<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Perang Puputan Margarana by Dilla Musdhalifah</title>
      <link>https://padlet.com/dillamusdhalifah29/298hhlz7kt9le5vp</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-06-02 11:45:06 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-02-26 22:03:40 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Latar Belakang Perang Puputan</title>
         <author>dillamusdhalifah29</author>
         <link>https://padlet.com/dillamusdhalifah29/298hhlz7kt9le5vp/wish/1579260549</link>
         <description><![CDATA[<div>Latar belakang munculnya puputan Margarana sendiri bermula dari Perundingan Linggarjati. Pada tanggal 10 November 1946. Dan selanjutnya Belanda diharuskan sudah meninggalkan daerah de facto paling lambat tanggal 1 Januari 1949. Pada tanggal 2 dan 3 Maret 1949 Belanda mendaratkan pasukannya kurang lebih 2000 tentara di Bali yang diikuti oleh tokoh-tokoh yang memihak Belanda. Niat menjadikan bali sebagai Negara Indonesia Timur, Belanda menambah kekuatan militernya untuk menacapkan kuku imprealis lebih dalam di Bali. Keadaan ini membuat suhu perpolitikan dalam negeri sedikit tidak stabil, goyah Sebagian pihak menilai perjanjian Linggarjati merugikan RI. I Gusti Ngurah Rai yang saat itu menjabat sebagai Komandan Resiman Nusa Tenggara ‘digoda’ oleh Belanda. Pada umumnya Rakyat Bali sendiri merasa kecewa terhadap isi perundingan tersebut karena mereka merasa berhak masuk menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terlebih lagi ketika Belanda berusaha membujuk Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai untuk diajak membentuk Negara Indonesia Timur. Pada saat itu I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya Ciung Wanara Berhasil memperoleh kemenangan dalam penyerbuan ke tangsi NICA di Tabanan. Selain merasa geram terhadap kekalahan pada pertempuran pertama, ternyata pasukan Belanda juga kesal karena adanya konsolidasi dan pemusatan pasukan Ngurah Rai yang ditempatkan di Desa Adeng, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali.</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-06-02 12:14:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dillamusdhalifah29/298hhlz7kt9le5vp/wish/1579260549</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KRONOLOGIS</title>
         <author>dillamusdhalifah29</author>
         <link>https://padlet.com/dillamusdhalifah29/298hhlz7kt9le5vp/wish/1579261564</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-06-02 12:14:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dillamusdhalifah29/298hhlz7kt9le5vp/wish/1579261564</guid>
      </item>
      <item>
         <title>16 April 1908</title>
         <author>dillamusdhalifah29</author>
         <link>https://padlet.com/dillamusdhalifah29/298hhlz7kt9le5vp/wish/1579266019</link>
         <description><![CDATA[<div>Bermula dari patroli keamanan Belanda di wilayah Klungkung pada 13-16 April 1908. Patroli ini sudah ditolak Raja Klungkung karena dianggap melanggar kedaulatan Kerajaan Klungkung. Belanda berdalih patrol ini untuk memeriksa dan mengamankan tempat-tempat penjualan candu sebagai konsekuensi monopoli perdagangan candu yang dipegang Belanda.<br><br></div><div>Kerabat Raja, Cokorda Gelgel yang berada di barisan penentang ini, mempersiapkan suatu penyerangan terhadap patroli Belanda. Benar saja, serangan terhadap patroli Belanda terjadi di Gelgel. Serangan mendadak ini membuat Belanda menderita kekalahan; 10 orang serdadu gugur termasuk Letnan Haremaker, salah seorang pemimpin serdadu Belanda. Di pihak Gelgel kehilangan 12 prajurit termasuk I Putu Gledeg.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-06-02 12:16:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dillamusdhalifah29/298hhlz7kt9le5vp/wish/1579266019</guid>
      </item>
      <item>
         <title>17 April 1908</title>
         <author>dillamusdhalifah29</author>
         <link>https://padlet.com/dillamusdhalifah29/298hhlz7kt9le5vp/wish/1579273960</link>
         <description><![CDATA[<div>Belanda melakukan serangan balasan terhadap Gelgel. Namun, usaha ini gagal. Cokorda Gelgel tetap pada pendiriannya dan Belanda malah berbalik mencurigai Cokorda Raga Pugog. Bahkan, Cokorda Raga Pugog ikut gugur dalam pertempuran ini. Belanda memutuskan mundur ke Gianyar.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-06-02 12:20:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dillamusdhalifah29/298hhlz7kt9le5vp/wish/1579273960</guid>
      </item>
      <item>
         <title>21 April 1908</title>
         <author>dillamusdhalifah29</author>
         <link>https://padlet.com/dillamusdhalifah29/298hhlz7kt9le5vp/wish/1579276285</link>
         <description><![CDATA[<div>Klungkung kini jelas-jelas dalam posisi perang dengan Belanda. Ekspedisi khusus pun dikirimkan Belanda dari Batavia. Raja dan rakyat Klungkung diultimatum untuk menyerah hingga 22 April 1908. Raja Klungkung tentu saja menolak tudingan Belanda itu. Mulai 21 April 1908, Belanda memborbardir istana Smarapura, Gelgel, dan Satria dengan tembakan meriam selama enam hari berturut-turut. Sebelum melakukan serangan, Belanda mengeluarkan ultimatum yang isinya agar Buleleng :<br><br></div><ul><li>Mengakui kekuasaan Belanda</li><li>Hak tawan karang harus dihapus</li><li>Memberi perlindungan kepada perdagangan Belanda</li></ul><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-06-02 12:21:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dillamusdhalifah29/298hhlz7kt9le5vp/wish/1579276285</guid>
      </item>
      <item>
         <title>27 April 1908</title>
         <author>dillamusdhalifah29</author>
         <link>https://padlet.com/dillamusdhalifah29/298hhlz7kt9le5vp/wish/1579278619</link>
         <description><![CDATA[<div>Ekspedisi khusus dari Batavia tiba dengan kapal perang dan persenjataan lengkap&nbsp; di perairan&nbsp; Jumpai pada 27 April 1908 malam. Dari atas kapal, Belanda kembali memberi ultimatum agar sampai tengah hari, Raja Klungkung menyerah tanpa syarat. Raja Klungkung menjawab ultimatum itu dan meminta penundaan waktu lima hari&nbsp; untuk berunding dengan para pejabat tinggi kerajaan. Belanda menolak permintaan itu dan Klungkung terus ditembaki meriam dari atas kapal.<br><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-06-02 12:22:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dillamusdhalifah29/298hhlz7kt9le5vp/wish/1579278619</guid>
      </item>
      <item>
         <title>28 April 1908</title>
         <author>dillamusdhalifah29</author>
         <link>https://padlet.com/dillamusdhalifah29/298hhlz7kt9le5vp/wish/1579281248</link>
         <description><![CDATA[<div>Perang pun dimulai. Karena persenjataan tidak seimbang, Belanda bisa menguasai Kusamba dan Jumpai, meskipun rakyat di kedua desa itu melakukan perlawanan sengit. Perlahan, pasukan Belanda pun merangsek menuju Klungkung. Istana Smarapura terkepung. Cokorda Gelgel dan Dewa Agung Gde Semarabawa gugur dalam menghadapi serdadu Belanda di benteng selatan. Kabar inilah yang mendorong Dewa Agung Istri Muter bersama putra mahkota, Dewa Agung Gde Agung turun ke medan perang mengikuti ibu suri, Dewa Agung Muter. Semuanya berpakaian serbaputih, siap menyongsong maut. Dewa Agung Muter bersama putra mahkota akhirnya gugur.<br><br></div><div>Mendengar permaisuri dan putra mahkota gugur di medan laga, tidak malah membuat Dewa Agung Jambe menyerah, justru semakin bulat memutuskan berperang sampai titik darah penghabisan. Dewa Agung Jambe keluar diiringi seluruh keluarga istana dan prajurit yang setia maju menghadapi Belanda dengan gagah berani. Karena persenjataan yang tidak imbang, mereka pun gugur dalam berondongan peluru Belanda.<br><br></div><div>Mereka menunjukkan jiwa patriotis membela tanah kelahiran dan harga diri. Hari itu pun, 28 April 1908 sore, sekitar pukul 15.00 kota Klungkung jatuh ke tangan Belanda. Sesudah Klungkung diduduki maka berarti seluruh Bali dikuasi oleh pemerintah Belanda.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-06-02 12:24:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dillamusdhalifah29/298hhlz7kt9le5vp/wish/1579281248</guid>
      </item>
      <item>
         <title>19 November 1946</title>
         <author>dillamusdhalifah29</author>
         <link>https://padlet.com/dillamusdhalifah29/298hhlz7kt9le5vp/wish/1579285711</link>
         <description><![CDATA[<div>Marga yang saat itu masih dikelilingi ladang jagung yang tenang, berubah menjadi pertempuran yang menggemparkan dan mendebarkan bagi warga sekitar. Bunyi letupan senjata tiba-tiba serentak mengepung ladang jagung di daerah perbukitan yang terletak sekitar 40 kilometer dari Denpasar itu. Pasukan pemuda Ciung Wanara yang saat itu masih belum siap dengan persenjataannya, tidak terlalu terburu-buru menyerang serdadu Belanda. Kali ini serdadu Belanda yang sudah terpancing emosi berubah menjadi semakin brutal. Perang sampai habis atau puputan inilah yang kemudian mengakhiri hidup I Gusti Ngurah Rai. Peristiwa inilah yang kemudian dicatat sebagai peristiwa Puputan Margarana.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-06-02 12:26:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dillamusdhalifah29/298hhlz7kt9le5vp/wish/1579285711</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peninggalan</title>
         <author>dillamusdhalifah29</author>
         <link>https://padlet.com/dillamusdhalifah29/298hhlz7kt9le5vp/wish/1579290934</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Tugu Pahlawan Taman Pujaan Bangsa</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1223418861/e181e353f9690e0ed8912e06f8063b00/perang_puputan_margarana.jpg" />
         <pubDate>2021-06-02 12:28:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dillamusdhalifah29/298hhlz7kt9le5vp/wish/1579290934</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
