<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Kearifan Lokal 9B by Efri Yendi</title>
      <link>https://padlet.com/efriyendi0605/21fxftdfhexmb207</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-09-03 15:09:13 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-09-05 01:23:14 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Kelompok : Jojo, Jiji, Juju, Jiji</title>
         <author>efriyendi0605</author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi0605/21fxftdfhexmb207/wish/3568383833</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Daerah : </strong>Kepuluan Riau</p><p><br></p><p><strong>Sejarah : </strong>Sudah ada sejak masa kerajaan-kerajaan Melayu kuno, seperti Kerajaan Riau-Lingga (abad ke-18–19), bahkan diyakini berakar dari budaya Melayu klasik di Sumatra dan Semenanjung Malaya. Awalnya, upacara ini dilakukan sebagai ritual pembersihan diri, penolak bala, dan doa keselamatan, sehingga berkaitan erat dengan sistem kepercayaan lama yang kemudian diselaraskan dengan nilai-nilai Islam.</p><p><br></p><p><strong>Makna : </strong>Kata <em>“tepung tawar”</em> merujuk pada proses menaburkan atau mengusap tepung yang dicampur dengan air, beras kunyit, atau daun-daunan ke tubuh atau benda tertentu. </p><p>Maknanya adalah :</p><p>1.  Penyucian diri → membersihkan dari segala hal buruk.</p><p>2. Pemberian doa restu → agar mendapat berkah, rezeki, dan keselamatan.</p><p>3. Pengikat silaturahmi → mempererat rasa persaudaraan dalam masyarakat Melayu.</p><p><br></p><p><strong>Waktu :</strong></p><p>1. Pernikahan : Umumnya dilakukan pada upacara pernikahan untuk memohon keberkahan dan keselamatan bagi kedua mempelai.&nbsp;</p><p>2. Khitanan : Ritual ini juga dilakukan untuk mengiringi acara sunatan sebagai bentuk syukuran.&nbsp;</p><p>3. Pindah Rumah : Dilakukan saat seseorang pindah rumah baru untuk memohon keselamatan dan keberkahan di tempat tinggal baru.&nbsp;</p><p>4. Pelantikan Pejabat/Tokoh Adat : Tradisi ini juga dilakukan pada acara pelantikan para pejabat atau tokoh adat dan daerah.&nbsp;</p><p>5. Syukuran dan Penyembuhan : Tepung Tawar juga bisa dilakukan untuk merayakan rezeki atau pencapaian tertentu, serta sebagai sarana penyembuhan setelah sakit.&nbsp;</p><p>6. Penyelesaian Sengketa : Ada juga yang disebut sebagai "Tepung Tawar Perdamaian" untuk menghilangkan rasa marah dan dendam antara pihak yang bertikai.&nbsp;</p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4300173348/8a23fb96bbeaa3116c1bd03b49608f42/zf9vegghbtucuyjjywyb.jpg" />
         <pubDate>2025-09-04 06:05:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi0605/21fxftdfhexmb207/wish/3568383833</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama kelompok: Saskyah, Inaya, Farinka, Dwi, Renaldy</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi0605/21fxftdfhexmb207/wish/3568410107</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Daerah : </strong></p><p>berpusat di jawa barat, sunda</p><p><br/></p><p><strong>Sejarah : </strong></p><p>1. Asal Kata</p><p>Seren berarti menyerahkan atau mengantarkan.</p><p>Taun berarti tahun.</p><p>Jadi, Seren Taun dapat dimaknai sebagai penyerahan hasil panen dari tahun yang telah dilalui kepada tahun yang baru.</p><p>2. Akar Kepercayaan</p><p>Seren Taun sudah ada sejak zaman kerajaan Sunda kuno (seperti Pajajaran). Masyarakat Sunda kala itu percaya pada Dewi Sri sebagai dewi padi atau kesuburan. Mereka meyakini bahwa padi adalah anugerah sakral yang harus dihormati agar kehidupan tetap makmur.</p><p>3. Awal Penyelenggaraan</p><p>Dulu, Seren Taun dilakukan di Kerajaan Sunda sebagai ritual kerajaan untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.</p><p><br/></p><p>Setelah masuknya Islam ke tanah Sunda, upacara ini tetap dipertahankan, namun nilai-nilai spiritualnya diselaraskan dengan ajaran Islam, yaitu sebagai wujud syukur kepada Allah SWT.</p><p><br/></p><p><strong>Makna:</strong></p><p>1. Ungkapan Syukur – Sebagai rasa terima kasih masyarakat agraris atas panen yang didapat.</p><p>2. Pelestarian Budaya – Menguatkan identitas budaya Sunda agar tidak hilang ditelan zaman.</p><p>3. Harmoni Alam dan Manusia – Mengajarkan keseimbangan antara manusia dengan alam.</p><p>4. Kebersamaan Sosial – Menyatukan masyarakat dalam gotong royong dan silaturahmi.</p><p><br/></p><p><strong>Waktu:</strong></p><p>1. Biasanya dilakukan setiap bulan Rayagung (Dzulhijjah) dalam kalender Sunda.</p><p>2. Masyarakat mengumpulkan hasil panen padi lalu menyerahkannya kepada leuit (lumbung padi) yang disebut Leuit Si Jimat.</p><p>3. Acara ini dilengkapi dengan doa bersama, kesenian tradisional (angklung, kendang penca, wayang golek), dan pesta rakyat.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4311985385/0254b95a4e901791699fec45c7210009/IMG_20250904_WA0010.jpg" />
         <pubDate>2025-09-04 06:21:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi0605/21fxftdfhexmb207/wish/3568410107</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok: Dzarlyn, Wendi, Maygel, Cindy, Ilham, Fatimah</title>
         <author>dzarlynzoenia</author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi0605/21fxftdfhexmb207/wish/3568411532</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Daerah:</strong></p><p>Kepulauan Nias, Sumatera Utara, Indonesia</p><p><br></p><p><strong>Sejarah:</strong></p><p>Sejarah lompat batu atau Fahombo adalah tradisi unik dari suku Nias di Sumatera Utara, Indonesia. Awalnya, tradisi ini berfungsi sebagai ujian keberanian dan kekuatan bagi pemuda Nias sebagai persiapan perang antar suku,, . Sekarang, lompat batu menjadi daya tarik wisata dan bagian penting dari warisan budaya Nias</p><p><br></p><p>Asal Usul dan Fungsi Awal</p><p>Pada zaman dahulu, sering terjadi perang antar suku di Nias. Untuk itu, dibutuhkan pemuda yang memiliki kesiapan fisik yang prima, . Tumpukan batu digunakan sebagai benteng pertahanan, sehingga pemuda harus mampu melompatinya. Lompat batu menjadi cara untuk menguji dan membuktikan bahwa seorang pemuda siap menjadi pejuang dan melindungi desanya</p><p><br></p><p>Transformasi dan Makna Simbolis</p><p>Seiring waktu, fungsi lompat batu bergeser dari persiapan perang menjadi ritual budaya yang menghormati nilai-nilai dan adat istiadat Nias. Tradisi ini melambangkan peralihan dari masa kanak-kanak ke dewasa, menunjukkan keberanian, kekuatan, dan kemandirian, . Seorang pemuda yang berhasil melompat dianggap telah memenuhi syarat untuk diakui sebagai pria sejati dan pelindung desa</p><p><br></p><p>Proses Pelaksanaan</p><p>Pelaksanaan lompat batu dilakukan di tempat terbuka dengan batu setinggi 1,5 hingga 2,1 meter, . Sebelum acara, peserta menjalani latihan fisik dan mental, . Pada hari pelaksanaan, pemuda mengenakan pakaian tradisional dan mengikuti upacara pembukaan dengan doa dan pengantar dari tokoh masyarakat,</p><p>Kontribusi pada Pariwisata</p><p><br></p><p>Lompat batu menjadi daya tarik wisata yang signifikan di Nias. Festival dan acara diadakan untuk menarik wisatawan lokal dan internasional, mempromosikan budaya Nias dan memberikan pendapatan tambahan bagi masyarakat setempat. Desa Bawomataluo menjadi lokasi utama pertunjukan lompat batu, di mana wisatawan dapat menyaksikan ritual ini sambil menikmati arsitektur tradisional desa.</p><p><br></p><p><strong>Makna:</strong></p><p>Lompat batu (Fahombo Batu) dari Nias memiliki makna yang sangat penting dalam budaya masyarakat Nias:</p><p>1. Simbol kedewasaan dan keberanian</p><p>Dulu, seorang pemuda Nias dianggap dewasa dan siap menjadi pria sejati setelah berhasil melompati batu setinggi ±2 meter. Ini menunjukkan ia siap melindungi keluarga dan masyarakat.</p><p>2. Latihan kesiapan perang</p><p>Awalnya, tradisi ini muncul karena masyarakat Nias zaman dulu sering berperang antar desa. Melompati batu melatih ketangkasan, kekuatan fisik, dan keberanian untuk menghadapi peperangan.</p><p>3. Status sosial</p><p>Pemuda yang berhasil melakukan lompat batu akan mendapat pengakuan dan kehormatan dari masyarakat. Menjadi syarat untuk bisa menikah atau diakui sebagai pria yang matang.</p><p>4. Identitas budaya</p><p>Saat ini, lompat batu lebih menjadi atraksi budaya, tapi makna simbolisnya tetap dijaga sebagai warisan kearifan lokal Nias.</p><p><br></p><p><strong>Waktu:</strong></p><p>Waktu Pelaksanaan Lompat Batu:</p><p>Tidak ada waktu pasti atau kalender rutin tahunan untuk pelaksanaan lompat batu seperti halnya hari raya, karena tradisi ini dilakukan berdasarkan kebutuhan atau momen tertentu, antara lain:</p><p>Ketika seorang pemuda dianggap sudah cukup umur untuk dianggap dewasa dan siap menjadi prajurit atau menikah.</p><p>Upacara adat atau festival budaya Nias.</p><p>Acara penyambutan tamu penting atau dalam atraksi wisata budaya.</p><p>Jadi, waktu pelaksanaan lompat batu bersifat fleksibel, tergantung pada:</p><p>Kesiapan individu/pemuda yang akan melompat.</p><p>Kehendak keluarga atau masyarakat adat setempat.</p><p>Agenda pariwisata atau acara budaya lokal yang ingin menampilkan tradisi ini.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4311999152/4067d4035d0fe237a48581a439dfc101/IMG_20250904_WA0028.jpg" />
         <pubDate>2025-09-04 06:21:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi0605/21fxftdfhexmb207/wish/3568411532</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 2  1. Dinda 2. Giofani 3. Maria 4. Tri Buana 5. Zhafran </title>
         <author>dindaragilia3</author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi0605/21fxftdfhexmb207/wish/3568421419</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Daerah : Bali</strong></p><p><br></p><p><strong>Sejarah :</strong></p><p>Subak adalah sistem irigasi tradisional yang berkembang di Bali dan sudah ada sejak abad ke-9 Masehi. Keberadaan Subak dibuktikan melalui prasasti kuno, salah satunya Prasasti Sukawana tahun 882 M, yang mencatat organisasi petani pengatur air. Subak muncul karena kondisi alam Bali yang didominasi sawah terasering di perbukitan, sehingga membutuhkan pengelolaan air yang adil dan teratur.</p><p>Sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai teknik pertanian, tetapi juga sebagai lembaga sosial dan keagamaan. Subak dipengaruhi oleh filosofi Hindu-Buddha, khususnya Tri Hita Karana, yaitu keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Filosofi inilah yang membuat Subak unik, karena setiap kegiatan bertani selalu diiringi dengan ritual di pura khusus yang disebut Pura Ulun Suwi atau Pura Bedugul untuk memuja Dewi Sri sebagai simbol kesuburan.</p><p>Organisasi Subak dipimpin oleh seorang Pekaseh yang dipilih dari kalangan petani. Tugasnya mengatur pembagian air, memimpin musyawarah, hingga memimpin upacara adat. Setiap anggota Subak wajib menaati aturan adat yang disebut Awig-awig, yang mengatur pembagian giliran air, jadwal tanam, serta kewajiban bersama untuk memelihara saluran irigasi. Hal ini menumbuhkan nilai keadilan, gotong royong, dan rasa kebersamaan di kalangan petani.</p><p>Seiring berjalannya waktu, Subak tetap bertahan meski banyak terjadi modernisasi dalam dunia pertanian. Sistem ini bahkan diakui oleh dunia internasional karena dianggap mampu menggabungkan teknologi, budaya, dan spiritualitas secara harmonis. Pada tahun 2012, UNESCO menetapkan Subak sebagai Warisan Budaya Dunia karena keunikannya dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat Bali.</p><p>Dengan demikian, Subak bukan sekadar sistem irigasi, melainkan sebuah warisan budaya yang mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta.</p><p><br></p><p><strong>Makna :</strong></p><p>Subak adalah sistem irigasi tradisional di Bali yang mencerminkan keharmonisan antara manusia, alam, dan spiritualitas, serta menjadi simbol kearifan lokal yang lestari</p><p><br></p><p>Makna Filosofis dan Budaya:</p><p>Sistem Subak didasari oleh filosofi Tri Hita Karana, yaitu tiga sumber </p><p><br></p><p>keharmonisan:</p><p>Parahyangan: hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan.</p><p><br></p><p>Pawongan: hubungan harmonis antara sesama manusia.</p><p><br></p><p>Palemahan: hubungan harmonis antara manusia dengan alam.</p><p><br></p><p><strong>Waktu :</strong></p><p>*Perkiraan Waktu Berdirinya Subak* </p><p><br></p><p>Abad ke-11 Masehi: Diperkirakan sistem subak sudah dikenal oleh masyarakat Bali pada masa ini.</p><p>Sebelum abad ke-11 Masehi: Lontar Markandeya Purana mengindikasikan bahwa subak telah ada sebelum Pura Besakih didirikan pada awal abad ke-11.</p><p>Ditemukan pada Prasasti: Prasasti Raja Purana Klungkung (1072 M) menyebut kata "kasuwakara", yang diduga asal dari "suwak" atau "subak".</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4312052288/2ca1408809d639610a4a049500320014/IMG_20250904_WA0009.jpg" />
         <pubDate>2025-09-04 06:27:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi0605/21fxftdfhexmb207/wish/3568421419</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 3: Nurul,Siti,Arya, zambrud,pariz</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi0605/21fxftdfhexmb207/wish/3568429898</link>
         <description><![CDATA[<p>Daerah:</p><p>Papua,Maluku</p><p><br/></p><p>sejarah:</p><p>Sasi adalah tradisi adat dari Maluku dan Papua yang sudah ada sejak abad ke-15, bertujuan untuk mengelola sumber daya alam agar lestari melalui larangan pengambilan hasil hutan atau laut selama periode tertentu. Sejarahnya berawal dari kesadaran masyarakat akan potensi punahnya sumber daya alam akibat eksploitasi tanpa batas, lalu diatur oleh para pemimpin adat, dan kemudian diperkuat oleh nilai-nilai keagamaan. Sasi menerapkan mekanisme kontrol sosial dengan menerapkan hukum adat yang ketat, seringkali dengan ritual dan simbol, agar masyarakat hidup selaras dengan alam dan memastikan keberlanjutan ekosistem untuk generasi mendatang.</p><p><br/></p><p>makna :</p><p>tradisi adat turun-temurun yang melarang pengambilan hasil alam (laut dan darat) untuk periode waktu tertentu guna menjaga kelestarian dan keberlanjutan sumber daya alam serta mengatur distribusi kekayaan alam secara merata</p><p><br/></p><p>- Pelestarian Alam:</p><p> Sasi adalah wujud kearifan lokal yang bertujuan untuk menjaga dan melestarikan sumber daya alam agar tetap lestari dan berkelanjutan .</p><p><br/></p><p>- Keseimbangan Ekosistem: </p><p>Melalui Sasi, masyarakat adat berupaya menjaga keseimbangan ekosistem laut dan darat, sehingga sumber daya alam dapat terus memberikan manfaat bagi kehidupan .</p><p><br/></p><p>- Ketahanan Pangan: </p><p>Sasi juga berperan dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat, karena dengan adanya pengaturan pemanfaatan sumber daya alam, ketersediaan pangan dapat terjamin untuk generasi sekarang dan mendatang .</p><p><br/></p><p>- Hukum Adat: </p><p>Sasi lebih cenderung bersifat hukum adat daripada tradisi biasa, yang digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan dalam pengelolaan hasil laut dan hasil pertanian. Ini berarti Sasi memiliki kekuatan mengikat dan menjadi pedoman bagi masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam secara bertanggung j</p><p>awab .</p><p><br/></p><p>waktu:</p><p>September-Oktober untuk sasi laut di Maluku, atau Februari-April untuk sasi nggama di Kaimana</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4312047784/f1580794690589bb44fec2b1cb7233a9/IMG_20250904_WA0013_2_.jpg" />
         <pubDate>2025-09-04 06:32:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi0605/21fxftdfhexmb207/wish/3568429898</guid>
      </item>
      <item>
         <title>nama kelompok:bunga anggraini,triwahyu,M.zhafir,M.rizki,jastin</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi0605/21fxftdfhexmb207/wish/3568430263</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Daerah</strong>:pariaman,sumatra barat</p><p><br/></p><p><strong>Sejarah</strong>:Sejarah Tabuik Pariaman <strong><mark>berawal dari peringatan Asyura oleh komunitas Muslim Syiah, yang kemudian diperkenalkan oleh para perantau dari India pada abad ke-19 di Pariaman, Sumatera Barat</mark></strong>. Tradisi ini mengenang kesyahidan Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam pertempuran Karbala. Kata "Tabuik" berasal dari bahasa Arab "tabut" yang berarti "peti kayu", merujuk pada peti yang membawa potongan jenazah Husein yang diangkat oleh makhluk legenda bernama Buraq. Festival ini berkembang dengan masuknya unsur adat Minangkabau, sehingga menjadi warisan budaya kolosal yang melibatkan pembuatan dan arak-arakan replika Buraq, dan menjadi salah satu daya tarik wisata utama Pariaman.&nbsp;</p><p><br/></p><p><br/></p><p><strong>Makna</strong>:memperingati wafatnya cucu nabi muhammad saw,ngeselin bin ali,di padang karbala melalui ritual keagamaan dan kebudayaan yang sarat simbolisme</p><p><br/></p><p><strong>Waktu</strong>: hari ke-10 muharram dalam kalender hijriah</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4312027331/b375adfe04d227b0fa5d160d2983c46c/Festival_Tabuik_1200.jpg" />
         <pubDate>2025-09-04 06:33:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi0605/21fxftdfhexmb207/wish/3568430263</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KELOMPOK 7: Aqilla, Dede, Elvina, Evelyn, Fahril</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi0605/21fxftdfhexmb207/wish/3568430463</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>Daerah: </p><p>Nusa Tengga Timur (NTT)</p><p><br/></p><p>Sejarah:</p><p>Koke Bale merupakan sebuah rumah adat yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat suku Lamaholot di Nusa Tenggara Timur (NTT). </p><p>Bangunan ini tidak hanya sekadar tempat tinggal, melainkan pusat spiritual, budaya, dan warisan leluhur yang menjadi cikal bakal kehidupan sebuah desa. Nama "Koke Bale" sendiri berasal dari kata koke atau boke yang berarti "titik pusat" dan bale yang berarti "rumah" atau "tempat tinggal", sehingga diartikan sebagai "rumah induk" atau "rumah leluhur". </p><p>Masyarakat Lamaholot meyakini bahwa Koke Bale adalah tempat bersemayamnya arwah nenek moyang atau kewokot yang bertindak sebagai utusan dari Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, bangunan ini menjadi tempat sakral untuk berbagai ritual adat, seperti upacara persembahan dan syukuran, serta menjadi lokasi untuk pertunjukan tarian tradisional seperti Hedung, Hamang, dan Dolo-dolo. Secara arsitektur, Koke Bale berbentuk panggung dan memiliki elemen-elemen penting seperti tiang suci (rie lima lanang) yang melambangkan Yang Maha Kuasa dan berbagai benda pusaka peninggalan leluhur.</p><p> Dengan demikian, Koke Bale berfungsi sebagai simbol identitas dan jati diri masyarakat Lamaholot, mengingatkan mereka akan hubungan erat dengan leluhur, alam, dan Tuhan.</p><p>Asal-usul Koke Bale tidak tercatat dalam dokumen sejarah tertulis secara spesifik, melainkan diwariskan secara turun-temurun melalui cerita dan ritual adat. Hal ini menjadikannya simbol yang hidup dan terus lestari sebagai penjaga identitas serta jati diri masyarakat Lamaholot.</p><p><br/></p><p>Makna:</p><p>Koke berarti membangun atau menyusun, sementara Bale berarti rumah adat (sa’o).</p><p>Koke Bale dimaknai sebagai simbol kebersamaan dan gotong royong masyarakat dalam membangun kehidupan.</p><p>Melambangkan kekuatan persaudaraan dalam masyarakat adat. Juga menjadi identitas budaya yang diwariskan dari leluhur.</p><p><br/></p><p>Waktu:</p><p>Upacara adat di Koke Bale biasanya dilakukan pada momen-momen penting dalam kehidupan masyarakat Lamaholot, bukan setiap hari. Beberapa waktu pelaksanaannya antara lain:</p><p><br/></p><p>1. Saat pembangunan rumah baru (Koke Bale baru)</p><p>Dimulai sejak penebangan kayu untuk tiang utama. Ada ritual meminta izin kepada roh penjaga pohon (Nitu) agar kayu kuat, lalu dilanjutkan dengan upacara pendirian tiang utama (Ri’e Lima Lanang).</p><p><br/></p><p>2. Upacara tahunan atau periode tertentu</p><p>Biasanya mengikuti kalender adat Lamaholot (berhubungan dengan musim tanam, panen, atau peristiwa alam).</p><p>Masyarakat desa berkumpul untuk mempersembahkan kurban (ayam, babi, kambing) dan sesaji kepada leluhur sebagai wujud syukur dan memohon berkat.</p><p><br/></p><p>3. Upacara siklus hidup dan adat khusus</p><p>Misalnya ketika ada perkawinan adat, perdamaian antar suku, atau acara syukur panen.</p><p><br/></p><p>Koke Bale menjadi pusat kegiatan, pelatarannya dipakai untuk tari-tarian, cerita leluhur, dan persembahan.</p><p><br/></p><p>Jadi, waktu pelaksanaan upacara Koke Bale tidak ditetapkan pada tanggal tertentu, melainkan mengikuti kebutuhan adat dan kesepakatan masyarakat desa.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4312065694/5a92ebb497af696d9f06bad627653ba8/IMG_20250904_WA0006.jpg" />
         <pubDate>2025-09-04 06:33:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi0605/21fxftdfhexmb207/wish/3568430463</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok6=radit.keisha.salsah.rahmat indah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi0605/21fxftdfhexmb207/wish/3568432706</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>daerah: Jawa tengah, daerah istimewa yogyakarta dan Jawa Timur</p><p><br/></p><p>Sejarah tradisi Nyadran: merupakan hasil akulturasi antara kepercayaan Hindu-Buddha dan ajaran Islam di Jawa, dimulai dari ritual Shraddha di masa Hindu-Buddha yang kemudian diadaptasi dan diisi dengan nilai-nilai Islam oleh Walisongo. Tradisi ini dilakukan masyarakat Jawa untuk mendoakan leluhur, menjaga keharmonisan masyarakat, dan sebagai bentuk syukur menyambut bulan Ruwah atau Sya'ban menjelang Ramadhan, dengan kegiatan utama seperti membersihkan makam, doa bersama, dan kenduri.</p><p><br/></p><p>Makna tradisi : Nyadran meliputi penghormatan dan doa bagi leluhur, pengingat kematian, perwujudan syukur kepada Tuhan, serta sarana penguatan silaturahmi dan kebersamaan antarwarga. Tradisi ini merupakan akulturasi budaya Jawa dengan ajaran Islam yang dilakukan dengan membersihkan makam, tabur bunga, mendoakan leluhur, dan diakhiri dengan kenduri atau makan bersama.</p><p><br/></p><p>Makna Sosial dan Budaya</p><p>Mempererat Silaturahmi:</p><p>Prosesi Nyadran, seperti kenduri atau makan bersama, menjadi ajang untuk mempererat tali persaudaraan dan hubungan antarwarga. </p><p>Kebersamaan dan Gotong Royong:</p><p>Pelaksanaan tradisi ini melibatkan kerja sama masyarakat dalam membersihkan makam dan menyiapkan acara, mencerminkan nilai gotong royong dan kebersamaan. </p><p>Pelestarian Budaya:</p><p>Nyadran adalah warisan budaya yang penting untuk dilestarikan karena mengandung nilai-nilai spiritual dan sosial yang luhur. </p><p>Akulturasi Budaya:</p><p>Tradisi ini merupakan hasil perpaduan budaya Hindu-Budha dengan ajaran Islam, yang sejak abad ke-15 diselaraskan oleh para Walisongo untuk mempermudah penerimaan Islam oleh masyarakat Jawa.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Waktu Pelaksanaan:</p><p>Umumnya dilakukan pada bulan Sya'ban (kalender Hijriyah) atau bulan Ruwah (kalender Jawa).</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/5/5b/Plabengan_nyadran_Cultural_02.jpg" />
         <pubDate>2025-09-04 06:34:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi0605/21fxftdfhexmb207/wish/3568432706</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
