<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Tugas Membaca Kritis Untuk Menulis Mengenai Ringkasan, Kesimpulan, Parafrase dan sintesis by PUTRI THAHLIA</title>
      <link>https://padlet.com/702019025/1hkekwyketnwhyyd</link>
      <description>Made with good vibes</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-10-24 08:20:33 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-11-24 12:24:47 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Ringkasan</title>
         <author>702019031</author>
         <link>https://padlet.com/702019025/1hkekwyketnwhyyd/wish/1838967526</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Memenangkan Kembali Bahasa Indonesia, Belajar dari Mister Soemanang<br></strong><strong><em>Era disrupsi teknologi informasi, perkembangan Bahasa Indonesia mengalami tantangan yang sangat kompleks. Digunakan paling banyak oleh penduduk Indonesia, tapi lambat laun Bahasa Indonesia semakin kehilangan kekayaan bahasanya.<br></em></strong>Siapakah Mister Soemanang? Dalam riwayat yang tertulis di situs LKBN Antara disebutkan bahwa dia adalah salah seorang pendiri bersama dengan tiga nama lain, yakni&nbsp; AM Sipahoetar, Pandoe Kartawigoena, dan Adam Malik. Empat orang ini disebut sebagai para <em>founding fathers</em>. Bagaimana kesejarahan para pendiri ini, situs LKBN Antara tidak menulisnya dengan jelas. <br>Dan benar, dalam buku memoar Sindoedarsono Soedjojono alias S Soedjojono, pelukis legendaris Indonesia yang berjudul "Cerita Tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya" (2017), di sana disebutkan bahwa Mister Soemanang adalah lulusan RH di Jakarta.<br>Menurut Harimurti Kridalaksana dalam bukunya Masa Lampau Bahasa Indonesia, Sebuah Bunga Rampai (1991), Soemanang adalah salah seorang yang berhasil meyakinkan para penulis, wartawan, guru, dan peminat lain untuk menyelenggarakan Kongres Bahasa Indonesia yang pertama. <br><strong>Kegelisahan Pejuang Bahasa<br></strong>Setelah mendirikan <em>Naamloze Vennootschap </em>(NV) Kantor Berita Antara pada 1937, Soemanang Soerjowinoto, yang mendengar kegelisahan Soedardjo berinisiatif untuk berkeliling menemui tokoh-tokoh peminat bahasa, kaum terpelajar, orang-orang pergerakan, dan wartawan. Salah satu yang berhasil diyakinkan Soemanang adalah orang-orang penting seperti Hoesein Djajadiningrat dan Poerbatjaraka.</div><div>Indira Ardanareswari, dalam artikel di <em>Tirto.id</em> menulis dengan lebih lugas riwayat Kongres Bahasa Indoensia yang pertama. Soemanang adalah orang yang tercatat mengabadikan kepeloporan para peserta kongres bahasa yang pertama ini dalam sebuah surat yang dia tulis untuk Majalah Pembina Bahasa Indonesia bertanggal 12 Oktober 1983.<br><strong>Tantangan Pendangkalan<br></strong>Saat ini, di zaman disrupsi teknologi informasi, perkembangan Bahasa Indonesia mengalami tantangan yang sangat kompleks. Di satu sisi, Bahasa Indonesia yang telah berkembang sebagai bahasa nasional merupakan bahasa yang digunakan paling banyak oleh penduduk Indonesia. Tetapi di sisi lain, karena semakin banyaknya penggunaan bahasa di media sosial yang sebagian besar merupakan bahasa yang digunakan secara populer, lambat laun Bahasa Indonesia malah semakin kehilangan kekayaan bahasanya.<br>Kegemaran generasi zaman sekarang mencampur Bahasa Inggris pergaulan ke dalam istilah sehari-hari menciptakan suasana kacau yang pasti akan menjadi kegelisahan bagi para pejuang bahasa yang susah payah menjadikan Bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional.<br>Sudah saatnya negara mendukung pembuatan konten-konten yang mampu memperkaya kembali penggunaan Bahasa Indonesia dan terutama memenangkan kembali Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang tahan banting terhadap perkembangan zaman.<br><br><br><br><br><br><br></div><div><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-24 09:20:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/702019025/1hkekwyketnwhyyd/wish/1838967526</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
