<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Deep Shift 10: Smart City by jihan faradillah</title>
      <link>https://padlet.com/jihanfaradillah26/3pw8vqn20veda4k</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-02-28 13:16:56 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2026-02-08 08:59:41 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Contoh Smart Cities </title>
         <author>ynezpermatakala</author>
         <link>https://padlet.com/jihanfaradillah26/3pw8vqn20veda4k/wish/1250002489</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Tilang Elektronik </div><div>Penilangan secara elektronik sudah resmi di realisasikan oleh Polda Metro Jaya terhitung dari tanggal 1 Febuary 2020. Tilang elektronik ini menggunakan sistem kamera pengawas atau CCTV yang disebar di beberapa jalanan yang rawan pelanggaran lalu lintas. Di kota Bandung, operasi Tilang Elektronik ini dilakukan dengan cara memotret pengguna jalan saat sedang berhenti di lampu merah. </div><div><br>2. Panic Button </div><div>Beberapa institusi dan perusahaan di Indonesia, sudah mulai mensosialisasikan dan memasang <em>“Panic Button”</em> di daerah institusi atau perusahaan mereka. Secara teknis, <em>Panic Button</em> adalah tombol yang dapat ditekan oleh penggunanya, saat mereka sedang berada di situasi yang darurat. Sebagai salah satu contohnya, Telkom University sudah menerapkan penggunaan <em>Panic Button </em>ini di area kampusnya. </div><div><br>3. Aplikasi mCity </div><div>Aplikasi ini merupakan salah satu perwujudan Indonesia sebagai Smart City. aplikasi ini memuat informasi tentang destinasi pariwisata, akomodasi hotel, sampai dengan informasi kuliner yang khas di sebuah daerah. Pengguna aplikasi ini dapat mengakses aplikasi mCity dari ponselnya, kemudian mCity akan menyesuaikan konten yang ditampilkan, dengan lokasi pengguna berada. </div><div><br><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1046665861/3a6a187a347c5e1c7cd64f7ac29f8d75/19eb9ce5_cb90_46c9_906d_d641b175d89f_169.jpeg" />
         <pubDate>2021-02-28 13:32:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/jihanfaradillah26/3pw8vqn20veda4k/wish/1250002489</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Negative Impact</title>
         <author>ynezpermatakala</author>
         <link>https://padlet.com/jihanfaradillah26/3pw8vqn20veda4k/wish/1250012765</link>
         <description><![CDATA[<ul><li>Tight surveillance and see-through privacy</li></ul><div>Dengan adanya kota berbasis dan bergantung pada data, tentu hal tersebut akan dikuasai atau diakuisisi oleh pihak berwajib untuk mengatur segala kepentingan kota. <em>This thing were bound to happen</em>, karena apabila kita menyetujui untuk menjadi bagian dari <em>smart city </em>ini, berarti kita siap dengan segala data personal dan privasi untuk diketahui oleh manajemen atau otoritas yang berwenang dengan tujuan “personalisasi” lebih mudah dan mendalam. Di <em>smart city, </em>gambaran kedepannya adalah ketika kita memesan tiket, kita tidak perlu lagi menunjukkan banyak kartu atau mengeluarkan banyak uang kertas. Nantinya data yang diperlukan akan terkandung dalam satu keutuhan semisal kartu atau lewat smartphone <em>and that’s it. </em>Namun di lain sisi kemudahannya, berarti data kita itu tersebar dimana saja dan kita bisa teridentifikasi atau “terlihat” dimana saja, terutama oleh otoritas yang berwenang.</div><div><br></div><div><br></div><ul><li>Risk of collapse (total black out) if the energy system fails</li></ul><div>Salah satu ketakutan terbesar dari <em>smart city </em>ini adalah <em>power failure </em>atau <em>total blackout. </em>Bayangkan saja ketika kita di rumah dengan kompor listrik dan listrik mati, kita tidak bisa memasak. Beberapa hal konvensional, secara masif digantikan oleh mesin di <em>smart city </em>ini. Untuk naik subway, menggunakan listrik; untuk naik mobil (<em>props to Tesla</em>), menggunakan listrik; untuk mengakses internet pun kita butuh listrik; dan masih banyak contoh lainnya. Jika terjadi <em>total blackout </em>maka <em>smart city </em>dapat dikatakan tidak akan berjalan penuh.</div><div><br></div><ul><li>Increased vulnerability to cyberattacks</li></ul><div><em>Cyber attacks </em>adalah salah satu ketakutan terbesar lainnya. Sama dengan poin pertama di atas, dengan tersebarnya data personal dan privasi kita itu juga berarti kita terekspos dengan adanya <em>cyber attacks</em>. Data yang seharusnya hanya dimiliki oleh otoritas berwenang, juga memiliki tingkat riskan yang sangat tinggi untuk dibobol oleh orang yang tidak bertanggung jawab. <em>No matter how sweet or convenient it may be, when our data is being held by the authorities means it is also on the brink of being exposed to those who want nothing less than self-profit from us.</em></div><div><br></div><div><br></div><ul><li>Massive shift from human to automated-machine power</li></ul><div>Tentu saja dengan perubahan <em>smart city </em>dari sistem konvensional ke digital juga berarti menggantikan beberapa pekerjaan dari tenaga manusia dengan <em>automated-machine power </em>dengan berbagai alasan. <em>Mostly </em>karena ingin meningkatkan tingkat efisiensi dan <em>little to none human error.</em></div><div><br></div><div><br><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-02-28 13:38:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/jihanfaradillah26/3pw8vqn20veda4k/wish/1250012765</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Unknown or Cuts Both Ways </title>
         <author>ynezpermatakala</author>
         <link>https://padlet.com/jihanfaradillah26/3pw8vqn20veda4k/wish/1250018560</link>
         <description><![CDATA[<div>- Dampak pada budaya dan nuansa kota<br><br>Dampak pada budaya ini budaya yang memiliki ide, prespektif maupun citra dan berbagai fenomena lainnya secara tidak langsung yang disepakati oleh masyarakat secara bersama di dalam satu arus maupun tren dalam masyarakat. Pada umumnya akan membuat suatu tren baru yang berkelanjutan dan akan membuat seniman-seniman baru lahir dengan sebuah kefamiliaran baru yang terus dikonsumsi oleh masyarakat. Dampak positif maupun negatif akan terus ada dalam perkembangan pola hidup manusia sehingga budaya populer seringkali dikaitkan dengan citra yang buruk di masyarakat. Contoh lain seperti KFC di Indonesia yang memiliki menu baru yaitu perkedel kentang, hal ini adalah suatu glokalisasi yang tercipta karena faktor globalisasi maupun budaya populer yang memilki perbedaan persepsi ataupun nilai kebiasaan masyarakat lokal setempat.<br><br><br>- Perubahan habitus individu kota<br>Perubahan habitus pada individu kota ini terjadi pada kota-kota besar yang mempengaruhi menjadi lingkungan  perkotaan  pada  dasarnya  timbul  karena  meningkatnya  populasi  penduduk  di  wilayah  perkotaan  tersebut  yang  menuntut  peningkatan  penyediaan   infrastruktur   perkotaan   tersebut. Fenomena   semacam ini pada akhirnya akan berakibat pada perubahan pengembangan  lingkungan  fisik  dan  tata  kota  yang  lebih  menekankan	pada    aspek	ekonomi	daripada    aspek	lingkungannya  	(termasuk  	nilai      historisnya)  	yang  	mengakibatkan  kota  tersebut  tidak  nyaman,  aman,  indah, bersih,  dan  sehat  untuk  ditinggali.  Selain  itu,  disamping  permasalahan   banjir   yang   sering   terjadi   pada   musim   penghujan	dan    kemacetan	kendaraan	akibat    terlalu	banyaknya  jumlah  kendaraan  bermotor.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-02-28 13:42:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/jihanfaradillah26/3pw8vqn20veda4k/wish/1250018560</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pengertian </title>
         <author>ynezpermatakala</author>
         <link>https://padlet.com/jihanfaradillah26/3pw8vqn20veda4k/wish/1250021538</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Menurut Caragliu, Del Bo dan Nijkmp (2009)</strong>, smart city adalah kota yang mampu menggunakan SDM, modal sosial dan infrastruktur telekomunikasi modern untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan kualitas kehidupan yang tinggi, dengan manajemen sumber daya yang bijaksana melalui pemerintahan berbasis partisipasi masyarakat.</div><div><br></div><div>Smart cities merupakan sebuah kota yang sudah menerapkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai efektifitas pengelolaan kota sehari-hari yang didukung oleh kombinasi yang pintar (smart) dari segala aktivitas, kajian, penemuan, serta kesadaran dari masyarakat kota tersebut. Smart cities diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi pemerintahan, kehidupan sosial masyarakat, transportasi, kualitas hidup, persaingan yang sehat di segala bidang, dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.</div><div><br><br></div>]]></description>
         <pubDate>2021-02-28 13:44:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/jihanfaradillah26/3pw8vqn20veda4k/wish/1250021538</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Positive Impact</title>
         <author>jihanfaradillah26</author>
         <link>https://padlet.com/jihanfaradillah26/3pw8vqn20veda4k/wish/1250153337</link>
         <description><![CDATA[<ul><li><strong>Efficient distribution of resources</strong> </li></ul><div>Smart City memiliki organisasi dan infrastruktur yang lebih baik secara keseluruhan. Semua sektor terlibat dalam interaksi yang kompleks yang menyederhanakan kehidupan sehari-hari bagi masyarakat yang tinggal dan bekerja di kota. <br><br></div><ul><li><strong>Seamless communication</strong></li></ul><div><br></div><div>Komunikasi antara berbagai sistem dan sensor di Smart City sangat penting. Faktanya, tanpa mereka, Smart City tidak dapat mendistribusikan kembali sumber daya secara efisien dan membuat kehidupan warganya lebih baik. Namun, Smart City menghadirkan komunikasi yang berbeda dan sama-sama efisien - komunikasi antara warga dan pemerintah kota tertentu.</div><div><br></div><ul><li><strong>Enhanced citizen and government engagement</strong></li></ul><div><br></div><div>Penduduk sekarang berharap banyak dari kota mereka, dan mereka ingin mendapatkan layanan digital yang kuat dan ramah pengguna. Alat kolaborasi, situs web intuitif, portal swalayan, dan aplikasi seluler semuanya telah menjadi standar di setiap aspek kehidupan, dan warga berharap tidak kurang dari kota mereka. Memperluas layanan digital di masyarakat dapat membuat kota lebih menarik bagi masyarakat untuk tinggal di dalamnya.</div><div><br></div><ul><li><strong>Reduced environmental footprint (Mengurangi jejak pencemaran lingkungan)</strong></li></ul><div><br></div><div>Sensor kualitas udara di kota dapat membantu menentukan dan melacak kualitas udara yang rendah dan mengidentifikasi penyebab polusi, serta menyampaikan data yang relevan sehingga tindakan yang tepat dapat diambil. Sensor ini sejauh ini membantu mengurangi polusi udara di kota-kota berpenduduk.</div><div><br><br></div><div><br><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-02-28 14:59:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/jihanfaradillah26/3pw8vqn20veda4k/wish/1250153337</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
