<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Perlawanan Kesultanan Gowa by Rizky Kurnia Sandy</title>
      <link>https://padlet.com/sndyv18/1a4ovs4j8i4ffnq</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-09-16 15:57:57 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-12-20 13:20:57 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title></title>
         <author>sndyv18</author>
         <link>https://padlet.com/sndyv18/1a4ovs4j8i4ffnq/wish/2300229288</link>
         <description><![CDATA[<div>Berawal dari chiefdom atau banua yang didirikan pada awal abad ke-14, Kerajaan Gowa mencapai puncak kejayaannya bersama Kerajaan Tallo sekitar tahun 1511 hingga 1669, ketika kerajaan ini memegang hegemoni militer dan perdagangan atas wilayah timur Nusantara, termasuk di antaranya sebagian besar Sulawesi, beberapa bagian dari Maluku dan Nusa Tenggara, serta pesisir timur Kalimantan. Dalam prosesnya menjadi kekaisaran maritim, Kerajaan Gowa mengembangkan berbagai inovasi dalam bidang pemerintahan, ekonomi dan militer. Perubahan sosial budaya yang drastis juga terjadi seiring mengeratnya hubungan antara Kerajaan Gowa dan dunia luar, terutama setelah Kerajaan Gowa mengadopsi Islam sebagai agama resmi pada awal 1607.<br><br>Kekalahan Kerajaan Gowa dalam Perang Makassar yang terjadi pada tahun1669 mengakibatkan lepasnya wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa di luar Sulawesi Selatan, sementara sebagian kecil wilayahnya diberikan kepada VOC. Meski begitu, Kerajaan Gowa tetap bertahan sebagai negeri merdeka hingga awal abad ke-20, ketika pemerintah kolonial Belanda mengalahkan Gowa dalam Ekspedisi Sulawesi Selatan dan menjadikannya daerah jajahan.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1809279079/576805613995578aa9727e5e266792b3/Sulawesi_Selatan___Istana_Gowa___IE.jpg" />
         <pubDate>2022-09-16 16:02:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sndyv18/1a4ovs4j8i4ffnq/wish/2300229288</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Latar Belakang </title>
         <author>sndyv18</author>
         <link>https://padlet.com/sndyv18/1a4ovs4j8i4ffnq/wish/2300232497</link>
         <description><![CDATA[<div>latar belakang&nbsp; terjadinya perlawanan Gowa atau Makassar adalah VOC menginginkan hak monopoli perdagangan di kawasan Indonesia Timur dan VOC melakukan blokade terhadap kapal-kapal yang akan berlabuh di Somba Opu.<br><br>Kejayaan Gowa-Tallo ketika berada dibawah pemerintahan Sultan Hasanuddin (1653-1669 M) membuat posisi VOC di kawasan Indonesia Timur menjadi terancam. Latar belakang perlawanan Gowa-Tallo terhadap VOC, yaitu VOC menginginkan hak monopoli perdagangan di kawasan Indonesia Timur serta VOC melakukan blokade terhadap kapal-kapal yang akan berlabuh di Somba Opu.<br><br>Untuk menghadapi tindakan VOC yang semena-mena, Sultan Hasanudin memperkuat pasukan dengan memerintahkan kerajaan bawahan di Nusa Tenggara untuk mengirimkan prajuritnya. Sedangkan di sisi lain, VOC menggunakan politik devide et Impera dengan meminta bantuan Arung Palaka dari Kesultanan Bone. Arung Palaka menerima permintaan dari VOC dengan alasan ingin membalas kekalahannya atas Gowa-Tallo dan merebut kembali kemerdekaan Bone.undefined<br><br>Dengan demikian, latar belakang&nbsp; terjadinya perlawanan Gowa atau Makassar adalah VOC menginginkan hak monopoli perdagangan di kawasan Indonesia Timur dan VOC melakukan blokade terhadap kapal-kapal yang akan berlabuh di Somba Opu.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-09-16 16:04:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sndyv18/1a4ovs4j8i4ffnq/wish/2300232497</guid>
      </item>
      <item>
         <title>peristiwa</title>
         <author>sndyv18</author>
         <link>https://padlet.com/sndyv18/1a4ovs4j8i4ffnq/wish/2300234510</link>
         <description><![CDATA[<div>Kerajaan Makassar, dengan didukung oleh pelaut-pelaut ulung, mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Hasanudin antara tahun 1654 - 1669. Pada pertengahan abad ke-17, Kerajaan Makasar menjadi pesaing berat bagi kompeni VOC pelayaran dan perdagangan di wilayah Indonesia Timur. Persaingan dagang tersebut terasa semakin berat untuk VOC sehingga VOC berpura-pura ingin membangun hubungan baik dan saling menguntungkan. Upaya VOC yang sepertinya terlihat baik ini disambut baik oleh Raja Gowa dan kemudian VOC diizinkan berdagang secara bebas. Setelah mendapatkan kesempatan berdagang dan mendapatkan pengaruh di Makasar, VOC mulai menunjukkan perilaku dan niat utamanya, yaitu mulai mengajukan tuntutan kepada Sultan Hasanuddin.<br><br>Tuntutan VOC terhadap Makasar ditentang oleh Sultan Hasanudin dalam bentuk perlawanan dan penolakan semua bentuk isi tuntutan yang diajukan oleh VOC. Oleh karena itu, kompeni selalu berusaha mencari jalan untuk menghancurkan Makassar sehingga terjadilah beberapa kali pertempuran antara rakyat Makassar melawan VOC.<br><br>Pertempuran pertama terjadi pada tahun 1633 dan pertempuran kedua terjadi pada tahun 1654. Kedua pertempuran tersebut diawali dengan perilaku VOC yang berusaha menghalang-halangi pedagang yang masuk maupun keluar Pelabuhan Makasar. Dua kali upaya VOC tersebut mengalami kegagalan karena pelaut Makasar memberikan perlawanan sengit terhadap kompeni. Pertempuran ketiga terjadi tahun 1666 - 1667 dalam bentuk perang besar. Ketika VOC menyerbu Makasar, pasukan kompeni dibantu oleh pasukan Raja Bone (Aru Palaka) dan Pasukan Kapten Yonker dari Ambon. Pasukan angkatan laut VOC, yang dipimpin oleh Speelman, menyerang pelabuhan Makasar dari laut, sedangkan pasukan Aru Palaka mendarat di Bonthain dan berhasil mendorong suku Bugis agar melakukan pemberontakan terhadap Sultan Hasanudin serta melakukan penyerbuan ke Makasar.<br><br>Peperangan berlangsung seru dan cukup lama, tetapi pada saat itu Kota Makassar masih dapat dipertahankan oleh Sultan Hasanudin. Pada akhir kesempatan itu, Sultan Hasanudin terdesak dan dipaksa untuk menandatangani perjanjian perdamaian di Desa Bongaya pada tahun 1667.<br><br>Perlawanan rakyat Makasar akhirnya mengalami kegagalan. Salah satu faktor penyebab kegagalan rakyat Makasar adalah keberhasilan politik adu domba Belanda terhadap Sultan Hasanudin dengan Aru Palaka. Perlawanan rakyat Makasar selanjutnya dilakukan dalam bentuk lain, seperti membantu Trunojoyo dan rakyat Banten setiap melakukan perlawanan terhadap VOC.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-09-16 16:06:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sndyv18/1a4ovs4j8i4ffnq/wish/2300234510</guid>
      </item>
      <item>
         <title>akhir peristiwa </title>
         <author>sndyv18</author>
         <link>https://padlet.com/sndyv18/1a4ovs4j8i4ffnq/wish/2300242659</link>
         <description><![CDATA[<div>Perlawanan antara Goa dan VOC yang dimana pada saat itu Goa di pimpin oleh Sultan Hassanudin berlangsung sengit.Dan pada akhir dari perlawanan itu adalah diadakannya perjanjian Bongaya.Di mana perjanjian itu sangat merugikan Kerajaan Goa karena harus menanggung semua kerugian dari peperangan tersebut.Dan Sultan Hassanudin harus menyerahkan Kerajaan Goa pada VOC.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-09-16 16:11:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sndyv18/1a4ovs4j8i4ffnq/wish/2300242659</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
