<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>QUIZ INDIVIDU PSIKOSOSIAL BUDAYA by </title>
      <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj</link>
      <description>Selesai PKL. 11.00</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-10-07 14:19:17 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-10-09 15:15:29 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>TULIS NAMA LENGKAP DISINI</title>
         <author>dyah_ayu_kartika_w_s</author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3621954989</link>
         <description><![CDATA[<p>Sebut dan Jelaskan 1 (Satu) Budaya di Tempat asal atau Kampung Halaman anda yang Bertentangan dengan Kesehatan. Tambahkan Foto Diri dan Opini. </p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/320113458/b169740184016403f534e6ec63e83e4b/IMG_20250519_212513.jpg" />
         <pubDate>2025-10-07 14:24:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3621954989</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Afisca acacia venanda(01.2.24.01060)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624466745</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Salah satu budaya di Kediri yang</strong> bertentangan dengan kesehatan adalah kebiasaan memberikan jamu tradisional kepada ibu nifas dan bayi tanpa takaran yang jelas. Masyarakat percaya jamu dapat mempercepat pemulihan dan membuat bayi kuat, padahal hal ini bisa berisiko. Ramuan yang tidak terstandar dapat menyebabkan gangguan pencernaan, alergi, atau keracunan, terutama pada bayi.</p><p><strong><em>Opini saya</em></strong>, budaya ini memiliki nilai positif karena menunjukkan kepedulian keluarga dan kearifan lokal, namun perlu disesuaikan dengan ilmu kesehatan modern. Jamu sebaiknya dikonsumsi dengan dosis aman dan atas saran tenaga medis, sedangkan pemberian pada bayi sebaiknya dihindari agar tradisi tetap lestari tanpa membahayakan kesehatan.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526001314/c49eb1102e7961ceca10fbe41cc0233a/IMG_20250322_211757.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 01:23:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624466745</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Adelia hervianda putri</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624466767</link>
         <description><![CDATA[<p><em>Budaya: Pengobatan Sangkal Putung</em></p><p>Di daerah saya masih banyak masyarakat yang mempercayai pengobatan patah tulang secara tradisional yang dikenal dengan sebutan Sangkal Putung. Pengobatan ini biasanya dilakukan oleh seorang tabib atau orang yang dianggap memiliki kemampuan khusus untuk menyembuhkan tulang yang patah melalui pijatan dan ramuan tradisional, tanpa bantuan peralatan medis modern.</p><p><br></p><p><em>Dampak terhadap kesehatan</em>:</p><p>Meskipun Sangkal Putung sudah menjadi warisan budaya turun-temurun dan sering dianggap ampuh, praktik ini tidak sepenuhnya sesuai dengan prinsip kesehatan medis modern. Penanganan yang tidak tepat dapat menyebabkan tulang tidak menyatu dengan baik, menimbulkan infeksi, atau bahkan mengakibatkan cacat permanen karena tidak melalui pemeriksaan medis seperti sinar-X atau perawatan dokter spesialis tulang.</p><p><br></p><p><em>Opini</em></p><p>Menurut saya, budaya Sangkal Putung tetap dapat dilestarikan dengan penyesuaian terhadap aspek medis. Misalnya, pasien sebaiknya terlebih dahulu mendapatkan pemeriksaan dan diagnosis dari tenaga kesehatan profesional, kemudian dapat melanjutkan terapi tradisional sebagai pendukung pemulihan. Dengan demikian, tradisi tetap terjaga, tetapi kesehatan dan keselamatan masyarakat juga terlindungi.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4525996124/7f1f3ba9904e50d6c1b0bd2b4704791a/IMG_7761.png" />
         <pubDate>2025-10-09 01:23:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624466767</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Emi Nenobahan (01.2.24.01109)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624473497</link>
         <description><![CDATA[<p>BUDAYA YANG BERTENTANGAN DENGAN KESEHATAN DI NUSA TENGGARA TIMUR (Kupang daerah saya)</p><p><br/></p><p>Nama Budaya: Moké Tuak (Minum Tuak Secara Berlebihan)</p><p><br/></p><p>Penjelasan: Di beberapa daerah di NTT, khususnya di Flores dan Timor(Kupang) ada kebiasaan masyarakat meminum tuak saat acara adat, pesta, atau pertemuan sosial. Tuak memang dianggap sebagai simbol kebersamaan dan penghormatan kepada tamu. Namun, sering kali kebiasaan ini dilakukan secara berlebihan dan tanpa batasan.</p><p><br/></p><p>PERTENTANGAN DENGAN KESEHATAN: Minum tuak berlebihan dapat menyebabkan gangguan pada fungsi hati, menurunkan kesadaran, serta berisiko menimbulkan kecanduan alkohol. Selain itu, penggunaan wadah yang tidak bersih saat fermentasi bisa menimbulkan penyakit akibat kontaminasi bakteri.</p><p><br/></p><p>OPINI: Menurut saya, budaya minum tuak bisa tetap dilestarikan sebagai bagian dari tradisi dan kebersamaan, asalkan dilakukan dengan bijak dan tidak berlebihan. Pemerintah dan tenaga kesehatan sebaiknya memberikan edukasi agar masyarakat memahami dampak buruk alkohol bag</p><p>i tubuh.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526042680/4be071d3c8a75739f0a9155e03562b70/IMG_20250366_104019339.jpeg" />
         <pubDate>2025-10-09 01:30:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624473497</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ANA FADILASARI (01.2.24.01067)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624474835</link>
         <description><![CDATA[<p><br></p><p><strong>Budaya:</strong></p><p>kebiasaan minum jamu atau ramuan tradisional tanpa takaran pasti Di beberapa daerah di Kediri, masyarakat masih sering membuat dan mengonsumsi jamu atau ramuan tradisional hasil racikan sendiri tanpa dosis yang jelas, misalnya campuran kunyit, temulawak, atau daun-daunan. Meskipun tujuannya untuk menjaga kesehatan, penggunaan bahan alami tanpa takaran yang tepat dan tanpa konsultasi dengan tenaga kesehatan bisa berisiko, seperti gangguan lambung, kerusakan hati, atau reaksi alergi.</p><p><br></p><p><strong>Mengapa bertentangan dengan kesehatan:</strong></p><p>Karena tidak semua bahan alami aman jika dikonsumsi terus-menerus atau dalam jumlah besar. Pengolahan yang tidak higienis juga bisa menyebabkan kontaminasi bakteri.</p><p><br></p><p><strong>Opini saya:</strong></p><p>Saya menghargai warisan budaya jamu tradisional karena merupakan kearifan lokal yang bernilai. Namun, sebaiknya masyarakat lebih bijak dalam menggunakannya, misalnya dengan berkonsultasi ke tenaga kesehatan atau menggunakan jamu yang sudah terdaftar di BPOM agar lebih aman.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526003324/d6e48ac9638ad0da0c64f83ba47dd46f/df993f53_6523_470a_9c63_f87c7869a46d.jpeg" />
         <pubDate>2025-10-09 01:31:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624474835</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Anka Intan Prissilia (01.2.24.01073) </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624475055</link>
         <description><![CDATA[<p>Di Tulungagung, terdapat tradisi pantangan makanan bagi ibu hamil dan ibu setelah melahirkan. Dalam budaya ini, ibu dilarang mengonsumsi beberapa jenis makanan seperti ikan laut, buah-buahan tertentu, dan sayuran dengan alasan agar proses melahirkan lancar dan bayi tidak mengalami cacat. Namun, pantangan tersebut sebenarnya berisiko menurunkan asupan gizi yang sangat dibutuhkan oleh ibu dan bayi selama masa kehamilan dan pemulihan pasca melahirkan. Kekurangan nutrisi tersebut dapat menyebabkan masalah kesehatan serius seperti anemia pada ibu, luka sulit sembuh, dan gangguan tumbuh kembang pada bayi.</p><p><br></p><p>Opini saya, meskipun budaya ini merupakan bagian penting dari tradisi lokal dan identitas masyarakat Tulungagung, perlu ada pembaruan pemahaman melalui edukasi kesehatan agar budaya pantangan makanan tidak membahayakan kesehatan ibu dan bayi. Pendidikan yang tepat dapat membantu masyarakat menyeimbangkan penghormatan terhadap budaya dengan kebutuhan menjaga kesehatan keluarga. Dengan begitu, budaya tradisional tidak hilang, tetapi dijalankan secara bijak demi menjaga kesejahteraan masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526037740/f357bc62c05bd61070348db9b9e427dc/temp_image_F5A9883F_62B5_4A51_B88A_06C406D0B8A8.webp" />
         <pubDate>2025-10-09 01:32:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624475055</guid>
      </item>
      <item>
         <title>DEVINA FARIDATUL MAILINA PUTRI (01.2.24.01095)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624476283</link>
         <description><![CDATA[<p>Salah satu budaya di Tulungagung yang bertentangan dengan kesehatan adalah maraknya fenomena "sound horeg" atau hiburan keliling menggunakan pengeras suara dengan intensitas suara yang sangat tinggi. Dinas Kesehatan Tulungagung memperingatkan bahwa sound horeg dapat mencapai intensitas suara hingga 130 desibel jauh melampaui ambang batas toleransi suara yang aman untuk manusia yaitu maksimal 80 desibel bagi orang dewasa dan 70 desibel bagi anak-anak. Paparan suara berlebihan ini berpotensi menyebabkan gangguan serius seperti tinnitus (denging telinga), gangguan tidur, stres, hingga gangguan keseimbangan saraf. </p><p><br/></p><p>Opini saya terkait budaya sound horeg di Tulungagung, meskipun sound horeg dianggap sebagai bagian hiburan dan tradisi lokal, sebenarnya itu sangat merugikan kesehatan masyarakat. Paparan suara berlebihan yang terus-menerus bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga mengancam kesehatan mental dan fisik warga, terutama kelompok rentan seperti bayi, lansia dan penderita penyakit kronis. Oleh karena itu, perlu ada regulasi ketat dan edukasi luas agar masyarakat memahami risiko kesehatan ini dan budaya tersebut jangan terus dipertahankan tanpa ada perubahan signifikan demi melindungi kualitas hidup masyarakat Tulungagung.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526061786/de5040e8497e02b6d128ea2195ebb4a7/IMG_20250722_074251.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 01:33:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624476283</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Alowisya Efelin W Gebze (01.2.24.01063)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624481794</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526067456/330608daca4d6cb168d25c7ff531cb1d/Screenshot_2025_10_09_08_21_37_70_99c04817c0de5652397fc8b56c3b3817.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 01:39:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624481794</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Devinda egasari (01.2.24.01097) </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624482369</link>
         <description><![CDATA[<p>𝘽𝙪𝙙𝙖𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙞 𝙏𝙧𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙚𝙠 𝙩𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩 𝙨𝙖𝙮𝙖:</p><p>Di Trenggalek, ada budaya minum jamu tradisional untuk menyembuhkan sakit, bahkan tanpa tahu aturan pakainya. Banyak orang percaya kalau jamu bisa menyembuhkan semua penyakit, padahal kalau dikonsumsi berlebihan bisa bikin sakit perut atau ganggu kesehatan hati dan ginjal.</p><p><br></p><p>𝙊𝙥𝙞𝙣𝙞 𝙙𝙞𝙧𝙞:</p><p>Menurut saya, budaya ini baik untuk tetap melestarikan tradisi, tapi harus lebih hati-hati. Sebaiknya minum jamu secukupnya dan tetap konsultasi ke dokter jika sakitnya serius, supaya tetap sehat tanpa meninggalkan budaya sendiri.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526003714/42edaa43296c4f7afbf66e2db40a2eb6/MYXJ_20250417134131128_fast.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 01:39:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624482369</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Annisa Nur Izzati (01.2.24.01075) </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624482674</link>
         <description><![CDATA[<p>Budaya : kebiasaan minum kopi manis berlebihan di pagi dan sore hari</p><p><br></p><p>Penjelasannya :</p><p>Di pedesaan tempat tinggal saya terdapat kebiasaan masyarakat berkumpul sambil minum kopi manis setiap pagi dan sore hari. Kopi biasanya diseduh dengan gula yang cukup banyak karena dianggap menambah tenaga saat bekerja di sawah atau berdagang. Namun, kebiasaan ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan risiko diabetes melitus, obesitas, dan gangguan jantung. Selain itu, minum kopi terlalu sering juga bisa menyebabkan gangguan lambung dan gangguan sulit tidur.</p><p><br></p><p>Opini :</p><p>Menurut saya, kebiasaan minum kopi sebenarnya baik untuk mempererat hubungan sosial antar warga, tetapi sebaiknya dilakukan dengan cara yang lebih sehat. Misalnya, menggunakan sedikit gula atau beralih ke pemanis alami, serta tidak mengonsumsi kopi terlalu sering. Dengan begitu, tradisi tetap terjaga, tetapi kesehatan masyarakat juga terlindungi.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526045429/89da9b217fe6686d6b37ac94a41bbfb7/IMG_20250926_WA0033.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 01:40:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624482674</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Diva Henisa Putri Zahera (01.2.24.01102)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624488976</link>
         <description><![CDATA[<p>Budaya di Desa saya yang bertentangan dengan kesehatan yaitu Pemberian Makanan Padat Terlalu Dini pada Bayi</p><p><br></p><p>Di beberapa daerah di Indonesia, termasuk di Desa saya, masih ada kebiasaan memberikan makanan padat seperti pisang, nasi lembek, atau bubur kepada bayi yang belum genap berusia 6 bulan. Kebiasaan ini biasanya dilakukan karena orang tua atau nenek percaya bahwa bayi akan cepat kenyang, cepat tumbuh besar, dan tidak sering menangis. Namun, dari sisi kesehatan, kebiasaan ini tidak sesuai dengan anjuran medis. Menurut Kementerian Kesehatan dan WHO, bayi seharusnya mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, tanpa tambahan makanan atau minuman lain.</p><p><br></p><p>Dampak terhadap kesehatan: Gangguan pencernaan, karena usus bayi belum siap mencerna makanan padat. Risiko infeksi akibat alat makan atau bahan makanan yang tidak steril. Penurunan produksi ASI, karena bayi menjadi jarang menyusu. Masalah gizi, karena makanan yang diberikan belum tentu mengandung zat gizi sesuai kebutuhan bayi.</p><p><br></p><p>Opini:</p><p>Menurut saya, budaya ini perlu perlahan diubah melalui edukasi dan pendekatan yang lembut kepada masyarakat, terutama kepada orang tua atau nenek yang masih memegang kuat kepercayaan lama. Saya memahami bahwa niat mereka sebenarnya baik, ingin anak cepat sehat dan gemuk, tetapi tanpa pengetahuan yang tepat, justru bisa membahayakan kesehatan bayi. Saya berpendapat bahwa kesehatan harus menjadi prioritas utama, dan kita perlu menghargai budaya sambil tetap menyesuaikannya dengan ilmu kesehatan modern agar tidak merugikan generasi berikutnya.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4525998691/b3e281b7161399a63e29365292bf31f7/IMG_20251009_WA0000.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 01:47:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624488976</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Anonci Orni Otu </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624491967</link>
         <description><![CDATA[<p>Salah satu budaya di daerah Nusa Tenggara Timur (termasuk Soe) yang berpotensi bertentangan dengan kesehatan adalah Tradisi Sei, yaitu menghangatkan ibu dan bayi dengan bara api selama 40 hari setelah melahirkan. Tradisi ini menciptakan kualitas udara yang buruk dalam rumah, dengan kadar debu dan gas berbahaya yang melebihi batas aman, sehingga berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan pada ibu dan bayi.</p><p><br></p><p>Opini:</p><p> Menurut saya:Tradisi Sei merupakan contoh paradoks antara nilai-nilai budaya dan kesehatan masyarakat. Di satu sisi, masyarakat setempat meyakini bahwa tradisi ini bermanfaat untuk mempercepat pemulihan kesehatan ibu pasca melahirkan dan membuat bayi lebih kuat.</p><p>Namun, di sisi lain, praktik ini justru dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius. </p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526108770/9ea652be12b1fe09f0b7e1f4380e0bdc/1754310241379.png" />
         <pubDate>2025-10-09 01:50:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624491967</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Afeman Amanu (01.2.24.01059) </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624498235</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Menggunakan ritual atau upacara untuk mengobati penyakit. </strong></p><p>Beberapa masyarakat mungkin masih mempercayai bahwa penyakit dapat disembuhkan melalui ritual atau upacara tertentu, bukan dengan mencari pengobatan medis yang tepat.</p><p><strong><em>Opini:</em></strong></p><p><em>Penting untuk menyeimbangkan tradisi dengan pengetahuan medis yang tepat, agar kita bisa menjaga kesehatan dengan lebih baik.</em></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526086320/6eaaf659f804886d1818b4365847e35a/IMG_20250724_112056.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 01:56:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624498235</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama:Delvianainnabole(01.2.24.01091) </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624498872</link>
         <description><![CDATA[<p>Budaya Sumba: Tradisi "Tari Caci" yang Melibatkan Kekerasan Fisik</p><p><br></p><p><strong>Penjelasan</strong>:</p><p><br></p><p>Walaupun Tari Caci lebih dikenal dari daerah Manggarai di Flores, di beberapa bagian Sumba, ada bentuk tarian atau pertarungan ritual serupa yang melibatkan adu cambuk antara dua pria. Tarian ini dilakukan saat upacara adat atau perayaan tertentu, seperti panen raya atau pernikahan adat.</p><p>Para peserta saling mencambuk tubuh satu sama lain sebagai bentuk adu kekuatan, keberanian,dan pengorbanan. Kadang, yang menang justru adalah yang mampu menahan rasa sakit tanpa mengeluh.</p><p><br></p><p><strong>Masalah Kesehatan yang Timbul</strong>:</p><p><br></p><p>Meskipun dianggap sakral dan penuh makna, tradisi ini memiliki risiko kesehatan yang serius, seperti:</p><p>Luka robek pada kulit,Infeksi karena luka terbuka tidak langsung ditangani secara medis, bahkan Pendarahan, memar, hingga trauma fisik Potensi penyebaran penyakit bila alat (cambuk) digunakan bergantian tanpa di bersihkan.  Karena budaya ini sering dilakukan tanpa pengawasan medis, luka-luka bisa menimbulkan komplikasi serius, terutama jika terjadi di daerah yang sulit dijangkau layanan kesehatan.</p><p><br></p><p><strong>Opini Pribadi saya :</strong></p><p>Saya mengakui bahwa pertarungan ritual seperti ini adalah bagian dari identitas budaya yang kuat. Tapi dari sisi kesehatan, harus ada batasan dan pengawasan. Jika budaya ini tetap ingin dilestarikan, mungkin bisa dilakukan:</p><p>Dengan pengamanan medis di lokasi</p><p>Mengurangi kekerasan fisik (simbolik saja) Menggunakan alat atau pelindung agar tidak menyebabkan cedera serius</p><p>Tradisi bisa tetap hidup tanpa membahayakan keselamatan pesertanya.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526091139/39e5bf7c8bc7c4a4a08470a4669b303d/IMG_20251004_WA0071.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 01:56:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624498872</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Annalia Kahi Tuda Meha (01.2.24.01074)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624502915</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Budaya : </strong>Di daerah saya ada budaya ibu yang baru melahirkan di larang mandi selama beberapa hari. Masyarakat percaya bahwa ibu yang baru melahirkan tubuh mereka masih lemah dan terbuka, jika terkena air terutama air dingin maka akan mudah masuk angin, sakit kepala bahkan bisa bisa menyebabkan kematian. Padahal kalau dilihat dari sisi kesehatan dapat menyebabkan risiko infeksi meningkat, menghambat pemulihan, dan membahayakan kesehatan bayi karena kontak kulit ibu yang tidak bersih bisa menularkan kuman.</p><p><br/></p><p><strong>Opini : </strong>Menurut saya, budaya larangan mandi bagi ibu nifas ini muncul dari niat baik untuk melindungi ibu setelah melahirkan, tetapi karena tidak didasari oleh pengetahuan medis, praktik ini justru meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Sebagai generasi muda, kita tidak harus meninggalkan adat, tetapi perlu meluruskan dan menyesuaikannya dengan pengetahuan kesehatan modern. Tradisi dan kesehatan bisa berjalan berdampingan bila ada komunikasi yang baik antara masyarakat, tokoh adat, dan tenaga kesehatan. Mandi dengan air hangat, menjaga kebersihan tubuh, dan merawat luka dengan benar bukanlah bentuk melawan adat, melainkan upaya melindungi ibu dan bayi agar tetap sehat.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526062875/0e859e43697b954794335c8b395d72a4/IMG_20250817_WA0106.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:00:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624502915</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bernadita Deinda Friwih Mone 01.2.24.01082</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624503412</link>
         <description><![CDATA[<p>Salah satu buda yang ada di sumba NTT yang bertentangan dengan kesehatan adalah (Tradisi Adat Kawin Mawin), karena sebagian besar prinsip yang dipegang oleh masyarakat sumba adalah "harga diri dalam Budaya lebih penting, soal makan dengan garam tidak jadi masalah" istilah lainnya adalah "cari nama". Artinya, mereka mengesampingkan kebutuhan gizi . Dimana anak anak yang menerima dampakanya seperti stunting masalah kesehatan lainnya. </p><p><br/></p><p><br/></p><p>Opini : Tradisi "cari nama" di Sumba, NTT, yang mengutamakan harga diri dan status sosial, dapat menyebabkan anak-anak kurang mendapatkan gizi yang cukup, sehingga meningkatkan risiko stunting dan masalah kesehatan lainnya . Upaya untuk mengatasi masalah ini termasuk pendidikan dan kesadaran masyarakat, pengembangan ekonomi, serta kerja sama dengan pemerintah dan organisasi untuk mendukung kesehatan dan gizi anak-anak. </p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526140324/2a890da6a00d465cfacb841f7778a856/Screenshot_20250307_105144.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:01:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624503412</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dessy Ayu Rahmawati (01.2.24.01092)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624503822</link>
         <description><![CDATA[<p>Tradisi Mengambil Air dari Sumber Air </p><p><br/></p><p>Di daerah Caruban, sebagian masyarakat masih mempertahankan mengambil air dari sumber mata air atau di sendang untuk kebutuhan sehari-hari seperti diminum secara langsung. Tradisi ini sering dianggap memiliki nilai spiritual dan dipercaya membawa berkah, terutama jika airnya digunakan dalam acara adat seperti bersih desa.</p><p>dari sudut pandang kesehatan, kebiasaan ini kurang higienis karena sumber air sering kali tidak terlindungi dari kotoran, limbah, atau hewan. Hal ini bisa menimbulkan penyakit seperti diare, gatal-gatal, atau infeksi kulit akibat air yang terkontaminasi.</p><p><br/></p><p>opini:</p><p>Menurut saya tradisi mengambil air dari sumber tetap memiliki nilai budaya dan filosofi positif, yaitu rasa syukur terhadap sumber kehidupan. Tapi masyarakat perlu beradaptasi dengan pola hidup sehat tanpa meninggalkan budaya tersebut. misalnya, dengan menjaga kebersihan sumber air, menggunakan wadah yang bersih, atau memastikan air dimasak sebelum dikonsumsi. dengan begitu budaya tetap dilestarikan dan kesehatan masyarakat juga tetap terjaga.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526131381/b205f273273082b4bda1121349462d7e/IMG_20250306_WA0032.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:01:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624503822</guid>
      </item>
      <item>
         <title>CHALSA AUTHITHA LAURIEN ASMORO(01.2.24.01084)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624507515</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Budaya yang bertentangan dengan kesehatan:</strong></p><p>di lingkungan rumah saya masih banyak orang yang melakukan Kerokan.</p><p>kerokan adalah cara cepat, murah, dan manjur untuk mengatasi kondisi tidak nyaman yang disebut "masuk angin" (ditandai dengan pusing, pegal, dan kembung). Warga setempat percaya bahwa kerokan, yang dilakukan dengan menggosokkan benda tumpul dan minyak pada kulit hingga timbul ruam merah, berfungsi untuk "mengeluarkan angin" jahat yang terperangkap di dalam tubuh.</p><p>tapi, Walaupun kerokan bisa memberikan rasa nyaman dan hangat, secara medis kerokan dapat menyebabkan pecahnya pembuluh kapiler di bawah kulit. Hal ini memang memicu pelepasan zat kimia yang meredakan nyeri, tetapi tidak menghilangkan penyebab sakit dan bisa membuat kulit iritasi atau berisiko infeksi jika alatnya tidak steril.</p><p>opini saya:</p><p>Karena kerokan melukai kulit, praktik ini sebaiknya hanya dilakukan untuk keluhan ringan dan tidak boleh dijadikan alasan untuk menunda pemeriksaan ke dokter jika gejala sakitnya parah atau berkelanjutan.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526071346/ab850878ed0573e2e158f757e58511de/IMG_3214.jpeg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:05:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624507515</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Devian Amelia Putri Baptista (01.24.01094)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624507582</link>
         <description><![CDATA[<p>“Kebiasaan Ngopi dan Merokok di Warung”</p><p>Di Tuban, terutama di pedesaan, terdapat budaya berkumpul di warung sambil ngopi dan merokok. Kegiatan ini sering disebut “cangkrukan” atau “ngopi bareng”. Biasanya dilakukan oleh para pria, baik pagi maupun malam hari, sambil berbincang tentang pekerjaan, politik, atau hal-hal sehari-hari. Budaya ini sudah menjadi kebiasaan sosial yang dianggap mempererat hubungan antarwarga.</p><p>Meskipun terlihat positif dari sisi sosial, budaya ini bertentangan dengan prinsip kesehatan, karena merokok dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker paru, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan.</p><p>Ngopi berlebihan terutama kopi dengan gula tinggi bisa meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, gangguan lambung, dan diabetes.</p><p>Menurut saya, budaya ngopi dan merokok di Tuban ini sebaiknya tidak dihilangkan sepenuhnya, karena ada nilai positif berupa kebersamaan dan silaturahmi. Namun, perlu diarahkan menjadi lebih sehat, misalnya dengan mengurangi rokok, mengganti minuman manis dengan air putih atau kopi tanpa gula, serta membatasi waktu berkumpul agar tidak mengganggu kesehatan.</p><p>Pemerintah daerah dan tenaga kesehatan juga bisa berperan dengan memberikan edukasi bahwa silaturahmi tetap bisa dilakukan tanpa merokok. Dengan begitu, nilai kebersamaan tetap terjaga, tapi kesehatan masyarakat juga terlindungi.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526153221/cd1770c757d704a245da0a2cba9f143e/ttn_image_2024_07_01_132810717.png" />
         <pubDate>2025-10-09 02:05:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624507582</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dewy Ayu Sahanaya (01.2.24.01098)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624507936</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Budaya yang bertentangan dengan kesehatan:</strong></p><p>Dilingkungan rumah saya banyak orang tua meyakini bahwa bayi harus dipakaikan gurita agar perutnya kencang dan badannya lurus. Gurita yang dililit erat di perut dan dada bayi ternyata dapat membahayakan kesehatan, seperti kesulitan bernapas, gangguan pencernaan, iritasi kulit, dan perkembangan otot yang terganggu. Meski tradisi bermaksud baik, kesehatan dan kenyamanan bayi lebih penting daripada mitos lama, dan pakaian longgar yang memungkinkan bayi bergerak bebas jauh lebih</p><p><br></p><p> <strong>Opini Saya:</strong></p><p><br></p><p>Menurut saya, kebiasaan memakai gurita pada bayi adalah salah satu contoh bagaimana tradisi lama bisa bertentangan dengan kesehatan modern. Meskipun niat orang tua dulu baik, yaitu ingin melindungi bayi, cara ini justru bisa membahayakan. Anak sebaiknya dibiarkan bergerak bebas dan diberikan pakaian yang nyaman, sehingga perkembangan fisik dan pernapasannya tidak terganggu. Tradisi boleh dihargai, tapi kesehatan bayi harus selalu menjadi prioritas utama.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526085128/1255a5d4c44020adb8f750f3ae0f7999/IMG_20250801_WA0075.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:05:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624507936</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ANGELITA ANANDA DESWITA (01.2.24.01072)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624511704</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Budaya di tempat asal yang bertentangan dengan kesehata</strong>n: Di tempat asal saya masih terdapat kebiasaan anak muda dan sebagian orang dewasa mengonsumsi minuman beralkohol ketika berkumpul atau merayakan acara tertentu, seperti pesta ulang tahun, hajatan, ronda malam, panen, atau malam tahun baru. Mereka menganggap minum alkohol bersama dapat mempererat kebersamaan dan menunjukkan rasa solidaritas.</p><p><br></p><p><strong>Mengapa kebiasaan ini bertentangan dengan kesehatan?</strong>: Kebiasaan mengonsumsi alkohol bertentangan dengan kesehatan karena alkohol memiliki dampak negatif terhadap tubuh dan pikiran. Konsumsi alkohol berlebihan dapat menyebabkan kerusakan hati (seperti sirosis), gangguan jantung, gangguan pencernaan, menurunkan daya tahan tubuh, dan meningkatkan risiko kecelakaan akibat kehilangan kendali diri. Selain itu, alkohol juga dapat menyebabkan ketergantungan (adiksi) yang berdampak buruk pada hubungan sosial dan ekonomi seseorang.</p><p>Dalam jangka panjang, alkohol dapat memengaruhi fungsi otak, menurunkan konsentrasi, serta memperburuk kesehatan mental, misalnya menimbulkan kecemasan atau depresi.</p><p><br></p><p><strong>Opini saya</strong>: Menurut saya, kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol perlu dikurangi dan perlahan dihilangkan karena lebih banyak membawa dampak negatif daripada manfaatnya. Bersosialisasi dan menjalin kebersamaan seharusnya tidak harus disertai dengan minuman beralkohol. Sebagai generasi muda, saya berpendapat bahwa kita harus menjadi contoh positif dengan menolak ajakan minum alkohol dan mendorong teman sebaya untuk mencari kegiatan yang lebih sehat, seperti berolahraga bersama atau mengadakan acara tanpa alkohol. Masyarakat juga perlu diberi penyuluhan tentang dampak jangka panjang alkohol agar lebih sadar dan bijak dalam menjaga kesehatannya.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526089577/39cc743bdc5aa9f9b6b0bf9ca08f1c42/quality_restoration_20250329180001295.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:07:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624511704</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aya Dwi Ani (01.2.24.01080</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624513296</link>
         <description><![CDATA[<p>Budaya: </p><p>Mandi di Sungai Secara Bersama-sama</p><p><br></p><p>Penjelasan:</p><p>Di desa saya tepatnya di Kanigoro, masih terdapat kebiasaan masyarakat untuk mandi di sungai dan ada beberapa oknum yang biasanya buang air di sungai yang sama. Mandi di sungai yang dilakukan oleh anak anak ini dikarena sudah turun-temurun dan dianggap sebagai kegiatan sosial yang mempererat hubungan pertemanan. Namun, kebiasaan ini bertentangan dengan prinsip kesehatan dan kebersihan lingkungan, karena sungai bisa menjadi tempat berkembang biaknya kuman, bakteri, maupun parasit. Selain itu, air sungai dapat terkontaminasi oleh limbah rumah tangga atau kotoran hewan.</p><p><br></p><p>Dampak terhadap kesehatan:</p><p>Menyebabkan penyakit kulit seperti gatal-gatal, kudis, dan infeksi jamur.</p><p>Meningkatkan risiko diare, disentri, dan penyakit akibat air tercemar.</p><p>Mencemari sumber air bersih di sekitar lingkungan.</p><p><br></p><p>Opini pribadi:</p><p>Menurut saya, kebiasaan ini sebaiknya mulai ditinggalkan dan diganti dengan kebiasaan mandi menggunakan air bersih di rumah. Pemerintah juga perlu menghimbau masyarakat agar tidak lagi melakukan mandi sungai dan buang air besar di sungai serta mengedukasi kesehatan lingkungan agar masyarakat memahami pentingnya kebersihan air untuk kesehatan tubuh.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526172639/22b56edc789b5a79a4d2f411f87f2963/IMG_20251009_090549.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:08:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624513296</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Elsa Lerviana Prasetyo     01.2.24.01107 (49)                  </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624515229</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Salah satu budaya di Indonesia yang bertentangan dengan kesehatan khususnya lebih banyak dijumpai di Kota Kediri, Desa Campurejo yaitu </strong></p><p>tradisi "kerokan" untuk mengatasi masuk angin. Kerokan adalah kebiasaan menggosok kulit dengan benda tumpul hingga memerah dengan tujuan mengeluarkan angin dari dalam tubuh. Namun, secara ilmiah kerokan tidak mengeluarkan angin dari tubuh, melainkan justru menyebabkan pecahnya pembuluh kapiler di kulit sehingga menimbulkan warna merah dan rasa nyeri. Meskipun sebagian orang merasa lebih baik setelah kerokan, itu karena rasa sakit akibat masuk angin digantikan oleh rasa sakit yang baru akibat kerokan, sehingga kesan sembuh hanya bersifat sementara dan tidak ilmiah.</p><p><br></p><p><strong>Dampak bagi kesehatan :</strong></p><p>Budaya ini juga berpotensi menimbulkan iritasi kulit dan bahkan infeksi jika tidak dilakukan dengan higienis. Oleh karena itu, kerokan sebagai solusi medis untuk masuk angin sebenarnya bertentangan dengan prinsip kesehatan yang tepat dan sebaiknya digantikan dengan penanganan yang sesuai secara medis.</p><p><br></p><p><strong>Opini saya :</strong></p><p>menurut saya kerokan sudah menjadi tradisi turun-temurun dan dianggap efektif oleh banyak masyarakat, tetapi secara medis kerokan belum terbukti menyembuhkan dan berisiko menimbulkan luka serta infeksi jika tidak tepat. Sebaiknya, masyarakat mulai diarahkan untuk memilih pengobatan yang lebih aman dan berbasis ilmu kesehatan modern, seperti pijat atau istirahat yang cukup, agar tetap menjaga kesehatan tanpa risiko tambahan. Dengan pendekatan yang bijak dan edukasi berkelanjutan, budaya yang sudah ada bisa disesuaikan agar tetap menghormati tradisi sekaligus melindungi keselamatan dan kesehatan masyarakat.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526127918/490dc9a7cadc7ea00bc57f198d96c260/IMG_20250926_WA0042.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:10:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624515229</guid>
      </item>
      <item>
         <title> Elsa Dwika Desi Rahmayanti            01.2.24.01106 (48)                              </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624515290</link>
         <description><![CDATA[<p>Di Kabupaten Kediri, terdapat tradisi turun-temurun di sebagian masyarakat yang masih mandi di Bendungan Gerak Waru Turi. Tradisi ini sudah dilakukan sejak lama dan dianggap sebagai kebiasaan turun-temurun untuk membersihkan diri atau sekadar menyegarkan badan. Namun, kebiasaan ini sebenarnya bertentangan dengan kesehatan karena air bendungan sudah tercemar limbah rumah tangga dan industri, serta dipenuhi enceng gondok dan sampah. </p><p><strong>Dampak Bagi Kesehatan: </strong>Kondisi tersebut dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti infeksi kulit, gangguan pencernaan, dan iritasi mata. Selain itu, arus air yang deras juga berisiko menimbulkan kecelakaan atau tenggelam.</p><p><strong>Opini: </strong>Menurut saya, tradisi mandi di Bendungan Gerak Waru Turi sebaiknya dihentikan karena airnya sudah tercemar dan berisiko menyebabkan penyakit kulit, pencernaan, serta bahaya tenggelam. Meskipun merupakan tradisi turun-temurun, kesehatan dan keselamatan harus lebih diutamakan, dan masyarakat perlu beralih ke kebiasaan yang lebih bersih dan aman.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526120028/996f1187a9512b7bbff76840be9a50e9/IMG_20250328_WA0106.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:10:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624515290</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ardelani Amiman (01.2.24.01078)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624515346</link>
         <description><![CDATA[<p>Salah satu Budaya yang bertentangan dengan kesehatan yang ada di tempat tinggal saya yaitu bagian <strong>Sulawesi Utara (Manado-Minahasa)</strong> adalah <strong>tradisi mengonsumsi anjing (RW). </strong>Bagi masyarakat Indonesia, mengonsumsi daging anjing bukanlah hal yang wajar. Namun di Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, hidangan daging anjing adalah hal yang biasa. di Daerah saya memang dikenal memiliki tradisi kuliner unik berbahan daging, yang olahannya disebut RW.</p><p>Daging anjing tidak termasuk dalam definisi pangan dan juga dengan mengonsumsi daging anjing justru sangat berisiko penularan zoonosis, yaitu penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Menurut Herzalia Maya [2020], menjelaskan bahwa konsumsi anjing memiliki dampak negatif, di antaranya adalah kesehatan dan psikologis anak. Untuk kesehatan disebutkan bahwa anjing menjadi penular utama penyakit rabies di Indonesia, yakni sebesar 98% serta 2% berasal dari kucing dan monyet. Selain itu, mengonsumsi daging anjing juga menyebabkan penyakit hipertensi, gangguan saluran pencernaan, juga menimbulkan penyakit kolera. Hari Suroto, Peneliti Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN, mengatakan bahwa mengonsumsi daging anjing merupakan hal yang biasa dan sudah dilakukan sejak leluhur mereka. Kuliner daging anjing sudah menjadi bagian dalam tradisi Minahasa. Umumnya, anjing yang dikonsumsi adalah anjing peliharaan bukan anjing liar.</p><p><br></p><p><strong><em>Opini:</em></strong></p><p>Menurut saya,</p><p>budaya mengonsumsi anjing (RW) bisa tetap dilestarikan sebagai bagian dari tradisi dan kebersamaan, asalkan dilakukan dengan bijak dan tidak berlebihan. Pemerintah dan tenaga kesehatan sebaiknya memberikan edukasi agar masyarakat memahami dampak buruk Mengonsumsi anjing (RW) yang berlebihan.</p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526165815/572c152c8178de9cb34c0015c88ac017/IMG_20250810_WA0043.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:10:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624515346</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ANGELICA KURNIA AYU SOLI NGARA (01.2.24.01071)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624515433</link>
         <description><![CDATA[<p>Kebudayaan masyarakat yang menganggap merokok ditempat umum seperti warung, acara hajatan, lingkungan rumah, dan bahkan didekat orang-orang lain, yang bukan perokok dan kelompok yang tidak boleh menghirup asap rokok, seperti bayi, balita, anak-anak, dan ibu hamil. Dan merokok ini di anggap sebagai bagian dari pergaulan atau sopan santun sosial — misalnya, menawarkan rokok sebagai tanda keakraban.</p><p><br></p><p><strong>Opini Saya:</strong></p><p>Bahaya bagi perokok adalah, orang yang secara langsung mengisap rokok akan terpapar lebih dari 7.000 zat kimia beracun, termasuk nikotin, tar, dan karbon monoksida. Sehingga menyebabkan penyakit serius seperti kanker paru, serangan jantung dan lain-lain. Sedangkan bagi perokok pasif, asap ini bahkan lebih berbahaya karena mengandung konsentrasi zat beracun yang lebih tinggi, dan dapat menyebabkan berbagai penyakit berbahaya.</p><p><br></p><p>Oleh karena itu merokok ditempat umum merupakan kebudayaan yang harus dirubah oleh masyarakat umum, atau sebagai bahan topik pendidikan kesehatan, karena doktrin atau pola pikir masyarakat yang sudah menganggap hal ini hal wajar sulit untuk dihilangkan. Banyak dari mereka sulit untuk diedukasi dan berperilaku lebih sehat, tidak hanya untuk orang-orang disekitar mereka, atau keluarga terkasih mereka yang terdampak, tetapi juga untuk diri mereka sendiri.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526071617/b563ab81b7e87a0223c6c69cfda25a89/IMG_20250731_WA0291.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:10:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624515433</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Diandra Ramadhiany Savitri (01.2.24.01100) </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624516105</link>
         <description><![CDATA[<p>Budaya: “Ngalumbur” – Tradisi Menginap di Sawah Saat Panen untuk Bayi yang Sering Sakit</p><p><br></p><p><strong>Deskripsi Budaya</strong></p><p>Di beberapa daerah pedesaan Bogor bagian barat, seperti Leuwiliang dan Pamijahan, masih dikenal tradisi “ngalumbur”, yaitu membawa bayi atau anak kecil yang sering sakit untuk menghabiskan malam di gubuk sawah selama masa panen.</p><p>Masyarakat percaya bahwa cara ini dapat “membersihkan” anak dari gangguan makhluk halus, “menyamakan hawa tubuh dengan alam”, dan membuat anak lebih sehat serta kuat. Tradisi ini dilakukan secara turun-temurun oleh sebagian keluarga petani dan masih dianggap bentuk kasih sayang serta doa bagi anak.</p><p><br></p><p><strong>Pertentangan dengan Kesehatan</strong></p><p>Tradisi ini bertentangan dengan prinsip kesehatan modern, karena bayi dibawa ke lingkungan sawah yang terbuka, dingin, dan penuh risiko gigitan serangga.</p><p>Kondisi tersebut dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan (ISPA), gigitan nyamuk (DBD atau malaria), serta iritasi kulit akibat lumpur dan debu.</p><p>Selain itu, bayi yang masih menyusu rentan kelelahan karena jam istirahat terganggu dan kondisi tidur di alam terbuka tidak higienis.</p><p>Puskesmas Leuwiliang (2022) pernah mencatat kasus bayi usia 8 bulan yang mengalami ISPA dan ruam kulit setelah menjalani tradisi ini bersama ibunya selama dua malam.</p><p><br></p><p><strong>Opini Pribadi</strong></p><p>Menurut saya, tradisi ngalumbur memang memiliki nilai budaya dan spiritual yang tinggi, karena menunjukkan rasa cinta orang tua terhadap anak dan keyakinan kuat pada kekuatan alam.</p><p>Namun, dalam konteks kesehatan modern, praktik ini sebaiknya tidak dilakukan dengan cara yang berisiko bagi keselamatan bayi.</p><p>Budaya seperti ini bisa tetap dilestarikan tanpa harus menempatkan bayi di lingkungan berbahaya, misalnya cukup dilakukan secara simbolis di rumah dengan doa atau selamatan kecil.</p><p>Dengan cara itu, nilai budaya tetap terjaga, tapi kesehatan anak juga terlindungi sesuai prinsip keperawatan dan kesehatan masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526174074/9dff2c79c6aa74a1333484eb7fb04a85/IMG_20251009_WA0009.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:10:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624516105</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ahmad Zururi (01.2.24.01061)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624516272</link>
         <description><![CDATA[<p>Budaya:Praktik sunat atau khitan yang di lakukan di luar tenaga medis</p><p>Penjelasan:Di daerah desa masih bayak ditemukan praktik sunat atau khitan yang di lakukan diluar tenaga medis,terutama di lingkungan pedesaan atau sekelompok masyarakat yang masih menjaga tradisi,suant ini dilakukan oleh dukun sunat atau orang yang dianggap ahli secara tradisional,bukan oleh dokter atau tenaga kesehatan yang mempunyai kopetensi </p><p>Mengapa bertentangan dengan kesehatan:Praktik ,sunat yang dilakukan oleh dukun sunat atau tenaga kesehatan yang tidak mempunyai kopetensi sangat bertentangan dengan kesehatan karna dapat menimbulkan infeksi dikarenakan alat yang yang kurang steril dan kurangnya penangan kompilkasi di sini si artikan masalah saat atau Setelah sunat ,pembengkakan,nyei hebat,atau infeksi </p><p>Opini saya:Opini saya tentang praktik khitan/subat ini harus di lihat dari dua sisi dari sisi budaya dan sisi kesehatan ,dari sisi budaya banyak masyakat yang masih mempercaya apabila sunat di lakukan di dukun lebih cepat sembuh dan biaya yang dikeluarkan lebih relative sedikit di bandingkan di tenagan kesehtan yang memiliki kopentesi dari sesi kesehatan dapat terjadinya infeksin bahkan hal yang tidak di inginkan.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526079440/8004538cd331c8b3d7d512e1790b3e67/foto_ahmad.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:11:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624516272</guid>
      </item>
      <item>
         <title> Dian Maya Putri Ningrum  (01.2.24.01099/42)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624517314</link>
         <description><![CDATA[<p>Budaya Desa Sukorame, Kediri terdapat pantangan untuk tidak memakan pantat ayam atau"brutu." Masyarakat percaya bahwa makan pantat ayam dapat membuat seseorang menjadi bodoh, mudah lupa, atau pikun, terutama pada anak-anak. Mitos ini sebenarnya merupakan bagian dari kearifan lokal yang digunakan untuk mengatur perilaku makan dan menjaga agar anak-anak tidak mengambil bagian ayam yang dianggap lezat agar bisa dinikmati oleh orang tua. Namun, dari segi kesehatan, pantat ayam justru mengandung nutrisi penting seperti zat besi, kalsium, vitamin B, dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Meski memang bagian ini juga mengandung lemak jenuh dan kolesterol yang perlu dikonsumsi dengan proporsi seimbang, larangan ini tidak didasarkan pada bukti ilmiah yang kuat.</p><p><br></p><p>Dampak: </p><p>1. Mitos yang menimbulkan ketakutan, kepercayaan bahwa makan pantat ayam bisa membuat bodoh atau pikun menimbulkan rasa takut yang tidak berdasar sehingga menghambat pola makan sehat dan seimbang secara rasional.</p><p><br></p><p>2. Konflik antara budaya dan sains, </p><p>mitos yang kuat ini dapat menjadi resistensi terhadap edukasi kesehatan modern yang mengajarkan pentingnya konsumsi makanan bergizi secara seimbang.</p><p><br></p><p>3. Pengaruh terhadap pola makan</p><p>Budaya ini dapat membatasi variasi makanan yang dikonsumsi, yang berpotensi menimbulkan pola makan kurang bergizi jika tidak diimbangi dengan sumber nutrisi lain yang cukup.</p><p><br></p><p>Opini: </p><p>Pantangan makan pantat ayam yang dipercaya membawa efek negatif pada kecerdasan adalah mitos budaya yang belum didukung oleh ilmu kesehatan modern. Sebaiknya masyarakat diberi edukasi bahwa konsumsi pantat ayam dalam jumlah wajar dapat memberikan manfaat nutrisi, dan mitos tersebut dapat dijadikan sebagai nilai budaya tanpa harus mengorbankan aspek kesehatan dan nutrisi individu. Edukasi ini penting agar masyarakat tidak terjebak pada ketakutan yang tidak berdasar dan tetap menjaga pola makan seimbang serta sehat n dari kearifan lokal yang digunakan untuk mengatur perilaku makan dan menjaga agar anak-anak tidak mengambil bagian ayam yang dianggap lezat agar bisa dinikmati oleh orang tua. Namun, dari segi kesehatan, pantat ayam justru mengandung nutrisi penting seperti zat besi, kalsium, vitamin B, dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Meski memang bagian ini juga mengandung lemak jenuh dan kolesterol yang perlu dikonsumsi dengan proporsi seimbang, larangan ini tidak didasarkan pada bukti ilmiah yang kuat.</p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526034616/c8ec20c311e11fd6da2f6ef5917e16a9/IMG_20250928_WA0046.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:12:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624517314</guid>
      </item>
      <item>
         <title>CHIESA RAFIARDO ( 01.2.24.01085 )</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624517640</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Salah satu budaya di Tulungagung adalah Tradisi tiban</strong> yaitu ritual adu cambuk yang bertujuan meminta hujan. Meski dianggap sebagai simbol pengorbanan dan permohonan kepada yang maha kuasa, ritual ini melibatkan kontak fisik langsung dan penggunaan lidi aren yang dapat menyebabkan cedera fisik, penyebaran penyakit, dan kekerasan.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><strong><em>Opini :</em></strong></p><p>menurut saya, ritual ini memiliki nilai dan budaya yang kuat, terutama sebagai bentuk permohonan hujan di masa lampau. Nilai-nilai seperti pengorbanan, kerelaan, dan persatuan yang terkandung di dalamnya patut dihormati sebagai bagian dari kearifan lokal. Bagi sebagian masyarakat, tradisi tiban mungkin bukan sekadar adu cambuk, melainkan persembahan tulus kepada alam dan sang pencipta. Melestarikan budaya harus dilakukan dengan cara yang tidak mengorbankan keselamatan dan kesehatan. Bagi saya mungkin diperlukan pendekatan baru, seperti penggantian ritual fisik dengan simbolisme yang tidak membahayakan, untuk menjaga nilai tradisi tetap hidup tanpa menimbulkan risiko kesehatan medis.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526138505/463eff28811561097df08203ca488ad5/1000234842.png" />
         <pubDate>2025-10-09 02:12:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624517640</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Anaci Rassi </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624518510</link>
         <description><![CDATA[<p>Salah satu budaya di daerah Amarasi, Nusa Tenggara Timur, yang dapat bertentangan dengan kesehatan adalah kepercayaan akan pengobatan tradisional yang tidak terverifikasi secara medis, yang sering kali menggantikan atau menghambat akses terhadap pengobatan medis modern yang terbukti. Kepercayaan ini bisa mencakup penggunaan ramuan atau ritual yang tidak terbukti secara ilmiah dapat menyembuhkan penyakit tertentu, atau justru membuat pasien menunda mencari bantuan medis hingga penyakitnya bertambah parah.</p><p><br></p><p><br></p><p><strong>Opini: </strong></p><p>Saya mengetahui bahwa tradisional bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Namun penting untuk diakui bahwa tidak semua praktik tradisional tidak sejalan dengan kesehatan modern. Secara medis dapat menimbulkan risiko serius bagi kesehatan masyarakat</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526138743/a80f953c7debb396f09eb6546a4c547b/IMG_20241105_WA0015.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:13:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624518510</guid>
      </item>
      <item>
         <title>A.G Wisnu Wardhani Saputra (01.2.24.01057)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624520988</link>
         <description><![CDATA[<p>Budaya pengobatan korban gigitan ular dengan membawanya ke dukun merupakan praktik tradisional yang masih ada di beberapa daerah, termasuk daerah-daerah di Indonesia seperti Kediri. Dalam budaya ini, dukun dianggap memiliki kemampuan untuk mengeluarkan racun ular dengan cara-cara tradisional seperti menyayat atau menggores luka gigitan, mengisap racun dengan mulut, memijat area yang terkena, serta menggunakan ramuan herbal atau mantra-mantra sebagai bentuk penyembuhan. Masyarakat masih percaya bahwa dukun memiliki kekuatan khusus untuk mengatasi racun ular yang tidak bisa dilakukan oleh pengobatan medis biasa.</p><p>Namun, budaya ini bertentangan dengan prinsip kesehatan modern dan berisiko membahayakan korban. Penanganan tradisional seperti mengisap racun, menyayat luka, atau memijat bisa menyebabkan infeksi, perdarahan, dan mempercepat penyebaran racun dalam tubuh. Cara yang benar adalah segera membawa korban ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan serum antivenom dan perawatan medis profesional yang tepat.</p><p><br/></p><p>Opini: Budaya membawa korban gigitan ular ke dukun perlu diubah dengan edukasi kesehatan yang kuat kepada masyarakat. Pengobatan medis modern adalah satu-satunya cara efektif untuk menyelamatkan korban gigitan ular berbisa. Penggunaan metode tradisional justru dapat menunda penanganan yang tepat dan membahayakan nyawa. Oleh sebab itu, perpaduan antara pelestarian budaya dan pemahaman kesehatan modern harus ditekankan agar tidak merugikan kesehatan masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526088788/54c1a8bbcacfa8cdd8907b54354f7e0a/IMG_20250307_WA0078_1_.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:15:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624520988</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Desi yelinda letelay (Nim 01.2.24.01093)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624523772</link>
         <description><![CDATA[<p>Budaya dukun memang masih banyak ditemukan di Maluku, terutama dalam konteks pengobatan tradisional. Beberapa masyarakat masih mempercayai dukun sebagai pilihan pertama ketika sakit, terutama untuk penyakit yang tidak dapat dijelaskan secara medis. Namun, hal ini dapat berdampak negatif jika pengobatan yang diberikan tidak tepat atau bahkan berbahaya.</p><p><br/></p><p>Opini saya tentang budaya dukun di Maluku adalah bahwa penting untuk memahami konteks budaya dan kepercayaan masyarakat setempat. Meskipun dukun dapat memiliki peran penting dalam masyarakat, penting juga untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pengobatan medis yang aman dan efektif.</p><p>*Pendekatan yang Seimbang*</p><p>- Mengakui peran dukun dalam masyarakat dan budaya setempat</p><p>- Meningkatkan edukasi kesehatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pengobatan medis yang aman dan efektif</p><p>- Mendorong kolaborasi antara dukun dan tenaga medis untuk meningkatkan kesehatan masyarakat</p><p><br/></p><p>Dengan demikian, kita dapat meningkatkan kesehatan masyarakat sambil tetap menghormati budaya dan kepercayaan setempat.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526150569/979059e2839af316029c7bbdafb67690/IMG_20251009_091551.png" />
         <pubDate>2025-10-09 02:18:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624523772</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Christina Margareta Effendi (01.2.24.01087)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624527818</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Budaya di Kabupaten Nganjuk yang Berpotensi Bertentangan dengan Kesehatan</strong></p><p><strong>Tradisi "Gebrak Bayi" (Mengagetkan Bayi dengan Sengaja)</strong></p><p><br></p><p>Tradisi "Gebrak Bayi" adalah praktik di mana bayi yang baru lahir, seringkali saat berusia beberapa hari atau minggu, sengaja dikagetkan oleh orang dewasa (biasanya oleh nenek atau dukun bayi). Cara mengagetkannya bisa beragam, yang paling umum adalah:</p><p>1. Memukul atau menggebrak area kasur/alas tidur di dekat bayi dengan keras (biasanya menggunakan tangan atau benda yang dilapisi kain/baskom).</p><p>2. Menimbulkan suara keras secara mendadak di dekat bayi.</p><p>Tujuan utama dari tradisi ini adalah mitos yang dipercaya turun-temurun, yaitu agar bayi tersebut kelak tidak menjadi orang yang mudah kaget atau penakut saat dewasa.</p><p><br></p><p>Potensi Pertentangan dengan Kesehatan:</p><p>Praktik "Gebrak Bayi" ini secara medis sangat berbahaya dan bertentangan dengan prinsip keselamatan serta perkembangan bayi:</p><p>1. Risiko Shaken Baby Syndrome (Perdarahan Otak): Guncangan dan getaran keras yang dihasilkan dari gebrak kasur dapat menimbulkan gerakan kepala bayi yang mendadak. Pada bayi baru lahir, pembuluh darah di otak masih sangat rapuh. Guncangan keras berisiko tinggi menyebabkan pendarahan di otak (disebut Shaken Baby Syndrome), yang dapat berujung pada kematian mendadak atau cacat neurologis seumur hidup.</p><p>2. Kerusakan Pendengaran Permanen: Telinga bayi yang baru lahir belum matang. Paparan suara yang memiliki intensitas dan volume kencang secara mendadak berisiko merusak gendang telinga atau organ pendengaran di telinga bagian dalam, yang dapat menyebabkan tuli seumur hidup.</p><p>3. Mengganggu Refleks Normal (Refleks Moro): Bayi yang sering kaget tanpa sebab jelas adalah hal yang normal, disebut Refleks Moro. Refleks ini justru merupakan tanda bahwa otak dan sistem saraf bayi berfungsi normal. Sengaja membuat bayi kaget dengan cara yang ekstrem adalah stimulasi berlebihan yang dapat menyebabkan trauma, bukan menghilangkan refleks.</p><p><br></p><p><strong>Opini Saya</strong></p><p>Tradisi "Gebrak Bayi" atau "Kaget Bayi" adalah praktik yang harus ditinggalkan karena memiliki risiko cedera serius yang jauh lebih besar daripada manfaat mitosnya.</p><p>Masyarakat, khususnya di Kabupaten Nganjuk, perlu terus diberikan edukasi kesehatan oleh Bidan dan Dokter Anak. Kesadaran harus ditingkatkan bahwa melindungi bayi dari guncangan keras dan suara bising adalah bagian dari perawatan bayi yang aman, bukan malah sebaliknya. Bayi membutuhkan rasa aman dan nyaman, bukan teror mendadak.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526056193/d6fd693940da41b5570cc5a638bfaac8/IMG_1074.jpeg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:21:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624527818</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Elisabet Beatrix Boby (01.2.24.01105)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624528214</link>
         <description><![CDATA[<p>Budaya dari suku Asmat Papua Selatan </p><p><br/></p><p><strong>Penjelasan Budaya</strong>: suku Asmat,dari Papua selatan,terdapat tradisi melakukan pengasapan atau pembakaran mayat sebagai bagian dari upacara kematian untuk menghormati dan memuliakan leluhur. Tujuan ritual ini adalah untuk menjaga hubungan dengan dunia roh dan memastikan jiwa orang yang telah meninggal tenang. </p><p><br/></p><p> <strong>Dampak pada Kesehatan:</strong> Gangguan Pernapasan: Asap dari pembakaran mayat dapat mengandung berbagai zat berbahaya yang bisa memicu atau memperparah penyakit pernapasan, seperti batuk, bronkitis, dan masalah paru-paru lainnya, terutama bagi anak-anak dan orang tua yang lebih rentan.</p><p>Penyebaran Penyakit: Jika mayat yang diasapi sudah terinfeksi penyakit, asap dari pembakaran dapat menyebarkan partikel-partikel penyebab penyakit tersebut ke lingkungan dan berpotensi menular ke orang yang menghirupnya. </p><p><br/></p><p><strong>Opini</strong> : Menurut saya, Tradisi suku Asmat tentang pengasapan atau pembakaran mayat dan mengenang orang yang telah meninggal, seperti pembuatan patung menunjukkan cara unik mereka menghormati leluhur. Meskipun tradisi ini kaya akan makna budaya dan spiritual, penting bagi masyarakat untuk tetap memperhatikan aspek kesehatan dan kebersihan dalam pelaksanaan ritual adat, untuk mencegah risiko penyebaran penyakit dan menjaga keselamatan bersama. Dengan demikian, tradisi dapat tetap dilestarikan dengan cara yang seimbang dan aman bagi kesehatan masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526007889/f44f1bbbb0c9c826f238f190901a5953/IMG_20251009_090840.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:22:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624528214</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Chriswell Eklesio Sumanti (01.2.24.01088)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624528326</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Penggunaan Bahan-Bahan Alami yang Belum Teruji</strong></p><p>Di Manado terutama suku Minahasa beberapa orang masih menggunakan bahan alami dalam pengobatan. Bahan-bahan alami yang dikumpulkan dari alam dan diyakinkan melalui leluhur yang akhirnya berlangsung hingga saat ini. Bahan-bahan alami tersebut mungkin belum teruji secara ilmiah keamanannya, sehingga bisa berdampak negatif pada kesehatan.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526086745/fc0ef5b116e244fa5a1946ea48ea94fc/image.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:22:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624528326</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Alvin Putra Kurniawan 01.2.24.01064 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624528336</link>
         <description><![CDATA[<p>Polusi Suara Melalui Sound Horeg</p><p><br></p><p>Di Jawa timur terutama daerah kediri terdapat banyak kegiatan turun menurun salah satunya kirab sound horeg. Sound horeg adalah sistem sound dengan kapasitas dan volume yang besar dan beroperasi keliling desa atau kampung. Beberapa orang menikmati kegiatan tersebut namun beberapa orang yang lain merasa terganggu oleh kegiatan sound horeg tersebut. Sound horeg pada dasar baik namun karna volume yang berlebihan dapat mengganggu sistem pendengaran seseorang, pendengaran normal seseorang yaitu 0-25 db sedangkan db sound horeg mencapai 130-135 db. Dampaknya seseorang akan mengalami gangguan pendengaran ringan hingga berat bahkan yang paling parah hingga tuli, dan yang paling berbahaya dapat menyebabkan serangan jantung.</p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526226334/19ade3cafd72b8af0af4aae5c673d8ea/IMG_20250911_211615_606.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:22:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624528336</guid>
      </item>
      <item>
         <title>CAHYA AJENG INTAN SETIASIH, NIM : 01.2.24.01083, S1 KEPERAWATAN TINGKAT 2A</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624530171</link>
         <description><![CDATA[<p>BUDAYA “MEMINDAHKAN PENYAKIT KE HEWAN KAMBING DAN PEMBERIAN MINUM AIR BUNGA” DI DESA KEDAWUNG, MOJO, KEDIRI</p><p><br></p><p>Di Desa Kedawung, Mojo, Kediri terdapat sebuah tradisi atau budaya lokal yang berkaitan dengan pengobatan alternatif yang sebenarnya sangat berisiko dan bertentangan bagi kesehatan, terutama bagi penderita penyakit serius seperti tumor atau kanker. Budaya ini melibatkan praktik membawa penyakit dari tubuh manusia ke hewan, seperti kambing, melalui ritual tertentu.</p><p><br></p><p>Secara umum, prosesnya adalah sebagai berikut: Proses ini terjadi pada adik keponakan saya, umur 2 tahun dengan keadaan perut yang semakin membesar. Adik saya yang mengalami penyakit tumor atau kanker akan dibawa ke seorang dukun atau paranormal. Dukun tersebut kemudian melakukan ritual “pemindahan penyakit” ke hewan, misalnya kambing. Ritual ini biasanya disertai dengan memberikan air bunga kepada pasien untuk diminum, yang dipercaya dapat membantu penyakit berpindah dari tubuh manusia ke hewan. Setelah itu, hewan yang menjadi media pemindahan penyakit akan disembelih dan diperiksa bagian perutnya untuk memastikan apakah penyakit sudah berpindah.</p><p><br></p><p>Secara medis dan logika, praktik ini tentu tidak memiliki dasar ilmiah. Penyakit seperti kanker atau tumor adalah gangguan seluler yang hanya dapat berkembang di dalam tubuh manusia atau spesies tertentu yang memiliki struktur biologis yang sangat mirip. Penyakit tersebut tidak bisa berpindah ke kambing atau hewan lainnya melalui ritual atau minum air bunga. Praktik ini tidak hanya tidak efektif, tetapi juga menunda pasien mendapatkan pengobatan yang benar, seperti operasi, kemoterapi, atau terapi medis lainnya. Akibatnya, penyakit dapat semakin berkembang dan memperburuk kondisi pasien, bahkan berpotensi menyebabkan kematian yang sebetulnya bisa dicegah jika ditangani secara medis sejak dini.</p><p><br></p><p>Selain itu, budaya ini juga menimbulkan risiko psikologis bagi pasien dan keluarganya. Mereka sering kali menaruh harapan besar pada ritual tersebut, sehingga ketika kondisi pasien memburuk, rasa putus asa dan kebingungan meningkat. Praktik ini juga dapat menimbulkan risiko kesehatan tambahan, misalnya dari kontak dengan hewan yang belum tentu bersih atau steril.</p><p><br></p><p>Dan akhirnya, akibat tindakan membawa adik saya ke dukun untuk pemindahan penyakit ke hewan serta diberi minuman air bunga, adik saya terlambat mendapatkan pengobatan di rumah sakit dan meninggal dunia.</p><p><br></p><p>•] DAMPAK TERHADAP KESEHATAN :</p><p>Budaya ini jelas bertentangan dengan ilmu kesehatan modern karena beberapa alasan:</p><p>1. Keterlambatan Penanganan Medis. Pasien tumor atau kanker yang memilih ritual ini sering menunda pemeriksaan dan pengobatan di rumah sakit. Padahal penyakit seperti kanker bersifat progresif; semakin lama ditunda, semakin sulit disembuhkan dan kemungkinan komplikasi meningkat. Keterlambatan ini bisa berakibat fatal.</p><p>2. Penyakit Semakin Parah. Tanpa pengobatan medis, tumor atau kanker terus berkembang. Sel kanker dapat menyebar ke organ lain (metastasis), menimbulkan rasa nyeri hebat, gangguan fungsi organ, hingga kematian. Ritual pemindahan penyakit tidak menghentikan pertumbuhan penyakit sama sekali.</p><p>3. Risiko Infeksi dan Penyakit Lain. Interaksi langsung dengan hewan yang digunakan dalam ritual, seperti kambing, dapat menimbulkan risiko infeksi zoonosis (penyakit dari hewan ke manusia) atau kontaminasi bakteri/virus. Terutama jika hewan tersebut disembelih dan diperiksa secara tidak higienis.</p><p>4. Gangguan Psikologis. Pasien dan keluarga bisa mengalami stres, cemas, atau depresi akibat harapan palsu. Ketika penyakit tidak membaik atau memburuk setelah ritual, rasa putus asa meningkat, yang justru bisa memperburuk kondisi fisik dan mental.</p><p>5. Potensi Efek Negatif dari Ramuan Tradisional. Pemberian air bunga atau ramuan lain oleh dukun, meski tampak aman, bisa menimbulkan reaksi alergi, keracunan, atau interaksi negatif dengan obat-obatan medis jika pasien akhirnya melakukan pengobatan rumah sakit.</p><p>6. Meningkatkan Mortalitas (Tingkat Kematian) Secara statistik, pasien yang menunda pengobatan medis untuk mengandalkan metode tidak ilmiah memiliki peluang hidup lebih rendah, karena penyakit tidak ditangani secara tepat waktu.</p><p>7. Tidak Ada Bukti Ilmiah: Secara medis, penyakit seperti tumor tidak bisa berpindah ke hewan. Tumor berkembang akibat sel abnormal dalam tubuh manusia, bukan energi atau roh yang bisa dipindahkan.</p><p>8. Risiko Kesehatan Hewan dan Lingkungan: Praktik ini juga berisiko pada hewan yang menjadi media “penyakit,” serta dapat menimbulkan penyebaran penyakit zoonosis jika dilakukan secara tidak higienis.</p><p><br></p><p>•] OPINI PRIBADI</p><p>Menurut saya, budaya ini meskipun berasal dari niat baik dan tradisi turun-temurun, harus mulai dipertimbangkan ulang karena menempatkan keselamatan dan kesehatan manusia pada risiko yang tinggi. Saya memahami bahwa masyarakat desa seringkali memiliki kepercayaan kuat pada hal-hal spiritual dan magis, dan kepercayaan ini sulit diubah. Namun, pendidikan kesehatan dan penyuluhan medis sangat penting untuk menunjukkan bahwa penyakit serius membutuhkan penanganan ilmiah. Seharusnya penanganan medis di rumah sakit tetap merupakan pilihan paling aman dan efektif bagi pasien yang menderita tumor atau kanker. Rumah sakit menyediakan dokter ahli, alat diagnosa modern, serta terapi medis yang telah terbukti secara ilmiah mampu menghentikan atau memperlambat pertumbuhan penyakit. Mengandalkan ritual atau dukun justru menunda pengobatan yang benar, memperburuk kondisi pasien, dan meningkatkan risiko kematian. Nyawa dan kesehatan manusia tidak bisa dikompromikan, pengobatan medis adalah prioritas utama untuk keselamatan pasien.</p><p><br></p><p>Saya percaya bahwa budaya dan tradisi bisa tetap dihormati, tetapi ketika menyangkut nyawa manusia, sains dan medis harus dijadikan prioritas. Budaya pemindahan penyakit ke hewan, misalnya, bisa diganti dengan ritual yang lebih aman seperti doa bersama atau ritual simbolik tanpa menimbulkan risiko kesehatan sementara pasien tetap mendapatkan pengobatan modern. Dengan cara ini, tradisi tetap terjaga, tetapi kesehatan dan keselamatan manusia tidak dikorbankan.</p><p><br></p><p>Secara pribadi, saya merasa sedih ketika melihat orang-orang dengan penyakit serius menunda pengobatan medis karena percaya pada praktik ini. Rasanya sangat penting bagi masyarakat, termasuk di Desa Kedawung, untuk menggabungkan kepercayaan budaya dengan ilmu kesehatan, bukan membiarkan mitos membahayakan nyawa.</p><p><br></p><p>Harapan saya, masyarakat Desa Kedawung dapat memadukan tradisi dan budaya dengan ilmu pengetahuan modern. Budaya lokal tetap dapat dihormati sebagai bagian dari identitas dan nilai-nilai leluhur, namun dalam hal kesehatan, pasien harus lebih mengutamakan pengobatan medis di rumah sakit. Saya berharap adanya penyuluhan kesehatan yang rutin dan edukasi mengenai penyakit serius seperti kanker dan tumor, sehingga masyarakat memahami pentingnya diagnosa dini dan pengobatan yang tepat. Dengan pemahaman ini, tradisi bisa tetap berjalan secara aman, sementara nyawa dan kesehatan manusia terlindungi. Selain itu, saya berharap generasi muda di desa ikut menjadi agen perubahan, mengedukasi keluarga dan tetangga bahwa memadukan tradisi dengan sains adalah cara terbaik untuk menjaga kesehatan dan keselamatan seluruh masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526218856/2209e8310122cdfea2b712f6cc98e2a1/IMG_20250731_WA0057_1.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:23:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624530171</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aminin &#39;Aini (01.2.24.01066)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624530206</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Budaya : di Desa Keniten yang Bertentangan dengan Kesehatan dengan lebih percaya dengan dukun </strong></p><p><br></p><p>Di desa saya, tepatnya di Kediri Desa Keniten, Jawa Timur, masih banyak masyarakat yang percaya kepada dukun untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sampai sekarang, tradisi ini masih cukup kuat, terutama di kalangan orang tua dan masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan.</p><p><br></p><p>Misalnya, ketika seseorang mengalami sakit perut, demam, gangguan jantung, paru-paru, atau bahkan penyakit yang tidak diketahui penyebab pastinya, mereka sering kali lebih memilih pergi ke dukun daripada berobat ke puskesmas, rumah sakit, atau dokter. Hal ini dilakukan karena adanya anggapan bahwa penyakit tertentu tidak bisa disembuhkan secara medis, melainkan harus “diobati” dengan cara tradisional atau spiritual.</p><p><br></p><p>Saya sendiri pernah mengalami hal ini dalam keluarga. Nenek saya dulu juga lebih percaya pada pengobatan dukun dibandingkan dokter. Beliau sudah pernah berobat ke rumah sakit, tetapi karena tidak segera sembuh, akhirnya nenek saya memutuskan untuk mencoba pengobatan tradisional dari dukun. Dukun tersebut memberikan ramuan dari air rebusan hewan trenggiling dan meminta agar diminum secara rutin. Namun, setelah diminum, nenek justru merasakan sakit perut yang sangat hebat dan kondisinya semakin memburuk. Hingga saat ini, penyakit nenek belum juga sembuh seperti harapan awal.</p><p><br></p><p>Biasanya, dukun di desa memberikan ramuan jamu, air doa, atau bahan-bahan aneh seperti bagian tubuh hewan tertentu yang tidak jelas manfaatnya secara medis. Kadang juga disertai ritual-ritual seperti membakar kemenyan, membaca mantra, atau menepuk bagian tubuh yang sakit. Masyarakat percaya bahwa tindakan seperti itu bisa "mengusir penyakit" atau "mengembalikan keseimbangan tubuh", padahal tidak ada dasar ilmiahnya sama sekali.</p><p><br></p><p>Memang benar bahwa budaya seperti ini sudah turun-temurun dan dianggap sebagai warisan leluhur, tetapi praktik ini sangat berisiko, apalagi bagi orang dengan penyakit kronis seperti diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, atau paru-paru. Alih-alih sembuh, praktik ini justru bisa menimbulkan komplikasi baru atau memperburuk kondisi pasien.</p><p><br></p><p>Dampak bagi Kesehatan : </p><p>1. Penundaan Pengobatan Medis</p><p>Karena lebih memilih berobat ke dukun, pasien jadi terlambat mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis yang sebenarnya dibutuhkan. Akibatnya, penyakit bisa semakin parah dan lebih sulit diobati.</p><p>2. Risiko Keracunan dan Efek Samping Berbahaya</p><p>Ramuan dari bahan yang tidak jelas, seperti air rebusan hewan trenggiling, bisa menimbulkan reaksi berbahaya bagi tubuh, misalnya sakit perut hebat, keracunan, atau gangguan pencernaan.</p><p>3. Kondisi Kesehatan Semakin Memburuk</p><p>Karena tidak mendapat pengobatan yang tepat, kondisi pasien bisa semakin lemah, menurun, atau bahkan menimbulkan komplikasi pada organ tubuh lain.</p><p>4. Infeksi atau Gangguan Sistem Pencernaan</p><p>Ramuan yang dibuat tanpa memperhatikan kebersihan dan dosis yang benar dapat menyebabkan infeksi usus, gangguan lambung, atau kerusakan organ dalam seperti hati dan ginjal.</p><p>5. Kehilangan Kepercayaan terhadap Tenaga Medis</p><p>Karena pengaruh budaya dan pengalaman yang salah kaprah, masyarakat bisa menjadi ragu atau tidak percaya lagi kepada dokter dan perawat, padahal tenaga kesehatan memiliki ilmu dan standar pengobatan yang benar.</p><p>6. Kerugian Psikologis dan Ekonomi</p><p>Ketika pasien tidak kunjung sembuh, keluarga akan merasa stres, kecewa, dan kelelahan, bahkan bisa mengalami kerugian finansial karena harus terus membayar biaya untuk ritual atau ramuan dari dukun.</p><p>7. Risiko Kematian Dini</p><p>Jika pengobatan medis terus ditunda dan tubuh terus menerima bahan berbahaya, risiko kematian dini meningkat karena penyakit utama tidak pernah ditangani secara tepat.</p><p><br></p><p><em>Opini Pribadi : </em></p><p>Menurut saya, kepercayaan masyarakat Desa Keniten terhadap dukun memang sudah menjadi bagian dari budaya yang turun-temurun. Namun, dalam konteks kesehatan saat ini, budaya tersebut perlu diluruskan dan disesuaikan dengan perkembangan ilmu medis modern. Tradisi boleh tetap dilestarikan, tetapi jangan sampai membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain.</p><p><br></p><p>Pengalaman nenek saya menjadi pelajaran berharga bahwa pengobatan tanpa dasar medis bisa membawa risiko serius bagi kesehatan. Niat untuk sembuh justru berubah menjadi penderitaan karena penggunaan ramuan yang tidak jelas asal-usulnya dan tidak terjamin keamanannya. Hal ini menunjukkan bahwa keyakinan yang salah terhadap pengobatan tradisional dapat memperburuk kondisi pasien, bukan menyembuhkan.</p><p><br></p><p>Saya menyadari bahwa dukun tidak selalu harus dipandang negatif, karena sebagian masyarakat mencari dukungan spiritual dan ketenangan batin dari mereka. Namun, pengobatan fisik seharusnya tetap dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional seperti dokter atau perawat yang memiliki ilmu dan kompetensi untuk menegakkan diagnosis serta memberikan terapi yang tepat.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526207511/c8001494f58f2f99997534489eb710e3/IMG_20251009_092004.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:23:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624530206</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Defia Widyani 01.2.24.01090</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624533734</link>
         <description><![CDATA[<p>Budaya: Minum dan Mengoleskan Air Zam-Zam ditubuh dipercaya untuk penyembuhan segala penyakit.</p><p><br></p><p>Di Tulungagung khusus nya di daerah sekitar pondok pesantren yang masih percaya bahwa meminum dan mengoleskan air zam-zam dianggap memiliki nilai spiritual tinggi. Masyarakat percaya bahwa air zam-zam membawa kesembuhan, dan keberkahan, karena banyak masyarakat beranggapan bahwa berasal dari sumber suci di Mekah. Air ini sering diminum saat seseorang sedang sakit, akan bepergian jauh, atau setelah melakukan ibadah.</p><p><br></p><p>Pandangan Kesehatan:</p><p>Secara medis, air zam-zam memang termasuk air yang bersih dan memiliki kandungan mineral tinggi, seperti kalsium, magnesium, dan natrium. Namun, jika diminum secara berlebihan, justru bisa berdampak kurang baik bagi kesehatan, terutama bagi:</p><p>* Pasien hipertensi (karena kadar natrium tinggi dapat meningkatkan tekanan darah).</p><p>* Penderita gangguan ginjal (beban garam yang tinggi bisa memperberat kerja ginjal).</p><p>Selain itu, ada sebagian masyarakat yang mengandalkan air zam-zam sebagai satu-satunya pengobatan dan mengabaikan pengobatan medis. Salah satu kepercayaan yang kurang baik tentang air zam-zam adalah beranggapan bahwa air zam-zam bisa menyembuhkan semua jenis penyakit tanpa perlu pengobatan medis. Sebagian orang percaya bahwa cukup dengan minum air zam-zam dan berdoa, maka penyakit apapun bahkan yang berat seperti diabetes, kanker, atau gagal ginjal bisa sembuh tanpa perlu ke dokter. </p><p><br></p><p>Opini Pribadi:</p><p>Menurut saya, minum air zam-zam boleh dan baik, terutama untuk tujuan dengan niat kebaikan, selama tidak menggantikan perawatan dan pengobatan secara medis yang seharusnya dilakukan.</p><p>Berangapan bahwa Air zam-zam bisa dijadikan pelengkap spiritual dalam penyembuhan, bukan pengganti terapi medis.</p><p>Sebagai masyarakat modern yang tetap menghargai budaya dan agama, kita sebaiknya menggabungkan nilai religius dan ilmu kesehatan agar manfaatnya menjadi seimbang sehat jasmani dan rohani sekaligus.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526226297/49e1cd928bf21dc91b33a0850e1fb2b2/IMG_20250626_153510.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:26:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624533734</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Berlian Oktavia Nanda(01.2.24.01081)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624534078</link>
         <description><![CDATA[<p>Budaya yang bertentangan dengan kesehatan:</p><p> Pengobatan Dengan Menggunakan Air Liur ,di daerah saya ada budaya menggunakan air liur untuk menyembuhkan luka. Praktik ini mungkin didasarkan pada kepercayaan bahwa air liur memiliki sifat penyembuhan. Namun, dari sudut pandang kesehatan, praktik ini tidak dianjurkan karena air liur dapat mengandung bakteri yang berpotensi menyebabkan infeksi pada luka.</p><p>Infeksi luka dapat dicegah dengan membersihkan luka menggunakan air bersih yang mengalir dan larutan antiseptik, serta melakukan perawatan luka yang tepat. Menggunakan air liur justru berisiko memasukkan bakteri ke dalam luka, yang bisa memperburuk kondisi luka dan memperlambat proses penyembuhan.</p><p>Edukasi tentang perawatan luka yang benar dan pentingnya menjaga kebersihan sangat penting untuk mengurangi risiko infeksi dan memastikan proses penyembuhan yang lebih cepat dan efektif.</p><p><br></p><p>Opini Saya :</p><p>Menurut saya penggunaan air liur untuk mengobati luka mungkin memiliki akar dalam tradisi dan kepercayaan lokal, tetapi dari perspektif kesehatan, praktik ini jelas berisiko. Air liur dapat mengandung banyak bakteri yang justru berpotensi memperburuk kondisi luka dan menghambat proses penyembuhan. Daripada mengandalkan metode yang tidak terbukti secara medis, kita sebaiknya mengedukasi masyarakat tentang cara perawatan luka yang tepat dan higienis. Membersihkan luka dengan air bersih yang mengalir dan larutan antiseptik adalah langkah sederhana namun efektif untuk mencegah infeksi. Mari kita prioritaskan kesehatan dengan memilih metode pengobatan yang aman dan didukung oleh bukti ilmiah</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526236501/0f7b0158d481e8bc6a5a07bd9a2d3f62/IMG_2249.jpeg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:27:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624534078</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dinda Ayu Febe Luneta (01.2.24.01101)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624535048</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Budaya yang bertentanga dengan kesehatan:</strong></p><p>Di kampung saya, jika ada bayi yang kelihatan rewel, sering kentut, atau badannya hangat, biasanya orang tua menganggap bayinya “masuk angin.”</p><p>Nah, cara yang sering dipakai untuk mengatasinya yaitu dikerok pakai bawang merah.</p><p>Biasanya bawang merah digeprek, dicampur dengan minyak kelapa atau minyak telon, lalu dioles ke badan bayi, terutama di punggung, dada, dan perut. Setelah itu, bagian tubuh bayi digosok pelan-pelan sampai agak merah.</p><p>Tujuannya supaya“angin keluar” dan bayi jadi lebih tenang atau bisa tidur nyenyak.</p><p><br></p><p><strong>Opini Saya :</strong></p><p>Menurut saya, kebiasaan mengoleskan bawang merah pada bayi yang dianggap masuk angin memang dilakukan dengan niat baik, yaitu agar bayi cepat sembuh dan merasa nyaman. Namun, dari sisi kesehatan, cara ini sebenarnya tidak aman karena kulit bayi masih sangat sensitif. Jika diolesi bawang merah, apalagi disertai dengan gosokan, bisa menyebabkan iritasi, kemerahan, bahkan alergi.</p><p>Saya pribadi berpendapat bahwa sebaiknya kebiasaan ini mulai ditinggalkan dan diganti dengan cara yang lebih aman. Misalnya dengan memijat bayi secara lembut menggunakan minyak telon khusus bayi,  atau langsung konsultasi ke tenaga kesehatan jika bayi tampak tidak nyaman.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526240391/77be251caca294cc20a800ea0c7f7b82/IMG_20251009_092319.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:28:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624535048</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Debora etika indah krissih utami (01.2.24.01089)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624538154</link>
         <description><![CDATA[<p>Budaya: Persalinan Dibantu Dukun Bayi (Paraji) Tanpa Tenaga Medis Profesional di Nganjuk, Jawa Timur</p><p>Di beberapa daerah di Kabupaten Nganjuk, terutama di desa-desa yang mungkin lebih jauh dari fasilitas kesehatan atau yang </p><p>memegang teguh tradisi leluhur, praktik persalinan yang dibantu oleh dukun bayi (paraji atau dukun beranak) masih ada. Meskipun program pemerintah melalui bidan desa sudah masif, sebagian masyarakat masih memilih paraji sebagai penolong persalinan utama tanpa pendampingan dari bidan atau dokter.</p><p>Alasan umum mengapa budaya ini bertahan di Nganjuk antara lain:</p><p>1. Ikatan Emosional dan Kepercayaan: Paraji seringkali adalah figur yang dihormati, tetangga, atau kerabat dekat yang sudah lama dikenal keluarga. Mereka dipercaya memiliki keahlian turun-temurun, bahkan dianggap memiliki kekuatan spiritual yang dapat membantu kelancaran persalinan dan menangkal hal-hal buruk.</p><p>2. Aksesibilitas dan Kenyamanan: Bagi beberapa keluarga, memanggil paraji ke rumah terasa lebih mudah, nyaman, dan personal dibandingkan harus pergi ke Puskesmas atau klinik, terutama jika jarak dan transportasi menjadi kendala.</p><p>3. Biaya yang Fleksibel: Paraji seringkali tidak mematok biaya secara kaku, kadang hanya berupa "ongkos suka rela" atau pemberian barang, yang terasa lebih meringankan beban ekonomi dibandingkan biaya persalinan di fasilitas medis.</p><p>4. Ritual Tradisional: Beberapa keluarga masih ingin melakukan ritual atau tradisi tertentu selama persalinan dan pasca-persalinan yang mereka yakini hanya bisa dilakukan oleh paraji.</p><p>opini</p><p>Keberadaan paraji memiliki akar budaya yang kuat di Nganjuk dan merupakan bagian dari identitas sosial. Namun, dalam konteks kesehatan modern, praktik persalinan yang dibantu paraji tanpa pengawasan medis adalah risiko yang tidak perlu diambil.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526243642/7d6cbce7a543da6c945e00d3073e4031/IMG_3196.jpeg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:30:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624538154</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Alfia putri pratama</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624542510</link>
         <description><![CDATA[<p>Budaya : </p><p>Di tempat tinggal saya Jawa Timur masih menggunakan budaya apabila ada jatuh dan terdapat luka dan bengkak masih menggunakan obat tradisional ( kencur yang di haluskan dan di tempel kan pada area yang luka dan bengkak).</p><p><br></p><p><br></p><p>Risiko atau dampak negatif (jika digunakan tidak tepat).</p><p><br></p><p>1. Risiko infeksi meningkat</p><p>Kencur mentah bukan bahan steril. Bila ditempel langsung ke luka terbuka, bakteri dari tanah atau proses penghalusan bisa menyebabkan infeksi sekunder (nanah, kemerahan, nyeri meningkat).</p><p>2. Iritasi kulit</p><p>Beberapa orang bisa mengalami reaksi alergi atau iritasi, seperti gatal, panas, atau kemerahan.</p><p>3. Menghambat penyembuhan luka terbuka</p><p>Zat aktif dalam kencur bisa mengganggu regenerasi sel kulit jika diaplikasikan pada luka basah.</p><p>4. Tidak bisa menggantikan antiseptik medis</p><p>Untuk luka terbuka, kencur tidak seefektif pembersih antiseptik seperti povidone-iodine atau NaCl steril.</p><p><br></p><p><br></p><p>Opini:</p><p>Pemberian kencur yang dihaluskan dan ditempelkan pada area luka jatuh dan bengkak tidak sepenuhnya tepat, karena walaupun kencur memiliki kandungan antiinflamasi dan antibakteri alami, penggunaannya secara langsung di luka terbuka justru berisiko menimbulkan infeksi dan iritasi.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526236004/393980598370b8e8d7e934a6a3a192b4/IMG_20250814_WA0011.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:34:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624542510</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ananda Rizka Arviana                              (01.2.24.01069) </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624551781</link>
         <description><![CDATA[<p><strong><em>Salah satu budaya di Kediri yang terletak di desa Sepawon</em></strong><em> </em>yang bertentangan dengan kesehatan adalah memiliki tradisi "<em>kepercayaan bahwa penyakit disebabkan oleh gangguan makhluk halus dan harus diobati dengan cara spiritual atau ritual adat</em>" ada beberapa masyarakat yang mempercayai bahwa penyakit yang dideritanya disebabkan oleh gangguan makhluk halus dan harus diobati dengan cara spiritual atau ritual adat.Dalam budaya ini, masyarakat lebih memilih melakukan ritual adat, sesajen, atau penyembuhan melalui dukun spiritual daripada berobat ke fasilitas kesehatan. Keyakinan ini dapat menyebabkan keterlambatan penanganan medis yang tepat dan dapat memperburuk kondisi kesehatan pasien. Selain itu, ketergantungan pada praktik-praktik supranatural juga mengabaikan penyebab medis sesungguhnya dan pencegahan penyakit, sehingga berisiko meningkatkan angka kesakitan dan kematian.</p><p><br/></p><p><strong><em>Dampak terhadap kesehatan:</em></strong></p><p>Budaya praktik ritual ini juga berpotensi tidak higienis dan dapat berisiko menyebabkan infeksi atau penyebaran penyakit yang lebih parah.</p><p><br/></p><p><strong><em>Opini saya:</em></strong></p><p>Menurut saya adalah bahwa kepercayaan terhadap gangguan makhluk halus dan melakukan pengobatan melalui ritual spiritual merupakan bagian penting dari warisan budaya dan kepercayaan masyarakat yang berada didesa saya, tetapi kepercayaan ini menghalangi masyarakat untuk mengakses dan menerima pengobatan medis yang tepat hal tersebut dapat menimbulkan dampak yang serius bagi kesehatan. </p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526129633/2a78ad45a2f144db2ba69e3f7182093d/IMG_20250731_115053.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:42:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624551781</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Amellya Puspa Ayuningtyas (01.2.24.01065)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624553606</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Budaya Bedong Bayi</strong></p><p><br></p><p>Salah satu budaya yang masih dilakukan di Bojonegoro, termasuk daerah Mojorejo dan Kedungadem yaitu dengan masih banyaknya orang tua di daerah saya yang membiasakan bayinya dibedong ketat. Biasanya menggunakan kain panjang yang  dililitkan dari badan sampai kaki, sehingga tubuh bayi hampir tidak bisa bergerak. Biasanya bedong dipakaikan seharian penuh, hanya dilepas kalau bayi mau dimandikan atau diganti popok saja. Alasan sederhananya menurut para orang tua yang masih percaya tentang hal itu, kalau bayi dibedong tidurnya lebih nyenyak, badannya hangat, tidak mudah kaget, dan kakinya bisa lurus saat besar nanti. Namun jika dilihat dari sisi kesehatan, kebiasaan ini ada risikonya. Bedong yang terlalu kencang bisa membuat bayi susah bernapas, tubuhnya cepat panas, bahkan kalau terlalu lama bisa berbahaya. Posisi kaki yang dipaksa lurus juga tidak baik, karena bisa mengganggu pertumbuhan tulang panggul. Padahal, gerakan bayi yang bebas itu justru penting untuk melatih otot dan motoriknya. Jadi, niatnya memang baik, tapi cara yang dipakai seringkali justru kurang tepat.</p><p><br></p><p>Opini pribadi :</p><p>Menurut saya, membedong bayi sebenarnya tidak masalah jika tujuannya sekadar membuat bayi nyaman. Namun caranya jangan terlalu kencang, bedong cukup longgar hanya untuk memberi rasa hangat dan aman. Kakinya biarkan agak leluasa supaya bisa bergerak bebas. Bedong pun tidak perlu dipakaikan seharian, cukup saat tidur saja. Jadi tradisi ini tetap bisa dijalankan, tapi dengan cara yang lebih aman bagi kesehatan bayi. Dengan begitu, orang tua tetap bisa menjalankan warisan kebiasaan lama, tapi bayi pun tetap sehat dan berkembang dengan baik.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526019063/a0238fdbe5059b2f91d1869a2d8a7280/20251009_092612.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:43:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624553606</guid>
      </item>
      <item>
         <title>CHISTIAN RIVALDO TANGGELA (01.2.24.01086)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624567790</link>
         <description><![CDATA[<p>Budaya di pulau SUMBA NTT yang bertentangan dengan kesehatan.</p><p><br/></p><p> Panggang Api (Sei) Yang sering di lakukan: Ibu baru melahirkan berada dekat bara api dalam rumah bulat, dipercaya dapat menguatkan kekebalan tubuh ibu dan bayi.</p><p>Dampak Kesehatan:</p><p>Infeksi: Lingkungan rumah yang kurang bersih dan cara perawatan di dekat api yang bisa mengakibatkan terjadinya infeksi pada ibu dan bayi.</p><p>Luka Bakar: ibu dan bayi bisa terluka bakar karena terlalu dekat dengan api.</p><p>Gangguan Pernapasan: dari asap bisa terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526340806/b4940337d43c519658d974508fc13eff/IMG_20251009_091020.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:55:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624567790</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Diyah Nur Hayati (01.2.24.01104) </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624568782</link>
         <description><![CDATA[<p>Budaya di desa Durenan masih ada warga yang percaya bahwa minyak tanah bisa menyembuhkan batuk mereka meyakini dengan meminum sedikit minyak tanah agar batuk yang di derita cepat reda karena panasnya bisa membunuh kuman, suatu hari tetangga saya terserang batuk berat ia sudah datang ke puskesmas dan di berikan obat tetapi tetap tidak sembuh dan ia mengikuti saran dari tetangganya untuk minum satu sendok minyak tanah setiap malam. Awalnya ia merasa batuknya sedikit  berkurang namun setelah beberapa hari dadanya terasa panas dan tenggorokannya perih. Ia pun dibawa ke rumah sakit dan dokter menjelaskan bahwa mengalami iritasi lambung dan keracunan ringan akibat bahan kimia dalam minyak tanah,setelah perawatan dan edukasi dari perawat ia sadar bahwa pengobatan yang di rekomendasikan dari tetangganya itu tidak benar dan bahaya. </p><p><br></p><p>Dampak bagi kesehatan :</p><p>1. Keracunan dan gangguan organ dalam terutama bagian lambung dan hati</p><p>2. Penunda pengobatan medis yang bisa memperburuk kondisi penyakit</p><p>3. Menyebar informasi salah warga lain bisa meniru cara berbahaya tersebut</p><p><br></p><p>Opini saya :</p><p>Kebiasaan meminum minyak tanah sebagai obat batuk adalah kebudayaan pengobatan non medis yang berbahaya meskipun dilakukan karena ketidaktahuan dan tradisi turun menurun ini berdampak merusak tubuh Budaya lama memang patut dihargai tetapi jika membahayakan kesehatan harus di tinggalkan demi keselamatan diri sendiri, daripada mengobati batuk dengan cara yang bisa merusak kesehatan, lebih baik memilih pengobatan yang aman dan sudah terbukti efektivitasnya. Batuk bisa disembuhkan dengan obat-obatan yang tepat, istirahat yang cukup, dan pola hidup sehat. Jangan mengambil risiko dengan mencoba pengobatan yang tidak aman.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526323165/7dc88363528381d96b4070db0b64afb3/IMG_20251006_WA0022.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 02:56:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624568782</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Anette Von Bone (01.2.24.01070)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624591069</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Budaya Dugderan di Kota Semarang, Jawa Tengah </strong></p><p><br/></p><p>Dugderan adalah tradisi khas masyarakat Semarang yang dilakukan untuk menyambut datangnya bulan Ramadan. Dalam merayakan acara ini, biasanya masyarakat mengadakan pasar rakyat, arak-arakan, serta berbagai jajanan tradisional seperti wingko babat, arum manis, gulali, dan minuman manis berwarna.</p><p><br/></p><p>Penjelasan:</p><p>Walaupun Dugderan memiliki nilai budaya dan sejarah yang tinggi sebagai simbol semangat menyambut bulan suci, kegiatan ini bisa berdampak kurang baik bagi kesehatan. Banyaknya jajanan manis dan makanan tidak sehat yang dijual di sekitar acara dapat menyebabkan konsumsi gula berlebihan, yang berisiko menimbulkan diabetes, obesitas, dan kerusakan gigi, terutama pada anak-anak. Selain itu, keramaian yang padat juga bisa menjadi sumber penyebaran penyakit menular jika kebersihan lingkungan tidak dijaga.</p><p><br/></p><p>Oleh karena itu, masyarakat sebaiknya tetap melestarikan tradisi Dugderan, tetapi dengan lebih selektif memilih makanan dan menjaga kebersihan selama acara berlangsung.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526279224/8d105f4b9f2ec333ba45d4f4ce7d518c/20251009_100318.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 03:16:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624591069</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Devina Herasabella (01.2.24.01096)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624608530</link>
         <description><![CDATA[<p>di Malang membedong kaki bayi supaya lurus adalah kepercayaan turun-temurun di beberapa daerah, jadi bayi akan dibedong rapat dan sangat ketat menggunakan kain jarik yang menurut warga sekitar bertujuan agar kaki bayi yang baru lahir tampak lurus dan tidak bengkok saat tumbuh. </p><p><br/></p><p>Opini saya, bentuk kaki bayi yang baru lahir memang biasanya bengkok karena posisi dalam kandungan, dan kaki tersebut akan tumbuh lurus secara alami seiring pertumbuhan tanpa perlu dipaksakan dengan membedong.</p><p>Dari sudut pandang kesehatan, membedong bayi tidak berpengaruh pada bentuk kaki bayi, baik untuk mencegah kaki berbentuk huruf O atau X. Justru, membedong bayi berfungsi terutama untuk menjaga kehangatan dan kenyamanan bayi agar tidak banyak bergerak dan bisa tidur lebih nyenyak. Risiko yang ada jika membedong dilakukan dengan teknik yang salah mungkin lebih pada gangguan pernapasan atau ketidaknyamanan, bukan bentuk kaki. Tubuh bayi akan beradaptasi dan kaki akan lurus dengan sendirinya setelah pembebasan bedong pada usia yang tepat.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4526520893/8cb0bf8a1535f5ca46d2f0720e7ed194/image.jpg" />
         <pubDate>2025-10-09 03:34:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/dyah_ayu_kartika_w_s/1z0222oiqir0y7oj/wish/3624608530</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
