<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>TUGAS KLP KLS XII IPS 4 (3) by kasman rejadi</title>
      <link>https://padlet.com/kasmangeo/3jm9gisrrfql</link>
      <description>PUSAT PERTUMBUHAN</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2017-08-23 03:11:19 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-11-06 07:19:47 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>        Bluee</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kasmangeo/3jm9gisrrfql/wish/182243043</link>
         <description><![CDATA[<div><br>1. Muh Fajar Ramadhan<br>2. Nur Atira Ramadani<br>3. Nur Azizah Amir<br>4. Nilasary<br>5. Dania<br>&nbsp; &nbsp;<br>&nbsp; <strong>Teori Potensi Penduduk<br><br>&nbsp;</strong>Teori&nbsp;ini pertama kali di kemukakan oleh Sir Issac Newton (1687) dalam ilmu fisika.<strong> </strong>Potensi penduduk adalah suatu analisa kuantitatif mengenai tingkat potensi suatu tempat/daerah untuk berkembang. <br>Teori ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan suatu wilayah, misalnya pengadaan rumah sakit, terminal, pasar.<br><br>Nilai potensi penduduk suatu wilayah digambarkan dengan garis-garis khayal pada peta yang menghubungkan tempat-tempat yang memiliki nilai potensi penduduk yang sama. <br><br>Latar belakang teori penduduk<br>1.pertumbuhan penduduk pesat (dalam 2 abad bertambah 3x lipat) <br>2.Revolusi industri abad ke 17 di Eropa menyebabkan penduduk melarat<br><br>Contoh potensi penduduk <br><strong>Urbanisasi</strong> adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota.<br> Penyebab terjadinya urbanisasi yaiutu :<br>-Kurangnya lapangan kerja di desa<br>-Upah tenaga kerja di desa masih rendah<br><br>Upaya Mengatasi Urbanisasi</div><div><br></div><div>1) Peningkatan kualitas fasilitas di desa.<br>2) Pemerataan pembangunan ke daerah pedesaan.<br>3) Desentralisasi industri kecil ke desa-desa<br><br><br><br><br><br><br></div><div><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padletuploads.blob.core.windows.net/prod/212759825/cd94daeb0bc83c3ec97eb795cae1ca62/images__1_.jpg" />
         <pubDate>2017-08-23 03:19:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kasmangeo/3jm9gisrrfql/wish/182243043</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PELANGI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kasmangeo/3jm9gisrrfql/wish/182243116</link>
         <description><![CDATA[<div>1.Tasya Ainun Julia<br>2.Aprianti Etxlesia<br>3.Melyna<br>4.Erisfa Ramadhani<br>5.Nur Alifa F<br><br>•TEORI GRAFIK•<br>Salah satu faktor yang mendukung kekuatan dan intensitas interaksi antarwilayah adalah kondisi prasarana transportasi yang menghubungkan suatu wilayah dengan wilayah lain di sekitarnya. Jumlah dan kualitas prasarana jalan, baik jalan raya, jalur udara, maupun laut, tentunya sangat memperlancar laju dan pergerakan distribusi manusia, barang, dan jasa antarwilayah.<br><br>Sebagai contoh, dua wilayah yang dihubung kan dengan satu jalur jalan tentunya memiliki kemungkinan hubungan penduduknya jauh lebih kecil dibandingkan dengan dua wilayah yang memiliki jalur transportasi yang lebih banyak.<br><br>K.J. Kansky mengembangkan Teori Grafik dengan membandingkan jumlah kota atau daerah yang memiliki banyak rute jalan sebagai sarana penghubung kota-kota tersebut. Menurut Kansky, kekuatan interaksi ditentukan dengan Indeks Konektivitas. Semakin tinggi nilai indeks, semakin banyak jaringan jalan yang menghubungkan kota-kota atau wilayah yang sedang dikaji. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap potensi pergerakan manusia, barang, dan jasa karena prasarana jalan sangat memperlancar tingkat mobilitas antarwilayah.&nbsp;<br><br>Untuk menghitung indeks konektivitas ini digunakan rumus sebagai berikut.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padletuploads.blob.core.windows.net/prod/215892549/c04ef17d5046350dd0e67055ddf9db25/IMG_0481.png" />
         <pubDate>2017-08-23 03:19:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kasmangeo/3jm9gisrrfql/wish/182243116</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bakso Formalin</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kasmangeo/3jm9gisrrfql/wish/182243719</link>
         <description><![CDATA[<div>1.Andi Dian<br>2.Asti<br>3.Ariani<br>4.Noer Adhityanthi<br>5.Nurindah<br><br>TEORI SEKTORAL<br>Munculnya ide untuk mempertimbangkan variabel sector pertama kali dikemukakan oleh Hoyt (1939) mengenai pola-pola sewa rumah tinggal pada kota-kota di Amerika Serikat. Pola kosentris dikemukakan oleh Burges ternyata pola sewa tempat tinggal pada kota-kota di Amerika cenderung berbentuki pola sector. Menurut Hoyt kunci terhadap perletakan sector initerlihat pada lokasi daripada “high quality areas” (daerah-daerah yang berkualitas tinggi untuk tempat tinggal). Kecenderungan penduduk untuk bertempat tinggal adalah pada daerah-daerah yang dianggap nyaman dalam arti luas.<br><br>di dalam teori sektor dibagi menjadi 5 zona berikut pembagiannya:<br>Zona 1: Daerah Pusat Bisnis</div><div>Deskripsi anatomisnya sama dengan zona 1 dalam teori konsentris, merupakan pusat kota dan pusat bisnis.</div><div><br></div><div>Zona 2: Daerah Industri Kecil dan Perdagangan</div><div>Terdiri dari kegiatan pabrik ringan, terletak diujung&nbsp; kota dan jauh dari kota menjari ke arah luar. Persebaran zona ini dipengaruhi oleh peranan jalur transportasi dan komunikasi yang berfungsi menghubungkan zona ini dengan pusat bisnis.</div><div><br></div><div>Zona 3: Daerah pemukiman kelas rendah</div><div>Dihuni oleh penduduk yang mempunyai kemampuan ekonomi lemah. Sebagian zona ini membentuk persebaran yang memanjang di mana biasanya sangat dipengaruhi oleh adanya rute transportasi dan komunikasi. Walaupun begitu faktor penentu langsung terhadap persebaran pada zona ini bukanlah jalur transportasi dan komunikasi melainkan keberadaan pabrik-pabrik dan industri-industri yang memberikan harapan banyaknya lapangan pekerjaan.</div><div><br></div><div>Zona 4: Daerah pemukiman kelas menengah</div><div>Kemapanan Ekonomi penghuni yang berasal dari zona 3 memungkinkanya tidak perlu lagi bertempat tinggal dekat dengan tempat kerja. Golongan ini dalam taraf kondisi kemampuan ekonomi yang menanjak dan semakin baik.</div><div><br></div><div>Zona 5: Daerah pemukiman kelas tinggi</div><div>Daerah ini dihuni penduduk dengan penghasilan yang tinggi. Kelompok ini disebut sebagai “status seekers”, yaitu orang-orang yang sangat kuat status ekonominya dan berusaha mencari pengakuan orang lain dalam hal ketinggian status sosialnya.<br><br></div><div><strong>&nbsp;&nbsp;</strong></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2017-08-23 03:23:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kasmangeo/3jm9gisrrfql/wish/182243719</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kita Punggawa Dech</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kasmangeo/3jm9gisrrfql/wish/182243756</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Andi Ryas Latemmu<br>2. Afifah Tasya Amaliah<br>3. Aura Chaerunnisa<br>4. Nabila Rahmadanti<br>5. Tasya Shafira MJ <br>6. Yasmin Alesadara <br><br></div><blockquote>          <strong>Pusat pertumbuhan <br>             (Growth Poles) <br></strong><br></blockquote><div>Teori ini dikembangkan oleh ahli ekonomi Perancis Francois Perroux pada tahun 1955. Inti dari teori ini ahwa pertumbuhan ekonomi di tiap daerah tidak terjadi di sembarang tempat melainkan di lokasi tertentu yang disebut<strong> kutub pertumbuhan</strong>. Nah, untuk mencapai tingkat pendapatan tinggi harus dibangun beberapa tempat pusat kegiatan ekonomi yang disebut dengan <em>growth pole (kutub pertumbuhan). </em>Pandangan Perroux mengenai proses pertumbuhan adalah teori tata ruang ekonomi, dimana <strong>industri pendorong memiliki peranan awal dalam membangun sebuah pusat pertumbuhan. <br><br></strong>Berikut ini ciri-ciri yang harus dimiliki <strong>Industri Pendorong </strong>seperti yang dijelaskan sebelumnya;<br><em>1. Tingkat konsentrasi tinggi<br></em><br></div><div><em>2. Tingkat Teknologi Maju<br></em><br></div><div><em>3. Mendorong perkembangan industri di sekitarnya<br></em><br></div><div><em>4. Manajemen yang professional dan modern</em><br><br></div><div><em>5. sarana dan prasarana yang sudah lengkap</em></div><div><br>Untuk lebih jelasnya ada pada di gambar ini!<br>[ <a href="http://3.bp.blogspot.com/-EafaJ6DvfPU/Uo9e69oxL2I/AAAAAAAAAB0/4x5xA4dK06I/s1600/terminalgrowthpole.png">http://3.bp.blogspot.com/-EafaJ6DvfPU/Uo9e69oxL2I/AAAAAAAAAB0/4x5xA4dK06I/s1600/terminalgrowthpole.png</a> ]</div><div><br>Konsep Growth pole dapat didefinisikan secara geografis dan fungsional, antara lain!<br><br><strong>Secara geografis</strong> growth pole dapat digambarkan sebagai suatu lokasi yang memiliki fasilitas dan kemudahan sehingga menimbulkan daya tarik bagi berbagai kalangan untuk mendirikan berbagai macam usaha di daerah tersebut dan masyarakat senang memanfaatkan fasilitas tersebut.<br><br></div><div><strong>Secara fungsional </strong>growth pole dapat diartikan sebagai suatu lokasi konsentrasi kelompok ekonomi antara lain; industri, bisnis dll yang mengakibatkan pengaruh ekonomi ke dalam  maupun keluar wilayah tersebut.</div><div><br><strong><em>Penjelasan secara detail mengenai teori pusat pertumbuhan terdapat dalam video di bawah ini.</em></strong></div>]]></description>
         <enclosure url="https://www.youtube.com/watch?v=UruIkylDHGw&amp;t=28s" />
         <pubDate>2017-08-23 03:23:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kasmangeo/3jm9gisrrfql/wish/182243756</guid>
      </item>
      <item>
         <title>RoG (Republic Of Geographic)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kasmangeo/3jm9gisrrfql/wish/182243908</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Habib Mahfudz Ismail<br>2. Muhammad Naufal Assagaf<br>3. Fiqry Fahrezy<br>4. Muhammad Maula Abi Hudzayfah<br>5. Muhammad Wahyu Syawal<br><br><br><br>👉Central Place Theory<br>(Teori Tempat Sentral)<br><br><em>Central Place theory </em>dikemukakan oleh Walter Christaller pada 1933. Teori ini menyatakan bahwa suatu lokasi dapat melayani berbagai kebutuhan&nbsp; yang terletak pada suatu tempat yang disebutnya sebagai tempat sentral. Tempat sentral tersebut memiliki tingkatan-tingkatan tertentu sesuai kemampuannya melayani kebutuhan wilayah tersebut. Bentuk pelayanan tersebut digambarkan dalam segi enam/heksagonal. Teori ini dapat berlaku apabila memiliki karakteristik sebagai berikut<br><br></div><div>1. wilayahnya datar dan tidak berbukit<br><br></div><div>2. tingkat ekonomi dan daya beli penduduk relatif sama<br><br></div><div>3. penduduk memiliki kesempatan yang sama untuk bergerak ke berbagai arah<br><br><br>🌏 ( <a href="https://agnazgeograph.files.wordpress.com/2013/01/centralplace.gif">https://agnazgeograph.files.wordpress.com/2013/01/centralplace.gif</a> )<br><br>Secara hierarki Central Place Theory dibagi menjadi 3 tingkatan pelayanan<br><br></div><div>1. Herarkri K 3<br><br></div><div>Merupakan pusat pelayanan pasar optimum dimana tempat sentral tersebut selalu menyediakan kebutuhan barang-barang pasar untuk daerah disekitarnya.<br><br></div><div>2. Hierarki K 4<br><br></div><div>Merupakan pusat lalu lintas/transportasi maksimum dimana tempat sentral tersebut menyediakan sarana dan prasarana lalu-lintas yang optimal.<br><br></div><div>3. Hierarki K 7<br><br></div><div>Merupakan pusat pemerintahan optimum dimana tempat sentral tersebut merupakan sebuah pusat pemerintahan<br><br>🌏 ( <a href="https://agnazgeograph.files.wordpress.com/2013/01/1-s2-0-s016604629800026x-gr3.gif">https://agnazgeograph.files.wordpress.com/2013/01/1-s2-0-s016604629800026x-gr3.gif</a> )<br><br>Teori pada prinsipnya bersifat statis dan tidak memikirkan pola&nbsp; pembangunan di masa yang akan datang akan tetapi dasar tentang hierarki suatu pusat pelayanan sangat membantu dalam hal perencanaan pembangunan sebuah wilayah/kota.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padletuploads.blob.core.windows.net/prod/213650364/701ce1a885d6468be906e9a9dfefbe6e/1_s2_0_s016604629800026x_gr3.gif" />
         <pubDate>2017-08-23 03:24:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kasmangeo/3jm9gisrrfql/wish/182243908</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gerakan 1000 Pohon</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kasmangeo/3jm9gisrrfql/wish/182244510</link>
         <description><![CDATA[<div>Farhan Rahmat<br>Dirga indika<br>Muhammad yusuf<br>Dandy HipHop<br>Danu jelek<br><br>Teori Titik Henti (Breaking Point Theory)</div><div><br></div><div>Pada tahun Pada tahun 1931, William J Reilly mengemukakan sebuah teori yang sekarang dengan teori titik henti. Teori titik henti adalah teori yang digunakan untuk mengetahui jarak maksimal daerah hinterland perdagangan sebuah kota. Reilly menerapkan hukum fisika tentang gravitasi untuk mengukur kekuatan perdagangan barang antara dua kota. Reilly menemukan sebuah konsep yang menunjukkan bahwa jika kedua kota memiliki jumlah penduduk sama maka batas area perdagangan mereka tepat ditengah-tengan jarak yang memisahkan keduanya. Jika salah satu kota memiliki jumlah penduduk yang lebih besar maka jarak area pemasaran akan semakin mendekati kota yang lebih kecil. Pengukuran jarak batas area pemasaran ini telah dirumuskan dengan rumus titik henti secara matematis.</div><div>Teori titik henti adalah teori yang dapat dimanfaatkan dalam kajian keruangan geografi. Teori titik henti dapat menjadi dasar pembatasan wilayah-wilayah fungsional. Penggunaan teori titik henti dapat menggeser metode krigging (Poligon Thiessen) untuk kasus atau tema tertentu. Pembatasan wilayah fungsional menggunakan teori titik henti akan menghasilkan wilayah-wilayah fungsional yang luasnya disesuaikan dengan ukuran masing-masing nodal yang membentuknya. Nodal berukuran besar memiliki wilayah yang lebih luas dan sebaliknya. Hal ini sesuai dengan hukum fisika yang dipakai oleh Reilly dalam merumuskan teori titik henti.</div><div>Penerapan teori titik henti dalam geografi mempermudah pembatasan wilayah fungsional yang terlalu sulit dilakukan dengan metode survei lapangan. Sehingga, penerapan teori titik henti dapat menjadi alternatif pembatasan wilayah sosial. Penggunaan teori titik henti dalam pembuatan wilayah geografi dapat dilakukan terhadap banyak hal, seperti: analisis terhadap wilayah pemasaran, analisis konflik, analisis pengaruh pusat industri, dan sebagainya.</div><div>Teori Titik Henti (Breaking Point Theory) merupakan hasil modifikasi dari Model Gravitasi Reilly. Teori ini memberikan gambaran tentang perkiraan posisi garis batas yang memisahkan wilayah-wilayah perdagangan dari dua kota atau wilayah yang berbeda jumlah dan komposisi penduduknya. Teori Titik Henti juga dapat digunakan dalam memperkirakan penempatan lokasi industri atau pusat pelayanan masyarakat. Penempatan dilakukan di antara dua wilayah yang berbeda jumlah penduduknya agar terjangkau oleh penduduk setiap wilayah.</div><div><br></div><div>Teori ini digunakan untuk:</div><div><br></div><div>1.Menentukan lokasi suatu unit usaha ekonomi (pasar, SPBU, shopping center)</div><div><br></div><div>2.Menentukan lokasi sarana kesehatan (rumah sakit, klinik)</div><div><br></div><div>3.Menentukan lokasi sarana pendidikan (sekolah, kampus, pusdiklat)</div><div><br></div><div>Teori ini dapat digunakan jika memenuhi beberapa syarat yaitu:</div><div><br></div><div>1.Keadaan ekonomi penduduk relatif sama</div><div><br></div><div>2.Topografi wilayah datar</div><div><br></div><div>3.Sarana prasarana transportasi memadai</div><div><br></div><div>4.Daya beli masyarakat sama</div><div><br></div><div>Inti dari teori ini adalah bahwa jarak titik henti (titik pisah) dari lokasi pusat perdagangan (atau pelayanan sosial lainnya) yang lebih kecil ukurannya adalah berbanding lurus dengan jarak antara kedua pusat perdagangan. Namun, berbanding terbalik dengan satu ditambah akar kuadrat jumlah penduduk dari kota atau wilayah yang penduduknya lebih besar dibagi jumlah penduduk kota yang lebih sedikit penduduknya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2017-08-23 03:30:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kasmangeo/3jm9gisrrfql/wish/182244510</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KHATULISTIWA</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kasmangeo/3jm9gisrrfql/wish/182244743</link>
         <description><![CDATA[<div>Indrayanto<br>Muhammad Riri<br>Muh Alfarizi&nbsp;<br>Muh Sahriyal&nbsp;<br>Muh Arif Ramadhan&nbsp;<br><br>KOTA KOTA PUSAT PERTUMBUHAN DI INDONESIA&nbsp;<br><br><br>Wilayah pembangunan utama di Indonesia dibagi menjadi 4 region utama berikut.<br><br>1. Wilayah Pembangunan Utama A, dengan pusat pertumbuhan utama adalah Kota Medan. Wilayah ini meliputi:<br>Wilayah Pembangunan I, meliputi daerah-daerah Aceh dan Sumatera Utara.<br>Wilayah Pembangunan II, meliputi daerah-daerah di Sumatera Barat dan Riau, dengan pusatnya di Pekanbaru.<br><br>2. Wilayah Pembangunan Utama B, dengan pusat pertumbuhan utama adalah Jakarta. Wilayah ini meliputi:<br>Wilayah Pembangunan III, meliputi daerah-daerah Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu. Wilayahnya berpusat di Palembang.<br>Wilayah Pembangunan IV, meliputi daerah-daerah Lampung, Jakarta, Jawa Barat, Jawa tengah, dan D.I. Yogyakarta. Wilayahnya berpusat di Jakarta.<br>Wilayah Pembangunan VI, meliputi daerah-daerah di Kalimantan Barat. Wilayahnya berpusat di Pontianak.<br><br>3. Wilayah Pembangunan Utama C, dengan pusat pertumbuhannya utama adalah Surabaya. Wilayah ini meliputi:<br>Wilayah Pembangunan V, meliputi daerah-daerah di Jawa Timur, dan Bali. Wilayah ini berpusat di Surabaya.<br>Wilayah Pembangunan VII, meliputi daerah-daerah di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Wilayah ini berpusat di Balikpapan dan Samarinda.<br><br>4. Wilayah Pembangunan Utama D, dengan pusat pertumbuhan utama adalah Makassar. Wilayah ini meliputi:<br>Wilayah Pembangunan VIII, meliputi daerah-daerah di NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara. Wilayah ini berpusat di Makassar.<br>Wilayah Pembangunan IX, meliputi daerah-daerah Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. Wilayah ini berpusat di Manado.<br>Wilayah Pembangunan X, meliputi daerah-daerah di Maluku (termasuk Maluku Utara dan Irian Jaya (Papua). Wilayah ini berpusat di Kota Sorong.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padletuploads.blob.core.windows.net/prod/212759257/19c8556a92f8fe4212c9971087c03221/11_29_58_regionalisasi.jpg" />
         <pubDate>2017-08-23 03:32:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kasmangeo/3jm9gisrrfql/wish/182244743</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
