<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Tuliskan Refleksi Kritis anda setelah mempelajari eksplorasi konsep modul 1.1 by Yeni Farida</title>
      <link>https://padlet.com/yenifarida06_/2iuv7kgb2btldnme</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-03-18 06:31:09 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-03-19 09:05:57 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Refleksi Kritis - Yosep Suban Sogen</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yenifarida06_/2iuv7kgb2btldnme/wish/2924683646</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>Yang saya ketahui tentang pemikiran Kihadjar Dewantara mengenai Pendidikan dan Pengajaran adalah bahwa pendidikan memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat sedangkan pengajaran adalah bagian dari Pendidikan itu sendiri.</p><p>Terkait pemikiran Kihadjar Dewantara tentang pendidikan dan pengajaran tersebut maka saya merasa pendidikan saat ini dengan menggunakan kurikulum merdeka itu sangatlah cocok karena kurikulum merdeka saat ini memberikan kebebasan kepada murid untuk mengeksplorasi semua bakat dan kemampuan yang dimilikinya.</p><p>Di sekolah saya yaitu SD Inpres Riangkroko dengan menjalankan kurikulum merdeka membuat siswa saya di sekolah lebih proaktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas. Sejauh yang saya alami, siswa lebih senang karena mereka diberi ruang untuk berbicara dalam kelompok-kelompok kecil pada saat proses pembelajaran berlangsung dan juga siswa di sekolah saya tidak merasa terbebani atau merasa takut akan ada hukuman apabila melanggar aturan, karena pembelajaran di kelas tidak menggunakan atau memakai yang namanya aturan atau tata tertib lagi melainkan sekarang di sekolah saya menerapkan yang namanya kesepakatan kelas jadi siswa hadir dan mengikuti pembelajaran sangatlah nyaman ini saya merasa sangat sejalan dengan pemikiran Kihadjar Dewantara terkait pendidikan dan pengajaran</p><p>Yang saya rasa selama menjalankan aktifitas sebagai seorang guru sejauh ini sedikitnya saya sudah jalankan pemikiran Kihadjar Dewantara terkait Pendidikan dan Pengajaran tetapi memang harus diakui bahwa belum sepenuhnya karena masih terpengaruh model pembelajaran dengan mengadopsi pola lama. Maka dengan menjalankan proses pembelajaran menggunakan kurikulum merdeka dan mengikuti Program Guru Penggerak ini, saya merasa sangat terbuka ruang kebebasan untuk menjalankan proses pembelajaran sesuai dengan pemikiran Kihadjar Dewantara.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-03-19 07:51:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yenifarida06_/2iuv7kgb2btldnme/wish/2924683646</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Refleksi Kritis-Anastasia Nole Kelen</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yenifarida06_/2iuv7kgb2btldnme/wish/2924685126</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>&nbsp;</strong></p><p>Yang saya ketahui tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) mengenai pendidikan dan pengajaran adalah: Pengajaran merupakan bagian dari Pendidikan, dimana Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan<em>&nbsp;</em>memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Selain itu, Pendidikan juga merupakan tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab, menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan, dan juga menciptakan ruang bagi murid untuk bertumbuh secara utuh agar mampu memuliakan dirinya dan orang lain (merdeka batin) dan menjadi mandiri (merdeka lahir). Namun lebih dari pada itu, semboyan pendidikan KHD yang sungguh menjiwai para pendidik adalah&nbsp;<strong>ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Seorang guru, hendaknya menjadi suri teladan, berada di depan untuk memberikan contoh bagi anak didik-nya, seorang guru juga seharusnya selalu bersama, berada ditengah-tengah peserta didik untuk membangkitkan motivasi dan menggugah semangat mereka, seorang guru juga hendaknya berdiri tegap dibelakang siswa, siap memberikan bantuan, menopang, memberikan bimbingan dan dorongan moral serta semangat kerja bagi mereka.&nbsp;</strong></p><p>Dari pemikiran ini saya menyadari bahwa sebagai pendidik tidak boleh memaksa anak agar mengikuti kemauan kita, namun harus mampu menuntun, membimbing dan melatih mereka agar tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai kodrat alam dan kodrat zaman serta dapat mengekspresikan diri secara merdeka dan santun.&nbsp;</p><p>Konsep pemikiran yang demikian sangat relevan dengan konteks pendidikan saat ini yang menekankan pendidikan nilai atau pendidikan karakter peserta didik, dan juga keterampilan. Apalagi, dengan adanya kurikulum merdeka yang mengedepankan pembelajaran yang berpusat pada murid di mana seluruh rencana pembelajaran didasarkan pada hasil assesmen kebutuhan peserta didik. Konsep pendidikan yang demikian juga berlaku di sekolah saya yaitu di SMPN Satu Atap Riangpuho. Selain pendidikan karakter dan keterampilan, sekolah saya juga sudah menerapkan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan analisis kebutuhan belajar murid, pembelajaran yang berpusat pada murid dan menerapkan berbagai disiplin positif serta budaya positif di sekolah. Hal ini sangat relevan dengan pemikiran KHD bahwa Pendidikan merupakan tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab, menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan, serta menciptakan ruang bagi murid untuk bertumbuh secara utuh agar mampu memuliakan dirinya dan orang lain (merdeka batin) dan menjadi mandiri (merdeka lahir).</p><p>Sejauh ini, saya merasa telah melaksanakan pemikiran KHD dan memiliki kemerdekaan dalam menjalankan aktifitas sebagai seorang guru, terutama menjiwai sekaligus menerapkan semboyan "Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani" selama menjadi guru. Namun harus saya akui bahwa belum sepenuhnya menjadi guru yang memberikan kemerdekaan kepada peserta didik, hal ini muncul dalam refleksi saya bahwa selama ini saya kadang-kadang menjadi guru penghukum. Selain itu, hal lain yang menurut saya merenggut kebebasan saya sebagai guru yang bukan saja mengajar tetapi juga mendidik dan melatih, dimana saya memerlukan lebih banyak waktu bersama anak didik saya. Pada kenyataannya, terlalu banyak dibebankan dengan administrasi yang sering berubah sesuai kurikulum yang menyita waktu saya karena harus beradaptasi dengan perubahan-perubahan tersebut, sehingga waktu bersama peserta didik hanya pada saat jam pelajaran di kelas saja.&nbsp;saya berharap dapat melihat diri saya bukan saja sebagai pendidik yang hanya mengajar di dalam kelas, melainkan harus selalu memiliki waktu untuk menuntun dan membimbing anak didik saya untuk menemukan jati diri serta menjadi pribadi yang berkarakter dan berbudaya.</p><p>Saya juga ingin melihat anak didik saya tumbuh menjadi manusia yang berbudi pekerti, beradap, memiliki skill/kecakapan hidup serta dapat mengekspresikan seluruh kreatifitas, bakat dan kemampuan mereka secara merdeka dan santun. Untuk mewujudkan harapan saya tersebut maka, saya juga berharap dalam modul ini juga &nbsp;tersedia contoh-contoh praktik baik terkait cara&nbsp; menumbuhkan budaya positif disekolah,tersedianya waktu lebih untuk sering pengelaman antar teman teman CGP,&nbsp;PP dan fasilitator terkait praktik-praktik baik dalam mewujudkan budaya positif sekolah sehingga dapat memberikan gambaran dan mampu diterapkan disekolah dengan lebih baik lagi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-03-19 07:52:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yenifarida06_/2iuv7kgb2btldnme/wish/2924685126</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Refleksi Kritis - Emma Elfira Rama Hurint</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yenifarida06_/2iuv7kgb2btldnme/wish/2924688144</link>
         <description><![CDATA[<p>Refleksi saya setelah mempelajari modul 1.1 tentang filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah mengenai pendidikan dan pengajaran . yang mana kita sebagai pendidik harus memberikan tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang ada pada diri anak sehingga mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setingginya dengan menerapkan pembelajaran yang berpusat pada anak. Pendidik harus bisa menghamba pada anak..bukan anak yang harus mengikuti keinginan pendidik.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-03-19 07:54:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yenifarida06_/2iuv7kgb2btldnme/wish/2924688144</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Refleksi kritis- paulinus Perasi Herin</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yenifarida06_/2iuv7kgb2btldnme/wish/2924694908</link>
         <description><![CDATA[<p>Yang saya ketahui tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan dan pengajaran adalah pendidikan memberi tuntutan terhadap segala kekuatan kodrat yang di miliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahgiaan yang setinggi tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai seorang masyarakat. Pendidikan juga dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan, dan juga pendidikan menciptakan ruang bagi murid untuk bertumbuh secara utuh agar mampu memuliakan dirinya dan orang lain. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-03-19 08:00:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yenifarida06_/2iuv7kgb2btldnme/wish/2924694908</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Refleksi kritis setelah mempelajari eksplorasi konsep, Maria Carolina Penny Maleng </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yenifarida06_/2iuv7kgb2btldnme/wish/2924695892</link>
         <description><![CDATA[<p>Menurut saya, makna kata menuntun adalah mengarahkan, membimbing atau memimpin seseorang atau sesuatu ke arah tertentu dengan lembut atau bijaksana</p><p>Kata menuntun saya maknai dalam konteks sosial dan budaya di daerah saya yaitu dengan mengajarkan nilai-nilai dan budaya lokal daerah saya kepada anak, misalnya, tarian daerah, makanan lokal dsb.</p><p><br/></p><p>Pendidikan harus mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman.</p><p>Dengan mempertimbangkan kodrat alam memungkinkan kita sebagai guru untuk memahami bahwa anak memiliki potensi dan bakat alami yang perlu dikembangkan.</p><p>Dengan mempertimbangkan kodrat zaman maka guru perlu menyiapkan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman, termasuk di dalamnya perkembangan kurikulum dan teknologi.</p><p>Relevansi pemikiran KHD pendidikan yang berhamba pada anak: maka peran saya sebagai pendidik adalah pentingnya memahami keunikan serta kebutuhan individu setiap anak</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-03-19 08:01:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yenifarida06_/2iuv7kgb2btldnme/wish/2924695892</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yenifarida06_/2iuv7kgb2btldnme/wish/2924697267</link>
         <description><![CDATA[<p>Refleksi Kritis- Bartolomeus Tobi Sogen</p><p>Yang saya pahami dari Pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai pendididdikan adalah: pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”.</p><p>Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Tujuan Pendidikan memberikan tuntunan kepada anak untuk mencapai kekuatan kodratnya sesuai dengan keadaan alam dan zaman. Pendidikan ibarat petani dan bibit tanaman. Misalkan petani menanam bibit padi. Jika bibit padi ditanam pada tanah yang subur dengan memperhatikan pengairan yang cukup dan cahaya matahari yang baik maka bibit padi akan tumbuh dengan baik. Peran petani hanya menuntun tumbuh kembang padi tetapi tidak dapat mengubah kodrat padi. Artinya padi tetap padi, padi tidak dapat menjadi jagung.</p><p> Sebagai seorang pendidik, pemikiran Ki Hadjar Dewantara menjadi pedoman bagi saya&nbsp; dalam bertindak baik sebagai pembelajar maupun sebagai pemelajar</p><p>Sebagai pembelajar guru harus memberikan contoh. Guru yang merupakan pemimpin pembelajaran harus mampu memberikan contoh yang baik bagi anak-anak.</p><p>Ketika guru berada di tengah anak didik, guru harus mampu memberikan semangat agar anak dapat menemukan potensi yang dimiliki. Dengan demikian terbentuklah manusia yang berkarakter, kreatif dan dapat berkontribusi pada perkembangan bangsa.</p><p>Ketika guru berada di belakang anak-anak, guru harus mampu memberikan semangat yang mendorong anak untuk mencapai cita-citanya.</p><p>Sebagai pemelajar, guru harus terus berjuang untuk mengembangkan kompetensi diri. Guru harus selalu rendah hati dalam artian bahwa guru harus mampu belajar dari siapa saja. Guru juga harus merasa bahwa belajar merupakan sebuah kebutuhan.</p><p>&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-03-19 08:02:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yenifarida06_/2iuv7kgb2btldnme/wish/2924697267</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>adrianusspd31</author>
         <link>https://padlet.com/yenifarida06_/2iuv7kgb2btldnme/wish/2924701095</link>
         <description><![CDATA[<p>Refleksi kritis saya :</p><p>yang saya ketahui tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah ada 3 semboyan yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani. artinya bahwa sebagai seorang pendidik harus menjadi teladan yang baik bagi anak didiknya,menjadi panutan, selanjutnya dalam konteks Ing Madya Mangun Karso ; seorang pendidik harus menjadi penyemangat bagi murid - muridnya jika mereka mengalami rasa kurang nyaman misalnya dan juga Tut Wuri Handayani : sebagai pendidik harus memberi dorongan agar anak - anak mampu menjangkau hal - hal yang mereka inginkan dalam menumbuhkan semangat belajar mereka masing - masing. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-03-19 08:05:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yenifarida06_/2iuv7kgb2btldnme/wish/2924701095</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Refleksi Kritis - Raimundus Rayatodoboli Kein</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yenifarida06_/2iuv7kgb2btldnme/wish/2924723971</link>
         <description><![CDATA[<p>pendidikan didasarkan pada asas&nbsp; kemerdekaan dan kodarat alam. Merdeka dalam arti sebagai kesanggupan dan kemampuan untuk berdiri sendiri guna mewujudkan hidup bagi diri sendiri, hidup tertib, dan damai dengan kekuasaan atas diri sendiri.</p><p>kodrat alam, yang berarti bahwa pada hakikatnya manusia itu sebagai makluk, yaitu satu dengan kodrat alam. Oleh karena itu, setiap individu harus berkembang dengan sewajarnya.</p><p>Sebagai pemimpin dalam dunia pendidikan seharusnya bersikap “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa serta tut wuri handayani dalam artian ketika berada didepan harus mampu jadi teladan (contoh baik), ketika berada di tengah harus mampu membangun semangat, serta ketika berada dibelakang harus mampu mendorong dan memberi semangat</p><p>Berdasarkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara maka saya sebagai seorang guru Saya harus mampu menuntun anak didik saya untuk bisa membaca, menulis dan berhitung sebagai dasar dari pendidikan, Saya harus mengarahkan anak didik saya untuk mengekspresikan diri yang lebih baik sesuai dengan karakter yang dimiliki, Saya harus mampu mengasah keterampilan bakat dan minat yang dimiliki oleh anak didik saya, saya harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anak.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-03-19 08:25:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yenifarida06_/2iuv7kgb2btldnme/wish/2924723971</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yenifarida06_/2iuv7kgb2btldnme/wish/2924773874</link>
         <description><![CDATA[<p>Refleksi Kritis setelah mempelajari Eksplorasi Konsep - &nbsp;Hendrikus Nara Lebunga</p><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Menurut saya bahwa pendidikan menuntun adalah</p><p>Menuntun adalah mendampingi dan mengantar anak ke sebuah tujuan dengan bimbingan.</p><p>Menuntun dalam proses pendidikan yaitu, berkolaborasi dengan&nbsp; anak, memberikan ruang</p><p>berfikir kritis, anak melakukan refleksi dengan komunikasi yang kreatif dan inovatif.</p><p>2. Bagaimana&nbsp;&nbsp; kata&nbsp;&nbsp; “menuntun”&nbsp;&nbsp; saya&nbsp;&nbsp; maknai&nbsp;&nbsp; dalam&nbsp;&nbsp; konteks&nbsp;&nbsp; untuk&nbsp;&nbsp; mewujudkan</p><p>pendidikan anak yang relevan dengan konteks sosial budaya di daerah saya?</p><p>Jawab:</p><p>“menuntun”&nbsp;&nbsp; dalam&nbsp;&nbsp; konteks&nbsp;&nbsp; sosial&nbsp;&nbsp; budaya&nbsp;&nbsp; berorientasi&nbsp;&nbsp; pada&nbsp;&nbsp; tiga&nbsp;&nbsp; semboyan&nbsp;&nbsp; KI&nbsp;&nbsp; Hadjar</p><p>Dewantara.&nbsp; Yaitu&nbsp;&nbsp; dalam&nbsp;&nbsp; “Ing&nbsp;&nbsp; Ngarso&nbsp;&nbsp; Sung&nbsp;&nbsp; Tuladha”&nbsp;&nbsp; yang&nbsp;&nbsp; bermakna&nbsp;&nbsp; guru&nbsp;&nbsp; memberikan</p><p>teladan&nbsp; yang&nbsp;&nbsp; baik&nbsp; kepada&nbsp;&nbsp; peserta&nbsp; didik.&nbsp;&nbsp; Sebagai pemberi&nbsp;&nbsp; teladan&nbsp; harus&nbsp; senantiasa&nbsp;&nbsp; sadar</p><p>terhadap&nbsp;&nbsp; pikiran,&nbsp;&nbsp; perkataan,&nbsp;&nbsp; dan&nbsp;&nbsp; tindakannya.&nbsp;&nbsp; “Ing&nbsp;&nbsp; Madya&nbsp;&nbsp; Mangun&nbsp;&nbsp; Karso”&nbsp;&nbsp; yaitu&nbsp;&nbsp; guru</p><p>berperan&nbsp;&nbsp; sebagai&nbsp;&nbsp; pelopor&nbsp;&nbsp; atau&nbsp;&nbsp; pemrakarsa.&nbsp;&nbsp; Artinya&nbsp;&nbsp; guru&nbsp;&nbsp; bertindak&nbsp;&nbsp; sebagi&nbsp;&nbsp; pelopor</p><p>mencetuskan ide-ide kepada muridnya. Guru di tengah memberikan motivasi, menggugah</p><p>semangat, kemauan dan niat. “Tut wuri Handayani” artinya guru berupaya penuh memberi</p><p>dorongan dan arahan kepada peserta didik</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-03-19 09:05:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yenifarida06_/2iuv7kgb2btldnme/wish/2924773874</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
