<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>BahasaIndonesia by uniq</title>
      <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch</link>
      <description>Membaca itu Indah</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2018-08-14 02:45:27 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-10-21 11:32:23 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/42452676/65401581339f22a125ca133a4fb1cfd9/uniq1.jpg</url>
      </image>
      <item>
         <title>Tugas Hikayat</title>
         <author>unique01_wb</author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306869912</link>
         <description><![CDATA[<div>Carilah hikayat kemudian tentukan ide pokok dan unsur instrinsik dan ekstrinsik</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:42:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306869912</guid>
      </item>
      <item>
         <title>A. Qurannisa Ainnayah </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870167</link>
         <description><![CDATA[<div>ide pokok hikayat buaya perompak<br>paragraf 1=<br>     Pada jaman dahulu, Sungai Tulang Bawang sangat terkenal dengan keganasan buayanya. Telah banyak orang yang hilang secara tiba-tiba disana. Kejadian itu terulang lagi orang yang hilang itu adalah Aminah. Tidak ada jejak yang tertinggal seperti sirna di telan bumi<br><br>paragraf 2=<br>     Aminah sadar dari pingsannya di sebuah gua yang dipenuhi harta yang mengeluarkan sinar berkilauan<br><br>paragraf 3=<br>     Muncullah seseorang bernama somad yang dikutuk menjadi buaya karena perbuatan jahatnya yang selalu  merampok di Sungai Talung Bawang dan menyimpan hartanya di gua itu. <br><br>paragraf 4=<br>     Buaya itu memberikan Aminah hadiah perhiasan dengan harapan agar dia mau menemaninya tinggal di gua itu. Tetapi keinginan Aminah kembali ke kampung halamannya semakin menjadi-jadi.<br><br>paragraf 5=<br>     Amina berhasil keluar dari gua itu saat sang buaya lengah dan di tolong oleh warga desa yang mencari rotan. Lalu Aminah memberi hadiah sebagian hartanya kepada mereka.<br><br>Unsur Instrinsik:<br>  Tema : Buaya Perompak<br>Seting=  Suasana: mengagumkan, tegang<br>           tempat : sungai, gua<br>            waktu :  berhari<br>Alur: mundur<br>penokohan: protagonis: aminah<br>               antagonis: buaya (somad)<br>               figuran: warga<br>               tritagonis: warga yang mencari rotan<br>amanat: jangan merampas milik orang lain, jangan <br>memaksakan kehendak orang lain<br>sudut pandang : serba tahu<br><br>Unsur Ekstrinsik:<br>Nilai Keagamaan: jangan lupa bersyukur kepada tuhan<br>Bernilai sosial : saling membantu sesama, peduli terhadap sesama.<br>Nilai pendidikan: jangan mudah tergiur dengan harta dengan cara yang tidak benar<br><br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:45:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870167</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Reski Dwie Syahbani Yudhiesyah </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870175</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Unsur Intrinsik dalam hikayat Si Miskin<br></strong><br></div><div><strong>Tema :</strong><br>Kunci kesuksesan adalah kesabaran. Perjalanan hidup seseorang yang mengalami banyak rintangan dan cobaan.<br><br><strong>Alur : </strong><br>Menggunakan alur maju, karena penulis menceritakan peristiwa tersebut dari awal permasalahan sampai akhir permasalahan.<br><br><strong>Setting/ Latar : </strong><br>Setting Tempat : Negeri Antah Berantah, hutan, pasar, Negeri Puspa Sari, Lautan, Tepi Pantai Pulau Raksasa, Kapal, Negeri Palinggam Cahaya.<br>Setting Suasana : tegang, mencekam dan Ketakutan, bahagia, menyedihkan<br><br><strong>Sudut Pandang Pengarang :</strong><br>Orang ketiga serba tahu.<br><br><strong>Amanat :</strong><br>- Seorang pemimpin yang baik adalah seorang yang adil dan pemurah.<br>- Janganlah mudah terpengaruh dengan kata-kata oran lain.<br>- Hadapilah semua rintangan dan cobaan dalam hidup dengan sabar dan rendah hati.<br>- Jangan memandang seseorang dari tampak luarnya saja, tapi lihatlah ke dalam hatinya.<br>- Hendaknya kita dapat menolong sesama yang mengalami kesukaran.<br>- Janganlah kita mudah menyerah dalam menghadapi suatu hal.<br>- Hidup dan kematian, bahagia dan kesedihan, semua berada di tanan Tuhan, manusia hanya dapat menjalani takdir yang telah ditentukan.<br><br><strong>Unsur Ekstrinsik dalam Hikayat Si Miskin</strong></div><div><strong>Nilai Moral</strong><br>Kita harus bersikap bijaksana dalam menghadapi segala hal di dalam hidup kita.<br>Jangan kita terlalu memaksakan kehendak kita pada orang lain.<br><br><strong>Nilai Budaya</strong><br>- Sebagai seorang anak kita harus menghormati orangtua.<br>- Hendaknya seorang anak dapat berbakti pada orang tua.<br><br><strong>Nilai Sosial</strong><br>- Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.<br>- Hendaknya kita mau berbagi untuk meringankan beban orang lain.<br><br><strong>Nilai Religius</strong><br>- Jangan mempercayai ramalan yang belum tentu kebenarannya.<br>- Percayalah pada Tuhan bahwa Dialah yang menentukan nasib manusia.<br><br><strong>Nilai Pendidikan</strong><br>- Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.<br>- Jangan mempercayai ramalan yang belum tentu kebenarannya.<br><br><strong>ide pokok hikayat si miskin : <br></strong>1. Seorang raja di Keindraan dibuang dan dikutuk menjadi miskin oleh dewa Batara Indera, dia kemudian dikenal senagai Si Miskin<br><br>2. Si Miskin dan istrinya pergi ke Negara Antah Berantah dimana mereka diusir-usir karena pakaianya yang compang-camping dan terpaksa tinggal di hutan.<br><br>3. Istri Si Miskin hamil dan mengidam mangga dari kebun raja Negeri Antah Berantah. Di Miskin pun berupaya mengambilnya.<br><br>4. Setelah melahirkan, anaknya adalah laki-laki dan diberi nama Marakarmah (anak yang lahir dalam kesulitan)<br><br>5. Si Miskin dan keluarganya tiba-tiba menjadi kaya setelah menemukan tajau berisi emas.<br><br>6. Dengan kekayaan ini Si Miskin mendirikan Kerajaan Puspa Sari dan menamakan dirinya Maharaja Indera Angkasa dan isterinya bernama Tuan Puteri Ratna Dewi. Ia kemudian memiliki anak kedua yang bernama Nila Kesuma.<br><br>7. Karena kekayaannya kerajaan ini mengundang iri kerajaan Antah Berantah. Rajanya kemudian mengatur agar ahli nujum berbohong terhadap ramalannya dan mengatakan bahwa kedua anak itu akan membawa bencana.<br><br>8. Akhirnya Marakarmah dan Nila Utama diusir akibat ramalan palsu itu.<br><br>9. Di pengasingan Marakarmah dituduh mencuri dan dibuang ke laut. Sementara Nila Utama bertemu dan menikah dengan Putera Mahkota kerajaan Palinggam Cahaya.<br><br>10. Sementara Marakarmah akirnya mendarat dan bertemu dengan Cahaya Chairani yang ditawan para raksasa. Mereka berhasil melarikan diri dan menumpang kapal. Namun nahkoda kapal tertarik dengan Cahaya Chairani dan membuang Marakarmah kel laut lagi sehingga dia dimakan ikan.<br><br>11. Marakarmah berhasil keluar dari perut ikan dan bekerja pada Nenek Kebayan yang menjual bunga dan bisa bertemu kembali dengan Cahaya Chairani.<br><br>12. Marakarmah kemudian bertemu lagi dengan adiknya Nila Kusema.<br><br>13. Marakarmah kemudian kembali ke orang tuanya yang lagi-lagi menjadi Si Miskin dan membantu membangun kembali kerajaannya.<br><br>14. Akhirnya, Marakarmah pergi negara mertuanya dan memggantikan mertuanya debagai raja.<strong><br><br></strong>15 Si Miskin pulang membawa buah mempelam setangkai, maka istri Si Miskin tertawa-tawa seraya disambut lalu dimakannya.<br><br> 16 Si Miskin memohon kepada baginda hendak makan nangka yang ada didalam taman raja. <br><br>17 Baginda memberikan buah nangka barang sebiji setelah Si Miskin memohon kepada baginda. <br><br>18 Selama istri Si Miskin hamil, banyak-banyaklah makan makanan dan kain baju dan beras padi dan segala perkakas diberikan kepada Si Miskin. <br><strong><br></strong>19 Pada malam 14 hari bulan, istri si Miskin melahirkan dan menamai anaknya Markaromah. <br><br>20 Si Miskin menggali dan menemukan telaju yang berisi emas dengan takdir Allah SWT. menganugerahkan kepada nya. <br><strong><br></strong><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:45:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870175</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Faizah Zaskia Nabila S</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870209</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:45:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870209</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Siti Afifah Nurul Annisyah ( X mipa 6 )</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870215</link>
         <description><![CDATA[<div>Judul "Si Bungkuk dan Si Panjang"<br>Ide pokok :<br>•paragraf 1 : <br>Suatu hari terdapat sepasang suami istri yang hendak menyebrang sungai. Namun, mereka tidak menemukan perahu untuk menyebrang sungai tersebut.<br>•paragraf 2 :<br>Dilihatnya seorang laki-laki Bedawi yang ada di seberang sungai, maka laki-laki tua itu <br>meminta tolong kepada Bedawi untuk menyeberangkan ke sungai.<br>•paragraf 3 :<br>Dengan kelicikannya, Bedawi itu memanfaatkan laki-laki tua dengan berbohong bahwa sungainya dalam dengan ia memendekkan tubuhnya sampai lehernya tertutup air.<br>•paragraf 4 :<br>Bedawi itu merasa sangat beruntung karena dengan dengan kelicikannya, ia membawa perempuan itu dan bekal barang-barang sepasang suami istri tersebut.<br>•paragraf 5 :<br>Di tengah-tengah sungai Bedawi itu mencoba merayu perempuan tersebut dengan mengejeknya bahwa seorang wanita cantik tetapi mempunyai suami yang bungkuk.<br>•paragraf 6 :<br>Setelah sampai di tepi sungai, Bedawi dan perempuan itu mandi lalu menikmati perbekalan yang telah dibawanya. Setelah itu mereka berjalan-jalan. Dari kejauhan, orang tua bungkuk itu merasa heran dengan tingkah laku Bedawi dan istrinya tersebut. Lalu ia memutuskan untuk menyusul mereka, ia nekat untuk menyeberangi sungai walaupun taruhannya nyawa.<br>•paragraf 7 : <br>Sesampainya di tepi sungai, orang tua tersebut pergi ke dusun Masyhudulhakk untuk mengadukan masalahnya tersebut. Setelah itu, Masyhudulhakk memanggil Bedawi dan perempuan tersebut dan menanyakan ‘’siapakah perempuan itu?” Bedawi pun menjawab bahwa perempuan itu adalah istrinya yang telah dinikahinya. Akan tetapi, orang tua tersebut menyangkal perkataan Bedawi bahwa perempuan itu adalah istrinya.<br>•paragraf 8 :<br> Lalu Masyhudulhakk menanyakan kepada perempuan itu, siapakah sebenarnya suaminya tersebut. Lalu wanita itu menjawab bahwa suaminya itu adalah Si Panjang.<br>•paragraf 9 :<br>Ketika Si Panjang ditanyai siapa nama mertua dan dimanakah dia tinggal dia tidak bisa menjawabnya. Sebaliknya ketika Si Bungkuk yang di tanya dia bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan benar.<br>•paragraf 10 :<br>Dari, pengakuan tersebut sudah diketahui siapa yang salah dan siapa yang benar.<br><br>Unsur interinsik :<br>1. Tema               : Kesetiaan dan Pengkhianatan Cinta<br>2. Alur                 : Alur maju<br>3. Sudut Pandang : orang ketiga serba tahu<br>4. Latar               : </div><div>      a. Latar tempat   : tepi sungai, sungai, sebuah dusun<br>      b. Latar suasana :menegangkan, mengecewakan<br>      c. Latar Waktu    :siang hari<br>5. Penokohan       :<br>      a.  Masyhudulhakk : baik hati, arif, bijaksana, pintar, suka menolong, cerdik</div><div>         b. Si Bungkuk        : baik hati, setia pada istrinya, pemaaf, mudah percaya</div><div>      c. Istri Si Bungkuk  : mudah dirayu, egois, tidak setia, suka berbohong<br>      d. Si Panjang / Bedawi : jahat, licik, egois<br>6. Amanat             :<br>Kita tidak boleh mudah tergoda oleh rayuan-rayuan yang belum pasti kebenarannya. Karena itu akan membuat kita kecewa.<br>Kita tidak boleh bohongkepada siapapun. Karena berbohong itu berdosa dan dapat merugikan diri kita sendiri juga.<br>Kita harus membantu orang dengan ikhlas.<br>Syukurilah jodoh yang telah diberikan oleh Tuhan. Yakinlah bahwa jodoh kita tersebut adalah yang terbaik untuk kita.<br>Yakinlah bahwa kebaikan akan mengalahkan kejahatan. Karena kejahatan apapun akan terkuak walaupun sudah ditutup-tutupi sedemikian rupa.<br><br>Unsur Ekstrinsi :<br> •Kejujuran<br>Di dalam hikayat ini terdapat nilai kejujuran yang harus ditanamkan dalam diri ini di kehidupan sehari-hari. Dalam hikayat tersebut Bedawi dan perempuan itu tidak jujur maka mereka mendapatkan akibatnya yaitu harus menanggung malu dan mendapat hukuman karena kebohongannya.<br> •Kebijaksanaan<br>Dalam hikayat ini tokoh Masyhudulhakk mempunyai sifat bijaksana yang baik untuk dicontoh. Dia bijaksana dalam menyelesaikan suatu masalah yang ia hadapi.<br> •Kesetiaan<br>Dalam hikayat ini kita diajarkan untuk menjadi orang yang setia. Tokoh orang tua bungkuk tersebut mempunyai kesetiaan yang tinggi kepada istrinya. Dia tidak rela jika istrinya berselingkuh dengan orang lain, bahkan ia rela bertaruh nyawa demi istrinya saat melihat istrinya bersama Bedawi tersebut.<br> •Nilai Sosial<br>Tolong menolong<br>Masyhudulhakk punya sifat tolong menolong dengan sesama. Dia dengan ikhlas menolong orang yang membutuhkan pertolongannya untuk menyelesaikan suatu masalah.<br>Bermusyawarah<br>Dalam hikayat tersebut terdapat budaya musyawarah untuk menyelesaikan suatu masalah. Bukan dengan kekerasan ataupun dengan cara fisik. Akan tetapi, dalam hikayat ini terdapat budaya untuk bermusyawarah secara baik-baik untuk memecahkan masalah.<br> •Nilai Agama<br>Dalam hikayat ini, Masyhudulhakk menyuruh Bedawi dan perempuan itu untuk bertaubat agar dapat dilebur dosa-dosa yang ia perbuat. Bersyukur kepada Tuhan atas jodoh yang telah diberikan. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:45:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870215</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rifqah Athifah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870226</link>
         <description><![CDATA[<div>X MIPA 6<br><br>Teks Hikayat : <a href="http://dongengkakrico.wordpress.com/hikayat/hikayat-seorang-kakek-dan-seekor-ular/"><strong>Hikayat Seorang Kakek dan Seekor Ular</strong></a><strong> (Balas Budi)<br><br>IDE POKOK</strong></div><div>Paragraf 1 : Pada zaman dahulu, tersebutlah ada seorang kakek yang cukup disegani. Selain dikenal alim dan taat, ia juga terkenal berotot kuat dan berotak encer.<br><br></div><div>Paragraf 2 : Suatu hari, ia sedang duduk di tempat kerjanya sembari menghisap rokok dengan nikmatnya. Tiba-tiba seekor ular datang memohon agar si kakek membiarkannya masuk ke mulutnya untung menghindari serangan dari seorang pria.<br><br>Paragraf 3 : Ular mengucapkan sumpah atas nama Allah bahwa ia takkan membunuh si kakek. Usai ular mengucapkan sumpahnya, kakek pun membuka mulutnya sekira-kira dapat untuk ular itu masuk.<br><br></div><div>Paragraf 4 : Saat pria yang ingin membunuh ular datang, kakek pura pura tidak melihat si ular. Ular pun selamat.</div><div><br>Paragraf 5 : Kakek meminta ular untuk keluar dari tubuhnya, namun ular tidak mau. Ia malah ingin membunuh kakek dari dalam tubuhnya.<br><br></div><div>Paragraf 6 : Kakek berserah diri kepada Allah SWT dan meminta ular agar membunuhnya dibawah sebatang pohon besar. Ular mengabulkan permintaan terakhirnya dan membawanya ke pohon itu.<br><br></div><div>Paragraf 7 : Setelah sampai dan bernaung di bawah pohon yang dituju, kakek menyuruh ular untuk melakukan yang diinginkannya.<br><br></div><div>Paragraf 8 : Tiba-tiba kakek mendengar sebuah suara yang menyuruhnya untuk memakan dedaunan dari pohon itu.</div><div><br>Paragraf 9 : Anjuran itu kemudian kakek amalkan dengan baik sehingga ketika keluar dari mulutnya ular itu telah menjadi bangkai. <br><br></div><div>Paragraf 10 : Kakek bersujud seketika, tanda syukurnya kepada Tuhan yang telah memberi pertolongan dengan mengirimkan seorang juru penyelamat untuknya</div><div> </div><div><strong>Unsur intrinsik</strong></div><div><strong>1.     Tema                               : </strong>Balas Budi</div><div><strong>2.      Perwatakan tokoh      :</strong></div><div>a)      Si Kakek       : Baik hati, pandai, taat, terlalu mudah percaya pada siapapun, suka  menolong dan pasrah.</div><div>-        Baik Hati : Dia rela menolong ular yang bahkan bisa membahayakan nyawanya sendiri.</div><div>-        Pandai : Selain dikenal alim dan taat, ia juga terkenal berotot kuat dan berotak encer.</div><div>-        Taat : Ia dikenal takut kepada Allah, gandrung pada kebenaran, beribadah wajib setiap waktu, menjaga salat lima waktu dan selalu mengusahakan membaca Al-Qur’an pagi dan petang.</div><div>-        Terlalu mudah percaya pada siapapun : Dia terlalu percaya bahkan pada hal yang dia endiripun tahu jika itu dapat membunuhnya.</div><div>-        Suka menolong : bukankah aku telah menyelamatkanmu, tetapi sekarang aku pula yang hendak kamu bunuh?</div><div>-        Pasrah : Terserah kepada Allah Yang Esa sajalah. Dia cukup bagiku, sebagai penolong terbaik .</div><div>b)      Ular               : Licik, jahat, suka berbohong, dan tidak tahu balas budi.</div><div>-        Licik : Buktinya kamu biarkan saja musuhmu masuk ke mulutmu, padahal semua orang tahu bahwa ia ingin membunuhmu setiap ada kesempatan.</div><div>-        Jahat : Sekarang kuberi kamu dua pilihan, terserah kamu memilih yang mana; mau kumakan hatimu atau kumakan jantungmu? Kedua-duanya sama-sama membuatmu sekarat.</div><div>-        Suka berbohong : Pada awalnya dia berjanji hanya akan bersembunyi, tetapi ternyata dia juga mengancam untuk memakan hati atau jantung si kakek.</div><div>-        Tidak tahu balas budi : Setelah diberi pertolongan oleh kakek, bukannya berterima kasih, ular itu malah mau membunuh kakek.</div><div>c)      Suara penolong : Baik hati, suka menolong.</div><div>-            Baik hati : Dia ada disaat yang tepat. Saat kakaek akan dibunuh oleh ular itu.</div><div>-            Suka menolong : Tuhan yang telah memberi pertolongan dengan mengirimkan seorang juru penyelamat untuknya.</div><div> </div><div> </div><div><strong>Unsur Ekstrinsik</strong></div><div>1.       <strong>Nilai Moral : </strong>Kita dapat belajar bahwa menolong orang itu memang baik, namun kita juga harus memikirkan pula tentang akibat dari pertolongan kita itu.</div><div>2.       <strong>Nilai Pendidikan      : </strong>Kita dapat belajar bahwa perbuatan baik juga akan mendapatkan balasan yang baik pula.</div><div>3.       <strong>Nilai Religius: </strong>Allah akan selalu melindungi hamba-Nya yang taat kepada-Nya.</div><div>4.       <strong>Nilai Sosial : </strong>Menolong sesama yang membutuhkan adalah hal yang baik, apalagi bila memang sedang membutuhkan pertolongan.</div><div>5.       <strong>Nilai Budaya: </strong>Budaya tolong-menolong antara kiat memang harus selalu diterapkan dimanapun dan kapanpun.</div><div>6.       <strong>Nilai Estetika: </strong>Hubungan antar umat manusia yang saling tolong-menolong dan pertolongan Allah yang terkadang tak terduga.</div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:45:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870226</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Zahran Aly Nafis X Mipa 6 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870235</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Hikayat Burung Cenderawasih</strong></div><div>Sahibul hikayat telah diriwayatkan dalam<strong>Kitab Tajul Muluk</strong>, mengisahkan seekor burung yang bergelar <strong>burung cenderawasih</strong>. Adapun asal usulnya bermula dari<em>kayangan</em>. Menurut kebanyakan orang lama yang arif mengatakan ianya berasal dari syurga dan selalu berdamping dengan para<em>wali</em>. Memiliki kepala seperti kuning keemasan. Dengan empat sayap yang tiada taranya. Akan kelihatan sangat jelas sekiranya bersayap penuh adanya. Sesuatu yang sangat nyata perbezaannya adalah dua antena atau ekor ‘<em>areil</em>‘ yang panjang di ekor belakang. Barangsiapa yang melihatnya pastilah terpegun dan takjub akan keindahan dan kepelikan burung cenderawasih.</div><div>Amatlah jarang sekali orang memiliki burung cenderawasih. Ini kerana burung ini bukanlah berasal dari bumi ini. Umum mengetahui bahawa burung Cenderawasih ini hanya dimiliki oleh kaum kerabat istana saja. Hatta mengikut sejarah, kebanyakan kerabat-kerabat istana Melayu mempunyai burung cenderawasih. Mayoritas para peniaga yang ditemui mengatakan ia membawa tuah yang hebat.</div><div><em>Syahdan </em>dinyatakan lagi dalam beberapa kitab Melayu lama, sekiranya burung cenderawasih turun ke bumi nescaya akan berakhirlah hayatnya. Dalam kata lain burung cenderawasih akan mati sekiranya menjejak kaki ke bumi. Namun yang pelik lagi ajaibnya, burung cenderawasih ini tidak lenyap seperti bangkai binatang yang lain. Ini kerana ia dikatakan hanya makan embun syurga sebagai makanannya. Malahan ia mengeluarkan bau atau wangian yang sukar untuk diperkatakan. Burung cenderawasih mati dalam pelbagai keadaan. Ada yang mati dalam keadaan terbang, ada yang mati dalam keadaan istirahat dan ada yang mati dalam keadaan tidur.</div><div>Walau bagaimanapun, <strong><em>Melayu Antique</em></strong>telah menjalankan kajian secara rapi untuk menerima hakikat sebenar mengenai BURUNG CENDERAWASIH ini. Mengikut kajian ilmu pengetahuan yang dijalankan, burung ini lebih terkenal di kalangan penduduk nusantara dengan panggilan<strong>Burung Cenderawasih</strong>. Bagi kalangan masyarakat China pula, burung ini dipanggil sebagai <strong>Burung Phoenix</strong> yang banyak dikaitkan dengan kalangan kerabat istana Maharaja China. Bagi kalangan penduduk Eropah, burung ini lebih terkenal dengan panggilan ‘<em>Bird of Paradise</em>‘.</div><div>Secara faktanya, asal usul burung ini gagal ditemui atau didapathingga sekarang. Tiada bukti yang menunjukkan ianya berasal dari alam nyata ini. Namun satu lagi fakta yang perlu diterima, burung cenderawasih turun ke bumi hanya di <strong>IRIAN JAYA </strong>(Papua sekarang), <strong>Indonesia </strong>saja. Tetapi yang pelik namun satu kebenaran burung ini hanya turun seekor saja dalam waktu tujuh tahun. Dan ia turun untuk mati. Sesiapa yang menjumpainya adalah satu tuah. Oleh itu, kebanyakan burung cenderawasih yang anda saksikan mungkin berumur lebih dari 10 tahun, 100 tahun atau sebagainya. Kebanyakkannya sudah beberapa generasi yang mewarisi burung ini.</div><div>Telah dinyatakan dalam kitab Tajul Muluk bahawa burung cenderawasih mempunyai pelbagai kelebihan. Seluruh badannya daripada dalam isi perut sehinggalah bulunya mempunyai khasiat yang misteri. Kebanyakannya digunakan untuk perubatan. Namun ramai yang memburunya kerana ‘tuahnya’. Burung cenderawasih digunakan sebagai ‘pelaris’. Baik untuk pelaris diri atau perniagaan. Sekiranya seseorang memiliki bulu burung cenderawasih sahaja pun sudah cukup untuk dijadikan sebagai pelaris. Mengikut ramai orang yang ditemui memakainya sebagai pelaris menyatakan, bulu burung cenderawasih ini merupakan pelaris yang paling besar. Hanya orang yang memilikinya yang tahu akan kelebihannya ini. Namun yang pasti burung cenderawasih bukannya calang-calang burung. Penuh dengan keunikan, misteri, ajaib, tuah. [Phoenix/infokito].</div><div><strong>Unsur intrinsik pada Hikayat 1 :</strong></div><div>1. Tema                                  : Hikayat Burung Cendrawasih.      </div><div>2. Seting                    </div><div>a. Tempat                        : Papua di Indonesia .</div><div>b. Waktu             : Siang hari.</div><div>c.Suasana                        : Menakjubkan.</div><div>3.Alur                          : Mundur.</div><div>4.Penokohan                    </div><div>a.Protagonis              : Burung Cendrawasih.</div><div>b.Tritagonis                : Para wali.</div><div>c.Figuran                    : Kaum Kewrabat Istana.</div><div>5.Amanat                          : Burung Cendrawasih sangat bermanfaat sebagai pelaris.</div><div>6.Sudut pandang              : Serba tahu.</div><div>7.Gaya bahasa                  : Majas.</div><div><strong>Unsur Ekstrinsik                    :</strong> Bernilai pendidikan,nilai sosial,nilai keagamaan,nilai budaya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:45:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870235</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nabilah Salsa Ramadhani R</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870238</link>
         <description><![CDATA[<div>X mipa 6<br>”Hikayat Bayan Budiman<br>1. Ide pokok<br>•&gt; paragraf 1 <br>Sebermula ada saudagar di negara Ajam. Khojan Muborak namanya,terlalu amat kaya,akan tetapi ia tiada beranak.<br>•&gt; paragraf 2<br>Setelah umurnya Khojan Maimun lima tahun, maka diserahkan oleh bapaknya mengaji kepada banyak guru sehingga sampai umur Khojan Maimun lima belas tahun. <br>•&gt; paragraf 3<br>Pada suatu hari Khojan Maimun tertarik akan perniagaan di laut,lalu minta izinlah dia kepada istrinya.<br>•&gt; paragraf 4<br>Hatta beberapa lama ditinggal suaminya, ada anak Raja Ajam berkuda lalu melihatnya rupa Bibi Zainab yang terlalu elok.<br>•&gt; paragraf 5<br>Lalu Bibi Zainab pun pergi mendapatkan bayan yang sedang berpura-pura tidur.<br>•&gt; paragraf 6<br>Istri Khojan Maimun yang ingin mendengar cerita tersebut, maka Bayanpun bercerita kepada Bibi Zainab dengan maksud ia dapat memperlalaikan perempuan itu.<br>•&gt; paragraf 7<br>Bibi Zainab terpaksa menangguh dari satu malam ke satu malam pertemuannya dengan Putera Raja.<br>•&gt; paragraf 8<br>Bayan yang bijak bukan sahaja dapat menyelamatkan nyawanya, tetapi juga dapat menyekat isteri tuannya daripada menjadi istri yang curang.<br>2. Unsur Instrinsik<br>¯Tema : seorang burung yang memberi nasihat kepada Tuannya untuk menghindari perbuatan tercela.<br><br>¯Alur : Maju<br><br>·Pengenalan : “….Tak lama setelah beliau berdoa kepada Tuhan, lalu saudagar Mubarok pun mempunyai seorang anak laki- laki dari istrinya yang diberi nama Khojan Maimun.<br><br>Setelah Khojan Maimun berusia lima tahun, ayahnya menyerahkan kepada guru-guru untuk mengajarinya mengaji hingga umurnya lima belas tahun. Saat umurnya lima belas tahun, Khojan Maimun dinikahkan dengan saudagar kaya, sangat cantik, bernama Bibi Zainab.”<br><br>·Pemunculan Masalah: “….Hatta beberapa lama di tinggal suaminya, ada anak Raja Ajam berkuda lalu melihatnya rupa Bibi Zainab yang terlalu elok. Berkencanlah mereka untuk bertemu melalui seorang perempuan tua.”<br><br>·Klimaks : “….Maka pada suatu malam, pamitlah Bibi Zainab kepada burung tiung itu hendak menemui anak raja itu, maka bernasehatkah di tentang perbuatanya yang melanggar aturan Allah SWT. maka marahlah istri Khojan Maimun dan disentakkannya tiung itu dari sangkarnya dan dihempaskannya sampai mati….”<br><br>·Antiklimaks : “….Maka berkeinginanlah istri Khojan Maimun untuk mendengarkan cerita tersebut. Maka Bayan pun berceritalah kepada Bibi Zainab dengan maksud agar ia dapat memperlalaikan perempuan itu.”<br><br>·Penyelesaian : “….maka di berilah ia cerita- cerita hingga sampai 24 kisah dan 24 malam burung tersebut bercerita, hingga akhirnyalah Bibi Zainab pun insaf terhadap perbuatanya dan menunggu suaminya Khojan Maimum pulang dari rantauannya.”<br><br>¯Tokoh dan Penokohan :<br><br>a.Khojan Mubarok : sholeh dan kaya. (analitik)<br><br>Bukti 1. : “Khojan Mubarok namanya, terlalu amat kaya, akan tetapi ia tiada beranak. Tak seberapa lama setelah ia berdoa kepada Tuhan,…”<br><br>Bukti 2 : “….maka di serahkan oleh bapaknya mengaji kepada banyak guru…”<br><br>b.Khojan Maimun : berbakti kepada istrinya. (analitik)<br><br>Bukti : “….Pada suatu hari Khojan Maimun tertarik akan perniagaan di laut, lalu minta izinlah dia kepada istrinya.”<br><br>c.Bibi Zainab : sangat cantik, kaya, dan gegabah.(analitik dan dramatik).<br><br>Bukti 1 : “….ia di pinangkan dengan anak saudagar yang kaya, amat elok parasnya, namanya Bibi Zainab.”<br><br>Bukti 2 : “….Maka pada suatu malam, pamitlah Bibi Zainab kepada burung tiung itu hendak menemui anak raja itu, maka bernasehatkah di tentang perbuatanya yang melanggar aturan Allah SWT. maka marahlah istri Khojan Maimun dan disentakkannya tiung itu dari sangkarnya dan dihempaskannya sampai mati.” (dramatik).<br><br>d.Burung Tiung : pemberi nasihat yang bijaksana. (analitik)<br><br>Bukti : “….Maka pada suatu malam, pamitlah Bibi Zainab kepada burung tiung itu hendak menemui anak raja itu, maka bernasehatkah di tentang perbuatanya yang melanggar aturan Allah SWT.”<br><br>e.Burung Bayan : bijaksana, pemberi pitutur yang baik. (analitik)<br><br>Bukti 1 : “….berkeinginanlah istri Khojan Maimun untuk mendengarkan cerita tersebut. Maka Bayan pun berceritalah kepada Bibi Zainab dengan maksud agar ia dapat memperlalaikan perempuan itu….”<br><br>Bukti 2 : “….Hatta setiap malam, Bibi Zainab yang selalu ingin mendapatkan anak raja itu, dan setiap berpamitan dengan bayan, maka di berilah ia cerita- cerita hingga sampai 24 kisah dan 24 malam burung tersebut bercerita,…”<br><br>¯Latar atau Setting :<br><br>Latar Tempat :<br><br>«Di Negara Ajam : “Sebermula ada saudagar di negara Ajam.”<br><br>«Di rumah : “….lalu di bawanya ke rumah….”<br><br>Latar Waktu : -<br><br>Latar suasana : Menegangkan<br><br>Bukti 1 : “….maka marahlah istri Khojan Maimun dan disentakkannya tiung itu dari sangkarnya dan dihempaskannya sampai mati.”<br><br>Bukti 2 : “Lalu, Bibi Zainab pun pergi mendapatkan bayan yang sedang berpura-pura tidur, maka bayan pun berpura- pura terkejut dan mendengar kehendak hati Bibi Zainab pergi mendapatkan anak raja. Maka bayan pun berpikir bila ia menjawab seperti tiung maka ia juga akan binasa.”<br><br>¯Sudut Pandang : Orang Ketiga.<br><br>Bukti : “Sebermula ada saudagar di negara Ajam. Khojan Mubarok namanya, terlalu amat kaya, akan tetapi ia tiada beranak.” dan meliputi isi hikayat itu menggunakan sudut pandang orang ketiga.<br><br>¯Amanat : seorang istri haruslah menaati dan berbakti pada suaminya dan jangan gegabah pada saat diberi nasihat ataupun kritikan.<br><br>¯Gaya Bahasa :mudah dipahami, pengarang cenderung menggunakan bahasa Melayu.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:45:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870238</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dwi afiqah achmad</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870243</link>
         <description><![CDATA[<div>  </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:45:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870243</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muh Fadly Firmansyah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870250</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>PERKARA SI BUNGKUK DAN SI PANJANG</strong></div><div><br> Mashudulhakk arif bijaksana dan pandai memutuskan perkara-perkara yang sulit sebagai ternyata dari contoh yang di bawah ini:<br><br></div><div>Hatta maka berapa lamanya Masyhudulhakk pun besarlah. Kalakian maka bertambah-tambah cerdiknya dan akalnya itu. Maka pada suatu hari adalah dua orang laki-istri berjalan. Maka sampailah ia kepada suatu sungai. Maka dicaharinya perahu hendak menyeberang, tiada dapat perahu itu. Maka ditantinya 1) kalau-kalau ada orang lalu berperahu. Itu pun tiada juga ada lalu perahu orang. Maka ia pun berhentilah di tebing sungai itu dengan istrinya. Sebermula adapun istri orang itu terlalu baik parasnya. Syahdan maka akan suami perempuan itu sudah tua, lagi bungkuk belakangnya. Maka pada sangka orang tua itu, air sungai itu dalam juga. Katanya, "Apa upayaku hendak menyeberang sungai ini?"</div><div><br></div><div>Maka ada pula seorang Bedawi duduk di seberang sana sungai itu. Maka kata orang itu, "Hai tuan hamba, seberangkan apalah kiranya hamba kedua ini, karena hamba tiada dapat berenang; sungai ini tidak hamba tahu dalam dangkalnya." Setelah didengar oleh Bedawi kata orang tua bungkuk itu dan serta dilihatnya perempuan itu baik rupanya, maka orang Bedawi itu pun sukalah, dan berkata di dalam hatinya, "Untunglah sekali ini!"</div><div><br></div><div>Maka Bedawi itu pun turunlah ia ke dalam sungai itu merendahkan dirinya, hingga lehernya juga ia berjalan menuju orang tua yang bungkuk laki-istri itu. Maka kata orang tua itu, "Tuan hamba seberangkan apalah 2) hamba kedua ini. Maka kata Bedawi itu, "Sebagaimana 3) hamba hendak bawa tuan hamba kedua ini? Melainkan seorang juga dahulu maka boleh, karena air ini dalam."</div><div><br></div><div>Maka kata orang tua itu kepada istrinya, "Pergilah diri dahulu." Setelah itu maka turunlah perempuan itu ke dalam sungai dengan orang Bedawi itu. Arkian maka kata Bedawi itu, "Berilah barang-barang bekal-bekal tuan hamba dahulu, hamba seberangkan." Maka diberi oleh perempuan itu segala bekal-bekal itu. Setelah sudah maka dibawanyalah perempuan itu diseberangkan oleh Bedawi itu. Syahdan maka pura-pura diperdalamnya air itu, supaya dikata 4) oleh si Bungkuk air itu dalam. Maka sampailah kepada pertengahan sungai itu, maka kata Bedawi itu kepada perempuan itu, "Akan tuan ini terlalu elok rupanya dengan mudanya. Mengapa maka tuan hamba berlakikan orang tua bungkuk ini? Baik juga tuan hamba buangkan orang bungkuk itu, agar supaya tuan hamba, hamba ambit, hamba jadikan istri hamba." Maka berbagai-bagailah katanya akan perempuan itu.</div><div><br></div><div>Maka kata perempuan itu kepadanya, "Baiklah, hamba turutlah kata tuan hamba itu."</div><div><br></div><div>Maka apabila sampailah ia ke seberang sungai itu, maka keduanya pun mandilah, setelah sudah maka makanlah ia keduanya segala perbekalan itu. Maka segala kelakuan itu semuanya dilihat oleh orang tua bungkuk itu dan segala hal perempuan itu dengan Bedawi itu.</div><div><br></div><div>Kalakian maka heranlah orang tua itu. Setelah sudah ia makan, maka ia pun berjalanlah keduanya. Setelah dilihat oleh orang tua itu akan Bedawi dengan istrinya berjalan, maka ia pun berkata-kata dalam hatinya, "Daripada hidup melihat hal yang demikian ini, baiklah aku mati."</div><div><br></div><div><br></div><div><strong>Unsur Intrinsik dan ekstrinsik HIKAYAT</strong></div><div><br></div><div><br></div><div>Judul           : Hikayat Mashudulhakk (perkara si bungkuk dan si panjang)</div><div>Unsur intrinsik :</div><div>·         Tema               : Kesetiaan dan Pengkhianatan dalam Cinta2</div><div>·         Tokoh             :</div><div>ü  Masyhudulhakk : arif, bijaksana, suka menolong, cerdik, baik hati.</div><div>ú  …Masyhudulhakk pun besarlah. Kalakian maka bertambah-tambah cerdiknya dan akalnya itu.</div><div><br></div><div>ü  Si Panjang / Bedawi : licik, egois.</div><div>ú  Setelah didengar oleh Bedawi kata orang tua bungkuk itu dan serta dilihatnya perempuan itu baik rupanya, maka orang Bedawi itu pun sukalah, dan berkata di dalam hatinya, "Untunglah sekali ini!</div><div>·         Setting :</div><div>ü  tempat :</div><div>ú  tepi sungai : Maka ia pun berhentilah di tebing sungai itu dengan istrinya.</div><div>ú  Sungai : turunlah perempuanitu ke dalam sungai dengan orang Bedawi itu</div><div>ü  Suasana :</div><div>ú  menegangkan: Maka pada sangka orang tua itu, air sungai itu dalam juga.</div><div>ú  Mengecewakan:  "Daripada hidup melihat hal yang demikian ini, baiklah aku mati.Setelah itu maka terjunlah ia ke dalam sungai itu.</div><div>ú  Membingungkan: Maka dengan demikian jadi bergaduhlah mereka itu. Syahdan maka gemparlah.</div><div>ü  Waktu : tidak diketahui</div><div>·         Alur : Alur maju</div><div>ü  Eksposisi         :</div><div>Mashudulhakk arif bijaksana dan pandai memutuskan perkara-perkara yang sulit  maka berapa lamanya Masyhudulhakk pun besarlah. Kalakian maka bertambah-tambah cerdiknya dan akalnya itu. Maka pada suatu hari adalah dua orang laki-istri berjalan. Maka sampailah ia kepada suatu sungai.</div><div>ü  orang ke-3 :</div><div>Maka bertambah-tambah masyhurlah arif bijaksana Masyhudulhakk itu.</div><div>·         Amanat :</div><div>ü  Jangan berbohong karena berbohong itu tidak baik, merupakan dosa, dan hanya akan menimbulkan kerugian pada diri kita sendiri</div><div>ü  Bantulah dengan ikhlas orang yang membutuhkan bantuan</div><div>ü  Syukurilah jodoh yang telah diberikan Tuhan, yakini bahwa jodoh itu baik untuk kita</div><div>ü  Jangan mengambil keputusan sesaat yang belum dipikirkan dampaknya</div><div>ü  Jadilah orang yang bijaksana dalam mengatasi suatu masalah</div><div><br></div><div>Unsur ekstrinsik :</div><div>·         Nilai religiusitas : kita harus selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah. Jangan pernah merasa iri dengan apa yang tidak kita miliki karena apa yang te;ah diberikan Allah kepada kita adalah sesuatu yang memang terbaik untuk kita. Janagn seperti yang ada pada hikayat mashudulhakk.</div><div><br></div><div>·         Nilai moral :</div><div>Janganlah  sekali-kali  kita memutar balikkan fakta, mengatakan bahwa yang salah itu benar dansebaliknya, karena bagaimanapun juga kebenaran akan mengalahkan ketidak benaran.</div><div>·         Nilai social budaya :</div><div>Sebuah kesalahan pastilah akan mendapat sebuah balasan, pada hikayat ini diterangkan bahwa seorang yang melakukan keslahan seperti berbohong maka akan did era sebanyak seratus kali. (<em>Lalu didera oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu serta dengan perempuan celaka itu seratus kali</em>.)</div><div>·         Kepengarangan :</div><div>Hikayat mashudulhakk ini dari salah satu naskah lama (Collectie v.d. Wall) dengan diubah di sana-sini setelah dibandingkan dengan buku yang diterbitkan oleh A.F. v.d. Wall (menurut naskah yang lain dalam kumpulan yang tersebut).Dalam Volksalmanak Melayu 1931 (Balai Pustaka) isi naskah yang dipakai v.d. Wall itu diringkaskan dan sambungannya dimuat pula, dengan alamat "Masyudhak".. Dinantinya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:45:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870250</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muh Rayhan Mustamin </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870266</link>
         <description><![CDATA[<div>- X Mipa 6<br>Carilah hikayat kemudian tentukan ide pokok dan unsur intrinsik dan ekstrinsik<br><br><strong>Judul; jaya lengkara</strong><br>= cerita seorang raja yang terlalu besar kerajaannya, Saeful Muluk namanya, Ajam Saukat nama kerajaanya. Adapun raja ini telah berkawin dengan Putri Sukanda Rum. Tetapi oleh karena permaisurinya tidak beranak, ia berkawin dengan Putri Sukanda baying-bayang. Hatta berapa lamanya, Puteri Sukanda bayang-bayangpun beranak anak kembar yang diberi nama Makdam dan Makdim. Permaisuri takut kehilangan kasih sayang raja sama sekali, lalu berdoa meminta anak. Doanya dikabulkan. Hatta berapa lamanya, ia pun beranaklah seorang anak laki-laki yang terlalu baik rupanya. Anak itu ialah Jaya Lengkara. Adapun semasa Jaya Langkara jadi itu, negeri pun terlalu makmur, makanan murah dan banyak pedagang yang datang pergi. Segala ahli nujum, hulubalang dan rakyat sekalian juga mengucap syukur kepada Alloh.<br>Kemudian raja menyuruh anaknya yang lain ,Makdam dan Makdim pergi bertanyakan nasib Jaya Langkara pada seorang kadi. Kadi itu meramalkan bahwa Jaya Langkara akan menjadi raja besar yang terlalu banyak sakti dan segala raja-raja besar tiada yang dapat melawannya dan segala margastua juga tunduk kepadanya dengan khidmat. Mendengar ramalan yang demikian, Makdam dan Makdim menjadi sakit hatinya. Mereka berdusta kepada ayahanda mereka dengan mengatakan, jikalau Jaya Langkara ada dalam negeri, negeri akan binasa, beras padi juga akan menjadi mahal. Raja termakan fitnah ini dan membuang Jaya Langkara dengan bundayanya dari negeri.<br>Naga guna menyelamatkan Jaya Langkara. Bersama-sama mereka akan pergi ke negeri Peringgi. Jaya Langkara menewaskan seorang ajar-ajar dan memaksanya masuk islam. Dengan bantuan raja jin yang sudah masuk islam, ia membebaskan Makdam dan Makdim dari penjara. Ratna Kasina dan Ratna Dewi dikawinkan dengan Makdam.Bunga Kumkuma putih juga sudah diperolehnya.<br>Mangkubumi mesir coba mengambil bunga itu dari jaya langkara dan ditewaskan. Jaya Langkara mengampuni dia, bila mendengar sebab-sebab ia ingin mendapat kan bunga itu. Jaya Langkara pergi ke Mesir dan memohon supaya puteri Ratna Dewi dikawinkan dengan Makdim. Permaohonan nya diterima dengan baik oleh raja Mesir. Bersama –sama dengan Ratna Kasina, Jaya Langkara berangkat ke negeri Ajam Saukat dan menyembuhkan penyakit raja yang tak lain adalah ayahnya. Selang berapa lamanya, Jaya Langkara kembali ke hutan untuk mencari bundanya.Ratna Kasina menyusul tidak lama kemudian, karena tidak tahan di ganggu oleh Makdam dan Makdim yang sudah ke negeri Ajam Saukat. Karena berahi mereka akan putri Ratna Kasina, Makdam dan Makdim coba membunuh Jaya Langkara. Naga guna menyelamatkan dan membawanya bersama-sama dengan Puteri Ratna Kasina ke negeri Madinah. Raja Madinah sangat bergembira. Jaya Langkara dikawinkan dengan puteri Ratna Kasina. Raja Madinah sendiri juga berkawin dengan bunda jaya langkara. Hatta berapa lamanya. Jaya Langkara pun menjadi raja, negeri Madinah pun terlalu makmur dan besar kerajaannya. Segala raja besar pun menghantar upeti ke madinah setiap tahun.<br><br></div><div>Unsur Intrisik Hikayat Melayu “ Jaya Lengkara”<br><br></div><div>1. Tema: perebutan tahta dan kedengkian saudara Jaya lengkara di kerajaan Ajam Saukat.<br>2. Penokohan:<br>• Saeful Muluk→ mudah terpengaruh ( mempercayai fitnah Makdam dan makdim terhadap Jaya Lengkara. )<br>• Putri Sukanda Rum.<br>• Putri Sukanda bayang-bayang.<br>• Makdam dan Makdim→pemfitnah, irihati ( memfitnah Jaya lengkara karena iri hati. )<br>• Jaya Lengkara→suka menolong, pemaaf ( walaupun telah difitnah oleh Makdam dan Makdim tapi Jaya Lengkar tetap memaafkannya). Bijaksana ( memimpin kerajaan dengan bijaksana). Tabah, sabar (Jaya Lengkara tetap tabah menerima segala cobaan yang menimpanya)<br>• Ratna Dewi.<br>• Ratna Kasina.<br>• Naga→ penolong (menolong Jaya Lengkara yang tengah kesusahan).<br>• Mangkubumi Mesir→jahat ( mencoba merampas bunga Kumkuma Putih).<br>• Raja Madinah→ baik hati (menerima kedatangan Jaya Lengkara dan menikahkannya dengan Ratna Kasina).<br>3. Latar:<br>• Tempat:<br> Ajam Saukat (…..di Kerajaan Ajam Saukat).<br> Negeri Peringgi (…..mereka kenNegeri Peringgi).<br> Mesir ( Jaya Lengkara pergi ke Mesir).<br> Hutan (….pergi ke hutan untuk mencari bundanya).<br> Madinah (….bersama dengan Ratna Kasina pergi ke Madinah).<br>• Suasana:<br> Menyedihkan (raja mengusir jaya lengkara dan Ibunya).<br> Bahagia (Raja Madinah sangat bahagia).<br>• Alat :<br> Bunga Kumkuma Putih (bunga Kumkuma Putih juga sudah diperolehnya).<br> Upeti (Segala raja besar pun menghantet upeti ke Madinah setiap tahun).<br>4. Sudut Pandang : orang ketiga serba tahu.<br>5. Alur : maju<br>Tahapan :<br>• Pengenalan: raja mendapatkan anak dari kedua istrinya yaitu Makdam dan Makdim, Jaya Lengkara.<br>• Konflik : raja menyuruh Makdam dam Makdim ke seorang Kadi untuk menanyakan nasib jaya Lengkara.<br>• Penanjakan: Makdam dan Makdim berdusta kepada ayahnya dan memfinah Jaya Lengkara. Hingga akirnya Jaya lenkara dan ibunya diusir dari kerajaan.<br>• Klimaks: ketika bunga Kumkuma telah didapatkan oleh jaya Lengkara, magkubumi Mesir mencoba untuk merbut dri tangan Jaya Lengkara.<br>• Anti klimaks: Jaya Lengkar pergi ke hutan untuk mencari ibunya, kemudian Ratna Kasina meenyusul karena tidak tahan diganggu oleh Makdam dan Makdim. Makdam dan Makdim yang marah kepada jaya Lengkara mencoba untuk membunuhnya.<br>• Ending: jaya Lengkar diselamatkan oleh naga dan dibawa ke Madinah. Dan dikawinkan dengan Ratna Kasina serta dijadikan raja. Negeri Madinah pun makmur dan besar.<br>6. Amanat:<br>• Iri hati dan dengki akan mengkalahkan dan mencelakakan diri sendiri.<br>• Meneggakan keadilan dan kebenaran harus dilakukan untuk mensejahterakan rakyat.<br>• Memaafkan kesalahan orang lain adalah salah satu bentuk menciptakan kedaimaan.<br>7. Nilai:<br>• Agama:<br> Jangan suka memfitnah orang lain.<br> Jangan iri kepada orang lain.<br> Berdo’alah dengan sungguh-sungguh.<br> Jangan mudah percaya dengan ramalan.<br>• Sosial:<br> Tolong-menolonglah dengan sesama.<br>• Moral:<br> Jangan menjadi seorang pendendam.<br> Jangan iri kepada orang lain.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:45:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870266</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Girindra Aubin Syakief Rifano - XMIPA 6</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870273</link>
         <description><![CDATA[<div>Carilah hikayat kemudian tentukan ide pokok dan unsur instrinsik dan ekstrinsik<br>=<br><strong>Ide Pokok</strong><br>Hikayat Malim Deman adalah sebuah cerita rakyat, dengan<br>sinopsis atau ringkasan cerita sebagai berikut:<br><br>Paragraf 1: Pada suatu masa hidup seseorang anak yatim bernama Malim<br>Deman, yang hidup bersama ibunya dan menggarap sawah milik ibunya itu. Di dekat<br>sawahnya tinggal seorang janda tua bernama Mandeh Rubiah, yang sering memberi<br>Malim Deman makan saat dia menggarap sawah.<br>Paragraf 2: Suatu malam, saat Malim Deman menunggu sawah, dia merasa<br>kehausan dan pergi ke rumah Mandeh Rubiah untuk meminta makan. Tiba-tiba Malim<br>Deman mendengan suara-suara, dan ternyata di kolam dekat rumah itu, ada tujuh<br>bidadari yang sedang mandi. Malim Deman melihat ada tujuh selendang yang<br>nampaknya merupakan selendang yang digunakan para bidadari untuk kembali ke<br>kahyangan.<br>Paragraf 3: Malim Deman menyembunyikan salah satu selendang itu,<br>sehingga saat matahari terbit dan para bidadari hendak pulang ke kahyangan,<br>salah satu bidadari, Putri Bungsu tidak bisa kembali sehingga menjadi menjadi<br>sedih dan menangis.<br>Paragraf 4: Malim Deman pura-pura mendekati dan mengibur bidadari itu<br>dan kemudian mengajaknya ke rumah Mandeh Rubiah. Mandeh Rubiah bersenang hati<br>dan mengangkat Putri Bungsu sebagai anaknya.<br>Paragraf 5: Lama-kelamaan Malin Deman dan Putri Bungsu jatuh cinta dan<br>akhirnya menikah. Kemudian, setelah menikah, mereka dikaruniani seorang anak<br>yang bernama Sutan Duano.<br>Paragraf 6: Namun, lama kelamaan perangai Malim Deman berubah, menjadi<br>buruk dan suka berjudi. Putri Bungsu sedih melihatnya dan menangisi nasibnya<br>serta ingin kembali ke Kahyangan.<br>Paragraf 7: Tiba-tiba, Putri Bungsu menemukan selendangnya yang<br>disembunyikan Malim Deman di rumah ibunya. Dengan selendang ini, Putri Bungsu<br>membawa anaknya Sutan Duano kembali ke kahyangan. <br>Paragraf 8: Mengetahui hal ini, Malim Deman menjadi menyesal dan sedih<br>karena perbuatan buruknya telah menjadikannya kehilangan keluarganya<br><strong>Unsur Intrinsik Malim Deman</strong></div><div><strong>1.</strong> <strong>Tema</strong></div><div>    Tema yang diambil dalam  hikayat “Malim Deman” adalah tentangKehidupan seorang raja.</div><div><strong>2.</strong> <strong>Penokohan</strong></div><div>    Malim Deman : <br>      Bijaksana.</div><div>    Bukti :<br>      “Malim Deman adalah putera raja dari Bandar Muar yang  sangat bijaksana, lagi sangat elok rupanya”</div><div>    Nenek Kebayan :<br>      Penolong.</div><div>    Bukti :<br>      Dengan bantuan nenek kebayan juga, ia berasil mencuri selendang putri bungsu.</div><div>    Putri Bungsu : <br>      Mudah tersinggung atau mudah marah.</div><div>    Bukti :  <br>      “Puteri Bungsu sangat masyghul hatinya”</div><div>    Raja Jin : <br>       Licik.</div><div>    Bukti : <br>      “Raja jin bersedia meminjamkan burung borak kepada   Malin Deman dengan syarat . . .”</div><div>    Malim Dewana :<br>      Penurut.</div><div>   Bukti :<br>      “Maka ia pun terbang kembali kekayangan dengan anaknya Malim Dewana”.</div><div> </div><div><strong>3.</strong> <strong>Latar/Setting</strong></div><div> Latar Tempat :  <em> </em><br><em>     Bandar Muar</em></div><div>     “selang berapa lama, mereka pun kembali ke Bandar Muar”</div><div>                  <em>Rumah  Nenek Kebayan</em></div><div>     “akhirnya, sampailah ia kerumah nenek Kebayan”</div><div>             <em>Kayangan</em></div><div>     “sesampainya di kayangan didapatinya Puteri Bungsu . . .”</div><div> </div><div>Latar Suasana :</div><div>     Suasana Menegangkan :</div><div>     “Malim Deman mengalahkan mambang molek denganmenyambung ayam, maka timbullah  pertikaman <br>     antara keduanya”</div><div>     Suasana Senang:</div><div>     “Sekali lagi Malim Deman sekeluarga pun turun kembali ke dunia semula”</div><div><strong>4.</strong>  <strong>Alur</strong></div><div>    Maju</div><div>- <strong>Ekposisi (Tahap perkenalan):</strong></div><div>   “Malim deman adalah putera raja dari Bandar Muar yang sangat bijaksana, lagi sangat elok rupanya”</div><div>- <strong>Penampilan Permasalahan:</strong></div><div>   “setelah besar, Malim Deman bermimpi seorang wali Allah menyuruhnya pergi kerumah nenek kebayan <br>   untuk mendapatkan puteri bungsu dari kayangan sebagai istrinya”</div><div>- <strong>Komplikasi (Tahap Permasalah) :</strong></div><div>   “puteri bungsu sangat masyghul hatinya. Kebetulan pula ia menemukan kembali baju kayangan. Maka ia <br>   pun terbang kembali kekayangan dengan anaknya Malin Dewana”</div><div>- <strong>Tahap Klimaks :</strong></div><div>   “sesampainya di kayangan didapatinya Puteri Bungsu akan dikawinkan dengan Mambang Molek. Malim <br>   Deman mengalahkan Mambang dalam menyambung ayam. Maka timbullah pertikaman antara keduanya”</div><div>- <strong>Tahap Ketegangan Menurun:</strong></div><div>   “sekali lagi Malim Deman sekeluarga pun turun ke dunia semula”.</div><div><strong>5.</strong> <strong>Sudut Pandang</strong></div><div>    “Akhirnya, sampailah ia kerumah nenek kebayan “</div><div>    Dari data di atas digambarkan bahwa penulis menggunakan Sudut pandang orang ketiga serba tahu.</div><div><strong>6. Gaya Bahasa</strong></div><div>     Penggunaan bahasanya sulit di mengerti.</div><div>     Menggunakan bahasa melayu kuno.</div><div>     Menggunakan kata penghubung maka dalam awal kalimat, contoh:</div><div>     “Maka berapa lama, mereka pun kembali ke Bandar Muar”.</div><div><strong>7.</strong>  <strong>Amanat</strong></div><div>     Keluarga itu sangat penting dalam  kehidupan  kita, jadi jangan kita sia-siakan keluarga kita tersebut.</div><div>     Saling tolong-menolonglah  terhadap sesama, tetapi jangan tolong-menolong dalam berbuat kejahatan.</div><div>     Janganlah kita mudah menyerah dalam menghadapi suatu hal.<br><br><strong>Unsur Ekstrinsik</strong> Malim Deman<br>Nilai Pendidikan</div><div>- Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.</div><div>Nilai Moral</div><div>- Jangan kita terlalu memaksakan kehendak kita pada orang lain. Kita harus bersikap bijaksana dalam <br>   menghadapi segala hal di dalam hidup kita.</div><div>Nilai Budaya</div><div>- Kita harus saling menghormati terhadap sesama.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:45:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870273</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sayyidah Ummu Kalzum</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870329</link>
         <description><![CDATA[<div>  <strong>Judul : Hikayat Tanjung Lesung<br>Ide pokok : <br>-Paragraf 1: seorang pengembara bernama Raden Budog sedang beristirahat dipohon, ia tertidur dan bermimpi bertemu dengan gadis cantik jelita.<br>-Paragraf 2: saat ingin memegang tangan si gadis tersebut, si pengembara di jatuhi ranting pohon yang membuat si pengembara tersebut terbangun dalam tidurnya, setelah itu ia selalu terbayang-bayang akan mimpinya tersebut.<br><br>Unsur Intrinsik:<br>Tema: si pengembara yang bermimpi <br>Amanat: Jangan menjadi orang yang keras kepala<br>Alur: Alur maju<br>Latar: Pantai<br>Penokohan: Raden Budog: gagah, keras kepala, tidak mudah menyerah.<br><br>Unsur Ekstrinsik:<br>Nilai Moral: kita tidak boleh cepat putus asa, seperti Radon Budog yang pantang menyerah. <br><br></strong><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:46:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870329</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Reski Dwie Syahbani Y</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870332</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:46:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870332</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dwi afiqah achmad X MIPA 6</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870366</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:46:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870366</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Khaisa Nur Fatimah Z</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870426</link>
         <description><![CDATA[<ul><li>Hikayat Hang Tuah</li></ul><div>Pada suatu ketika ada seorang pemuda yang bernama Hang Tuah, anak dari Hang Mahmud. Mereka tinggal di Sungai Duyung. Pada saat itu, semua orang di sungai Duyung mendengar kabar Teng Raja Bintan yang baik dan sopan kepada semua rakyatnya. Ketika Hang Mahmud mendengar kabar itu, Hang Mahmud berkata kepada istrinya yang bernama Dang Merdu, “Ayo kita pergi ke Bintan, negeri yang sungguh besar, apalagi kita ini adalah orang miskin. Lebih mudah kita mencari pekerjaan disana.” Lalu pada malam harinya, Hang Mahmud bermimpi bulan turun dari langit. Cahayanya penuh diatas kepala Hang Tuah.Hang Mahmud pun terbangun dan mengangkat anaknya serta menciumnya. Seluruh tubuh Hang Tuah berbau seperti wewangian. Siang harinya, Mahmud menceritakan mimpinya pada sang istri dan anaknya. Usai mendengar cerita suaminya, Dang Merdu langsung memandikan dan melulurkan anaknya. Kemudian ia memberikan anaknya kain, baju, serta ikat kepala serba putih. Lalu Dang Merdu memberi Hang Tuah makan nasi kunyit dan telur ayam. Sang ibu juga memanggil pemuka agama untuk mendoakan keselamatan Hang Tuah. Setelah selesai, dipeluknya Hang Tuah. Hang Mahmud berkata kepada istrinya,” anak ini kita akan menjaganya baik-baik, jangan diberi main jauh-jauh.” Esok harinya, seperti biasa Hang Tuah membelah kayu untuk kebutuhan sehari-hari.<br><br></div><div>Datanglah seorang pemberontak yang datang ke 1Pemilik took meninggalkan tokonya dan melarikan diri menuju kampung. Gemparlah negeri Bintan tersebut dan terjadi kekacauan dimana-mana. Ada seseorang yang sedang melarikan diri berkata kepada Hang Tuah. “Hai Hang Tuah, hendak matikah kau tidak masuk ke kampung?” Maka kata Hang Tuah sambil membelah kayu, “Negeri ini memiliki prajurit yang akan membunuh, ia pun akan mati olehnya.”saat ia sedang berbicara ibunya melihat bahwa pemberontak itu menuju Hang Tuah sambil menghunuskan kerisnya.<br><br></div><div>Ibunya berteriak dari atas toko,”Hai anakku cepat lari ke atas toko”. Hang Tuah tidak mendengarkan kata ibunya. Ia pun langsung berdiri dan memegang kapak menunggu amarah pemberontak itu. Pemberontak yang datang ke hadapan Hang Tuah lalu menikamnya bertubi-tubi. Maka Hang Tuah pun melompat dan mengelak dari tikaman orang itu. Hang Tuah mengayunkan kapaknya ke kepala pemberontak, terbelah kepala pemberontak itu hingga mati. Maka seseorang yang menyaksikan peristiwa itu berteriak, “Dia akan menjadi perwira besar di tanah Melayu ini.”<br><br></div><div>Terdengarlah berita hebat itu ke telinga kawannya, Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekui. Mereka langsung berlari mendapatkan Hang Tuah. Hang Jebat dan Hang Kesturi bertanya kepadanya,”Apakah benar engkau membunuh pemberontak dengan kapak?” Hang Tuah pun tersenyum dan menjawab, “Pemberontak itu tidak pantas dibunuh dengan keris, melainkan dengan kapak untuk kayu.”<br><br></div><div>Kemudian karena kejadian itu, baginda raja sangat mensyukuri adanya sang Hang Tuah. Jika ia tidak datang ke istana, pasti ia akan dipanggil oleh Sang Raja. Maka Tumenggung pun berdiskusi dengan pegawai lain yang iri hati pada Hang Tuah. Datanglah mereka pada sang Raja setelah diskusi usai.<br><br></div><div>Maka saat Baginda Raja tengah duduk di tahtanya bersama para bawahannya. Tumenggung beserta beberapa kawannya yang lain datang sambil berlutut. Mereka menyembah sang Raja,”Hormat Tuanku, saya mohon ampun dan berkat, ada banyak berita yang sampai ke telinga saya tentang adanya pengkhianatan. Kabar itu sudah lama hamba dengar”.<br>“Hai kalian, apa yang sebenarnya kalian bicarakan?”Tanya sang Raja.<br><br></div><div>“Hormat Paduka, pegawai saya sebenarnya sungguh tidak berani untuk menghadap, namun Tuhan berkehendak.” Jawab Tumenggung</div><div><br><br></div><div>Tumenggung pun menjawab,”Hormat Tuanku, mohon ampun, untuk kemari saja hamba sudah takut, namun hamba akan menceritakannya”.<br><br></div><div>Usai Baginda mendengar cerita yang keluar dari Tumenggung, maka Baginda bertanya,”Siapakah orang itu, Hang Tuah?”.<br>“Siapa lagi yang berani melakukannya selain Hang Tuah?, jawab Tumenggung sambil bercerita bahwa kala itupegawainya melihat Hang Tuah tengah bersama seorang gadis di istana yang mereka merencanakan sesuatu untuk kerajaan. Perempuan itu bernama Dang Setia.<br><br></div><div>Hamba takut ia akan melakukan sesuatu pada perempuan itu, maka hamba datang dengan dikawal untuk mengawasi. Setelah Baginda mendengar hal itu, murkalah ia, sampai mukanya merah padam. Lalu ia bertitah kepada para pegawai yang berhati jahat itu,”Pergilah, singkirkan ia.”<br><br></div><div>Maka Hang Tuah tidak lagi pernah terdengar di dalam negeri itu, namun Hang Tuah tidak pernah mati, karena selain perwira besar, ia adalah wali Allah. Kabarnya saat ini Hang Tuah berada di puncak dulu sungai Perak. Disana dirinya duduk menjadi raja dari segala Batak dan orang hutan. Sekarang pun raja ingin bertemu dengan seseorang, lalu ditanyakan orang itu dan dia berkata,” Tidakkah tuan ingin mempunyai istri?”<br><br></div><div>“Saya tidak ingin mempunyai istri lagi, jawabnya.<br><br>- Ide Pokok <br>Paragraf 1-: semua orang di sungai Duyung mendengar kabar Teng Raja Bintan yang baik dan sopan kepada semua rakyatnya. Hang Mahmud berkata kepada istrinya yang bernama Dang Merdu, “Ayo kita pergi ke Bintan, negeri yang sungguh besar, apalagi kita ini adalah orang miskin. Lebih mudah kita mencari pekerjaan disana.” Lalu pada malam harinya, Hang Mahmud bermimpi bulan turun dari langit. <br>Paragraf 2 : Datanglah seorang pemberontak yang datang ke 1Pemilik took meninggalkan tokonya dan melarikan diri menuju kampung.Gemparlah negeri Bintan tersebut dan terjadi kekacauan dimana-mana. Ada seseorang yang sedang melarikan diri berkata kepada Hang Tuah<br>Paragraf 3 : Ibunya berteriak dari atas toko,”Hai anakku cepat lari ke atas toko”. Hang Tuah tidak mendengarkan kata ibunya. Ia pun langsung berdiri dan memegang kapak menunggu amarah pemberontak itu. Pemberontak yang datang ke hadapan Hang Tuah lalu menikamnya bertubi-tubi. Maka Hang Tuah pun melompat dan mengelak dari tikaman orang itu. Hang Tuah mengayunkan kapaknya ke kepala pemberontak, terbelah kepala pemberontak itu hingga mati. <br>Paragraf 4 : Terdengarlah berita hebat itu ke telinga kawannya, Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekui. <br>Paragraf 5 : Kemudian karena kejadian itu, baginda raja sangat mensyukuri adanya sang Hang Tuah. Jika ia tidak datang ke istana, pasti ia akan dipanggil oleh Sang Raja. <br>Paragraf 6 : Maka saat Baginda Raja tengah duduk di tahtanya bersama para bawahannya. Tumenggung beserta beberapa kawannya yang lain datang sambil berlutut. Mereka menyembah sang Raja,”Hormat Tuanku, saya mohon ampun dan berkat, ada banyak berita yang sampai ke telinga saya tentang adanya pengkhianatan. Kabar itu sudah lama hamba dengar.<br>Paragraf 7 : “Hormat Paduka, pegawai saya sebenarnya sungguh tidak berani untuk menghadap, namun Tuhan berkehendak.” <br>Paragraf 8 : Tumenggung pun menjawab,”Hormat Tuanku, mohon ampun, untuk kemari saja hamba sudah takut, namun hamba akan menceritakannya”.<br>Paragraf 9 : Tumenggung sambil bercerita bahwa kala itupegawainya melihat Hang Tuah tengah bersama seorang gadis di istana yang mereka merencanakan sesuatu untuk kerajaan. Perempuan itu bernama Dang Setia.<br>Paragraf 10 : Hamba takut ia akan melakukan sesuatu pada perempuan itu, maka hamba datang dengan dikawal untuk mengawasi.<br>Paragraf 11 : Maka Hang Tuah tidak lagi pernah terdengar di dalam negeri itu, namun Hang Tuah tidak pernah mati, karena selain perwira besar, ia adalah wali Allah. Kabarnya saat ini Hang Tuah berada di puncak dulu sungai Perak. Disana dirinya duduk menjadi raja dari segala Batak dan orang hutan.<br><br><strong>Unsur Intrinsik “Hikayat Hang Tuah”<br></strong><br></div><div>Tema : Negeri kerajaan<br><br></div><div>Alur : Maju<br><br></div><div>Tokoh :<br><br></div><ul><li>Hang Tuah</li><li>Hang Mahmud</li><li>Dang Merdu</li><li>Sang raja Bintan</li><li>Tumenggung</li></ul><div>Perwatakan :<br><br></div><ul><li>Hang Tuah = Baik, bijak, berwibawa</li><li>Hang Mahmud = Baik, Perhatian</li><li>Dang Merdu = Baik, perhatian, lembut</li><li>Sang raja Bintan = Baik , sopan, mudah percaya.</li><li>Tumenggung = Licik, jahat</li></ul><div>Latar :<br><br></div><ul><li>Tempat :<ul><li>Sungai Duyung</li><li>Bintan</li><li>Pasar</li><li>Istana</li><li>Sungai Perak</li></ul></li><li>Suasana :<ul><li>Ramai</li><li>Tegang</li><li>Sepi</li><li>Senang</li></ul></li><li>Waktu :<ul><li>Pagi</li><li>Malam</li></ul></li></ul><div>Sudut Pandang : Orang ketiga serba tahu<br>Amanat : sebagai pemimpin kita jangan hanya mendengar keterangan dari satu pihak saja, melainkan harus dari kedua pihak yang terlibat masalah.<br><br><br><strong>Unsur Ekstrinsik</strong></div><div><br></div><div>·         Nilai Moral</div><div>Kita harus berjuang menjalani hidup dan tidak boleh terpengaruh oleh orang lain</div><div><br></div><div>·         Nilai Budaya</div><div>Kita harus berbaki kepada orang tua agar perjuagan kita barokah</div><div><br></div><div>·         Nilai Sosial</div><div>Kita harus mementingkan Negara dan rakyat diatas kepentingan kita sendiri</div><div><br></div><div>·         Nilai Religius</div><div>Percaya kepada Tuhan akan membuat hati lebih tenang dan barokah</div><div><br></div><div>·         Nilai Pendidikan</div><div>Kejujuran, sopan santun dan kerja keras akan bisa mengalahkan semua fitnah, iri, dan keburukan lainnya</div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:47:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870426</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Daflistiani Pasmar ( X MIPA 6 )</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870492</link>
         <description><![CDATA[<div>judul : HIKAYAT CABE RAWIT<br><sub>ide pokok <br></sub>•<strong>Parafraf 1</strong> : Pada zaman dahulu kala, di sebuah kampung antah berantah, hidulah sepasang suami istri.<br>•<strong>Paragraf 2 </strong>: Namun demikian, suami-istri yang usianya sudah setengah abad itu sangat rajin beribadah.<br>•<strong>Paragraf 3</strong> : “ Istriku,” kata sang suami suatu malam. “Sebenarnya apakah kesalahan kita sehingga sudah di usia begini tua, kita belum juga dianugerahkan seorang anak pun. <br>•<strong>Paragraf 4</strong> : Entahlah, suamiku. Kau kan tahu, aku juga selalu beribadah dan memohon kepada Tuhan agar nasib kita ini dapat berubah. Jangankan harta, anak pun kita tak punya. Apa Tuhan terlalu membenci kita karena kita miskin?” keluh sang istri pula. <br>•<strong>Paragraf 5 </strong>: Malam itu, seusai tahajud, suami-istri tersebut kembali berdoa kepada Tuhan. Keduanya memohon agar dianugerahkan seorang anak. Tanpa sadar, mulut sang suami mengucapkan sumpah, “Kalau aku diberi anak, sebesar cabe rawit pun anak itu akan kurawat dengan kasih sayang.”<br>•<strong>Paragraf 6 :</strong> Beberapa minggu kemudian , sang istri mulai merasakan sakit perut . keduanya tidak mengetahui bahwa sakit tersebut adalah sakit orang yang sedang mengandung karena tidak ada tanda-tanda bahwa sang istri sedang mengandung.<br>•<strong>Paragraf 7</strong> : Waktu terus berjalan. Bulan berganti bulan, pada suatu subuh yang dingin, si istri merasakan sakit dalam perutnya teramat sangat. Ia merasa sangat gelisah . Namun, kegelisahan itu tiba-tiba berubah suka tatkala ternyata istrinya melahirkan seorang anak. Senyum sejenak mengambang di wajah keduanya. Akan tetapi, betapa terkejutnya suami-istri itu, ternyata tubuh anak yang baru saja lahir sangat kecil, sebesar cabe rawit.<br>•<strong>Paragraf 8</strong> : “ Sudahlah istriku, betapa pun dan bagaimana pun keadaannya, anak ini adalah anak kita. Ingatkah kau setahun lalu, saat kita berdoa bersama bahwa kita bersedia merawat anak kita kelak kalau memang Tuhan berkenan, walaupun sebesar cabe rawit?” hibur sang suami. <br>•<strong>Paragraf 9</strong> : Singkat cerita, si anak pun dipelihara hingga besar. Anak itu perempuan. Kendati sudah berumur remaja, tubuh anak itu tetap kecil, seperti cabe rawit.<br>•<strong>Paragraf 10 </strong>: suatu ketika si ayah jatuh sakit, tak lama kemudian meninggal dunia. Sedangkan si ibu, tubuhnya mulai lemas dimakan usia. Tak tahan melihat keadaan orangtuanya, si anak yang diberi nama cabe rawit karena tubuhnya memang kecil seperti cabe, berkata pada ibunya, “Ibu aku akan ke pasar. Aku akan bekerja menggantikan ayah.”<br>•<strong>Paragraf 11 </strong>:“Jangan anakku, nanti kalau kau terpijak orang, bagaimana? Ibu tak mau terjadi apa-apa pada dirimu,” sahut ibunya.<br>•<strong>Paragraf 12</strong> : “ Anakku, kau satu-satunya harta yang tersisa di rumah ini. Kau satu-satunya milik ibu sekarang. Ibu tak mau kehilangan dirimu,” kata ibu lagi.<br>•<strong>Paragraf 13</strong> : Aku akan mencoba dahulu, Bu. Dengan doa ibu, yakinlah kalau aku tidak akan apa-apa. Nanti, kalau memang aku tidak bisa bekerja, aku akan pulang. Tapi, izinkan aku mencobanya dahulu, Ibu,” bujuk cabe rawit berusaha meyakinkan ibunya.<br>•<strong>Paragraf 14</strong> : Cabai rawit terus mendesak ibunya agar diizinkan bekerja ke pasar. Sahdan, sang ibu pun akhirnya memberikan izin kepada cabe rawit.Belum sampai ke pasar, di perempatan jalan, melintaslah seorang pedagang pisang. Raga pisang pedagang itu nyaris saja menyentuh cabe rawit. “Mugè pisang, mugè pisang, hati-hati, jangan sampai raga pisangmu menghimpit tubuhku yang kecil ini,” kata cabe rawit.<br>•<strong>Paragraf 15</strong> :Spontan pedagang pisang menghentikan langkahnya. Ia melihat ke belakang, lalu ke samping, tapi tak dilihatnya seorang pun manusia.<br>•<strong>Paragraf 16</strong> :“Mugè pisang, mugè pisang, hati-hati, jangan sampai raga pisangmu menghimpit tubuhku yang kecil ini.” Terdengar kembali suara serupa di telinga pedagang pisang. Ia kembali melihat ke belakang dan ke samping. Tapi, tetap tak ditemukannya sesosok manusia pun.  Akhirnya, dia berlari meninggalkan pisang dagangannya. Ia mengira ada makhluk halus. Padahal, si cabe rawit yang sedang bicara. Karena tubuhnya yang mungil, pedagang pisang itu tidak melihat keberadaan cabe rawit di sana.Sesampainya di rumah, si ibu heran melihat anaknya membawa pisang. “Darimana kau dapatkan pisang-pisang ini, Rawit?” tanya si ibu.<br>•<strong>Paragraf 17 </strong>:Cabe rawit menceritakan kejadian di jalan sebelum ia sempat sampai ke pasar. “Daripada diambil orang atau dimakan kambing, aku bawa pulang saja pisang-pisang ini, Bu,” katanya.<br>•<strong>Paragraf 18</strong> : Keesokan harinya, si cabe rawit kembali minta izn untuk ke pasar. Di tengah jalan , lewat seorang pedagang beras . Ketika pedagang beras nyaris mendahului si cabe rawit, ia mendengar sebuah suara. “Hati-hati sedikit pedagang beras, jangan sampai ban sepedamu menggilas tubuhku yang kecil ini. Ibuku pasti menangis nanti,” kata si cabe.<br>•<strong>Paragraf 19</strong> : Berhentilah pedagang beras tersebut karena terkejut. Ia melihat ke sekeliling, tapi tak didapatinya seorang manusia pun. Sementara suara itu kembali terdengar. Setelah mendengar suara tersebut berulang-ulang, akhirnya pedagang beras lari pontang-panting ketakutan.<br>•<strong>Paragraf 20</strong> : Sepeninggalan pedagang beras, cabe rawit pulang sambil membawa sedikit beras yang sudah ditinggalkan oleh pedagang tersebut.<br>•<strong>Paragraf 21</strong> : keesokan harinya, hal serupa kembali terjadi. Ketika cabe rawit hendak ke pasar, di pertengahan jalan, ia bertemu dengan pedagang ikan. hal serupa pun terjadi seperti hari-hari kemarin .<br>•<strong>Paragraf 22 </strong>: Begitulah hari-hari dilalui cabe rawit. Ia tidak pernah sampai ke pasar. Selalu saja, di perempatan atau pertengahan jalan, dia berpapasan dengan para pedagang. keluarga yang dulunya miskin dan jarang makan enak itu menjadi hidup berlimpah harta. Heranlah orang-orang sekampung melihat si janda miskin menjadi hidup bergelimang harta.</div><div>•<strong>Paragraf 23 </strong>: Orang-orang kampung pun mulai curiga. Didatangilah rumah janda miskin tersebut. “Bagaimana mungkin kau tiba-tiba hidup menjadi kaya sedangkan kami semua tahu, kau tidak memiliki siapa-siapa. Suami pun sudah meniggal,” kata kepala kampung.<br>•<strong>Paragraf 24 </strong>: Si janda hanya diam. Kepala kampung mengulangi pertanyaanya lagi.Namun, di janda tetap bungkam. Karena kepala kampung dan orang-orang kampung di rumah itu sudah mulai marah, terdengarlan suara dari balik pintu. “Tolong jangan ganggu ibuku. Kalau kepala kampung mau marah, marahilah aku. Kalau kepala kampung mau memukul, pukullah aku,” kata suara tersebut.<br>•<strong>Paragraf 25 </strong>: Kepala kampung dan orang-orang yang ada di rumah tersebut terkejut mendengar suara itu.<br>•<strong>Paragraf 26</strong> : Beberapa kali suara itu terdengar dari arah yang sama, dari belakang pintu.. Salah seorang penduduk melihat ke sebalik pintu. Namun, tak dijumpainya seorang pun di sana. Sedangkan saat itu, suara yang sama kembali terdengar. “Kalau kalian mau marah, marahilah aku. Kalau kalian mau memukul, pukullah aku,” kata suara itu yang tak lain dan tak bukan adalah milik cabe rawit.<br>•<strong>Paragraf 27</strong> : Singkat cerita, ketahuan juga bahwa suara itu dari seorang manusia yang sangat kecil, sebesar cabe. Suasana berubah menjadi tegang. Si janda menjelaskan semuanya. Ia menceritakan tentang sumpah yang pernah ia lafalkan dengan sang suami tentang keinginan punya anak walau sebesar cabe pun.Akhirnya, para penduduk sepakat membangun sebuah rumah lebih bagus untuk di janda bersama anaknya. Hidup makmurlah keluarga cabe rawit. Ia tidak lagi harus pergi ke pasar sehingga membuat orang-orang takut. Akan tetapi, setiap penduduk berkenan memberikan keluarga cabe rawit apa pun setiap hari. Ada yang memberikan beras, garam, pakaian, dan sebagainya<br><br><strong>UNSUR INTRINSIK<br></strong>1. Tema             : Cabe rawit.</div><div>2. Seting                           </div><div>a. Tempat         : Pasar, jalan</div><div>b. Waktu        : Malam hari, Pagi hari.</div><div>c.Suasana        : Tegang,Menyedihkan</div><div>3.Alur      : Maju</div><div>4.Penokohan</div><div>a.Protagonis     : Sahdan(ibu cabe rawit), Ayah cabe rawit.</div><div>b.Antagonis      : Cabe rawit.</div><div>c.Tritagonis      : Pedagang.</div><div>d.Figuran         : Penduduk</div><div>5.Amanat        : -Bersabarlah meski mendapat cobaan seberat apapun, dan slalu   berusaha dan berdoa . -Jangan mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak kita.</div><div>6.Sudut pandang : Orang ke tiga.</div><div>7.Gaya bahasa :  Peribahasa, Majas.</div><div> </div><div><strong>Usur-unsur ekstrinsiknya</strong> : Bernilai pendidikan, nilai sosial.</div><div> </div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:48:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870492</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Misbar Herdiansyah X Mipa6</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870499</link>
         <description><![CDATA[<div>Hikayat Isma Yatim<br><br></div><div>Seorang menteri di benua Keling, Megat Nira nama­nya telah pergi membawa diri ke negeri Masulipatam, sebab malu alah bermain catur dengan seorang hulubalang di hadapan majlis rajanya.<br><br></div><div>Pada masa isterinya hampir akan bersalin, maka di­ketahuilah oleh Megat Nira daripada beberapa alamat yang disaksikannya, bahawa ia akan memperolehi seorang anak yang amat bijaksana. Hal ini terbukti apabila Isma Yatim diserahkan mengaji kepada seorang mualim bernama Sufian dengan cepat dapat ia mengarang hikayat, mula-mulanya hikayat untuk kanak-kanak, kemudian di­karangkannya pula hikayat-hikayat yang mengandungi tamthil ‘ibarat untuk menambah akal dan menyukakan hati segala golongan orang ramaia hingga termasyhurlah kebi­jaksanaannya ke seluroh negeri itu.<br><br></div><div>Sesudah itu dikarangkannya pula sebuah hikayat yang mengandungi panduan dan nasihat bagi raja-raja, lalu ia pergi kepada perdana menteri minta persembahkan hika­yat itu kepada raja. Maka oleh perdana menteri itu di­bawanya Isma Yatim bersama-sama mengadap raja, dan pada hari itu juga ia telah diambil raja bekerja di dalam istana. Tiada beberapa lama sesudah itu ia telah diberi kerja menghampar permaidani raja dan kemudiannya di­jadikan biduanda.<br><br></div><div>Tatkala beramah mesra dengan seorang nakhoda yang datang daripada negeri asing ke negeri Indera-Patani, Isma Yatim telah menerangkan kepada nakhoda itu enam syarat yang harus diketahui oleh dagang sebagai membalas budi, maka nakhoda itu telah menghadiahkan pakaian yang in­dah-indah kepada Isma Yatim, demikian juga sebuah chanda-peti permainan ajaib yang didapatnya di pulau Mutia Langkawi untuk dipersembahkan kepada raja. Di dalam peti itu ada dua buah permata Nila Kendi namanya. Sebuah daripada permata itu jika diletakkan di atas talam nescaya keluar dua ekor merak yang pandai berpantun dan berseloka; sebuah lagi permata itu jika diletakkan di atas geta keemasan akan keluar seorang puteri yang amat cantik parasnya. Dengan kebijaksanaan Isma Ya­tim, akhirnya puteri yang bernama Ratna Kendi Maheran Langkawi dari permata Nila Kendi itu menjadi isteri raja.<br><br></div><div>Apabila terbit ancaman tentera Raja Rum Safar dan akan melanggar negeri itu maka Isma Yatim telah dinaik­kan pangkatnya daripada jawatan bendahari menjadi pang­lima perang, dan dengan kebijaksanaannya tentera-tentera musuh itu dapat dikepungnya; tetapi kemudian kedua pi­hak itu telah mengikat persahabatan. Isma Yatim telah pula diangkat memegang jawatan perdana menteri.<br><br></div><div>Puteri Indera, permaisuri raja, mendapat tahu bahawa Puteri Ratna Kendi Maheran Langkawi telah hamil, maka khuatirlah ia kiranya bertambah-tambah kasih raja akan puteri itu, lalu difitnahkan oleh permaisuri, dikatakannya puteri itu hendak meracun baginda. Oleh terlalu murka­nya.maka raja pun menyuruh bunuh tuan puteri itu; tetapi dengan kebijaksanaan Isma Yatim, yang melindungi puteri itu, iaitu disembunyikannya di dalam rumah di tengah-tengah sebuah kebun.<br><br></div><div>Raja telah menyesal oleh menghukum bunuh tuan puteri itu dengan tiada usul periksa lagi, maka ketika itu baharulah Isma Yatim menerangkan rahsia bahawa pe­rintah baginda itu sesungguhnya tidak dijalankan. Puteri Ratna Kendi Maheran Langkawi bersama-sama Dewi Rum yang lahir dalam persembunyian itu, telah di sambut kem­bali ke istana dengan segala keraian.<br><br></div><div>Apabila raja telah mangkat maka puteri baginda itu­lah naik takhta kerajaan dengan geIaran Mengindera Seri Bulan di-Semudera Negara, di-bawah pimpinan dan didekan kedua ibu suri serta Perdana Menteri Isma Yatim. Pada masa memimpin tuan puteri itu memerentah kerajaan banyak-lah nasihat dan kias ‘ibarat yang amat berharga di­beri oleh Isma Yatim. Akhir-nya tuan puteri itu berkah­win dengan Indera Mempelai, putera Raja Shahdon Meng­indera.<br><br></div><div> <br><br></div><div>UNSUR INSTRINSIK<br><br></div><ol><li>Tema          : Anak yang Bijaksana.</li><li>Alur            : Maju.</li></ol><div>Tahapan Alur<br><br></div><ol><li>Pengenalan     : Seorang menteri di benua Keling, Megat Nira nama­nya telah pergi membawa diri ke negeri Masulipatam</li><li>Konflik             : Pada masa isterinya hampir akan bersalin, maka di­ketahuilah oleh Megat Nira daripada beberapa alamat yang disaksikannya, bahawa ia akan memperolehi seorang anak yang amat bijaksana</li><li>Penanjakan     : ini terbukti apabila Isma Yatim diserahkan mengaji kepada seorang mualim bernama Sufian; dengan cepat dapat ia mengarang hikayat.</li><li>Klimaks          : Puteri Indera, permaisuri raja, mendapat tahu bahawa Puteri Ratna Kendi Maheran Langkawi telah hamil, maka khuatirlah ia kiranya bertambah-tambah kasih raja akan puteri itu, lalu difitnahkan oleh permaisuri, dikatakannya puteri itu hendak meracun baginda.</li><li>Anti Klimaks  : tetapi dengan kebijaksanaan Isma Yatim, yang melindungi puteri itu, iaitu disembunyikannya di dalam rumah di tengah-tengah sebuah kebun.</li><li>Ending            : Akhir-nya tuan puteri itu berkah­win dengan Indera Mempelai, putera Raja Shahdon Meng­indera</li><li>Penokohan          :</li><li>Megat Nira               : Pemalu, suka beramain catur.</li><li>Isma Yatim               :Bijaksana, baik hati, suka memberi nasehat</li><li>Sufian                       :Baik</li><li>Nahkoda                   : Baik, suka member.</li><li>perdana menteri       :Baik, suka menolong orang lain.</li><li>dua ekor merak        :Pandai berpantun dan bernyanyi</li><li>Ratna Kendi M. L.   :Baik,</li><li>Raja Rum Safar        :Baik, mudah percaya.</li><li>Puteri Indera             : Licik, suka memfitnah orang lain.</li><li>Latar/ Setting      :</li><li>Tempat  : negeri Masulipatam, rumah di tengah-tengah                 sebuah kebun, negeri asing, negeri Indera-Patani, pulau Mutia Langkawi.</li><li>Waktu    : Pada masa isterinya hampir akan bersalin, beberapa lama, Akhir-nya.</li><li>Alat                 : catur, hikayat, pakaian yang in­dah-indah, sebuah chanda-peti permainan ajaib, peti, dua buah permata Nila Kendi.</li><li>Suasana           : Malu, bahagia, sedih,menegangkan.</li><li>Sudut Pandang    : Orang Ketiga serbatahu.</li><li>Gaya Bahasa       : Bahasa melayu.</li><li>Amanat                :</li></ol><div>–         Janganlah lari dari kenyataan yang kita alami meskipun pahit rasanya.<br><br></div><div>–         Bersyukurlah dengan apa yang kita peroleh.<br><br></div><div>–         Jangan mudah percaya dengan tuduhan seseorang jika tanpa bukti.<br><br></div><div>–         Apapun yang kita lakukan pasti ada hikmahnya.<br><br></div><ol><li>Nilai-nilai yang terkandung:</li><li>Nilai agama    : apabila Isma Yatim diserahkan mengaji……..</li><li>Nilai pendidikan      : Raja telah menyesal oleh menghukum bunuh tuan puteri itu dengan tiada usul periksa lagi,</li><li>Nilai Keindahan       : sebuah chanda-peti permainan ajaib.</li><li>Nilai Moral               : lalu difitnahkan oleh permaisuri, dikatakannya puteri itu hendak meracun baginda.</li><li>Nilai Sosial               : Puteri Indera maka khuatirlah ia kiranya bertambah-tambah kasih raja akan puteri itu.</li><li>Nilai Budaya             : Oleh terlalu murka­nya.maka raja pun menyuruh bunuh tuan puteri itu.</li><li>Nilai Psikologis         : tetapi dengan kebijaksanaan Isma Yatim, yang melindungi puteri itu…..</li><li>Sinopsis</li></ol><div>Ada seseorang yang bernama Megat Nira, karena dia kalah dalam bermain catur dengan seorang hulubalang iapun pergi ke Negeri Masulipan. Ketika istrinya akan melahirkan anaknya. Ia mendapatkan petujuk bahwa ia akan mendapat putra yang amat bijaksana. Dan itu terbukti ketika anaknya yang bernama Isma Yatim mengaji kepada seorang guru yang bernama Sufyan.Ia dengan cepat bisa mengarang sebuah hikayat.Karena kepandaiannya ia terkenal hingga penjuru dunia.<br><br></div><div>Kemudian ia didatangi seorang perdana menteri lalu ia diajak ke istana untuk bekerja kepada raja.Ketika isma Yatim memberi nasehat kepada nakhoda. Nakhoda tersebut memberikan sebuah peti ajaib yang didalamnya terdapat dua buah permata, jika diletakkan di atas geta keemasan maka akan menjadi seorang putri yang cantik yang bernama Ratna Kendi maheran Lengkawi. Dan putri tersebutpun menjadi istri raja.Ketika istri raja tersebut sedang hamil. Istri raja yang pertama memfitnahnya karena takut bahwa raja akan lebih sayang kepada putri tersebut. Karena hasutan istrinya, kemudian raja menyuruh Isma Yatim untuk membunuh sang putri namun karena kebijakannya ia menyembunyikannya dalam rumah di tengah-tengah kebun.Setelah raja mengetahui yang sebenarnya bahwa sang putri tidaklah bersalah, rajapun menyesal dan dalam keadaan seperti itu Isma Yatimpun memberitahu bahwa sang putri tersebut belum mati.setelah putri dan raja tersebut berkumpul kembali merekapun hidup bahagia.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:48:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870499</guid>
      </item>
      <item>
         <title>MUH KHAIRUL FAJRI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870703</link>
         <description><![CDATA[<div>KELAS: X MIPA6<br><br>Soal<br>Carilah hikayat kemudian tentukan ide pokok dan unsur instrinsik dan ekstrinsik<br><br>Jawab:<br><br>Judul: D'TOPENG MUSEUM ANGKUT<br><br>Paragraf 1<br>D’topeng adalah salah satu tempat wisata di Kota Batu, Jawa Timur.<br><br>Paragraf 2<br>Benda yang paling mendominasi dan diminati pengunjung di museum ini adalah topeng.<br><br>Paragraf 3<br>Museum D'Topeng juga mengoleksi barang-barang tradisional.<br><br>Paragraf 4<br>Museum D'Topeng turut mengoleksi benda-benda kuno yang dianggap bernilai seni tinggi atau barang antik.<br><br>Paragraf 5<br>Koleksi museum D'Topeng juga dimanfaatkan sebagai media pelestarian budaya.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:49:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870703</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Adhe Monika Yulia Putri</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870972</link>
         <description><![CDATA[<div>Judul: Keramat Bujang<br>Paragraf 1: Disuatu hutan, terdapat dua makam, yaitu makam Tu'Rangga Tuban dan istrinya, dan di bukit bunang terdapat pula makam yang dikenal dengan keramat bujang.<br>Paragraf 2: Tu'Rangga Tuban mempunyai dua istri dan seorang anak angkat bernama bujang.<br>Paragraf 3: Di lengan kiri beliau terpasang sebuah batu asah yang dikenakan ketika berperang.<br>Paragraf 4: Tu'Rangga Tuban pandai membuat perahu.<br>Paragraf 5: Suatu hari, Tu'Rangga Tuban mengadakan perjalanan ke Palembang, menggunakan perahu buatannya sendiri, disana dia membeli burung puyuh yang sangat lincah.<br>Paragraf 6: Sesampainya di rumah, burung itu lepas dari sangkaranya. Tu'Rangga Tuban menyusun batu agar burung itu tidak meloncat.<br>Paragraf 7: Kehebatan Tu'Rangga Tuban turun kepada Bujang, namau Kehebatan yang dimiliki Bujang melebihi ayah angkatnya.<br>Paragraf 8: Melihat hal itu, Tu'Rangga Tuban merasa takut dan khawatir. Dia ingin menghabisi anaknya Bujang.<br>Paragraf 9: Karena niat buruknya, Bujang mendapatkan perlakuan yang lain dari biasanya.<br>Paragraf 10: Tu'Rangga Tuban selalu mencari masalah dengan Bujang.<br>Paragraf 11: Suatu ketika bunang tidak diberi makan, karenanya Bujang pun merara kelaparan.<br>Paragraf 12: Rangga Tuban menyembunyikan Bujang yang sedang tertidur lelap disebuah pondok di Ume.<br>Paragraf 13: Malam harinya, Rangga Tuban membakar pondok tersebut.<br>Paragraf 14: Bujangpun keluar dari pondok yang masih berasap.<br>Paragraf 15: Bujang merasa heran dengan sikap ayahnya.<br>Paragraf 16: Bujang berbicara bahwa dia akan mati jika menusukkan ujung daun ilalang di jari manisnya.<br>Paragraf 17: Bujang meminta agar di kuburkan diantara langit dan bumi bersama hartanya.<br>Paragraf 18: Rangga Tuban menusukkan ujung daun ilalang ke jari manis, Bujang pun meninggal.<br>Paragraf 19: Setelah itu rangga Tuban menguburkan di atas sebuah bukit bersama dengan hartanya.<br>Paragraf 20: Ada dua orang lelaki berniat mengambil harta Bujang. Sebagai imbalannya dia harus menyerahkan darah orang dia sayangi.<br>Paragraf 21: Dua lelaki tersebut berpikir akan permintaan Bujang.<br>Paragtaf 22: Akhirnya, kedua lelaki tersebut memalsukan darah dengan darah pati semak dan membawanya ke kuburan Bujang.<br>Paragraf 23: Tak lama, roh Bujang datang dan menyuruh kedua lelaki menggali kuburnya di sebelah kiri.<br>Paragraf 24: Mereka pun turun dan berkata mudah untuk membodohi yang di atas.<br>Paragraf 25: Setelahnya berkata, pengikat tali tempayan itu putus, dan menggelinding ke atas bukit serta masuk kembali ketempat semula.<br><br>Unsur Intrinsik:<br>Tema: Perselisihan antara ayah dan anak akibat iri dengan kehebatan sang anak.<br>Alur: Mundur<br>Latar:<br>Tempat: Hutan, Desa Bantan, Palembang, dan pondok Ume.<br>Suasana: Tegang dan menyedihkan<br>Waktu: Dari hari ke hari.<br>Penokohan: Tu'Rangga Tuban: Jahat dan kejam (antagonis).<br>Istri Rangga: Jahat (antagonis)<br>Bujang: Baik, penurut, sabar, menghormati orang tua (protogonis)<br>Dua laki-laki: Licik.<br>Sudut pandang: Orang ketiga.<br>Amanat: Syukurilah semua yang kita miliki, jangan bersikap iri dengan apa yang dimiliki orang lain.<br>Gaya bahasa: Menggunakan bahasa Indonesia yang mudah dipahami.<br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:51:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306870972</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : akira hanafi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306871040</link>
         <description><![CDATA[<div>X mipa 6<br> Penggembara yang lapar<br>Paragraf 1 : Diceritakan kisah tiga orang sahabat yaitu Kendi, Buyung, dan Awang yang sedang mengembara. Mereka membawa bekalan makanan seperti beras, daging, susu, dan buah-buahan. Biasanya, apabila mereka kelelahan, mereka berhenti untuk sekedar beristirahat atau hanya menggenyangkan perut. Jika dalam perjalanan mereka bertemu sebuah desa, biasanya mereka akan singgah membeli makanan untuk bekal perjalanan.<br>Paragraf 2 :Pada suatu hari, mereka tiba dikawasan hutan belantara.Perbekalan makanan mereka sudah habis tak menyisa. Dan ketiga sahabat itu mulai kelaparan.<br>Paragraf 3: mereka sombong dengan perkataanya saat meminta makanan yaitu mereka akan menghabis akan 10 ayam dan nasi sekawah<br>Paragraf 4: lalu mereka mendapatkan karma <br>Pargaraf 5: tertinggal temanya satu orang yang tidak sombong lalu melanjutkan perjalanannya<br><br><br><strong>Unsur Intrinsik</strong></div><div><br></div><div><strong>Tema             :</strong> Balasan atas Perilaku Buruk</div><div><br></div><div><strong>Tokoh dan Penokohan   :</strong></div><div><br></div><div>-  Buyung (Antagonis) : Berprilaku sombong, berkhayal tinggi, tamak, ingkar janji, </div><div> tidak mensyukuri takdir dan pemberian dari tuhan, suka </div><div> mengeluh</div><div>-  Kendi (Antagonis)  : Berprilaku sombong, berkhayal tinggi, tamak, ingkar janji, </div><div> tidak mensyukuri takdir dan pemberian dari tuhan, suka </div><div> mengeluh.</div><div>-  Awang (Protagonis) : Berprilaku baik, tidak sombong, menepati janji, mensyukuri </div><div> takdir dan pemberian dari tuhan, bersifat baik.</div><div>-  Pohon tua (Tirtagonis) : Suka berbelas kasih pada semua makhluk, bersifat baik.</div><div><br></div><div><strong>Latar    (Setting)        :</strong></div><div><br></div><div>-  Tempat    <strong>         :</strong> Di hutan.</div><div>-  Waktu         : -</div><div>-  Suasana            : Kelaparan </div><div><br></div><div><strong>Alur (Plot)          :</strong> Maju.</div><div><br></div><div>-  Perkenalan         : Paragraf  1</div><div>-  Penanjakan         : Paragraf  2 - 7</div><div>-  Klimaks            : Paragraf  8 - 13</div><div>-  Puncak klimaks     : Paragraf  14 - 23</div><div>-  Anti klimaks       : Paragraf  24 - 27</div><div><br></div><div><strong>Sudut Pandang (POV)</strong>   : Orang ketiga diluar cerita/orang ketiga serba tau.</div><div><br></div><div><strong>Amanat   </strong>        :</div><div>    </div><div>    Janganlah membuat janji yang tidak dapat kau tepati apalagi dengan sombongnya kau lontarkan janji tersebut seolah-olah kau dapat menepatinya namun kenyataannya kau tidak dapat menepatinya.</div><div><br></div><div><strong>Pesan Moral</strong>     :</div><div><br></div><div>    Setiap kata-kata yang terucap harus dapat dikontrol, kita juga tidak di benarkan untuk berkata sombong apalagi berjanji denagn janji yang tidak mungkin dapat kau tepati. Janganlah juga kau menjadi orang yang tamak, karena suatu saat nanti pasti akan ada balasan bagi orang-orang yang memiliki sifat yang buruk.</div><div><br></div><div><strong>Unsur Ekstrinsik</strong></div><div><br></div><div><strong>Nilai Budaya     : </strong>Terlihat bahwa dari jaman dulu kita diharuskan dan diajarkan </div><div> untuk memiliki sifat dan berprilaku baik.</div><div><strong>Nilai Sosial          : </strong>Terlihat pada sikap Awang yang sedang menasehati teman-</div><div> temannya agar tidak berprilaku tamak dan sombong . Berikut </div><div> kutipannya : “Janganlah kamu berdua tamak sangat dan </div><div> bercakap besar pula. Aku pun lapar juga. Bagi aku, kalau ada </div><div> nasi sepinggan sudah cukup,” bagian terjemahan : “Kalian tidak </div><div> boleh berlaku tamak dan membual seperti itu. Aku pun juga </div><div> kelaparan. Bagiku, nasi sepingan pun sudah cukup untuk  </div><div> mengatasi kelaparanku ini, “</div><div><strong>Nilai Filsafat            : -</strong></div><div><strong>Nilai Ekonomi         : -</strong></div><div><strong>Nilai Politik             : -</strong></div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:51:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306871040</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muh Zulkifli Hidayat</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306871198</link>
         <description><![CDATA[<div><a href="http://dongengkakrico.wordpress.com/hikayat/hikayat-seorang-kakek-dan-seekor-ular/"><strong><br>Hikayat Seorang Kakek dan Seekor Ular</strong></a><strong> (Balas Budi)</strong></div><div>Paragraf 1 : Ia dikenal takut kepada Allah, gandrung pada kebenaran, beribadah wajib setiap waktu, menjaga salat lima waktu dan selalu mengusahakan membaca Al-Qur’an pagi dan petang. Selain dikenal alim dan taat, ia juga terkenal berotot kuat dan berotak encer. Ia punya banyak hal yang menyebabkannya tetap mampu menjaga potensi itu.</div><div>Paragraf 2 : Suatu hari, ia sedang duduk di tempat kerjanya sembari menghisap rokok dengan nikmatnya (sesuai kebiasaan masa itu). Tangan kanannya memegang tasbih yang senantiasa berputar setiap waktu di tangannya. Tiba-tiba seekor ular besar menghampirinya dengan tergopoh-gopoh. Rupanya, ular itu sedang mencoba menghindar dari kejaran seorang laki-laki yang (kemudian datang menyusulnya) membawa tongkat.</div><div>Paragraf 3 : Ular mengucapkan sumpah atas nama Allah bahwa ia takkan melakukan itu sekali lagi. Usai ular mengucapkan sumpahnya, kakek pun membuka mulutnya sekira-kira dapat untuk ular itu masuk.</div><div>Sejurus kemudian, datanglah seorang pria dengan tongkat di tangan. Ia menanyakan keberadaan ular yang hendak dibunuhnya itu. Kakek mengaku bahwa ia tak melihat ular yang ditanyakannya dan tak tahu di mana ular itu berada. Tak berhasil menemukan apa yang dicarinya, pria itu pun pergi.</div><div>Paragraf 4 : Sejurus kemudian kakek itu tampak terpaku, shok dengan kejadian yang tak pernah ia duga sebelumnya, perbuatan baiknya berbuah penyesalan.</div><div>Paragraf 5 : Anjuran itu kemudian ia amalkan dengan baik sehingga ketika keluar dari mulutnya ular itu telah menjadi bangkai. Maka bebas dan selamatlah kakek itu dari bahaya musuh yang mengancam hidupnya. Kakek itu girang bukan main sehingga berujar, “Suara siapakah yang tadi saya dengar sehingga saya dapat selamat?”</div><div>Suara itu menyahut bahwa dia adalah seorang penolong bagi setiap pelaku kebajikan dan berhati mulia. </div><div>Pargraf 6 : Kakek bersujud seketika, tanda syukurnya kepada Tuhan yang telah memberi pertolongan dengan mengirimkan seorang juru penyelamat untuknya.</div><div>Paragraf 7 : Di akhir ceritanya, si Saudi berpesan:</div><div>“Waspadalah terhadap setiap fitnah dan dengki karena sekecil apapun musuhmu, ia pasti dapat mengganggumu. Orang jahat tidak akan pernah menang karena prilakunya yang jahat.”</div><div><br></div><div> </div><div><strong>Unsur intrinsik</strong></div><div><strong>1.     Tema                               : </strong>Balas Budi</div><div><strong>2.      Perwatakan tokoh      :</strong></div><div>a)      Si Kakek       : Baik hati, pandai, taat, terlalu mudah percaya pada siapapun, suka  menolong dan pasrah.</div><div>-        Baik Hati : Dia rela menolong ular yang bahkan bisa membahayakan nyawanya sendiri.</div><div>-        Pandai : Selain dikenal alim dan taat, ia juga terkenal berotot kuat dan berotak encer.</div><div>-        Taat : Ia dikenal takut kepada Allah, gandrung pada kebenaran, beribadah wajib setiap waktu, menjaga salat lima waktu dan selalu mengusahakan membaca Al-Qur’an pagi dan petang.</div><div>-        Terlalu mudah percaya pada siapapun : Dia terlalu percaya bahkan pada hal yang dia endiripun tahu jika itu dapat membunuhnya.</div><div>-        Suka menolong : bukankah aku telah menyelamatkanmu, tetapi sekarang aku pula yang hendak kamu bunuh?</div><div>-        Pasrah : Terserah kepada Allah Yang Esa sajalah. Dia cukup bagiku, sebagai penolong terbaik .</div><div>b)      Ular               : Licik, jahat, suka berbohong, dan tidak tahu balas budi.</div><div>-        Licik : Buktinya kamu biarkan saja musuhmu masuk ke mulutmu, padahal semua orang tahu bahwa ia ingin membunuhmu setiap ada kesempatan.</div><div>-        Jahat : Sekarang kuberi kamu dua pilihan, terserah kamu memilih yang mana; mau kumakan hatimu atau kumakan jantungmu? Kedua-duanya sama-sama membuatmu sekarat.</div><div>-        Suka berbohong : Pada awalnya dia berjanji hanya akan bersembunyi, tetapi ternyata dia juga mengancam untuk memakan hati atau jantung si kakek.</div><div>-        Tidak tahu balas budi : Setelah diberi pertolongan oleh kakek, bukannya berterima kasih, ular itu malah mau membunuh kakek.</div><div>c)      Suara penolong : Baik hati, suka menolong.</div><div>-            Baik hati : Dia ada disaat yang tepat. Saat kakaek akan dibunuh oleh ular itu.</div><div>-            Suka menolong : Tuhan yang telah memberi pertolongan dengan mengirimkan seorang juru penyelamat untuknya.</div><div> </div><div> </div><div><strong>Unsur Ekstrinsik</strong></div><div>1.       <strong>Nilai Moral : </strong>Kita dapat belajar bahwa menolong orang itu memang baik, namun kita juga harus memikirkan pula tentang akibat dari pertolongan kita itu.</div><div>2.       <strong>Nilai Pendidikan      : </strong>Kita dapat belajar bahwa perbuatan baik juga akan mendapatkan balasan yang baik pula.</div><div>3.       <strong>Nilai Religius: </strong>Allah akan selalu melindungi hamba-Nya yang taat kepada-Nya.</div><div>4.       <strong>Nilai Sosial : </strong>Menolong sesama yang membutuhkan adalah hal yang baik, apalagi bila memang sedang membutuhkan pertolongan.</div><div>5.       <strong>Nilai Budaya: </strong>Budaya tolong-menolong antara kiat memang harus selalu diterapkan dimanapun dan kapanpun.</div><div>6.       <strong>Nilai Estetika: </strong>Hubungan antar umat manusia yang saling tolong-menolong dan pertolongan Allah yang terkadang tak terduga.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-21 23:53:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306871198</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Shiva Indiva </title>
         <author>shivaindiva1</author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306872183</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>X MIPA 6<br><br>"HIKAYAT TIMUN MAS"<br><br>IDE POKOK HIKAYAT TIMUN MAS<br><br>•&gt; Paragraf 1 : </strong>Di suatu desa hiduplah seorang janda tua yang bernama mbok Sarni. Tiap hari dia menghabiskan waktunya sendirian, karena mbok Sarni tidak memiliki seorang anak. Pada suatu sore pergilah mbok Sarni ke hutan untuk mencari kayu, dan ditengah jalan mbok Sarni bertemu dengan raksasa yang sangat besar sekali. “Hei, mau kemana kamu?”, tanya si Raksasa. “Aku hanya mau mengumpulkan kayu bakar, jadi ijinkanlah aku lewat”, jawab mbok Sarni. “Hahahaha…. kamu boleh lewat setelah kamu memberiku seorang anak manusia untuk aku santap”, kata si Raksasa. Lalu mbok Sarni menjawab, “Tetapi aku tidak mempunyai anak”.<br><br><strong>•&gt; Paragraf 2 : </strong>Setelah mbok Sarni mengatakan bahwa dia tidak punya anak dan ingin sekali punya anak, maka si Raksasa memberinya biji mentimun. Raksasa itu berkata, "tanamlah biji Tanamlah biji ini di halaman rumahmu, dan setelah dua minggu kamu akan mendapatkan seorang anak. Tetapi ingat, serahkan anak itu padaku setelah usianya enam tahun”.<strong><br><br>•&gt; Paragraf 3 : </strong>Setelah dua minggu, mentimun itu nampak berbuah sangat lebat dan ada salah satu mentimun yang cukup besar. Mbok Sarni kemudian mengambilnya , dan setelah dibelah ternyata isinya adalah seorang bayi yang sangat cantik jelita. Bayi itu kemudian diberi nama timun emas.<br><br>•<strong>&gt; Paragraf 4 : </strong>Semakin hari timun emas semakin tumbuh besar, dan mbok Sarni sangat gembira sekali karena rumahnya tidak sepi lagi.<br><br><strong>•&gt; Paragraf 5 : </strong>Akhirnya pada suatu hari datanglah si Raksasa untuk menagih janji. Kemudian mbok Sarni berkata, “Wahai raksasa, datanglah kesini dua tahun lagi. Semakin dewasa anak ini, maka semakin enak untuk di santap”. Si Raksasa pun setuju dan meninggalkan rumah mbok Sarni.<br><br><strong>•&gt; Paragraf 6 : Ti</strong>ap hari mbok Sarni mencari akal bagaimana caranya supaya anaknya tidak dibawa si Raksasa. Hati mbok Sarni sangat cemas sekali, dan akhirnya pada suatu malam mbok Sarni bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia diberitahu agar timun emas menemui petapa di Gunung.<br><br><strong>•&gt; Paragraf 7 : </strong>Pagi harinya mbok Sarni menyuruh timun emas untuk segera menemui petapa itu. Setelah bertemu dengan petapa, timun emas kemudian bercerita tentang maksud kedatangannya. Sang petapa kemudian memberinya empat buah bungkusan kecil yang isinya biji mentimun, jarum, garam, dan terasi. “Lemparkan satu per satu bungkusan ini, kalau kamu dikejar oleh raksasa itu”, perintah petapa.<br><br>•<strong>&gt; Paragraf 8 : </strong>Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. Tetapi Mbok Sarni tidak mau memberikan Timun Mas kepada raksasa dengan mengatakan "Lebih baik aku saja yang kamu santap”. Raksasa tidak mau menerima tawaran dari mbok Sarni itu, dan akhirnya marah besar. “Mana anak itu? Mana timun emas?”.<br><br><strong>•&gt; Paragraf 9 : </strong>Karena tidak tega melihat mbok Sarni menangis terus, maka timun emas keluar dari tempat sembunyinya. <br><br>•<strong>&gt; Paragraf 10 : </strong>Raksasapun mengejarnya, dan timun emas mulai melemparkan kantong yang berisi mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun menjadi terhambat, karena batang timun tersebut terus melilit tubuhnya. Tetapi akhirnya si raksasa berhasil bebas juga, dan mulai mngejar timun emas lagi. Lalu timun emas menaburkan kantong kedua yang berisi jarum, dalam sekejap tumbuhlan pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah karena tertancap bambu tersebut si raksasa terus mengejar.<br><br>•<strong>&gt; Paragraf 11 : </strong>Kemudian timun emas membuka bingkisan ketiga yang berisi garam. Seketika itu hutanpun menjadi lautan luas. Tetapi lautan itu dengan mudah dilalui si raksasa. Yang terakhir Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika itu terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, dan si raksasa tercebur di dalamnya. Akhirnya raksasapun mati.<br><br>•<strong> Paragraf 12 : </strong>Timun Emas mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena sudah diselamatkan dari raksasa yang kejam. Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sarni hidup bahagia dan damai.<br><br><strong>UNSUR INTRINSIK HIKAYAT TIMUN EMAS<br></strong><br></div><div><strong>Judul :</strong> Timun Mas<br><br><strong>Tema :</strong> Kejahatan dan keangkuhan mampu dikalahkan oleh keberanian dan kesabaran.<br><br><strong>Latar :</strong><br>- Latar waktu : Zaman dahulu kala<br>- Latar tempat : Di hutan dan di rumah Sang Nenek<br>- Latar suasana : Menyedihkan dan menakutkan<br><br><strong>Tokoh :</strong> Timun Mas, Raksasa, Nenek<br><br><strong>Watak :</strong><br>Timun Mas : Berani dan penurut<br>Raksasa : Rakus dan jahat<br>Nenek : Penyabar, berani untuk membela apa yang dipunyainya<br><br><strong>Alur : </strong>Maju<br><br><strong>Sudut pandang :</strong> Orang ketiga<br><br><strong>Amanat : </strong><br>- Kita harus berani menghadapi tantangan<br>- Kerakusan akan berakibat kepada malapetaka<br>- Kesabaran akan membuahkan hasil<br>- Pertahankanlah apa yang dianggap benar<br><br><strong>Gaya Bahasa (Majas) :</strong><br>Hiperbola : Raksasa merasakan lapar yang amat sangat<br>Personifikasi : Batang timun melilit raksasa<br><br><strong>UNSUR EKSTRINSIK HIKAYAT TIMUN MAS</strong><br><strong><br>Budaya serta nilai-bilai yang dianut : </strong>Budaya Jawa<br><br><strong>Tingkat pendidikan :</strong> Tidak terlalu tinggi, karena mengandung bahasa-bahasa yang mudah dimengerti<br><br><strong>Kondisi sosial di masyarakat :</strong> Individual<br><br><strong>Agama dan keyakinan : </strong>Percaya kepada hal-hal ghaib<br>dan sebagainya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 00:03:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306872183</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Inaya Razaliputri</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306872400</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>X Mipa 6 <br><br>Judul : Hikayat Si Miskin<br></strong>-Ide Pokok</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 00:05:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306872400</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Faizah Zaskia Nabila</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306872940</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Unsur-Unsur Intrinsik Tukang Pijit Keliling<br></strong><br> Tema: Misteri<br><br>Alur: Maju<br>   Karena peristiwa yang terjadi pada cerpen tersebut berjalan sesuai urutan waktu yang maju tanpa adanya cerita tentang peristiwa dio waktu yang sebelumnya/ yang pernah terjadi sebelumnya.<br><br>Sudut Pandang: Orang ketiga sebagai pengamat<br>Karena si penulis tidak menceritakan si tokoh utama bernama Darko lebih dalam.<br><br>Penokohan:<br>   Adapun tokoh serta wataknya yang terdapat pada cerpen tersebut adalah.<br>Darko: Ramah, misterius, tulus.<br>Watak tersebut dapat dilihat pada beberapa kutipan cerpen sebagai berikut:<br>Sebenarnya tidak ada keistimewaan khusus mengenai keahlian Darko dalam memijat. Standar tukang pijat pada layaknya. Namun, keramahannya yang mengalir menambah daya pikat tersendiri. Kami menemukan ketenangan di wajahnya yang membuat kami senantiasa merasa dekat. Mungkin oleh sebab itu kami terus membicarakannya.<br>Entah darimana asalnya, tiada seorang warga pun yang tahu. Tiba-tiba saja datang ke kampung kami dengan pakaian tampak lusuh. Kami sempat menganggap dia adalah pengemis yang diutus kitab suci. Dia bertubuh jangkung tetapi terkesan membungkuk, barangkali karena usia. Peci melingkar di kepala. Jenggot lebat mengitari wajah. Tanpa mengenakan kacamata, membuat matanya yang hampa terlihat lebih suram, dia menawarkan pijatan dari rumah ke rumah. Kami melihat mata yang bagai selalu ingin memejam, hanya selapis putih yang terlihat.<br>Dia akan berhenti ketika seseorang memanggilnya. Melayani pelanggannya dengan tulus dan sama rata, tanpa pernah memandang suatu apa pun. Serta yang membuat kami semakin hormat, tidak pernah sekali pun dia mematok harga. Dengan biaya murah, bahkan terkadang hanya dengan mengganti sepiring nasi dan teh panas, kami bisa mendapatkan kenikmatan pijat yang tiada tara. Kami menikmati bagaimana tangannya menekan lembut tiap jengkal tubuh kami. Kami merasakan urat syaraf kami yang perlahan melepaskan kepenatan bagai menemukan kesegaran baru setelah seharian ditimpa kelelahan. Pantaslah bila terkadang ada pelanggan yang tertidur saat sedang dipijat.<br>Selain itu, Darko memiliki pembawaan sikap yang ramah, tidak mengherankan bila orang- orang kampung segera merasa akrab dengan dirinya. Dia suka pula menceritakan kisah lucu di sela pijatannya. Meskipun begitu, kami tetap tidak tahu asal usulnya dengan jelas. Bila kami menanyakannya, dia selalu mengatakan bahwa dirinya berasal dari kampung yang jauh di kaki gunung.<br><br>Kurit: Suka ceplas-ceplos, keras kepala,.<br>Watak tersebut dapat dilihat pada beberapa kutipan cerpen sebagai berikut:<br>Namun diam-diam ketika sedang dipijat, Kurit, seorang warga kampung yang terkenal suka ceplas-ceplos, meminta Darko meramalkan nasibnya. Darko hanya tersenyum sambil gelengkan kepala berkali-kali isyarat kerendahan hati, seakan berkata bahwa dia tidak bisa melakukan apa-apa selain memijat. Namun Kurit terus mendesak. Akhirnya seusai memijat, Darko pun menuruti permintaannya.<br><br>Pak Lurah: tamak, penjudi, licik, tidak peduli dengan sesama.<br>Watak tersebut dapat dilihat pada beberapa kutipan cerpen sebagai berikut:<br>Seminggu kemudian orang- orang kampung gusar. Pak Lurah mengumumkan bahwa masjid kampung satu-satunya yang berada di jalan utama, akan segera dipindah ke permukiman berimpitan rumah-rumah warga dengan alasan agar kami lebih dekat menjangkaunya. Supaya masjid senantiasa dipenuhi jemaah.<br>Namun, berhamburan kabar Pak Lurah akan mengorbankan tanah masjid dan sekitarnya ini kepada orang kota untuk sebuah proyek pasar masuk kampung. Tentu saja merupakan tempat yang strategis daripada di pelosok permukiman, harus melewati gang yang meliuk- liuk dan becek seperti garis nasib kami.<br>Malam itu diam-diam Pak Lurah memanggil Darko ke rumahnya. Seusai dipijat, dengan suara penuh wibawa ia meminta diramalkannya nomer togel yang akan keluar besok malam. Seperti biasa, Darko hanya menggeleng sambil tersenyum. Namun Pak Lurah terus mendesak, bahkan sedikit memohon. Darko diam beberapa jenak. Kemudian, dengan sangat terang dia pun menyebutkan angka sejumlah empat kali diikuti gerak jari- jari tangannya. Kali ini Pak Lurah yang tersenyum, gembira melintasi raut mukanya.<br><br> Latar:<br>Tempat:<br>Di Kampung<br>Entah darimana asalnya, tiada seorang warga pun yang tahu. Tiba-tiba saja datang ke kampung kami dengan pakaian tampak lusuh.<br>Di Pemakaman<br>Kemudian kami ketahui, bila malam hampir tandas, Darko kembali ke tempat pemakaman di ujung kampung. Di antara sawah-sawah melintang.<br>Di celah gundukan-gundukan tanah yang berjajar<br>Siang hari. Darko selalu duduk berlama-lama di celah gundukan-gundukan tanah yang berjajar.<br>Di warung wedang jahe<br>Di warung wedang jahe, orang-orang terus membicarakannya. Mereka saling menceritakan ramalan masing-masing.<br>Di rumah pak lurah<br>Malam itu diam-diam Pak Lurah memanggil Darko ke rumahnya.<br>Di gubuk<br>Di gubuk itu, kami tidak juga menemukan jejak peninggalannya.<br><br>Waktu:<br>Malam hari<br>Setiap malam, dengan membawa minyak urut, dia menyusur dari gang ke gang kampung guna menjemput pelanggan.<br>Kini hampir setiap malam selalu saja ada yang membutuhkan jasanya.<br>Malam itu diam-diam Pak Lurah memanggil Darko ke rumahnya.<br><br>Siang hari<br>Siang hari. Darko selalu duduk berlama-lama di celah gundukan-gundukan tanah yang berjajar.<br>Begitulah, saat siang hari kami tak pernah melihat Darko keliling kampung.<br><br>Sosial:<br>Miskin<br>Hampir kebanyakan warga di kampung kami ini adalah buruh tani. Hanya beberapa orang yang memiliki sawah, dapat dihitung dengan ingatan. Setiap hari kami harus menumpahkan tenaga di ladang. Dapat dibayangkan keletihan kami bila malam menjelang.<br>Tentu saja merupakan tempat yang strategis daripada di pelosok permukiman, harus melewati gang yang meliuk- liuk dan becek seperti garis nasib kami.<br><br>Gaya Bahasa: Antiklimaks<br><br> Amanat:<br>Janganlah menjadi orang yang sombong dan tamak.<br>Jangan memanfaatkan seseorang untuk hal buruk.<br>Jadilah orang yang ramah.<br><br><strong>Unsur-unsur ekstrinsik Tukang Pijat Keliling</strong><br>1.Nilai Kehidupan Agama<br>Senantiasa menghidupkan masjid<br>“Pak Lurah mengumumkan bahwa masjid kampong satu-satunya yang berada di jalan utaam, akan segera dipindah ke pemukiman berimpitan dengan rumah-rumah warga dengan alas an agar kami lebih dekat menjangkaunya. Supaya masjid senantiasa dipenuhi jamaah.” (Paragraf ke-10 kalimat ke-2 dan ke-3)<br>·   Bersyukur terhadap segala hal.<br>“Dia selalu mensyukuri mimpi, meskipun percaya mimpi tak akan mengubah apa-apa” (Paragraf ke-8 kalimat ke-5)<br>·  Tidak percaya bahwa hanya Tuhan yang mementukan dan mengetahui nasib kedepannya.<br>“Namun diam-diam ketika sedang dipijit, Kurit seorang warga kampung yang terkenal suka ceplas-ceplos, meminta Darko meramalkan nasibnya.” (Paragraf ke-13 kalimat ke-1)<br><br>2.Nilai Kehidupan Moral<br>·  Sebagai seorang pemimpin sudah seharusnya tidak menyalah gunakan kewenangan yang diberikan untuk kepentingan pribadi.<br>“Namun, berhamburan kabar Pak Lurah akan mengorbankan tanah masjid dan sekitarnya ini kepada orang kota untuk sebuah proyek pasar masuk kampung.”<br>(Paragraf ke-11 kalimat ke-1)<br>·  Kita harus ramah terhadap orang lain dan peduli kepada sesama.<br> “Selain itu, Darko memiliki pembawaan sikap yang ramah, tidak mengherankan bila orang-orang kampung segera merasa akrab dengan dirinya.” (Paragraf ke-7 kalimat ke-1)<br>“Dan bila ada yang warga yang meninggal, Darko kerap membantu para penggali kubur.”<br>(Paragraf ke-17 kalimat ke-8)<br>·   Kita harus ikhlas dan rendah hati dalam menolong orang lain.<br>“Melayani pelanggannya dengan tulus dan sama rata, tanpa pernah memandang suatu apapun.” (Paragraf ke-6 kalimat ke-2)<br> “Darko hanya tersenyum sambil gelengkan kepala berkali-kali isyarat kerendahan hati, seakan berkata bahwa dia tidak bisa melakukan apa-apa selain memijat.” (Paragraf ke-13 kalimat ke-2)<br>·  Menolak apabila diberi ajakan yang salah.<br>“Seperti biasa, Darko hanya menggeleng sambil tersenyum.”<br>(Paragraf ke-25 kalimat ke-3)<br><br>3.Nilai Kehidupan Sosial<br>·      Membantu para warga menggali kubur jika ada seorang warga yang meninggal.<br>“Esoknya, di suatu Jumat yang cerah, Pak Lurah mengumpulkan beberapa warga-terutama lelaki-guna memindahkan perlengkapan penguburan ke tengah pemukiman.” (Paragraf ke-27 kalimat ke-6 )<br><br>4.Nilai Kehidupan Ekonomi<br>·      Tidak mematok harga terlalu mahal<br>“Serta yang membuat kami semakin hormat, tidak pernah sekalipun dia mematok harga. Dengan biaya murah, bahkan terkadang hanya dengan mengganti sepiring nasi dan teh panas, …” (Paragraf ke-6 kalimat ke-3 dan 4)<br><br>5.Nilai Kehidupan Budaya<br>·      Pergi ke tukang pijat apabila merasa pegal dan kaki terkilir.<br>“Kami harus menuju ke dukun pijat di kampuung sebelah bila ingin merasakan pijatan yang sungguh-sungguh atau mengurut tangan kaki kami yang terkilir.” (Paragraf ke-3 kalimat ke-4)<br><br>6.Nilai Kehidupan Politik<br>·     Mengorbankan kepentingan umum untuk keberhasilan diri sendiri.<br>“Namun, berhamburan kabar Pak Lurah akan mengorbankan tanah masjid dan sekitarnya ini kepada orang kota untuk sebuah proyek pasar masuk kampung.”<br>(Paragraf ke-11 kalimat ke-1)<br><br><strong>Ide Pokok Hikayat Tukang pijat keliling</strong><br>1) Pak darko, tukang pijat keliling yang ramah dan tenang<br>2) asal-usul pak darko tidak diketahui <br>3) warga penasaran dengan pijatan pak darko<br>4) kebanyakan warga Kampung bekerja sebagai buruh yang penuh merasakan pijatan Pak Darko<br>5) meskipun tak Dara Komuta setiap malam ia menyusuli setiap yang jemput pelanggan<br>6) keikhlasan dan ketulusan pak darko dalam melayani pelanggannya<br> 7) sikap ramah pak darko timbulkan keakraban <br>8) tempat tinggal dan istirahat pak darko sangat kemartikan <br>9) setiap Pak Lurah pemimpin Kampung kami yang sewenang-wenang<br>10) pak darko memiliki keahlian dan kejelian membaca tangan<br>11) warga banyak membicarakan keahlian pak darko <br>12) timbul ketertarikan Pak Lurah kepada Pak Darko ini<br>13) gagalnya keinginan Pak Lurah kepergian pak darko yang misterius diringkas</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 00:10:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306872940</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Salzabila Ramadhani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306873573</link>
         <description><![CDATA[<div>1)Tema :Keagamaan<br>2)Tokoh :malin kundang,ibu malin kundang,ayah malin kundang dan istri malin kundang</div><div>Protagonis:ibu malin kundang dan malin kundang</div><div>Anatagonis :malin kundang,istri malin kundang,ayah malin kundang</div><div>Tritagonis :</div><div>Analitik :malin kundang</div><div>Dramatik :istri malin kundang, ibu malin kundang ,ayah malin kundang</div><div>3)Latar :</div><div>Tempat :Sumatera barat dan laut</div><div>Waktu :pagi hari</div><div>4)Alur:maju (pengenalan-awal perselihan-menuju konflik-konflik memuncak-penyelesaian.</div><div>5)Sudut pandang :orang ketiga diluar cerita</div><div>6)Amanat :kita tidak boleh durhaka</div><div>7)Penggolongan dongeng :legenda</div><div><br></div><div><br></div><div>Malin kundang</div><div>Pada suatu waktu, di desa terpencil ada sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatera Barat. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang Ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas. Ayah Malin tidak pernah kembali ke kampung halamannya sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah.</div><div>Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.</div><div>Karena merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Merantau">merantau</a> agar dapat menjadi kaya raya setelah kembali ke kampung halaman kelak.</div><div>Awalnya Ibu Malin Kundang kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi merantau tetapi Malin tetap bersikeras sehingga akhirnya dia rela melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.</div><div>Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang beruntung, dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingga tidak dibunuh oleh para bajak laut.</div><div>Malin Kundang terkatung-katung di tengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan tenaga yang tersisa, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.</div><div>Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.</div><div>Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya, Malin Kundang beserta istrinya.</div><div>Ibu Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat, ibunya melihat bekas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya, Malin Kundang menjadi marah meskipun ia mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya.</div><div>Mendapat perlakukan seperti itu dari anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Tidak berapa lama kemudian Malin Kundang kembali pergi berlayar dan di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapal Malin Kundang. Ditengah kekacauan itu, diwaktu yang sama dan tempat yang lain ibu Malin Kundang sedang berdoa. Karena kemarahannya yang memuncak, ia pun berteriak <strong>"Tuhan! Jika benar ia Malin anakku, KUKUTUK DIA JADI BATU!"</strong></div><div>Tepat setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Sampai saat ini Batu Malin Kundang masih dapat dilihat di sebuah pantai bernama pantai Air Manis, di selatan kota Padang, Sumatera Barat.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 00:17:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306873573</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mif Tahul Khair M</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306873667</link>
         <description><![CDATA[<div>X MIPA 6 <br>"HIKAYAT PATANI"<br>Paragraf 1 : raja di Kota Maligai itu namanya Paya Tu Kerub Mahajana. Maka Paya Tu Kerub Mahajana pun beranak seorang laki-laki, maka dinamai anakanda baginda itu Paya Tu Antara. <br>Paragraf 2 : Paya Tu Naqpa pun duduk diatas takhta kerajaannya dihadap oleh segala menteri pegawaihulubalang dan ra'yat<br>Paragraf 3 : "Daulat Tuanku, sungguhlah seperti titah Duli Yang Mahamulia itu, patik dengar pun demikian juga."<br>Parag<br>Paragraf 4 : by</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 00:18:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306873667</guid>
      </item>
      <item>
         <title>AGUNG FERDIANSYAH</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306873677</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>HIKAYAT SRI RAMA</strong></div><div><strong> </strong></div><div>Pada suatu hari, Sri Rama dan Laksamana pergi mencari Sita Dewi. Mereka berjalan menelusuri hutan rimba belantara namun tak juga mendapat kabar keberadaan Sita Dewi.</div><div>Saat Sri Rama dan Laksamana berjalan di dalam hutan, mereka bertemu dengan seekor burung jantan dan empat ekor burung betina. Lalu Sri Rama bertanya pada burung jantan tentang keberadaan Sita Dewi yang diculik orang. Burung jantan mengatakan bahwa Sri Rama tak bisa menjaga istrinya dengan baik, tak seperti dia yang memiliki empat istri namun bisa menjaganya. Tersinggunglah Sri Rama mendengar perkataan burung itu. Kemudian, Sri Rama memohon pada Dewata Mulia Raya agar memgutuk burung itu menjadi buta hingga tak dapat melihat istri-istrinya lagi. Seketika burung itu buta atas takdir Dewata Mulia Raya.</div><div>Malam tlah berganti siang. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seekor bangau yang sedang minum di tepi danau. Bertanyalah Sri Rama pada bangau itu. Bangau mengatakan bahwa ia melihat bayang-bayang seorang wanita dibawa oleh Maharaja Rawana. Sri Rama merasa senang karena mendapat petunjuk dari cerita bangau itu. Sebagai balas budi, Sri Rama memohon pada Dewata Mulia Raya untuk membuat leher bangau menjadi lebih panjang sesuai dengan keinginan bangau. Namun, Sri Rama khawatir jika leher bangau terlalu panjang maka dapat dijerat orang.</div><div>Setelah Sri Rama memohon doa, ia kembali melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian datanglah seorang anak yang hendak mengail. Tetapi, anak itu melihat bangau yang sedang minum kemudian menjerat lehernya untuk dijual ke pasar. Sri Rama dan Laksamana bertemu dengan anak itu dan membebaskan bangau dengan memberi anak itu sebuah cincin.</div><div>Ketika dalam perjalanan, Sri Rama merasa haus dan menyuruh Laksamana untuk mencarikannya air. Sri Rama menyuruh Laksamana untuk mengikuti jatunya anak panah agar dapat menemukan sumber air. Setelah berhasil mendapatkan air itu, Laksamana membawanya pada Sri Rama. Saat Sri Rama meminum air itu, ternyata air itu busuk. Sri Rama meminta Laksamana untuk mengantarnya ke tempat sumber air dimana Laksamana memperolehnya. Sesampai di tempat itu, dilihatnya air itu berlinang-linang. Sri Rama mengatakan bahwa dulu pernah ada binatang besar yang mati di hulu sungai itu. Kemudian, Sri Rama dan Laksamana memutuskan untuk mengikuti jalan ke hulu sungai itu.</div><div>Mereka bertemu dengan seekor burung besar bernama Jentayu yang tertambat sayapnya dan yang sebelah rebah. Sri Rama bertanya padanya mengapa sampai Jentayu seperti itu. Jentayu menceritakan semuanya pada Sri Rama tentang pertarungannya melawan Maharaja Rawana. Setelah Jentayu selesai bercerita, ia lalu memberikan cincin yang dilontarkan Sita Dewi saat Jentayu gugur ke bumi saat berperang dengan Maharaja Rawana. Kemudian, cincin itu diambil oleh Sri Rama. Bahagialah Sri Rama melihat cincin itu memang benar cincin istrinya, Sita Dewi.</div><div>Jentayu berpesan pada Sri Rama jika akan pergi menyeberang ke negeri Langka Puri, Sri Rama tidak boleh singgah ke tepi laut karena di sana terdapat gunung bernama Gendara Wanam. Di dalam bukit tersebut ada saudara Jentayu yang bernama Dasampani sedang bertapa. Jentayu tak ingin saudaranya itu mengetahui bahwa dirinya akan segera mati. Setelah Jentayu selesai berpesan, ia pun mati.</div><div>Sri Rama menyuruh Laksamana  mencari tempat yang tidak terdapat manusia dengan memberinya sebuah tongkat. Tetapi, Laksamana tidak berhasil menemukan tempat itu. Lalu ia kembali pada Sri Rama. Laksamana mengatakan pada Sri Rama bahwa ia tidak dapat menemukan tempat sesuai perintah Sri Rama. Kemudian, Sri Rama menyuruh Laksamana untuk menghimpun semua kayu api dan meletakkannya di tanagn Sri Rama. Lalu diletakkannya bangkai Jentayu di atas kayu api itu dan di bakar oleh Laksamana. Beberapa lama kemudian, api itu padam. Laksamana heran melihat kesaktian Sri Rama yang tangannya tidak terluka bakar sedikitpun. Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan meninggalkan tempat itu.</div><div> </div><div><strong>Unsur-unsur intrinsik Hikayat Sri Rama:</strong></div><div><strong>Tema</strong>: Kesetiaan dan pengorbanan</div><ul><li>bukti: Para patik Sri Rama berani berkorban nyawa demi membantu Sri Rama yang sedang kesulitan mencari Sita Dewi. Mereka bakti akan perintah Sri Rama dengan menunujukkan kesetiaan mereka pada Sri Rama.</li></ul><div><strong>Alur</strong>: Maju</div><ul><li>bukti: Sri Rama mencari Sita Dewi yang dibawa lari oleh Maharaja Rawana. Dia berhasil menemukan petunjuk tentang keberadaan Sita Dewi saat bertemu dengan Jentayu. Namun, Jentayu mati setelah menceritakan tentang pertarungannya melawan Maharaja rawana. Mayat Jentayu dibakar di atas tangan Sri Rama.</li></ul><ol><li><strong>Penokohan</strong>: diceritakan secara dramatik (tidak langsung)</li><li><strong>Tokoh</strong>:</li><li>Tokoh utama: Sri Rama</li><li>Tokoh tambahan: Laksamana, Sita Dewi, Maharaja Rawana, Jentayu, Dasampani, burung jantan, dan bangau.</li><li><strong>Setting/latar cerita</strong></li><li>Latar waktu: siang hari</li></ol><div>bukti: pada paragraf enam kalimat pertama pada hikayat</div><ol><li>Latar tempat: di hutan rimba belantara</li></ol><div>bukti: pada paragraf pertama kalimat kedua</div><ol><li>Latar suasana: bahagia, mengaharukan</li></ol><div>bukti: Sri Rama terharu melihat kesetiaan Jentayu atas pengabdiannya menolong Sita Dewi.</div><ol><li><strong>Sudut pandang</strong>: menggunakan orang ketiga sebagai pelaku utama</li><li><strong>Amanat</strong>: hargailah pengorbanan seseorang yang telah rela mati demi menbantu kita.</li></ol><div> Ide pokok<br>Paragraf 1<br>Burung jantan mengatakan bahwa Sri Rama tak bisa menjaga istrinya dengan baik, tak seperti dia yang memiliki empat istri namun bisa menjaganya. <br>Paragraf 2<br>Sebagai balas budi, Sri Rama memohon pada Dewata Mulia Raya untuk membuat leher bangau menjadi lebih panjang sesuai dengan keinginan bangau. <br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 00:18:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306873677</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama:ainur ridho muliadin</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306873784</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>“IBNU HASAN”<br><br>UNSUR INTRINSIK</strong><br>*TEMA<br>Seorang anak ( Ibnu Hasan ) yang berbakti, menuruti dan mematuhi perkataan orang tua</div><div>v Seorang anak ( Ibnu Hasan ) yang ingin mengkaji ilmu yang bermanfaat<br><br></div><div>*ALUR<br>Alur yang digunakan dalam hikayat tersebut adalah alur maju<br><br></div><div>*SUDUT PANDANG<br>Sudut pandangnya adalah sudut pandang orang ketiga<br><br>*GAYA BAHASA<br>Gaya bahasa yang digunakan dapat dimengerti dan jelas<br><br>*LATAR TEMPAT<br>Negeri bagdat,ibu kota negara mesir,pesantren<br><br>*LATAR WAKTU<br>Syahdan,zaman dahulu kala,<br>Saat ba'da zuhur<br><br>*LATAR SUASANA<br>Senang dan sedih<br><br>*PENOKOHAN BERDASARKAN SIFAT<br>Syekh Hasan                      : Protagonis</div><div>Ibnu Hasan                         : Protagonis</div><div>Ibu Ibnu Hasan                   : Protagonis</div><div>Mairun                                : Protagonis</div><div>Mairin                                 : Protagonis</div><div>Saleh                                   : Protagonis</div><div>Guru Kyai                          : Protagonis<br><br>*METODE PENOKOHAN<br> Syekh Hasan : Sangat bijaksana, mengasihi fakir miskin, menyayangi yang kekurangan, menasehati yang berikiran sempit, mengingatkan orang yang bodoh, diajari ilmu yang baik, walaupun harus mengeluarkan biaya, berupa pakaian atau uang, karena itu banyak pengikutnya, seorang hartawan ( banyak harta dan uang ).</div><div>Ibnu Hasan                   : Tidak sombong, perilakunya kalem, walaupun hidupnya dimanjakan, tidak kekurangan sandang, suka bersolek</div><div>Ibu Ibnu Hasan           : Baik, penyanyang</div><div>Mairun                        : Baik</div><div>Mairin                         : Baik</div><div>Saleh                           : Baik, pintar</div><div>Guru Kyai                   : Baik<br><br>*AMANAT<br>Janganlah menjadi orang yang sombong, angkuh dan menghina orang lain hanya karena kita banyak harta dan tidak kekurangan sandang pangan serta jadilah anak yang selalu berbakti kepada orang tua.<br><br>*KONFLIK<br>Janganlah menjadi orang yang sombong, angkuh dan menghina orang lain hanya karena kita banyak harta dan tidak kekurangan sandang pangan serta jadilah anak yang selalu berbakti kepada orang tua.<br><br><strong>UNSUR EKSTRINSIK</strong></div><div>*NILAI AGAMA<br>(“……..dengan selamat berkat do’a ayah dan ibunda selanjutnya, segera ia menemui seorang alim ulama, terus berguru padanya.”) Dan (“Syekh Hasan sangat bijaksana, mengasihi fakir miskin, menyayangi yang kekurangan, menasehati yang berikiran sempit, mengingatkan orang yang bodoh, diajari ilmu yang baik, walaupun harus mengeluarkan biaya, berupa pakaian atau uang, karena itu banyak pengikutnya.”)</div><div><br></div><div>Nilai agama yang terdapat dari penggalan hikayat tersebut adalah berkat doa orang tua kepada anaknya maka selamatlah anaknya sampai tujuan serta sebagai umat yang beragama kita selalu berdoa kepada Tuhan Yang maha Esa agar selalu diberikan keselamatan dan juga kita selalu menyanyangi orang yang tidak mampu.<br><br>*NILAI SOSIAL<br>“Singkat cerita Ibnu Hasan sudah berangkat dikawal dua pengasuhnya sejak kecil, Mairin dan Mairun. Mereka berangkat berjalan kaki, Mairun memikul semua perbekalan dan pakaian, sementara Mairin mengikuti dari belakang sesekali menggantikan tugas Mairun.”<br><br></div><div>Nilai sosial yang terdapat dari penggalan hikayat tersebut adalah bahwa kita sesame manusia harus saling tolong menolong dan saling melindungi satu sama lain.<br><br>*NILAI BUDAYA<br>“Singkat cerita Ibnu Hasan sudah berangkat dikawal dua pengasuhnya sejak kecil, Mairin dan Mairun. Mereka berangkat berjalan kaki, Mairun memikul semua perbekalan dan pakaian, sementara Mairin mengikuti dari belakang sesekali menggantikan tugas Mairun.”<br><br></div><div>Nilai sosial yang terdapat dari penggalan hikayat tersebut adalah bahwa kita sesame manusia harus saling tolong menolong dan saling melindungi satu sama lain.<br><br>*NILAI ADAT/ETIKA<br>“Kelak, apabila anaknda sudah sampai ketempat merantau, pandai-pandailah menjaga diri karena jauh dari orang tua harus tahu ilmunya hidup jangan keras kepala, angkuh dan menyombongkan diri, merasa lebih dari yang lain, merasa diri orang kaya lalu menghina sesama. Kalau begitu perbuatanmu, hidupmu tidak akan senang karena dimusuhi semua orang, tidak akan ada yang mau menolong, kalau celaka tidak akan diperhatikan, berada dirantau orang, kalau judes akan mendapatkan kesusahan, hati-hatilah menjaga diri jangan menganggap enteng segala hal.” Ibnu Hasan menjawab dengan takzim,”Apa yang Ibu katakan, akan selalu kuingat dan kucatat dalam hati, doakanlah aku agar selamat, semoga jangan sampai menempuh jalan yang salah, pesan ibu akan kuperhatikan, siang dan malam.”<br><br></div><div>Nilai etika dari penggalan hikayat tersebut adalah jangan merasa sombong dan saling tolong menolonglah terhadap sesama karena setiap orang akan saling membutuhkan ( makhluk sosial ).<br><br>*NILAI EKONOMI<br>Syahdan, zaman dahulu kala, ada seorang kaya hartawan bernama Syekh Hasan, banyak harta banyak uang terkenal kesetiap negeri merupakan orang terkaya bertempat tinggal di Negeri Bagdad yang terkenal kemana-mana sebagai kota yang paling ramai saat itu.</div><div><br></div><div>Nilai ekonomi yang terdapat dari penggalan hikayat tersebut adalah bahwa orang tersebut merupakan orang yang banyak harta dan uang serta terkenal kemana-mana.</div><div><br>*NILAI PENDIDIKAN<br>Pada suatu hari, saatba’da zuhur, Ibnu Hasan sedang di jalan, bertemu seseorang bernama Saleh, yang baru pulang dari sekalah, Ibnu Hasan menyapa,”Anda pulang dari mana?” Saleh menjawab dengan sopan,”Saya pulang sekolah.” Ibnu Hasan bertanya lagi,” Sekolah itu apa? Coba jelaskan padaku!” yang ditanya menjawab,”Apakah anda belum tahu?” “sekolah itu tempat ilmu, tepatnya tempat belajar,  berhitung, menulis, mengeja, belajar tatakrama, sopan santun terhadap yang lebih tua dan yang lebih muda, dan terhadap sesama, harus sesuai dengan aturan.”<br><br><br></div><div>Begitu Ibnu Hasan mendengar penjelasan tersebut, betapa girang hatinya, dia segera pulang, menghadap kyai dan meminta izinya, untuk belajar disekolah, guna mencari ilmu. Sekarang katakan padaku apa yang sebenarnya kamu harapkan.” Kyai berkata demikian, tujuan untuk menguji muridnya, apakah betul-betul ingin mencari ilmu atau hanya alasan supaya mendapat pujian. Ibnu Hasan menunduk, menjawab agak malu,”Hamba ingin menjelaskan mengapa hamba besusah payah tanpa mengenal lelah, mencari ilmu. Memang sangkaan orang begitu karena ayahku kaya raya, tidak kekurangan uang, ternaknya pun banyak, hamba tidak usah bekerja, karena tidak akan kekurangan. Namun, pendapat hamba tidak demikian, akan sangat memalukan seandainya ayah sudah tiada, sudah meninggal dunia, semua hartanya jatuh ketangan hamba. Tapi, ternyata tidak terurus karena saya tidak teliti akhirnya harta itu habis, bukan bertambah. Distulah terlihat ternyata kalau hamba ini bodoh. Bukan bertambah mashur, asalnya anak orang kaya, harus menjadi buruh. Begitulah pendapat saya karena modal sudah ada saya hanya tinggal melanjutkan. Pangkat anakpun begitu pula, walaupun tidak melebihi orang tua, paling tidak harus sama dengan orang tua, dan tidak akan melakukan, apalagi kalau lebih miskin, ibaratnya anak seorang patih.” Maka, yakinlah kyai itu akan bauk muridnya.</div><div><br></div><div>Nilai pendidikan yang terdapat dari penggalan hikayat tersebut adalah bahwa kita menuntut ilmu bukan untuk mendapat pujian melainkan untuk mendapatkan imu yang bermanfaat untuk masa depan yang lebih baik.<br><br>*IDE POKOK<br>Paragraf 1: Zaman dahulu kala, ada seorang kaya hartawan bernama Syekh Hasan, banyak harta dan uang, terkenal disetiap negeri, merupakan orang terkaya, bertempat tinggal di negeri Baghdad, yang tersohor kemana-mana sebagai kota paling ramai saat itu<br><br>Paragrag 2: Syekh Hasan sangat bijaksana, mengasihi fakir miskin, menyayangi yang kekurangan, menasehati yang berpikiran sempit, mengingatkan orang yang bodoh, diajari ilmu ,yang baik, walaupun harus mengeluarkan biaya, berupa pakaian atau uang, karena itu banyak pengikutnya.<br><br>Paragraf 3: Syekh Hasan saudagar yang kaya raya, memiliki seorang anak laki-laki yang tampan, pendiam dan baik budinya, berusia sekitar tujuh tahun, Ibnu Hasan namanya. Ibnu Hasan sedang lucu-lucunya, semua orang senang melihatnya, apalagi orang tuanya. Namun demikian, anak itu tidak sombong, kalem, walaupun hidupnya dimanjakan, tidak kekurangan sandang, namun Ibnu Hasan tidak suka bersolek, karena itu kedua orang tuanya sangat menyayanginya.<br><br>Paragraf 4: Ayahnya berpikir,”Alangkah salahnya aku, menyayangi diluar batas, tanpa pertimbangan, bagaimana kalau akhirnya dimurkai Allah Yang Agung, aku pasti durhaka, tak dapat mendidik anak, mengkaji ilmu yang bermanfaat.”<br>Dipanggilnya puteranya, anak itu segera mendekati ayahnya. Diusap-usap putranya sambil dinasihati, bahwa ia harus mengaji, katanya “Sekarang saatnya anakku, sebenarnya aku kuatir, tapi pergilah ke Mesir, carilah jalan menuju keutamaan.<br><br>*Paragraf 5: Ibnu Hasan menjawab,”Ayah jangan ragu-ragu, jangankan menuju kemuliaan, jalan kematian pun hamba jalani semua kehendak orang tua, akan hamba turuti, tidak akan kutolak, siang malam hanya perintah ayah dan ibu yang hamba nanti.<br>Singkat cerita, Ibnu Hasan yang akan berangkat ke pesantren, berpisah dengan kedua orang tuanya, hatinya sangat sedih, ibunya tidak tahan menangis. Harus berpisah dengan putranya yang masih kecil, belum cukup usia.<br><br>Paragraf 6: “Kelak, apabila ananda sudah sampai, ke tempat merantau, pandai-pandailah menjaga diri, karena jauh dari orang tua, harus tahu ilmunya hidup, jangan keras kepala, angkuh dan menyombongkan diri, merasa lebih dari yang lain, merasa diri orang kaya lalu menghina sesama. Kalau begitu perbuatanmu, hidupmu tidak akan senang karena dimusuhi semua orang, tidak akan ada yang mau menolong, kalau celaka tidak akan diperhatikan, berada di rantau orang kalau judes akan mendapat kesusahan. Hati-hatilah menjaga diri jangan anggap enteng segala hal.<br><br></div><div>*TERIMA KASIH</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 00:19:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306873784</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Farah Diya Syazani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306874007</link>
         <description><![CDATA[<div> <br>Hikayat Panji Semirang<br> </div><div>Alkisah pada zaman dahulu hiduplah seorang raja di Tanah Jawa yang merupakan empat bersaudara. Yang tua menjadi raja di Kuripan, yang muda menjadi raja di Daha, yang tengah menjadi raja di Gegelang, dan yang bungsu menjadi rajadi Singasari. Empat orang bersaudara itu sangat menyayangi satu sama lain. Negeri tempat mereka tinggal sangat ramai dan termasyur. Banyak pedagang asing yang masuk untuk berniaga di dalam negeri itu.</div><div>Bermula dari seseorang yang bernama Nata Kuripan dengan selirnya yang bernama Paduka Mahadewi. Mereka memiliki anak laki-laki yang sangat tampan rupanya. Dari wajahnya sudah terlihat jejak-jejak keagungan dari ayahnya. Maka, diberinyalah inang pengasuh serta tanah di Karang Banjar Ketapang. Orang-orang menyebut anak tersebut dengan sebutan Raden Banjar Ketapang.</div><div>Permaisuri Kuripan yang mengetahui itu, juga ingin mempunyai anak laki-laki yang baik parasnya. Ia pun mendiskusikannya dengan suaminya. Setelah beberapa lama, mereka memutuskan untuk menyembah segala dewa-dewa selama 40 hari 40 malam agar keinginannya dikabulkan.</div><div><strong>Unsur-Unsur Intrinsik</strong></div><div><strong>Tema Silsilah Panji Semirang</strong></div><div><strong>Latar Suasana</strong></div><div>Bahagia ( Terlalu amat berkasih-kasihan empat bersaudara,…)</div><div><strong>Latar Waktu</strong></div><div>Zaman dahulu ( Sebermula pada zaman dahulu kala ada raja di Tanah Jawa empat bersaudara…)</div><div><strong>Latar Tempat</strong></div><div>-Tanah Jawa ( Sebermula pada zaman dahulu kala ada raja di Tanah Jawa</div><div>empat bersaudra,……)</div><div>-Kuripan ( Yang tua menjadi ratu di Kuripan)</div><div>-Daha ( yang tengah menjadi ratu di Daha)</div><div>-Gegelang ( yang bungsu menjadi ratu di Gegelang)</div><div>-Karang Banjar Ketapang ( …, maka dipungutkan inang pengasuh dengan</div><div>sepertinya dan diberi pekarangan oleh Baginda di Karang Banjar Ketapang.)</div><div> </div><div><strong>Watak Tokoh</strong></div><div>Raja: periang ( …..pada segenap tahun utus-mengutus, empat buah negeri itu terlalu amat baik perintahnya dan periksanya akan segala rakyatnya,…..Dan termasyurlah pada segala negeri di Tanah Jawa akan raja empat buah negeri itu, terlalu baik perintahnya,…..)</div><div>Nata Kuripan: agung ( ….dan sikapnya dan jejak keagung-agungan), mau menerima pendapat ( Setelah sang nata mendengar kata Permaisuri demikian maka dipikirkan sang Nata, benarlah seperti kata Permaisuri.), tekun (Maka sang Nata dan Permaisuri pun memujalah dua laki istri kepada segala macam Dewa-Dewa siang dan malam empat puluh hari empat puluh malam.)</div><div>Permaisuri: tekun (Maka sang Nata dan Permaisuri pun memujalah dua laki istri kepada segala macam Dewa-Dewa siang dan malam empat puluh hari empat puluh malam.), berkeinginan kuat (ingin rasanya ia hendak berputera laki-laki yang baikparasnya.)</div><div><strong>Sudut Pandang</strong></div><div>Orang ketiga tunggal ( Karena tidak melibatkan sang pencerita di dalamnya)</div><div><strong>Gaya bahasa</strong></div><div>-Menggunakan majas repetisi (terdapat dalam kata “maka”)</div><div>-Menggunakan majas hiperbola (…..dan mendam kula dan menghabiskan segala rerawitan isi laut dan darat.)</div><div><strong>Nilai-Nilai (Unsur Ekstrinsik)</strong></div><div>•Religi ( terdapat dalam pemujaan dewa)</div><div>•Kesabaran dan ketekunan (ketika sang Nata dan Permaisuri menyembah</div><div>dewa selama 40 hari 40 malam)</div><div>•Kerukunan ( terdapat dalam empat bersaudara yang berkasih-kasihan)</div><div>•Pengharapan ( terdapat dalam keinginan Nata dan Permaisuri dalam mendapatkan anak</div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 00:21:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306874007</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dwi Afiqah Achmad</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306874448</link>
         <description><![CDATA[<div>judul : Abu Nawas - ibu sejati</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 00:24:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306874448</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nabilah Salsa Ramadhani R</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306874927</link>
         <description><![CDATA[<div>X mipa 6<br>"Hikayat Bayan Budiman”<br>1. Ide Pokok<br>•&gt; paragraf 1<br>Sebermula ada saudagar di negara Ajam. <br>•&gt; paragraf 2<br>Setelah umurnya Khojan Maimun lima tahun,maka diserahkan oleh bapaknya mengaji kepada banyak guru sehingga sampai umur Khojan Maimun lima belas tahun.<br>•&gt; paragraf 3<br>Pada suatu hari Khojan Maimun tertarik akan perniagaan di laut, lalu minta izinlah dia kepada istrinya.<br>•&gt; paragraf 4<br>Hatta beberapa lama ditinggal suaminya, ada anak Raja Ajam berkuda lalu melihatnya rupa Bibi Zainab yang terlalu elok.<br>•&gt; paragraf 5<br>Lalu Bibi Zainab pun pergi mendapatkan bayan yang sedang berpira-pura tidur.<br>•&gt; paragraf 6<br>Keinginan istri Khojan Maimun untuk mendengarkan cerita itu makan Bayanpun bercerita kepada Bibi Zainab dengan maksud ingin memperlalaikan perempuan itu.<br>•&gt; paragraf 7<br>Burung Bayan tidak melarang malah dia menyuruh Bibi Zainab meneruskan rancangannya itu, tetapi dia berjaya menarik perhatian serta melalaikan Bibi Zainab dengan cerita-ceritanya.<br>•&gt; paragraf 8<br>Bayan yang bijak bukan sahaja dapat menyelamatkan nyawanya, tetapi juga dapat menyekat isteri tuannya daripada isteri yang curang.<br>2. Unsur Instrinsik dan Ekstrinsik<br>Tema : seorang burung yang memberi nasihat kepada Tuannya untuk menghindari perbuatan tercela.<br><br>¯Alur : Maju<br><br>·Pengenalan : “….Tak lama setelah beliau berdoa kepada Tuhan, lalu saudagar Mubarok pun mempunyai seorang anak laki- laki dari istrinya yang diberi nama Khojan Maimun.<br><br>Setelah Khojan Maimun berusia lima tahun, ayahnya menyerahkan kepada guru-guru untuk mengajarinya mengaji hingga umurnya lima belas tahun. Saat umurnya lima belas tahun, Khojan Maimun dinikahkan dengan saudagar kaya, sangat cantik, bernama Bibi Zainab.”<br><br>·Pemunculan Masalah: “….Hatta beberapa lama di tinggal suaminya, ada anak Raja Ajam berkuda lalu melihatnya rupa Bibi Zainab yang terlalu elok. Berkencanlah mereka untuk bertemu melalui seorang perempuan tua.”<br><br>·Klimaks : “….Maka pada suatu malam, pamitlah Bibi Zainab kepada burung tiung itu hendak menemui anak raja itu, maka bernasehatkah di tentang perbuatanya yang melanggar aturan Allah SWT. maka marahlah istri Khojan Maimun dan disentakkannya tiung itu dari sangkarnya dan dihempaskannya sampai mati….”<br><br>·Antiklimaks : “….Maka berkeinginanlah istri Khojan Maimun untuk mendengarkan cerita tersebut. Maka Bayan pun berceritalah kepada Bibi Zainab dengan maksud agar ia dapat memperlalaikan perempuan itu.”<br><br>·Penyelesaian : “….maka di berilah ia cerita- cerita hingga sampai 24 kisah dan 24 malam burung tersebut bercerita, hingga akhirnyalah Bibi Zainab pun insaf terhadap perbuatanya dan menunggu suaminya Khojan Maimum pulang dari rantauannya.”<br><br>¯Tokoh dan Penokohan :<br><br>a.Khojan Mubarok : sholeh dan kaya. (analitik)<br><br>Bukti 1. : “Khojan Mubarok namanya, terlalu amat kaya, akan tetapi ia tiada beranak. Tak seberapa lama setelah ia berdoa kepada Tuhan,…”<br><br>Bukti 2 : “….maka di serahkan oleh bapaknya mengaji kepada banyak guru…”<br><br>b.Khojan Maimun : berbakti kepada istrinya. (analitik)<br><br>Bukti : “….Pada suatu hari Khojan Maimun tertarik akan perniagaan di laut, lalu minta izinlah dia kepada istrinya.”<br><br>c.Bibi Zainab : sangat cantik, kaya, dan gegabah.(analitik dan dramatik).<br><br>Bukti 1 : “….ia di pinangkan dengan anak saudagar yang kaya, amat elok parasnya, namanya Bibi Zainab.”<br><br>Bukti 2 : “….Maka pada suatu malam, pamitlah Bibi Zainab kepada burung tiung itu hendak menemui anak raja itu, maka bernasehatkah di tentang perbuatanya yang melanggar aturan Allah SWT. maka marahlah istri Khojan Maimun dan disentakkannya tiung itu dari sangkarnya dan dihempaskannya sampai mati.” (dramatik).<br><br>d.Burung Tiung : pemberi nasihat yang bijaksana. (analitik)<br><br>Bukti : “….Maka pada suatu malam, pamitlah Bibi Zainab kepada burung tiung itu hendak menemui anak raja itu, maka bernasehatkah di tentang perbuatanya yang melanggar aturan Allah SWT.”<br><br>e.Burung Bayan : bijaksana, pemberi pitutur yang baik. (analitik)<br><br>Bukti 1 : “….berkeinginanlah istri Khojan Maimun untuk mendengarkan cerita tersebut. Maka Bayan pun berceritalah kepada Bibi Zainab dengan maksud agar ia dapat memperlalaikan perempuan itu….”<br><br>Bukti 2 : “….Hatta setiap malam, Bibi Zainab yang selalu ingin mendapatkan anak raja itu, dan setiap berpamitan dengan bayan, maka di berilah ia cerita- cerita hingga sampai 24 kisah dan 24 malam burung tersebut bercerita,…”<br><br>¯Latar atau Setting :<br><br>Latar Tempat :<br><br>«Di Negara Ajam : “Sebermula ada saudagar di negara Ajam.”<br><br>«Di rumah : “….lalu di bawanya ke rumah….”<br><br>Latar Waktu : -<br><br>Latar suasana : Menegangkan<br><br>Bukti 1 : “….maka marahlah istri Khojan Maimun dan disentakkannya tiung itu dari sangkarnya dan dihempaskannya sampai mati.”<br><br>Bukti 2 : “Lalu, Bibi Zainab pun pergi mendapatkan bayan yang sedang berpura-pura tidur, maka bayan pun berpura- pura terkejut dan mendengar kehendak hati Bibi Zainab pergi mendapatkan anak raja. Maka bayan pun berpikir bila ia menjawab seperti tiung maka ia juga akan binasa.”<br><br>¯Sudut Pandang : Orang Ketiga.<br><br>Bukti : “Sebermula ada saudagar di negara Ajam. Khojan Mubarok namanya, terlalu amat kaya, akan tetapi ia tiada beranak.” dan meliputi isi hikayat itu menggunakan sudut pandang orang ketiga.<br><br>¯Amanat : seorang istri haruslah menaati dan berbakti pada suaminya dan jangan gegabah pada saat diberi nasihat ataupun kritikan.<br><br>¯Gaya Bahasa :mudah dipahami, pengarang cenderung menggunakan bahasa Melayu.<br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 00:28:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306874927</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mif Tahul Khair M</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306875082</link>
         <description><![CDATA[<div>X MIPA 6<br>"HIKAYAT PATANI"<br><br>Paragraf 1 : Paya Tu Kerub Mahajana pun beranak seorang laki-laki, maka dinamai anakanda baginda <br>Paragraf 2 : Paya Tu Naqpa pun duduk diatas takhta kerajaannya dihadap oleh segala menteri pegawaihulubalang dan ra'yat <br>Paragraf 3 : "Daulat Tuanku, sungguhlah seperti titah Duli Yang Mahamulia itu, <br>Paragraf 4 : Jikalau demikian kerahkanlah segala rakyat kita. Esok hari kita hendak pergi berburu ke tepi laut itu."<br>Paragraf 5 : sampai pada tempat berburu itu, maka sekalian rakyat pun berhentilah dan kemah <br>Paragraf 6 : baginda pun turunlah dari atas gajahnya semayam didalamkemah dihadap oleh segala menteri hulubalang rakyat <br>Paragraf 6 :Makasegala rakyat pun masuklah ke dalam hutan itu mengalan-alan segala perburuan itu daripagi-pagi hingga datang mengelincir matahari,<br>Paragraf 7 : Makabaginda pun amat hairanlah serta menitahkan menyuruh melepaskan anjing perburuanbaginda sendiri itu<br>Paragraf 8 :Ada seekor pelanduk putih, besarnya seperti kambing, warna tubuhnya gilang gemilang.<br>Paragraf 9 : Maka baginda pun bertemu dengan sebuah rumah orang tua laki-bini duduk merawa dan menjerat.<br>Paragraf 10 Makasembah:orang tua itu: "Daulat Tuanku, adapun patik ini hamba juga pada kebawahDuli Yang Mahamulia, karena asal patik ini duduk di Kota Maligai. <br>Paragraf 11 : Jikalau sembuh penyakit hamba ini, barang kata tuanhamba ituhamba turutlah<br><br>UNSUR INRINSIK HIKAYAT PETANI<br><strong>Tema</strong><br>Tema Hikayat Patani adalah Penyebaran agama Islma di sebuah Kerajaan. Hal ini terlihat jelas dari cerita ini, karena cerita ini mengisahkan tentang sebuah kerajaan. Dimulai ketika baginda raja di negeri tersebut terkena penyakit parah yagn tidak bisa disembuhkan para dukun dan tabib di sana. Hingga akhirnya seorang Syekh bernama Sa’id mampu menyembuhkan dia dengan syarat sang raja harus masuk Islam.<br><strong>Tokoh dan penokohan</strong></div><ul><li>Phaya Tu Antara/Phaya Tu Naqpa:  Gemar berburu, suka ingkar janji, patuh hanya pada       saat terdesak, raja yang baik.</li><li>Syaikh Sa’id: Baik hati, suka menolong, sabar, tegas dan religius, dan tidak menginginkan harta/tahta. <em>Sebagai seorang syekh, Syekh Sa’id sangat religius menyebarkan agama yang dianutnya yaitu agama islam, ia juga tidak sungkan untuk membantu orang, bahkan walaupun dikhianati sampai 2 kali oleh sang raja yang dengan tulus ia bantu, ia tetap sabar dan tetap mau membantu raja untuk ketiga kalinya, tapi ia tetap bertindak tegas untuk tidak akan memberikan bantuan untuk keempat kalinya.</em></li><li>Encik Tani dan istrinya: Watak tidak dijelaskan secara rinci</li><li>Kerub Picai Paina: Watak tidak dijelaskan secara rinci</li><li>Mahajai: Watak tidak dijelaskan secara rinci</li><li>Mahacai Pailang: Watak tidak dijelaskan secara rinci</li><li>Alur:</li><li>Alur hikayat patani adalah alur maju, karena cerita ini terus menceritakan tentang kejadian kedepannya dan bukan menceritakan tentang masa lalu.<br><br><strong>Latar (Setting) :</strong><ul><li>Latar tempat: Di Kerajaan, daerah tepi laut, dan di Negeri Patani Darussalam.</li><li>Latar Waktu: Pada Masa Pemerintahan Paya Tu Naqpa</li><li>Latar Suasana: -</li></ul></li><li><strong>Sudut pandang:</strong><br>Penulis sebagai orang ke tiga (pengamat).<br>Cerita ini seperti dikisahkan oleh seseorang dan menggunakan diaan seperti “Inilah suatu kisah yang diceterakan oleh orang tua-tua, asal raja yang berbuat negeri Patani Darussalam itu”<br><br><strong>Gaya bahasa:</strong><br>Melayu dan sulit dimengerti serta klise atau diulang-ulang.</li><li><strong>Amanat:</strong><ul><li>Bertindak tegaslah dalam sesuatu pendirian</li><li>Patuhi dan taatlah kepada pemerintahan pemimpin/raja (yang adil)</li><li>Berusahalah dengan gigih dalam suatu usaha dan tetap berikhtiar</li><li>Dalam menjalankan tugas atau janji kita harus amanah</li><li>Janganlah bersikap curang dan melanggar perintah/larangan pihak berkuasa</li><li>Jika ingin membantu orang lain, tidak usah mengharapkan imbalan</li><li>Kita tidak boleh mengiming-imingi seseorang dengan harta dan tahta</li><li>Tuntutlah ilmu demi memiliki wawasan yang luas</li><li>UNSUR EKSTRINSIK HIKAYAT PATANI</li><li><strong>Nilai Moral</strong><ul><li>Seorang Syaikh Sa’id yang mengajak raja dan para keluarganya masuk Islam, dan bukan menyembah berhala. Serta dia tidak mengharap imbalan ketika menyembuhkan raja.</li><li>Perbuatan seorang Raja yang ingkar janji untuk masuk Islam, demi penyakitnya agar cepat sembuh.</li><li>Seorang yang berprilaku sombong dan angkuh karena menggap dirinya yang paling berkuasa.</li><li>Perbuatan seorang raja yang menganggap semua perbuatan dengan imbalan yang berupa harta.</li></ul></li><li><br><strong>Nilai Sosial</strong><ul><li>Seorang raja yang kurang membaur kepada rakyatnya, sehingga ketika ia sakit tak satupun orang yang ada di daerah negeri itu mengacuhkannya.</li><li>Perilaku yang tidak bertanggung jawab membawa agama Islam kepada rakyat dan para mentrinya.</li><li><strong>Nilai Agama</strong><ul><li>Seorang Raja yang lebih menyembah berhala dibanding menyembah Tuhan.</li><li>Perbuatan Raja ketika ia menepati janjinya kepada Syaikh Sa’id untuk membawa agama Islam, maka dia pun masuk islam, tetapi perbuatan untuk menyembah berhala dan memakan babi pun masih dilakukannya.</li><li>Perilaku raja yang meremehkan janjinya untuk membawa agama Islam kekehidupannya.</li></ul></li></ul></li></ul></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 00:29:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306875082</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dwi afiqah achmad</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306875144</link>
         <description><![CDATA[<div>Judul: Abu Nawas - ibu sejati<br>Ide pokok : <br>1. Paragraf 1 : kasus seorang bayi yang diakui oleh dua orang ibu yang sama sama ingin memiliki anak.<br>2. Paragraf 2 :  karena kasusnya berlarut larut belum selesai akhirnya hakim meminta baginda raja turun tangan. Baginda berpendapat mungkin dengan cara halus mau ada yang mengalah. Tapi masih tetap tidak ada yang mau mengalah.<br>3. Paragraf 3 : mengingat tak ada cara lain, baginda raja memanggil Abu Nawas. Abu Nawas hadir menggantikan hakim.<br>4. Paragraf 4 : Keesokan hari sidang pengadilan diteruskan lagi. Abu Nawas memanggrl algojo dengan pedang di tangan. Abu Nawas memerintahkan agar bayi itu diletakkan di atas meja.<br>5. Paragraf 5 : Abu Nawas mengambil tindakan apakah salah satu orang tua itu mau sungguh sungguh mengaku.<br>6. Paragraf 6 : kalau kalian memang sungguh-sungguh sama menginginkan bayi itu dan tidak ada yang mau mengalah maka saya terpaksa membelah bayi itu menjadi dua sama rata.<br>7. Paragraf 7 : Perempuan pertama girang bukan keparang.<br>8. Paragraf 8 : Abu Nawas minta agar perempuan pertama dihukum sesuai dengan perbuatannya. Karena tak ada ibu yang tega menyaksikan anaknya disembelih. Apalagi di depan mata.</div><div><br>2. Unsur intrinsik<br> </div><div>UNSUR INTRINSIK </div><div>ABU NAWAS DAN IBU SEJATI</div><div>Tema: Kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya</div><div>Tokoh: Abu Nawas</div><div>•Pintar </div><div>•Cerdik </div><div>Baginda Raja</div><div>•Baik Hati</div><div>Perempuan kesatu</div><div>•Jahat</div><div>•Penipu</div><div>Perempuan kedua</div><div>•Penyayang</div><div>Alur: Alur Maju</div><div>Setting: Tempat</div><div>•Pengadilan</div><div>Waktu</div><div>•Zaman Pemerintahan Raja Harun Al Rasyid</div><div>Suasana</div><div>•Tegang</div><div>Sudut Pandang: Orang Ketiga</div><div>GayaBahasa:Metonimia “Mengingat tak ada cara-cara lain lagi yang bisa diterapkan</div><div>maka Baginda memanggil Abu Nawas”</div><div>Amanat: Seorang ibu akan tahu siapa anaknya karena hubungan batin dengan si</div><div>anak walaupun anaknya diakui orang lain.</div><div>Seorang ibu tidak yang tega melihat anaknya disembelih di depan matanya.<br><br>3. Unsur ekstrinsik <br>Unsur Ekstrinsik : <br>1. Nilai Moral<br>Kita harus bersikap bijaksana dalam menghadapi segala hal di dalam hidup kita.<br>Jangan kita terlalu memaksakan kehendak kita kalau sebenarnya tidak mampu.<br>2. Nilai Budaya<br>Sebagai seorang raja kita harus memberikan contoh yang baik kepada rakyat.<br>3. Nilai Sosial<br>Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.<br>Hendaknya kita mau berbagi untuk meringankan beban orang lain.<br>4. Nilai Religius<br>Jangan mempercayai ramalan yang belum tentu kebenarannya.<br>Percayalah pada Tuhan bahwa Dialah yang menentukan nasib manusia.<br>5. Nilai Pendidikan<br>Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 00:30:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306875144</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nabilah al wahab</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306875281</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>HIKAYAT "</strong><strong><em>MALIM DEMAN</em></strong><strong>"</strong> <br><br><strong><em><mark>Ide pokok</mark></em></strong><br>Paragraf 1 : </div><div>Malim deman merupakan putra raja dari bandan muar yang sangat bijaksana, lagi sangat elok rupanya.<br><br>Paragraf 2 :</div><div>Sejak kematian ayahhanda, Malim Deman harus memerintah negerinya. Setiap hari ia asyik menyambung ayam saja. Dalam keadaan yang demikian, Puteri Bungsu pun melahirkan seorang anak yang diberi nama Malim Dewana. <br><br>Paragraf 3 : <br>Setelah Puteri Bungsu meninggal,  barulah Malim Deman menyesal. Tujuh hari tujuh malam  ia tidak keluar kamar, tidak makan, dan hanya menangis saja. <br><br>Paragraf 4 :</div><div>Malim Deman mengalahkan Mambang Molek dalam menyambung ayam. Maka timbullah pertikaman antara keduanya. Mambang Molek terbunuh. <br><br>Paragraf 5 : <br>Malim Deman pun menjadi seorang raja yang sangat bijaksana lagi gagah berani, dan istrinya juga sangat sayang kepada Puteranya</div><div><br></div><div><strong><em><mark>Unsur Intrinsik<br></mark></em></strong><strong><em>1. Tema : </em></strong>Kehidupan seorang raja.</div><div><strong>2.</strong> <strong><em>Penokohan</em></strong></div><div>    ● Malim Deman : Bijaksana (Protagonis)</div><div>   Bukti : “Malim Deman adalah putera raja dari Bandar Muar yang  sangat bijaksana, lagi sangat elok rupanya”</div><div>    ● Nenek Kebayan : Penolong (Protagonis)</div><div>    Bukti : Dengan bantuan nenek kebayan juga, ia berasil mencuri selendang putri bungsu.</div><div>    ● Putri Bungsu : Mudah tersinggung atau mudah marah (Antagonis)</div><div>    Bukti : “Puteri Bungsu sangat masyghul hatinya”</div><div>    ● Raja Jin : Licik (antagonis)</div><div>    Bukti : “Raja jin bersedia meminjamkan burung borak kepada   Malin Deman dengan syarat . . .”</div><div>    ● Malim Dewana : Penuru (Protagonis)</div><div>    Bukti : “Maka ia pun terbang kembali kekayangan dengan anaknya Malim Dewana”.</div><div> <strong>3.</strong> <strong>Latar/Setting</strong></div><div>a.) Latar Tempat :  <em> </em><br><em>     → Bandar Muar</em></div><div>     “selang berapa lama, mereka pun kembali ke Bandar Muar”</div><div>      →  <em>Rumah  Nenek Kebayan</em></div><div>     “akhirnya, sampailah ia kerumah nenek Kebayan”</div><div>             </div><div> b.) Latar Suasana :</div><div>    → Suasana Menegangkan :</div><div>     “Malim Deman mengalahkan mambang molek denganmenyambung ayam, maka timbullah  pertikaman antara keduanya”</div><div>     → Suasana Senang :</div><div>     “Sekali lagi Malim Deman sekeluarga pun turun kembali ke dunia semula”</div><div><strong>4.</strong>  <strong>Alur : </strong>Maju karena cerita awalnya menjelaskan tentang masa kejayaan seorang raja dan akhir cerita menjelaskan kejayaan anaknya jadi disebut alur maju</div><div><br></div><div><strong>  </strong><strong><em><mark>Unsur Ekstrinsik</mark></em></strong></div><div>1. Nilai Pendidikan</div><div>Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.</div><div>2. Nilai Moral</div><div>Jangan kita terlalu memaksakan kehendak kita pada orang lain. Kita harus bersikap bijaksana dalam  menghadapi segala hal di dalam hidup kita.</div><div>3. Nilai Budaya<br>Kita harus saling menghormati terhadap sesama.</div><div><strong><em><mark><br></mark></em></strong><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 00:31:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306875281</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Salzabila Ramadhani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306875318</link>
         <description><![CDATA[<div>1)Tema :Keagamaan<br>2)Tokoh :malin kundang,ibu malin kundang,ayah malin kundang dan istri malin kundang</div><div>Protagonis:ibu malin kundang dan malin kundang</div><div>Anatagonis :malin kundang,istri malin kundang,ayah malin kundang</div><div>Tritagonis :</div><div>Analitik :malin kundang</div><div>Dramatik :istri malin kundang, ibu malin kundang ,ayah malin kundang</div><div>3)Latar :</div><div>Tempat :Sumatera barat dan laut</div><div>Waktu :pagi hari</div><div>4)Alur:maju (pengenalan-awal perselihan-menuju konflik-konflik memuncak-penyelesaian.</div><div>5)Sudut pandang :orang ketiga diluar cerita</div><div>6)Amanat :kita tidak boleh durhaka</div><div>7)Penggolongan dongeng :legenda</div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div>Malin Kundang</div><div>Pada suatu waktu, di desa terpencil ada sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatera Barat. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang Ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas. Ayah Malin tidak pernah kembali ke kampung halamannya sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah.</div><div>Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.</div><div>Karena merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Merantau">merantau</a> agar dapat menjadi kaya raya setelah kembali ke kampung halaman kelak.</div><div>Awalnya Ibu Malin Kundang kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi merantau tetapi Malin tetap bersikeras sehingga akhirnya dia rela melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.</div><div>Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang beruntung, dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingga tidak dibunuh oleh para bajak laut.</div><div>Malin Kundang terkatung-katung di tengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan tenaga yang tersisa, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.</div><div>Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.</div><div>Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya, Malin Kundang beserta istrinya.</div><div>Ibu Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat, ibunya melihat bekas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya, Malin Kundang menjadi marah meskipun ia mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya.</div><div>Mendapat perlakukan seperti itu dari anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Tidak berapa lama kemudian Malin Kundang kembali pergi berlayar dan di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapal Malin Kundang. Ditengah kekacauan itu, diwaktu yang sama dan tempat yang lain ibu Malin Kundang sedang berdoa. Karena kemarahannya yang memuncak, ia pun berteriak <strong>"Tuhan! Jika benar ia Malin anakku, KUKUTUK DIA JADI BATU!"</strong></div><div>Tepat setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Sampai saat ini Batu Malin Kundang masih dapat dilihat di sebuah pantai bernama pantai Air Manis, di selatan kota Padang, Sumatera Barat.</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 00:31:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306875318</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Inaya Razaliputri</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306877492</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>X Mipa 6<br><br></strong><br></div><div><strong>Jaka Tarub dan 7 Bidadari</strong></div><div> <br>-Ide Pokok : <br>-Paragraf 1 : Hiduplah seorang pemuda yang gagah dan tangkas bernama Jaka Tarub<br>-Paragraf 2 : Jaka Tarub hendak pergi berburu hingga kedalam hutan yang lebih lebat<br>- Paragraf 3 : Jaka beristirahat dikarenakan tidak menemukan hewan yang dicarinya,lalu ia mendengar suara wanita yang sedang bercengkerama<br>-Paragraf 4 : Jaka mengintip karena penasaran dengan suara wanita yang didengarnya<br>-Paragraf 5 : Dikarenakan keindahan bidadari itu,Jaka berniat untuk mengambil selendang salah seorang bidadari tersebut<br>-Paragraf 6 : Salah seorang bidadari tidak bisa terbang kembali ke kayangan karena selendangnya diambil oleh Jaka<br>-Paragaraf 7 : Karena bidadari itu terlihat sedih,Jaka pun membicarainya dan mengajak ia pulang bersamanya<br>-Paragraf 8 : Setelah menikah,mereka pun sangat berbahagia karena diberi anugerah yang sangt indah,yaitu buah hati yang bernama Nawangsih<br>-Paragraf 9 : Nawang Wulan mendapat selendangnya dan menyadari bahwa suaminyalahnyang telah menyembunyikan selendangnya<br>-Paragraf 10 : Nawang Wulan marah karena hal itu dan ia pun kembali pulang ke kayangan<br>-Paragraf 11 : Jaka Tarub mengurus anaknya seorang diri yang tengah jatuh sakit<br>-Paragraf 12 : Jaka Tarub sedih melihat kondisi anaknya yang semakin parah. Ia pun memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat tinggi berharap bahwa Nawang Wulan melihat kondisi anak dan dirinya dan ingin kembali bersamanya<br>-Paragraf 13 : Nawang Wulan pun rela untuk turun ke bumi dan menjadi manusia seutuhnya asalkan ia dapat bertemu dengan anaknya. Mereka pun kembali menjadi keluarga yang utuh dan bahagia selamanya</div><div>Pada jaman dahulu di sebuah desa yang ada di pulau jawa, hiduplah seorang pemuda yang gagah dan tangkas. Dia adalah Jaka Tarub dan orang – orang memanggilnya dengan sebutan Jaka. Dia sangat suka berburu mencari hewan di hutan. Karena hobinya itu, Jaka selalu masuk ke dalam hutan yang lebat untuk menemukan hewan buruannya.</div><div><br></div><div>Pada suatu hari, Jaka hendak pergi berburu. Lalu pergilah dia menuju hutan yang lebat. Dia telusuri semua isi hutan itu untuk mencari hewan yang bisa menjadi buruannya. Berjam – jam sudah ia telah mencari, tetapi tak seekor binatang pun dia temukan. Akhirnya Jaka Tarub memutuskan untuk masuk lebih dalam lagi ke dalam hutan.</div><div><br></div><div>Sesampainya di tengah – tengah hutan yang lebat, Jaka Tarub pun tetap tidak menemukan hewan yang dicarinya. Akhirnya dia pun lelah dan memutuskan untuk beristirahat sejenak di dekat batu besar. Ketika dia tengah menyadarkan tubuhnya, dia mendengar suara - suara wanita yang tengah asyik bercengkerama di balik batu itu.</div><div><br></div><div>“Siapakah mereka itu ? apakah mungkin para gadis desa ? tetapi sepertinya itu mustahil karena tempat ini sangat jauh dari desa,” pikir Jaka Tarub kebingungan.</div><div>Karena merasa penasaran, Jaka Tarub lalu mengintip dari balik batu besar itu, dan alangkah terkejutnya Jaka Tarub, karena yang dia lihat adalah wanita – wanita cantik yang tengah bermain air di telaga itu. “Pasti mereka adalah bidadari – bidadari dari khayangan,” pikir Jaka Tarub.</div><div><br></div><div>Dia pun tertegun akan keindahan bidadari – bidadari itu, hingga matanya tertuju pada tumpukan selendang yang ada di atas batu tak jauh dari tempatnya berada. Kemudian timbullah niat untuk memiliki selendang itu dari dalam dirinya. Dia lalu merangkak dan mengendap – endap menuju tempat itu. Sesampainya di sana, dia mengambil salah satu selendang dan bersembunyi.</div><div><br></div><div>Setelah selesai membersihkan diri mereka, bidadari – bidadari itu satu persatu mengambil selendang miliknya dan bersiap untuk terbang. Namun, salah seorang diantara mereka tidak menemukan selendangnya dan dia pun tidak bisa terbang ke kayangan kembali. Karena waktu mereka telah hampir habis, dia ditinggal oleh teman – temannya sendiri di telaga itu. Bidadari itu merasa sedih dan menangis. Jaka Tarub yang sedang bersembuyi, lalu keluar dari tempat persembunyianya dan menghampiri wanita itu.</div><div><br></div><div>Kenapa kau bersedih ?” Tanya Jaka Tarub</div><div>“Aku tidak bisa menemukan selendang milik ku. Akibatnya aku tidak bisa embali pulang ke rumah,” jawab bidadari itu sambil terisak.</div><div>“Aku adalah Jaka Tarub, siapa nama dirimu,” tanya Jaka Tarub.</div><div>“Aku Nawang Wulan,” jawab bidadari itu. </div><div>“Sudahlah mari ikut bersamaku karena hari sebentar lagi menjadi gelap,” bujuk Jaka Tarub.</div><div>Akhirnya bidadari itu pulang bersama Jaka Tarub. Semua orang yang ada di desa itu takjub dengan kecantikan wanita itu, tetapi tidak ada satu pun diantara mereka yang mengetahui asal – usul dirinya. Hari berganti hari, Jaka Tarub dan Nawang Wulan pun saling jatuh cinta, mereka pun akhirnya menikah. </div><div><br></div><div>Mereka berdua telah menjadi suami istri yang sangat bahagia. Setelah beberapa lama menikah, mereka kembali dilimpahkan kebahagiaan yang sangat besar karena mereka telah dikaruniai oleh seorang putri yang sangat cantik yang diberi nama Nawangsih. Kini mereka telah menjadi sebuah keluarga yang utuh dan bahagia. Jaka Tarub pun semakin giat dalam bekerja untuk menghidupi keluarganya itu.</div><div><br></div><div>Namun, pada suatu hari Nawang Wulan menuju gudang untuk mengambil persediaan beras. Ketika dia mengangkat tumpukan jerami yang ada di sana, Nawang Wulan sangat terkejut karena dia menemukan selendang miliknya yang telah hilang waktu itu. Kemudian dia menyadari bahwa selama ini suaminyalah yang telah mencuri dan menyembunyikan selendang itu.</div><div><br></div><div>Nawang Wulan pun marah dan pergi  menemui suaminya untuk menanyai kebenaran itu. Setelah dipaksa Jaka Tarub akhirnya mengakui perbuatannya. Nawang Wulan yang terlanjur marah pun memakai selendang itu dan hendak kembali ke kayangan. Jaka Tarub mencoba untuk mencegahnya, tetapi tidak berhasil, dan akhirnya Nawang Wulan kembali ke kayangan.</div><div><br></div><div>Setelah kepergian istrinya, Jaka Tarub mengurusi seluruh keperluan anaknya, Nawangsih. Anaknya yang masih kecil itu terus menerus menanyai keberadaan ibunya, tetapi Jaka Tarub tidak bisa menjawabnya. Nawangsih terus menerus menangis hingga ia akhirnya jatuh sakit. </div><div><br></div><div>Jaka Tarub merasa sedih dengan kondisi anaknya itu. Dia pun berusaha untuk mengobati anaknya dengan membawa ke tabib – tabib yang ada di desa itu, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil menyembuhkannya. Bahkan sakit Nawangsih bertambah parah. Jaka Tarub semakin sedih melihat kondisi putrinya . Dia tidak tahu harus kemana lagi membawanya. </div><div>Kemudian di tengah keputus asaan, dia membawa Nawangsih ke tempat yang tinggi. Di sana dia memanggil – manggil nama istrinya.“Nawang Wulan, kembalilah kepada kami. Lihat anak kita saat ini sedang sakit parah,” teriak Jaka Tarub.</div><div><br></div><div>Nawang Wulan yang melihat mereka dari atas kayangan bersedih melihat keadaan putrinya itu, lalu dia memutuskan untuk kembali turun ke bumi. Namun, ketika dia hendak turun, salah seorang bidadari mencegahnya.</div><div>“Jika kau kembali ke bumi, maka kau akan berubah seutuhnya menjadi manusia biasa,” kata bidadari itu. “Kalau itu demi kesembuhan putriku aku ikhlas menerimanya,” jawab Nawang Wulan.</div><div>Kemudian dia kembali turun ke bumi dan menemui keluarganya. Sejak saat itu, Nawangsih berangsur – angsur sembuh. Mereka pun akhirnya kembali menjadi sebuah keluarga yang utuh dan bahagia selamanya.  <br><br></div><div>1. Unsur Instrinsik</div><div>• Tema   : Kecerobohan membawa malapetaka</div><div>• Alur   : Maju</div><div>• Latar   : </div><div> Tempat  : desa, rumah Jaka Tarub, telaga, dangau, hutan,  lumbung padi, dapur</div><div> Waktu  : pagi hari, sore menjelang petang, malam, siang</div><div> Suasana  : bahagia, sedih</div><div>• Sudut pandang  : Orang ketiga</div><div>• Ragam bahasa  : Baku</div><div>• Tokoh   : </div><div> Jaka Tarub</div><div> Dewi Nawang Wulan</div><div> Nawang Asih</div><div>  Nyi Randa Taru</div><div> Bidadari</div><div>• Penokohan  :  </div><div> Jaka Tarub  : Berwatak pembohong, tidak menjaga amanah, </div><div>        setia, penolong.              (Secara Dramatik/tidak langsung) dengan                         Fikiran tokoh.</div><div> Nawang Wulan : Berwatak penyayang, perhatian, pekerja keras,  pemaaf.  (Secara Dramatik/tidak langsung) dengan Dialog antartokoh.</div><div> Nyi Randa Taru : penyayang,tulus, baik</div><div> Nawang Asih : setia</div><div> Bidadari  : egois </div><div>• Amanat   : Segala sesuatu yang disembunyikan, pasti akan terbongkar, juga. Oleh karena itu, kita harus jujur dan tidak melanggar   amanah. Selain itu, sebagai manusia, kita harus saling memaafkan.</div><div><br></div><div>2. Unsur Ekstrinsik   </div><div><br></div><div>1. Nilai Moral  : - Jaka Tarub mengambil selendang Nawang Wulan</div><div>  - Jaka Tarub melanggar amanah dari Nawang Wulan</div><div>2. Nilai Sosial : - Nyi Randa mengasuh Jaka Tarub yang bukan anak           kandungnya</div><div>  - Jaka Tarub menolong Nawang Wulan</div><div>3. Nilai Budaya : - Nawang Wulan menumbuk padi </div><div>  - Pemberian nama pada Nyi Randa Taru seperti kebiasaan </div><div>    masyarakat Jawa.</div><div>4. Nilai Ekonomi : - Persediaan beras di lumbung padi mereka menipis</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 00:47:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/306877492</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ardiansyah Achmad</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/308172505</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 09:35:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/308172505</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aldiansyah Achmad            </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/308176654</link>
         <description><![CDATA[<div>HIKAYAT "<strong>PANJI SEMIRANG"<br><br>IDE POKOK<br>Paragraf 1:<br></strong>Satu kerajaan yang mana berita tentang Galuh Cendera Kirana yang mana putri dari Baginda Raja Nata yang amat ta`lim dan hormat kepada orangtuanya akan bertunangan dengan Raden Inu Kini telah terdengar beritanya oleh Galuh Ajeng<br><br>Paragraf 2 :<br>Tidak hentinya rasa benci, dengki, serta dendam di dalam hati Paduka Liku sehingga ia berencena untuk membunuh Galuh Cendera Kirana serta Paduka Nata. Agar jikalau Galuh Cendera Kirana mati maka pastilah putrinya Galuh Ajeng yang kelak menggantikan posisi Galuh Cendera Kirana untuk ditunangkan dengan Raden Inu<br><br>Paragraf 3 :<br>Raja Liku juga meminta tolong kepada saudaranya yang juga menteri untuk mencari orang yang ahli dalam guna-guna untuk menggunai raja nata<br><br><br>Unsur intristik<br>PANJI SEMIRANG<br>Tema:Panji Semirang<br>Tokoh:-Galuh Cindera Kirana=sangat menghormati orang tua<br>        -Raja Nata=<br>        -Raden Inu Kini<br>        -Galuh Ajeng<br>        -Raja Liku=Pembenci,Pendengki,Pendendam,Keji<br><br>Alur= Alur maju<br>Setting=Kerajaan majapahit<br>Waktu=1447-1451<br>amanat="membunuh bukanlah cara menyelesaikan suatu masalah"<br><br>Unsur Enstristik<br>1.nilai moral <br>membunuh merupakan perbuata yang keji<br>2.nilai budaya<br>seorang raja seharusnya bersikap bijaksana<br>3.nilai sosial <br>sesama manusia kita adalah saudara , tetapi kalau sesudah keterlaluan ikuti kata hati bukan kata otak<br>4.nilai religius<br>dengki,benci,dendam merupakan sifat yang tidak mulia bahkan agamapun tak pernah mengajari sifat itu<br>5.nilai pendidikan<br>saya sekolah berapa tahunpun pasti tidak pernah saya dapati cara membunuh seseorang,<br>hanya orang bodoh yang sekolah disana.<br>kecuali pelatihan militer mereka memang dikhususkan untuk belejar pertahanan dan menyerang<br>        </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-27 09:48:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/308176654</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>mochammadrefaldi</author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/1350889422</link>
         <description><![CDATA["HIKAYAT TIMUN MAS"]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-03-25 02:13:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/1350889422</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>mochammadrefaldi</author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/1350904452</link>
         <description><![CDATA[•&gt; Paragraf 11]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-03-25 02:19:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/5e412ch/wish/1350904452</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
