<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Markah by Rio Ritchie</title>
      <link>https://padlet.com/ritchielierio/Bookmarks</link>
      <description>Dibuat dengan kedipan dan senyuman</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-10-11 11:31:46 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2021-10-19 03:19:00 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Masalah pertumbuhan dan perkembangan ekonomi (Indonesia) : Krisis Moneter                       (Penyebab) </title>
         <author>ritchielierio</author>
         <link>https://padlet.com/ritchielierio/Bookmarks/wish/1807369330</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Salah satu masalah ekonomi yang pernah dialami Indonesia adalah krisis moneter pada tahun 1997-8 yang menyebabkan lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan oleh para mahasiswa. Ada berbagai penyebab dari krisis moneter yang berujung pada kerusuhan tahun 98 ini , seperti&nbsp;<br><br></div><div>1. Rupiah Anjlok<br><br></div><div>Tahun 1997 bisa jadi awal indikasi terjadinya krisis moneter 1998, dimulai dari bulan Agustus nilai mata uang rupiah terus terjun bebas dan mencapai nilai terendah di bulan berikutnya, September. Hanya dalam jangka waktu setahun, yang awalnya kedudukan nilai mata uang rupiah berada di angka Rp 2.380 per satu dolarnya, mengalami penurunan hingga 600 persen. Puncaknya pada bulan Juli 1998, nilai mata uang rupiah benar-benar terpuruk, titik tukar rupiah ke dalam dolar mencapai Rp 16.650. Meski pada 31 Desember 1998 nilai rupiah mulai bangkit dan dihargai Rp 8.000 per dolarnya, hal ini tak banyak memberi pengaruh sebab ekonomi rakyat sudah sangat terpuruk.<br><br></div><div>2. Membengkaknya utang luar negeri<br><br></div><div>Selain anjloknya nilai mata uang rupiah pada 1997 sampai 1998, krisis moneter tersebut juga dipicu oleh membengkaknya angka utang luar negeri oleh swasta. Yakni, pada Maret 1998, 72,5 miliar dolar AS dari 138 miliar dolar AS merupakan utang swasta yang dua dari tiga utang tersebut merupakan utang jangka pendek yang jatuh tempo masa tenggat pembayaran di tahun tersebut. Sementara cadangan devisa senilai 14.44 miliar dolar AS yang dimiliki Indonesia jauh dari kata cukup untuk membayar utang, apalagi beserta bunganya. Faktor utang luar negeri yang membengkak itulah yang menjadi salah satu penyebab perekonomian Indonesia mendapatkan tekanan berat.<br><br></div><div>3. Krisis kepercayaan<br><br></div><div>Kebijakan pemerintah dalam menangani krisis keuangan yang dinilai cukup plin plan dan blunder menyebabkan kepercayaan masyarakat dan pasar mulai runtuh. Ditambah lagi dengan kondisi kedua Presiden Soeharto yang kian memburuk membuat suksesi mengalami ketidakpastian. Akibatnya investor asing enggan memberikan bantuan finansial secara cepat. Hal inilah yang juga menjadi sebab krisis moneter 1998.<br><br></div><div>4. Paket Solusi IMF yang Berujung Kegagalan<br><br></div><div>IMF<a href="https://www.tempo.co/tag/imf"> </a>sebagai organisasi dana moneter internasional sempat memberikan sejumlah solusi untuk membantu Indonesia menanggulangi krisis moneter dengan menawarkan paket reformasi keuangan. Alih-alih solusi tersebut membawa dampak yang bagus, paket reformasi keuangan yang dianjurkan IMF malah membuat nasabah memutuskan untuk menarik dana besar-besaran. Kondisi ini makin memperparah krisis ekonomi 1998, sebab membuat bank-bank memberikan pinjaman secara terbatas, di sisi lain Bank Indonesia juga harus menggelontorkan dana yang tidak sedikit dan krisis moneter terus berlanjut dan makin parah.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-11 11:44:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ritchielierio/Bookmarks/wish/1807369330</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Profil Singkat Indonesia </title>
         <author>ritchielierio</author>
         <link>https://padlet.com/ritchielierio/Bookmarks/wish/1807369912</link>
         <description><![CDATA[<div>Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak di Asia Tenggara. Jumlah pulau yang dimiliki oleh Indonesia adalah sebanyak 17.508 pulau dengan keseluruhan luas wilayahnya adalah sebesar 1,904,569 km2. Pulau-pulau utama Indonesia adalah Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Pulau Sulawesi dan Pulau Papua. Sebagai Negara Kepulauan Terbesar di dunia, Indonesia juga merupakan salah satu negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia.<br><br></div><div>Secara astronomis, Indonesia yang berada diantara Benua Asia dan Benua Australia ini terletak di antara 6°LU – 11°08’LS dan dari 95°’BT – 141°45’BT. Secara geografis , Indonesia diapit oleh dua benua,  Asia dan Australia  , juga berada diantara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia serta dilintasi oleh garis khatulistiwa. Indonesia berbatasan darat dengan negara Papua Nugini di Pulau Papua, Malaysia di pulau Kalimantan dan Timor Leste di Pulau Timor. Sedangkan Negara yang berbatasan laut dengan Indonesia adalah Singapura, Filipina, Australia dan India (Kepulauan Andaman dan Nikobar).<br><br></div><div>Indonesia memiliki populasi sebanyak 275.122.131 jiwa (2021) dengan mayoritas penduduknya adalah&nbsp; penganut agama Islam (sekitar 87,2%). Jumlah penduduk sebanyak 275 juta jiwa tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia sekaligus juga merupakan negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia (sekitar 227 juta jiwa penduduk Indonesia adalah beragama Islam).<br><br></div><div>Dalam bentuk pemerintahannya, Indonesia menganut sistem pemerintahaan Republik Presidensil yang Kepala Negara dan Kepala Pemerintahannya dipegang oleh seorang Presiden. Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia dipilih langsung oleh Rakyat Indonesia melalui Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) diselenggarakan 5 Tahun sekali. Nama lengkap Indonesia adalah Republik Indonesia dengan Ibukotanya adalah Kota Jakarta.<br><br></div><div>Dalam hubungan Luar Negeri, Indonesia merupakan negara anggota PBB dan negara anggota lembaga-lembaga yang berada dibawah PBB. Republik Indonesia juga merupakan negara anggota APEC, ASEAN, G-20, ADB, OKI, IORA dan organisasi-organisasi Internasional lainnya. Indonesia adalah salah satu negara pendiri ASEAN.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-11 11:45:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ritchielierio/Bookmarks/wish/1807369912</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Masalah pertumbuhan dan perkembangan ekonomi (Indonesia) : Krisis Moneter                       (Akibat) </title>
         <author>ritchielierio</author>
         <link>https://padlet.com/ritchielierio/Bookmarks/wish/1823261734</link>
         <description><![CDATA[<div>Berikut beberapa dampak resesi ekonomi di Indonesia tahun 1998:&nbsp;<br><br>1. Rupiah jatuh&nbsp;<br>Krisis ekonomi Indonesia bahkan tercatat sebagai yang terparah di Asia Tenggara. Dampak resesi ekonomi seperti efek bola salju, krisis yang semula hanya berawal dari krisis nilai tukar baht di Thailand 2 Juli 1997, dalam tahun 1998 dengan cepat berkembang menjadi krisis ekonomi di Asia Tenggara. Terpuruknya kepercayaan ke titik nol membuat rupiah yang ditutup pada level Rp 4.850/dollar AS pada tahun 1997, meluncur dengan cepat ke level sekitar Rp 17.000/dollar AS pada 22 Januari 1998. Rupiah terdepresiasi lebih dari 80 persen sejak mata uang tersebut diambangkan 14 Agustus 1997.<br><br>2. Utang luar negeri membengkak&nbsp;<br>Salah satu faktor yang memperparah penyebab resesi ekonomi Indonesia adalah besarnya utang luar negeri Indonesia dalam bentuk valuta asing, baik utang pemerintah, BUMN, maupun perusahaan swasta. Dari total utang luar negeri per Maret 1998 yang mencapai 138 miliar dollar AS, sekitar 72,5 miliar dollar AS adalah utang swasta yang dua pertiganya jangka pendek, di mana sekitar 20 miliar dollar AS akan jatuh tempo dalam tahun 1998. &nbsp; Sementara pada saat itu cadangan devisa tinggal sekitar 14,44 miliar dollar AS.&nbsp;<br><br>3. Pasar modal babak belur&nbsp;<br>Anjloknya rupiah secara dramatis, menyebabkan pasar uang dan pasar modal juga rontok, bank-bank nasional dalam kesulitan besar dan peringkat internasional bank-bank besar, bahkan juga surat utang pemerintah terus merosot ke level di bawah junk atau menjadi sampah. Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ) anjlok ke titik terendah, 292,12 poin, pada 15 September 1998, dari 467,339 pada awal krisis 1 Juli 1997. Sementara kapitalisasi pasar menciut drastis dari Rp 226 trilyun menjadi Rp 196 triliun pada awal Juli 1998. Di pasar uang, dinaikkannya suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) menjadi 70,8 persen dan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) menjadi 60 persen pada Juli 1998 (dari masing-masing 10,87 persen dan 14,75 persen pada awal krisis). Hal ini menyebabkan kesulitan bank semakin memuncak. Perbankan mengalami negative spread dan tak mampu menjalankan fungsinya sebagai pemasok dana ke sektor riil.&nbsp;<br><br>4. Banyak perusahaan bangkrut dan PHK&nbsp;<br>Ratusan perusahaan, mulai dari skala kecil hingga konglomerat, bangkrut. Sekitar 70 persen lebih perusahaan yang tercatat di pasar modal juga insolvent atau bisa disebut bangkrut. Sektor yang paling terdampak terutama adalah sektor konstruksi, manufaktur, dan perbankan, sehingga melahirkan gelombang besar pemutusan hubungan kerja (PHK). Pengangguran melonjak ke level yang belum pernah terjadi sejak akhir 1960-an, yakni sekitar 20 juta orang atau 20 persen lebih dari angkatan kerja.&nbsp; Akibat PHK dan naiknya harga-harga dengan cepat ini, jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan juga meningkat mencapai sekitar 50 persen dari total penduduk. Banyak orang menyerbu toko-toko sembako dalam suasana kepanikan luar biasa, khawatir harga akan terus melonjak. Pendapatan per kapita yang mencapai 1.155 dollar/kapita tahun 1996 dan 1.088 dollar/kapita tahun 1997, menciut menjadi 610 dollar/kapita tahun 1998, dan dua dari tiga penduduk Indonesia disebut Organisasi Buruh Internasional (ILO) dalam kondisi sangat miskin pada tahun 1999 jika ekonomi tak segera membaik. Data Badan Pusat Statistik juga menunjukkan, perekonomian yang masih mencatat pertumbuhan positif 3,4 persen pada kuartal ketiga 1997 dan nol persen kuartal terakhir 1997. Lalu terus menciut tajam menjadi kontraksi sebesar 7,9 persen pada kuartal I 1998, 16,5 persen kuartal II 1998, dan 17,9 persen kuartal III 1998. Demikian pula laju inflasi hingga Agustus 1998 sudah 54,54 persen, dengan angka inflasi Februari mencapai 12,67 persen. &nbsp;<br><br>5. Ekspor melembek<br>Di sisi lain, sektor ekspor yang diharapkan bisa menjadi penyelamat di tengah krisis, ternyata sama terpuruknya dan tak mampu memanfaatkan momentum depresiasi rupiah, akibat beban utang, ketergantungan besar pada komponen impor, kesulitan trade financing, dan persaingan ketat di pasar global. Selama periode Januari-Juni 1998, ekspor migas anjlok sekitar 34,1 persen dibandingkan periode sama 1997, sementara ekspor nonmigas hanya tumbuh 5,36 persen.&nbsp;<br><br>6. Presiden Soeharto turun setelah 32 tahun berkuasa Resesi ekonomi berlanjut lagi menjadi krisis sosial kemudian ke krisis politik yang memaksa Presiden Soeharto saat itu harus meletakan kekuasannya yang sudah didudukinya sejak tahun 1965 dan digantikan wakilnya, BJ Habibie. Krisis yang membuka borok-borok kerapuhan fundamental ekonomi ini dengan cepat merambah ke semua sektor. Banyak perusahaan besar di era Orde Baru belakangan diketahui tak memiliki pondasi yang kokoh.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-18 05:24:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ritchielierio/Bookmarks/wish/1823261734</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Referensi dan beberapa istilah khusus terkait krisis moneter </title>
         <author>ritchielierio</author>
         <link>https://padlet.com/ritchielierio/Bookmarks/wish/1823336078</link>
         <description><![CDATA[<div>Referensi : kompas.com<br><br>Efek bola salju : <br>Dikutip dari <em>Koala Marketing</em>, dalam pemasaran bisnis, efek bola salju adalah suatu situasi dimana semakin sukses bisnis yang dijalankan, maka akan semakin banyak pula publisitas yang didapatkan dan semakin banyak promosi yang diterima.<br><br>Dengan begitu, bisnis yang dijalankan akan menghasilkan lebih banyak keterlibatan, seperti menjadi sponsor acara dan sebagainya. Popularitas yang didapatkan pada akhirnya akan lebih banyak mendatangkan penjualan.<br><br>Depresiasi : Secara sederhana, depresiasi adalah penyusutan nilai mata uang. Depresiasi atau penyusutan ini menjadi konsekuensi dari penggunaan aktiva tetap dan aset. Setelah digunakan, aset mengalami penurunan kualitas.<br><br>Negative spread : Menurut Ismail (2011:7) spread merupakan perbedaan antara bunga yang diterima dari nasabah dan bunga yang dibayar kepada nasabah. Dalam hal, pendapatan bunga yang diterima dari nasabah peminjam lebih rendah daripada biaya bunga yang dibayar oleh bank kepada nasabah disebut dengan negative spread.<br><br>Kuartal : Triwulan (bahasa Jawa: tri = tiga dan wulan = bulan) atau trimester (dari bahasa Latin: trimestris) atau kuartal (bahasa Latin: quārtālis) adalah istilah untuk sistem penanggalan yang memiliki makna tiga bulan berturut-turut.<br><br>Sektor riil : Investasi sektor riil adalah penempatan dana atau modal pada aset yang terlihat secara fisik. Selain itu, investasi ini juga meliputi penanaman modal pada usaha yang bergerak pada sektor riil. Contohnya seperti usaha dagang pakaian, warung makan, jasa cuci mobil, dan banyak lagi. Dengan kata lain , sektor riil adalah aset yang bisa terlihat secara fisik.<br><br>Resesi ekonomi : resesi adalah periode saat terjadi penurunan roda perekonomian yang ditandainya dengan melemahnya produk domestik bruto (PDB/ GD) selama dua kuartal berturut-turut . Resesi ekonomi juga ditandai dengan kenaikan tingkat pengangguran, penurunan penjualan ritel, dan terjadinya kontraksi di pendapatan manufaktur untuk periode waktu yang panjang. Dengan kata lain, resesi ekonomi adalah pelambatan atau kontraksi besar dalam kegiatan ekonomi. Sementara itu mengutip The Balance, resesi artinya penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung dalam beberapa bulan, umumnya dalam tiga bulan lebih.<br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-18 06:16:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ritchielierio/Bookmarks/wish/1823336078</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kesimpulan </title>
         <author>ritchielierio</author>
         <link>https://padlet.com/ritchielierio/Bookmarks/wish/1823351431</link>
         <description><![CDATA[<div>Ada banyak penyebab dan akibat dari krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1997 dan mencapai klimaksnya pada tahun 1998. Dampak dari krisis ekonomi ini pun masih terasa sampai sekarang di mana angka pengangguran masih tinggi , nilai rupiah yang bisa dibilang sangat lemah , dan utang luar negeri yang sangat banyak , terutama kepada negara seperti Singapura , China , Amerika , dan negara maju lainnya. Penyebab dan akibat ini saling terikat satu sama lain di mana penyebab dari krisis moneter ini sendiri sebenarnya bisa jadi merupakan akibat dari krisis moneter itu sendiri. Ditambah lagi dengan solusi dari IMF yang tidak bisa terlalu membantu perekonomian Indonesia secara signifikan membuat Indonesia malah merosot secara perekonomian.&nbsp;<br><br>Krisis moneter ini tidak hanya berdampak pada segi perekonomian , tetapi dari segi politik dan sosial , dikarenakan pada saat itu , presiden ke-2 kita , yaitu Soeharto , sudah tua dan tidak mampu memimpin negara lagi sebaik dulu , sehingga terjadilah kerusuhan di tahun 1998 yang justru berimbas terhadap etnis Tionghoa yang sejak zaman Orde Baru , dianggap sebagai komunis dan pengganggu pada saat itu.<br><br>Oleh karena itu , sebagai warga negara Indonesia , kita harus bangkit dari keterpurukan ini dan mulai kembali membangun perekonomian Indonesia karena sebenarnya , tidak hanya Indonesia saja yang mengalami krisis ekonomi ini , tetapi juga beberapa negara ASEAN seperti Thailand , Filipina , bahkan negara Asia Timur yang maju sekalipun , seperti Korea Selatan. Namun akhirnya , beberapa negara tersebut berhasil bangkit dan membangun perekonomiannya kembali.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-18 06:26:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ritchielierio/Bookmarks/wish/1823351431</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
