<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>YUK SELUSUR SEJARAH GIWANGAN by Loyal Fasion</title>
      <link>https://padlet.com/puspitamayang44/Bookmarks</link>
      <description>~Mencari yang Hilang, diangkat ke Permukaan~</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-06-05 06:52:03 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-11-09 18:38:15 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title></title>
         <author>puspitamayang44</author>
         <link>https://padlet.com/puspitamayang44/Bookmarks/wish/2216816257</link>
         <description><![CDATA[<blockquote><em>"Ada makam keramat tokoh penting dalam sejarah Kerajaan Mataram yang belum banyak diketahui orang"</em></blockquote><div><br></div><div>Tokoh penting yang dimakamkan di sana adalah <mark>"</mark><strong><mark>Kyai Guno Mrico"</mark></strong>, sosok yang dipercaya sebagai leluhur masyarakat Kampung Mrican, Giwangan. Juga disebut-sebut sebagai pepunden, orang yang pertama kali membuka kawasan Kampung Mrican.<br>😲😲😲<br>Makam di tengah-tengah terminal. Aneh memang. Tapi begitulah faktanya. Meski telah dibangun terminal <strong><mark>Giwangan</mark></strong>, makam itu tak pernah dipindah. Sampai sekarang.<br>🔎🧐🔍<br>Sebelum dibangun menjadi terminal seperti sekarang, komplek pemakaman tersebut dikelilingi oleh komplek persawahan. Ketika pemerintah berencana untuk membangun kawasan tersebut menjadi terminal sekitar tahun 2003, masyarakat memberikan syarat untuk tidak memindahkan makam leluhur mereka. Karena itu makam tersebut masih bertahan di tengah-tengah terminal sampai saat ini.</div><blockquote>Supangat, atau yang lebih dikenal dengan nama Mbah Dempul, mengatakan <em>"bahwa Kyai Guno Mrico sempat berpesan kepada anak cucunya sebelum wafat untuk tidak memindahkan makamnya apapun yang terjadi. Kyai Guno Mrico mengatakan bahwa suatu saat, tanah di wilayah Mrican akan menjadi ‘tanah emas’. Benar saja, saat ini harga tanah di Kampung Mrican sudah mencapai belasan juta per meter".</em></blockquote><div>🥺☹️😓</div><var>Sangat disayangkan, sangat minim referensi tentang sosok <strong><mark>Kyai Guno Mrico</mark></strong>. Tapi dari cerita turun temurun, Mbah Dempul menceritakan "bahwa Kyai Guno Mrico memiliki kaitan erat dengan Kerajaan Mataram Islam yang kala itu masih berkedudukan di Kotagede yang berdiri setelah menaklukan Kasultanan Pajang yang kemudian diikuti dengan penaklukan sejumlah wilayah sekitar di Jawa Timur".</var><blockquote><em>"Konon, setiap wilayah yang berhasil ditaklukan, pasukan penakluk akan memboyong perempuan-perempuan dari wilayah tersebut untuk dipersembahkan kepada raja atau sultan. Saat itu, ada seorang perempuan dari wilayah yang berhasil ditaklukan yang sangat sulit untuk diboyong. Namun Kyai Guno Mrico kemudian berhasil membawa perempuan tersebut dalam keadaan tidur bersama tempat tidurnya ke Keraton Kotagede. Kyai Guno Mrico lalu dikasih hadiah berupa tanah yang sekarang jadi Kampung Mrican ini,” </em>kata Mbah Dempul.<br>Tak hanya diberi hadiah berupa tanah, oleh Raja Mataram saat itu, Kyai Guno Mrico juga mendapat wewenang sebagai keamanan pasar Kotagede.</blockquote><var>Dari cerita turun temurun, Mbah Dempul juga mengatakan <em>"bahwa Kyai Guno Mrico sempat menjadi teman seperguruan Panembahan Senopati. Sayangnya karena keterbatasan informasi, tak jelas kepada siapa mereka berdua berguru. </em>Saya inginnya ada buku yang cerita tentang Kyai Guno Mrico, biar jelas dan lebih gampang juga menurunkan sejarahnya ke anak-anak sekarang,” ujarnya.</var><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1723612477/ddb2f1a30fc7d496453228d5bf7a3cd0/7C00C645_C208_4DEE_9781_51256DAD7A78.jpg" />
         <pubDate>2022-06-09 23:51:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/puspitamayang44/Bookmarks/wish/2216816257</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mengintip Tradisi Budaya Giwangan</title>
         <author>ryanmoerdyan</author>
         <link>https://padlet.com/puspitamayang44/Bookmarks/wish/2217374490</link>
         <description><![CDATA[<blockquote>Di Kelurahan <strong><mark>Giwangan</mark></strong> yang terdiri dari kampung "<strong><em>Tegalturi</em></strong>, <strong><em>Ponggalan</em></strong>, <strong><em>Karangmiri</em></strong>, <strong><em>Mrican</em></strong>, <strong><em>Pamukti Sanggrahan</em></strong>, <strong><em>Mendungan</em></strong>, <strong><em>Ngaglik</em></strong>, dan <strong><em>Malangan</em></strong><em>".</em> Berbagai kegiatan kesenian tradisional Jawa, masih terpelihara dan terjaga dengan baik. Hal itu ditunjukkan dengan banyaknya kelompok kesenian tradisional yang rutin beraktivitas setiap hari di kawasan ini.</blockquote><var>Kesenian tradisional yang aktif di Kelurahan Giwangan saat ini. Mulai dari kesenian karawitan/gamelan, tari tradisional, gejog lesung, tek-tek/kentongan, hingga wayang orang, kethoprak, bahkan macapat.</var><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-06-10 10:53:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/puspitamayang44/Bookmarks/wish/2217374490</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
