perut. Hal ini mengindikasikan kondisi fisik dan psikis yang kurang baik. Dampak dari kondisi fisik dan psikis yang kurang baik ini mengakibatkan peserta didik tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dengan optimal. Dengan tidak optimalnya mengikuti kegiatan pembelajaran mengakibatkan peserta didik sulit berprestasi.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 02:56:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308102685</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308103372</link>
         <description><![CDATA[<div>Melalui pemahaman dalam pembelajaran hukum bacaan tajwid siswa diharapkan mampu membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar sesuai dengan makhrojn</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337201646/044f5b6c3674355e69ac2cfedbf7d3d1/1543289116348_395116206.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 03:00:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308103372</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rosi Asroh</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308104355</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Motivasi belajar siswa yang kurang pada pembelajaran sosiologi<br>2. Sebagian besar Nilai siswa yang tidak mencapai KKM<br>3. Keaktifan siswa yang kurang dalam hal bertanya maupun menjawab pertanyaan<br>4. Kemampuan siswa dalam menangkap materi yang masih lemah<br>5. tidak disiplinnya siswa dalam mengumpulkan tugas<br><br>JUDUL:<br>PENERAPAN METODE SQRAMBLE DAN TEKA-TEKI SILANG DALAM UPAYA PENINGKATAN KEAKTIVAN SISWA PADA PEMBELAJARAN SOSIOLOGI KELAS X IPS 4 SMAN 3 PANGKALPINANG <br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337203081/19ead6d79d6d5cfe4ac9264cca05276a/IMG_20170213_101650.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 03:06:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308104355</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Yakob.P.W,S.Pd /Fisika</title>
         <author>purwojoyo97</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308104376</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN </strong><strong><em>BERBASIS INKUIRI </em></strong><strong>UNTUK MENINGKATKAN </strong></div><div><strong>AKTIVITAS SISWA DAN HASIL BELAJAR SISWA<br> KELAS X  IPA 4 SMA NEGERI 3 PANGKALPINANG PADA MATA PELAJARAN FISIKA MATERI POKOK HUKUM NEWTON TENTANG GERAK, SEMESTER GENAP  TAHUN AJARAN 2018-2019</strong></div><div><br></div><div><strong>BAB I</strong></div><h1><strong>PENDAHULUAN</strong> </h1><div><strong>A. Latar Belakang Masalah</strong> </div><div>Dalam perkembangan  masyarakat yang selalu berubah, idealnya pendidikan tidak hanya berorientasi pada masa lalu dan masa kini, tetapi sudah seharusnya merupakan proses yang mengantisipasi dan membicarakan masa depan. Seiring dengan perkembangaan teknologi pendidikan hendaknya melihat jauh ke depan dan memikirkan   tantangan yang akan dihadapi oleh peserta didik di masa yang akan datang. Oleh karena itu, hendaknya pendidikan tidak hanya bertujuan memberikan materi pelajaran yang hanya untuk dihafal, tetapi lebih menekankan bagaimana mengajak siswa untuk menemukan, membangun pengetahuannya sendiri, dan mendorong siswa untuk bernalar, sehingga siswa dapat mengembangkan kecakapan hidup <em>(life skill) </em>dan siap untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. </div><div>Di masa sekarang ini banyak pemikiran di masyarakat   mengukur  indikator keberhasilan suatu pendidikan hanya dari segi hasil belajar ( out put) dengan mengurangi arti pentingnya proses, padahal untuk hasil belajar yang baik diperlukan proses, usaha dan waktu dan kerjasama dari seluruh stak holder. Pada dasarnya pendidikan adalah suatu proses yang menyeluruh dari berbagai aspek baik aspek afektif, kognitif, maupun psikomotorik, sehingga dalam pengukuran tingkat keberhasilan pendidikan selain diukur dari segi nilai prestasi hendaknya juga diukur dari jalannya proses pendidikan yang telah dilakukan. </div><div>Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) pembelajaran fisika  di SMAN 3 Pangkalpinang adalah sebesar 70 dan selama ini metode yang digunakan dalam pembelajaran fisika menggunakan metode ceramah,diskusi kelas kelompok dan percobaan sehingga peserta didik dalam kegiatan belajar akan tetapi dari hasil dan partisipasi siswa dalam pembelajaran  lemah dalam  penalaran . Hal ini terlihat dari  rendahnya kualitas siswa dalam memahami konsep­-konsep fisika, ini berdampak pada pencapaian nilai hasil belajar fisika. Rata‑ rata hasil belajar mata pelajaran fisika masih rendah yaitu 40,75 padahal yang diharapkan adalah 70. Hal ini dikarenakan oleh beberapa hal, diantaranya: </div><div>1.        Pembelajaran yang dilakukan selama ini dilakukan cenderung ceramah belum divariasi dengan metode yang lain seperti <em>Pembelajaran Berbasis Inquri. </em>Hal ini dapat dilihat dalam partisipasi atau keaktivan siswa  dan  kemampuan siswa dalam menganalisis atau memahami permasalahan yang terdapat pada soal. </div><div>2.        Pelaksanaan pembelajaran yang masih berpusat pada siswa . Hal ini dapat dilihat dari belum maksimalnya siswa yang berprestasi untuk membantu siswa lain yang kesulitan dalam pembelajaran fisika. </div><div>3.        Pelaksanaan pembelajaran kurang memanfaatkan fasilitas  laboratorium. Hal berdasarkan  beberapa siswa yang mengatakan bahwa selama di Kelas X-1 mereka hanya dua kali masuk ke laboratorium. </div><div>4.        Aktivitas  siswa terhadap materi kurang, hal ini disebabkan kondisi pembelajaran yang monoton atau searah TCL <em>(Teacher Centered</em> <em>Learning). </em>Sehingga siswa kurang dapat memahami konsep-konsep fisika. </div><div>Berdasarkan pengamatan, terlihat bahwa partisipasi dan hasil belajar  pembelajaran belum tercapai. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pembelajaran adalah diperlukan model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar peserta didik, Oleh karena itu, seorang guru diharapakan mamapu  melakukan kreativitas  terhadap kegiatan belajar mengajar agar siswa partisipasi siswa  dalam menerima penjelasan materi pelajaran yang diberikan oleh guru ,sehingga diharapkan terjadinya peningkatan aktivitas belajar siswa dan hasil belajar. </div><div>Berlakunya kurikulum 2013  Berbasis Kompetensi yang telah direvisi melalui Kurikulum 2013 menuntut perubahan  pola pikir dan implementasi pada pendidikan dan pembelajaran. Pembelajaran yang kurang melibatkan siswa secara aktif akan menghambat kemampuan siswa berpikir  kreatif, kritis, komunikasi, kerjasama dan menghambat partisipasi dan kemampuan  siswa dalam pemecahan masalah, sehingga perlu dipilih dan diterapkan suatu model pembelajaran yang dapat mewujudkan tercapainya tujuan sebuah pembelajaran. </div><div>Maka dari itu, sebagai seorang pembelajar guru  harus bisa memilih model  yang ada sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Model  pembelajaran yang baik adalah model yang memperhatikan situasi dan kondisi pembelajaran. Dengan Model yang baik maka aktivitas  siswa akan meningkat  seiring daya serap yang meningkat sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai dengan  hasil maksimal. Pembelajaran sains di sekolah diarahkan untuk membantu siswa menguasai core ideas sains sekaligus science practices yang biasa dilakukan ilmuwan dalam mengembangkan sains. </div><div>Inkuiri ilmiah mengacu pada beragam cara di mana ilmuwan mempelajari alam dan mengajukan penjelasan berdasarkan bukti yang berasal dari penyelidikan mereka. Inkuiri juga mengacu pada kegiatan peserta didik dalam mengembangkan pengetahuan dan pemahaman akan gagasan ilmiah, serta pemahaman tentang bagaimana ilmuwan mempelajari alam. (National Science Education Standards – NRC, 1995). </div><div>Inkuiri ilmiah adalah cara ampuh untuk memahami sains. Peserta didik belajar bagaimana mengajukan pertanyaan dan menggunakan bukti untuk menjawabnya. Dalam proses pembelajaran inkuiri, peserta didik belajar melakukan penyelidikan dan mengumpulkan bukti dari berbagai sumber, mengembangkan penjelasan dari data, mengomunikasikan dan mempertahankan kesimpulan mereka." (National Science Teachers Association – NSTA </div><div> </div><div> </div><div><em>IBL ( Inquiry Base Learning ) </em>merupakan model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta </div><div>untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Dilihat dari aspek psikologi belajar, pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Dan belajar bukanlah semata-mata proses menghafal sejumlah fakta, tetapi suatu proses interaksi secara sadar antara individu dengan lingkungan. Oleh karena itu, guru harus mendorong siswa untuk terlibat dalam tugas-tugas berorientasi masalah melalui penerapan konsep dan fakta, serta membantu menyelidiki masalah autentik dari suatu materi. </div><div>Materi Hukum Newton tentang gerak merupakan salah satu kajian fisika Kelas X-IPA 4 semester 2 siswa SMA / sederajat. Hukum Newton tentang gerak merupakan materi dengan konsep yang sederhana dan fenomenanya dapat diamati dan sering kali di jumpai dalam kehidupan sehari-hari serta besaran­besaran fisisnya dapat di ukur. Dengan penerapan pembelajaran <em>Problem Based Inquiry, </em>guru berusaha menunjukkan kepada siswa bahwa materi Hukum Newton tentang gerak pada dasarnya adalah dekat, konkret dan berkaitan langsung dengan pengalaman yang ada dalam kehidupan sehari-hari. </div><div>Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti bermaksud meneliti kajian tersebut sehingga pembelajaran yang berlangsung di SMA Negeri 3 Pangkalpinang dapat menjadikan peserta didik tertarik dengan pelajaran fisika dan dapat menganalisis masalah yang terdapat dalam soal. Untuk itu peneliti akan mengadakan penelitian tentang: “Penerapan <em>Pembelajaran Berbasis Inquri</em> untuk Meningkatkan aktivitas  Siswa  dan hasil Belajar Kelas X-IPA 4 Semester 2 SMA Negeri 3 Pangkalpinang Pada Mata Pelajaran Fisika Materi Pokok Hukum Newton Tentang Gerak Tahun Ajaran 2018/2013”. </div><div><strong>B. Identifikasi Masalah</strong> </div><div>Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka terdapat beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi sebagai berikut : </div><div>1. Kurangnya aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran di SMA Negeri 3 Pangkalpinang dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang selama ini berlangsung masih menggunakan model pembelajaran yang bersifat konvensional yaitu metode ceramah. </div><div>2.    Masih banyak peserta didik yang kurang bersemangat dalam belajar fisika, sehingga keaktifan dan ketuntasan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran fisika belum tercapai secara maksimal. </div><div>3.    Belum pernah diterapkan model pembelajaran <em>IBL( Inquiry Base Learning) </em>di SMA Negeri 3 Pangkalpinang </div><div>C.     <strong>Penegasan Istilah</strong> </div><div>1.      Pembelajaran </div><div>Menurut Mulyasa yang dikutip Ismail SM, M.Ag dalam buku strategi pembelajaran agama islam berbasis PAIKEM dijelaskan pembelajaran adalah interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. </div><div>2.      Hasil belajar </div><div>Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Anak yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan instruksional. Hasil belajar di sini adalah hasil belajar fisika dari berbagai aspek, baik aspek kognitif, aspek afektif maupun aspek psikomotorik. </div><div>D.    <strong>Pembatasan Masalah</strong> </div><div>Adapun batasan-batasan masalah dalam dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut : </div><div>1.    Penerapan model pembelajaran <em>Inquiry Base Learning </em>pembelajaran berlangsung pada materi pokok Hukum Newton tentang gerak. </div><div>2.    Materi penelitian ini dibatasi pada materi pokok Hukum Newton tentang gerak yang lebih ditekankan pada sub materi pokok hukum I Newton, hukum II Newton dan hukum III Newton. </div><div>3. Hasil belajar yang dievaluasi dari tiga aspek yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. </div><div>E.     <strong>Rumusan Masalah</strong> </div><div>Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : </div><div>Apakah dengan penerapan Model pembelajaran <em>IBL( Inquiri Base </em>dapat meningkatkan  aktivitas siswa dan hasil belajar fisika siswa Kelas X IPA 4 semester 2 SMA Negeri 3 Tahun Ajaran 2018/2019 </div><div>F.      <strong>Tujuan Penelitian</strong> </div><div>Tujuan penelitian tindakan ini adalah untuk meningkatkan  aktivitas siswa dan hasil belajar siswa Kelas X-1 semester 2 SMA Negeri 3 Pangkalpinang Tahun Ajaran 2018/2019 dalam  Pembelajaran Berbasis Inquiri. </div><div>G.    <strong>Manfaat Penelitian</strong> </div><div>Hasil penelitian ini diharapkan memberi manfaat : </div><div><strong>1. Bagi siswa</strong> </div><div>a.       Memberikan suasana pembelajaran yang aktif dan menyenangkan bagi siswa dan meningktakan aktivitas siswa  dalam proses pembelajaran fisika. </div><div>b.      Meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada materi pokok hukum Newton tentang gerak. </div><div>c.       Meningkatkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran fisika sehingga siswa mampu berpikir kritis, kreativ, komunikatif, kerjasama secara mandiri aktiv memecahkan masalah . </div><div><strong>2. Bagi guru</strong> </div><div>a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan contoh penggunaan model pembelajaran <em>IBL( Inqury Base Learning) </em>pada guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa. </div><div>b. Menjadi acuan bagi guru yang lain dalam melaksanakan pembelajaran fisika. </div><div><strong>3. Bagi sekolah</strong> </div><div>Diperolehnya ketepatan implementasi pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013 sehingga sekolah dapat bertanggung jawab terhadap mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah, orang tua, dan masyarakat pada umumnya.Sehingga dengan penelitian ini sekolah akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasaran Kurikulum<br>  </div><h1>BAB II<br> PEMBELAJARAN, HASIL BELAJAR<em>,</em> </h1><h1><em>IBL( INQUIRY BASE LEARNING) </em>HUKUM NEWTON </h1><div><br> </div><div><strong>A. Pembelajaran</strong> </div><div><strong>1. Pengertian Pembelajaran</strong> </div><div>Pembelajaran dalam Undang – undang pendidikan  didefinisikan bahwa “Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber ajar dalam suatu lingkungan belajar”.  </div><div>Menurut Wina Sanjaya Pembelajaran adalah suatu sistem, yang mana dalam sistem itu ada tiga karakteristik penting. Karakteristik penting yang pertama adalah adanya tujuan yang menjadi arah yang harus dicapai. Karakteristik dari sistem tersebut adalah adanya proses kegiatan yang diarahkan untuk mencapai tujuan. Karakteristik dari sistem yang ketiga yaitu sistem selalu melibatkan dan memanfaatkan beberapa komponen, diantaranya yaitu sarana, guru, peseta didik, strategi atau metode. Strategi atau metode merupakan salah satu komponen yang penting dalam sistem tersebut. Tanpa strategi atau metode yang tepat proses pencapaian tujuan menjadi tidak bermakna. </div><div>Menurut Oemar Hamalik “Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusia, material, fasilitas, perlengkapan dan pro sedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan belajar”. </div><div>Menurut Suherman, Pembelajaran merupakan proses yang terdiri dari kombinasi dua aspek, yaitu: belajar tertuju kepada apa yang harus dilakukan oleh siswa, mengajar berorientasi pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pemberi pelajaran. Kedua aspek ini akan berkolaborasi secara terpadu menjadi suatu kegiatan pada saat terjadi interaksi antara guru dengan siswa, serta antara siswa dengan siswa disaat pembelajaran sedang berlangsung. Dengan kata lain pada hakikatnya pembelajaran merupakan proses komunikasi antara peserta didik dengan pendidik serta antar peserta didik dalam rangka perubahan sikap. </div><div>Pembelajaran yang baik mempunyai sasaran-sasaran yang seharusnya berfokus pada hal-hal sebagai berikut : </div><div>a.      Meningkatkan kualitas berpikir <em>(qualities of mind), </em>yaitu berpikir dengan efisien, konstruktif, mampu melakukan judgment dan kearifan. </div><div>b.      Meningkatkan <em>attitude of mind, </em>yaitu menekankan pada keingintahuan, aspirasi-aspirasi dan penemuan-penemuan. </div><div>c.      Meningkatkan kualitas personal <em>(qualities of person), </em>yaitu karakter, sensitivitas, integritas, tanggung jawab. </div><div>d.     Meningkatkan kemampuan untuk menerapkan konsep-konsep dan pengetahuan-pengetahuan. </div><div>Dalam melakukan pembelajaran hendaknya seorang guru tidak hanya sekedar mentransfer pengetahuan saja <em>“transfer of knowledge” </em>tetapi harus mengolah secara pedagogik yaitu menggunakan ilmu seni atau ilmu mengajar sehingga materi subyek yang merupakan bagian dari sains sekolah <em>(school science) </em>mudah dijangkau oleh siswa. </div><div>Dalam pembelajaran fisika di sebagian sekolah dasar, sekolah menengah, secara umum siswa memandang pelajaran fisika sebagai pelajaran yang tidak menyenangkan, tidak menarik dan bahkan mungkin membosankan. Dalam menanggulangi hal ini maka salah satu faktor yang dapat dilakukan agar pembelajaran sains dapat menarik dan dapat menghasilkan prestasi yang tinggi adalah dengan melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran ini siswa terlibat secara aktif dalam mengamati, mengoperasikan alat atau berlatih menggunakan objek kongkrit sebagai bagian dari pelajaran. </div><div>Dengan melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran berarti guru sudah menggunakan cara yang berbeda dari kegiatan pembelajaran yang bersifat tradisional sehingga pembelajaran fisika akan lebih menarik dan siswa akan menjadi berminat terhadap sains fisika. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa salah satu bentuk pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa terhadap sains fisika yaitu dengan melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran. </div><div><strong>2. Teori – Teori Pembelajaran</strong> </div><div>Istilah pembelajaran banyak dirumuskan oleh para ahli. Perumusan – perumusan tersebut berdasarkan pada teori tertentu. Berikut dipaparkan beberapa teori pembelajaran yaitu: </div><div><strong>a. Pembelajaran adalah Upaya Mengorganisasi Lingkungan Untuk Menciptakan Kondisi Belajar Bagi Peserta Didik.</strong> </div><div>Perumusan teori diatas sejalan dengan pendapat dari Mc Donald, yaitu pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan yang bertujuan menghasilkan perubahan tingkah laku manusia. Adapun implikasi dari teori tersebut adalah: </div><div>1)     Pembelajaran bertujuan mengembangkan atau mengubah tingkah laku peserta didik. </div><div>2)     Kegiatan pembelajaran berupa pengorganisasian lingkungan. Lingkungan diartikan secara luas yang terdiri lingkungan alam dan lingkungan sosial. Lingkungan sosial lebih sering berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. Yang perlu disiapkan dalam lingkungan sekolah antara lain berupa bahan pelajaran, metode mengajar, alat mengajar, suasana kelas, kelompok siswa, Melalui interaksi antara individu dan lingkungannya, maka peserta didik memperoleh pengalaman, yang pada gilirannya berpengaruh terhadap perkembangan tingkah lakunya peserta didik dalam belajar yang bermakna. 3) Peserta didik sebagai suatu organisme yang hidup. Organisme yang hidup disini adalah peserta didik dan guru. Peserta didik yang mempunyai potensi yang sangat tinggi, potensi tersebut perlu diberi suatu lingkungan untuk melakukan berbagai aktivitas. Sedangkan guru sebagai organisator belajar bagi peserta didik yang berpotensi tinggi, sehingga tercapai tujuan pembelajaran secara optimal. </div><div><strong>b. Pembelajaran adalah Upaya Mempersiapkan Peserta Didik Untuk Menjadi Warga Masyarakat yang baik.</strong> </div><div>Rumusan ini didukung oleh para pakar yang menganut pandangan bahwa pendidikan itu berorientasi pada kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Adapun implikasinya adalah sebagai berikut: </div><div>1)     Tujuan pembelajaran. </div><div>Tujuan pembelajaran disini adalah untuk menciptakan peserta didik yang dapat menyumbangkan dirinya dalam lingkungan kehidupan yang bukan hanya menjadi konsumen akan tetapi menjadi seorang produsen. </div><div>2)     Pembelajaran berlangsung dalam suasana kerja. </div><div>Pembelajaran diselenggarakan dalam suasana kerja, dimana para peserta didik mendapat latihan dan pengalaman praktis. Karena itu suasana yang diperlukan ialah suasana yang aktual seperti dalam keadaan yang sesungguhnya. </div><div>3)     Peserta didik sebagai calon warga negara yang memiliki potensi untuk bekerja. </div><div>Peserta didik yang memiliki potensi bakat dan minat dan energi untuk bekerja sebaiknya disalurkan dalam wadah lingkungan belajar yang tidak. Bukan hanya berdiam diri saja selama proses pembelajaran. </div><div>4) Guru sebagai pemimpin dalam bengkel kerja. </div><div>Sekolah merupakan suatu ruangan workshop maka guru harus mampu memimpin dan membimbing peserta didik belajar bekerja dalam belajar dalam bengkel sekolah. Guru harus menguasai strategi pembelajaran serta menyediakan proyek-proyek kerja yang menciptakan berbagai kegiatan yang bermakna. Dalam hal ini peran guru sangatlah penting. </div><div> </div><div><strong>c. Pembelajaran adalah Suatu Proses Membantu Peserta Didik Menghadapi Kehidupan Masyarakat Sehari-hari.</strong> </div><div>Rumusan ini didukung oleh pakar yang berorientasi pada kehidupan masyarakat. Adapun implikasinya adalah sebagai berikut: </div><div>1)   Mempersiapkan peserta didik untuk hidup dalam masyarakat. Peserta didik disiapkan untuk menghadapi masa depan untuk memecahkan masalah dalam lingkungan hidupnya. Oleh sebab itu peserta didik harus belajar mengenal keadaan kehidupan yang sesungguhnya dan memecahkannya. </div><div>2)   Kegiatan pembelajaran berlangsung dalam hubungan sekolah dan masyarakat. </div><div>3)   Siswa belajar secara aktif. </div><div>4)   Guru bertugas sebagai komunikator. </div><div>Guru harus mengenal baik lingkungannya sehingga mampu memberikan proyek-proyek kepada peserta didik yang sesuai dengan permasalahan yang ada di lingkungan secara relevan. </div><div>Dari beberapa definisi di atas tentang pembelajaran dan teori pembelajaran, maka pembelajaran diartikan sebagai suatu interaksi antara peserta didik dengan pendidik, peserta didik dengan peserta didik, dengan sumber belajar dalam suatu lingkungan belajar untuk mencapai tujuan belajar. </div><div><strong>3. Jenis-Jenis Pembelajaran</strong> </div><div>Menurut Roy Killen dalam buku Pembelajaran dalam Imp lementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, disebutkan beberapa macam strategi pembelajaran yang dapat digunakan, diantaranya sebagai </div><div>berikut : </div><div><em>a.</em>      Pembelajaran Langsung <em>(Direct Instruction)</em> </div><div>Pembelajaran langsung merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru <em>(teacher centered approach).</em> </div><div><em>b.</em>      Pembelajaran Diskusi </div><div>Diskusi adalah proses pembelajaran melalui interaksi dalam kelompok. Setiap anggota kelompok saling bertukar ide tentang suatu isu dengan tujuan untuk memecahkan suatu masalah, menjawab suatu pertanyaan, menambah pengetahuan atau pemahaman, atau membuat suatu keputusan. </div><div><em>c.</em>       Pembelajaran Kerja Kelompok Kecil <em>(Small Group Work)</em> </div><div>Kerja kelompok kecil merupakan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa dituntut untuk memperoleh pengetahuan sendiri melalui bekerja secara bersama-sama. Tugas Guru hanya memonitor apa yang dikerjakan siswa. </div><div><em>d.</em>      Pembelajaran <em>Cooperative Learning</em> </div><div><em>Cooperative Learning </em>adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses kerja sama dalam satu kelompok yang bisa terdiri dari 3 sampai 5 orang siswa untuk mempelajari suatu materi akademik yang spesifik sampai tuntas. </div><div><em>e.</em>       Pembelajaran <em>Problem Solving</em> </div><div>Mengajar memecahkan masalah adalah mengajar bagaimana siswa memecahkan suatu persoalan. Sedangkan pembelajaran pemecahan masalah adalah teknik untuk membantu siswa agar memahami dan menguasai materi pembelajaran dengan menggunakan strategi pemecahan masalah. </div><div><strong>B. Hasil Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi</strong> </div><div>1. Pengertian Hasil Belajar </div><div>Belajar adalah aktivitas mental/p sikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan‑ perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dengan demikian hasil belajar adalah merupakan kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Kemampuan di sini adalah mampu memahami suatu ilmu pengetahuan yang didapat dari lingkungan atau orang lain seperti halnya guru. </div><div>Hasil belajar yang berupa perubahan tingkah laku meliputi bentuk kemampuan yang menurut Taksonomi Bloom dan kawan-kawannya diklasifikasi dalam 3 kemampuan (domain) yaitu: ranah kognitif <em>(cognitive domain), </em>ranah afektif <em>(afective domain) </em>dan ranah psikomotor <em>(psychomotor domain). </em>Adapun Taksonomi Bloom atau klasifikasi tersebut sebagai berikut: </div><div>a. <em>Cognitive Domain </em>(ranah kognitif) </div><div>Kognitif dalam batasan selalu diartikan oleh para pendidik dengan pengetahuan, dimana dalam obyek pembagiannya sebenarnya adalah lebih luas dari apa yang kita anggap selama ini. Segi kognitif memiliki 6 tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda. Keenam tingkat tesebut adalah : </div><div>1.      Mengingat </div><div>Tujuan instruksional pada level ini menuntut siswa untuk mampu mengingat <em>(recall) </em>informasi yang telah diterima sebelumnya, seperti: fakta, terminologi, rumus, dll. </div><div>2.      Mengerti </div><div>Kategori pemahaman dihubungkan dengan kemampuan untuk menjelaskan pengetahuan, informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri. </div><div><em>3.</em>      Aplikasi </div><div>Penerapan (aplikasi) merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari ke dalam situasi yang baru, serta memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari,. </div><div><em>4.</em>      Menganalisis </div><div>Dalam hal ini siswa diharapkan mampu menunjukkan hubungan antara berbagai gagasan dengan cara membandingkan gagasan tersebut dengan standar, prinsip atau prosedur yang telah dipelajari. </div><div><em>5.</em>      Evaluasi <em>(evaluation)</em> </div><div>Evaluasi meliputi kemampuan untuk mempertimbangkan nilai bersama dengan pertanggungjawaban berdasarkan kriteria tertentu. Evaluasi merupakan level ke lima menurut Anderson, yang mengharapkan siswa mampu membuat penilaian dan keputusan tentang nilai suatu gagasan, metode, produk atau benda dengan criteria tertentu. </div><div><em>6.</em>      Sintesis </div><div>Sintesis diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga berbentuk pola baru yang lebih menyeluruh.<sup>25</sup> Sintesis meliputi kemampuan menyusun sesuatu yang terpecah belah hingga menjadi suatu struktur yang berarti. </div><div>b. <em>Afective Domain </em>(ranah afektif) </div><div>Siswa mampu melibatkan ekspresi, perasaan atau pendapat pribadi terhadap hal-hal yang relatif sederhana tetapi bukan fakta, selain itu siswa juga mampu memberikan respon yang melibatkan sikap atau nilai yang telah mendalam di sanubarinya. Ranah afektif meliputi 5 taraf, meliputi: </div><div>1)   Penerimaan <em>(receiving), </em>kesediaan siswa untuk memperhatikan rangsangan atau stimulus (kegiatan kelas, musik, buku ajar) </div><div>2)   Partisipasi <em>(responding ), </em>aktif berpatisipasi dalam suatu kegiatan. Pada tingkatan ini, siswa tidak hanya menghadiri suatu kegiatan, tetapi juga bereaksi terhadap sesuatu dengan beberapa cara. </div><div>3)   Penilaian/ penentuan sikap <em>(valuing), </em>meliputi kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai dengan penilaian itu. </div><div>4)   Organisasi <em>(organization), </em>kemampuan untuk membawa bersama­sama perbedaan nilai, menyelesaikan konflik diantara nilai-nilai, dan mulai membentuk suatu sistem nilai yang konsisten. </div><div>5)   Pembentukan pola hidup <em>(characterization by a value or value complex), </em>meliputi kemampuan untuk menghayati nilai-nilai kehidupan sehingga menjadi milik pribadi dan menjadi pegangan dalam mengatur hidupnya dalam kurun waktu yang lama. </div><div>c. <em>Psychomotor Domain </em>(ranah psikomotorik) </div><div>Ranah psikomotor berhubungan erat dengan kerja otot sehingga menyebabkan geraknya tubuh atau bagian-bagiannya. Yang termasuk klasifikasi gerak disini adalah mulai dari gerak yang paling sederhana yaitu gerak melipat kertas sampai dengan merakit suku cadang televisi/computer. Ranah psikomotorik meliputi 7 taraf, meliputi: </div><div>1) Persepsi <em>(perception), </em>kemampuan untuk membuat diskriminasi yang tepat di antara dua stimulus/ perangsang atau lebih, berdasarkan perbedaan ciri-ciri fisik yang khas pada masing­masing stimulus. </div><div>2)      Kesiapan <em>(set), </em>kemampuan untuk menempatkan dirinya jika akan memulai serangkaian gerakan. </div><div>3)      Gerakan terbimbing <em>(guided respons), </em>kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerak-gerik sesuai dengan contoh yang diberikan, seperti meniru dalam gerakan tarian. </div><div>4)      Gerakan yang terbiasa <em>(mechanical respons), </em>kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerak-gerik dengan lancer tanpa memperhatikan lagi contoh yang diberikan. </div><div>5)      Gerakan yang kompleks <em>(complex respons), </em>kemampuan untuk melaksanakan suatu keterampilan yang terdiri atas beberapa komponen, dengan lancar, tepat dan efisien. </div><div>6)      Penyesuaian pola gerakan <em>(adjustment), </em>kemampuan untuk membuat perubahan dan menyesuaikan pola gerak-gerik dengan kondisi setempat atau dengan persyaratan khusus yang berlaku. </div><div>7)      Kreativitas <em>(creativity), </em>kemampuan untuk melahirkan pola gerak­gerik yang baru, seluruhnya atas dasar inisiatif sendiri. </div><div>Perubahan salah satu atau ketiga domain yang disebabkan oleh proses belajar dinamakan hasil belajar. Hasil belajar dapat dilihat dari ada tidaknya perubahan ketiga domain tersebut yang dialami siswa setelah menjalani proses belajar. </div><div>2. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar </div><div>Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dibedakan atas dua kategori, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Kedua faktor tersebut saling mempengaruhi dalam proses belajar individu sehingga menentukan kualitas hasil belajar. Adapun faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut: </div><div>a. Faktor internal </div><div>Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor internal meliputi: </div><div>1.      Faktor fisiologis </div><div>Faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Kondisi fisiologis umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Anak-anak yang kurang gizi, kemampuan belajarnya di bawah anak-anak yang tidak kekurangan gizi, mereka cepat lelah, mudah mengantuk dan tidak mudah menerima pelajaran. </div><div>2.      Faktor psikologis </div><div>Faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar.<sup>30</sup> Beberapa faktor psikologis yang mempengaruhi proses belajar adalah: </div><div>a.         Inteligensi </div><div>Menurut Wechler inteligensi adalah suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan untuk dapat bertindak secara terarah, berpikir secara baik, dan bergaul dengan lingkungan secara efisien. </div><div>b.         Perhatian </div><div>Perhatian menurut Ghazali adlah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itu pun semata-matatertuju kepada suatu objek (benda/hal) atau sekumpulan objek. </div><div>c.       Minat Hilgrad memberi rumusan tentang minat adalah sebagai </div><div>berikut : <em>“Interest is persisting tendency to pay attention to and enjoy some activity or content”.</em> </div><div>Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. </div><div> </div><div>d.      Bakat </div><div>Di samping inteligensi, bakat merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar seseorang. Secara umum bakat <em>(aptitude) </em>didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. </div><div>b. Faktor eksternal </div><div>Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar pribadi manusia atau berasal dari orang lain atau lingkungannya. Dalam hal ini Muhibbin Syah menjelaskan bahwa faktor-faktor eksternal yang empengaruhi hasil belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu: </div><div>1.      Lingkungan sosial </div><div>Faktor yang termasuk kedalam lingkungan sosial adalah lingkungan sosial sekolah, lingkungan sosial masyarakat dan lingkungan sosial keluarga. Lingkungan sosial yang lebih baik banyak mempengaruhi kegiatan belajar adalah lingkungan sosial keluarga. </div><div>2.      Lingkungan nonsosial </div><div>Faktor yang termasuk kedalam lingkungan nonsosial adalah:Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, suasana yang sejuk dan tenang. </div><div>a.       Faktor instrumental, yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan menjadi dua macam. Pertama, <em>hardware, </em>seperti gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar dan lain sebagainya. Kedua, <em>software, </em>seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, buku panduan, silabi dan lain sebagainya. </div><div>b.      Faktor materi pelajaran (pelajaran yang diajarkan ke siswa). Faktor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan siswa, begitu juga metode mengajar guru, disesuaikan dengan kondisi perkembangan siswa. </div><div><strong>C. Model Pembelajaran IBL( Inquiry Base Learning)</strong> </div><div><strong>1. Pengertian </strong><strong><em>Problem Based Instruction</em></strong> </div><div><strong><em>      </em></strong>Inkuiri ilmiah mengacu pada beragam cara di mana ilmuwan mempelajari alam dan mengajukan penjelasan berdasarkan bukti yang berasal dari penyelidikan mereka. Inkuiri juga mengacu pada kegiatan peserta didik dalam mengembangkan pengetahuan dan pemahaman akan gagasan ilmiah, serta pemahaman tentang bagaimana ilmuwan mempelajari alam. (National Science Education Standards – NRC, 1995) </div><div>Inkuiri ilmiah adalah cara ampuh untuk memahami sains. Peserta didik belajar bagaimana mengajukan pertanyaan dan menggunakan bukti untuk menjawabnya. Dalam proses pembelajaran inkuiri, peserta didik belajar melakukan penyelidikan dan mengumpulkan bukti dari berbagai sumber, mengembangkan penjelasan dari data, mengomunikasikan dan mempertahankan kesimpulan mereka." (National Science Teachers Association – NSTA </div><div> </div><div><strong>2. Ciri-ciri </strong><strong><em>IBL( Inquiry Base Learning)</em></strong> </div><div>    Kemampuan yang dilatihkan pada pelajaran berbasis Learning: </div><div>1. Mengidentifikasi pertanyaan yang mengarahkan pada suatu    penyelidikan ilmiah, </div><div>2.   Merancang dan melakukan penyelidikan ilmiah, </div><div>3. Menggunakan teknologi dan matematika untuk memperbaiki   penyelidikan, </div><div>4.  Merumuskan dan merevisi penjelasan ilmiah dengan menggunakan logika dan bukti, </div><div>5.    Mengenali dan menganalisis penjelasan dan model alternatif, serta </div><div>6.    Mengomunikasikan dan mengajukan argumen ilmiah </div><div> </div><div><strong><em>3.</em></strong>      <strong>Tahap-tahap </strong><strong><em>Inquiry Base Learning</em></strong> </div><div>Pada unit ini pembelajaran untuk topik Hukum Newton menggunakan pembelajaran berbasis inkuiri dengan 5 level, yaitu </div><div>1) Discovery learning, </div><div>2) Interactive demonstrations, </div><div>3) Inquiry lessons, </div><div>4) Inquiry Labs, dan </div><div>5) Real-world applications. </div><div>Pembelajaran dilaksankan dalam dua pertemuan dengan rincian sebagai berikut. </div><div>Pertemuan ke-1 : </div><div>Level 1) Discovery learning </div><div>2) Interactive demonstrations </div><div>3) Inquiry lessons (3 x 40 menit) </div><div>Pertemuan ke-2 : </div><div>Level 4) Inquiry Labs </div><div><br><br></div><div><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 03:06:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308104376</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Merbani el akbari</title>
         <author>akbarimerbaniel</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308106348</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Siswa malas untuk berlatih soal<br>2. Siswa malas bertanya<br>3. Siswa tidak tahu besaran dan satuan fisika<br>4. Siswa mengalami kesulitan dalam konsep hitungan<br><br><br>Judul<br>"Peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran fisika materi teori kinetik gas melalui metode kooperatif di SMA Negeri 3 Pangkalpinan" </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337204869/35fb65048c126336feec770a3950f94b/1543289191074_1996135975.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 03:18:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308106348</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rozilawaty </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308107983</link>
         <description><![CDATA[<div>Masalah<br>1.Kurangnya motivasi belajar siswa<br>2.sulitnya mengefektifkan waktu belajar yang terpakai karena kegiatan sekolah <br>3.Nilai siswa masih banyak di bawah KKM<br>4.Cakupan materi biologi yang banyak, tapi siswa malas membaca materi biologi<br>5.sulitnya siswa memahami kata Kata latin dalam pembelajaran biologi<br>.<br>Judul <br>Penerapan model pembelajaran kooperatif STAD pada materi Pembelahan Sel untuk meningkatkan aktivitas belajar dan penguasaan konsep Biologi peserta didik kelas XII MIPA 1 SMAN 3 Pangkalpinang<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 03:27:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308107983</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nizam</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308109694</link>
         <description><![CDATA[<div>1.siswa kurang motivasi dalam belajar ekonomi<br>2.siswa kurang memahami pembelajaran ekonomi dalam kehidupan seharihari<br>3.siswa kurang aktif dalam betdiskusi<br>4.siswa mengalami kesulitan dalam menghitung matematika ekonomi<br>5.siswa jenuh dalam pembelajaran siang hari<br>Judul<br>"Meningkatkan hasil belajar siswa melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe snow balling pada pelajaran ekonomi <br><br>BAB I<br>A.Latar belakang<br>Pendidikan merupakan usaha agar mutu pendidikan dapat ditingkatkan dengan memperbaiki proses belajar, salah satunya adalah dengan cara mengadakan Penelitian Tindakan Kelas.Pada dasarnya sebagai seorang pendidik secara tidak sadar sudah sangat sering menemukan berbagai macam masalah dan solusi pemecahannya<br> Untuk mengantisipasikan masalah tersebut yang berkelanjutan maka perlu dicari metode pembelajaran yang tepat. Salah satunya dengan menerapkan metode snowball dengan menggunakan penekanan latihan soal yang dikerjakan secara berkelompok dalam permainan bola-bola kertas agar lebih menarik bagi siswa<br>B.Rumusan Masalah<br>sesuai uraian latar belakang diatas, ada beberapa masalah yang dapat dikemukakan sebagai betikut :<br>1.pembelajaran ekonomi kelas x ips sman 3 pangkalpinang masih menggunakan metode ceramah, sehingga hasil belajar masih rendah<br>2.untuk mengatasi rendahnya hasil belajar siswa,guru perlu menggunakan satu metode yang tepat dan menarik bagi siswa, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa yaitu metode snowball throwing<br><br>C..Pemecahan masalah<br>Pemecahan masalah yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan belajar siswa. Peneliti perlu membatasi masalah pada peningkatan aktivitas dan hasil belajar ekonomi kelas x ips 1 SMA Negeri 3 pangkalpinang dengan penerapan metode snowball throwing.<br><br>D. Perumusan Masalah<br>Berdasarkan pembatasan masalah diatas. <br>dapat dikemukakan beberapa rumusan masalah sebagai berikut<br>.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337200325/c27d85507d7ba78396908c6d7f1a7a68/15432986396163676111636788759612.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 03:38:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308109694</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>katalinasulaiman</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308115928</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337201618/9c59b5f348db60d0fb2d433dc70d2062/15432924616642009852684.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 04:22:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308115928</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Neyni Elis </title>
         <author>neynielismaneta</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308133281</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Siswa harus terus dibimbing untuk bisa presentasi<br>2. Siswa lemah untuk materi menggambar dan bangun ruang<br>3. Siswa tidak suka proses, lebih menyukai jawaban instan<br>4. Terlambat dalam melaksanakan tugas yang diberikan<br>5. Kebanyakan siswa belum menguasai konsep<br>Judul:<br>PEMANFAATAN KEARIFAN LOKAL DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA YANG EFEKTIF<br><br>Latar Belakang:<br>Sampai saat ini, masih banyak siswa yang menganggap matematika sebagai pelajaran yang sulit dan abstrak. Konsep-konsep matematika yang diajarkan, dirasakan jauh dari kehidupan siswa sehari-hari. Pada saat yang sama, pemerintah merasakan pentingnya penguatan pendidikan karakter dengan maraknya kasus-kasus yang bermula dari lemahnya karakter bangsa. Sebagai contoh: masalah perkelahian pelajar, masalah penyalahgunaan media sosial untuk menyebarkan berita bohong, masalah penyalahgunaan narkoba, dan masalah lainnya di dunia pendidikan. </div><div>Salah satu alternatif solusi untuk masalah di atas adalah pembelajaran matematika berbasis kearifan lokal. Kenapa kearifan lokal? Dari sisi pembelajaran matematika, kearifan lokal dapat mendekatkan matematika dengan kehidupan sehari-hari atau lingkungan dimana siswa tinggal. Dari sisi penguatan pendidikan karakter, kearifan lokal mengandung nilai-nilai karakter yang bersumber pada nilai-nilai luhur budaya bangsa.</div><div><br><br> </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 06:51:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308133281</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Era</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308149437</link>
         <description><![CDATA[<div>Permasalahan:<br>1.Peserta didik hanya mendapatkan 1 jam pelajaran TIK dalam 1 minggu sehingga pengerjaan latihan dibutuhkan beberapa kali pertemuan<br>2.Peserta didik jarang mendapatkan pelajaran teori sehingga lupa materi pelajaran tik<br>3.Peserta didik lebih senang menggunakan pembelajaran yang berbasis online<br>4.Peserta didik senang dengan medsos<br>5.Peserta didik kurang memahami positif dan negatif dalam pemanfaatan TIK<br>judul :<br>Keterlaksanan Layanan Bimbingan TIK terhadap peserta didik dalam proses belajar mengajar kelas X MIPA di SMA Negeri 3 Pangkalpinang</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337214197/47ac611e538468b71f40748be82c86e8/1543307123512.jpg" />
         <pubDate>2018-11-27 08:07:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308149437</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Marina Hardi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308159674</link>
         <description><![CDATA[<div>"UPAYA PENINGKATAN KEDISIPLINAN SISWA DALAM MENTAATI TATA TERTIB MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK PADA SISWA KELAS XI IPS SMA NEGERI 3 PANGKALPINANG PADA TAHUN AJARAN 2018-2019</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 08:45:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308159674</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Alex Arpandi</title>
         <author>alex_arpandi</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308162363</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Bahasa Inggris</strong><br>1. kosa kata kurang<br>2. penguasaan tata bahasa sangat minim<br>3. sering menggunakan google translate<br>4. wawasan kurang<br>5. menulis adalah kemampuan yang sulit<br><br>Judul:  UPAYA MENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS SISWA KELAS XI MIPA 5 PADA SEMESTER 2 SMA NEGERI 3 PANGKALPINANG TAHUN PELAJARAN 2018/2019 MELALUI STORYTELLING<br><br> BAB I<br>PENDAHULUAN<br> <br>A.    Latar Belakang<br>Pendidikan bisa dikatakan adalah salah satu kunci pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas, baik dari aspek pengetahuan, aspek sikap maupun aspek psikomotorik. Kualitas baik tersebut dapat dicapai dengan adanya lembaga pendidikan. Di Indonesia sendiri, lembaga pendidikan formal tertinggi adalah tingkat Perguruan Tinggi. Melalui lembaga pendidikan formal tersebut Pemerintah memfasilitasi sarana prasana yang bersifat fisik maupun non fisik seperti mata pelajaran yang disediakan dalam rangka  mendukung pendidikan nasional.<br>Meski prasarana sudah disediakan, namun masalah pendidikan terus terjadi, baik masalah pendidikan nasional maupun masalah pada tingkat satuan pendidikan itu sendiri. Mulai dari masalah kurikulum, tenaga pendidik yang belum merata, biaya pendidikan yang tinggi, gedung sekolah yang belum memadai, dan lain sebagainya.<br>Masalah yang terkait dengan mata pelajaran juga terjadi pada sekolah ini. Berdasarkan observasi yang dilakukan, peneliti masuk ke dalam kelas XI MIPA 5 di SMA Negeri 3 Pangkalpinang dan bertepatan dengan mata pelajaran bahasa Inggris. Masalah yag terjadi terkait dengan kegiatan mata pelajaran bahasa Inggris pada kelas XI  ini adalah, banyak dari mereka memiliki kosa kata yang sangat minim, padahal kosa kata merupakan salah satu modal utama untuk menyampaikan ide-ide. Ini terbukti ketika Guru  meminta mereka untuk membuat karangan singkat tentang  perkenalan diri, banyak dari mereka yang tidak bisa memperkenalkan diri mereka secara tertulis dengan benar dan juga tidak paham akan apa yang  telah mereka tulis. Ketidak mampuan ini diduga karena mereka tidak terbiasa menulis  dengan bahasa Inggris, dikarenakan minimnya kosakata yang mereka miliki.<br>Selanjutnya, mereka juga mengalami kesulitan dalam menerapkan tata bahasa atau tenses apa yang cocok dan tepat untuk menyampaikan ide yang mereka miliki. Kesalahan  dalam menggunakan tata bahasa atau tenses akan menyebabkan perbedaan makna yang signifikan. Pu Peserta didik harus mampu menggunakan kalimat sederhana, kalimat bertingkat, kalimat majemuk dan kalimat majemuk bertingkat. Dengan penguasaan tata bahasa yang baik pesan yang diharapkan akan tersampaikan dengan baik dan benar.<br>Teknologi juga tidak bisa terpisahkan dari diri kita termasuk para peserta didik. Mereka sangat bergantung dengan gawai mereka. Mereka sering kali menggunakan google translate dalam kegiatan menulis.Mereka selalu menggunakan jalan pintas dalam kegiatan menulis. Padahal sudah sering diingatkan bahwa google translate tidak bisa digunakan ketika kita mau mengubah bahasa Indonesia ke bahasa Inggris dengan benar. Google translate selalu menggunakan kata-kata baku sehingga tidak akan tepat dengan bentuk waktu yang seharusnya terjadi.<br>Wawasan yang luas juga berperan dalam membantu peserta didik dalam kegiatan menulis. Tentu saja untuk memiliki wawasan yang luas, peserta didik harus banyak membaca, baik itu artikel, berita, cerita fiksi dan non fiksi. Ini akan sangat membantu mengembangkan kekuatan menulis siswa. Namun dengan kemajuan teknologi, siswa sangat jarang membaca, mereka lebih banyak menonton dan main game baik online maupun offline.<br>Menulis adalah keterampilan yang memang sulit, karena untuk mampu menyampaikan idea atau pikiran dengan baik, maka peserta didik harus memiliki aspek-aspek yang sudah disebutkan diatas, tanpa hal-hal tersebut akan sulit bagi peserta didik menyampaikan ide-idenya.<br>Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, didapat informasi bahwa nilai rata-rata bahasa Inggris siswa kelas XI MIPA 5 belum mencapai standar nilai minimal yang ditentukan. Selain itu banyak siswa yang belum mampu menulis dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu, dari masalah-masalah yang ada di SMA Negeri 3 Pangkalpinang, penelitian ini sangat berguna untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.<br>B.     Identifikasi Masalah<br>Dari latar belakang masalah terdapat masalah-masalah, antara lain :<br>1.	Kurangnya kosa kata siswa<br>2.	Kurangnya penguasaan tata bahasa<br>3.	Seringkali menggunakan google translate<br>4.	Wawasan yang kurang<br>5.	Menulis masih merupakan keterampilan yang sulit<br><br>C.    Batasan Masalah<br>Dengan adanya beberapa identifikasi masalah, maka peneliti akan fokus meneliti tentang Upaya Meningkatkan Kemampuan Menulis  Bahasa Inggris Siswa Kelas Xi Sma Negeri  3 Pangkalpinang Melalui Story Telling.<br>D.    Rumusan Masalah<br>1.	Bagaimana upaya meningkatkan kemampuan menulis bahasa Inggris siswa kelas XI SMA Negeri 3 Pangkalpinang ?<br><br><br>E.     Tujuan<br>Berdasarkan masalah yang telah diidentifikasi dan dirumuskan, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis bahasa Inggris siswa kelas XI SMA Negeri 3 Pangkalpinang.<br>F.     Manfaat<br>a.      Manfaat bagi Sekolah<br>1.	Memberikan kontribusi bagi SMA Negeri 3 Pangkalpinang terkait dengan inovasi baru mengenai story telling<br>b.      Manfaat bagi Guru<br>1.	Memberikan masukan atau metode pengajaran yang baru mengenai mata pelajaran bahasa Inggris melalui story telling.<br>2.	Membantu Guru dalam mengajar di kelas dengan metode yang lebih mudah dan menarik<br>c.       Manfaat bagi Siswa<br>1.	Membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan menulis bahasa Inggris melalui metode yang lebih mudah yaitu Story Telling.<br><br></div><div><strong><br></strong><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 08:55:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308162363</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Darmi susilawati</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308162850</link>
         <description><![CDATA[<div>PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR EKONOMI MELALUI PEMBELAJARAN INKUIRI PADA SISWA  KELAS X IPS 3 SMA N 3 PANGKAL PINANG<br><br><strong>BAB I<br>PENDAHULUAN<br><br>A.  Latar belakangMasalah :</strong><br>      Dari  hasil belajar siswa kelas X IPS 3 SMA N 3 Pangkal Pinang dapat disimpulkan bahwa h untuk ulangan harian, ulangan tengah semester  serta ulangan semester genap  masuk dalam kategori sedang. Setelah  ditelusuri dari resume pembeajaran  yang dibuat oleh guru pada setiap pertemuan, penyebab  munculnya permasalahan di atas  disebabkan oleh beberapa hal, yaitu ; </div><div>        1)    materi hitungan pada mata pelajaran ekonomi sulit dipahami siswa, hal ini  terlihat dari   hasil analisis penilaian dengan jumlah siswa 36 orang siswa kelas X IPS 3, siswa yang menjawab benar pada materi koefisien Elastisitas, fungsi  permintaan, Penawaran, konsumsi, tabungan, dan Investasi hanya 35 % dengan jumlah siswa 13 orang, 2 siswa masih menjawab salah. </div><div>      2)  guru sudah menerapkan model-model pembelajaran, namun sebagian siswa masih hanya  sebatas pada menghafalkan materi yang ada dalam buku cetak, belum mampu memberikan contoh atau menjelaskan  konsep berdasarkan pemahaman sendiri, hal ini terlihat dari jawaban dari siswa jika diberikan soal yang agak berbeda dengan buku meskipun  masih dalam konteks yang sama siswa tidak dapat menjawabnya dengan benar;  </div><div>       3) siswa jarang mengajukan pertanyaan, walaupun guru sering meminta agar siswa bertanya jika ada hal-hal yang belum jelas, atau kurang paham; </div><div>       4) keaktifan dalam mengerjakan soal-soal latihan pada proses pembelajaran juga masih kurang;  </div><div>      5) kurangnya keberanian siswa untuk mengemukakan gagasan/pendapat dalam pembelajaran;</div><div>6) kurangnya keberanian siswa dalam mengerjakan soal di depan kelas, hal ini   menggambarkan efektifitas belajar mengajar dalam kelas masih rendah.  Akitivitas siswa yang rendah tersebut dapat berdampak pada  rendahnya pemahaman siswa  terhadap materi pembelajaran yang diberikan guru,  sehingga siswa menjadi rentan tidak lulus mata pelajaran ekonomi.</div><div>Untuk mengatasi kesulitan pemahaman tersebut, maka perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi. Salah satu diantaranya adalah melalui penerapan  pendekatan, metode serta model  pembelajaran yang sesuai, yang dapat merangsang munculnya gagasan baru bukan hanya sekedar menghafalkan materi yang sudah ada dalam buku cetak  mereka.  Oleh sebab itu  diperlukan metode belajar yang mampu meningkatkan minat serta hasil  belajar siswa dalam belajar mata pelajaran  ekonomi khususnya materi hitungan fungsi konsumsi, tabungan dan investasi.<br>     <strong>B.</strong>  <strong>Perumusan Masalah</strong></div><div>Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, penelitian ini difokuskan     untuk menjawab masalah: </div><div>        Apakah melalui penerapan pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan aktivitas  belajar ekonomi  siswa kelas X SMA Negeri 3 Pangkal Pinang pada materi fungsi konsumsi, tabungan dan investasi? <br><br></div><div>         Apakah melalui penerapan pembelajaran  inkuiri dapat meningkatkan hasil  belajar siswa   kelas X SMA Negeri 3 Pangkal Pinang pada materi fungsi konsumsi, tabungan dan investasi<br><br></div><div>       <strong>C.</strong>   <strong>Tujuan Penelitian</strong></div><div>  Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meengetahui peningkatan aktifias dan  hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi melalui penerapan model pembelajaran latihan inkuiry di kelas  X  <sup> </sup>SMAN 3 Pangkal Pinang khususnya pada materi fungsi konsumsi, tabungan dan investasi.</div><div> </div><div>        <strong>D.</strong>    <strong>Manfaat Penelitian</strong></div><div>        1. Bagi Guru : Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan dalam upaya mengembangkan kemampuan guru<br>menyampaikan materi <br>pelajaran ekonomi</div><div>       2. Bagi Sekolah : Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi upaya peningkatan mutu pembelajaran di sekolah.</div><div>        3.  Bagi Siswa : hasil penelitian dapat memberikan gambaran mengenai upaya peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran ekonomi  melalui model  pembelajaran inkuiri sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan kajian  dalam memperbaiki mutu pembelajaran yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa</div><div> </div><div> <strong>BAB II  LANDASAN TEORI</strong></div><div>     <strong>A.</strong>     <strong>Aktivitas Belajar</strong></div><div>Aktivitas memiliki pengertian sebagai kegiatan yang dilakukan seseorang. Aktivitas berasal dari bahasa Inggris Activity diartikan sebagai kegiatan. Sedangkan dalama Kamus Besar Bahasa Indonesia, aktivitas adalah kerja atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan </div><div> Pada kenyataan di sekolah-sekolah sering guru yang aktif  sehingga murid tidak diberi kesempatan untulk aktif. Betapa pentingnya aktivitas murid dalam proses belajar mengajar sehingga John Dewey, sebagai tokoh pendidikan, mengemukakan prinsip ini melalui metode proyeknya dengan semboyan learning by doing. Bahkan jauh sebelumnya para tokoh pendidikan lainnya seperti Rousseau, Pestalozi, Frobel, dan Montessory telah mendukung prinsip aktivitas dalam pengajaran ini.</div><div>-       Aktivitas lisan (oral activities) seperti bercerita, membaca sajak,  tanya jawab,    diskusi dan menyanyi;  </div><div>-        Aktivitas mendengarkan (listening activities) seperti mendengarkan penjelasan guru, ceramah, pengarahan; </div><div>-       Aktivitas gerak (motor activities) seperti senam, atletik, menari, melukis; </div><div>-      Aktivitas menulis (writing activities) seperti mengarang, membuat makalah, membuat  surat..</div><div>Dengan demikian, aktivitas sangat diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar sehingga muridlah yang seharusnya terlibat aktif, sebab murid sebagai subjek didik adalah yang merencanakan, dania sendiri yang melaksanakan belajar mengajar (Usman, 1995: 21).</div><div>Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar mertupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mencapai perubahan tingkah laku. Aktivitas belajar siswa merupakan kegiatan yang sangat penting dalam belajar karena tanpa aktivitas belajar tidak mungkin pembealajaran yang dilaksanakan dapat berlangsung dengan baik.</div><div>      <strong>B.</strong>     <strong> Hasil Belajar</strong></div><div> proses belajar berlangsung dalam tiga tahapan yaitu: </div><div> (1) <em>Acquisition</em> (tahap perolehan informasi), pada tahap ini terjadi penerimaan informasi sebagai stimulus dan pemberian respon sehingga diperoleh pemahaman atau perilaku baru. Tahap ini merupakan tahapan yang paling mendasar, bila pada tahap ini kesulitan tidak dibantu maka akan mengalami kesulitan untuk menghadapi tahap selanjutnya; </div><div>(2) <em>Storage</em> (penyimpanan informasi), pemahaman dan perilaku baru yang diterima secara otomatis akan disimpan dalam memorinya yang disebut <em>shortterm</em> atau <em>longterm</em> memori;</div><div> (3) <em>Retrieval</em> (mendapatkan kembali informasi), apabila seseorang mendapat pertanyaan tentang materi yang telah diperolehnya maka akan berusaha mengaktifkan kembali fungsi-fungsi sistem memori untuk menjawab pertanyaan atau masalah yang dihadapi. Tahap <em>retrival</em> merupakan peristiwa mental dalam mengungkapkan kembali informasi, pemahaman, dan pengalaman yang telah diperolehnya.</div><div>Setelah melalui proses belajar akan diperoleh hasil belajar yang ditunjukkan oleh adanya perubahan tingkah laku peserta didik. Menurut Gagne (1989), hasil belajar dapat dikelompokkan ke dalam lima kategori yaitu : </div><div>-       keterampilan intelektual (<em>intellectual skills</em>). </div><div>-       strategi-strategi kognitif (<em>cognitive strategies</em>), </div><div>-       informasi verbal (<em>verbal information</em>), </div><div>-       keterampilan motorik (<em>motor skills</em>), </div><div>-      serta  sikap (attitudes).</div><div>Hasil belajar pada ranah kognitif berkaitan dengan perilaku berpikir, mengetahui, dan memecahkan masalah.</div><div> Ada enam tingkatan aspek kognitif yang bergerak mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks yaitu: </div><div>(1) pengetahuan (<em>knowledge</em>), yaitu kemampuan mengingat materi pelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya; </div><div>(2) pemahaman (<em>comprehension, understanding</em>), seperti menafsirkan, menjelaskan, atau meringkas; </div><div>(3) penerapan (<em>application</em>), yaitu kemampuan menafsirkan atau menggunakan materi pelajaran yang sudah dipelajari ke dalam situasi baru atau kongkret; </div><div>(4) analisis (<em>analysis</em>), yaitu kemampuan menguraikan atau menjabarkan sesuatu ke dalam komponen-komponen atau bagian-bagian sehingga susunannya dapat dimengerti; </div><div>(5) sintesis (<em>synthesis</em>), yaitu kemampuan menghimpun bagian-bagian ke dalam suatu keseluruhan; </div><div>(6) evaluasi (<em>evaluation</em>), yaitu kemampuan menggunakan pengetahuan untuk membuat penilaian terhadap sesuatu berdasarkan kriteria tertentu.</div><div>Hasil belajar ranah afektif berkaitan dengan sikap, nilai-nilai, interes, apresiasi, dan penyesuaian perasaan sosial. </div><div>Aspek ini mempunyai lima tingkatan dari yang sederhana sampai ke tingkat yang lebih kompleks yaitu: </div><div>(1) penerimaan (<em>receiving</em>), merupakan kepekaan menerima rangsangan (stimulus) baik berupa situasi maupun gejala; </div><div>(2) penanggapan (<em>responding</em>), berkaitan dengan reaksi yang diberikan seseorang terhadap stimulus yang datang; </div><div>(3) penilaian (<em>valuing</em>), berkaitan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus yang datang; </div><div>(4) organisasi (<em>organization</em>), yaitu penerimaan terhadap berbagai nilai yang berbeda berdasarkan suatu sistem nilai tertentu yang lebih tinggi; </div><div>(5) karakteristik nilai (<em>characterization by a value complex</em>), merupakan keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki sesorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.</div><div>Hasil belajar ranah psikomotor berkaitan dengan keterampilan yang bersifat manual  dan motorik. </div><div>Aspek ini meliputi :</div><div>(1) persepsi (<em>perception</em>), berkaitan dengan penggunaan indra dalam melakukan kegiatan; </div><div>(2) kesiapan melakukan pekerjaan (<em>set</em>), berkaitan dengan kesiapan melakukan suatu kegiatan baik secara mental, fisik, maupun emosional; </div><div>(3) mekanisme (<em>mechanism</em>), berkaitan dengan penampilan respons yang sudah dipelajari; </div><div>(4) respons terbimbing (<em>guided respons</em>), yaitu mengikuti atau mengulangi perbuatan yang diperintahkan oleh orang lain; </div><div>(5) kemahiran (<em>complex overt respons</em>), berkaitan dengan gerakan motorik yang terampil; </div><div>(6) adaptasi (<em>adaptation</em>), berkaitan dengan keterampilan yang sudah berkembang di dalam diri individu sehingga yang bersangkutan mampu memodifikasi pola gerakannya; serta </div><div>(7) keaslian (<em>origination</em>) yang  merupakan kemampuan untuk menciptakan pola gerakan baru sesuai dengan situasi yang dihadapi.</div><div>Perubahan tingkah laku dalam belajar memiliki ciri-ciri sebagai berikut:</div><div> (1) Terjadi secara sadar, seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu; </div><div>(2) Bersifat kontinu dan fungsional, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlanmgsung secara berkesinambungan dan tidak statis. Satu perubahan terjadi akan menyebankan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan atau proses belajar berikutnya; </div><div>(3) Bersifat positif, perubahan-perubahan itu senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya; </div><div>(4) Bersifat aktif. bahwa prubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha individu itu sendiri; </div><div>(5) Bertujuan dan terarah, perubahan tingkah laku itu terjadi karena adanya tujuan yang akan dicapai; serta </div><div>(6) Mencakup seluruh aspek tingkah laku, perubahan dalam belajar akan menyeluruh baik dalam sikap, pengetahuan dan sikap.</div><div>Hasil belajar dapat diwujudkan dengan adanya perubahan tingkah laku seseorang dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik yang ditetapkan sebagai tujuan pembelajaran.</div><div> </div><div><strong>1.</strong>      <strong> Pembelajaran Inkuiri</strong></div><div> </div><div>Pembelajaran inkuiri didefinisikan oleh Piaget sebagai pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan eksperimen sendiri; dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbol-simbol dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukan dengan yang ditemukan orang lain (Wartono, 1996: 29). Penjelasan tentang inkuiri Menurut Barth dan Shermis (1978: 99) adalah sebagai berikut <em>“Inquiry as a method means that a teacher and his student will identify a problem that is of considerable concern to them –and to our society- and that relevant facts and values will be examined in the light of criteria”</em></div><div>Istilah inkuiri belum lama muncul dalam tulisan-tulisan tentang pendidikan khususnya dalam pembelajaran di Indonesia. Pengertiannya berbeda menurut konteksnya. Sebagai contoh inkuiri misalnya dapat berarti sikap umum terhadap belajar yang berpusat pada anak yang berarti bahwa perlu dikembangkan inkuiri yang bersifat alami pada anak. Pengertian lainnya adalah menggunakan cara inkuiri dari disiplin ilmu pengetahuan sebagai model mengajar. Secara umum yang dimaksud adalah mengembangkan kemampuan siswa untuk memikirkan secara sungguh-sungguh dan terarah dan merefleksikan hakekat sosial kehidupan khususnya kehidupan siswa sendiri dan arah kehidupan masyarakat dalam upaya memecahkan masalah-masalah sosial. Menurut para pengembangnya, fungsi sekolah dalam masyarakat modern adalah untuk berpartisipasi secara aktif dan kreatif dalam menyusun kembali budaya masyarakat. Untuk itu mereka mengkaji tiga ciri-ciri esensial kelas yang reflektif yaitu; 1)  Model inkuiri tidak dapat digunakan dalam semua jenis kelas. Model inkuiri memerlukan iklim terbuka dalam diskusi dimana para siswa mengemukakan gagasannya tentang masalah tertentu; </div><div>2)   Kelas harus menekankan pada jawaban yang bersifat sementara (<em>hypothesis</em>) karena itu diskusi kelas akan berorientasi di sekitar solusi-solusi yang bersifat hipotetik. Pengetahuan digambarkan sebagai hipotesis yang secara terus menerus diuji dan diuji kembali siswa dan guru mengumpulkan data dari sumber yang berbeda melakukan analisis, merevisi pengetahuan mereka dan mencoba kembali.; </div><div>3)  Kelas yang reflektif adalah menggunakan fakta-fakta sebagai bukti. Kelas dianggap sebagai tempat membentuk dan berlatih untuk melakukan inkuiri ilmiah. Validasi fakta-fakta dalam menggunakan model ini memperoleh tempat yang penting .</div><div> Dalam penerapan model ini prinsip reaksi guru adalah membantu siswa dalam ber-inkuiri dan menjelaskan posisi. Juga membantu siswa dalam memperbaiki metode kerjanya dan dalam melaksanakan rencananya. Sistem sosialnya adalah agak terstruktur, dimana guru sebagai pemrakarsa inkuiri dan melihat fase-fase yang dilalui siswa. Sistem yang dapat mendukung adalah keterbukaan dan tersedianya perpustakaan serta sumber-sumber yang kaya informasi di masyarakat merupakan salah satu kebutuhan dalam melaksanakan pembelajaran inkuiri sosial.</div><div>Pada awalnya strategi pembelajaran inkuiri banvak diterapkan dalam ilmu-ilmu alam <em>(natural science)</em>. Namun demikian, para ahli pendidikan ilmu sosial mengadopsi strategi inkuiri yang kemudian dinamakan inkuiri sosial. Hal ini didasarkan pada asumsi penting­nya pembelajaran IPS pada masyarakat yang semakin cepat berubah, seperti yang dikemukakan Robert A Wilkins (1990:85) yang menyatakan bahwa dalam kehidupan masyarakat yang terus menerus mengalami perubahan, pengajaran IPS harus menekankan kepada pengembangan berpikir. Terjadinya ledakan pengetahuan, menurut­nya, menuntut perubahan pola mengajar dari yang hanya sekadar mengingat fakta yang biasa dilakukan melalui strategi pembelajaran dengan strategi kuliah <em>(lectur)</em>atau dari strategi latihan <em>(drill) </em>dalam pola tradisional, menjadi pengembangan kemampuan berpikir kritis <em>(critical thinkirig). </em>Strategi pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir itu adalah strategi inkuiri sosial.</div><div>Berdasarkan definisi tersebut di atas, inkuiri sosial dapat diartikan sebagai proses yang ditempuh siswa untuk mendapatkan informasi atau pembahasan atau dapat berupa proses yang ditempuh siswa untuk memecahkan suatu permasalahan. Dalam pembelajaran inkuiri sosial, siswa terlibat secara mental maupun fisik untuk memecahkan permasalahan sosial yang diberikan guru. Dengan demikian siswa akan terbiasa bersikap seperti sikap para ilmuwan IPS yang teliti, tekun/ulet, obyektif/jujur, menghormati orang lain dan kritis.</div><div>Rumusan pengertian inkuiri itu tidak hanya terbatas kepada pertanyaan atau pemeriksaan, melainkan meliputi pula proses penelitian, keingintahuan, analisa, sampai kepada penarikan kesimpulan tentang hal-hal yang diperiksa atau diteliti. Dalam rangka pendidikan IPS, wawasan inkuiri ini diarahkan kepada kemampuan anak didik berpikir kritis dan menjadi orang yang secara bebas dapat memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya.</div><div>Menurut Bruce Joyce (dalam Wahab,2007), inkuiri sosial merupakan strategi pem­belajaran dari kelompok sosiaI <em>(social family) </em>subkelompok konsep masyarakat <em>(concept of society).</em> subkelompok ini didasarkan pada asumsi bahwa strategi pendidikan bertujuan untuk mengembangkan anggota masyarakat ideal yang dapat hidup dan dapat mempertinggi kualitas kehidupan masyarakat. Oleh karena itulah siswa harus di­beri pengalaman yang memadai bagaimana caranya memecahkan persoalan-persoalan yang muncul dimasyarakat. Melalui pengalaman itulah setiap individu akan dapat membangun pengetahuan yang berguna bagi diri dan masyarakatnya.</div><div>Lebih dari satu abad istilah inkuiri mengandung makna sebagai salah satu usaha kearah pembaruan pendidikan. Namun demikian, istilah inkuiri sering digunakan dalam bermacam­-macam arti. Ada yang menggunakannya berhubungan dengan dengan strategi mengajar yang berpusat pada siswa, ada juga yang menghubungkan istilah inkuiri dengan mengembangkan kemampuan siswa untuk menemukan dan merefleksikan sifat-sifat kehidupan sosial, terutama untuk melatih siswa agar hidup mandiri dalam masyarakatnya.</div><div>Terdapat tiga karakteristik pengembangan strategi inkuiri : </div><div><em>Pertama,</em> adanya aspek (masalah) sosial dalam kelas yang dianggap penting dan dapat mendorong terciptanya diskusi kelas.</div><div> <em>Kedua, </em>adanya rumusan hipotesis sebagai fokus untuk inkuiri. <em>Ketiga, </em>penggunaan sebagai pengujian hipotesis. Dari karakteristik inkuiri seperti yang telah diuraikan di atas, maka tampak inkuiri sosial pada dasarnya tidak berbeda dengan inkuiri pada umumnya. Perbedaannya terletak pada masalah yang dikaji adalah masalah-masalah sosial atau masalah kehidupan masyarakat.</div><div>Melalui pembelajaran inkuiri diharapkan peserta didik mampu mengembangkan keterampilan bepikir kritis, mampu memahami konsep-konsep ekonomi  dengan baik dan sekaligus menanamkan sikap ilmiah kepada siswa. Melalui pelatihan keterampilan berpikir secara teratur dan kontinu yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan intelektual anak, akan mampu memberikan bekal kemampuan memadai bagi anak, baik untuk bekal hidupnya kelak dimasyarakat maupun untuk melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi.</div><div>Tahapan proses dalam pembelajaran inkuiri dapat dilaksanakan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut (Sanjaya, 2007: 199)</div><div> </div><div><strong>2.</strong>      <strong>Tahap Orientasi:</strong></div><div>Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapam orientasi ini adalah; 1)  Menjelaskan topik, tujuan dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa; 2) Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-­langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan; 3)  Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini di­lakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa. </div><div><strong>3.</strong>      <strong>Tahap Merumuskan Masalah:</strong></div><div>Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disaji­kan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir  meme­cahkan teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencarl jawaban itulah yang sangat penting dalam strategi inkuiri, oleh sebab itu melalul proses tersebut siswa akan memperoleh peng­alaman yang sangat berharga sebagal upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir. Dengan demikian, teka-teki yang menjadi masalah dalam berinkuiri adalah teka-teki yang mengandung konsep yang jelas yang harus dicari dan ditemukan. Ini penting dalam pembeIajaran Inkuiri.</div><div>Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam me­rumuskan masalah, diantaranya; 1)      Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa. Siswa akan memiliki motivasi belajar yang tinggi manakala dilibatkan dalam merumuskan masalah yang hendak dikaji. Dengan demikian, guru sebaiknya tidak merumuskan sendiri masalah pembelajar­an, guru hanya memberikan topik yang akan dipelajari, sedang­kan bagaimana rumusan masalah yang sesuai dengan topik yang telah ditentukan sebaiknya diserahkan kepada siswa;</div><div> 2)  Masalah yang dikaji adaIah masaIah yang mengandung teka-teki yang jawabannya pasti. Artinya, guru perlu mendorong agar siswa dapat merumuskan masalah yang menurut guru jawaban sebenarnya sudah ada, tinggal siswa mencari dan mendapatkan jawabannya secara pasti; </div><div>3)  Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terilebih dahulu oleh siswa. Artinya, sebelum masalah itu dikaji lebih jauh melalui proses inkuiri, guru perlu yakin terlebih dahulu bahwa siswa sudah memiliki pemahaman tentang konsep-konsep yang ada dalam rumusan masalah. Jangan harapkan siswa dapat melakukan tahapan inkuiri se­lanjutnya, manakala ia belum paham konsep-konsep yang ter­kandung dalam rumusan masalah.</div><div><strong>4.</strong>      <strong>Tahap Merumuskan Hipotesis:</strong></div><div>Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada dasarnya sudah dimiliki sejak individu itu lahir. Potensi berpikir itu dimulai dari kemampuan setiap individu untuk menebak atau mengira-ngira (berhipotesis) dari suatu permasalahan. Manakala individu dapat membuktikan tebakannya, maka Ia akan sampai pada posisi yang bisa mendorong untuk berpikir lebih lanjut</div><div>Salah satu cara yang dapat dilakukan guru tintuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah (dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dan suatu permasalahan yang dikaji. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan logis. Kemampuan berpikir logis itu sendiri akan sangat dipengaruhi oleh kedalaman wawasan yang dimiliki serta keluasan pengalaman. Dengan demikian, setiap individu yang kurang mempunyal wawasan akan sulit mengembangkan hipotesis yang rasional dan logis.</div><div><strong>5.</strong>      <strong>Tahap Mengumpulkan Data:</strong></div><div>Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan ke­mampuan menggunakan potensi berpikirnya. Oleh sebab itu, tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-­pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan.</div><div>Kesulitan yang sering dialami  oleh siswa adalah sulitnya untuk mengembangkan konsep yang mereka sudah tahu sehingga siswa terkadang menjadi tidak  apresiatif terhadap pokok permasalahan yang  biasanya ditunjukkan oleh gejala-gejala ketidak­bergairahan dalam belajar. Manakala guru menemukan gejala-gejala semacam ini, maka guru hendaknya secara terus-menerus memberi­kan dorongan kepada siswa untuk belajar melalui penyuguhan ber­bagai jenis pertanyaan secara menata kepada seluruh siswa sehingga mereka terangsang untuk berpikir.</div><div> </div><div> </div><div><strong>6.</strong>      <strong>Tahap Menguji Hipotesis:</strong></div><div><strong> </strong>Proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji bipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan. Disamping itu, menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan banya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.</div><div><strong>7.</strong>      <strong>Tahap Merumuskan kesimpulan:</strong></div><div><strong> </strong>Proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan tahapan pengujian terhadap pemahaman siswa  dalam proses pembelajaran. Sering terjadi kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus terhadap masalah yang hendak dipecahkan karena banyaknya data. Oleh karena itu untuk mencapai kesimpulan  yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa  data mana yang relevan yang  merupakan inti atau konsep utama yang harus dikuasai. </div><div><strong>C.</strong>    <strong>Penelitan Terdahulu</strong></div><div>Kesulitan yang dialami siswa dalam belajar merupakan masalah yang sering dilami oleh guru dalam mengajar, kesulitan belajar terutama kurangnya motivasi siswa akan memyebabkan hasil belajar siswa mejadi kurang. Kasmad pada penelitiannya mengemukakan bahwa untuk meningkatkan hasil belajar siswa dapat  guru dapat menerapkan pembelajaran inkuri. Pembelajaran inkuiri menurut penelitian Kasmad dalam penelitiannya yang dilakukan SDN 17 Nageri Kaler Purwakarta kelas V menemukan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar siswa sebesar 21 %  dalam mengerjakan soal-soal geometri pada pelajaran matematika sekolah dasar. Setelah membaca penelitian ini penulis akan menerapkan metode ini untuk mengatasi kesulitan pembelajaran ekonomi khususnya fungsi  konsumsi, tabungan dan investasi.</div><div><strong>D.</strong>    <strong>Kerangka Berpikir</strong></div><div>Pemahaman siswa akan meningkat jika siswa dapat terlibat secara aktif dalam pembelajaran, dengan memberikan kesempatan kepada peserta  didik dalam hal ini siswa untuk melakukan eksplorasi yang lebih banyak lagi melalui pembelajaran inkuiri.</div><div>     Pembelajaran inkuiri dengan 6  tahapan yang  diawali dengan tahap orientasi sebagai langkah untuk menjelaskan tujuan pembelajaran sekaligus membangkitkan motivasi siswa dalam belajar hingga tahap penarikan kesimpulan. Keseluruhan tahapan tersebut dilakukan oleh siswa sehingga dapat mendorong pengalaman belajar yang dapat membangkitkan motivasi bagi siswa untuk menguasai materi. Penguasaan materi tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan hasil belajar siswa.</div><div> Dapat ditarik kesimpulan bahwa  model pembelajaran inkuiri akan meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.</div><div><strong>E.</strong>       <strong>Hipotesis Tindakan</strong></div><div>Berdasarkan kajian teoretis tentang pembelajaran inkuiri, maka  hipotesis yang dapat dikemukakan: “Model pembelajaran inkuiri akan meningkatkan aktivitas dan hasil belajar ekonomi khususnya materi fungsi konsumsi, tabungan dan investasi pada  siswa kelas X  SMA Negeri 3 Pangkal Pinang ”.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 08:57:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308162850</guid>
      </item>
      <item>
         <title>somad . (Matematika)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308165678</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN </strong><strong><em>ADVANCE<br> ORGANIZER </em></strong><strong>MENGGUNAKAN LKS PADA MATERI POKOK<br> PERSAMAAN KUADRAT UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS X SMAN 3 PANGKALPINANG</strong></div><div><strong> TAHUN PELAJARAN 2018/2019.</strong></div><div><strong> </strong></div><div><br>BAB  I <br>PENDAHULUAN   <br><br><strong>A. Latar Belakang Masalah  <br></strong><br></div><div>Persamaan Kuadrat merupakan salah satu materi pokok dalam mata pelajaran matematika. Banyak permasalahan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam ilmu-ilmu yang lain harus diselesaikan menggunakan konsep­konsep persamaan kuadrat. Dengan demikian, persamaan kuadrat harus kita pahami dengan baik. Pembelajaran yang digunakan dalam mempelajari materi persamaan kuadrat, harus dapat mengaktifkan kembali struktur kognitif peserta didik. yang dapat mempermudah peserta didik dalam menguasai konsep dengan cara bisa mempresentasikannya kembali, mendorong peserta didik aktif dan kritis dalam proses pembelajaran. Agar peserta didik tidak kesulitan dalam menentukan akar-akar persamaan kuadrat dengan berbagai cara, diperlukan panduan untuk menuntun langkah peserta didik dalam menemukan konsep. Dengan menemukan konsep sendiri, peserta didik akan merasa lebih puas dan aktif berpartisipasi. Untuk lebih memantapkan konsep yang telah didapat, latihan soal sangat dibutuhkan, misalnya dengan latihan menjawab soal yang sifatnya pengembangan.</div><div>Namun pada kenyataannya, pembelajaran matematika di SMA Negeri 3 Pangkalpinang, khususnya materi persamaan kuadrat belum sepenuhnya dimengerti peserta didik. Hal ini disebabkan karena peserta didik hanya menghafal rumus dan mencatat apa yang ditulis guru tanpa mencoba memahami lagi dengan cara mempresentasikannya, tanpa berusaha menemukan konsep itu sendiri, sehingga dalam mencari akar-akar persamaan kuadrat peserta didik cepat lupa dan masih ada cara-cara lain yang belum dikuasahi. Peserta didik kesulitan memanipulasi bentuk aljabar ke dalam bentuk pemfaktoran, peserta didik kebanyakan mengetahui cara menentukan akar-akar persamaan kudrat hanya dengan pemfaktoran saja, peserta didik cenderung tahu cara penyelesaiannya tapi tidak bisa menjelaskan kepada yang lain dan kurang aktif. Selain itu, bagaimana menerapkan konsep dalam pemecahan soalpun banyak yang masih kesulitan. Padahal sudah beberapa metode digunakan, seperti diskusi, penemuan dan ceramah. Tapi hasilnya masih dibawah dari apa yang di diharapkan. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika SMA Negeri 3 Pangkalpinang, hasil belajar pada materi pokok persamaan kuadrat pada dua tahun sebelumnya, yaitu tahun 2015/2016 dan 2016/2017 belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 75.</div><div>Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah dengan mencoba menerapkan model pembelajaran <em>advance organizer </em>dengan menggunakan LKS, dimana materi yang telah dipelajari peserta didik dapat dimanfaatkan dan dijadikan sebagai titik tolak dalam mengkomunikasikan informasi atau ide baru dalam kegiatan pembelajaran sehingga peserta didik dapat melihat keterkaitan antara materi pelajaran yang telah dipelajari dengan informasi atau ide baru. Penggunaan LKS dapat membantu peserta didik dalam meningkatkan pemahaman peserta didik pada materi yang diajarkan dalam hal ini persamaan kuadrat. Dalam mempelajari persamaan kuadrat, kebanyakan dari peserta didik hanya memahami sebagian dari cara menentukan akar-akar persamaan kadrat, sehingga ketika diberikan soal yang sulit, peserta didik tidak dapat menjawabnya. Untuk itu, penerapan model pembelajaran <em>advance organizer </em>dengan menggunakan LKS, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta didik secara terperinci mengenai materi persamaan kuadrat.</div><div>Berdasarkan uraian di atas, maka judul yang diangkat dalam penelitian ini adalah ”Implementasi Model Pembelajaran <em>Advance Organizer </em>Menggunakan LKS pada Materi Pokok Persamaan Kuadrat untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas X di SMA Negeri 3 Pangkalpinang   Tahun Pelajaran 2018/2019”.  <br><br></div><div><strong>B. Penegasan Istilah</strong></div><div><em>1.</em>      Model <em>Advance Organizer</em></div><div><em>Advance Organizer </em>adalah informasi yang disajikan sebelum pembelajaran dan dapat digunakan oleh pelajar untuk mengatur dan menginterpretasikan informasi masuk yang baru.2 Dalam penelitian ini model <em>advance organizer </em>digunakan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas </div><div>X di SMA Negeri 3 Pangkalpinang .</div><div>3<em>.</em>      LKS (Lembar Kerja Siswa)</div><div>Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah lembaran-lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Yang dimaksud LKS dalam penelitian ini adalah lembar kerja siswa yang berisi ringkasan materi yang berupa tugas-tugas melengkapi bagian-bagian yang dihilangkan, untuk membantu peserta didik dalam menguatkan konsep dan memahami materi persamaan kuadrat dengan mudah.</div><div>4<em>.</em>      Persamaan Kuadrat</div><div>Persamaan kuadrat adalah persamaan yang pangkat tertingginya dua.  5 Dalam penelitian ini akan diteliti bagaimana cara meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi persamaan kuadrat dengan menerapkan model <em>advance organizer </em>dengan menggunakan LKS.</div><div>6<em>.</em>      Hasil Belajar</div><div>Hasil Belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajarnya. 7.  Yang dimaksud hasil belajar di sini adalah hasil belajar kognitif yang diambil dari nilai evaluasi setiap akhir siklus. <br><br></div><div>C.     <strong>Rumusan Masalah</strong></div><div>Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:</div><div>1.      Bagaimana pelaksanaan model pembelajaran <em>Advance Organizer </em>menggunakan LKS pada materi pokok persamaan kuadrat di Kelas X SMA Negeri 3  Pangkalpinang ?</div><div>2.      Apakah model pembelajaran <em>Advance Organizer </em>menggunakan LKS dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik Kelas X SMA Negeri 3 Pangkalpinang?  <br><br></div><div>D.    <strong>Tujuan Penelitian</strong></div><div>Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulis mengadakan penelitian ini adalah:</div><div>1.      Untuk mengetahui pelaksanaan model pembelajaran <em>Advance Organizer </em>menggunakan LKS pada materi pokok persamaan kuadrat di Kelas X SMA Negeri 3  Pangkalpinang. <br><br></div><div>E.     Untuk mengetahui apakah model pembelajaran <em>Advance Organizer </em>menggunakan LKS dapat meningkatkan hasil belajar pada materi pokok persamaan kuadrat di Kelas X SMA Negeri 3  Pangkalpinang.     <br> <br>  E. <strong>Manfaat Penelitian</strong></div><div>1.      Bagi Guru</div><div>Sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.</div><div>2.      Bagi Peserta Didik</div><div>Model <em>Advance Organizer </em>diharapkan dapat meningkatkan pemahaman konsep peserta didik khususnya pada mata pelajaran matematika. Sehingga dapat membantu peserta didik dalam mencapai peningkatan hasil belajarnya.</div><div>3.    Bagi Peneliti</div><div>Memperoleh pengalaman langsung dalam pembelajaran matematika dengan menerapkan model pembelajaran Advance Organizer menggunakan LKS dan memberi bekal bagi peneliti sebagai calon seorang guru yang siap terjun ke lapangan.  <br><br><br><strong>BAB II</strong></div><div><strong>MODEL PEMBELAJARAN </strong><strong><em>ADVANCE ORGANIZER , </em></strong><strong>LKS,<br> HASIL BELAJAR DAN MATERI POKOK PERSAMAAN KUADRAT</strong></div><div><strong> </strong></div><div><strong>A. Model Pembelajaran Advance Organizer</strong> </div><div><strong>1. Model Pembelajaran</strong> </div><div><strong>a. Definisi Model Pembelajaran</strong> </div><div>Istilah “model pembelajaran” berbeda dengan strategi pembelajaran, metode pembelajaran, dan prinsip pembelajaran. Model pembelajaran meliputi suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Konsep model pembelajaran lahir dan berkembang dari para pakar psikologi dengan pendekatan dalam <em>setting </em>eksperimen yang dilakukan. Konsep model pembelajaran untuk pertama kalinya dikembangkan oleh Bruce dan koleganya. Terdapat beberapa pendekatan pembelajaran yang dikembangkan oleh joyce dan Weil dalam penjelasan dan pencatatan tiap-tiap pendekatan dikembangkan suatu sistem penganalisisan dari sudut dasar teorinya, tujuan pendidikan dan perilaku guru dan siswa yang diperlukan untuk melaksanakan pendekatan itu agar berhasil. </div><div>Menurut  Dahlan, model pembelajaran adalah rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pengajaran dan memberi petunjuk pada pengajar di kelas dalam <em>setting </em>pengajaran atau <em>setting </em>lainnya. Tiap model mengajar yang dipilih haruslah mengungkapkan berbagai realitas yang sesuai dengan situasi kelas dan macam pandangan hidup, yang dihasilkan dari kerjasama guru dan murid. </div><div>Amin Suyitno mengatakan bahwa model pembelajaran adalah suatu pola atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan guru agar tujuan atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat dicapai dengan lebih efektif dan efisien. </div><div>Menurut Joyce dalam Trianto model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran. Joyce juga mengatakan <em>“Each model guides us as we design instruction to help students achieve various objectives” </em>yang maksudnya bahwa setiap model mengarahkan kita dalam merancang pembelajaran untuk membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran. </div><div>Suatu kegiatan pembelajaran di kelas disebut model pembelajaran jika: (1) ada kajian ilmiah dari penemu atau ahlinya, (2) ada tujuan yang ingin dicapai, (3) ada tingkah laku yang spesifik, dan (4) ada lingkungan yang perlu diciptakan agar tindakan atau kegiatan pembelajaran tersebut dapat berlangsung secara efektif. </div><div>Sulitlah untuk menunjukkan suatu model pembelajaran yang sempurna, yang dapat memecahkan semua masalah pengajaran, sehingga dapat membantu peserta didik mempelajari apa saja dengan model tersebut. Model-model pembelajaran inipun sebenarnya tidaklah dimaksudkan untuk membantu semua jenis belajar atau untuk melaksanakan berbagai gaya belajar. </div><div>Jadi model pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam mengajar harus benar-benar disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan. Jika seorang guru menginginkan peserta didik menjadi produktif dan kreatif, maka guru haruslah membiarkan peserta didik tumbuh dan berkembang sesuai dengan gayanya sendiri, dan penerapan model mengajar pun haruslah mengikuti kebutuhan peserta didik. </div><div><strong>b. Macam-macam Model Pembelajaran</strong> </div><div>Dalam buku” <em>models of teaching”, </em>Joyce dan Weil mengemukakan 23 model pembelajaran yang kemudian digolongkan menjadi empat rumpun yaitu: </div><div><em>1.</em>    <em>Behavioral models, </em>yang menekankan pada aspek perubahan perilaku didalam belajar. Dalam kelompok ini terdapat model-model pembelajaran <em>contingency, management self control though operant met hoda training model, stress reduction dan assertiveness training</em> </div><div><em>2.</em>    <em>Social interaction, </em>yang menekankan pada hubungan individu terhadap masyarakan dan orang lain. Model-model pembelajaran yang termasuk dalam kelompok ini adalah <em>group investigation, role playing, laboratory training, social simulation dan social inquiry</em> </div><div><em>3.</em>    <em>Personal source, </em>yang penekanannya pada perkembangan individu yakni bagaimana individu membangun konsep dan mengorganisasikan realitas yang unik. Dalam kelompok ini adalah <em>nondirective teaching, synectics, awarness training, dan classroom meeting model.</em> </div><div><em>4.</em>    <em>Informasi processing, </em>yang penekanannya pada berpikir produktif menggunakan keterampilan intelektual umum yang semuanya berasal dari akademik. Dalam kelompok ini antara lain <em>concept attainment, inductive thinking, inquiry training, memory models dan advance organizer</em> </div><div>Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model <em>informasi processing </em>yaitu menggunakan model <em>advance organizer </em>karena model ini dianggap lebih baik dalam membantu peserta didik menyerap informasi dalam proses belajar mengajar. </div><div><strong>2. </strong><strong><em>Advance Organizer</em></strong> </div><div><em>Advance organizer </em>adalah konsep yang dikembangkan dan sistematis dipelajari oleh David Ausubel pada tahun 1960. Ausubel adalah pelopor aliran kognitif, dia mengemukakan teori belajar bermakna <em>(meaningful learning). </em>Belajar bermakna adalah proses mengaitkan informasi baru dengan konsep-konsep yang relevan dan terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Dia sangat dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Jean Piaget. Ausubel telah bekerja secara konsisten untuk membuktikan bahwa <em>advance organizer </em>memfasilitasi pembelajaran dan banyak penelitiannya telah mempengaruhi orang lain sejak 1960-an. </div><div><em>Advance organizer </em>yang dikembangkan oleh Ausubel merupakan penerapan konsepsi tentang struktur kognitif di dalam merancang pembelajaran. Penggunaan <em>advance organizer </em>sebagai kerangka isi akan dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memperoleh informasi baru, karena merupakan kerangka dalam bentuk abstraksi atau ringkasan konsep-konsep dasar tentang apa yang dipelajari, dan hubungannya dengan materi yang telah ada dalam struktur kognitif peserta didik. Jika ditata dengan baik, <em>advance organizer </em>akan memudahkan peserta didik mempelajari materi pelajaran yang baru, serta hubungannya dengan materi yang telah dipelajari. Karena pada prinsipnya model <em>advance organizer </em>adalah model pembelajaran yang mana peserta didik dapat menyerap, mencerna dan mengingat bahan pelajaran dengan baik. </div><div>Model <em>advance organizer </em>dirancang untuk memperkuat struktur kognitif siswa dan pengetahuan mereka tentang pelajaran tertentu dan bagaimana mengelola, memperjelas, memperhatikan dan memelihara pengetahuan tersebut dengan baik </div><div>Ausubel dalam bukunya Joyce mendeskripsikan <em>advance organizer </em>sebagai materi pengenalan yang disajikan pertama kali dalam tugas pembelajaran dan dalam tingkat abstraksi dan inklusivitas yang lebih tinggi dari pada tugas pembelajaran itu sendiri. Tujuannya adalah menjelaskan, mengintegrasikan dan menghubungkan materi baru dalam tugas pembelajaran dengan materi yang telah dipelajari sebelumnya. </div><div>Organizer yang paling efektif adalah organizer-organizer yang menggunakan konsep-konsep, ketentuan-ketentuan dan rancangan­rancangan yang sudah akrab dengan pembelajar, seperti ilustrasi-ilustrasi dan analogi-analogi yang sesuai. </div><div>Model <em>advance organizer </em>memiliki tiga tahap kegiatan : <br><br></div><div>a) Tahap pertama adalah tahap <em>advance organizer </em>yang meliputi :   Mengklarifikasi tujuan-tujuan pelajaran </div><div>  Menyajikan <em>advance organizer</em> </div><div>  Mendorong kesadaran pengetahuan yang relevan  <br><br></div><div>b) Tahap kedua adalah presentasi tugas pembelajaran atau materi pembelajaran yang meliputi : </div><div>  Menyajikan materi </div><div> Mempertahankan perhatian </div><div>  Memperjelas aturan materi pembelajaran yang masuk akal </div><div> </div><div>c) Tahap ketiga adalah penguatan pengolahan kognitif yang meliputi : </div><div>  Menggunakan prinsip-prinsip rekonsiliasi integrative </div><div>  Menganjurkan pembelajaran resepsi aktif </div><div>  Membangkitkan pendekatan kritis pada mata pelajaran </div><div>  Mengklarifikasi </div><div>Aktivitas-aktivitas diatas dirancang untuk meningkatkan kejelasan dan kemantapan materi pembelajaran yang baru sehingga gagasan-gagasan yang hilang tidak terlalu banyak hanya karena disebabkan ketidakjelasan satu sama lain </div><div>Tahap pertama terdiri dari tiga aktivitas: mengklarifikasi tujuan­tujuan pembelajaran yang berguna untuk memperoleh perhatian peserta didik dan mengarahkan mereka pada tujuan-tujuan pembelajaran, ini juga penting bagi guru dalam merencanakan suatu pelajaran, menyajikan <em>advance organizer, </em>dan mendorong kesadaran yang relevan. </div><div>Setelah presentasi organizer dalam tahap pertama, materi pembelajaran dipresentasikan dalam tahap kedua dalam bentuk ceramah, diskusi, film, eksperimentasi atau membaca. Tujuan dalam tahap ketiga adalah melabuhkan materi pembelajaran baru ke dalam struktur kognitif pesrta didik yang sudah ada yakni, memperkuat pengolahan kognitif peserta didik. </div><div>Model <em>advance organizer </em>berguna khususnya untuk menyusun rangkaian atau arah kurikulum dan melatih siswa secara sistematis dalam suatu gagasan kunci bidang tertentu. Langkah demi langkah, konsep­konsep dan rancangan-rancangan penting dijelaskan dan diintegrasikan, sehingga pada akhir pengajaran, pembelajar akan memperoleh perspektif tentang seluruh bidang yang dikaji. </div><div>Adapun kelebihan dari <em>advance organizer </em>diantaranya (1) Guru dapat mengontrol keluasan materi pembelajaran sehingga peserta didik dapat menguasai bahan pelajaran yang disampaikan. (2) Apabila materi pelajaran cukup luas dan waktu yang dimiliki luas maka teori ini sangat tepat dilakukan.(2) Peserta didik dapat mendengar melalui peraturan tentang suatu materi pelajaran, sekaligus peserta didik dapat melihat atau mengobservasi. (3) Pembelajaran ini dapat digunakan dalam jumlah peserta didik yang cukup banyak. Selain kelebihan juga terdapat kekurangan, diantara kekurangannya antara lain (1) Materi pra syarat harus sudah diajarkan. (2) Harus ada kerjasama aktif antara guru dan peserta didik. <br><br></div><div><strong>B. Media Pembelajaran</strong> </div><div><strong>1. Definisi Media Pembelajaran</strong> </div><div>Kata media berasal dari bahasa latin, yang merupakan bentuk jamak dari kata <em>medium, </em>yang berarti sesuatu yang terletak di tengah (antara dua pihak atau kutub) atau suatu alat. Media juga dapat diartikan sebagai perantara atau penghubung antara dua pihak, yaitu antara sumber pesan dengan penerima pesan, jika dipergunakan dengan baik dapat meningkatkan efektifitas program instruksional. Media pembelajaran merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar. </div><div>Media juga diartikan sebagai alat yang dapat membantu proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan lebih baik dan sempurna. Media disebut juga dengan alat-alat audio-visual, artinya alat yang dapat dilihat dan didengar yang dipakai dalam proses pengajaran dengan maksud untuk membuat cara berkomunikasi lebih efektif dan efisien. Penggunaan media secara kreatif akan memungkinkan peserta didik untuk belajar lebih aktif dan meningkatkan <em>performance </em>mereka sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. </div><div>Ibrahim juga mengungkapkan bahwa media bertujuan untuk memahami makna lebih tepat, karena berkaitan langsung dengan indera peserta didik. </div><div> </div><div>“Sesungguhnya yang dimaksud dari <em>term </em>media pembelajaran adalah segala sesuatu yang disajikan dari panca indera dengan tujuan untuk memahami makna secara teliti dan cepat.” </div><div>Jadi media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan sebagai perantara pada proses kegiatan belajar mengajar agar peserta didik lebih.  <br><br><br></div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 09:10:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308165678</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nurya Faida</title>
         <author>bunda_era29</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308167796</link>
         <description><![CDATA[<div> UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISIWA TERHADAP MATERI KELOMPOK SOSIAL  MATA PELAJARAN SOSIOLOGI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PUZZLE DI KELAS XI IPS 2 DI SMAN 3  PKP<br><br></div><div><strong> BAB I</strong></div><div><strong>PENDAHULUAN <br> <br>A. LATAR BELAKANG </strong>MASALAH<br>Dalam dunia pendidikan yang  tujuan nya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa terutama perserta didik, seorang guru harus mempunyai profesionalitas dalam menyampaikan ilmu keguruannya, terutama dalam proses belajar mengajar, karena seorang guru yang berada dalam kelas merupakan orang pertama yang menguasai seluruh keadan kelas, baik siswa mapun materi yang disampaikannya. <br>Dalam mata pelajaran program  IPS ( Ilmu Pengetahuan sosial ), khususnya mata pelajaran Sosiologi peserta didik dituntut untuk lebih banyak menggali dari buku-buku dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari sehingga peserta didik lebih mudah menerapkannya secara teori maupun prakteknya., baik yang berhubungan dengan sirinya sendiri maupun dengan masyarakat.<br>Berkaitan dengan hal diatas, dalam proses belajar mengajar seorang guru sering menghadapi kendala, diantaranya kurangnya perhatian siswa terhadap materi yang disampaikan, seperti mengantuk, sering mengobrol sesama teman, bermain hp.<br>Di samping itu kurangnya motivasi siswa terhadap materi yang disampaikan, seperti kurang menarik, membosankan, dan keterkaitan dengan masalah pribadi baik di rumah maupun di luar rumah.<br>Dalam hal mengikuti ulangan, yang pada dasarnya sudah disampaikan atau belum disampaikan ke siswa, bahwa minggu depan atau besok mau ulangan, masih ada siswa yang belum siap, entah sengaja atau tidak , sehingga sangat menpengaruhi sekali terhadap hasil yang dicapainya.<br>Pada saat masuk kelas masih ada siswa yang sering terlambat, dengan alasan terlambat bangun, alasan kendaraan, ke WC terlebih dahulu, sehingga hal tersebut sangat mempengaruhi kelancaran proses belajar dan mengajar.<br>Untuk hal pengaayaan materi pelajaran, siswa diberi tugas , masih ada siswa yang tidak membuat atau belum menbuat, dengan alasan dispensasi, sakit, alpa atau izin lainnya. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, mendorong penulis untuk mengadakan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) sehingga dapat ditemukan soliusi yang tepat<br>B. Permasalahan Penelitian<br>Mendasarkan pada hasil observasi di SMAN 3. kelas XI IPS 2, khususnya pada mata pelajaran Sosiologi ternyata guru pada saat pembelajaran masih menggunakan pembelajaran konvensional. Guru hanya ceramah dan tidak memberi kesempatan siswa untuk mengemukakan pendapat ketika pembelajaran, sehingga peserta didik dalam proses pembelajaran peserta didik pasif dan hanya mendengarkan penjelasan dari guru, dan hal ini membuat proses pembelajaran hanya terpusat pada guru. Hampir 60 % peserta didik, ketika pembelajaran mereka berbicara sendiri dengan teman sebangkunya dan pembicaraan mereka bukan membahas tentang pelajaran yang sedang diikuti. Ketika guru memberikan pertanyaan kepada siswa, 80% dari seluruh siswa kurang semangat dalam menjawab pertanyaan dari guru, yang ditandai ketika guru memberikan pertanyaan hanya ada 4 siswa yang menjawab dan yang lain hanya diam saja.  Dengan pembelajaran yang digunakan, para siswa kalas XI IPS2 pada mata pelajaran Sosiologi masih banyak mengalami kasulitan. Itu ditunjukkan ketika dilakukan evaluasi hasil belajar, terlihat hasil belajar siswa masih rendah. Itu ditunnjukkan dari siswa kelas XI-IPS2 yang berjumlah 32 siswa, terdiri dari 13 laki-laki dan 19 perempuan diperoleh data, ada 50% atau 16 dari 32 siswa mendapat nilai kurang dari KKM dan hanya ada 50% atau 16 dari 32 siswa yang nilainya sudah memenuhi . Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang di tetapkan di SMAN 3  yaitu 75. Dengan rata-rata kelas 68,1 dan skor maksimal 90 dan skor minimal 55.<br>C. Rumusan Masalah<br>           Dari latar belakang di atas perumuasan masalahnya adalah <br>1. Bagaimanakah peningkatan motivasi  belajar peserta didik terhadap mata pelajaran Sosiologi  melalui penggunaan model pembelajaran puzzle bagi siswa kelas XI-IPS2 di SMAN 3, Kecamatan Taman sari, Kotamadya Pangkalpinang, Semester 1 tahun ajaran 2018/2019 ?<br>2. Bagaimanakah  peningkatan hasil belajar peserta didik terhadap mata pelajaran Sosiologi dapat dilakukan  melalui penggunaan model pembelajaran puzzle bagi siswa kelas XI-IPS2 di SMAN 3, Kecamatan Taman sari, Kotamadya Pangkalpinang, Semester 1 tahun ajaran 2018/2019 ?<br><br>D. Tujuan dan Manfaat Penelitian<br>     A. Tujuan Penelitian<br>Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah peningkatan hasil belajar Sosiologi dapat diupayakan melalui penggunaan model pembelajaran puzzle bagi siswa kelas XI-IPS2 di SMAN 3 Kecamatan , Tamansari,  Kotamadya Pangkalpinang, semester 1 tahun ajaran 2018/ 2019.<br>     B. Manfaat Penelitian<br>Manfaat teoritis<br>Manfaat teoritis penelitian ini adalah Sebagai masukan untuk mengembangkan model pembelajaran puzzle dan mengembangkan pencapaian hasil belajar Sosiologi SMA.<br><br>Manfaat Praktis<br>a. Bagi Sekolah<br>Sebagai masukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di SMA terutama terkait dengan model pembelajaran. <br>b. Bagi Guru<br>Guru dapat menerapkan model pembelajaran puzzle<br> sebagai alternatif pembelajaran Sosiologi.<br>c. Bagi Siswa<br>Pembelajaran TPS akan mendorong siswa untuk aktif belajar sehingga akan meningkatkan hasil belajarnya di sekolah.<br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 09:18:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308167796</guid>
      </item>
      <item>
         <title>NAZLAH</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308174123</link>
         <description><![CDATA[<div>Masalah <br>1. peserta didik kurang aktif dalam KBM<br>2. Peserta didik kurang memiliki pengetahuan dasar tentang hukum tajwid<br>3. Peserta didik yang aktif bertanya hanya berjumlah 3 orang dan menjawab hanya 2 orangdari 30 orang peserta didik di kelas.<br>4. Hasil belajar yang diperoleh peserta didik hanya mencapai tingkat ketuntasan 30 % sedangkan 70 % belum tuntas.<br>5. Peserta didik masih kesulitan dalam membedakan huruf hijaiyah.<br> JUDUL<br>.UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MATERI HUKUM TAWID MELALUI METODE MAKE A MATCH PESERTA DIDIK KELAS X BAHASA SMAN 3 APANGKALPINANG TAHUN PELAJARAN 2018/2019.............................................<br><strong>BAB I</strong></div><div><strong>PENDAHULUAN</strong></div><div><strong>A .</strong> <strong>Latar Belakang Masalah</strong></div><div>Dalam kegiatan belajar mengajar yang berlangsung telah terjadi interaksi antara pendidik dan peserta didik. Pendidiklah yang memaknainya dengan menciptakan lingkungan yang bernilai edukatif demi kepentingan peserta  didik dalam belajar. Pendidik ingin memberikan layanan yang terbaik bagi peserta didik, dengan menyediakan lingkungan yang menyenangkan dan membuat peserta didik semangat dalam kegiatan pembelajaran. Pendidik berusaha menjadi pembimbing yang baik dengan peranan yang arif dan bijaksana, sehingga tercipta hubungan dua arah yang harmonis antara pendidik  dengan peserta didik.<br><br></div><div>Ketika kegiatan belajar itu berproses, pendidik  harus dengan ikhlas dalam bersikap dan berbuat, serta mau memahami peserta didiknya dengan segala konsekuensinya. Semua kendala yang terjadi dan dapat menjadi penghambat jalannya proses belajar mengajar, baik yang berpangkal dari perilaku peserta didik maupun yang bersumber dari luar peserta didik, harus pendidik hilangkan, dan bukan membiarkannya. Karena keberhasilan belajar mengajar lebih banyak ditentukan oleh pendidik dalam mengelola kelas.<br><br></div><div>Kelas X bahasa merupakan kelas yang peserta didiknya berlatar pendidikan yang berbeda-beda. Ada yang dari pondok pesantren, SMP negeri dan swasta, MTs. Jumlah peserta didik 30 orang. Peserta didik yang aktif bertanya berjumlah 3 orang dan yang aktif menjawab pertanyaan 2 orang,  dalam materi hokum tajwid. Sedangkan yang lainnya memilih diam seribu bahasa. Dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar peserta didik untuk materi ini kurang.<br><br></div><div>Meskipun telah ada program pemerintah daerah tentang pemberantasan buta aksara al-qur’an, tetapi nyatanya masih ada diantara peserta didik yang masih sulit untuk membedakan huruf-huruf hijaiyah. Ditambah lagi kurangnya pengetahuan dasar yang dimiliki oleh peserta didik tentang ilmu tajwid Mengakibatkan peserta didik dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh pendidik hanya menyalin jawaban peserta didik yang lain.<br><br></div><div>Sehingga pencapaian ketuntasan belajar peserta didik terhadap materi hokum tajwid pun ikut terpengaruhi. Ketuntasan belajar dari 30 peserta didik hanya mencapai 30%. 70% peserta didik harus mengikuti pembelajaran ulang atau program remedial dengan menggunakan metode yang .  <br><br></div><div>Dengan interaksi pembelajaran reflektif dapat membuat peserta didik untuk menjadikan hasil belajar sebagai referensi refleksi kritis tentang dampak ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap masyarakat; mengasah kepedulian sosial, mengasah hati nurani, dan bertanggungjawab terhadap karirnya kelak. Kemampuan ini dimiliki peserta didik, karena dengan pola interaksi pembelajaran tersebut, dapat membuat peserta didik aktif dalam berfikir (<em>mind-on</em>), aktif dalam berbuat (<em>hand-on</em>), mengembangkan kemampuan bertanya, mengembangkan kemampuan berkomunikasi, dan membudayakan untuk memecahkan permasalahan baik secara personal maupun sosial.<br><br></div><div>Agar hasil ini dapat optimal, pendidik dituntut untuk mengubah peran dan fungsinya menjadi fasilitator, mediator, mitra belajar peserta didik, dan evaluator. Ini berarti, pendidik harus menciptakan interaksi pembelajaran yang demokratis dan dialogis antara pendidik dengan peserta didik, dan peserta didik dengan peserta didik (Moh. Shochib: 1999; dan Paul Suparno dkk: 2001).<br><br></div><div>Pendidik  mengemban tugas yang berat untuk tercapainya tujuan pendidikan nasional yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani, juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta terhadap tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu pendidikan nasional akan mampu mewujudkan manusia-manusia pembangunan dan membangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Depdikbud (1999).<br><br></div><div>Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor diantaranya adalah faktor pendidik dalam melaksanakan proses belajar mengajar, karena pendidik  secara langsung dapat mempengaruhi, membina dan meningkatkan kecerdasan serta keterampilan peserta didik. Untuk mengatasi permasalahan di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru sangat penting dan diharapkan guru mampu menyampaikan semua mata pelajaran yang tercantum dalam proses pembelajaran secara tepat dan sesuai dengan konsep-konsep mata pelajaran yang akan disampaikan.<br><br></div><div>Dengan menyadari kenyataan tersebut di atas, maka dalam penelitian ini penulis mengambil judul “Upaya Meningkatkan motivasi  dan hasil belajar Pendidikan Agama Islam  materi hokum tajwid  Dengan Menerapkan Metode kartu soal dan jawaban  Pada Siswa  kelas X Bahasa Tahun Pelajaran 2018/2019<br><br></div><div>B.  Rumusan Masalah</div><div><strong>                  </strong>Berpedoman dari latar belakang di atas maka penulis merumuskan permasalahannya sebagai berikut:<br><br></div><div>1.      Bagaimanakah pengaruh motivasi  belajar  Pendidikan Agama Islam dengan diterapkannya metode pembelajaran kartu soal dan jawaban pada siswa kelas X Bahasa Tahun pelajaran 2018/2019 ?<br><br></div><div>2.      Bagaimanakah peningkatan hasil belajar  Pendidikan Agama Islam  dengan diterapkannya metode pembelajaran kartu soal dan jawaban pada siswa kelas X Bahasa Tahun pelajaran 2018/2019 ?<br><br></div><div> <br><br></div><div><em>C.  Tujuan Penelitian</em></div><div><strong>                  </strong>Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:<br><br></div><div>1.       Mengetahui pengaruh motivasi  belajar  Pendidikan Agama Islam materi hokum tajwid dengan diterapkannya metode pembelajaran kartu soal dan jawaban pada siswa kelas X Bahasa Tahun pelajaran 2018/2019.<br><br></div><div>2.      Mengetahui peningkatan hasil belajar  Pendidikan Agama Islam   materi hokum tajwid dengan diterapkannya metode pembelajaran kartu soal dan jawaban pada siswa kelas X Bahasa Tahun pelajaran 2018/2019.<br><br></div><div> <br><br></div><div><em>D.  Kegunaan Penelitian</em></div><div><strong>                  </strong>Adapun maksud penulis mengadakan penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai:<br><br></div><div>1.      Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peranan pendidik  Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan pemahaman peserta didik belajar materi hokum tajwid.<br><br></div><div>2.      Sumbangan pemikiran bagi pendidik Pendidikan Agama Islam dalam mengajar dan meningkatkan pemahaman peserta didik belajar materi hokum tajwid.<br><br></div><div>3.      Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran yang dapat memberikan manfaat bagi peserta didik.<br><br></div><div>4.      Sebagai penentu kebijakan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar peserta didik khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 09:39:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308174123</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Merbani El Akbari</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308341654</link>
         <description><![CDATA[<div>"PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA MATERI SUHU DAN KALOR MELALUI METODE SCRAMBLE DAN MAKE A MATCH DI SMA NEGERI 3 PANGKALPINANG"<br><br><strong>BAB I<br>PENDAHULUAN<br><br>A. LATAR BELAKANG MASALAH</strong><br>Kebutuhan akan pendidikan yang baik dan laik, yang mampu meningkatkan kualitas bangsa, mengembangkan karakter, dan kemampuan berkreasi semakin dirasakan urgensinya. Indonesia sebagai negara berkembang, dari tahun ke tahun selalu meningkatkan kualitas pendidikannya yang jauh tertinggal dengan negara maju lainnya. Salah satu upaya peningkatan kualitas pendidikan ini terlihat dengan peningkatan standar kelulusan tiap tahunnya. Hal ini mengakibatkan para guru dan akademisi pendidikan senantiasa memfokuskan anak didiknya untuk mencapai standar kelulusan dengan memberikan bimbingan belajar yang hampir seluruhnya hanya membahas bagaimana cara menyelesaikan soal-soal ujian nasional. Proses pembelajaran di dalam kelas pun diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.<br><br></div><div>Sebagian besar siswa menganggap bahwa fisika merupakan mata pelajaran yang sulit, padahal semua sendi kehidupan merupakan aplikasi dari fisika. Ilmu fisika itu sendiri tidak berubah cepat, namun dengan ilmu fisika kita dapat membuat perubahan peradaban dengan cepat. Tentu inilah yang kita harapkan dari sebuah pembelajaran, selain siswa dapat memahami konsep-konsep fisika, siswa juga diharapkan dapat mengembangkan kemampuan sains dalam berkreasi yang dapat menghasilkan teknologi yang cukup tinggi. Mengingat pentingnya fisika dalam pengembangan generasi melalui kemampuan mengadopsi maupun mengadakan inovasi sains di era globalisasi, maka tidak boleh dibiarkan adanya anak didik yang kesulitan dalam pembelajaran fisika.<br><br></div><div>Pendidikan merupakan proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan dirinya dan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia, sehingga manusia mampu untuk menghadapi setiap perubahan yang terjadi, menuju arah yang lebih baik.<br><br></div><div>Pembelajaran adalah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran yang monoton serta kurangnya sarana prasarana yang menunjang siswa untuk mengadakan praktikum di laboratorium  membuat anak-anak susah untuk menangkap dan memahami makna dari konsep-konsep fisika. Karena pengajaran dan pembelajaran yang kurang tepat, konsep-konsep fisika yang sederhana malah terlihat rumit dan membingungkan siswa. Hal ini sangat mempengaruhi hasil belajar fisika siswa yang berdampak pada tidak tercapainya ketuntasan belajar secara klasikal maupun individu.<br><br></div><div>Proses pembelajaran membutuhkan metode yang tepat. Kesalahan menggunakan metode, dapat menghambat tercapainya tujuan pendidikan yang diinginkan. Setiap anak punya tingkat kecerdasannya masing-masing. Tingkat kecerdasan ini yang sering menjadi factor cepat atau lambatnya ketercapaian pemahaman konsep dalam sebuah pembelajaran untuk semua anak di kelas. Terkadang karena pembebanan waktu, konsep pelajaran hanya diterima dan dipahami oleh anak yang mempunyai tingkat kecerdasan yang cukup tinggi. Sedangkan yang dibawah rata-rata, kebanyakan dari mereka hanya bertambah tahu, kalaupun tahu, namun mereka tidak paham konsep sebenarnya. Padahal dengan menggunakan model dan metode yang tepat, seluruh siswa bisa mengikuti pembelajaran dan mendapatkan pemahaman yang matang tentang suatu konsep. <br><br> Menurut Suharsimi Arikunto     ( 2010: 24),  salah satu faktor yang membentuk dan berpengaruh pada proses pembelajaran yaitu peran aktif siswa dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.  Untuk itu diperlukan metode yang tepat dalam kegiatan pembelajaran dengan maksud mengubah suasana kegiatan pembelajaran dari siswa pasif menjadi lebih aktif dan menyenangkan. Salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar fisika pada materi suhu dan kalor yaitu dengan menerapkan metode kooperatif yaitu metode scrambel dan make a match. Kedua metode ini sama-sama memiliki keunggulan dalam menciptakan keaktifan dan motivasi siswa dalam belajar. Penerapan metode scrambel dan make a match pada pembelajaran   fisika khususnya pokok bahasan suhu dan kalor dapat melibatkan siswa untuk dapat berperan aktif dengan bimbingan guru sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam memahami konsep suhu dan kalor.<br><br><strong>B. Identifikasi Masalah</strong></div><div>Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat didentifikasikan beberapa masalah, sebagai berikut: </div><div>1.      Siswa mengalami kesulitan pada pokok bahasan suhu dan kalor. </div><div>2.      Siswa belum mampu memahami, menafsirkan dan mengaplikasikan konsep suhu dan kalor. </div><div>3.      Pembelajaran konvensional mengarah pada terselesainya suatu materi tanpa memperhatikan partisipasi dari peserta didik. </div><div><strong> </strong></div><div><strong>C.</strong>   <strong>Pembatasan Masalah</strong></div><div>Berdasarkan identifikasi masalah di atas, agar penelitian ini lebih terarah dan diharapkan masalah yang dikaji lebih mendalam, perlu adanya pembatasan masalah yang akan diteliti. </div><div>Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah: </div><div>1.      Metode pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode Scrambel dan Make a Match.  </div><div>2.      Pemahaman konsep fisika siswa dalam pembelajaran dibatasi pada pemahaman konsep untuk menguasai materi pokok suhu dan kalor.</div><div>3.      Materi fisika dibatasi pada pokok bahasan suhu dan kalor kelas XI.<br><br></div><div><strong>D.</strong>    <strong>Perumusan Masalah</strong></div><div>Berdasarkan pembatasan masalah di atas maka penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:</div><div>1.      Adakah pengaruh pembelajaran melalui metode Scrambel dan Make a match terhadap hasil belajar siswa pada pokok bahasan suhu dan kalor?</div><div>2.      Bagaimana hubungan korelasi antara pembelajaran melalui metode Scrambel dan Make a match terhadap hasil belajar siswa pada pokok bahasan suhu dan kalor?</div><div><strong> </strong></div><div><strong>G. Manfaat penelitian </strong></div><div>1.      Manfaat teoritis </div><div>Secara umum, studi ini memberikan sumbangan kepada pembelajaran fisika, utamanya pada layanan peningkatan kemampuan pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran fisika. Telah diakui secara luas bahwa pemahaman konsep fisika memiliki peran yang cukup besar bagi siswa dalam hal motivasi, penampilan dan kecakapannya dalam bidang fisika. Oleh karenanya, wajar jika guru mempunyai keyakinan intervensi dengan siswanya melalui peningkatan pemahaman konsep fisika. </div><div>2.      Manfaat praktis </div><div>Penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi guru dan siswa. Bagi guru fisika, hasil penelitian dapat digunakan untuk menyelenggarakan layanan pembelajaran yang inovatif dan dapat diaplikasikan untuk mengembangkan model-model pembelajaran lebih lanjut. Bagi siswa, proses pembelajaran ini dapat meningkatkan pemahaman konsep dan kemampuan dalam bidang fisika maupun secara umum kemampuan mengatasi permasalahan dalam hidupnya.</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 15:50:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308341654</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Indra</title>
         <author>fikunj2003</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308607991</link>
         <description><![CDATA[<div>lima (5) masalah yang ditemui didalam kelas<br>1.Peserta didik sering mengantuk dikelas<br>2.Peserta didik tidak semangat belajar<br>3.Peserta didik mudah lelah<br>4.Peserta didik mudah sakit<br>5.peserta didik sering pingsan saat upacara bendera Senin<br>Judul<br>UPAYA MENINGKATKAN KESEGARAN JASMANI MELALUI PENDEKATAN PERMAINAN TRADISIONAL DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI<br><br>BAB I<br>PENDAHULUAN<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-28 02:07:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308607991</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Feriawan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308609787</link>
         <description><![CDATA[<div>Masalah<br>1.Siswa tidak percaya diri memperlihatkan karya sendiri<br>2.Siswa tidak mampu memvisualkan ide dan gagasan secara visual<br>3.Siswa susah mengembangkan diri melalui karya <br>4.Siswa merasa kemampuannya terbatas dalam praktik<br>5.Siswa merasa berkarya itu mahal<br>6.Siswa berkarya dengan teknik dan media yang terbatas<br>Judul<br>UPAYA PENINGKATAN  MOTIVASI BERKARYA SISWA PADA PEMBELAJARAN SENI RUPA DUA DIMENSI DENGAN PENGENALAN KERAGAMAN ALIRAN DAN TEKNIKSENI LUKIS KELAS XI IPA</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-28 02:18:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308609787</guid>
      </item>
      <item>
         <title>NIKEN KUMALA SARI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308614399</link>
         <description><![CDATA[<div>1. siswa malas belajar<br>2. kurangnya fasilitas dan alat peraga belajar<br>3. Siswa mengantuk<br>4. siswa banyak terlambat masuk kelas<br>5. siswa kurang konsentrasi<br><br>BAB 1<br><br>PENDAHULUAN<br><br>A. LATAR BELAKANG<br>PENERAPAN  METODE KOOPERATIF DALAM PENINGKATAN MOTIVASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI MATERI DINAMIKA LITOSFER KELAS X IPS 4 DI SMAN 3 PANGKALPINANG TAHUN 2018 / 2019 </div><div>Pelajaran geografi merupakan rumpun pelajaran ilmu pengetahuan social.Selama ini ada semacam anggapan bahwa belajar IPS termasuk geografi identik dengan hapalan, sehingga membosankan bagi siswa , apalagi dewasa ini siswa hanya menganggap bahwa mata pelajaran rumpun IPS kurang penting dibandingkan dengan rumpun IPA. Hal ini menyebabkan motivasi untuk belajarpun menjadi rendah. </div><div>Situasi diatas membuat seorang guru seringkali tidak bersemangat mengajar karena melihat anak didiknya tidak mau belajar dan ternyata masalahnya adalah anak didik tidak memiliki motivasi atau daya penggerak dalam belajar. Menghadapi situasi yang demikian, guru yang professional harus menyadari bahwa semangat dan gairah belajar siswa tidak hanya ditentukan oleh anak didik itu sendiri, akan tetapi dirinya juga harus berperan sebagai motivator. </div><div>Sehubungan dengan hal tersebut seorang guru dituntut untuk menggunakan strategi pembelajaran yang bervariasi, sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa dengan guru,mendorong berkembangnya kemampuan baru yang ada, akhirnya siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi. Hal ini seiring dengan pergeseran paradigma pendidikan yang berubah dari pola <em>teaching</em> ( mengajar ) ke <em>learning</em> ( belajar ) </div><div>Oleh karena itu seorang guru sebagai pendidik perlu memiliki berbagai metodologi mengajar,karena keberhasilan Proses Belajar Mengajar ( PBM ) bergantung pada cara mengajar gurunya.Jika cara mengajar gurunya enak maka siswa akan tekun,rajin,antusias menerima pelajaran yang diberikan sehingga diharapkan akan terjadi perubahan dan tingkah laku pada siswa baik tutur katanya , sopan santunya, motorik maupun gaya hidupnya. </div><div>Rendahnya motivasi dan partisipasi belajar dirasakan di SMA Negeri 3 Pangkalpinang. Hal ini terlihat ketika guru menjelaskan materi pelajaran, tampak siswa kurang tertarik mengikuti pembelajaran oleh guru. Hal ini terlihat dari indikasi adanya beberapa siswa yang tidak serius sewaktu mendengarkan penjelasan guru seperti membuat tulisan – tulisan yang tidak berkaitan dengan materi pelajaran, berbisik – bisik dengan temannya atau bahkan kelihatan mengantuk. Perilaku tersebut tentunya berakibat pada rendahnya pemahaman siswa terhadap materi pelajaran geografi,sehingga prestasinyapun menjadi rendah. </div><div>Kondisi tersebut salah satunya mungkin  disebabkan oleh metode mengajar yang digunakan oleh guru, atau kurangnya media pembelajaran dan kurangnya guru dalam mengembangkan bahan pembelajaran. Guru hanya menggunakan metode ceramah , dengan diselingi Tanya jawab yang minim, sehingga hal ini membuat siswa cepat bosan dan kurang terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Kondisi ini akan teratasi manakala guru berupaya untuk menentukan solusinya, yaitu mengganti model pembelajaran yang selama ini digunakan. </div><div>Salah satu model pembelajaran yang dipandang mampu mengatasi permasalahan belajar siswa diatas adalah model pembelajaran kelompok dengan strategi pembelajaran kooperatif ( Cooperative Learning ). Model pembelajaran ini berangkat dari dasar pemikiran “ getting better together “ yang menekankan pada pemberian kesempatan belajar yang lebih luas dan suasana yang kondusif. Strategi pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran kelompok yang akhir akhir ini dianjurkan oleh para ahli.Menurut Slavin dalam Sanjaya ( 2006 ) mengemukakan dua lasan tentang pembelajaran kooperatif, pertama beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan hubungan social,menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain serta dapat meningkatkan harga diri. Kedua, pembelajaran kooperatif dapat memecahkan masalah dan mengintegrasikan pengetahuan dengan ketrampilan. Dengan demikian pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya, karena dapat meningkatkan motivasi, hasil belajar dan penyimpanan materi pelajaran yang lebih lama. <br> </div><div>B. PERUMUSAN MASALAH<strong> </strong></div><div>Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka yang menjadi inti permasalahan adalah bagaimana peningkatan motivasi dan partisipasi belajar siwa serta kreativitas dan hasil belajar siswa dalam belajar geografi di kelas X IPS 4 SMA Negeri 3 Pangkalpinang. Adapun rumusan masalahnya dapat dirinci sebagai berikut : </div><div>1.      Bagaimana desain model pembelajaran kelompok dengan strategi pembelajaran kooperatif di kelas X IPS 4 SMA Negeri 3 pangkalpinang ? </div><div>2.      Bagaimana langkah langkah pelaksanaan model pembelajaran kooperatif pelajaran geografi di kelas X IPS 4 SMA Negeri 3 Pangkalpinang ? </div><div>3.      Bagaimana strategi guru untuk membuat semua siswa aktif dalam kelompok dalam penerapan model pembelajaran kooperatif pelajaran Geografi di kelas X IPS 4 SMA Negeri 3 Pangkalpinang ? </div><div>4.      Bagaimana hasil pembelajaran geografi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif di kelas X IPS 4 SMA Negeri 3 Pangkalpinang ? <br> </div><div>B. TUJUAN PTK</div><div>Tujuan penelitian yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah : </div><div>1.      Menemukan model pembelajaran yang  tepat untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran Geografi. </div><div>2.      Menemukan tingkat keberhasilan penggunaan Cooperative Learning dalam meningkatkan partisifasi dan kreativitas belajar siswa dalam pembelajaran geografi </div><div>3.      Menemukan tingkat keberhasilan penggunaan cooperative Learning dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran geografi. </div><div>4.      Memberikan referensi bagi rekan guru yang lain mengenai pentingnya penggunaan cooperative Learning dalam meningkatkan motivasi dan partisifasi serta kreatifitas dan prestasi hasil belajar. </div><div>  </div><div>C. MANFAAT PENELITIA </div><div>1.      Manfaat Teoritis </div><div>Diharapkan menambah wawasan tentang pentingnya  metode Cooperative Learning pada pembelajaran geografi </div><div>2.      Manfaat Praktis </div><div>a.       Bagi siswa </div><div>Meningkatkan motivasi dan partisipasi belajar siswa sehingga lebih memahami dan menguasai materi pelajaran geografi sehingga dapat aktif dalam belajar berkelompok </div><div>b.      Bagi guru </div><div>Memperoleh seperangkat pengalaman baru bagi guru dalam memilih model pembelajaran yang tepat dalam proses belajar di kelas </div><div>c.       Bagi Sekolah </div><div>Diharapkan dapat memberi masukan dan sumbangan pemikiran bagi sekolah agar memberi perhatian khusus terhadap faktor-faktor yang memengaruhi prestasi belajar geografi. </div><div>d.      Bagi Perpustakaan Sekolah </div><div>Dapat menambah referensi bagi pembaca di perpustakaan sekolah, sehingga membuka wawasan bagi guru atau pembaca yang lain dalam menerapkan metode Cooperative Learning. <br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-28 02:51:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308614399</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Yusnaidah (kimia)</title>
         <author>yusnaidah23</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308614604</link>
         <description><![CDATA[<div> </div><div><strong> Upaya Peningkatan Kemampuan Peserta Didik Kelas XII IPA 2 SMA N 3 Pangkalpinang Tahun Pelajaran 2018-2019 pada KD Redoks dan Elektrokimia Melalui </strong></div><div><strong>Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD ( Student Team Achievement Division) </strong></div><div><strong> </strong></div><div><strong>BAB I</strong> </div><div><strong>PENDAHULUAN</strong> </div><div><strong>A. Latar belakang</strong> </div><div>Dalam proses belajar mengajar tidak lepas dari tiga komponen utama yaitu : guru, peserta didik, dan lingkungan kelas. Unsur yang paling  utama adalah peserta didik,  yang merupakan tolak ukur keberhasilan proses belajar mengajar. Meskipun demikian guru dan kenyamanan lingkungan kelas merupakan faktor yang cukup menentukan, dalam proses belajar </div><div> Rendahnya minat belajar,minat membaca dan konsentrasi  peserta didik di SMA Negeri 3 Pangkalpinang terhadap mata pelajaran Kimia selama ini menyebabkan  pembelajaran Kimia kurang menarik. Hal ini terbukti dari setiap analisis pada setiap penilaian  harian daya serap peserta didik sangat rendah bahkan mencapai 45 % saja yang tuntas. </div><div>Dari sejumlah permasalahan tersebut diatas sebenarnya ada satu masalah utama yang perlu mendapat perhatian,yaitu yang bekaitan dengan minat siswa pada pelajaran Kimia, sebagian besar siswa kurang berminat belajar Kimia disebabkan karena pembelajaran kimia yang sulit untuk dipahami,sedangkan peserta didik malu bertanya pada guru karena kurang trampil dalam menyusun kalimat pertanyaannya . </div><div>Melihat kenyataan itu siswa merasa takut, rendah diri dan enggan untuk bertanya, bahkan takut memberikan jawaban,karena merasa malu kalau jawabannya salah.  Lingkungan, dan suasana kelas  juga merupakan factor yang mempengaruhi konsentrasi peserta didik untuk dapat  memahami pelajaran kimia dengan baik,. Melihat masalah tersebut maka upaya yang diharapkan dapat meningkatkan minat peserta didik pada pelajaran Kimia adalah dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif. </div><div>Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran Kimia adalah metode kooperatif tipe STAD ( Student Teams Achivement Division ) karena STAD merupakan salah satu motode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan merupakan model yang  baik . STAD terdiri lima komponen yaitu :presentasi kelas, tim, kuis, skor, kemajuan individual /tim dan rekognisi (penghargaan). </div><div>Karena alasan tersebut maka diperlukan suatu media yang tepat agar kemampuan siswa dalam memahami materi reaksi redoks dan sel elektrokimia semakin meningkat . Salah satu model yang dapat dipergunakan untuk membantu mngatasi kesulitan tersebut adalah dengan melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD. </div><div> </div><div><strong>B.  Identifikasi Masalah</strong> </div><div>Mempehatikan situasi pada latar belakang tersebut, kondisi yang ada saat ini adalah                                                                                          </div><div>1.      Pembelajaran Kimia di kelas masih berjalan monoton. </div><div>2.      Belum ditemukan strategi pembelajaran yang tepat. </div><div>3.      Rendahnya prestasi siswa untuk pembelajaran Kimia. </div><div>4.      Rendahnya minat belajar siswa pada  Kimia. </div><div>6.   Kurang telitinya siswa dalam mengerjakan soal reaksi redoks dan elektrokimia. </div><div><strong>C. Rumusan Masalah</strong> </div><div>Dari latar belakang yang telah dikemukakan diatas masalah  penelitian ini adalah : Bagaimana model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan Reaksi Redoks dan Sel Elektrokimia pada siswa kelas XII IPA 2 SMA Negeri 3 Pangkalpinang,Tahun Pelajaran  2018/2019. </div><div><strong>D. Pemecahan Masalah</strong> </div><div>Adapun pemecahan masalah yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan siswa dalam Menyelesaikan Reaksi Redoks Dan Sel Elektrokimia adalah dengan menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif  Type STAD. </div><div>Langkah-langkah yang dilakukan dalam pembelajaran ini adalah : </div><div>A.  Guru memberikan tes awal. </div><div>B.  Guru menyampaikan materi pelajaran dengan memberikan contoh-contoh cara mereaksikan reaksi redoks dan sel elektrokimia . </div><div>C.  Guru membagi siswa perkelompok model STAD (1 tim terdiri dari 5 orang siswa dengan memperhatikan prestasinya dan jenis kelamin) </div><div>D.  Siswa bekerja dengan mengisi lembar kegiatan siswa untuk menguasai materi pembelajaran. </div><div>E.   Siswa mempresentasikan hasil penguasaan materi. </div><div>F.   Guru memberi skor kemajuan individual / tim. </div><div>G. Siswa mengerjakan kuis individual ( tes terakhir / postest ). </div><div>H.  Guru memberikan penghargaan prestasi individu / tim. </div><div><strong>E.  Hipotesis Tindakan .</strong> </div><div><strong>         </strong>Penelitian ini direncanakan terbagi kedalam tiga siklus. Setiap siklus dilaksanakan mengikuti prosedur perencanaan (plannin), tindakan (action), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Melalui ketiga siklus tersebut dapat di amati peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Dengan demikian, dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut : dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif type STAD dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan Reaksi Redoks Dan Sel Elektrokimia. </div><div><strong>F. Tujuan Penelitian .</strong> </div><div><strong>      </strong>Tujuan yang dicapai dalam kegiatan penelitian ini adalah : </div><div>1.  Untuk mengetahui bagaimana implementasi model pembelajaran STAD dapat meningkatkan  kemampuan siswa menyelesaikan reaksi Redoks Dan Sel Elektrokimia. </div><div>2.   Untuk mengetahui sejauh mana  partisifasi siswa dalam model pembelajaran kooperatifl type STAD ini . </div><div><strong>G.  Manfaat Penelitian</strong> </div><div><strong>      </strong>Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk : </div><div>1. Bagi siswa                   :       memberikan motivasi untuk memperoleh    hasil    belajar   yang lebih baik . </div><div>2. Bagi guru                     :      sebagai alternatif pemilihan metode  pembelajaran. </div><div>3. Bagi kepala sekolah    :       sebagai bahan masukan/ acuan untuk membimbing guru-guru memberikan metode pembelajaran / memperbaiki proses pembelajaran. </div><div>4. Bagi pemerintah         :        sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan di  Indonesia . </div><div><strong>BAB II</strong> </div><div><strong>KAJIAN TEORI DAN PUSTAKA</strong> </div><div><strong>A. Model pembelajaran</strong> </div><div>                 Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak bisa dipisahkan dalam kegiatan  pembelajaran . Belajar mengacu pada apa yang dilakukan siswa sedangkan mengajar mengacu pada apa yang dilakukan guru. Kedua kegiatan ini saling berhubungan timbal balik pada saat pembelajaran berlangsung (Sudirman, 1996). </div><div>                  Guru profesional dalam melaksanakan tugasnya menggunakan tekhnik dan prosedur ilmiah, memiliki dedikasi yang tinggi, menguasai materi, tekhnik dan pendekatan mengajar seperti dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif dan model pembelajaran berdasarkan masalah. </div><div><strong>B. Model Pembelajaran Kooperatif ( Cooperative Learning )</strong> </div><div>Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning adalah suatu model pembelajaran yang mengacu pada metode pembelajaran dimana siswa bekerja sama dalam kelompok kecil yang saling membantu dalam belajar . </div><div>Pembelajaran ini melibatkan siswa dalam kelompok yang terdiri dari empat atau lima siswa dengan kemampuan dan latar belakang sosial yang berbeda-beda dengan menggunakan ukuran kelompok yang berbeda-beda pula ( Muhammad Nur , 2000). </div><div>Dengan menggunakan pembelajaran kooperatif siswa akan lebih banyak menerima materi bukan hanya dari guru akan tetapi juga dari teman dalam kelompok kerjanya, siswa akan merasa lebih percaya diri  dan termotivasi dalam pembelajaran, sehingga berdampak pada perolehan nilai yang lebih baik, kompetensi lebih tinggi dalam berpikir kritis, memiliki sikap  lebih positif  terhadap mata  pelajaran  yang  dipelajari,  menampakkan  kompetensi lebih  tinggi  dalam kegiatan  kolaboratif,  memiliki  kesehatan  jiwa yang tinggi   dan    menerima   perbedaan-perbedaan    diantara      teman-temannya (Muhammad Nur, 2000). </div><div>Menurut Ibrahim dkk ( 2000) salah satu aspek penting dalam pembelajaran kooperatif adalah bahwa disamping pembelajaran kooperatif membantu mengembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan akan lebih baik diantara siswa, pembelajaran kooperatif akan membantu siswa dalam pembelajaran akademis. </div><div><strong>C.  Cooperative Learning Type Student Teams Achievement Divisions (STAD)</strong> </div><div>STAD merupakan salah satu metode pembelajaran koopeatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan koperatif. </div><div>STAD terdiri 5 kelompok utama yakni : presentasi kelas , tim , kuis , skor kemajuan individual , rekognisi tim . </div><div>a.       <strong>Presentasi kelas</strong>. <br>b.      <strong>Tim</strong> . </div><div>      c.       <strong>Kuis. </strong></div><div>d.      <strong>Skor kemajuan individual.</strong> </div><div>e.        <strong>Rekognisi Tim.</strong> </div><div><strong>D.          Langkah-langkah pengelompokan tim STAD</strong> </div><div><strong>1.  persiapan </strong></div><div>         2.  Jadwal Kegiatan </div><div>      3. Menghitung Skor Individual dan Tim. </div><div>      4. Poin Kemajuan. </div><div>5.   Merekognisi Prestasi Tim </div><div>6.   Mengubah Tim </div><div>      Setelah 2 atau 3 minggu melakukan STAD atau pada akhir tiap periode yang telah ditentukan, tempatkan kembali para siswa ke dalam tim yang baru. Ini memberikan kesempatan baru kepada siswa yang mempunyai skor tim rendah, biarkan siswa bekerja dengan temannya yang lain, dan jaga agar programnya tetap segar. </div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-28 02:52:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308614604</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Triandari ( bahasa Indonesia)</title>
         <author>hamdaal933</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308617157</link>
         <description><![CDATA[<div>Judul : peningkatan kemampuan menulis teks prosedur melalui media gambar pada siswa kelas 11 IPS 4 SMA Negeri 3 Pangkalpinang<br>Latar belakang<br>Bahasa digunakan untuk berkomunikasi baik dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai alat komunikasi bahasa dapat dibagi menjadi dua macam yaitu bahasa lisan dan bahasa tulis. Keterampilan berbahasa dalam kurikulum di sekolah biasanya mencapai 4 segi (1) keterampilan menyimak (2) keterampilan berbicara( 3 )keterampilan membaca (4)keterampilan menulis . Setiap keterampilan itu memiliki hubungan yang erat dengan keterampilan lainnya dengan cara yang beraneka ragam.<br>Sebagai salah satu keterampilan yang  yang dipelajari di sekolah keterampilan menulis harus dimiliki oleh setiap siswa. Dengan keterampilan tersebut Seorang siswa dapat mengekspresikan dan menuangkan ide gagasan dan pokok pikiran serta pengalaman mereka baik dalam bentuk teks eksplanasi ,teks ceramah teks cerpen, maupun teks prosedur. Dalam menulis seorang siswa juga harus mampu bermain dengan kata-kata menggunakan tanda baca dapat membedakan mana Kalimat baku dan tidak baku serta merangkai kata dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca. Salah satu bentuk tulisan yang harus dimiliki oleh seorang siswa adalah membuat teks khususnya teks prosedur.<br>Banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan menulis teks siswa salah satunya adalah faktor media.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-28 03:09:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308617157</guid>
      </item>
      <item>
         <title>we</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308618800</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-28 03:19:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308618800</guid>
      </item>
      <item>
         <title>HERDA SINAMBELA</title>
         <author>herdasinambela1983</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308618989</link>
         <description><![CDATA[<div>(MATEMATIKA)<br> </div><div>UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS X. IPS 3 PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR TIGA VARIABEL (SPLTV) MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DI SMA NEGERI 3 PANGKALPINANG T.P 2018/2019 <br> </div><div><strong>BAB I</strong> </div><div><strong>PENDAHULUAN</strong> </div><div> </div><div><strong>A.</strong>    <strong>Latar Belakang</strong> </div><div>Pemerintah telah melakukan berbagai cara telah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia misalnya pemerintah membuat perubahan-perubahan baru diantaranya dengan membuat kurikulum 2013. Pada era globalisasi sekarang ini, orang dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya. </div><div>Dalam kurikulum 2013, materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel terdapat pada Kompetensi Dasar 3.3 Menyusun Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel dari masalah kontekstual dan Kompetensi Dasar 4.3 Menyelesaikan masalah kontekstual yang berkaitan dengan Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel. </div><div>Rendahnya hasil belajar ditandai dengan nilai peserta didik yang belum mencapai kkm yaitu 75. Pada materi sebelumnya dari 36 orang hanya 7 orang ( 19,4 %) yang mendapat nilai di atas KKM, sedangkan 29 orang ( 80,6 %) lagi belum mencapai kkm. Berdasarkan pengalaman penulis selama mengajar khususnya materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel, peserta didik belum mampu membuat model matematika dari masalah kontekstual baik itu aljabar linear satu variabel, dua variabel dan aljabar linear tiga variabel dan keinginan untuk berlatih soal masih rendah. Selain itu, pelaksanaan pembelajaran di SMA Negeri 3 Pangkalpinang kelas X IPS<sub>3 </sub>belum berjalan seperti yang diharapkan. Dimana motivasi belajar peserta didik masih rendah, peserta didik belum aktif dalam kegiatan pembelajaran baik dalam aktivitas bertanya maupun diskusi dan kurang percaya diri untuk menampilkan hasil pekerjaannya di depan kelas. Guru dalam melaksanakan pembelajaran masih konvensional, guru masih kurang dalam menggunakan metode, teknik dan strategi yang tepat untuk pencapaian Indikator dan Kompetensi Dasar pembelajaran. Sehingga pembelajaran di kelas pun terasa kurang menyenangkan. Metode yang digunakan biasanya berupa metode ceramah, diskusi dan latihan soal. Sehingga, pembelajaran terasa membosankan peserta didik dan sangat monoton. Pembelajaran seperti itu berdampak pada hasil belajar peserta didik yang rendah. </div><div>Kurikulum 2013 revisi merupakan sebuah kurikulum yang mengutamakan pada pemahaman, skill, dan pendidikan berkarakter, dimana peseta didik dituntut untuk paham atas materi, aktif dalam proses berdiskusi dan presentasi, memiliki sopan santun dan sikpa disiplin yang tinggi serta mampu memechkan masalah kontekstual matematika dalam kehidupan nyata.  Dengan demikian didalam pembelajaran matematika, agar pembelajaran itu lebih bermakna dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka pendidik dalam mengajarkan matematika harus dikaitkan dalam kehidupan nyata sehingga peserta didik mampu memahami konsep dan dapat menyelesaikan masalah matematika yang dihadapinya. Pembelajaran seperti ini dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Pendekatan itu antara lain <em>Realistic Mathematics Education (RME), Contecstual Teaching Learning (CTL) dan  Problem Solving.</em> yang dapat mengajarkan peserta didik aktif dalam pembelajaran. </div><div>Pembelajaran dengan model <em>problem based learning</em> menjadikan masalah nyata sebagai pemicu bagi proses belajar peserta didik sebelum mereka mengetahui konsep formal serta mampu membangun pengetahuan tertentu dan sekaligus mengembangkan kemampuan berfikir kritis dan keterampilan menyelesaikan masalah. </div><div>Menurut Gijselaers (Hosnan 2014:298) menunjukkan bahwa penerapan PBL menjadikan peserta didik mampu mengidentifikasi informasi yang diketahui dan diperlukan serta strategi yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah.  Dengan demikian ketika peserta didik mampu memecahkan masalah matematika khususnya pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel maka secara tidak langsung peserta didik pun bisa memahami konsep dari sistem persamaaan tiga variabel itu sendiri. </div><div>Agar peserta didik termotivasi untuk belajar mandiri, maka aktivitas bealajar peserta didik perlu dibangkitkan dan dikembangkan. <em>problem based learning</em> dalam pembelajaran ini dapat melatih peserta didik untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau soal-soal yang berkaitan dengan materi yang dipelajari sehingga mengantarkan peserta didik memahami konsep dan aktivitas peserta didik  bisa terliahat saat itu. </div><div>Dengan menggunakan pendekatan ini diharapkan memberi kesempatan yang luas kepada peserta didik untuk aktif belajar dan mengupayakan agar pembelajaran yang terpusat kepada pendidik <em>(teaching oriented)</em> berubah menjadi terpusat kepada peserta didik<em> (student oriented).</em> </div><div>Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis termotivasi melakukan penelitian yang berjudul “<strong><em>Upaya Peningkatan hasil belajar siswa kelas X. IPS 3 pada materi Sisitem Persamaan Linear Tiga Variabel melalui model Problem Based Learning (PBL) di SMA Negeri 3 Pangkalpinang TP 2018/2019” </em></strong></div><div> </div><div><strong>B.</strong>     <strong>Rumusan Masalah</strong> </div><div>Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut: </div><div>1.      Apakah dengan menggunakan model <em>problem based learning</em> dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas X. IPS 3 SMA Negeri 3 Pangkalpinang? </div><div>2.      Bagaimana aktivitas peserta didik melalui pembelajaran dengan model <em>problem based learning</em> pada Peserta didik kelas kelas X. IPS 3 SMA Negeri 3 Pangkalpinang? </div><div> </div><div><strong>C.  Tujuan Penelitian</strong> </div><div>Sesuai dengan permasalahan dari rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini sebagai berikut: </div><div> </div><div>1.    Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar peserta didik kelas X. IPS 3 SMA Negeri 3 Pangkalpinang melalui pembelajaran dengan model <em>problem based learning.</em> </div><div>2.    Untuk mengetahui aktivitas peserta didik melalui pembelajaran dengan model <em>problem based learning</em>pada peserta didik kelas X. IPS 3 SMA Negeri 3 Pangkalpinang. </div><div>3.    Untuk mengetahui respon peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran dengan model <em>problem based learning</em>pada peserta didik kelas X. IPS 3 SMA Negeri 3 Pangkalpinang. </div><div> </div><div><strong>D.      Manfaat Penelitian.</strong> </div><div>Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut: </div><div>a.    Untuk peserta didik </div><div>1)       Melatih peserta didik agar mampu membuat model matematika dari masalah kontekstual dan dapat menyelesaikan masalah tersebut. </div><div>2)        Melatih peserta didik untuk berpikir kritis, kreatif, dan inovatif dalam menyelesaikan masalah kontekstual. </div><div>b.    Untuk Pendidik </div><div>1.     Melalui penelitian ini, pendidik dapat mengetahui strategi pembelajaran yang bervariasi, yang dapat memperbaiki dan meningkatkan sistem pembelajaran matematika di kelas </div><div>2.    Untuk dijadikan penelitian yang relevan untuk melaksanakan kajian pembelajaran yang sesuai dengan mata pelajaran yang diteliti. </div><div>c.    Untuk Sekolah </div><div>Hasil penelitian ini akan memberikan konstribusi dalam rangka memperbaiki pembelajaran matematika dan meningkatkan kualitas sekolah. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-28 03:20:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308618989</guid>
      </item>
      <item>
         <title>HARMEIRURI, S.S</title>
         <author>harmeii99</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308619222</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>(BAHASA ARAB)<br><br></strong> <strong>PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA (KALAM) PADA MATA PELAJARAN BAHASA ARAB KELAS XII MIPA 3, PANGKALPINANG</strong> <br>  </div><div><strong>BAB 1</strong> </div><div><strong>PENDAHULUAN</strong> </div><div><strong>A. LATAR BELAKANG MASALAH</strong> </div><div>Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut, ada dua dimensi kurikulum, yang pertama adalah rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedangkan yang kedua adalah cara yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. </div><div>Cara yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran sangat berkaitan dengan standar proses pada 8 Standar Nasional Pendidikan. Standar Proses adalah kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan. Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk itu setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan. </div><div>Bahasa arab sebagai salah satu mata pelajaran bahasa asing yang diajarkan di SMA dari tahun ke tahun mengalami perkembangan dan perhatian dari pemerintah melalui kurikulum 2013.Walaupun Bahasa Arab dalam fase perkembangannya telah dijadikan sebagai bahasa resmi dunia Internasional, maka tidak berlebihan jika pengajaran bahasa Arab perlu mendapatkan penekanan dan perhatian seksama. Masalahnya sekarang adalah bagaimana meningkatkan kualitas berbahasa Arab yang masih dianggap oleh sebagian siswa sebagai bahasa yang sukar bahkan memandangnya sebagai momok, di sini peranan guru/pendidik sangat diperlukan. </div><div>Adapun penyebab gagalnya suatu pengajaran bahasa asing terutama bahasa Arab menurut Prof. Dr. Azhar Arsyad (2002 : 35) ialah : (*) anak didik tidak produktif (*) anak didik mempunyai sifat ketergantungan (*) tidak ada komunikasi humanistik antara orang-orang yang ada di dalam kelas (*) perhatian tidak terfokus, tidak terlibat secara utuh (*) anak didik terlalu sering disuruh "Menghafal". </div><div>Dari data yang dihimpun penulis selama mengajar Bahasa Arab di SMA, banyak ditemukan peserta didik yang memiliki motivasi rendah dalam mengikuti pelajaran, disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya: banyak diantara peserta didik yang merasa sulit membaca dan menulis dengan bahasa arab (tidak memiliki kemampuan dasar bahasa arab yang memadai, terutama untuk jenjang SMA), sulitnya melaksanakan kegiatan berkomunikasi aktif antar sesama mereka dengan bahasa Arab, serta pembelajaran yang dilaksanakan terasa tidak menarik dan konvensional, sehingga untuk masa sekarang ini sebagian mereka menerima pembelajaran seakan-akan dipaksakan dan nampak membosankan. </div><div>Perkembangan kurikulum di Indonesia saat sekarang ini telah menampakkan titik terang kelemahan pendidikan kita selama ini. Pembelajaran yang dulu membosankan dapat di desain lebih menarik dengan berbagai pola pendekatan dan model pembelajaran. dalam kurikulum 2013, terdapat berbagai model-model pembelajaran yang mewakili banyak model yang dikembangkan oleh praktisi pendidikan. </div><div>Terkait dengan prinsip pembelajaran yang dikembangkan sesuai dengan standar kompetensi lulusan dan standar isi, dikembangkan standar proses yang mencakup perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran. Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan, sasaran pembelajaran mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan. </div><div>Ketiga ranah kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan (proses psikologis) yang berbeda. Sikap diperoleh melalui aktivitas “menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan”. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas “mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, mencipta”. Keterampilan diperoleh melalui aktivitas “mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta”. Karaktersitik kompetensi serta perbedaan lintasan perolehan turut serta mempengaruhi   karakteristik standar proses. Untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientific) perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning). Untuk mendorong kemampuan peserta didik untuk menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning). Sedangkan agarpeserta didik mendapat pengetahuan penting, yang membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah, dan memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim, maka disarankan menggunakan model pembelajaran Problem based learning (PBL). </div><div>Bermula dari permasalahan yang ditemukan penulis di lapangan serta dihubungkan dengan perkembangan kurikulum di Indonesia, maka penulis bermaksud untuk membahas salah satu model pembelajaran bahasa yang baik dan menyusun Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini dengan  memberi judul <br>" <em>Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan kemampuan Berbicara (kalam) pada mata Pelajaran Bahasa Arab Kelas XII MIPA 3, Pangkalpinang</em> <em>”</em>. <br> </div><div><strong>B. RUMUSAN MASALAH</strong> </div><div>Dari latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut: </div><div>1.    Apakah Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat Meningkatkan kemampuan Berbicara (kalam) pada mata Pelajaran Bahasa Arab Kelas XII MIPA 3, Pangkalpinang ? </div><div>2.    Bagaimana Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) diterapkan sehingga dapat Meningkatkan kemampuan Berbicara (kalam) pada mata Pelajaran Bahasa Arab Kelas XII MIPA 3, Pangkalpinang? </div><div><strong>C. </strong> <strong>TUJUAN PENELITIAN</strong> </div><div>1.      Mendiskripsikan peningkatan penerapan model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap kemampuan Berbicara (kalam) pada mata Pelajaran Bahasa Arab Kelas XII MIPA 3, Pangkalpinang. </div><div>2.      Menganalisis penerapan penerapan model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap kemampuan Berbicara (kalam) pada mata Pelajaran Bahasa Arab Kelas XII MIPA 3, Pangkalpinang. </div><div> </div><div><strong>C.</strong>  <strong>MANFAAT PENELITIAN</strong> </div><div>Secara khusus penelitian tindakan kelas ini dapat memberikan kegunaan bagi: </div><div>1.      Anak didik </div><div>a.       Memberikan konstribusi langsung berupa praktek tentang materi-materi yang sudah dipelajari. </div><div>b.      Memberikan pengalaman secara nyata kepada siswa melalui penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) sebagai cara yang menyenangkan untuk menyelesaikan masalah yang ditemui dalam pembelajaran. </div><div>2.      Guru </div><div>a.       Sebagai bahan pertimbangan guru untuk memilih model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. </div><div>b.      Membangkitkan kinerja guru dalam peningkatan kualitas pembelajaran. </div><div>3.      Sekolah </div><div>a.       Sebagai bahan pertimbangan penggunaan informasi atau menentukan langkah-langkah penggunaan modul pembelajaran bahasa Arab khususnya dan materi pelajaran lain pada umumnya. </div><div>4.      Pengembang Kurikulum </div><div>a.       Melihat berbagai kelemahan kurikulum sebagai pijakan pengembangan kurikulum. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-28 03:22:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308619222</guid>
      </item>
      <item>
         <title>M</title>
         <author>akbarimerbaniel</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308620130</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-28 03:29:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308620130</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ELEN ISTANTIA (PPKn)</title>
         <author>elenistantia</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308624186</link>
         <description><![CDATA[<div> JUDUL PTK :</div><div>“<strong><em>Penerapan Metode Kooperatif Model Team Games Tournament (TGT) Sebagai Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Pada Siswa Kelas XII Mipa.2 SMA Negeri 3 Pangkalpinang Tahun Pelajaran 2018/2019</em></strong>” <br><br> </div><div><strong>BAB I</strong> </div><div><strong>PENDAHULUAN</strong> </div><div> </div><div><strong>A.</strong>     <strong>Latar Belakang </strong></div><div>Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan adalah pendidikan yang menanamkan kesadaran siswa dan masyarakat untuk berpikir demokratis dalam berdemokrasi serta memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan agar mudah dimengerti oleh siswa, proses penalaran deduktif untuk menguatkan pemahaman yang sudah dimiliki oleh siswa. Tujuan pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan adalah melatih cara berfikir secara sistematis, logis, kritis, kreatif, konsisten, terampil, dan berkarakter. </div><div>Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan tidak lagi mengutamakan pada penyerapan melalui pencapaian informasi, tetapi lebih mengutamakan pada pengembangan kemampuan dan pemrosesan informasi dan menanggapi isu-isu yang terjadi pada saat ini. Untuk itu aktivitas peserta didik perlu ditingkatkan melalui latihan-latihan atau tugas Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dengan bekerja kelompok kecil dan menjelaskan ide-ide kepada orang lain. (Hartoyo, 2009: 24). </div><div>Langkah-langkah tersebut memerlukan partisipasi aktif dari siswa. Untuk itu perlu ada metode pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran. Adapun metode yang dimaksud adalah metode pembelajaan kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah suatu pengajaran yang melibatkan siswa bekerja dalam kelompok-kelompok untuk menetapkan tujuan bersama. Djamarah, (2002: 2). </div><div>Pembelajaran kooperatif lebih menekankan interaksi antar siswa. Dari sini siswa akan melakukan komunikasi aktif dengan sesama temannya. Dengan komunikasi tersebut diharapkan siswa dapat menguasai materi pelajaran dengan mudah karena “siswa lebih mudah memahami penjelasan dari kawannya dibanding penjelasan dari guru karena taraf pengetahuan serta pemikiran mereka lebih sejalan dan sepadan”. (Sardiman dalam Wahyuni 2001: 2). </div><div>Penelitian juga menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang amat positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya. (Nur, 2001: 2).<strong> </strong>Pete Tschumi dari Universitas Arkansas Little Rock memperkenalkan suatu ilmu pengetahuan pengantar pelajaran komputer selama tiga kali, yang pertama siswa bekerja secara individu, dan dua kali secara kelompok. Dalam kelas pertama hanya 36% siswa yang mendapat nilai C atau lebih baik, dan dalam kelas yang bekerja secara kooperatif ada 58% dan 65% siswa yang mendapat nilai C atau lebih baik (Djamarah, 2002:14). </div><div>Berdasarkan paparan tersebut diatas maka peneliti ingin mencoba melakukan penelitian dengan judul “<strong><em>Penerapan Metode Kooperatif Model TGT (Team Games Tournament) Sebagai Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Pada Siswa Kelas XII Mipa.2 SMA Negeri 3 Pangkalpinang Tahun Pelajaran 2018/2019</em></strong>” </div><div><strong> </strong></div><div><strong>B.</strong>     <strong>Rumusan Masalah</strong> </div><div>Merujuk pada uraian latar belakang di atas, dapat dikaji ada beberapa permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut: </div><div>1.         Apakah pembelajaran kooperatif model TGT berpengaruh terhadap hasil belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Pada Siswa Kelas XII Mipa.2 SMA Negeri 3 Pangkalpinang Tahun Pelajaran 2018/2019?<br> 2.       Seberapa tinggi tingkat penguasaan materi pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dengan diterapkannya metode pembelajaran kooperatif model TGT pada siswa Kelas XII Mipa.2 SMA Negeri 3 Pangkalpinang Tahun Pelajaran 2018/2019?</div><div> </div><div><strong>C. Tujuan Penelitian</strong> </div><div>Berdasar rumusan masalah di atas, maka tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah: </div><ol><li>Untuk mengungkap pengaruh pembelajaran kooperatif model TGT terhadap hasil belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Pada Siswa Kelas XII Mipa.2 SMA Negeri 3 Pangkalpinang Tahun Pelajaran 2018/2019.</li><li>Ingin mengetahui seberapa jauh pemahaman dan penguasaan terhadap mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif model TGT pada siswa Kelas XII Mipa.2 SMA Negeri 3 Pangkalpinang Tahun Pelajaran 2018/2019.</li></ol><div> </div><div><strong>D.  Manfaat Penelitian</strong> </div><div>1.      Hasil dan temuan penelitian ini dapat memberikan informasi tentang pembelajaran kooperatif model TGT dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan oleh guru Kelas XII Mipa.2 SMA Negeri 3 Pangkalpinang Tahun Pelajaran 2018/2019. </div><div>2.      Sekolah sebagai penentu kebijakan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. <br>3.      Guru, sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran yang dapat memberikan manfaat bagi siswa.<br>4.     Siswa, dapat meningkatkan motiviasi belajar dan melatih sikap sosial untuk saling peduli terhadap keberhasilan siswa lain dalam mencapai tujuan belajar.<br>5.      Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peranan guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dalam meningkatkan pemahaman siswa belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan<br>6.      Sumbangan pemikiran bagi guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dalam mengajar dan meningkatkan pemahaman siswa belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.</div><div> </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-28 03:58:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308624186</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nurlela (FISIKA)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308627958</link>
         <description><![CDATA[<div>PENINGKATAN KREATIVITAS DAN HASIL BELAJAR PESERTA  DIDIK PADA MATERI ELASTISITAS DENGAN  PEMBELAJARAN PEMBELAJARAN BERBASISINKUIRI DI KELAS XI MIPA 1 SMA NEGERI 3 PANGKALPINANG TAHUN 2018/2019<br> </div><div>BAB I </div><div>PENDAHULUAN </div><div> </div><div>A.    Latar Belakang </div><div>Pembelajara fisika di dalam kelas bagi kebanyakan peserta didik menganggap belajar fisika itu sulit dan menakutkan bagi mereka, karena sulitnya mengerjakan soal yang diberikan dengan penyelesaian yang menggunakan matematika dan pengguasaan konsep yang sulit untuk diterapkan dalam menyelesaikan soal uraian. </div><div>Dalam kegiatan belajar mengajar pada KD 3.2 Menganalisis sifat elastisitas bahan dalam kehidupan sehari hari di kelas XI MIPA 1 SMA Negeri 3 pada materi elastisitas yang berjumlah 32 peserta didik, setelah dilakukan ulangan berbentuk uraian hanya ada 5 peserta didik yang mampu mengerjakan soal yang diberikan dengan baik yang melampaui nilai KKM 75 sedangkan 27 peserta didik lainnya belum mampu mencapai nilai KKM yang ditentukan. </div><div>Berdasarkan hasil pengamatan saat pembelajaran ternyata beberapa peserta didik tidak dapat menyelesaikan soal yang diberikan dengan baik. Ketrampilan proses saat belajar elastisitas  kurang baik. Ketidakmampuan atau kurang peserta didik untuk memahami dan menerapkan konsep yang diterima ke dalam soal yang berhubungan dengan elastisitas </div><div>Ada dua permasalahan pada pembelajaran  yaitu permasalahan peserta didik dan masalah pembelajar. Sedikitnya penggunaan media belajar dan model mengajar bagi peserta didik yang mengakibatkan pemahaman dan  hasil belajar rendah. Permasalahan guru sebagai pembelajar yaitu penggunaan pendekatan pembelajaran. Perubahan besaran-besaran elastisitas bersifat abstrak, sehingga apabila  yang digunakan hanya pendekatan konsep dan matematik saja, peserta didik akan mengalami kesulitan karena kemampuan peserta didik di bidang matematika kurang baik. Oleh karena itu perlu adanya  pembelajaran  dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. </div><div>Untuk meningkatkan prestasi belajar, pembelajaran harus ditingkatkan dengan menggunakan model  yang lebih baik, oleh karena digunakan cara pembelajaran berbasis inkuiri diharapkan peserta didik dapat menerapkan konsep yang didapatkan peserta didik pada saat pembelajaran dan dapat menyelesaikan soal yang diberikan dengan lebih baik. </div><div> </div><div>B.     Rumusan Masalah </div><div>Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas,penulis merumuskan masalah : </div><div>Apakah dengan menggunakan model pembelajaran berbasisi inkuiri dapat meningkatkan kreativitas dan prestasi belajar pada materi Elastisitas  peserta didik kelas XI Mipa 1 di SMA Negeri 3 Pangkalpinang  </div><div> </div><div>C.     Tujuan PTK </div><div>Ada beberapa tujuan yang akan dilakukan dalam penelitian ini : </div><div>1.      Mengetahui adanya peningkatan aktivitas belajar peserta didik  dengan menggunakan model pembelajaran berbasis inkuiri pada materi Elastisitas di kelas XI Mipa 1 SMA N tahun 2018/2019 </div><div>2.      Mengetahui adanya peningkatan hasil belajar peserta didik pada materi  Elastisitas dengan mengggunakan model  pembelajaran berbasis inkuiri di kelas XI Mipa 1 SMA negeri 3 Pangkalpinang tahun pembelajaran 2018/2019 </div><div> </div><div>D.    Manfaat Penelitian </div><div>Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai berikut : </div><div>1.      Bagi peserta didik </div><div>a.       Peserta didik dapat lebih aktif dan kreatif dalam mengikuti pembelajaran </div><div>b.      Prestasi belajar peserta didik dapat meningkat secara signifikan </div><div>c.       Peserta didik lebih termotivasi dan menikmati pembelajaran yang menyenangkan </div><div>2.      Bagi guru </div><div>a.          Pendidik lebih variatif dalam melaksanakan pembelajaran </div><div>b.         Pendidik merasa lebih puas dengan hasil yang diperoleh peserta didik dari hasil proses pembelajaran yang dilakukannya </div><div>c.          Pendidik dapat memanfaatkan hasil Penelitian ini sebagai salah satu syarat untuk  kenaikan pangkat </div><div> </div><div> </div><div>3.      Bagi sekolah </div><div>a.       Dengan Peningkatan kualitas peserta didikdi sekolah dalam meningkatkan hasil proses pembelajaran di kelas </div><div>b.      Dapat meningkatkan prestise sekolah terkait mutu pembelajaran di kelas yang bermuara pada kondite sekolah </div><div> </div><div><br></div><div>                  BAB II </div><div> </div><div>TINJAUAN PUSTAKA </div><div> </div><div><strong>A. Kreativitas Belajar </strong><br><br></div><div>1.        Pengertian Kreativitas </div><div>Baron dalam Satiadarma dan Waruwu berpendapat (2003; 108), “Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru.” Sesuatu yang baru disini bukan harus sama yang baru, tetapi dapat juga sebagai kombinasi baru atau melihat hubungan-hubungan baru antar unsur data, atau hal-hal yang ada sebelumnya. Sedangkan menurut Munandar yang diterjemahkan Sukmadinata (2004:104): Kreativitas adalah kemampuan a) untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data informasi atau unsur yang ada, b) berdasarkan data atau informasi yang tersedia, menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, dimana penekanannya adalah pada kualitas, ketepat gunaan dan keragaman jawaban, c) yang mencerminkan kelancaran, keluwesan dan orisinilitas dalam berfikir serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan. Sedangkan menurut Supriadi (1994) dalam Rachmawati (2010:13), mengatakan bahwa “ Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagsan maupun karya yang nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada”. Kreativitas merupakan kemampuan berfikir tingkat tiggi yang mengimplikasikan terjadinya eskalasi dalam kemampuan berfikir, di tandai oleh suksesi, diskontinuitas, dan integrasi antara setiap perkembangan. Pada dasarnya perkembanagan kreativitas itu sangat erat kaitannya dengan perkembanagan kognitif individu karena kreativitas sesungguhnya merupakan perwujudan dari pekerjaan otak. </div><div>Kreativitas sesungguhnya berkisar pada persoalan menghasilkan sesuatu yang baru. Suatu ide atau gagasan tentu lahir dari proses berpikir yang melibatkan empat unsur berpikir; alat indera; fakta;informasi dan otak. Kreativitas harus diarahkan pada proses dan hasil yang positif, tentu untuk kebaikan bukan untuk keburukan. Kreativitas juga pperlu dibenturkan dengan kesesuaian, konteks dengan tema persoalan, nilai pemecahan masalah, serta bobot dan tanggung jawab yang menyertainya. Dengan demikian, tidak setiap kebaruan hasil karya dapat dengan serta merta disebut kreatif, tanggung jawab disini adalah landasan konseptual yang menyertai karya tersebut. Kreatif, tanggung jawab disini adalah landasan konseptual yang menyertai karya tersebut. </div><div>Dengan demikian, kreativitas merupakan hasil dari proses belajar yang dapat menghasilkan beberapa macam hal yang bersifat baru atau asli dan mempunyai nilai yang dapat berguna bagi peningkatan kehidupan manusia. </div><div> </div><div>2.                  Pengertian Belajar </div><div>Belajar merupakan suatu perubahan yang relatif tetap, yang terjadi sebagai hasil pengalaman. Menurut Anni (2004:2), “Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan ia mencakup segala sesuatu yang diperkirakan dan dikerjakan”.Manusia belajar dengan cara melihat, mendengar, mencium, dan meraba. Dalam belajar guru manusia adalah lingkungannya, dari lingkungan sekitar manusia dapat mengetahui secara nyata hal-hal yang terjadi dalam lingkungan masyarakat, misalnya langit berwarna biru, gandum berstruktur lembut, bau sampah itu busuk dll. Menurut Slameto (2003:2) Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. </div><div>Menurut Purwanto (2003:86), faktor-faktor penting yang terdapat dalam proses belajar adalah: Kematangan, penyesuaian diri/ adaptasi, menghafal mengingat, pengertian, berfiki atau latihan. Belajar dapat ditandai dengan adanya perubahan dalam tingkah laku, latihan atau pengalaman, dan perubahan yang relatif mantap. </div><div> </div><div>3.    Pengertian Kreativitas Belajar </div><div>Belajar tidak dibatasi oleh waktu dan tempat. Kita dapat belajar kapan saja dan dimana saja, dalam pengalaman belajar akan menemui pengalaman belajar yang menyenangkan serta pengalaman belajar yang tidak menyenangkan. Belajar merupakan suatu kegiatan yang subyektif, yang artinya bahwa kita sendiri yang akan menentukan mau atau tidak mau belajar. belajar kreatif berhubungan erat dengan penghayatan terhadap pengalaman belajar yang sangat menyenangkan. Menurut Munandar (2009:19) mengatakan bahwa “Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru berdasarkan bahan, informasi dan data yang sudah ada sebelumnya menjadi hal bermakna dan bermanfaat”. Sedangkan menurut Drevdahl dalam Ali dan asrori (2005:42). Kreativitas sebagai kemampuan untuk memproduksi komposisi dan gagasan baru yang dapat berwujud aktivitas imajinatif atau sintesis yang mungkin melibatkan pembentukan pola-pola baru dan kombinasi dan pengalaman masa lalu yang dihubungkan dengan yang sudah ada sekarang. </div><div>Slamet (2010:2) menemukakan “Belajar adalah proses yang dilakukan untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Sedangkan menurut ahmadi (2008:128) mengatakan bahwa Belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.  Slamet (2010:138) mengatakan bahwa “Kreativitas merupakan hasil belajar dalam kecakapan kognitif, sehingga untuk menjadi kreatif dapat dipelajari melalui proses belajar mengajar”. Berdasarkan beberapa pendapat mengenai kreativitas dan belajar yang telah dijelaskan diatas bahwa kreativitas adalah kemampuan atau prestasi yang istimewa dalam menciptakan sesuatu yang baru berdasarkan bahan, informasi, data dan elemen-elemen yang sudah ada sebelumnya menjadi hal-hal yang bermakna dan bermanfaat. Kemampuan dalam memecahkan masalah yang tidak dapat ditemukan oleh kebanyakan orang, ide-ide baru, dan melihat adanya berbagai kemungkinan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, orisilitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengolaborasi suatu gagasan, dan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang harus secara keseluruhan dan bersifat tetap sebagai hasil pengalaman individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. </div><div>Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kreativitas belajar merupakan titik pertemuan yang khas antara tiga atribut psikologis, antara lain kemampuan diri untuk menyesuaikan dengan lingkungan, cara belajar yang baik dan motivasi dan bukan semata-mata merupakan bakat atau kemampuan kreatif yang dibawa sejak lahir, melainkan hasil dari hubungan potensi kreatifitas individu dengan proses beajar dan pengalaman dari lingkungannya sehingga mampu memproduksi komposisi dan gagasan-gagasan baru. </div><div> </div><div>4.                  Ciri<strong>-</strong>ciri Kreativitas Belajar </div><div>Sungguh menarik mengamati anak-anak yang mempelajari dunia disekeliling mereka. Menurut Freema dan Munandar (2001:248), beberapa ciri yang mencerminkan kreativitas alamiah anak adalah sebagai berikut: </div><div>a.         Senang menjajaki lingkungannya. <br><br></div><div>b.        Mengamati dan memegang segala sesuatu, mendekati segala tempat atau pojok, seakan-akan haus akan pengalaman. <br><br></div><div>c.         Rasa ingin tahu yang besar <br><br></div><div>d.        Selalu ingin mendapatkan pengalaman-pengalaman baru <br><br></div><div>e.         Senang melakukan eksperimen. <br><br></div><div>f.         Jarang merasa bosan dan selalu ingin melakukan macam-macam hal yang ingin dilakukan. <br><br></div><div>g.        Mempunyai imajinasi yang tinggi. </div><div> </div><div>Menurut munandar (2004:37): Beberapa ciri pribadi yang kreatif yaitu: imajinatif, mempunyai prakarsa, mempunyai minat luas, mandiri dalam berpikir, senang  berpetualang, penuh energi, percaya diri, bersedia mengambil risiko, dan berani dalam berpendirian dan berkeyakinan. </div><div>Dari uraian mengenai ciri-ciri anak kreatif diatas ada yang memiliki dampak negatif dan ada pula yang memiliki dampak positif. Karena rasa ingin tahu yang besar maka membuat anak selalu melakukan eksperimen, yang terkadang eksperimen tersebut bisa membahayakan dan bisa juga eksperimen kedalam hal-hal negatif. Tetapi banyak juga banyak memiliki hal-hal positif, dengan rasa ingin tahu yang besar maka seorang anak bisa mengetahui hal-hal baru yang belum pernah diketahui sebelumnya. </div><div> </div><div>5.    Faktor Pendukung Perkembangan Kreativitas Belajar </div><div>Beberapa penelitian menunjukkan bahwa seorang anak yang mendapat rangsangan (dengan melihat, mendengar, dan bergerak) akan lebih berpeluang lebih cerdas dibandingkan dengan sebaliknya. Salah satu bentuk rangsangan yang penting adalah dengan kasih sayang. Dengan kasih sayang anak akan memiliki kemampuan untuk menyatukan berbagai pengalaman emosional dan mengolahnya dengan baik. Kreatifitas sangat terkait dengan kebebasan kepribadian. Hal itu berarti seorang anak harus memiliki rasa aman dan kepercayaan diri yang tinggi, sebelum berkreasi. Sedangkan pondasi untuk membangun rasa aman dan kepercayaan diri adalah dengan kasih sayang. Menurut Rahmawati dan Kurniati (2001:27), ada empat hal yang diperhitungkan dalam perkembangan kreativitas yaitu: </div><div>a.         Memberikan rangsangan mental baik pada aspek kognitif maupun kepribadiannya serta suasana psikologis </div><div>b.        Menciptakan lingkungan kondusif yang akan memudahkan anak untuk mengakses apapun yang dilihatnya, dipegang, didengar, dan dimainkan untuk pengembangan kreativitasnya. Perangsangan mental dan lingkungan kondusif dapat berjalan beriringan seperti halnya kerja simultan otak kiri dan otak kanan. </div><div>c.         Peran serta guru dalam mengembangkan kreativitas, artinya ketikan anak ingin menjadi kreatif, maka juga dibutuhkan pula guru yang kreatif pula dan mampu memeberikan stimulasi yang tepat pada anak. </div><div>d.        Peran serta orang tua yang mengembangkan kreativitas anak. </div><div> </div><div>Menurut Hurlock (2005:11) beberapa kegiatan untuk meningkatkan kreativitas adalah: </div><div>a.         Waktu <br><br></div><div>b.        Kesempatan <br><br></div><div>c.         Dorongan <br><br></div><div>d.        Sarana <br><br></div><div>e.         Lingkungan <br><br></div><div>f.         Hubungan dengan orang tua <br><br></div><div>g.        Cara mendidik anak <br><br></div><div>h.        Pengetahuan <br><br></div><div> </div><div>Kegiatan untuk meningkatkan kreativitas diatas dapat dijelaskan sebagai berikut: </div><div>a. Waktu </div><div>Untuk menjadi kreatif kegiatan anak seharusnya jangan diatur sedemikian rupa sehingga anak mempunyai sedikit waktu bebas untuk bermain-main dengan gagasan dan konsep yang dipahaminya. </div><div>b. Kesempatan </div><div>Apabila mendapat tekanan dari kelompok, kemudian anak menyendiri maka ia menjadi lebih kreatif. </div><div>c. Dorongan </div><div>Orang tua sangat berperan dalam hal ini, anak seharusnya dibebaskan dari ejekan dan kritik yang seringkali memojokkan anak </div><div>d. Sarana </div><div>Harus disediakan untuk merangsang dorongan eksperimen dan eksplorasi yang merupakan unsur penting dari kreativitas. </div><div>e. Lingkungan </div><div>Keadaan lingkungan yang meragsang kreativitas anak. </div><div>f. Hubungan dengan orang tua </div><div>Orang tua yang terlalu mellindungi atau posesif terhadap anak dapat menghambat proses kreativitas. </div><div>g. Cara mendidik anak </div><div>Mendidik secara demokratis dan pesimis dirumah dan di sekolah akan meningkatkan kreativitas, sedangkan mendidik dengan otoriter menghambat proses kreativitas. </div><div>h. Pengetahuan </div><div>Semakin banyak pengetahuan yang diperoleh anak maka semakin banyak dasar untuk mencapai proses kreativitas. </div><div> </div><div>6. Indikator<strong>-</strong>indikator Kreativitas Belajar </div><div>Indikator-indikator mahasisiwa yang kreatif dalam belajar menurut hamzah (2010:54): </div><div>a. Memiliki rasa ingin tahu yang besar <br><br></div><div>b. Sering mengajukan pertanyaan yang berbobot <br><br></div><div>c. Memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah <br><br></div><div>d. Mengatakan pendapat secara spontan dan tidak malu-malu <br><br></div><div>e. Dapat bekerja sendiri <br><br></div><div>f. Senang mencoba hal-hal baru </div><div> </div><div><strong>B. Prestasi Belajar</strong> </div><div>1.        Pengertian prestasi belajar </div><div>Prestasi belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata,yakni prestasi dan belajar. Untuk memahami lebih jauh tentangpengertian prestasi belajar, peneliti menjabarkan makna dari keduakata tersebut.Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, pengertian prestasiadalah hasil yang telah dicapai(dari yang telah diakukan, dikerjakan,dan sebagainya) (1991: 787). Sedangkan menurut Saiful BahriDjamarah (1994: 20-21) dalam bukunya <em>Prestasi Belajar danKompetensi Guru</em>, bahwa prestasi adalah apa yang telah dapatdiciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yangdiperoleh dengan jalan keuletan kerja. Dalam buku yang sama Nasrunharahap, berpendapat bahwa prestasi adalah penilaian pendidikantentang perkembangan dan kemajuan peserta didik berkenaan denganpenguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada peserta didik.Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa prestasiadalah hasil dari suatu kegiatan seseorang atau kelompok yang telahdikerjakan, diciptakan dan menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan bekerja. </div><div>Sistem penilaian hasil studi di Perguruan Tinggi tidak lagimenggunakan sistem penilaian dari angka 0 sampai dengan 100.Penilaian hasil belajar untuk setiap mata kuliah dinyatakan denganhuruf A, B, C, D dan E yang masing-masing berbobot 4, 3, 2, 1 dan0. Universitas Negeri Yogyakarta menggunakan penilaian sebagai berikut : </div><div>Tabel 1. Hasil Nilai Akademik </div><div>NILAI Huruf              Angka/Bobot </div><div>A                                 4,00 </div><div>A-                                3,67 </div><div>B+                               3,33 </div><div>B                                 3,00 </div><div>B-                                2,67 </div><div>C+                               2,33 </div><div>C                                 2,00 </div><div>D                                 1,00 </div><div>E                                  0,00 </div><div> </div><div>C. Pembelajaran berbasis Inkuiri </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-28 04:29:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308627958</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rosi Asroh (Sosiologi)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308628834</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SQRAMBLE DAN TEKA TEKI SILANG</strong></div><div><strong>DALAM UPAYA PENINGKATAN KEAKTIVAN SISWA PADA PEMBELAJARAN SOSIOLOGI KELAS X IPS 4 SMAN 3 PANGKALPINANG </strong></div><div><strong>TP 2018/2019<br><br></strong> </div><div><strong>BAB I</strong> </div><div><strong>PENDAHULUAN</strong> </div><div><strong> </strong></div><div><strong>A.</strong>    <strong>Latar Belakang</strong> </div><div>Pendidikan merupakan bagian dari integral dalam pembangunan, proses<br> pendidikan tak dapat dipisahkan dalam proses pembangunan itu sendiri.<br> Pembangunan diarahkan dan bertujuan untuk mengembangkan sumber daya<br> yang berkualitas. Manusia yang berkualitas dapat dilihat dari segi pendidikan.<br> Hal ini terkandung dalam tujuan pendidikan Nasional, yang dikemukakan oleh<br> Mustan (Rahim, 2005:8) bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk<br> mencerdaskan kehidupan bangsa dan pengembangan manusia seutuhnya.<br> Selain beriman, bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa serta sehat jasmani dan<br> rohani, juga memiliki kemampuan dan keterampilan. </div><div>Pembaharuan dalam dunia pendidikan yang<br> dilakukan secara terencana, terarah dan berkesinambungan, dapat terbentuk<br> generasi-generasi unggul yang siap bersaing dengan ketatnya persaingan global.<br> pendidikan adalah suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi<br> pembangunan bangsa suatu negara. </div><div>Masalah pendidikan sangat berkaitan dengan proses pembelajaran. Ujung<br> tombak pendidikan adalah pembelajaran dan pengajaran. Pembelajaran adalah<br> proses kerja sama antara guru dan siswa dalam memanfaatkan segala potensi yang<br> dimiliki siswa baik dari dalam diri (minat, bakat, dan lain-lain) maupun dari luar<br> diri siswa (lingkungan, sarana, dan lain-lain) dalam mencapai tujuan belajar<br> tertentu. Hal ini dikarenakan dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah,<br> kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa<br> berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada<br> bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Belajar<br> yang merupakan hal yang tak terpisahkan dari pendidikan telah dijadikan suatu<br> budaya di Indonesia. Hal ini menjadi suatu prasyarat berkembangnya budaya ilmu<br> pengetahuan dan teknologi (IPTEK). </div><div>Kemampuan seorang pendidik (guru) dalam proses belajar mengajar<br> memegang peranan penting dalam menciptakan belajar yang bermakna. Guru<br> harus benar-benar menguasai model, pendekatan dan metode dalam proses belajar<br> mengajar. Pengunaan model, pendekatan dan metode yang tepat, selain dapat<br> menciptakan belajar yang bermakna juga dapat menciptakan suasana belajar yang<br> menyenangkan. Oleh karena itu model-model dalam pembaharuan pendidikan<br> harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. </div><div>Namun dalam proses pelaksanaanya, terdapat beberapa hal ataupun kendala yang sering ditemui oleh pendidik salah satunya adalah kurangnya minat dan motivasi siswa dalam proses pembelajaran sehingga mengakibatkan keaktivan siswa dalam hal bertanya dan menjawab pertanyaan juga menurun terutama pada pembelajaran Sosiologi, sehingga perlu adanya suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktivan siswa dikelas yaitu dengan menggunakan model pembelajaran sqramble dan teka-teki silang yang akan diterapkan pada siswa kelas X IPS 4 SMAN 3 PANGKALPINANG. </div><div>Dengan penerapan model sqramble dan teka teki silang, diharapkan mampu meningkatkan keaktivan siswa dalam proses pembelajaran sehingga pada akhirnya mendapatkan hasil yang memuaskan. </div><div> </div><div><strong>B.</strong>     <strong>Rumusan Masalah</strong> </div><div>Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Apakah penerapan model pembelajaran sqramble dan teka teki silang dapat meningkatkan keaktivan siswa pada pembelajaran sosiologi kelas x ips 4 sman 3 pangkalpinang” </div><div> </div><div><strong>C.</strong>    <strong>Tujuan Penelitian</strong> </div><div>Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktivan siswa pada pembelajaran Sosiologi kelas X IPS 4 SMAN 3 PANGKALPINANG dengan menggunakan model pembelajaran sqramble dan teka teki silang. </div><div> </div><div><strong>D.</strong>    <strong>Manfaat Penelitian</strong> </div><div>Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut : </div><div>a.       Bagi Sekolah </div><div>Sebagai penambah ilmu keilmuan yang baru bagi lembaga, sehingga lembaga tersebut lebih sering menggunakan metode sqramble dan teka teki silang sebagai upaya mencapai mutu pendidikan yang baik. </div><div> </div><div>b.      Bagi Guru </div><div>Sebagai alat tolak ukur bagi strategi yang telah disampaikan oleh guru<br> dalam kegiatan belajar mengajar dikelas, sehingga guru dapat menggunakan<br> strategi dan metode yang lebih baik dalam kegiatan belajar mengajar guna mencapai<br> tujuan yang diinginkan. </div><div>c.       Bagi Siswa </div><div>Sebagai tambahan ilmu mengenai metode dalam pendidikan, sehingga<br> mereka mengetahui bahwa dalam pendidikan mereka bukan hanya dijadikan<br> sebagai obyek, melainkan perlu juga dijadikan sebagai subyek. Menjadikan kegiatan pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak monoton sehingga memacu semangat dan keaktivan siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar. </div><div>d.      Bagi Peneliti </div><div>Sebagai suatu eksperimen yang dapat dijadikan salah satu acuan untuk<br> melaksanakan penelitian selanjutnya. Sebagai sumbangsih pemikiran dari<br> peneliti yang merupakan wujud aktualisasi peran guru dalam<br> pengabdiannya terhadap lembaga pendidikan. </div><div> </div><div><strong>E.</strong>     <strong>Hipotesis Penelitian</strong> </div><div>Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran sqramble dan teka teki silang dapat meningkatkan keaktivan siswa pada pembelajaran sosiologi kelas x ips 4 sman 3 pangkalpinang. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-28 04:38:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308628834</guid>
      </item>
      <item>
         <title>MARINA HARDI </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308630593</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>(BK)<br></strong>JUDUL PENELITIAN TINDAKAN KELAS<br><br></div><div>UPAYA PENINGKATAN KEDISIPLINAN SISWA DALAM MENTAATI TATA TERTIB MELALUI LAYANAN<br><br></div><div>BIMBINGAN KELOMPOK PADA SISWA KELAS XI IPS SMA NEGERI 3 PANGKALPINANG<br><br></div><div>TAHUN AJARAN 2018 -2019 <br><br></div><div> <br><br></div><div>A.        LATAR BELAKANG  :<br><br></div><div>Penelitian sejatinya merupakan suatu upaya untuk menemukan, mengembangkan dan menguji suatu pengetahuan dengan mengunakan metode ilmiah.<br><br></div><div>Seorang guru pembimbing disekolah sudah tepat apabila melakukan dengan Bimbingan Kelompok karena akan nampak hasilnya.<br><br></div><div>Judul Penelitian Tindakan Kelas Membahas Masalah KEDISIPLINAN yang berkaitan dengan Tata Tertib yang ada disekolah.<br><br></div><div>TATA TERTIB adalah peraturan yang harus dipatuhi dan dilaksanakan apabila dilanggar mendapat PUNISHMENT atau Sangsi ( Hukuman ).<br><br></div><div>Permasalahan yang akan dibahas dalam Penelitian ini adalah mengenai KETERLAMBATAN HADIR DI SEKOLAH . Keterlambatan banyak dilakukan siswa karena bangun kesiangan, Jarak Rumah dengan Sekolah jauh, Sakit Perut , dll.<br><br></div><div>Di Sekolah SMA N 3 Pangkalpinang Setiap hari ada Belasan siswa terlambat yang Penyebabnya karena kesiangan. Dan Sangsi bagi yang terlambat baru 1 kali dicatat Guru Piket dan di beri sangsi Membersikan Halaman sekolah. Terlambat 2 kali dicatat Guru Piket dan Dibina Wali Kelas dan diberi Sangsi Oleh Wali Kelas. Terlambat 3 Kali Panggilan Orang Tua mendapat Pembinaan dari BK. Untuk Siswa Yang Sering Terlambat maka dibuat laporan disetiap semester sebagai laporan kepada Kepala sekolah untuk ditindak lanjuti agar tidak terulang lagi pada semester berikutnya.<br><br></div><div>Permasalahan Berikutnya adalah TIDAK HADIR TANPA KETERANGAN DAN BOLOS . Tidak Hadir tanpa keterangan ( Alpa ) dan Bolos jam Pelajaran 1 Kali maka siswa akan dibina oleh Guru yang mengajar pada jam pelajaran. 2 Kali maka akan di bina Wali Kelas dan 3 Kali maka di bina oleh Wali Kelas dan BK. Apabila lebih 3 kali maka akan diadakan KONFERENSI KASUS dan dibina oleh Waka Kesiswaan. Tidak hadir tanpa keterangan karena disebabkan faktor kesiangan karena tidak siap menerima sangsi dari Sekolah maka tidak hadir disekolah, Tidak Mengerjakan Tugas dari mata pelajaran atau PR. Dan ajakan Teman untuk main Play Station atau Game Online. Kelas XI IPS ada 4 Kelas dengan jumlah Siswa 131 Orang ada 7 Orang Siswa yang Sering Tidak Hadir Tanpa keterangan.<br><br></div><div>Permasalahan yang ada pada siswa adalah Mengenakan Pakaian Seragam Tidak Sesuai Aturan Sekolah Seperti Tidak mengenakan ATRIBUT SEKOLAH , Celana dijahit terlalu ketat sehingga mersulit gerak siswa. Dan untuk Putri Rok di potong pendek dan ketat. Ada juga yang tidak mengenakan Pakaian Olah Raga sekolah pada waktu Senam Kesegaran Jasmani setiap hari jumat. Siswa diberi sangsi untuk menganti pakaiannya dan membuat perjanjian tertulis kepada Wali Kelas.<br><br></div><div>Siswa ada yang membawa Gambar atau Buku yang bisa berupa Gambar dari Kertas atau yang ada didalam HAND PHONE. Sangsi adalah Panggilan Orangtua dan Barang Disita. Tapi kalau Gambar di dalam Hand phone maka akan diambil berdasarkan kesepakatan dengan Orang Tua.<br><br></div><div>Permasalah yang sekarang ada dilakukan siswa atau siswi adalah mengeluarkan kata-kata atau komentar yang bernada menyakitkan melalui MEDIA SOSIAL. Sehingga membuat siswa sakit hati sehingga terjadi perkelahian. Media Sosial sering disalahgunakan Pelajar untuk kegiatan yang tidak bermanfaat.Maraknya Facebook,Twitter dan Instagram. Maka pihak sekolah sering mengadakan Razia secara mendadak untuk memantau isi dari Ponsel Siswa dan apabila ada hal-hal yang tidak layak maka akan di sita.<br><br></div><div>Pelanggaran yang dilakukan oleh siswa akan menerima sangsi dengan : Teguran, Penugasan, Panggilan Orang tua, Skorsing Dan terakhir siswa dikembalikan kepada orang tua ( Dikeluarkan ).<br><br></div><div>Pada jabaran Permasalahan diatas jelas bagi kita untuk mengambil tindakan cepat dan tegas supaya siswa tidak melanggar tata tertib yang membuat tidak disiplinnya sehingga mempengaruhi proses Belajar Mengajar disekolah, sehingga berdampak pada prestasi Belajar dan Nilai Akademiknya.   “DISIPLIN” adalah sebuah kata yang tidak konkret tapi harus diwujutkan dalam tindakan yang konkret . <br><br></div><div>Melalui PENELITIAN TINDAKAN KELAS ini Bimbingan dan Konseling memberi andil yang besar pada keberhasilan peserta didik dalam menumbuhkan Kecerdasan Emosional anak. Sehingga Tercipta Sumber daya Manusia yang tangguh dan bermanfaat bagi Nusa dan Bangsa. <br><br></div><div>B.      RUMUSAN MASALAH.</div><div>Penelitian Tindakan Kelas  adalah bentuk penelitian yang mengutamakan Proses, karena mencoba sebuah teknik, cara, metode atau pendekatan.</div><div>Dan latar belakang diatas, secara umum masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : </div><div>1.       Apakah melalui Bimbingan kelompok dapat meningkatkan Kedisiplinan dalam mentaati Tata Tertib Pada Siswa Kelas XI IPS SMA NEGERI 3 PANGKALPINANG ?</div><div>2.       Apakah melalui Bimbingan Kelompok Tingkat kedisiplinan dalam mentaati tata tertib menjadi tuntas pada siswa Kelas XI IPS SMA NEGERI 3 PANGKALPINANG ?</div><div>C.      TUJUAN PENELITIAN.</div><div>Berdasarkan Latar Belakang dan Rumusan Masalah Peneliti ingin mengetahui </div><div>1.       Tingkat Kedisiplinan siswa dalam mentaati Tata Tertib pada siswa kelas XI IPS  </div><div>2.       Tingkat ketuntasan dalam mentaati Tata tertib sehingga tingkat kedisiplinan siswa kelas XI IPS2Tetap meningkat.<br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-28 04:54:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308630593</guid>
      </item>
      <item>
         <title>d</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308646002</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-28 07:19:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308646002</guid>
      </item>
      <item>
         <title>yu</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308659559</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-28 08:18:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308659559</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ADE WIDIANA (BHS.INGGRIS)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308713065</link>
         <description><![CDATA[<div>Adapun masalah yang saya hadapi dalam pembelajaran bahasa inggris dikelas, antara lain:<br>1. Peserta didik lemah terhadap kosa kata (vocabulary)<br>2. Peserta didik lemah terhadap pronunciation<br>3. Peserta didik lemah dalam menentukan struktur teks dan unsur kebahasaan teks berbahasa inggris <br>4. Peserta didik sulit mengerti teks bahasa inggris dalam kegiatan membaca dikelas<br>5. Peserta didik kurang percaya diri dalam membaca teks bahasa inggris pada saat KBM dikelas<br><strong><br>PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA SISWA DALAM TEKS DESKRIPTIF MELALUI STRATEGI THIEVES KELAS X SMA N 3 PANGKALPINANG TAHUN AJARAN 2018/ 2019</strong> <br><strong><br>BAB I <br>PENDAHULUAN</strong><br><br><strong>A. Latar Belakang</strong><br> Dalam pembelajaran bahasa Inggris, ada 4 kemampuan penting yang harus dikuasai oleh masing-masing peserta didik, salah satunya adalah membaca. membaca adalah kegiatan yang sangat penting dan diharapkan mampu membantu peserta didik untuk memahami teks dan mem membangun arti dari teks itu sendiri. Dalam kegiatan membaca, ada 3 proses yang harus dilalui oleh peserta didik, yakni: sebelum membaca, ketika membaca, dan sesudah membaca. Peserta didik juga bisa memulai kebiasaan membaca mereka dari hal - hal yang terkecil seperti: membaca majalah, membaca novel, membaca koran, dan lain-lain. <br> Kemudian, peserta didik juga bisa memperbaiki kemampuan membaca mereka secara umum melalui: memperbanyak kosakata, berlatih pidato, berlatih debat, dan lainnya. Dalam kegiatan membaca teks berbahasa inggris khususnya teks deskriptif, si pembaca juga harus memiliki kemampuan yang baik untuk berpikir dalam bahasa inggris agar inti yang disampaikan dalam teks dapat tersampaikan dengan baik.<br> Namun pada kenyataannya, aktivitas dan hasil belajar peserta didik dalam membaca teks apalagi teks tersebut dalam berbahasa Inggris khususnya teks deskriptif sangatlah lemah. Hal yang paling utama ketika membaca teks deskriptif berbahasa inggris adalah mereka minim terhadap kosa kata atau vocabulary. Bagi mereka, kosa kata adalah hal tersulit yang mereka pahami. Para peserta didik juga malas untuk membuka kamus untuk mencari makna dari kata tersebut. Padahal, guru sudah menjelaskan kalau untuk memperbanyak kosa kata bisa dimulai dari hal-hal yang disukai seperti mendengarkan musik, menonton film berbahasa inggris, atau hal - hal lainnya. <br> Kosakata merupakan hal yang paling mendasar bagi peserta didik dalam belajar bahasa inggris, karena percuma mereka belajar bahasa inggris tapi tidak mengerti atau tidak paham arti dari kata tersebut. Selanjutnya, jika berbicara tentang kosakata maka harus berkaitan dengan pronunciation. Jika kosakata sudah cukup, hal yg perlu diperhatikan selanjutnya adalah cara membaca kata tersebut.  Faktanya, peserta didik sekarang juga memiliki kelemahan dibidang pronunciation. Ketika guru dikelas menyuruh peserta didik untuk membaca teks dalam bahasa inggris khususnya teks deskriptif, maka hal yang langsung terjadi adalah mereka berkata bahwa mereka tidak tahu bagaimana cara membaca kata tersebut dengan baik dan benar. Lalu, mereka juga akan merasa kurang percaya diri dalam mengucapkan kata tersebut karena mereka beranggapan bahwa mereka akan diejek oleh temannya jika cara membaca kata tersebut salah atau tidak sesuai dengan ketentuan yang seharusnya. Jadi, untuk masalah kepercayaan diri peserta didik dalam membaca teks berbahasa inggris khususnya teks deskriptif masih sangat kurang. <br> Selanjutnya, setelah beberapa permasalahan diatas, peserta didik juga dihadapkan dengan sulitnya mereka memahami atau mengerti struktur teks dan unsur kebahasaan dari teks berbahasa Inggris khususnya teks deskriptif. Peserta didik juga kesulitan dalam menentukan masing-masing bagian dari struktur dan unsur kebahasaan teks deskriptif itu sendiri. Dan untuk hasil belajar mereka pun mengalami penurunan. Ada beberapa anak yang lulus kkm atau diatas 70 dan ada juga yang tidak lulus kkm atau dibawah 70. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar mereka sehari -hari ketika kegiatan membaca teks deskriptif dikelas.<br> Dan pada akhirnya, dari keseluruhan permasalahan diatas dapat disimpulkan bahwa peserta didik sangat sulit untuk mengerti dan memahami teks berbahasa inggris khususnya teks deskriptif. Untuk itu, guru dituntut untuk memiliki sebuah strategi yang ampuh untuk menyelesaikan beberapa permasalahan diatas dalam hal membaca teks berbahasa inggris khususnya teks deskriptif. <br> Dalam kasus ini, ada beberapa strategi yang dapat menyelesaikan permasalahan diatas, salah satunya adalah THIEVES. Strategi ini dapat membantu peserta didik untuk memahami dan menguatkan latar belakang pengetahuan mereka khususnya dibidang membaca. Dengan kata lain, peserta didik mempunyai keinginan untuk belajar lebih dalam lagi terhadap konten atau isi teks deskriptif yang sedang mereka baca. <br><br><strong>B. Rumusan Masalah</strong><br> Dari latar belakang diatas, penulis dapat menyimpulkan beberapa rumusan masalah, diantaranya:<br>1. Bagaimanakah penerapan dari strategi THIEVES kepada peserta didik kelas X SMA N 3 Pangkalpinang tahun ajaran 2018/ 2019?<br>2. Apakah ada signifikan perbedaan rata-rata antara peserta didik yang diajarkan menggunakan THIEVES strategi dengan peserta didik yang diajarkan menggunakan non-THIEVES strategi?<br><br><strong>C. Tujuan dari Penelitian</strong><br> Dari rumusan masalah diatas, penulis menyimpulkan beberapa tujuan dari penelitian, diantaranya:<br>1. Untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan dari strategi THIEVES kepada peserta didik kelas X SMA N 3 Pangkalpinang tahun ajaran 2018/ 2019.<br>2. Untuk mengetahui apakah ada signifikan perbedaan rata-rata antara peserta didik yang diajarkan menggunakan THIEVES strategi dengan peserta didik yang diajarkan menggunakan non-THIEVES strategi.<br><br><strong>D. Manfaat dari Penelitian</strong><br> Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa berguna bagi semua pihak khususnya untuk guru, diantaranya:<br>1. Dengan dilakukannya PTK ini diharapkan guru mampu memberikan pengalaman yang berharga dalam melaksanakan penelitian ini dan menjadikan motivasi bagi guru untuk dapat melakukan penelitian tindakan kelas selanjutnya yang bermanfaat bagi perbaikan pembelajaran serta karier guru.<br>2. Guru dapat mengembangkan kreativitasnya untuk menciptakan pembelajaran-pembelajaran yang menarik khususnya dalam bidang membaca teks deskriptif berbahasa Inggris.<br><br><strong>BAB II<br>LANDASAN TEORI</strong><br><br><strong>A. Pengertian Membaca</strong><br> Membaca adalah salah satu kemampuan yang penting selain berbicara, menulis, dan mendengar. membaca memainkan peranan penting dalam membimbing peserta didik untuk sukses dalam pembelajaran berbahasa inggris. Seperti yang kita tahu, membaca adalah sebuah aktivitas dengan sebuah tujuan. Tujuan dari kegiatan membaca adalah untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih dari pengetahuan sebelumnya. <br> Beberapa ahli telah memberikan pengertian mereka mengenai definisi dari membaca. Menurut Richards (1992: 306) membaca adalah, “bentuk dari teks tertulis yang ditulis oleh penulis itu sendiri dengan tujuan untuk mendapatkan ide atau mengerti inti dari teks tersebut”. Pernyataan dari Richards itu sendiri hampir sama dengan pendapat dari Susan. Susan (2008: 139) mengatakan bahwa, “membaca adalah cara untuk membangun sebuah makna dari teks setelah pembaca membaca teks itu sendiri”. Sedangkan menurut Thorndike (1967: 127) membaca adalah proses berpikir atau bernalar. Dan, menurut Brown (2004: 185) membaca adalah “kemampuan yang sangat penting yang harus dikuasai oleh guru supaya lebih mengerti tentang teks”.<br> Oleh karena itu, membaca adalah kemampuan yang sangat penting dan sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran karena dengan membaca peserta didik bisa mengembangkan pengetahuan mereka dari teks yang sudah mereka baca sebelumnya.<br><br><strong>B. Tahapan Membaca</strong><br> Dalam proses membaca, beberapa langkah - langkah efektif yang diperlukan untuk mendapatkan hasil yang baik dari siswa dalam proses membaca. Seperti yang kita tahu, supaya berhasil dalam proses membaca, ada beberapa karakteristik yang harus kita tahu. Susan (2008: 176) mengatakan bahwa ada beberapa langkah yang harus dilakukan didalam membaca, seperti:<br>a. Sebelum membaca<br>Dalam hal ini, guru dituntut untuk membangun latar belakang pengetahuan peserta didik sebelum membaca. Guru bertanya seperti: apakah mereka pernah mendengar teks ini sebelumnya? Dari pertanyaan tersebut, jadi mereka akan tahu dan mengerti tentang teks dan mendapatkan kosakata yang baru dari teks tersebut.<br>b. Ketika membaca<br>Ketika proses membaca berlangsung, peranan guru adalah untuk mendukung tindakan peserta didik, dan jika peserta didik mempunyai masalah dalam membaca maka guru harus punya cara untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.<br>c. Setelah membaca<br>Ini adalah proses terakhir dari membaca. Guru mempunyai peran untuk mengatur kembali kegiatan selanjutnya untuk peserta didik supaya mereka menjadi orang yang bebas dalam membaca hal-hal yang berbau ilmu pengetahuan.   <br><br><strong>C. Manfaat dari Membaca</strong><br> Peserta didik harus melatih kemampuan membaca mereka setiap waktu, jadi kemampuan dan pengalaman membaca mereka akan meningkat. Menurut Mikuleckly (2004: IV) ada beberapa hal dari pentingnya membaca, antara lain:<br>1. Membaca tidak hanya focus terhadap kosakata, tetapi itu juga membantu peserta didik untuk belajar Bahasa Inggris<br>2. Membaca bisa menambah kosakata peserta didik sebanyak yang mereka bisa<br>3. Ketika membaca, otak kita tidak hanya fokus terhadap teks, tetapi hal tersebut juga membantu kita untuk menemukan ide – ide baru dari hal yang baru pula<br>4. Membaca bisa membantu kita untuk praktek berbicara dalam Bahasa Inggris jika sewaktu waktu kita ingin pergi ke luar negeri<br>5. Membaca sangatlah berguna untuk belajar di luar negeri<br> Oleh karena itu, membaca adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Hal tersebut bisa dimulai dari hal-hal yang terkecil. Semakin banyak kita membaca, maka semakin banyak pula pengetahuan yang kita dapatkan.<br><br><strong>D. Konsep dari Teks Deskriptif</strong><br>  Menurut Gerot dan Wignell (1994: 208) deskriptif teks memiliki fungsi sosial yakni untuk mendeskripsikan suatu objek, seperti: orang, tempat, atau hal-hal lainnya. Didalam teks deskriptif ada beberapa struktur teks, seperti:<br>a. Identifikasi : identifikasi suatu phenomena untuk dideskripsikan<br>b. Deskripsi : mendeskripsikan bagian-bagian, kualitas, dan karakter dari suatu objek yang ingin dideskripsikan<br> Setelah konsep diatas, dalam teks deskriptif ada yang dinamakan dengan unsur kebahasaan, antara lain:<br>a. Fokus terhadap satu peserta<br>b. Menggunakan kata yang menunjukkan prosesnya<br>c. Menggunakkan simple present tense<br><br><strong>E. Konsep Strategi THIEVES</strong><br> Konsep ini pertama kali dirumuskan oleh Manz, Jeff Zwiers (2004: 76)  THIEVES sendiri merupakan singkatan dari Title, Heading, Introduction, Every first sentence of paragraph, Visual, End of chapter, dan summary. Strategi ini sangat menarik untuk dipakai. Strategi ini menyuruh peserta didik untuk menjadi seorang pencuri yang mencuri ide-ide pokok dari teks, namun bukan pencuri dalam bidang kriminal tetapi pencuri dibidang ilmu pengetahuan. <br> Adapun beberapa prosedur yang harus diikuti dalam menerapkan strategi ini kepada peserta didik, antara lain:<br>1. Dari Title, peserta didik diharapkan mampu menebak tentang apa teks tersebut.<br>2. Dari Heading, peserta didik diharapkan mampu berpikir tentang detail dari teks tersebut untuk mendapatkan ide yang baru.<br>3. Dari Introduction, peserta didik diharapkan mampu menangkap ide pokok dari teks dengan cara melihat baris pertama dari paragraf pertama.<br>4. Dari Every First Sentence of Paragraph, diharapkan peserta didik mampu menangkap ide dari setiap parapraf – paragraf berikutnya.<br>5. Dari Visual, terkadang didalam teks ada beberapa gambar tentang isi dari teks tersebut. Diharapkan peserta didik dapat memahami isi dari teks melalui gambar.<br>6. Dari End of Chapter, diakhir paragraf peserta didik diharapkan mampu menyimpulkan isi dari cerita teks tersebut.<br>7. Dari Summary, setelah selesai membaca peserta didik diharapkan dapat menyimpulkan isi dari teks secara keseluruhan.<br><br><strong>F. Hipotesis</strong><br>Ho : Tidak ada perbedaan rata-rata antara peserta didik yang diajarkan menggunakan THIEVES strategi dengan peserta didik yang diajarkan menggunakan non-THIEVES strategi.<br>Ha : Ada perbedaan rata-rata antara peserta didik yang diajarkan menggunakan THIEVES strategi dengan peserta didik yang diajarkan menggunakan non-THIEVES strategi.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/337194992/790f2d4c25eb02c034b7a58c485fbcac/Snapchat_1980328611.jpg" />
         <pubDate>2018-11-28 11:31:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/308713065</guid>
      </item>
      <item>
         <title>MARINA HARDI (BK)</title>
         <author>marinapkp40</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/316771205</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>UPAYA PENINGKATAN KEDISIPLINAN SISWA PADA TINGKAT KEHADIRAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK PADA SISWA KELAS XI IPS SMAN 3 PANGKALPINANG TAHUN AJARAN 2018/2019</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/344830223/dabdf34b1fdcd81305a5d76f6c8390e5/PTK_MARINA__BK__SMAN_3_PKP.docx" />
         <pubDate>2018-12-28 03:21:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/316771205</guid>
      </item>
      <item>
         <title>MARINA HARDI (BK)</title>
         <author>marinapkp40</author>
         <link>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/316772010</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>UPAYA PENINGKATAN KEDISIPLINAN SISWA PADA TINGKAT KEHADIRAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK PADA SISWA KELAS XI IPS SMAN 3 PANGKALPINANG TAHUN AJARAN 2018/2019 <br></strong><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/344830223/89d746529e59ce5a4aaffc00a7aecb51/image.png" />
         <pubDate>2018-12-28 03:45:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aku_anaktiwul/40r0qtmibc60/wish/316772010</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
