<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title> THE FUTURE DIGITAL WORKPLACE  : by yus nugraha</title>
      <link>https://padlet.com/yoesdinain1/DWFasynchSept21</link>
      <description>MANAGING DIGITAL WORKFORCE IN ORGANIZATION  </description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-09-20 15:34:29 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2026-03-16 03:10:16 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f4ca.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>KULIAH ASYNCHRONOUS -DWP</title>
         <author>yoesdinain1</author>
         <link>https://padlet.com/yoesdinain1/DWFasynchSept21/wish/1754517716</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Kelas DWP dibagi 4 kel @4 mhsw .</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp;Tiap kelompok memiliki Team-leader</div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp;Pembagian 4 kelompok disesuaikan dengan jenis organisasi : a) Kementrian/ BUMN &nbsp; b) Swasta Multinasional &nbsp; c) NGO_International&nbsp; d) Perguruan Tinggi Negeri/Swasta&nbsp;</div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp;Topik: Bagaimana gambaran Digital WORKPLACE di masa 5-10 th mendatang, WORKSPACE dan WORKFORCENYA nya, Apakah ada alternatif model working lainnya?</div><div>5.&nbsp; &nbsp; &nbsp;Silahkan aplikasikan poin 4 diatas kedalam masing-masing jenis organisasi pada poin 3.&nbsp; Jelaskan masing-masing alasannya.</div><div>6.&nbsp; &nbsp; &nbsp;Bagaimana Sistem Rekrutmen &amp; Seleksi yang diterapkan ?</div><div>7.&nbsp; &nbsp; &nbsp;MAnfaatkan template Padlet untuk setiap kasusnya (per kelompok)</div><div>8.&nbsp; &nbsp; &nbsp;Terima kasih &amp; Selamat berdiskusi&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/709797629/9f2288ec4b9d314fec26705951a9f88f/Asyin2.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-20 15:52:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yoesdinain1/DWFasynchSept21/wish/1754517716</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 4- Perguruan Tinggi Nergeri/ Swasta</title>
         <author>adibawidad</author>
         <link>https://padlet.com/yoesdinain1/DWFasynchSept21/wish/1762072729</link>
         <description><![CDATA[<div>Perguruan tinggi (negeri maupun swasta) pada 5-10 tahun mendatang bergerak ke arah industri (<em>industrialized</em>). Kegiatan pendidikan, penelitian, maupun pengabdian masyarakat yang menjadi Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak lagi terbatas ruang dan kultur. Digitalisasi dalam penyelenggaraan kegiatan perguruan tinggi ditujukan untuk menjawab tantangan global; saling terhubung--<em>linked world</em>. <em>Digital transformation</em> berjalan dalam beragam aspek, seperti :<br><br></div><ul><li><strong><em>Workforce </em></strong><strong>:</strong> kompetensi sumber daya manusia yang terkait (tenaga pendidik--dosen--, tenaga kependidikan, bahkan mahasiswanya)</li><li><strong><em>Workplace </em></strong><strong>: </strong>lokasi kegiatan dapat diikuti/dijalankan (mis. <em>from office</em>, <em>from home</em>, <em>from anywhere</em>)</li><li><strong><em>Workspace </em></strong><strong>:</strong> sistem <em>platform </em>ataupun sudut khusus yang digunakan dalam menjalankan aktivitas (mis. LMS, <em>cubicles</em>)</li><li><strong><em>Worktools </em></strong><strong>:</strong> perangkat yang digunakan agar sistem dalam <em>workspace </em>optimal (mis. zoom, GDrive, Dropbox, Adobe Sign)</li></ul><div><br>*<strong>The Digital Workplace Framework*</strong></div><div>Semua aspek ini menyusun kerangka kerja perguruan tinggi dalam 4 (empat) <em>layer </em>/ <em>components</em>, yaitu :</div><div><br><strong><em>1. Use: collaborate, communicate, connect</em></strong></div><ul><li>Promosi (<em>branding</em>) kepada mahasiswa dengan memaksimalkan penggunaan media sosial (<em>digital marketing</em>) seperti instagram, facebook, line, whatsapp.</li><li><em>Virtual tour</em> sebagai sarana pengenalan perguruan tinggi secara lebih luas.</li><li>Pengalihan anggaran <em>merchandise </em>promosi seperti payung, mug menjadi hadiah berupa pulsa atau uang tunai yang dikirimkan melalui layanan keuangan digital.</li><li>Digitalisasi layanan bagi mahasiswa seperti permohonan izin penelitian, layanan pustaka, pendaftaran mahasiswa baru, ujian saringan masuk, perwalian, pendaftaran wisuda, bimbingan, Webinar, seminar Riset, kegiatan kewirausahaan dan KKN mahasiswa, MBKM secara <em>online</em>.</li><li>Perguruan tinggi bersama dengan industri/ dunia kerja saling memberikan umpan balik terkait kompetensi yang diharapkan dari lulusan agar bisa berdaya optimal di dunia kerja yang menuntut kecakapan terhadap teknologi informasi; hal ini dapat dituangkan dalam kurikulum.</li></ul><div><br></div><div><strong><em>2. Technology: in digital toolbox</em></strong></div><ul><li>Learning Management System (LMS) pada Perguruan Tinggi.</li><li>Pemanfaaatan <em>Virtual Reality</em> (VR) ataupun <em>Augmented Reality </em>(AR apps) dalam pembelajaran.</li><li>Pengalihan anggaran pembelian ATK menjadi perangkat kerja seperti laptop, headset, dll.</li><li>Sistem pengarsipan online sehingga memudahkan pegawai yang WFH.</li><li>Presensi kehadiran online yang terhubung pada sistem penilaian kinerja pegawai.</li><li>Pengajuan anggaran online dan pencairan menggunakan Cash Management Sistem (CMS).</li><li>Penjadwalan kuliah berbasis system.</li></ul><div><br><strong><em>3. Control: governance, risk and compliance</em></strong></div><ul><li>Sinkronisasi data pada system di Perguruan Tinggi dengan sister dan forlap dikti.</li><li>Training dan sertifikasi <em>online</em> untuk unit pendukung di Universitas.</li><li>PKM Hybrid (sosialisasi kegiatan dengan masyarakat daring dan luring).</li><li>Jaminan <em>security </em>administrasi pada sistem LMS dari dikti untuk dosen (yang memiliki NIDN dan NIDK), tenaga kependidikan, mahasiswa.</li></ul><div><br></div><div><strong><em>4. Business drivers: measurable business value</em></strong></div><ul><li>Perguruan tinggi tetap harus memiliki nilai jual di masa yang akan datang (multikultural: dosen, mahasiswa). Nilai jual yang bisa diakses dan diamati langsung dilihat dari akreditasi perguruan tinggi (secara nasional melalui BAN-PT, dan harus terus diperbarui secara periodik/per 5 tahun; secara internasional melalui lembaga yang disesuaikan dengan concern pendidikan yang diselenggarakan oleh masing-masing perguruan tinggi).</li></ul><div><br><strong>5. Rekrutmen dan Seleksi</strong><br>Assessment secara online, dengan memanfaatkan sistem e-recruitment, platform psikotes online, dan wawancara melalui <em>video conference.</em>&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="https://www.youtube.com/watch?v=3CZesNoETPM" />
         <pubDate>2021-09-23 05:44:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yoesdinain1/DWFasynchSept21/wish/1762072729</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 2 - Swasta Multinasional</title>
         <author>fullah21001</author>
         <link>https://padlet.com/yoesdinain1/DWFasynchSept21/wish/1762126677</link>
         <description><![CDATA[<div>Perusahaan swasta multinasional merupakan perusahaan yang besar yang umumnya sudah tersebar dan memiliki kantor di berbagai negara. Merupakan perusahaan global sehingga akan berdampak atau terdampak pada kondisi politik secara global. Perusahaan swasta multinasional memiliki peranan yang penting dalam aktivitas transaksi internasional. Sehingga bagi organisasi atau perusahaan swasta multinasional digital workplace, workspace dan workforce bukan sebagai istilah yang asing. Saat ini organisasi swasta multinasional sudah sangat memanfaatkan digital workplace, workspace dan workforce. Merupakan organisasi atau perusahaan yang sudah berbasis teknologi untuk mengembangkan bisnisnya. Gambaran 5 sampai 10 tahun kedepan akan lebih berkembang lagi dengan memanfaatkan teknologi yang semakin upgrade.<br><br><strong>1. Digital workplace: tempat orang bekerja, seperti kantor fisik atau lokasi.</strong></div><div>Gambaran digital workplace pada perusahaan swasta multinasional 5 sampai 10 tahun ke depan akan banyak memanfaatkan tools atau platform yang dapat meningkatkan produktivitas karyawan. Pekerjaan yang dilakukan tidak lagi berpusat kepada suatu bangunan kantor, melainkan para karyawan bisa melakukan pekerjaannya darimana saja dengan bermodal pada platform digital yang dipakai untuk bekerja.<br><br><strong>2. Digital Workspace: kondisi dimana tempat pekerjaan seorang pekerja dilakukan (semua aplikasi dan servis) bisa diakses melalui berbagai perangkat yang kita miliki kapanpun dan dimanapun.</strong></div><div>Gambaran workspace dimasa mendatang pada organisasi akan lebih fleksibel atau saat ini disebut sebagai flexible working space (FWS). Sebenarnya dengan adanya pandemi COVID-19 ini perubahan segala aktivitas manusia menjadi serba digital dan menjadi lebih cepat prosesnya. Saat ini karena kondisi pandemi yang mengharuskan para pekerja untuk bekerja dari rumah, suatu organisasi pemerintahan sudah mengimplementasikan sistem FWS. Artinya, dimasa mendatang perusahaan-perusahaan khususnya swasta multinasional akan memiliki gambaran working space yang lebih fleksibel. Gambarannya pola kerja karyawan akan diberikan fleksibilitas lokasi untuk bekerja dengan memaksimalkan teknologi informasi dan komunikasi untuk menjaga dan meningkatkan produktivitas karyawan serta menjamin keberlangsungan pelaksanaan tugas dari masing-masing karyawan di sebuah organisasi. Teknologi dan komunikasi ini perkembangannya sangat cepat sehingga dapat dibayangkan akan pola kerja karyawan yang lebih fleksibel dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan komunikasi.<br><br><strong>3. Digital Workforce: tenaga kerja atau jumlah total orang yang secara fisik mampu melakukan suatu pekerjaan dan tersedia untuk bekerja.</strong></div><div>Gambaran workforce sebuah perusahaan swasta multinasional 5 sampai 10 tahun ke depan akan lebih memanfaatkan artificial intelligence (AI) dan robotic. Banyak pekerjaan yang akhirnya dapat diambil alih dengan teknologi AI untuk membuat waktu pengerjaan lebih singkat dan efisien sehingga sepertinya akan lebih banyak perusahaan yang membutuhkan karyawan ahli dibidang teknologi dan jumlah kebutuhan karyawan akan berkurang. Tuntutan skill, kemampuan dan inovatif yang dibutuhkan organisasi akan bertambah.<br><br><strong>4. Alternatif Model&nbsp;</strong></div><ul><li>Remote working, sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan saat pandemi COVID-19 ini. Hal ini sudah menjadi tren atau bahkan kebiasaan baru bagi perusahaan selama 1,5 tahun lebih hidup berdampingan dengan COVID-19.&nbsp; Bekerja jarak jauh dari kantor diperlukan skill yang mendukung untuk kelancaran pekerjaan dan interaksi dengan rekan kerja dan kolega bisnis harus tetap dijaga.&nbsp;</li><li>Perlu diperhatikan: Perusahaan perlu membuat kebijakan baru untuk menunjang dan menjaga well-being dan produktivitas karyawannya.&nbsp;</li><li>memanfaatkan kemajuan teknologi seperti <em>Virtual Reality </em>(VR), <em>Augmented Reality </em>(AR), dan <em>Artificial Intelligence </em>(AI) pada perusahaan yang dapat digunakan oleh seluruh SDM di perusahaan tersebut</li></ul><div><br><strong>5. Rekrutmen dan Seleksi</strong><br>Sistem rekrutmen dan seleksi di masa yang akan datang akan jauh lebih mudah, cepat, dan menghemat biaya karena adanya kemajuan teknologi, contohnya:</div><ul><li>menggunakan platform digital khusus yang sudah menggunakan AI untuk keperluan rekrutmen dan seleksi<ul><li>pada platform tersebut sudah tersedia “tempat” untuk calon karyawan mengunggah data-data yang diperlukan (CV atau Riwayat Hidup) yang akan langsung terdeteksi apakah CV atau RH dari calon kandidat tersebut sesuai dengan yang diinginkan perusahaan</li><li>jika proses <em>screening </em>administrasi sudah terlaksana, pada platform tersebut akan secara otomatis mengumumkan kelulusan untuk tahap berikutnya</li><li>untuk tahap selanjutnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan (apakah memerlukan tes potensi akademik, psikotes, interview, dll. yang dapat dilakukan secara online).</li><li>selain dinilai berdasarkan hasil tes dan interview, akan ada penilaian terkait kemampuan digitalisasi pada calon karyawan atau nilai-nilai baru lainnya</li><li>calon karyawan dapat mengerjakan tes tersebut secara <em>real-time </em>dan hasil skornya akan langsung keluar.</li><li>untuk tahap interview dapat dilakukan secara online oleh interviewer atau memanfaatkan fitur AI terkait interview secara online</li><li>seluruh rangkaian rekrutmen dan seleksi sudah berbasis digital, artinya seluruh data calon karyawan yang mendaftar dan karyawan baik diterima maupun ditolak ada pada platform tersebut.</li></ul></li><li>peran teknologi yang semakin maju memang memudahkan dalam proses rekrutmen dan seleksi, akan tetapi teknologi tidak bisa merasakan “<em>senses</em>”, sehingga meskipun adanya kemajuan teknologi, peran psikolog atau recruiter sebagai penentu cocok atau tidaknya calon karyawan di perusahaan tersebut tetap dibutuhkan.&nbsp;</li></ul>]]></description>
         <enclosure url="https://kissflow.com/wp-content/uploads/2019/08/Digital-Workplace-FAQ.jpg" />
         <pubDate>2021-09-23 06:15:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yoesdinain1/DWFasynchSept21/wish/1762126677</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 3 - NGO Internasional</title>
         <author>yuri14001</author>
         <link>https://padlet.com/yoesdinain1/DWFasynchSept21/wish/1762195782</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Digital Workplace</strong></div><div>Dalam segi workplace sendiri dalam 5-10 tahun kedepan akan semakin semu antara workplace secara digital maupun fisik. Digital workplace itu sendiri adalah teknologi-teknologi yang digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan. Aplikasinya mencakup dari bidang HR dan <em>core business</em> hingga <em>tools </em>yang digunakan untuk mengkoneksikan antara satu karyawan dengan yang lainnya.</div><div>Perusahaan yang merasa kinerja dalam staff dianggap optimal dengan melakukan remote working akan memikirkan untuk mengurangi investasi di biaya sewa gedung dan memindahkan ke anggaran ke keperluan lain. Workplace yang disediakan kantor hanya terbatas kepada keperluan yang dirasa diperlukan untuk luring. Sebagai karyawan pun opsi untuk melakukan pekerjaan akan semakin meluas, baik di rumah sendiri atau adanya working space. Tentu saja, <em>resources </em>yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan harus tetap dapat disediakan oleh organisasi. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui teknologi seperti apa yang akan dibutuhkan untuk bidang pekerjaan seperti apa, demi mencapai efektivitas kerja dan memperoleh kinerja yang optimal.</div><div><br><strong>Digital Workspace</strong></div><div>Digital workspace adalah sekumpulan <em>tools </em>yang membuat karyawan dapat menjadi lebih produktif dengan menyediakan kebutuhan harian dalam berbagai macam <em>device. </em>Untuk lingkungan kerjanya untuk 5-10 tahun kedepan di mana teknologi internet akan semakin berkembang, maka adanya cloud computing yang semakin cepat dan canggih maka pekerjaan secara remote akan dikerjakan semakin efektif dengan adanya satu server data dalam satu perusahaan sehingga karyawan dapat mengakses server tersebut secara cepat. Perkembangan aplikasi penunjang lainnya seperti HRIS juga akan semakin banyak di berbagai bidang pekerjaan yang ada sehingga mempermudah dan memodernkan tools yang berasal dari paper based.</div><div><br><strong>Digital Workforce</strong></div><div>Di masa depan, pekerja tidak hanya dilihat dari segi <em>knowledge, skill, </em>dan <em>ablity-</em>nya saja. Aspek lain seperti keterbukaannya terhadap teknologi menjadi sebuah hal yang menjadi nilai jual bagi seorang karyawan. Teknologi terus berkembang secara dinamis, terobosan-terobosan baru terus bermunculan, cara baru untuk bekerja secara <em>digital </em>juga tidak henti-hentinya berkembang. Dalam arus teknologi yang sangat deras ini, seseorang yang tidak memiliki keterbukaan untuk teknologi dan kesediaan untuk mengadopsi hal-hal baru akan tenggelam terbawa arus. Karyawan yang siap secara digital bukan berarti mampu menggunakan teknologi saat ini, tapi juga siap untuk mengadopsi teknologi di masa depan. Domisili tidak menjadi soal, karena karyawan bisa bekerja dari mana saja. Yang penting adalah bahwa mereka memiliki <em>personal resources </em>yang dapat membantu mereka menghadapi tuntutan&nbsp; pekerjaan secara modern dan melihat setiap kesulitan dalam pekerjaan sebagai sebuah tantangan yang memungkinkan mereka untuk terus berkembang.</div><div>&nbsp;</div><div>Contoh NGO International: <strong>Save the Children</strong></div><div>Demi mewujudkan tujuan dari Save the Children dengan memanfaatkan teknologi berbasis <em>sustainability </em>yang akan bermanfaat untuk berbagai pihak, terutama anak-anak yang menjadi <em>concern </em>utama<em>. </em>Maka, direncanakanlah program-program berikut yang meski saat ini belum mungkin dilakukan, tapi di masa depan dengan ketersediaan sumber daya dan teknologi yang lebih mumpuni, akan dapat tercapai.</div><ol><li>Mengadakan program menabung untuk pendidikan anak kedepannya bisa menggunakan program merger dengan bank atau microfinance dengan ketentuan orangtua bisa menabung berapapun sesuai dengan kemampuan finansial, tentu berlaku ketentuan uang yang digunakan hanya untuk keperluan pendidikan yang akan dikelola langsung oleh pihak NGO International (Save The Children).</li><li>Menyediakan program pendidikan secara online, berupa konten-konten pelajaran yang dapat diakses secara gratis oleh anak-anak. Sehingga anak-anak yang kurang mampu bisa mendapatkan pendidikan yang tidak hanya dari sekolah, namun juga dari media online dan secara gratis.</li><li>Membentuk program kerjasama dengan “super app” seperti shopee, tokopedia, gojek, dll. Program ini dapat berupa cara pemberian donasi yang dilakukan dari aplikasi-aplikasi tersebut. Cara lainnya juga dapat berupa pembelanjaan yang dilakukan di aplikasi tersebut, sebagiannya akan diberikan kepada pihak NGO Internasional.</li><li>Membuat program kerjasama dengan penyedia layanan kesehatan online, sehingga nantinya anak-anak yang kurang mampu bisa mendapatkan layanan kesehatan online dari dokter-dokter maupun psikolog secara gratis.</li><li>Membuat aplikasi atau sistem yang berisikan data base siswa atau anak yang kurang mampu untuk mempermudah penyaluran donasi sehingga akan terpantau oleh pengelola NGO Internasional (Save The Children). Orangtua atau sekolah harus mendaftarkan anaknya atau siswanya jika ingin mendapatkan donasi dengan syarat dan ketentuan berlaku agar NGO dapat menyalurkan ke orang yang tepat. Data base ini tidak dapat diakses secara umum melainkan hanya dapat diakses guru sekolah tentu saja yang siswanya terdaftar dalam sistem dan juga orang tua dari siswa tersebut.</li><li>Merger dengan e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, JDID, Bukalapak dll. Bentuk program yang akan dilakukan dengan NGO Internasional adalah pemberian keperluan sekolah selama 1 semester/ 1 tahun tergantung kebijakan dari NGO bisa berupa seragam sekolah, buku tulis atau alat tulis yang nantinya akan dikirimkan secara langsung dari pihak e-commerce ke alamat siswa yang kurang mampu secara gratis. Dibayarkan langsung dari NGO ke Shopee menggunakan dana donasi yang sudah terkumpul.</li><li>Membuat program-program yang dapat menunjang kebutuhan teknologi anak-anak kurang mampu/di desa terpencil dengan tidak hanya memberi sumbangan <em>gadget</em>, tapi juga bekerja sama dengan provider untuk membangun tiang pemancar untuk anak-anak di daerah terpencil.</li><li>Terlibat langsung secara sistemik dalam struktur organisasi sekolah-sekolah di desa terpencil. Save the children menjadi “mitra” bagi sekolah dalam upaya untuk berkembang bersama dan meningkatkan kualitas pendidikan bangsa</li></ol><div>&nbsp;</div><div><strong>Sistem Rekrutmen dan Seleksi di Masa Depan</strong></div><div>Proses rekrutmen dilakukan dengan sepenuhnya melalui digitalisasi. Rekrutmen diawali dengan menggunakan teknologi <em>applicant tracking system </em>yang di masa depan tentunya akan jadi lebih canggih. Pelamar tidak perlu lagi mengirimkan surat lamaran, CV, maupun surat rekomendasi. Semuanya telah tersedia dalam sebuah sistem <em>database </em>berbasis media sosial (kurang lebih seperti LinkedIn)<em> </em>yang dapat diupdate sendiri secara berkala. Maka proses rekrutmen tidak lagi dilakukan secara tradisional. Pelamar di-<em>screening </em>melalui data-data yang telah terkumpul melalui sistem <em>applicant tracking </em>tersebut, untuk memilih kandidat yang paling sesuai atau potensial. Setelah itu, proses seleksi dilanjutkan dengan psikotes dan <em>interview </em>yang dilakukan secara <em>online</em>. Berbagai alat tes telah banyak yang diadaptasi untuk dapat digunakan secara <em>online</em>, jadi di 10 tahun yang akan datang cakupan tes psikologi yang dapat diadministrasikan secara <em>online </em>pun akan jadi lebih beragam.</div><div>Saat ini dalam melaksanakan psikotes maupun <em>interview online</em>, isu yang menonjol adalah bahwa <em>proctor </em>atau pengawas psikotes dan <em>interviewer </em>tidak bisa mengobservasi kandidat secara menyeluruh karena dibatasi oleh layar dan kamera yang hanya muat menampung dari ujung kepala hingga torso. Pada 10 tahun yang akan datang, hal itu tidak akan lagi menjadi masalah, dengan adanya teknologi <em>motion capture</em>, seluruh gerak-gerik kandidat akan dapat diobservasi menggunakan <em>computer graphic digital imagery</em>. Teknologi <em>motion capture </em>ini, didukung dengan teknologi <em>Virtual Reality</em>, akan membuat kondisi interview maupun psikotes menjadi seperti dilakukan secara langsung.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-23 06:51:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yoesdinain1/DWFasynchSept21/wish/1762195782</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 1 - Kementrian / BUMN</title>
         <author>brigittasonia</author>
         <link>https://padlet.com/yoesdinain1/DWFasynchSept21/wish/1762434404</link>
         <description><![CDATA[<div>Gambaran Digital Workplace di Kementrian/BUMN</div><div><br></div><div>1. Workspace</div><div>5-10 tahun mendatang, perkantoran di Indonesia khususnya kementrian sudah mengalami kemajuan pesat ke ranah digital. Tentunya, ruang kerja (workspace) yang digunakan pun sudah merambah ke ranah digital. Ruang kerja digital adalah versi virtual atau modern dari workstation individu. Pada dasarnya, ruang kerja digital terdiri dari kumpulan teknologi yang berkembang yang semuanya dapat memastikan bahwa pegawai dapat menyelesaikan pekerjaan dari perangkat apa pun, dan dapat mengerjakan pekerjaan kapan pun. Beberapa konstituen paling umum dari kerangka teknologi terintegrasinya meliputi:</div><div>- App/desktop virtualization (zoom, googlemeet, dan aplikasi lainnya untuk melakukan virtual meeting)</div><div>- Content collaboration and file sharing</div><div>- Automated workflow</div><div>&nbsp;</div><div>Bahkan, beberapa saat lalu Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kemenparekraf, Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Investasi sudah melaksanakan Work From Bali yang artinya bekerja sudah bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun melalui bantuan teknologi</div><div>&nbsp;</div><div>2. Workforce</div><div>Akselerasi transformasi digital membutuhkan sumber daya manusia yang unggul dengan keahlian yang dibutuhkan di kementrian. Pada pekerja, terjadi perubahan sistem atau pola interaksi kerja. Kompetensi pekerja bukan hanya piawai dalam hal teknis di masing-masing bidang dalam kementrian, tetapi juga soft skill.</div><div>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;sense making / kemampuan berkoordinasi : dibutuhkan untuk bersosialisasi dgn rekan kerja &amp; membangun networking</div><div>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;social intelligence :&nbsp; dibutuhkan untuk mampu terhubung dengan orang lain secara mendalam dan langsung.</div><div>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;virtual collaboration : dibutuhkan untuk mampu bekerja secara efektif, sekaligus memiliki keterikatan dan benar-benar hadir sebagai anggota tim dalam bentuk virtual.</div><div>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;digital fluency : kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan, mengetahui tools digital dan cara menggunakannya, serta mengetahui tools yang digunakan dalam situasi tertentu.</div><div>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;personal branding : dibutuhkan untuk membangun reputasi &amp; kepercayaan</div><div>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;embracing change : kemampuan ketangkasan atau kelincah untuk dapat beradaptasi dengan perubahan di masing-masing kementrian.</div><div>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;diversity &amp; culture intelligence : dibutuhkan untuk memahami, beradaptasi dan memecahkan masalah dalam konteks budaya yang berbeda.</div><div>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Decision making : Kemampuan memecahkan masalah kompleks</div><div>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Creativity : Dapat berpikir kritis &amp; kreatif dalam memberikan inovasi pada masing-masing bidang dalam kementrian</div><div>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Kecerdasan emosional</div><div>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Orientasi pelayanan</div><div>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Negosiasi</div><div>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Fleksibilitas kognitif</div><div>&nbsp;</div><div>3. Alternatif Model Working</div><div>Mengutip bbc.com, di masa depan pasca pandemi cara karyawan bekerja akan berbeda. tren akan mengarah pada bekerja secara hybrid. tidak lagi full time bekerja dari kantor dan tidak lagi full time bekerja dari rumah, melainkan kantor-kantor akan menyesuaikan jadwal kerja pekerja dengan lebih fleksibel dengan mengkombinasikan antara bekerja dari rumah dan bekerja dari kantor (hybrid).</div><div>Dalam konteks kementrian, penerapan alternatif model ini akan sangat bervariasi tergantung dengan tupoksi dan situasi internal dari kementrian itu sendiri. Bagi urusan-urusan yang berkaitan dengan administrasi, perizinan, koordinasi, dan hal lainnya yang tidak memerlukan interaksi tatap muka dalam menyelesaikan tugasnya maka dapat dikerjakan dari rumah. Akan tetapi, apabila ada pekerjaan yang sifatnya harus diselesaikan dengan bertatap muka maka karyawan perlu hadir ke kantor.</div><div>kantor dapat mengatur sedemikian rupa penjadwalan bagi tiap karyawan, kapan bekerja dari rumah dan kapan bekerja dari kantor, berapa banyak karyawan yang bekerja dari rumah dan berapa banyak karyawan bekerja dari kantor. Perlukah pertemuan full team di kantor di hari tertentu atau perlukah semua kegiatan kantor dikerjakan dari rumah 100% ? semua hal tersebut dapat diatur sedemikian rupa menyesuaikan kondisi kementrian masing-masing.</div><div>&nbsp;</div><div>4. Sistem Rekrutmen dan Seleksi</div><div>Rekrutmen dan seleksi di Kementrian dilakukan melalui SSCASN yang dilaksanakan serentak untuk seluruh institusi pemerintahan di Indonesia. Tantangan yang dihadapi adalah sistem ini harus dapat digunakan oleh seluruh institusi dan pendaftar di seluruh wilayah Indonesia yang tentunya memiliki tingkat kemampuan penggunaan teknologi yang berbeda-beda. Pada 5-10 tahun kedepan, seiring dengan pertumbuhan penggunaan teknologi di Indonesia, sistem yang digunakan mungkin akan dapat bergerak ke arah penggunaan sistem online.&nbsp;</div><div>A. Seleksi Administrasi dilakukan secara online tanpa mengirimkan berkas secara offline. Dengan demikian dapat meminimalisir berkas yang hilang dan mempersingkat waktu sortir berkas administrasi yang tidak sesuai.</div><div>B. Seleksi Kemampuan Dasar dilakukan secara online di rumah masing-masing dengan penggunakan pengawasan online dan dilakukan secara offline hanya bagi pendaftar yang tidak memiliki fasilitas untuk tes yang memadai. Dengan demikian akan dapat mempermudah peserta untuk mengikuti tes ini.</div><div>C. Seleksi Kompetensi Bidang dapat dilakukan keseluruhan secara online juga khususnya untuk tes-tes seperti tes kemampuan bahasa asing, psikotes, wawancara, dan sebagainya.</div><div>&nbsp;</div><div>&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1344535227/f6725e72f5bc561c5c158707dc762183/images.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-23 08:51:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yoesdinain1/DWFasynchSept21/wish/1762434404</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
